Cara berdoa yang baik

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaam yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umatNya.

Di antara umat Kristen, memang ada yang percaya bahwa berdoa di  tempat-tempat tertentu memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat jawaban Tuhan. Karena itu, tempat-tempat sedemikian biasanya penuh sesak dengan orang yang datang untuk berdoa. Selain itu, ada pula orang yang mengajarkan cara berdoa tertentu atau melalui perantaraan orang tertentu, agar bisa lebih menjamin datangnya berkat dan pertolongan Tuhan. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen percaya bahwa mereka bisa berdoa dimana saja, dengan siapa saja, dan kapan saja.

Jika orang Kristen bebas untuk berdoa kapan saja dan dimana saja, biasanya orang memang lebih sering berdoa di tempat tertentu dan pada saat tertentu. Itu sekedar kebiasaan, dan bukan keharusan.  Orang Kristen  dianjurkan untuk berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin, tetapi mungkin kita lebih merasakan dorongan untuk berdoa di tempat tertentu atau pada saat dimana kita membutuhkan Tuhan. Itu tidak ada salahnya. Walaupun demikian, apakah doa manusia menentukan apa yang akan terjadi? Adakah manfaat doa manusia dalam mempengaruhi keputusan Tuhan? Inilah hal yang sering menjadi polemik di antara umat Kristen. Bagaimana kata Alkitab?

Ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika apa yang dipinta adalah sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengharapkan bahwa doa kita akan terkabul jika apa yang kita pinta tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Dalam kenyataannya, Tuhan Yesus pernah mengajarkan dalam Doa Bapa Kami: “… datanglah KerajkaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga“. Selain itu Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita boleh berdoa dan memohon sesuatu, tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang selalu mendengarkan permohonan kita akan mengabulkan permintaan kita jika permintaan kita bertentangan dengan kehendakNya.

Adakah cara yang terbaik untuk memperoleh jawaban positif dari Tuhan? Ada! Jika kita memohon apa yang memang dikehendaki Tuhan, sudah pasti itu akan terjadi. Tetapi, jika Tuhan menghendaki sesuatu dan kita tidak dapat membatalkan atau mengubahnya, apakah perlunya kita berdoa? Inilah misteri hubungan antara umat dan Tuhan yang tidak dapat dimengerti orang yang bukan Kristen. Malahan sebagian orang Kristen juga masih percaya bahwa jika memang kita bersungguh-sunguh dan “ngotot” dengan doa kita, Tuhan pada akhirnya mungkin mengalah dan menyesuaikan rencanaNya dengan kehendak kita.

Rahasia suksesnya doa memang sulit dimengerti, sekalipun  seharusnya dipahami oleh setiap orang Kristen. Satu-satunya jalan untuk memperoleh apa yang kita mohonkan adalah menyesuaikan permohonan kita dengan kehendakNya. Tetapi untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita harus dekat kepadaNya. Dan untuk dekat dengan Dia, kita harus rajin berdoa, berkomunikasi dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita. Tanpa doa, hubungan kita dengan Tuhan akan pelan-pelan menjadi mati. Dengan demikian, kita tidak lagi bisa memahami apa yang dikehendakiNya. Kita harus sadar bahwa doa kita yang tidak terkabul mungkin adalah doa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lebih dari itu, jika kita  mengalami atau memperoleh sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, kita tetap harus berusaha mencari kehendak Tuhan di masa depan melalui doa yang tidak berkeputusan.

Hal menggunakan hidup

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”. Mazmur 27: 4

Banyak negara yang sampai saat ini masih mempertahankan adanya hukuman mati (capital punishment) bagi mereka yang melakukan kejahatan yang sangat serius. Amerika misalnya, mempunyai 29 dari 50 negara bagian yang  masih menerapkan hukuman mati. Australia, hukuman mati yang terakhir dilaksanakan pada tahun 1967. Walaupun sesudah itu ada beberapa orang yang dijatuhi hukuman mati, namun tidak ada seorangpun yang menjalaninya karena hukuman mati yang sudah dijatuhkan kemudian diganti dengan hukuman seumur hidup. Sesudah tahun 1984 tidak ada orang yang dijatuhi hukuman mati di Australia.

