“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 27
Semenjak kecil seorang anak biasanya dibiasakan untuk bersopan-santun, terutama jika berhadapan dengan orang dewasa. Dalam bahasa Inggris, sedikitnya mereka diajarkan untuk berkata “please” untuk meminta, dan “thank you” sesudah menerima sesuatu. Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata yang sama dengan kata “please”, tetapi biasanya nada permintaan bisa dibuat sedemikian rupa untuk memberi kesan sopan. Ucapan terima kasih sebaliknya harus diucapkan setiap kali seseorang menerima kebaikan orang lain.
Bagi orang Kristen, soal memohon kepada Tuhan adalah soal biasa. Tetapi ada berbagai sikap dan bahasa yang dipakai manusia dalam meminta sesuatu kepada Yang Maha Kuasa. Ada yang sujud dalam kerendahan hati, ada yang acuh tak acuh, tapi ada pula yang berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan apapun yang diminta. Dalam hal berterima kasih, ada yang bersyukur dengan rendah hati sekalipun tidak memperoleh apa yang diminta, ada yang hanya asal-asalan bersyukur, tetapi ada juga yang bersyukur sambil berbangga karena merasa bahwa Tuhan sudah menuruti kemauan mereka.
Dalam bersyukur, apa yang sebenarnya harus kita lakukan? Mengucapkan terima kasih dalam doa yang indah? Mempersembahkan puji-pujian? Memberi persembahan? Ataukah ada jalan lain? Hal ini kelihatannya kurang mendapat perhatian yang khusus di kalangan sebagian orang Kristen.
Jika mengucap syukur hanya melalui doa, sekalipun baik, itu hanya beberapa menit saja dalam sehari. Kalau ke gereja dan menyanyikan pujian, itu pun hanya sejam atau dua jam dalam seminggu. Padahal kasih Tuhan kepada kita ada di setiap saat dalam kehidupan kita. Secara jasmani, manusia bisa hidup dan melakukan segala sesuatu hanya karena berbagai karunia Tuhan. Lebih-lebih lagi, umat Kristen sudah menerima anugerah terbesar, yaitu keselamatan melalui pengurbanan Anak Allah, Yesus Kristus.
Mungkin ada yang merasa bahwa mengucapkan syukur harus melalui persembahan. Memang ada orang yang mampu memberikan persembahan, baik uang atau waktu dan tenaga, yang berjumlah besar untuk gereja dan masyarakat. Tetapi, sebenarnya semua itu adalah pemberian Tuhan semata. Persembahan apapun hanyalah usaha mengembalikan sebagian kecil dari apa yang kita terima dari Dia.
Pagi ini kita diingatkan bahwa mengucap syukur bukanlah gampang melakukannya. Karena Tuhan itu maha kasih, sudah seharusnya kita mengasihi Dia dan berterima kasih kepadaNya segenap hati dan dengan segenap jiwa, serta dengan segenap akal budi kita. Karena itu, dalam hidup kita, segala sesuatu yang kita lakukan setiap saat haruslah sesuai dengan firman Tuhan dan merupakan pernyataan syukur kepadaNya. Lebih dari itu, seluruh hidup kita haruslah dipersembahkan dengan rendah hati sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan yang maha kasih.
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1
Sekarang ini, orang di seluruh dunia suka menonton acara TV seri “Idol” yang merupakan seri perlombaan menyanyi. Begitu juga di Indonesia, “Indonesian Idol” sudah ada sejak tahun 2004. Sesuai dengan judulnya, penyanyi yang memenangkan perlombaan ini seringkali menjadi penyanyi tenar idola publik, sekalipun dulunya tidak dikenal.
