Jangan menyalahgunakan kemerdekaanmu

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” Mazmur 32: 8 – 9

Selama dua hari berturut-turut, kota Melbourne di negara bagian Victoria dilanda demonstrasi anti lockdown dan anti vaksinasi. Bagi rakyat yang sudah merasa dikurung beberapa bulan, kesempatan untuk bisa keluar rumah dan melakukan berbagai kegiatan sudah sangat dirindukan, tetapi belum bisa menjadi kenyataan.

Mereka yang berdemonstrasi adalah orang-orang yang merasa terlalu dikekang oleh pemerintah; mereka ingin bebas untuk menentukan pilihan sendiri dan tidak mau dikontrol pemerintah. Walaupun demikian, apa yang terjadi bisa membuat orang menggelengkan kepala karena seakan mereka tidak sadar akan bahaya yang mengancam. Virus corona bisa mencelakai siapa saja , termasuk diri sendiri dan keluarga mereka.

Memang manusia adalah makhluk yang sangat istimewa karena berbeda dengan makhluk lainnya, mereka merasa bahwa kemerdekaan adalah suatu hal yang sangat berharga. Manusia bersedia membayar kemerdekaan dengan harga yang tertinggi. Pada pihak yang lain, Tuhan memberikan kemerdekaan kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus untuk memakan buah apa saja, kecuali buah dari satu pohon yang ada di tengah taman itu. Sayang sekali bahwa mereka mungkin merasa bahwa kemerdekaan yang mereka miliki adalah kemerdekaan untuk melakukan apa saja, termasuk untuk tidak menaati perintah Tuhan. Itulah yang membawa kejatuhan mereka ke dalam belenggu dosa.

Sebagai orang Kristen kita harus bersyukur bahwa belenggu dosa itu sudak dilepas oleh Yesus Kristus yang mati untuk menebus kita. Karena Kristus, kita memperoleh kemerdekaan lagi dan itu sudah dibayar dengan harga yang termahal. Sayang sekali bahwa banyak orang Kristen yang merasa bahwa dalam Kristus mereka adalah orang-orang yang merdeka sepenuhnya. Ini tidaklah benar, karena sesudah bebas dari hamba dosa, kita menjadi hamba Kristus. Kita bergantung kepada-Nya dan hidup untuk Dia. Kita hidup bukan untuk manusia dan bukan untuk diri kita sendiri.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Di zaman modern ini, iblis tetap bekerja dan berusaha memengaruhi manusia seperti apa yang dilakukannya kepada Adam dan Hawa. Iblis dapat melihat bahwa kelemahan manusia adalah dalam hal kemerdekaan yang didambakannya untuk bisa melakukan apa saja yang dikehendaki. Manusia cenderung ingin memakai hidup dan waktu yang ada untuk kenikmatan dan kenyamanan diri sendiri. Dan keinginan itu tetap menggoda siapa saja termasuk orang Kristen yang sudah menjadi hamba Kristus.

Dengan demikian, orang Kristen bisa saja bertingkah laku seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang. Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan tidak mau untuk mengekang hidup kita dan memaksakan kehendak-Nya. Tuhan yang mahakuasa tidak perlu melakukan hal-hal itu karena Ia memegang kendali atas seisi alam semesta. Tetapi, Ia mau mengajar dan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. Tuhan ingin membimbing kita dalam hidup dan mata-Nya tertuju kepada kita. Karena itu kita haruslah bijaksana dan mau menggunakan kebebasan kita untuk memilih apa yang baik jika kita ingin hidup berbahagia.

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5: 15 -16

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa hamba Kristus haruslah berbeda dengan hamba dunia. Hamba Kristus adalah orang-orang yang merdeka dari kuasa iblis, orang yang dengan sukacita memilih untuk hidup menurut Firman Tuhan setiap hari. Orang Kristen tidak sepatutnya menyia-nyiakan waktu yang ada untuk apa yang tidak berguna. Sebaliknya, mereka hidup untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama. Orang Kristen adalah orang yang sadar akan kehendak Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih dalam mengambil keputusan tentang apa saja dalam hidupnya.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 17

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasih-Nya memimpinku
Di tengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh

Tiap langkahku kutahu Tuhan yang pimpin
Ke tempat tinggiku dihantar-Nya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa surga yang baka

Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mengasihi kita

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17

Bagaimana bisa orang Kristen mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berubah? Saya sering mendengar pengkhotbah dan pendeta membuat klaim ini. Sudah tentu ini adalah hal yang menghibur, tetapi agaknya banyak orang Kristen yang mengalami kesulitan untuk memahaminya. Mengapa begitu?