Adakah untungnya bagi mereka yang pada mulanya menerima hukum mati dan kemudian diganti hukuman seumur hidup? Mungkin tipis bedanya. Mereka yang dihukum seumur hidup sudah tentu harus menderita untuk waktu yang lama dan pada akhirnya harus mati di penjara. Walaupun demikian, dengan ditiadakannya hukuman mati, dampak kekeliruan pengadilan dalam menjatuhkan hukuman mati mungkin bisa diperkecil. Memang ada orang-orang yang menjalani hukuman mati, tetapi kemudian ditemukan tidak bersalah. Dalam hal ini nasi sudah menjadi bubur, tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan orang itu.

Peniadaan hukuman mati juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi narapidana yang bersangkutan untuk mengubah kelakuan atau cara hidupnya dan menjadi orang yang menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Bagi kita yang beragama Kristen, mungkin ingat bahwa seorang penjahat yang disalibkan bersama Kristus mendapat kesempatan untuk bertobat dan percaya kepada Yesus pada saat yang kritis, tetapi tentunya tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Dengan adanya kesempatan untuk hidup lebih lama, mereka yang dibebaskan dari hukuman mati mungkin bisa berubah menjadi orang yang baik sewaktu masih di penjara.

Jika dibayangkan lebih dalam, mungkin hidup kita saat ini adalah seperti hidup di penjara. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, memang hukuman mati sudah ditiadakan. Walaupun demikian, selama hidup di dunia ini kita tidak mempunyai kebebasan sepenuhnya dari berbagai halangan, masalah, penyakit dan penderitaan. Dengan demikian kita mengharapkan saat dimana kita akan menjumpai Tuhan kita di surga, pada waktu mana kebahagiaan yang kekal akan kita terima.

Bagaimana kita harus menggunakan hidup kita selama berada di “penjara” dunia? Daud dalam Mazmur di atas mengungkapkan keinginannya untuk “bisa diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”. Ini bukan keinginan untuk cepat-cepat meninggalkan dunia ini untuk pergi ke surga. Sebaliknya, Daud ingin merasakan kasih Tuhan dan memperoleh ketenteraman dariNya selama masih hidup di dunia.  Dengan demikian, sekalipun hidup pada saat ini terasa seperti hidup di penjara, kita bisa berdoa seperti Daud agar kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan bahwa selama kita masih hidup di dunia, kita masih mempunyai kesempatan untuk menggunakan waktu yang ada untuk mengubah cara hidup kita. Jika hidup kita di masa lalu adalah hidup yang tidak mengenal Tuhan, kesempatan yang ada haruslah dipakai untuk merindukan kebersamaan dengan Tuhan yang bisa memberikan kedamaian, ketenangan dan rasa syukur atas semua kasihNya. Kesempatan yang masih ada bisa juga dipakai untuk bekerja untuk Tuhan dan menghasilkan berbagai buah yang baik.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Filipi 1: 21 – 22

Mengapa orang gemar berdusta?

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” Kolose 3: 9 – 10

Pernahkah anda membaca buku Pinokio? Buku bacaan anak-anak yang sangat terkenal ini dikarang oleh Carlo Collodi dari Italia pada abad ke 19. Dongeng Pinokio merupakan suatu cerita edukatif tentang sebuah boneka kayu yang berubah menjadi anak laki-laki. Pinokio yang nakal dan suka berbohong, melalui petualangannya kemudian menjadi anak yang baik dan patuh pada orang tua.

Mengapa Pinokio senang berbohong? Buku itu tidak menyebutkan sebabnya. Tetapi, menurut ilmu psikologi, ada beberapa sebab mengapa ada orang suka berbohong. Sebab yang pertama ialah karena jika orang lain menganggap suatu hal sebagai apa yang tidak ada artinya, orang yang suka berbohong justru merasa hal itu penting untuk dibesar-besarkan.

Sebab kedua ialah karena orang itu ingin memegang kontrol dengan segala kebohongannya. Dengan menjadi “sutradara” orang bisa mengatur pikiran dan perasaan orang lain. Ia merasa senang jika bisa membodohi orang lain. Yang ketiga adalah karena orang itu tidak ingin mengecewakan orang lain. Dengan berbohong, ia ingin membuat orang lain dekat kepadanya.

