Mandat dari Tuhan untuk memilih apa yang baik

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2:15-17 TB

Lagu anak-anak dari Jawa Tengah, ”Dhondhong apa salak”, mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan anak-anak karena di dalam lagu dolanan tersebut terdapat nilai-nilai dan simbol-simbol kehidupan yang dapat dijadikan tuntunan. Tidaklah mengherankan bahwa syair lagu ini sudah pernah diselidiki dan diterbitkan dalam beberapa makalah pendidikan sekolah dasar. Syair lagu itu berbunyi seperti berikut:

Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Ngandhong apa mbecak, m’laku timik-timik
Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Ngandhong apa mbecak, m’laku timik-timik
Atik ndherek Ibu tindak menyang pasar
Ora pareng rewel ora pareng nakal
Ibu mengko mesthi mundhut oleh-oleh
Kacang karo roti Atik dhiparingi
Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik
Gendhong apa pundhak aja ngithik-ithik

Bagi anda yang tidak pernah belajar atau memakai bahasa Jawa, tentu syair di atas kurang dapat di mengerti. Tetapi, secara ringkas syair itu menampilkan berbagai opsi yang harus dipilih seorang anak:

  • Boleh memilih makan buah kedondong, salak atau duku. Buah duku adalah kecil dibandingkan dengan buah yang lain.
  • Boleh memilih naik andong, becak atau berjalan kaki. Berjalan kaki adalah lambat dibandingkan dengan naik andong atau becak.
  • Boleh memilih digendong di pinggang atau duduk di pundak, asal tidak tidak menggelitik si penggendong.
  • Pilihan antara menurut nasihat ibu atau mengabaikannya sewaktu ibu ke pasar. Jika tidak nakal ibu akan memberi oleh-oleh.

Memilih adalah mandat dan kemampuan manusia. Dari mulanya, Adam dan Hawa mendapat mandat untuk memelihara taman Eden dan kebebasan untuk makan buah apa saja kecuali satu, yaitu “buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Lagu “Dhondhong apa salak”” memberi pesan bahwa kita harus mau memilih, dan memilih apa yang baik. Memang kebebasan tanpa batas sering kali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak-anak, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kegembiraan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Roma 6: 1

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karuniaNya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata.

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” Filipi 1: 9-10

Hal penampilan untuk ke gereja

Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”1 Samuel 16: 7

Bagi oramg Kristen, pergi ke gereja adalah untuk berbakti kepada Tuhan secara bersama. Kebaktian gereja pada umumnya diisi dengan puji-pujian, persembahan dan doa kepada Tuhan serta mendengarkan firman-Nya. Dengan demikian, orang Kristen percaya bahwa Tuhan sendiri hadir di tengah perhimpunan mereka. Seperti Bait Allah orang Yahudi pada zaman Perjanjian Lama, gedung gereja di zaman ini juga dikenal sebagai Rumah Tuhan. Walaupun demikian, beda yang jelas antara Bait Allah dan Rumah Tuhan adalah adanya ruang kudus dan mahakudus di Bait Allah, ruang mana tidak dijumpai di Rumah Tuhan atau gedung gereja di zaman ini. Jika dulu hanya para imam yang dapat memasuki ruang kudus dan hanya imam besar yang boleh memasuki ruang mahakudus, sekarang kita bebas untuk menjumpai Tuhan di gereja secara langsung.

Kematian Yesus di kayu salib membuka kesempatan bagi setiap orang percaya untuk bisa bebas berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan kapan saja dan di mana saja. Lebih dari itu, karena Roh Kudus yang diam dalam hati kita, tubuh kita adalah rumah Tuhan juga (1 Korintus 3: 16). Walaupun demikian, gedung gereja adalah tempat yang dipakai umat Kristen untuk bersama-sama berbakti kepada-Nya. Kebaktian gereja dengan demikian bukanlah sekedar pertemuan sosial antar umat Kristen. Oleh karena itu, sering dipertanyakan bagaimana orang Kristen seharusnya berpakaian untuk ke gereja untuk menemui Tuhan, Raja segala raja. Kelihatannya hal penampilan bukanlah soal besar, tetapi ini sering menimbulkan kebingungan dan perdebatan di antara orang Kristen.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Tuhan tidaklah seperti manusia yang melihat apa yang di depan mata, karena Tuhan melihat apa yang ada dalam hati kita. Berdasarkan ayat ini, banyak orang Kristen yang pergi ke gereja dengan memakai pakaian seadanya, yang mungkin tidak bisa atau kurang pantas untuk dipakai untuk ke sekolah, ke kantor, apalagi untuk menjumpai pimpinan negara. Mereka berpendapat bahwa kesetiaan seorang pengikut Allah tidak diukur dengan pakaian apa yang terlihat dari luar, tetapi dengan apa yang ada dalam hati dan hidup mereka.

