Amanat kecil yang sering terlupakan

“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10: 5-8

Kita sering mengingat “Amanat Agung” di mana Yesus memberi tahu para rasul-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15). Namun, sebelum ini, Yesus memberikan para rasul-Nya apa yang kita sebut “Amanat Terbatas. Berbeda dengan Amanat Agung yang harus kita jalankan ke seisi dunia, Amanat Kecil ini dperintahkan Yesus kepada ke dua belas murid-Nya untuk “pergi kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:6).

Yesus pada saat itu menyatakan bahwa orang yang bukan Yahudi tidak boleh mendengar Injil, sampai orang Yahudi menolaknya. Pengekangan terhadap para rasul ini hanya dalam misi pertama mereka. Ke mana pun mereka pergi, mereka harus mewartakan kepada orang Yahudi bahwa kerajaan surga sudah dekat. Mereka berkhotbah untuk menghidupkan harapan dan iman, menolak hal-hal duniawi; untuk menginspirasi akan hal-hal surgawi dan kerajaan surga,yang sudah dekat, agar manusia dapat mempersiapkannya tanpa penundaan.

Kristus memberi kuasa untuk melakukan mukjizat untuk meneguhkan penginjilan yang dilakukan mereka. Itu menunjukkan bahwa maksud dari Injil yang mereka khotbahkan adalah untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang sakit, dan untuk membangkitkan mereka yang telah mati dalam dosa. Dalam mewartakan injil tentang anugerah cuma-cuma untuk penyembuhan dan penyelamatan jiwa manusia, mereka harus menghindari “penampakan sebagai orang upahan” tetapi menunjukkan bahwa mereka adalah “duta-duta besar surgawi” yang diutus oleh Tuhan. Mereka diarahkan Yesus untuk apa yang harus dilakukan di kota-kota asing.

Hamba Kristus adalah duta perdamaian ke mana pun dia dikirim. Pesan Injil adalah untuk semua orang bahkan untuk orang-orang yang “paling jahat”, namun dia harus juga menemukan orang-orang “terbaik” di setiap tempat. Itu karena semua orang tidak layak di hadapan Tuhan. Mereka harus bisa berdoa dengan sungguh-sungguh untuk semua, dan berperilaku sopan kepada semua. Mereka juga diarahkan bagaimana harus bertindak terhadap orang yang menolak mereka. Seluruh rencana Allah harus dinyatakan, dan mereka yang tidak mau memperhatikan panggilan Injil yang penuh kasih, harus diingatkan bahwa keadaan mereka berbahaya. Hal ini harus diperhatikan dengan serius oleh semua orang yang mendengar Injil, jangan sampai hak istimewa sebagai orang Israel hanya menambah penghukuman mereka.

Meskipun kita hidup di masa sesudah diberikannya Amanat Terbatas, masih ada pelajaran penting yang dapat kita pelajari dari Amanat Terbatas yang masih berlaku hingga hari ini. Pesan spesifik yang harus dikhotbahkan para rasul adalah ini: “Kerajaan surga sudah dekat” (Matius 10:7). Meskipun kita tidak tahu kapan itu akan sepenuhnya terjadi, kita tetap harus memberitakan akan datangnya kerajaan itu. Penekanan pada hal ini penting karena memberitakan kerajaan Tuhan berarti mengajar orang lain tentang pemerintahan Kristus (Yohanes 18:36-37; Efesus 1:22-23), otoritas Kristus (Matius 28:18; Kolose 3:17), hukum Kristus (Yesaya 2:3; Matius 28:19-20), dan gereja Kristus (Matius 16:18-19) di dunia dan di surga. Pemberitaan Injil bukanlah usaha meyakinkan mereka akan kebenaran doktrin kita, karena manusia diselamatkan bulan oleh doktrin.

Ketika Yesus mengutus rasul-rasul-Nya untuk berkhotbah, mereka tidak hanya memberitakan Injil dan mengharapkan orang-orang untuk mempercayai kata-kata mereka begitu saja. Mereka harus membuktikan klaim mereka tentang kerajaan. Yesus memberi tahu mereka bagaimana hal ini akan dilakukan: “Sembuhkan yang sakit, bangkitkan yang mati, tahirkan orang kusta, usir setan” (Matius 10:8). Melalui mujizat-mujizat ini, Allah “bersaksi bersama mereka” bahwa apa yang mereka ajarkan adalah kebenaran (Ibrani 2:4). Kita tidak memiliki keajaiban dalam bentuk dan skala yang sama hari ini, namun kita masih berusaha agar orang mempercayai kata-kata kita. Sama seperti Paulus “…semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias” (Kisah 9:22), kita harus menyampaikan bukti-bukti keajaiban pekerjaan Tuhan dalam hidup kita dan orang percaya lainnya. Apa pun yang kita perbuat, adalah untuk kemuliaan Tuhan (1 Korintus 10: 31).

Tuhan tetap mengasihi manusia di zaman ini, baik yang menderita secara jasmani, atau yang mengalami kehancuran jiwa. Tuhan tetap mengerjakan berbagai keajaiban dalam hidup manusia, terutama dalam bentuk rohani. Yesus memberi tahu para rasul-Nya: “ Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Matius 10:8-10). Meskipun baik bagi mereka yang mengabdikan hidup mereka pada pemberitaan Injil untuk “mendapatkan nafkah dari Injil” (1 Korintus 9:14), motivasi utama dari setiap guru kebenaran haruslah mengajarkan kebenaran dan menolong mereka yang hancur hatinya.

Kita bisa melihat keadaan zaman sekarang, di mana banyak orang Kristen yang nampaknya lebih tertarik untuk mencari uang dan popularitas pribadi dalam mengabarkan Injil, baik secara langsung maupun melalui berbagai media. Apa yang kita butuhkan adalah orang Kristen yang menyadari adanya penderitaan manusia baik dalam hal jasmani maupun rohani, yang bertentangan dengan kasih Tuhan kepada seluruh umat manusia. Karena itulah kita harus menyadari bahwa Tuhan juga bekerja untuk menyelamatkan mereka yang percaya, melalui pelayanan kita di bidang jasmani maupun rohani.

Mendukung mereka yang memberitakan Injil adalah sama dengan persekutuan antara mereka yang memberi dan menerima dukungan (3 Yohanes 8). Ketika para rasul melakukan perjalanan dari kota ke kota, persekutuan yang mereka miliki (tinggal di rumah seseorang) harus didasarkan pada “siapa yang layak” (Matius 10:11) – bukan siapa yang dapat memberikan dukungan paling banyak, siapa yang dapat memberikan uang paling banyak dan tempat tinggal yang nyaman, atau siapa yang paling ramah dan lebih menarik. Standar persatuan kita adalah firman Tuhan (Yohanes 17:20-21). Kita tidak boleh bersekutu dengan mereka yang tidak layak (Efesus 5:11; 2 Yohanes 9-11). Ini berarti bahwa pada zaman ini, kita harus berhati-hati dalam hidup kita, untuk tidak hidup seperti orang-orang duniawi dan bersekutu dengan mereka yang terang-terangan hidup dalam dosa. Tidak hanya pergaulan yang kurang baik bisa mempengaruhi cara hidup kita, itu juga merugikan penginjilan.

