Sukacita bukan sementara

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15: 11


Apakah anda berbahagia? Apakah anda puas akan hidup anda? Pertanyaan itu mungkin pernah anda terima dari orang lain, atau muncul dalam pikiran anda sendiri. Pertanyaan ini tidak mudah menjawabnya, karena setiap orang umumnya mempunyai hal-hal yang kurang menyenangkan, yang kurang memuaskan, dalam hidupnya. Lebih dari itu, karena dinamika kehidupan, apa yang baik dan menyenangkan hari ini bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan esok hari. Kekayaan, kepandaian, kedudukan, kesehatan, keharmonisan keluarga dll. bisa hilang sewaktu-waktu.

Kebahagiaan dalam hidup manusia memang sulit didefinisikan. Apakah kebahagiaan itu ada jika lebih dari separuh hidup kita terisi dengan hal-hal yang menyenangkan? Ataukah jika kita pernah mengalami hal yang luar biasa menyenangkan setidaknya sekali seumur hidup? Atau jika kita mengakhiri hidup kita dengan rasa puas? Untuk tiap orang, definisi kebahagiaan berlainan, sehingga kebahagiaan manusia tidak mudah dibandingkan satu dengan yang lain.

Kebahagiaan atau sukacita dikatakan sebagai salah satu buah Roh yang terjadi setelah kita menjadi pengikut Yesus (Galatia 5: 22). Sukacita yang dimaksudkan disini adalah sukacita yang benar-benar abadi. Bagaimana hal ini dapat kita peroleh di dunia yang fana ini? Ini tidak dapat dijelaskan dengan pengertian duniawi.

Untuk bisa mempunyai sukacita abadi, kita tidak boleh dibatasi oleh waktu. Kenyataannya, ada waktu tertentu kita  dapat merasakan kebahagiaan, tetapi itu selalu ada akhirnya.

Untuk mengalami kebahagiaan abadi, kita tidak boleh dibatasi oleh keadaan disekeliling kita, tempat tinggal kita. Mungkin kita pernah merasakan sukacita ketika kita tinggal di satu tempat, tetapi kita tidak dapat mempertahankan sukacita itu di tempat kita yang sekarang.

Yang sering dilupakan orang adalah kenyataan bahwa sekalipun mereka dapat mempertahankan waktu dan tempat dimana mereka  pernah  merasakan kebahagiaan itu, sukacita tidak berlangsung selamanya jika mereka tidak  memperoleh apa yang benar-benar membahagiakan.

Kebahagiaan orang Kristen yang terbesar adalah karena Yesus Kristus sudah datang untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Hukuman dosa adalah kematian, tetapi dalam Yesus ada pengharapan bahwa  kita akan hidup disatu tempat dimana waktu dan keadaan tidak lagi membatasi kemampuan kita untuk menikmati kebahagiaan hidup bersama Tuhan kita. Dimana dan kapan?

Selama ini mungkin  kebahagiaan dalam Yesus belum dapat sepenuhnya kita rasakan. Tetapi pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan sebenarnya sudah memberikan kebahagiaan dengan sepenuhnya. Tuhan memungkinkan kebahagiaan abadi bisa kita nikmati sekarang juga dan disetiap saat karena:

  • Karunia keselamatan yang sudah kita terima.
  • KasihNya yang selalu menyertai kita di setiap saat dan keadaan.
  • BimbinganNya dimanapun kita berada melalui Roh Kudus.
  • Pertumbuhan iman yang kita rasakan dalam pergumulan hidup setiap hari

Satu hal yang sering kita lupakan adalah bahwa kebahagiaan sebagai buah Roh akan terjadi dengan keputusan kita sendiri dalam hidup kita. Itu tidak tergantung pada keadaan dan usia kita. Jika kita mau taat kepada Tuhan dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, kita dapat merasakan sukacita abadi mulai sekarang sampai selama-lamanya.