Dalam Alkitab agaknya ada gambaran tentang Tuhan Sang Pencipta yang mahatahu, yang sulit mengambil keputusan. Pertama Dia menciptakan manusia. Kemudian Dia berkata bahwa Dia menyesal menciptakan manusia. Selanjutnya Dia mengirimkan air bah untuk melenyapkan manusia. Kemudian Dia berjanji untuk tidak akan mengirimkan banjir lagi. Bagaimana kita bisa mengandalkan Tuhan yang seakan tidak yakin akan motif dan tindakan-Nya sendiri? Tuhan yang sering berubah pikiran?

Memang ada sejumlah tempat di mana Kitab Suci Perjanjian Lama menggambarkan Tuhan sebagai Oknum Ilahi yang sering berubah pikiran seperti contoh berikut ini:

  • Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6: 6).
  • Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. (Keluaran 32: 14).
  • Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel. (1 Samuel 15: 35).
  • Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah Tuhan karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: ”Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.” (2 Samuel 24: 16).

Bagaimana semua ini cocok dengan pernyataan alkitab tentang Tuhan yang tidak pernah berubah atau berganti pikiran?

Solusi untuk teka-teki ini terletak pada pernyataan alkitabiah bahwa Allah adalah mahakasih. Apa artinya? Sifat Tuhan tidak berubah, tetapi ini tidak berarti bahwa itu statis. Sebaliknya, karena Tuhan itu hidup, aktif, dan dinamis, energi dan dinamismenya diekspresikan dalam hal memberi-dan-menerima dan dalam pasang-surutnya hubungan Tuhan dengan manusia.

Alkitab memperluas gagasan ini dengan mengajarkan bahwa sifat Tuhan yang tidak berubah mengandung konflik atau dialog yang tidak ada hentinya dengan umat-Nya. Di dalam Tuhan ada pertemuan antara prinsip-prinsip keadilan dan belas kasihan yang tampaknya bertentangan, atau antara kebenaran dan kasih karunia. Kita dapat melihat ini dalam perikop seperti Keluaran 34: 6 – 7: “Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: ”Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”

Ketegangan antara “pengampunan” di satu sisi dan “tidak membebaskan yang bersalah” di sisi lain adalah bagian penting dari hakikat Tuhan yang tidak berubah. Itu adalah inti dan esensi dari kasih-Nya yang aktif dan dinamis. Kita mungkin lebih dapat memahami konsep ini dengan membaca firman Tuhan sebagaimana dicatat oleh nabi Hosea:

“Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” Hosea 11: 8- 9.

Tuhan sampai sekarang tidak pernah berubah. Pergulatan antara keadilan dan belas kasihan selalu menjadi dasar karakter-Nya. Pada akhirnya ketegangan di dalam kodrat ilahi ini menjadi kekuatan pendorong dari tindakan Allah yang menentukan masa depan manusia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 16). Melalui tindakan itulah “Ia menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Roma 3:26). Ini juga telah menjadi bagian dari rencana dan tujuan Tuhan sejak awal, sebelum dunia dijadikan karena Ia adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakasih.

Sebagai Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa, Tuhan juga tidak pernah berubah dalam memegang kontrol atas seisi alam semesta. Apa pun yang terjadi di jagad raya, Tuhan tahu sebelum itu terjadi dan siap untuk bertindak pada waktu yang tepat. Tuhan berkuasa untuk mencapai rencana-Nya, tetapi Ia bukan Tuhan yang harus mengontrol setiap tindakan manusia dan kejadian di alam semesta. Karena kasih-Nya, Ia memberi manusia kemampuan untuk mengambil keputusan antara dua pilihan: untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau menuruti keinginan diri sendiri. Apa pun yang kemudian terjadi, Tuhan selalu bisa membuat segala sesuatu berjalan menurut rancangan-Nya. Mereka yang tergolong domba-domba-Nya akan terus dipanggil-Nya, tetapi tidak dipaksa-Nya, untuk memilih jalan yang benar sehingga pada akhirnya rencana Tuhan yang baik akan terjadi. Ia adalah Tuhan yang mahakasih, yang tidak pernah berubah hakikat-Nya.

Siapakah yang menentukan pilihan kita?

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Siapakah yang tidak mengenal nama R. A. Kartini? Raden Adjeng Kartini atau Raden Ayu Kartini merupakan sosok wanita pribumi yang dilahirkan sebagai keturunan bangsawan. Anak ke 5 dari 11 bersaudara ini merupakan sosok wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kartini sangat gemar membaca dan menulis, tapi sayang orang tuanya memperbolehkan Kartini untuk menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar karena harus dipingit. Tetapi karena tekad bulat untuk mencapai cita citanya, Kartini mulai belajar membaca dan menulis bersama teman perempuannya, termasuk belajar bahasa Belanda.

