Kapan derita ini akan berlalu?

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12: 10

Menjelang akhir tahun 2021, banyak orang yang berharap akan redanya, dan bahkan lenyapnya, pandemi Covid-19. Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Varian baru yang dinamakan Omicron sekarang mulai muncul di berbagai negara, yang menyebabkan kembalinya berbagai bentuk PPKM atau lockdown. Semua orang ingin bebas melakukan segala aktivitas kehidupan, tetapi setelah hampir dua tahun situasi pandemi di dunia belum juga teratasi. Hal ini membuat banyak orang menjadi kuatir dan tertekan hidupnya.

Memang jika kita tahu bahwa kita belum juga bisa mempunyai kebebasan yang kita harapkan, rasa kecewa atau sedih mungkin timbul. Tetapi tentunya kita harus bersyukur bahwa dengan ditemukannya sejumlah vaksin, risiko serangan virus corona bisa diperkecil; dan karena itu kita sudah bisa melakukan apa yang perlu dalam batas-batas tertentu. Walaupun demikian, banyak juga orang yang sampai saat ini masih belum bisa mendapatkan kesempatan untuk itu karena berbagai hal.

Bukan saja menghadapi akibat pandemi, pada umumnya setiap orang pernah mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan selama hidup. Itu lumrah karena semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan harus hidup di dunia yang tidak sempurna. Tetapi jika umat Kristen mengalami penderitaan karena hal-hal yang nampaknya “tidak adil”, pertanyaan mungkin timbul di hati kita, mengapa hal-hal yang sedemikian terjadi pada anak-anak Tuhan. Bukan hanya kelemahan tubuh, penyakit, dan kesukaran hidup, tetapi juga bahaya dan penganiayaan dialami oleh banyak orang Kristen di dunia. Menjadi Kristen memang dalam kenyataannya tidak akan menghilangkan persoalan hidup, dan persoalan hidup malah justru sering muncul karena adanya iman kepada Tuhan, karena kita harus menuruti perintah Tuhan.

Ada orang Kristen yang memiliki mata rohani yang tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat adanya bimbingan Tuhan dalam segala kesulitan. Untuk mereka, kehidupan adalah baik jika mereka bisa berbuat apa yang mereka maui. Mereka dapat hidup dalam kebebasan yang semu sampai tiba saatnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena mereka tidak mempunyai Tuhan, bagi mereka tidak ada harapan dan penghiburan dalam kesulitan. Karena itu, sebagian orang yang tidak benar-benar mau dibimbing Tuhan lebih suka untuk mengabaikan adanya persoalan dalam hidup mereka.

Hari ini, Rasul Paulus sebagai rasul menceritakan bahwa dalam hidupnya ada sesuatu masalah kesehatan yang membuat ia sangat menderita. Ia sudah memohon tiga kali kepada Tuhan untuk mendapat kelepasan, tetapi jawaban Tuhan bukanlah seperti yang diharapkannya.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Sebab itu, bukannya menyesali keadaannya, Paulus malahan bersyukur dalam kelemahannya, supaya ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Seperti Paulus, kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu dibimbingnya untuk menjadi makin dewasa dan makin kuat dalam iman. Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kelemahan dan berbagai persoalan; tetapi bagi kita yang mau dibimbing Tuhan, kesadaran bahwa hidup kita adalah bergantung kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih adalah bagaikan obat yang memberi harapan dan kekuatan di dalam kesulitan. Biarlah kita makin bisa berserah kepada Tuhan dalam mengakhiri tahun ini!

Menghadapi krisis kehidupan

Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Yohanes 11: 32

Pernahkan anda mengalami krisis kehidupan yang besar? Kebanyakan orang pernah mengalami peristiwa atau pengalaman yang membuat mereka sedih, marah atau putus asa. Mungkin mereka merasa hilang harapan dan tidak dapat melihat adanya kemungkinan untuk melarikan diri atau mengatasi krisis itu. Bukan saja persoalan keluarga, tetapi masalah sekolah, pekerjaan dan bahkan juga masalah kepercayaan bisa membuat manusia menemui jalan buntu.

Alkisah, ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya, dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: ”Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sekarang sakit.” Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ”Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus, tetapi Ia seakan tidak peduli akan keadaan Lazarus.

Yesus malahan tinggal dua hari lagi di mana Ia berada, sebelum mengajak murid-murid-Nya untuk kembali ke Yudea. Ia berkata kepada mereka bahwa Lazarus telah tertidur, tetapi Ia ingin pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya. Murid-murid Yesus tentunya heran karena jika Lazarus hanya tertidur, ia akan sembuh sendiri. Lalu Yesus berkata dengan terus terang kepada para murid-Nya bahwa Lazarus sudah mati, dan menyatakan bahwa mereka beruntung karena Ia tidak berada bersama Lazarus sewaktu masih belum mati. Mengapa demikian? Supaya mereka belajar percaya. Ada sesuatu yang ajaib akan terjadi.

