Hanya ada satu cara untuk menjadi bersih

“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” Mazmur 51: 7

Pada saat ini, hampir semua bagian dunia mengalami perubahan iklim yang luar biasa. Australia juga mengalami perubahan iklim atau climate change itu. Minggu ini, daerah yang biasanya tidak pernah mengalami hujan salju secara mengherankan bisa tertutup salju. Rumah, mobil, pohon dan tanah semuanya berubah warna menjadi putih untuk beberapa saat.

Warna putihnya salju memang menarik dan terlihat bersih memikat. Karena itu, di daerah yang mengalami hujan salju banyak orang bermain dengan salju, saling melempar bola salju, dan membuat orang-orangan dari salju. Walaupun demikian, salju yang jatuh di tanah tidak tetap bisa berwarna putih. Selang berapa lama, ketika salju mulai melunak, warnanya berubah menjadi kecoklatan karena bercampur dengan lumpur.

Ayat di atas adalah seruan Daud yang memohon pengampunan Tuhan. Daud tahu bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan bisa membersihkan dirinya dari dosa. Perbuatan baik, amal ibadah, ataupun persembahan kurban bakaran tidak akan bisa membuat dirinya yang berdosa untuk menjadi bersih dan diterima oleh Tuhan yang mahasuci. Karena itu, Daud hanya bisa memohon agar Tuhan sendiri yang membuat dia menjadi bersih dan layak untuk diterimaNya. Hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosanya dan menjadikannya lebih putih dari salju.

Berbeda dengan Daud, bagi kita yang sudah mendengar hal Kristus, apa yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Dia yang sudah mati menebus dosa kita. Darah Yesuslah yang bisa mencuci dosa kita, seperti hisop yang dipakai sebagai lambang penghapusan dosa pada zaman Daud.

Hanya ada satu hal yang sudah membuat kita lebih putih dari salju. Kita sudah di tebus dengan darah Anak Allah yang tunggal. Pengurbanan Kristus adalah sempurna sehingga kita bisa diterima oleh Allah sebagai anak-anakNya.

Masih adakah keraguan kita bahwa Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita dan karena itu kita sudah menjadi ciptaan yang baru? Jika kita memang yakin akan pengampunanNya, maukah kita menyampaikan kabar gembira ini kepada semua orang?

What can wash away my sin?

Nothing but the blood of Jesus

What can make me whole again?

Nothing but the blood of Jesus

Oh, precious is the flow

That makes me white as snow

No other fount I know

Nothing but the blood of Jesus

Prinsip meditasi Kristen

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Pernahkah anda memikirkan soal pensiun? Belum? Memang bagi yang belum setengah umur, soal pensiun mungkin belum terpikir. Tetapi mereka yang mendekati usia senja, mungkin mulai memikirkan kapan dan bagaimana mereka akan pensiun.

Bayangan akan keadaan dimana hari demi hari dilewati tanpa tujuan yang pasti bisa membuat orang kurang tertarik untuk pensiun. Tambahan pula, orang yang tidak memiliki persiapan keuangan yang baik untuk pensiun sudah tentu berharap agar hari pensiun bisa ditunda.

Memang mereka yang sudah terbiasa dengan hidup yang sibuk dan produktif, pensiun adalah momok yang ditakuti. Sebagian orang yang terpaksa atau dipaksa pensiun, bisa saja mengalami stres dan cepat menurun kemampuan otaknya.

Pada pihak yang lain, jika orang selalu hidup dalam kesibukan, kelelahan tubuh dan pikiran bisa datang. Karena itu banyak orang yang kemudian berusaha untuk mencari ketenteraman dengan mempraktikkan pengosongan pikiran. Dengan bermeditasi, mereka percaya bahwa kekuatan dan kesegaran akan dapat dipulihkan kembali.

Benarkah cara bermeditasi dengan mengosongkan pikiran itu? Dalam sudut iman Kristen, pengosongan pikiran itu bukanlah hal yang baik, sebab apa yang kosong akan mudah diisi atau dipengaruhi hal yang jahat. Mungkin ini seperti raja Daud yang pada waktu petang berjalan-jalan di atas sotoh istana. Pikiran Daud yang kosong membuat ia terpikat oleh pemandangan yang kemudian membawanya jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan perempuan cantik yang bernama Betsyeba, yang berlanjut dengan pembunuhan suaminya yang bernama Uria.

