Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan

”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Matius 5: 17

Manakah yang lebih anda sukai, Alkitab Perjanjian Lama atau Alkitab Perjanjian Baru? Mungkin anda merasa bahwa pertanyaan ini aneh. Sebagai orang Kristen kita tentunya percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan karena itu kedua bagian Alkitab itu penting untuk kita pelajari dan mengerti. Walaupun demikian, isi dan misi kedua bagian Alkitab itu adalah berbeda dan dengan demikian Perjanjian Baru mungkin lebih cocok bagi mereka yang bukan orang Yahudi dan yang mengenal doktrin Tritunggal.

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”) menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi yang sehakikat (konsubstansial) – Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus – sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. Ketiga pribadi ini berbeda, tetapi merupakan satu “substansi, esensi, atau kodrat”. Dalam konteks ini, “kodrat” adalah apa Dia, sedangkan “pribadi” adalah siapa Dia.

Tidak semua orang Kristen mau menerima doktrin Allah Tritunggal. Beberapa aliran gereja memandang istilah itu tidak alkitabiah karena tidak disebutkan dalam Alkitab. Dalam kebanyakan kasus, aliran-aliran itu mengangkat Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab) sebagai ajaran dasar gereja. Ini menyebabkan Perjanjian Baru dianggap sebagai bagian sekunder dari Alkitab dan hanya untuk dipahami dalam terang Perjanjian Lama. Selain itu, adanya anggapan bahwa Perjanjian Baru tidak selengkap atau seakurat Perjanjian Lama telah membuat doktrin Trinitas diserang oleh banyak pendukung aliran ini.

Aliran-aliran di atas gagal untuk memahami bahwa Yesus tidak datang untuk memperluas Yudaisme atau Perjanjian Lama. Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa membaca bahwa Juruselamat manusia datang ke dunia untuk menggenapi Perjanjian Lama dan menegakkan Perjanjian Baru. Kematian dan kebangkitan Mesias memenuhi persyaratan Taurat dan membebaskan kita dari tuntutannya.

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Roma 10: 4

Paulus dalam di Galatia 3: 23-25 menyatakan bahwa sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, dan karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan hukum Taurat. Lebih lanjut, Paulus menulis:

“Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” Efesus 2: 15

Dengan demikian, Perjanjian Lama hanyalah sebuah bayangan (Ibrani 8). Perjanjian Baru, yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus, Juruselamat/Mesias kita, adalah sebuah pemenuhan, bukan kelanjutan.

Kebanyakan aliran yang menolak doktrin Trinitas yakin bahwa aliran-aliran Kristen utama (mainstream Christianity) telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar dan konsep Ibrani dari Alkitab. Lebih lanjut, gerakan ini menyatakan bahwa Kekristenan telah diindoktrinasi dengan budaya asing dan kepercayaan filsafat Yunani dan Romawi dan bahwa pada akhirnya Kekristenan yang diajarkan di mayoritas gereja-gereja saat ini, telah dirusak dengan hal-hal yang bernada pagan dari Injil Perjanjian Baru.

Di antara aliran-aliran yang menekankan pentingnya hukum Taurat, ada yang mengharuskan penggunaan bahasa Ibrani. Mereka kemudian menawarkan proposisi yang tidak alkitabiah yang selanjutnya membuahkan doktrin yang keliru. Keselamatan kita tidak bergantung pada kemampuan kita untuk berbahasa Ibrani. Hubungan kita dengan Tuhan tidak didasarkan pada ketaatan kita pada Perjanjian Lama yang sudah digenapi oleh Yesus dengan sempurna. Hubungan kita dengan Allah didasarkan pada keselamatan yang telah Dia sediakan melalui Putra-Nya, dan hubungan itu dimungkinkan oleh kasih karunia saja, melalui iman saja, di dalam Kristus saja (Sola Gratia, Sola Fide, Sola Christus).

Banyak aliran-aliran semacam itu yang menyatakan bahwa kematian Kristus di kayu salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa bagi bani Israel, melainkan memperbaruinya, memperluas pesannya, dan menuliskannya di hati para pengikut-Nya di zaman ini. Mereka mengajarkan bahwa pemahaman Perjanjian Baru hanya dapat datang dari perspektif Ibrani dan bahwa ajaran Rasul Paulus tidak bisa dipahami dengan jelas atau diajarkan dengan benar oleh para pendeta Kristen yang tidak mengenal budaya/bahasa Ibrani di saat ini.

