Tuhan memberi kekuatan kepada mereka yang berharap

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” Lukas 2: 10

Natal adalah saat di mana orang Kristen memperingati kelahiran Yesus di dunia. Pada umumnya, perayaan Natal dirayakan dalam suasana gembira, dan karena itu banyak orang yang merayakannya sekalipun mereka tidak mengerti makna Natal. Walaupun hari Natal adalah hari raya umum yang paling meriah di negara barat, hari itu bukanlah hari yang paling signifikan untuk orang Kristen. Sebaliknya, hari Paskah, hari kebangkitan Yesus, adalah hari yang paling penting karena tanpa kebangkitan-Nya iman kita akan menjadi sia-sia.

Hari Natal, hari yang kita rayakan dengan sukacita, sebenarnya hari yang berat bagi Maria dan Yusuf. Mereka telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan tidak dapat menemukan tempat penginapan yang layak untuk melahirkan bayi Yesus. Dalam keadaan sedemikian, kita bisa membayangkan bahwa Maria dan Yusuf tentunya merasa sangat lelah. Mereka terpaksa bermalam di sebuah kandang hewan, dan Maria kemudian melahirkan bayi Yesus di sebuah palungan. Semua itu tidak menunjukkan kemewahan yang biasanya kita lihat pada saat kelahiran seorang anak raja.

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Lukas 2: 6 – 7

Seperti Maria dan Yusuf, dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga sering kali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan. Hari demi hari dilewatkan dengan tugas rutin tanpa ada harapan untuk mendapatkan perubahan.

Pada saat Yesus dilahirkan di Betlehem, ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Mereka yang hidup sederhana dan harus bekerja keras untuk menjaga domba-domba mereka agaknya tidak mempunyai masa depan yang cerah. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Kabar gembira ini membuat para gembala menjadi orang pertama yang melihat Yesus sang Penebus yang membebaskan manusia dari kematian.

Kabar baik yang disampaikan malaikat kepada para gembala, membuktikan kasih Tuhan bagi mereka yang sederhana hidupnya, bahkan mereka yang hidup dalam penderitaan dan kekurangan. Yesus datang untuk menyelamatkan mereka yang kekurangan dan tersingkir, untuk orang yang sakit dan merana. Mereka yang hidup menderita justru lebih dapat merasakan besarnya kasih dan kemurahan Tuhan.

Rasul Paulus pernah juga mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Pagi ini jika kita bangun dari tidur dan merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi. Apalagi jika penghargaan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini. Tetapi, jika kita mengingat kabar baik yang disampaikan kepada para gembala, dan juga jawaban Tuhan atas permohonan rasul Paulus, biarlah kita juga bisa bersikap seperti mereka yang mengharapkan pertolongan Tuhan, yang percaya bahwa dalam kesulitan, kelelahan dan penderitaan, Tuhan akan menampakkan kuasa-Nya.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Kabar baik yang pertama

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Hari ini adalah hari Natal dan bagi banyak orang dewasa ini adalah kesempatan mengunjungi orang tua, dan untuk makan siang atau makan malam bersama mereka. Pada saat yang sama, biasanya ada acara tukar menukar hadiah Natal. Tradisi saling memberi hadiah Natal mungkin ada hubungannya dengan hadiah Natal, yang dibawa oleh orang-orang Majus yang datang ke Betlehem dari tempat yang jauh dengan bimbingan bintang di Timur.

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Matius 2: 11

Tradisi memberi dan menerima hadiah Natal adalah suatu yang sebenarnya baik. Walaupun demikian, tradisi ini sering kali dilakukan tanpa mengerti apa yang menjadi latar belakangnya. Sekarang ini, banyak orang yang bukan orang Kristen ikut-ikutan memberi dan menerima hadiah Natal karena Natal sudah menjadi perayaan masyarakat umum dengan berbagai acaranya.

Bagi mereka yang merayakan hari Natal tahun ini, mencari hadiah Natal bukanlah tugas yang mudah dilakukan. Di saat ini semua orang harus berhati-hati untuk menghindari penularan virus Omicron. Karena itu sebagian orang memilih untuk berbelanja secara online untuk kemudahannya. Tetapi, memilih hadiah yang cocok dengan kebutuhan dan selera orang yang diberi tidaklah semudah membelinya. Banyak hadiah Natal yang diterima orang, berakhir dengan menyedihkan karena harus diberikan kepada orang lain, dijual atau dimasukkan keranjang sampah.

Apa yang sebaiknya diberikan kepada orang yang kita kasihi seharusnya sesuatu yang bisa berguna untuk mereka. Bukan hanya untuk kegembiraan sesaat, tetapi bisa bermanfaat untuk jangka panjang. Tetapi kebutuhan tiap orang adalah berbeda, dan orang lain sering kali salah menerka. Untuk menghindari salah pilih, kita bisa bertanya kepada orang yang akan kita beri, hadiah apa yang diingininya. Tetapi, orang itu sendiri mungkin tidak tahu pasti apa yang dibutuhkannya.

