Kalau sangkakala berbunyi

“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  2 Petrus 3: 13-14

Waduh…kiamat dah! Ungkapan ini sering muncul dalam cerita lucu, misalnya ketika kenakalan seorang anak yang bernama si Put On diketahui oleh sang ibu yang galak. Si anak dalam ketakutan menyadari bahwa ibunya akan marah besar dan melabraknya habis-habisan. Kiamat adalah sebuah kata yang artinya menakutkan, tetapi sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari untuk menggambarkan suatu hal yang kocak dan lucu. Kiamat sepertinya adalah hal jauh disana, yang tidak perlu dipikirkan saat ini.

Sebaliknya, dikalangan sebagian orang beragama, kata kiamat yang menunjuk kepada akhir jaman  – yang sebetulnya tidaklah harus menjadi hal yang sangat ditakuti –  justru seringkali didiskusikan dan bahkan diramalkan akan segera terjadi. Hal ini makin menjadi-jadi hingga banyak orang yang mengambil tindakan-tindakan ekstrim, seperti bersembunyi di hutan, membangun konstruksi anti bom atom dsb.  Dalam medsos pun banyak beredar peringatan-peringatan akan tanda-tanda akhir jaman. Namun, walaupun ramalan  datang dan pergi sejak dulu, akhir jaman rupanya belum juga mendatangi.

Soal menyambut datangnya kiamat, memang banyak orang Kristen yang berbeda pendapat. Buat orang-orang tertentu, kiamat sudah dekat dan karena itu mereka sibuk bersiap-siap. Bagi yang lain, kiamat pasti akan datang tetapi beberapa prosesnya masih harus dijalani dan kekuatiran tidak perlu muncul karena keyakinan bahwa mereka harus selalu siap. 

Saya masih ingat lagu anak-anak sekolah minggu ini:

Kalau zaman ini lalu pada hari kiamat,

kalau sangkakala Allah berbunyi.

Kalau orang yang selamat berkeliling takhta-Nya,

Kalau namaku dipanggil ku ada.

Jelas nada lagu diatas, yang merupakan terjemahan himne terkenal “When the trumpet of the Lord shall sound” atau “When the Roll Is Called up Yonder” gubahan James Milton Black di abad ke 19, adalah positip. Kalaupun kiamat itu datang pada saatnya, kita tidak perlu bingung karena sudah pasti kita diselamatkan. Lalu mengapa begitu banyak tokoh-tokoh Kristen yang selalu sibuk bernubuat dan menafsirkan tanda-tanda akhir jaman? Sebagian mungkin bermaksud baik dengan berusaha memperingatkan umat Kristen akan apa yang pasti akan terjadi. Tetapi ada juga yang termasuk dalam kelompok tertentu seperti yang tertulis dalam Alkitab:

“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.” Markus 13: 22

Apa yang telah terjadi dan akan terjadi di dunia ini adalah sesuai dengan rencana Tuhan. Umat Kristen harus sepenuhnya percaya bahwa Tuhan yang mengasihi mereka, akan juga membimbing semuanya melewati saat-saat yang sulit di masa mendatang. Sebagai manusia kita tidak dapat menyelami dalamnya pikiran Tuhan dan tidak dapat menerka apa yang akan terjadi dan kapan akan terjadi. 

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.”  2 Petrus 3: 20

Apa yang penting kita lakukan dalam masa penantian ini adalah tetap bertekun dalam iman kepada Yesus Kristus. Selain itu, kita harus tetap bersemangat dalam melanjutkan kehidupan kita dan malahan makin berbuah berbagai kebaikan untuk kemuliaan nama Tuhan.

Yesus Kristus sudah turun ke dunia untuk membawa damai untuk orang percaya. Murka Allah atas diri kita sudah padam. Karena itu, kita harus percaya bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik, selama kita hidup di dunia dan setelah kita meninggalkannya. Berita-berita yang membuat umat Kristen menjadi gundah, justru merendahkan arti kematian dan kebangkitan Kristus. Berita semacam itu harus kita tanggapi dengan berhati-hati, karena iblislah yang selalu berusaha memisahkan kita dari kasih Tuhan dan mengacaukan hidup kita sehingga kita tidak bisa berfungsi penuh sebagai anak-anak Tuhan selama hidup di dunia. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa dalam keadaan apapun kasih Tuhan tetap menyertai kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”  Roma 8: 38-39.