Dalam upaya untuk mengajarkan Injil kepada orang lain, mungkin ada saat-saat di mana kita harus “mengibaskan debu dari kaki kita” dan melanjutkan perjalanan, seperti yang Yesus katakan kepada para rasul-Nya agar mereka lakukan (Matius 10:14). Injil adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan” (Roma 1:16). Jika seseorang tidak mau mendengarkan atau sengaja menolak untuk menerima pesan Injil, kita tidak dapat membantunya. Ketika seseorang menunjukkan bahwa dia tidak mau menerima Injil, kita perlu melanjutkan tugas kita (setidaknya untuk sementara waktu, sampai dia berubah pikiran). Ini tidak selalu mudah dilakukan, terutama ketika kita mencoba untuk mengajar keluarga dan teman. Namun itu harus dilakukan agar kita dapat mengarahkan upaya kita kepada orang lain yang mungkin lebih siap untuk menerima kebenaran.

Mereka yang menolak pesan Injil akan dihukum. Yesus melangkah lebih jauh dengan mengatakan, “Tanah Sodom dan Gomora akan lebih dapat ditoleransi pada hari penghakiman” daripada mereka yang menolak rasul-rasul-Nya (Matius 10:15). Demikian pula, mereka yang “tidak menaati Injil… akan menerima hukuman kebinasaan kekal, menjauh dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kuasa-Nya” (2 Tesalonika 1:8-9). Ini seharusnya memotivasi kita untuk mengajar orang lain, seperti yang dikatakan Paulus, “Dengan mengenal takut akan Tuhan, kami meyakinkan orang” (2 Korintus 5:11). Karena kita mengetahui nasib mereka yang tidak menaati Injil, marilah kita kerjakan dengan giat apa yang dapat kita lakukan untuk meyakinkan mereka agar percaya dan menaati kebenaran.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa kita tidak boleh melupakan intisari Amanat Terbatas yang diajarkan kepada murid-murid Yesus. Perintah Yesus itu juga bisa kita pakai sebagai pedoman hidup kita dalam mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Ada banyak hal yang baik yang kita bisa pegang sebagai bimbingan dalam kita melaksanakan Amanat Agung. Memang Amanat Terbatas ini sering dilupakan, tetapi kita sebenarnya bisa mendapatkan banyak pelajaran darinya.

Pengudusan orang Kristen: berjuang atau berserah?

https://youtube.com/watch?v=09LVu2JyXCo&feature=share

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5-7

Jika kita benar-benar orang percaya, maka kita menyadari bahwa kedudukan kita di dalam Kristus dengan sendirinya memisahkan kita dari dunia (1 Petrus 2:9-12). Bagaimanapun, kita memiliki hubungan dengan Tuhan yang hidup! Kemudian, tentunya kita setiap hari harus menjalani kehidupan baik, tidak mencoba untuk “berbaur” dengan dunia, melainkan hidup sesuai dengan Firman Tuhan saat kita mempelajari Alkitab dan bertumbuh di dalamnya. Ini membutuhkan usaha kita, tidak otomatis. Anda kurang yakin?

Mengomentari ayat di atas Calvin berkata: Karena merupakan pekerjaan yang berat dan kerja keras untuk menanggalkan kerusakan yang ada pada kita, Petrus meminta kita untuk berjuang dan melakukan segala upaya untuk tujuan ini. Dia mengisyaratkan bahwa dalam hal ini tidak boleh ada tempat yang diberikan kepada kemalasan, dan bahwa kita harus menaati Allah yang memanggil kita, tidak dengan lambat atau sembarangan, tetapi dibutuhkan kesigapan; seolah-olah dia telah berkata, “Kerahkan segala upaya, dan wujudkan upayamu kepada semua orang.”

Bagi Calvin, bertumbuh dalam kesalehan (pengudusan) adalah kerja keras. Tidak ada tempat untuk kemalasan. Kita harus mengerahkan diri untuk ketaatan dengan kecepatan dan ketekunan. Orang percaya sama sekali tidak boleh pasif dalam penyucian. Namun kemudian, saat mengomentari ayat yang sama, Calvin juga memperingatkan terhadap gagasan bahwa kitalah yang menjadikan gerakan Tuhan dalam diri kita efektif, seolah-olah pekerjaan Tuhan tidak dapat dilakukan kecuali kita mengizinkannya melakukannya. Sebaliknya, “perasaan yang benar dibentuk dalam diri kita oleh Allah, dan diwujudkan oleh Dia secara efektif.” Itu karena semua yang baik berasal dari Tuhan.

Kebijaksanaan, kesabaran, kasih — ini semua adalah karunia Allah dan Roh. Jadi ketika Petrus memberi tahu kita untuk melakukan segala upaya, dia sama sekali tidak menegaskan bahwa ini [kebajikan] adalah dari kekuatan kita, tetapi hanya menunjukkan apa yang seharusnya kita miliki, dan apa yang harus dilakukan. Sekalipun ini jelas, dalam pelaksanaannya kita bisa mengalami banyak masalah yang dimunculkan oleh dua ajaran. Apa itu?

Dua ajaran sesat yang melanda gereja tentang masalah pengudusan selama berabad-abad adalah ajaran sesat Aktivisme (Activism) dan Ketenangan (Quietism). Distorsi kembar ini bersalah karena menghilangkan salah satu kutub paradoks mengenai kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Dalam aktivisme, karya Tuhan ditelan oleh pembenaran diri manusia. Dalam ajaran ketenangan, perjuangan manusia diserahkan sepenuhnya kepada proses ilahi yang dianggap otomatis berjalan setelah anugerah keselamatan yang mutlak dari Tuhan.

Ajaran Aktivisme (bukan ajaran untuk aktif dalam hidup baik) adalah keyakinan orang yang merasa benar sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan ilahi untuk mencapai kesempurnaan. Karunia Tuhan diabaikan, dan mereka dapat mengangkat dirinya sendiri. Keyakinannya ada pada dirinya sendiri dan kemampuan moralnya. Mungkin pernyataan paling arogan yang dapat dibuat seseorang adalah ini: “Saya tidak lagi membutuhkan Kristus” atau “Ini tugas manusia semata-mata”. Atau mungkin saja sesuatu yang nampaknya baik: “Saya sudah dikaruniai kemampuan mandiri dari Tuhan”.

Ajaran Quietisme berakar pada gerakan Katolik Roma abad ke-17. Ini paling terkait dengan seorang pendeta Spanyol bernama Miguel de Molinos, seorang mistikus Prancis bernama Madame Guyon, dan seorang Uskup Agung dan penulis Prancis bernama Francois Fenelon. Mereka dikaitkan dengan gagasan bahwa pengudusan orang Kristen secara eksklusif adalah pekerjaan Roh Kudus. Dengan kata lain, sejauh menyangkut kesalehan pribadi Anda, tidak ada yang dapat Anda lakukan kecuali menyingkir, dan membiarkan Tuhan melakukan semua pekerjaan. Ini tentu ada hubungannya dengan faham Determinisme dan Fatalisme, yang meyakini bahwa segala sesuatu, baik atau buruk, sudah ditetapkan Tuhan dari mulanya.

