Ujian yang paling sukar

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Pada akhir bulan November ini, semua mahasiswa sudah mendapat hasil ujian semester 2 dan memasuki saat liburan musim panas. Sebagian murid bisa bergembira karena lulus dari semua ujian, tetapi sebagian lagi mungkin tidak bisa bersukacita karena adanya kegagalan dalam ujian tertentu. Memang tiap mata pelajaran sebenarnya mempunyai derajat kesulitan (degree of difficulty) yang berbeda, dan setiap orang mempunyai kemampuan yang berlainan. Bagi mereka yang menyukai mata pelajaran tertentu, biasanya merasa lebih mudah untuk menghadapi ujiannya. Tetapi mereka yang kurang menyukai suatu mata pelajaran, biasanya akan lebih sulit untuk lulus dari ujiannya.

Hidup ini adalah seperti menghadapi ujian. Tiap-tiap hari kita menghadapi tugas dan tantangan. Dan bagi semua orang, ada tantangan dan ujian yang bersifat jasmani, dan ada yang rohani. Apa mata pelajaran yang disukai seseorang dalam hidup biasanya menentukan bagaimana hasil ujiannya. Mereka yang menyenangi mata pelajaran jasmani, mungkin kurang bisa menikmati mata pelajaran rohani, dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, mereka yang sehari-harinya sibuk dan senang memikirkan hal-hal jasmani saja, mungkin kurang mampu untuk menghadapi ujian rohani.

Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu seperti itu. Ada juga tafsiran lain bahwa kata “unta” itu sebenarnya adalah “tali”. Sudah tentu sulit dan bahkan tidak mungkin untuk sebuah tali untuk memasuki lubang jarum yang hanya cocok untuk benang.

Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.

Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Yesus adalah cukup bagiku

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28

Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang Kristen yang sejati? Banyak orang yang bukan Kristen, mengatakan bahwa untuk diselamatkan, mereka harus selalu rajin berbuat baik dan menjalankan perintah Tuhan. Selain itu ada juga orang yang mengajarkan bahwa untuk diselamatkan manusia harus hidup suci dan meninggalkan apa yang bersifat keduniawian. Lain dari itu, ada orang yang berpendapat bahwa jika seseorang belum menerima tanda atau karunia tertentu, ia belumlah benar-benar menjadi umat Tuhan. Semua pendapat yang diatas pada hakikatnya menyatakan bahwa untuk menjadi orang Kristen kita haruslah berusaha menjadi orang yang “istimewa”.

Bukankah orang yang bisa menerima keselamatan adalah orang-orang yang sudah mempunyai hidup yang sesuai dengan firman Tuhan? Pertanyaan semacam ini agaknya aneh, tetapi seringkali dianggap sebagai kebenaran oleh orang yang bukan Kristen maupun sebagian orang Kristen. Mereka berpikir bahwa Tuhan hanya bisa menerima orang yang sudah memenuhi syarat kesucianNya. Tuhan yang mahasuci tentunya hanya mau menerima orang yang baik hidupnya. Kelihatannya pendapat ini masuk di akal.

Walaupun begitu, jika benar bahwa hanya orang-orang yang “baik” yang bisa diterima Tuhan, masalahnya adalah apa yang baik menurut standar Tuhan, tidaklah bakal terjangkau manusia. Oleh karena itu, sebenarnya semua orang tanpa terkecuali sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Mereka yang merasa sudah menjadi orang-orang yang diselamatkan karena “keistimewaan” mereka sebenarnya adalah orang-orang yang patut dikasihani. Mereka tidak sadar bahwa apapun dan bagaimanapun usaha mereka, keselamatan hanyalah tersedia untuk mereka yang mengaku dengan sungguh-sungguh bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak layak.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Kematian Yesus di kayu salib adalah satu-satunya kejadian yang memungkinkan Allah yang mahasuci untuk mengampuni manusia yang penuh dosa untuk diampuni karena Yesus yang tidak berdosa sudah menggantikan manusia untuk menerima hukuman Allah. KematianNya cukup sekali saja karena itu adalah sempurna di hadapan Allah.

