Tidak semua makanan itu berguna

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Bagi sebagian orang, hari ini adalah hari yang istimewa: hari Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh adalah perayaan bulan purnama pertama di awal tahun. Jika Imlek 2572 atau Imlek 2021 jatuh pada 12 Februari 2021, maka Cap Go Meh 2021 jatuh pada 15 hari setelah Imlek.

Menurut tradisi kuno di Indonesia, hari Cap Go Meh adalah hari yang dirayakan dengan makan lontong Cap Go Meh. Tapi, karena Indonesia masih dalam suasana pandemi, perayaan Cap Go Meh tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena tidak bisa makan-makan di restoran, banyak orang yang merayakannya bersama keluarga di rumah saja.

Makanan itu sesuatu yang sangat penting di dunia. Bagi banyak orang kesempatan untuk bisa makan besar dirasakan sebagai suatu keharusan. Anda setuju? Tentunya semua orang tahu bahwa tanpa makan, orang tidak dapat hidup. Bukan saja manusia, tetapi semua makhluk di dunia ini perlu makan. Walaupun demikian, manusia sebagai makhluk yang berbudi-daya, tidaklah puas dengan makanan yang ‘biasa-biasa’ saja. Karena itu kebutuhan untuk makan enak, makan besar dan makan-makan adalah lumrah.

Sesekali makan besar tidak ada salahnya. Walaupun demilkian, Paulus dalam ayat di atas menulis bahwa sekalipun segala sesuatu diperbolehkan, bukan segala sesuatu berguna. Karena itu, bukan segala sesuatu adalah baik untuk dilakukan. Lalu, apakah yang “baik”, yang berguna dan membangun, yang boleh dan patut dilakukan?

Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan apa saja, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10: 31). Dengan demikian, apa yang berguna adalah segala sesuatu yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan membangun kerajaanNya di dunia. Umat Kristen seharusnya hidup dan memakai hidup mereka untuk menerangi dunia agar makin banyak orang yang bertobat dari hidup lamanya dan kemudian menjadi umatNya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Makanan adalah berkat karunia Tuhan, tetapi jika disalahgunakan bisa membawa masalah. Kebanyakan makan sudah jelas tidak baik, apalagi kerakusan mungkin bisa dipandang sebagai salah satu dosa utama oleh sebagian orang. Salah makan, bukan saja bisa membuat perut kita sakit, tetapi juga dapat menimbulkan hal-hal yang lebih serius di masa mendatang.

Jika salah makan yang dialami seseorang bisa membawa akibat langsung pada keadaan jasmaninya, adakah makanan yang bisa mempengaruhi keadaan rohaninya? Tentu! Bagi orang Kristen, apa yang jauh lebih penting untuk masa depan kita adalah makanan yang murni dan suci, yaitu Firman Tuhan. Dengan firman Tuhan, kita akan bisa menjalani hidup ini dalam ketabahan dan kebenaran sampai saat kita bertemu dengan Juruselamat kita di surga. Mereka yang melihat kesehatan rohani kita tentunya akan tertarik untuk meniru kita dan menjadi orang percaya!

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Bertahan dalam penderitaan

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Dengan adanya pandemi, banyaklah orang yang mengalami musibah. Entah itu karena kehilangan pekerjaan, kehilangan sanak, atau terjangkit virus corona. Apa yang dialami oleh sebagian orang, mungkin mirip dengan apa yang dialami Ayub yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan. Dalam keadaan yang sudah terasa berat saat ini, masih ada saja orang yang menemui masalah-masalah lain yang disebabkan ulah orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih, tetapi tidak perlu terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri, yang bisa membuat orang sekuat bagaimana pun menjadi lumpuh.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Saat ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Jangan tergoda atau menggoda

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6

Hari-hari ini, ketika saya membaca media, selalu ada saja berita tentang adanya orang yang berselingkuh atau melakukan perbuatan asusila lainnya. Dalam hati saya heran bagaimana berita semacam itu justru bisa membuat orang yang bersangkutan menjadi populer . Mereka yang melakukan perbuatan yang tidak pantas itu bahkan seolah-olah bangga dengan apa yang dilakukan, sehingga mereka merasa perlu menyebar-luaskan apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Banyak diantara orang-orang itu yang mengaku bahwa mereka sudah tergoda untuk melakukan sesuatu yang terlihat nikmat. Selain itu ada juga kisah tentang orang-orang yang suka menggoda orang lain agar mau berbuat hal-hal yang tidak baik. Hal tergoda dan menggoda memang bisa menjadi berita yang membuat kecanduan banyak pembaca. Dalam hal ini sudah jelas bahwa manusia pada hakikatnya sulit untuk menguasai diri.