Pagi ini, jika kita masih bisa melihat matahari bersinar dan mendengar kicauan burung-burung, yakinlah bahwa Tuhan akan menyertai kita sampai akhir zaman; dan karena itu, bilamana sangkakala berbunyi, kita boleh menjawab “ya” dengan penuh keyakinan!

Hidup ber – Vivere Pericoloso

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”  1 Petrus 5: 8


Vivere pericoloso, adalah sebuah ungkapan yang memakai dua kata dari bahasa Italia, vivere (hidup) dan pericoloso (berbahaya).  Dalam bahasa Italia yang benar, ungkapan itu seharusnya berbunyi vivere pericolosamente.   Arti kata-kata ini adalah, “hidup secara berbahaya” atau “hidup menyerempet-nyerempet bahaya”. Di Indonesia, ungkapan ini dipopulerkan oleh Bung Karno pada tahun 1964 sebagai judul pidato kenegaraan pada peringatan HUT ke-19 RI.

Memang di jaman itu orang Indonesia hidup dalam berbagai tekanan, baik sosial, ekonomi dan juga politik. Suasana tegang dan mencekam dan ketakutan akan apa yang akan terjadi menghantui masyarakat. Di jaman sekarang istilah vivere pericoloso itu tidak lagi “ngetrend” sekalipun bahaya dan kekuatiran itu selalu ada dimana saja.

Manusia dari dulu memang sering cenderung   untuk hidup ber  vivere pericoloso.  Pada awalnya Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena berani nyerempet-nyerempet bahaya dengan mendengarkan bujukan si ular. Lot mengalami persoalan karena memilih hidup di Sodom yang dihuni oleh orang-orang jahat tak bermoral setelah berpisah dari Abraham.

Dalam jaman modern, gaya hidup yang nyerempet bahaya juga sering dipunyai banyak orang Kristen. Mereka, karena yakin sudah terpilih untuk diselamatkan, seringkali mengabaikan kenyataan bahwa iblis selalu ingin menjatuhkan mereka, seperti ia ingin menjatuhkan Yesus yang lelah setelah berpuasa 40 hari di padang gurun. Iblis seperti singa yang mengaum-aum, selalu mencari anak-anak Tuhan yang dapat ditelannya.

Sayang bahwa umat percaya sekarang sering mengira bahwa iblis tidak dapat menyentuh mereka. Mereka mungkin mengira bahwa iblis hanya menyerang mereka yang belum beriman kepada Yesus. Sebagian malah tidak percaya kalau iblis bisa menghancurkan tidak hanya kerohanian manusia, tetapi juga bisa memporak-porandakan jasmani manusia, seperti yang terjadi pada Ayub.

Sebagian orang membayangkan bahwa iblis yang mengaum-ngaum itu selalu muncul dalam berbagai bentuk khusus yang menakutkan dan mudah dikenali. Tetapi iblis adalah oknum yang pandai menyamar, yang bisa muncul sebagai sesuatu yang tidak terduga, sehingga manusia bisa terkecoh dan membuat keputusan yang salah. Iblis tidak hanya bisa membawa penderitaan dan malapetaka di dunia; ia juga seringkali muncul dengan janji atau hadiah yang menggiurkan seperti harta, pengetahuan, kekuatan dll. yang bisa menghacurkan manusia secara pelan-pelan.

Bagi anak-anak Tuhan, bahaya serangan iblis adalah lebih besar karena ia akan sangat senang jika bisa menjatuhkan orang-orang yang dikasihi Tuhan. Iblis tahu bahwa ia bisa menyerang orang-orang percaya hanya dengan seijin Tuhan dan sekalipun ia tidak dapat mencuri keselamatan yang sudah diberikan Tuhan, iblis tetap ingin untuk mempermalukan Tuhan jika anak-anakNya jatuh. 

Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa yang bisa dilakukan iblis adalah membuat berbagai keraguan, kebingungan, kekacauan, godaan dan persoalan dalam hidup orang percaya. Berbeda dengan orang yang belum diselamatkan, iblis tidak bisa memiliki hidup orang percaya. Karena itu, jika kita jatuh dalam dosa, itu adalah tanggung jawab kita sendiri karena dosa yang kita buat sendiri sekalipun dengan pengaruh setan. Buat kita: ada pilihan, ada tanggung jawab.

Hidup menyerempet bahaya memang beresiko tinggi, dan karena itu kita harus sebisa mungkin menghindari semua bentuk godaan, sekalipun itu sepertinya indah dan muncul dalam bentuk berkat dalam hidup kita. Kita harus rajin berdoa dan saling mendoakan agar kita bisa tetap tahan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dan kita wajib melawan iblis dengan iman yang teguh.

“Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”  1 Petrus 5: 9

Apakah anda fanatik?

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Hari Minggu, hari dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja. Tetapi tidak semua orang yang mengaku Kristen suka ke gereja. Di Australia, hanya 15% penduduk yang ke gereja sedikitnya sekali sebulan, padahal 60% penduduknya mengaku beragama Kristen. Memang mungkin orang yang benar-benar Kristen agaknya jarang…apalagi yang fanatik.

Orang yang benar-benar menyukai suatu jenis olahraga bisa dikatakan fanatik. Mereka sangat antusias tentang hal apapun yang menyangkut olahraganya. Begitu pula orang bisa menjadi penggemar kelas berat dari jenis film, makanan dan hal-hal lain. Mereka juga bisa disebut kaum fanatik. Kata fanatik sebetulnya bisa punya arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”.

Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepakbola di Indonesia, seringkali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Walaupun demikian kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorangpun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik yang sedemikian tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan diatas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang fanatik, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik.

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbananNya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3:  16 diatas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firmanNya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut fanatik Yesus Kristus!

Antara pilihan dan tanggung jawab

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam minggu ini? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari-hari mendatang selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain. Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada ditangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan.


Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Dalam hal ini kita sering tidak bisa menduga apa hasilnya. “Life is like a box of chocolates”, begitu kata Forest Gump dalam filmnya. Hidup adalah seperti sekotak coklat, itulah bunyi ungkapan itu. Kita tidak tahu coklat rasa apa yang akan kita dapat. Tetapi coklat apapun yang kita peroleh, kita sendiri yang telah memilihnya dan terserah kepada kita untuk merasakannya. Hidup manusia adalah penuh dengan pilihan dan tanggung jawab. Ini adalah masalah yang sering diperdebatkan manusia, termasuk umat Kristen.

Ada orang-orang yang mungkin berpendapat bahwa didalam  kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi rasanya sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun kita harus memilih satu coklat, sebenarnya coklat yang kita pilih tidak berbeda dengan coklat yang lain. Walaupun manusia bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Sebaliknya ada yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih.

Memang hidup ini punya berbagai variasi, berbagai segi, bermacam peristiwa. Apa yang akan kita lakukan hari ini mungkin saja hanya hal yang kecil, yang rutin, yang mungkin tidak mempunyai konsekuensi besar. Tetapi mungkin juga kita dihadapkan dengan berbagai tugas berat yang mengharuskan kita untuk mengambil pilihan. Mungkin kita sudah bisa dan siap berdoa: “Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi”. Tetapi keputusan tetap ada di tangan kita untuk mengambil tindakan. Kita jugalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.

Pagi ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses dimana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Seringkali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Adalah keputusan kita sendiri untuk memilih jalan itu sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan, ataukah memilih jalan yang lain yang nampaknya lebih berat tetapi yang tidak melanggar perintahNya.

Hidup iman kita mungkin juga sudah mencapai saat dimana kita merasakan bahwa tidak ada yang perlu kita pikirkan lagi karena kita mungkin sudah merasa bahwa Tuhan sudah memutuskan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Sikap yang semacam itu memang seolah membuat hidup kita nampaknya lebih enteng, karena kita memilih apa yang lebih mudah dilewati: jalan yang lebar, yang bisa dilewati tanpa memerlukan pergumulan terus-terusan. Jalan yang sempit, yang menuntut perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan yang penuh kepada Tuhan yang mahakuasa, yang benar-benar penuh dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan dalam setiap saat dan keadaan, tidaklah mudah dijalani. Tetapi itulah yang jalan yang benar yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya.

Untuk sebagian umat Kristen, keyakinan akan keselamatan itu datang melalui tradisi, kebiasaan dan pengalaman mereka. Jalan yang lebar dan mudah dilalui, tetapi seringkali hanya ilusi. Untuk yang lain, iman datang dari Tuhan melewati pergumulan hidup, pilihan pribadi, pelajaran hidup, kesadaran akan ketergantungan dan pertobatan dalam Yesus Kristus. Ini jalan yang sempit dan sulit dilalui. Tanpa keberanian untuk memilih dan kemauan untuk bertanggung jawab, manusia tidak akan bisa berkata:

Tuhan, aku sudah mengambil berbagai keputusan di masa lalu,

Aku sadar bahwa aku sering melakukan hal yang bodoh.

Pagi ini aku mengaku bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku.

Aku sekarang mau memilih jalan yang sempit untuk mengenal Engkau.

