Nasib yang jadi kambing hitam

“Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.” Yudas 1: 16

Yudas sang Rasul adalah salah satu dari keduabelas rasul Yesus Kristus. Dalam Alkitab dicatat dengan nama “Yudas anak Yakobus” atau “Yudas bin Yakobus”. Ia dikenal dengan nama lainnya Tadeus, atau Yudas Tadeus. Penulis surat Yudas ini berbeda orang dengan Yudas Iskariot, mantan rasul yang mengkhianati Yesus, karena ada catatan mengenai “Yudas, yang bukan Iskariot”.

Yudas 1: 5–16 menggambarkan sifat, kesalahan, dan nasib guru-guru palsu yang mengganggu gereja Kristen. Pembaca surat Yudas tampaknya telah mengenal sejarah Israel. Bagian ini merujuk pada peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama untuk membantu menjelaskan dosa-dosa orang murtad, bahaya yang mereka timbulkan, dan bagaimana Tuhan akan menghukum mereka.

Yudas merujuk ketidakpercayaan Israel setelah Tuhan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, mereka yang memberontak dari Tuhan, orang-orang fasik dari Sodom dan Gomora, serta bahaya membiarkan orang-orang seperti itu berbaur dengan orang percaya lainnya. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa salah satu bahayanya adalah bahwa orang-orang itu sering mengerutu dan mengeluh atas nasib mereka dan memungkiri tanggung jawab untuk memilih hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Mereka mempersalahkan Tuhan dan mengkambinghitamkan nasib sebagai penyebab dosa mereka.

“Segala hal terjadi untuk suatu alasan.” Mungkin anda pernah mendengarnya sebelumnya. Mungkin anda pernah mengatakannya. Kalimat ini terdengarnya seperti bijak sekali. Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan,” dan “Tuhan memberi alasan untuk semua yang terjadi.” Yang pertama adalah fatalisme Kristen; yang kedua menyatakan kemuliaan Tuhan. Mereka yang menggunakan alasan bahwa Tuhan yang menentukan segalanya sering kali tidak sadar bahwa ada banyak hal buruk yang terjadi karena kesalahan mereka sendiri.

Gagasan bahwa Tuhan entah bagaimana menarik tuas di balik layar kehidupan adalah apa yang disebut fatalisme Kristen: “Tuhan itu mahakuasa. Kehendak-Nya tidak dapat disangkal”. Karena itu, segala sesuatu yang terjadi pasti sudah menjadi bagian dari rencana-Nya sejak awal. Dia berada di belakang segala apa yang terjadi di dunia selama ini. Bukankah Tuhan itu mahakuasa? Manusia hanya bisa berserah!

Walaupun demikian, Tuhan tidak mengatur hidup manusia, yang diciptakan menurut gambar-Nya, secara berlebihan. Dia memang bekerja di dalam diri mereka. Apa yang sesuai dengan rencana-Nya akan mendapat berkat-Nya. Pada pihak yang lain, Tuhan adalah pengampun, sabar, dan baik hati. Dia tahu kelemahan kita dan tetap mau untuk membimbing mereka yang tersesat dan kemudian bertobat. Beberapa orang melakukan apa yang disiapkan Tuhan sebagai kejahatan, tetapi Dia bisa memakai hal itu untuk maksud yang baik. Lebih dari itu, Tuhan sendiri tidak pernah menjadi pembuat kejahatan itu. Tuhan selalu mempunyai alasan untuk membiarkan hal itu terjadi.

Tuhan juga bisa membuat sesuatu yang luar biasa indahnya muncul dari kebodohan manusia. Juga benar bahwa kemuliaan kuasa dan hikmat Tuhan sering diperlihatkan sebagai kontras dengan apa yang diperbuat manusia, dan itu terlepas dari pilihan manusia. Bagian dari kemuliaan Tuhan adalah kemampuan-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di tengah rumitnya sejuta pilihan dan perbuatan manusia, termasuk apa yang bodoh, jahat dan kotor.

Salah satu tragedi terbesar dalam gereja Kristen selama berabad-abad adalah gagasan adanya nasib, yaitu bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Menurut pandangan ini, pernyataan bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berarti bahwa Tuhan sebenarnya telah memakai sebuah naskah, dan hanya dapat mengikuti jalan yang telah ditetapkan-Nya sampai ke detil yang sekecil-kecilnya. Tuhan yang tidak dapat bertindak apa-apa, kecuali jika Ia membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Dengan demikian Tuhan digambarkan seperti manusia yang terbatas kemampuannya.

Adalah menyedihkan bahwa dalam menghadapi tragedi mengerikan dan menyedihkan seperti adanya pandemi saat ini, orang-orang yang masih percaya pada “fatalisme Kristen” akan menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa ini entah bagaimana, adalah kehendak Tuhan dan bahkan didatangkan Tuhan. Mereka percaya atas semboyan “pasarah pada nasib” – apa pun yang akan terjadi, akan terjadi. Karena itu, dosa mereka pun terjadi karena Tuhan yang menyebabkan. Benarkah demikian?