Sebab yang keempat, orang berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dengan demikian, kebohongannya makin lama menjadi makin besar. Yang kelima, orang suka berbohong karena sudah sering berbohong; ini membuat mereka lupa akan apa yang terjadi dan apa yang hanya lamunan. Dan sebab yang terakhir ialah karena kebohongan itu merupakan apa yang diharapkan untuk terjadi.

Semua penyebab di atas adalah berdasarkan pemikiran kejiwaan. Tetapi, bagaimana kata Alkitab? Alkitab menghubungkan kebohongan dengan hidup lama yang belum mengenal Kristus. Seperti Adam dan Hawa yang berbohong setelah mereka jatuh ke dalam dosa, semua manusia yang belum diperbaharui oleh Kristus selalu cenderung untuk berdusta. Memang karena mereka hidup dalam dosa, dusta merupakan bagian hidup mereka.

Ayat di atas menyatakan bahwa untuk berhenti berdusta kita harus mengalami pembaharuan terus menerus untuk makin menyerupai Tuhan Sang Pencipta yang tidak pernah berdusta. Hanya dengan hidup beriman kepadaNya, kita akan bisa mengubah hidup lama yang penuh dosa agar bisa menjadi hidup baru yang selalu berisi kebenaran. Maukah kita?

Mengabaikan Tuhan besar resikonya

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dunia ini makin lama makin maju saja dalam hal teknologi. Seiring dengan itu, berbagai produk yang canggih dan mewah muncul dan ditawarkan kepada mereka yang senang memakai berbagai perlengkapan atau gadget yang serba “wah”. Untuk memiliki benda-benda itu tentunya diperlukan uang yang tidak sedikit.

Sebuah HP yang canggih di Australia misalnya, sekarang ini bisa mencapai harga $3800, dan ini mungkin hanya untuk mereka yang kaya. Mereka yang mempunyainya tentu bisa membanggakan ketebalan ukuran dompetnya, tetapi mereka yang kurang mampu mungkin hanya bisa memakai jenis yang murah, barangkali seharga $50 saja. Sudah tentu HP yang mahal sering menjadi incaran orang untuk dijual di pasar gelap.

Bagi banyak orang yang menginginkan barang-barang mewah, tekanan hidup mungkin berkaitan dengan keinginan untuk selalu bisa mendapatkan apa yang terbaik, yang bisa dipamerkan atau show off. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang mampu, tekanan hidup mungkin saja berkaitan dengan hal mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk bisa terus bertahan atau survive. Dengan demikian, banyak orang mungkin terpikat untuk melakukan apa pun asal tujuan tercapai. Mereka lupa bahwa mengabaikan Tuhan adalah sikap hidup yang mempunyai resiko besar.

Ayat di atas adalah ayat yang sangat tepat untuk kita yang hidup di zaman dimana banyak orang sudah mengabaikan Tuhan. Banyak orang yang sudah kehilangan rasa takut kepada Tuhan pada akhirnya berani melakukan apa saja asal tujuan tercapai. Bahkan, pengabdian kepada Tuhan mungkin sudah diganti dengan pengabdian kepada hal-hal duniawi seperti pekerjaan, kekayaan, kemasyhuran, kenikmatan dan sebagainya. Karena itu, Tuhan menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang tidak benar, sehingga mereka melakukan kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, kedengkian, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

Pagi ini kita membaca bahwa Tuhan membiarkan manusia yang mengabaikanNya karena sekalipun mereka sudah mengerti akan kehendak Tuhan, mereka menuruti kemauan mereka sendiri (Roma 1: 19 – 21). Dengan demikian, kekacauan dan kehancuran hidup menanti mereka yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan.

Mengapa Tuhan membiarkan manusia yang karena kebodohannya sudah mengabaikanTuhan? Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan itu kejam. Benarkah? Tuhan adalah maha pengasih, tetapi Ia tidak akan memaksa orang yang mengabaikan Dia dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Sebagai Bapa, Ia menantikan kita yang sudah mengabaikan Dia untuk kembali mengenal dan taat kepada Dia. Tetapi, jika kita selalu mengabaikan Dia dan hidup kita menjadi berantakan, itu adalah akibat pilihan kita sendiri.