 

 

 

 

 

 

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

 

Benarkah cinta itu buta?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16


Dalam berbagai kisah cinta, kita mungkin pernah membaca adanya sepasang muda-mudi yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka berpendapat bahwa cinta tidak perlu dilandasi pengetahuan tentang cara hidup dan sifat calon pasangannya. Mereka tidak mau tahu akan masalah yang ada, karena bagi mereka cinta itu buta. 

Sebagai salah satu buah Roh, kasih adalah yang paling utama (Galatia 5: 22). Bagaimana kasih itu dapat dilaksanakan? Memang dalam 1 Korintus 13: 5-7 dikatakan bahwa kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Tapi apakah kasih itu hanya bersifat pasif, menutup mata atas keburukan dan kejahatan orang lain? Apakah kasih itu menerima keadaan orang lain tanpa berbuat apa-apa? Apakah kasih itu buta?

Dalam ayat Yohanes 3:16 yang dikenal oleh umat Kristen dan juga yang bukan Kristen, Tuhan yang mahakasih ditulis sebagai Tuhan yang sangat mencintai  dunia ini, sehingga Ia mengurbankan Yesus Kristus di kayu salib, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya bisa memperoleh  hidup yang abadi. Apakah kasih Tuhan itu buta?

Kalau kita menelusuri ayat-ayat Alkitab, tidak ada tanda sedikitpun yang menunjuk bahwa Tuhan itu tidak tahu atau menutup mata terhadap keadaan manusia, baik secara individu maupun kelompok. 

“Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.” Mazmur 69: 6

Standar kesucian Tuhan adalah terlalu tinggi untuk semua orang. Semua orang sudah berdosa dan seharusnya menerima hukuman mati. Justru karena itulah Tuhan melihat bahwa semua manusia membutuhkan pertolonganNya.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kasih Tuhan bukannya buta.  Tuhan melihat manusia yang tidak punya harapan, tetapi Ia mengulurkan tangan kasihNya agar manusia dapat meraihnya. Karena itu, semua manusia yang sudah diselamatkan harus juga bisa melihat keadaan manusia di sekitar kita dan berusaha untuk menolong mereka dengan kasih yang serupa. 

Kasih bukannya hanya menerima keadaan seseorang dan tidak berbuat apa-apa. Kasih itu tidak pasif. Kasih itu tidak buta. Kasih memungkinkan kita melihat kebutuhan orang lain baik jasmani maupun rohani; dan jika kita mempunyai kasih, kita akan mau dan bisa menolong mereka.

Tumbuh dan berbuah

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Satu hal yang saya sukai dengan berlibur akhir tahun ke Indonesia adalah kesempatan untuk menikmati berbagai buah-buahan tropis. Begitu banyak macamnya dan enak rasanya. Mangga, salak, sawo, duku dll., yang jarang atau tidak dapat ditemui di luar negeri.

Kitab Galatia 5: 22-23 menyebut adanya buah Roh yang terdiri dari 9 jenis. Namun heran bahwa kesembilan buah itu dirangkum dalam satu kata buah dan bukannya buah-buah. Ini menunjukkan bahwa kesembilan buah itu adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam hidup setiap orang percaya.

Kepada setiap orang yang mengikut Yesus diberikanNya Roh Kudus. Itu memang sudah dijanjikan oleh Yesus ketika Ia akan meninggalkan murid-muridNya. Roh Kudus adalah Tuhan yang tinggal dalam diri kita. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” 1 Korintus 6: 19

Dalam hidup mereka yang setia kepada Tuhan, Roh Kudus bekerja mengubah hidup mereka hari demi hari, sehingga mereka makin lama makin berbuah dalam berbagai hal yang baik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. 

Banyak orang yang berpikir bahwa sifat-sifat baik diatas adalah lumrah, dan dapat dicapai dengan usaha manusia sendiri. Tetapi, sebisa-bisanya manusia berusaha untuk hidup baik, mereka cenderung untuk  jatuh dalam hal yang jahat. Paulus mengatakan dalam Roma 7: 18-19  bahwa di dalam manusia Kristenpun, pada hakikatnya, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab bukan apa yang kita  kehendaki, yaitu yang baik, yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang sering kita perbuat.

