Siapa sih yang tidur?

“Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” Mazmur 44: 23

Tidur adalah hal yang biasa karena semua orang pernah tidur dan malah harus tidur. Seperti makan dan minum, tidur adalah suatu hal yang mulanya diciptakan oleh Tuhan dan berguna untuk kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Tidur juga dapat dipakai untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan Yesus juga tidur untuk melepaskan lelahnya.

Dengan kejatuhan dalam dosa, berbagai masalah timbul yang berhubungan dengan soal tidur. Karena hidup adalah penuh dengan pergulatan, orang harus tidur dalam kelelahannya. Orang yang kurang tidur akan tidak dapat berpikir dengan cerah dan mudah jatuh sakit. Orang yang mengalami persoalan sering sulit tidur. Dan orang yang menderita sering merasa bahwa Tuhan sedang tidur.

Untuk manusia, tidur ada berbagai ragam. Tidur bisa berarti saat istirahat baik tidur siang maupun tidur malam. Ada juga tidur-tiduran, tidur ayam dan tidur pulas. Tetapi tidur umumnya dikaitkan dengan berhentinya kegiatan dan kesadaran. Karena itu, didalam Alkitab tidur bisa juga dihubungkan dengan kemalasan dan ketidak- waspadaan (Markus 13: 35-36).

Tidur juga sering dihubungkan dengan ketidaksadaran rohani. Tidur bisa menjadi lambang keadaan hati yang berada dalam kesunyian seperti yang dialami Daud:

“Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.” Mazmur 13: 3

Karena tidur adalah bagian kehidupan manusia, kita sering membayangkan bahwa Tuhan juga seperti itu. Mazmur 44: 23 adalah jeritan Daud yang seolah mencoba membangunkan Tuhan yang tertidur karena ia merasa Tuhan sudah mengabaikannya terlalu lama. 

Memang dalam beberapa agama lain, tuhan mereka digambarkan seperti manusia yang membutuhkan tidur atau senang tidur; jadi perlu ada ritual untuk membangunkan tuhan-tuhan mereka. Tetapi itu berbeda dengan Tuhan kita; Ia tidak pernah tidur, dan Ia malahan menjaga kita di setiap waktu, juga sewaktu kita dalam keadaan lelah dan lemah.

Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. Amsal 3: 24

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa bahwa tubuh kita masih lemah dan mata masih pula sangat mengantuk, mungkin kita ingin melanjutkan tidur kita. Mungkin saat ini kita rasakan Tuhan itu sangat jauh disana, dan Ia sedang tidur pulas. Karena itu, mungkin kita ingin tidur lama sekali, apalagi jika hidup ini terasa berat sekali. Tetapi kita harus sadar bahwa tidur hanyalah untuk manusia dan bukan Tuhan kita. Tuhan kita menjaga kita setiap saat, baik kita terjaga atau tidur. Kita hanya merasa Tuhan tidur ketika iman kita tertidur. Tetapi jika iman kita tidak tidur, kita akan dapat melihat bahwa Ia selalu menyertai kita.

“Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!” Mazmur 3: 5

Apa yang harus kulakukan untuk bisa diselamatkan?

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Markus 10: 17


Pertanyaan diatas sering diajukan manusia dari segala bangsa dan jaman. Berbagai agama telah memberikan jawaban yang berbagai ragam. Ada yang mengajarkan agar manusia berbuat baik kepada sesama, ada juga yang menyuruh pengikutnya agar rajin melakukan ritual tertentu, menyiksa diri, bertapa, mempersembahkan sesuatu kepada tuhan mereka dll.

Jika dibandingkan dengan ajaran agama lain, ajaran Kristen sangat berbeda karena umat Kristen tidak perlu berbuat apa-apa untuk menerima keselamatan. Seringkali, keselamatan secara cuma-cuma ini menjadi bahan cemooh orang lain karena kelihatannya sangat mudah untuk mencapai surga. Sekalipun manusia hidup dalam dosa, seolah mudah sekali untuk mereka menjawab panggilan keselamatan Tuhan dengan sebuah kata “ya”. Tuhan orang Kristen seakan mudah mempercayai jawaban manusia.

Memang adalah kenyataan  bahwa orang agaknya gampang untuk menyebut dirinya Kristen karena kelihatannya tidak ada tuntutan untuk melakukan hal-hal khusus. Bukankah Yesus sudah berkata bahwa kita tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat? Kita manusia merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka! Tetapi betulkah itu? Betulkah bahwa keselamatan untuk orang Kristen itu diperoleh dengan harga murah?

Keselamatan buat umat Kristen memang tidak perlu dibayar dengan pengurbanan manusia. Tidak perlu bayar, tidak perlu bekerja untuk itu. Sekalipun kita miskin, sakit berat atau hampir mati, keselamatan masih bisa diperoleh; dimana saja, kapan saja. Tetapi itu dapat diperoleh karena harganya sudah dilunasi lewat pengurbanan Yesus di kayu salib. Karena keselamatan tidak terjangkau oleh manusia, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia adalah uluran tangan Tuhan sendiri yang memberikan karunia untuk semua manusia yang mau menerimanya.

Dalam ayat diatas, ada seorang kaya yang ingin mendapatkan keselamatan. Ia bertemu dengan Yesus dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Pria kaya itu  sudah menjalankan hukum Taurat tetapi ia tidak yakin bahwa ia sudah diselamatkan. Apa lagi yang harus dilakukannya? Yesus menjawab bahwa ada satu hal lagi yang harus dilakukannya: menjual seluruh hartanya.

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Markus 10: 21

Pria itu ternyata tidak sanggup untuk melakukannya karena hidupnya memang untuk hartanya. Seperti pria kaya ini, kitapun bisa saja membaktikan hidup kita untuk uang, orang lain, keluarga, hobby, makanan, pekerjaan, aktivitas sosial, kenikmatan badani, kegiatan gereja dll. Sebagian dari hal-hal ini nampaknya baik, tetapi jika bukan Tuhan yang dipermuliakan, semuanya akan menjauhkan diri kita dari Tuhan. Kegagalan pria kaya itu memang bukannya dalam hal menjual harta, tetapi dalam hal penyerahan hidup yang sepenuhnya kepada Yesus.