Bimbinglah aku agar sampai ke tempat tujuan.

Hallo Tuhan….

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Tahukah anda bahwa ponsel alias HP baru muncul di dunia sekitar tahun 70an? Ketika itu Motorola menciptakan telepon genggam yang ukurannya sebesar batu bata (23 x 13 x 5 cm) dan beratnya 1.1 kg. Ponsel itu cuma bisa dipakai selama 30 menit tapi perlu 10 jam untuk menyetrum.  Barangkali karena beratnya, untuk memegang ponsel sebesar itu selama setengah jam saja sudah terasa terlalu lama! Walaupun demikian, penemuan ini sangat bersejarah karena dengan kemajuan teknologi, orang bisa ber halo-halo dimana saja, kapan saja dan kemana saja. Kecuali ke surga…. 

Manusia, dengan kemajuan teknologi, sepertinya tidak mendapat kemudahan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Malahan, manusia jaman sekarang makin sulit untuk mendengar suara Tuhan dan berbicara denganNya. Padahal Tuhan selalu siap untuk berkomunikasi dengan umatNya.

Bagaimana Tuhan dapat berkomunikasi dengan kita? Ada beberapa saluran yang bisa dipakai Tuhan. Saluran utama adalah firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Ada yang bilang buku Alkitab itu seperti ponsel model kuno, beratnya ada yang 1 kg, dan malah ada yang beratnya 500 kg. Alkitab model baru memang ada, firman Tuhan dalam bentuk eletronik yang bisa dibaca atau didengar dan bisa kita simpan dalam ponsel kita. Tetapi Alkitab berbentuk apapun itu tetap sama isinya; itulah yang harus kita pegang sebagai jalur komunikasi nomer satu yang dipakai Tuhan. Manusia harus membaca firman Tuhan dan mempelajarinya untuk bisa mengerti maksud dan perintah Tuhan.

Selain melalui Alkitab, Tuhan bisa berfirman melalui beberapa hal yang lain, seperti mimpi, pengelihatan, pendengaran; suara hati, dll. Tetapi ini sudah jarang karena kita sudah mempunyai Alkitab. Apa yang kita terima diluar Alkitab harus dibandingkan dengan apa yang ada didalam Alkitab supaya kita tidak terjebak dalam menerima “kabar burung” dan “hoax” dari si iblis.

Lalu bagaimana pula dengan kita yang ingin mengontak Tuhan? Jalan utama untuk mengucapkan “hallo” kepada Tuhan adalah melalui doa. Ini yang paling efektip karena mulut dan hati kita berbicara langsung dengan Tuhan. Sewaktu Yesus belum disalibkan, umat Israel harus memakai perantaraan imam-imam untuk menemui Tuhan. Tetapi sekarang kita bisa langsung berjumpa dengan Tuhan dalam doa tanpa harus diwakili pendeta atau pastor. Sayang sekali, jalur komunikasi yang bebas pulsa ini sekarang seringkali diabaikan umat Kristen. Mungkin karena gratis, manusia cenderung untuk meremehkannya.

Berapa kali kita dalam sehari harus mengontak Tuhan? Karena Tuhan adalah sumber kehidupan manusia, kita seharusnya menelepon Dia sesering mungkin, seperti juga membaca firmanNya. Komunikasi adalah dua arah, jika Tuhan berfirman kepada kita dan membimbing kita setiap saat, pikiran dan hati serta mulut kita juga harus bisa berhubungan denganNya setiap waktu agar kita tidak tersesat. Tuhan tidak pernah tidur, karena itu kita tidak boleh ragu untuk menelepon Dia disetiap waktu, dari mana saja, kapan saja, melalui doa dalam bimbingan Roh Kudus.

Seperti suara dari ponsel, kadangkala suara Tuhan tidak terdengar dengan jelas karena adanya suara-suara lain disekitar kita. Untuk bisa mendengar suaraNya, kita harus mau meluangkan diri untuk mencari saat dan tempat yang baik. Hidup yang terlalu sibuk dengan segala hiruk-pikuknya akan membuat manusia sulit untuk mendengar suara Tuhan. Apalagi hidup yang diisi dengan hal-hal yang salah. Hubungan yang kurang baik dengan Tuhan juga bisa mengakibatkan kita untuk menerima pesan-pesan yang keliru yang bukannya dari Tuhan.

