Surga atau neraka?

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” 1 Yohanes 3: 14

Kematian adalah suatu misteri bagi banyak orang dan karena itu mereka tidak senang membicarakannya. Sekalipun mereka tidak percaya adanya kehidupan di alam yang lain, banyak yang merasa takut ketika memikirkan hal kematian. Mereka yang hidupnya tidak mengenal Tuhan barangkali kuatir kalau-kalau mereka harus menjalani hukuman berat sesudah mati atas segala kejahatan yang dilakukannya selama hidup. Mereka yang mengenal Tuhan pun sering kuatir kalau-kalau mereka tetap harus ke neraka karena perbuatan jahat mereka lebih banyak dari perbuatan baik yang pernah diperbuat. Dengan demikian, adanya ketakutan adalah disebabkan oleh ketidakpastian akan apa yang akan terjadi sesudah kematian.

Jika kematian adalah ketakutan bagi banyak orang, bagaimana pula dengan kehidupan? Kehidupan bagi banyak orang juga menakutkan.Bahkan bagi sebagian, hidup bisa lebih menakutkan dari mati. Bagaimana tidak? Sekarang masih bisa hidup tetapi tidak pasti kalau ada makanan esok hari. Sekarang hidup lumayan tapi tidak pasti kalau ada pekerjaan bulan depan. Sekarang hidup sehat tapi kuatir kalau-kalau terpapar Covid-19 esok hari. Sampai-sampai ada orang hidup yang ingin mati karena kematian dianggapnya akhir dari semua penderitaannya. Jadi kasihan juga, mereka mungkin tidak tahu kalau dengan kematian setiap orang masih harus mempertanggung-jawabkan hidupnya.

Bagi orang Kristen yang sejati, baik hidup atau mati bukanlah ketidakpastian. Paulus menulis bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 21). Hidup adalah bekerja untuk kemuliaan Kristus, dan mati adalah hidup bersama Kristus. Dengan demikian, baik mati maupun hidup bukanlah suatu ketakutan karena adanya kepastian bahwa kasih Kristus yang senantiasa menyertainya. Karena kasih-Nya, Tuhan sudah menciptakan manusia agar mereka dapat hidup berbahagia dalam hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Karena kasih-Nya juga, Tuhan membimbing manusia agar mereka tetap bersandar dalam iman yang benar sampai saat di mana mereka menemui Sang Pencipta di surga.

Allah yang mahakasih dengan demikian menciptakan manusia bukan secara sembarangan, tetapi sebagai peta dan teladan atau gambar-Nya, dan memberi mereka kedudukan sebagai wakil-Nya di dunia. Sayang sekali, bahwa dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, manusia kemudian kehilangan kemuliaan dan kedudukan yang dikaruniakan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa pastilah akan menuju ke neraka, jika Allah tidak mengambil inisiatif untuk menyelamatkan mereka yang bertobat.

Manusia baru adalah mereka yang sudah dipindahkan Tuhan dari kematian dan alam maut, ke dalam hidup baru yang kekal dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan akan dapat memancarkan kasih Tuhan yang sudah mereka terima kepada orang lain.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13: 4 – 7

Dengan kemampuan kita sendiri, tidaklah mungkin kita menjadi orang-orang yang bisa mengasihi Tuhan dan sesama. Jika kita ingat apa yang terjadi sebelum Yesus disalibkan, baik Petrus atau Yudas adalah murid-murid yang sudah mengkhianati Yesus. Walaupun demikian, Petrus menanggapi peringatan dan pertolongan Yesus dan kemudian menjadi rasul yang setia sampai akhir hayatnya, sedangkan Yudas meninggalkan Yesus dan kemudian mengakhiri hidupnya atas kehendak diri sendiri. Sekalipun kita tidak tahu apa yang terjadi pada Yudas setelah kematiannya, kita yakin bahwa Petrus sekarang berada di surga bersama Yesus. Mengapa demikian?

Mereka yang belum bisa mengasihi sesamanya adalah orang-orang yang belum menerima kasih Tuhan yang menyelamatkan. Memang tidaklah mungkin bagi mereka yang sudah merasakan besarnya kasih Tuhan untuk tetap hidup untuk kepentingan serta kenyamanan diri sendiri saja. Mereka yang sudah hidup dengan rasa syukur atas keselamatan yang diterimanya pasti akan melimpah dalam kasih mereka kepada siapa saja, termasuk orang yang berbeda dalam hal suku, bangsa, cara hidup, golongan dan agama. Mereka yang sudah menerima kasih Kristus, adalah orang-orang yang mau bekerja giat dan tidak gentar untuk tetap hidup dan mengabarkan Injil untuk kemuliaan-Nya.