Kisah nyata yang dimulai dengan sebuah krisis dan dukacita, kemudian berakhir dengan sebuah keajaiban dan sukacita. Apa yang dapat kita pelajari dari kejadian itu?

Ada tiga pelajaran penting yang dapat kita pelajari dari kisah kebangkitan Lazarus, yaitu tiga hal tentang bagaimana bertahan di saat kita mengalami krisis.

Pelajaran 1: Waktu Tuhan selalu sempurna.

Tuhan tidak pernah bertindak terlalu dini, dan tidak pernah terlambat, tetapi selalu tepat waktu. Just in time. Waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Bagi kita, waktu Tuhan sering terasa seperti penundaan yang lama, yang mendatangkan rasa putus asa.

Yesus mendapat kabar bahwa Lazarus sakit kritis. Sangat mengherankan bagi murid-Nya, Yesus tidak cepat-cepat pergi ke Betania untuk menyembuhkan Lazarus dari sakitnya, tetapi Ia tinggal selama dua hari sebelum pergi. Ketika Yesus tiba di Betania, rumah Lazarus dan dua saudara perempuannya, Dia tentu tahu bahwa Lazarus meninggal empat hari sebelumnya.

Waktu Tuhan yang sempurna menumbuhkan iman kita ketika kita dipaksa untuk menunggu dan percaya kepada Tuhan, dan itu memastikan bahwa Dia sendiri yang patut mendapatkan kemuliaan dan pujian karena Ia membimbing kita melalui krisis yang kita alami. Pada waktu yang tepat, Tuhan akan menjawab doa kita. Pada waktu yang tepat, Tuhan akan bertindak untuk kebaikan umat-Nya.

Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata: ”Engkaulah Allahku!” Mazmur 31:15

Pelajaran 2: Jalan Tuhan bukanlah jalan kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9.

Tuhan memiliki perspektif abadi. Tuhan yang mahaagung mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan. Dan apa yang diketahui manusia ciptaan-Nya? Tidak ada yang benar-benar kita ketahui. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan Tuhan. Jika kita adalah Yesus, kita akan ingin langsung menyembuhkan Lazarus. Tetapi Yesus bermaksud untuk memperluas iman para murid-Nya yang setelah kematian-Nya akan menjadi rasul-rasul yang membawa pesan Kristus ke dunia. Para murid tahu Yesus memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang – tetapi untuk membangkitkan mayat berumur 4 hari? Itu membawa iman ke tingkat yang sama sekali baru. Mengetahui bahwa jalan Tuhan bukanlah jalan kita berarti kita harus menaruh semua iman dan kepercayaan kita pada jalan-Nya.

Pelajaran 3: Tuhan selalu memiliki keputusan akhir.

Tidak peduli seberapa buruk dan beratnya situasi yang muncul, dan betapa tertekannya perasaan kita karena tampaknya tidak ada jawaban, tidak ada bantuan, tidak ada harapan, Tuhan melihat keadaan kita dan Dia sendiri yang memiliki keputusan akhir.

Kita sering menempatkan sebuah titik dalam hidup kita di mana Tuhan menempatkan koma. Semua terasa sudah berakhir, titik. Pernikahan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, kesehatan kita, masa depan kita. Tetapi Tuhan memberi koma di tempat-tempat itu karena itu belum berakhir, sampai Dia mengatakan itu sudah berakhir.

Lazarus sudah mati dan membusuk selama empat hari di makam itu. Bagi Maria, Marta dan murid-murid Yesus, itu lebih dari satu titik, itu tanda seru! Tapi itu belum berakhir. Tuhan menaruh koma di tempat itu. Dan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, organ-organnya kembali berfungsi, dan kulit yang membusuk menjadi baru kembali.

Seperti itulah, Yesus akan mengambil apa yang tidak lagi mempunyai tenaga di dalam diri kita dan membangkitkannya dari kematian. Dia akan menolong kita melewati masa krisis, tidak hanya agar kita bisa bertahan hidup, tetapi juga agar kita bisa menang. Ini malahan sudah dibuktikan dalam penyaliban dan kematian Yesus. Tuhan selalu memiliki kata terakhir. Pada hari ketiga, Minggu pagi, Tuhan membangkitkan Yesus dari kematian dan Dia hidup! Karena Yesus Kristus, kematian dan kuburan tidak lagi memiliki kuasa atas hidup kita. Yesuslah yang memiliki kata terakhir. Dan karena Dia hidup, jika kita percaya kepada-Nya dan menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya, kita juga akan hidup! Halleluya!

