Siapa pernah ke surga?

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Sering kita mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa “Surga itu di bawah telapak kaki ibu”. Kata kiasan tersebut mengabarkan betapa kita wajib menaati dan berbakti pada seorang ibu, bila kita ingin meraih surga.


Dalam lingkungan Kristen, kata kiasan ini tidak populer. Walaupun demikian, masalah ke surga itu sangat menarik untuk semua orang Kristen. Dalam Alkitab, sejak mulanya dinubuatkan bahwa Yesus akan datang dari surga ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Surga sebenarnya ada dibawah telapak kaki Yesus.

“Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Amsal 30: 4

Karena Yesus sudah mengalahkan maut, kita wajib menaati dan berbakti  kepadaNya, bila kita ingin meraih surga.

Karena hanya Yesus yang pernah turun dari surga untuk hidup di dunia dan kembali ke surga untuk dipermuliakan di sebelah kanan Allah Bapa, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tahu bagaimana keadaan di surga dengan sepenuhnya.  Memang ada beberapa nabi dan rasul yang pernah melihat surga, seperti Daniel, Paulus dan Yohanes; tetapi apa yang mereka lihat adalah sebuah cuplikan yang terbatas dan tidak sempurna. Apalagi, penglihatan dan pengalaman seperti yang tertulis itu tidaklah mudah untuk menafsirkannya. 

Sangat menarik bahwa Paulus menyebutkan penglihatan surgawi yang dialaminya, yang mungkin sehubungan dengan peristiwa dimana ia hampir mati dirajam di Listra, tanpa pernah memakainya untuk menjadi dasar penginjilannya. Ia tidak mau menjadikan hal-hal itu untuk suatu yang bisa membuat jemaat meninggikan dia sebagai orang yang “istimewa”. Memang surga bukan di bawah telapak kaki Paulus.

“Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.” 2 Korintus 12: 6.

Lalu bagaimana pula dengan adanya orang-orang Kristen yang mengaku bahwa mereka sudah pernah ke surga dan bahkan menjumpai Tuhan? Ini hal sensitif yang sering diperbincangkan umat Kristen. Sepanjang sejarah gereja, ada orang-orang yang mengaku pernah diangkat ke surga, melihat keadaan di surga dan berbincang-bincang dengan Tuhan. Umumnya mereka mengalami penglihatan, mimpi atau kejadian lain, dimana mereka dipisahkan dari keadaan nyata yang disekelilingnya. Pengalaman mereka seringkali disampaikan dari mimbar gereja atau melalui buku yang mereka tulis. Sebagian dari mereka menjadi orang yang sangat terkenal dan mempunyai banyak pengikut yang mungkin mempunyai pengalaman serupa.

Memang lumrah kalau umat Kristen ingin tahu bagaimana keadaan di surga. Pengharapan kita adalah untuk melihat kemegahan surga dan untuk bertemu dengan Tuhan setelah usai tugas kita didunia. Jadi pengalaman-pengalaman itu memang berguna untuk mereka yang mengalami sendiri dan orang-orang lain yang  tertarik akan fenomena spiritual. Tetapi ada orang-orang yang mempertanyakan apakah hal-hal seperti itu adalah benar-benar dari Tuhan sendiri. Mereka juga mempertanyakan motivasi pemberitaan itu. Tentunya kita tahu bahwa Tuhan dulu menyatakan hal-hal semacam itu hanya kepada orang tertentu yaitu nabi dan rasul dan semuanya sudah tertulis dalam Alkitab.

Suatu hal lain yang menarik perhatian adalah bahwa fenomena penglihatan surgawi di jaman ini dialami bukan hanya oleh orang Kristen. Orang beragama apapun ada yang pernah mengalaminya. Gejala NDE (near death experience, pengalaman hampir mati) dan OBE (out-of-the body experience, pengalaman keluar dari tubuh) banyak dilaporkan di berbagai media. Gejala- gejala ini semuanya tidak alkitabiah. Apalagi ada praktek OBE yang bisa membuat orang keluar dari tubuhnya dengan melalui ritual tertentu. Selain adanya kemungkinan hubungan hal-hal ini dengan dunia roh, ada juga kemungkinan hubungannya dengan segi psikologis dan medis.

Dalam Alkitab ada tertulis bahwa tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Tetapi, sekalipun kita ingin untuk melihat kebesaranNya,  kita tidak perlu untuk ke surga untuk menjumpaiNya. Dia hidup sebagai Roh dalam diri kita yang percaya.

“Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” 1 Yohanes 4: 12

Dalam hal ini, jika kita mendengar kesaksian mereka yang pernah ke surga dan berjumpa dengan Allah dan malaikatNya, ada beberapa pertanyaan yang harus kita pikirkan, antara lain:

  • Apakah mereka yang mengalami pengalaman itu benar-benar anak Tuhan?
  • Apakah kesaksian mereka itu untuk memuliakan Tuhan atau diri sendiri?
  • Apakah isi kesaksian itu sesuai dengan isi Alkitab dan bukan mencari sensasi?
  • Apakah pengalaman itu dipakai sebagai alat utama untuk menginjil?
  • Apakah orang datang ke gereja hanya karena terrarik akan hal-hal semacam itu?

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang beriman kita harus memakai Alkitab sebagai pernyataan kebenaran Tuhan. Bahwa Firman Tuhan harus menjadi pokok satu-satunya untuk penginjilan. Sebagai orang Kristen kita ke gereja bukan untuk mendengarkan pengalaman pribadi seseorang, tetapi untuk mendengar firman Tuhan. Tidak ada seorangpun yang bisa menganggap dirinya lebih istimewa dari yang lain di hadapan Allah. Melalui penebusan darah Kristus semua orang percaya menjadi anak-anak Allah yang bisa memanggil Tuhan sebagai Bapa yang di surga. Marilah kita kembali berpegang kepada Injil kebenaran seperti yang dinyatakan dalam Alkitab! 

Belajar dan bekerja sampai mati

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” Mazmur 119: 105

Adalah suatu yang menarik bahwa semua mahluk di dunia ini selalu bekerja dalam hidup mereka. Tetapi, sangat mengherankan bahwa hanya manusia yang perlu belajar untuk melakukan atau mengerjakan segala sesuatu. Manusia tidak bergantung kepada nalurinya, tetapi pada otaknya. Manusia perlu belajar dari yang lain dan mengajar orang lain. Belajar dan mengajar. Learning and teaching. Belajar dan bekerja. Learning and working.