Dalam Galatia 5: 22-23 ada tertulis 9 buah Roh yang sudah sering dibahas, kecuali yang terakhir, yaitu penguasaan diri. Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? Seandainya tubuh dan hidup kita di dunia ini adalah sebuah mobil dan kita adalah pengemudinya, kita harus dapat menguasai mobil kita agar tidak mengalami musibah, agar tidak mencelakakan diri kita sendiri atau orang lain. Sesudah kita mendapatkan sebuah SIM yaitu menerima anugerah keselamatan dari Yesus, hidup di dunia tidaklah berubah menjadi hidup yang bebas dari bahaya. Menjadi umat Tuhan juga tidak berarti kita bisa mengarungi hidup yang penuh bahaya dan tantangan ini dengan mudah. Kita membutuhkan kemampuan untuk menguasai diri, untuk hidup dengan bertahan atas segala ancaman dari dalam dan luar.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Roma 7: 22-23

OMemang sewaktu kita menjawab panggilan keselamatan Kristus, kita merasakan kebahagiaan yang tersendiri. Karena kalau tidak karena kasih Allah, kita tidak mungkin bisa mendapat kesempatan untuk diselamatkan dan masuk ke surga. Seperti orang yang baru mendapat SIM, hati kita menjadi besar dan dengan itu kita mungkin mudah merasa yakin bahwa kita akan dapat menghadapi hidup ini dengan tenang, tanpa kuatir dalam menghadapi segala persoalan. Tetapi, dalam ketenangan hidup yang sedemikian, orang Kristen sering lupa bahwa iblis akan berusaha mencari kesempatan untuk menyerang kita sewaktu kita lengah.

Penguasaan diri adalah salah satu hal yang sering dilupakan oleh orang Kristen dalam menghadapi segala godaan kecil maupun besar dalam hidup ini. Seringkali godaan-godaan ini justru timbul ditempat dimana kita merasa aman: di kantor, dalam keluarga, dan juga di gereja dan di antara teman-teman baik kita. Tidak jarang bahwa orang yang sudah terbiasa dengan hidup menantang bahaya, justru merasa makin tertarik untuk melakukan hal yang terlarang jika risikonya makin besar. Tidaklah mengherankan bahwa adanya pandemi saat ini justru membuat orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang tercela.

Godaan-godaan ini belum tentu muncul sebagai kejahatan yang jelas terlihat, tetapi muncul sebagai perbuatan, perkataan, sikap, tingkah-laku dan keputusan yang melanggar perintah-perintah Kristus dan etika kekristenan. Seringkali hal-hal semacam itu juga melanggar hukum dan peraturan negara. Godaan-godaan itu mungkin muncul sebagai hal yang baru dalam hidup kita, tetapi seringkali adalah sisa peninggalan hidup lama kita yang belum bisa dihilangkan. Seperti apa yang dialami Adam dan Hawa, hal-hal yang sedemikian bisa menghancurkan hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

Hari ini kita belajar bahwa seperti mengemudikan mobil, kita perlu mengembangkan kemampuan kita untuk menguasai diri dalam perjalanan hidup ini. Kita harus mau belajar tiap hari untuk makin bisa membiarkan Roh Kudus untuk menguasai hidup kita. Hidup ini bisa menjadi suatu tantangan yang tidak bisa teratasi jika kita berusaha mengendalikannya dengan usaha sendiri. Tetapi dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menguasai diri kita dan tetap kuat dalam menghadapi segala tantangan hari demi hari.