Untuk memberitakan firman Tuhan perlu persiapan

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” 2 Timotius 4: 2

Mungkin banyak orang Kristen yang sadar akan sulitnya untuk memberitakan firman Tuhan. Biasanya orang ragu untuk menyampaikan firman Tuhan karena merasa kurang mampu untuk berbicara di depan umum, atau kurang faham mengenai dasar-dasar teologi Kristen. Penginjil besar yang kita kenal, Billy Graham, pernah juga merasakan hal yang serupa. Hanya dengan kekuatan dari Tuhan, ia bisa mengatasi keraguannya dan perlahan-lahan belajar menjadi penginjil yang sangat efektif dalam membawa orang ke dalam pengenalan akan Tuhan.

Sebenarnya, menjadi pembawa firman Tuhan tidak harus diartikan bekerja sebagai penginjil atau pendeta. Amanat Agung dari Yesus untuk mengabarkan Injil adalah perintah-Nya untuk semua orang percaya. Kita bisa membawakan firman Tuhan di rumah, sekolah, kantor dan di mana saja, dan itu bisa disampaikan kepada satu, dua atau banyak orang.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 29-20

Untuk mengabarkan firman Tuhan, orang tidak harus masuk sekolah Alkitab atau mempunyai gelar teologia, tetapi orang tersebut harus benar-benar orang yang percaya kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Alah Roh Kudus. Lebih penting dari itu, orang tersebut haruslah hidup dalam terang Kristus dan memiliki iman yang benar. Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menasihati rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, bagaimana ia harus mempersiapkan diri untuk membawakan firman Tuhan.

Pertama, Timotius harus siap menyampaikan firman Tuhan ketika situasi lagi kondusif. Ungkapan “waktu yang baik” mengacu pada saat-saat ketika seseorang, dengan akal sehat, “seharusnya” mengkhotbahkan firman. Ini sehubungan dengan keadaan yang bersahabat, atau situasi yang aman.

Kedua, Timotius harus siap berkhotbah ketika situasi tidak nyaman. Ini adalah arti dari ungkapan “tidak baik waktunya”. Inilah saat-saat ketika menyatakan kebenaran itu canggung, sulit, atau ditentang.

Ketiga, dia harus menyatakan apa yang salah. Ini menggemakan seruan Paulus untuk “menegur” yang ditemukan dalam 1 Timotius 5: 20.

Keempat, Timotius harus menegur orang yang salah. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “teguran” adalah epitimēson, yang dalam konteks ini berarti memarahi, mencaci, atau mengoreksi.

Kelima, Timotius harus menasihati, sebuah istilah yang mengacu pada dorongan atau himbauan. Ini berasal dari istilah Yunani parakaleson, yang melibatkan dukungan, kenyamanan, dan bantuan.

Keenam, Timotius harus berkhotbah dengan kesabaran. Bagi mereka yang memimpin, dan terutama ketika menghadapi oposisi, ini tidaklah mudah dilakukan. Namun, Paulus menyebutkan ini sebagai bagian dari buah Roh (Galatia 5:22-23). Kesabaran, meskipun selagi merasa frustrasi, dimaksudkan untuk menjadi ciri iman Kristen. Dengan adanya kesabaran dan rasa kasih, makin banyak orang yang akan tertarik untuk mengenal Allah.

Ketujuh, pemberitaan firman Timotius harus mencakup pengajaran, sebuah istilah yang mengacu pada instruksi. Dia harus memakai hati dan pikiran, melatih orang percaya untuk mengikuti kebenaran Allah.

Hari ini kita belajar dari rasul Paulus bagaimana kita bisa belajar menjadi pembawa firman Tuhan yang baik, yang bisa membimbing banyak orang untuk mengenal Tuhan dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Biarlah kita mau meminta bantuan Roh Kudus agar kita diberi kemampuan dan keberanian serta kebijaksanaan untuk melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus.

Tetap waspada dalam semua keadaan

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Masih sebulan lagi sebelum datangnya hari Natal. Tetapi banyak juga rumah yang sudah dihias dengan berbagai lampu dan perhiasan Natal. Kapankah sebenarnya hiasan Natal itu boleh mulai dipasang? Tidak ada peraturan untuk itu, tetapi biasanya mulai tanggal 1 Desember orang sudah mulai memasangnya dan itu belangsung sampai seminggu sesudah tahun baru.

Menjelang hari Natal ini banyak kantor atau perusahaan yang sudah mengadakan pesta akhir tahun. Mengapa begitu dini? Itu karena banyak orang yang sebentar lagi mengambil cuti tahunan mereka yang biasanya 4 minggu lamanya; dan setiap orang bisa mengambil cuti pada waktu yang berlainan. Dalam pesta semacam itu, mereka bersama-sama bergembira atas apa yang sudah tercapai dalam tahun ini.