Iman yang benar adalah iman yang dinyatakan

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Roma 10: 17

Dari mana datangnya cinta? Menurut pantun lama, cinta datang dari mata, yang kemudian turun ke hati. Mata yang melihat adanya suatu sosok yang menarik, kemudian menimbulkan rasa suka yang diteruskan ke hati. Dengan demikian, cinta yang sedemikian tidaklah jauh berbeda dengan rasa suka ketika orang melihat sebuah mobil baru yang mengkilat dan kemudian bertekad untuk membelinya. Cinta yang hanya berhenti di hati seseorang mungkin hanya membawa rasa suka kepada orang itu saja. Sebaliknya, cinta yang benar bukan saja cinta yang sudah turun ke hati tetapi cinta yang kemudian mengalir keluar sebagai tekad untuk membahagiakan orang yang dicintai untuk selamanya.

Jika pantun cinta di atas adalah menyangkut hubungan antar manusia, bagaimana pula manusia bisa “jatuh cinta”, mempunyai iman kepada Tuhan yang tidak kelihatan? Bagi kita yang tidak pernah menjumpai Kristus, sudah tentu bukan mata jasmani kita yang bisa menimbulkan rasa cinta. Dengan demikian, kita tidak mengasihi Dia karena penampilanNya, tetapi karena apa yang sudah dilakukanNya kepada kita: karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan mengurbankan diriNya di kayu salib, ganti kita.

Ayat di atas menulis bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Tuhan. Dengan demikian, iman datang dari Tuhan yang melalui Firman Tuhan (Rhema) melalui Yesus Kristus, yaitu Logos atau Tuhan sendiri yang turun ke dunia. Dengan bimbingan Logos, manusia bisa mendengar apa yang difirmankan Tuhan dan kemudian mengerti bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk menuju surga.

Cukupkah bagi manusia untuk mendengar apa yang dikehendaki Tuhan? Cukupkah mereka untuk percaya dalam hati mereka? Bagi banyak orang Kristen, menjadi orang beriman agaknya adalah suatu kebiasaan saja. Apa yang didengar belum tentu dijalankan dalam hidup mereka. Mereka belum tentu mau menyatakan iman mereka dengan tegas melalui hidup mereka. Apa yang ada dalam hati tidak nampak dalam tindak tanduk, perkataan dan perbuatan mereka.

Pagi ini, jika kita ke gereja biarlah kita sadar bahwa jika ada kemauan dalam hati kita untuk mendengarkan firmanNya itu adalah baik. Tetapi, iman yang benar haruslah dinyatakan keluar dalam hidup kita setiap hari.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Jangan mundur dari iman

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Markus 8: 38

Berita media pagi ini menunjuk pada penurunan jumlah pengikut agama Kristen di Amerika. Hasil survei pada tahun 2018-2019 menyatakan bahwa jumlah itu sekarang hanya 62%, berkurang 10% dari dekade yang lalu. Sebaliknya orang yang mengaku ateis atau agnostik bertambah banyak jumlahnya. Jika pada tahun 2009 hanya 17%, sekarang ada 26%.

Sangat menarik bahwa seperti Indonesia, Amerika mempunyai semboyan “Kepada Tuhan kami percaya” atau “In God we trust“. Agaknya semboyan semacam ini mulai kehilangan maknanya karena orang bisa memilih “tuhan” yang disukainya, dan hanya melakukan kewajiban agama yang dirasakan mudah dan enak saja. Banyak orang malahan canggung atau malu kalau dianggap religius, apalagi fanatik.

Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan bahwa agar sukses dalam hidup, orang harus fleksibel dan bisa menerima kepercayaan lain sebagai alternatif untuk mencapai keselamatan di surga. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang mengaku Kristen juga berpendapat bahwa semua agama sama baiknya, dan orang juga bisa hidup baik tanpa beragama.

