Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Amsal 30: 8
Bersediakah anda untuk berbohong? Pertanyaan ini lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan “Apakah anda pernah berbohong”. Setiap orang tentunya pernah berbohong, baik itu bohong kecil ataupun bohong besar, dan setiap orang bisa mengakuinya. Memang manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun demikian, pertanyaan apakah kita mau berbohong tidaklah mudah dijawab. Dengan sejujurnya kita pernah berbohong di masa lalu karena suatu sebab; dan jika ada sebab yang kuat di masa depan, mungkin saja kita tidak ragu-ragu untuk berbohong lagi.
Berbohong terkadang dihubungkan dengan pekerjaan atau kedudukan seseorang di masyarakat. Menurut survey di Australia, penjual mobil (car salesmen) adalah orang yang paling tidak bisa dipercaya. Sebaliknya. mereka yang bekerja sebagai jururawat, apoteker dan dokter dianggap sebagai orang yang paling bisa dipercaya. Ini berbeda dengan keadaan di Indonesia, dimana banyak orang yang kurang bisa mempercayai dokter karena adanya anggapan bahwa mereka adalah orang kaya yang mata duitan. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang yang tidak mau ke dokter sekalipun sudah sakit parah.
Memang orang sering jatuh ke dalam dosa kebohongan karena soal harta. Alkitab sendiri mengatakan karena cinta uang orang bisa jatuh ke dalam pencobaan.
“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 9 – 10
Walaupun demikian, setiap orang dalam kenyataannya sering berbohong bukan saja sewaktu butuh uang, tetapi juga sewaktu kelebihan uang. Kebohongan di zaman ini agaknya sudah menjadi norma kehidupan manusia dari segala tingkatan, jika mereka ingin sukses dan ingin selalu menang bersaing dengan orang lain. Mereka yang ingin jujur terus, justru dianggap orang bodoh yang tidak mau memanfaatkan kesempatan. Ini bahkan bisa terlihat juga dalam pemerintahan di banyak negara, dimana mereka yang ingin berkuasa mungkin harus bisa melakukan berbagai tipu daya dan menutupi ketidak-jujuran. Sebaliknya, rakyat yang hidup dalam penderitaan seringkali juga terdesak untuk melalui jalan yang curang agar bisa tetap hidup.
Dalam ayat di atas, Agur bin Yake memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan dirinya dari kecurangan dan kebohongan. Ia lebih lanjut meminta agar ia tidak mengalami kemiskinan atau kekayaan, karena keduanya bisa mendorongnya untuk berlaku curang dan melakukan kebohongan. Apa yang diharapkannya adalah kesempatan untuk menikmati apa yang ada, yang sudah menjadi bagian hidupnya. Ini tidak mudah, karena banyak orang yang justru tidak merasa puas dengan apa yang sudah dipunyainya.
Pagi ini, marilah kita memikirkan apa saja yang masih kita ingini dalam hidup ini. Tidak ada salahnya jika kita memohon apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Tuhan yang mahakasih selalu mau mendengarkan doa-doa kita. Walaupun demikian, pernahkah kita memohon agar kita diberi kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang sudah kita terima? Rasa cukup atas apa yang ada akan menjauhkan kita dari dosa kebohongan dan kecurangan. Rasa cukup juga akan menghindarkan kita dari hidup Kristen yang penuh kepalsuan.
“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13
Tanggal 7 September yang baru lalu semestinya adalah hari yang membawa kebanggaan khusus bagi bangsa India. Pada hari itu, seharusnya sebuah pesawat pendarat buatan negara itu bisa mendarat di bulan. Tetapi, pagi di hari itu, ketika pesawat Vikram perlahan-lahan bergerak menuju permukaan bulan, hubungan komunikasi pesawat itu dengan pusat eksplorasi luar angkasa India tiba-tiba terputus. Pusat luar angkasa Amerika NASA kemudian memastikan bahwa Vikram sudah mendarat di bulan secara “keras”di lokasi yang belum diketahui. Ada kemungkinan pesawat itu rusak berat.


Suatu ciri masyarakat modern adalah berkurangnya keinginan untuk memakai apa yang ada selama mungkin. Karena adanya banyak pilihan dan juga kemampuan atau kebebasan untuk memilih, banyak orang yang berganti-ganti pekerjaan, rumah, pakaian dan sebagainya, dan bahkan mungkin berganti-ganti pasangan. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa adanya kesempatan dalam hidup sebaiknya dipakai untuk mencoba-coba, atau ada juga yang berpendirian bahwa sebagai manusia yang bebas, setiap orang berhak menentukan cara hidupnya.

Seringkali saya heran mengapa ada orang yang diculik kemudian bisa “jatuh cinta” kepada penculiknya dan menjadi pengikutnya selama bertahun-tahun. Orang yang diculik itu bisa menjadi seperti robot yang mau diperlakukan dengan semena-mena dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak dengan sang penculik. Banyak juga orang yang diculik kemudian tidak mau berusaha untuk melarikan diri dan bahkan tidak mau memperkarakan penculiknya setelah polisi menangkapnya. Fenomena ini dinamakan “Stockholm syndrome” dimana orang yang diculik secara kejiwaan menjadi terikat kepada penculiknya. Memang manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang paling cerdas, bisa jatuh dalam penguasaan orang lain baik melalui pengaruh cinta ataupun hipnosis.
Kapankah kata malu atau ashamed muncul untuk pertama kalinya di Alkitab? Dalam kitab Kejadian. Kejadian 2: 25 menyatakan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.