Mereka yang mengajarkan bahwa Perjanjian Lama masih berlaku terlepas dari apa yang diajarkan Perjanjian Baru, atau memutarbalikkan Perjanjian Baru agar disesuaikan dengan Taurat, adalah ajaran yang salah. Mereka mengajarkan bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkokkan ke Israel, dan inilah salah satu alasan setiap orang percaya yang dilahirkan kembali di dalam Yesus untuk berpartisipasi dalam perayaan-perayaan Yahudi. Sekalipun mereka terdiri dari mayoritas non-Yahudi, termasuk para rabi non-Yahudi, banyak yang sampai pada kesimpulan bahwa Allah telah “memanggil” mereka untuk menjadi orang Yahudi dan telah menerima posisi teologis bahwa Taurat mengikat orang bukan Yahudi dan orang Yahudi.

Berlawanan dengan apa yang diklaim oleh gerakan-gerakan semacam ini, ajaran Perjanjian Baru dari Rasul Paulus sangat jelas dan jelas. Orang percaya non-Yahudi tidak dicangkokkan ke dalam Yudaisme Perjanjian Musa; mereka dicangkokkan ke dalam benih dan iman Abraham, yang mendahului hukum dan kebiasaan Yahudi. Mereka adalah sesama warga dengan orang-orang kudus (Efesus 2: 19), tetapi mereka bukan orang Yahudi. Paulus menjelaskan hal ini dengan jelas ketika dia memberitahu mereka yang bersunat (orang Yahudi) “untuk tidak berusaha untuk tidak bersunat” dan mereka yang tidak bersunat (bukan Yahudi) ” untuk berusaha disunat” (1 Korintus 7: 18).

Hari ini kita belajar bahwa seluruh orang yang mengaku Kristen tidak perlu merasa bahwa mereka harus menjadi apa yang bukan kebiasaan mereka. Sebaliknya, Allah telah membuat orang Yahudi dan bukan Yahudi menjadi “satu manusia baru” di dalam Kristus Yesus (Efesus 2: 15). “Manusia baru” ini mengacu pada Gereja, tubuh Kristus, yang tidak terdiri dari orang Yahudi atau bukan Yahudi (Galatia 3: 27-29). Penting bagi orang Yahudi dan non-Yahudi untuk tetap otentik dalam identitas mereka sendiri. Allah tidak pernah bermaksud agar orang-orang bukan Yahudi menjadi satu di Israel, tetapi menjadi satu di dalam Kristus. Dengan cara ini gambaran yang jelas tentang kesatuan tubuh Kristus dapat dilihat sebagai orang Yahudi dan bukan Yahudi dipersatukan oleh satu Tuhan, satu iman, satu baptisan di seluruh penjuru dunia (Efesus 4: 3-6).

Kita harus sadar bahwa Tuhan sendirilah yang telah menciptakan dunia dan orang-orang dengan budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Allah dimuliakan ketika kita menerima satu sama lain dalam kasih dan bersatu dalam kesatuan sebagai “satu” dalam Kristus Yesus. Penting untuk dipahami bahwa tidak ada keunggulan yang dimiliki mereka yang terlahir sebagai orang Yahudi atau bukan Yahudi. Kita yang adalah pengikut Kristus, terdiri dari banyak budaya dan gaya hidup yang berbeda, semuanya berharga dan sangat dikasihi karena kita telah masuk ke dalam keluarga Allah.

Hal hidup dalam kebenaran

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20

Dalam Matius 5: 17 – 18, Yesus dengan tegas dan jelas menyatakan suatu hal yang mungkin sulit untuk dipahami: Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Satu titik pun tidak akan ditiadakan sampai semuanya terjadi. Dengan demikian, agaknya kita yang membaca pesan Yesus dalam Matius 5: 20 di atas seharusnya mematuhi perintah hukum Taurat. Mereka yang menaatinya akan disebut besar di kerajaan surga; mereka yang tidak benar-benar taat akan disebut yang terkecil (Matus 5: 19). Yesus tidak menunjukkan bahwa perbuatan baik akan menghasilkan keselamatan, tetapi Ia menyatakan poin-poin penting tentang bagaimana kita harus hidup sebagai pengikut-Nya.

Sebagai umat Kristen, kita tentunya ingin untuk hidup sesuai dengan perintah Yesus. Tetapi itu sulit sekali. Mengasihi Tuhan, Allah kita dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan untuk tidak dikatakan mustahil. Padahal, pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22: 37-40). Ayat pembukaan di atas menunjukkan bahwa Yesus menuntut suatu standar yang tidak akan tercapai oleh para pendengar-Nya. Jika demikian, mengapa Yesus perlu menyebutkannya? Yesus ingin membuat dua poin pengajaran yang berbeda melalui ayat ini.