Ayat di atas ditulis ole rasul Yudas yang menegur orang-orang Kristen yang sesat. Mereka adalah penggerutu. Maknanya adalah mencela atau mengeluh atas cara pemeliharaan Tuhan, atau merasa adanya kesalahan dalam rencana, dan tujuan, dan perbuatan Tuhan. Secara harfiah, sebenarnya mereka menemukan kesalahan dengan apa yang terjadi dalam hidup sendiri. Tidaklah jarang ada orang yang mengeluh tentang nasib mereka; yang berpikir bahwa itu terlalu sulit. Mereka membandingkan keadaan mereka dengan orang lain, dan menyalahkan Tuhan karena tidak membuat keadaan mereka lebih ringan. Mereka membuat orang lain ikut sesat melalui pengajaran mereka.

Apa akibat pengajaran yang keliru ini? Orang yang miskin mengeluh bahwa mereka tidak kaya seperti orang lain; orang sakit menjadi merana karena mereka tidak diberi kesehatan , dan yang bekerja untuk orang lain mengeluh bahwa mereka tidak dikaruniai kebebasan, bahkan ada yang menyesali Tuhan karena mereka ditinggal paangan atau teman; atau yang menyesali hidupnya karena merasa kurang menawan; juga yang iri kepada orang yang ugal-ugalan tapi hidupnya terlihat nyaman. Orang yang ditegur Yudas, termasuk mereka yang sering menunjukkan rasa hormat yang besar kepada orang-orang tertentu, terutama yang kaya dan besar, karena mereka berharap mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Mumpung ada kesempatan.

Kita tidak perlu percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa harus menetapkan semua hal di atas untuk bisa mewujudkan rencana-Nya. Tetapi, Tuhan tetap bisa mewujudkan rencana-Nya sekalipun manusia berbuat hal-hal yang tidak dikehendaki-Nya. Tuhan bekerja di tengah-tengah segala sesuatu dan Dia memutuskan hasilnya berdasarkan semua faktor yang penting bagi-Nya, termasuk pilihan yang dibuat orang, dan terutama doa, iman, dan tanggapan umat-Nya sendiri.

Bukanlah kehendak Tuhan bagi gereja-Nya untuk meninggikan rasa tunduk kepada-Nya dengan membayangkan bahwa Tuhan yang mahasuci akan memakai segala cara, termasuk apa yang jahat dan kejam, untuk menyatakan kedaulatan-Nya. Bukanlah kehendak Tuhan bagi kita untuk berhenti percaya bahwa Dia akan menjawab doa-doa kita pada saat yang tepat. Bukan kehendak Tuhan bahwa orang Kristen bersikap apatis atas diri sendiri dan orang lain.

Malam ini, biarlah kita menentang setiap bentuk “fatalisme Kristen”. Jangan memakai kata nasib sebagai kambing hitam. Jangan pasif. Jangan malas. Jangan apatis. Jangan tidur. Bangun dan percayalah akan kasih Tuhan. Tolaklah setiap bentuk fatalisme, bahkan jika itu muncul dalam jubah “kedaulatan Tuhan”. Yakinlah atas kasih Tuhan kepada semua bangsa yang sudah diberi penebusan, dan bukannya pada kutuk Tuhan kepada setiap manusia yang terjadi sesudah mereka jatuh dalam dosa.

Mana yang anda kagumi: harta, penampilan, atau nama besar?

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19-20

Jika anda berpikir memiliki banyak uang, penampiln menarik, atau dikagumi banyak orang akan menambah kepuasan hidup anda, coba pikirkan lagi. Sebuah studi oleh tiga peneliti Universitas Rochester di New York menunjukkan bahwa keberhasilan di bidang ini sebenarnya dapat membuat seseorang justru kurang bahagia. Perlu dicatat, studi ini bukan dilakukan dalam bidang teologi.

“Orang-orang memahami bahwa penting untuk mengejar tujuan dalam hidup mereka dan mereka percaya bahwa mencapai tujuan ini akan memiliki konsekuensi positif. Studi ini menunjukkan bahwa ini tidak benar untuk semua tujuan,” kata Edward Deci, seorang profesor psikologi. “Meskipun budaya kita sangat menekankan pada pencapaian kekayaan dan ketenaran, mengejar tujuan ini tidak berkontribusi untuk memiliki kehidupan yang memuaskan. Hal-hal yang membuat hidup anda bahagia adalah tumbuh sebagai individu, memiliki hubungan kasih, dan berkontribusi pada komunitas anda, “ucap profesor Deci.

Makalah penelitian, yang sudah diterbitkan dalam Journal of Research in Personality edisi Juni 2009, melacak 147 alumni dari dua universitas selama tahun kedua mereka setelah lulus. Dengan menggunakan survei psikologis yang mendalam, para peneliti menilai peserta di bidang-bidang utama, termasuk kepuasan dengan hidup, harga diri, kecemasan, tanda-tanda fisik stres, dan pengalaman emosi positif dan negatif.