Jika ada kemunduran agama Kristen di banyak negara barat, di negara lain agama Kristen terlihat berkembang dengan pesat. Dari jumlah pengikutnya, kemajuan agama Kristen di Asia mungkin di anggap sebagai berkat Tuhan. Walaupun demikian, banyaknya orang yang mengaku Kristen bukan berarti bahwa nama Tuhan dipermuliakan. Mereka yang hanya mengaku dengan mulut, belum tentu mempraktikkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang menyembunyikan kekristenan mereka untuk bisa dengan bebas melakukan kejahatan dan dosa yang dilakukan orang lain, tidak lain adalah orang yang mempermalukan Tuhan.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika kita benar-benar mau menjadi pengikut Kristus, segala tindak-tanduk kita haruslah menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima. Dengan itu, kita tidak ragu-ragu untuk menjalankan hidup dan tingkah-laku yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kita tidak akan malu menjadi orang Kristen, sekalipun orang lain mencemooh kita. Kita tetap maju dalam iman walaupun banyak orang lain yang sudah meninggalkan kepercayaan mereka. Baik dengan mulut maupun hati kita, kita akan tetap bertahan dalam kasih Kristus untuk selama-lamanya.

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Roma 10: 9 – 11

Keyakinan iman yang benar

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Ayat di atas adalah ayat yang sangat populer di antara umat Kristen. Mereka yang berjuang menghadapi tugas atau masalah yang berat, berusaha membesarkan hati dengan mengucapkan “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Semboyan ini tentu benar: kita akan menang jika Tuhan memang di pihak kita. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi masalah tertentu tetaplah perlu dipertanyakan apakah dan kapankah Tuhan di pihak kita.

Dalam Alkitab ada banyak kejadian yang menunjukkan kesetiaan Tuhan kepada umatnya. Sebagai contoh, Tuhan berjanji bahwa Ia akan menyertai umat Israel sekalipun Musa harus meninggalkan mereka karena usia tua.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6

Keyakinan bahwa Tuhan selalu beserta umatNya tidak hanya dimiliki oleh orang Kristen. Banyak pengikut agama lain juga yakin bahwa mereka disertai Tuhan dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan, termasuk dalam melakukan apa yang mungkin kurang berkenan atau jahat bagi orang lain. Bahkan ada juga orang yang percaya bahwa karena Tuhan menyertai tim sepakbola favoritnya, pastilah tim itu akan menjadi juara liga!

Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang mahakasih. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan AnakNya agar barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan (Yohanes 3: 16). Tetapi, Tuhan adalah oknum yang mahabijaksana, yang mempunyai berbagai rencana yang tidak dapat dipengaruhi oleh kehendak/kelakuan manusia. Kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi besok , karena besok ada di tangan Tuhan (Yakobus 4: 14 – 15). Selain itu, Tuhan adalah Oknum yang mahasuci yang tidak dapat menerima tindakan atau kehidupan yang bertentangan dengan firmanNya. Tidaklah mengherankan bahwa Alkitab penuh dengan contoh-contoh dimana karena berbagai sebab, Tuhan tidak selalu berpihak kepada umatNya atau selalu senang menghukum mereka yang terlihat jahat. Sebagai orang percaya, bagaimana kita harus bersikap?

Memang benar bahwa kasih Tuhan adalah sangat besar sehingga Ia tidak mungkin meninggalkan umatNya, tetapi itu jika mereka tetap taat kepadaNya. Sekalipun Tuhan terkadang membiarkan hal yang tidak menyenangkan terjadi pada umatNya (Ayub misalnya), itu tidak berarti bahwa Ia meninggalkan mereka dan berpihak kepada orang yang jahat. Pada pihak yang lain, kita tidak dapat menganggap bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita jika kita sering melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya. Kita juga tidak dapat mengharapkan bahwa semua orang yang tidak kita sukai akan menerima hukuman Tuhan. Seburuk apapun keadaannya, Tuhan yang mahasabar ingin agar mereka yang tersesat untuk bisa kembali ke jalan yang benar seperti apa yang pernah terjadi pada diri kita.

Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan menang jika Tuhan berpihak kepada kita. Dapatkah kita percaya bahwa ini akan selalu terjadi? Tentu! Tuhan berpihak kepada kita jika hidup kita selalu dipakai untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Jika rencana kita sesuai dengan kehendakNya, Tuhan pasti akan memberi kita sebuah kemenangan  pada waktunya!