Apa yang tertulis dalam Markus 10: 17-27 mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus yang sejati tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidaklah semudah menjawab “ya” atas panggilan Tuhan. Jawaban semacam itu yang tidak pernah disertai dengan keluarnya buah-buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) hanyalah membawa harapan kosong. Tanda-tanda pengikut Yesus yang benar selalu nampak dalam hal meninggalkan hidup lama dan munculnya hidup baru yang makin lama makin berbuah lebat.

Seperti pria kaya itu, kitapun mungkin sudah berusaha untuk hidup baik. Tetapi hidup baik tanpa penyerahan kepada Yesus bukanlah bukti keselamatan! Perbuatan baik yang kita lakukan seharusnya bermula dengan pengakuan kita akan kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Itu tidak mudah. Penyerahan total kepada Tuhan itu tidak mungkin terjadi jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam diri kita. Tanpa uluran tangan Tuhan, lebih mudah untuk seekor unta untuk masuk dalam lubang jarum daripada untuk kita masuk ke surga.

Jadi, kalau keselamatan itu ternyata bukan melalui perbuatan baik dan perbuatan baik itu belum tentu merupakan tanda orang yang sudah diselamatkan, keselamatan untuk manusia ternyata tidak mudah didapat! Kalau begitu, apakah ada orang yang bisa selamat? Tidak ada, jika tanpa bimbingan Tuhan. Manusia tidak mungkin menemukan Tuhan dengan usaha sendiri , tetapi dalam Tuhan semua itu mungkin. Yesus berkata:

“Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 20: 27

Pagi ini, jika ada diantara kita yang masih ragu-ragu akan keselamatan kita, biarlah kita berdoa memohon bimbingan Tuhan agar RohNya bekerja dalam hidup kita. Supaya setelah mengakui dosa-dosa kita, kita diberi kemampuan untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang sudah membayar penebusan kita dengan harga tertinggi, Yesus Kristus. Dengan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, pastilah hidup kita akan berubah dan membuahkan berbagai hal yang baik. Lebih dari itu, orang lain yang melihat perubahan hidup kita pastilah akan ikut memuliakan nama Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Apakah Tuhan itu adil?

“Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”  Imamat 32: 3-4

Pertanyaan apakah Tuhan itu adil memang sering muncul dalam pikiran manusia karena adanya ketidak-adilan dan penderitaan dalam dunia ini. Untuk sebagian manusia, Tuhan itu, jika memang ada, adalah Tuhan yang tidak berkuasa, tidak peduli atau jahat. Mengapa begitu? 


Beberapa tahun yang silam, sebuah sekolah mengadakan reuni akbar. Yang diundang adalah para lulusan dari segala penjuru negara. Pesta reuni berjalan lancar dan semua undangan nampak gembira. Namun terlihat juga adanya perbedaan diantara hadirin. Semua dulunya adalah murid-murid yang lulus dengan ijazah yang serupa, namun setelah selang waktu puluhan tahun ternyata tiap orang mencapai tingkat kepuasan hidup yang berbeda-beda. Apakah Tuhan memberi berkatNya dengan “pilih kasih”? 

Dalam kisah jatuhnya manusia di taman Firdaus, Tuhan mengutuki tanah sehingga dengan bersusah payah manusia akan mencari rezeki dari tanah untuk seumur hidup (Kejadian 3: 17-19). Kenyataannya, penderitaan manusia di dunia tidaklah sama. Negara-negara tertentu rakyatnya hidup menderita bertahun-tahun karena peperangan, musim kemarau yang berkepanjangan, kegagalan ekonomi dsb. Di berbagai tempat anak-anak yang tidak bersalah mengalami sakit dan bahkan mati karena malnutrisi dan hal-hal jahat. Mungkin Tuhan itu tidak adil? Atau tidak peduli? Atau memang Ia Tuhan yang jahat, yang senang menyiksa manusia?

Untuk mereka yang percaya adanya Tuhan, hukuman dari Tuhan karena manusia jatuh dalam dosa sebenarnya menunjukkan bahwa Ia yang mahasuci itu “fair”; ada hukum, ada sanksinya.  Tetapi keadilan Tuhan dalam hal ini juga tidak mudah dimengerti manusia. Mengapa Tuhan tidak membiarkan manusia mati karena dosa mereka? Padahal itu adalah hukuman yang sudah ditentukan Tuhan sebelumnya (Kejadian 3: 3).  Tuhan justru mengirimkan tebusan termahal, yaitu Yesus Kristus – supaya siapa yang percaya tidak binasa. Kalau begitu, apakah Tuhan tidak benar-benar adil? Mungkinkah Ia bersifat temperamental? Seenaknya sendiri?

Ada orang yang mungkin berpendapat bahwa ketidak adilan Tuhan itu sudah jelas nampak ketika Ia memilih bangsa Israel sebagai bangsa pilihanNya. Tetapi, sebagai bangsa pilihan ternyata bangsa Israel tidak saja harus mengalami berbagai ujian dan kesukaran. Bangsa yang keras kepala itu jugalah yang akhirnya menjadi yang terbelakang dalam hal menerima keselamatan melalui  penebusan darah Kristus. Tuhan ternyata mempunyai rencana-rencana besar yang melibatkan respons manusia! Tuhan memang menjalankan rencanaNya diantara keadaan dunia dan kehidupan manusia. Ia yang mahakuasa tidak dapat dibatasi oleh manusia yang kecil.

Tuhan itu memang adil, tetapi itu sering tidak kita disadari karena kita tidak mengerti jalan pikiran dan rencanaNya. Kita sebagai manusia yang hidup dalam dunia yang penuh dosa ini, mungkin juga tidak dapat mengerti  bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia bebas memilih tindakan apa saja, tetapi sebagai Tuhan yang mahakasih Ia tetap mengasihi manusia.

