Hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ”Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ”Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. 1 Korintus 11:23-29

Seminggu lagi kita akan merayakan hari Jumat Agung, hari kematian Yesus di kayu salib. Biasanya, kebaktian ibadah Jumat Agung selalu disertai dengan Perjamuan Kudus (kecuali pada saat COVID-19 masih gawat). Memang perjamuan kudus yang pertama diadakan Yesus bersama kedua belas muridnya sebelum Ia disalibkan, dan ini diperintahkan-Nya agar dijalankan oleh setiap umat Kristen guna memperingati pengurbanan-Nya. Perjamuan Kudus kemudian menjadi salah satu dari dua sakramen gereja Kristen (yang lain adalah baptisan).

Saya ingat bahwa menjelang acara Perjamuan Kudus, majelis gereja di Indonesia mengingatkan agar semua jemaat mempersiapkan diri dengan baik. Apa maksudnya? Ayat di atas mengingatkan bahwa setiap kali kita makan roti dan minum anggur perjamuan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi jika kita dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, kita berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Dengan demikian, setiap umat Kristen yang ingin ikut perjamuan diminta agar meneliti cara hidupnya selama ini, meminta ampun akan dosa-dosanya, serta bertekad untuk memperbaiki hidupnya.

Saya tidak pasti berapa persen orang Kristen yang bersungguh-sungguh dalam meneliti apa yang sudah dilakukan mereka pada saat sebelum perjamuan kudus. Tetapi saya sering melihat orang yang seharusnya ikut perjamuan kudus, ternyata tidak mengambil roti dan anggur yang disediakan. Mungkin mereka merasa tidak layak untuk berpartisipasi dalam acara itu. Pada pihak yang lain, sebagian orang Kristen di zaman ini mungkin tidak lagi memandang acara ini sebagai sakramen, ritual suci yang diperintahkan Tuhan. Mungkin mereka memandangnya sebagai bagian ibadah rutin.

Jika kita membaca ayat di atas dan mempercayainya sebagai perintah Yesus yang masih relevan untuk zaman sekarang, sebenarnya mau tidak mau kita memandangnya sebagai ritual gereja yang sangat serius. Ritual yang perlu dipahami artinya, dilaksanakan dengan khidmat dan diikuti persyaratannya. Masalahnya, banyak orang Kristen yang tidak mengerti bahwa syarat ikut perjamuan kudus bukanlah mudah dipenuhi. Perjamuan kudus tidak bisa dirayakan seperti kita merayakan hari Natal.

Perjamuan kudus hanya bisa diikuti oleh orang yang mengakui bahwa tubuh Tuhan sudah dikurbankan untuk keselamatan manusia. Mereka yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan bukan hanya Juruselamat tidaklah patut untuk ikut ritual ini. Jika mereka memaksakan diri untuk ikut, mereka akan menambahi dosa mereka. Bagaimana orang Kristen bisa mengakui Yesus sebagai Juruselamat tetapi tidak sebagai Tuhan? Ini pertanyaan yang jarang didiskusikan umat Kristen.

Jika Yesus hanya serorang Juruselamat, kita harus bersyukur kepada Dia yang mau berkurban untuk kita. Mungkin juga, jika Ia sekadar kurban yang disediakan Allah Bapa, kita tidak perlu bersyukur kepada Dia tetapi kepada Bapa. Tetapi, jika kita perrcaya bahwa roti dan anggur dalam perjamuan kudus adalah melambangkan tubuh Tuhan, kita mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa, seperti Sang Bapa. Dan karena itu kita harus mempunyai rasa takut dan tunduk kepada firman-Nya. Dengan demikian, adalah seharusnya jika kita hidup layak sebagai orang yang sudah diselamatkan-Nya.

Orang Kristen yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan tentu boleh dan bahkan seharusnya ikut perjamuan kudus. Setiap kita mengikuti perjamuan kudus, kita diingatkan akan pengurbanan Yesus bagi kita. Kepada dunia kita menyatakan bahwa Tuhan sudah mati untuk menebus manusia dari hukuman dosa. Tetapi, ini bukan berarti bahwa kita boleh tetap hidup dalam dosa. Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Barangsiapa yang ikut perjamuan kudus, tetapi tidak mau menaati firman Tuhan dalam hidupnya, akan menodai imannya. Siapa yang tidak menaati firman Tuhan adalah orang yang tidak takut akan Tuhan, atau orang yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Sebagian orang Kristen memandang perjamuan kudus adalah sesuatu yang baik untuk mengingatkan mereka atas dosa-dosa dan cara hidup yang kurang baik selama ini. Tetapi, bagi mereka peringatan ini terlalu sering datang dan membuat mereka terbiasa. Sebelum mengikuti perjamuan kudus, mereka memikirkan cara hidup mereka, dan mungkin mengakui dosa-dosa mereka, Mereka memohon ampun, lalu ikut makan roti dan anggur. Kenudian hidup berjalan seperti biasa, sampai saatnya datang untuk perjamuan kudus lagi. Life goes on. Tidak ada yang berubah. Everything stays the same.

Ayat di atas menyatakan bahwa setiap orang Kristen sudah diberi kemampuan dan bahkan diperintahkan untuk menguji dirinya sendiri. Itu adalah tanggung jawab mereka. Mereka bisa memikirkan apakah hidup mereka sudah berubah, makin lama makin menyerupai Yesus. Ini bukan berarti bahwa mereka akan bisa menjadi sempurna. Tetapi mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dalam hidup mereka. Tuhan yang membenci dosa dan kejahatan, dan yang sudah menyatakan kehendak-Nya melalui Alkitab. Lebih dari itu, Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada semua umat Tuhan. Kita tidak bisa berkali-kali mendukakan Roh Kudus dan selalu mengikuti perjamuan kudus tanpa mengalami perubahan cara hidup. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya dalam hidup. Kasih Yesus menyertai orang-orang yang mau berubah dari hidup lama mereka.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: ”Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yohanes 5:14

Apakah yang dinamakan orang Kristen duniawi itu?

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi.” 1 Korintus 3: 1-3

Saat ini saya ingin terus melanjutkan diskusi tentang topik yang berkaitan dengan hidup baik, dan sekarang kita sampai pada diskusi tentang orang Kristen “duniawi”. Dalam bahasa Inggrisnya disebut “Carnal Christian“, dan orang sering menerjemahkannya sebagai “orang Kristen kedagingan”.

Para pengikut kekristenan duniawi menegaskan bahwa adalah mungkin untuk percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat tanpa harus mengakui Kristus sebagai Tuhan. Mengapa begitu? Menurut pendukung posisi ini, seseorang diselamatkan jika mereka mengakui Kristus, bahkan jika mereka tidak pernah hidup baik.

Posisi ini menandai suatu perubahan yang signifikan dalam sejarah teologi Kristen terutama dalam dua abad terakhir, dan sudah membuat kekacauan dalam berbagai gereja. Bagaimana itu bisa terjadi? Para pendukung Kekristenan duniawi menuduh bahwa jika kita masih menegaskan bahwa perbuatan baik diperlukan dalam kehidupan orang percaya, kita sebenarnya menyangkal bahwa pembenaran Tuhan hanya melalui iman. Ini sudah tentu merupakan kekeliruan.

Jika kita tidak pernah melihat perbuatan baik dalam diri orang lain, kita harus meragukan apakah mereka benar-benar seorang Kristen, sebab mengasihi Kristus berarti kita menaati-Nya (Yohanes 14:15). Ketaatan kita memang tidak akan sempurna dalam kehidupan ini karena adanya dosa pada setiap orang. Meskipun demikian, karena adanya Roh Kudus iman yang sejati akan menghasilkan ketaatan, betapapun tidak sempurnanya itu. Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak memiliki iman yang benar (Matius 7:21). Para pendukung kekristenan duniawi memberikan jaminan keselamatan palsu ketika mereka mengklaim bahwa adalah mungkin untuk dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan tanpa harus berubah hidupnya. Mereka agaknya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat tetapi bukan sebagai Tuhan karena tidak adanya keharusan untuk taat kepada perintah-Nya.