Menurut Alkitab, hadiah Natal yang pertama bukanlah apa yang dibawa oleh orang Majus, tetapi apa yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Hadiah itu berupa Anak-Nya yang tunggal, yang sudah turun ke dunia untuk menyelamatkan orang yang mau percaya kepada-Nya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pada waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah langsung mengetahui apa yang dibutuhkan mereka. Pengampunan dosa. Karena Allah adalah Tuhan yang mahasuci, manusia tidak akan bisa bebas dari hukuman dosa. Manusia akan binasa karena dosanya. Tetapi, karena kasih-Nya, Allah berjanji akan mengirimkan hadiah yang terbesar yang bisa diberikan-Nya kepada manusia, yaitu Yesus Kristus yang akan lahir di dunia dan mati ganti manusia.

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3: 15

Oleh karena itu, Kejadian 3:15 biasanya disebut sebagai kabar baik yang pertama, Protoevangelium, dalam Alkitab. Protoevangelium adalah kata majemuk dari dua perkataan Yunani, protos artinya “pertama” dan evangelium artinya “berita baik” atau “injil”.

Apakah manusia mau menerima hadiah Natal dari Allah? Sejarah membuktikan bahwa banyak manusia tidak mengerti betapa berharganya karunia Allah itu. Mereka tidak juga mengerti bahwa apa yang dikaruniakan Tuhan itu adalah mutlak untuk memenuhi kebutuhan mereka, agar mereka tidak binasa. Karena itu hanya sebagian dari umat manusia yang akhirnya mau menerima uluran tangan Tuhan. Sebagian yang lain, memilih hadiah yang berupa kenikmatan duniawi dan kemakmuran.

Bagi kita yang sudah menerima hadiah keselamatan melalui Yesus Kristus, apa pun yang lain tidak akan seindah dan berharga seperti karunia keselamatan. Karena itu kita harus tetap bisa bersyukur sekalipun kita tidak selalu memperoleh apa yang kita inginkan dalam hidup ini. Walaupun demikian, jika Tuhan kali ini masih mau memberikan hadiah Natal untuk kita, apakah yang anda inginkan? Semoga kita mau meminta kepada Tuhan agar semua orang di sekitar kita bisa menyadari kebutuhan hidup mereka yang utama dan datang bertobat kepada Tuhan. Itu adalah hadiah Natal yang terbesar untuk umat manusia!

Natal bukan saat untuk terlena

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25: 13

Besok pagi adalah hari Natal dan karena itu tidaklah banyak orang yang masih bekerja . Orang mungkin bisa melihat toko-toko dan rumah dihiasi dengan dekorasi Natal, dan mendengar lagu-lagu Natal di radio dan TV. Sejak minggu lalu orang mengucapkan pesan-pesan Natal kepada rekan-rekan yang akan memulai liburan mereka.

Ucapan selamat hari Natal sebelum tibanya hari itu, agaknya janggal di Indonesia. Biasanya, mereka yang hidup di Indonesia mengucapkannya setelah memasuki hari bertanggal 25 Desember. Seperti Tahun Baru. Malahan, sebelum adanya pandemi, beberapa gereja menganjurkan untuk tidak merayakan Natal sebelum tanggal itu.

Hari Natal dipastikan sebagai tanggal 25 Desember, sekalipun Alkitab tidak pernah menyebutkan adanya orang yang merayakan hari yang dianggap hari ulang tahun kelahiran Yesus. Memang tanggal itu hanyalah berdasarkan perkiraan atau rekaan manusia saja.

Hari kelahiran Yesus memang tidak sepenting kelahiran-Nya. Kelahiran Anak Allah adalah lebih penting dari saat dan tempat di mana Ia lahir, karena kelahiran-Nya sebagai manusialah yang memungkinkan Yesus untuk menebus dosa manusia. Manusia tidak dapat mencapai surga, hanya Allah yang bisa mencapai manusia. Dengan demikian, kedatangan Yesus itu sebenarnya harus dirasakan oleh setiap umat Kristen sebagai karunia yang terbesar dalam hidup mereka. Suatu hal yang harus selalu diingat setiap hari.

Apa yang akan terjadi sesudah kelahiran Kristus di Betlehem adalah kedatangan-Nya yang kedua kalinya dengan segala kemegahan-Nya. Kapankah itu akan terjadi? Tidak ada seorang pun yang tahu! Karena itu, kita tidak perlu mereka-reka. Memang banyak orang Kristen yang berusaha untuk menafsirkan apa saja yang terjadi di dunia, guna menebak kapan Yesus datang lagi. Tetapi semua itu adalah sia-sia.