Berapa lama manusia ini harus belajar dalam hidupnya? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Untuk pendidikan formal, mungkin suatu negara menargetkan setidaknya semua penduduk bisa lulus SMP atau SMA. Untuk menjadi sarjana S-1 mungkin perlu belajar lagi 3-5 tahun setelah lulus SMA. Belum lagi tambahan pendidikan untuk mencapai S-2  dan S-3. Setelah lulus universitas, banyak orang yang tetap harus belajar untuk memertahankan ijin praktek kerja mereka.

Bagi mereka yang kurang senang belajar, memang keharusan untuk duduk membaca, memikir, mempelajari, membandingkan dan mengingat bahan pelajaran itu terasa berat. Mereka mungkin lebih senang untuk bekerja secepat mungkin. Tetapi, dalam bekerja mereka sering juga tetap harus belajar dari orang disekelilingnya dan juga dari pengalamannya.

Sebagai orang Kristen, semua orang pernah belajar firman Tuhan. Sebagian diantara kita mungkin pernah menerima paket ringkas pengenalan tentang Allah, Yesus dan keselamatan, dan kemudian menerima panggilan anugerah Tuhan. Sebagian yang lain harus mempelajari paket lengkap tentang  teologi, perbandingan agama dll sebelum mau percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi ada juga yang setelah lama belajar mendalami panggilan keselamatan Tuhan, tetap tidak bisa memilih jalan yang benar.

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa hidup itu cukup dengan iman yang sederhana. Asal percaya dan hidup dalam kebenaran, cukuplah. Kalau mereka yang mempelajari Alkitab secara mendalam belum tentu hidupnya baik, mengapa kita harus bekerja keras untuk mendalami firmanNya? Bukankah Yesus jelas-jelas tidak menyukai orang Farisi dan Saduki? Orang Kristen seharusnya mementingkan hidup baik dan menjalankan perintah Tuhan dan tidak menghabiskan waktu untuk mendalami arti firman, begitu mungkin pendapat sebagian orang. 

Sebagai orang Kristen memang kita harus berjalan di jalan yang benar. Hidup kita terus berjalan dan sebagai orang percaya kita harus bisa bekerja untuk memuliakan Tuhan. Memang perbuatan kita bisa dilihat orang lain dengan jelas, jalan yang kita tempuh lebih bisa menyatakan keKristenan kita di dunia ini. Tetapi jika kita mengabaikan kesempatan untuk mendalami apa arti firmanNya, kita akan mudah tersesat ke jalan yang keliru. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku, begitu pemazmur menulis dalam Mazmur 119: 105. Tanpa memakai pelita Firman, kita akan mudah salah jalan. Tanpa mendalami firman Tuhan, kita akan mudah terperangkap dalam keyakinan semu bahwa hidup kita sudah sesuai dengan perintahNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa selama hidup kita harus mempertahankan kompetensi kita sebagai orang yang sudah diselamatkan. Kita tidak boleh mengabaikan panggilan untuk mempelajari Firman. Untuk bisa hidup benar kita harus lebih bijaksana dari orang dunia. Kita juga harus lebih cerdik dari iblis. Sebagai orang Kristen kita tidak saja harus bekerja di ladangNya, tetapi tetap juga harus mau belajar setiap hari. Belajar dan bekerja,  belajar dan mengajar, adalah tugas kita sampai Tuhan memanggil kita.

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Efesus 3: 18

Ora et labora

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Yakobus 2: 18

Seperti yang tertulis dalam Wikipedia, frasa bahasa Latin “Ora et Labora” yang mengacu pada praktik monastik “berdoa dan bekerja”, umumnya terkait dengan penggunaannya dalam Peraturan Santo Benediktus. St. Benediktus memandang doa dan kerja sebagai para mitranya, serta percaya akan perlunya memadukan kontemplasi dengan tindakan, antara pemikiran dan perbuatan. Apakah perlunya kita untuk memadukan ora dan labora dalam hidup Kristen itu?


Semua mahluk di dunia ini bekerja untuk hidup. Dari mereka yang sekecil bakteri sampai yang sebesar gajah, mereka berusaha mendapat makanan untuk menyambung hidup. Tubuh kita adalah seperti mesin yang membutuhkan bahan bakar, dan untuk memperolehnya kita harus bekerja. 

Bekerja untuk manusia tidak hanya untuk bisa hidup. Bekerja juga bisa untuk kepuasan, untuk mengisi waktu, untuk mempertahankan kesehatan, untuk membantu masyarakat dll. Bekerja juga bisa berkaitan dengan usaha mencari nama, untuk mendapat kemashyuran, dan untuk kebanggaan. Bekerja dengan demikian, bisa mempunyai arti positip dan juga negatip.

Orang Kristen tidak ada bedanya dengan orang lain, mereka adalah orang berdosa. Karena itu, kita umumnya juga harus bersusah payah bekerja untuk mencari sesuap nasi. Namun, karena hidup kita bukan milik kita lagi, kita bekerja bukan untuk diri kita. Sebagai orang Kristen kita bekerja di dunia seperti bekerja untuk majikan kita di surga. 

Banyak orang yang bekerja dan memperoleh kesuksesan. Namun jika kesuksesan itu tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan, apa yang mereka lakukan tidaklah menunjukkan iman kepada Dia yang memungkinkan datangnya kesuksesan. Kesuksesan yang sedemikian hanya membuat manusia makin jauh dari Tuhan. Pekerjaan dan kesuksesan tanpa iman adalah sia-sia karena itu hanya hasil duniawi.

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang kelihatannya beriman tetapi tidak mempunyai semangat dan gairah untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Bagi mereka, hidup sebagai orang percaya (being Christian) adalah lebih penting dari bekerja keras dan mencapai prestasi tinggi untuk kemuliaan Tuhan (doing the good work). Mereka hanya memikirkan hal surgawi, padahal masih hidup di dunia.

Sesuai dengan frasa “Ora et Labora”, berdoa dan bekerja adalah perlu. Being Christian and doing the good work adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  Yakobus 2: 18 diatas juga menyatakan bahwa dari perbuatan kita, orang akan bisa melihat iman kita. 

