Yesus membimbing domba-domba-Nya

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

God is in control. Ini adalah frasa yang sering kita gunakan sebagai slogan praktis ketika terjadi hal yang buruk. “Tuhan memegang kendali,” kita berkata ketika seseorang meninggal; ketika kita kehilangan pekerjaan kita; ketika kesehatan kita gagal. Tapi apa yang kita maksud dengan ini?

Apakah itu berarti Tuhan mengendalikan setiap manusia, setiap keputusan, setiap peristiwa; setiap hal yang terjadi? Warna kaus kaki yang saya pakai, kecepatan angin topan, tindakan bos saya? Mungkin itu adalah teologi sebagian orang Kristen: tidak ada yang terjadi tanpa campur tangan langsung dari tangan Allah yang menghendaki sedemikian.

Tetapi tidak semua orang Kristen percaya hal ini. Mereka yang percaya pada gagasan kehendak bebas akan menolaknya. Bagi mereka, manusia bebas memutuskan bagaimana kita membelanjakan uang kita, bagaimana kita mengendarai mobil kita, dengan siapa kita menikah, jalur karir apa yang harus kita ikuti. Semua hal yang menyangkut hal hidup sehari-hari.

Hal di atas terlihat sebagai paradoks teologis yang pelik. Bagaimana kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia berinteraksi? Ini adalah perdebatan yang sudah berjalan ratusan tahun. Paulus dalam diskusinya di mana-mana tentang hal ini yang berlaku untuk keselamatan orang Yahudi dan bukan Yahudi, menyatakannya sebagai misteri dan menyatakan:

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Para teolog dalam sejarah telah mencoba untuk mendamaikan masalah ini, tetapi sampai sekarang orang Kristen tetap terbelah dalam dua kubu.

Jadi apa sebenarnya arti dari “Tuhan memegang kendali”?

1. Tuhan tidak mengendalikan, tetapi memegang kendali.

Tuhan memegang kedali seluruh jagad raya. Tetapi Tuhan tidak mengendalikan kita, seperti kita mengendalikan seekor kuda. Dia tidak memberi kita kemampuan untuk mengambil keputusan, lalu mengambilnya kembali. Tetapi, Dia sudah menetapkan adanya hukum alam dan menawarkan kita berkat dan kutuk, hidup dan mati. Dia memberi kita pilihan. Sebagai gembala, Yesus mengawasi dan membimbing domba-domba-Nya menuju ke padang rumput yang subur. Dia berkata kepada dombanya: “Dengarlah suara-Ku dan ikutlah Aku”, tetapi Ia tidak merantai domba-Nya agar mereka mengikut Dia. Tentu ini menimbulkan risiko karena domba-domba itu bisa tersesat atau jatuh ke dalam jurang. Tetapi, jika itu terjadi Yesus akan mencari untuk menyelamatkannya.

2. Tidak semua yang terjadi di dunia adalah kehendak Tuhan.

Jika segala sesuatu yang pernah terjadi di bumi adalah kehendak Tuhan, tidak akan ada alasan untuk berdoa; “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” (Matius 6:10). Banyak dari apa yang kita lihat di dunia bukanlah kehendak Tuhan. Hanya di surga kita melihat apa yang sempurna, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Tuhan juga bukan pencipta kejahatan atau menetapkan segala kejahatan yang ada di muka bumi.

  • Jika saya tidak membayar tagihan saya tepat waktu, dengan ceroboh mengurangi anggaran saya untuk kemewahan dan bangkrut dengan hutang yang melumpuhkan, apakah Tuhan yang mengendalikan itu?
  • Jika saya tidak menyelesaikan kegagalan perilaku relasional saya, belajar mengelola kemarahan saya dan akibatnya pernikahan saya berantakan, apakah Tuhan yang mengendalikan itu?

Menggunakan frasa “Tuhan memegang kendali” ini agaknya berbahaya. Itu bisa membuat kita menyalahkan Tuhan dan menghindari tanggung jawab kita sendiri. Berbeda dengan bahasa Inggrisnya: “God is in Control”, yang berarti “Tuhan tidak dapat kehilangan kontrol”. Tuhan bukanlah Tuhan yang mengendalikan manusia seperti kita mengendalikan mobil kita. Tetapi, Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu, yang mampu membuat apa yang jahat, seperti apa yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, untuk menjadi hal yang baik pada waktunya.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50: 20

Menumpang kereta kehidupan

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Perang di Ukraina sudah membuat banyak warganya mengalami penderitaan yang besar. Dalam menghadapi serangan Rusia, seluruh warga pria yang berumur 18 sampai 60 tahun tidak boleh meninggalkan negara karena mereka diharuskan untuk ikut wajib militer. Mereka yang lain berbondong-bondong menuju ke stasiun kereta api untuk mengungsi ke tempat yang aman. Pemandangan yang meyedihkan terlihat di setasiun kereta api ketika para istri harus berpisah dengan sang suami dan anak-anak harus berpisah dengan sang ayah. Mereka yang mendapat tempat dalam kereta api setidaknya mempunyai harapan untuk selamat, tetapi yang ditinggalkan mempunyai masa depan yang tidak menentu.

Sebagai orang Kristen kita sudah diberi karunia keselamatan. Tujuan hidup kita sudah jelas, kereta api kita akan menuju ke surga. Dalam kereta, setiap penumpang diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk melakukan apa saja selama perjalanan. Firman Tuhan di atas berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. Tuhan yang memegang kontrol kehidupan kita, tetapi Dia tidak mengontrol kita sehingga kita hanya bisa melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan untuk hari-hari mendatang? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari-hari depan selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain.

Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada ditangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan. Atau juga menganggap bahwa semua yang kita lakukan tidak ada artinya di hadapan Tuhan yang sudah menentukan masa depan kita. Kereta api kita tidak dapat berubah tujuannya, dan karena itu kita hanya bisa duduk saja. Benarkah?