Klaim ini hanya mengungkapkan bahwa para pendukung kekristenan duniawi sudah keliru dalam memahami posisi alkitabiah tentang keselamatan yang datang dari iman saja (sola fide). Alkitab sangat jelas bahwa kita dibenarkan bukan karena perbuatan, tetapi hanya karena iman (Galatia 2:16). Tetapi Alkitab sama jelasnya dalam mengemukakan bahwa iman yang membenarkan kita tidak pernah bekerja sendirian. Iman yang sejati harus ditunjukkan melalui adanya perbuatan baik dan ketaatan kepada Kristus dalam kehidupan orang percaya (Yakobus 2:17-18).

Orang Kristen sejati menjalani kehidupan yang selalu ditandai dengan peperangan antara Roh Kudus dan daging yang merupakan natur dosa lama kita (Roma 7:13–20; Galatia 5:16–24). Orang Kristen yang tidak merasakan adanya peperangan ini adalah orang yang terlena, atau orang yang belum pernah menerima Roh Kudus. Orang Kristen duniawi belum tentu selalu mengejar kekayaan dan ketenaran, atau selalu hidup dalam kebebasan seks, narkoba, dan pesta pora. Tetapi, mereka adalah orang Kristen yang tidak mempunyai minat atau semangat untuk berubah menjadi dewasa dalam iman. Paulus dalam ayat 1 Korintus 2: 13-14 berusaha untuk menjelaskan pentingnya hidup dalam kerohanian yang baik, dan ia berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepadanya oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Sayang, orang Kristen duniawi tidak dapat menerima nasihat Paulus.

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 13-14

Apakah ada orang Kristen duniawi yang tidak diselamatkan? Hanya Tuhan yang tahu. Pada pihak lain, adanya keinginan untuk taat dan beberapa perbuatan baik akan membuktikan bahwa orang Kristen bertumbuh dalam imannya. Itu berarti bahwa ketika kita tumbuh menjadi dewasa, kemenangan atas dosa yang telah dimenangkan Kristus bagi kita akan semakin nyata dalam hidup kita melalui semakin banyak kemenangan Roh atas kedagingan kita dalam hidup sehari-hari.

Hari ini, biarlah kita sadar bahwa pertumbuhan kedewasaan iman harus dinyatakan dalam hidup dalam ketaatan yang main lama makin besar kepada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Itulah tanda orang Kristen sejati!

Keyakinan kita bisa keliru

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Orang Kristen mungkin tidak setuju tentang apa yang merupakan perikop paling menakutkan dalam Alkitab. Tetapi sebagian besar akan setuju bahwa kata-kata penutup Yesus dalam Khotbah di Bukit yang tertera di atas termasuk peringkat tinggi dalam urutan ayat Alkitab yang paling menakutkan. Mengapa begitu?

Sangat menakutkan untuk berpikir tentang neraka. Tentu lebih menakutkan untuk mengetahui bahwa kita akan masuk ke neraka ketika kita mengira akan pergi ke surga. Dan lebih menakutkan lagi untuk berpikir bahwa tidak hanya sedikit, tetapi “banyak” orang yang akan mengalami hal ini. Bagaimana dengan suami atau istri kita? Bagaimana pula dengan anak cucu kita? Jika kita tidak bisa menyelamatkan diri kita, adakah yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka?

Beberapa orang mengira mereka orang Kristen karena mereka menyebut Yesus “Tuhan, Tuhan” mereka bahkan melakukan perbuatan-perbuatan besar atas nama-Nya – namun mereka tidak benar-benar diselamatkan dan tidak pernah diselamatkan. Perbuatan besar ini bukan saja bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mujizat seperti yang sering dilakukan oleh murid-murid Yesus pada saat itu, tetapi juga mencakup aktivitas-aktivitas kerohanian lainnya seperti penginjilan, pengajaran dan pelayanan dalam gereja di zaman ini.

Saat membaca perikop ini, kita mungkin tergoda untuk angkat tangan. Lalu siapa yang tahu apakah ia akan diselamatkan? Ini pasti tampak seperti pertaruhan besar. Atau sebuah nasib yang tidak dapat ditolak. Anda melakukan yang terbaik untuk mengikuti Yesus, tetapi siapa yang tahu apakah Anda akan ditolak Tuhan pada akhirnya? Bukankah Tuhan bisa bertidak semau-Nya dengan kedaulatan-Nya? Tapi itu bukan tujuan Yesus di sini. Dia tidak mencoba membingungkan kita atau menarik jaminan keselamatan kita. Benar, Ia tidak ingin kita tertipu oleh keyakinan kita, tetapi Ia juga tidak ingin kita hidup dalam ketakutan atau ketidakpastian tentang keadaan akhir kita.

Di ayat 21, Yesus menggambarkan orang yang akan memasuki kerajaan sebagai “orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku.” Tapi apa sebenarnya artinya itu? Dilihat dari konteksnya, itu harus berarti lebih dari sekadar mengatakan “Tuhan, Tuhan” dan melakukan pekerjaan besar dalam nama Yesus. Jadi bagaimana kita bisa tahu jika kita sedang melakukan kehendak Bapa? Apa kehendak Bapa yang bisa kita ketahui? Sekalipun kita tahu bahwa kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan ada dalam Alkitab, apakah kita harus melakukannya dengan sempurna?

Untuk melihat jawabannya, kita harus memperhatikan bahwa ini baru kedua kalinya dalam Khotbah di Bukit Yesus berbicara tentang “memasuki kerajaan surga.” Yang lainnya adalah ayat tema Khotbah, Matius 5:20: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Membandingkan kedua perikop ini, kita dapat mengatakan bahwa “melakukan kehendak Bapa” sejajar dengan memiliki kebenaran yang lebih besar. Apa artinya?

Ketika Yesus berkata bahwa kebenaran kita harus melebihi kebenaran orang Farisi, Dia tidak mengatakan “Lakukan apa yang mereka lakukan, hanya lebih baik.” Bukan karena orang Farisi tidak berusaha cukup keras – mereka berusaha sangat keras, tetapi untuk hal-hal yang salah. Mereka kehilangan intinya sama sekali, memusatkan perhatian pada perilaku lahiriah untuk mendapatkan pujian orang sementara lalai untuk melakukan keadilan, mencintai kebaikan, dan berjalan dengan rendah hati di hadapan Allah (Matius 23:23).

Para ahli Taurat dan orang Farisi tidak melakukan kehendak Bapa. Titik. Jika Anda ingin melihat bagaimana mereka memperlakukan perintah Allah, bacalah Matius 5:21-48. Jika Anda ingin melihat bagaimana mereka berpuasa dan berdoa serta memberi sedekah, bacalah Matius 6:1-18. “Kebenaran” mereka bukanlah upaya tulus untuk menyenangkan Tuhan. Itu kemudian dilihat oleh Yesus yang berkata, “Cukup baik, tetapi tidak cukup baik untuk masuk kerajaan.” Itu adalah tumpukan kain kotor yang membanggakan diri (Yesaya 64:6).

Melakukan kehendak Bapa bukan hanya hal lahiriah. Orang-orang Farisi tampak bersih di luar, tetapi mereka kotor dan melanggar hukum di dalam (Matius 23:25-26). Yang Yesus gambarkan di sini adalah kebenaran yang mengalir dari hati yang murni dan iman yang tulus (Matius 5:8; 1 Timotius 1:5). Itu adalah buah-buah yang baik karena tumbuh di pohon yang baik (Matius 7:17). Ini adalah jenis kebenaran yang hanya dapat Anda lakukan ketika Anda telah dilahirkan kembali melalui Roh Allah dan dengan demikian (di satu sisi) sudah memasuki kerajaan (Matius 5:3; Yohanes 3:3, 5).

Yesus tidak menyuruh kita untuk mengungguli orang Farisi, juga tidak mengatakan kita harus melaksanakan Khotbah di Bukit dengan sempurna untuk memastikan kita adalah orang Kristen sejati. Sebaliknya, menurut Khotbah di Bukit, seorang Kristiani sejati adalah seseorang yang terus berdoa, “Bapa, ampunilah kesalahanku” (Matius 6:9–13) . Jika orang Farisi berterima kasih kepada Tuhan karena dia lebih baik dari yang lain, orang Kristen sejati akan berdoa, “Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa ini” (Lukas 18:9–14).

Yesus tidak menyuruh kita untuk mengungguli orang Farisi, juga tidak mengatakan kita harus menjaga Khotbah di Bukit dengan sempurna untuk memastikan kita adalah orang Kristen sejati. Jalan yang sempit adalah untuk orang-orang yang miskin dalam roh, yang meratapi dosa mereka, dan yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:3–6; 7:13–14). Orang-orang itu akan dipuaskan, baik sekarang maupun nanti ketika Yesus menyelesaikan kerajaan-Nya.

