Siapakah yang harus kita kasihi?

“Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Roma 13: 9

Jika anda membaca koran hari ini, pasti anda bisa menemukan berbagai laporan tentang apa yang terjadi dalam masyarakat di berbagai tempat. Seringkali laporan semacam itu adalah kabar buruk yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh tindakan orang lain, seperti penganiayaan, perampokan, penipuan, penistaan, pelecehan dan sejenisnya. Untuk sebagian pembaca, laporan yang sedemikian bukannya menyedihkan tetapi justru menarik perhatian, apalagi jika ditampilkan dengan bumbu sensasi.

Kita juga bisa melihat bahwa internet dan sosial media juga selalu dibanjiri dengan foto-foto yang tidak manusiawi. Mengapa ada orang-orang yang tertarik pada hal-hal semacam itu? Mengapa manusia seringkali kurang menghargai orang lain? Pertanyaan ini mungkin dilontarkan bukan saja terhadap pelaku kejahatan, tetapi juga kepada orang-orang yang kelihatannya gemar menonton orang lain yang mengalami masalah dan musibah. Seolah manusia tidak lagi mempunyai rasa hormat dan kasih kepada orang lain. Walaupun demikian, patutkah kita heran akan hal itu?

Sejak kapan manusia mempunyai rasa hormat dan kasih? Adam dan Hawa, maupun Kain dan Habel tidak mempunyainya. Adam dan Hawa mengabaikan perintah Allah yang menyebabkan seluruh umat manusia jatuh dalam dosa. Kain membunuh saudaranya, Habel, karena iri hati. Dan sejarah, sampai sekarang pun terlihat bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan yang dilakukan manusia, termasuk mereka yang mengaku umat Kristen. Karena itu, semua orang sudah berdosa dari awalnya.

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Mazmur 151: 5

Hanya melalui kasih Tuhan, manusia belajar untuk menghormati martabat dan hakiki orang lain. Hanya karena Allah yang sudah lebih dulu mengasihi kita, kita bisa belajar mengasihi dan menghormati orang lain. Hanya orang yang benar-benar sudah mengalami kasih Allah, bisa menunjukkan kasih untuk orang lain dalam setiap keadaan.

Pagi ini, jika kita bangun dan pikiran dan mata kita mulai dibombardir dengan berita-berita buruk, biarlah kita ingat bahwa segala kebencian, kemarahan dan kejahatan kepada sesama kita adalah dosa adanya. Walaupun bukan kita yang melakukan hal-hal itu, tidak sepatutnya kita membiarkan hati dan pikiran kita mengalami kehilangan kepekaan atas penderitaan orang lain. Mungkin kita tidak menyenangi apa yang dilakukan orang lain dan bahkan membenci cara hidup mereka, tetapi itu tidak memberi alasan untuk membenci mereka atau mensyukuri penderitaan yang mereka alami.

Ayat diatas menunjukkan bahwa segala hal yang jahat, yang tidak patut dikerjakan kepada sesama kita, adalah dosa yang harus dihindari. Tetapi semua perintah itu bisa diringkas dalam satu perintah untuk menunjukkan kasih. Jika kita melakukan hal-hal yang jahat kepada sesama kita, kita tidak mempunyai kasih yang sudah ditunjukkan Allah kepada semua orang, dan kita mungkin belum menyadari betapa besarnya kasih Allah kepada kita.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apakah anda bisa dipercaya?

“Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.” 2 Korintus 7: 16

Ayat diatas ditulis oleh Rasul Paulus kepada para jemaat di Korintus untuk mengutarakan rasa senangnya karena mereka dapat dipercaya dalam segala hal. Segala hal? Luar biasa! Apakah Paulus hanya bermanis-manis saja? Rupanya tidak, karena Paulus membanggakan mereka kepada Titus (2 Korintus 7: 13-14). Walaupun demikian, Paulus tentu tidak bermaksud bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu jujur. Tetapi Paulus jelas bangga bahwa mereka adalah orang yang sudah berubah hidupnya dan bisa diandalkan dalam pekerjaan Tuhan.