Matius 5: 1 – 12 menggambarkan adanya sepuluh gadis yang menantikan kedatangan pengantin pria. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Hanya mereka yang bijaksana, yang menantikan pengantin pria dengan persiapan yang baik, akhirnya bisa masuk ke ruang pesta kawin. Seperti itulah kita harus selalu berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu akan hari maupun akan saatnya Yesus akan datang lagi.

Adalah baik jika pada hari Natal kita mengingat kasih Allah yang mau mengutus Putra-Nya untuk datang sebagai bayi yang manis di palungan. Tetapi, kita harus ingat bahwa Yesus tidaklah tetap berbentuk bayi yang mungil selama hidup-Nya. Ia tumbuh menjadi Orang yang dikasihi Allah dan kemudian mati untuk ganti kita. Dan karena itu Allah Bapa sangat mengasihi-Nya dan memuliakan Dia. Oleh sebab itu, kita tidak boleh terlena dengan kelahiran Yesus. Yesus yang sekarang adalah Raja kita, akan datang kembali sebagai Hakim dan Pembela kita.

Hari ini kita diingatkan bahwa Natal seharusnya diperingati oleh orang Kristen setiap hari, karena kita harus sadar bahwa Ia yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Ia jugalah yang akan datang lagi sebagai Raja di atas segala raja. Siapkah anda untuk menjumpai Dia?

Pentingnya mengaku dosa

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Apakah semua orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus itu Tuhan akan diselamatkan? Mungkin banyak orang yang mengaku Kristen akan mengiyakan. Tetapi, sebagian orang mungkin merasa ragu-ragu. Bukankah Yesus pernah berkata bahwa tidak semua orang percaya akan keilahian Yesus benar-benar umat-Nya.? Adalah kenyataan bahwa iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19).

Untuk menjadi umat-Nya memang orang tidak cukup untuk percaya, tetapi harus mau hidup dalam terang-Nya karena mereka yang tetap hidup dalam kegelapan dosa bukanlah pengikut-Nya yang sejati. Seorang yang sudah menerima hidup baru adalah ciptaan yang baru, dan dengan bimbingan Roh Kudus akan berubah hidupnya, makin lama makin menyerupai Yesus.

Pengampunan dosa dan hidup baru bukanlah berarti bahwa orang itu akan menjadi orang yang selamanya tidak bisa berbuat dosa. Manusia dalam kodratnya tetap adalah manusia yang selalu cenderung jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan menjadi lebih serius jika orang itu tidak berusaha untuk mawas diri akan apa yang dilakukannya. Karena itu, ada orang Kristen yang tidak menyadari atau tidak peduli akan dosa yang diperbuatnya dalam hidup sehari-hari, dan karena itu tidak tahu pentingnya memohon ampun kepada Tuhan. Sebagian di antara mereka malahan lupa bahwa Tuhan memang mengampuni dosa mereka ketika mereka menyatakan iman pada saat pertobatan, tetapi itu bukan berarti mereka menjadi orang yang tidak bisa berbuat dosa.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum (judisial) menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka dapat melupakan dosa-dosa yang bisa mereka lakukan setelah itu. Ananias dan Safira adalah salah satu contoh di mana umat Tuhan menerima hukuman atas dosa kebohongan yang diperbuat secara sengaja.

Jika mereka yang mengingat-ingat dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan penebusan darah Kristus, mereka yang menganggap bahwa menjadi Kristen adalah kebebasan untuk tetap berbuat dosa adalah orang-orang yang tidak erat hubungannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, mereka yang tetap hidup dalam dosa dan tidak merasakan hal itu, mungkin saja adalah orang-orang yang belum benar-benar menjadi pengikut Kristus.

Ayat di atas menyatakan bahwa mereka yang benar-benar mengikut Kristus sadar bahwa mereka diselamatkan bukan karena usaha sendiri, tetapi semua itu adalah karunia Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil karena Ia menjalankan kasih dan hukum-Nya. Karena itu, mereka selalu berusaha berjalan menurut firman-Nya. Ini tidak mudah karena mereka membutuhkan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk mempunyai hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan.

Ayat di atas bertalian dengan cara bagaimana kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika kita sadar akan dosa kita, kita harus meminta ampun kepada-Nya. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mereka yang tidak sadar akan dosa-dosa yang mereka perbuat akan sulit untuk memohon ampun dengan tulus hati, dan jika mereka melakukannya itu hanyalah omong-kosong saja.

Mungkinkah orang yang benar-benar Kristen untuk tidak menyadari pentingnya membina relasi dengan Tuhan yang mahasuci? Mungkinkah bagi mereka untuk tidak mengerti apa yang Tuhan sukai dan apa yang Ia benci? Mungkinkah orang Kristen untuk tidak menerapkan etika Kristen? Tentunya tidak mungkin, kecuali jika mereka adalah orang belum dilahirkan kembali dan belum menerima pengampunan judisial dari Tuhan.