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Pengkhotbah 3: 11a

Iman harus bertumbuh dengan bertambahnya pengalaman

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19 – 20

Seorang kenalan yang baru merayakan hari ulang tahun ke 50 pernikahannya menyatakan bahwa pernikahan adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Saya setuju. Memang dengan lamanya pernikahan, hubungan suami-istri bukannya tidak lagi mempunyai masalah. Bahkan sebaliknya, dengan berlalunya waktu suami atau istri akan makin dapat melihat sifat pasangannya dan menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Lamanya pernikahan memang bisa membuat dua orang bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan harus ada, tetapi mereka bisa saling menghormati, saling menerima dan saling percaya. Hubungan kasih antara suami-istri memang mengalami penyataan (revelation) sepanjang hari sampai saat terakhir.

Jika pencerahan terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, bagaimana pula dengan hubungan antara manusia dan Tuhan? Ayat di atas menujukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi pernyataanNya, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum.

Berbeda dengan pernyataan Tuhan kepada dunia, hubungan umat Tuhan dan umatNya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari. Tuhan menyatakan diriNya, sifatNya, kehendakNya dan rencanaNya kepada mereka yang beriman kepadaNya. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pernyataan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak menerima penyataan dari Tuhan.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk mendengar suaraNya dan melihat kebesaranNya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasaNya dalam hidup setiap umatNya, tetapi tidak semua orang mau menerima dan mendengarkan Dia. Mereka yang bergantung pada diri sendiri cenderung mengabaikan Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umatNya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Dengan pengenalan yang makin mendalam tentang Tuhan, kita tidak akan mudah untuk kaget, kuatir, takut ataupun kecewa jika ada masalah besar yang terjadi dalam hidup kita. Dengan pengertian akan kesucianNya, kita akan bisa makin kuat dalam menghindari godaan iblis. Dengan mengakui kebesaranNya, kita juga makin lama makin menyadari kelemahan dan kekurangan kita, sehingga makin lama kita makin beriman kepadaNya.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh KudusNya setiap hari?

Hari ini, keputusan ada di tangan kita untuk mau membina hubungan yang makin baik dengan Tuhan kita. Tuhan menghendaki setiap umatNya untuk mau membuka diri kepadaNya dan juga mau menerima apa yang dinyatakanNya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, iman kita akan tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang akan datang dengan keyakinan bahwa kasihNya akan senantiasa menyertai kita.

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Berapa harga hidupmu?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Markus 8: 37 – 37

Hari ini di media Australia ada kabar bahwa seseorang yang sudah dituduh membunuh seorang tokoh kepolisian dan kemudian dibebaskan setelah dipenjara selama hampir 20 tahun, telah mendapat ganti rugi dari negara sebesar $7 juta. Jumlah yang tidak sedikit untuk seorang yang berumur 74 tahun.

Untuk apa uang sebanyak itu? Tidak ada seorang pun yang tahu! Walaupun begitu, orang itu berkata bahwa ia akan berusaha untuk mempunyai hidup normal lagi. Ia memang mengalami berbagai hal yang menakutkan dari sesama narapidana selama hidup di penjara. Lebih dari itu, ibu dan dua saudara perempuannya meninggal dunia sewaktu ia masih dipenjara.

Sebagian orang mungkin membayangkan bahwa untuk dipenjara dan kemudian dibebaskan dengan uang sebanyak itu adalah keuntungan. Tidak sia-sialah masa penderitaan yang dialaminya. Menjadi seorang jutawan bukanlah mudah dan mungkin kebanyakan orang sudah senang jika bisa pensiun dengan uang sepersepuluhnya. Tetapi, adakah orang yang mau mengalami hal yang sama?