Dalam pesta semacam itu biasanya orang mengonsumsi alkohol. Suasana gembira dan alkohol terkadang membuat orang terlena. Karena mabuk, banyak kecelakaan yang terjadi karena supir yang tertidur di belakang kemudi. Hanya beberapa detik saja sudah bisa menentukan hidup-mati orang di jalan raya. Untuk itu, polisi menganjurkan agar pengemudi kendaraan bermotor lebih berjaga-jaga di akhir tahun ini.

Ayat di atas adalah peringatan Yesus kepada tiga murid (Petrus, Yakobus dan Yohanes) yang jatuh tertidur ketika diminta untuk berjaga-jaga selagi Yesus berdoa di taman Getsemani. Murid-murid itu tentunya sadar  bahwa Yesus yang merasa sedih meminta mereka untuk menemani-Nya selagi Ia berdoa. Walaupun demikian mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa Yesus sedang menghadapi  perjuangan besar dan bergulat dengan kenyataan bahwa sebentar lagi Ia akan menemui kematian. Perasaan sedih dan tubuh yang lelah, membuat murid-murid itu tertidur. Mereka gagal untuk berjaga-jaga.

Perlukah Yesus, Anak Allah, meminta dukungan manusia yang lemah? Sudah tentu Yesus tidak memerlukan hal itu karena Allah Bapa bisa mengirimkan seorang malaikat untuk memberi kekuatan (Lukas 22: 43). Yesus meminta ketiga murid-Nya untuk berjaga-jaga sebagai perlambang bahwa dalam hidup di dunia mereka harus siap bertahan menghadapi apa yang akan terjadi. Alkitab menyebutkan bahwa mereka mengalami goncangan besar ketika melihat dengan mata-kepala sendiri, bagaimana Guru mereka, Sang Mesias, kemudian ditangkap, dipukuli dan disalibkan sampai mati. Harapan mereka hancur karena Mesias yang mereka saksikan tidaklah seperti yang mereka harapkan. Dengan demikian, Yesus mengajak ketiga murid-Nya untuk mengajar mereka agar tetap berjaga-jaga dalam menghadapi masa depan, dan Ia juga memberi peringatan khusus kepada Petrus (Matius 26: 40) yang kemudian menyangkali-Nya tiga kali .

Seperti ketiga murid itu, setiap orang Kristen akan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, terutama tantangan untuk bisa tetap hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Memikirkan tantangan hidup yang akan terjadi adalah sesuatu yang kurang menyenangkan. Orang lebih senang memikirkan apa yang nyaman dan indah seperti Natal yang akan kita rayakan sebentar lagi. Membayangkan kelahiran Yesus dengan memandang pohon Natal dengan lampu-lampunya yang indah mungkin lebih membuai  daripada memikirkan perjuangan Yesus dalam kegelapan taman Getsemani. 

Hari Natal memang membawa rasa gembira. Kita memang harus bersyukur bahwa Yesus yang lahir sebagai bayi di hari Natal adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia. Hari Natal adalah hari di mana misi Yesus dimulai dan tiap kali kita merayakannya kita diingatkan bahwa misi penyelamatan-Nya masih terus berjalan. Dengan demikian, dalam gemerlapnya lampu Natal saat ini kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa kita pun dipanggil seperti tiga murid di atas untuk mendukung perjuangan-Nya. Dalam hal ini, ada begitu banyak hal di dunia yang bisa membuat kita terbuai dan kemudian jatuh ke dalam pencobaan. Sesuai dengan perintah Yesus di atas, maukah kita selalu berjaga-jaga dalam hidup kita agar tetap bisa menjadi umat-Nya yang setia dalam mendukung pekerjaan-Nya?

Jika derita datang bukan karena kesalahan kita

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1: 3 – 4

Banyak orang yang mengalami penderitaan atau masalah hidup akan mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada mereka. Why me? Bagi banyak orang, penyebab masalah mungkin dihubungkan dengan nasib, kehendak Tuhan, hukuman Tuhan, atau kekejian manusia dan upaya iblis. Tetapi, sebagai umat Kristen kita tahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi dan tidak akan mencelakai anak-anak-Nya. Dengan demikian, jika kita merasa tidak bersalah, pertanyaan yang sama tetap tidak terjawab: why me?

