“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Apakah anda penggemar film layar putih? Film sedih mana yang pernah anda tonton di Indonesia? Apakah itu “Surat kecil untuk Tuhan”? Ataukah film yang berjudul “Heart”? Saya hanya mendengar berita tentang film-film yang laris itu, tetapi belum pernah menontonnya.. Film melodrama terakhir yang pernah saya tonton di Indonesia adalah kisah cinta “Pengantin Remaja” yang diproduksi pada tahun 1971 dan disutradarai oleh Wim Umboh, dengan pemeran utama Sophan Sopian, Widyawati dan Fifi Young. Walaupun demikian, sejak hidup di luar negeri saya masih sering menonton film drama yang sedih, dan yang paling berkesan buat saya adalah film epik “Titanic” (1997) yang memenangkan rekor sebelas hadiah Oscar sebanyak yang diperoleh film “Ben Hur” (1959).
Mengapa orang suka menonton film-film yang bernada sedih? Saya kurang tahu, tetapi agaknya karena orang memiliki sebuah titik kelemahan dimana ia bisa ikut merasa terharu atau susah karena adanya hal-hal yang menyedihkan yang terjadi pada diri orang lain. Memang pada akhir film yang bernada sedih biasanya ada orang yang meninggalkan bioskop dengan mata yang agak merah dan dengan saputangan yang basah karena air mata. Sebagian orang mungkin juga merasa sedih karena bisa membayangkan betapa beratnya jika kejadian serupa benar-benar terjadi dalam hidup mereka. Saya sendiri pernah menangis setelah menonton film “The Passion of Christ” (2004) yang mengisahkan penderitaan Yesus sebelum menemui kematian di kayu salib.
Sekalipun orang mungkin senang menonton film yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati. Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.
Kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umatNya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan? Daud merasakan hal ini ketika ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ia bertanya-tanya untuk berapa lama Tuhan akan melupakan dia. Hatinya gundah dan sedih sepanjang hari karena Tuhan seakan-akan menyembunyikan wajahNya. Daud juga takut dan kuatir karena musuh-musuhnya merendahkan dia. Daud kuatir bahwa hidupnya lambat laun akan hancur karena kesedihan yang menumpuk.
Adakah guna kesedihan sehingga Tuhan membiarkan umatNya untuk mengalaminya? Ada! Kesedihan bisa membimbing manusia untuk menyadari bahwa mereka tidak berkuasa atas apapun juga yang terjadi di dunia. Penderitaan bisa juga menginsafkan manusia untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Kesedihan bisa memperkuat iman kita agar kita mau bergantung kepada Tuhan. Kesesakan hidup juga bisa membuat kita untuk mau berjalan bersama Dia. Lebih dari itu, adanya kesedihan bisa memberi keyakinan kepada kita bahwa Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang luar biasa, tidak akan membiarkan kita untuk pengalami penderitaan yang lebih besar dari kekuatan kita.
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13
Suatu ciri masyarakat modern adalah berkurangnya keinginan untuk memakai apa yang ada selama mungkin. Karena adanya banyak pilihan dan juga kemampuan atau kebebasan untuk memilih, banyak orang yang berganti-ganti pekerjaan, rumah, pakaian dan sebagainya, dan bahkan mungkin berganti-ganti pasangan. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa adanya kesempatan dalam hidup sebaiknya dipakai untuk mencoba-coba, atau ada juga yang berpendirian bahwa sebagai manusia yang bebas, setiap orang berhak menentukan cara hidupnya.

Seringkali saya heran mengapa ada orang yang diculik kemudian bisa “jatuh cinta” kepada penculiknya dan menjadi pengikutnya selama bertahun-tahun. Orang yang diculik itu bisa menjadi seperti robot yang mau diperlakukan dengan semena-mena dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak dengan sang penculik. Banyak juga orang yang diculik kemudian tidak mau berusaha untuk melarikan diri dan bahkan tidak mau memperkarakan penculiknya setelah polisi menangkapnya. Fenomena ini dinamakan “Stockholm syndrome” dimana orang yang diculik secara kejiwaan menjadi terikat kepada penculiknya. Memang manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang paling cerdas, bisa jatuh dalam penguasaan orang lain baik melalui pengaruh cinta ataupun hipnosis.
Kapankah kata malu atau ashamed muncul untuk pertama kalinya di Alkitab? Dalam kitab Kejadian. Kejadian 2: 25 menyatakan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.
Soal cinta adalah soal yang seringkali rumit. Sebuah peribahasa lama yang pernah saya kenal semasa di SMA ialah “Tak kenal maka tak sayang” yang artinya seseorang tidak dapat menyukai atau mencintai orang lain jika belum mengenalnya secara dekat. 
Menurut media, di Australia secara umum kaum pria mendapat gaji yang lebih besar, dan dapat mencapai posisi yang lebih tinggi dari pada kaum wanita. Ini adalah sesuatu yang tidak adil dalam pandangan umum. Karena itu, pada saat ini usaha membuka lowongan untuk kaum wanita sedang digalakkan dalam semua lapangan melalui program persamaan kesempatan atau equal opportunity.
Manakah yang lebih anda takuti, iblis atau Tuhan? Pertanyaan yang sederhana ini mungkin belum pernah anda terima dari siapapun. Walaupun demikian, jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, agaknya manusia lebih takut kepada iblis dan kuasanya. Mengapa begitu? Karena manusia tahu bahwa iblis mempunyai maksud-maksud yang jahat. Dalam bayangan sebagian orang, iblis atau setan juga mempunyai penampilan yang mengerikan, seperti dalam film-film horror yang digemari penonton. Pada pihak yang lain, manusia tahu bahwa Tuhan adalah oknum yang mahakuasa, tetapi justru kurang mempunyai rasa takut kepadaNya. Apa sebabnya? Tuhan yang mahakasih bukanlah oknum yang mengerikan dan jahat, karena itu banyak manusia yang mengabaikan atau melupakanNya. Tuhan yang dikenal dengan kasih, berkat dan karuniaNya justru sering dilupakan oleh manusia.