Ayat di atas adalah apa yang harus kita pegang sebagai prinsip meditasi Kristen. Meditasi Kristen bukannya mengosongkan pikiran, tetapi justru memusatkan pikiran kepada apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci, apa yang manis, apa yang sedap didengar, apa yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Semua itu dapat kita temukan di dalam kasih Tuhan dan firmanNya.

Hari ini, jika kita merasa resah, lelah ataupun susah, haruslah sadar bahwa kita tidak boleh membiarkan pikiran dan hati kita menjadi kosong. Usaha melarikan diri dari masalah kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, kita harus mengisi hidup kita dengan apa yang baik yang bersumber dari Tuhan kita. Semoga RohNya membimbing kita untuk mendapatkan apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci.

Berjuang hari demi hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Pagi ini kebetulan saya menemukan lagu “One day at a time” yang dibawakan oleh Lynda Randle di YouTube. Syairnya sungguh menarik, terutama refrainnya yang sebagian berbunyi:

Just give me the strength to do everyday

What I have to do

Yesterday’s gone, sweet Jesus

And tomorrow may never be mine

Lord, help me today

Show me the way

One day at a time

Lagu ini berisi permohonan kepada Yesus untuk memperoleh kekuatan agar bisa melewati hari demi hari tanpa memikirkan hari kemarin yang sudah lenyap, atau hari esok yang belum tentu datang.

Alangkah benarnya syair lagu itu, bahwa kita hanya membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk melakukan apa yang harus kita kerjakan hari ini. Memang Tuhan Yesus berkata dalam ayat di atas bahwa kita tidak perlu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Sekalipun demikian, adalah kenyataan bahwa orang sering memikirkan hari yang telah lalu dan hari yang akan datang. Hari yang telah lalu dengan segala kegagalan dan kekecewaannya, dan hari yang akan datang dengan segala ketidakpastian dan kekuatirannya. Oleh sebab itu, orang kemudian lupa bahwa pada hari ini ada tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Setiap orang dikaruniai 24 jam dalam sehari. Memakai waktu yang terbatas itu dengan bijaksana adalah hal yang tidak mudah. Karena itu, jika kita sibuk memikirkan apa yang telah lalu dan apa yang mungkin datang, kita tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menghadapi hari ini. Hari ini kemudian akan berlalu dan menjadi hari kemarin dengan segala penyesalannya.

Menghadapi persoalan hari ini dengan bersandar kepada Tuhan adalah bukti iman. Itu membuktikan bahwa kita percaya bahwa Tuhan bersama kita Sebaliknya, menyesali apa yang sudah terjadi pada masa lalu membuat kita jauh dari Tuhan karena seolah Tuhanlah yang membuat atau membiarkan semua itu terjadi. Pada pihak lain, menguatirkan masa depan membuat kita lemah karena seolah kuasaTuhan tidak dapat diharapkan. Biarlah kita sadar bahwa Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya, dan kewajiban kita adalah untuk percaya kepadaNya.

Bagaimana mengasihi saudara seiman

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Bayangkan anda sedang mengikuti acara trivia di sebuah retret gereja. Trivia yang dapat disebut kuis atau permainan pertanyaan adalah sebuah acara game dimana beberapa kelompok bertanding untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh pembawa acara. Berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan isi Alkitab mungkin muncul:

  • Siapakah yang harus kita kasihi? Jawab: Tuhan dan sesama kita.
  • Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia? Jawab: karena Tuhan mengasihi seisi dunia.
  • Apakah Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan? Jawab: Tuhan lebih mengasihi orang yang percaya dan taat kepadaNya.

Semua pertanyaan di atas mungkin mudah untuk dijawab. Tetapi bagaimana dengan pertanyaan ini: Apakah orang Kristen patut untuk “pilih kasih” dengan lebih mengasihi sesama orang beriman? Pertanyaan ini mungkin bisa membuat peserta trivia untuk berpikir dalam-dalam.