Kita adalah domba-domba Allah

“Kamu adalah domba-domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah Allahmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Yehezkiel 34: 31

Siapakah anda dan untuk apa anda hidup? Pernahkah anda memikirkan hal ini? Tentunya setiap orang pernah sesekali memikirkannya, tetapi mungkin tidak sampai menemukan jawabannya. Mungkin juga orang mempunyai jawaban tetapi bukan jawaban yang benar. Jawaban yang tidak benar tidak akan mengubah cara hidup manusia secara permanen, sekalipun kelihatannya bisa membawa perubahan. Hanya jawaban yang benar bisa menjamin hidup yang sejahtera sampai akhir. Hanya jawaban yang benar bisa membedakan domba Tuhan yang berwujud manusia, dengan seekor domba yang berwujud hewan.

Menurut Alkitab, dosa adalah pelanggaran hukum. Itu adalah pemberontakan melawan Allah dalam pikiran, perkataan, atau perbuatan (1 Yohanes 3:4). Seekor hewan tidak bisa memberontak melawan Tuhan karena tidak mempunyai konsep tentang Tuhan. Di antara ciptaan Tuhan hanya manusia yang dapat melakukannya.

Seekor hewan tidak mampu berbuat dosa karena mereka tidak diciptakan sebagai agen moral yang independen. Hewan tidak memiliki roh yang abadi yang diciptakan menurut gambar Allah. Hewan tidak memiliki hukum Tuhan yang tercetak di hati mereka dan karena itu tidak mengerti akan apa yang baik dan buruk selain apa yang berasal dari naluri. Seekor hewan hanya hidup sekali, dan setelah mati hidupnya lenyap. Sebaliknya, Tuhan menciptakan manusia dengan keinginan agar Ia dapat hidup kekal bersama ciptaan-Nya.

Untuk setiap manusia, pelanggaran hukum tak bisa diingkari karena hukum Allah tertulis di hatinya (Roma 2:15). Manusia diciptakan menurut gambar Allah dengan roh yang kekal (Kejadian 1:27). Ketika Allah menciptakan Adam, Dia “menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, dan manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2:7). Jiwa yang hidup itu mengandung hati nurani, yaitu pengetahuan bawaan tentang benar dan salah; dan kemampuan untuk membuat pilihan moral itu tetap ada sekalipun di dunia ini ada dorongan untuk berbuat sesuatu yang tidak baik.

Kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk memilih ketaatan pada hukum moral Tuhan, tetapi jika kita memilih untuk mengikuti kemauan kita sendiri, kita merendahkan kedudukan kita sebagai gambar Allah. Untunglah, Allah telah menetapkan pola bahwa, di mana pun ada dosa, Dia membuat jalan untuk manusia – suatu cara yang dengannya manusia dapat dibenarkan kembali bersama-Nya (Kejadian 3:21). Roma 5:20 mengatakan, “Tetapi di mana dosa bertambah, kasih karunia bertambah banyak.” Di mana pun ada dosa, Tuhan menyediakan jalan untuk pengampunan.

Dosa hanya dapat dilakukan oleh dan terhadap agen moral bebas, yang diciptakan menurut gambar Allah. Umat ​​manusia wajib memelihara hukum Allah, yang secara khusus diberikan kepadanya, dan hanya dia yang memikul tanggung jawab atas pelanggaran hukum itu. Tetapi, manusia tidak sanggup untuk membebaskan diri sendiri dari amarah Tuhan. Karena itu, Yesus Kristus datang ke bumi sebagai manusia untuk menjadi korban untuk menebus umat manusia agar kita dapat dibenarkan di hadapan Allah (Filipi 2:5-11; 1 Timotius 2:5).

Ayat di atas menjelaskan siapakah kita ini. Kita adalah domba-domba Yesus, domba gembalaan-Nya, dan Yesus adalah Allah. Yesus yang lahir di hari Natal datang dari Allah dan Allah sendiri. Jika kita mengerti bahwa Yesus adalah Allah yang datang untuk menebus dosa kita, kita tentu akan menghargai Dia di atas segala yang ada. Selanjutnya, jika kita percaya bahwa Yesus adalah Gembala kita, kita tentu tidak ingin menyia-nyiakan hidup kita karena Ia sangat mengasihi kita.

Biarlah dalam menyongsong datangnya hari Natal, kita mau menyadari betapa berharganya diri umat manusia di hadapan Allah, sehingga Yesus perlu datang ke dunia. Karena itu kita harus mau menyerahkan hidup kita ke dalam pimpinan-Nya. Kita percaya bahwa Allah menyertai domba-domba-Nya yang menurut perintah-Nya dalam hidup mereka.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Kelahiran Yesus membawa pengampunan

“Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 22 – 23

Hari ini saya mendapat kiriman sebuah cuplikan video yang mengambarkan bagaimana para koruptor di sebuah negara di Asia dipaksa untuk berbaris di depan umum sebelum dieksekusi. Terlepas dari kesalahan para koruptor itu, pada umumnya mereka yang hidup di dunia barat memandang perlakuan terhadap para narapidana yang sudah divonis mati seperti itu sudah di luar batas-batas perikemanusian.