Memang, selama berada di dalam kereta kehidupan, ada banyak orang Kristen yang masih memikirkan betapa nikmatnya jika mereka tidak menumpang kereta. Mereka membayangkan kenikmatan hidup di luar kereta. Mereka masih memikirkan kesuksesan duniawi dan kemudian kecewa atau kuatir jika hidup saat ini tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang masih membayangkan betapa enaknya hidup lamanya, yang mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang gelisah karena hidup dalam kereta sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Selama berada dalam perjalanan mereka tidak perlu kuatir akan kemungkinan bahwa kereta tidak akan mencapai tujuannya. Tetapi mereka harus menjaga diri agar tidak terjatuh dari kereta atau tertinggal di salah satu stasiun ketika kereta berhenti.

Mereka yang berada di kereta kehidupan, mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah mendapatkan karcis secara cuma-cuma karena pengurbanan Yesus Kristus. Tuhan Yesus disalibkan agar siapa saja yang percaya mendapat karcis ke surga. Karcis itu sudah tentu sangat berharga dan tidak semua orang mendapat karcis itu. Walaupun demikian sebagian orang tidak mau menerimanya. Tidak semua orang yang sudah mendapat karcis itu merasa beruntung ketika mereka harus melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan. Bagi mereka, hidup sebagai orang Kristen diharapkan untuk menjadi hidup yang nyaman.

Apa yang harus kita lakukan selama berada di dalam kereta? Itu adalah sesuatu yang patut kita pikirkan, agar hidup ini tidak terasa membosankan, pahit, atau tidak berguna. Keputusan ada di tangan kita untuk bagaimana kita mengisi hidup kita. Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Bahkan ada keputusan yang bisa membawa kecelakaan atau penderitaan dan juga hukuman karena pelanggaran hukum Tuhan. Walaupun demikian, hidup manusia selama dalam perjalanan adalah hidup yang penuh dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Mereka tidak bisa lolos dari itu.

Ada orang Kristen yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan, tetapi manusia tidak mengetahui semuanya. Oleh karena itu, mereka harus bekerja keras tanpa memikirkan hasilnya, karena berhasil atau tidak bergantung kepada kehendak Tuhan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Pandangan semacam ini adalah bertentangan dengan ayat di atas, yang menyatakan bahwa setiap orang memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Adanya tanggung jawab menyatakan adanya pilihan yang nyata atas apa yang akan dilakukan, bukan tanggung jawab atas sesuatu yang tidak diketahui. Setiap orang Kristen tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu segala sesuatu yang sesuai dengan firman dan sifat hakiki Tuhan.

Apa yang akan kita lakukan hari ini mungkin saja hanya hal yang kecil, yang rutin, yang mungkin tidak mempunyai konsekuensi besar. Tetapi mungkin juga kita dihadapkan dengan berbagai tugas berat yang mengharuskan kita untuk mengambil pilihan. Mungkin kita sudah bisa dan siap berdoa: “Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi”. Tetapi keputusan tetap ada di tangan kita untuk mengambil tindakan. Kita jugalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih. Karena itu kita harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup kita.

Pagi ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Kita yakin bahwa Tuhan memegang kemudi kereta kehidupan kita, tetapi Ia tidak menentukan apa yang kita lakukan selama hidup. Ia sudah memberikan perintah-Nya dan menunjukkan sifat-sifat keilahian-Nya yang harus kita fahami. Kitalah yang bertanggungjawab atas bagaimana kita menghabiskan waktu kita selama hidup di dunia.

Responding to God’s invitation

Then the master said to his servant, Go out into all the roads and paths and force the people who are there to come in, for my house must be full. For I tell you, none of those who have been invited will enjoy my banquet.” Luke 14:23-24

Once upon a time there was a man holding a big banquet and he invited many people. Just before the banquet began, he ordered his servant to summon the guests. But those who had been invited all refused to come. Some said he had just bought a field and had to go see it. Another said that he had bought five pairs of cows and had to go try them out in the fields. And yet another said that he was newly married and therefore could not come. The servant then went home and conveyed all this to his master. Then the master of the house became angry and ordered his servants to go out into all the streets and alleys of the city and take the poor and the crippled and the blind and the lame. The host wanted his house to be full.

Here Jesus describes the offer of the gospel, first to the Jews and then to the Gentiles. The Jews emphatically rejected the offer God made to them through His prophets. This parable shows that the Kingdom of God is open to everyone, not just the Jews.

Those who ended up coming to the banquet were people outside the Jewish nation, who were considered inferior. They are the sick, the weak, and the suffering. They are people in need of salvation, and without God’s grace will not be able to meet God. It was only because of God’s freely offered gift that they were chosen to enter the banquet.

What did Jesus mean by “None of those who have been invited will enjoy my banquet”? Jesus invites His listeners to repent and believe in the good news preached by Him. But many Jews refused His invitation. It is possible for us to refuse His invitation, as many Jews do. In this case, Jesus declared that those who refused God’s invitation to receive salvation were guilty of rejecting it and would not be able to meet Him.

Who are those who respond to the call and accept Christ in faith? Jesus c “forced” to come. These are all that the Father has chosen in Christ since before the foundation of the world to be holy and blameless before Him (Ephesians 1:4). Only these elect will be the crowd of the redeemed when Christ returns in glory. God’s eternal choice ensures they will respond to the call with humility.

What is the main lesson Jesus has for us in this shocking and disturbing parable? First, not a few people reject God’s call through His messenger. Those who do not want to hear the news of salvation delivered by the servant of God. Those who go to church just to socialize, or those who completely reject Christian teachings. God will hold accountable those who reject the call on the day of judgment.