Sebagian orang Kristen yakin bahwa mereka harus mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Bukankah Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi mereka yang tidak kita kenal dan juga musuh kita? Lukas 10: 30 – 37 menyatakan bahwa kita harus bisa menjadi seperti orang Samaria yang bisa bermurah hati kepada siapa pun.

Memang benar bahwa kita harus bisa mengasihi semua orang dari mana pun asalnya, bagaimana pun penampilan, sikap serta sifatnya. Walaupun demikian, Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa kita harus mau berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Jelas bahwa kasih kita kepada sesama orang beriman haruslah lebih besar jika dibandingkan dengan kasih kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai anggota tubuh Kristus kita adalah sepenanggungan.

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1 Korintus 12: 26 – 27

Mengasihi saudara seiman adalah kewajiban, tetapi dalam kenyataannya orang Kristen mungkin lebih sering menyatakan rasa kurang suka dan bahkan rasa benci kepada mereka yang sebenarnya seiman. Selain itu, kebanyakan orang Kristen hanya peduli atas saudara seiman yang segereja, segolongan, sedoktrin, sesuku dan senegara. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kita seharusnya dapat ikut merasakan penderitaan, kesulitan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara seiman?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Percaya dan menurut adalah kunci kebahagiaan

Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14: 23

Tahukah anda akan lagu himne Trust and Obey? Lagu yang juga dikenal dengan judul When we walk with the Lord dan yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Siapa Yang Berpegang ini, diciptakan oleh John H. Sammis pada tahun 1887. John dilahirkan pada tahun 1846, di Brooklyn, New York dan meninggal pada tahun 1919 di Los Angeles, California.

Dalam bahasa Indonesia, syair lagu ini berbunyi:

Siapa yang berpegang pada sabda Tuhan dan setia mematuhinya,

hidupnya mulia dalam cah’ya baka bersekutu dengan Tuhannya.

Refrein

Percayalah dan pegang sabdaNya:

hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia!

Siapakah yang tidak mau hidup berbahagia? Tentunya semua orang, Kristen maupun bukan, ingin untuk mempunyai hidup bahagia. Tetapi bagaimana caranya untuk mencapai kebahagiaan? Lagu di atas menyatakan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan dan menurut perintahNya akan benar-benar berbahagia. Tidak ada jalan lain, there is no other way. Manusia harus percaya kepada Tuhan dan mau menurut perintahNya jika mau hidup berbahagia.

Ayat di atas menegaskan bahwa jika seorang mengasihi Yesus, orang itu akan menuruti firmanNya. Karena itu Allah Bapa akan mengasihi dia dan akan datang kepadanya bersama Yesus dan akan diam bersama-sama dengan orang itu. Barangsiapa percaya kepada Yesus dan menurut perintahNya akan disertai Tuhan. Tuhan selalu mendampinginya.

Sesudah membaca ayat di atas, tentunya kita tidak heran mengapa kebahagiaan itu sulit didapat. Tidak semua orang mengenal dan percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah, dan mereka yang mengaku percaya belum tentu mau menurut perintahNya. Untuk memperoleh kebahagiaan, manusia perlu keduanya: percaya dan menurut, trust and obey. Satu saja tidak cukup. Tidak ada orang yang benar-benar percaya yang tidak mau menurut firmanNya, dan tidak ada orang yang bisa menuruti perintahNya tanpa percaya kepadaNya.

Berbeda dengan orang lain, orang yang percaya dan menurut firmanNya akan disertai oleh Tuhan sepanjang hidupnya. Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa akan hidup bersama-sama dengan dia dalam keadaan apapun dan pada setiap saat. Tidaklah mengherankan bahwa orang yang benar-benar berbahagia adalah orang istimewa yang disebut anak-anak Allah!

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 11

Dari mana datangnya kejahatan?

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dua pembunuhan masal dalam seminggu di Amerika bukanlah berita yang bisa diabaikan. Berita sedih seperti ini ingin kita hindari, tetapi rupanya sudah menjadi hal yang biasa muncul di media dari negara manapun. Mengapa bisa timbul rasa kebencian yang luar biasa yang membuat orang tega untuk mencelakai sesama manusia yang tidak mereka kenal atau bersalah terhadap mereka? Mengapa ada orang-orang yang mendapat kepuasan dengan mencelakakan orang lain?