Kartini tidak pernah patah semangat. Dengan rasa keingintahuan yang sangat besar, Kartini ingin selalu membaca surat surat kabar, buku buku dan majalah Eropa dari situlah terlintas ide untuk memajukan kaum wanita Indonesia dari segala keterbelakangan. Ditambah dengan kemampuannya berbahasa Belanda, terjadi surat menyurat antara Kartini dan Mr.J.H Abendanon untuk pengajuan beasiswa di negeri Belanda, tetapi semua itu tidak pernah terjadi karena Kartini harus menikah pada 12 November 1903 dengan Raden Adipati Joyodiningrat yang sudah menikah 3 kali. Kemerdekaan kaum wanita Indonesia yang dicita-citakan Kartini tidak terjadi pada zamannya, tetapi perlahan-lahan terjadi pada tahun-tahun sesudahnya.

Kemerdekaan manusia ada dalam Alkitab sejak penciptaan. Tetapi kemerdekaan yang disertai kebebasan memilih cara hidup tidaklah seperti yang umumnya dibayangkan. Manusia sering berpikir bahwa “nasibmu ada di tanganmu sendiri” atau “you are the master of your destiny“, tetapi sering kali kenyataan adalah jauh dari itu karena walaupun manusia bisa memilih apa yang diingininya, ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipilih atau dikontrol dalam hidupnya. Manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan selama apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Manusia harus mau mengambil keputusan dan tidak dapat meminta Tuhan untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidupnya. Manusia bukanlah robot ciptaan Allah. Walaupun demikian, manusia harus sadar bahwa pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang harus terjadi.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Ada kemerdekaan, ada kebebasan memilih, tetapi ada batasan. Dalam kebebasan yang diberikan Allah, Adam dan Hawa juga dapat melanggar batasan itu, dan harus menanggung konsekuensinya. Dengan menyalahgunakan kemerdekaan itu, pelanggaran batasan terjadi – yang kemudian membawa dosa untuk seluruh umat manusia. Semua itu terjadi bukan karena Tuhan yang membuat mereka berbuat dosa, tetapi karena kehendak manusia sendiri. Manusia tidak lagi hidup dalam jaminan ketenteraman Firdaus, tetapi masuk kedalam ketidakpastian masa depan!

Sesudah kejatuhan, manusia masih mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan. Tetapi karena jauh dari Tuhan, kebebasan malahan sering digunakan manusia untuk menjadi hamba dosa. Ketenteraman hidup yang dulunya ada, berubah menjadi berbagai kesulitan dan penderitaan. Untunglah Allah dengan kasih-Nya memberikan kemungkinan agar setiap orang bisa secara bebas mengambil keputusan untuk memilih (dengan bimbingan Roh Kudus) apa yang sudah disediakan-Nya, yaitu jalan sempit yang menuju keselamatan dalam Kristus (Matius 7: 13 – 14).

Ayat pembukaan di atas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya singgah ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekadar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana di sana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya. Membaca ayat-ayat di atas, jelas Maria dan Martha mempunyai kemerdekaan untuk memilih apa yang akan dilakukan.

Apa yang terjadi ternyata membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih apa yang disenanginya. Maria duduk di dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Kedua orang itu sudah memilih apa yang baik menurut pikiran masing-masing.

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari sering kali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firman-Nya atau untuk berbakti kepada Tuhan dengan seluruh anggota keluarga. Seperti Marta kita mungkin sudah memilih apa yang tidak disukai Tuhan, tetapi itu terjadi bukan karena kehendak-Nya. Tuhan mengizinkan kita untuk menggunakan kebebasan kita dan tidak akan selalu memaksa kita untuk memilih apa yang disukai-Nya. Tetapi Roh-Nya tidak henti-hentinya mengingatkan kita, seperti Yesus mengingatkan Marta.

Hari ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anak-Nya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang di luar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan mungkin sudah sering memperingatkan bahwa ada kesempatan bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Kapankah anda akan mengambil keputusan untuk mencari kehendak-Nya? Pilihan kita, risiko kita. Tuhan memang memegang kontrol atas alam semesta, tetapi Ia tidaklah mengambil alih apa yang menjadi kewajiban kita. God is in control but He is not a controlling God.

Apakah Tuhan sengaja membuat orang jahat?

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya dan sudah memyebar ke seluruh penjuru dunia. Sudah banyak korban virus corona yang meninggal dunia, dan setiap orang agaknya mengenal atau tahu siapa yang sudah tidak lagi di dunia. Bagi umat Kristen, perginya orang yang dikasihi tentunya dirasakan sebagai hal yang sedih, tetapi adanya iman kepada Yesus Kristus membuat hati terhibur karena mereka yang percaya kepada-Nya pasti masuk ke surga.