Ajaran Ketenangan menghina Roh Kudus dengan bersikeras bahwa Tuhan sepenuhnya bertanggung jawab atas kemajuan atau kurangnya kekudusan umat Kristen. Jika si pengikut ajaran masih terus hidup dalam dosa, anggapan yang tak terucapkan adalah bahwa Tuhan kurang giat dalam pekerjaan-Nya atau Dia tidak berkeberatan atas dosanya. Kredo orang Kristen semacam ini adalah, “Lepaskan dan biarkan Tuhan” (Let go, let God). Tidak diperlukan perjuangan; tidak diperlukan perlawanan terhadap godaan. Pengudusan adalah pekerjaan Tuhan, dari awal sampai akhir. Bukankah Dia berdaulat sepenuhnya? Bukankah Tuhan memilih aku sebagaimana adanya?

Ajaran Ketenangan yang pasif dan tidak memuaskan ini adalah lebih populer dari ajaran Aktivisme di saat ini, lebih dari apa yang Anda duga. Ini disebabkan karena munculnya gereja-gereja yang memakai doktrin Reformed tinggi (Hyper-Calvinisme). Mereka mengatakan tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk memajukan pengudusan Anda. Tuhan melakukan pekerjaan di dalam diri Anda, jadi Anda harus menunggu dengan tenang dan bersikap pasif dalam prosesnya. Itu karena Anda tidak mampu untuk melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan.

Kelihatannya, ajaran Ketenangan tumbuh sebagai reaksi terhadap ajaran Aktivisme. Itu masuk diakal karena apa yang ekstrim akan menimbulkan reaksi yang ekstrim. Menanggapi apa yang mereka lihat sebagai legalisme atau moralisme – seruan untuk “melakukan lebih banyak, berusaha lebih keras” dalam kehidupan Kristen – beberapa pendeta dan pengajar telah berganti arah (pindah gereja atau berganti doktrin) sehingga mereka secara efektif mengajar jemaatnya bahwa tidak perlu bagi seorang Kristen untuk melakukan apa pun sama sekali. Itu karena segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan dan manusia tidak mampu memilih apa yang baik. Singkatnya, pesan mereka adalah: “berhentilah berpikir tentang apa yang harus Anda lakukan, dan renungkan hanya pada apa yang telah Yesus lakukan untuk Anda”. Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa orang-orang sedemikian berubah menjadi antinomian (bertendensi mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup baik) karena mereka merasa tidak perlu dan tidak bisa memilih apa yang baik.

Saat ini, Allah memanggil kita untuk mengejar kekudusan di tengah dunia yang kacau balau. Pengejaran harus dilakukan dengan kekuatan dan tekad. Kita harus melawan sampai titik darah penghabisan, bergulat dengan kekuatan, memukul tubuh kita, sambil bersukacita karena adanya kepastian bahwa Roh Kudus ada di dalam diri kita membantu, mengatur, meyakinkan, dan mendorong. Walaupun demikian, sebagian besar dari kita cenderung jatuh ke satu ajaran atau yang lain. Apakah Anda lebih cenderung menjadi pengikut ajaran Ketenangan atau Aktivisme? Kitab Suci mengesampingkan keduanya. Keduanya salah dan sesat.

Untuk mengambil satu ayat yang bisa menguatkan kita, renungkanlah apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam Filipi2: 12.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Begitulah, kita harus mengerjakan keselamatan (maju dalam kekudusan) kita sendiri. Lalu, bukankah ini berarti aktivisme? Jangan terlalu cepat, kata Paulus selanjutnya: “…karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13).

Pagi ini, Alkitab memberi kita pandangan yang lebih luas tentang bagaimana kita harus memahami kehidupan Kristen. Kita harus bekerja, dan bekerja keras, untuk kekudusan; tetapi saat kita melakukannya, kita melakukannya dengan pengetahuan bahwa Tuhanlah yang bekerja di dalam kita untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Dan sebenarnya, menurut Paulus, alasan kita tetap berjuang untuk kekudusan justru karena kita tahu bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam kita ketika kita melakukannya. Jika Anda tahu bahwa Tuhan akan bekerja di dalam Anda ketika Anda sedang bekerja, bukankah itu akan memotivasi Anda untuk bekerja lebih keras lagi?

Sanctification: to struggle or to surrender?

“For this very reason, make every effort to add to your faith goodness; and to goodness, knowledge; and to knowledge, self-control; and to self-control, perseverance; and to perseverance, godliness; and to godliness, mutual affection; and to mutual affection, love.” 2 Peter 1: 5-7

If we are truly believers, then we realize that our position in Christ automatically separates us from the world (1 Peter 2:9-12). After all, we have a relationship with the living God! Then, of course, we must live a good life every day, not trying to “mingle in” with the world, but living according to God’s Word when we study the Bible and grow in it. This sanctification process requires our efforts, as it does not happen automatically. Aren’t you sure about this?

Commenting on the above verse Calvin once said: Since it is hard work and hard work to remove the corruption that is upon us, Peter asks us to strive and make every effort for this purpose. He intimated that in this matter no place was to be given to laziness, and that we were to obey God who called us, not slowly or carelessly, but alertness required; as if he had said, “Make all efforts, and manifest your efforts upon all people.”

For Calvin, growing in godliness (sanctification) is hard work. There is no place for laziness. We must exert ourselves for obedience with speed and perseverance. Believers are absolutely not to be passive in sanctification. But later, while commenting on the same verse, Calvin also warns against the idea that it is we who make the moves of God within us effective, as if God’s work cannot be done unless we allow it to do so. On the other hand, “right feelings are formed in us by God, and are embodied by Him in an effective way.” That’s because all that is good comes from God.

Wisdom, patience, love — these are all gifts of God and the Spirit. So when Peter tells us to make every effort, he is by no means affirming that this [virtue] is within our strength, but only pointing out what we should have, and what to do. While this is obvious, in practice we can run into many of the problems raised by the two teachings. What are they?

Two heresies that have plagued the church on the subject of sanctification for centuries are the heresies of Activism and Quietism . These twin distortions are guilty of removing one of the poles of the paradox regarding God’s sovereignty and human responsibility. In Activism, God’s work is swallowed up by human self-righteousness. In the teachings of Quietism, human struggle is completely surrendered to a divine process which is considered to automatically run after God’s absolute gift of salvation.

The teachings of Activism (different from striving for good works) are the beliefs of self-righteous people. He does not need divine assistance to achieve perfection. God’s grace is neglected, and the activist can self-proclaim. His faith is in himself and his moral abilities. Perhaps the most arrogant statement a person can make is this: “I no longer need Christ” or “This is purely human work”. Or maybe something that sounds good: “I have been gifted with self-survival abilities from God.”

The teachings of Quietism have their roots in the 17th century Roman Catholic movement. It is most associated with a Spanish priest named Miguel de Molinos, a French mystic named Madame Guyon, and a French Archbishop and writer named Francois Fenelon. They are associated with the idea that the sanctification of Christians is exclusively the work of the Holy Spirit. In other words, as far as your personal godliness is concerned, there is nothing you can do except step aside, and let God do all the work. This of course has something to do with the ideas of determinism and fatalism, which believe that everything, good or bad, has been ordained by God from the beginning.

The Quietism Teachings insult the Holy Spirit by insisting that God is solely responsible for the progress or lack of holiness of Christians. If the follower of the teachings still continues to live in sin, the unspoken assumption is that God is not very active in His work or He does not mind his sin. The Christian credo of this kind is, “Let go, let God” . No struggle required; no resistance to temptation is required. Sanctification is God’s work, from beginning to end. Is He not fully sovereign? Didn’t God choose me as I am?