Memang dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan dengan itu segala kekejian manusia dan tipu daya iblis bisa mengancam kebahagiaan anak-anak Tuhan setiap saat. Tetapi, bukankah Tuhan yang mahakuasa selalu melindungi umat-Nya? Mengapa Ia membiarkan kita mengalami segala masalah besar yang tidak kita duga? Why me?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa ia dan teman-teman seimannya juga mengalami penderitaan yang sangat besar di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas mereka adalah begitu besar dan berat, sehingga mereka telah putus asa dan bahkan menguatirkan hidup mereka. Saking beratnya masalah yang dihadapi, seolah-olah mereka telah dijatuhi hukuman mati (2 Korintus 1: 8 – 9). Tetapi mereka tidak mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada diri mereka.

Mungkin ada orang yang menerima kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang adil. Raja Salomo pernah berkata bahwa setiap orang mempunyai “nasib” yang berbeda, dan orang-orang yang berjaya belum tentu disebabkan oleh keunggulan mereka. Sebaliknya, orang yang menderita belum tentu karena kesalahan mereka. Dengan demikian, orang agaknya tidak perlu bertanya mengapa mereka harus menderita.

“Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.” Pengkhotbah 9: 11

Walaupun demikian, bagi umat Tuhan tetap ada pertanyaan. Mengapa Tuhan membiarkan adanya ketidakadilan di dunia? Apakah Ia adalah Tuhan yang adil? Pertanyaan ini sering diucapkan mereka yang merasakan perbedaan yang ada di antara umat manusia, terutama jika mereka sendiri merasa sebagai orang yang kurang beruntung. Apalagi jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka yang berhasil dan jaya pastilah orang-orang yang dikasihi Tuhan.

Paulus menjelaskan bahwa hal yang buruk itu terjadi, supaya mereka jangan menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dengan adanya berbagai penderitaan sekalipun mereka tidak berbuat jahat, Paulus dan rekan-rekannya justru bisa menaruh pengharapan bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka seperti apa yang sudah terjadi pada saat-saat yang telah lalu.

Paulus dan rekan-rekannya percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kuasa Tuhan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Mereka adalah murid-murid Kristus yang mengalami penderitaan seperti Kristus. Jadi tidak perlu ada pertanyaan “why me”. Seperti Kristus, mereka sudah mendapat bagian dalam kesengsaraan, dan karena itu, seperti Kristus, mereka juga sudah menerima penghiburan berlimpah-limpah dari Allah Bapa.

Manusia yang tidak mengerti mengapa sesuatu yang kurang baik bisa terjadi pada dirinya, tidak sadar bahwa Tuhan bisa saja membiarkan orang-orang tertentu untuk mengalami penderitaan, atau tidak mengalami penderitaan, agar rencana-Nya bisa tercapai.

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang kita pandang adil belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak untuk melakukan apa saja yang sesuai dengan rencana-Nya, termasuk untuk tidak melakukan apa yang kita harapkan. JIka hidup ini tidak seindah yang kita harapkan, tetapi justru jauh lebih buruk dari apa yang kita duga, mungkin kita mempertanyakan kebijakan Tuhan yang mengizinkan semua itu terjadi. Tetapi, seperti Paulus dan orang-orang percaya yang lain, biarlah kita yakin bahwa segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan. Tuhanlah yang bisa menguatkan kita, dan bahkan memakai hidup kita untuk menguatkan orang lain, sehingga mereka beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti apa yang kita derita.

Tuhan mau agar kita percaya bahwa dalam segala sesuatu, Ialah yang memegang kemudi kehidupan manusia. Adanya penderitaan di dunia seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk menolong atau menyadarkan mereka yang mengalami hidup yang berat karena satu dan lain hal. Sebagai umat-Nya kita harus tetap taat kepada-Nya dalam setiap keadaan dan percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahaadil, mahakasih dan mahabijaksana.

Hari ini kita diingatkan bahwa dalam setiap keadaan kita harus menyadari bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi pada diri setiap orang. Tuhan yang seolah membiarkan ketidakadilan terjadi di dunia, bermaksud agar setiap manusia sadar bahwa mereka bergantung kepada Dia. Ia juga menghendaki bahwa kita tidak kehilangan rasa belas kasihan kepada mereka yang kurang beruntung. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan!

Manusia tidak bisa melawan keputusan Tuhan

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Manusia mana pun pernah mengalami kegagalan. Kegagalan sering terasa sebagai pil pahit yang sulit ditelan; tapi, hal itu sering kali membuat orang semakin gigih berjuang karena adanya harapan bahwa keberhasilan bisa dicapai dengan keuletan. Pada pihak yang lain, kegagalan mungkin membawa pesan bahwa sekalipun ada banyak rancangan manusia, apa yang terjadi pada akhirnya harus sesuai dengan rencana Tuhan.