Hari ini, jika kita membayangkan apa yang dialami Yesus di kayu salib, kita harus mengerti bahwa apa yang sudah sempurna tidak dapat atau perlu disempurnakan lagi. Apa yang dilakukan Yesus yang sudah memenuhi standar Allah tidak perlu untuk ditambahi perbuatan dan usaha manusia, karena tindakan semacam itu tidak lain hanyalah menunjukkan bahwa manusia belum menerima pengurbanan Yesus sebagai suatu karunia yang sempurna. Dengan demikian, perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah sebuah usaha untuk membeli keselamatan, tetapi adalah pernyataan rasa syukur atas harga penyelamatan yang sudah lunas terbayar. Yesus adalah cukup bagiku. Jesus is enough for me.

Hari Minggu adalah hari bahagia

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” Markus 2: 27

Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang juga dikenal sebagai hari kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib (the Lord’s day). Bagi sebagian orang Kristen, hari ini adalah hari perhentian, seperti hari Sabat bagi orang Yahudi dan sebagian umat Kristen. Hari yang diberikan Tuhan untuk manusia. Benarkah? Banyak orang Kristen yang mengira bahwa karena hari itu adalah hari untuk ke gereja, itu adalah hari untuk Tuhan. Tetapi Yesus sendiri yang mengatakan bahwa hari Sabat adalah hari untuk manusia. Mengapa begitu?

Dalam seminggu, enam hari lamanya manusia harus bekerja. Walaupun banyak negara sudah mengikut prinsip lima hari kerja dalam seminggu, hari Sabtu biasanya adalah hari sibuk yang dipakai untuk berbagai kegiatan pribadi atau keluarga. Dengan demikian, konsep hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat tetaplah relevan untuk banyak orang Kristen.

Pada zaman Yesus masih di dunia, orang Farisi menganggap hari Sabat adalah hari yang ditentukan Tuhan agar manusia berhenti melakukan sebagian besar aktivitas sehari-hari umtuk bisa memusatkan diri pada Tuhan. Tetapi Yesus bisa melihat bahwa hari yang sebenarnya diciptakan untuk kebahagiaan manusia itu kemudian menjadi hari yang membatasi manusia; sedemikian rupa, sehingga manusia merasa sangat terbebani. Manusia bukannya berbahagia dengan datangnya hari Sabat, tetapi sebaliknya menjadi tertekan karena harus menaati segala macam aturan dan adat yang diciptakan manusia sendiri.

Hari Sabat ataupun hari Minggu seharusnya adalah hari yang disediakan Tuhan untuk menyegarkan tubuh dan jiwa manusia, tetapi jika manusia dipaksa untuk mengikuti ajaran kaum Farisi pada waktu itu, manusia tidak akan bisa untuk mendapatkan keintiman dengan Tuhan dan sesama. Peraturan dan persiapan hari Sabat yang sedemikian ketat, justru akan membuat manusia hanya melihat semua itu sebagai tugas (chores) saja.

Hari Sabat diciptakan Tuhan agar manusia dapat mempererat hubungan dengan Tuhan dan sesamanya. Hari Sabat seharusnya adalah hari gembira yang mengingatkan kita atas kemenangan Kristus dalam penebusan dosa manusia, dan hari yang bisa lebih mendorong kita untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama: untuk mengasihi Tuhan, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; dan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Selain itu, dengan merayakan hari Sabat ataupun hari Minggu, kita bisa bersyukur bahwa Tuhan benar-benar mengasihi umatNya dengan menyediakan satu hari bahagia dalam seminggu.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku,dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Tetap bersyukur setiap hari

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Semua hari itu sama, kata orang. Memang tidak ada hari mujur atau hari malang jika orang tidak percaya adanya nasib. Ayat diatas memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi dalam konteks yang lain. Hari baik adalah hari dimana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari dimana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan.

Memang setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau membuka toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor.

Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Adakah hari baik dan hari buruk bagi mereka? Tentu! Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari boss, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian.

Pengkhotbah dalam ayat diatas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan apa yang terjadi seringkali membuat kejutan karena ada diluar dugaan mereka.

Mereka yang selalu berhati-hati dalam hidup, biasanya selalu merencanakan segala tindakan dengan seksama. Pengalaman mereka di masa lalu mungkin memberi keyakinan bahwa sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan, mereka mempunyai semangat dan kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan. Masa depan ada di tangan kita sendiri, begitu mungkin pikiran sombong mereka.

Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan apa yang terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan sebenarnya tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi dalam keadaan sehat, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus tunduk kepada kehendakNya dalam bekerja dan berusaha.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14.

Pagi ini, kembali kita diingatkan bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu bersyukur dan mau menyerahkan masa depan kita sepenuhnya kedalam bimbingan kasihNya.

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Buka mata, buka telinga!

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Berita semalam cukup menyedihkan. Walaupun bukan yang pertama untuk saya, berita semacam ini tetap mendatangkan rasa sedih. Seorang pendeta mega-church terkenal di satu negara dijatuhi hukuman penjara karena ia telah melecehkan puluhan anggota gerejanya dengan dalih bahwa ia adalah utusan Tuhan. Berita ini adalah kabar buruk yang untuk sekian kalinya menimpa umat Kristen. Mereka yang mengaku orang Kristen ternyata adalah antek-antek iblis, yang mencelakakan banyak anggota gereja.

Memang Yesus pernah berkata bahwa ada banyak pemimpin gereja yang berlagak seperti domba, tetapi mereka sebenarnya adalah serigala yang cerdik, yang siap menyerang dan menghancurkan mangsanya.

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7: 15

Tetapi dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak mempunyai kesadaran atau awareness bahwa sebagai domba mereka harus selalu awas akan pengajaran yang nampaknya benar dan menarik, tetapi sebenarnya sesat. Mereka justru sering mengagumi pemimpin-pemimpin gereja yang pandai bersandiwara. Mata mereka tertutup, demikian juga telinga mereka.

Banyak anggota gereja yang dengan mudah menerima pengajaran orang-orang yang kelihatannya mempunyai charisma, yang dengan kemampuan memutar lidah dan melakukan berbagai hal yang mempesona, telah menimbulkan kekaguman yang besar; seperti acara sulap David Copperfield saja. Mereka yang hebat itu adalah orang-orang yang harum namanya. Gereja-gereja yang mempunyai pemimpin seperti itu umumnya adalah gereja yang terkenal karena seakan mempunyai magnit yang menarik pengunjung.

Sungguh menyedihkan jika manusia lupa bahwa mereka diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Tuhan menghendaki umatNya untuk tunduk dan mengasihiNya. Karena itu, jika seseorang atau sebuah gereja membawa kemasyhuran untuk dirinya sendiri, perbuatan itu justru merendahkan Tuhan. Dalam hal ini, mungkin banyak orang lupa atau kurang awas untuk bisa mengingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa bukan setiap orang yang berseru Tuhan, Tuhan! akan masuk ke surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa.

Buka mata, buka telinga! Itulah yang dipesankan Yesus dalam Matius 7: 15 – 27. Sebagai orang Kristen kita haruslah bijaksana dalam menjalani hidup kita di dunia. Ada banyak orang yang melandaskan iman mereka pada hal-hal yang menakjubkan, yang gemerlapan, dan pada pesan-pesan cendekia yang indah dan membuai. Semua itu adalah bagaikan tanah pasir yang hanya bisa mendukung iman mereka untuk sementara waktu (Matius 7: 26). Jika badai kehidupan mendatangi, iman mereka akan goncang sebab apa yang mereka kagumi sebelumnya tidak lain hanyalah sesuatu yang tidak berharga, dan yang seperti sampah, di hadapan Tuhan!