Aspirasi diidentifikasi sebagai “intrinsik” atau “ekstrinsik” dengan menanyakan kepada peserta seberapa besar mereka menghargai memiliki “hubungan yang dalam dan langgeng” dan membantu “orang lain meningkatkan kehidupan mereka” (tujuan intrinsik) dibandingkan dengan menjadi “orang kaya” dan mencapai “penampilan yang saya idamkan” (tujuan ekstrinsik). Responden juga melaporkan sejauh mana mereka telah mencapai tujuan ini. Untuk melacak kemajuan, survei dilakukan dua kali, setahun sekali setelah kelulusan dan lagi 12 bulan kemudian.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa semakin berkomitmen seseorang terhadap suatu tujuan, semakin besar kemungkinan keberhasilannya. Namun tidak seperti yang digembar-gemborkan banyak motivator, analisis ini menunjukkan bahwa mendapatkan apa yang diinginkan tidak selalu menyehatkan. Apa yang “mencolok dan paradoks” tentang penelitian ini, katanya, adalah bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa pencapaian materialistis dan pencapaian terkait citra sebenarnya berkontribusi pada penyakit jasmani dan rohani.

Terlepas dari prestasi mereka, individu mengalami lebih banyak emosi negatif seperti rasa malu dan marah, dan lebih banyak gejala-gejala stres seperti kecemasan, sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan energi. Sebaliknya, individu yang menghargai pertumbuhan pribadi, hubungan dekat, dan keterlibatan dalam masyarakat lebih puas saat mereka mencapai kesuksesan di bidang tersebut. Mereka mengalami rasa kesejahteraan yang lebih dalam, perasaan yang lebih positif terhadap diri mereka sendiri, hubungan yang lebih kaya dengan orang lain, dan lebih sedikit tanda-tanda stres.

Semua hal di atas agaknya sudah pernah kita dengar, tetapi mengapa banyak orang masih mengagumi mereka yang kaya, yang mempunyai penampilan menarik, dan yang terkenal? Karena kagum pada sesuatu hal seseorang bisa kehilangan akal sehat dan kemudian jatuh cinta setengah mati. Karena dikagumi orang atas sesuatu hal, bisa membuat seseorang menjadi sombong setengah mati. Ini bukan saja terjadi di dunia musik, film, bisnis, politik dan teknologi, tetapi juga bisa dilihat dalam bidang keagamaan.

Banyak pemimpin agama yang dikagumi oleh pengikutnya. Entah itu karena hidupnya yang terlihat suci, karena hikmat kebijaksanaan yang terlihat dari luar, gerejanya yang megah, atau karena pelayanan sosial yang dilakukan mereka. Selain itu ada juga orang-orang lain yang dikagumi karena penampilan atau kemampuan jasmani mereka. Tambahan pula, ada orang-orang yang dikagumi karena sukses dalam bisnis atau bidang-bidang yang lain. Karena itu, tidaklah mengherankan jika tokoh-tokoh seperti itu menjadi seperti magnet yang mempunyai daya tarik besar. Banyak orang yang ingin menjadi seperti mereka.

Biasanya orang yang menafsirkan bahwa harta duniawi adalah uang, tetapi itu juga bisa diartikan penampilan, nama besar dan hal-hal lain yang tidak bisa dibawa orang sesudah ia mati. Semua yang terlihat indah, belum tentu membawa kebahagiaan selama hidup, tetapi sudah pasti bakal ditinggalkan sesudah kematian. Ayat diatas menunjuk kepada perintah kepada orang Kristen agar tidak mengumpulkan harta duniawi yang tidak abadi, tetapi sebaliknya mengumpulkan harta surgawi yang kekal. Kepuasan hidup tidak datang dari harta duniawi yang mudah lenyap, tetapi dari harta surgawi yang tidak bisa hilang.

Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di surga tetapi tidak secara langsung menjelaskan harta apa yang dimaksud dan bagaimana cara mengumpulkannya. Karena itu, harta ini mungkin sering digambarkan serupa dengan benda-benda berharga yang pernah kita lihat, tapi lebih indah. Mereka yang mengumpulkan harta surgawi akan hidup dalam kenyamanan di surga. Itu jugalah yang diajarkan banyak agama-agama lain. Benarkah begitu?

Bahwa kita diselamatkan hanya karena darah Kristus, itu sudah kita ketahui. Kesuksesan kita bukanlah yang menjadi kunci untuk masuk ke surga. Kehidupan di surga tentunya lain dengan kehidupan dunia; kita tidak akan membutuhkan apa-apa untuk hidup disana. Karena itu kita tidak perlu  mencari bekal untuk ke surga karena di rumah Tuhan tentunya segala sesuatu sudah tersedia. Tambahan lagi, untuk mereka yang setia dalam hidup di dunia, ada tersedia karunia khusus di surga (Matius 10: 42). Sekalipun kita bisa mengumpulkan segala yang indah, pastilah itu tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Allah di surga (Wahyu 21: 21).