Second, Jesus wants us to realize that there are more subtle ways to reject the call. A person may just make small talk to accept Jesus’ call but never really pay attention to what the call has to offer. What will happen to us if this happens? The bad news is that we don’t have the power within ourselves to change our resisting heart. The good news is that God is willing to change the hearts of rebellious people by the invincible power of His Spirit. In this case, it is God who determines who He chooses, in the way and at the time He has determined.

For those of us who are not Jews, from the verse above we know why we are given the privilege to enter into the blessings that God promised to His chosen people, Israel. However, this is not a verse that mocks the Jews for their unbelief and that praises the Gentiles for their greater intelligence, as evidenced by their faith in Jesus. The Gentiles were those who were forced to come, from the highways and lanes. They are, as it were, “bums” along the way.

We can see the interaction between God’s sovereignty and human responsibility. The above verse links the failure of the Israelites to enter into the blessings of God’s kingdom with their refusal to accept the invitation given to them. Luke does not tell us that the Jews were kept out of the kingdom by God’s choice, but by their own choice. On the other hand,the salvation of the Gentiles was not linked to their choice, but to divine decree. The sovereignty of God is thus emphasized with regard to salvation, and the responsibility of man with regard to judgment.

In the verse above, God gives us an invitation to “come to dine at His house,” as it were, to become members of His kingdom, to sit at His table forever. We are forgiven of our sins and justified before Him through the work of Christ, and with that we are free to enjoy intimate fellowship with Him. Accepting Jesus at His invitation means gaining the right to enter. On the other hand, rejecting Jesus, or even delaying the decision to accept Him, is the cause of eternal separation from Him and His kingdom.

If we have responded to Jesus’ call with repentance and faith, it is not because of our efforts. It happens only because God has first worked in us to transform us into His people in Christ. Without God’s grace we can only reject all of God’s calls and choose worldly pleasures that lead to death. Salvation is really only by the grace of God. This truth can make us uneasy, but Jesus wants to make us think deeply about our lives for a reason. He wants us to find salvation and live in Him alone, which is by grace alone. And only in Christ can we find eternal and unshakable salvation.

We know the meaning of life if we know the meaning of death

“For to me to live is Christ and to die is gain. But if I have to live in this world, it means for me to work to give fruit. So what should I choose, I have no idea. I was urged from two sides: I wanted to go and live with Christ that was much better; but it is more necessary to stay in this world because of you.” Philippians 1: 21-24

J.I. Packer was an Anglican church member who spent the first half of his life in England and the second half in Canada but who is perhaps most popular in the United States. He is widely recognized as one of the most influential theologians of the twentieth century. Pastor and theologian Packer went to see God on July 17, 2020. He was 93 years old. One of his many writings is “God’s Plans for you”. He wrote in the book “Only when you know how to die can you know how to live”. His writings underline the Christian way of life that must be adapted to the fact that he will meet a holy God in the end. Therefore Christians should be aware that they must be prepared at all times to face death.

Perhaps, in writing the verse above, Paul felt the same way for himself. His advancing age and the house arrest he endured certainly made him think about what might happen in the future. As a man who believed in God and was confident in his salvation, Paul certainly had no doubts about where he would go at the end of his life. He will go to heaven. Thus, the worst situation that many other people who experience life struggles think of, is actually the best situation for Paul. Death will bring him to an encounter with Christ.

Paul wrote that death is gain. Why is that? As a believer, Paul believed that because of his faith, he had received the salvation that comes through the blood of Christ. However, as long as he lived on earth, he could only imagine the beauty of heaven. Only through the death of his physical body will he receive an immortal spiritual body in heaven. Imagining the moment he would be able to meet Christ face to face, Paul said that he would feel lucky if it happened right now because it would be so much better than living in this dark world.

The belief that life in heaven is better than life on earth is probably owned by every believer. Indeed people believe that in Christ there is a resurrection that will enable them to live with Christ forever. However, perhaps no Christian would choose to die quickly. Most Christians may admit that the time to leave this world is determined by God; however, they would choose to live a long life on earth if that was possible. In this case, no one knows when they will be called by God.

The Bible says that human life is like a vapor that appears for a moment and then disappears (James 4:13-14). We cannot prolong our life for a second. But that does not mean that we should expect the encounter with Christ to come as soon as possible. Why is that? Paul explained that although life in heaven is much better, there is a need to live on earth to work and bear fruit, that is, for the glory of God. In this case, what should we do in the community around us while the opportunity still exists?

Those who are ready to die are believers who believe that their faith is not in vain. They will welcome death fearlessly because they are ready to meet their beloved God and want to live in His glory in heaven. However, people with true faith are people who also believe that while living on earth, they must strive to live well in order to glorify God. Indeed we are saved, but if we do not use our lives as if tomorrow is the time to meet our Lord, our faith may still be dominated by worldly desires.

“Therefore, just as a body without a spirit is a dead body, so faith without works is a vain faith!” James 2: 26

This morning, the question for us is: “Are we ready to die?”. Are we really ready to meet God in heaven? If we are ready to die, it means we are also ready to live in this world as God wills. We must continue to believe, that even though the current situation is not good, we must still be eager to live to carry out His commandments to be an offering that is pleasing to God.