Saat ini, adakah ketakutan dalam hidup anda? Jika ya, apakah itu ketakutan untuk hidup atau ketakutan menghadapi kematian? Biarlah Firman Tuhan menginsafkan kita semua bahwa dalam kasih-Nya tidak ada ketakutan. Kasih Tuhan yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab dengan kasih-Nya kita sudah diampuni dan diangkat menjadi anak-anak-Nya. Kasih-Nya menghilangkan hukuman atas kita dan sebaliknya membuka saluran berkat-Nya kepada kita. Karena itu barangsiapa takut, ia tidak menyadari kasih Tuhan. Biarlah dalam kasih-Nya kita bisa selalu dikuatkan baik dalam menghadapi hidup maupun kematian.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Doa bisa menghilangkan rasa khawatir

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Pagi ini, gubernur negara bagian Queensland, Australia, mengumumkan situasi Covid-19 melalui siaran langsung dari Youtube. Keadaan penyebaran varian Omicron ternyata makin tidak terkendali, dan karena itu beliau menganjurkan rakyat agar tidak pergi ke mana-mana dan bekerja dari rumah saja selama 6 minggu ke depan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi kecepatan penularan varian ini, yang walaupun tidak menyebabkan kasus fatal sedahsyat varian Delta, bisa membuat banyak orang dirawat di rumah sakit. Siang ini, pusat kota Brisbane dilaporkan sangat sepi, lebih sepi dari keadaan lockdown tahun lalu. Mungkin orang lebih khawatir atas varian ini karena kecepatan penularannya.

Dalam bahasa Indonesia, rasa khawatir mungkin bisa diganti dengan kata cemas atau takut. Tetapi sebenarnya arti ketiga kata itu berbeda. Orang memang sering menyebutkan rasa khawatir akan sesuatu hal, tetapi belum tentu merasa cemas atau takut. Dalam bahasa Inggris pun ada istilah “worry” yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari – yang menunjuk kepada adanya kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan – tetapi ini belum sampai menjurus ke arah rasa cemas. Orang juga sering mengatakan bahwa keadaan bisa membuat kita was-was tetapi tidak perlu membuat kita cemas. Concerned but not alarmed.

Jika dalam ayat di atas dikatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita seharusnya tidak khawatir tentang apa juga, agaknya ini bukan sehubungan dengan kekhawatiran yang secara normal muncul jika kita melihat adanya sesuatu atau keadaan yang kurang baik, tetapi yang masih bisa kita hindari. Misalnya, kita memilih untuk naik kereta MRT daripada memakai mobil sendiri karena khawatir akan mengalami kemacetan di jalan. Kekhawatiran disini adalah suatu hal yang positif karena membuat kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana.

Kekhawatiran yang tidak baik adalah kekuatiran yang negatif, yang membuat kita merasa tidak berdaya. Rasa cemas yang membuat tubuh kita menjadi lemah, dan rasa takut yang membuat kita lumpuh. Sebagai umat Tuhan , sebenarnya agak aneh jika kita bisa merasa cemas dan takut karena kita merasa tidak bisa melakukan hal apa pun dan tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Itu karena kita seharusnya percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih: Ia sanggup melakukan hal apa pun dan bisa menolong siapa pun, terutama umat-Nya.

Memang satu masalah yang kita hadapi dalam kekhawatiran yaitu adanya kemungkinan bahwa kekhawatiran yang kecil, perlahan-lahan bisa menjadi besar, menjadi rasa was-was dan rasa cemas, dan kemudian menjadi rasa takut. Dalam penantian akan pertolongan Tuhan, sering kali kita menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah Ia akan menolong kita dan jika itu benar, kapan Ia akan menolong kita. Dalam hal ini, ayat diatas mengatakan bahwa kita harus menyatakan keinginan kita dalam doa dan dengan rasa syukur sekalipun Ia belum menjawab doa kita.