Paulus, seperti kita, tidak bisa sepenuhnya melihat hati dan pikiran orang lain. Tetapi ia tentu tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, termasuk dirinya sendiri. Tiap orang pernah berbohong atau berlaku tidak jujur; tetapi mereka bisa menjadi orang Kristen yang berguna dalam kerajaan Kristus di dunia. Mereka yang menyadari kekurangannya dapat memakai segala kesempatan yang disediakan Tuhan untuk memperbaiki diri dan membaktikan dirinya untuk Tuhan. Paulus dalam hal ini sebagai Rasul yang mengikuti perkembangan kehidupan rohani jemaat Korintus, tahu bahwa mereka sudah berjuang untuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik; dan Paulus menerima mereka sebagaimana adanya.

Masalah yang ada pada diri semua manusia pada umumnya adalah ketidakpedulian atas ketidakjujuran yang ada. Selama orang lain tidak melihat atau tidak peduli atas hal-hal buruk yang kita lakukan, kita pun merasa tenang. Selama orang lain puas dengan apa yang terlihat dari luar, kita pun merasa senang. Dengan demikian, kurang ada dorongan bagi kita untuk terus berusaha memperbaiki diri, sekalipun Roh Kudus siap menolong kita. Karena itu, kita mungkin sulit untuk berubah dari kehidupan yang tidak memuliakan Tuhan.

Manusia memakai kedok untuk menutupi kekurangannya, tetapi Tuhan melihat semua yang ada. Tuhan bisa melihat seluruh hidup kita, dan Ia tahu apakah kita dengan sengaja menjalani hidup sehari-hari dalam kepalsuan. Untuk semua itu, kita harus mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan di sekolah, kantor, toko, rumah dan dimana saja.

“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Ibrani 4: 13

Pagi ini, beranikah kita menghadap Tuhan dan mengaku bahwa kita sudah berusaha sepenuh hati untuk menjadi orang yang bisa dipercaya sebagai umatNya? Ataukah selama ini kita mengabaikan pandangan mata Tuhan dan hanya mempedulikan pendapat umum?

Tuhan mengerti kelemahan kita dan Ia bisa menerima kita sebagaimana adanya, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh dengan sadar, hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Marilah kita menghadap Dia dalam doa untuk memohon pengampunan serta berjanji bahwa kita mau membiarkan Roh Kudus membaharui hidup kita, agar kita bisa menjadi orang-orang kepercayaanNya.

Sebagaimana adanya

Jiwaku sungguh bercela

DarahMulah pembasuhnya

Ku datang Yesus padaMu

Untuk apa ke gereja?

“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Kisah Para Rasul 2: 42

Mengapa banyak orang ke gereja pada hari Minggu (atau Sabtu untuk sebagian)? Sudah hampir dipastikan, jawabnya adalah untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memang memerintahkan kita untuk beristirahat pada hari yang ke tujuh, dan untuk memuliakan Dia, demi kesehatan jasmani dan rohani kita.

Pertanyaan yang agaknya lebih sulit dijawab adalah mengapa banyak orang pergi ke gereja atau mengikuti aliran gereja tertentu. Biasanya jawaban untuk pertanyaan ini lebih dari satu, karena orang biasanya memilih gereja berdasarkan beberapa sebab pribadi. Walaupun tiap orang bisa mempunyai alasan yang berbeda-beda, kebanyakan alasan itu merupakan salah satu (atau beberapa) dari yang ada diantara istilah TAMU.

  • Tempat: banyak yang memilih gereja yang bagus gedungnya, mewah dan nyaman tempatnya.
  • Acara: orang menyenangi acara-acara tertentu, musik yang hebat atau khotbah yang membuai.
  • Masa lalu: banyak yang cenderung memilih aliran gereja besar yang ternama sejak dulu.
  • Umat: orang cenderung tertarik ke gereja yang sering dikunjungi orang yang dekat atau tokoh-tokoh masyarakat dan selebriti.