Tuhan mengetahui kelemahan kita dan karena itu memberikan RohNya untuk menguatkan dan membimbing kita dalam hidup ini. Dengan bimbingan Roh Kudus hidup kita akan diubah secara bertahap hingga makin lama makin menyerupai Yesus. 

“…Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” 2 Korintus 3: 18

Bagi orang Kristen, Yesus adalah standar manusia baik dan hidup baik. Mereka yang tidak mengenal Yesus, tidak mempunyai standar yang benar. Mereka yang belum menerima Kristus tidak mempunyai pedoman Firman dan bimbingan Roh Kudus untuk mengalami proses pengudusan atau sanctification, yang mengubah hidup untuk bisa menuju ke arah yang benar.

Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan domba-dombaNya. Begitu juga Roh Kudus tidak akan meninggalkan mereka yang sudah menyerahkan dirinya kepada Yesus. Namun, jika kita tidak hidup sesuai dengan perintah Tuhan, kita bisa mendukakan Roh Kudus sehingga pertumbuhan rohani kita menjadi terhambat. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian,  fitnah dan kejahatan dll. dapat menyebabkan Roh untuk berdiam diri dan berhenti membaharui hidup kita.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Pagi ini marilah kita nengevaluasi hidup kita. Sudahkan buah Roh itu nampak tumbuh subur dalam hidup kita? Adakah perubahan yang terjadi dalam hidup kita sejak kita percaya? Adakah perubahan ke arah yang lebih baik yang terus menerus terjadi dalam hidup kita? Ataukah pertumbuhan itu sudah berhenti dan buah Roh itu tidak terlihat lagi?

Hidup singkat untuk apa?

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”  1 Korintus 15: 10


Untuk apa hidup ini?  Setiap orang pernah memikirkan hal ini, apalagi dalam kurun waktu yang ada, hari-hari berlalu makin cepat dengan bertambahnya usia.  Umur manusia itu memang relatip pendek jika dibandingkan dengan beberapa mahluk lain:

  • Ikan paus biru mencapai 110 tahun
  • Ikan paus Fin sampai 115 tahun
  • Kura kura Galapagos 175 tahun
  • Ikan paus kepala tombak atau Bowhead Whale 210 tahun
  • Kerang Ocean quahog 500 tahun
  • Ubur ubur Turtitopsis Nutricula, Tricladida dan ganggang Hydra diatas 15 ribu tahun.

Manusia yang beruntung bisa mencapai 100 tahun lebih, tetapi itu jarang. Di beberapa negara maju, hanya beberapa orang saja yang memiliki umur sepanjang itu. 

Dengan fakta kehidupan yang kurang bisa membesarkan hati, manusia cenderung untuk mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Hidup ini singkat, dan karena itu manusia ingin mencari kepuasan dan kebahagiaan sebesar mungkin di bumi ini selagi masih bisa. Untuk itu, mungkin orang akan memilih salah satu cara hidup dibawah ini:

  • Hidup sederhana agar pikiran tenang
  • Menikmati hidup selagi masih bisa
  • Menyibukkan diri agar penderitaan terlupakan
  • Bekerja keras untuk mencari kepuasan dan kesuksesan
  • Membaktikan hidup sepenuhnya untuk orang lain, dll.

Walaupun demikian, makna kehidupan ini masih belum terjawab. Apakah manusia hanya hidup untuk mencari kebahagiaan di bumi ini? Apakah hidup itu untuk diri sendiri atau untuk orang lain? Adakah kebahagiaan sejati di bumi? Apa yang terjadi setelah hidup ini? 

Dalam ayat diatas, Paulus menjelaskan bahwa ia telah menerima  kasih karunia Allah dan karena itu  ia tidak mau menyia-nyiakan hidupnya. Sebaliknya, ia telah bekerja lebih keras dari orang lain karena kasih karunia Allah yang menyertainya. Paulus bekeja keras sampai kematiannya sekitar umur 60 tahun sebagai seorang martir di Roma. Hidupnya singkat tetapi padat. Hidupnya digunakan secara efektif untuk hal-hal yang baik bagi dunia maupun surga.