Apa perlunya berdoa dan bersyukur? Doa tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan. Doa kita tidak selalu dikabulkan Tuhan. Tetapi doa berguna untuk kita, karena dengan doa kita membina hubungan yang baik dengan Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa Ia adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Doa membuat kita bisa berserah kepada Tuhan, suatu pilihan yang jauh lebih baik daripada usaha untuk mencari jalan keluar menurut keinginan kita sendiri. Doa juga membuat kita belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, sehingga kita lebih bisa bersabar menantikan pertolongan-Nya. Jika rasa khawatir bisa menjauhkan kita dari Tuhan, doa bisa menghilangkan rasa was-was dan rasa takut. Doa yang disertai dengan rasa syukur bisa membawa kedamaian bagi kita karena adanya kesadaran bahwa Tuhan itu baik. Doa mungkin tidak mengubah keadaan, tetapi doa bisa mengubah reaksi kita terhadap keadaan – doa bisa mengubah hidup kita karena Tuhan bisa memberi rasa damai sejahtera dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Tuhan tidak menghendaki kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Tanggal 6 Januari 2021 adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Amerika karena pada saat itu ada peristiwa yang luar biasa di ibukota negara itu, Washington D.C.. Sayang sekali, hari itu tidak bisa dilupakan bukan karena adanya hal yang indah, tetapi karena adanya kelompok ekstrim kanan yang menyerbu gedung Capitol, tempat para wakil rakyat Amerka bekerja. Jutaan orang di dunia memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tetapi, apa yang disaksikan membuat banyak orang menghela nafas. Suasana pandemi dan politik di Amerika saat itu memang cukup membuat prihatin banyak orang. Tetapi penyerbuan dan usaha pembunuhan beberapa politikus hampir saja menimbulkan perang saudara.

Tujuan hidup rakyat suatu negara memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Kekacauan kemudian bisa timbul karena adanya orang-orang yang bertentangan pendapat. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik. Pada pihak yang lain, ada kalanya tindakan pemimpin negara justru bisa memicu timbulnya kekacauan.

Jika kekacauan terjadi di bumi karena dosa dan melalui kebebasan manusia, itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Ayat pembukaan di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan dari Tuhan (1 Korintus 14: 31).

Adanya pemerintah sebenarnya dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan bersama dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah yang sah. Dan setiap pemimpin negara juga harus tunduk kepada hukum negara dan lembaga pemerintahan yang ada di atasnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Bagi umat Kristen, pemerintah yang diberi mandat selama kurun waktu tertentu, bersama berbagai lembaga pemerintah lainnya, adalah penguasa negara dengan seizin Tuhan. Dengan demikian, ayat di atas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara yang sudah dipilih melalui azas demokrasi. Jika semua warga mau menaati firman Tuhan di atas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama. Karena Tuhan tidak menghendaki kekacauan, dapat dimengerti bahwa berkat-Nya akan lebih bisa terasa di negara yang tertib.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen di negara mana pun dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah di atas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara dan sesama warga.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Hari ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, sebagai orang Kristen kita terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara. Terutama pada saat pandemi ini, kita harus taat kepada peraturan/anjuran pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diri-Nya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita harus membawa damai sejahtera di mana pun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

Tuhan mengawasi jalan yang kita pilih

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Amsal 5: 21

Benarkah bahwa Tuhan tahu apa pun yang kita lakukan dan alami? Benarkah Ia mengawasi tindak tanduk setiap manusia? Kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan dan tidak tahu pasti apa yang dilakukan-Nya setiap saat. Walaupun demikian ayat di atas menunjukkan bahwa Ia tahu segala apa yang dilakukan setiap orang. Tuhan memang mahatahu (omniscience).

Tuhan memang harus mahatahu untuk bisa menjadi Tuhan yang mahakuasa. Tetapi bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang aneh, suatu paradox. Jika Tuhan mahatahu, mengapa Ia sering melakukan atau membiarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia? Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak melakukan apa yang perlu untuk mengatasi kejahatan atau keburukan yang jelas terlihat?

Mereka yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan tidak menyadari bahwa Ia mahatahu dan mahakuasa. Tuhan bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi pada saat yang dipilih-Nya. Ia tidak memakai cara berpikir manusia untuk bertindak, Ia tidak juga menentukan saat bertindak menurut perhitungan manusia, dan Ia tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk bertindak. Tuhan tidak pernah menguatirkan atau terkejut melihat apa yang terjadi karena manusia memilih jalan yang keliru. Sebagai Tuhan, Ia bisa membuat apa yang jahat untuk menjadi apa yang baik, yang sesuai dengan rencana-Nya.