“Therefore, brethren, by the grace of God I exhort you to offer up your body as a living sacrifice, holy and pleasing to God: this is your true worship.” Romans 12:1

Kita tahu arti hidup jika kita tahu arti kematian

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

J.I. Packer adalah seorang anggota gereja Anglikan yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di Inggris dan paruh kedua di Kanada tetapi yang mungkin paling populer di Amerika Serikat. Ia dikenal luas sebagai salah satu pempopuler teologi paling berpengaruh di abad kedua puluh. Pendeta dan teolog Packer pergi menemui Tuhan pada 17 Juli 2020. Dia berusia 93 tahun. Salah satu dari banyak tulisan beliau adalah “God’s Plans for you” atau “Rencana Tuhan untukmu”. Beliau menulis dalam buku itu “Only when you know how to die can you know how to live” yang artinya “Hanya jika kamu tahu bagaimana kamu akan mati akanlah kamu tahu bagaimana harus hidup”. Tulisan beliau menggarisbawahi cara hidup orang Kristen yang harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa ia akan bertemu Tuhan yang mahasuci pada akhirnya. Karena itu semestinya orang Kristen sadar bahwa mereka harus bersiap setiap waktu untuk menghadapi kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis ayat di atas merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Usia yang mulai melanjut dan tahanan rumah yang dialaminya tentunya membuat dia memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan yakin atas keselamatannya, Paulus tentu tidak sangsi ke mana ia akan pergi pada akhir hidupnya. Ia akan ke surga. Dengan demikian, keadaan terburuk yang banyak dipikirkan orang lain yang mengalami pergumulan hidup, justru merupakan keadaan yang terbaik bagi Paulus. Kematian akan membawa dia ke perjumpaan dengan Kristus.

Paulus menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, tidak seorang pun yang tahu kapan mereka akan dipanggil Tuhan.

Alkitab menyatakan hidup manusia itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4: 13-14). Kita tidak dapat memperpanjang hidup kita sedetik pun. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus mengharapkan perjumpaan dengan Kristus untuk datang secepat mungkin. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa sekalipun hidup di surga itu jauh lebih baik, ada perlunya untuk hidup di dunia untuk bekerja dan berbuah, yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Dalam hal ini, apa yang harus kita kerjakan dalam masyarakat di sekitar kita selagi kesempatan masih ada?

Mereka yang siap untuk mati adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Tetapi, orang-orang yang benar imannya adalah orang yang juga percaya bahwa selama hidup di dunia, mereka harus berusaha untuk hidup baik guna memuliakan Tuhan. Memang kita sudah diselamatkan, tetapi jika kita tidak memanfaatkan hidup kita seakan esok hari adalah saat untuk menjumpai Tuhan kita, iman kita mungkin masih dikuasai keinginan duniawi.

“Oleh itu, sebagaimana tubuh tanpa roh adalah tubuh yang mati, demikian juga iman tanpa perbuatan adalah iman yang sia-sia!” Yakobus 2: 26

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: “Apakah kita siap untuk mati?”. Apakah kita benar-benar siap untuk menjumpai Tuhan di surga? Jika kita memang siap untuk mati, itu berarti kita juga siap untuk hidup di dunia ini sebagaimana Tuhan menghendakinya. Kita harus tetap percaya, bahwa sekalipun keadaan saat ini kurang baik, kita harus tetap bersemangat untuk hidup guna melaksanakan perintah-Nya untuk menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Menjawab undangan Allah

Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” Lukas 14: 23-24

Alkisah ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh pelayannya untuk memanggil para undangan. Tetapi mereka yang sudah diundang itu semuanya menolak untuk datang. Ada yang berkata bahwa ia baru saja membeli ladang dan harus pergi melihatnya. Yang lain berkata bahwa ia telah membeli lima pasang sapi dan harus pergi mencobanya di sawah. Dan yang lain lagi berkata bahwa ia baru menikah dan karena itu tidak dapat datang. Si pelayan kemudian pulang dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu marahlah tuan rumah itu dan memerintahkan pelayannya untuk pergi ke segala jalan dan lorong kota dan membawa orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Tuan rumah itu menghendaki agar rumahnya harus penuh.

Di sini Yesus menggambarkan tawaran Injil, pertama kepada orang Yahudi dan kemudian kepada orang bukan Yahudi. Bangsa Yahudi dengan tegas menolak tawaran yang Tuhan berikan kepada mereka melalui para nabi-Nya. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi.

Mereka yang akhirnya datang ke perjamuan adalah orang-orang di luar bangsa Yahudi, yang dianggap lebih rendah derajatnya. Mereka adalah orang yang sakit, yang lemah, dan yang menderita. Mereka adalah orang yang membutuhkan penyelamatan, dan tanpa kasih karunia Tuhan tidak akan bisa berjumpa dengan Tuhan. Hanya karena karunia Tuhan yang ditawarkan secara cuma-cuma, mereka yang dipilih untuk masuk ke dalam perjamuan.

Apa yang Yesus maksudkan dengan “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku”? Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk bertobat dan percaya akan kabar baik yang diberitakan oleh -Nya. Tetapi banyak orang Yahudi yang menolak undangan-Nya. Adalah mungkin bagi kita untuk menolak undangan-Nya, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi. Dalam hal ini, Yesus menyatakan bahwa mereka yang menolak undangan Allah untuk menerima keselamatan itu sudah bersalah karena menolaknya dan tidak akan bisa menemui-Nya.

Siapakah mereka yang menanggapi panggilan dan menerima Kristus dalam iman? Yesus menyebut mereka “dipaksa” untuk datang. Inilah semua yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Efesus. 1:4). Hanya orang-orang pilihan inilah yang akan menjadi kumpulan orang-orang yang ditebus ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan mereka akan menanggapi panggilan itu dengan kerendahan hati.

Apa pelajaran utama yang Yesus miliki bagi kita dalam perumpamaan yang mengejutkan dan meresahkan ini? Pertama, tidak sedikit orang yang menolak panggilan Allah melalui utusan-Nya. Mereka yang tidak mau mendengarkan kabar keselamatan yang disampaikan hamba Tuhan. Mereka yang ke gereja hanya untuk bersosial, atau mereka yang sama sekali menolak ajaran Kristen. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban mereka yang menolak panggilan itu pada hari penghakiman.