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” Filipi 3: 8 – 9

Jangan mengidolakan Tuhan

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” 1 Samuel 4: 3

Pernahkah anda menonton acara TV yang berjudul “the Indonesian Idol“? Acara lomba nyanyi serupa ini sangat populer di banyak negara. Saya sendiri adalah seorang penggemar the Australian Idol untuk beberapa tahun, sewaktu acara itu masih populer. Acara TV Australia ini berakhir pada tahun 2009 setelah popularitasnya menurun.

Apa yang juga menarik mengenai acara TV diatas adalah perjalanan hidup para pesertanya. Banyak diantara mereka adalah orang yang kurang berhasil dalam hidupnya sebelum popularitas yang mereka peroleh dari acara TV itu membuat mereka sangat terkenal dan bahkan membuat mereka menjadi idola kaum muda. Namun banyak juga mereka yang sudah menjadi idols, yang kemudian berantakan hidupnya. Idola manusia, adalah manusia biasa yang tidak terjamin masa depannya.

Dalam kitab Samuel 4 diceritakan bahwa bangsa Israel sedang berperang melawan bangsa Filistin. Pada perjumpaan pertama di medan perang , bangsa Israel kalah dengan korban 4 ribu prajurit. Karena itu, para pemimpin Israel menjadi bingung dan mengira bahwa Tuhan yang tidak mendukung mereka, sudah membuat mereka kalah dalam peperangan itu. Dalam pengertian mereka, Tuhan perlu dipaksa untuk berbuat sesuatu agar tentara Israel bisa menang pada kesempatan berikutnya.

Apa yang kemudian diperbuat pemimpin Israel adalah tindakan yang dipaksa keadaan. Kenekatan karena keputusasaan. Desperation. Mereka mengambil tabut perjanjian dari Silo dan mengaraknya ke medan perang dengan maksud agar Tuhan datang ke tengah-tengah mereka dan membawa kemenangan. Mereka membuat Tuhan seperti suatu idola yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Mereka mengira bahwa Tuhan bisa diperintah untuk membawa kemenangan dalam perang. Bagaimana reaksi Tuhan atas perbuatan bangsa Israel itu? Dalam kitab Samuel 4 kita bisa membaca bahwa Tuhan yang marah, membiarkan bangsa Israel kalah total dan kehilangan 30 ribu prajurit. Lebih parah lagi, tabut perjanjian jatuh ke tangan orang Filistin.

Apa yang dilakukan orang Israel pada waktu itu adalah kebodohan. Tetapi, kita mungkin pernah melakukan hal yang serupa dalam hidup ini. Mungkin sering kita berusaha untuk mendapatkan keberhasilan dengan segala cara, termasuk dengan usaha untuk memaksa dan menyandera Tuhan. Memang banyak umat Kristen yang merasa bahwa Tuhan ada untuk membuat hidup mereka nyaman. Karena itu ada orang yang melakukan acara doa, penyembahan dan ibadah khusus agar Tuhan memenuhi permohonan mereka. Ada pula yang menjalani cara hidup tertentu agar Tuhan mau membuat mereka berhasil dalam usaha mereka.

Kegagalan orang Israel pada waktu itu adalah karena mereka sudah jauh dari Tuhan. Sampai-sampai mereka tidak ingat bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak boleh diturunkan derajatnya untuk menjadi idola manusia. Apa yang mereka lakukan tidak berbeda dengan menyembah tabut perjanjian, dan bukannya Tuhan. Mereka lupa bahwa sebagai manusia, mereka harus mencari kehendak Tuhan.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita agar kita tidak mengidolakan Tuhan dalam bentuk apapun. Sebaliknya kita harus memuliakan dan menyembah Dia sebagai Tuhan yang mahakuasa, Dalam perjuangan hidup, kita harus mencari kehendak Tuhan dan bukannya memaksakan kehendak kita sendiri. Jika kemenangan yang kita cari, kita harus mengenal siapa sebenarnya Tuhan itu. Tuhan tidak dapat diwakili oleh apa yang bisa kita lihat atau raba, Ia tidak hanya bisa dijumpai di tempat tertentu, Tuhan juga tidak dapat dibujuk atau dipaksa manusia untuk memberi apa yang mereka butuhkan. Tetapi Tuhan yang mahakasih, yang tahu apa yang kita butuhkan, adalah Tuhan yang mau menolong kita yang menempatkan Dia di tempat yang mahatinggi.