Pada pihak yang lain, Tuhan selalu menantikan sapaan anak-anakNya. Tuhan mengasihi mereka yang mau berkomunikasi, dan intim denganNya. Dalam hal ini, setiap manusia diberi kemampuan dan kebebasan untuk memilih apa yang baik dan berguna dalam hidup mereka. Mereka yang hanya senang berkomunikasi dengan hal-hal dan orang-orang yang kurang baik akan kacau hidupnya, sedangkan mereka yang senang berkomunikasi dengan Tuhan akan diperbaharui hidupnya dan dikuatkan setiap hari.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20

 

Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku?

Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”  1 Samuel 1: 20

“Tuhan belum menjawab doaku” adalah keluhan umum manusia. Setelah lama menunggu, rasa berharap mungkin diganti rasa kecewa karena seolah Tuhan mengabaikan doa kita. Mungkinkah Ia tidur, terlalu sibuk atau sekedar mengabaikan aku? Apakah Ia marah kepadaku? Apakah Ia sudah menentukan apa yang terjadi dalam hidupku? Apakah doaku sia-sia?

Dalam kitab 1 Samuel 1, ada seorang wanita yang bernama Hana yang mengalami hal yang serupa. Bertahun-tahun ia menantikan datangnya seorang anak, tetapi apa yang diharapkan tidak kunjung datang. Tetapi ia tetap saja berdoa untuk pertolongan Tuhan sekalipun kelihatannya sudah tidak ada kemungkinan dan orang disekelilingnya tidak mendukung doanya. Untuk apa ia berdoa kalau segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan? Hana percaya bahwa Tuhan mempunyai maksud lain.

Hal berdoa adalah satu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh semua umat beragama sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan yang mereka kenal sebagai tuhan. Dengan ritual dan cara mereka masing-masing mereka berdoa, dan dengan keterbatasan pengertian, mereka mencoba mengerti siapa tuhan itu dan berharap doa mereka didengar tuhan mereka.

Jika kita memperhatikan doa manusia manapun dan dimanapun, kebanyakan itu merupakan permohonan. Bukan pujian atau percakapan. Kalaupun ada pujian, itu sekedar pembuka kata saja. Tidaklah mengherankan bahwa sekalipun doa adalah bentuk komunikasi dengan sang pencipta, seringkali doa adalah “shopping list” atau daftar belanja manusia. Karena itu seringkali dalam doa kita salah alamat karena apa yang kita temui mungkin bukan Tuhan. Tuhan yang mahasuci hanya bisa didekati dengan iman dan cara yang benar. 

Tuhan mengasihi kita dan ingin supaya manusia sadar akan ketergantungannya. Doa yang benar adalah penyerahan total kepada Tuhan. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Kita harus bisa  memohon agar Tuhan memberi apa yang terbaik untuk kita. Apa yang kita benar-benar butuhkan. Masalahnya, kita sering tidak dapat membedakan apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita inginkan seringkali hanya untuk kepentingan kita, tetapi apa yang kita butuhkan adalah sesuatu yang bisa memuliakan Tuhan dan mempererat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kalau kita lihat dalam kisah perjuangan iman Hana, itu jugalah yang dinantikan Tuhan untuk muncul dalam doa Hana.

Mungkin, seperti Hana kita sudah menangis cukup lama. Sudah merasa tertekan dan menderita sejak lama. Kita membutuhkan jawaban Tuhan sekarang juga. Tetapi, berbeda dengan manusia, Tuhan tidak terikat waktu dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. RencanaNya adalah sempurna karena Ia tidak dibatasi oleh kelemahan yang dipunyai manusia. Oleh sebab itu, tantangan untuk kita adalah agar kita bisa bersabar dan merasa cukup dalam setiap keadaan, sambil menyerahkan masa depan kita kepadaNya.

Tuhan ingin kita untuk tidak berhenti berdoa untuk bisa mengerti kehendakNya, yang sering tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Untuk dapat menerima apa yang akan diberikanNya, kita tetap harus berkomunikasi denganNya. Hana tidak putus-putusnya berdoa dan ketika Tuhan menjawab doa Hana, itu bukan karena Tuhan menyerah kepada doa permohonan yang bertubi-tubi dari Hana. Tetapi jawaban Tuhan datang pada saat Tuhan melihat bahwa Hana mengerti akan maksud Tuhan.

Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Apa yang kita minta harus bisa memuliakan Tuhan. Jika apa yang kita dapat akhirnya tidak memuliakanNya, berarti bukan Tuhan yang memberi. Jika kita berdoa meminta apa yang kita ingini, dan bukannya memohon agar kehendakNya yang terjadi, doa kita hanya merupakan tuntutan dan bukannya penyerahan. 