Pada lain pihak, dari awalnya Tuhan memberikan kesempatan dan kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan dalam hidup ini (Kejadian 1: 28). Tetapi, apa pun yang kita lakukan, ke mana pun kita pergi, Ia tahu dan mengawasi. Walaupun demikian, pengawasan-Nya bukanlah berarti bahwa Ia menentukan segala langkah kita; tetapi Ia memberkati semuanya jika kita berjalan menurut kehendak-Nya. Dengan menuruti kehendak-Nya, kita boleh percaya bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan membuktikan bahwa Ia senantiasa menilik hidup kita dengan kasih-Nya.

Pagi ini, jika kita mengharapkan Tuhan untuk bertindak tetapi Tuhan terasa berdiam diri, apakah ada kekecewaan yang timbul? Apakah Ia mahakuasa? Sebaliknya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah Ia mahatahu? Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus bertindak dan mengambil langkah yang baik. Manusia harus berani untuk memikul tanggung jawab atas pilihannya. Dan bagi kita, Tuhan yang mengawasi semua langkah kita adalah Tuhan yang akan menolong kita pada waktunya.

“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Ulangan 28: 6

Hidup ini singkat, tetapi bisa terasa manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat di mana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, orang sering cenderung merasa bahwa hidup ini pahit. Semboyan di atas mengatakan bahwa adalah pilihan kita untuk mengisi hidup kita dengan pikiran dan harapan yang positif agar kita dapat merasakan manisnya hidup ini.

Pada pihak yang lain, hidup manusia menurut pemazmur, adalah singkat saja – seperti rumput atau bunga di padang:

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” Mazmur 103: 15 – 16

Dari umur 80 tahun yang mungkin bisa dicapai manusia, mungkin 20 tahun pertama dan 20 tahun terakhir adalah masa yang mungkin kurang produktif. Dengan demikian, paling banyak hanya separuh umur manusia yang biasanya bisa dipakai untuk berkarya. Kebanyakan orang menggunakan umur produktif itu untuk mencari nafkah dan membina karir dan rumah tangga, dan seusai masa bekerja, hidup yang tersisa mungkin bisa dipakai untuk membantu anak cucu sebelum usia tua. Itulah garis besar hidup manusia yang mirip dengan bunga di padang. Haruskah sedemkian? Adakah cara hidup lain yang lebih baik, yang tidak seperti bunga rumput di padang?

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung kepada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus (Yohanes 2: 1 – 11). Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Jika kita ingin untuk hidup lebih panjang, seperti banyak orang di zaman ini berusaha dengan segala cara, itu pun tidak mengubah hidup kita untuk menjadi lebih manis. Ayat pembukaan di atas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk bisa menggunakan hidup mereka sebaik-baiknya. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menuruti perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini dan bisa membuahkan apa yang manis untuk orang lain.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Ikutilah bimbingan Tuhan

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Kemarin petang saya menonton TV hingga lepas tengah malam. Maklum karena malam tahun baru, saya ingin mengikuti acara menyambut tahun baru yang disiarkan langsung oleh ABC TV dari Sydney. Selain menonton beberapa band dan penyanyi terkenal sejak jam 9 petang, saya bermaksud untuk menonton pesta kembang api yang dikatakan termasuk salah satu yang paling hebat di dunia. Harapan saya tidak mengecewakan karena acara malam tahun baru itu benar-benar meriah,

Selamat Tahun Baru! Tahun yang lama sudah berlalu dan tinggal menjadi kenangan, baik kenangan manis maupun kenangan pahit. Memang hidup manusia itu penuh dinamika, tetapi dalam memasuki tahun baru ini semua orang tentunya berharap agar mereka dapat memperoleh apa yang lebih baik dari tahun yang telah lewat. Satu dengan yang lain orang saling menyampaikan harapan baik untuk masa depan di tahun yang baru sambil berharap agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu.

Tahun yang baru biasanya diisi dengan harapan, tetapi untuk itu orang biasanya perlu untuk membuat rencana untuk berbuat sesuatu dan melaksanakan tindakan yang dibutuhkan. Bagi semua orang, Kristen maupun bukan Kristen, apa saja yang penting untuk dilakukan pada tahun yang baru selalu harus dipikirkan baik-baik. Tetapi ayat di atas menunjukkan bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan apa yang terjadi. Jika demikian, mengapa pula kita harus memikirkan apa yang harus kita lakukan?