Bagi umat Kristen, ada kepercayaan bahwa apa yang tercapai adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Kesuksesan adalah tanda kasih-Nya dan mungkin karena adanya iman yang teguh. Tetapi, ini tidak selalu benar. Apa pun yang terjadi di dunia belum tentu membuat Tuhan senang, dan sekalipun itu terjadi belumlah tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, Tuhan terkadang membiarkan apa yang tidak berkenan kepada-Nya terjadi, karena itu tidak mengganggu rencana-Nya. Dalam hal ini, karena pada akhirnya rencana-Nya harus terjadi, hal yang kita pandang sebagai kejahatan, kepahitan dan sejenisnya bisa terjadi kepada siapa dan apa saja dengan seizin-Nya.

Dalam hal hidup manusia, mengapa harus ada kegagalan atau kekecewaan? Apakah Tuhan yang menetapkan semua itu untuk terjadi? Inilah pertanyaan manusia sejak dulu dan sering membuat manusia berusaha untuk mendekati Tuhan, walaupun hal ini juga bisa membuat manusia menjauhi Tuhan. Dalam hal ini, banyak orang yang berpikir bahwa penetapan Tuhan mengandung arti bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu yang terjadi di dunia. Ini adalah pandangan fatalisme yang membuat manusia dan bahkan alam semesta bekerja seperti robot ciptaan Tuhan.

Penetapan Tuhan bukan berarti segalanya ditetapkan atau ditentukan Tuhan. Tetapi itu berarti bahwa semua yang terjadi di dunia akan tunduk atau berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Jika sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, Tuhan tentu saja akan membiarkan itu terjadi. Tetapi, apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya akan diubah, dihentikan atau dimusnahkan-Nya pada saat yang tepat. Bahkan, Tuhan juga bisa mencapai tujuan-Nya sekalipun manusia berusaha melawan kehendak-Nya. Dengan demikian, mereka yang percaya bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah bagian dari hidup di dunia, tetapi yakin bahwa semua itu 100 persen ada dalam rencana Tuhan, akan bisa merasa yakin bahwa pada akhirnya rancangan-Nya pasti terjadi. Jika mereka juga sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, kekuatiran untuk masa depan bisa dihilangkan.

Pada pihak yang lain, mereka yang merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa dirancang dan dilaksanakan untuk mencapai keberhasilan dengan memakai akal budi manusia, akan mendapat kekecewaan yang besar jika menemui kegagalan. Dan lambat laun mereka mungkin saja menjadi pembenci Tuhan atau orang yang menyerah kepada “nasib”. Memang, apa yang dimengerti manusia hanya sebagian kecil dari apa yang diciptakan Tuhan dalam alam semesta. Apa yang diketahui dan dirancang manusia tidak dapat menjamin keberhasilan. Tetapi, mengapa banyak manusia masih saja mengabaikan firman Tuhan yang mahakuasa ketika membuat rancangan hidupnya?

Firman Tuhan di atas mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita tidak dapat memperoleh garansi bahwa rancangan sebaik apa pun akan berhasil. Tuhan yang mahakuasa mempunyai rancangan yang mungkin berbeda dengan rancangan manusia. Dalam segala ketidakpastian yang ada dalam pengetahuan dan kuasa yang dimiliki manusia, Tuhan yang mahakuasa selalu bisa bekerja untuk mewujudkan rencana-Nya.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya? Apakah yang sekarang ada sudah sesuai dengan rencana-Nya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerap kali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Seorang yang mencari pasangan hidup misalnya, mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik; tetapi jika kemudian rumah tangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus selalu berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia 100 persen bertanggung jawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firman-Nya setiap hari.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita sepenuhnya bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Pada pihak yang lain, kita juga percaya bahwa Tuhan sepenuhnya berdaulat atas apa yang kita pilih. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umat-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hari Natal bukanlah hari untuk berpesta pora

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Jika anda berada di Australia, pastilah anda dapat merasakan adanya suasana yang berubah di pusat-pusat pertokoan. Hari Natal yang datangnya masih sebulan lagi, sekarang sudah mulai terasa suasananya. Apalagi, murid kelas tiga SMA minggu ini sudah menamatkan tahun ajaran, dan saat ini adalah kesempatan untuk bergembira. Masa ujian mereka sudah berakhir, dan mereka yang akan melanjutkan studi ke universitas akan berlibur panjang sampai bulan Febuari 2022 sebelum masuk kuliah.

Kalau bisa, setiap orang tentu ingin untuk bisa hidup dalam kegembiraan. Siapakah yang mau menderita? Apalagi dalam merayakan Natal, banyak yang memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun tidak mengerti makna hari istimewa itu. Mereka yang menyadari arti Natal pun kelihatannya memilih untuk merayakan Natal semeriah dan semewah mungkin, sekadar berusaha untuk membuat kenangan yang tidak mudah terlupakan selama mereka masih hidup.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan di sekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan manusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya bisa disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang sekarang ada, sering kali adalah tanda kesombongan manusia.