Kedua, Yesus ingin kita menyadari bahwa ada cara yang lebih halus untuk menolak panggilan itu. Seseorang mungkin hanya berbasa-basi untuk menerima panggilan Yesus tetapi tidak pernah benar-benar mau memperhatikan apa yang ditawarkan dalam panggilan itu. Bagaimana nasib kita jika berlaku sedemikian? Kabar buruknya adalah kita tidak memiliki kekuatan dalam diri kita sendiri untuk mengubah hati kita yang menolak. Kabar baiknya adalah Allah mau mengubah hati orang yang memberontak dengan kuasa Roh-Nya yang tak terkalahkan. Dalam hal ini, Tuhanlah yang menentukan siapa orang yang dipilih-Nya, dengan cara serta pada waktu yang ditetapkan-Nya.

Bagi kita yang bukan orang Yahudi, dari ayat di atas kita tahu mengapa kita diberi hak istimewa untuk masuk ke dalam berkat-berkat yang dijanjikan Allah kepada umat pilihan-Nya, Israel. Akan tetapi, ini bukanlah ayat yang mencemooh orang-orang Yahudi karena ketidakpercayaan mereka dan yang memuji orang-orang bukan Yahudi karena kecerdasan mereka yang lebih besar, sebagaimana dibuktikan oleh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang bukan Yahudi adalah mereka yang terpaksa datang, dari jalan raya dan jalan-jalan kecil. Mereka, seolah-olah, adalah “gelandangan” di sepanjang jalan.

Kita bisa melihat adanya interaksi antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Ayat di atas mengaitkan kegagalan orang Israel untuk masuk ke dalam berkat-berkat kerajaan Allah dengan penolakan mereka terhadap undangan yang diberikan kepada mereka. Lukas tidak memberi tahu kita bahwa orang-orang Yahudi dijauhkan dari kerajaan karena pilihan Allah, tetapi karena pilihan mereka sendiri. Di sisi lain, keselamatan orang bukan Yahudi tidak dikaitkan dengan pilihan mereka, tetapi karena penetapan ilahi. Kedaulatan Allah dengan demikian ditekankan sehubungan dengan keselamatan, dan tanggung jawab manusia sehubungan dengan penghukuman.

Dalam ayat di atas, Allah memberi kita undangan untuk “datang makan malam di rumah-Nya,” seolah-olah, untuk menjadi anggota kerajaan-Nya, untuk duduk sebagai meja-Nya selamanya. Kita diampuni dari dosa-dosa kita dan dibenarkan di hadapan-Nya melalui karya Kristus, dan dengan itu kita bebas untuk menikmati persekutuan yang intim dengan Dia. Menerima Yesus atas undangan-Nya berarti memperoleh hak untuk masuk. Sebaliknya, menolak Yesus, atau bahkan menunda keputusan untuk menerima-Nya, adalah penyebab dari pemisahan kekal dari-Nya dan kerajaan-Nya.

Jika kita telah menanggapi panggilan Yesus dengan pertobatan dan iman, itu bukan karena usaha kita. Itu terjadi hanya karena Allah telah terlebih dahulu bekerja di dalam kita untuk mengubah kita menjadi umat-Nya di dalam Kristus. Tanpa karunia Allah kita hanya dapat menolak semua panggilan Allah dan memilih kesukaan duniawi yang membawa kematian. Keselamatan benar-benar hanya karena kasih karunia Allah. Kebenaran ini memang bisa membuat kita resah, tetapi Yesus ingin membuat kita berpikir dalam-dalam mengenai hidup kita karena suatu alasan. Dia ingin kita menemukan keselamatan dan hidup di dalam Dia saja, yang hanya oleh kasih karunia. Dan hanya di dalam Kristus kita dapat menemukan keselamatan yang kekal dan tak tergoyahkan.

Memakai kehendak bebas kita di dunia

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10

Hari ini agaknya dimulai dengan sesuatu yang agak aneh. Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi, tetapi pagi tadi saya mandi dulu sebelum sarapan. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menetapkan segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism” sekalipun mengenai hal-hal yang bersifat duniawi.

Manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman. Itu benar. Sudah barang tentu, siapa pun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus. Dan oleh bimbingan Roh Kudus, mereka yang percaya akan bisa menyatakan iman mereka dalam berbagai perbuatan baik yang memuliakan Tuhan.

Walaupun sebagian besar orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan yang sudah diterima, banyak orang yang menyangka bahwa sebagai orang terpilih apa yang mereka perbuat sudah tentu adalah apa yang ditentukan-Nya.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, manusia sebenarnya diberi kebebasan untuk memilih apa yang diingini selama hidup di dunia. (Kejadian 2: 16). Tetapi, jika manusia tidak mau selalu taat kepada firman Tuhan, kehendak bebas akan membawa mereka kepada pilihan yang buruk. Kebebasan manusia dalam hal duniawi dengan demikian bukanlah sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa manusia tidak dapat hidup di dunia tanpa Tuhan dan firman-Nya. Manusialah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup mereka di dunia.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Selama hidup di dunia, setiap orang bisa menghendaki apa pun, tetapi belum tentu mendapatkannya. Kehendak Tuhanlah yang pada akhirnya akan terjadi. Kehendak kita hanya bisa terjadi sejauh mana Allah mengizinkan dan tidak lebih jauh. Manusia bisa menghendaki apa pun, tapi tidak ada usaha kita yang mengalahkan kedaulatan dan rencana Tuhan.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35

Jika demikian, apakah kita tidak benar-benar mempunyai kehendak bebas? Sekali lagi, sebagai umat Kristen kita bebas untuk melakukan apa saja atau mengambil keputusan selama hidup di dunia. Tetapi kita tidak boleh menggunakan kebebasan itu untuk membuat Allah murka atau kecewa. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan karena kita bukanlah pion-pion Allah. Kewajiban kita adalah menggunakan kehendak bebas (yaitu tanpa paksaan) yang diberikan-Nya kepada kita untuk diselaraskan dengan kehendak-Nya selama hidup di dunia.