Alkitab dalam ayat-ayatnya sering membahas dua posisi manusia. Pada satu posisi, manusia yang adalah makhluk yang dikaruniai kemampuan untuk sepenuhnya bisa mengatur hidup mereka sendiri. Mereka yang berbuat baik ataupun buruk akan mendapat hasilnya. Pada posisi yang lain, manusia adalah makhluk yang harus tunduk kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang sepenuhnya memegang kontrol atas hidup manusia. Manusia merencanakan, berbuat dan memperoleh hasil, baik ataupun tidak baik, hanya jika diizinkan oleh Tuhan. Tanpa izin Tuhan, apa yang direncanakan manusia tidak akan terjadi. Dengan demikian, kita mau menerima kenyataan bahwa tanggung jawab manusia dan kedaulatan Tuhan adalah sebuah paradoks yang ditentukan Tuhan,

Apa pun yang dilakukan manusia, Tuhan bisa memakainya untuk menggenapi rancangan-Nya. Tetapi, apa yang disukai Tuhan sebenarnya adalah kemauan anak-anak Tuhan untuk mengambil inisiatif, membuat rencana-rencana serta menjalankannya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya, yaitu untuk mengasihi dan memuliakan nama Tuhan serta mengasihi sesama manusia, setiap saat dan dalam keadaan apa pun. Di luar kedua hukum kasih ini, apa yang kita perbuat atau tidak perbuat adalah dosa, dan kita sendirilah yang harus bertanggung jawab.

Tuhan yang Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijaksana dan Mahakasih sudah tentu adalah Tuhan yang berdaulat. Ia mempunyai rancangan untuk seisi bumi dan bahkan untuk sejagad raya, yang hanya diketahui diri-Nya sendiri. Semua rancanganNya akan terjadi, terlepas dari apa yang diperbuat manusia. Manusia sering heran melihat apa yang terjadi dalam hidup mereka atau hidup orang lain. Sering kali hal yang buruk terjadi pada orang yang baik, dan hal yang baik terjadi pada mereka yang jahat. Manusia yang pada hakikatnya jahat tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan, tetapi mereka harus sadar bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang kejam dan semena-mena, tetapi adalah Tuhan yang pada hakikatnya adalah Tuhan yang mahakasih.

Pagi ini, dalam menyambut tahun baru, marilah kita mau memikir-mikirkan jalan kehidupan kita agar kita bisa menjalaninya sesuai dengan hukum kasih-Nya. Selain itu biarlah kita juga sadar bahwa Tuhanlah yang akan membimbing kita melewati gunung dan lembah dari tahun 2022 ini.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Amsal 16: 3

Sekalipun ada penderitaan, rencana Tuhan adalah baik untuk umat-Nya

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” Kejadian 50: 20a

Dalam menghadapi setiap kesusahan besar manusia sering mempunyai beberapa pertanyaan:

  1. Mengapa ini harus terjadi?
  2. Mengapa harus aku?
  3. Apakah ini kehendak Tuhan?
  4. Apakah Tuhan mahakuasa?
  5. Apakah Tuhan mahakasih?

Kelima pertanyaan itu adalah logis dan setiap manusia berhak mempertanyakannya. Mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu belum tentu orang yang bukan Kristen, karena orang Kristen pun sering bergulat menghadapi gejolak hidupnya.

Pada saat ini, setiap manusia tentu tahu bahwa bahaya pandemi COVID-19 belumlah hilang. Masih terbayang ketika kita memperoleh berita pertama tentang datangnya pandemi, tetapi pada saat itu tidak seorang pun yang bisa membayangkan bahwa dua tahun kemudian orang masih harus menghadapi masalah yang sama, yang bisa menghancurkan negara mana pun, baik dalam hal kesehatan umum, ekonomi maupun politik.

Apa yang akan terjadi dalam tahun 2022 tidaklah ada orang yang tahu, tetapi efek pandemi ini pasti akan tetap dapat dirasakan untuk waktu yang cukup lama. Karena itu, dalam suasana yang kurang baik ini, setiap orang tentunya mempunyai beberapa  (atau banyak) pertanyaan, seperti yang tertulis di atas. Bagaimana sebagai orang Kristen harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?