Manusia mengejar harta, penampilan dan kemasyhuran di dunia ini sebenarnya dalam usaha untuk mencari kebahagiaan dan kepuasan pribadi. Tetapi dari ayat diatas kita tahu bahwa semua itu sia-sia. Untuk mencari kebahagiaan selama hidup di dunia ini kita tidak boleh menggantungkan diri pada harta, penampilan atau kesuksesan kita, tetapi sebaliknya harus memakai hal-hal itu untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengasihi sesama kita:

“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Lukas 12: 33-34

Ayat ini jelas menyatakan perlunya untuk kita dalam hidup ini untuk melepaskan diri dari belenggu harta dan kesuksesan duniawi agar hati dan hidup kita siap untuk dipusatkan kepada Tuhan. Agar kita dapat memperoleh kebahagiaan yang langgeng.

Harta, penampilan, dan kesuksesan tidaklah abadi, tetapi pengaruhnya bisa sangat besar dalam hidup kita. Semua itu bisa datang sebagai berkat Tuhan, tetapi juga bisa menjadi penguasa hati dan hidup kita. Harta, penampilan, dan kesuksesan bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama, tetapi juga bisa menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. Harta duniawi adalah hati yang diisi kerakusan dan ketamakan. Tetapi harta surgawi adalah hati yang diisi rasa syukur kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia.

Hari ini, tantangan untuk kita adalah bagaimana kita bisa mengubah sikap dan pandangan kita terhadap uang, penampilan dan kesuksesan di dunia ini. Selama segala bentuk harta duniawi ini mengontrol hidup kita, kesempatan untuk mengumpulkan harta surgawi dalam bentuk hati yang penuh rasa syukur kepada Tuhan dan kerinduan untuk memuliakan nama-Nya serta kemauan untuk mengasihi sesama kita tidak akan bertumbuh. Akibatnya, kebahagiaan hidup kita di dunia ini akan sulit dicapai. Kita harus sadar bahwa hidup surgawi sudah bisa dirasakan oleh semua orang percaya selama hidup di dunia jika saja mereka mau membiarkan Tuhan untuk menguasai hati dan pikiran mereka! 

Apakah Tuhan menentukan seluruh tindakan manusia?

“Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.” Amsal 19:3

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam hari-hari mendatang? Keputusan yang anda ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang anda sukai.

Ada orang yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih. Tetapi, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dalam kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi semuanya sama rasanya dan itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun manusia nampaknya bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Karena itu, seperti ayat yang tercantum di atas, ada banyak orang yang merasa kecewa dengan masa lalu. Mereka, kemudian merasa marah kepada Tuhan. Itu karena merasa bahwa Tuhan sudah berlaku tidak adil.

Apakah Tuhan sudah menetukan segala sesuatu untuk kita? Apakah Ia sudah memastikan nasib kita di dunia? Untuk menjawabnya, mari kita mulai dengan mendefinisikan beberapa istilah:

Determinisme: Pandangan ini menganggap semua peristiwa mempunyai penyebabnya. Kaum determinis percaya bahwa semua peristiwa, termasuk perbuatan manusia sudah ditentukan.

Fatalisme: Pandangan ini menganggap “sesuatu harus terjadi, maka terjadilah.” Mereka percaya bahwa semua peristiwa, baik yang di masa lampau, masa kini, dan masa depan, sudah ditentukan oleh Allah atau kekuatan ilahi lainnya.

Kehendak bebas: Teori yang menyatakan bahwa seseorang dalam situasi tertentu, bisa-bisa memilih melakukan apa saja. Para filsuf memandang teori kehendak bebas ini bertentangan dengan determinisme.

Indeterminisme: Pandangan yang percaya kalau ada peristiwa tertentu yang tidak ada penyebabnya. Banyak pendukung teori kehendak bebas yang percaya kalau tindakan seseorang dalam memilih itu terjadi tanpa harus ditentukan oleh penyebab yang bersifat fisiologi maupun psikologi.

Fatalisme secara teologis berusaha menunjukkan adanya kontradiksi logika antara ke-Mahakuasa-an Allah dengan kehendak bebas, di mana kehendak bebas diartikan sebagai kemampuan untuk memilih dari opsi-opsi yang ada. Cara pikir mereka kurang lebih seperti ini: Allah itu Mahakuasa. Karena Allah itu Mahakuasa, maka Allah juga Mahatahu sehingga tidak mungkin bisa salah. Karena Allah punya pengetahuan yang tidak terbatas mengenai peristiwa apapun yang akan terjadi besok, misalnya dalam hal memotong rumput, maka seseorang terpaksa harus melakukan kegiatan itu. Karena itu, keberadaan kehendak bebas menjadi tidak mungkin, karena manusia tidak punya pilihan lain selain melakukan kegiatan itu.

Mereka yang secara membabi buta percaya kalau “apa pun yang harus terjadi, terjadilah” sama salahnya dengan mereka yang percaya segala sesuatu terjadi karena kebetulan. Betul kalau segala sesuatu terjadi, tapi itu hanya karena seizin Allah yang berdaulat yang mengizinkan peristiwa itu terjadi, menurut kehendak-Nya. Mereka yang dengan sungguh-sungguh mempelajari Alkitab tidak mungkin percaya kalau segala sesuatu terjadi hanya karena kebetulan saja.