Alkitab tidak memuat perintah yang mengatur jenis pakaian yang harus dikenakan untuk pergi ke gereja. Apa yang disampaikan Alkitab adalah perlunya kesopanan serta pernyataan perbedaan gender. Paulus pernah berbicara kepada wanita Kristen pada zamannya tentang pakaian dan menyatakan bahwa ia ingin mereka menunjukkan pakaian yang sopan dan sepantasnya, bukan dengan rambut dikepang atau emas atau mutiara atau pakaian mahal, tetapi dengan memperlihatkan perbuatan baik, seperti yang diharapkan dari orang yang mengaku menyembah Tuhan (1 Timotius 2: 9–10). Baik wanita maupun pria yang menyembah Tuhan harus berpakaian pantas, dan pilihan pakaian mereka harus mencerminkan kerendahan hati dan bukannya kesombongan; ketertiban dan bukannya kecerobohan; sopan dan bukannya tidak senonoh; sepantasnya dan bukannya berlebihan.

Secara alkitabiah, setiap orang harus mengenakan pakaian yang menunjukkan perasaan hatinya. Dalam hal ini, kita perlu mengingat bahwa jika kita ke gereja, kita ingin menyampaikan berbagai permohonan dengan bersyukur kepada Dia yang mahakuasa dan mahakasih (Filipi 4: 6). Dalam hal ini, kita perlu berhati-hati. Mereka yang hidup dalam kelimpahan mungkin saja terjebak dalam rasa sombong dan karena itu memakai segala pakaian, perhiasan dan kendaraan yang serba mewah. Mungkin mereka berpikir bahwa untuk menemui Tuhan mereka harus tampil dalam keadaan yang terbaik. Selain itu, mereka mungkin berharap akan mendapat perhatian khusus dari orang lain, tanpa menyadari bahwa hal ini bisa membuat orang lain merasa canggung atau tersudut.

Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: ”Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: ”Berdirilah di sana!” atau: ”Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!” Yakobus 2: 2-3

Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan melihat apa yang ada dalam hati umat-Nya. Bukan penampilan jasmani yang utama, tetapi apa yang benar-benar ada dalam hati umat-Nya, yaitu rasa hormat dan syukur kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Dengan demikian, penampilan kita secara jasmani bukannya tidak perlu, tetapi haruslah mencerminkan apa yang ada dalam hati kita. Penampilan bukan untuk meninggikan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Penampilan bukannya mengabaikan apa yang baik dan pantas menurut kemampuan kita, karena dari apa yang terlihat orang lain bisa membuat mereka sadar akan kemurahan dan perlindungan Tuhan kepada umat-Nya.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Berjalanlah dalam terang

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Mulai hari ini penduduk kota Sydney dan negara bagian New South Wales memperoleh “kemerdekaan” mereka kembali. Setelah berbulan-bulan mengalami lockdown, aktivitas bisnis dan sosial bisa dimulai lagi karena jumlah penduduk yang sudah dua kali divaksinasi telah mencapai 80%. Walaupun demikian, kebebasan yang mereka peroleh bukanlah tanpa batasan karena ada aturan-aturan tertentu yang masih harus ditaati. Restoran, salon kecantikan dan berbagai usaha bisnis yang biasa didatangi banyak orang harus menerapkan prokes yang antara lain membutuhkan bukti vaksinasi dari para pengunjungnya. Pemerintah memang sudah membuat berbagai peraturan dan petunjuk yang bisa dipakai sebagai rambu-rambu pelaksanaan prokes untuk kehidupan “new normal” ini. Dalam hal ini, ada kekuatiran bahwa tidak semua usaha bisnis akan mampu untuk menerapkan prokes ini dan tidak semua pengunjung mau menaatinya.