Sudah tentu jarang orang yang mengakui bahwa ia ke gereja karena pengaruh TAMU. Lagi pula, orang jarang mau memikirkan hal itu jika ia sudah merasa nyaman dalam keadaannya sekarang. Akibatnya, orang jarang menyadari bahwa gereja yang benar adalah gereja, yang seperti ditulis dalam ayat diatas, seperti gereja yang mula-mula, yang memiliki hal-hal dibawah ini:

  • Pengajaran: gereja yang benar harus mempunyai doktrin pengajaran yang benar, yang berlandaskan Alkitab saja. Bukan berdasarkan pikiran atau pengalaman manusia.
  • Persekutuan: gereja yang baik haruslah mempunyai persekutuan umat yang kuat, untuk saling menguatkan, menolong, membimbing dan menginsafkan.
  • Perjamuan: gereja yang benar selalu merayakan perjamuan kudus untuk mengingat pengurbanan Yesus dalam menebus dosa manusia.
  • Permohonan: persekutuan orang percaya yang benar memungkinkan jemaat untuk saling mendoakan, memohon hal-hal yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Selain itu, Yesus dalam Matius 28: 29 juga memerintahkan kita untuk mengabarkan injil. Jadi, gereja harus mau, secara aktif dan kolektif, untuk menginjil.

  • Penginjilan: gereja hidup bukanlah untuk diri sendiri saja, tetapi untuk membawa orang lain ke arah pengenalan akan jalan keselamatan.

Hari ini, jika kita ke gereja, marilah kita meneliti apakah kita memilih ke gereja karena TAMU saja, ataukah kita sudah menyadari bahwa sebenarnya gereja yang dikendaki Tuhan adalah gereja yang menunjukkan adanya lima poin P diatas. Biarlah Tuhan saja yang memberi kita kebijaksanaan untuk menjadi makin baik hari demi hari. Selamat hari Minggu, selamat berbakti!

Hal berpikir positif

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Di zaman ini, konsep berpikir positif didengung-dengungkan dalam berbagai media sebagai sesuatu yang hebat, yang bisa menentukan kebahagiaan dan kesuksesan manusia. Dalam pengajarannya, orang dianjurkan untuk memperbaiki segi-segi kehidupannya dengan cara berpikir dan bertindak dengan positif, yaitu dengan kemauan dan keyakinan.

Sebenarnya, berpikir positif tidak ada salahnya jika itu sesuai dengan firman Tuhan dan bukannya mengurangi peran dan kemuliaan Tuhan. Tetapi, itu seringkali tidak terjadi karena orang berusaha memisahkan iman kepercayaan dari akal budi manusia.

Berbagai teknik dan metode hidup positif diajarkan oleh banyak pembicara, motivator dan bahkan pendeta di zaman kini. Itu bukan barang baru. Sejak tahun 1950an Positive thinking yang dipopulerkan oleh Dr. Norman Vincent Peale mengajarkan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan manusia di dunia ada di tangan mereka sendiri.

Prinsip manusia dalam hidup di dunia memang seringkali “seeing is believing“, percaya karena melihat. Apa yang tidak bisa dilihat, manusia sukar untuk percaya. Bagi banyak orang, Tuhan yang tidak terlihat hanya untuk hal surgawi yang akan datang, tetapi untuk hidup di dunia mereka percaya pada hal-hal yang terlihat mata seperti usaha, penampilan dan keberanian. Dan jika mereka tidak melihat adanya hal-hal itu, mereka dianjurkan untuk berpikir positif, membayangkan bahwa semua itu sudah mereka punyai dan siap dipakai. Mereka mungkin lupa bahwa Tuhanlah sumber segala apa yang baik.

Alkitab menceritakan bahwa pada saat Musa naik ke gunung Sinai untuk menerima dua loh batu, bangsa Israel yang sudah lama menunggu merasa tidak sabar. Karena itu, sebagian diantaranya memutuskan untuk membuat sebuah patung anak lembu untuk disembah. Bagi mereka, hidup di dunia yang nyata ini memerlukan ilah yang kelihatan. Kemurkaan Allah atas kebodohan umat Israel itu tidak bisa diukur. Tiga ribu orang Israel akhirnya tewas sebagai hukuman Allah (Keluaran 31-32).

Mereka yang percaya bahwa kebahagiaan dalam hidup dapat dicapai dengan berpikir positif bisa lambat laun kehilangan kesadaran bahwa hidup mereka sepenuhnya bergantung kepada Tuhan yang tidak kelihatan. Karena itu mereka mudah jatuh kedalam pemujaan dan kepuasan atas diri sendiri sebagaimana bani Israel jatuh kedalam pemujaan patung anak lembu.