This passive and unsatisfying Quietism teaching is more popular than Activism teaching today, more so than you might think. This is due to the emergence of churches that use high Reformed doctrines (Hyper-Calvinism). They say there is nothing you can do to further your sanctification. God is doing the work within you, so you must wait quietly and be passive in the process. It is because you are unable to do what is good before God.

Apparently, the teachings of Quietism grew up as a reaction against the teachings of Activism. It made sense because what was extreme would elicit an extreme reaction. In response to what they see as legalism or moralism – the call to “do more, try harder” in Christian living – some pastors and teachers have changed direction (changed churches or changed doctrine) so that they are effectively teaching their congregations that there is no need for one Christian to do anything at all. That is because everything has been ordained by God and man is unable to choose what is good. In short, their message is: “stop thinking about what you should do, and meditate only on what Jesus has done for you”. Therefore, they tend to be antinomian (a tendency to ignore God’s commands to live well), because they feel it is unnecessary and impossible to choose what is good.

Today, God is calling us to pursue holiness in a world of turmoil. The pursuit must be carried out with strength and determination. We must fight to the last drop of blood, struggle with strength, beat our bodies, while rejoicing because there is certainty that the Holy Spirit is within us to help, organize, convince, and encourage. Nevertheless, most of us tend to fall for one teaching or another. Are you more likely to be aligned with Quietism or Activism? The Scriptures condemn both. Both are wrong and perverted.

To pick up a verse that can strengthen us, meditate on what the Apostle Paul said in Philippians 2: 12.

“Therefore, my dear friends, as you have always obeyed—not only in my presence, but now much more in my absence—continue to work out your salvation with fear and trembling” Philippians 2:12

Thus, we must work out our own salvation (advance in holiness). Then, doesn’t this mean Activism? Don’t be too hasty, Paul continues: “ …for it is God who works in you to will and to act in order to fulfill his good purpose. ” (Philippians 2:13).

This morning, the Bible gives us a broader view of how we should understand the Christian life. We must work, and toil, for holiness; but when we do, we do it with the knowledge that it is God working in us to make us more and more like Christ. And actually, according to Paul, the reason we keep striving for holiness is precisely because we know that God is working in us when we do. If you know that God will work in you when you are working, won’t that motivate you to work even harder?

Apakah Anda orang Farisi yang benar?

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:20

Anda mungkin pernah mendengar seseorang berkata kepada Anda, “Jangan menjadi seperti orang Farisi.” Biasanya kata-kata ini diucapkan ketika seseorang terlalu berhati-hati dalam “menjaga aturan” dan berusaha keras untuk “hidup baik” dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang Kristen. Tetapi ucapan ini bisa membuat Anda tersinggung karena jika ada satu tipe orang dalam Perjanjian Baru yang dengannya Anda tidak ingin dibandingkan, tentunya itu adalah orang Farisi. Meskipun kita dapat mempelajari kehiduipan orang Farisi dari berbagai sudut pandang, mari kita lihat bagaimana tanggapan Yesus terhadap orang Farisi dalam Injil Matius.

Orang-orang Farisi memang sering menentang Yesus dalam kitab Injil. Yesus sering dikritik oleh orang Farisi, dan Dia pada gilirannya mencela mereka karena cara mereka yang salah. Yesus bahkan menyebut orang Farisi sebagai “keturunan ular beludak”. Dia secara tegas memperingatkan murid-muridnya untuk tidak mengikuti ajaran mereka. Tapi apa sebenarnya masalah orang Farisi? Apakah karena mereka terlalu peduli untuk mengikuti hukum Allah? Atau apakah itu sesuatu yang lain?

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ”Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Matius 3:7

Berlawanan dengan apa yang mungkin pernah Anda dengar, Yesus tidak menegur orang Farisi karena terlalu memperhatikan hukum Allah. Yesus tidak pernah merendahkan atau meremehkan hukum Allah. Di mana kelihatannya Dia meremehkannya (kontroversi mengenai hari Sabat, misalnya), Yesus malah mengkritik kesalahpahaman dan penyelewengan hukum Allah. Orang-orang Farisi mengira mereka berada di jalur yang benar, tetapi Yesus menunjukkan sebaliknya. Yesus adalah kebenaran yang tidak dapat dipungkiri.

Bukannya mengkritik orang Farisi karena terlalu berfokus pada hukum Allah, Yesus mengkritik mereka karena tidak cukup peduli dengan hukum Allah yang tertulis. Mereka tidak terlalu memperhatikannya; mereka memberikannya terlalu sedikit perhatian. Ketertarikan Yesus untuk memperhatikan hukum dengan saksama terbukti dalam Khotbah di Bukit (Matius 5). Meskipun khotnah itu mungkin yang paling terkenal dari semua ajaran Yesus, itu juga mengandung beberapa pesan yang paling sulit untuk dipahami. Apakah Yesus mengajarkan bahwa hukum Allah tidak mungkin atau tidak perlu dipatuhi? Apakah dia mengajarkan perfeksionisme Kristen? Jawabannya tidak keduanya. Yesus tidak mengajarkan antinomianisme maupun legalisme (kedua “isme” ini sudah pernah dibahas sebelumnya).

Dalam Khotbah di Bukit Yesus menunjukkan relevansi hukum Allah yang sedang berlangsung, dan peran-Nya sendiri dalam memenuhi hukum Allah. Dia menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus menaati hukum Allah, dan Dia menunjukkan kepada kita bagaimana standar-Nya lebih besar dari yang kita bayangkan. Bagian yang penting adalah Matius 5:17–20. Dalam Matius 5:17 Yesus menyangkal bahwa Ia datang untuk meniadakan hukum. Mengantisipasi kesalahpahaman di kemudian hari tentang hukum dalam kehidupan Kristen, Yesus menyangkal bahwa hukum itu ditiadakan. Sebaliknya, Yesus menyatakan bahwa Dia datang untuk menggenapi hukum!

Kata “menggenapi” adalah kata kunci dalam Matius yang menyoroti Kristus dan tugas unik-Nya dalam mencapai keselamatan. Yesus mengatakan, dengan kata lain, bahwa Dia adalah penggenapan yang tepat dari hukum. Matius 5:18 (“Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”) menegaskan bahwa Yesus tidak mengurangi hukum, tetapi berbicara tentang keabadian hukum dan pemenuhannya. Bahwa Yesus tidak datang untuk meniadakan hukum terbukti dalam Matius 5:21–48. Ayat-ayat ini sering disebut “antitesis” karena Yesus bertentangan dengan apa yang dipikirkan banyak orang tentang hukum Allah. Mengapa begitu?

Ketika Yesus berkata dalam Matius 5: “Kamu telah mendengar firman, tetapi Aku berkata kepadamu,” Dia tidak bertentangan dengan hukum Allah itu sendiri. Sebaliknya, Dia mengoreksi kesalahpahaman tentang hukum Allah di mana nilai spiritual dari hukum itu diencerkan menjadi ketaatan eksternal saja. Yesus memanggil kita kembali ke hukum Allah dan menunjukkan betapa ketaatan sejati lebih dalam dari yang kita bayangkan. Dalam hal ini adalah pelajaran bahwa empat yang pertama dari enam “antitesis” tampaknya mengacu pada Sepuluh Perintah. Yesus menunjukkan kepada kita apa yang diminta oleh Sepuluh Perintah.