Yang benar-benar membawa kesedihan adalah jika ada kerabat atau teman yang meninggal, yang dulunya terlihat baik dan mengaku “simpatisan Kristen”, tetapi belum mau atau sempat beribadah di gereja selama hidup mereka. Mungkin juga ada rasa sesal di hati kita karena kita tidak berhasil mengajak mereka untuk bergabung menjadi umat Kristen. Lebih dari itu, kita mungkin merasa bingung karena adanya orang yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap orang dan kehendak-Nya pasti terjadi. Kehendak yang bagaimana?

Ayat di atas sering dipakai oleh sebagian orang Kristen dalam pengajaran bahwa Tuhan menghendaki orang-orang tertentu untuk masuk ke surga dan orang lainnya untuk dibinasakan. Dalam istilah teologi, inilah yang disebut faham predestinasi ganda (double predestination). Bagi golongan yang bisa dikatakan ekstrim ini, kepercayaan ini sangat penting untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka adalah orang-orang terpilih dan Tuhan yang mahakuasa berhak untuk menolak orang-orang tertentu dari awalnya. Jika ada orang yang kemudian menganggap bahwa Tuhan adalah kejam, golongan ini menjawab bahwa Tuhan adalah kasih karena mereka sendiri yang seharusnya binasa, sudah dipilih untuk diselamatkan.

Terlepas dari populernya teologi predestinasi ganda di kalangan tertentu, semua orang Kristen di dunia memang seharusnya percaya bahwa Tuhan sudah memilih mereka. Tanpa bimbingan Tuhan tidak mungkin manusia bisa mengenal Dia. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang saat ini belum mau menjadi orang Kristen agaknya sudah dipilih Tuhan untuk ke neraka. Tidaklah mengherankan bahwa ayat di atas sudah menjadi bahan perdebatan di antara orang Kristen selama berabad-abad. Banyak orang Kristen yang menyatakan bahwa penekanan segi mahakuasa dari Tuhan oleh kelompok tertentu sudah mengesampingkan segi Tuhan lain yang sangat penting untuk keselamatan umat manusia yaitu mahakasih.

Ayat di atas dalam bahasa Ibraninya tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Bukan saja kata-kata Ibrani sering kali mempunyai beberapa arti, kitab Amsal sering menampilkan ayat-ayat yang mungkin tidak bisa diartikan secara literal. Dalam hal ini, pengertian yang lebih tepat dari ayat di atas agaknya sebagai berikut:

“TUHAN mengerjakan segala sesuatu agar menemui akhir yang semestinya, dan orang fasik pun akan menerima ganjaran yang setimpal.

Ini sejalan dengan apa yang tertulis di beberapa terjemahan Alkitab, seperti yang ada di New International Version (NIV).

The Lord works out everything to its proper end — even the wicked for a day of disaster.

Dengan demikian, ayat di atas bukanlah menyangkut penentuan Tuhan atas “nasib” manusia setelah meninggalkan dunia, tetapi hal tanggung jawab moral secara pribadi dari setiap orang kepada Tuhan selagi masih hidup dan sesudahnya.

Alkitab mengajarkan kedaulatan ilahi berdampingan dengan kehendak bebas. Tuhan ingin setiap orang untuk diselamatkan (Yohanes 3: 16), tetapi tidak semua orang mau menerima uluran tangan Tuhan. Karena itu, pada akhirnya orang yang tetap hidup dalam kefasikan seharusnya tidak terkejut ketika Tuhan memberikan hukuman-Nya. Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku dan terlihat sebagai orang Kristen akan diselamatkan. Mereka yang menyangka bahwa mereka sudah dipilih Tuhan tetapi secara sengaja tetap menjalani hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan akan ditolak-Nya. Memang tidak ada orang yang tidak berdosa, yang tidak perlu mengambil keputusan untuk bertobat.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Hari ini, kita patut merenungkan bahwa Tuhan menghendaki setiap orang agar mau mendengar suara-Nya dan bertobat dari hidup lamanya sehingga darah Yesus bisa menebus segala dosanya. Tuhan yang mahakasih tidak menentukan dari awalnya agar sejumlah orang untuk ke neraka, tetapi Ia yang mahakasih akan bersukacita jika satu orang mau bertobat dan menjadi umat-Nya.

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” Lukas 15: 7

Apakah kita mengasihi saudara seiman saja?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Matius 5: 45 – 46

Yesus adalah Juruselamat dunia

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Ini adalah satu pertanyaan yang sering dikemukakan banyak orang, baik orang Kristen maupun bukan. Sebagian orang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang beriman, sebagian lagi yakin bahwa Tuhan membenci mereka yang “kafir”. Selain itu, ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang banyak berbuat amal dan berkurban untuk sesamanya. Sudah tentu, ada juga orang yang meragukan kasih Tuhan kepadanya, karena merasa bahwa hidupnya jauh dari apa yang dikendaki Tuhan.