Hana pada saat yang tepat melahirkan seorang bayi yang dinamakan Samuel karena Tuhan telah menjawab doanya. Dan kita tahu bahwa Samuel menjadi nabi Israel yang paling terkenal pada jamannya. Samuel dikenal oleh umat agama Yahudi, Kristen dan Islam. Samuel adalah nabi yang mentahbiskan raja Saul dan Daud. Hana diberi berkat yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang dimintanya. Biarlah Tuhan dipermuliakan dalam doa-doa kita!

Pilih jadi macan atau gajah?

“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 22: 6

Satu hal yang sangat sukar dipelajari adalah bagaimana menjadi orang tua yang baik. Memang ada banyak buku dan teori yang bisa dibaca, tapi untuk mempraktikkan dengan benar dan mencapai hasil yang baik adalah sulit. Banyak orang tua yang merasa sudah banyak berkorban waktu, biaya dan perasaan, tetapi anak-anaknya tetap saja tidak dapat menjadi seperti yang diharapkan.

Amy Chua adalah seorang profesor Amerika yang mengajarkan untuk mendidik anak dengan disiplin tinggi. Anak yang tidak mau belajar misalnya, akan dihukum dengan mengurangi jatah mainan atau hiburan. Banyak orang barat yang tidak setuju cara mendidik yang sedemikian. Tetapi sebaliknya banyak orang Asia yang setuju. Ibu yang “galak” terhadap anaknya diberi julukan “tiger mum” atau “ibu macan”, dan cara mendidik yang sedemikian disebut “tiger parenting” atau “mengasuh anak gaya macan”. Anak-anak yang dididik sedemikian, sering mencapai hasil yang tinggi dalam pendidikan.

Kebalikan dari “ibu macan”, ada orang-orang yang menganjurkan untuk memakai prinsip “ibu gajah” yang menganjurkan orang tua untuk lebih membesarkan hati, membimbing, dan menuntun anak-anak mereka. Seperti seekor gajah yang melindungi anaknya, dengan selalu berjalan bersama anaknya kemana saja. Anak-anak yang dididik dengan cara ini diharapkan bisa mempunyai rasa bahagia yang lebih besar dalam hidup walau tidak mencapai prestasi tinggi.

Mana yang benar? Mendidik anak seperti macan atau gajah? Sangat lucu bahwa dalam diskusi “jurus macan” vs. “jurus gajah”, orang sepertinya mau belajar cara mendidik hewan dan bukannya manusia. Bagaimana cara mendidik manusia dengan benar, mungkin tidak lagi menarik perhatian. 

Alkitab dalam kitab Amsal memberi banyak pedoman untuk mengajarkan bagaimana seorang anak bisa belajar untuk menjadi orang yang berhasil dalam hidup mereka. Amsal juga jelas menunjukkan bahwa kunci pendidikan adalah bukan didasarkan pada prinsip macan atau gajah, tetapi pada iman:

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Amsal 1: 7

Bagi kita yang masih mempunyai kesempatan untuk mendidik anak cucu kita, kita harus kembali kepada prinsip-prinsip Alkitabiah. Dengan prinsip yang benar, kita juga akan dapat mengarahkan kaum muda sehingga mereka mengerti bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dengan banyaknya gelar, harta atau kemasyhuran; tetapi dengan eratnya hubungan kita dengan Tuhan. Bahwa sumber kebahagiaan adalah iman. 

Bagi kita yang sudah mengalami pendidikan jaman dulu, gaya hidup kita mungkin sudah terpengaruh oleh apa yang kita anggap benar pada waktu itu. Barangkali kita sendiri sudah menjadi seperti macan atau gajah yang hidup di hutan rimba. Mungkin kita sudah puas dengan apa yang kita capai:  kebahagiaan semu. Tapi mungkin juga kita masih mencari apa arti keberhasilan atau kebahagiaan itu. Pagi ini kita diingatkan bahwa bagi kita masih ada kesempatan untuk belajar lagi melalui firman Tuhan tentang apa yang benar-benar baik dalam hidup ini: bahwa hidup menurut perintahNya akan memberi rasa sejahtera dalam hidup kita.

Amin?

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  Filipi 4: 6


Amin!

Kata “amin” mungkin sering kita dengar atau ucapkan, pada akhir sebuah doa atau jika kita ingin mengiyakan ucapan teman. “Amin” adalah sebuah kata yang benar-benar serius artinya, tetapi banyak orang mengucapkannya seolah dengan santai dan bahkan untuk sekedar humor. Kata ini muncul dalam Alkitab, baik PL maupun PB, berulang kali. Tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam hal-hal ritual yang lain. 