Bagaimana kita menghadapi ajaran yang secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa manusia berkuasa atas hidupnya? Ayat diatas dari Matius 6: 10 adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang mungkin sering kita ucapkan. Ini bisa kita pakai sebagai pedoman kita dalam berpikir positif. Doa ini dimulai dengan pengakuan akan kebesaran Tuhan, dengan menerima kehendak Tuhan di bumi seperti di sorga. Tuhan adalah Raja kita, baik di surga di masa depan, maupun di bumi di masa kini.

Pagi ini jika kita berdoa, kita diingatkan bahwa sebagai warga kerajaan Tuhan yang memiliki surga dan bumi, kita harus selalu mau berkomunikasi dengan Dia dimana saja dan kapan saja. Kita harus menempatkan firman Tuhan sebagai pelita kehidupan yang bisa secara positif membimbing hidup kita di bumi.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Siapakah kita?

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26

Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah salah satu kartu penting yang harus dibawa kemana-mana karena diperlukan untuk memastikan identitas seseorang. Di Australia, rakyat tidak mempunyai KTP, karena itu mereka bebas untuk pindah ke mana saja. Sebagai tanda pengenal, Surat Ijin Mengemudi (SIM) sering dipakai sebagai ganti KTP. Tentu saja, mereka yang tidak mempunyai SIM harus memakai tanda pengenal lain seperti paspor dan sebagainya.

Mengapa seseorang harus mempunyai kartu identitas? Sudah tentu karena identitas seseorang menentukan siapa dia dan apa hak serta kewajibannya. Mereka yang ingin mendapatkan pelayanan pemerintah atau membayar pajak, haruslah mempunyai tanda pengenal.

Bagaimana pula dengan bukti identitas orang Kristen? Mungkin ada yang menyebut surat baptis atau sidi, seperti yang diperlukan untuk mendaftar ke sekolah atau pada waktu mau menikah. Tetapi bukti identitas yang benar adalah ketundukan kepada Tuhan dan firmanNya. Ada banyak orang yang merasa atau mengaku Kristen, tetapi sekedar untuk mendapat kemudahan atau fasilitas. Mereka tidak mau menunaikan kewajiban dan hanya mau mendapatkan berkat Tuhan.

Orang yang benar-benar Kristen adalah orang yang beriman teguh dan menghasilkan berbagai buah kebajikan. Orang yang sekalipun menghadapi kesulitan tetap percaya kepada Yesus Kristus. Memang enak jika warga Allah selalu mendapat kelimpahan hidup di dunia. Tetapi dalam kenyataannya, banyak warga Allah yang setia sekalipun hidup dalam penderitaan, seperti Rasul Paulus yang menulis surat kepada jemaat di Galatia. Itu karena warga Allah adalah warga surgawi, dan keadaan mereka di dunia tidak mempengaruhi status mereka di hadapan Tuhan.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 28

Pagi ini marilah kita meneliti identitas kita sendiri. Benarkah pengakuan kita bahwa kita adalah warga surgawi? Semoga.

Hidup berdedikasi

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Lukas 16: 10

Di tahun-tahun yang telah silam, saya sering berlibur ke telaga Sarangan dekat Magetan di Jawa Timur bersama sanak keluarga. Dipinggir danau terdapat pasar sederhana dimana penduduk setempat menjual sayur-mayur dengan harga yang cukup murah. Produk yang segar itu berasal dari daerah pertanian disekitar kawasan ini. Bagi saya, berlari pagi memutari telaga Sarangan membawa kenikmatan tersendiri. Saya bisa melihat bahwa mereka yang hidup sederhana, terlihat mempunyai semangat hidup dan dedikasi yang besar. Mereka yang tinggal di kota besar atau negara maju, justru sering kehilangan motivasi hidup.

Semangat hidup, itulah yang sering kita inginkan ketika segala sesuatu terlihat membosankan dan tidak membawa kebahagiaan yang kita inginkan. Kebosanan juga datang ketika kita merasa bahwa orang-orang di sekitar kita tidak memberikan perhatian yang cukup atau penghargaan kepada kita. Keputusasaan bisa datang karena semua yang kita alami seakan sia-sia. Apa yang harus kita lakukan jika hidup ini terasa hampa?