Seperti tingginya langit dari bumi,  tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 9

Dunia ini kacau karena dosa dan manusia menderita karena segala sesuatu menjadi seperti tanah yang tandus sehingga hanya dengan bersusah payah kita akan mencari rezeki sampai akhir hayat. Dunia ini tidak adil tetapi Tuhan mempunyai rancangan untuk menggunakannya dengan memberi kesempatan bagi manusia untuk bekerja-sama dan menolong mereka yang menderita.

Keadilan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari rencanaNya. Dengan adanya ketidak adilan di dunia, kasih Tuhan dapat dipancarkan melalui umatNya. Tuhan tidak membuat semua manusia mengalami penderitaan dan kebahagiaan yang sama, tetapi Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh umat manusia untuk memilih jalan yang benar, mendengar suaraNya dan hidup menurut perintahNya dalam semua keadaan.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Matius 22: 37-39

Ingin seperti nabi?

Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN”. Yeremia 23: 16

Menurut definisi umum, nabi adalah seorang manusia yang menerima wahyu Tuhan, dan wahyu yang dimaksud bisa berupa penglihatan maupun suara yang memang berasal dari Tuhan. Jabatan nabi ada dalam Alkitab perjanjian lama karena waktu itu umat Israel tidak dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Orang sering tertarik untuk mendengar apa yang diwahyukan kepada nabi karena itu datang melalui suatu proses yang kelihatannya “supranatural” yakni fenomena spiritual tertentu. Dengan wahyu itu,  nabi-nabi bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan bernubuat inilah yang membuat manusia hingga sekarang memandang nabi sebagai orang yang istimewa, yang tinggi derajat rohaninya dalam berbagai agama. Karena itu bisa dimengerti kalau diantara umat Kristenpun ada orang yang ingin menjadi nabi dan ingin dipandang sebagai nabi.

Manusia memang dari dulu selalu ingin tahu akan segala sesuatu, ingin seperti Allah – dan itulah yang menyebabkan kejatuhan mereka. Dalam kitab Kejadian kita baca bahwa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena mereka mau mendengar bujukan iblis yang meyakinkan mereka bahwa dengan memakan buah terlarang, mereka akan menjadi seperti Allah, yang mahatahu (Kejadian 3: 4-5). 

Bagi sebagian umat Kristen, kecenderungan mau tahu tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang selalu mendorong mereka untuk memohon wahyu dari Tuhan. Memang Tuhan tetap mau membimbing anak-anakNya dan Ia bisa memberi petunjuk melalui berbagai cara. Walaupun demikian, banyak manusia yang akhirnya jatuh ke dalam dosa yang sama seperti yang dialami Adam dan Hawa. 

Mereka yang merasa bisa mendapat petunjuk langsung dari Tuhan sering merasa bahwa Tuhan sudah memberikan kemampuan seperti nabi. Mereka merasa tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan karena mereka adalah anak-anak Tuhan yang dikaruniai karunia istimewa. Mereka adalah orang-orang yang istimewa dan karena itu ada banyak orang yang takjub dan kemudian mengikut ajaran-ajaran mereka.

Mereka yang dianggap “nabi-nabi modern” ini yakin tahu apa yang menjadi rahasia Tuhan dan mengajarkan hal-hal itu kepada orang lain, seringkali berdasarkan pengalaman pribadi yang unik yang tidak Alkitabiah. Mereka sering juga mengajarkan bahwa pengalaman mereka adalah setara dengan firman Tuhan dalam Alkitab.

Sangat menarik bahwa iblis malahan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena hanya Tuhan kitalah yang mahatahu. Iblis juga tidak tahu apa yang ada dalam hati  anak-anak Tuhan. Tuhan saja yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati Ayub (Ayub 1: 11).  Iblis tidak tahu kapan dunia akan berakhir tapi dia akan mencoba menerka dan sebisa-bisanya akan membuat kekacauan. Jika sekiranya iblis percaya atas apa yang diberitakan nabi-nabi modern ini, pastilah iblis akan juga tahu banyak rahasia Allah.

Nabi-nabi palsu ternyata bukan ada di jaman sekarang saja. Yeremia 23: 16 diatas mengatakan bahwa dari dulu sudah ada orang-orang yang hanya memberi harapan yang sia-sia, yang hanya mengungkapkan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut Tuhan. Mereka ini mengambil keuntungan karena adanya kelemahan manusia yang hakiki yaitu adanya keinginan untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan agar dapat menentukan nasibnya sendiri. Karena itulah banyaklah orang yang memuja nabi-nabi palsu ini. Banyak diantara mereka menjadi “superstar” yang tidak hanya  masjhur, tetapi juga kaya-raya!

Mungkin kita tidak pernah menjadi pengikut “nabi-nabi besar” dari jaman ini. Tetapi ada banyak orang Kristen yang terperangkap dalam ajaran orang lain yang menyebarkan pengalaman pribadi yang istimewa. Dalam hal ini, mungkin juga kita ikut menyebarkan berita-berita dan nasihat-nasihat yang tidak berdasarkan Alkitab itu dan dengan demikian sudah menjadi seperti nabi juga!

Hari ini, firman Tuhan datang sebagai peringatan yang tajam kepada semua umatnya. Yesus pernah mengingatkan bahwa kita harus berwaspada terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada kita dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas (Matius 7: 15). Mungkin sebagian diantara kita tidak mudah percaya hal itu, tetapi Paulus mengatakan bahwa bukanlah suatu hal yang ganjil jika pelayan-pelayan iblis menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran (2 Korintus 11: 15). Untuk kita sendiri, memang mudah untuk menjadi seperti nabi, tetapu resikonya jelas terlalu besar!

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Buat apa sih?

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 27

Buat apa sih? Pertanyaan ini sering keluar dari mulut atau pikiran kita jika kita diminta atau diajak untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin kurang menarik untuk selera kita. Terkadang pertanyaan ini keluar karena kita melihat orang lain yang mengerjakan sesuatu yang nampaknya tidak ada gunanya. Sering juga percekcokan terjadi karena hal ini, antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, dan juga antar teman atau kerabat. Karena perbedaan selera dan persepsi.