Perlu dicatat bahwa berdasarkan ayat di atas, melakukan kehendak Bapa, jika ada kemauan, bukanlah standar yang mustahil. Itu bisa menggambarkan keadaan kita, dan Anda tahu itu bisa menggambarkan Anda. Dan jika Anda seorang Kristen sejati, itu akan menggambarkan Anda yang tidak sempurna, tetapi yang semakin lama akan semakin meningkat. Bagi orang Kristen sejati, pertanyaannya bukanlah “Apakah saya sempurna?” (sebab pengakuan kebenaran Kristus telah memenuhi kebutuhan itu), tetapi “Apakah saya mengenal Yesus?” Atau lebih baik lagi, “Apakah Yesus mengenal saya sebagai hamba-Nya?”

Banyak orang Kristen yang membaca ayat 23menafsirkan seolah-olah Yesus berkata, “Pergilah dari-Ku, karena kamu tidak pernah mengenal Aku” (yaitu, kamu tidak pernah benar-benar diselamatkan). Itu ada benarnya, tetapi sebenarnya bukan itu yang dikatakan ayat itu. Sebaliknya Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenalmu.” Ini sebenarnya bukan pertanyaan apakah kita mengenalnya, tetapi apakah Dia mengenal kita.

Apakah Dia mengenal Anda? Apakah Anda tipe orang Kristen yang akan ditemui Yesus sebagai hamba-Nya yang luar biasa di hari terakhir? Saya bertanya, tetapi sebenarnya akan ada orang yang sempurna seperti itu. Tetapi, kita tidak harus hidup dalam teror menjelang hari terakhir. Sebaliknya, kita bisa mempersiapkannya. Karena bagi mereka yang dikenal Yesus, hari terakhir tidak akan menjadi masalah. Itu hanya akan menjadi kelanjutan yang lebih tinggi dari hubungan yang sudah kita nikmati dengan-Nya sekarang, dengan iman. Pada hari itu, kita akan menerima kebahagiaan yang lebih besar di surga seiring dengan kesetiaan kita kepada-Nya.

Hari ini, marilah kita periksa diri kita dengan menanyai diri kita sendiri tidak hanya dengan pertanyaan “Apakah saya mengenal Yesus?” tetapi lebih penting lagi dengan pertanyaan “Apakah Yesus mengenal saya?” Marilah hidup sedemikian rupa sehingga Dia memanggil kita hamba-Nya yang baik setia pada hari itu.

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Matius 25:23

Untuk mana, kita akan menjawab:

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

(Disadur secara bebas dari tulisan di website Reformed “How to Survive the Scariest Passage in the Bible”, Jutin Dillehay, The Gospel Coalition)

Dari tidak layak menjadi layak

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Lukas 15: 21-22

Jika Anda adalah orang Kristen, apakah anda yakin bahwa Anda sudah diselamatkan oleh darah Yesus? Jika ya, dapatkah Anda menunjukkan buktinya?

Banyak orang Kristen yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan ini, sekalipun mereka sudah lama rajin ke gereja. Sebagian di antara mereka merasa bahwa keselamatan pasti terjamin karena mereka sudah mengikuti sakaramen gereja: baptisan dan perjamuan kudus. Sebagian lagi merasa hidup mereka sudah diubah Yesus, dari yang kacau berantakan, menjadi hidup yang tenang dan penuh sukacita. Tetapi, jika mereka diminta untuk menunjukkan bukti nyata, hampir semua tidak akan bisa memperlihatkannya. Memang keselamatan adalah sesuatu yang harus diimani, dan iman adalah percaya akan hal-hal yang tidak/belum kelihatan. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan adalah bukan usaha manusia, tetapi adalah semata-mata karunia Tuhan.

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Roma 3: 23-24

Walaupun demikian, sebagian orang Kristen yang beriman tetap saja merasakan keraguan apakah mereka benar-benar sudah dipilih Tuhan untuk menerima keselamatan. Itu mungkin karena mereka sangat menekankan kedaulatan Tuhan. Mereka percaya Tuhan memilih manusia untuk diselamatkan tanpa memakai kriteria apa-apa. Tuhan memilih manusia sesuai dengan kehendak-Nya yang tidak dipengaruhi oleh cara hidup seseorang atau keadaan dunia. Ini tentunya kurang benar karena Tuhan adalah Oknum yang mahatahu dan mahabijaksana dan bukan Tuhan yang bekerja secara sembarangan.

Adalah menyedihkan jika orang Kristen tidak yakin akan keselamatannya karena merasa bahwa Tuhan yang berdaulatlah yang menentukan nasib mereka sebelum dunia dijadikan. Nasib yang tidak bisa diubah. Jika mereka ingin diselamatkan tetapi Tuhan sudah menetapkan mereka untuk ke neraka, apa yang dapat mereka lakukan? Mereka hanya tanah yang bergantung pada nasib yang ditentukan si penjunan. Karena itu, banyak orang Kristen yang sedemikian menjadi kurang bersemangat untuk berubah dalam cara hidup mereka. Apa pun kebaikan yang mereka perbuat, tidaklah akan diperhitungkan Tuhan dalam mengambil keputusan. Lalu buat apa mereka harus berusaha untuk hidup baik, untuk menjadi orang yang layak di hadapan Tuhan?

Ayat di atas adalah bagian dari perumpamaan tentang anak yang hilang. Kisah yang sangat terkenal yang menggambarkan pemberontakan manusia dan kasih Allah. Anak yang hilang melambangkan manusia berdosa yang ingin hidup dengan menggunakan kebebasannya. Sebagian orang Kristen menolak adanya kemampuan memilih karena percaya bahwa semua sudah ditetapkan Tuhan dari awalnya. Ini tidak benar. Manusia dari awalnya sudah diberi kemampuan untuk memilih. Tetapi kebebasan manusia tanpa bimbingan Tuhan tidak akan membawa manusia ke jalan yang baik. Manusia tidak dapat memilih untuk hidup baik, hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, tanpa adanya kasih, bimbingan,dan pernyataan Tuhan.

Anak yang hilang adalah manusia yang mengabaikan kasih, bimbingan dan pernyataan bapanya. Ia menggunakan kebebasannya dan merasakan akibatnya. Ia kemudian menyesal dan ingin kembali ke rumah bapanya. Mengapa demikian? Karena ia sadar bahwa kenyataan hidup di rumah bapanya menunjukkan adanya sukacita dan kasih yang berasal dari bapanya. Sekalipun ia sekarang merasa tidak layak untuk disebut anak bapanya, ia mengaku dosanya dan bertobat memohon belas kasihan bapanya. Sang bapa yang melihat hal itu, kemudian mengampuni anaknya dan mengembalikan statusnya. Sang anak yang tidak layak menjadi anak bapanya, kemudian dilayakkan bukan karena perbuatan baik anaknya tetapi karena adanya hati yang hancur dan pertobatan anaknya.

Seperti perumpamaan di atas, Tuhan dengan kasih-Nya akan menyambut mereka yang sudah hilang dan tersesat. Ia tahu bahwa mereka yang mau disadarkan bahwa Tuhan adalah Allah yang mahakasih, akan mau datang kepada-Nya untuk mengaku dosanya dan bertobat. Ini adalah syarat keselamatan yang datang dari Tuhan yang tidak dapat diganti dengan usaha manusia. Inilah kriteria Tuhan dalam memberikan keselamatan kepada manusia. Tuhan tidak akan memberikan keselamatan kepada mereka yang tidak mau menyadari kemahasucian Tuhan dan tidak mau bertobat dari dosanya.

“Oleh karena itu sadarlah, dan bertobatlah, supaya dosa-dosamu dihapuskan.” Kisah Para Rasul 3:19

Mereka yang sudah diterima Tuhan sebagai anak-Nya, adalah manusia yang sudah dilayakkan. Apapun dan bagaimana pun dosanya, itu akan dihapuskan oleh Tuhan:

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1:18

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu meragukan kasih Tuhan yang menyelamatkan. Tuhan tidak menyelamatkan manusia secara acak, rencan keselamatan-Nya adalah rencana yang sistimatik dan sempurna. Tuhan sudah memberikan bimbingan Roh Kudus-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Dengan demikian, mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak dapat menyadari kasih-Nya yang sangat besar, yang menantikan anak yang hilang seperi kita, untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka yang mau bertobat akan menerima pengampunan dosa dan dilayakkan menjadi anak-anak-Nya. Itu berarti jika kita yakin sudah diselanatkan, kita pasti akan mau menempuh hidup baru yang berpadan dengan panggilan Tuhan.