Beberapa orang Kristen berpendapat bahwa hukuman mati tidak pernah dapat dibenarkan. Mereka akan mengatakan ini karena:

  • Mereka percaya Yesus Kristus datang ke dunia untuk mereformasi orang-orang berdosa, seperti yang Ia lakukan terhadap wanita yang tertangkap basah berzinah dalam Yohanes 8:1-11.
  • Yesus mengubah ajaran Perjanjian Lama tentang pembalasan dalam Matius 5:38-39 ketika Ia berkata: Kamu telah mendengar firman: “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”
  • Orang Kristen percaya pada kesucian hidup, bahwa hidup itu suci dan milik Tuhan dan karena itu hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk mencabut nyawa. Dalam Roma 12:17-19 dikatakan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

Selain hal-hal di atas, hukum kedua yang disebutkan Yesus dalam Matius 22: 39 berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Setiap orang yang mempunyai pikiran yang sehat tentunya tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya, dan seperti itulah ia harus mengasihi orang lain. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Memang biasanya orang tidak mudah mengasihi orang lain karena adanya perasaan bahwa orang lain tidak pantas untuk dikasihi. Apalagi, jika orang lain itu sudah terbukti pernah melakukan kekejian, mungkin ada perasaan dalam hati kita bahwa orang itu sebaiknya tidak dibiarkan hidup. Lebih dari itu, kita mungkin berharap agar Tuhan membinasakan orang tersebut. Benarkah sikap ini? Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat begitu.

Tidak dapat dihindari bahwa terkait dengan hukuman pidana mati, terdapat dua pandangan yakni yang mendukung dan yang menolak diterapkannya hukuman pidana mati. Bagi yang mendukung (menerima) diterapkannya hukuman pidana mati, dasarnya adalah penjahat yang telah melakukan kejahatan pantas dihukum, bahkan dengan hukuman mati. Hukuman mati pada hakikatnya merupakan pembalasan. Seseorang mungkin percaya bahwa ia adalah abdi Allah dan berhak menjalankan hukuman Allah kepada mereka yang melakukan kejahatan, dan begitu juga Allah memberi kuasa kepada negara untuk menghukum bagi siapa saja yang berbuat kejahatan. Dalam perwujudan akan hal tersebut dituangkan dalam bentuk undang-undang, yang sering sesuai dengan pandangan agama yang diyakini.

Di sisi lain, bagi yang menolak (tidak setuju) diterapkannya pidana mati beralasan bahwa hukuman mati tidaklah efektif dalam menangani kejahatan, dan karena itu hukuman seumur hidup lebih tepat digunakan daripada hukuman mati. Selain itu, hukuman mati berarti menutup kesempatan bagi narapidana untuk bertobat dengan alasan Tuhan sudah menghendakinya.

Dalam pandangan sebagian orang Kristen yang lain, adanya hukuman bukanlah suatu pembalasan, walaupun hukuman diperlukan untuk mengurangi adanya kejahatan. Hukuman seberat apa pun tidak akan menghentikan adanya kekejian. Itu terbukti ketika Adam dan Hawa melanggar larangan Allah di taman Firdaus. Selanjutnya dalam pandangan mereka, orang Kristen seharusnya dapat mengampuni karena Allah mau mengampuni mereka yang berdosa seberat apa pun (Yesaya 1: 18).

Dilema antara pro dan kontra hukuman mati mungkin mirip dengan apa yang dialami dokter yang harus memutuskan untuk menghentikan mesin pembantu jantung atau pernafasan dari seorang pasien yang sakit parah. Tetapi, jika dokter sudah tidak bisa menolong lagi, dan keajaiban ilahi tidak terjadi, apakah yang bisa dilakukan? Dalam hal ini, mungkin bisa diterima bahwa sang pasien sudah waktunya untuk meninggalkan dunia. Pada pihak yang lain, seorang penjahat yang segar bugar tentu saja bisa bertobat jika Tuhan menghendakinya. Dengan demikian, jika kita memutuskan bahwa orang itu harus dihukum mati, kita sudah mencoba berperan sebagai Tuhan.

Mengapa kita harus bisa untuk tetap menghargai nyawa orang yang berbuat keji? Mengapa kita harus mengasihi orang yang hidup dalam dosa? Mereka tidak pantas untuk dikasihi, begitu mungkin pikiran kita. Dengan kata lain, kita tidak mengasihi mereka karena kita yakin bahwa mereka tidaklah sebaik diri kita. Pandangan semacam ini sudah tentu bukanlah pandangan Yesus. Selama hidup di dunia Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada orang yang terasing dari masyarakat, marginalised people, seperti orang yang sakit kusta, pelacur, pemungut cukai dan penjahat. Yesus mengasihi mereka sebelum mereka mengasihi Dia. Yesus mengasihi mereka sekalipun mereka belum menjadi pengikut-Nya. Tuhan pun mengasihi kita ketika kita masih berada dalam dosa dengan mengirimkan Yesus untuk mati bagi kita (Roma 5: 8).