Banyak manusia yang dari perbuatan mereka, kita bisa melihat dengan jelas bahwa mereka bukan pengikut Kristus. Ada juga orang yang sering berbuat amal dan kebajikan agar mereka menerima pujian dan sanjungan yang seharusnya merupakan  hak Tuhan. Inipun tidak menunjukkan adanya iman. Hanya jika kita mau bekerja keras sesuai dengan firmanNya dan untuk kemuliaan Tuhan, kita membuktikan iman kita dari perbuatan kita.

Ora et labora. Tuhan menghendaki kita untuk berdoa dan bekerja, tetapi keseimbangan di antara keduanya adalah perlu. Tuhan menghargai baik eksistensi kita (being) maupun pekerjaan kita (doing), baik itu pekerjaan yang sederhana maupun yang signifikan. Biarlah pagi ini kita disadarkan bahwa iman Kristen kita sudah seyogyanya diperlihatkan melalui hal-hal baik yang kita kerjakan untuk kemuliaanNya!

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Resiko rumah kosong

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8


Di Australia, berita tentang rumah yang dirusak penghuni liar sudah bukan barang baru. Pemilik rumah yang baru kembali dari libur panjang, menemukan rumahnya sudah diobrak-abrik orang. Ada juga rumah sewaan yang kemudian dihancurkan oleh penyewanya. Semua itu terjadi karena kurang berhati-hati. Rumah yang ditinggal tanpa pengawasan atau rumah yang disewakan tapi jarang diperiksa. Kekosongan rumah menyebabkan kedatangan orang yang tidak diundang, dan absennya pengawasan menyebabkan perusakan rumah oleh penghuni liar.

Seperti rumah tempat kita tinggal, Alkitab menerangkan bahwa tubuh kita adalah rumah Allah, bahkan bait suci yang didiami Allah. Lebih dari itu, tubuh kita bukan milik kita lagi karena kita telah dibeli dengan harga lunas yaitu darah  Kristus.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”  1 Korintus 16: 9

Ketika seorang bertobat dan  menerima Yesus, maka Roh Kudus bekerja dalam orang itu dan membersihkan hidupnya seakan sebuah rumah yang sudah dibersihkan dari berbagai sampah dan kerusakan. Rumah yang sudah lama didiami oleh penghuni liar itu sekarang menjadi milik Tuhan. Iblis, penghuni liar yang sudah membuat kerusakan dan kekacauan, sudah diusir dan sekarang berkeliling mencari tempat lain.

“Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya.” Matius 12: 43

Sebagai orang yang diberi pinjaman rumah oleh Tuhan, sudah barang tentu kita harus memelihara rumah itu dengan baik-baik. Rumah Tuhan itu harus dijaga kebersihannya dan dipakai untuk hal-hal yang disukai oleh Roh Kudus yang menghuniNya. Kita tahu bahwa rumah yang dihuni oleh Roh Kudus tidak akan dimasuki pengacau atau penghuni liar.

Dalam kenyataannya, sekarang ini banyak orang Kristen yang tidak mau terbebani dengan urusan menjaga rumah Tuhan, yaitu tubuh dan hidup mereka. Mereka merasa bahwa sebagai pemilik rumah, Tuhan terasa terlalu “cerewet”.  Sebagai orang yang harus merawat rumahnya, banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dari tugas-tugas yang ditentukan Roh Kudus. Apalagi, sebagai manusia modern yang sibuk, mereka sendiri sudah merasa terbebani dengan berbagai masalah. Juga, godaan duniawi membuat banyak orang Kristen yang menelantarkan hidup mereka.

Begitu banyak orang Kristen sekarang ini yang berusaha mencari ketenangan hidup dengan berbagai meditasi dan aktivitas kedagingan lain yang seringkali merupakan suatu usaha untuk mengosongkan hidup dari pengaruh Tuhan. Dengan pikiran yang kosong, mereka berharap untuk mendapat kedamaian. Sayang sekali, dengan mengosongkan diri umat percaya pada hakikatnya telah mengosongkan rumah Tuhan, yaitu diri kita sendiri dari Roh Kudus. Pikiran kita tidak lagi terpusat pada kewajiban kita untuk menjaga tubuh kita, rumah Allah. Lebih parah lagi, kita bisa tidak sadar bahwa karena Roh Kudus sudah tidak lagi suka untuk tinggal dalam hidup kita, bahaya yang besar akan mendatangi.

Iblis adalah ibarat penghuni liar yang ingin menempati hidup kita. Ia selalu mengembara mencari kesempatan untuk kembali menduduki kehidupan anak-anak Tuhan. Ia jugalah yang ganasnya seperti singa yang siap masuk dalam kehidupan manusia dan menelan mereka yang hidupnya kosong atau dikosongkan dengan sengaja dari bimbingan Tuhan. Kekosongan hidup kita dan keteledoran dalam menjaga tubuh kita akan mengundang kembali penghuni liar, yang akan  merusak rumah Tuhan yaitu kita sendiri.

“Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur.” Matius 12: 44

Pagi ini biarlah kita ingat agar dalam keadaan apapun, jangan sampai kita mendukakan Roh Kudus yang mendiami hidup kita. Jangan sampai kita mengosongkan hidup kita dari bimbinganNya. 

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Marilah kita makin giat menjaga kehidupan kita agar kita makin dikuatkan dalam perjuangan hidup kita!

Air tenang menghanyutkan

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Matius 5: 5

Ayat Matius 5: 5 diatas nampaknya sederhana, tetapi seringkali menjadi pertanyaan orang percaya. Didalam dunia yang penuh persaingan ini, nampaknya sulit dimengerti bagaimana orang yang lemah lembut bisa menmperoleh keberhasilan dan kemenangan atas mereka yang vokal dan agresip. Apalagi dikatakan bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi tempat dimana mereka berada.

Bertentangan dengan ayat diatas, beberapa filsuf pernah mengatakan bahwa kelemahlembutan tidak mungkin bisa mencapai kesuksesan di dunia ini. Menurut mereka, hanya yang kuat dan yang bisa menekan orang lain akan menang. Orang yang tidak menunjukkan kekuatannya tidak mungkin bisa menundukkan orang lain. Mana yang benar?