Memang hidup itu harus diisi rasa syukur atas karunia Tuhan, terutama karunia terbesar yaitu keselamatan. Mereka yang bisa merasakan betapa besar pengurbanan Kristus akan bisa mengerti kasih Allah kepada manusia. Karena itu, mereka akan lebih bisa menghargai hidupnya, dan bisa memakai hidupnya untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Mereka akan mau dan bisa memelihara kesehatannya agar bisa melayani orang di sekitarnya, dan memuliakan Tuhan selama mungkin selagi hidup di dunia.

Bagi semua orang Kristen, hidup yang singkat harus digunakan untuk meningkatkan kedewasaan iman, untuk belajar dan mengajar firman Tuhan. Seperti Paulus, kebahagiaan kita didapat dari Tuhan karena kita bisa mendengarkan suaraNya, dan bisa menyampaikan itu kepada orang lain. Kebahagiaan datang ketika kita melihat bahwa kerajaan Tuhan dilebarkan, baik di bumi maupun di surga.

“Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.” 1 Korintus 15: 11

Dalam melebarkan kerajaan Tuhan. Paulus tidak segan  untuk berdiskusi dengan orang lain, untuk mengingatkan mereka agar hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Bagi Paulus, hidup bukan mencari persoalan tapi menghadapi persoalan. Hidup bukannya lari dari kenyataan, tetapi merasa cukup dan bahagia dalam setiap keadaan. Kebahagiaan bukan didapat dengan hidup pasif yang menghindari tantangan, tapi dengan keberanian dan perjuangan menegakkan kebenaran Tuhan. 

Pagi ini, biarlah kita bisa melihat dan mengerti makna kehidupan kita. Hidup manusia memang singkat, tetapi kita bisa menggunakannya untuk memuliakan Tuhan!

Mengapa tidak ada waktu untuk bermesraan?

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Di zaman modern ini kehidupan keluarga di negara manapun mengalami perubahan besar. Dimulai dengan adanya TV, DVD dan berbagai computer game, kemudian muncullah HP dan sosial media yang membuat hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang. Masing-masing sibuk dengan kegiatan dan kegemarannya sendiri, dan jarang ada waktu yang bisa dinikmati bersama.

Jika di Indonesia banyak orang tua kehilangan kesempatan untuk mengantar anak-anak ke sekolah atau ke rumah teman mereka karena adanya sopir, di luar negeri tiap anak yang sudah punya SIM akan membeli mobil dan jarang bertemu dengan orang tua. Hubungan orang tua dan anak sepertinya menjadi hubungan casual, tidak teratur dan hanya kalau ada perlunya saja. Pada pihak lain,  hubungan antara suami dan istri cenderung jadi formal, untuk sekedar memberi laporan keuangan dan jadwal acara masing-masing. Hubungan personal jadi luntur, tidak ada lagi keintiman dan kemesraan.

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat umum terjadi juga di antara umat Kristen. Hubungan umat Israel dengan Allah sebelum Yesus disalibkan adalah hubungan formal dan satu arah. Allah berfirman dengan perantaraan para nabi dan umat Israel tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Sekalipun hubungan yang ada bukanlah casual, secara umum tidak ada kemesraan antara Allah dan umatNya. 

Allah tidak menyukai hubungan dengan umatNya yang serba formal seperti yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi itu tidak bisa dihindari karena penebusan Yesus belum terjadi. Allah yang mengasihi manusia, menginginkan hubungan yang intim dengan umatNya. Karena itu Ia mengirimkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Dengan penebusan Kristus, hubungan kita dengan Tuhan bisa menjadi hubungan pribadi yang intim sesuai dengan tujuan penciptaan manusia pada awalnya.

Adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa sesudah pengurbanan Kristus, tidak semua orang yang mengaku sebagai domba-domba Kristus di zaman ini mengenal suaraNya. Mereka terlalu sibuk dengan acara dan kesibukan mereka sehingga sebagian kembali memakai hubungan formal dengan Tuhan: berdoa bersama dan ke gereja sekali seminggu. Mereka mendengarkan khotbah dan pengalaman pribadi pendeta. Tetapi hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan tidak terjadi karena “tidak ada waktu”.