Dalam kehidupan manusia memang ada berbagai rambu-rambu yang dimaksudkan untuk membimbing mereka agar menjalani hidup dengan baik. Rambu-rambu sosial, budaya, agama, hukum dan sebagainya memberikan pedoman dan peringatan yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat. Walaupun orang mengerti tujuan pemakaian rambu-rambu itu, tidak semua orang mengacuhkannya. Mengapa begitu? Mungkin banyak orang yang berpikir:

  • Itu untuk orang lain
  • Saya tahu apa yang lebih baik
  • Itu sudah tidak berlaku lagi
  • Terlalu sulit dilakukan
  • Tidak ada gunanya
  • Tidak ada waktu

Jika semua orang tahu bahwa semua peraturan kesehatan umum ditentukan oleh pemerintah, banyak yang berpendapat bahwa pemerintah tidak boleh memaksakan peraturan kepada semua orang. Mereka yang merasa bahwa kemerdekaan mereka sudah dibatasi, sering kali melakukan tindakan-tindakan sebagai tanda protes. Dalam hal ini, sebagian orang Kristen tidak mau menerima petunjuk Yesus mengenai kewajiban mereka kepada pemerintah:

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Walaupun orang Kristen tahu akan akibat dosa adalah kematian, mereka juga percaya bahwa karena kasih Allah, Yesus sudah mati untuk umat-Nya. Karena itu, sebagian orang Kristen mungkin merasa tidak perlu lagi untuk memedulikan apa yang diperintahkan oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis oleh rakyat. Hidup untuk sebagian orang Kristen mungkin ingin dirasakan sebagai kebebasan karena keyakinan bahwa Tuhan yang mahakasih sudah mengampuni mereka. Walaupun ketaatan adalah bukti keselamatan, karena kasih kepada Tuhan menuntut kita untuk menaati firman-Nya, itu tidak berarti orang Kristen tidak akan bergumul dengan ketaatan.

Dalam hal ini, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa sikap hidup sedemikian adalah keliru.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6: 1

Untuk orang Kristen, firman Tuhan adalah seperti rambu-rambu yang membimbing perjalanan dan lampu yang menerangi jalan hidup mereka di dunia. Tanpa itu hidup manusia akan melenceng dari jalan yang benar dan kejatuhan ke dalam dosa tidaklah dapat dihindari.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan adalah seharusnya kita lebih berhati-hati dengan hidup kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus dan tidak mengabaikan firman Tuhan sebagai rambu-rambu dan lampu kehidupan yang tidak pernah berubah, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar dan hidup dalam kasih pemeliharaan-Nya.

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” Yesaya 40: 8

Cungkillah matamu agar engkau selamat

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5: 29

Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang di mana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanian pun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat dalam Keluaran 34: 14-15 menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umat-Nya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 14-15

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasamani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang, raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apa pun yang membuat kita mengagumi orang yang bukan pasangan kita, bisa menjadi perzinaan. Curahan hati kepada seorang teman, baik itu pria atau wanita, baik teman nyata maupun teman maya, bisa juga menjadi perzinaan.

Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firman-Nya.

Hari ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaan-Nya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosanya dan benar-benar mau bertobat – mencungkil dan membuang apa yang dulunya menjadi bagian dari hidupnya.

Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Kisah Para Rasul 3:19

Pikirkan dan lakukan apa yang benar

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari ini ada kabar bahwa sebuah perusahaan raksasa yang berkecimpung dalam pelayanan TV berbayar di Australia telah meluncurkan penyelidikan ke salah satu salurannya yang dituduh menyiarkan disinformasi COVID-19. Saluran ini menyiarkan teori anti-vaksinasi dan konspirasi COVID-19 dan karena itu konten penyajian saluran ini sekarang dipelajari setelah adanya keluhan dari pemirsa.