Memang di dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah oknum yang menuntut manusia untuk menyembah Dia dalam ketakutan dan dengan demikian manusia harus banyak berbuat baik di dunia, agar bisa menerima belas kasihan-Nya. Tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seperti ini sering kali bukannya membuat manusia menjadi benar-benar baik, tetapi membuat mereka merasa sudah baik. Memang, jika kasih Tuhan dianggap bisa dibeli, orang tidak perlu merasa takut untuk berbuat dosa karena amal-ibadah bisa menebus dosanya. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik sering masih merasa tertekan karena adanya perasaan bahwa Tuhan belum menunjukkan kasih-Nya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahasuci menuntut umat-Nya untuk hidup baik sesuai dengan firman-Nya. Tuhan membenci dosa dan tidak dapat dipermainkan oleh manusia dengan segala pikiran dan perbuatan mereka. Walaupun demikian, tidak ada apa pun yang bisa diperbuat manusia untuk mencuci dosanya, untuk memenuhi syarat kesucian Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Umat manusia tidak akan mempunyai harapan masa depan jika Tuhan tidak mengasihi mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Apakah Tuhan mengasihi semua umat manusia? Jika benar, mengapa ada orang yang kelihatan jaya dan berbahagia, sedangkan orang lain harus menderita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Jika semua manusia sudah sepantasnya binasa karena dosa-dosa mereka, Tuhan tetap memelihara mereka untuk bisa hidup dan lebih dari itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal kuasa dan kasih-Nya.

Tuhan bukan saja memberi karunia dan berkat kepada seisi dunia, Ia juga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Yesus datang ke dunia, supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya bisa menerima hidup yang kekal di surga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Tuhan sungguh besar dan tidak pandang bulu. Jika demikian, mengapa kita kurang atau tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu? Mungkinkah karena orang-orang itu terlihat berbeda cara hidupnya jika dibandingkan dengan cara hidup kita? Mungkinkah orang-orang itu hidup bergelimang dalam dosa? Ataukah karena mereka membenci dan sering menyakiti kita? Mungkinkah mereka sudah ditentukan Tuhan untuk menjadi oramg-orang durhaka yang tidak perlu dikasihani?

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan sudah dari awalnya menetapkan orang yang harus ke neraka. Karena itu, mereka percaya bahwa Tuhan tidak mengasihi semua orang, tetapi hanya mengasihi orang-orang yang sudah dipilih untuk menjadi umat-Nya. Ayat di atas menunjukkan jika kita hanya mengasihi orang-orang tertentu saja, itu berarti kita belum sadar bahwa karena kasih-Nya, kita yang tidak layak sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus.

Hari ini, marilah kita yakin bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan itu termasuk diri kita sendiri. Kita yang percaya bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi umat-Nya, haruslah sadar bahwa Ia juga masih menantikan mereka yang masih tergolong anak yang hilang untuk bertobat dan kembali kepada-Nya agar mereka dapat memperoleh keselamatan seperti kita.

Pengalaman belum tentu bermanfaat

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Tidak terasa, sekarang sudah bulan September. Waktu berjalan cepat, sekalipun dengan adanya pandemi hampir semua kegiatan manusia tidak dapat dijalankan dengan lancar. Dengan adanya berbagai pembatasan kegiatan masyarakat, orang tidak bebas untuk pergi ke tempat yang biasanya dituju setiap hari, entah itu sekolah, kantor, toko dan sebagainya. Hari demi hari dilalui, tetapi bagi kebanyakan orang hidup ini terasa membosankan karena tidak ada yang berbeda. Tidak ada pengalaman yang menarik yang bisa diperbincangkan dengan keluarga, dan mungkin tidak ada pengalaman yang bisa dipakai sebagai pelajaran hidup.

Pada umumnya semakin tua umur manusia, semakin banyak pengalamannya. Biasanya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman pribadi yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan. Bagaimana dengan pengalaman selama hidup dalam suasana pandemi ini? Sebagian orang bisa merasa bahwa Tuhan itu sungguh mahakasih, tetapi bagi orang lain Tuhan itu kejam.

Sebenarnya, selama manusia hidup selalu ada saja yang bisa diambil makna dan gunanya. Bagi banyak orang, adanya pandemi bisa membuat mereka merenungkan apa arti hidup ini dan memikirkan apa yang seharusnya mendapat prioritas utama. Pengalaman memang bisa membuat manusia lebih kuat dan bijak, tetapi juga dapat membawa kehancuran.