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Efesus 4: 1

Jika Tuhan bekerja dalam hidup kita, kita akan mengerti kehendak-Nya dan menjawab “ya”

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Sahut Filipus: ”Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: ”Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Kisah Para Rasul 8: 36-38

Alkisah ada seorang penatua gereja yang bernama Filipus (bukan Filipus yang murid Yesus). Ketika ia sedang tidur, seorang malaikat Tuhan membangunkannya dan menyuruhnya untuk pergi ke jalan yang sunyi dari Yerusalem ke Gaza. Pada saat itu seorang sida-sida Etiopia sedang bepergian ke Yerusalem untuk beribadah, dan ia duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

Roh Tuhan kemudian menyuruh Filipus untuk mendekati kereta itu dan menyapa sida-sida itu. Setelah Filipus menjelaskan arti pengurbanan Kristus yang disebutkan dalam kitab Yesaya, sida-sida itu kemudian minta agar ia dibaptis. Sebuah akhir cerita yang indah. Happy ending. Sida-sida itu memperoleh keselamatan karena inisiatif Tuhan yang menyuruh Filipus untuk memberi bimbingan dan karena Filipus menaati perintah Tuhan.

Kisah nyata sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 8: 26 – 40 itu mungkin sudah pernah kita baca berulang kali. Namun mungkin kita kurang memperhatikan bahwa ini adalah salah satu contoh bagaimana jika Tuhan bekerja dalam hidup kita, kita akan mengerti kehendak-Nya dan tunduk kepada atas perintah-Nya. Ini juga contoh bagaimana Tuhan secara sistimatis bekerja membawa umat manusia kepada keselamatan melalui cara yang dipilih-Nya sehingga mereka percaya.

Seperti sida-sida itu, ada banyak orang yang berusaha sendiri untuk mengenal Tuhan. Memang Tuhan dari awalnya menciptakan segala sesuatu di bumi yang membuat setiap orang mau tidak mau mengakui adanya “sesuatu” dibalik semuanya. Tuhan juga membuat manusia mempunyai kerinduan untuk mencari tahu siapakah Tuhan itu. Tetapi tanpa bimbingan dari Tuhan sendiri, pengenalan yang penuh tidak terjadi. Tanpa penyerahan kepada kedaulatan Tuhan, secara alami manusia akan menngunakan kebebasannya untuk melakukan apa yang jahat. Karena itu, ada banyak “orang baik” yang kemudian menjadi “orang jahat” karena mereka tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Tetapi, sebenarnya semua orang yang belum mengenal Kristus adalah orang yang jahat bagi Tuhan.

Bagaimana Tuhan bisa membuat manusia bisa mengenal Tuhan jika manusia tidak mampu untuk menyelami kebesaran-Nya? Bagaimana Tuhan bisa menundukkan orang yang jahat, yang tidak mau mengenal Dia? Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih bisa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya agar orang itu dapat dibimbing dan disadarkan dan kemudian menerima Dia pada saat yang tepat. Tuhan memiliki banyak cara untuk bisa menarik orang kepada-Nya, untuk menyadari dosanya dan kemudian bertobat. Itu terjadi melalui kesadaran manusia dalam bimbingan Roh Kudus, dan bukan karena paksaan Tuhan.

Tidak semua orang benar-benar mengenal Tuhan, dan bahkan sebagian orang Kristen hanya mengaku adanya Tuhan karena tradisi dan kebiasaan. Ada banyak orang Kristen yang tidak mengerti pentingnya penebusan darah Kristus. Dan masih banyak orang Kristen yang percaya bahwa bisa memperoleh keselamatan dengan berbuat baik. Selain itu, ada orang yang berusaha mengenal Tuhan dengan rajin mempelajari teologi yang dianggap sebagai cara pengenalan yang benar akan Tuhan. Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa tanpa pertobatan, pengampunan tidak akan diberikan Tuhan:

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9 TB

Pagi ini kita membaca bahwa sida-sida Etiopia itu saat itu sedang bepergian ke Yerusalem untuk beribadah, dan ia duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. Sida-sida itu mirip seperti orang yang pernah pergi ke gereja dan sesekali membaca Alkitab. Tetapi karena pengertian yang benar belum ada, sida-sida itu belum mengenal Yesus sebagai Juruselamat-Nya. Sida-sida itu bukanlah orang bodoh, tetapi orang sepandai apa pun tidak akan celik mata rohaninya tanpa pertolongan Tuhan.

Akankah Tuhan berdiam diri melihat manusia yang ingin mengenal-Nya? Tentu tidak!Tuhan mau dan mampu membuka jalan. Bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya, Tuhan akan memberi penyataan-Nya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Bagaimana cara Tuhan menyatakan diri-Nya? Ia dapat melakukannya dengan berbagai cara. Terkadang Tuhan menyatakan diri-Nya melalui bisikan Roh, atau juga dengan memberi manusia pengalaman tertentu, dan juga melalui firman-Nya. Tetapi, Ia juga bisa menggunakan orang lain untuk memberi bimbingan dan nasihat yang memberi pencerahan tentang firman-Nya sehingga mereka mau mengikut Dia.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan mampu membuat kita benar-benar menjadi umat-Nya. Mungkin kita sudah lama mengenal nama Yesus, dan mungkin kita sudah banyak belajar tentang doktrin Kristen, tetapi itu bukan berarti bahwa kita mengerti siapa Dia, orang yang mengenal Dia adalah orang yang sudah menerima Roh Kudus, mengerti akan firman-Nya dan mau melakukannya. Seperti sida-sida itu, biarlah kita mau membuka diri kita agar Roh Kudus terus membimbing kita kearah hidup yang benar dalam Kristus. Dan bagi kita yang sudah benar-benar mengenal Kristus, panggilan Tuhan untuk membimbing orang lain ke arah iman yang benar haruslah kita jawab dengan “ya”, dengan keyakinan bahwa itu adalah bagian dari rencana agung-Nya.

The relationship between personal sin and corporate sin


“Since we have many witnesses, like a cloud that surrounds us, let us put off all the burdens and sins that so hinder us, and run with diligence the race that is laid down for us. Let us do this with our eyes fixed on Jesus, who leads us in faith, and brings our faith to perfection, who, ignoring humiliation, endures the cross for the joy that is reserved for Him, who is now seated at the right hand of the throne of God.” Hebrews 12:1-2

The writer of Hebrews in the verse above exhorts us to put aside every burden, and sin that so hinders us, so that we can run with perseverance the race that is required for us. A biblical understanding of the doctrine of sin is important for believers who want a growing and vibrant life in Christ. The gravity and severity of sin’s consequences are not overlooked in Scripture and therefore should not be glossed over in theological terms.

Sin in general can be divided into two types. Personal or individual sin, and corporate sin. According to the dictionary, the word corporate is defined as “having or relating to a corporation or legal entity”. Thus, this term can be used for official organizations based on law, such as church and state. These two sins are different in terms of responsibility but influence each other. Our understanding of corporate sin, then, must merge with an awareness of our own sin to have a complete doctrine of sin. The Christian doctrine of sin should help us understand the nature of social or societal existence.

Before addressing the topic of personal sin and corporate sin, we must first identify what sin is. Renowned theologian Cornelius Plantinga defined sin as “any act — any thought, desire, emotion, word, or deed — or lack thereof, that displeases God and is blameworthy. Sin is a personal insult and guilt against a personal God.” To clarify this point, Plantinga goes on to explain that all sins are wrong in the eyes of the most holy God. However, what the government considers wrong is not necessarily a sin in God’s eyes. Certain forms of civil disobedience, for example, may violate government laws, not necessarily God’s laws.

Specifically, the Bible refers to sin in many ways including the following: murder, adultery, idolatry, greed, fornication, slander, envy, fornication, anger, deceit, debauchery, envy, quarrelling, uncleanness, lust, pride, drunkenness, and evil desires. All this is easy to understand. However, the idea of sin as a spiritual force, an inherent condition, a controlling power, is for the most part not easy for humans to understand.