Sebaliknya, mereka yang tidak menginginkan Allah berkuasa atau mereka yang menolak kedaulatan Allah, adalah orang-orang yang tidak mengasihi Allah dan tidak menginginkan Allah dalam hidup mereka. Mereka ingin berjalan menurut kehendaknya sendiri.

Hari ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Sering kali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Alkitab menyatakan bahwa adalah keputusan kita sendiri jika kita memilih jalan itu.

Kita tidak akan mudah merasa ragu untuk mengambil keputusan jika kita hidup dekat dengan firman-Nya. Tuhan sudah memberi kita Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita dalam mengambil keputusan. Karena itu, jika kita mendapatkan hasil yang baik, janganlah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita mengalami kegagalan, itu mungkin karena kesalahan kita. Dalam hal ini, kita tetap percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang nampaknya buruk untuk menjadi apa yang baik untuk anak-anak-Nya.

Hal menyesali dosa

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51: 1

Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya.  Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa.  Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya.

Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.

Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang  bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Buat apa memikirkan kesalahan di masa lalu? Bukankah berpikir positif adalah lebih berguna dari pada hidup dalam penyesalan?

Berpikir positif atau positive thinking adalah sesuatu yang banyak digembar-gemborkan oleh berbagai motivator pada zaman ini. Berpikir positif adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan dalam menghadapi kesulitan, begitu kata orang. Memang, jika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, pikiran yang negatif seringkali membuat persoalan menjadi terasa makin berat. Berpikir positif secara umum menyangkut usaha untuk memperbesar hal percaya kepada diri sendiri dan memupuk semangat untuk menghadapi hari depan. Kelihatannya, semua ini adalah baik dalam pandangan banyak orang yang menghadapi kesulitan hidup. Rasa sesal dan kesal memang bisa membuat semangat orang menjadi hancur dalam kesulitannya. Bagaimana kata firman Tuhan dalam hal ini?

Alkitab menceritakan kesulitan besar yang dihadapi raja Daud. Ketika itu ia sudah melakukan dosa besar dengan menghamili Batsyeba, istri Uria panglima perangnya. Bukan itu saja, tindakan Daud yang lain kemudian menyebabkan kematian Uria. Tuhan kemudian mengutus nabi Natan untuk memperingatkan Daud (2 Samuel 12). Daud tidak membantah apa yang dinyatakan oleh Natan, sebaliknya ia memohon ampun kepada Tuhan. Daud tidak memakai cara berpikir positif dengan mengabaikan kekeliruan yang pernah dilakukannya, tetapi dengan sungguh-sungguh meminta pengampunan Tuhan akan segala pelanggarannya. Daud mengerti bahwa dengan mengakui segala kekeliruannya dan menyadari bahwa Tuhan tidak dapat ditipu dengan penampilannya, ia masih bisa berharap pada belas kasihan Tuhan.

Dari kisah hidup Daud, kita bisa menyadari bahwa Daud bukanlah orang yang sempurna, tetapi sebaliknya ia adalah orang yang lemah dan bergelimang dosa. Tetapi Daud adalah orang yang tidak bersandar pada diri sendiri dan mencoba menyelesaikan persoalan hidupnya dengan kekuatannya. Ia tidak menutupi masa lalunya dengan  pikiran-pikiran positif.  Sebaliknya, Daud  menghampiri tahta Tuhan dengan bersujud dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia sadar bahwa dengan usaha apapun ia tidak dapat memutar balik jam kehidupannya dan mencuci bersih dosa yang sudah dilakukannya. Ia hanya bisa memohon ampun kepada Tuhan yang mahasuci.

Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerapkali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suara-Nya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita.

Ketidakpedulian akan keadaan diri kita yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita. Mungkin kita merasa cukup baik dan tidak seperti orang lain yang hidupnya kacau. Kita mungkin lupa bahwa Tuhan adalah mahasuci dan semua orang adalah tidak layak dan sudah berdosa di hadapan hadirat-Nya.

Apa yang akhirnya terjadi pada Daud bisa mengingatkan kita  bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih. Seperti Tuhan sudah mengampuni Daud, Ia juga bisa mengampuni kita jika kita mau mengakui kekeliruan hidup kita dan memohon ampun kepada-Nya. Jika kita memang mau berlaku jujur di hadapan tahta-Nya, Tuhan akan memberikan kita kemurahan-Nya dengan membimbing kita untuk menghadapi masa depan kita. Tidak ada hal lain yang bisa mengembalikan rasa percaya diri kita, kecuali keyakinan bahwa Tuhan sudah mengampuni segala kesalahan, kesombongan, kepalsuan dan kejahatan kita yang lain. Dengan pengampunan-Nya, beban besar yang ada dipundak kita akan dilepaskan dan kita bisa melangkah menuju hari depan dengan rasa damai dan bahagia.

Hari ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umat-Nya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah  pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Sulitnya melewati lubang jarum

/ DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Hari ini adalah hari di mana saya harus meninggalkan Darwin untuk terbang kembali ke Brisbane. Liburan sudah berakhir, dan esok hari saya harus kembali bekerja. Darwin adalah ibukota negara bagian Northern Territory (NT), yaitu provinsi paling utara Australia yang jaraknya sekitar 3000 km dari Brisbane, ibukota negara bagian Queensland.