Dalam ayat diatas terlihat bahwa nasihat praktis dari Yesus untuk menghadapi tantangan hidup sehari-hari ini adalah agar kita mempunyai kesetiaan. Kesetiaan dalam keadaan apapun untuk menggarap dan memelihara apapun yang kita punyai atau lakukan.

Memang logis jika orang setia dalam segala hal yang baik , hidupnya akan lebih tenteram. Juga, mereka yang dengan semangat menjalani hidup akan lebih mudah untuk merasa puas. Mereka yang sering mengeluh dalam hidup, nampaknya lebih sukar untuk merasa bahagia.

Dalam kenyataannya, walaupun kesetiaan dalam menjalankan tugas pekerjaan, sekolah, keluarga, negara, dan gereja bisa menghibur, seringkali manusia tetap merasakan bahwa kedamaian itu tidak ada dalam hidup. Pertanyaan yang sering muncul ialah: Apa arti semua ini? Untuk apa semua ini?

Pagi ini, jika kita bangun dengan rasa lesu dan berpikir-pikir bahwa hidup ini terasa membosankan dan melelahkan, biarlah kita diingatkan bahwa betapapun kecilnya peran kita dalam hidup ini, Tuhan mau memakai kita sebagai hambaNya yang setia untuk kemuliaanNya.

Kunci kebahagiaan adalah jika kita bisa mendedikasikan hidup kita kepada Tuhan dan bukan kepada manusia, dan dengan itu kita bisa melihat dan merasakan kebesaranNya. Kesetiaan dalam hal yang kecil akan membawa kesetiaan kepada Tuhan yang maha besar!

Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10: 31

Iman yang bekerja

Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Lukas 9: 2-3

Apakah yang diperintahkan Yesus kepada murid-muridNya sebelum Ia naik ke surga? Mengabarkan injil! Perintah untuk memberitakan Injil atau yang sering disebut dengan Amanat Agung adalah perintah Yesus yang terakhir yang ditulis di Matius 28: 19-20 dan juga Lukas 24: 46-48. Amanat ini diberikan setelah kebangkitan Yesus pada saat kesebelas murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.

Mungkin agak mengherankan bahwa murid-murid Yesus sebenarnya sudah mulai mengabarkan hal kerajaan Allah dari mulanya seperti yang tertulis dalam Lukas 9: 2-3. Ketika itu Yesus masih belum disalibkan dan masih mengembara bersama murid-muridNya. Walaupun demikian, Yesus sudah menyuruh mereka untuk pergi ke berbagai tempat untuk mengajar dan menolong orang lain. Yesus mungkin bermaksud untuk melatih murid-muridNya untuk menghadapi kenyataan hidup sebagai utusan Tuhan.

Sebagai pengikut Yesus, murid-murid dinasihatiNya untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, tidak membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Cukup dengan satu baju saja, mereka harus berjalan kaki ke tempat-tempat yang asing untuk mereka. Mereka jelas harus hidup dengan iman bahwa sepanjang jalan mereka akan dapat memperoleh tumpangan dan pertolongan orang lain. Mereka harus mempraktikkan iman mereka secara nyata, bukan hanya teori. Iman yang bekerja, faith at work, adalah iman pengikut Kristus yang bisa membuat orang lain melihat dan percaya bahwa mereka bukanlah orang yang mementingkan atau bergantung kepada kenyamanan hidup, tetapi orang yang mendahulukan perintah Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita adalah pengikut Kristus juga. Dengan demikian, kita pun diperintahkan untuk mengabarkan Injil. Perintah Yesus untuk hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan berlaku juga atas diri kita. Bagaimana dengan perintahNya untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju? Kerap kali kita justru berbuat sebaliknya! Banyak orang Kristen dan bahkan hamba Tuhan di zaman ini yang dipengaruhi oleh kebutuhan untuk hidup enak sehingga mereka kurang bisa untuk sepenuhnya melaksanakan Amanat Agung Kristus yang seharusnya berlaku dalam setiap situasi dan kondisi. Juga karena gaya hidup yang lebih individualis, mereka kurang punya kesadaran untuk membantu mereka yang hidup dalam kekurangan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita wajib untuk mengabarkan Injil dan kasih Kristus melalui hidup kita; melalui apa yang kita kerjakan dan dalam setiap keadaan. Lebih dari itu kita harus menunjukkan iman yang bekerja, yaitu iman yang bisa dilihat masyarakat sebagai kenyataan, bahwa hidup kita adalah karena Kristus, dengan Kristus dan demi Kristus.