Dalam Khotbah di Bukit kita melihat bahwa hukum Allah menuntut kita lebih dari sekadar ketaatan lahiriah, dan kita tidak dapat benar-benar memahami hukum Allah terlepas dari Orang yang memenuhi hukum itu. Khotbah di Bukit, dengan kata lain, adalah tentang hukum Allah yang dilaksanakan (apa yang Yesus lakukan), dan hukum Allah diterapkan (relevansinya dengan kehidupan kita). Ini membawa kita ke salah satu perikop yang selalu membingungkan dalam Khotbah di Bukit. Matius 5:20: “Sebab Aku berkata kepadamu bahwa kecuali kesalehanmu melampaui orang Farisi dan ahli Taurat, kamu pasti tidak akan masuk kerajaan surga.”

Banyak interpretasi dari bagian ini tampaknya memutarbalikkannya. Sering dipikirkan: Keadilbenaran orang Farisi menunjuk pada pemeliharaan aturan mereka yang sangat ketat. Jika satu-satunya cara kita dapat memasuki kerajaan surga adalah menjadi pemelihara aturan yang lebih baik daripada orang Farisi, maka kita semua tidak memiliki harapan. Yesus pasti memaksudkan sesuatu yang lain, begitu mungkin pikiran kita. Dia tidak mendorong pemeliharaan aturan yang paling benar, tetapi menunjukkan kepada kita seberapa jauh kita gagal. Begitulah banyak orang yang menafsirkan ayat itu. Namun, pendekatan ini justru salah arah.

Panggilan untuk kebenaran yang lebih besar dalam Matius 5:20 adalah panggilan nyata untuk kebenaran hidup. Ini tidak datang dengan menghindari hukum Allah, tetapi dengan menunjukkan komitmen yang lebih dalam pada kebenaran daripada orang Farisi—terlepas dari jenis aturan tertentu yang mereka patuhi. Orang-orang Farisi mengira mereka berada di jalur yang benar, tetapi Yesus menunjukkan sebaliknya.

Kebenaran orang Farisi tidak cukup setidaknya dalam dua hal. Pertama, mereka tidak memberikan perhatian yang cukup pada kedalaman hukum Tuhan. Mereka memandang kesalehan—setidaknya dalam praktik—sebagai sesuatu yang lahiriah, yang bisa dipamerkan. Inilah mengapa Yesus mengkritik mereka karena melewatkan bagian terpenting dari hukum (Matius 23:23). Mereka adalah kuburan bercat putih. Mereka terlihat bagus di luar, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang belulang orang mati (Matius 23:27). Aturan orang Farisi adalah kosong. Mereka tidak memberikan perhatian yang cukup pada bagian terpenting dari hukum Allah. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk mengangkat tradisi manusia ke posisi status seperti hukum, melanggar hukum Allah dalam prosesnya (Matius 15:5-9).

Kedua, mereka tidak hanya kehilangan karakter sejati dari kebenaran yang dituntut dalam hukum Allah, mereka juga tidak mengerti peran Yesus dalam hubungannya dengan hukum. Dalam terang inilah Matius 5:19 bisa kita mengerti: “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

Pagi ini, pertanyaan bagi Anda adalah:” Apakah Anda orang Farisi yang benar? Saya harap Anda menjawab dengan “ya”. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa, dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Dengan demikian kita akan mau melakukan dan mengajarkan perintah-perintah Tuhan dalam Alkitab dengan kesungguhan hati, tanpa merasa takut akan adanya kemungkinan munculnya kritik dari orang lain. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita bukanlah orang yang sudah sempurna, tetapi adalah orang yang selalu berusaha dengan sepenuh hati, jiwa dan akal budi untuk melaksanakan hukum kasih dengan sepenuhnya.

Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40

Tanggung jawab manusia

Hyper-Calvinisme menyimpulkan bahwa, karena manusia tersesat dalam dosa dan tidak mampu dari diri mereka sendiri untuk bertobat dan percaya, adalah suatu kesalahan untuk memerintahkan mereka memikul tanggung jawabnya. Perintah seperti itu akan menyiratkan bahwa mereka dapat bertobat dan percaya. Karena itu mereka hanya bisa bergantung pada keyakinan bahwa mereka adalah orang yang sudah dipilih sekalipun tidak mempunyai hidup yang bertanggung jawab kepada Tuhan.

Antara Legalisme dan Antinomianisme: hanya sekulit bawang

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Dalam beberapa tahun terakhir, para pendeta dan teolog telah memberikan banyak penekanan pada dua kategori utama kesalahan teologis yang dapat membuat orang Kristen bingung. Kategori-kategori ini, di mana banyak terjadi kesalahan teologis, adalah legalisme dan antinomianisme. Istilah-istilah ini tentu saja bukan suatu yang jarang ditemui. Para teolog sepanjang sejarah Protestantisme telah menggunakan kedua istilah ini ketika menangani kesalahan doktrinal dalam gereja. Karena itu, tepat bagi kita untuk memahami bahwa kedua kesalahan ini selalu menjadi ancaman bagi pelayanan Injil yang sejati.

Sangat penting bagi kita untuk menerima kenyataan ini saat kita berusaha melindungi hati dan pikiran kita sendiri dari apa yang terus-menerus berusaha merampok kemuliaan Allah dengan memutarbalikkan kasih karunia Allah kita di dalam Kristus. Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kaum Legalis (sadar atau tidak) hanya akan berusaha menentang antinomianisme dan kaum Antinomian (sadar atau tidak sadar) hanya akan berusaha menentang legalisme. Sebaliknya, orang percaya sejati akan selalu melihat kedua pandangan ini sebagai musuh besar Injil, dan akan, dengan tekad yang sungguh-sungguh, memakai Injil untuk melawan mereka. Jadi, bagaimana kita mendefinisikan kedua kesalahan ini? Bagaimana mereka muncul dalam kehidupan orang percaya? Dan bagaimana kita dengan kasih karunia Tuhan dapat “memperbaikinya dalam media kebenaran Ilahi yang tepat?”

Menurut definisi, legalisme adalah menambahkan sesuatu pada karya Kristus yang telah diselesaikan—dan percaya pada apa pun selain, atau sebagai tambahan, Kristus dan karya paripurna-Nya—untuk berdiri di hadapan Allah seperti seorang Farisi yang menyombongkan perbuatan baiknya. Antinomianisme adalah penyangkalan atau pengesampingan hukum Allah yang disengaja atau tidak disengaja dalam kehidupan orang percaya karena kepercayaan bahwa anugerah keselamatan memberi izin untuk hidup bebas dari hukum Tuhan. Legalisme meremehkan keberdosaan manusia dan kenyataan dari dosa yang tetap ada dalam kehidupan orang percaya. Antinomianisme mengecilkan kekejian dosa dan sifat merusak dosa dalam kehidupan orang percaya. Di permukaan, tampaknya kedua kecenderungan ini mempunyai kesalahan terbatas, yang pertama hanya pada bidang pembenaran apa yang tidak benar dan yang kedua hanya pada bidang pengudusan apa yang tidak kudus; namun demikian, penting bagi kita untuk mengingat bahwa kedua kesalahan tersebut pada akhirnya mempengaruhi cara hidup pengikut doktrinnya.