Dalam bidang olahraga, pertikaian antara atlit dan pelatih dan juga antar atlit sering terjadi karena ketidak-sesuaian pendapat mengenai teknik latihan, persiapan dan pertandingan yang akan diterapkan. Soal “buat apa” juga bertalian dengan disiplin dan kebutuhan. Mereka yang ragu untuk berbuat sesuatu bisa jadi disebabkan karena keengganan/ kemalasan atau kurangnya rasa penting.

Bagi seorang atlit, berlatih untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi adalah perlu. Setiap hari, berbagai bentuk latihan dijalankan sesuai dengan petunjuk pelatihnya. Sekalipun jadwal pertandingan belum pasti seorang atlit yang baik selalu berlatih dan mempersiapkan diri untuk menghadapi lawan yang manapun. Seringkali mereka membayangkan teknik apa yang harus mereka pakai jika mereka menghadapi lawan-lawan tertentu. Seorang atlit juga harus berdisplin dalam hidup terutama dalam hal makan dan istirahat.

Hidup kita sebagai umat percaya dapat disetarakan dengan hidup seorang atlit. Setelah kita menerima Yesus sebagai juruselamat kita, kita sudah masuk dalam tim Yesus. Kita tahu bahwa ada tim lain yang sangat kuat yaitu tim iblis yang terus berusaha mengalahkan tim kita. Tim iblis selalu memakai berbagai cara baik langsung maupun tidak langsung untuk membuat anggota tim Yesus untuk tidak siap dalam menghadapi pertandingan yang akan datang.

Cara pertama iblis untuk mengacaukan hidup orang Kristen adalah membiarkan mereka menikmati hidup mereka. Anggota tim Yesus yang diberkati dengan kekayaan, kesuksesan, kepercayaan pada diri sendiri dan kenyamanan hidup lainnya akan dibuai dengan bisikan yang membuat mereka tidak lagi mau  berlatih untuk memperkuat iman. Mereka yang terbuai akan lupa bahwa dalam hidup ini ada banyak pencobaan dan marabahaya. Biasanya, jika mereka diingatkan untuk berlatih dalam mempelajari Firman, mereka akan menjawab dengan kata “buat apa sih?”.

Cara lain untuk mengalahkan tim orang percaya adalah membuat mereka tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh pelatih kita, Roh Kudus. Komunikasi kita dengan Tuhan seringkali menjadi sangat jarang, mungkin karena kita sibuk dengan hal-hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertandingan kita yang mendatangi. Mungkin hal-hal lain itu kelihatannya baik dan penting, seperti acara kumpul-kumpul dan makan-makan dengan teman dan kerabat, acara kantor dan bahkan acara gereja. Tetapi kalau itu bukan latihan untuk menghadapi pertandingan, tubuh rohani kita tidak akan dikuatkan. Bahkan, tubuh jasmanipun bisa kurang terpelihara. Biasanya,  orang yang sibuk hidupnya seperti itu selalu punya alasan untuk menghindari keintiman dengan Tuhan dengan kata “buat apa bikin repot”.

Tim iblis juga pandai memainkan jadwal pertandingan. Iblis selalu mencari kesempatan dimana kita lengah untuk menyerang. Seringkali orang Kristen terbuai dengan kepercayaan diri yang besar, bahwa mereka adalah atlit terpilih yang sudah pasti selalu menang. Atlit yang lengah akan tidak siap jika tiba-tiba ada pertandingan. Pertandingan hidup sebenarnya bisa muncul sewaktu-waktu, tetapi orang Kristen yang “asal percaya” bukanlah atlit yang baik, yang bisa diharapkan menang dalam pergumulan hidup di dunia. Mereka itu sering menjawab panggilan untuk memperkuat iman dengan jawaban “buat apa sekarang”?

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai anak Tuhan, kita harus selalu siap untuk menghadapi semua tantangan hidup baik jasmani maupun rohani. Mungkin itu belum terlalu terasa saat ini, tetapi kita harus tetap mau berlatih dalam mempelajari Firman dan memperkuat iman kita setiap hari. Sebagai atlit yang baik kita harus bisa mengantisipasi pertandingan besar apapun yang akan terjadi di masa depan!

 “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24: 13

Reuni yukk….

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Wahyu 7: 9


Dimana-mana ada reuni. Disini reuni, disana reuni. Kemarin reuni, besok reuni. Memang sekarang ini lagi demam reuni di Indonesia. Dengan majunya berbagai aplikasi internet, orang makin bisa menemukan teman-teman lama yang sudah lama tidak dijumpai. Pertemuan lewat internet kemudian bisa berlanjut dengan kopdar, pertemuan di darat, mulai dengan reuni kecil, reuni besar, dan kemudian reuni akbar.

Reuni adalah kesempatan untuk bertemu, makan-makan, bertukar cerita, bernostalgia dan malah  juga untuk berbagi gosip. Bagi sebagian orang, reuni sangat menyenangkan karena adanya kesempatan untuk “show-off” atau pamer untuk pakaian, status dan bahasa; tetapi bagi yang lain, adanya reuni itu bisa merepotkan dan kurang menyenangkan. Memang pertemuan dengan orang yang disenangi, orang yang cocok dengan kita, adalah menyenangkan. Tetapi pertemuan dengan orang yang dulu kurang kita senangi, apalagi yang dulu kita benci, bisa merusak suasana sekalipun sudah lama tidak bertemu. Belum lagi kenangan pahit masa lalu, sewaktu kita berbuat hal-hal yang konyol, mungkin juga dijadikan bahan pembicaraan pada saat reuni. Karena hal-hal ini, sebagian orang mungkin menghindari acara reuni.

