“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25
Pada akhir bulan November ini, semua mahasiswa sudah mendapat hasil ujian semester 2 dan memasuki saat liburan musim panas. Sebagian murid bisa bergembira karena lulus dari semua ujian, tetapi sebagian lagi mungkin tidak bisa bersukacita karena adanya kegagalan dalam ujian tertentu. Memang tiap mata pelajaran sebenarnya mempunyai derajat kesulitan (degree of difficulty) yang berbeda, dan setiap orang mempunyai kemampuan yang berlainan. Bagi mereka yang menyukai mata pelajaran tertentu, biasanya merasa lebih mudah untuk menghadapi ujiannya. Tetapi mereka yang kurang menyukai suatu mata pelajaran, biasanya akan lebih sulit untuk lulus dari ujiannya.
Hidup ini adalah seperti menghadapi ujian. Tiap-tiap hari kita menghadapi tugas dan tantangan. Dan bagi semua orang, ada tantangan dan ujian yang bersifat jasmani, dan ada yang rohani. Apa mata pelajaran yang disukai seseorang dalam hidup biasanya menentukan bagaimana hasil ujiannya. Mereka yang menyenangi mata pelajaran jasmani, mungkin kurang bisa menikmati mata pelajaran rohani, dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, mereka yang sehari-harinya sibuk dan senang memikirkan hal-hal jasmani saja, mungkin kurang mampu untuk menghadapi ujian rohani.
Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu seperti itu. Ada juga tafsiran lain bahwa kata “unta” itu sebenarnya adalah “tali”. Sudah tentu sulit dan bahkan tidak mungkin untuk sebuah tali untuk memasuki lubang jarum yang hanya cocok untuk benang.
Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.
Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38
Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14
Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang Kristen yang sejati? Banyak orang yang bukan Kristen, mengatakan bahwa untuk diselamatkan, mereka harus selalu rajin berbuat baik dan menjalankan perintah Tuhan. Selain itu ada juga orang yang mengajarkan bahwa untuk diselamatkan manusia harus hidup suci dan meninggalkan apa yang bersifat keduniawian. Lain dari itu, ada orang yang berpendapat bahwa jika seseorang belum menerima tanda atau karunia tertentu, ia belumlah benar-benar menjadi umat Tuhan. Semua pendapat yang diatas pada hakikatnya menyatakan bahwa untuk menjadi orang Kristen kita haruslah berusaha menjadi orang yang “istimewa”.
Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang juga dikenal sebagai hari kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib (the Lord’s day). Bagi sebagian orang Kristen, hari ini adalah hari perhentian, seperti hari Sabat bagi orang Yahudi dan sebagian umat Kristen. Hari yang diberikan Tuhan untuk manusia. Benarkah? Banyak orang Kristen yang mengira bahwa karena hari itu adalah hari untuk ke gereja, itu adalah hari untuk Tuhan. Tetapi Yesus sendiri yang mengatakan bahwa hari Sabat adalah hari untuk manusia. Mengapa begitu?
Semua hari itu sama, kata orang. Memang tidak ada hari mujur atau hari malang jika orang tidak percaya adanya nasib. Ayat diatas memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi dalam konteks yang lain. Hari baik adalah hari dimana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari dimana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan.
Berita semalam cukup menyedihkan. Walaupun bukan yang pertama untuk saya, berita semacam ini tetap mendatangkan rasa sedih. Seorang pendeta mega-church terkenal di satu negara dijatuhi hukuman penjara karena ia telah melecehkan puluhan anggota gerejanya dengan dalih bahwa ia adalah utusan Tuhan. Berita ini adalah kabar buruk yang untuk sekian kalinya menimpa umat Kristen. Mereka yang mengaku orang Kristen ternyata adalah antek-antek iblis, yang mencelakakan banyak anggota gereja.
Pernahkah anda menonton acara TV yang berjudul “the Indonesian Idol“? Acara lomba nyanyi serupa ini sangat populer di banyak negara. Saya sendiri adalah seorang penggemar the Australian Idol untuk beberapa tahun, sewaktu acara itu masih populer. Acara TV Australia ini berakhir pada tahun 2009 setelah popularitasnya menurun.
Hampir semua orang tentunya mempunyai cita-cita. Bagi kita, cita-cita adalah sebuah impian untuk masa depan, yang mungkin terjadi ataupun tidak. Jika impian menjadi kenyataan, tentu kita merasa senang; tetapi jika cita-cita tidak tercapai setelah menunggu sekian lama, impian kita mungkin tetap tinggal sebagai impian. Memang waktu yang berlalu dengan cepat dan banyaknya tahun yang sudah lewat, bisa secara perlahan-lahan mematikan sebuah cita-cita. Dengan bertambahnya umur, manusia akan makin sulit untuk mencapai cita-cita yang belum tercapai.
Apakah nepotisme itu? Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Istilah ini biasanya dipakai untuk mengutarakan keadaan buruk yang bisa menyebabkan keresahan karena adanya ketidakadilan. Orang yang sebenarnya berprestasi baik, ternyata tidak terpilih untuk menjabat sesuatu kedudukan karena orang yang dipilih adalah teman atau sanak dari orang yang berkuasa. Nepotisme pada hakikatnya adalah diskriminasi atas orang-orang yang bukan tergolong keluarga atau golongan sendiri.
Bekerja sebagai dosen di Australia seperti saya, ada enak dan tidak enaknya. Pekerjaan ini bukanlah seperti pekerjaan lain yang terbatas pada jumlah jam tertentu saja. Mereka yang bekerja di kantor, umumnya mulai bekerja jam 9 pagi dan pulang kerumah sekitar jam 5 sore; dalam sehari mereka bekerja sekitar 7,5 jam. Tetapi, seorang dosen tidak selalu mulai bekerja pada waktu yang sama, karena jam kerja adalah cukup fleksibel. Terkadang saya berangkat ke kantor jam 8 pagi, tetapi bisa juga jam 10 pagi, semua tergantung tugas apa yang harus dikerjakan hari itu. Kebanyakan dosen bisa bekerja dari kantor atau dari rumah dengan memakai komputer, dan biasanya bekerja setidaknya 38 jam dalam seminggu. Tetapi pada saat yang diperlukan, seorang dosen harus bekerja dua kali lebih banyak, misalnya pada saat-saat memeriksa hasil ujian atau mempersiapkan riset.