Secara umum, karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di saat ini, belum tentu benar di masa depan. Karena itu, pengalaman seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik untuk kita.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan dalam hidup ini mungkin bersumber pada pengalaman pribadi seseorang, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan ketenaran untuk manusia dan bukannya memuliakan Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman pribadi, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan kebenaran yang ada dalam Alkitab.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Allah kita adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1:15-16

Di zaman ini, ada banyak usaha yang dilakukan orang untuk membina komunikasi dan saling pengertian antar agama. Adanya forum diskusi antar agama, doa syukur bersama dan semacamnya, seolah-olah memberi kesan bahwa Tuhan itu satu, sekalipun ada banyak cara untuk menemui-Nya. Tidaklah mengherankan, ada banyak orang yang kemudian merasa bingung. Apakah Allah orang Kristen adalah sama dengan Allah yang disembah pengikut agama lain? Apakah sebutan Allah itu panggilan yang dipakai manusia untuk Tuhan dari semua agama?

Mungkin banyak orang yang tidak sadar bahwa pemakai bahasa Arab dari semua agama zaman Abraham, termasuk Kristen dan Yahudi, menggunakan kata “Allah” yang berarti “Tuhan”. Orang-orang Arab Kristen sampai saat ini tidak memiliki kata lain untuk “Tuhan” selain dari kata “Allah”. Kata Allah dalam tradisi Kristen Asyria juga digunakan dalam liturgi berbahasa Arab. Demikian juga Gereja Syria dan Koptik Mesir yang sama-sama telah menyebar sejak abad 1, semenjak Yesus mengutus para murid-Nya ke berbagai daerah.

Orang Kristen Arab, menggunakan istilah “Allāh al-ab” untuk Allah Bapa, “Allāh al-ibn” untuk Allah Putra, dan “Allāh al-rūḥ al-quds” untuk Allah Roh Kudus di dalam banyak ritual gereja, seperti tradisi membuat tanda salib untuk berdoa, memasuki ruang ibadah, dan juga pembaptisan. Mereka mengadopsi salam pembukaan bismillāh Muslim, dan juga menciptakan bismillāh mereka sendiri di awal abad ke-8. Jika bismillah Muslim berbunyi: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bismillāh Trinitias berbunyi: “Dalam nama Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus, Satu Tuhan.” Jadi jelas, sekalipun sebutan Allah dipakai dalam dua agama ini, ada perbedaan yang sangat besar dalam pengertiannya. Tuhan yang Esa dalam pengertian Kristen terdiri dari tiga oknum yang berlainan fungsinya.

Sangat menarik bahwa sebutan Allāh al-ab adalah identik dengan sebutan Allah Bapa di Indonesia. Seorang ayah adalah figur yang selayaknya dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya karena ayah yang baik adalah bapa yang melindungi dan memimpin anak-anaknya. Dalam konteks yang serupa, Allah Bapa atau Abba adalah oknum ilahi yang sudah menjadikan setiap orang percaya sebagai anak-Nya (Roma 8: 15).

Dalam ayat pembukaan di atas, dinyatakan bahwa Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Melalui Yesus telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dengan demikian, Yesus adalah Tuhan, dan segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

Oleh karena Yesus Kristus adalah Allah, dosa-dosa kita telah dihapuskan dalam darah Allah; hanya oleh darah Allah yang sempurnalah dosa-dosa kita dapat terhapuskan untuk memenuhi keinginan Allah yang suci dan benar. Dasar dari keselamatan kita adalah karya Yesus Kristus. Maka berbeda dengan agama dan ajaran lain, iman Kristen adalah berpegang pada satu jalan keselamatan yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus seperti yang tertulis dalam Alkitab:

“Akulah jalan dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Ayat di atas lebih lanjut dipertegas dalam ayat:

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14:9

Jika Bapa dan Yesus adalah Tuhan, bagaimana pula dengan Roh Kudus? Yesus dalam Amanah Agung-Nya memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengabarkan Injil:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Dengan demikian, ketiga oknum ilahi bersama-sama meneguhkan mereka yang percaya kepada satu Tuhan sebagai umat-Nya. Roh Kudus adalah Tuhan juga, yang muncul dalam rupa burung merpati ke atas Yesus sewaktu dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis. Lebih lanjut, Yesus meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus yang akan menjadi Penolong kita untuk selama-lamanya (Yohanes 14: 16-17). Roh Kudus ini adalah oknum Tuhan yang membantu kita dalam kelemahan kita dan juga berdoa untuk kita pada saat ini.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Pagi ini, kita tidak boleh ragu bahwa Allah bagi kita adalah Tuhan yang satu dan benar. Kita harus percaya bahwa Tuhan bekerja melalui Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Bagi Tuhan kita segala kemuliaan diperuntukkan sampai selama-lamanya!