Ketika Tuhan kita Yesus berinteraksi dengan para Pengacara, Ahli Taurat dan Orang Farisi selama pelayanan-Nya di bumi, Dia mencatat bahwa mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk membenarkan diri mereka sendiri di hadapan manusia atas dasar apa yang mereka lakukan (Lukas 16:15). Mereka menginginkan pengakuan dan pujian dari manusia. Ketika Yesus memberikan kisah tentang orang Farisi dan pemungut cukai, Dia mencatat bahwa orang Farisi telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa kasih karunia Allah telah membuatnya lebih baik daripada yang lain dan oleh karena itu, dia diterima oleh Allah atas dasar apa yang dia lakukan dan tidak lakukan. Pemungut cukai, sebaliknya, menundukkan kepalanya, memukul dadanya dan berteriak dengan putus asa, “Kasihanilah aku orang berdosa.” Yesus menjelaskan bahwa pemungut cukai pulang dengan alasan yang dibenarkan daripada orang Farisi itu. Kisah ini membuktikan bahwa inti dari legalisme adalah kepercayaan diri untuk berdiri di hadapan Tuhan karena keyakinan akan kebenaran diri sendiri.

Namun, ada dimensi lain dari Legalisme. Legalisme sebenarnya ternyata merupakan bentuk Antinomianisme yang lebih buruk daripada Antinomianisme yang ingin dilawannya. Dalam Matius 15:3 dan 6, Tuhan kita pada dasarnya mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa dengan menambahkan perintah-perintah pada Hukum Allah mereka telah mengurangi Hukum Allah. Mereka mengesampingkan perintah-perintah Allah dalam upaya menegakkan peraturan mereka sendiri. Ini penting untuk kita pahami. Legalisme selalu berakhir dengan antinomianisme, dan antinomianisme selalu berakhir dengan legalisme. Ini bukan hanya terjadi dalam satu kelompok orang Kristen, tetapi juga bisa terlihat dalam karakter seseorang dalam hidupnya sehari-hari. Dua pandangan ini adalah dua sisi dari sebuan koin dan mencerminkan kehendak manusia yang salah. Kehendak untuk meninggikan diri sendiri.

Antinomianisme pada zaman Apostolik adalah kesalahan doktrinal yang muncul sebagai reaksi terhadap legalisme yang dilawan oleh Yesus dan para Rasul. Beberapa pendengar Yakobus menggunakan doktrin pembenaran oleh iman saja sebagai dalih untuk berpuas diri dengan kehidupan yang tidak saleh. Ada berbagai bentuk Antinomianisme yang perlu ditonjolkan. Ada antinomianisme doktrinal yang secara terang-terangan menolak penerapan hukum Allah kepada orang percaya dalam kehidupan Kristen. Sebaliknya, ada antinomianisme praktis yang memberikan pedoman secara basa-basi penerapan hukum moral dalam kehidupan orang beriman, tetapi mengabaikannya dalam praktik. Sementara kita harus berusaha sekuat tenaga dalam menangani masalah ini, kita harus dengan berani menyatakan bahwa antinomianisme dalam bentuk apapun adalah penyimpangan dari kasih karunia Allah yang mengajar kita untuk menyangkal adanya kefasikan dan nafsu duniawi dalam hidup kita, dan untuk hidup dengan tenang dalam kebenaran palsu atau dalam keyakinan bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan.

Seperti yang telah kita catat bahwa legalisme menjadi suatu bentuk antinomianisme, maka kita harus mengakui bahwa antinomianisme juga menjadi bentuk legalismenya sendiri. Ketika pria dan wanita mengesampingkan keabsahan hukum Allah atas nama “kasih karunia” mereka akhirnya menggantinya dengan beberapa aturan dan peraturan lainnya. Tidak mungkin bagi seseorang—dalam nama Kristus—untuk hidup sebagai seorang Antinomian yang konsisten. Dalam kenyataannya, orang Kristen yang tidak mau “diperbudak “hukum adalah mereka yang paling bersikeras (secara legalistik) bahwa Hukum Allah sama sekali tidak mengikat mereka yang ada di dalam Kristus. Ada sebuah ironi di sini yang seharusnya menunjukkan kepada kita betapa parahnya kesalahan itu.

Karena kedua kesalahan itu berasal dari motif daging yang sama, usaha untuk mengoreksi satu kesalahan dengan memakai yang lain akan selalu berakhir dengan kegagalan. Teolog Reformed Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa kita tidak dapat menyembuhkan kesalahan legalisme dengan memercikkan sedikit antinomianisme, dan kita tidak dapat menyembuhkan kesalahan antinomianisme dengan memercikkan sedikit legalisme—tidak peduli betapa mudahnya koreksi itu dalam bayangan kita. Dalam kenyataannya kita semua cenderung melakukan hal itu ketika kita melihat jejak pertama dari satu atau kesalahan lain dalam pengalaman Kristen kita.

Saat kita lebih mempertimbangkan berbagai aspek dari dua perusak Injil ini, kita mengamati bahwa ada berbagai cara di mana kedua kesalahan ini sering menyelinap tanpa disadari. Seringkali tidak terlihat dari dua kesalahan ini ketika mereka memanifestasikan dirinya dalam hidup kita. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin saja dalam keluarga Kristen ada seorang ayah yang legalistik, menuntut anak-anaknya untuk menghormati dia dengan cara-cara yang berlebihan dan mengharuskan mereka untuk selalu tunduk kepadanya. Begitu juga sang istri diharuskan untuk tunduk dalam arti selalu menuruti keputusan suami. Semua itu dilakukan seperti apa yang disebutkan dalam Alkitab tanpa adanya pengertian yang benar. Sudah tentu, dengan pelaksanaan hukum Tuhan secara keliru, mereka yang legalistik ini sebenarnya bertindak secara antinomian. Lebih menarik, mereka yang legalistik mungkin saja adalah anggota gereja yang menganut pandangan yang cenderung antinomian, dan begitu juga sebaliknya.

Mereka yang cenderung bersikap antinomian sebenarnya lebih mudah untuk diamati dalam kehidupan masyarakat modern. Kita bisa mengerti bagaimana kecenderungan sebagian orang Kristen yang tidak merasa canggung untuk untuk berbohong kecil, sekalipun ini bisa berkembang menjadi kebohongan dan penipuan dalam dunia bisnis. Selain itu, usaha mencari uang sebanyak-banyaknya sering berakibat kebalnya orang Kristen terhadap dosa ketamakan. Adanya peringatan tentang bahaya “tujuh dosa yang mematikan” selama hidup di dunia juga sering diabaikan dengan keyakinan bahwa tidak ada dosa yang bisa membinasakan orang Kristen sejati. Dengan kesombongan itu, mereka secara sadar atau tidak akan menganggap semua dosa itu adalah bagian dari ketidaksempurnaan yang seharusnya tetap ada dalam hidup orang Kristen sejati selama di dunia. Inilah yang kemudian diajarkan kepada orang lain sebagai sesuatu yang “normal” dan “legal”, yang harus diterima sebagai kebenaran.

Pagi ini, kita bisa melihat adanya dua kesalahan serius yang bisa terjadi dalam pandangan orang Kristen, yang tidak akan membawa kemuliaan kepada Tuhan. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus sadar bahwa apa pun yang kita lakukan haruslah untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk menyokong apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Pertentangan antara dua kutub yang ektrim ini tidak akan dapat diselesaikan jika orang Kristen tidak sadar bahwa adanya kedua pandangan ini justru sangat merugikan nama baik Tuhan dan gereja-Nya. Biarlah kita bisa meninjau cara hidup kita masing-masing agar kita tidak terjebak di antara dua keadaan yang kelihatannya sangat berbeda, tetapi dalam kenyataannya hanya berbeda sekulit bawang.