Siapakah yang memiliki saluran TV ini? Anda mungkin tidak menyangka bahwa saluran ini dikelola oleh pasangan TV evangelis Amerika dan ada di Australia sejak tahun 2015 dan kini memiliki sekitar 1,7 juta pelanggan. Sejak pandemi dimulai, saluran ini telah menjadi tuan rumah wawancara dengan para dokter yang kontroversial dan para pendukung anti-vaksinasi. Beberapa tamu telah mempromosikan teori konspirasi vaksin dan cara perawatan yang belum terbukti untuk COVID-19.

Bagi kebanyakan orang yang memahami dasar-dasar ilmu kesehatan, siaran TV bernada sumbang ini bukanlah sesuatu yang menimbulkan masalah, walaupun bisa menimbulkan rasa jengkel. Walaupun demikian, ada banyak orang yang mudah terpengaruh dan yang meneruskannya ke orang lain. Siaran TV semacam itu jelas mengeksploitir mereka yang selama ini kurang bisa mendapat informasi yang benar dan yang percaya bahwa semua orang Kristen tentunya bermaksud baik. Mereka tidak bisa membedakan fakta (fact) dari apa yang palsu (fake).

Sebenarnya, ada banyak berita palsu yang beredar di berbagai media. Melalui Whatsapp (WA) misalnya, kabar bohong sering muncul, terutama di antara anggota chat group. Begitu mudahnya bagi seseorang untuk mem- forward – kan pesan dari seseorang kepada banyak orang melalui WA, sehingga membuat banyak orang dengan sengaja menulis dan meneruskan omong kosong, surat berantai dan hoax. Siapa tahu kalau apa yang dikirimkan bisa berguna, begitu dalih mereka. Mungkin mereka tidak sadar bahwa iblis, yang melakukan hal yang serupa kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus, tentunya sangat menyukai kecanggihan teknologi zaman sekarang yang membawa kemudahan untuk meyebarkan tipu muslihatnya agar menimbulkan kekacauan di dunia.

Bahwa iblis adalah biang kekacauan dan penipu yang unggul sudah ditulis dalam Alkitab.

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang.” 2 Korintus 11: 14

Apa yang ditawarkan dan diperlihatkan dalam sosial media pada zaman sekarang ini sering kali adalah usaha iblis untuk memperlemah iman orang percaya, dan untuk mengalihkan perhatian kita dari apa yang benar. Lebih dari itu, kerusuhan dan kekacauan bisa muncul sebagai tindakan anarki yang menggoyahkan pemerintah setempat. Dalam hal ini, Paulus pernah menulis kepada jemaat di Korintus:

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Hari ini, ayat pembukaan di atas mencoba mengingatkan kita untuk bisa lebih berhati-hati dalam mengirimkan dan meneruskan berita-berita yang kosong, konyol, palsu, menakutkan dan menyesatkan. Kita harus memusatkan pikiran kita pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Dengan demikian, hidup kita dan hidup orang di sekitar kita akan terhindar dari kebingungan dan kekacauan.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Manusia bisa menjadi hewan

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49: 20

Bacaan: Mazmur 49

Mungkin kita pernah membaca pernyataan filsuf Aristoteles bahwa manusia pada hakikatnya adalah hewan yang rasional. Benarkah begitu? Memang adalah umum untuk merujuk pada kecerdasan manusia sebagai faktor pembeda dengan hewan. Bahkan istilah hewan rasional digunakan dengan konotasi superioritas. Namun, definisi semacam ini sering kali memiliki nuansa menarik yang harus dipahami.

Manusia sering dikategorikan sebagai makhluk hidup dalam kerajaan hewan. Ini karena manusia memiliki karakteristik dan fungsi yang dipunyai hewan. Di sisi lain, banyak orang yang menekankan bahwa manusia berbeda dengan hewan karena mempunyai kecerdasan dan kemampuan untuk memilih alasan untuk berbuat sesuatu. Dua hal ini membedakan kita dari binatang yang lebih bergantung pada naluri dan kebiasaan. Studi seputar pemikiran dan perilaku sehari-hari manusia menunjukkan bahwa sebutan hewan rasional untuk manusia tidak bisa dianggap benar secara mutlak.