Satu hal penting yang harus kita sadari, Tuhan belum tentu menghentikan tindakan manusia sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak bisa mempersalahkan Tuhan jika ia jatuh ke dalam dosa. Tuhan sudah tahu sebelum dosa dilakukan manusia dan rencana-Nya tetap bisa berjalan tanpa bergantung pada hidup dan perbuatan manusia. Itulah sebabnya ada banyak hal menyedihkan yang terjadi ketika orang percaya tidak mau mengambil keputusan yang perlu.

Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang sudah memilih kita untuk di selamatkan di surga, akan mengambil keputusan untuk segala sesuatu yang kita hadapi di dunia. Kita harus sadar bahwa sebagai umat Kristen kita bertanggung-jawab atas apa yang kita sudah lakukan dengan kehendak bebas kita selama hidup di dunia.

Tuhan menetapkan hubungan orang tua dan anak seperti hubungan Dia dengan umat-Nya

“Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6: 2 – 4

Saya pernah membaca di media bahwa ada seorang pria di satu negara yang membawa orang tuanya ke pengadilan. Mengapa? Karena ia merasa bahwa haknya sudah dilanggar; orang tuanya tidak pernah meminta izin kepadanya untuk melahirkan dia. Pria itu merasa bahwa ia dirugikan karena dengan kelahirannya ia harus berjuang untuk hidup. Aneh?

Saya rasa itu tidak aneh karena dalam kenyataannya ada orang yang merasa dirugikan oleh Tuhan yang menetapkan kelahirannya. Mengapa Tuhan membuat ia lahir di dunia hanya untuk mengalami penderitaan?

“Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?” Ayub 3: 11

Adanya filosofi bahwa seorang anak tidak seharusnya dilahirkan menurut kemauan orangtua bukan barang baru. Filsuf Théophile de Giraud tercatat sebagai orang pertama di abad 20 yang memperkenalkan faham yang disebut anti-natalisme yang menentang kebebasan orangtua untuk mempunyai anak. Melahirkan anak dianggap sebagai usaha yang menimbulkan siksaan kepada bayi yang harus menjadi dewasa dan menghadapi semua tantangan kehidupan.

Beberapa agama sebenarnya juga mengajarkan anti-natalisme, karena menganggap bahwa kelahiran manusia di dunia adalah awal penderitaan, apalagi jika tuhan mereka menetapkan mereka untuk hidup sengsara. Tetapi, menurut kepercayaan Kristen kelahiran seorang bayi adalah berkat Tuhan kepada keluarga yang menjalankan perintah-Nya untuk berkembang biak.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Kelahiran seorang bayi, seperti penciptaan manusia di taman Eden, dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak untuk menghentikan proses kelahiran bayi, sekalipun bebas dalam mengambil keputusan untuk memperoleh keturunan atau tidak.

Ayat di atas menggaris-bawahi hubungan antara anak dan orangtua dalam keluarga Kristen yang sering disalah-tafsirkan. Pada masa yang silam, menghormati orangtua sering membuat anak sangat terbebani sehingga keluarga mereka sendiri bisa terlantar. Dalam Perjanjian Lama, kata “hormat” dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani kabad yang memberi kesan seperti beban berat bagi anak-anak mereka yang harus memberi prioritas utama kepada orangtua. Tetapi dalam Perjanjian Baru, kata Yunani timao dipakai untuk menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Memang orangtua adalah orang yang harus dihargai oleh anak-anak mereka, sekalipun mereka mungkin mempunyai banyak kekurangan.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa hubungan orangtua dan anak-anak mereka adalah kewajiban dua arah. Jika anak harus menghargai orangtua, kita yang berstatus orangtua tidak boleh memakai status itu untuk menggunakan kekerasan dan paksaan dalam mendidik anak-anak kita, agar jangan sampai merasa terlukai, baik secara lahir maupun batin. Sebaliknya, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kasih sayang supaya mereka mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan, dan bisa menjadi orangtua yang baik di masa depan.

Mengapa Tuhan memerintahkan hubungan kasih antara orang tua dan anak? Itu memang seharusnya karena merupakan pencerminan kasih Tuhan kepada umat-Nya.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Sebagai seorang Bapa yang mahakasih dan mahabijaksana, Tuhan bukanlah Oknum yang kejam dan semena-mena. Ia tidak mengatur hidup manusia sehingga tidak mempunyai kebebasan sama sekali, melainkan sejak mulanya Ia memberikan kesempatan agar manusia dapat hidup dan bertindak sesuai dengan maksud penciptaan-Nya. Begitu juga sebagai orang tua yang bijaksana, kita juga harus bisa memberikan kebebasan yang membawa anak-anak kita untuk dengan sukacita memilih jalan hidup yang sesuai dengan ajaran dan nasihat Tuhan.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya hubungan dalam keluarga. Sebagai manusia, kita bukanlah orang yang sempurna, dan karena itu kita sering membuat kekeliruan dalam membina hubungan dengan orangtua ataupun anak kita. Walaupun demikian, jika kita mau belajar dari Tuhan yang dengan sabar dan kasih membimbing hidup kita, kita akan dapat menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.

Yesus mengasihi orang berdosa

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” 1 Korintus 6: 9-11

Saat ini, salah satu isu yang sering diperdebatkan orang Kristen adalah adanya kelompok LGBT yang menuntut persamaan hak dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam kehidupan gerejani. Hak asasi manusia seharusnya sama untuk semua orang tanpa memandang latar belakang dan orientasi seksualitas mereka. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen masih ingin mempertahankan posisi anti LGBT, sekalipun mereka menghargai semua orang dan pilihan mereka. Karena itu, ada gereja yang menolak adanya jemaat dari kelompok LGBT.