Ahli-ahli Taurat adalah ahli-ahli profesional mengenai isi kitab Taurat. Orang-orang Farisi adalah golongan yang terkenal karena sangat berhati-hati dalam menjaga hukum Taurat. Bahkan, mereka sangat berhati-hati sehingga mereka menambahkan lapisan detail, aturan, dan peraturan di atas undang-undang sehingga mereka tidak akan pernah melanggarnya. Orang-orang Farisi, murid-murid mereka dan para pengunjung sinagoga sadar tentang apa yang diperlukan untuk mengikuti hukum agar menjadi “orang benar”. Tetapi, Yesus telah menunjukkan bahwa kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah palsu. Yohanes Pembaptis bahkan menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” yang membutuhkan pertobatan yang benar-benar akan “berbuah” dan bukannya hanya agar terlihat baik di mata orang lain (Matius 3: 7-8).

Yesus memang pernah menegur orang-orang Farisi tentang cara mereka bekerja begitu keras pada penampilan luar sementara dosa mengotori hati mereka. Seperti yang akan ditekankan Yesus belakangan di kitab Matus 6: 1 – 7, Tuhan jauh lebih peduli tentang apa yang ada di dalam hati seseorang daripada bagaimana pandangan orang lain. Tuhan menghargai kemurnian sejati yang dimotivasi oleh kasih, lebih dari pelaksanaan hukum yang dimotivasi oleh kesombongan spiritual. Jadi, poin ajaran Yesus yang pertama adalah hal kebenaran orang beriman yang harus lebih baik daripada apa yang dipertunjukkan oleh orang-orang munafik itu.

Point lain dari pengajaran Yesus yang kita bisa pelajari dari Alkitab, adalah bahwa tidak seorang pun yang dapat menjalani kehidupan dengan kemurnian moral yang layak untuk ke surga (Yohanes 14: 6). Ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, kita tahu bahwa orang yang beriman kepada Kristus “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” ( Roma 3: 24). Yesus dalam Matius 5: 20 dengan demikian sedang mempersiapkan pendengar-Nya untuk memahami bahwa mereka membutuhkan kebenaran yang hanya dapat diperoleh-Nya bagi kita.

Hari ini, mungkin kita teringat akan perintah Yesus untuk hidup dalam kebenaran. Kebenaran yang ada di dunia ini dan yang diajarkan oleh manusia hanya membuat kita terbuai seakan kita sudah mencapai tingkat kesempurnaan seperti yang dikehendaki Yesus. Oleh karena itu, semakin kita berusaha mencapai tingkat kerohanian yang tinggi dengan tenaga sendiri, semakin jauh kita dari apa yang diperintahkan Yesus. Yesus menyatakan bahwa kita harus mempunyai hidup keagamaan yang lebih baik daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang serba semu. Kita harus bisa hidup dalam kebenaran yang asli dan murni, dan sebagai orang berdosa, kita tidak akan mencapai apa yang diminta-Nya untuk bisa dihitung sebagai anak-anak Tuhan. Kita bersyukur bahwa hanya oleh kemurahan-Nya, Yesus sudah menebus dosa kita dan membuka jalan ke surga bagi kita. Dengan pertolongan-Nya kita akan hidup makin hari makin sempurna dalam kebenaran-Nya di dunia ini.

Tidak semua orang sadar Tuhan mengasihi segala bangsa

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Siapakah yang berani marah kepada Tuhan semesta alam? Tentunya jika orang benar-benar percaya bahwa Tuhan adalah mahabesar dan mahakuasa, mereka tidak akan berani menentang atau marah kepada-Nya. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang mungkin bisa menarik perhatian kita jika ada orang yang nekad untuk marah kepada Tuhan.

Yang pertama, mereka yang marah kepada Tuhan tentunya percaya bahwa Tuhan itu ada. Yang kedua, sering kali orang marah kepada Tuhan karena mereka menganggap bahwa Tuhanlah yang menyebabkan atau membiarkan adanya masalah dalam hidup mereka. Yang ketiga, mereka yang marah mungkin merasa bahwa Tuhan yang mahakasih akan mempertimbangkan segala protes mereka. Yang keempat, mereka yang marah mungkin sudah tidak peduli lagi akan reaksi Tuhan atas kemarahan mereka. Keempat hal inilah yang mungkin ada dalam pikiran nabi Yunus.