Ingatan akan masa lalu, terutama hal-hal yang kurang baik memang seringkali menghantui manusia. Manusia sering mengalami penderitaan dan bahkan depresi karena munculnya perasaan bersalah, rasa sedih atau perasaan kurang enak mengenai hal-hal yang terjadi pada masa yang silam. Buat orang beriman, satu-satunya hal yang bisa membesarkan hati kita ialah kenyataan bahwa Tuhan yang mahakuasa dan yang tidak bisa lupa, ternyata memilih untuk melupakan kelemahan kita:

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Jaminan bahwa Tuhan akan melupakan dosa dan kelemahan kita adalah suatu yang membuat orang Kristen tabah dan kuat dalam menghadapi masa depan. Jaminan ini tidak boleh dilupakan dan bahkan harus diingat-ingat untuk kita bisa memasuki masa depan dengan segala tantangan yang ada. Jika iblis mengingatkan kita akan masa lalu kita agar hidup kita di masa depan bisa diisi dengan kemurungan dan kesengsaraan, jaminan Tuhan inilah yang akan bisa menepis tuduhan-tuduhan iblis itu. Jika pikiran kita mudah melupakan berkat Tuhan hari ini, kita harus tetap ingat bahwa Tuhan dulu sudah memilih kita apa adanya untuk bisa bereuni bersama saudara-saudara seiman di surga dimasa depan.

Reuni di surga akan lain dengan reuni didunia. Kitab Wahyu diatas menjelaskan bahwa ini adalah reuni super akbar yang dihadiri oleh orang percaya yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Mereka yang diundang ke reuni ini akan berdiri di hadapan takhta Allah Bapa dan Yesus, semuanya memakai pakaian yang sama yaitu jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Mereka terlihat suci dan bahagia, memuliakan dan memuji kemuliaan Tuhan. Sekalipun mereka terdiri dari berbagai suku dan bangsa, mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Sekalipun mereka dulunya tidak saling mengenal, mereka bisa bersatu dalam kasih karunia Tuhan.

Reuni yang kita alami di dunia ini, seharusnya mengingatkan bahwa pada saatnya kita akan menghadiri reuni di surga. Selagi kita masih bisa bereuni di dunia, kesempatan masih ada untuk kita mempersiapkan diri guna bereuni di rumah Bapa. Kesempatan masih ada juga untuk mengundang teman-teman yang belum sadar bahwa pada suatu saat kita semua akan bertemu dengan Sang Pencipta melalui penebusan darah Kristus.

Reuni dengan teman sekolah mungkin sangat menarik, tetapi reuni dengan teman seiman seharusnya jauh lebih menarik, sesuatu yang dirindukan setiap orang percaya. Dalam reuni dunia, pelan-pelan kita akan menyadari bahwa kemampuan manusia ada batasnya; ingatan mungkin berkurang, kesehatan mungkin menurun. Tetapi kesadaran tentang bakal adanya reuni di surga seharusnya makin membuat kita makin ingat akan kasih Tuhan dan makin dikuatkan dalam menghadapi apa yang masih harus kita perjuangkan dalam hidup ini. Kesadaran ini jugalah yang seharusnya mengubah hidup kita selama ada di dunia karena hidup kita bukannya milik kita, tetapi Kristus yang hidup didalamnya (Galatia 2: 20). Apapun yang pernah kita alami di dunia tidaklah menentukan apa yang akan kita alami setelah itu; hanya iman kepada Kristus yang memungkinkan kita untuk bereuni didepan Tuhan!

 

 

Adakah orang yang anda kagumi?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”  Roma 3: 23-24

Jika anda ditanya, siapakah tokoh dunia yang anda kagumi, apakah jawab anda? Mungkin ada yang menjawab Mother Theresa, Bung Karno, Mahatma Gandhi atau pemimpin besar lainnya. Mungkin juga pilihan anda adalah bintang film yang cantik atau tampan, atau businessman yang sukses dan kaya. 

Saya sendiri adalah pengagum John Fitzgerald Kennedy yang pernah menjadi presiden Amerika Serikat mulai tahun 1961 sampai saat dimana dia ditembak hingga tewas pada bulan November 1963. Entah kenapa saya kagum kepada dia, mungkin karena pidatonya yang sering dibumbui slogan-slogan bermutu. Dua kali saya mengunjungi taman pahlawan Arlington di Amerika dimana makamnya berada, dua kali juga saya melihat bahwa orang yang saya kagumi tidak berbeda dengan orang lain.

Hal orang yang dikagumi, pilihan kita pasti didasarkan satu atau beberapa hal yang merupakan keunggulan orang yang kita pilih. Dengan adanya hal yang istimewa itu, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang baik yang mungkin ada dalam orang pilihan kita.

Dalam hidup kekristenan, mungkin saja kita kagum kepada tokoh-tokoh perjanjian lama seperti Abraham, Musa, Daud dll., atau tokoh-tokoh perjanjian baru seperti Maria, Petrus, Paulus dsb. Karena itu banyak orang yang memakai nama yang sama dengan nama orang yang dikaguminya.

Walaupun orang-orang diatas mempunyai hal-hal yang baik dan patut dikagumi atau ditiru, ayat Roma 3: 23-24 diatas jelas menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang cukup baik dihadapan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengagumi seseorang, tetapi kekaguman kita itu tidak boleh membuat kita berpikir bahwa orang itu memenuhi standar kebaikan dan kesucian Tuhan. Kita tidak boleh mendewakan apapun dan siapapun sekalipun mereka dipanggil raja, nabi, rasul ataupun presiden.

Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak ada siapapun yang bisa mencapai tingkat kebaikan yang diminta oleh Tuhan. Manusia sesudah kejatuhan pada hakekatnya adalah mahluk yang jahat, termasuk semua tokoh-tokoh di dunia yang dikagumi banyak orang. 

Bahwa manusia karena dosanya tidak dapat lagi mendekati Tuhan yang mahasuci, merupakan inti pengajaran Kristen yang sangat berbeda dengan agama-agama lain. Diluar agama Kristen, manusia berusaha untuk berbuat baik dengan berbagai cara untuk bisa mendapat keselamatan. Tetapi ini merupakan hal yang sia-sia menurut iman Kristen.