Lebih parah lagi, banyak orang Kristen yang dalam hidup bebasnya hanya mempunyai hubungan casual dengan Tuhan. Jarang-jarang, tidak teratur, dan hanya kalau perlu, atau kalau sempat. Apalagi, saat ini rasanya lebih asyik dan nikmat untuk “bersekutu” dengan teman-teman lama lewat sosmed dan sesekali mengirim gambar-gambar “rohani” dan semboyan-semboyan agama. Seolah kita tidak lagi memerlukan seorang Gembala yang nyata dan hidup. 

Kita harus sadar bahwa Yesus, sebagai gembala yang baik, menjaga domba-dombaNya siang dan malam. Ia juga yang dengan setia selalu memanggil domba-dombaNya untuk mengikuti jalanNya.

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4

Pagi ini, kita dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan usaha untuk membina hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, atau hidup untuk diri kita sendiri dan merasa puas mempunyai hubungan formal atau casual denganNya. Mana pilihan anda?

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Mazmur 23: 1

Antara pilon dan bunglon

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”  Kisah 17: 30

Omong-omong soal berbuat kesalahan, mungkin paling enak kalau kita bisa berlagak pilon. Kita bisa mengaku gaptek, lupa, atau kurang paham aturan dan hukum. Selain itu, kita mungkin juga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Selama keadaan disekitar kita memperbolehkan, kita merasa bebas untuk berbuat apa saja yang kita mau. Lain tempat, lain sikap. Seperti bunglon…

Anda mau coba? Bagaimana kalau anda ngebut di freeway Australia untuk melanggar batas kecepatan mengemudi yang 100 km/jam sampai tertangkap polisi? Kepada polisi yang menangkap kita, mungkin kita bisa memakai salah satu alasan ini supaya dibebaskan dari denda:

  • Kan tidak ada rambunya, pak?
  • Maaf pak, tadi saya tidak lihat rambunya
  • Pak, orang lain juga begitu …
  • Maaf, saya perlu buru-buru…
  • Ini cuma sekali koq..
  • Wah, GPS saya mati!

Mungkin sulit dibayangkan bagaimana reaksi polisi itu, tetapi yang jelas pasti anda akan ditilang. Peraturannya sudah ada dan anda memiliki SIM, dengan demikian tidak ada alasan untuk melanggar batas kecepatan sekalipun anda tidak melihat rambunya.

Seperti itu jugalah hidup orang Kristen di dunia.  Kita mempunyai buku yang dinamakan Alkitab yang berisi firman Tuhan yaitu pedoman hidup. Kita mungkin tidak hafal semua ayatnya, tetapi kita tahu bahwa kita harus hidup sesuai dengan pedoman-pedoman pokok dalam Alkitab yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:40).Tetapi, jika hidup kita tidak sejalan dengan itu, mungkinkah  kita memakai salah satu dari alasan dibawah ini?

  • Ayatnya mana?
  • Saya kurang paham isi Alkitab.
  • Orang lain juga begitu.
  • Tapi ini membawa untung.
  • Ini cuma sekali saja.
  • Tadi pendeta tidak bilang apa-apa.

Mungkin kita tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Tuhan, tetapi yang jelas pasti Ia tidak menyukai jawaban kita! Alkitab sudah ada dan jika kita mengaku Kristen, tidak ada alasan bagi kita untuk melanggar firman Tuhan sekalipun lingkungan kita memungkinkan; apalagi Roh Kudus ada dan selalu siap untuk mengingatkan kita.  

Bacaan dari Kisah 17: 30 diatas menjelaskan bahwa jaman dimana manusia bisa berlagak pilon dan bertingkah laku seperti bunglon sudah lewat. Setelah Yesus datang ke dunia dan menggenapi hukum Taurat, setiap umat Tuhan, Yahudi dan bukan Yahudi, harus dapat mengerti apa yang dikendaki Tuhan dalam hidup kita (Matius 5: 17-48). 