“But what comes out of the mouth comes from the heart and that is what defiles a person. For out of the heart come all evil thoughts, murder, adultery, fornication, theft, perjury and slander.” Matthew 15:18-19

Corporate sin is defined as sin committed on a larger scale than community or societal sin. These corporate sins are characteristic sins of a group and are committed as a whole and common and even legitimate. In general, we do not know to what extent corporate criminals are the root cause of their crimes and to what extent they have fallen into the traps set by others. Only God knows the human heart. Only God knows how much corporate crime is passed on to us as personal sins.

The Old Testament clearly states that individuals are guilty of their own sins. Deuteronomy 24:16 states that “Fathers shall not be put to death because of their children, nor should children be put to death because of their fathers; everyone must be put to death for his own sins.” However, the consequences of one’s personal sins can be detrimental to children and future generations.

“You shall not worship or serve him, for I, the LORD your God, am a jealous God, who repays the iniquity of fathers to their children to the third and fourth generations of those who hate me” Exodus 20: 5

This can be seen in the life of King David where his sin with Bathsheba was felt in the lives of his children. The results and consequences of one’s sin have deep repercussions on one’s family, which is often the focus of modern counselling. But awareness of these consequences does not necessarily make someone feel guilty.

Leaders of groups, cities, nations, and churches are often seen as representatives of the whole. Leviticus 4:15 instructs elders to represent corporate bodies in offerings for group sins. For a leader to act in such a way, he must realize that the cumulative and corporate sins of the city will be dealt with corporately by the wrath of God. We can read about God’s wrath against a people or a city because of their communal sins in the Bible, like what He did to cities like Sodom and Gomorrah (Genesis 19).

The corporate sins of the Israelites are quite numerous in the Old Testament. An example of such corporate sin can be seen in Israel’s blatant sin of idolatry in Exodus 32-33 which was a violation of the second commandment given shortly before in Exodus 20:14. Israel was also rebuked (and exiled) for their disobedience to the command in Leviticus 25:2-8 to rest on the Sabbath. Israel and the surrounding nations often chose certain idols through corporate means. Israel was often warned and rebuked for choosing to serve the gods of the Canaanites.

Because corporate sin exists and is prevalent in structures ranging from church to state, questions arise about the causes of and responsibility for this corporate sin. We have seen from Scripture that corporate sins are separable and distinct from individual sins (Leviticus 4:13). The implication of this is that if a nation, city, or church sins as a whole, they need to confess their sin and repent as a whole. However, when a sin is seen only in a corporate sense (because many other people do), we ignore our individuality and tarnish our responsible relationship with God and fellow human beings.

How is the relationship between individual sin and group sin? Throughout the New Testament, our salvation is explicitly stated in individual terms. Our decision to accept Christ is an individual decision and not based on the individual decisions of those around us. However, it is important to realize that our personal sins and mistakes can affect those around us. The New Testament acknowledges this just as much as the Old Testament and shows the relationship between the church and its leaders. James 3:1 stated that those in the church who teach the congregation must be aware that their actions and the exposure of the Scriptures will result in harsher punishments for them. Paul echoes this thought and writes,

“Watch over yourselves and watch over your teachings. Persevere in all this, for by doing so you will save yourself and all who hear you.” 1 Timothy 4:16

Today, we must recognize that corporate sin is just as serious as personal sin. What is legally permitted in the country and what is preached or taught in our churches does not mean that we automatically believe and do it without studying what God really wants in the Bible. Our disregard for our responsibility in terms of being affected by corporate sin, and in terms of influencing corporate sin is sin. Therefore, we need to confess our sins and repent from them, while realizing that if we engage in corporate sin, it will affect our personal relationship with God and will also affect other people’s relationships with God.

Hubungan dosa pribadi dan dosa korporat

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:1-2

Penulis Ibrani dalam ayat di atas menasihati kita untuk mengesampingkan setiap beban, dan dosa yang begitu merintangi kita, agar kita dapat berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Pemahaman alkitabiah tentang doktrin dosa penting bagi orang percaya yang menginginkan kehidupan yang bertumbuh dan bersemangat di dalam Kristus. Berat dan parahnya akibat dosa tidak diabaikan dalam Alkitab dan karena itu tidak boleh ditutup-tutupi dengan istilah teologis.

Dosa secara umum dapat dibagi dalam dua jenis. Dosa pribadi atau perorangan, dan dosa korporat. Menurut kamus, kata korporat diartikan sebagai “bersifat atau berkaitan dengan korporasi atau badan hukum”. Dengan demikian, istilah ini bisa dipakai untuk organisasi resmi yang berlandaskan hukum, seperti gereja dan negara. Kedua dosa ini adalah berbeda dalam hal tanggung jawab, tetapi saling mempengaruhi. Pemahaman kita tentang dosa korporat, dengan demikian, harus menyatu dengan kesadaran akan dosa kita sendiri agar memiliki doktrin dosa yang lengkap. Doktrin Kristen tentang dosa harus membantu kita memahami sifat keberadaan sosial atau masyarakat.

Sebelum membahas topik dosa pribadi dan dosa korporat, pertama-tama kita harus mengidentifikasi apa itu dosa. Teolog terkenal Cornelius Plantinga mendefinisikan dosa sebagai “tindakan apa pun — pikiran, keinginan, emosi, perkataan, atau perbuatan apa pun – atau ketiadaannya, yang tidak menyenangkan Allah dan patut disalahkan. Dosa adalah penghinaan pribadi dan bersalah terhadap Allah pribadi.” Untuk mengklarifikasi hal ini, Plantinga selanjutnya menjelaskan bahwa semua dosa adalah salah di mata Tuhan yang mahasuci. Walaupun demikian, apa yang dianggap salah oleh pemerintah belum tentu adalah dosa di mata Tuhan, Bentuk-bentuk pembangkangan sipil tertentu misalnya mungkin melanggar hukum pemerintah, belum tentu melanggar hukum Tuhan.

Secara khusus, Alkitab mengacu pada dosa dalam banyak cara termasuk yang berikut: pembunuhan, perzinahan, penyembahan berhala, keserakahan, percabulan, fitnah, iri hati, percabulan, kemarahan, penipuan, pesta pora, kedengkian, pertengkaran, kenajisan, nafsu, kesombongan, kemabukan, dan keinginan jahat. Semua ini mudah dimengerti. Tetapi, gagasan tentang dosa sebagai kekuatan rohani, kondisi yang melekat, kekuatan yang mengendalikan, sebagian besar tidak gampang dipahami manusia.

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15:18-19

Dosa korporat didefinisikan sebagai dosa yang dilakukan dalam skala yang lebih besar jika dibandingkan dengan dosa komunitas atau dosa masyarakat. Dosa-dosa korporat ini adalah dosa-dosa karakteristik suatu kelompok, dan dilakukan secara keseluruhan dan umum dan bahkan legit. Secara umum, kita tidak tahu sejauh mana pelaku kejahatan korporat menjadi penyebab utama kejahatan mereka dan sejauh mana mereka telah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh orang lain. Hanya Tuhan yang tahu isi hati manusia. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak kejahatan korporat yang dibebankan kepada kita sebagai dosa pribadi.

Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan bahwa individu bersalah atas dosa mereka sendiri. Ulangan 24:16 menyatakan bahwa “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.” Namun, konsekuensi dari dosa-dosa pribadi seseorang dapat merusak anak-anak dan generasi selanjutnya.

“Janganlah kamu menyembah atau beribadah kepadanya sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan ayah kepada anak-anaknya sampai keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” Keluaran 20: 5

Hal ini terlihat dalam kehidupan raja Daud dimana dosanya dengan Batsyeba dirasakan dalam kehidupan anak-anaknya. Hasil dan konsekuensi dari dosa seseorang berdampak jauh ke dalam keluarga seseorang, yang seringkali menjadi fokus konseling modern. Namun kesadaran tentang konsekuensi ini belum tentu membuat seseorang merasa bersalah.

Pemimpin kelompok, kota, bangsa dan gereja sering dipandang sebagai wakil dari keseluruhan. Imamat 4:15 menginstruksikan para penatua untuk mewakili badan hukum dalam persembahan untuk dosa-dosa kelompok. Bagi seorang pemimpin untuk bertindak sedemikian rupa, iaa harus menyadari bahwa dosa-dosa kumulatif dan korporat kota itu akan ditangani secara korporat oleh murka Allah. Murka Allah atas suatu kaum atau suatu kota karena dosa-dosa komunal mereka bisa kita baca dalam Alkitab, seperti apa yang telah dilakukan-Nya atas kota-kota seperti Sodom dan Gomora (Kejadian 19).