Belajar bersabar dalam menghadapi masalah

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Dalam suasana pandemi ini, banyaklah orang yang berusaha untuk tidak tertular virus corona. Bagi mereka yang sudah terlanjur terkena virus ini, usaha untuk cepat sembuh seringkali membuat mereka mengambil jalan di luar apa yang ditentukan dokter. Oleh sebab itu, berbagai obat timur atau barat sekarang ini banyak ditawarkan di media bagi mereka yang sudah tidak yakin akan apa yang dilakukan oleh dokter atau rumah sakit mereka.

Mengapa orang senang memakai obat-obat “gelap” semacam ini? Ada berbagai alasan yang mungkin mereka berikan. Obat-obat tertentu mungkin dianggap lebih manjur sekalipun belum ada bukti ilmiahnya. Pemakainya mungkin percaya bahwa obat-obat itu lebih manjur dari obat dokter karena sudah banyak orang yang memakainya.

Didalam hidup kekristenan, kita sekarang juga sering mendengar dan menyaksikan adanya “penjual obat manjur” di gereja. Mereka yang menjanjikan penyelesaian instan masalah-masalah kita; masalah keuangan, hal kesuksesan, masalah kesehatan, soal hubungan kemanusiaan dll. Semuanya seolah bisa diselesaikan hanya melalui iman dan doa kita kepada Tuhan.

Seperti obat-obat yang dijual bebas dan menjanjikan kesembuhan instan, berbagai cara dan jalan diajarkan pembicara-pembicara di gereja untuk dapat memperoleh berkat Tuhan. Bahkan, mereka seolah mengajarkan cara untuk membuat Tuhan mendengarkan dan menuruti permohonan kita. Tokoh-tokoh gereja bermunculan dan menjadi tenar karena mereka membuat jemaatnya terpukau akan kata-kata mereka. Kesaksian demi kesaksian diperagakan oleh mereka sebagai bukti bahwa jika kita memakai cara tertentu, Tuhan akan menjawab permintaan kita secara instan.

Sungguh disayangkan bahwa begitu banyak orang Kristen yang tekecoh oleh berbagai ajaran yang keliru itu. Mereka tidak sadar bahwa jalan pikiranTuhan bukan jalan pikiran manusia. Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat atau termudah, tetapi adalah jalan yang terbaik buat umatNya. Sebaliknya, ada tokoh-tokoh gereja yang merasa bisa melakukan berbagai hal-hal ajaib dan meramalkan masa depan manusia. Mereka memuliakan dirinya sendiri dan dipermuliakan jemaatnya. Mereka menjadi guru-guru yang sukses seperti apa yang tertulis dalam Alkitab:

“Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.”  2 Petrus 2: 3

Untuk mereka yang dekat dengan Tuhan, kebijaksanaan rohani sudah dikaruiniakan Tuhan untuk bisa membedakan apa yang benar dari apa yang keliru. Mereka akan mengerti bahwa Tuhan mendengar permohonan anak-anakNya tetapi tidak dapat diperintah oleh siapapun. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal Tuhan tidak akan dapat mengerti bahwa segala sesuatu bergantung pada kebijaksanaanNya.

Memang manusia cenderung berbuat kekeliruan yaitu mudah tertarik atas solusi  yang instan. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus: untuk memperoleh status yang sama dengan Allah mereka memilih cara yang keliru. Kesalahan fatal! Seperti itulah banyak orang Kristen yang tergoda untuk memperoleh hasil yang hebat dan besar dalam waktu yang singkat, dan mereka jatuh kedalam perangkap dosa. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah pekerjaan iblis.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”  2 Tesalonika 2: 9

Perjuangan hidup ini tidak mudah, apa yang kita minta belum tentu terjadi menurut apa yang dihatapkan. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan apa yang terbaik, yaitu kasihNya, yang tidak dapat lenyap dalam hati kita. Mereka yang tidak mengerti akan hal ini tidak akan juga dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Lain dulu lain sekarang?

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Dalam kitab Kejadian 2 disebutkan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.