Sebelum Kristus datang, apa yang diketahui manusia tentang Tuhan dan perintahNya masih belum jelas dan sering dipengaruhi oleh lingkungan hidup mereka.

“Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing.” Kisah 14: 16

Tetapi kedatangan Kristus membuat setiap orang percaya tidak bisa berdalih lagi dalam menjalani hidup Kristen. 

Pagi ini, marilah kita memikirkan apa yang biasa kita lakukan dalam hidup kita. Mungkin, karena kita berbeda, baik dalam hal latar belakang keluarga, pendidikan, suku, negara, pekerjaan dll., kita memiliki standar etika, hukum, budaya dan tingkah laku yang juga berbeda. Tetapi itu bukan alasan untuk mempunyai pengertian yang berbeda tentang firman Tuhan.

Seringkali sebagai manusia kita memilih apa yang paling mudah dijalankan dan yang paling menguntungkan. Dimanapun kita tinggal, Indonesia, Austalia, Amerika atau negara lain, sering kita berlagak pilon, dan terkadang hidup seperti bunglon. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kita tidak lagi bisa mempunyai hidup seperti itu. Ada hukum yang sama untuk semua orang Kristen.

Setiap orang yang mengaku anak Tuhan harus bisa menyadari apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan firman Tuhan. Ini sering tidak mudah dimengerti, apalagi jika kita kurang berdisiplin. Oleh karena itu, kita harus mau dibimbing oleh Roh Kudus agar mau belajar dengan giat; supaya kita bisa menyadari kekeliruan dan kelemahan kita, untuk bisa bertobat dari praktik-praktik lama yang keliru, sebelum kita berjumpa dengan Dia.

“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya,” Kisah 17: 31a

Kristenisasi itu bukan tugas kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:19 diatas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat diatas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan muridNya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di jaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk di baptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 diatas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia.

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk menipu mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. 

Pagi ini kita belajar tentang makna Amanat Agung yang memberi kita pengertian bahwa:

  • Yesus sudah mati untuk memungkinkan semua orang yang percaya untuk menemukan jalan keselamatan. Karena itu kabar baik harus disebarkan ke seluruh bangsa.
  • Panggilan untuk menginjil ini bukan berarti hanya untuk memberitakan kabar baik, tetapi juga untuk bisa menolong banyak orang agar mau percaya dan diselamatkan.
  • Amanat Agung bukan perintah untuk membawa semua orang di dunia untuk masuk ke surga. Tidak semua yang menerima undangan kasih akan mau atau bisa menerimanya. Tetapi undangan ini harus diberitakan ke seluruh bangsa.
  • Tuhan memberi kesempatan dan kemampuan untuk kita melayani Dia dan menyerahkan hidup kita untuk maksud pelebaran kerajaanNya. Terserah kepada kita untuk menerima panggilanNya.
  • Kita memerlukan petunjukNya untuk menentukan saat dan tujuan kita dalam mengabarkan injil. Tugas ini bukan untuk membuat kekacauan dalam masyarakat. Sebaliknya, itu adalah tugas dalam kasih, untuk memberitakan Injil kabar baik. 
  • Dalam menjalankan Amanat Agung kita harus bersandar kepada Tuhan. Karena itu, jangan mengutamakan keberhasilan kita atau menguatirkan kegagalan. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
  • Tuhan yang bekerja untuk membuka hati dan pikiran orang-orang yang kita injili. Kita sendiri tidak dapat membuat orang percaya. Tuhan saja yang bisa membuat mereka bertobat dan menerima anugerah keselamatan. Kita hanya dapat berdoa agar Tuhan menunjukkan kasihNya kepada banyak orang.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Sombong banget sih?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Banyak orang yang memandang orang Kristen sebagai orang yang sombong. Bagaimana tidak? Mereka yakin sudah diselamatkan tanpa harus berbuat baik atau berkurban. Bahkan mereka yakin bahwa di luar iman kepada Yesus tidak ada jalan keselamatan. Seringkali dengan hidup yang kocar kacir mereka percaya bahwa Tuhan lebih mencintai mereka daripada orang lain yang hidupnya kelihatan baik. Lebih-lebih lagi mereka sering mengritik cara hidup dan pola berpikir orang lain, seolah mereka sendiri yang paling benar.