“Siapakah orang yang takut akan TUHAN?Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” Mazmur 25: 13

Apakah yang paling anda inginkan?

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Hampir semua orang tentunya mempunyai cita-cita. Bagi kita, cita-cita adalah sebuah impian untuk masa depan, yang mungkin terjadi ataupun tidak. Jika impian menjadi kenyataan, tentu kita merasa senang; tetapi jika cita-cita tidak tercapai setelah menunggu sekian lama, impian kita mungkin tetap tinggal sebagai impian. Memang waktu yang berlalu dengan cepat dan banyaknya tahun yang sudah lewat, bisa secara perlahan-lahan mematikan sebuah cita-cita. Dengan bertambahnya umur, manusia akan makin sulit untuk mencapai cita-cita yang belum tercapai.

Apa yang dicita-citakan manusia tentunya berbeda satu dengan yang lain. Mungkin bagi seseorang, cita-cita dalam karir adalah untuk menjadi tokoh masyarakat, tetapi cita-citanya dalam kehidupan rumah-tangga adalah untuk menjadi bapa yang baik untuk anak-anaknya. Begitu juga, bagi setiap orang Kristen tentunya ada berbagai cita-cita untuk dicapai selama hidup di dunia. Walaupun demikian, karena orang Kristen percaya bahwa hidup ini tidak berakhir di dunia ini, tentunya orang Kristen mempunyai keinginan atau cita-cita yang paling penting untuk dicapai dalam hidupnya secara keseluruhan.

Banyak orang Kristen yang secara keliru memisahkan hidup di dunia dan hidup sesudahnya. Life hereafter atau hidup sesudah ini, dibayangkan sebagai hidup yang indah bersama Sang Pencipta di surga. Jika sekarang mereka bergumul dengan berbagai tugas dan aktivitas, mereka seolah berada dalam kehidupan yang lain. Mereka tidak sadar bahwa selama hidup di dunia, Tuhan pun mau untuk berjalan bersama dengan mereka hari demi hari.

Hidup orang Kristen sebenarnya bukanlah dibagi dua menjadi hidup di dunia dan hidup di surga. Hidup manusia yang sudah diselamatkan adalah sebuah kesatuan antara hidup di bumi dan hidup di surga, karena hidup secara keseluruhannya sudah menjadi milik Kristus, juga selagi mereka masih di dunia (Roma 1: 6). Baik dalam hidup maupun mati, mereka seharusnya tahu bahwa hidup mereka sudah  memiliki hidup yang baru didalam Kristus, yang sesuai dengan rencana Tuhan. Hidup manusia dengan demikian, seharusnya hanya mempunyai satu tujuan utama, satu cita-cita besar, yaitu untuk mengingat dan mempermuliakan Tuhan.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selama hidup di dunia kurang mau memikirkan soal Tuhan. Mereka ke gereja setiap minggu, tetapi diluar hari Minggu, hidup mereka hampir tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Kristus. Hari-hari mereka adalah bagaikan hak milik yang bisa digunakan untuk mengejar segala impian. Bagaimana dengan hidup di masa tua dan bagaimana hidup sesudahnya, kurang mendapat perhatian karena “saatnya belum sampai”. Mereka lupa bahwa jika mereka tidak mempunyai tujuan hidup yang benar dari awalnya, dengan bertambahnya usia mereka bisa kehilangan kesempatan untuk hidup dalam kebahagiaan.