Keadaan dunia sejak kejatuhan dalam dosa sudah berubah sedemikian rupa sehingga manusia tidak lagi jernih pikirannya dan menjadi kacau hidupnya. Itu adalah konsekuensi dosa yang sudah dilakukan manusia, yang sudah merusak hubungan manusia dengan Penciptanya. Apa yang seharusnya tidak membawa rasa malu, sekarang bisa membebani pikiran manusia. Sebaliknya, apa yang seharusnya membuat rasa malu, orang melakukannya tanpa rasa segan. Mata dan pikiran yang seharusnya tidak menyebabkan manusia berbuat dosa, sekarang menjadi penyebab utama untuk jatuh dalam dosa.

Di zaman modern ini orang beriman memang menghadapi berbagai tantangan dan perjuangan. Banyak orang yang menggunakan mata dan pikiran mereka untuk mendapatkan kenikmatan. Dalam hubungan antar manusia, orang makin bebas untuk berbuat apapun karena itu dipandang sebagai hak azasi dan kebebasan pribadi. Tidak mengherankan bahwa standar moral orang zaman sekarang ini seringkali tidak sesuai dengan pandangan Kristen.

Banyak orang yang menuduh orang Kristen sebagai orang yang kolot, fanatik atau tidak realistis. Iman Kristen yang mengharuskan pengikutnya untuk menghindari kelakuan dan perbuatan tertentu bisa saja dianggap sebagai ketinggalan zaman. Jika menonton show bersama teman-teman misalnya, mau tidak mau orang Kristen ikut melihat dan mendengar apa yang tidak senonoh. Mereka yang berusaha hidup suci justru sering dipermalukan oleh orang-orang di sekitarnya dan dianggap sebagai orang yang bodoh. Oleh karena itu, banyak orang Kristen yang terpaksa “berpura-pura” dan menyembunyikan kekristenannya dalam hidup bermasyarakat.

Sebagian orang Kristen segan menunjukkan kekristenannya mungkin juga karena dorongan untuk “hidup damai” dengan golongan lain. Apalagi, jika ada sanak keluarga yang belum mengenal Kristus, hal-hal yang berbau rohani kemudian terpaksa disembunyikan agar tidak menyinggung perasaan mereka. Pada pihak yang lain, mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan bisa mengemukakan semua itu tanpa rasa malu, sekalipun telinga orang Kristen menjadi merah karena rasa malu.

Banyak gereja di zaman ini juga seakan-akan malu untuk terlalu sering membahas firman Tuhan dengan mendalam. Gereja-gereja populer malah lebih sering menyajikan apa yang dianggap dapat membuat jemaat merasa puas dan yakin akan kemampuan diri sendiri. Rasa malu akan apa yang salah sudah dianggap sepele karena adanya pengampunan dari Tuhan. Lebih dari itu, sebagai manusia yang mengaku Kristen mereka tidak malu untuk memohon berkat apa saja dari Tuhan.

Paulus dalam ayat di atas menjelaskan bahwa ia ingin dalam segala hal untuk tidak akan beroleh malu karena ia tidak memancarkan sinar kekristenannya. Ia tidak ingin mendapat malu kalau hidupnya tidak secara jelas menunjukkan bahwa ia adalah pengikut Kristus. Sebaliknya, ia ingin untuk menyatakan imannya kepada semua orang dan memuliakan Kristus dalam tubuhnya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Paulus tidak ragu untuk mengakui dosa dan kelemahannya. Pada pihak yang lain, Paulus tahu bahwa jika ia malu untuk mengakui dan menyatakan kebenaran Tuhan dalam hidupnya, Tuhan akan menolak dia sebagai umatNya.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 15

Tidak mau menipu, tidak mudah tertipu

“Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah.” Yeremia 9: 4

Di zaman ini soal menipu dan ditipu orang lain adalah soal biasa. Tiap hari di media ada berita penipuan ini dan itu, yang pada umumnya menunjukkan bahwa sekalipun masyarakat sudah maju dalam banyak hal dan bisa berkomunikasi lewat berbagai cara, seringkali orang tidak sadar akan adanya trik-trik baru yang bisa menyebabkan kerugian baik materi, perasaan maupun nama baik. Malahan, dalam berbagai media kita bisa menjumpai berbagai berita yang tidak jelas asal-usulnya atau kebenarannya, namun masyarakat menerima itu sebagai sesuatu yang menarik dan bisa dinikmati, setidaknya sebagai lelucon.