Dosa korporat bangsa Israel memang cukup banyak di Perjanjian Lama. Contoh dosa korporat seperti itu dapat dilihat dalam dosa penyembahan berhala Israel yang terang-terangan dalam Keluaran 32-33 yang merupakan pelanggaran terhadap hukum kedua yang diberikan tidak lama sebelumnya dalam Keluaran 20:14. Israel juga ditegur (dan diasingkan) karena ketidaktaatan mereka terhadap perintah dalam Imamat 25:2-8 untuk beristirahat pada hari Sabat. Israel dan bangsa-bangsa sekitarnya sering memilih berhala tertentu melalui cara korporat. Israel sering diperingatkan dan ditegur karena memilih untuk melayani dewa-dewa orang Kanaan.

Karena dosa korporat memang ada dan lazim dalam struktur mulai dari gereja hingga negara, muncul pertanyaan tentang penyebab dan tanggung jawab atas dosa korporat ini. Kita telah melihat dari Alkitab bahwa dosa bersama dapat dipisahkan dan berbeda dari dosa individu (Imamat 4:13). Implikasi dari hal ini adalah bahwa jika suatu bangsa, kota atau gereja melakukan dosa secara keseluruhan, mereka perlu mengakui dosa mereka dan bertobat secara keseluruhan. Namun, jika suatu dosa hanya dilihat dalam pengertian korporat (karena banyak orang lain yang melakukannya), kita mengabaikan individualitas kita dan menodai hubungan tanggung jawab kita dengan Allah dan sesama manusia.

Bagaimana hubungan dosa individu dengan dosa kelompok? Di sepanjang Perjanjian Baru, keselamatan kita secara eksplisit dinyatakan dalam istilah-istilah individual. Keputusan kita untuk menerima Kristus adalah keputusan individu dan bukan berdasarkan keputusan individu orang-orang di sekitar kita. Namun, adalah penting untuk disadari bahwa dosa dan kekeliruan pribadi kita bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Perjanjian Baru mengakui hal ini sama seperti Perjanjian Lama dan menunjukkan hubungan antara gereja dan para pemimpinnya. Yakobus 3:1 menyatakan bahwa orang-orang di dalam gereja yang mengajar jemaat harus sadar bahwa tindakan mereka dan pemaparan Kitab Suci akan menimbulkan hukuman yang lebih keras atas mereka. Paulus menggemakan pemikiran ini ddan menulis,

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” . 1 Timotius 4:16

Hari ini, kita harus mengakui bahwa dosa korporat sama seriusnya dengan dosa pribadi. Apa yang diizinkan secara legit di negara dan apa yang dikhotbahkan atau diajarkan di gereja kita bukan berarti bahwa kita secara otomatis mempercayai dan melaksanakannya tanpa mempelajari apa sebenarnya dikehendaki Tuhan dalam Alkitab. Ketidakpedulian kita akan tanggung jawab kita dalam hal dipengaruhi oleh dosa korporat, dan dalam hal mempengaruhi dosa korporat adalah dosa. Karena itu, kita perlu mengakui dosa kita dan bertobat darinya, sambil menyadari bahwa jika kita terlibat dalam dosa bersama, itu akan mempengaruhi hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan juga akan mempengaruhi hubungan orang lain dengan Tuhan.

Hidup kita ditonton banyak orang

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ibrani 12: 1-2


Ayat di atas bunyinya menarik. Penulisnya (kemungkinan bukan Rasul Paulus) menasihati semua orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus, “pemimpin dan penyempurna iman kita”, untuk melakukan dua hal. Pertama, kita harus menyingkirkan atau melepaskan beban apa pun yang menjauhkan kita dari keserupaan dengan Kristus, terutama dosa karena dosa menjerat kita dan membuat kita terikat padanya. Kedua, kita harus bertekun, dengan sabar menanggung segala sesuatu sampai kita bertumbuh dan dewasa dalam iman. Yakobus mengingatkan kita bahwa pencobaan berguna untuk menguatkan iman kita dan membawa kita kepada kedewasaan (Yakobus 1:2-3). Ibrani 12:1 mengingatkan kita untuk bertekun melewati pencobaan itu, mengetahui bahwa, oleh kesetiaan Allah, kita tidak akan dikalahkan olehnya (1 Korintus 10:13).

Lalu siapa “awan saksi” itu, dan bagaimana mereka “mengelilingi” kita? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat pasal sebelumnya, sebagaimana dibuktikan dengan kata “karena” pada awal pasal 12. Kita tahu bahwa Abraham, Ishak, Yakub, dan orang percaya dari Perjanjian Lama lainnya menantikan dengan iman kedatangan Mesias. Penulis Ibrani mengilustrasikan hal ini dengan fasih dalam pasal 11 dan kemudian mengakhiri pasal tersebut dengan memberi tahu kita bahwa nenek moyang memiliki iman untuk membimbing dan mengarahkan mereka, tetapi Tuhan memiliki rencana yang lebih baik. Kemudian dia memulai pasal 12 dengan merujuk pada pria dan wanita setia yang membuka jalan bagi kita. Apa yang dinantikan oleh orang-orang percaya Perjanjian Lama dalam iman—Mesias—kita lihat kembali, setelah melihat penggenapan semua nubuat tentang kedatangan-Nya yang pertama.

Kita dikelilingi oleh banyak saksi, yaitu orang-orang kudus di masa lalu dengan cara yang unik. Bukan berarti umat beriman yang telah pergi sebelum kita sekarang menjadi penonton perlombaan yang kita jalankan. Sebaliknya, itu adalah representasi kiasan dan berarti bahwa kita harus bertindak seolah-olah mereka ada di depan mata dan menyemangati kita untuk kemenangan yang sama dalam kehidupan iman yang mereka peroleh. Kita harus diilhami oleh teladan saleh yang diberikan orang-orang kudus ini selama hidup mereka.

Perlu dicatat, bahwa istilah orang kudus dalam Alkitab bukan berarti mereka tidak berdosa, tetapi orang yang dibuat kudus oleh Tuhan. Inilah mereka yang kehidupan imannya di masa lalu mendorong orang lain untuk hidup seperti itu juga. Bahwa awan disebut sebagai “menglilingi kita” menunjukkan bahwa jutaan orang percaya telah mendahului kita, masing-masing memberikan kesaksian yang mendukung kehidupan iman yang kita jalani sekarang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa orang yang sudah dikuduskan oleh darah Kristus adalah orang-orang yang penuh cacat cela dan dosa, yang sudah lahir baru. Itu bukan berarti kita tidak bisa berbuat dosa lagi dan sudah sempurna. Tetapi, kita yang sudah dikaruniai Roh Penolong harus selalu berusaha menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Kita yang sudah menjadi orang-orang kudus adalah “saksi” atau teladan untuk generasi mendatang. Kita harus mau mengilhami orang lain dengan teladan kesalehan hidup kita selama di dunia!

Apakah Anda bersyukur atas anugerah Tuhan?

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: ”Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Lukas 17:15-19

Lukas 17:11–19 mencatat tentang sepuluh pria yang menderita penyakit kulit menular, umumnya diterjemahkan sebagai “kusta.” Dalam komunitas Israel, ketika seseorang menemukan ruam atau kelainan kulit, dia harus pergi ke imam untuk diperiksa. Imam kemudian menentukan apakah itu penyakit menular dan apakah orang itu harus dinyatakan najis (Imamat 13:1). Hukum Yahudi melarang siapa pun dengan penyakit seperti itu untuk bergaul dengan masyarakat umum. Mereka harus diasingkan dan hidup sebagai orang buangan sampai mereka mati (Imamat 13:45-46). Hal ini diperlukan agar penyakit menular tidak menjadi wabah. Tapi, bagi mereka yang menderita, itu adalah hukuman seumur hidup.