Tuhan orang Kristen juga kelihatan sombong. Sebagai anak tukang kayu, Yesus mengaku sebagai anak Allah,  pemberi hidup kekal, satu dengan Allah, pengampun dosa, roti kehidupan, gembala yang baik dll. Malahan sebagai pria berumur 30an, Ia berani mengaku bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham! 

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Yohanes 8: 58

Di luar berbagai klaim yang dibuat Yesus, jumlahnya ada 20an, masih ada satu pernyataanNya yang seringkali membuat orang lain jadi naik pitam dan sebagian orang Kristen terdiam dalam keraguan. Itu semua gara-gara Yesus pernah berkata dalam Yohanes 14: 6 bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ke surga kalau tidak melalui Dia!

Hal-hal diatas seringkali membuat dilema buat orang Kristen. Pada satu pihak, mereka diperintahkan untuk mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia (Matius 28: 19-20), tetapi pada pihak yang lain mereka juga diajarkan untuk hidup damai dengan semua orang (Roma 12: 15-18). Karena itu, dalam masyarakat yang menganut paham pluralisme, seringkali umat Kristen terdesak untuk menerima kenyataan bahwa tiap orang punya jalan  ke surga yang berbeda-beda. 

Bermula dengan usaha untuk toleransi, sekarang dalam masyarakat berkembang suatu tren dimana gereja, keluarga dan manusia yang berpandangan “modern” menerima paham bahwa manusia bisa mencapai Tuhan dengan cara apapun yang dipandang baik oleh masyarakat umum.

Dalam kenyataan masa kini, banyak bertumbuh keyakinan universalisme dalam gereja, yang mengajarkan bahwa pada akhirnya Tuhan akan menyelamatkan seluruh umat manusia. Paham semacam juga tumbuh dalam keluarga Kristen yang mulai menerima pernikahan antar agama dan pernikahan antar manusia sejenis. Memang hal ini kelihatannya mencerminkan paham Kristen yang penuh kasih dan kerendahan hati, dan tidak menonjolkan “kesombongan” Yesus dan pengikutNya waktu itu.

Sebenarnya apa yang bisa kita lihat dari Yesus dengan kelahiranNya dan cara hidupNya waktu itu, menunjukkan gaya hidup yang rendah hati. Jika pemimpin dunia yang lain muncul dengan segala kemegahan dan kekayaan, Yesus dan pengikutNya tidak mempunyai rumah (Lukas 9: 58). Ia juga pernah mengatakan bahwa orang tidak perlu ragu untuk mendekatiNya, karena Ia sabar dan tidak menyombongkan keAllahanNya. Ia hanya bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi semua orang untuk hidup bahagia – sekarang dan selamanya.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus, kita berkewajiban untuk meneruskan apa yang dikatakan oleh Yesus. Kita tidak boleh mengurangi atau mengubah pernyataanNya hanya untuk bisa menghindari salah paham dengan orang lain, karena Yesus memang adalah Tuhan kita. 

Pada pihak yang lain, kita harus bisa meniru Yesus dengan kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati yang ditunjukkanNya. Jika hidup kita diisi oleh kasihNya, orang disekitar kita akan juga bisa merasakan adanya ketenangan didalam Dia. Sebagai pengikut Yesus kita harus dengan iman percaya bahwa Tuhan tetap bekerja memanggil setiap orang agar memilih jalan yang benar: Yesus.

Buat apa sih berbuat baik?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Agama Kristen memang berbeda karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, persembahan yang kita berikan tidaklah berarti apa-apa untukNya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasihNya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Tuhan menghendaki persembahan hidup kita dan bukannya persembahan materi. Persembahan materi kita hanyalah untuk menyatakan rasa syukur dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan.

Karena perbuatan baik manusia itu seolah tidak dipentingkan dalam iman Kristen, banyak orang Kristen yang kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena resikonya besar.