Di hari minggu ini kita diingatkan lagi untuk kesekian kalinya bahwa satu-satunya jalan bagi manusia untuk memenuhi standar Tuhan yang maha tinggi ialah melalui inisiatip Tuhan sendiri yang mau merendahkan diriNya dan menebus dosa manusia melalui darah anakNya, Yesus Kristus. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah 4: 12).


Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2: 9-11). Mereka yang berusaha memperoleh keselamatan melalui ritual-ritual agama yang dipandang istimewa atau melalui perantaraan orang-orang “suci” yang dikagumi akan dikecewakan!

 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  Yohanes 14: 6

Mengerti untuk mendengar, mendengar untuk mengerti

Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3: 10

Pada waktu Samuel disapa Tuhan, ia tidak mengerti bahwa itu adalah suara Tuhan. Tetapi saat itu Samuel belum mengenal Tuhan secara pribadi. Bagi Samuel, ia mulanya mendengar suara tapi belum mengerti kalau itu suara Tuhan. Untunglah imam Eli menyadarkan Samuel bahwa Tuhanlah yang memanggilnya. Samuel kemudian mengerti bahwa ia harus menyambut sapaan Tuhan itu dengan kesediaan untuk mendengar. Dan setelah Samuel bisa mendengar suara Tuhan, ia bisa mengerti maksud Tuhan. Mengerti untuk mendengar adalah perlu agar setelah mendengar kita bisa mengerti.

Tidak seorangpun yang dapat menyangkal pentingnya pendengaran. Kemampuan mendengar mungkin umumnya tidak terlalu dipikirkan, sampai saat dimana orang lain mulai mengomel ketika kita tidak mendengar apa yang mereka katakan. Juga, ketika orang lain harus mengulangi apa yang dikatakan beberapa kali, barulah kita sadar bahwa ada sesuatu yang mengganggu pendengaran kita.

Buat semua orang, berkurangnya pendengaran memang sering dijumpai. Terutama mereka yang sewaktu muda kurang memperhatikan bahaya bunyi peralatan berisik.  Ketulian dikalangan anak muda pada jaman ini juga cenderung meningkat karena kebiasaan mendengarkan musik yang bervolume tinggi. Memang buat mereka, musik yang hingar bingar seringkali merupakan sesuatu hiburan yang digemari. Dengan mendengarkan musik keras semacam itu mungkin mereka bisa melupakan kesedihan hati.

Ketulian mungkin juga diakibatkan kebiasaan “menulikan diri”. Seringkali, karena merasa terganggu, seseorang mungkin mengabaikan apa yang diucapkan orang lain: masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Malah sekarang ini ada banyak alat-alat yang bisa dipakai agar orang tidak mendengar kebisingan atau suara disekelilingnya. Orang juga bisa seakan tuli karena tidak memberikan waktu atau perhatian untuk mendengar. Mungkin mereka tidak mengerti perlunya untuk mendengar. 

Jika telinga kita adalah alat pendengaran jasmani, bagaimana pula dengan pendengaran rohani kita? Dalam hidup ini, suara Tuhan seharusnya dikenal dan bisa didengar oleh semua umatNya  – seperti apa yang terjadi pada Samuel. Yesus berkata bahwa domba-dombaNya mengenal suaraNya (Yohanes 10: 16). Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua orang mengerti pentingnya untuk mendengar suara Tuhan tiap hari. Tidak semua orang mau atau bisa mendengar.

Memang, seperti telinga kita, kemampuan kita untuk mendengar suara Tuhan sering tidak bekerja dengan baik. Mungkin karena kita belum benar-benar mengenal Tuhan. Mungkin juga, kenyamanan hidup dan ketidak-pedulian membuat  kita kurang bisa mengenal suara Tuhan. Juga, karena kita sudah berhasil mengatasi tantangan hidup dan merasa sudah beriman, ketulian rohani bisa merupakan manifestasi kepercayaan pada diri sendiri yang terlalu besar.

Kerusakan pendengaran rohani bisa terjadi karena adanya kebiasaan hidup di masa lalu. Kebiasaan mendengarkan suara-suara lantang yang manis menggoda dan menyesatkan  di masa lalu, membuat kita tidak peka atas bisikan Roh Kudus. Terlebih lagi, ada saja hal-hal yang bisa kita pakai untuk membungkam suara Tuhan, seperti pengalaman pribadi dan pikiran duniawi kita. Selain itu, kemalasan dan kesibukan diri sendiri membuat tidak ada waktu untuk memikirkan perlunya untuk mendengar dan mengerti firman Tuhan. 

Pagi ini kita diingatkan untuk memikirkan perlunya mengenali suara Tuhan. Kita harus tahu bahwa ada bunyi-bunyian lain dalam hidup yang bisa mengacaukan suara Tuhan. Jika kita tidak dapat menangkap apa yang difirmankanNya, bagaimana pula kita bisa mengerti bagaimana kita harus hidup sesuai dengan perintahNya? Untuk mau mendengar kita harus mengerti pentingnya untuk mendengar dengan baik; dan untuk bisa mengerti apa yang penting dalam hidup ini, kita harus mau mendengar!

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. “Matius 11: 15

Mungkinkah Tuhan gaptek?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8

Gaptek itu apa artinya sih? Begitu pertanyaan yang pernah muncul dalam benak saya beberapa tahun yang lalu. Sesudah tahu artinya, yaitu Gagap Teknologi, saya masih juga dihujani beberapa istilah baru yang berkaitan dengan Gaptek, misalya Butek (Buta Teknologi), Meletek (Melek Teknologi) dan Cantik (Canggih Teknologi Informasi Komputer). Aduh….memang luar biasa bahasa gaul Indonesia ini. Tidak hanya teknologi yang berkembang di Indonesia, tetapi masyarakat bisa mengantisipasi kemajuan teknologi dengan membedakan kemampuan mereka dalam pemakaiannya.