Apa yang terjadi pada nabi Yunus? Yunus baru saja mengalami hal yang mengecewakan. Ia mengharapkan Tuhan menghukum orang Niniwe dengan menghancurkan mereka. Tetapi apa yang terjadi adalah kebalikannya: orang Niniwe bertobat dan Tuhan mengampuni mereka. Yunus menjadi sangat marah karena ia tidak mengerti bagaimana Tuhan bisa mengasihi segala bangsa (Yunus 4: 1).

Walaupun kemarahan Yunus tidak pada tempatnya, sungguh mengherankan bahwa Tuhan tidak marah kepada Yunus. Ia hanya menegur Yunus dengan sebuah pertanyaan (Yunus 4: 4): “Layakkah engkau marah?”. Tuhan memberikan kesempatan bagi Yunus untuk mengerti bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya ingin memberi semua orang kesempatan untuk bertobat.

Dengan kemarahannya, Yunus pergi ke luar kota Niniwe dan menantikan apa yang kemudian akan diperbuat Tuhan. Mungkinkah Tuhan tetap akan memberi hukuman, sekalipun tidak sebesar semula, kepada orang Niniwe?  Yunus  yang ingin menyaksikan sebuah pertunjukan yang menarik, membuat sebuah pondok untuk bernaung dari sinar panas matahari. Tuhan yang mahakasih kemudian menumbuhkan sebuah pohon jarak untuk menambah keteduhan. Tetapi, Tuhan kemudian mendatangkan ulat yang membuat pohon jarak itu layu dan mendatangkan angin panas sehingga Yunus menjadi lesu. Yunus seperti seorang anak kecil yang batal memperoleh apa yang diinginkannya, kemudian menjadi makin marah dan berkata bahwa ia ingin mati saja.

Hari ini, keadaan yang dialami Yunus mungkin terjadi dalam hidup kita. Pada saat pandemi ini, kita mungkin kecewa mengapa Tuhan membiarkan persoalan atau keadaan yang kita alami. Mungkin juga kita merasa Tuhan itu tidak adil atau kurang bijaksana karena mereka yang “ugal-ugalan” justru nyaman hidupnya. Kita mungkin merasakan adanya kemarahan dalam hati kita. Saat ini Tuhan mungkin bertanya kepada kita, seperti Ia bertanya kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena adanya persoalan dalam hidupmu?”

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Sebagai Tuhan yang memiliki alam semesta, Ialah yang berhak menentukan dan mengatur apa pun yang terjadi di dunia. Dengan demikian, kemarahan kita kepada Tuhan adalah tidak pada tempatnya. Sekalipun kita tidak menyukai orang-orang tertentu, kita harus sadar bahwa mereka adalah milik Tuhan juga. Kita harus mau mengakui bahwa sekalipun kita tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih kepada semua ciptaan-Nya. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan apa pun yang terjadi dalam hidup kita kepada pemeliharaan-Nya sambil mengakui bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas seisi alam semesta. Semua rancangan-Nya akan terjadi karena tidak ada apa pun yang bisa menghalanginya.

Kita yang bernasib mujur

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Ungkapan “memang sudah nasib” sering kita dengar di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, orang membicarakan soal nasib (fate) di rumah, pasar, mal, kantor dan dimana pun. Nasib agaknya berlaku untuk siapa pun, baik mereka yang kaya atau yang miskin, baik yang berpendidikan atau yang kurang berpendidikan. Apalagi, pada saat ini Covid-19 sudah membuat kalang kabut banyak orang. Memang kata orang, nasib adalah penentu keadaan atau keberuntungan seseorang.

Dalam beberapa agama dan budaya, memang hal nasib itu diajarkan sebagai suatu keputusan Ilahi yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang menjadi dokter karena sudah ditentukan Tuhan, dan orang lain yang menjadi tukang sapu juga sesuai dengan kehendak-Nya. Sebuah negara yang makmur adalah karena kehendak Tuhan, dan negara lain yang miskin dan bahkan terjajah adalah karena keputusan Tuhan juga. Memang sudah nasibnya.