Marilah kabarkan Injil ke seluruh dunia! Kabar Baik dari Allah yang Esa:

Penebus dosa kita mencurahkan darahNya, yang memb’ri kes’lamatan manusia.

Kabarkan InjilNya ke seluruh dunia! Jangan takut dan jangan gentar.

Kabarkan InjilNya ke seluruh bangsa! Ingatlah Amanat AgungNya.

(NP 203)

Hal kepahitan hidup

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 31

Rasa pahit adalah rasa yang tidak disukai manusia. Dari saat dilahirkan, manusia sudah bisa membedakan rasa manis yang dianggap enak, dari rasa pahit yang tidak enak. Rasa pahit adalah kenyataan, tetapi tiap orang mempunyai sensitivitas dan pendapat tersendiri tentang apa yang manis dan apa yang pahit. Jika ada makanan yang untuk seseorang rasanya manis, orang lain mungkin masih bisa merasakan adanya rasa pahit yang tercampur didalamnya. Sebaliknya, untuk sebagian orang, ada makanan yang rasanya benar-benar pahit tetapi menurut mereka justru enak untuk dimakan.

Rasa pahit juga terasa jika kita dikecewakan oleh orang lain. Kepahitan hidup bisa terjadi karena adanya hal-hal yang tidak disukai dalam hidup ini. Lidah memang tidak merasakan pahitnya pengalaman, tetapi kita tetap bisa merasakannya, seperti pil pahit rasanya. Jika kepahitan makanan hanya sementara, seringkali kepahitan hati dan pikiran kita berlangsung terus, siang dan malam.

Mungkin kepahitan dalam hidup kita disebabkan oleh diri kita sendiri, dan karena itu rasa pahit bercampur dengan rasa sesal. Tetapi seringkali, kepahitan itu dihubungkan dengan perbuatan orang lain dan situasi yang kita alami. Kepahitan yang sedemikian bisa dan sering menjadi kemarahan dan kegeraman, kepada orang lain dan juga kepada Tuhan.

Sangat menarik bahwa Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus untuk menghilangkan segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah, demikian pula segala kejahatan. Memang semua hal yang disebutkan itu bisa dan sering menjadi kejahatan yang menghapus kasih dari hidup kita. Kepahitan bisa menyebabkan kita membenci diri kita dan orang lain. Kepahitan bisa menyebabkan timbulnya kejahatan kepada diri sendiri dan orang lain.

Pada akhirnya, adanya kepahitan dalam hidup bisa mematikan iman karena hal itu bertentangan dengan kasih Tuhan. Kepahitan dalam hidup membuat kita tidak mengenal Tuhan yang maha pengasih dan maha pengampun. Kepahitan membuat manusia lambat laun membenci Tuhan dan sesama manusia.

Pagi ini, Tuhan berfirman melalui Paulus bahwa kita harus bisa menghilangkan kepahitan dari hidup kita. Itu tidak berarti bahwa penyebab rasa pahit, yang sudah terjadi ataupun sedang terjadi, akan hilang dari hidup kita. Tetapi rasa pahit yang kita alami selama ini bisa hilang jika kita makin mendekatkan diri kepada Tuhan dan bukannya menjauhiNya. Biarlah Roh Kudus makin menguatkan diri kita!

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Mengapa aku tidak bisa berdoa?

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Tahukah anda bahwa hanya sebagian orang Kristen yang mempunyai kebiasaan berdoa dengan teratur? Memang data dari Indonesia tidak ada, tetapi data dari negara-negara lain menunjukkan bahwa orang Kristen bukanlah orang yang gemar berdoa atau terbiasa berdoa tiap hari. Mereka yang rajin ke gereja pun belum tentu bisa berdoa secara teratur. Mengapa begitu?