Yesus bukan ciptaan Allah

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 16

Ayat di atas menyatakan bahwa Yesus adalah gambar Allah yang menciptakan segala sesuatu. Bagi orang Kristen, ayat ini menambah keyakinan bahwa Yesus itu adalah Allah dan satu dengan Allah, karena segala sesuatu di alam semesta tentunya diciptakan oleh Allah. Hal kesatuan dari Allah, Yesus dan Roh Kudus itu dinyatakan dalam pengertian Allah Tritunggal, yaitu Allah yang satu.

Ayat yang sangat penting dalam pengakuan iman Kristen ini sering menjadi bahan perdebatan antara orang Kristen dan orang lain yang menunjukkan adanya kemungkinan bahwa:

  • Yesus itu manusia biasa
  • Yesus itu ciptaan Allah yang bukan manusia biasa
  • Yesus itu oknum ilahi tapi lebih rendah dari Allah.

Bagi orang percaya, bumi dan isinya memang menunjuk kepada kebesaran Tuhan. Iman kita memberi keyakinan bahwa seisi bumi yang kelihatan adalah diciptakan oleh Allah, Roh yang tidak kelihatan. Allah adalah Bapa yang mahakuasa dan mahakasih. Allah jugalah yang menjanjikan datangnya seorang Juruselamat untuk menebus dosa manusia, yaitu Yesus Kristus.

Jika Allah Bapa sering dibayangkan sebagai Tuhan dalam Alkitab perjanjian lama karena penciptaan alam semesta dan segala apa yang diperbuat-Nya bagi bani Israel, Yesus mungkin lebih mudah dibayangkan sebagai Juruselamat bagi umat manusia di era Perjanjian Baru. Benarkah “pembagian tugas” antara Allah Bapa dan Anak seperti ini?

Ayat dalam Kolose 1: 16 diatas menyatakan bahwa Yesus sudah ada dari awalnya. Yesus yang pernah muncul sebagai manusia di dunia adalah gambar Allah yang roh, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Yesuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi. Apa pun yang berkuasa di bumi, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; semuanya diciptakan oleh Yesus dan untuk kemuliaan Yesus. Yesus yang pernah turun ke dunia dan sekarang berada di surga dengan demikian adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pada pagi ini kita diingatkan bahwa di mana pun kita berada dan melihat kebesaran ciptaan Allah, kita harus bersyukur bahwa kita juga ciptaan-Nya yang sudah diperbarui oleh Yesus Kristus dengan pengurbanan-Nya di kayu salib untuk ganti dosa kita. Kita juga harus bersyukur karena Roh Kudus, Tuhan sendiri, juga hidup dalam diri kita. Marilah kita memuji Tuhan kita yang satu dan yang sudah menyelamatkan kita!

“Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Yohanes 1: 2 – 4

Takutlah akan Tuhan dan milikilah rasa rendah hati

“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Amsal 3: 21 – 23

Ayat diatas adalah tulisan Salomo yang terkenal bijaksana. Tidaklah mengherankan bahwa Salomo yang sudah dikaruniai kemampuan itu oleh Tuhan, sering kali menulis berbagai nasihat yang berguna. Nasihat di atas ditujukan kepada mereka yang masih muda agar menyadari bahwa dalam hidup ini kepandaian saja belum tentu membawa kesuksesan dalam hidup. Dalam kenyataannya, banyak orang pandai yang hidupnya menderita, karena apa yang terjadi dalam hidup mereka tidaklah dapat dimengerti dan diterima dengan akal. Apalagi, dunia ini seakan lebih menyukai mereka yang tidak pandai dalam ilmu tetapi pandai bersandiwara atau mahir bersilat lidah.

Di saat ini, setiap negara tentunya berjuang untuk dapat mengatasi berbagai masalah yang timbul karena adanya pandemi. Oleh sebab itu, mereka yang memegang kedudukan penting harus berusaha bekerja dalam bidang masing-masing untuk mengurangi berbagai dampak pandemi dalam masyarakat. Sebagian di antara mereka terlihat cukup berhasil dalam usaha itu, tetapi kita tentunya masih ingat bahwa baru-baru ini ada seorang pemimpin negara besar yang melakukan dan mengusulkan hal-hal yang kurang bijaksana. Orang itu memang diakui populer dan sukses dalam bisnisnya, tetapi sebagai pemimpin negara ia sudah menimbulkan kekacauan dan perpecahan bangsa.