Dalam pandangan Kristen, kata nasib itu sebenarnya tidak ada. Memang dalam Alkitab terjemahan Indonesia, kata “nasib” itu muncul beberapa kali, tetapi itu adalah bertalian dengan soal bahasa dan budaya. Alkitab tidak mengajarkan bahwa Tuhan menentukan manusia untuk berbuat dosa, atau memutuskan bahwa hanya bangsa tertentu yang bisa diselamatkan. Secara umum, Tuhan tidak juga menentukan agar orang tertentu menjadi miskin atau kaya, sedih atau gembira, berpendidikan atau tidak. Semua itu adalah berkat-Nya dalam hidup kita jika kita mempunyai rasa cukup, dan ini bisa membuat kita bisa merasakan ketenangan dalam semua keadaan seperti yang dialami oleh rasul Paulus (Filipi 4: 12-13).

Memang bagaimana Tuhan yang mahakuasa itu menjalankan kuasa dan kedaulatan-Nya di seluruh jagad raya sudah diperdebatkan manusia sejak dulu. Pada umumnya, manusia merasa adanya penentuan Tuhan jika manusia tidak dapat membuat keinginannya terjadi. Tetapi keadaan zaman modern ini membuat manusia berpikir bahwa Tuhan tidak lagi relevan. Di kalangan orang Kristen pun ada berbagai pendapat yang agaknya bertentangan. Tetapi tentu saja apa yang sebenarnya dipikirkan dan dilakukan Tuhan, hanyalah Tuhan yang tahu.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

JIka keadaan saat ini nampaknya buruk, satu hal yang pasti dalam iman Kristen ialah kepercayaan bahwa apa pun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuai dengan pemeliharaan (providensia) Tuhan, yang ada sejak dari awalnya dan tidak pernah berubah, karena Ia mahatahu dan sempurna. Tuhan yang menciptakan setiap manusia dengan kasih-Nya adalah Tuhan mempunyai rancangan yang baik bagi umat-Nya.

Memang seluruh umat manusia sudah jatuh dalam dosa, tetapi itu tidaklah bisa menghentikan kasih dan kuasa Tuhan. Jika itu dikatakan “nasib”, itu mungkin satu-satunya kenyataan yang tidak dapat ditolak manusia. Sekalipun dosa manusia sebesar apa pun, Tuhan senantiasa mau mengampuni mereka yang bertobat. Nasib mujur!

“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Walaupun Ia tidak memaksa orang untuk untuk menjadi pengikut-Nya, tetapi setiap orang diberikan kesempatan untuk menjawab panggilan-Nya. Manusia bukan “robot” Tuhan, dan Tuhan bukanlah “dalang” kehidupan manusia dan alam semesta. Dalam hal ini, walaupun kasih dan kemurahan Tuhan itu sangat besar, manusia harus mau bertobat dari cara hidup lamanya.

Jawab Petrus kepada mereka: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Kisah Para Rasul 2: 38

Dari ayat pembukaan yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma, kita melihat bahwa Tuhan mempunyai rencana kasih untuk seluruh umat-Nya. Rencana Tuhan untuk kita, baik dalam hal jasmani maupun rohani, adalah rencana yang melibatkan Dia sebagai Sang Pencipta dan umat-Nya. Karena itu, sebagai orang yang sudah menerima panggilan-Nya melalui bantuan Roh Kudus, kita harus percaya bahwa apa pun keadaan kita sekarang ini, itu bukanlah sesuatu yang kita harus terima sebagai “nasib” saja, tetapi seperti rasul Paulus kita bisa menyadari bahwa apa pun keadaannya, kita masih ada kesempatan untuk bisa bekerja bersama Tuhan untuk memuliakan Dia dan mendatangkan kebaikan bagi sesama kita yang saat ini “bernasib malang”.

Tuhan memerintahkan agar setiap orang percaya yang sudah dipilih-Nya untuk mengabarkan injil keselamatan ke seluruh penjuru dunia, agar orang yang “malang”, yaitu yang belum mengenal Kristus, bisa menerima kabar baik itu dan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. Biarlah mereka menjadi “mujur” seperti kita!

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Jangan menyalahgunakan kemerdekaanmu

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” Mazmur 32: 8 – 9

Selama dua hari berturut-turut, kota Melbourne di negara bagian Victoria dilanda demonstrasi anti lockdown dan anti vaksinasi. Bagi rakyat yang sudah merasa dikurung beberapa bulan, kesempatan untuk bisa keluar rumah dan melakukan berbagai kegiatan sudah sangat dirindukan, tetapi belum bisa menjadi kenyataan.