Di sekitar kediaman saya, dapat dijumpai beberapa padang rumput tempat pemeliharaan sapi, dan yang terdekat hanya berada dalam jarak beberapa ratus meter saja dari rumah. Karena itu, sewaktu saya berjalan-jalan sering kali saya menjumpai beberapa sapi yang sedang merumput dan ada juga yang berdiri diam sambil menonton saya berjalan. Mata mereka terlihat kosong. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terkadang saya berpikir alangkah membosankan jika manusia hidup seperti sapi itu. Seekor sapi mungkin tidak pernah merasa jemu untuk hidup seperti itu. Selama rumput hijau ada, seekor sapi tentunya merasa puas sekalipun esok hari ia akan dikirim ke rumah pemotongan. Sapi tidak mempunyai pengertian akan apa arti hidup dan rencana masa depan. Apakah mungkin manusia mengalami hal yang sama?

Bagi umat Kristen, manusia jelas berbeda dengan sapi atau hewan lainnya karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan diberikan mandat untuk menguasai segala jenis hewan (Kejadian 1: 27-28). Manusia mempunyai tubuh dan roh yang memberinya kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya mencakup kebutuhan jasmani, tetapi juga kebutuhan rohani. Sayang sekali bahwa kemampuan manusia itu justru membawa kehancuran karena Adam dan Hawa menggunakannya untuk maksud yang salah. Karena itulah seluruh umat manusia mempunyai dosa sejak dilahirkan, dan dosa manusia tentunya makin lama makin bertambah besar selama hidup di dunia. Dalam hal ini, dosa sekecil apa pun akan membawa kematian kekal jika Yesus tidak datang ke dunia untuk menebus umat-Nya.

Jika sapi adalah hewan yang sederhana cara berpikirnya, menurut pemazmur sebagian manusia juga bisa hidup seperti itu. Mereka yang merasa sudah mencapai apa yang bisa dinikmati atau dibanggakannya, cenderung untuk hidup dalam kesempitan pikirannya. Apakah yang mereka pikirkan dalam hidup? Bagi orang seperti itu, hidup adalah kesempatan untuk menikmati kenyamanan, kekayaan, kuasa, kejayaan, kebebasan dan semacamnya. Di antara orang Kristen pun, hanya sebagian kecil yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengamalkan perintah Tuhan; sebagian besar justru lebih menyukai apa yang terlihat lebih mudah dijalani dan dinikmati sekalipun itu tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Dengan meredanya kasus Covid-19 di beberapa negara, kehidupan manusia mulai terlihat normal. Apa yang terjadi pada saat yang baru lalu pelan-pelan terlupakan. Mereka yang masih muda sekarang bisa mengejar kesempatan yang ada, dan mereka yang tua bisa kembali menikmati apa yang sudah dicapainya. Selama apa yang diinginkan bisa diperoleh, hidup mereka adalah kebahagiaan yang bisa dinikmati. Manusia yang sedemikian tidak mempunyai pengertian bahwa semua itu adalah kebahagiaan yang sementara, barangkali seperti rumput hijau dalam pandangan seekor sapi. Seperti seekor hewan yang akan dibinasakan, mereka tidak sadar bahwa hidup dan kebahagiaan mereka adalah singkat saja.

Pemazmur menyatakan bahwa sebagai orang beriman kita tidak perlu merasa iri bahwa ada orang-orang yang nampaknya hidup dalam kegemilangan, sebab pada suatu saat mereka akan mati dan semua yang ada tidak akan bisa dibawa mereka (ayat 17). Sekalipun ada orang yang menganggap dirinya berbahagia, dan sekalipun orang lain menyanjungnya, orang itu tidak akan mengalami hal itu untuk selamanya (ayat 18-19). Lebih-lebih lagi, bagaimanapun besarnya kekayaan seseorang, ia tidak akan bisa memberikan tebusan kepada Allah yang mahasuci sebagai ganti nyawanya (ayat 7).