Hal-hal ini memang patut kita renungkan, karena dunia ini kelihatannya bertambah jahat. Memang secara keseluruhan dunia ini makin sadar akan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi pada lain pihak, manusia di zaman ini makin terbiasa untuk merasa bahwa hidup mereka ada di tangan mereka sendiri. Tuhan jika memang ada, bukanlah Oknum yang harus disegani dan dihormati.

Manusia dimana saja memang selalu ingin untuk merdeka dalam hidup. Jika dulu orang mendambakan kemerdekaan dari kungkungan orang lain dan dari jajahan negara lain, sekarang orang yang hidup di banyak negara maju dan merdeka, dengan sengaja menginginkan kemerdekaan dari Tuhan dan hukumNya.

Dengan memikirkan adanya Tuhan, manusia mungkin merasa terhambat untuk bisa hidup sebagaimana yang mereka maui. Karena itu, banyak orang yang sengaja melupakan adanya Tuhan. Dalam banyak keluarga, orangtua tidak lagi mendidik anak-anak mereka hal takut akan Tuhan. Jika Tuhan bisa dilupakan, anak-anak mereka akan lebih bisa mencapai apa saja yang mereka cita-citakan. Benarkah begitu?

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merasa tidak perlu mengakui Allah, maka Allah tidak mau mengakui mereka sebagai umatNya. Allah tidak akan membimbing mereka yang tidak mau percaya kepadaNya. Terhadap mereka yang dengan sengaja mengabaikan Dia, Tuhan akan menolak mereka dan membiarkan mereka jatuh kedalam berbagai dosa yang membawa ke arah kehancuran hidup mereka.

Kembali ke soal kejahatan manusia yang makin marak, bagaimanakah kita harus mengambil sikap dalam situasi seperti ini? Sebagai orang Kristen kita harus tetap berani untuk meyakinkan orang lain bahwa takut akan Tuhan adalah kunci perdamaian antar umat manusia dan antara manusia dan Tuhannya. Takut akan Tuhan haruslah ditanamkan pada setiap insan sejak kecil dan dipelihara sampai akhir hayat.

“Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang” 2 Korintus 5: 12

Bersatu dalam Tuhan

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 18: 25

Akhir pekan ini saya mengikuti sebuah retret gereja yang diadakan di sebuah tempat camping di gunung Tamborine, Queensland. Seperti yang kita ketahui, retret (retreat)  pada umumnya diartikan sebagai gagasan untuk sementara waktu menjauhkan diri kita dari kegiatan sehari-hari.

Retret dapat berarti sebuah pengalaman mengasingkan diri bersama dengan sebuah kelompok/komunitas orang seiman. Dalam arti luas, ini bisa berupa pertemuan doa, kebaktian kebangunan rohani atau kebaktian gereja. Kegiatan semacam ini dipandang perlu untuk membawa pembaharuan atau penyegaran hidup rohani. Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen menyadari perlunya retret. Lebih parah lagi, ada orang Kristen yang tidak sadar akan pentingnya untuk ke gereja setiap hari Minggu.

Banyak orang Kristen mengeluh bahwa di zaman ini, sangat sulit untuk mempraktikkan cara hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika di negara-negara tertentu orang Kristen tidak bebas untuk beragama, di tempat lain orang Kristen justru bisa mengalami berbagai masalah karena adanya kebebasan beragama.

Dengan kesibukan manusia dan kebebasan manusia untuk memilih kepercayaannya, datanglah kebebasan manusia untuk tidak mengamalkan imannya. Karena itu di negara yang maju, orang kurang merasakan keharusan untuk bersekutu dalam Tuhan. Dengan kata lain, kebebasan beragama adalah identik dengan kebebasan untuk tidak beragama. Dan di antara orang yang mengaku Kristen, mungkin ada yang yakin bahwa mereka tidak perlu untuk pergi ke gereja atau ke persekutuan orang seiman yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus yang mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, seperti retret atau kebaktian gereja. Memang banyak orang sudah terbiasa untuk menggunakan segala kesempatan untuk mencari kegembiraan duniawi. Apalagi karena mereka sehari-harinya sudah sibuk bekerja mencari nafkah. Walaupun demikian, karena kita sadar bahwa kedatangan Tuhan bisa terjadi sewaktu-waktu, kita harus selalu berjaga-jaga dan mau saling menasihati dalam hal menumbuhkan kerohanian kita, dan semakin giat untuk melakukan apa yang baik untuk membina hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, biarlah kita makin bersemangat dalam mengikuti persekutuan orang percaya dalam bentuk apapun.