Mereka yang berdemonstrasi adalah orang-orang yang merasa terlalu dikekang oleh pemerintah; mereka ingin bebas untuk menentukan pilihan sendiri dan tidak mau dikontrol pemerintah. Walaupun demikian, apa yang terjadi bisa membuat orang menggelengkan kepala karena seakan mereka tidak sadar akan bahaya yang mengancam. Virus corona bisa mencelakai siapa saja , termasuk diri sendiri dan keluarga mereka.

Memang manusia adalah makhluk yang sangat istimewa karena berbeda dengan makhluk lainnya, mereka merasa bahwa kemerdekaan adalah suatu hal yang sangat berharga. Manusia bersedia membayar kemerdekaan dengan harga yang tertinggi. Pada pihak yang lain, Tuhan memberikan kemerdekaan kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus untuk memakan buah apa saja, kecuali buah dari satu pohon yang ada di tengah taman itu. Sayang sekali bahwa mereka mungkin merasa bahwa kemerdekaan yang mereka miliki adalah kemerdekaan untuk melakukan apa saja, termasuk untuk tidak menaati perintah Tuhan. Itulah yang membawa kejatuhan mereka ke dalam belenggu dosa.

Sebagai orang Kristen kita harus bersyukur bahwa belenggu dosa itu sudak dilepas oleh Yesus Kristus yang mati untuk menebus kita. Karena Kristus, kita memperoleh kemerdekaan lagi dan itu sudah dibayar dengan harga yang termahal. Sayang sekali bahwa banyak orang Kristen yang merasa bahwa dalam Kristus mereka adalah orang-orang yang merdeka sepenuhnya. Ini tidaklah benar, karena sesudah bebas dari hamba dosa, kita menjadi hamba Kristus. Kita bergantung kepada-Nya dan hidup untuk Dia. Kita hidup bukan untuk manusia dan bukan untuk diri kita sendiri.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Di zaman modern ini, iblis tetap bekerja dan berusaha memengaruhi manusia seperti apa yang dilakukannya kepada Adam dan Hawa. Iblis dapat melihat bahwa kelemahan manusia adalah dalam hal kemerdekaan yang didambakannya untuk bisa melakukan apa saja yang dikehendaki. Manusia cenderung ingin memakai hidup dan waktu yang ada untuk kenikmatan dan kenyamanan diri sendiri. Dan keinginan itu tetap menggoda siapa saja termasuk orang Kristen yang sudah menjadi hamba Kristus.

Dengan demikian, orang Kristen bisa saja bertingkah laku seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang. Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan tidak mau untuk mengekang hidup kita dan memaksakan kehendak-Nya. Tuhan yang mahakuasa tidak perlu melakukan hal-hal itu karena Ia memegang kendali atas seisi alam semesta. Tetapi, Ia mau mengajar dan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. Tuhan ingin membimbing kita dalam hidup dan mata-Nya tertuju kepada kita. Karena itu kita haruslah bijaksana dan mau menggunakan kebebasan kita untuk memilih apa yang baik jika kita ingin hidup berbahagia.

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5: 15 -16

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa hamba Kristus haruslah berbeda dengan hamba dunia. Hamba Kristus adalah orang-orang yang merdeka dari kuasa iblis, orang yang dengan sukacita memilih untuk hidup menurut Firman Tuhan setiap hari. Orang Kristen tidak sepatutnya menyia-nyiakan waktu yang ada untuk apa yang tidak berguna. Sebaliknya, mereka hidup untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama. Orang Kristen adalah orang yang sadar akan kehendak Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih dalam mengambil keputusan tentang apa saja dalam hidupnya.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 17

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasih-Nya memimpinku
Di tengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh

Tiap langkahku kutahu Tuhan yang pimpin
Ke tempat tinggiku dihantar-Nya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa surga yang baka

Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mengasihi kita

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17

Bagaimana bisa orang Kristen mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berubah? Saya sering mendengar pengkhotbah dan pendeta membuat klaim ini. Sudah tentu ini adalah hal yang menghibur, tetapi agaknya banyak orang Kristen yang mengalami kesulitan untuk memahaminya. Mengapa begitu?

Dalam Alkitab agaknya ada gambaran tentang Tuhan Sang Pencipta yang mahatahu, yang sulit mengambil keputusan. Pertama Dia menciptakan manusia. Kemudian Dia berkata bahwa Dia menyesal menciptakan manusia. Selanjutnya Dia mengirimkan air bah untuk melenyapkan manusia. Kemudian Dia berjanji untuk tidak akan mengirimkan banjir lagi. Bagaimana kita bisa mengandalkan Tuhan yang seakan tidak yakin akan motif dan tindakan-Nya sendiri? Tuhan yang sering berubah pikiran?