Satu hal yang sering dilupakan orang adalah fakta bahwa jika Yesus mengasihi semua umat manusia, Ia membenci dosa mereka. Kepada seorang perempuan yang berzinah Ia berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8: 11). Seperti itu jugalah, setiap orang percaya harus berusaha untuk tetap hidup sesuai dengan firman-Nya. Setiap orang percaya juga harus bisa bersikap seperti Yesus: mengasihi sesama manusia tetapi membenci dosa mereka. Manusia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih mereka tetap harus menghindari dosa.

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6: 15

Membenci dosa tetapi tetap mengasihi orang yang berdosa adalah sesuatu yang diajarkan Alkitab. Ayat pembukaan kita berkata bahwa kita harus bisa menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu akan jalan kebenaran Tuhan, tetapi mau menyelamatkan mereka dari kematian dengan jalan merampas mereka dari api penghukuman. Kata “merampas” menyatakan bahwa ini bukanlah tugas yang ringan karena sering kali mengundang permusuhan dengan orang yang merasa bahwa mereka yang dipandang jahat itu sudah tidak pantas untuk menerima pengampunan Tuhan.

Hari ini, seminggu sebelum Natal, kita harus ingat bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus manusia yang berdosa. Sebagai orang yang sudah diselamatkan dari kematian, kita harus berani untuk menyatakan apa yang jahat sebagai kejahatan yang dibenci Tuhan. Tetapi, kita harus juga bisa menyatakan belas kasihan yang disertai ketakutan bahwa apa yang mereka perbuat akan mencelakakan hidup mereka, dengan membenci apa yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa mereka. Sebagai orang Kristen, kita yakin akan apa yang harus kita kasihi (sesama manusia) dan apa yang harus kita benci (dosa). Adalah kewajiban bagi semua umat Kristen untuk menyatakan kepada seisi dunia bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahasuci, yang tidak dapat dipermainkan manusia.

Sehat karena takut akan Tuhan

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 3: 1-2

Bagi anda yang suka mendengarkan lagu jazz, mungkin nama Amy Winehouse tidaklah asing. Amy Jade Winehouse (lahir 14 September 1983) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu soul, jazz, dan R&B dari Inggris. Amy Winehouse adalah pemenang Ivor Novello Awards dua kali, dan memperoleh BRIT Awards untuk penyanyi wanita terbaik di Inggris.

Amy Winehouse sebagai seorang anak dari keluarga Yahudi pergi ke sekolah Yahudi. Setelah dia menjadi terkenal, dalam satu wawancara dia mengatakan bahwa dia dulu memohon kepada ayahnya untuk mengizinkannya untuk tidak pergi ke sekolah itu karena di sana dia tidak belajar apa-apa tentang bagaimana untuk menjadi orang Yahudi. Selanjutnya, Amy mengatakan dia hanya pergi ke sinagoga setahun sekali di saat Yom Kippur “karena rasa hormat”. Pada usia belasan tahun, Amy sudah menjalani hidup dalam kebebasan dunia.

Amy meninggal pada usia 27 tahun tanggal 23 Juli 2011 di rumahnya di London. Penyelidikan resmi menyimpulkan bahwa tewasnya Amy disebabkan oleh keracunan alkohol setelah menenggak terlalu banyak minuman keras. Memang, dalam hidupnya yang relatif singkat itu, Amy sudah mengalami berbagai badai kehidupan yang secara pelan-pelan menghancurkan kesehatan dan karirnya.

Tidak dapat disangkal bahwa kesehatan adalah hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan manusia di zaman ini. Dengan majunya pendidikan dan ekonomi, manusia menyadari bahwa mereka dapat berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stress dan sebagainya. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku terbaik yang mengajarkan hal kesehatan menurut Firman Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakan-Nya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan.

Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Di dunia yang fana ini berbagai penyakit ada, dan itu bersama faktor lingkungan akan bisa memengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing, memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Apa pun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa memengaruhi kesehatan kita. Membina karir adalah sesuatu yang baik, tetapi jika manusia sudah diperbudak kenikmatan hidup, keberhasilan dan karir, bahaya kehancuran akan mendatangi. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu hari pun.

Manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekadar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita. Tuhan bisa melihat hidup macam apa yang kita jalani.

Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupan-Nya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladan-Nya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firman-Nya.

Dengan ketaatan pada perintah-perintah Allah, kesehatan dan kedamaian hati dan pikiran akan dapat dinikmati secara umum. Dan meskipun hari-hari kita mungkin tidak lama lagi di bumi, kita boleh berharap akan hidup abadi di surga. Kita harus percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita, percaya bahwa Dia mampu dan bijaksana untuk melakukan yang terbaik. Mereka yang mau menerima kenyataan hidup, akan mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, yang mudah patah jika bersandar pada kekuatan dan kebijaksanaan sendiri.