Tuhan tidaklah jauh dari kita

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Mazmur 139: 7

Sudah lebih dua minggu polisi di Canada mencari dua anak muda yang diduga sudah menembak mati tiga orang di daerah pegunungan di British Columbia yang lebat hutannya. Tragisnya, salah satu korban adalah putra dari petinggi kepolisian Australia. Tentunya sang ayah merasa sangat frustrasi karena sekalipun ia adalah polisi yang biasa menangani kasus berat di Australia, kali ini ia harus menjadi penonton saja karena kasusnya terjadi di negara lain. Bagaimana kedua penjahat itu bisa menembus tempat-tempat pemeriksaan polisi (checkpoints) yang ada dimana-mana dan menyembunyikan diri sampai sekarang adalah sebuah tanda tanya besar untuk polisi Canada.

Mereka yang melanggar hukum biasanya melakukan kejahatan secara tersembunyi.  Jika apa yang mereka lakukan diketahui polisi mereka akan melarikan diri supaya tidak tertangkap. Dalam kenyataannya, polisi tidak selalu bisa menyelesaikan kasus kejahatan karena adanya hal-hal yang tidak dapat ditemukan, seperti bukti kejahatan, saksi kejahatan dan pelaku kejahatan itu sendiri. Selang beberapa tahun, polisi mungkin saja terpaksa menutup kasus itu karena tidak adanya kemungkinan untuk mencari jawabannya. Kasus itu kemudian menjadi cold case. Kasus sulit yang belum terselesaikan dan yang terpaksa dikesampingkan untuk sementara waktu.

Banyak kasus cold case yang akhirnya tidak terselesaikan. Orang kemudian melupakan kasus-kasus itu. Setelah bertahun-tahun, ada kemungkinan bahwa pelaku kejahatan itu sendiri sudah meninggal dunia. Mereka tidak pernah mendapat hukuman atas kejahatan yang pernah dilakukan dan dengan demikian tidak ada seorang pun yang tahu pasti siapa dan dimana pelaku kejahatan itu. Kecuali Tuhan.

Tuhan yang mahatahu tentunya bisa melihat siapa yang berbuat kejahatan. Ia juga tahu apa yang terjadi. Tuhan sering dikatakan orang sebagai Tuhan yang mengawasi manusia dari jauh. God is watching us from a distance, begitulah syair sebuah lagu yang terkenal. Memang, diantara mereka yang percaya adanya Tuhan, sebagian merasa bahwa Tuhan itu jauh dan tidak melibatkan diri dalam kehidupan manusia. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang tidak merasa takut jika mereka melakukan apa yang jahat. Tidaklah aneh jika ada orang Kristen yang mengabaikan Tuhan dalam hidup dan tingkah lakunya karena Tuhan itu jauh dan tidak terlihat.

Ayat di atas ditulis oleh Daud yang menyadari bahwa Tuhan tidaklah “nun jauh di sana”. Tuhan ada di mana saja dan Ia tahu segala apa yang terjadi dan kita lakukan dalam hidup kita. Daud juga menyadari bahwa Roh Tuhan menyertai dia, kemana pun ia pergi.

Seperti Daud, sebagai orang Kristen kita tentunya bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Jika tidak demikian, mungkin kita belum yakin bahwa Tuhan yang mahakasih senantiasa menyertai umatNya. Tuhan tidak saja mengikuti apa yang kita jalani dalam hidup ini, Ia juga tinggal dalam hati kita. Roh Kudus adalah Roh Allah yang mau membimbing kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Kita harus sadar bahwa Tuhan yang dekat tidaklah boleh diabaikan. Tuhan tahu apa yang kita lakukan dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bagi Tuhan tidaklah ada cold case. Tuhan selalu bisa melihat segala sesuatu, menyelesaikan semua perkara dan menentukan apa yang akan terjadi. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang dekat.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