Mengapa kekacauan dan bencana ada di dunia? Bagi mereka yang percaya bahwa manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu harus meninggalkan taman Eden, pertanyaan ini mungkin tidak sukar untuk dijawab. Karena Adam dan Hawa sudah jatuh ke dalam dosa, mereka harus meninggalkan tempat yang serba indah dan nyaman dan kemudian mengalami hidup yang penuh derita dan susah-payah (Kejadian 3: 23 – 24). Kita sekarang hidup di dunia yang harus dihadapi dengan perjuangan, dan adanya kelaparan, penyakit, kematian dan malapetaka lainnya adalah suatu yang lumrah. Walaupun demikian, jawaban ini belumlah lengkap.

Ayat di atas adalah ucapan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang menyatakan bahwa mereka ingin menjadi budak Yusuf setelah ayah mereka meninggal dunia. Mereka takut jangan-jangan Yusuf akan melampiaskan rasa dendamnya atas perlakuan mereka terhadap Yusuf sebelum dijual ke tanah Mesir. Tetapi Yusuf menjawab bahwa ia tidak mempunyai rasa dendam karena Tuhan sudah menggunakan apa yang jahat yang diperbuat saudara-saudaranya untuk mencapai rencana-Nya, yaitu untuk membuat mereka menjadi bangsa Israel.

Saudara-saudara Yusuf melakukan apa yang tidak disenangi Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah penyebabnya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi, tetapi bukanlah penyebab semua hal yang terjadi di dunia. Dalam hal ini, Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang memegang kontrol. Tuhan yang mengizinkan terjadinya apa yang buruk di dunia, bisa membuatnya menjadi apa yang baik sesuai dengan rancangan besar-Nya.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah jaminan untuk hidup nyaman dan untuk memperoleh kelimpahan dalam segala sesuatu. Karena itu, banyak orang yang mengajarkan bahwa iman adalah kunci segala kesuksesan baik di bidang jasmani atau pun rohani. Tetapi, thema Alkitab secara keseluruhan bukanlah kesuksesan atau berkat secara jasmani. Firman Tuhan selalu menekankan bahwa berkat yang berbentuk apa pun adalah datang dari Tuhan, tetapi berkat yang paling utama dan yang tidak bisa hilang adalah adanya keselamatan yang abadi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya melalui darah Yesus Kristus. Dengan demikian, jika kita mengalami masalah kehidupan, kita tidak perlu merasa malu. Setiap orang di dunia ini bisa mengalami penderitaan jasmani, tetapi mereka yang berada dalam Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk menghadapinya.

Jika ada masalah yang sangat besar, setiap orang bisa merasa sedih atau terpukul. Selain itu, sering kali muncul pertanyaan apakah semua itu adalah kehendak Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita tidak selalu bisa menjawabnya. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran Tuhan. Walaupun demikian, jika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, itu selalu berakhir dengan kebaikan. Adakalanya Tuhan membiarkan malapetaka terjadi pada suatu bangsa untuk memberi peringatan agar mereka mau mengakui kuasa-Nya.

Tuhan bisa juga membiarkan kita mengalami kesusahan agar kita mau lebih bergantung kepada-Nya. Pengalaman pahit bisa juga membuat masyarakat untuk lebih berhati-hati di masa depan. Dengan demikian, sekalipun Tuhan tidak mendatangkan bencana untuk umat-Nya, Ia yang memegang kontrol atas segala sesuatu terkadang memungkinkan hal yang nampaknya buruk untuk terjadi.

Apakah Tuhan mahakuasa? Di manakah Dia ketika kita mengalami malapetaka? Jeritan dan tangisan ini sering muncul di tengah penderitaan. Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu sudah pasti tetap memegang kemudi kehidupan manusia dan bahkan alam semesta. Tuhan tetap ada dan melihat semuanya terjadi. Tuhan tahu apa yang akan kita lakukan dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Tuhan yang selalu memegang kontrol kehidupan selalu dapat mewujudkan rencananya dalam keadaan apa pun. Dalam hal ini, bagi umat Kristen, adanya iman kepada Tuhan membuat mereka bisa hidup dalam kedamaian bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya.

Apakah Tuhan itu mahakasih? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman. Tetapi jika malapetaka terjadi dan banyak orang sudah menjadi korbannya, termasuk mereka yang beriman, pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Banyak orang Kristen yang kemudian bersandar pada fatalsisme: jika semua itu terjadi, itu adalah kehendak Tuhan dan manusia tidak bisa mengubahnya. Pandangan ini kelihatannya benar, karena siapakah yang dapat melawan kehendak Tuhan? Tetapi pandangan ini juga mudah ditolak, karena siapakah yang tahu dengan pasti apa kehendak Tuhan?