Ayat diatas menjelaskan bahwa jika manusia lupa kepada Tuhan pada hari mudanya, mereka akan merasakan penderitaan  pada hari tuanya. Sebaliknya, mereka yang selalu ingat kepada Tuhan akan bisa merasakan kehadiran Tuhan pada setiap saat dan memperoleh kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada situasi saat itu. Hidup manusia yang sudah diselamatkan seharusnya diisi dengan rasa syukur kepada Tuhan; karena itu, kita harus ingat kepada Dia setiap hari. Jika kehadiran Tuhan bisa kita rasakan setiap hari, surga bisa kita rasakan mulai sekarang. Apakah anda mempunyai cita-cita sebagai orang Kristen untuk mengingat kasih Tuhan sepanjang hidup anda?

“Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mazmur 136: 3

Berpikir dulu sebelum berkata

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Efesus 4: 29

Sebagai seorang dosen, saya mempunyai “hari baik” dan “hari buruk”. Hari baik adalah hari dimana saya merasa puas dengan apa yang sudah saya kerjakan, terutama merasa senang jika saya berhasil menjelaskan bahan kuliah yang sulit kepada murid-murid saya. Hari yang buruk adalah hari dimana saya merasa kurang berhasil untuk mencapai target kerja dan juga hari dimana saya melakukan berbagai kekeliruan. Kekeliruan itu ada berbagai macam, diantaranya mungkin ada “salah omong”. Rasa menyesal kadang timbul akan apa yang saya ucapkan di depan kelas: mengapa saya menggunakan kata-kata yang membuat bingung murid saya?

Jika kecerobohan dalam memilih kata-kata bisa menghantui seseorang, ada orang orang yang justru tidak peduli akan apa yang dikatakannya. Mereka memakai perkataan yang tidak sepatutnya, tetapi tidak terpengaruh atas apa yang diperbuatnya. Dalam bahasa Inggris, orang yang ceroboh dalam memakai kata-kata dan perbuatan, yang bisa membuat malu atau menyakiti orang lain, sering disebut sebagai meriam lepas ikatan atau loose cannon. Mengapa begitu? Pada abad 17-19, kapal perang yang terbuat dari kayu mempunyai meriam sundut sebagai senjata utamanya. Meriam ini dipasang diatas beberapa roda dan diikat dengan tali ke dinding kapal agar tidak terhentak ke belakang sewaktu dipakai untuk menembak kapal musuh. Menurut cerita, meriam yang lepas ikatannya dapat mencelakai pemakainya dan juga merusak kapal itu sendiri.

Sebagai manusia kita adalah makhluk yang istimewa karena kita adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai tata bahasa dan tata suara untuk berkomunikasi. Banyak makhluk lain bisa berkomunikasi dengan sesamanya melalui suara, bau atau gerakan tubuh, tetapi tidak ada yang bisa menggunakan bahasa dan suara untuk menyampaikan pesan secara sistimatis. Dengan kelebihan manusia dalam hal berkomunikasi, manusia bisa menggunakan kata-kata secara tertulis atau lisan untuk menyatakan perasaannya, entah itu rasa senang ataupun rasa berang. Bahasa, selain dipakai untuk memuji, menghibur dan menyenangkan orang lain, juga bisa digunakan untuk memaki, menipu dan bahkan memfitnah orang lain. Jika lidah dikatakan seperti pedang bermata dua (Amsal 5: 4), di zaman internet ini perkataan kita bisa membawa akibat yang jauh lebih besar melalui berbagai sosial media seperti Twitter, Facebook dan Whatsapp. Apa yang dinyatakan atau diberitakan orang dalam sosial media bisa dengan mudah menghancurkan hidup orang lain.

Apa yang kurang disadari manusia adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang bisa mendengar apa saja yang kita ucapkan, baik secara lisan maupun tertulis. Ia tahu jika kita memakai lidah kita secara sembarangan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita. Sebagai orang Kristen, kita mungkin ingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa perkataan kita adalah pencerminan isi hati yang bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan yang mahasuci menjadi renggang.

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 5: 18 – 19

Sayang sekali, di zaman ini kita justru sering melihat para pemimpin dan tokoh masyarakat yang seakan berlomba-lomba untuk menyatakan pendapatnya dengan tanpa berpikir dalam-dalam. Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu bahwa perkataan yang keliru akan sukar untuk ditarik kembali, dan apa yang sudah dirusakkan oleh sebuah loose cannon adalah sukar untuk diperbaiki.