Pepatah berbahasa Inggris mengatakan “honesty is the best policy“, yang berarti “kejujuran adalah sikap yang terbaik”. Memang hal yang tidak jujur atau tidak benar, yang diperbuat, dikatakan atau ditampilkan seseorang bisa menimbulkan kesulitan untuk diri orang itu. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa mereka boleh saja tidak jujur atau mengabaikan kebenaran, selama tidak terlalu merugikan orang lain. Ada juga yang merasa bahwa mereka bebas untuk menyampaikan berita apa saja yang dianggap menarik, dan tidak peduli atas reaksi orang lain. Apalagi, di zaman ini orang bisa menggunakan media seperti Facebook, Twitter dan Whatsapp untuk membuat sensasi. Sikap ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita. Dengan demikian, kita harus selalu bersikap jujur dan waspada atas berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya dan berita-berita yang dapat menyebabkan kegundahan, kekacauan dan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen kita harus waspada akan adanya kemungkinan bahwa apa yang kita sampaikan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya. Kita harus bisa memilih berita yang benar agar tidak membuat orang lain kecewa atau salah bertindak. Kita harus mau memperingatkan orang lain jika ada berita-berita yang tidak benar, sekalipun itu bisa mengundang kritik orang-orang tertentu,

Berita yang tidak benar bukan saja muncul di antara masyarakat umum, tetapi juga sering muncul di antara orang-orang yang kita anggap pemimpin. Apa yang sudah terjadi selama pandemi Covid-19 ini membuka mata banyak orang bahwa seorang pemimpin besar bisa membuat berita-berita yang mengacaukan kehidupan rakyatnya. Banyak pernyataan resminya yang dibumbui cerita-cerita yang tidak jelas asal-usul atau kebenarannya. Dalam hal ini, sekalipun maksudnya baik, kekeliruan ini tidak dapat dibenarkan. The end does not justify the means. Tujuan tidak menghalalkan cara.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16-19

Hari ini, kita membaca dari ayat pembukaan Yeremia 9: 4 bahwa kita harus berhati-hati atas apa yang kita dengar dan terima dari orang-orang di sekeliling kita, sebab ada banyak orang yang mempunyai maksud yang kurang baik. Banyak orang yang hanya mencari perhatian orang lain, mencari nama dalam menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Memang kita tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, tetapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam menghadapi hal-hal itu.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Menghadapi kelelahan hidup

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11: 27-28

Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur dan beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kelelahan orang tentunya berbeda-beda. Ada yang lelah pikirannya, ada yang lelah tubuhnya. Ada yang lelah matanya, ada pula yang lelah mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang lelah jarinya!

Saya sendiri merasakan kelelahan yang cukup parah sejak adanya pandemi. Bermula dengan perasaan kuatir ketika lockdown untuk pertama kalinya dijalankan di kota saya, lambat laun saya mengalami kelelahan jasmani maupun rohani karena adanya berita-berita buruk dari seluruh dunia. Mata saya mulai teras berat jika ada kabar-kabar yang kurang baik dan hati pun menjadi mudah untuk berdebar-debar. Memang menurut riset baru-baru ini, banyak orang yang mengalami gangguan psikologis karena suasana yang tidak biasa. Karena itu saya sekarang mengurangi kegiatan “surfing” di media untuk meredakan ketegangan.

Penyebab rasa lelah tentunya beraneka ragam. Di usia muda, mungkin rasa capai disebabkan karena terlalu sering bergadang atau keluyuran. Sesudah berkeluarga orang mungkin merasa lelah karena kesibukan rumah tangga. Mereka yang bekerja sering juga merasa lelah karena tugas kewajiban, entah itu dalam berpikir, membuat sesuatu, atau menemui klien dan mungkin juga karena “blusukan” ke lapangan. Yang sudah mulai uzur pun sering lelah karena faktor usia dan juga karena tetap adanya tugas kehidupan.

Rasul Paulus dalam ayat-ayat diatas menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia juga sering merasa lelah, kurang tidur dan bahkan kelaparan dalam tugasnya memelihara semua jemaat-jemaat. Itulah kelelahan yang disebabkan oleh dedikasinya kepada pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Karena ia mengasihi jemaatnya, Paulus mau bekerja keras membanting tulang untuk menolong mereka yang dalam kesulitan.

Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Berbeda dengan zaman Paulus, di zaman ini orang Kristen lebih individualis dan karena itu sudah lumrah kalau mereka lebih sering merasa lelah karena “urusan dalam negeri”. Mungkin mereka yang hidup di desa masih punya rasa dedikasi tinggi kepada gereja dan masyarakat, tetapi mereka yang tinggal di kota besar biasanya terlalu sibuk dengan kehidupannya, sehingga jarang yang merasa terpanggil untuk bekerja di luar kesibukannya sendiri. Dengan demikian, mereka yang sibuk dan menyibukkan diri umumnya merasa lelah hanya karena apa yang dikerjakan untuk kepentingan pribadi dan kenikmatan diri sendiri.

Hari ini, jika kita sering merasa lelah dalam hidup kita, kita harus bisa melihat apa yang kita prioritaskan dalam hidup ini. Banyak orang yang tidak bisa tidur, merasa lelah terus-terusan, sakit-sakitan, tertekan, bingung dan bahkan berubah pikiran, karena adanya kesibukan yang lebih dari seperlunya. Karena itu, sebagai orang Kristen, kita harus selalu memohon Roh Kudus untuk memberi kita kebijaksanaan agar bisa melihat apa yang perlu dan baik untuk dikerjakan dan membuang obsesi yang tidak berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Setiap manusia memang mempunyai batas kekuatan dan karena itu adalah normal jika kita merasa lelah baik secara badani maupun rohani. Namun, seperti Rasul Paulus, kelelahan badani karena pekerjaan yang berguna untuk Tuhan dan sesama akan bisa cepat terobati, karena secara rohani kita akan memperoleh tambahan kekuatan dari Tuhan sendiri. Biarlah kita bisa bertambah bijak hari demi hari sehingga kita bisa mempunyai hidup baik yang sehat dan seimbang serta bisa mengatur prioritas hidup kita!

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. 2 Korintus 11:30

Apa pun yang terjadi, kehendak Tuhan adalah yang terbaik

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2: 9

Dengan adanya pandemi, banyak orang harus membatalkan rencana mereka. Mereka yang ingin melancong ke luar negeri harus menunggu setidaknya sampai setahun lagi, demikian juga mereka yang ingin melanjutkan studi ke negara lain terpaksa menunda rencana mereka atau memilih studi on-line. Keadaan yang sedemikian juga sudah membuat kacau rencana pernikahan sebagian orang. Mungkin saja banyak orang yang akhirnya tidak dapat mencapai cita-cita mereka.

Adanya cita-cita membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika makhluk lain hidup menurut naluri mereka, tiap orang mempunyai hidup yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Adanya cita-cita bisa memberi semangat hidup untuk menantikan apa yang diinginkan, tetapi juga bisa memberi kekecewaan atas apa yang tidak kunjung datang.

Cita-cita bukan hanya keinginan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sanak keluarga. Mungkin kita sudah merasa cukup puas dengan hidup kita sendiri, tetapi masih terus memikirkan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita cintai. Seringkali mudah bagi seseorang untuk merasakan adanya kekosongan dalam hati karena pertanyaan: Inikah semua yang bisa dicapai? Ataukah masih ada yang lebih baik?

Sangatlah mudah bagi kita untuk mengalami frustrasi dan kekecewaan bahwa apa yang ada belumlah sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebagai orang Kristen, kita terjebak diantara keinginan untuk berusaha dan kesadaran untuk berserah. Dalam hal ini kunci pertanyaannya adalah apa yang Tuhan mau dalam hidup manusia. Apakah kehendak Tuhan untuk kita?

Dari awalnya, Tuhan menghendaki agar manusia bisa tinggal dekat denganNya dan memuliakan Dia. Dengan begitu, hidup manusia akan bahagia karena kemuliaan dan kasih Tuhan juga terpancar untuk mereka. Kejatuhan manusia membuat situasi berubah, kehidupan manusia menjadi berat. Tetapi rencana Tuhan tidak berubah, yaitu untuk memberikan apa yang terbaik kepada manusia yang dikasihiNya, di bumi dan di surga.