Kelahiran Yesus Anak Allah, tentunya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, lebih mewah dari perayaan Natal apa pun yang dapat dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus manusia yang berdosa. Sekalipun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilih-Nya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umat-Nya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan nama-Nya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi di dalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan dan kemegahan. Sebaliknya, sebagai anak-anak Tuhan kita sering kali menghadapi tantangan, kesedihan, kekurangan, kesepian dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa ikut merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman itu justru akan membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Bukannya ditundukkan oleh kepedihan dan kekuatiran, mereka yang beriman justru terlihat teguh dan bisa bersyukur dalam segala keadaan. Karena itu, hidup kita bisa membawa orang yang belum percaya untuk menyerahkan hidupnya kepada Yesus.

Hari ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Mungkin kita sudah bisa merasakan adanya karunia iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaan-Nya?

Jangan sampai mata kita menjadi hijau

”Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 8 – 9

Mengapa ada ungkapan “matanya menjadi hijau ketika melihat uang”? Meskipun sebenarnya mata orang yang sehat tidak berubah warna, ungkapan ini sering dipakai untuk menyatakan adanya orang yang rakus akan uang. Entah bagaimana orang yang “cinta uang” bisa digambarkan sebagai orang yang bisa berubah warna matanya. Ada yang menduga bahwa warna hijau berkaitan dengan warna uang dollar Amerika, dan memang banyak orang “mata duitan” yang senang mengumpulkan mata uang ini.

Kebanyakan orang ingin memiliki banyak uang untuk menjadi kaya, karena kekayaan dianggap sebagai penunjang kebahagiaan. Karena itu dari kecil mereka akan berusaha keras untuk mencari kesuksesan dengan segala cara. Bahkan dalam ajaran beberapa pimpinan gereja, jemaat juga dianjurkan untuk mencari kesuksesan yang dianggap sebagai bukti penyertaan Tuhan. Kekayaan dalam Alkitab Perjanjian Lama memang sering dikaitkan dengan anugerah Allah kepada umat-Nya. Tetapi, pemberian Allah yang terbesar dalam Perjanjian Baru sudah terwujud dalam diri Yesus. Karena itu Alkitab Perjanjian Baru lebih menekankan pada kekayaan rohani dan bukannya kekayaan jasmani. Malahan, mencari kekayaan jasmani dikatakan dalam ayat di atas sebagai sesuatu yang bisa membuat kebangkrutan rohani.

Jika kekayaan bisa mendatangkan banyak masalah, itu adalah hal yang mudah dimengerti. Mereka yang ingin kaya sering kali melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi, orang harus menyadari bahwa mereka yang miskin pun bisa terjebak dalam kerakusan. Baik orang kaya atau miskin, keduanya bisa menjadi orang yang warna matanya berubah hijau ketika melihat uang. Pesan rasul Yakobus di bawah ini adalah jelas dan lantang; walaupun demikian, banyak orang Kristen tetap saja mau menjadi hamba uang.

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Yakobus 4: 1-2

Karena adanya akibat yang tidak diinginkan, penulis Amsal dalam ayat di bawah ini tidak mau memilih kekayaan atau kemiskinan, tetapi memilih apa yang ditentukan Tuhan, agar ia tidak terjerumus dalam dosa.

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 8-9

Masalahnya, kita sering tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Seberapa banyak Tuhan sudah menentukan apa yang menjadi bagian kita? Bukankah Dia yang mahakasih dan mahaadil selalu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya? Bukankah Ia mau memberikan apa saja yang baik yang kita minta?

Dalam hidup ini kita bisa melihat bahwa memang baik kekayaan atau kemiskinan bisa membuat orang Kristen untuk menjauhi Tuhan. Satu sebabnya, dan hanya satu: itu karena tidak adanya rasa cukup. Tidak adanya rasa cukup membuat orang menjadi rakus atau merasa sangat lapar. Tidak adanya rasa puas membuat kita mau melakukan apa saja demi kenikmatan. Dengan demikian,kita bisa jatuh ke dalam dosa jika Tuhan tidak memberi kekuatan kepada kita dan kemampuan untuk merasa cukup. Karena itu, biarlah kita belajar untuk berdoa setiap hari agar Tuhan memberi kita makanan yang secukupnya agar kita tetap bisa merasakan penyertaan Tuhan dalam hidup kita.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13

Apakah aku bertanggungjawab atas kesalahan orang lain?

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Yehezkiel 33: 8

Bagi orang Kristen, kisah orang Samaria yang baik hati tentunya sudah cukup familiar. Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang murah hati itu (Lukas 10: 30-37) biasanya ditafsirkan oleh umat Kristen sebagai ajaran untuk mengasihi semua orang, termasuk orang yang mungkin dianggap sebagai “orang luar”.