Kata “amin” juga diucapkan untuk mengakhiri doa Bapa kami (Matius 6: 9-13). Seirama dengan isi doa itu, kata itu bisa diartikan “biarlah itu terjadi seperti yang dikendaki Tuhan”. Kata yang sama dengan arti yang serupa muncul dalam bahasa Ibrani, Arab dan Aramaik dan karena itu dipakai dalam agama Judaisme, Kristen dan Islam.

Walaupun kata “amin” nampaknya mengandung arti yang baik, banyak orang Kristen yang kurang memahami arti dan konsekuensinya, terutama dalam sebuah doa permohonan. Seringkali orang mengucapkan kata ini sebagai mantra dengan maksud “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.  Agaknya, doa yang demikian adalah daftar keinginan kolektif yang kita setujui bersama agar dilakukan Tuhan.

Doa adalah sebuah komunikasi langsung antara umat percaya dengan Tuhannya. Dalam ayat diatas, kita dianjurkan untuk berdoa dan memohon pertolongan Tuhan dengan bersyukur dan bukannya hidup dalam kekuatiran. Tetapi, bukankah Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan dan bahkan tahu apa yang akan kita doakan? Untuk apa berdoa dan untuk apa mengamininya?

Doa yang berakhir dengan kata “amin” sebenarnya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika doa kita berakhir dengan kata “amin”, itu seharusnya berarti “jadilah seperti kehendakMu” dan bukannya “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.

“Amin” juga dapat diartikan sebagai “dengan sesungguhnya”. Dalam doa kita dengan sejujurnya benar-benar mengakui Tuhan dengan segala atributNya. Dengan sesungguhnya kita juga mengakui kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Doa dengan kata amin seharusnya juga merupakan penyerahan seluruh hidup kita kepada pimpinanNya.

Pagi ini jika kita berdoa dan mengakhiri doa kita dengan kata “amin”, hendaknya kita sadar bahwa kata ini bukanlah dimaksudkan untuk berbunyi “kabulkanlah doaku”; tetapi sebaliknya berarti “aku menyerahkan hidupku”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita!

Tidurlah intan…

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. Mazmur 4: 8

Mungkin anda masih ingat akan lagu-lagu gubahan almarhum R. Soetedjo juga terkenal di Eropa terutama di Negara Belanda. Misalnya lagu  “Waarom huil je toch Nona Manis”. Semua lagu ciptaan Soetedjo memang nyaman didengar, tetapi yang paling sering saya dengar adalah lagu “Tidurlah Intan”  yang pernah dinyanyikan oleh Waljinah, Broery Marantika, Hetty Koes Endang dll.

Tidurlah Intan, tidurlah anakku manis

Hari sudah malam, pejamkanlah mata

Tidurlah Intan, tidurlah kekasih hati

Esok hari kita bermain kembali


Hal tidur adalah suatu yang penting bagi semua mahluk ciptaan Tuhan. Tidur adalah kesempatan untuk beristirahat, untuk memulihkan kesegaran tubuh manusia. Tuhanlah yang menciptakan sistem istirahat teratur, termasuk istirahat pada hari ketujuh. Kebutuhan tidur dan istirahat mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan Tuhan dan bukan pencipta alam.

Manusia memerlukan jumlah jam tidur yang cukup menurut umur mereka. Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia tidak dapat berfungsi dengan baik dan akan mudah jatuh sakit. Masalahnya, dalam hidup ini kita sering tidak atau kurang bisa tidur karena berbagai persoalan atau tugas. Kalaupun cukup jumlah jam tidur kita, kualitasnya mungkin kurang baik karena tidak bisa lelap. Masalah ini dihadapi banyak orang di dunia sehingga kasus adiksi obat tidur dan obat penenang bertambah parah.

Mengapa manusia sering tidak bisa tidur? Ada banyak sebabnya. Manusia sering kuatir akan apa yang belum terjadi. Manusia ingin mendapat kepastian tentang masa depan, tetapi merasa tidak bisa menentukannya. Manusia juga sering lemah dan mudah tergoda, tetapi dosa menyebabkan penyesalan atau keterikatan yang mengganggu tidurnya. Manusia juga sering kurang berdisiplin dalam hidup sehingga ritme hidup menjadi acak dan kesehatan mereka tidak terjaga. Manusia juga banyak yang mengalami penderitaan jasmani atau rohani, dan karena itu tidurpun menjadi bagian penderitaan dan kehampaan. Manusia kurang bisa berserah kepada Tuhan yang bisa memberi istirahat yang baik untuk tubuh dan jiwa kita.