Sebagai orang percaya, kita percaya bahwa hidup di dunia ini adalah sementara saja. Hidup yang lama kita sudah diperbarui oleh darah Kristus. Karena itu, pusat perhatian kita adalah untuk hidup baru yang semakin lama semakin baik dalam hal menyerupai Kristus.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Pagi ini, jika kita bangun dan sempat memikirkan apa arti hidup kita saat ini, biarlah kita sadar bahwa selama kita hidup di dunia, kita tetap harus melanjutkan perjuangan hidup kita; bukan untuk mencari kemuliaan dan kepuasan diri sendiri, tetapi untuk menjadi anak-anak Tuhan yang makin lama makin menyerupai Dia. Kita harus bersyukur atas apa yang ada, dan percaya bahwa hidup di surga yang dijanjikan Tuhan pasti akan datang. Pilihan Tuhan adalah yang terbaik!

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5: 24

Dalam kegelapan kita perlukan terang

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Sejak datangnya pandemi Covid-19 kita mungkin bisa merasakan adanya berbagai pendapat tentang virus corona. Ada orang yang berpendapat bahwa virus ini sebenarnya tidak ada, dan ada juga yang mengira bahwa virus itu dengan tidak disengaja lolos dari laboratorium, dan bahkan ada yang membuat spekulasi bahwa virus itu dibuat oleh sebuah negara tertentu untuk menghancurkan negara lain. Semua orang agaknya meraba-raba dalam kegelapan karena tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya dalam soal asal usul virus, pada saat ini orang tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa menyembuhkan mereka yang terjangkit. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa ada berbagai saran atau nasihat aneh di media yang dipercaya banyak orang dalam kebingungan mereka.

Sebenarnya ada beberapa sebab mengapa ada banyak orang percaya pada berbagai hoax tentang Covid-19. Pada umumnya, mereka yang tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang virus dan pandemi, mudah untuk tertipu oleh berita yang simpang siur. Dalam hal ini, jika pemerintah setempat tidak memberi penjelasan dan bimbingan yang cukup untuk rakyatnya, kesimpang-siuran berita bisa membuat rakyat mempercayai apa yang keliru. Dalam kegelapan memang orang tidak mudah menerka apa yang ada di depannya.

Jika adanya orang yang buta pengetahuan tentang Covid-19 bisa terlihat melalui apa yang mereka perbuat, banyaknya orang Kristen yang buta Firman bisa dilihat dari cara hidup mereka. Di negara barat, diperkirakan seperlima umat Kristen tidak pernah membaca Alkitab, dan mereka yang buta Firman ini adalah seperti orang yang meraba-raba dalam kegelapan. Hidup mereka pada umumnya hanya menganut apa yang dipandang benar oleh orang di sekitarnya.

Mengapa ada orang Kristen yang buta Firman? Jika pendidikan merupakan salah satu penyebab utama buta pengertian, kenyamanan hidup dan keinginan untuk hidup nyaman bisa menjadi penyebab buta Firman. Mereka yang sibuk mencari uang dan kenikmatan hidup seringkali tidak punya waktu untuk mempelajari Firman. Jika kekurangan sarana teknologi menyebabkan orang menjadi buta informasi, berlebihnya sarana internet dan sosial media cenderung membuat orang terpikat kepada hal-hal duniawi.

Kebutaan akan Firman membuat orang bergantung pada orang lain untuk menuntun mereka. Kebutaan ini membuat umat Kristen mudah disesatkan orang lain dan berbagai pengajaran yang keliru. Lebih dari itu, jika hidup kita sudah jauh dari Tuhan, sekalipun kita membaca Firman, tidak mudah bagi kita untuk mengerti tanpa bantuan Roh Kudus.

Pagi hari ini jika kita sempat merenungkan hal ini, patutlah kita bersyukur karena kita masih dapat memakai waktu dan sarana yang kita punya untuk mempelajari Firman. Memang kita memerlukan Firman Tuhan dalam hidup ini agar kita dapat berjalan di jalan yang benar karena FirmanNya itu seperti pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Biarlah kita mau meminta agar Roh Kudus tetap membimbing kita sehingga mata rohani tetap terbuka selama kita hidup di dunia.

“Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” Mazmur 119: 18

Memuji Tuhan itu tidak mudah

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Hari Minggu ini bagi sebagian orang adalah hari yang istimewa karena mereka yang mempunyai pasangan atau teman baik mendapat kesempatan untuk saling menyatakan rasa terima kasih dan rasa sayang. Terlepas dari pro dan kontra dalam hal merayakan hari Valentine, adalah baik jika orang Kristen bisa menyatakan penghargaan kepada mereka yang dikasihi. Dalam kesempatan seperti ini, mungkin orang juga diingatkan untuk mengucapkan terima kasih atas segala apa yang baik yang sudah mereka terima.

Jika mengucapkan “terima kasih” adalah salah satu kebiasaan antar manusia, bagaimana pula dengan kebiasaan yang ada antara umat Kristen dan Tuhan? Apakah mereka selalu bisa bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia karena berkat penyertaanNya setiap hari? Belum tentu! Jika keadaan memang bisa dinikmati dan semua berjalan baik, itu memang tidak sukar. Tetapi, ketika suasana menjadi kurang baik dan hidup terasa hampa atau badan terasa kurang sehat, mungkin hanya mulut yang bisa memuji Dia, sedangkan hati dan pikiran mungkin terasa terbeban berat.

Ayat diatas adalah Mazmur Daud yang sangat terkenal. Malahan, seluruh pasal 103 berisi pujian kepada Tuhan, dan diberi judul ” Pujilah Tuhan hai jiwaku” atau “Blessed the Lord, O my soul“. Dalam 22 ayat yang ada, kita bisa membaca mengapa Daud memuji Tuhan. Bagi Raja Daud, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasetia kepada umatNya. Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi Daud, Mazmur ini ditulis sebagai pernyataan terima kasih Daud kepada Tuhan.

Mazmur 103 begitu mengesankan sehingga dituangkan kedalam beberapa lagu gereja. Bagi setiap orang yang menyanyikan lagi pujian semacam itu, rasa syukur kepada Tuhan seharusnya benar-benar ada, sekalipun karena berbagai sebab yang berlainan. Mungkin ada orang yang bernyanyi karena adanya berbagai berkat seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan dan semacamnya, tetapi tentu ada juga yang hanya bisa bernyanyi tanpa bisa menghayati maknanya.

Memang jika hidup ini berjalan lancar dan mulus, mengucapkan terima kasih dengan mulut kita kepada Tuhan tidaklah sukar, karena itulah yang sepantasnya. Tetapi, jika apa yang kita alami di saat pandemi ini adalah penderitaan, mungkin sulit bagi kita untuk bisa benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur untuk apa? Bagaimana kita bisa bersyukur?

Mazmur 103 sebenarnya bukan hanya berisi pujian karena Tuhan yang memberkati anak-anakNya, tetapi juga rasa syukur kepada Tuhan karena Ia tahu bahwa manusia adalah debu, yang hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang yang berkembang indah pada satu saat, tetapi hancur jika diterpa angin kehidupan (ayat 14. – 16). Daud bersyukur dengan sepenuh hati bahwa Tuhan sepenuhnya bisa mengerti penderitaan manusia. Karena itu, Daud bisa bersyukur kepada Tuhan dalam suka maupun duka.

Hari ini kita mungkin ingin bersyukur kepada Tuhan, tetapi barangkali apa yang ada di mulut kita berbeda dengan apa yang ada di dalam hati dan jiwa kita. Bahwa dengan mulut kita bisa mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena sudah kita sudah terbiasa, tetapi hati dan jiwa kita yang mengalami kepedihan yang besar, mungkin belum bisa dengan sepenuhnya memuji Tuhan.

Daud menulis bahwa Tuhan adalah seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya dalam keadaan apa pun. Kasih setia Tuhan akan selama-lamanya dicurahkan atas kita yang takut akan Dia, dan yang berpegang pada janjiNya dan yang ingat untuk melakukan firmanNya. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita!

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13