Rendah hati adalah salah satu sifat yang diminta Tuhan dari setiap orang Kristen, tetapi adalah satu hal yang tidak terlalu sering dibahas di gereja. Sikap rendah hati ataupun sebaliknya, umumnya adalah sesuatu yang bisa dilihat oleh orang lain tetapi agak sensitif untuk dibicarakan karena adanya orang-orang yang bisa tersinggung. Sebenarnya memang sejak Adam dan Hawa manusia cenderung sombong. Semua orang selalu mempunyai kesombongan dalam hal tertentu; dan diantara hamba-hamba Tuhan pun ada yang terlihat sombong dalam berkhotbah dan gaya hidup mereka.
Hari ini saya sempat mengunjungi Port Arthur, yaitu sebuah desa kecil berpenduduk sekitar 250 orang yang terkenal karena adanya penjara dari tahun 1830 yang pernah dipakai untuk menyekap orang-orang yang sudah diberi hukuman penjara di Inggris. Karena mereka tidak bisa ditempatkan di penjara yang ada di Inggris, para narapidana itu di “ekspor” ke benua Australia dan ditempatkan di Port Arthur. Sekarang penjara ini tinggal reruntuhan saja dan menjadi obyek turisme terkenal di Tasmania.
Jika narapidana Port Arthur adalah penjahat yang terjerat hukum, Paulus pernah dipenjara karena ia terjerat kasih Kristus. Ia diperlakukan seperti seorang penjahat walaupun ia tidak melakukan kejahatan. Tetapi apa yang dialaminya diterimanya dengan kerelaan sebab Yesus sudah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari itu karena dosa manusia. Paulus sadar bahwa Yesus, Anak Allah, sudah mati untuk ganti dosa yang diperbuatnya.
Hari ini, dalam perjalanan ke Port Arthur, Tasmania, angin tidak bertiup terlalu keras dan gelombang laut pun kelihatannya tidak besar. Kapal Explorer berkapasitas 3000 orang yang saya tumpangi melaju tanpa mengalami goncangan yang berarti. Walaupun laut Tasman kali ini terlihat tenang, keadaan itu tidaklah selalu demikian.
Pagi ini saya tiba di kota kecil Eden, yang berada kira-kira 500 km di selatan Sydney. Kota ini terkenal sebagai salah satu tempat mencari ikan yang top di Australia. Turis, baik lokal maupun internasional, banyak yang datang ke kota berpenduduk sekitar 3000 orang ini hanya untuk memancing ikan di laut. Buat saya yang gemar memancing, hal itu tidak mengherankan; tetapi untuk orang lain, Eden mungkin lebih menarik karena pemandangannya. Apa yang menarik orang untuk menangkap ikan? Itu sepertinya hal yang membosankan!
Pagi ini, ketika saya bangun tidur, terlihat sebuah bangunan gudang yang menjorok ke laut dari jendela kamar hotel saya di Sydney. Pier One pertama kali dibangun oleh tentara Inggris pada abad ke 18 sewaktu Australia baru diduduki Inggris. Kompleks bangunan ini mulanya sangat berguna untuk keperluan militer, tetapi kehilangan fungsinya sekitar tahun 1900. Entah mengapa ketika saya melihat bangunan tua yang tidak lagi digunakan itu, terasa bahwa manusia dan apa yang diciptakannya tidaklah abadi. Walaupun demikian, adalah mengherankan bahwa manusia seringkali merasa bahwa ia dapat bergantung pada apa yang bisa diperolehnya.
Buat semua orang yang mengaku Kristen, keselamatan adalah semata-mata anugerah Tuhan. Tidak ada yang bisa membawa keselamatan selain darah Kristus. Ini berbeda dengan kepercayaan lain yang mengajarkan bahwa manusia bisa dan harus berbuat sesuatu untuk memperoleh karcis ke surga. Walaupun demikian, pada umumnya kepercayaan apapun mengajarkan agar semua pengikutnya untuk berbuat baik.
Berdoa. Hal yang penting dalam hidup. Ada yang bilang cukup dua kali sehari, tapi ada juga yang mengharuskan lima kali sehari. Ada yang berdoa sewaktu-waktu, ada juga yang berdoa hanya pada waktu tertentu. Bagaimana seharusnya untuk orang Kristen?