Rasul Petrus pernah mengalami saat dimana ia dipenjara dan akan menghadapi pengadilan masa esok harinya. Dalam keadaan demikian, ia tetap dapat tidur nyenyak; sampai-sampai malaikat yang datang harus menepuk Petrus untuk membangunkannya:

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kisah Para Rasul 12: 6-7.

Bagaimana Petrus dapat tidur nyenyak dalam keadaan kritis seperti itu? Jelas bahwa ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan sepenuhnya.

Jika anda bangun pagi ini dan merasa masih mengantuk, mungkin tidur anda kurang cukup atau kurang lelap. Apapun sebabnya, anda mungkin akan merasa lebih sulit untuk bersyukur kepada Tuhan dan mendengarkan suaraNya. Tubuh yang lelah dan pikiran yang berat seolah membuat tembok pemisah antara kita dengan Tuhan kita. Jika kita tidak dapat memperbaiki gaya hidup kita, masalah kurang tidur ini akan pelan-pelan menghancurkan jasmani dan rohani kita. Karena itu marilah pada pagi ini kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Hanya Tuhan lah yang bisa memberi kita rasa tenang dan aman!

Usia tidak menjamin kematangan

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12

Masa muda biasanya adalah masa dimana seseorang masih banyak belajar. Dalam masa itu biasanya orang belum mempunyai pandangan hidup yang jelas, hidup serampangan, dan kurang bijaksana. Kebanyakan mereka berusaha menikmati hidup hari ini dan sebisa mungkin menghindari tanggung jawab atau kewajiban. Mereka juga yakin hidupnya masih panjang, dan karena itu agaknya tidak takut mati.

Orang tua sering mengelus dada jika mereka melihat anak muda yang hidupnya ugal-ugalan, apalagi di jaman kebebasan sekarang ini. Orang dewasa sering memandang rendah mereka yang masih terombang-ambing dalam menghadapi masa depannya itu. Perkataan mereka, tingkah laku, dan hidup mereka yang kurang mengenal arti kasih, pengorbanan, kesetiaan dan kesucian, sering menjadi bahan diskusi orang dewasa.

Paulus dalam ayat diatas menulis kepada Timotius yang masih muda agar jangan mengikuti stereotipe anak muda, melainkan hidup sebagai anak Tuhan sehingga orang lain tidak memandang rendah dirinya. Timotius malahan diharapkan menjadi contoh untuk orang lain, termasuk orang yang lebih dewasa!

Kebalikan dari masa muda, masa dewasa sering  ditandai dengan karir yang sudah mantap dan keberhasilan dalam hal mencukupi kebutuhan hidup. Malahan, dengan bertambahnya umur, kepercayaan diri sendiri makin bertambah besar dan kemampuan untuk menikmati hidup juga meningkat. Hidup pun seringkali bisa lebih meriah jika dibandingkan dengan hidup anak muda. Apalagi kesadaran bahwa hidup ini hanya sekali, membuat mereka yang berumur cenderung untuk bersuka-ria dan menikmati hidup selagi kesempatan masih ada. Karena itu kepekaan akan keadaan orang lain, yang  menderita dan belum mengenal Kristus, juga bisa memudar. Seringkali dengan kemampuan  yang ada, mereka melakukan hal-hal yang sama dan seringkali lebih “hebat” jika dibandingkan dengan apa yang sering dilakukan anak-anak muda di dunia nyata maupun maya.

Sebagai orang Kristen, adalah kenyataan bahwa semua orang dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan yang bijaksana, yang bisa memberi contoh yang baik untuk semua orang. Malahan, sebagai orang yang sudah cukup umur, orang diharapkan untuk lebih bisa menjadi teladan. Mereka juga diharapkan untuk lebih bisa mawas diri dan lebih peduli atas orang lain. 

Pagi ini kita diingatkan bahwa nasihat Paulus kepada Timotius berlaku untuk semua umur, yaitu agar kita bisa menjadi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan kita,  dalam tingkah laku kita, dalam kasih,  kesetiaan dan dalam kesucian kita. Mereka yang lebih tua juga harus lebih bisa menunjukkan apa arti hidup baru didalam Kristus. Jangan sampai mereka yang lebih dulu mengenal Tuhan menjadi mereka yang paling terbelakang dalam menjalankan perintahNya.

“Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” Amsal 16: 31