Memang ada sejumlah tempat di mana Kitab Suci Perjanjian Lama menggambarkan Tuhan sebagai Oknum Ilahi yang sering berubah pikiran seperti contoh berikut ini:

  • Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6: 6).
  • Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. (Keluaran 32: 14).
  • Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel. (1 Samuel 15: 35).
  • Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah Tuhan karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: ”Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.” (2 Samuel 24: 16).

Bagaimana semua ini cocok dengan pernyataan alkitab tentang Tuhan yang tidak pernah berubah atau berganti pikiran?

Solusi untuk teka-teki ini terletak pada pernyataan alkitabiah bahwa Allah adalah mahakasih. Apa artinya? Sifat Tuhan tidak berubah, tetapi ini tidak berarti bahwa itu statis. Sebaliknya, karena Tuhan itu hidup, aktif, dan dinamis, energi dan dinamismenya diekspresikan dalam hal memberi-dan-menerima dan dalam pasang-surutnya hubungan Tuhan dengan manusia.

Alkitab memperluas gagasan ini dengan mengajarkan bahwa sifat Tuhan yang tidak berubah mengandung konflik atau dialog yang tidak ada hentinya dengan umat-Nya. Di dalam Tuhan ada pertemuan antara prinsip-prinsip keadilan dan belas kasihan yang tampaknya bertentangan, atau antara kebenaran dan kasih karunia. Kita dapat melihat ini dalam perikop seperti Keluaran 34: 6 – 7: “Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: ”Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”

Ketegangan antara “pengampunan” di satu sisi dan “tidak membebaskan yang bersalah” di sisi lain adalah bagian penting dari hakikat Tuhan yang tidak berubah. Itu adalah inti dan esensi dari kasih-Nya yang aktif dan dinamis. Kita mungkin lebih dapat memahami konsep ini dengan membaca firman Tuhan sebagaimana dicatat oleh nabi Hosea:

“Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” Hosea 11: 8- 9.

Tuhan sampai sekarang tidak pernah berubah. Pergulatan antara keadilan dan belas kasihan selalu menjadi dasar karakter-Nya. Pada akhirnya ketegangan di dalam kodrat ilahi ini menjadi kekuatan pendorong dari tindakan Allah yang menentukan masa depan manusia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 16). Melalui tindakan itulah “Ia menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Roma 3:26). Ini juga telah menjadi bagian dari rencana dan tujuan Tuhan sejak awal, sebelum dunia dijadikan karena Ia adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakasih.

Sebagai Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa, Tuhan juga tidak pernah berubah dalam memegang kontrol atas seisi alam semesta. Apa pun yang terjadi di jagad raya, Tuhan tahu sebelum itu terjadi dan siap untuk bertindak pada waktu yang tepat. Tuhan berkuasa untuk mencapai rencana-Nya, tetapi Ia bukan Tuhan yang harus mengontrol setiap tindakan manusia dan kejadian di alam semesta. Karena kasih-Nya, Ia memberi manusia kemampuan untuk mengambil keputusan antara dua pilihan: untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau menuruti keinginan diri sendiri. Apa pun yang kemudian terjadi, Tuhan selalu bisa membuat segala sesuatu berjalan menurut rancangan-Nya. Mereka yang tergolong domba-domba-Nya akan terus dipanggil-Nya, tetapi tidak dipaksa-Nya, untuk memilih jalan yang benar sehingga pada akhirnya rencana Tuhan yang baik akan terjadi. Ia adalah Tuhan yang mahakasih, yang tidak pernah berubah hakikat-Nya.

Siapakah yang menentukan pilihan kita?

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Siapakah yang tidak mengenal nama R. A. Kartini? Raden Adjeng Kartini atau Raden Ayu Kartini merupakan sosok wanita pribumi yang dilahirkan sebagai keturunan bangsawan. Anak ke 5 dari 11 bersaudara ini merupakan sosok wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kartini sangat gemar membaca dan menulis, tapi sayang orang tuanya memperbolehkan Kartini untuk menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar karena harus dipingit. Tetapi karena tekad bulat untuk mencapai cita citanya, Kartini mulai belajar membaca dan menulis bersama teman perempuannya, termasuk belajar bahasa Belanda.