Mereka yang mempunyai pengertian akan apa arti hidup ini dan yang taat kepada Allah tahu bahwa Allah akan membebaskan nyawanya dari cengkeraman dunia orang mati sebab Ia akan menarik mereka kearah keselamatan (ayat 15). Bahkan sesungguhnya, semua itu sudah terjadi pada setiap orang percaya karena Kristus sudah menang atas maut dengan kebangkitan-Nya. Dengan demikian, bagi mereka yang mempunyai pengertian yang benar, hidup adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengikuti firman-Nya. Bagi mereka, pandangan mata mereka tidaklah hampa seperti hewan, tetapi akan selalu tertuju ke surga di mana tempat sudah disediakan bagi mereka. Hidup manusia yang tidak mempunyai pengertian boleh terasa kosong, tetapi mereka yang percaya kepada Kristus, hidup selalu diisi dengan ketaatan kepada Tuhan dan sukacita yang abadi dan kekal.

Dari mana datangnya iman?

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Begitu bunyi sebuah pantun lama yang sangat dikenal masyarakat sejak dulu. Agaknya itu ada benarnya jika seorang pemuda merasa tertarik ketika melihat seorang pemudi, dan perasaan itu berkembang menjadi rasa cinta. Serupa dengan itu seorang pemudi yang melihat seorang pemuda bisa juga mengalami apa yang dikenal sebagai “cinta pada pandangan pertama”. Memang sebagian orang yakin akan kebenaran pantun itu, setidaknya dalam sebuah film drama.

Jika rasa cinta mungkin dengan mudahnya datang setelah kita berjumpa dengan seseorang yang dirasakan “cocok”, bagaimana pula dengan iman? Iman mungkin dapat diartikan sebagai rasa cinta kita kepada Tuhan yang datang setelah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Tidaklah mengherankan jika ada orang-orang yang yakin bahwa iman mereka muncul karena mendengarkan khotbah tertentu, pergi ke gereja tertentu, memperoleh berkat tertentu, atau mendapatkan pengalaman tertentu. Mereka mungkin merasa “cocok” dengan Tuhan karena apa yang dialami.

Bagi mereka yang kurang paham, memang hal percaya kepada Tuhan kelihatannya mudah dilakukan oleh umat Kristen. Untuk bisa digolongkan sebagai orang beriman, sebagian orang mungkin mengira bahwa mereka cukup mengakui bahwa Tuhan itu ada, dan mengakui di depan orang lain bahwa Ia adalahTuhan yang mahakasih dan mahakuasa. Walaupun demikian, orang lain mungkin berpandangan bahwa untuk bisa dikenal Tuhan sebagai umat-Nya mereka harus bisa berbuat berbagai amal kebaikan . Benarkah begitu? Tentu tidak!

Iman bukanlah usaha manusia, tetapi adalah pemberian Tuhan. Iman adalah salah satu pernyataan kasih Tuhan yang tidak mudah dimengerti. Mengapa Tuhan yang mahabesar mau memberikan iman kepada manusia yang berdosa? Karena kasih-Nya kepada manusia, Tuhan ingin agar manusia bisa mengerti arti pengurbanan Kristus sehingga manusia mau menerima Yesus sebagai juruselamat mereka. Tuhan mengaruniakan iman yang membawa keselamatan menurut kehendak-Nya supaya tidak ada orang yang bisa menyombongkan diri atas iman yang dimilikinya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun setiap orang yang sudah menerima Yesus tentunya diselamatkan karena adanya iman, Tuhanlah yang menentukan seberapa besar iman yang ada. Iman yang besar memang membawa keuntungan dalam menghadapi tantangan kehidupan, tetapi setiap orang harus bersyukur atas iman yang dimilikinya dan memakainya dalam hidup sehari-hari.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Dengan demikian, kekaguman kita kepada orang Kristen yang terlihat baik hidup dan tingkah lakunya adalah keliru, sebab kita sebenarnya harus kagum dan bersyukur atas besarnya kasih anugerah Tuhan yang menyempurnakan iman orang itu.

Dari ayat pembukaan di atas, kita harus menyadari bahwa karena iman yang membawa keselamatan itu datang dari Tuhan, kita harus senantiasa bersyukur kepada-Nya dalam setiap keadaan. Kita yang beriman seharusnya memakai dan memeliharanya agar iman itu tetap hidup dan makin lama makin bertumbuh dalam kasih Tuhan, dan itu akan terlihat dari apa yang kita lakukan untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada Dia.