Kemajuan teknologi di dunia ini memang sangat pesat dan jika kita pikirkan dalam-dalam, nampaknya sangat menakutkan. Orang bilang bahwa sekarang ini kita hidup di era Revolusi Industri keempat. Diluar kemajuan yang membawa peningkatan kenikmatan hidup manusia, ada bayang-bayang gelap yang seakan membawa kemungkinan terjadinya malapetaka. Kelihatannya, manusia sudah hampir menyerupai tuhan-tuhan kecil yang bisa menciptakan kehidupan dalam laboratorium, menambah usia manusia menurut pesanan ataupun memusnahkan seisi bumi dengan menekan tombol sebesar kancing. Juga manusia bisa belajar dari komputer untuk mengerjakan apapun, tanpa bimbingan guru atau orang-tua. Kemajuan teknologi juga diiringi dengan perkembangan teologi Kristen yang sekarang muncul dalam bentuk berbagai teologi progresip yang menerima adanya berbagai jalan keselamatan dan mendukung perkawinan sejenis.

Dengan kemajuan teknologi dan perubahan suasana sosial dan teologi, mau tidak mau kita akan berpikir bagaimana dunia ini akan berubah pada tahun-tahun mendatang. Dampak negatip sudah terjadi di negara-negara maju, yang dulunya negara Kristen tetapi sekarang sudah berubah menjadi negara bebas agama. Dengan perubahan sosial dan hukum, setiap orang bebas melakukan apa saja asal tidak merugikan orang lain. Bahkan dengan kebebasan itu, nama Tuhan dan Yesus bisa dijadikan bahan lelucon sekalipun kebebasan serupa tidak berlaku untuk agama-agama lain.

Kemajuan manusia jaman ini sangat mirip dengan apa yang terjadi dengan pembangunan menara Babel. Dalam Kejadian 11 tercatat bagaimana manusia berkata satu dengan yang lain: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” 

Kita hidup pada jaman dimana umat manusia “disatukan” dalam bahasa teknologi dan keinginan untuk hidup menurut selera pilihan manusia saja. Manusia berlomba untuk menggunakan teknologi yang serupa untuk membuat mereka merasa lebih yakin dan bangga akan kemampuan mereka. Manusia mulai mendewakan teknologi dalam segala segi kehidupan. Manusia tidak lagi bergantung kepada Tuhan seperti dulu karena mereka yakin dapat memilih cara hidup yang disukai. Manusia dengan teknologi, merasa yakin dapat mencapai langit.

Kehidupan keluargapun terpengaruh oleh kemajuan teknologi. Komunikasi langsung antara anggota keluarga, diganti komunikasi melalui komputer dan HP. Fungsi orang tua dan guru menurun karena internet dan berbagai program komputer bisa mengajarkan apapun yang ingin diketahui anak-anak.  Rasa hormat kepada orang tua menjadi berkurang karena anak-anak memandang mereka ketinggalan jaman dan gaptek. Tuhan yang dikenal oleh orang tua mereka sekarang cenderung menjadi tokoh dongeng anak-anak. Kepercayaan kepada Tuhan pelan-pelan menghilang…..karena agaknya Tuhan tidak dapat mengikuti kemajuan teknologi dan sosial di dunia …alias gaptek.

Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, keluarga adalah tempat pertahanan terakhir umat Kristen. Diluar keluarga, kehidupan masyarakat diatur oleh teknologi dan hukum manusia. Jika keluarga kita tidak lagi dapat mempertahankan iman dan nilai-nilai Kristen, Tuhan akan diganti dengan kepercayaan kepada manusia dan teknologi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Kisah 16: 31

Pagi ini, jika anda merenungkan kemana dunia ini akan membawa kita dan anak cucu kita, mungkin anda menjadi masygul. Mungkin juga timbul rasa takut akan apa yang akan terjadi dengan anak-cucu kita di masa depan. Tetapi ayat-ayat bacaan kita diatas jelas menyatakan bahwa Tuhan yang mahabesar mempunyai rencana-rencana yang tidak bisa dimengerti manusia. Manusia dengan segala kepandaian dan rencananya tidak mungkin mengalahkan Tuhan kita. Apa yang perlu kita teruskan hanyalah tetap percaya kepadaNya dan bersama seluruh anggota keluarga kita menghadapi masa depan dengan iman yang teguh.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  1 Petrus 5: 7

Tuhan sumber berkat

 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”  Matius 7: 7

Puluhan tahun yang silam, saya menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang dipimpin oleh seorang evangelis ternama dari luar negeri. Ketika itu ribuan orang datang ke lapangan sepakbola Persebaya di sebelah Taman Hiburan Rakyat (THR) di Surabaya. Dalam kebaktian itu ada juga acara doa untuk kesembuhan penyakit, dan banyak orang yang maju kedepan untuk mendapat kesembuhan Ilahi.

Waktu itu saya tidak sakit apapun, kecuali kedua mata saya yang rabun jauh. Kekurangan dalam soal pengelihatan ini saya terima sebagai kenyataan hidup dan masyarakat di sekeliling saya juga menganggapnya jamak. Malahan kata orang, cacat mata seperti itu biasanya tanda “kutu buku”. Walaupun saya percaya bahwa Tuhan bisa menyembuhkan segala penyakit, saya tidak mengharapkan kesembuhan untuk mata saya. Saya melihat bahwa yang minta kesembuhan kebanyakan adalah orang yang sakitnya parah dan bukannya “sakit” berkacamata.

Sesudah KKR, seseorang yang saya kenal bertanya mengapa saya tidak meminta kesembuhan kalau saya percaya Tuhan bisa menyembuhkan segala penyakit. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Untuk menjawab pertanyaan itu ternyata saya harus menunggu bertahun-tahun……

Ayat diatas sangat dikenal oleh umat Kristen. Ayat yang sering dipakai untuk mengajak orang berdoa, memohon sesuatu dari Tuhan Sang Pencipta. “Name it, claim it” atau “minta dan dapatkan” adalah pandangan sebagian orang Kristen yang yakin bahwa Tuhan akan memberikan apa saja yang mereka minta. Siapa yang menginginkan sesuatu hendaknya rajin berdoa memohon kepada Tuhan untuk hal itu, dan Tuhan pasti mengabulkannya.