Dalam kenyataan hidup kita, penampilan yang lemah lembut itu belum tentu menunjuk kepada orang yang lemah.  Seperti peribahasa “Air tenang menghanyutkan” kita bisa mengerti bahwa seorang yang pendiam belum tentu kurang bisa, justru orang pendiam sering mampu melakukan  pekerjaan yang hebat. Peribahasa senada dalam bahasa Inggris, “Still waters run deep”  yaitu “Air yang tenang menunjukkan kedalaman”, dapat diartikan sebagai “Orang yang pendiam dan halus tampak luarnya, sering mempunyai karakter yang baik dan kemampuan yang hebat”.

Adalah kenyataan hidup bahwa tiap -tiap orang mempunyai karakternya sendiri sejak dilahirkan.  Karakter manusia memang bermacam-macam dan tidak selalu bisa dilihat dari penampilan luarnya. Tetapi  orang Kristen yang benar akan mempunyai karakter baru yang bisa terlihat dari luar karena pekerjaan Roh Kudus dalam hidupnya. Karakter baru, luar dan dalam.

 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Setelah seseorang menerima Yesus sebagai juruselamatnya, perubahan hidup harus terjadi dan sifat-sifat dan cara hidup yang lama akan perlahan-lahan diisi dengan hal-hal yang baik seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22). Jadi, dari apa yang kelihatan dari hidup seseorang,  kita akan dapat mengenali apakah orang itu sudah menjadi “air tenang yang dalam”. Orang yang bukan hanya terlihat sabar dan lemah lembut, tetapi juga mempunyai banyak sifat-sifat lain yang baik.

Memang agaknya dunia sering lebih memihak kepada mereka yang bisa memaksa dan menindas orang lain. Tetapi, kita tahu bahwa orang yang demikian hidupnya seringkali tidak tenang atau damai. Sejarah membuktikan bahwa kekacauan di berbagai gereja dan negara, dan bahkan peperangan di dunia sering disebabkan oleh ulah dan ambisi para pemimpin. Sebaliknya,  masyarakat yang hidup damai dan bersatu pada umumnya disebabkan oleh adanya pemimpin yang baik yang bisa mengayomi anak buahnya. Bukan seorang diktator.

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang bisa mengendalikan hidupnya sendiri dan hidup dalam kedamaian sehingga tidak ada keraguan diantara mereka yang disekelilingnya. Seorang pemimpin dihormati bawahannya karena ia seperti “air tenang yang menghanyutkan”.

Pagi ini, apapun kedudukan dan tugas kita, adalah panggilan bagi kita untuk menjadi orang yang lemah lembut. Kelemahlembutan tidak sama dengan kelemahan. Yesus adalah contoh pemimpin yang baik, karena Ia mempunyai kesabaran dan kelemahlembutan yang membungkus kekuasaan IlahiNya. Kita harus belajar dari Dia.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Dalam hidup berkeluarga, dalam bekerja, dalam bermasyarakat, juga dalam bergereja dan bernegara, mereka yang mau memperoleh lingkungan yang mendukung mereka, haruslah bisa menjadi orang yang lemah lembut. Sesuai dengan Matius 5: 5, kelemahlembutan yang didasari kasih akan membawa keberhasilan di “bumi” manapun dimana kita berada. 

Semoga hidup baru kita bisa terlihat oleh orang disekitar kita yang bisa menyadari bahwa sekalipun kita nampak sebagai air yang tenang, kuasa Tuhan yang besar ada bersama kita!

Uang tidak haram, tapi …

 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Lukas 16: 9


Duit, fulus, uang. Siapakah yang tidak butuh? Dari lahir sampai mati, manusia membutuhkan uang. Apalagi kalau tanggal tua, adanya sedikit uang di dompet mungkin seperti setitik air di padang pasir. Hakikat uang yang dibutuhkan manusia ini diungkapkan dalam  agama tertentu sebagai bekal ibadah dan perjuangan. Menurut ajaran tersebut, dengan berbekal uang yang dimiliki, seorang juga dapat melakukan sesuatu yang baik  untuk mendapat sesuatu yang paling berharga, yaitu surga. Dengan uang atau harta, seorang  dapat membeli surga dengan perniagaan dengan Allah yang empunya surga. Orang bisa dengan hartanya berbuat kebajikan untuk dapat ditukarkan dengan tempat di surga.

Sudah barang tentu, sebagai umat Kristen, kita tahu bahwa perniagaan dengan Allah semacam itu tidak mungkin bisa. Tidak mungkin kita membeli tempat di surga melalui “barter” dengan Allah. Kemahasucian Allah tidak mungkin dicapai atau dibeli oleh manusia dengan alat apapun. Hanya darah Yesus yang memungkinkan manusia untuk dapat mendekati Sang Pencipta. 

Lalu bagaimana dengan ayat diatas? Mengapa Yesus berkata bahwa kita harus  menggunakan uang untuk bisa diterima di dalam kemah abadi (surga)? Benarkah Yesus menganjurkan kita untuk bersahabat dengan uang atau harta? Kalau benar, bukankah apa yang diajarkan Kristus itu serupa dengan apa yang diajarkan oleh agama lain?  Bukankah rasul Paulus dalam 1 Timotius 6: 10 menulis bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan?

Apa yang dikatakan oleh Yesus waktu itu adalah ucapan ekstrim atau bernada hiperbola, yang dimaksudkan agar dapat lebih tajam dan mengena pada sasarannya. Ada beberapa ucapan bernada hiperbola yang dipakai Yesus dan tertulis dalam Alkitab. Misalnya:

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14: 26

Ungkapan bernada hiperbol tidak dapat langsung diartikan secara literal, tetapi harus dipelajari konteksnya. Kalau tidak, kita bisa mendapat kesimpulan yang keliru.

Uang sebenarnya adalah alat dan sumber daya manusia seperti juga pendidikan dan kepandaian dll. Manusia harus bekerja untuk mendapatkan uang, mengumpulkannya untuk disimpan dan dikembangkan, dan memakainya untuk mencapai tujuan tertentu. Ketiganya harus dijalankan dengan cara yang benar (ini mungkin mengingatkan kita akan amnesti pajak).

Dalam kenyataan hidup ini, banyak orang mencari uang dengan cara yang tidak benar, mengumpulkannya dengan maksud yang salah dan memakainya untuk tujuan yang keliru. Dalam masyarakat yang cenderung makin kapitalis sekarang ini, tidak hanya dalam dunia bisnis orang berebut mencari uang dengan segala cara, tetapi juga dalam lingkungan gereja banyak orang Kristen dan bahkan pemimpin gereja yang keliru dalam usaha mencari, mengumpulkan dan menggunakan uang. Lebih payah lagi, banyak yang mengajarkan bahwa banyaknya uang adalah tanda besarnya iman.