Mungkin tidak ada orang yang dengan sengaja mau dipenjara selama 20 tahun untuk memperoleh uang sebanyak 7 juta dolar. Di penjara, bisa saja nyawa seseorang melayang karena penjara adalah tempat dimana para pembunuh dan penjahat berusaha untuk menjadi penguasa atas sesama narapidana. Belum lagi penyiksaan, pemerkosaan, pelecehan dan penggunaan narkoba yang terjadi setiap hari. Walaupun demikian tentu ada orang yang bersedia hidup dalam suasana yang penuh bahaya dan dosa di luar penjara, demi untuk memperoleh uang dan harta.

Mengapa ada orang yang mau mempertaruhkan apa saja demi harta? Tentu saja karena orang sedemikian tidak mengerti bahaya yang akan dihadapinya. Orang mungkin tidak sadar bahwa ia tidak dapat membeli keselamatan dan kebahagiaan dengan uangnya. Mereka yang mengejar harta justru bisa jatuh ke dalam berbagai godaan dan menempuh hidup yang jauh dari Tuhan. Jika Tuhan yang harus dimuliakan kemudian diabaikan karena manusia lebih mementingkan harta, tidaklah mengherankan jika hidup mereka akan menjadi kosong dan tidak bermakna. Selama manusia masih di dunia dan juga sesudahnya, hidup yang tidak berTuhan adalah hidup yang mati. Manakah yang kita pilih: harta atau nyawa?

Bertahan sampai akhir

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 11 -12

Berita olahraga kemarin membuat saya terpesona. Rekor lari maraton dunia lagi-lagi dipecahkan oleh pemegang rekor dunia dari Kenya, Eliud Kipchoge. Kali ini, ia menjadi orang pertama yang bisa menyelesaikan jarak 42.2 km itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Suatu prestasi yang luar biasa yang mungkin tidak akan mudah dipecahkan di masa depan.

Untuk bisa berlari secara konsisten dengan kecepatan lebih dari 20 km per jam ini, Eliud harus benar-benar tekun. Beberapa kali ia sudah berusaha, tetapi baru kali ini ia berhasil melakukannya dalam waktu 1 jam 59 menit. Kali ini ia menggunakan 41 pelari pendamping yang secara bergantian memacu kecepatan larinya.

Jika kekuatan (power) dan kecepatan (speed) adalah dua hal yang penting untuk lari jarak pendek, daya tahan (endurance) adalah suatu hal yang mutlak diperlukan untuk lari jarak jauh. Ini adalah kemampuan seseorang melaksanakan gerak dengan seluruh tubuhnya dalam waktu yang cukup lama dan dengan tempo sedang sampai cepat tanpa mengalami rasa sakit dan kelelahan berat.

Kemauan, tekad dan daya tahan yang besar seperti yang bisa dilihat dalam diri Eliud bukan saja dibutuhkan dalam hal berlari, tetapi juga diperlukan dalam tiap perjuangan hidup manusia. Dalam 1 Korintus 9: 24 Paulus menulis bahwa seperti dalam sebuah pertandingan ada banyak peserta yang berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah, umat Kristen juga harus “berlari” dengan bersemangat, sehingga mereka memperoleh hadiah kemuliaan di surga.

Hidup manusia di dunia ini memang tidak mudah. Kesukaran hidup, halangan, penyakit, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya bisa terjadi pada diri siapa pun. Bagi banyak orang, adanya beban hidup yang besar membuat mereka menjadi lamban dan kurang bersemangat untuk hidup. Begitu juga banyak orang Kristen yang kemudian menjadi mundur dalam iman karena adanya kekuatiran dan kesulitan yang tidak teratasi.

Dalam perjalanan hidup yang panjang, memang orang sering sulit untuk membayangkan kapan semua itu akan bisa diakhiri dengan kemenangan. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam kesulitan kita harus bisa melihat mereka yang sudah bertahan dalam iman dan menang dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Bagaikan seorang pelari maraton, kita mungkin sering menghitung-hitung jumlah kilometer yang ada di depan kita dan merasa kuatir apakah kita sanggup untuk mencapai garis finis. Tetapi, kita bisa melihat begitu banyak umat Tuhan yang berlari terus dan bertahan hingga akhir. Itu bukan karena daya tahan mereka sendiri, tetapi karena adanya Tuhan yang memberi iman dan kesabaran. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah kita bisa mencontoh mereka yang sudah menang dengan selalu memohon penyertaanNya!

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14