Iman yang tidak selalu disertai kehidupan yang penuh rasa syukur kepada Tuhan, dan iman yang tidak memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan, adalah iman yang lambat laun akan menjadi mati. Sebaliknya, iman yang disertai dengan kepercayaan penuh bahwa anugerah Tuhan adalah cukup untuk kita, akan bertumbuh dan menjadi makin sempurna dalam Tuhan. Biarlah kita mau menyatakan iman kita dalam segala segi kehidupan kita sehingga kemenangan Kristus atas maut dapat lebih makin terasa dalam hidup ini!

“Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu.” 2 Tesalonika 1: 3

Masih ada yang bisa dilakukan

“Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 23 – 24

Mungkin tidak banyak yang ingat bahwa lagu asli Que Sera Sera yang masih dikenal orang hingga saat ini dinyanyikan oleh Doris Mary Ann Kappelhoff aka Doris Day di tahun 1956 yang muncul dalam film The Man Who Knew Too Much. Dalam lagu itu, seorang anak bertanya kepada ibunya apa yang akan terjadi dalam hidupnya di masa depan. Sang ibu kemudian menjawab bahwa baik dirinya maupun sang anak tak bisa meramal masa depan. Que Sera Sera (Whatever Will Be, Will Be) berarti “apa pun yang akan terjadi, terjadilah”. Ini tentu ada benarnya karena apa yang akan terjadi di alam semesta hanya Tuhan yang tahu. Walaupun demikian, setiap manusia tentunya bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai pilihan dalam hidupnya.

Selama hidup, manusia harus memilih sekolah, pendidikan, karir, pasangan hidup dan sebagainya. Semua itu adalah bagian dari mandat budaya yang diberikan Tuhan (Kejadian 1: 28). Dalam hal ini, jika jumlah pilihan itu ada banyak, tentu sulit bagi kita untuk memilih apa yang terbaik. Bagaimana pula jika pilihan itu hanya dua? Barangkali anda mengira bahwa karena hanya ada dua opsi, lebih mudah untuk memilih yang terbaik.

Paulus dalam ayat di atas menghadapi dua pilihan. Bukan dua benda yang terbungkus, yang tidak diketahui jenisnya. Paulus bisa melihat dua pilihan yang jelas berbeda: meninggalkan dunia untuk menjumpai Kristus, atau tetap tinggal di dunia. Mana yang lebih enak untuknya? Sudah tentu tinggal di surga lebih enak; itu jugalah yang diyakini banyak orang, Kristen dan non-Kristen.

Sekalipun kebanyakan orang Kristen tentunya sadar akan enaknya hidup di surga, mungkin mereka tidak begitu antusias untuk memilihnya selagi mereka masih sehat atau berkecukupan di dunia. Mereka lebih senang menikmati pilihan yang kedua, apalagi kalau ada kemampuan dan kenyamanan yang tersedia di depan mata. Mumpung masih bisa! Barangkali, hanya jika ada persoalan hidup yang sangat besar, manusia mulai memikirkan pilihan yang pertama, tetapi itu mungkin saja karena terpaksa.

Dalam membaca ayat di atas kita harus sadar bahwa hidup Rasul Paulus bukannya mudah. Ia hidup dalam perjuangan: mengalami ancaman, kelaparan, sakit dan sebagainya (2 Korintus 11: 23 – 28). Ia tahu bahwa di surga, hal-hal itu tidak akan dijumpainya. Tetapi ia sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi. Tuhanlah yang menentukan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Jika Tuhan masih menghendaki dia untuk tinggal di dunia, Paulus percaya bahwa dia harus memilih untuk hidup dan bekerja untuk Tuhan dan sesama.