Yesus telah menyembuhkan beberapa orang yang menderita kusta atau sejenis penyakit kulit menular (Lukas 5:12–14; Markus 1:40–42; Matius 8:2–3; 11:5). Dalam Lukas 17 sepuluh orang yang merupakan bagian dari koloni penderita kusta mendekati Dia bersama-sama, tetapi mereka tetap menjaga jarak, sesuai dengan hukum. Mereka berseru kepada-Nya, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Tanpa melakukan apapun untuk menyembuhkan mereka, Yesus hanya memberikan instruksi untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam. Dan mereka menurut! Mengapa bisa begitu?

Pada saat pengajaran Yesus, orang-orang itu masih penderita kusta. Belum ada perubahan fisik yang terjadi. Tapi, dalam iman, orang-orang itu patuh. Ketika mereka mulai berjalan ke arah imam, mereka sembuh. Yesus selalu menuntut iman dari pihak orang yang meminta kesembuhan. Iman adalah datang dari Tuhan sebab manusia tidak mampu untuk percaya dengan usaha sendiri, tetapi iman hanya bisa diperlihatkan oleh mereka yang sudah beriman. Berkali-kali Dia bertanya kepada mereka yang ingin disembuhkan, “Apakah kamu percaya bahwa Aku dapat melakukan ini?” (misalnya, Matius 9:28; Markus 9:20–24). Dia membutuhkan demonstrasi iman dari pihak penderita kusta dengan meminta mereka pergi, bahkan sebelum Dia menyembuhkan mereka. Tuhan berfirman, manusia meresponi.

Alkitab tidak mencatat seberapa jauh mereka berjalan sebelum disembuhkan. Namun, hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus atas kesembuhannya. Lukas menyebutkan secara khusus fakta bahwa orang yang kembali itu adalah seorang Samaria, seorang yang dibenci oleh orang Yahudi (Lukas 17:15). Yesus mengungkapkan kekecewaannya karena sembilan orang lainnya tidak berpikir untuk memuji Tuhan atas kesembuhan mereka. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan ingin agar kita mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada-Nya atas semua yang Dia lakukan dalam hidup kita. Terutama atas anugerah keselamatan-Nya.

Meskipun Yesus tidak membatalkan penyembuhan dari sembilan orang yang tidak berterima kasih kepada-Nya, Dia mencatat kurangnya rasa terima kasih mereka (Lukas 17:18). Karena mereka beriman (diberi iman), kesepuluh orang itu sembuh secara fisik. Namun kata-kata terakhir Yesus kepada orang Samaria yang bersyukur itu menyiratkan bahwa pria ini menerima penyegaran rohani selain pembersihan kulitnya. Setelah orang itu sembuh dari penyakit kusta, Yesus berkata kepadanya, “Bangunlah dan pergilah; imanmu telah menyembuhkanmu” (ayat 19). Jadi, kembalinya pria itu tersungkur di kaki Yesus memberinya keutuhan rohani di samping keutuhan fisik yang telah diterimanya. Seperti itu juga, ketika kita rajin meluangkan waktu untuk mengakui Sang Pemberi dalam hidup kita, dan bukan hanya pemberiannya, kita menyenangkan Tuhan serta menikmati penyegaran rohani yang berasal dari rasa syukur kita yang diterima Tuhan.

Lukas tidak berfokus pada perincian penyembuhan jasmani saja. Tatapannya tertuju pada apa yang terjadi setelah kesepuluh orang itu disembuhkan. Banyak hal yang bisa dipelajari di sini.

Pertama, melaksanakan dengan tepat apa yang Yesus katakan (“Pergilah, tunjukkan dirimu kepada para imam”) secara pikiran adalah benar, tetapi salah menurut suara hati. Begitu mereka melihat bahwa mereka telah disembuhkan, mereka semua seharusnya menyadari bahwa sebelum mereka pergi menemui para imam untuk menggenapi Hukum dan perintah langsung Tuhan kepada mereka, mereka harus kembali kepada-Nya untuk bersyukur kepada-Nya. Itu adalah tanggung jawab pribadi setiap orang. Begitu juga orang Kristen yang legalis dan yang terlalu memusatkan diri pada pikiran teologis sering kehilangan rasa syukur dalam hati kepada Tuhan.

Kedua, seseorang tidak perlu menjadi orang Yahudi untuk melakukan apa yang benar. Memang, dalam hal ini justru orang non-Yahudilah yang melakukan apa yang benar. Sembilan lainnya mungkin semuanya orang Yahudi. Namun tidak satupun dari mereka melakukan hal yang benar. Begitu juga di zaman ini, Tuhan menyelamatkan siapa saja yang dipilih-Nya, bukan hanya anggota gereja tertentu atau orang yang memiliki pengertian teologi tertentu.

Ketiga, Allah memperhatikan semua orang, Yahudi dan bukan Yahudi, baik yang lemah maupun yang sehat. Begitu juga, Tuhan mengasihi segala bangsa. Yesus tidak memandang rendah siapa pun, dan kita seharusnya juga begitu. Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih mengasihi orang dan golongan tertentu.

Keempat, Tuhan memberi sepuluh orang kesempatan untuk melakukan hal yang benar. Alasan sembilan orang gagal bukan karena mereka bukan orang pilihan. Mereka adalah orang-orang pilihan. Mereka gagal karena hati mereka tidak benar. Orang Samaria benar-benar berbahagia bukan karena dia orang istimewa (dia bukan orang Yahudi), tetapi karena hatinya benar. Begitu juga, di zaman ini hanya sedikit orang yang memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan dan berusaha untuk hidup baik. Tidak mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang masih bergumul dengan kesangsian atas kasih Tuhan.

Kelima, Tuhan benar-benar menyembuhkan sepuluh orang, bahkan sembilan orang yang tidak kembali. Tuhan tidak mencabut kesembuhan kesembilan orang itu karena kegagalan mereka mengucap syukur. Begitu juga jika Tuhan sudah memilih umat-Nya, Ia tidak akan membatalkan rencana keselamatan-Nya. Tetapi mereka yang tidak berusaha hidup baik akan mengalami hubungan yang tidak erat dengan Tuhan yang mahakasih.

Keenam, sembilan orang melewatkan berkat yang Tuhan berikan secara implisit kepada orang yang kembali untuk mengucap syukur. Begitu juga, orang Kristen yang tidak mau mengingat kasih Tuhan dengan beryukur dalam hidupnya, tidak akan dapat mengalami kesegaran rohani dalam hidupnya.

Ketujuh, alasan kesepuluh orang itu disembuhkan adalah karena kesepuluh dari mereka percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan mereka jika Dia mau. Tuhan memberi tahu orang yang kembali, “Bangunlah, pergilah. Imanmu telah menyembuhkanmu” (ayat 19). Perlu diperhatikan bahwa kata “telah membuatmu sembuh” juga bisa diterjemahkan “telah menyelamatkanmu”. Jika ayat 19 berarti bahwa satu orang yang disembuhkan telah dilahirkan kembali, itu tidak berarti sembilan lainnya tidak. Kesepuluh orang itu beriman bahwa Yesus dapat menyembuhkan mereka. Oleh karena itu kesepuluhnya disembuhkan (atau diselamatkan). Tidak ada ajaran dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa kita membuktikan kelahiran kembali kita melalui perbuatan kita. Tetapi dari sepuluh orang itu, hanya satu yang mengalami kebahagiaan terrbesar dalam hidupnya, dan karena itu bisa bersyukur. Ia mengalami hidup baru dalam Kristus.

Hari ini, apakah Anda bersyukur atas kehidupan fisik? Keluarga yang baik? Makanan setiap hari? Tempat tinggal? Kesehatan? Pakaian? Mobil Anda? Negara Anda? Kota Anda? Gereja Anda? Karunia dan kemampuan Anda? Lalu bagaimana dengan karunia keselamatan yang sedah Anda terima? Apakah Anda memberi tahu Tuhan secara teratur bahwa Anda bersyukur atasnya? Apakah Anda berusaha hidup baik karena rasa syukur yang besar atas kasih-Nya?

Saya harus mengakui bahwa saya tidak selalu setia dalam bersyukur. Tetapi ayat di atas mengingatkan kita untuk melakukannya dan mengajarkan hal itu kepada umat Kristen dari segala bangsa. Hidup baik, berbuat baik, untuk kemuliaan-Nya. Bukan untuk memperoleh karunia kesembuhan dari hukuman dosa, karena kita sudah disembuhkan.