 

 

Jangan merasa terpaksa

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9: 7

Pernahkah anda didatangi oleh orang yang meminta sumbangan? Di Australia, biasanya tiap tahun ada orang dari gereja tertentu yang berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencari sumbangan bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Gereja ini memang terkenal dengan aktivitas sosialnya yang sangat menolong mereka yang tidak mempunyai rumah atau pekerjaan. Selain itu, terkadang ada juga orang yang meminta sumbangan atas nama sebuah rumah sakit atau badan riset penyakit tertentu. Mereka yang dengan senang hati memberi sumbangan biasanya adalah orang yang sadar akan hasil baik yang sudah dicapai oleh badan-badan sosial itu.

Sekalipun menyumbang badan sosial adalah sesuatu yang dipandang baik, banyak orang yang kurang tertarik untuk melakukannya. Bagi mereka, menyumbang adalah kehilangan uang dan itu tidak memberi manfaat apa-apa. Untuk mendorong agar orang mau menyumbang, badan-badan sosial bisa meminta izin khusus pemerintah sehingga para penyumbang bisa memperoleh potongan pajak pendapatan. Dengan demikian, para penyumbang tidak terlalu merasa kehilangan, tetapi sebaliknya memperoleh keuntungan walaupun tidak sebesar jumlah yang disumbangkan.

Berbagai organisasi lain yang bukan badan sosial, juga sering mencari sumbangan untuk maksud-maksud tertentu. Mereka mungkin membuat undian berhadiah atau mengadakan acara-acara tertentu yang dikarciskan. Dengan demikian, orang memberikan sumbangan dengan mengharapkan balasan. Selain itu, ada organisasi-organisasi yang mengharuskan pemakai jasa mereka untuk membayar uang iuran. Orang dengan demikian terpaksa membayar karena itu sudah menjadi keharusan.

Ayat diatas sering dibacakan di gereja ketika kantung persembahan akan diedarkan. Ayat itu menganjurkan agar setiap jemaat memberikan menurut kerelaan hatinya, tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Ayat ini agaknya menyuruh jemaat untuk memberikan persembahan sebagai pilihan dan dengan sukacita, bukan karena adanya keharusan atau keuntungan.

Bagaimana kita bisa memberi persembahan kepada Tuhan sebagai pilihan dan dengan sukacita? Kita memilih untuk memberi persembahan karena kita ingin menyatakan kasih kita kepadaNya. Kita tahu bahwa Tuhan sudah membuat berbagai kebaikan buat umatNya. Tuhan  sudah lebih dulu mengurbankan AnakNya untuk menebus dosa kita. Tuhan juga sudah membimbing kita tiap hari dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan demikian, kita tidak perlu mengharapkan balasan dari Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan akan memakainya untuk berbagai maksud yang baik sesuai dengan rencanaNya. Kita memilih untuk memberi, bukannya karena terpaksa dan bukan juga karena kita ingin mencari keuntungan yang lebih besar.

Tuhan tidak membutuhkan persembahan manusia karena sebagai Tuhan yang mahakaya, Ia jugalah yang sudah memberikan berkatNya kepada umat manusia. Tuhan tidak perlu menawarkan suatu hadiah insentif agar manusia mau mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Tuhan tidak juga memaksa umatNya untuk membayar “upeti” karena kita sudah menerima kasihNya. Karena itu, semua persembahan kita haruslah dilandaskan pada rasa terima kasih atas segala yang sudah diberikanNya. Dalam hal ini, persembahan yang paling layak kita berikan adalah hidup kita karena Yesus sudah mati untuk menebusnya.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5: 1 – 2

Apakah anda menanti-nantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28

Pernahkah anda mendengar nama Hachikō? Hachikō adalah seekor anjing jantan jenis Akita yang dilahirkan pada tahun 1923 di Prefektur Akita, Jepang. Pada tahun 1924, professor Hidesaburō Ueno mengambilnya sebagai binatang peliharaan untuk hidup bersamanya di Shibuya, Tokyo. Setiap hari kerja, Profesor Ueno  naik kereta api dari stasiun Shibuya untuk ke universitas Tokyo dan jika ia pulang, Hachikō  sudah menunggunya di depan stasiun. Kebiasaan ini berlanjut sampai 21 Mei 1925, ketika sang majikan tidak pulang ke rumah. Pada hari itu Profesor Ueno meninggal dunia karena perdarahan otak. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di tempat yang sama selama 9 tahun, 9 bulan dan 15 hari.

Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya telah menjadi salah satu marka tanah di Shibuya. Hachikō dianggap sebagai contoh anjing yang sangat setia. Tetapi, apakah Hachikō sebenarnya mengerti arti  kesetiaan? Saya kurang tahu. Yang jelas, Hachikō tidak mengerti bahwa majikannya sudah meninggal dunia. Ia menunggu karena berharap bahwa Profesor Ueno akan pulang ke rumah. Ia mencintai majikannya dan sudah terbiasa untuk menunggu dia muncul dari stasiun. Bagi Hachikō tidak ada tugas lain yang lebih penting dari menanti-nantikan kedatangan sang majikan. Suatu kesetiaan dan pengharapan yang mengesankan tetapi tidak ada gunanya. Sampai Hachikō mati, sang majikan tidak pernah muncul kembali.

Bagi kita manusia, pekerjaan menunggu seringkali adalah sesuatu yang membosankan. Apalagi jika kita harus menantikan sesuatu yang belum pasti terjadi, atau belum diketahui kapan akan terjadi. Bagi kita, mempunyai kesetiaan seperti Hachikō mungkin diartikan sebagai kesetiaan yang buta, tanpa makna. Tentunya hanya orang bodoh yang mau menantikan sesuatu yang pasti tidak akan terjadi.

Bagaimana pula dengan menantikan hal kedatangan Kristus untuk kedua kali? Banyak orang Kristen yang menganggap ini sebagai sesuatu yang tidak bisa diterka kapan akan terjadi. Bagaimana Kristus akan muncul lagi juga sulit dibayangkan. Malahan ada yang percaya bahwa semua itu adalah kiasan saja. Karena itu, ada orang Kristen yang sama sekali tidak mau memikirkan pentingnya hal ini. Hidup ini penuh dengan tugas dan kegiatan; menunggu sesuatu yang tidak pasti bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan sekarang, begitu mungkin ujar mereka. Sebaliknya, ada orang Kristen yang seolah selalu menantikan kedatangan Kristus. Kristus bisa muncul sewaktu-waktu dan karena itu mereka selalu sibuk mencari tanda-tanda kedatanganNya. Bagi orang-orang seperti ini, hidup kekristenan adalah seperti hidup Hachikō sepeninggal majikannya. Menanti-nantikan kedatangan Kristus yang kedua kali adalah satu-satunya tugas yang utama.

Ayat di atas menyatakan bahwa  Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. Majikan kita, tuan kita, Tuhan kita, akan datang lagi guna memberikan kita hadiah keselamatan kekal yang sudah dijanjikanNya. Ini adalah saat yang istimewa yang seharusnya sudah dinanti-nantikan oleh mereka yang benar-benar percaya dan setia kepada Tuhan. Bukti kesetiaan kita adalah keinginan untuk dengan sungguh-sungguh (eagerly) menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Mereka yang tidak tertarik untuk menantikan Dia, mungkin mempunyai prioritas lain dalam hidupnya.

Menantikan kedatangan Kristus bukan hanya menunggu, membayangkan dan mengharapkan Kristus untuk datang dengan kemuliaanNya. Menantikan kedatanganNya juga bukan berarti hanya mengharap-harapkan “hadiah” kemuliaan yang akan diberikan kepada umatNya yang setia. Menantikan kedatangan Kristus berarti percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Kristus adalah Raja di atas segala raja. Menantikan Dia yang kita kasihi juga menuntut agar kita membagikan kasih kita kepada orang lain. Karena itu, sebelum Ia datang lagi, kita harus bekerja dengan giat untuk memasyhurkan namaNya di antara orang-orang yang belum mengenal Dia. Menunggu sang Raja, kita juga harus mempersiapkan diri dengan menata hidup kita supaya kelihatan tidak bercacat di hadapan Dia.  Menunggu berarti hidup sesuai dengan FirmanNya dan siap untuk menyambutNya kapan saja.

“Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 1 Timotius 6: 14