Ayat pembukaan kita menyimpulkan bahwa sekalipun ada hal-hal yang buruk, Tuhan bisa memakainya untuk maksud-Nya yang baik. Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tidak mendatangkan bencana bagi umat-Nya.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Berbeda tapi sama

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Pada saat virus Covid-19 ditemukan di Wuhan dan kemudian menyebar ke banyak negara lain, rasa sentimen yang kurang baik muncul terhadap orang Asia, terutama orang dari China. Media melaporkan adanya orang Asia yang mengalami perundungan atau di bully. Bukan saja mereka dituduh membawa virus ke negara lain, mereka juga diejek dalam hal makanan dan kebiasaan hidup yang dianggap kurang beradab. Bahkan, ada siaran TV dan berbagai media yang menyiarkan komentar pemimpin negara tertentu yang bernada rasis.

Sebelum ada Covid-19, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari sebenarnya sudah sering ada opini yang menyudutkan golongan-golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?

Hal membeda-bedakan manusia tidak dapat dipisahkan dari kenyataan tentang adanya manusia yang berbeda penampilan, kebudayaan, bahasa dan cara hidupnya. Dari manakah asal umat manusia itu dan bagaimana pula mereka bisa menyebar dan menjadi manusia yang kelihatan berbeda adalah hal-hal yang sering dipertanyakan orang sejak dulu.

Bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, ayat di atas tentunya memberi keyakinan bahwa semua umat manusia di dunia ini adalah sebuah ciptaan Tuhan. Dengan berlalunya waktu, perubahan perlahan-lahan terjadi, tetapi semua manusia pada hakikatnya adalah sejenis.

Bagi mereka yang mendalami ilmu genetika, manusia dengan segala bentuk badan, rupa dan warna kulit mereka, tidaklah menyatakan bahwa mereka adalah makhluk yang berlainan. Sebaliknya, manusia berdasarkan genetika adalah makhluk yang homogen dan hampir tidak berbeda. Kebanyakan bukti genetika dan arkeologi menunjuk pada satu tempat di sebelah timur Afrika, dari mana manusia kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Jika satu kelompok manusia merasa lebih baik dari kelompok yang lain, biasanya itu disebabkan oleh ketidaksadaran atau ignorance bahwa semua manusia pada dasarnya berasal dari satu tempat, dan dengan demikian adalah sebangsa. Dengan kehendak Tuhan, manusia kemudian nenyebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, bagi umat Kristen semua manusia dan di mana pun mereka berada adalah ciptaan Tuhan yang sederajat. Lebih dari itu, Tuhan mengasihi setiap orang dan mengurbankan Anak-Nya untuk menebus siapa saja yang percaya tanpa memandang asal usulnya (Yohanes 3: 16), sehingga pada saatnya semua umat-Nya akan dipersatukan di surga.

Adalah suatu hal yang menyedihkan bahwa ada orang-orang yang senang membesar-besarkan perbedaan dan asal usul umat manusia. Bagi umat Kristen, hal yang sedemikian seolah berarti bahwa Tuhan pada awalnya menciptakan manusia yang berbeda jenis dan kelas di berbagai tempat di dunia. Pandangan sedemikian juga membuat seolah Tuhan lebih mengasihi orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu karena mereka lebih baik dari bangsa yang lain. Apalagi, mereka yang merasa bahwa Tuhan sudah memilih mereka sebagai bangsa yang mengenal kebenaran.

Mereka yang merasa bahwa Tuhan sudah menetapkan sebagian umat manusia untuk ke surga, dan sisanya untuk ke neraka, sebenarnya mempunyai keyakinan yang mirip rasisme. Sekalipun mereka yang merasa terpilih mungkin sadar bahwa Tuhan memilih mereka bukan karena lebih baik dari orang lain, mereka hanya mengangkat bahu melihat banyak orang yang nampaknya tidak terpilih untuk diselamatkan. Tuhan sebenarnya menghendaki kita mengasihi seluruh umat manusia dan melakukan hal yang baik sehingga siapa saja yang melihat kebaikan kita kemudian mau memuliakan Tuhan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan seluruh umat manusia, dan terutama umat Kristen bahwa setiap insan adalah ciptaan Tuhan yang harus menerima perlakuan dan penghargaan yang sama di mana pun mereka berada. Lebih dari itu, sebagai umat Kristen kita terpanggil untuk menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia yang tanpa perkecualian sudah jatuh ke dalam dosa.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Segala sesuatu terjadi dengan seizin Tuhan, tapi belum tentu kehendak-Nya