Hidup baik belum tentu tanda bahwa seseorang sudah diselamatkan. Tetapi hidup baik bagi kita adalah rasa syukur yang bisa membawa orang lain ke arah pengenalan akan kasih Yesus. Hidup baik adalah sebuah cara penginjilan yang diperintahkan Tuhan. Apakah itu terlalu berat untuk dijalankan?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Dapatkah kita menolak kehendak Tuhan?

Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: ”Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: ”Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: ”Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit. Kisah Para Rasul 10: 13-16

Pada waktu itu Tuhan membuka mata gereja untuk menyambut orang bukan Yahudi sebagai umat-Nya. Petrus yang sedang lapar mendapat penglihatan: sehelai kain besar diturunkan penuh dengan binatang yang dianggap najis oleh orang Yahudi. Petrus kemudian mendengar suara yang menyuruhnya untuk membunuh dan makan binatang-binatang itu. Petrus kemudian menjawab, “Tidak, Tuhan!” Ini diulang tiga kali sebelum penglihatan berakhir.

Kisah ini adalah satu-satunya di mana Alkitab terasa bertentangan dengan pesannya sendiri karena umat-Nya tidak dapat memanggil “Tuhan, Tuhan”, dan kemudian mengatakan tidak kepada-Nya. Ketaatan tampaknya merupakan landasan iman Kristen sejati. Seorang pelayan tidak mempertanyakan maksud tuannya; tanah liat tidak menginstruksikan pembuat tembikar. Hal menolak kehendak Tuhan malahan sudah menjadi isu yang besar, yang ditolak mentah-mentah oleh mereka yang menganut faham Reformed yang keras. Apakah orang Kristen bisa punya pilihan di hadapan Tuhan? Apakah orang bukan Kristen bisa menolak kehendak Tuhan untuk diselamatkan?

Saya baru-baru ini membaca hal tentang seseorang pria Kristen yang berada dalam situasi yang sulit. Dia menikah tetapi berpisah dengan istrinya. Tidak ada perselingkuhan di antara kedua orang tersebut, tetapi hubungan mereka jelas tidak sehat. Ada ketidakserasian. Sang istri sebenarnya menunjukkan tanda-tanda bersedia untuk menyelesaikannya, tetapi dia takut untuk kembali ke hubungan semula. Dia sangat ingin mengatakan “tidak” kepada Tuhan, tetapi dia adalah seorang Kristen. Dia merasa seakan sudah makan buah simalakama.

Sebagai orang percaya, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa ada orang yang meragukan dan menolak kehendakTuhan. Dia selalu baik. Dia tahu apa yang terbaik. Mengikuti Dia akan selalu menjadi keputusan terbaik dalam hidup. Saya dengan sepenuh hati setuju dengan alasan ini, tetapi terkadang pimpinan-Nya berbeda dengan arah yang Anda tuju. Mungkin Dia akan meminta Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda yang bergaji tinggi untuk suatu petualangan yang tidak diketahui bersama-Nya. Dia mungkin meminta Anda untuk berdamai dengan seseorang yang telah banyak menyakiti Anda. Terkadang Dia meminta Anda untuk pergi ke dalam badai di mana Anda pikir Anda akan mati. Tidaklah mudah untuk menjawab dengan “ya”. Tetapi, masalah yang paling besar adalah bagaimana Anda tahu apa kehendak Tuhan bagi Anda? Kehendak Tuhan yang lebih mudah kita tanggap adalah apa yang ada dalam Alkitab. Itulah yang harus kita prioritaskan, dan bukan kehendak-Nya yang belum dinyatakan.

Bagaimana jika kita tidak melakukan apa yang Dia minta? Musa sering disebut sebagai sahabat Allah (Keluaran 33:11), tetapi ‘teman Allah’ ini terang-terangan mengatakan “tidak” kepada-Nya. Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar, dan mereka berdialog panjang. Pada akhirnya, Musa tidak mau pergi karena dia takut berbicara di depan umum. Setidaknya dua kali, Musa menolak perintah Tuhan. Akhirnya, Tuhan “mengalah dan membuat kompromi” untuk memungkinkan Harun menjadi juru bicara Musa (Keluaran 4:13-16).

Benarkah Allah menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak manusia? Jika demikian, bukankah manusia bisa merubah atau membatalkan rencana Allah? Masalahnya disini, tahukah kita apa yang sudah direncanakan Allah? Bukankah Dia tahu apa yang akan kita lakukan sejak mulanya dan membuat rencana-Nya berdasarkan apa yang akan terjadi? Kita tidak tahu jalan pikiran dan cara bekerja Allah, tetapi harus mengerti bahwa sekalipun manusia bisa mereka-rekakan apa yang jahat, tetapi Allah tetap bisa mencapai rencana-Nya. Manusia bisa membuat keputusan secara bebas, sekalipun itu tidak akan bisa berhasil jika tidak sesuai dengan rencana-Nya.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Kejadian 50:20

Bisakah kita mengatakan tidak kepada Tuhan? Jelas, itu bisa dan itu normal karena manusia adalah gambar Tuhan. Tetapi, apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya pasti tidak akan terjadi. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan atau yang kita pilih, jika itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Juga bersedia menerima akibatnya, karena apa yang ditabur manusia adalah apa yang akan dituainya (Galatia 6: 7).

Pertanyaannya dengan demikian, bukanlah apakah menolak kehendak-Nya adalah hal yang bisa dilakukan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Tuhan kemudian akan menolak kita karena kita menolak Dia. Maksud saya, jika kita mengatakan “tidak” kepada-Nya, kepada uluran tangan-Nya, apakah Dia akan tetap mengasihi kita? Apakah saya masih bisa dipakai oleh-Nya di bidang lain? Bisakah saya tetap memiliki hubungan dengan-Nya jika saya menolak salah satu permintaan-Nya? Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa jika Ia mundur karena kita menolak-Nya. Ia bisa memakai jalan apa saja untuk mewujudkan rencana-Nya, sekalipun kita mungkin akan mendapat pelajaran pahit dari hal ini.

..karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Ibrani 12: 6-7

Dari sudut lain, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan adalah mahakasih. Bagi umat-Nya, apa yang Tuhan lebih inginkan adalah agar kita tidak menjadi budak tetapi menjadi teman-Nya. Tuhan akan selalu tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena itu, Dia akan menunggu kita untuk menerima tawaran-Nya. “Dia sabar terhadap kita, tidak ingin ada yang binasa” (2 Petrus 3:9). “Kemurahan-Nyalah yang menuntun kita kepada pertobatan” (Roma 2:4). Tuhan jauh lebih tertarik pada kesadaran hati kita daripada ketaatan kita yang dipaksakan (Mazmur 51:16-17).

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa mengatakan “tidak” kepada Tuhan sepertinya hal yang mustahil bagi orang Kristen dan bukan Kristen. Tapi pandangan ini tidak tepat. Memang, bagi kita yang sudah percaya akan kasih-Nya, terkadang lebih mudah untuk mematikan hati kita dalam ketaatan, daripada bergumul dengan Tuhan tentang hal-hal yang tidak ingin kita lakukan. Pada pihak yang lain, Tuhan lebih memilih pergumulan iman daripada kematian iman, karena pergulatan justru bisa membina hubungan yang erat di masa depan. Kita harus sadar bahwa Dia mencintai kita sepenuhnya dan tidak menginginkan perpisahan. Kristus pergi ke kayu salib untuk membawa siapa saja yang bertobat dan percaya kepada Allah (1 Petrus 3:18). Dengan demikian, Kristus juga menyambut siapa saja yang setelah menyadari kesalahannya, kemudian kembali memilih jalan hidup yang benar.

Jika Anda ingin katakan “tidak” kepada Tuhan, beri tahu Dia tentang hal itu. Beri tahu Dia mengapa Anda menolak ajakan-Nya atau tentang apa yang Anda kuatirkan. Apa pun yang Anda lakukan, jangan biarkan itu mematikan atau membekukan hubungan Anda dengan Tuhan. Tuhan mengasihi dan menghendaki adanya komunikasi dan relasi yang baik dengan umat-Nya. Anda bukan diciptakan sebagai boneka, tetapi sebagai manusia yang mempunyai roh dan akal budi, yang bisa bercakap-cakap dengan-Nya. Biarlah Dia mencurahkan kebaikan, kasih dan bimbingan-Nya kepada Anda. Dia mengasihi Anda karena Anda adalah gambar-Nya, dan dengan itu Anda akan bisa mengasihi-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi melalui berbagai gelombang kehidupan.