Banyak contoh di Alkitab yang menggambarkan betapa manusia bisa mengalami masalah karena cinta akan uang. Contoh yang mungkin sangat menyedihkan ialah ketika Ananias dan Safira  menemui kematian karena melakukan tiga hal diatas secara keliru: mendapat uang, mengumpulkan uang dan memakai uang dengan tujuan yang salah (Kisah Para Rasul 5). Seandainya mereka tidak membuat kekeliruan itu, mereka tentu tidak akan mati secara mengenaskan.

Dalam ayat Lukas 16: 9 diatas, jelaslah bahwa Yesus mengajarkan agar kita bisa menguasai uang dan bukan dikuasai uang. Kita harus bisa “bersahabat” dengan uang dalam arti bisa mencari uang dengan cara yang benar, mengelola uang dengan benar dan memakai uang dengan maksud yang baik – untuk kebesaran nama Tuhan. Keberhasilan yang pernah kita alami dalam mencari uang tidak dapat menjamin bahwa kita akan selalu berhasil dalam hal itu. Sebagai manusia yang hidup di dunia, ada juga saat dimana kita tidak dapat meneruskan usaha kita dalam mengelola uang karena berbagai faktor. Tetapi, jika untuk orang dunia terhentinya aktivitas keuangan akan membawa frustrasi dan kekecewaan, bagi orang Kristen yang sudah menggunakan uangnya dan hidupnya dengan baik ada kebahagiaan tersendiri, karena mereka sudah menggunakan sumber daya yang datangnya dari Tuhan itu untuk kemuliaanNya.

Sejauh mana orang Kristen harus mau untuk berjuang mencari uang, mengumpulkan uang dan menggunakan uang untuk kemuliaan Tuhan? Selama hidup di dunia kita bisa memakai berkat Tuhan itu untuk melebarkan kerajaan Tuhan dengan berbagai cara. Juga kita dapat menolong sesama kita yang menderita secara finansial. Ini bukan soal yang mudah untuk manusia yang cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri. Tetapi Yesus berkata bahwa siapa yang tidak dapat mencintai sesamanya yang kelihatan,  tidak akan bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan (1 Yohanes 4: 20). Senada dengan itu, siapa yang tidak dapat mengelola harta duniawi dengan baik, tidak dapat mengelola harta surgawi.

 “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Lukas 16: 11

Pagi ini, biarlah kita bisa menyadari realita hidup di dunia ini. Bahwa selaku orang percaya kita dikaruniai kemampuan untuk menguasai bumi, untuk mengelola berbagai sumber daya yang ada. Sebagai orang beriman, kita mendapat panggilan untuk bisa bekerja dengan rajin dan jujur agar kita dapat memperoleh hasil yang baik, yang berasal dari Tuhan, dan yang bisa digunakan untuk membangun kerajaan Allah di didunia dan di surga.

Eh, bisa ndredeg juga…

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Lukas 22: 44

Pernahkah anda merasa takut? Tentunya semua orang pernah merasa takut, walaupun tidak semua orang merasa takut karena hal yang sama. Selain ketakutan karena adanya ancaman dan kekuatiran, orang juga bisa takut karena berbagai hal seperti:

Arachnophobia – takut laba-laba
Ophidiophobia –  takut ular
Acrophobia – takut ketinggian
Agoraphobia –  takut tempat sempit atau ramai
Cynophobia – takut anjing, dll.

Sebagian rasa takut ini mungkin diakibatkan oleh pengalaman masa lalu atau masalah psikologis. Tetapi ketakutan yang lebih nyata adalah ketakutan karena adanya ancaman atau resiko yang besar.

Adanya ancaman atau resiko memang bisa menimbulkan rasa takut. Rasa takut adalah normal untuk semua orang. Malahan, orang yang tidak pernah merasa takut mungkin bukan manusia yang sehat pikirannya. Rasa takut adalah seperti “warning system” atau sistem peringatan yang ditanamkan dalam diri manusia untuk memperingatkan adanya sesuatu yang mengandung resiko besar atau akibat yang serius. 

Yesuspun mengalami rasa takut, bahkan rasa takut yang luar biasa ketika Ia berdoa di taman Getsemane. Di saat menjelang penyalibanNya, Yesus sangat ketakutan dan dalam berdoa, peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Kalau Yesus bisa merasakan ketakutan dalam kesendirianNya, apalagi kita manusia yang lemah ini.


Beberapa hari yang lalu, selagi baru mulai lari pagi, saya dikejar orang yang rupanya bermaksud menghajar saya. Kesalahan saya terhadap dia adalah hanya karena saya melihat ke arah balkoni dimana ia tinggal. Ternyata, ia adalah penyewa apartemen yang akan dikeluarkan karena terlibat dalam pemakaian narkoba tertentu, yang menyebabkan dia selalu marah-marah kepada orang-orang di sekitarnya. Sebagai orang berusia senja, saya tahu diri dan tidak mau meladeni umpatannya. Sayapun meneruskan acara jogging saya, tetapi dia ternyata berusaha mengejar saya. Haruskah saya berhenti dan menghadapi orang itu dengan iman? Saya tahu bahwa orang itu dalam pengaruh obat! Lagipula,  saya takut kalau-kalau ia membawa senjata tajam atau mampu melukai saya. 

Karena adanya rasa takut, saya akhirnya memutuskan untuk terus berlari, dan untunglah orang itu akhirnya bisa saya kecoh sehingga dia kehilangan jejak saya. Rasa takut saya dalam hal ini telah membantu saya untuk menyelamatkan diri. Selain bersyukur atas perlindungan Tuhan, saya juga bersyukur karena saya masih mempunyai pikiran sehat dan rasa takut. Rasa takut jugalah yang menyebabkan saya terus berdoa selama peristiwa itu dan bersyukur sesudahnya.

Rasa takut memang sering dipandang sebagai “negative thinking” oleh banyak orang, termasuk orang Kristen. Sering pembicara-pembicara menyuarakan pesan-pesan untuk mengobarkan semangat jemaat dengan inti bahwa Tuhan selalu menyertai setiap langkah kita. 