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dsb. Tetapi mungkin ada juga orang yang mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat bacaan kita diatas jelas mengatakan bahwa jika kita tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, kita berdosa. Ini pernyataan yang berat dan tajam. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Kita sadar bahwa mencuri misalnya, adalah perbuatan jahat, dan memberi adalah perbuatan baik. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Seringkali kita berpikir bahwa ada orang-orang lain yang ditentukan Tuhan untuk berbuat baik dan menjadi pejuang-pejuang Kristen. Kita sendiri cukup menjadi orang Kristen biasa….

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakanNya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali.

Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk berbuat baik. Sangat menyedihkan kalau orang Kristen dapat tidur lelap setelah menyaksikan kejahatan dan penderitaan yang terjadi atas diri orang lain. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 27

Kita paham kalau bisa salah paham

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Roma 12: 10

Bayangkan jika anda memiliki sifat mahatahu dan mahabijaksana. Apapun yang dilakukan orang lain terhadap anda, anda tahu sebabnya dan anda bisa mengerti apa tujuannya. Anda tidak perlu menduga-duga, curiga atau salah paham. Baik atau buruk perangai orang, anda tahu semuanya. Jadi salah paham tidak perlu terjadi.

Kesalahpahaman adalah masalah yang  menyedihkan tetapi sering terjadi karena keterbatasan manusia. Kita sering tidak atau kurang mengerti keadaan, sifat dan cara hidup orang lain dan karena itu kita hanya dapat menduga-duga. Seringkali, dugaan kita menimbulkan prasangka, kecurigaan, kekuatiran, ketakutan dan bahkan kebencian. Ini bukan saja terjadi di dalam masyarakat dan negara, tetapi juga di antara anggota keluarga dan gereja. Seringkali masalah ras, agama dan suku juga dimulai dengan kesalahpahaman. Sebagai akibatnya,  pertikaian, perkelahian dan peperangan bisa terjadi.

Apa solusi salah paham menurut Alkitab? Solusi yang bisa kita baca dari ayat diatas kelihatannya terlalu sederhana: kasih. Jika kita mempunyai kasih dan rasa hormat, kesalahpahaman tidak akan bertumbuh menjadi sesuatu yang tidak terkontrol. Penyelesaian yang terlalu simplistik menurut anda?

Salah paham tidak bisa sepenuhnya dihindari atau dihilangkan dalam keluarga, masyarakat, agama dan negara.  Ini yang harus kita pahami, bahwa salah paham itu adalah bagian dari kehidupan manusia sekalipun mungkin kita tidak menyadarinya. 

Memang dengan kemajuan pendidikan, kesadaran sosial, etika dan hukum manusia bisa lebih terbuka dan toleran satu kepada yang lain; tetapi semua itu ada batasnya. Kebijaksanaan dan pengetahuan manusia dalam bidang apapun adalah terbatas, sekalipun itu datang langsung dari Tuhan. 

“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.” 1 Korintus 13: 9

Hanya dengan kasih kita bisa mengatasi persoalan yang disebabkan oleh salah paham. Bagaimana itu mungkin? Bukankah sebagai manusia kita juga terbatas dalam kemampuan untuk mengasihi?

Tidak seperti kemampuan manusia yang lain,  kasih itu bisa dan harus berkembang menjadi sempurna dalam diri setiap umat Kristen karena Yesus sudah menunjukkan apa kasih itu. 

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Karena itulah kita harus paham bahwa salah paham yang menyebabkan kekuatiran dan ketakutan adalah kelemahan manusia yang hanya bisa diatasi oleh kasih yang adalah kekuatan dari Tuhan sendiri.

Pagi ini kita diingatkan bahwa usaha kita untuk menghilangkan kesalahpahaman di antara umat manusia itu ada batasnya. Kita tidak dapat menghilangkan semua salah paham di dunia. Salah paham dalam keluarga dan gereja adalah lumrah. Tetapi kita pasti dapat mengatasi semua akibat salah paham dengan kasih seperti yang ditunjukan oleh Yesus Kristus.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” 1 Korintus 13: 4-5