Peran Tuhan dan peran manusia dalam keselamatan

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” Roma 3:23-26 TB

Topik ini telah menjadi perdebatan selama berabad-abad di Gereja. Tidak berlebihan jika kita menyatakan kalau perdebatan mengenai ini memang terkait inti dari Injil itu sendiri. Ketika kita membahas peran Tuhan dan peran manusia mengenai keselamatan, ada dua faham yang bertolak belakang, yaitu faham monergisme dan faham sinergisme. Monergisme, yang berasal kata Yunani yang berarti “bekerja sendirian/sepihak,” adalah pandangan yang menganggap hanya Allah sendiri yang berperan dalam keselamatan kita. Sinergisme, yang juga berasal dari kata Yunani, dan berarti “bekerja bersama-sama/kerjasama dua pihak,” adalah pandangan yang menganggap Allah bekerja bersama-sama dengan manusia terkait keselamatan.

Kedua istilah ini kemudian dikenal sebagai bagian dari Calvinisme (monergisme) dan Arminianisme (sinergisme). Dalam kenyataannya, orang bisa mempunyai berbagai pandangan yang berlainan di antara kedua kutub teologi ini sekalipun keduanya mengakui bahwa baik Tuhan maupun manusia harus melakukan sesuatu sebelum manusia dapat diselamatkan. Ada golongan Kristen yang seakan merendahkan perlunya tindakan manusia, dan ada pula yang seakan merendahkan pentingnya bimbingan Ilahi.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tindakan Ilahi dan manusia sebagai hal yang penting dalam rencana keselamatan Allah. Ini tidak berarti bahwa manusia tidak perlu menjawab panggialn Ilahi karena Tuhan sudah menentukan siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka. Sebaliknya, ini bukan berarti rencana keselamatan Tuhan bergantung pada kehendak manusia. Pengakuan Westminster dalam hal ini membantu kita untuk bisa mengerti apa yang dikatakan Alkitab.

Apa peran manusia dalam rencana keselamatan?

1. Seseorang harus bertobat dan percaya untuk diselamatkan.

Tidak ada seorang pun yang pernah diampuni dan dijadikan anak Allah yang tidak mau berbalik dari dosa kepada Kristus. Tidak ada di mana pun di dalam Alkitab bahkan mengisyaratkan bahwa manusia dapat diselamatkan melalui karunia Tuhan tanpa pertobatan dan iman. Firman selalu menyatakan hal-hal ini penting sebelum seseorang dapat diselamatkan. Satu-satunya jawaban Alkitab untuk pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan untuk diselamatkan?” adalah “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan diselamatkan.”

2. Setiap orang yang bertobat dan percaya Injil akan diselamatkan.

Setiap jiwa, tanpa kecuali, yang menjawab perintah Injil untuk datang kepada Kristus akan diterima dan diampuni oleh Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Jika kita dapat benar-benar yakin akan isi Alkitab, kita dapat yakin bahwa Kristus tidak akan membatalkan janji-Nya untuk menerima “semua orang yang datang kepada-Nya”.

3. Pertobatan dan iman merupakan tindakan perseorangan yang bebas (yaitu secara sukarela, bukan dipaksa).

Manusia, dengan pikiran, hati, dan kemauannya sendiri harus meninggalkan dosa dan menerima Kristus. Berpaling dari dosa dan menjangkau dalam iman kepada Kristus adalah tindakan manusia, dan setiap orang yang menanggapi panggilan Injil melakukannya karena dia dengan jujur ingin melakukannya. Dia ingin diampuni dan dia hanya bisa diampuni dengan bertobat dan percaya. Tidak seorang pun, termasuk Tuhan, dapat mewakili kita untuk bertobat dari dosa untuk kita, kita harus melakukannya. Tidak seorang pun dapat mempercayai Kristus untuk “menggantikan kita”; sebaliknya, kita harus secara pribadi, sadar, dan rela mempercayai Dia untuk bisa diselamatkan.

Ketiga hal: pikiran, hati, dan kehendak manusia berdosa, yang harus menerima kebenaran Injil, tidak memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran tersebut atau bahkan berkeinginan atau berkehendak untuk memiliki kemampuan tersebut. Faktanya justru kebalikannya yang benar. Kebebasan manusia berdosa tidak hanya menyebabkan hilangnya keinginan untuk datang kepada Kristus, dan setiap bagian dari sifatnya secara aktif menentang Kristus dan kebenaran.

Menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukanlah “tanpa tindakan” yang pasif, melainkan pilihan yang disengaja. Itu adalah dengan sengaja memilih untuk berkata “tidak” kepada Kristus dan “ya” kepada diri sendiri dan dosa. Tidak ada seorang pun yang “netral” sehubungan dengan Tuhan dan otoritas-Nya. Ketidakpercayaan adalah tindakan pikiran, hati, dan kehendak yang disengaja seperti halnya iman. Inilah yang Yesus maksudkan dalam Yohanes 5:40 ketika Dia berkata, “Kamu tidak mau (sengaja membuat pilihan) datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.”

Apa peran Tuhan dalam rencana keselamatan?

1. Alkitab menyatakan bahwa manusia, karena sifatnya yang berdosa, sama sekali tidak dapat bertobat dan percaya dengan usaha sendiri.

Beberapa teks Akitab yang secara tegas menyatakan beberapa hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang yang terhilang:

  • Manusia tidak dapat melihat kebenaran – sampai saat dia dilahirkan kembali. (Yohanes 3:3)
  • Manusia tidak dapat mengerti – sampai ia diberi sifat baru terlebih dahulu. (I Kor 2:14)
  • Manusia tidak dapat datang kepada Yesus – sebelum dia dipanggil secara efektif oleh Roh Kudus. (Yohanes 6:44-45)

Ada banyak ayat Alkitab yang menyebutkan ketidakbisaan manusia dalam usaha mencapai keselamatan, tetapi ketiga poin di atas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa seorang pendosa mutlak tidak dapat (perhatikan bahwa ini bukan hanya “tidak mau”) datang kepada Kristus sampai Allah terlebih dahulu melakukan “sesuatu” dalam sifat pendosa itu. Tindakan Allah harus terjadi sebelum manusia bisa bertindak. “Sesuatu” itu adalah apa yang Alkitab sebut regenerasi, atau kelahiran baru, dan itu adalah karya eksklusif Allah Roh Kudus (lahir baru di sini berbeda dengan pengertian Arminianisme). Manusia tidak memiliki bagian apa pun dalam regenerasi.

2. Kelahiran baru, atau regenerasi, adalah apa yang terjadi ketikaTuhan memberi kita kehidupan rohani yang memampukan kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan (bertobat dan percaya), tetapi yang sebelumnya tidak dapat kita lakukan karena belenggu dosa kita.