Adalah kenyataan hidup bahwa sebagai orang percaya, belum tentu langkah kita selalu menuruti kehendak Tuhan. Adalah kenyataan bahwa dinamika kehidupan ini sering muncul dalam bentuk yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki Tuhan.  Biarpun kita ingin berjalan sesuai dengan kehendakNya, sering kita jatuh dalam dosa mengikuti keinginan diri sendiri (Roma 7: 18). Sering juga kita memilih jalan yang keliru karena itulah yang diterima dalam lingkungan kita. Jika begitu, patutkah kita selalu yakin bahwa setiap usaha dan tujuan kita selalu berhasil dengan baik? Patutkah kita maju ke depan dengan keberanian?

Rasa takut memang sering dipandang sebagai usaha iblis untuk membuat umat Tuhan kurang beriman. Padahal rasa takut itu seharusnya sudah ada sejak ada dalam penciptaan terutama dalam hal takut kepada Tuhan dan takut melanggar perintahNya. Rasa takut memberi kesadaran bagi manusia untuk mengerti akan keterbatasannya dan menyadari adanya Tuhan yang mahakuasa. Rasa takut membuat kita kembali kepada Tuhan dan mencari kehendakNya.

Memang banyak ayat Alkitab yang menyatakan keberanian jika Tuhan dipihak kita, contohnya:

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Mazmur 118: 6

Walaupun demikian, untuk bisa tidak takut kita harus yakin jika Tuhan memang di pihak kita, dan percaya bahwa kita berjalan sesuai dengan kehendakNya

Adalah lumrah jika kita takut ketika kita harus mengambil keputusan besar, sewaktu kita merasa tidak pasti apakah itu sesuai dengan kehendakNya; atau ketika harus menghadapi sesuatu hal rumit sewaktu kita belum yakin apakah itu memang harus terjadi. 

Yesus takut sewaktu di taman Getsemane karena Ia sadar bahwa penderitaan yang besar akan terjadi atas diriNya, karena sebagai anak Allah Ia akan dipisahkan dari kasih Bapa. Haruskah itu terjadi? Ia bisa saja menolak tugas penyelamatanNya, namun Ia menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Bapa. Ia mengalami ketakutan tetapi menghadapinya dengan pendekatan yang benar. Ia mengatasi ketakutan dengan penyerahan kepada kehendak Bapa (Lukas 22: 42). Dalam ketakutan dan penyerahan, ada pertolongan dan penguatan dari surga.

Mungkin kita tahu bahwa banyak orang di jaman ini memakai semboyan “Fearless” atau “No Fear”. Mereka dianjurkan untuk tidak mempunyai rasa takut atas tantangan hidup dan kesulitan yang mereka temui. Semboyan ini sayangnya sering disalahgunakan, karena artinya seringkali ditafsirkan sebagai “tidak takut kepada apapun atau siapapun”. Sebagai akibat paham hidup demikian, makin banyak orang yang merasa yakin bahwa hidup mereka ada dalam tangan mereka sendiri. Ini jelas bertentangan dengan pengajaran Alkitab yang menyatakan bahwa mereka harus takut kepada Tuhan dan tunduk kepada pimpinan dimanapun mereka berada. Mereka harus takut untuk berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum atau kehendak Tuhan.

Banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa Tuhan senantiasa mendampingi mereka dalam hal apapun yang mereka kerjakan. Ini tidak berbeda dengan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang dunia, yang buta akan kebenaran. Mereka yang bermodal kenekadan dan senang membuat kekacauan. Sebaliknya, orang Kristen yang bijaksana layak takut jika mereka tidak yakin bahwa Tuhan ada di pihak mereka. Kita patut takut untuk berjalan jika kita tidak mengerti apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. 

Karena kehendak Tuhan hanya bisa dimengerti melalui hubungan baik kita dengan Tuhan, kita patut takut kalau kita jarang berkomunikasi dengan Tuhan. Adalah keberanian yang kosong jika kita berjalan melangkah ke masa depan tanpa berusaha menyesuaikan langkah kita dengan langkahNya.  Adalah kebodohan iman jika kita mengharapkan bahwa Tuhan akan menyesuaikan langkahNya dengan langkah kita. Adalah impian jika kita berharap untuk hidup tenteram dengan mengabaikan perintahNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa hanya ketika kita yakin bahwa kita sudah mendengarkan dan menurut perintahNya, bolehlah kita dengan yakin berkata “Fear Not”, jangan takut, karena Tuhan beserta kita. Marilah kita lebih dekat kepadaNya dalam hidup kita, agar kita mengerti kemana kita harus pergi. Jika kita percaya bahwa kita berjalan bersama Yesus, kita akan yakin bahwa ketakutan itu akan lenyap dan diganti dengan kedamaian

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan

dan tangan kasihNya memimpinku.

Di tengah badai dunia menakutkan,

hatiku tetap tenang teduh.

Untuk apa memberi?

 “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”  1 Yohanes 4: 19

Beberapa hari yang lalu saya membaca semboyan menarik yang berbunyi: “You get what you give, whether it’s good or bad” yang berarti “Kamu akan mendapatkan sesuai dengan  apa yg kamu berikan, tak peduli apakah itu sesuatu yg baik atau yg buruk”. Semboyan yang kelihatannya masuk akal dalam soal memberi. 


Seperti bumerang, begitulah apa yang kita lontarkan akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada seseorang maka orang lain akan berbuat baik kepada kita, dan jika kita berbuat jahat kepada orang lain, kitapun akan dijahati orang lain. Untuk situasi tertentu, memang ini benar. Tetapi, karena keyakinan serupa ada orang yang berbuat baik dengan tujuan untuk mendapatkan balasan dalam bentuk hal yang baik – kalau mungkin dalam jumlah yang lebih besar, baik dari Tuhan maupun sesama. Pendorong perbuatan baik dalam hal ini mungkin bertalian dengan “takut adanya karma”  dan “kemungkinan mendapat laba”. 

Dalam kenyataan kehidupan manusia, perbuatan baik kita tidak selalu dibalas dengan hal yang baik. Yesus datang dengan maksud baik dan berbuat banyak kebaikan di dunia ini, tetapi Ia justru mengalami penderitaan di kayu salib. Banyak diantara pengikut Yesus juga mengalami hal yang serupa termasuk Petrus dan Paulus. Malahan sebagai pengikut Yesus kita diperingatkan bahwa kita akan mengalami penderitaan di dunia ini (2 Timotius 3: 12). Kalau begitu, apa yang bisa mendorong orang untuk berbuat baik atau memberi?