Suatu hal yang menarik mengenai provinsi NT adalah jumlah penduduknya yang hanya sekitar 250 ribu sekalipun luas daerahnya adalah 1, 42 juta km persegi. Lebih menarik lagi, ada daerah tertentu yang tidak dihuni manusia, tetapi ditinggali oleh koloni unta liar sampai sebanyak 2 unta per km persegi. Sebagai binatang pemakan daun yang besar tubuhnya, unta liar sering membuat kerusakan yang signifikan atas berbagai tanaman di daerah itu. Karena itu, pemerintah setempat secara teratur berusaha mengurangi jumlah unta liar melalui program pemusnahan.

Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu kecil seperti itu.

Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.

Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Hal membagikan berkat Tuhan

 / DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Malam ini saya berjalan kaki keluar dari hotel saya di Darwin untuk makan malam. Di sepanjang jalan, saya melihat lampu-lampu yang dipasang di banyak pohon, yang membuat suasana terasa seperti suasana akhir tahun di kota besar. Padahal kota Darwin hanya bisa terbilang kota kecil saja dengan jumlah penduduk yang kurang dari 150 robu orang.

Suasana yang nampak meriah untuk para turis, tidak bisa menutupi ketimpangan sosial yang ada, karena terlihat banyak orang yang tergolong tuna wisma berkumpul di berbagai sudut jalan. Mereka adalah penduduk asli Australia. Masalah yang dihadapi mereka pada umunnya menyangkut terbelakangnya pendidikan, pekerjaan dan kesehatan. Hidup mereka penuh tantangan yang sulit untuk diatasi pemerintah.

Tantangan hidup memang seringkali berat bagi banyak orang. Semakin banyak penduduk dunia, semakin banyak juga orang yang dalam kesusahan. Walaupun ada kemajuan teknologi dan ekonomi di banyak negara, dalam kenyataannya banyak orang di negara manapun yang harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang dalam posisi sosial yang lemah.

Perbedaaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaan-Nya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena makanan sudah tentu tidak akan jatuh dari surga. Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapa pun, termasuk Tuhan. Benarkah begitu?

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin sudah dapat diartikan “sangat berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya yang hidup berkekurangan mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Dengan demikian kitalah yang harus belajar hari demi hari untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dengan apa yang kita terima.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, sering kali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup, hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus. Dengan adanya rasa cukup, kita baru bisa tergerak untuk menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan.

Hari ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, mereka bisa merasakan bahwa apa yang mereka terima sudah lebih dari cukup, dan karena itu mereka dengan senang hati membaginya dengan orang lain demi kemuliaan Tuhan.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Matius 5: 7

Manusia nembutuhkan terang dari Tuhan

 / DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.” Kejadian 1: 16

Kemarin siang, setelah terbang hampir empat jam dari Brisbane, saya mendarar di kota Darwin. Sorenya, saya sempat berjalan-jalan ke pantai Mindil. Kota Darwin tidaklah jauh dari Kota Kupang di Indonesia, sekitar satu jam penerbangan saja. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Indonesia yang berdomisili di sana.

Mindil adalah satu pantai yang sering di kunjungi turis di Darwin karena adanya pasar malam setiap hari Kamis dan Minggu. Di pasar malam itu ada banyak orang yang menjual makanan dari berbagai negara. Saya ke sana bukan saja untuk berkuliner, tetapi juga untuk menonton matahari terbenam, yang memang terkenal keindahannya. Maklum, seperti pantai Kuta, pantai Mindil menghadap ke barat, sehingga matahari bisa terlihat pelan-pelan tenggelam ke arah garis horizon.

Berpikir tentang matahari yang datang di pagi hari dan kemudian terbenam di waktu senja, saya tak heran-herannya memikirkan kebesaran Tuhan yang menciptakan segalanya. Dalam kitab Kejadian, diungkapkan bagaimana bumi ini asalnya gelap sampai saat ketika Tuhan memisahkan gelap dan terang di hari pertama (Kejadian 1: 4). Ketika itu matahari kita belum ada dan itu berarti bahwa dalam jagad raya ini ada sumber cahaya yang lain selain matahari yang kita kenal. Matahari yang kita kenal baru diciptakan pada hari keempat (Kejadian 1: 16).

Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa diluar ruang pengaruh matahari yang kita kenal ada banyak matahari-matahari yang lain. Sampai saat ini astronomer-astronomer di berbagai negara telah menemukan lebih dari 500 sistem matahari/solar dan bahkan menemukan sistem solar yang baru setiap tahun. Saintis-saintis memperkirakan kemungkinan adanya 100 ribu juta (100 miliar) matahari di jagad raya ini. Tetapi hanya satu matahari yang berguna untuk hidup kita. Tanpa matahari dunia ini akan menjadi beku dan kita akan mati.