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan umat Kristen di Korintus bahwa orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Ayat tersebut dipandang menjadi semacam legitimasi bahwa para homoseks ini calon penghuni neraka, padahal ayat di atas juga membahas dosa-dosa yang lain. Artinya siapa pun yang tidak bertobat, dari dosa apa pun tidak hanya soal homoseksualitas saja, dan sesuai daftar yang diberikan Rasul Paulus, mereka tidak layak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Dengan demikian, semua orang Kristen adalah orang yang dulunya tidak layak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.

Dengan menyatakan ini, tidak berarti kita menutup mata terhadap kejahatan-kejahatan dalam hubungan heteroseksual. Hubungan heteroseksual yang melanggar susila tidak lebih baik ataupun lebih buruk dari hubungan homoseksual. Keduanya dihakimi Allah. Walaupun demikian, bila kita datang kepada Kristus, kita dituntut untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan tidak lagi melakukan pola-pola hidup tak saleh yang kita nikmati sebelumnya. Mungkin ada di antara kita berusaha membenarkan homoseksualitas sebagai pilihan lain dari hubungan heteroseksual, namun Roma 1:1-32 jelas menyebutnya sebagai hal yang berbeda.

Seperti orang berdosa lainnya, kaum homoseksual perlu mengalami kelepasan melalui kuasa Injil, walaupun mungkin mereka tidak mudah bebas sepenuhnya dari kecenderungan-kecenderungan homoseksual dan pencobaan. Rasul Paulus menulis kepada mereka yang dulunya pernah terlibat dalam homoseksualitas dan dosa-dosa lainnya, sebagai berikut: “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Artinya, golongan mereka juga akan tetap mempunyai kesempatan untuk dikuduskan bagi Allah dan memperoleh bagian dalam Kerajaan Surga dalam pertobatannya.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Bagaimana orang Kristen harus menghadapi mereka yang berbeda dalam hal seksualitas? Mungkin kita ingat bahwa Yesus mau diundang dan bahkan makan dengan pemungut cukai dan orang yang dipandang berdosa. Mereka bertanya kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah orang berdosa, seperti orang sakit yang memerlukan tabib. Mereka yang menyadari dosanya dan datang kepada Yesus akan menerima keselamatan secara cuma-cuma, tetapi mereka yang tidak mengakui dosanya tidak akan bisa menghindari kematian.

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Kecenderungan memang ada untuk mengabaikan apa yang buruk dalam hidup kita dan merasa bahwa kita sudah cukup baik untuk Tuhan. Kalau cara hidup kita diterima masyarakat, mungkin ada perasaan bahwa Tuhan tentu sudah senang dengan cara hidup kita. Selain itu, dengan adanya berbagai kesibukan, kita tidak lagi peduli untuk selalu datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan dan bimbingan dari-Nya. Yesus datang seperti seorang tabib yang datang untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Mereka yang sudah merasa hidupnya cukup baik dan sehat adalah orang-orang yang tidak menyadari segala kelemahan dan dosanya. Hanya orang yang menyadari kelemahannya akan mau mengundang Dia untuk datang dan menyertainya setiap saat.

Mungkin pada saat ini hidup kita berjalan lancar dan nyaman. Adalah mudah dalam keadaan yang sedemikian untuk kita merasa bahwa semuanya ada dalam keadaan baik. Sebagai orang Kristen, kita mungkin tidak lagi merasa bahwa kita selalu membutuhkan Yesus pada setiap saat untuk terus menguatkan, membimbing dan menyembuhkan bagian hidup kita yang tidak baik. Sebagai orang Kristen kita mungkin juga ragu-ragu untuk menyatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang tidak sadar akan dosa mereka karena kita tidak ingin disebut orang munafik. Kita mungkin takut untuk dikritik orang yang sudah kita tegur.

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Ayat ini kelihatannya mudah dimengerti dan sangat praktis penggunaannya dalam hidup sehari-hari. Sayang sekali, ayat ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekadar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru. Sering kali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai untuk membungkamkan orang Kristen yang ingin mengingatkan bahwa setiap orang berdosa harus bertobat.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen sering kali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, karena Yesus mengasihi setiap orang. Sebagai orang yang dulunya hidup dalam dosa, kita harus tetap mau menyatakan kebenaran Tuhan!

Yesus mengajar umat-Nya pada saat yang tepat

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ”Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: ”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 38-42

Sebagai dosen, saya selalu berusaha mengajarkan berbagai teori yang tidak hanya harus dimiliki oleh setiap murid sebagai dasar ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan berbagai ajaran praktis dari dunia nyata. Jika teori diajarkan, dipelajari dan diuji, itu belum tentu bisa digunakan pada setiap waktu. Karena itu, para murid harus juga diberi petunjuk yang berdasarkan pengalaman nyata dan pengetahuan praktis, karena teori saja belum tentu mudah atau bisa dipakai secara efektif dalam menghadapi suatu persoalan.

Selama hidup di dunia, Yesus mengajarkan dan membahas berbagai hal yang menyangkut kehidupan manusia, baik dalam hal jasmani maupun rohani. Dari mulut-Nya, kita mendengar berbagai “teori” yang berupa firman dan hukum Tuhan, dan juga berbagai perumpamaan selaku “alat peraga “untuk menjelaskan pelaksanaan atau aplikasi firman-Nya, dan juga sebagai cara penyampaian hal yang rumit. Semua itu disampaikan-Nya pada saat dan kesempatan yang dipilih Yesus secara khusus dan bukannya secara acak-acakan.