‎Sebenarnya, selain dua sebab diatas (takut karma dan mencari keuntungan), ada berbagai alasan lain yang mendorong orang untuk memberi atau berbuat kebaikan:

  • Syarat masuk surga: banyak orang yang berpendapat bahwa hanya orang  yang cukup baik yang bisa masuk ke surga. Karena itu berbuat kebaikan dan membagi sedekah adalah keharusan.
  • Kepuasan diri: sering orang memberi karena merasa adanya kepuasan tersendiri karena mereka merasa bisa memberi. Mereka bisa merasakan lebih beruntung dari orang lain.
  • Keinginan untuk dihargai: memberi sering merupakan cara untuk mendapat perhatian dan penghargaan dari masyarakat.
  • Kebiasaan bersosial: banyak orang yang sudah terbiasa dengan hidup bertetangga atau bermasyarakat merasa bahwa memberi adalah seperti adat atau kebiasaan.
  • Rasa kasihan: karena rasa kasihan atas keadaan orang lain, mungkin kita memberi walaupun sebenarnya pemberian itu mungkin tidak bermanfaat.
  • Tidak ada motif jelas: sering orang memberi tanpa tujuan yang pasti karena mereka tidak mau menghabiskan waktu memikirkan hal itu. 

Bagi orang Kristen, memberi adalah hal yang serius, yang memerlukan pengertian yang benar. Allah memberikan anaknya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk mengganti dosa kita. Ini bukti kasih Allah yang mahabesar. Karena itu kasih seharusnya menjadi motif utama pemberian kita, dan bukan mencari kebaikan atau keuntungan untuk diri kita sendiri.

Penebusan Kristus jugalah yang harus menjadi pendorong kita untuk bersyukur kepada Allah dan menyatakan terima kasih kita dalam bentuk perbuatan baik kepada sesama kita. Jelas bahwa pemberian yang benar hanyalah pemberian yang didasari pengertian dan pengakuan akan kasih Allah melalui Yesus Kristus. 

Siapapun yang berbuat baik tanpa iman dalam Yesus sebenarnya tidak menyatakan rasa syukur kepada Allah sumber kehidupan manusia. Hanya persembahan yang disertai rasa syukur yang benar, yang menempatkan Allah sebagai tujuan pernyataan terima kasih kita, akan diterima Allah; seperti Ia menerima persembahan Habel (Kejadian 4: 4).

Memberi bukanlah hal yang mudah karena untuk memberi, kita  harus mengenal Tuhan. Untuk bisa memberi, kita harus mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan. Untuk bisa memberi, kita harus mengakui bahwa Tuhan sudah lebih dulu memberikan kita karunia terbesar dalam Yesus. Karena itu, jika kita belum menerima Yesus sebagai juruselamat kita, semua pemberian dan perbuatan baik kita adalah bukan untuk kemuliaan Allah. 

Jelasorang yang belum menerima keselamatan belum bisa memberi dengan benar. Apa gunanya kita memperoleh seisi dunia ini, dan dengan demikian mampu membaginya kepada seisi dunia, jika kita tidak mengenal Yesus?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 6: 26

Kacang ora ninggal lanjaran

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Roma 5: 12

Ada pepatah Jawa yang berbunyi “ Kacang Ora Ninggal Lanjaran” yang arti literalnya adalah kacang panjang selalu tumbuh mengikuti arah turus bambu penyokongnya. Peribahasa ini diambil dari kenyataan bahwa kacang panjang tidak bisa tumbuh dan berbuah dengan baik tanpa turus tempatnya memanjat. Sebab, apabila dibiarkan saja, tumbuhnya akan merambat di tanah sehingga pembungaan dan pembuahannya kurang sempurna. 

Pepatah ini menunjukkan bahwa perilaku orang tua biasanya ditiru oleh anak-anaknya, dan karena itu haruslah orang tua berhati-hati agar selalu memberi warisan perilaku kepada anak-anak mereka yang bisa berguna bagi kehidupan masa depan mereka.

Faktor “nurun” dari orang tua ke anak ini tidak hanya dalam hal kemiripan perilaku, tetapi juga dalam segi biologis seperti sifat, kemampuan fisik dan kecerdasan, dan untuk itu seringkali orang menggunakan pepatah yang sama. Sudah barang tentu, kemiripan anak dengan orang tua itu tidak bisa 100%, karena adanya berbagai faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Serupa tapi tak sama dengan pepatah diatas, dalam ayat Roma 5:12 dikatakan bahwa semua orang sudah berdosa karena kita mewarisi dosa dari awalnya, ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Jelas bahwa seperti mereka telah berdosa, semua manusia sudah berdosa dari lahir. Seperti Adam dan Hawa, kitapun cenderung untuk melenceng dari jalan yang dikehendaki Tuhan. Kacang ora ninggal lanjaran!

Pandangan Kristen tentang hakikat manusia yang berdosa dari lahirnya ini bertentangan dengan pendapat umum dalam masyarakat bahwa bayi yang dilahirkan tidak berdosa dan bahwa dosa adalah sesuatu yang didapat dari lingkungan. Dunia sering mengajarkan bahwa lingkungan yang baik menjauhkan manusia dari dosa dan bahkan banyak guru-guru dan motivator yang mengajarkan bahwa semua manusia pada hakikatnya baik. Jika manusia memilih turus lanjaran yang baik, ia akan tumbuh baik juga. Tetapi turus apa yang bisa mengubah manusia berdosa menjadi manusia yang sempurna?

Dengan dosa turunan itu sebagai “modal”, tiap-tiap orang selalu berbuat dosa tiap hari. Sekalipun orang kelihatannya baik dan selalu berbuat baik, tidak ada seorangpun yang sempurna di hadapan Tuhan. Dosa manusia selalu bertambah banyak dengan bertambahnya waktu. Hidup yang baik bagaimanapun jika tidak untuk kemuliaan Tuhan Sang Pencipta adalah dosa. Harapan apa yang kita punya untuk bisa menghilangkan dosa-dosa itu?