Dengan demikian, sebagai manusia kita tidak boleh merancang apa pun kecuali apa yang berkenan kepada Tuhan, dan mohon kepada Tuhan untuk membimbing kita dalam setiap persoalan, meskipun itu mungkin tampak sangat mudah untuk kita selesaikan. Dalam semua keberhasilan yang kita capai, kita harus mengakui bimbingan Tuhan dengan rasa syukur. Sebaliknya, dalam semua hal yang tak terasa nyaman, kita harus menerimanya dengan ketundukan. KIta harus ingat bahwa Tuhan akan mengarahkan jalan kita; sehingga jalan itu akan aman dan baik, dan membawa kebahagiaan pada akhirnya.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 7-8

Hal tunduk kepada pemerintah

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Roma 13: 4

Akhir-akhir ini di beberapa negara Barat terjadi beberapa hal yang kurang menyenangkan. Media melaporkan adanya insiden di mana banyak orang berdemonstrasi menentang tindakan pemerintah yang mengharuskan rakyat untuk menerima vaksinasi Covid-19. Walaupun adanya demonstrasi adalah bagian dari demokrasi, dan dalam batas-batas hukum tidak dilarang, sering kali ini memberi kesempatan bagi kaum ekstrimis untuk ikut beraksi. Dalam hal ini, beberapa orang kemarin ditangkap oleh polisi di Jerman berkaitan dengan adanya usaha untuk membunuh gubernur daerah Saxony.

Di negara demokrasi, rasa hormat kepada orang yang berkuasa atau para pemimpin memang diharapkan dari setiap anggota masyarakat. Tetapi, biasanya penghormatan itu tidak selalu harus berdasarkan hukum. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan etika dan kebiasaan. Walaupun demikian, ada kecenderungan akhir-akhir ini bahwa rakyat, terutama kaum muda, kurang puas dengan apa yang diperbuat para pemimpin, dan kemudian melakukan ha-hal yang tercela.

Ayat di atas menyatakan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan rakyatnya. Tuhan yang menghendaki adanya ketertiban menyuruh  seluruh umat-Nya untuk menghormati etika, peraturan, dan hukum negara dan menghormati mereka yang berkuasa. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Karena itu, kita harus bisa memberi contoh yang nyata bagaimana kita menghormati mereka yang berwenang (authority).

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Sayang sekali bahwa di zaman modern ini, ada kecenderungan manusia di mana saja untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang seharusnya mempunyai otoritas atas beberapa segi kehidupan mereka. Kecenderungan untuk memberontak mulai muncul sejak saat mereka masih kecil, dan bertambah besar ketika mereka menjadi orang dewasa. Itu mungkin akibat cara mendidik orang tua atau pengaruh teman sebaya, dan juga karena mereka tidak mau tunduk kepada orang-orang yang “otoriter”.

Otoritas dan otoriter adalah dua kata yang bunyinya mirip tapi berbeda artinya. Biasanya kedua kata ini dipakai sehubungan dengan pemerintahan, tetapi juga bisa dikenakan kepada individu. Baik individu maupun pemerintah bisa mempunyai otoritas dan bisa bertindak secara otoriter.

Otoritas bisa mempunyai banyak arti. Sering kali kata itu diartikan sebagai kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Tetapi kata itu juga bisa diartikan sebagai hak untuk bertindak; kekuasaan; wewenang; atau hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain

Dalam hidup ini kita bisa melihat orang-orang dan pemerintah yang menggunakan otoritas yang dimiliki mereka untuk mengatur dan memimpin dalam masyarakat, tetapi ada juga mereka yang menggunakan otoritas mereka secara otoriter dan sewenang-wenang untuk mencari untung. Bahkan dalam sejarah ada pemerintah yang melakukan genosida dan hal-hal yang jahat lainnya. Selain itu, ada pemerintah yang melarang pemberitaan Injil. Bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bersikap? Rasul Petrus dengan tegas menjawab:

“Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Kisah 5: 29

Hari ini kita melihat bahwa Alkitab hanya memberi satu kemungkinan bagi umat Kristen untuk melawan otoritas penguasa jika mereka dengan otoriter menghalahgi kita untuk taat kepada firman-Nya. Dalam hal-hal lain, kita harus tunduk kepada otoritas pemimpin dan penguasa. Itu karena Tuhan mengharuskannya untuk kebaikan kita sendiri. Ini berarti, dalam banyak hal kita harus tunduk kepada peraturan pemerintah, mengenai pajak, pendidikan, obat-obatan, dan sebagainya. Ada banyak hal-hal semacam itu yang tidak dibahas secara langsung dalam Alkitab, tetapi kita harus bisa menilainya secara obyektif dengan bimbingan Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita.

Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Roma 13: 5

Berdoa syafaat tidaklah mudah

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” 1 Timotius 2: 1 – 4

Apakah doa syafaat itu? Doa syafaat (bahasa Inggrisnya intercession) adalah salah satu bentuk doa yang sering ditemui dalam kehidupan bergereja. Secara singkat doa syafaat adalah saat manusia berdoa atas nama orang lain. Mungkin jemaat sering menyebutnya sebagai ‘doa untuk orang lain’, termasuk di dalamnya mendoakan bangsa dan negara, mendoakan orang orang yang menderita di tempat lain/negara lain, mendoakan umat beragama lain. Sudah tentu, untuk bisa mendoakan orang lain kita perlu untuk tahu bagaimana keadaan orang lain yang ingin kita doakan.

Untuk bisa tahu apa yang perlu didoakan, tentunya kita harus peduli akan keadaan orang lain. Mereka yang tidak peka atau tidak peduli akan keadaan orang lain tentunya hanya tahu keadaan diri atau kelompok sendiri. Mereka yang hanya mempunyai kepedulian, kasih dan belas kasihan untuk golongan sendiri, sudah tentu tidak tertarik untuk mengetahui masalah orang lain. Mereka yang hanya tahu kebutuhan diri sendiri akan canggung untuk berdoa untuk gereja, negara, atau dunia.

Haruskah kita selalu mendoakan orang lain dalam doa-doa kita? Barangkali secara individual, orang kurang siap untuk berdoa syafaat. Di gereja, jemaat mungkin hanya berdoa syafaat karena ada pendeta yang memimpin doa, sesuai dengan liturgi gereja. Secara individu, biasanya orang Kristen kurang mau atau mampu untuk mendoakan orang yang tidak benar-benar dikenalnya. Dalam hal ini, kita memang lebih mudah untuk mendoakan diri sendiri atau sanak keluarga karena hubungan yang dekat dan juga karena kita merasa terbeban atas persoalan dan kebutuhan mereka. Tetapi, Tuhan yang mengasihi semua orang tentunya mau agar kita juga mengasihi siapa pun, bukan hanya sanak, teman dan orang yang kita kenal saja.

Ayat di atas adalah tulisan Paulus untuk rekannya yang jauh lebih muda, Timotius. Paulus pertama-tama menasihatkan Timotius agar ia menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar semua orang dapat hidup tenang dan tenteram. Itu bukan doa untuk orang Kristen saja dan bukan juga doa untuk orang yang kita kenal saja. Itu adalah doa untuk semua orang, dari semua bangsa dan semua kedudukan. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah yang mahakasih mau agar kita membagikan kasih-Nya untuk semua orang agar mereka bisa mengenal Dia.

Doa untuk orang lain bukan saja membawa kebaikan untuk mereka. Doa syafaat juga mengingatkan bahwa bukan kita yang memiliki Allah, tetapi Allahlah yang memiliki kita. Bukan kita yang memilih Dia, tetapi Ia yang memilih kita. Dengan demikian, kita tidak boleh memonopoli kasih Allah atau merasa bahwa doa kita hanyalah untuk mereka yang sudah diselamatkan. Kita harus sadar bahwa Tuhan bekerja di antara umat manusia untuk membawa lebih banyak orang menuju ke arah keselamatan. Tuhan mau agar kita bisa belajar mengasihi siapa pun, di mana pun mereka berada, dan dengan demikian makin banyak orang yang menyambut keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran Tuhan.

Doa syafaat memang bisa membentuk karakter kita sebagai anak-anak Tuhan. Jika pada saat-saat yang lampau kita mungkin lebih memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri atau kebutuhan sanak keluarga dan bangsa sendiri, kedewasaan iman bisa membuat kita sadar bahwa di luar lingkungan sendiri kasih Tuhan juga tercurah untuk semua orang, baik mereka yang sudah mengenal Tuhan atau mereka yang masih hidup dalam dosa. Doa syafaat tidak boleh dibatasi oleh tembok-tembok ras, agama, budaya atau bangsa. Bukankah pada saatnya semua orang yang percaya kepada Tuhan akan hidup bersama di surga?

Menunggu dan berharap kepada Tuhan

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.

Banyak anak kecil di Australia di saat ini yang menantikan datangnya Natal dengan hati yang berdebar-debar. Natal adalah satu hari besar di mana mereka akan merayakannya dalam keluarga, dan saat di mana mereka akan menerima hadiah Natal dari orang tua mereka. Hari demi hari mereka menunggu, tetapi hari Natal terasa tidak kunjung tiba. Karena itu mereka mungkin gelisah memikirkan hadiah apa yang akan mereka terima.

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa gelisah ketika harus menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kegelisahan dengan melupakan hal itu, dalam hal besar orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, di mana pun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi sering kali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu TUHAN, dan mengharapkan Allah untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Allah akan mendengarkannya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini dalam menyambut datangnya hari Natal. Yesus yang sudah datang ke dunia adalah kunci keselamatan kita!

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9