Kisah kunjungan rombongan Yesus ke dusun di mana Marta dan Maria tinggal adalah suatu laporan lapangan yang ditulis dalam kitab Lukas di atas dan juga di Yohanes 12: 2. Kisah ini sudah banyak dibahas dalam khotbah, renungan dan bahkan melalui berbagai media. Pada umumnya, pembahasan yang ditampilkan mengandung pesan:

  • Perbedaan karakter: Maria yang baik karakternya dan Marta yang masih harus berubah.
  • Prioritas hidup: Maria yang memilih apa yang kekal, Marta memilih apa yang duniawi.
  • Menggunakan kesempatan: Maria yang menggunakan kesempatan dengan bijaksana.
  • Teguran Yesus: Yesus menegur Marta yang terlalu sibuk dengan hal-hal yang kurang penting.

Sebenarnya, baik Maria maupun Marta adalah orang orang yang dekat dengan Yesus. Bersama saudara mereka yang bernama Lazarus, mereka bertiga adalah orang-orang yang dikasihi Yesus. Oleh sebab itu, saya yakin bahwa ketiganya adalah orang-orang yang benar-benar dipilih untuk menjadi umat Tuhan yang sejati. Menjadi umat Tuhan bukan berarti bahwa Tuhan mengubah kebiasaan mereka dan pribadi mereka secara total, dan bahwa untuk menjadi pengikut-Nya orang harus mempunyai sifat dan gaya hidup yang serupa. Oleh karena itu ayat di atas bukanlah berisi pujian kepada Maria dan teguran kepada Marta. Apa yang dikatakan Yesus adalah nasihat praktis-Nya kepada setiap orang yang menghadapi tantangan hidup.

Yesus pada waktu itu datang ke Betania dengan murid-murid dan pengikut-Nya, yang mungkin ada sekitar 70 orang jumlahnya. Sebagai kebiasaan waktu itu, mereka yang bertamu ke desa tertentu akan menumpang di rumah penduduk desa yang bersedia untuk menjadi tuan rumah. Entah berapa orang yang datang di rumah Maria dan Marta, tetapi sudah jelas Marta merasa bertanggung jawab atas makanan yang harus disediakan untuk mereka. Marta adalah orang yang bertanggung jawab dan sikapnya patut dipuji. Dengan demikian, Yesus bukanlah marah atau menegur Marta ketika Ia memanggilnya dua kali: “Marta, Marta..”. Yesus hanya mengingatkan bahwa Maria yang duduk mendengarkan perkataan-Nya tidaklah perlu ditegur oleh Marta.

Tahukah Yesus bahwa Marta bermaksud baik dan bermurah hati kepada tamu-tamunya? Sudah tentu! Yesus tahu bahwa tiga bersaudara dari Betania adalah orang-orang yang mengasihi-Nya, dan Ia juga mengasihi mereka. Yesus tidak mengasihi atau menyenangi Maria lebih dari Marta. Tahukah Yesus bahwa Marta merasa tersendiri dalam kesibukannya untuk melayani? Yesus sebagai manusia pasti tahu dan bisa mengerti mengapa Marta secara tiba-tiba menjadi uring-uringan kepada-Nya. Yesus sebagai Tuhan, tentunya tahu bahwa hal itu akan terjadi, bahkan sebelum Marta membuka mulutnya.

Dapat dipastikan bahwa Yesus membiarkan “drama” yang akan terjadi dengan tujuan tertentu. Satu hal yang baik adalah Maria dan Marta diingatkan bahwa walaupun tugas manusiawi adalah penting, tugas surgawi adalah lebih penting pada saat itu. Karena itu, mereka tentunya merasa beruntung mengalami peristiwa sedemikian dalam hidup mereka. Sesuatu yang tidak disangka datang dari Yesus pada kesempatan yang tidak terduga. Apa yang dikatakan Yesus tentunya ada dalam hati mereka sepanjang hidup mereka. Bukan seperti teori, tetapi pengalaman hidup.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas adalah kepedulian Tuhan atas hidup manusia sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya. Yesus pasti tahu apa yang ada dalam pikiran Marta dan Maria ketika Ia datang. Bukannya Ia berusaha menghindari atau berusaha menghentikan terjadinya kemarahan Marta, Ia justru membiarkannya dengan maksud tertentu. Ia ingin memberi nasihat kepada mereka berdua, dan juga kepada kita yang hidup dua ribu tahun sesudahnya.

Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari kisah di atas selain mengenai penggunaan waktu dan prioritas secara bijaksana? Yesus ingin menyatakan bahwa Ia peduli akan hidup kita. Seperti kunjungan-Nya ke rumah Marta dan Maria, Ia sering datang ke dalam hidup kita sehari-hari. Mungkin kita tidak menyadari, ketika Ia menegur, menasihati atau menghibur kita karena kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita. Yesus yang peduli kepada semua umat-Nya selalu beserta kita dan memakai kesempatan yang ada untuk berbicara kepada kita.

Yesus yang mahakasih, mahatahu dan mahakuasa, ingin untuk mengarahkan hidup kita ke arah yang benar. Ia datang ketika kita mengalami persoalan besar, tetapi Ia juga bersama kita ketika kita menghadapi tugas-tugas rutin. Ia melihat hidup kita, mendengarkan suara hati kita baik itu berupa keluhan, kemarahan atau rasa bimbang. Tuhan membiarkan berbagai masalah kehidupan terjadi atas kita dan menunggu sampai kita mau mendengarkan suara-Nya dan mau mengubah cara hidup kita. Biarlah mulai hari ini kita lebih peka akan kehadiran dan suara Yesus dalam hidup kita. Yesus selalu datang pada saat yang tepat untuk mengajar kita, baik pada saat kita mengalami peristiwa yang besar maupun hal-hal yang kecil.