Karena dosa Adam dan Hawa, semua manusia tidak dapat lahir sebagai mahluk yang benar dan tidak berdosa. Karena semua manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, kita tidak bisa dengan kekuatan sendiri menghentikan dosa dan pengaruhnya dalam hidup kita, sekalipun kita ingin untuk berubah. Turus apapun yang ada di dunia, selalu membuat si kacang tumbuh ke arah yang salah!

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.”   Roma 7: 18

Kenyataan hidup yang sedemikian memang bisa membuat manusia kecewa. Ada yang kecewa bahwa orang Kristen masih juga sering terlihat hidup dalam dosa. Dan ada orang Kristen yang hidup dalam penyesalan karena sekalipun mereka berusaha keras untuk menghindari dosa, tetap saja mereka berbuat dosa setiap hari. Memang seperti kacang panjang yang tumbuh kearah yang ditentukan oleh turus penyokongnya, kita tidak bisa beganti arah kecuali turus penyokong hidup kita diganti dengan turus yang benar, yang bukan buatan manusia. Hanya melalui iman kepada Yesus, kita bisa mendapat pengampunan atas dosa-dosa kita dan memperoleh bimbingan Roh Kudus untuk bisa berubah dari hidup lama kita. 

Dengan digantinya turus lanjaran, si kacang bisa tumbuh kuat ke arah yang benar dan berbuat banyak sekalipun ia tetap kacang yang dasarnya adalah tumbuhan yang lemah. Ini adalah karunia Tuhan semata dan bukan pilihan manusia.  Kacang sendiri tidak dapat mengganti turus lanjaran, hanya petani yang bisa. Manusia hanya dapat dibenarkan dan bisa menuju kearah keselamatan karena inisiatif Allah Bapa, melalui pengurbanan darah Kristus.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  Yohanes 14: 6

Pagi ini, jika kita menyadari betapa lemahnya hidup kita, dan bagaimana kita cenderung untuk jatuh dalam dosa, marilah kita berdoa untuk bimbingan Tuhan. Agar Dia yang menopang kita, dan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Walaupun kita lemah dan cenderung untuk tumbuh menyimpang dari arah turus penyokong kita, marilah kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan agar Ia tetap mengarahkan kita kembali untuk bertaut dengan Yesus juruselamat manusia!

Apakah Tuhan pembuat malapetaka?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.” Roma 11: 33

Suatu masalah yang sering diperbincangkan di kalangan umat Kristen adalah mengenai hal-hal yang jahat yang terjadi di muka bumi. Mengapa ada hal-hal yang buruk dan jahat? Mengapa ada penderitaan dan ketakutan? Mengapa ada malapetaka?

Memang dunia ini sudah jatuh dalam dosa dan tidaklah mengherankan bahwa ada saja kejadian-kejadian yang mengerikan di segala penjuru dunia. Tetapi, apakah Tuhan yang membuat semua itu? Jika Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak menghentikan hal-hal yang jahat dan berbagai malapetaka, bukankan Ia juga bersalah? Mengapa Tuhan membiarkan banyak anak-anakNya menderita dan bahkan mati dalam kesengsaraan di dunia ini? Jika Tuhan itu mahakasih, bukankah Ia harus melindungi anak-anakNya setiap saat dan dalam semua keadaan? 

Kita mungkin tahu bahwa Tuhan membimbing umat Israel keluar dari tanah Mesir dan selama itu umat Israel menerima berbagai hukuman Tuhan dan bangsa-bangsa lain disekitarnya juga mengalami kejadian serupa. Jika itu untuk menggenapi rencana Tuhan untuk penyelamatan, apakah Tuhan tetap melakukan hal-hal yang serupa di jaman ini?

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit dijawab dan tidak seorangpun yang tahu jawaban apa yang 100% benar. Roma 11: 33 diatas seharusnya dapat menyadarkan bahwa kita tidak mungkin bisa mengerti jalan pikiran dan rencana Tuhan sepenuhnya. Walaupun demikian, dengan mempelajari Firman, kita setidaknya akan mengerti beberapa pokok yang penting.

Memang di dunia yang penuh dosa ini, hidup manusia adalah berat dan penuh perjuangan. Alam semesta dengan semak duri dan berbagai bencana alam adalah bagian kehidupan manusia. Selain itu, karena manusia adalah mahluk yang lemah, ia juga sering membuat kesalahan dalam mengolah dan memelihara apa yang ada di bumi. Juga membuat kekeliruan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu tidak mengherankan kalau ada berbagai bencana, perang dan kecelakaan di dunia. Umat percaya boleh bersandar kepada Tuhan untuk memberi bimbingan dan perlindungan, tetapi karena hidup seluruh manusia di dunia adalah seperti lalang dan gandum yang hidup dalam satu lahan, siapapun dapat mengalami bencana yang berbagai ragam bentuknya, terutama jika pimpinan dan masyarakat membuat kekeliruan kolektip yang besar.

Secara perseorangan, mereka yang mengalami bencana belum tentu lebih besar dosanya dari yang lain. Tapi untuk anak Tuhan, adanya bencana justru membuka kemungkinan adanya keajaiban Tuhan yang terjadi dalam hidup atau nurani mereka dan juga dalam hidup orang lain, serta memberi kesempatan bagi manusia untuk  bisa saling menolong agar nama Tuhan makin dipermuliakan.

Hidup orang percaya juga selalu dalam incaran iblis, yang ingin menghancurkannya. Ayub adalah contoh yang nyata bahwa hidup orang-orang Kristen mungkin mendapat serangan iblis sedemikan rupa sehingga iman mereka benar-benar mengalami ujian berat. Tetapi  bencana yang terjadi bukanlah berasal dari Tuhan, sekalipun itu terjadi dengan seijin Tuhan. Tuhan tahu kekuatan Ayub dan Ia tidak mebiarkan Ayub dicobai lebih dari kekuatannya. Kitapun harus yakin bahwa seperti Ayub, kita harus tetap teguh dalam iman untuk memenangkan pergulatan hidup seperti itu.

Pagi ini biarlah kita bisa meyakini bahwa Tuhan kita baik. Ia tidak mendatangkan atau membuat bencana untuk umat manusia. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan anakNya untuk menebus dosa mereka yang percaya. Tuhan jugalah yang menggerakkan umatNya untuk bisa mengasihi mereka yang tertimpa bencana atau dalam kesusahan. 

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16