Firman Tuhan kali ini jelas mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen dalam hal ini adalah untuk mawas diri, dan selalu hidup dalam bimbingan Tuhan, sehingga hati kita diisi dengan apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Hari demi hari, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh dalam iman dan kasih melalui bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang ada dalam hati kita akan selalu terpancar dari mulut kita sebagai ucapan kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.

Nepotisme adalah dosa yang terselubung

“Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” Yakobus 2: 9

Apakah nepotisme itu? Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Istilah ini biasanya dipakai untuk mengutarakan keadaan buruk yang bisa menyebabkan keresahan karena adanya ketidakadilan. Orang yang sebenarnya berprestasi baik, ternyata tidak terpilih untuk menjabat sesuatu kedudukan karena orang yang dipilih adalah teman atau sanak dari orang yang berkuasa. Nepotisme pada hakikatnya adalah diskriminasi atas orang-orang yang bukan tergolong keluarga atau golongan sendiri.

Nepotisme sering terjadi dalam masyarakat atau negara dimana tertib hukum belum sepenuhnya tercapai, dan juga di lingkungan dimana keadilan sosial masih kurang berkembang. Dalam Alkitab perjanjian lama, kasus nepotisme banyak terjadi. Apa yang dilakukan imam Eli kepada anak-anaknya – dengan membiarkan mereka berlaku semaunya di kemah suci, merupakan contoh bagaimana nepotisme bisa membawa malapetaka (1 Samuel 2: 11 – 16). Agaknya mengherankan bahwa sekalipun imam Eli dan anak-anaknya mendapat hukuman berat dari Tuhan karena nepotisme, umat Kristen di sepanjang sejarah gereja masih kurang mau berusaha untuk menghilangkan hal yang jelas dibenci Tuhan.

Nepotisme bukan hanya menyangkut perlakuan istimewa (special treatment) kepada sanak saudara saja, tetapi bisa juga kepada mereka yang dianggap teman, sesuku, segolongan, kaya, pandai atau ternama. Sekalipun sering terlihat, nepotisme adalah hal yang jarang dibahas dan bahkan tabu untuk dibicarakan di kalangan umat Kristen, walaupun orang Kristen seharusnya tahu bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah sama dan sederajat. Apalagi, Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya.

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5: 15

Pagi ini, jika kita ke gereja, kita akan bisa melihat banyak orang yang ingin berbakti kepada Tuhan. Sama seperti kita, mereka yang dulunya adalah orang-orang berdosa, sekarang sudah diselamatkan karena iman. Sekalipun mereka mempunyai berbagai ragam latar belakang sosial, budaya, pendidikan dan ekonomi, mereka semua adalah saudara-saudara kita dalam Kristus. Adalah tepat bahwa ayat Yakobus 2: 9 diatas mengingatkan bahwa sebagai orang Kristen kita tidak boleh membeda-bedakan mereka berdasarkan status mereka.

“Sebab Allah tidak memandang bulu.” Roma 2: 11

Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita, bukan hanya saudara-saudara kita. Biarlah melalui hidup anak-anak Tuhan, makin banyak orang yang mau percaya karena kasih Tuhan dan karena kasih kita tidak membeda-bedakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 4: 45

Mengabdi kepada Tuhan sepanjang hari

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16: 13

Bekerja sebagai dosen di Australia seperti saya, ada enak dan tidak enaknya. Pekerjaan ini bukanlah seperti pekerjaan lain yang terbatas pada jumlah jam tertentu saja. Mereka yang bekerja di kantor, umumnya mulai bekerja jam 9 pagi dan pulang kerumah sekitar jam 5 sore; dalam sehari mereka bekerja sekitar 7,5 jam. Tetapi, seorang dosen tidak selalu mulai bekerja pada waktu yang sama, karena jam kerja adalah cukup fleksibel. Terkadang saya berangkat ke kantor jam 8 pagi, tetapi bisa juga jam 10 pagi, semua tergantung tugas apa yang harus dikerjakan hari itu. Kebanyakan dosen bisa bekerja dari kantor atau dari rumah dengan memakai komputer, dan biasanya bekerja setidaknya 38 jam dalam seminggu. Tetapi pada saat yang diperlukan, seorang dosen harus bekerja dua kali lebih banyak, misalnya pada saat-saat memeriksa hasil ujian atau mempersiapkan riset.