Ada banyak penyebab mengapa orang Kristen tidak berdoa secara teratur. Sebab yang pertama ialah soal prioritas. Seorang tidak berdoa karena ia mementingkan hal lain daripada berdoa. Selain itu, ada orang yang beranggapan bahwa berdoa adalah memohon sesuatu kepada Tuhan. Karena itu, selama hidupnya lancar, doa tidak dirasakan perlu.

Selain dari sebab-sebab diatas, ada pula orang yang berpendapat bahwa Tuhan sudah mempunyai rencana tertentu yang tidak bisa diubah. Sebab itu doa adalah hal yang sia-sia. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang maha suci.

Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan seperti dalam agama lain.

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenalNya.

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk dan sukses sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang maha kudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Pagi ini, ketika kita bangun dari tidur, hanya kita yang bisa menjawab pertanyaan mengapa berdoa sering terasa sebagai beban dan kewajiban, dan bukannya sebagai kenikmatan dan berkat. Karena Tuhan tahu bahwa kita membutuhkanNya, Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang maha pengasih.

Lemah lembut Tuhan Yesus memanggil,

Ia memanggil engkau,

Tengoklah Ia sekarang menunggu,

tunggu kedatanganmu.

Terang tidak dapat dicampur dengan gelap

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Renungan hari ini mungkin merupakan hal yang agak tajam untuk sebagian orang Kristen. Tetapi firman Tuhan memang seperti pedang bermata dua (Ibrani 4: 12).

Jika kita membaca koran, menonton TV, ataupun meneliti berita internet, kita bisa menemui berbagai iklan menarik dan berbagai berita yang tidak berbentuk iklan tapi sebenarnya juga dimaksudkan untuk menarik perhatian konsumer suatu produk. Juga di berbagai media kita bisa membaca, hampir setiap hari, berbagai berita yang tidak benar atau setengah benar yang berusaha membuat sensasi.

Dalam kalangan Kristen pun, ada orang-orang yang berusaha mengabarkan injil dengan membuat sensasi secara langsung maupun tidak langsung, menggunakan berbagai ilustrasi yang dikaitkan dengan ayat-ayat Alktab dan pengalaman pribadi untuk memikat perhatian jemaat. Khotbah minggu dan renungan semacam ini sering membawa kesan bahwa apa yang disampaikan benar terjadi atau akan terjadi, tetapi sebenarnya hanya dipakai “bumbu” untuk membuat “sajian” terasa lebih enak. Itu karena ada banyak orang yang mudah terpukau oleh kata-kata indah sekalipun kurang bermakna.

“Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4: 4

Memang orang di dunia cenderung menekankan bahwa hasil lebih penting dari usaha, dan hasil akhir sering menghalalkan cara. Untuk mencapai hasil baik, manusia sering menggunakan segala cara, entah itu berupa kepura-puraan, bohong, ataupun ketidak jujuran. Tetapi, apa yang diajarkan Yesus selama Ia berada di dunia adalah satu prinsip etika yang benar yang harus kita pegang: Bahwa apapun yang kita perbuat haruslah bisa membuat nama Tuhan dibesarkan dalam segala situasi. Manusia harus mempertanggung jawabkan apa saja yang diperbuatnya.

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Dunia mengajarkan etika situasi, yang bisa berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Sejarah membuktikan bahwa orang Kristen pernah memakai cara-cara yang keji demi nama Tuhan. Tetapi firman Tuhan tidak pernah berubah: apa yang salah tidak akan berubah menjadi benar dan apa yang palsu tidak dapat mendukung kebenaran.

Pagi ini, pertanyaan yang sulit dijawab adalah: Dapatkah kita berbuat baik melalui perbuatan yang kurang baik? Bolehkan kita memakai cara yang tidak benar asal tujuannya baik? Firman Tuhan diatas secara tegas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus menyinarkan terang kebenaran dalam masyarakat agar nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang kita perbuat dalam hidup sehari-hari, baik di kantor, di sekolah, di rumah maupun di gereja haruslah berdasarkan kesadaran bahwa Tuhan harus dipermuliakan baik dalam cara kita bekerja maupun dalam apa yang kita hasilkan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21-22