Apa yang sudah dilakukan orang Samaria dalam perumpamaan itu agaknya di luar dugaan siapa saja. Sebab, orang Samaria adalah orang yang dimusuhi dan dibenci oleh orang Jahudi. Karena itu, si korban (orang Yahudi) dalam kisah tersebut tentunya sama sekali tidak mengharapkan pertolongannya. Namun, dari ketiga orang yang sudah melihatnya, justru orang Samaria itulah yang bersedia menolongnya.

Frase “orang Samaria yang murah hati” kemudian menjadi ungkapan sehari-hari bagi seseorang yang bersedia menolong orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya sekalipun. Sayang sekali, saat ini di banyak negara orang harus mengerti apakah ada hukum (the Good Samaritan law) yang melindunginya dari kemungkinan tuntutan hukum jika ia melakukan kekeliruan dalam usaha menolong orang lain. Memang, jika kita tidak yakin bisa menolong, maksud baik kita justru bisa membawa akibat yang buruk bagi orang lain. Sebaliknya, tidak ada hukum yang mengharuskan orang untuk berusaha menolong orang lain yang mengalami kecelakaan.

Kisah ini sebetulnya cukup dramatis. Bagi orang Samaria itu, orang yang ditolongnya bukan saja berasal dari kaum yang berbeda, tetapi dari kelompok yang selama ini menghina, membenci dan mengasingkan kaumnya. Sebagai seorang Kristen, di mana mengasihi sesama manusia adalah sebuah perintah Yesus yang wajib untuk dilaksanakan, kita wajib belajar dari kisah ini. Selagi seseorang masih disebut sebagai “seorang manusia” maka kita wajib mengasihinya. Kasih yang dimaksud juga harus lintas suku, agama, negara dan ras. Bahkan, kita wajib mengasihi orang yang membenci, mencaci maki, atau bahkan mengasingkan kita, yang bisa disebut sebagai orang jahat, musuh kita.

Adakah untungnya bagi orang yang bermaksud baik untuk memberi nasihat bagi orang lain jika ada kemungkinan bahwa nasihat itu akan ditolak mentah-mentah dan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengadakan permusuhan? Ini adalah pertanyaan yang mungkin muncul dalam setiap orang dari kecil. Memang, orang sering mempunyai keinginan untuk menolong orang lain, setidaknya untuk memberi nasihat.  Tetapi, dari kecil mungkin kita sudah belajar untuk mengabaikan adanya hal-hal yang kurang baik dalam masyarakat. Mungkin dari orang tua atau teman, kita belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Itu adalah demi keselamatan atau kenyamanan kita sendiri.

Jika seseorang berusaha menasihati orang lain, ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Ada orang yang hanya ingin menunjukkan kemampuan dan kehebatannya. Ada juga orang yang cenderung ingin mempersalahkan, menghakimi atau merendahkan orang lain. Tetapi, ada juga orang yang benar-benar ingin agar orang lain sadar akan adanya hal yang tidak benar. Dalam semua itu, orang yang dinasihati bisa saja merasa bahwa dirinya dipermalukan atau diserang sehingga ia menjadi defensif, ingin membela diri.

Bagaimana sebenarnya panggilan orang Kristen dalam menghadapi situasi di sekelilingnya? Bolehkah orang Kristen untuk berdiam diri melihat sesama kita yang melakukan hal yang jahat dalam pandangan Allah? Ayat di atas adalah pernyataan Tuhan yang khusus kepada Yehezkiel, tetapi bisa diterapkan prinsipnya untuk semua orang Kristen yang hidup di mana pun. Prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita ikut bertanggung-jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain, yang bisa kita lihat sendiri.

Jika kita tahu bahwa orang lain melakukan kesalahan dan kita hanya berdiam diri, kita sudah ikut bersalah di hadapan mata Tuhan. Setiap orang Kristen dipanggil untuk ikut berpartisipasi dalam menegakkan kebenaran, bukan saja dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan gereja, tetapi juga dalam hidup bernegara. Semua itu tentunya harus dilakukan dengan kasih dan untuk kemuliaan Tuhan. Semoga Tuhan menguatkan umat-Nya. Kita bisa melihat dari contoh Yesus yang selama hidup di dunia tidak ragu-ragu menegur orang lain, sekalipun itu menyebabkan kemarahan mereka. Itu karena Ia tahu bahwa All;ah mengasihi semua orang. Dengan demikian, panggilan kita untuk hari ini tetaplah sama, yaitu agar kita berani menyatakan apa yang benar dan yang tidak benar menurut apa yang difirmankan Tuhan agar banyak orang yang bisa bertobat dari cara hidup mereka.