Memang bekerja itu perlu untuk mencari penghasilan. Tanpa bekerja, manusia umumnya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Jika dalam sehari orang menghabiskan waktu setidaknya 8 jam untuk bekerja, 2 jam untuk persiapan kerja dan perjalanan, dan 7 jam untuk tidur, apa yang tersisa tidaklah banyak, hanya 7 jam saja. Bagi seseorang yang mempunyai berbagai aktivitas dan kegiatan lain, waktu yang tersisa untuk keluarga mungkin hanya 1-2 jam sehari, dan untuk Tuhan mungkin tidak ada yang tersisa, kecuali pada hari Minggu jika sempat ke gereja.

Bagaimana kita bisa hidup sebagai anggota keluarga yang baik dengan terbatasnya waktu? Dan bagaimana pula kita bisa menjadi anggota keluarga Kristus jika kita sudah sulit untuk menyediakan waktu untuk Tuhan dan orang-orang disekitar kita? Inilah masalah yang dihadapi banyak orang Kristen. Karena itu, bagi sebagian orang Kristen, kedekatan kepada Tuhan itu adalah tugas rohani yang diwakilkan kepada para pendeta dan pemimpin gereja, mereka yang hidup sebagai rohaniawan.

Ayat diatas sering ditafsirkan dalam konteks fokus hidup manusia. Mereka yang hanya memikirkan harta duniawi, tidak akan bisa membaktikan diri kepada Tuhan. Perhatian manusia tidak dapat dibagi dua: sebagian untuk Mamon, dewa uang, dan sebagian lagi untuk Tuhan semesta alam. Tetapi, ayat ini sebenarnya juga menyangkut segala aspek jasmani kehidupan kita dan bukan hanya soal uang. Mereka yang menggunakan hidup dan waktu hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan kepentingan diri sendiri, tidak akan bisa memenuhi kebutuhan rohani, yaitu kedekatan dengan Tuhan. Karena itu, mereka yang hanya hidup untuk hal jasmani, lambat laun akan sakit dan mati rohaninya.

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Bagaimana kita bisa hidup sehat, baik secara jasmani dan juga secara rohani, jika kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan? Pertanyaan bagus yang mungkin sulit dijawab, apalagi karena kita sadar bahwa waktu yang kita punyai adalah terbatas. Tetapi jawab pertanyaan itu ada dalam Alkitab. Alkitab adalah firman Tuhan yang diberikan kepada manusia sebagai pedoman hidup yang bisa dilaksanakan manusia dengan pertolongan Tuhan. Alkitab bukan buku hanya teori psikologi seperti apa yang ditulis oleh guru-guru dan para pembicara terkenal. Alkitab juga bukan buku mantra yang bisa membuat segala sesuatu terjadi secara ajaib. Sebaliknya, Alkitab memberi kita bimbingan sehingga kita bisa memakai dan menjalani hidup kita ini sesuai dengan kehendak Tuhan.

Apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa membaktikan diri hanya kepada Tuhan? Hanya ada satu cara, yaitu dengan mengikut-sertakan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Dengan demikian, Tuhan akan beserta kita pada setiap saat dan keadaan, dan kita berjalan bersama Dia sepanjang hari. Jika Tuhan adalah tuan dan pemimpin kita, komunikasi kita dengan Dia haruslah berjalan terus, dimanapun kita berada dan dalam apapun yang kita kerjakan. Dalam sehari ada 24 jam, dan selama itu Tuhan mengharapkan kita untuk menghormati Dia dan menurut perintahNya.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23