Manusia dengan kepandaiannya menanggapi kebesaran ciptaan Tuhan ini dengan berbagai sikap. Bagi yang percaya adanya Tuhan,  tidak lagi ada pertanyaan  apakah Tuhanlah yang menciptakan segalanya. Tetapi bagi yang menganggap dirinya “berpendidikan dan modern”, semua itu mungkin terjadi menurut hukum alam/fisika. Sedangkan untuk mereka beragama dan “toleran”, soal Tuhan manakah yang menciptakan matahari itu, tidaklah perlu dipersoalkan. Dan untuk mereka yang “mengikuti tren”, tuhan-tuhan yang baru masih terus bermunculan.

Bagi yang melihat matahari datang dan pergi setiap hari untuk semua orang, mungkin juga ada perasaan bahwa Tuhan itu tidak mencampuri hidup manusia. Karena itu “life goes on” dan segala sesuatu bisa diperbuat manusia dengan bebas. Tetapi untuk kita umat Kristen, Tuhan itu ada dan membimbing umat-Nya. Tiap kali kita diingatkan bahwa seperti adanya satu matahari yang menerangi bumi kita, hanya ada satu Tuhan yang bisa menerangi hidup kita. Tanpa matahari kita akan musnah dan tanpa Tuhan kitapun akan menemui kematian.

Tuhan menciptakan segala sesuatu secara sistematis dan harmonis. Kasih dan kebesaran Tuhan itu tidak ada bandingnya, dan tidak ada tuhan-tuhan, matahari-matahari lain – baik yang sudah ada sejak jaman dulu, maupun yang sudah atau akan muncul di jaman ini – yang bisa menerangi hidup manusia. Hanya Tuhan kitalah yang mempunyai rencana penyelamatan manusia dari awalnya dan menggenapi rencanya-Nya pada saat yang tepat dengan kelahiran Yesus di dunia. Hanya Tuhan kitalah yang mengerti bahwa seperti hidup jasmani kita membutuhkan sinar matahari, hidup rohani kita memerlukan sinar kasih penebusan Yesus!

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Jika kenal mengapa acuh tak acuh?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Apakah anda masih kenal dengan teman-teman SD anda? Bagi setiap orang, waktu sudah berjalan cepat dan karena itu mungkin tidak ada orang yang ingat siapa saja yang pernah dikenalnya di masa kecil. Lama tak jumpa membuat orang sulit mengingat nama mereka yang pernah sekelas atau yang pernah bermain bersama. Jika pun ada kesempatan bertemu lagi, terkadang rasa ragu mungkin membuat seseorang tidak acuh terhadap orang-orang yang mungkin pernah dikenalnya.

Jika lama tak jumpa membuat hubungan antar manusia menjadi renggang, lama tak berbakti kepada Tuhan membuat orang lupa untuk memuliakan Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Oleh sebab itu, pelan-pelan pikiran mereka tidak lagi diisi hal-hal yang sesuai dengan firman Tuhan. Hidup berjalan terus, dan secara lambat tetapi pasti, mereka tidak dapat merasakan perlunya untuk mengenal Tuhan. Tidak dapat ditolak bahwa kenyataan menunjukkan bahwa mereka sudah meninggalkan iman yang dulunya ada.

Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dialami dan dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma 2000 tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil untuk zaman sekarang. Betapa tidak? Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal  yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam beberapa negara kepercayaan kepada Tuhan itu digembar-gemborkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh rakyatnya mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik.

Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan.  Karena itu ada banyak orang yang merasa kenal akan Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan”  yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Tuhan yang tidak dikenal.

Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Sekalipun hidup mereka terlihat baik, pengenalan akanTuhan bukan dibuktikan dengan adanya kehidupan yang penuh kenyamanan yang bisa disombongkan.

Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama. Tuhan menghendaki hubungan rohani yang didasari rasa hormat dan syukur dari setiap umat-Nya pada setiap saat. Tuhan bukan hanya untuk dipuja melalui apa yang diakui mulut, tetapi cara hidup manusia hari lepas hari dan secara keseluruhan.

Hari ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan memberikan pengertian secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan dapat melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dengan pengampunan-Nya, kita harus mau  mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan.

Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik untuk sesama dan keinginan kita untuk berbakti kepada Tuhan adalah tanda bahwa hidup kita sudah diubah-Nya dan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Tuhankah yang membuat orang jatuh?

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Kain membunuh saudaranya

Ayat di atas sering dipakai oleh sebagian orang Kristen dalam pengajaran bahwa Tuhan menghendaki orang-orang tertentu untuk masuk ke surga dan orang lainnya untuk dibinasakan. Dalam istilah teologi, inilah yang disebut faham predestinasi ganda. Bagi golongan ini, kepercayaan ini sangat penting untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka adalah orang-orang terpilih dan Tuhan yang mahakuasa berhak untuk menolak orang-orang tertentu dari awalnya.

Ayat di atas dalam bahasa Ibraninya tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Bukan saja kata-kata Ibrani sering kali mempunyai beberapa arti, kitab Amsal sering menampilkan ayat-ayat yang mungkin tidak bisa diartikan secara literal. Dalam hal ini, pengertian yang lebih tepat dari ayat di atas agaknya sebagai berikut:

“TUHAN mengerjakan segala sesuatu agar menemui akhir yang semestinya, dan orang fasik pun akan menerima ganjaran yang setimpal.