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50: 20

Ayat di atas adalah ucapan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang menyatakan bahwa mereka ingin menjadi budak Yusuf setelah ayah mereka meninggal dunia. Mereka takut jangan-jangan Yusuf akan melampiaskan rasa dendamnya atas perlakuan mereka terhadap Yusuf sebelum dijual ke tanah Mesir. Tetapi Yusuf menjawab bahwa ia tidak mempunyai rasa dendam karena Tuhan sudah menggunakan apa yang jahat yang diperbuat saudara-saudaranya untuk mencapai rencana-Nya, yaitu untuk membuat mereka menjadi bangsa Israel.

Saudara-saudara Yusuf melakukan apa yang tidak disenangi Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah penyebabnya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi, tetapi bukanlah penyebab semua hal yang terjadi di dunia. Dalam hal ini, Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang memegang kontrol. Tuhan yang mengizinkan terjadinya apa yang buruk di dunia, bisa membuatnya menjadi apa yang baik sesuai dengan rancangan besar-Nya.

Saat ini, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun adalah sesuatu yang sangat jahat. Apa penyebabnya dan siapa yang bertanggung jawab atas munculnya virus corona, belumlah diketahui. Bagaimana cara mengatasi pandemi ini juga belum ditemukan. Hal ini membuat semua orang di dunia ikut prihatin. Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul jika ada hal-hal semacam ini adalah mengapa itu harus terjadi jika Tuhan itu ada. Apakah Tuhan yang membuat malapetaka ini, atau apakah semua itu adalah kehendak-Nya?

Kebanyakan disaster yang terjadi di dunia ini bisa dicari sebabnya. Ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju sehingga kita bisa mengerti mengapa bencana alam, kecelakaan dan berbagai malapetaka bisa terjadi. Kita juga tahu bahwa tidak semua bencana bisa dihindari. Tidak ada bencana yang terjadi tanpa sebab; tetapi, masalahnya adalah mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi. Tuhan yang mahakuasa seharusnya bisa mencegah hal itu. Dengan demikian, ada orang yang beranggapan bahwa terjadinya bencana atau malapetaka membuktikan tidak adanya Tuhan.

Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup yang berat  bisa menimbulkan berbagai keraguan:

  1. Apakah Tuhan itu mahakasih tetapi tidak mahakuasa?
  2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak mahakasih?
  3. Apakah Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih tetapi tidak mahaadil?
  4. Apakah Tuhan sekarang ini sudah mengabaikan ciptaan-Nya?

Karena adanya dosa, dunia yang diciptakan Tuhan sudah menjadi dunia yang harus kita diami dengan menghadapi berbagai masalah. Bencana dan masalah besar sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta dan mungkin juga kesalahan manusia. Tetapi, bagi Tuhan yang mahakasih, penderitaan manusia belum tentu merupakan sesuatu yang dibuat oleh-Nya atau apa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya, jika hidup di dunia masih dapat tetap berjalan dan tidak hancur berantakan, pastilah itu karena adanya pemeliharaan dan kasih Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang selalu menjagai seluruh ciptaan-Nya adalah Tuhan yang hidup, yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kesalahan manusia yang kurang bisa mengantisipasi kemungkinan datangnya hal-hal itu. Dalam dunia manusia bisa memilih prioritas hidup, tetapi mereka yang hidup sesuai dengan kehendak-Nya, akan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi tantangan hidup, baik yang ada sekarang, maupun yang bisa terjadi di masa depan.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai anak-anak-Nya dan tidak mengizinkan malapetaka datang tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Adanya bencana justru seharusnya membuat manusia makin sadar bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana Tuhan sekalipun bencana itu bukan apa yang dikehendaki-Nya.

Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak pernah berubah sifat-Nya. Namun kadangkala Ia mengizinkan kita mendapat pelajaran dari pengalaman kita, barangkali agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinan-Nya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anak-Nya untuk lebih bijaksana dalam hal menggunakan berkat-berkat-Nya yang sudah ada, dan lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Pagi ini, kita tahu mengapa ada bencana di bumi, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang buruk terjadi pada hidup anak-anak-Nya. Jalan pikiran-Nya tidak terjangkau manusia dan rencana-Nya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya, dan maksud Tuhan adalah selalu baik untuk umat-Nya. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28