Hari ini, kita diingatkan bahwa pada saat ini kita masih hidup di dunia. Kita tidak tahu akan terjadi di tahun-tahun mendatang, tetapi kita tahu apa yang bisa dan harus kita pilih sekarang. Jika hidup kita saat ini nyaman, janganlah kita berpikir bahwa ini adalah apa yang terbaik yang pernah kita punyai, dan karena itu kita hanya hidup untuk menikmatinya. Sebaliknya, jika kita hidup dalam perjuangan dan penderitaan saat ini, janganlah kita mengutuki hidup yang terasa pahit dalam mulut kita. Hidup kita selama di dunia ini haruslah dipakai untuk membawa kemuliaan kepada Tuhan selagi kita masih bisa!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Filipi 1: 21 – 22

Mandat budaya orang Kristen

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Dalam pengajaran Kristen, kita memercayai bahwa Tuhan memberikan dua mandat kepada umat manusia. Yang pertama adalah Mandat Budaya (Kejadian 1: 28) dan yang kedua adalah Mandat Penginjilan (Matius 28: 19-20). Dalam bahasa yang sederhana Mandat Budaya berarti upaya mengintegrasikan iman Kristen dalam setiap aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, dan sebagainya. Sedang Mandat Penginjilan berarti orang-orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil Kristus di tengah dunia yang berdosa.

Hal mendidik bukanlah soal mudah. Sejak dulu orang tua, guru dan majikan selalu harus berusaha keras untuk membimbing anak, murid dan bawahan, agar mereka menjadi orang-orang yang berguna. Jika pada zaman yang telah silam orang seakan menggunakan teknik atau cara yang sederhana untuk mendidik kaum muda, di zaman sekarang berbagai teori muncul untuk memberikan cara pendidikan yang terbaik. Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hal mendidik bukannya semakin mudah dilaksanakan.

Di Australia, pendidikan agama Kristen di sekolah negeri adalah sangat minim. Satu atau dua jam dalam seminggu, mereka yang mendapat persetujuan orangtua bisa duduk di kelas Special Religious Education yang dipimpin oleh tenaga pendidik sukarela dari gereja setempat. Mereka yang tidak ingin mengikuti pendidikan agama yang khusus ini, bisa juga mengikuti pendidikan agama secara umum yang membahas berbagai agama yang ada di dunia.

Alkitab menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dari masa kecil untuk memberi hasil yang maksimal. Penundaan pendidikan tidak hanya memberi kesempatan pada kebiasaan buruk untuk muncul, tetapi juga membuat orang lebih sulit untuk menerima ajaran baru dengan meningkatnya usia.

“Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.” Amsal 29: 21

Tuhan yang sudah mengasihi kita, ingin agar kita membagikan kasih-Nya kepada mereka yang kita didik. Sebagaimana Yesus sudah menebus dosa kita dalam kasih-Nya, kita mendidik orang-orang di sekitar kita dengan kasih dan kesabaran, agar mereka bisa melihat bahwa sebagaimana Tuhan menjaga dan melindungi kita, begitu juga Tuhan yang mahakuasa mau menjaga mereka jika mereka mau menjadi domba-Nya.

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17 – 18

Tuhan yang di surga, tentunya mengerti sepenuhnya bagaimana sifat dan kemampuan manusia. Dalam ayat di atas, pemazmur menulis bahwa Tuhan sudah mengajar dia sejak kecil untuk memberitakan kebesaran-Nya; dan karena itu, sampai masa tua pun dia ingin agar Tuhan tetap menyertainya agar ia dapat mendidik kaum muda. Mendidik adalah membagikan apa yang kita ketahui kepada orang lain, sehingga mereka pun menjadi orang yang berpengetahuan dalam hal yang baik.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, Tuhan sudah mengaruniai kita dengan berbagai pengetahuan tentang Tuhan yang kita sembah. Bukan saja kita sadar bahwa Tuhan itu mahakuasa, kita juga mengerti bahwa Dia adalah mahatahu dan mahakasih. Tuhanlah yang sudah membimbing dan melindungi kita sejak kecil, dan dengan demikian apa yang kita sampaikan kepada orang lain adalah kesaksian hidup kita yang menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Dalam hal ini, mandat budaya tidak selalu harus dilaksanakan dalam sebuah sekolah. Dalam hidup sehari-hari kita bisa menceritakan apa yang kita yakini dan alami kepada orang lain, dan menjalankan apa yang kita ajarkan secara benar dalam masyarakat sehingga kita bukan hanya menjadi pembawa Firman, tetapi juga pelaku Firman. Talk the walk, walk the talk. Maukah kita melaksanakan mandat ini selama kita hidup?

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8