Sebagian umat Kristen juga berpendapat bahwa jika berkat Tuhan tidak juga datang, itu mungkin karena kurang berdoa atau kurang iman. Tambahan lagi, jika kita percaya bahwa Tuhan sudah memberikannya, pastilah itu akan benar-benar terjadi. Tuhan adalah sumber hidup, sumber rezeki; dan berkatNya yang pasti akan datang sesuai dengan permintaan umatNya.

Berdasarkan prinsip diatas, saya bayangkan jika saya benar-benar memohon kepada Tuhan waktu itu, saya pasti tidak perlu memakai kacamata tebal lagi sejak SD.  Mungkin dokter mata dan optometris juga pada tutup kalau seluruh kota mendapat kesembuhan serupa. Tetapi, apa yang terjadi ternyata lain dari yang dibayangkan. Bahwa sekarang saya bisa menyetir mobil tanpa kacamata, itu adalah karena operasi mata yang saya alami.

Tuhan memberkati saya dan dokter yang merawat saya sehingga operasi mata berjalan sukses, 50 tahun sesudah saya mengikuti acara KKR di Surabaya. Tuhan bekerja tetapi tidak seperti yang saya harapkan dan bayangkan. Tuhan ternyata membuat mujizat yang berbagai ragam di tempat dan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan prioritasNya.

Dengan bertambahnya umur, hubungan kita dengan Tuhan seharusnya makin berkembang dan dewasa. Pengertian kita akan apa yang dikerjakan Tuhan, apa yang disukaiNya, apa yang dibenciNya dll. tentunya akan berubah. Itu semua karena pekerjaan Roh Kudus yang bekerja tiap saat untuk mencelikkan mata rohani umat percaya. Karena itu jugalah iman tumbuh makin subur lewat pergumulan hidup.

Jika dulu kita seringkali mau memohon kepada Tuhan apapun yang kita inginkan, sekarang kita mungkin hanya berdoa untuk apa yang kita butuhkan. Jika dulu kita mengaku bahwa semua yang kita inginkan adalah sesuatu yang kita butuhkan, sekarang mungkin kita sering berdoa untuk bisa melihat apa yang benar-benar kita butuhkan. Jika dulu kita, seperti anak kecil, sering memusatkan diri kepada apa yang kita butuhkan, mungkin sekarang kita lebih dewasa dalam iman dan bisa melihat apa yang dibutuhkan orang lain. Jika dulu kita yakin bahwa Tuhan ada untuk melayani permintaan kita, sekarang kita harus sadar bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Sang Pencipta.

Satu hal lain yang juga penting untuk pengertian umat percaya adalah soal prioritas Tuhan dalam rencanaNya. Bagi sebagian umat Kristen, Tuhan sebagai Bapa, seharusnya memgutamakan soal kebutuhan anak-anakNya. Karena itu banyak ajaran yang menekankan kasih Tuhan dalam memenuhi kebutuhan jasmani manusia. Ajaran ini sekarang banyak pengikutnya karena seolah Tuhan itu akan memberi apapun yang kita minta pada saat yang kita kehendaki. Kehendak kita yang terjadi, bukan kehendakNya.

Iblis dari awalnya tahu bahwa manusia memiliki kecederungan untuk mementingkan diri sendiri. Ia tahu jika manusia dibuai dengan kesuksesan dan kemewahan, mereka akan lebih mudah dipengaruhinya. Itulah sebabnya begitu banyak gereja yang saat ini sukses dalam menarik jemaat, karena manusia lebih tertarik untuk hidup berlebihan dalam kemewahan dan keberhasilan daripada hidup dalam iman dan merasa cukup dalam setiap keadaan. 

Kebahagiaan yang ditawarkan banyak pembicara sekarang ini juga sering dilandaskan pada kepercayaan manusia kepada diri sendiri dan bukan kepada Tuhan (positive thinking). Seringkali manusia dianjurkan untuk percaya bahwa mereka pada hakekatnya adalah baik, dan karena itu mereka tidak perlu memikirkan dosa mereka. Tidak perlu punya “negative thinking” tentang diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, sekalipun hidup manusia kacau balau, bayangan akan Tuhan yang mahakasih seolah memberi mereka kepercayaan diri bahwa hidup mereka sudah benar. Dengan itu, tumbuh juga kepercayaan bahwa doa mereka selalu didengar Tuhan.

Ada banyak contoh dalam Alkitab dimana Yesus dan murid-muridNya menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangunkan orang mati. Yesus juga membuat air menjadi anggur dan meredakan topan. Tetapi harus kita sadari bahwa prioritas tugas Yesus waktu itu adalah penyelamatan manusia dari dosa. Prioritas tugas murid-murid Yesus waktu itu adalah mengabarkan Injil keselamatan. Prioritas hidup kita sebagai umat percaya adalah untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Setelah kita sadar dan menerima apa yang kita harus prioritaskan dalam hidup, bolehlah kita menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan. Apa yang diminta secara benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan akan terjadi.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita harus berdoa dengan sikap dan tujuan yang benar. Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah penjunan kita. Kita adalah manusia berdosa dan Tuhan adalah mahasuci. Manusia  dalam kebodohannya tidak akan dapat mengerti cara berpikir Tuhan yang maha bijaksana. Jika kita berdoa, seringkali kita tidak tahu bagaimana caranya. Orang lain yang ditanya mungkin malah mengajarkan hal yang tidak benar. Hanya Roh Kudus yang bisa mengajar kita secara pribadi untuk berdoa secara benar (Roma 8: 26). Kita harus tetap ingat bahwa doa yang benar selalu mengandung kata-kata “jadilah kehendakMu” dan “secukupnya” (Matius 6: 10-11).

Kembali ke ayat Matius 7: 7 diatas:

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” 

Apakah anda tahu apa yang harus diminta dan dicari?