Kesuksesan seseorang dalam hidup memang dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dipelajarinya. Dalam proses pendidikan baik formal atau tidak formal, orang menerima berbagai ilmu yang sesuai dengan apa yang dipilihnya. Walaupun demikian, mereka yang ingin sukses dalam hidup tidak hanya perlu belajar ilmu pengetahuan (hard skills), tetapi juga harus memiliki kemampuan hidup sehari-hari (soft skills) yang sering kali tidak diperoleh dari tempat pendidikan. Dengan mempunyai kedua jenis kemampuan ini, rasa percaya diri manusia akan menjadi lebih kuat dalam mengambil keputusan penting dalam hidup.

Kepercayaan kepada diri sendiri (self confidence) memang sering kali dianggap sebagai hal yang berguna dalam hidup, yang bisa membuat orang berani menghadapi masa depan. Mereka yang sudah mendapat pendidikan tinggi, mereka yang kaya raya, dan mereka yang mempunyai kekuasaan besar umumnya mempunyai rasa percaya diri yang besar. Walaupun demikian, hidup manusia bukan hanya mengenai hal mencari solusi dari masalah yang terlihat di depan mata, tetapi juga menyangkut hal menghadapi berbagai persoalan yang belum tentu mudah dimengerti atau dapat diselesaikan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa mereka yang terlalu percaya kepada diri sendiri sering kali mudah membuat kekeliruan dalam mengambil keputusan atau tindakan.

Mereka yang benar-benar mengenal Tuhan tidak akan mudah jatuh ke dalam perangkap kesombongan karena mereka tahu bahwa sumber kebijaksanaan adalah Tuhan. Tuhan yang mahabijaksana adalah Tuhan yang mahapemurah. Mereka yang menerima kebijaksanaan dari Tuhan bisa mempertimbangkan hal apa yang penting dan apa yang tidak penting. Jika orang lain sibuk dengan hal mencari kemasyhuran, bagi mereka yang berada dalam Tuhan, hidup sudah merupakan kesuksesan karena kemenangan Yesus atas kematian. Dengan karunia keselamatan dari Tuhan, kehausan akan kesuksesan karir dan pujian orang lain menjadi hilang karena apa yang akan datang adalah jauh lebih baik dari apa yang terlihat di masa kini. Dengan demikian, hidup mereka bukan diutamakan untuk mengejar keuntungan diri sendiri, tetapi untuk selalu taat kepada firman-Nya. Memang, takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan (Amsal15: 33).

Hari ini, ada sebuah pertanyaan untuk kita. Apakah kita percaya bahwa kita akan mempunyai hari depan yang baik? Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun-tahun mendatang. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau sejam lagi. Tetapi, jika kita masih takut kepada Dia dan hidup dengan rendah hati, kita akan menghadapi semua rintangan dengan rasa percaya diri bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik sesuai dengan janji Tuhan yang mahakuasa.

Apakah anda benar-benar beriman?

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang ingin mengaku percaya dalam sebuah upacara di gereja, antara lain:

  1. Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  2. Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  3. Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  4. Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari dari pada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga? Dengan demikian, banyak orang Kristen yang bersikap pasif atau tidak tergerak untuk selalu berbuat baik. Tidaklah mengherankan kalau orang yang beragama lain menganggap orang Kristen percaya akan jalan yang termudah dan tidak masuk akal untuk ke surga.

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan.

Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firman-Nya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintah-Nya? Tidakkah orang itu mengerti bahwa sebagai orang Kristen ia harus menegakkan kebenaran dan keadilan di mana pun ia berada?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan adanya pandemi, banyak orang dihadapkan kepada dua pilihan: hidup atau mati. Untuk bisa tetap hidup, mungkin orang berusaha untuk mencari nafkah dengan cara apa pun selama ekonomi negara mengalami kemunduran, dan juga berusaha untuk mendapatkan vaksin yang terbaik dan berbagai obat yang dianggap bisa melenyapkan ancaman virus corona. Dengan adanya berbagai desakan kehidupan, tidaklah mengherankan kalau orang Kristen di saat ini mengalami ujian iman yang besar.

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Sebagai orang Kristen mereka hampir tidak ada bedanya dengan orang lain yang tidak peduli jika ada pelanggaran hukum, keadilan dan hak azasi dalam masyarakat atau menutup mata atas hal-hal buruk yang dilakukan penguasa. Pada pihak yang lain, kita pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa kita akan menjadi orang yang dibenci, alias persona non grata. Mungkin juga jika kita menurut jalan yang jujur dan benar, kesempatan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan menjadi hilang karena sudah diambil orang lain.

Pada situasi yang kacau di saat pandemi ini, kita tentunya tahu bahwa hidup sebagai orang Kristen memang lebih mudah dan aman jika dijalankan di lingkungan gereja. Karena itu, kita mungkin ingin memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab sering kali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman praktik. Tetapi, bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17