Dengan demikian, ayat di atas bukanlah menyangkut penentuan Tuhan atas “nasib” manusia setelah meninggalkan dunia, tetapi hal tanggung jawab moral secara pribadi dari setiap orang kepada Tuhan selagi masih hidup dan sesudahnya. Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya dan tidak dapat mempersalahkan Tuhan atas kekeliruan yang diperbuatnya.

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Yakobus 1: 13-15

Alkitab mengajarkan kedaulatan ilahi berdampingan dengan kehendak bebas. Tuhan ingin setiap orang untuk diselamatkan (Yohanes 3: 16), tetapi tidak semua orang mau menerima uluran tangan Tuhan. Karena itu, pada akhirnya orang yang tetap hidup dalam kefasikan seharusnya tidak terkejut ketika Tuhan memberikan hukuman-Nya. Itu juga yang terjadi pada Kain yang marah kepada saudaranya, Habel.

Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kejadian 4: 6-7

Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku dan terlihat sebagai orang Kristen akan diselamatkan. Mereka yang menyangka bahwa mereka sudah dipilih Tuhan tetapi secara sengaja tetap menjalani hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan akan ditolak-Nya. Memang tidak ada orang yang tidak berdosa, yang tidak perlu mengambil keputusan untuk bertobat.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Hari ini, kita patut merenungkan bahwa Tuhan menghendaki setiap orang agar mau mendengar suara-Nya dan bertobat dari hidup lamanya sehingga darah Yesus bisa menebus segala dosanya. Tuhan yang mahakasih tidak menentukan dari awalnya agar sejumlah orang untuk ke neraka, tetapi Ia yang mahakasih akan bersukacita jika satu orang mau bertobat dan menjadi umat-Nya.

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” Lukas 15: 7

Menuntut atau mengharap?

Kata perempuan itu: ”Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: ”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Matius 15: 27-28

Manusia itu aneh. Jika ada hal yang buruk terjadi, ia akan mengeluh mengapa hal itu  terjadi padanya. Tetapi, jika ada hal yang baik yang terjadi pada dirinya, ia akan merasa bahwa hal itu adalah sudah sewajarnya. Memang dari dulu manusia cenderung lebih mudah merasa bahwa apa yang baik adalah haknya, dan apa yang buruk tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Lebih-lebih lagi, di zaman modern ini manusia lebih mengenal apa yang seharusnya menjadi haknya dan karena itu sering mengajukan berbagai tuntutan agar orang lain, masyarakat dan negara mengakui haknya.

Ketika itu, Yesus berada di daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: ”Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya meminta Yesus untuk mengusir perempuan asing itu karena ia agaknya menuntut Yesus agar menolong dia. Maka Yesus menjawab bahwa Ia tidak datang untuk orang Kanaan. Bukannya jera karena jawaban Yesus yang tegas itu, perempuan itu justru mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ”Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: ”Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu menjawab bahwa ia sebagai anjing akan memakan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya. Perempuan itu merendahkan dirinya dan memohon belas kasihan Yesus. Karena itu anaknya disembuhkan.

Apa yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas menolak pandangan bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan berhak untuk menuntut Tuhan agar memberikan apa yang diingini mereka. Memang dalam kehidupan masyarakat Kristen ada pandangan bahwa sebagai orang percaya, mereka adalah anak-anak Tuhan. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang mengira bahwa mereka mempunyai hak untuk meminta bagian kita yang sudah dijanjikan Allah, karena mereka adalah ahli-ahli waris Allah. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang menjadi kecewa atau marah jika Tuhan tidak memberikan apa yang diminta mereka.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. Galatia 4: 6-7

Ayat ini sering dijadikan dasar untuk mengajarkan bahwa sebagai anak Tuhan kita berhak untuk meminta Tuhan untuk hidup di dunia tanpa mengalami kekurangan atau penderitaan. Tetapi jika kita teliti, ayat di atas bukanlah menunjuk pada hak kita sebagai anakTuhan, tetapi pada kenyataan bahwa mereka yang percaya sudah menerima anugerah keselamatan dan dengan itu boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Dengan itu, kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan firman-Nya. Kita adalah orang-orang berdosa yang meninggalkan kebenaran, tetapi yang kemudian diterima oleh Bapa kita untuk kembali ke jalan yang benar.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh menuntut Tuhan untuk melakukan apa yang kita ingini atau untuk memberikan apa yang kita kehendaki. Sebaliknya, kita harus dengan rendah hati mau menyadari bahwa kita adalah orag-orang berdosa yang tidak patut menganggap bahwa kita adalah orang-orang yang patut dikasihi-Nya. Adalah keliru jika kita menganggap bahwa kita cukup baik menjadi orang pilihan-Nya. Tetapi kita harus pervaya bahwa hanya karena belas kasihan-Nya kita diselamatkan. Kita boleh mengharap, tetapi tidak layak menuntut akan berkat dan penyertaan-Nya.