Ketika Alkitab berkata bahwa manusia mati dalam dosa, itu berarti pikiran, hati, dan kehendak manusia semuanya mati secara rohani dalam dosa. Ketika Alkitab berbicara tentang keberadaan kita dalam “perbudakan dosa”, itu berarti bahwa seluruh keberadaan kita, termasuk kehendak kita, berada di bawah perbudakan dan kuasa dosa. Kita memang membutuhkan Kristus untuk mati dan membayar hukuman dosa kita, tetapi kita juga sangat membutuhkan Roh Kudus untuk memberi kita sifat baru dalam kelahiran kembali. Anak Allah membebaskan kita secara sah dari hukuman dosa, tetapi hanya Roh Kudus yang dapat membebaskan kita dari kuasa dan kematian kebobrokan kita dalam dosa. Kita membutuhkan pengampunan untuk diselamatkan, dan Kristus memberikan pengampunan dan kebenaran yang lengkap bagi kita dalam kematian-Nya. Namun, kita juga membutuhkan kehidupan dan kemampuan rohani, dan Roh Kudus menyediakannya bagi kita dalam kelahiran kembali. Ini adalah karya pembaharuan Roh Kudus yang memampukan kita menerima karya penebusan Kristus dengan iman yang benar.

3. Iman dan pertobatan terjadi setelah lahir baru. Anugerah Allah tidak hanya memberikan keselamatan, tetapi kuasa-Nya juga memberi kita kemampuan untuk menginginkan dan menerimanya.

Allah bekerja di dalam kita “baik kemauan maupun pekerjaan”. Pekerjaan-Nya di dalam kita untuk “menghendaki” adalah kelahiran baru, dan pekerjaan pembaharuan (kelahiran baru) ini sepenuhnya adalah pekerjaan Roh Kudus. Saat kita melupakan perbedaan antara “diselamatkan oleh iman” (tindakan manusia) dan “dilahirkan kembali oleh Roh Kudus” (tindakan Allah), kita sedang menuju ke arah kebingungan dan masalah.

Jika perlunya pekerjaan Roh Kudus untuk mengarahkan kemauan manusia diabaikan secara teologis, tidak lama kemudian hal itu bisa diabaikan dalam praktik hidup baru yang berpuat pada kemampuan jasmani manusia. Pada pihak yang lain, mereka yang mengabaikan peranan manusia dalam keselamatan dan hidup baru akan menghadapi kesulitan untuk melepaskan diri dari pengaruh fatalisme.

Sebagai penutup, Poin 4 dari pengakuan Westminster menyatakan bahwa ketika Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Bagaimana dengan hidup Anda saat ini?

Bahan dari “God’s Part and Man’s Part in Salvation” oleh John G. Reisinger (Monergism)

Kita tidak bisa ke surga tanpa karunia Tuhan, kita bisa ke neraka dengan usaha sendiri

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Galatia 6: 7-8

Apakah manusia mempunyai kehendak bebas dalam hal keselamatan? Semua orang Kristen akan menjawab “ya”, kecuali mereka yang tergolong hyper-calvinist. Walaupun demikian, pengertian tentang kehendak bebas mungkin berbeda-beda jika kita membandingkan apa yang diyakini setiap orang. Satu hal yang pasti dengan kehendak bebas adalah kenyataan bahwa manusia hanya bebas memilih, tetapi apa yang terjadi haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang bisa memilih mengikut Yesus atau mengikut iblis, tetapi apa yang akhirnya terjadi haruslah seizin Tuhan.

Jika sebagian manusia memilih untuk mengikut Yesus setelah mendengarkan panggilan-Nya, itu hanya dimungkinkan karena kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Jika manusia memilih untuk ke neraka, itu adalah dalam kodratnya, ia mampu dari awalnya kerena adanya dosa.

Apakah ada orang yang memilih untuk pergi ke neraka? Tidak ada.Yang diinginkan orang berdosa bukanlah neraka, melainkan dosa yang nampaknya nikmat dan nyaman. Bahwa neraka adalah konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa yang membawa kebinasaan tidaklah membuat konsekuensi itu diinginkan. Itu bukan yang diinginkan orang – tentu saja bukan yang “paling mereka inginkan”. Menginginkan dosa tidak sama dengan menginginkan neraka seperti halnya menginginkan coklat tidak sama dengan menginginkan kegemukan. Atau menginginkan rokok tidak sama dengan menginginkan kanker.

Manusia yang tetap hidup dalam dosa yang diinginkannya akan ke neraka, dan adalah benar bahwa Tuhan yang mahaadil mengirim mereka ke neraka. Ini adalah alkitabiah. Tuhan yang mahasuci pasti mengirim orang yang menolak penebusan ke neraka. Dia memang menjatuhkan hukuman, dan Ia mengeksekusinya. Memang, lebih buruk dari itu. Tuhan tidak hanya mengirim, dia melempar. “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” (Wahyu 20:15).

Alasan Alkitab berbicara tentang orang yang dilempar ke neraka dan itu karena tidak ada orang yang mau pergi ke sana begitu mereka melihat apa itu sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang berdiri di tepi lautan api yang melompat masuk. Mereka tidak memilihnya, dan mereka tidak menginginkannya. Tetapi mereka telah memilih dosa. Dan semua dosa bisa membawa kebinasaan. Mereka menginginkan dosa secara bebas, tetapi tidak menginginkan hukuman itu. Ketika mereka sampai di tepi lautan api, mereka harus dilemparkan ke dalamnya oleh Tuhan.

Yohanes 3:18 menjelaskan dalam uraian yang paling sederhana tentang siapa yang akan pergi ke surga dan siapa yang akan pergi ke neraka: “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Jadi, mereka yang masuk neraka adalah mereka yang tidak percaya pada nama Yesus sehingga dengan bebas hidup dalam dosa. “Percaya” adalah melampaui pengenalan melalui pikiran dan keyakinan. Untuk percaya kepada Kristus untuk keselamatan membutuhkan perubahan dalam hal kesetiaan melalui pekerjaan Roh Kudus. Kita berhenti menyembah diri kita sendiri dan benda-benda duniawi, kita meninggalkan dosa kita, dan kita mulai menyembah Allah dengan hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita (Matius 22:36–37; Markus 12:30).

Tuhan menginginkan agar setiap orang menjalani kekekalan bersama-Nya (Matius 18:14; 2 Petrus 3:9), tetapi Dia membiarkan kita untuk mengambil keputusan untuk menerima atau menolak Dia (Yohanes 4:14). Siapa pun yang menginginkannya dapat pergi ke surga (Yohanes 1:12). Bagaimana manusia dapat menginginkan surga yang belum pernah dilihatnya? Yohanes 1:10–12 menunjukkan kepada kita masalah ini dan solusinya: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percayar dalam nama-Nya.”

Pagi ini, kita belajar dari firman Tuhan mengenai kehendak bebas yang dimungkinkan oleh pekerjaan Tuhan. Kita dapat memilih untuk percaya pada penebusanYesus untuk dosa kita, atau kita dapat memilih untuk membayar dosa kita sendiri – tetapi kita harus ingat bahwa pembayaran untuk dosa kita adalah kekekalan di neraka. Penulis Kristen terkenal C. S. Lewis mengatakannya seperti ini: “Pada akhirnya hanya ada dua jenis manusia: mereka yang berkata kepada Tuhan, ‘Kehendak-Mu jadilah,’ dan mereka yang kepadanya Tuhan berkata, ‘Kehendakmu jadilah.’” Selama masih Anda hidup di dunia, pilihan ada di tangan Anda.