Kartini tidak pernah patah semangat. Dengan rasa keingintahuan yang sangat besar, Kartini ingin selalu membaca surat surat kabar, buku buku dan majalah Eropa dari situlah terlintas ide untuk memajukan kaum wanita Indonesia dari segala keterbelakangan. Ditambah dengan kemampuannya berbahasa Belanda, terjadi surat menyurat antara Kartini dan Mr.J.H Abendanon untuk pengajuan beasiswa di negeri Belanda, tetapi semua itu tidak pernah terjadi karena Kartini harus menikah pada 12 November 1903 dengan Raden Adipati Joyodiningrat yang sudah menikah 3 kali. Kemerdekaan kaum wanita Indonesia yang dicita-citakan Kartini tidak terjadi pada zamannya, tetapi perlahan-lahan terjadi pada tahun-tahun sesudahnya.

Kemerdekaan manusia ada dalam Alkitab sejak penciptaan. Tetapi kemerdekaan yang disertai kebebasan memilih cara hidup tidaklah seperti yang umumnya dibayangkan. Manusia sering berpikir bahwa “nasibmu ada di tanganmu sendiri” atau “you are the master of your destiny“, tetapi sering kali kenyataan adalah jauh dari itu karena walaupun manusia bisa memilih apa yang diingininya, ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipilih atau dikontrol dalam hidupnya. Manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan selama apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Manusia harus mau mengambil keputusan dan tidak dapat meminta Tuhan untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidupnya. Manusia bukanlah robot ciptaan Allah. Walaupun demikian, manusia harus sadar bahwa pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang harus terjadi.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Ada kemerdekaan, ada kebebasan memilih, tetapi ada batasan. Dalam kebebasan yang diberikan Allah, Adam dan Hawa juga dapat melanggar batasan itu, dan harus menanggung konsekuensinya. Dengan menyalahgunakan kemerdekaan itu, pelanggaran batasan terjadi – yang kemudian membawa dosa untuk seluruh umat manusia. Semua itu terjadi bukan karena Tuhan yang membuat mereka berbuat dosa, tetapi karena kehendak manusia sendiri. Manusia tidak lagi hidup dalam jaminan ketenteraman Firdaus, tetapi masuk kedalam ketidakpastian masa depan!

Sesudah kejatuhan, manusia masih mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan. Tetapi karena jauh dari Tuhan, kebebasan malahan sering digunakan manusia untuk menjadi hamba dosa. Ketenteraman hidup yang dulunya ada, berubah menjadi berbagai kesulitan dan penderitaan. Untunglah Allah dengan kasih-Nya memberikan kemungkinan agar setiap orang bisa secara bebas mengambil keputusan untuk memilih (dengan bimbingan Roh Kudus) apa yang sudah disediakan-Nya, yaitu jalan sempit yang menuju keselamatan dalam Kristus (Matius 7: 13 – 14).

Ayat pembukaan di atas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya singgah ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekadar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana di sana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya. Membaca ayat-ayat di atas, jelas Maria dan Martha mempunyai kemerdekaan untuk memilih apa yang akan dilakukan.

Apa yang terjadi ternyata membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih apa yang disenanginya. Maria duduk di dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Kedua orang itu sudah memilih apa yang baik menurut pikiran masing-masing.

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari sering kali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firman-Nya atau untuk berbakti kepada Tuhan dengan seluruh anggota keluarga. Seperti Marta kita mungkin sudah memilih apa yang tidak disukai Tuhan, tetapi itu terjadi bukan karena kehendak-Nya. Tuhan mengizinkan kita untuk menggunakan kebebasan kita dan tidak akan selalu memaksa kita untuk memilih apa yang disukai-Nya. Tetapi Roh-Nya tidak henti-hentinya mengingatkan kita, seperti Yesus mengingatkan Marta.

Hari ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anak-Nya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang di luar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan mungkin sudah sering memperingatkan bahwa ada kesempatan bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Kapankah anda akan mengambil keputusan untuk mencari kehendak-Nya? Pilihan kita, risiko kita. Tuhan memang memegang kontrol atas alam semesta, tetapi Ia tidaklah mengambil alih apa yang menjadi kewajiban kita. God is in control but He is not a controlling God.

Apakah Tuhan sengaja membuat orang jahat?

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya dan sudah memyebar ke seluruh penjuru dunia. Sudah banyak korban virus corona yang meninggal dunia, dan setiap orang agaknya mengenal atau tahu siapa yang sudah tidak lagi di dunia. Bagi umat Kristen, perginya orang yang dikasihi tentunya dirasakan sebagai hal yang sedih, tetapi adanya iman kepada Yesus Kristus membuat hati terhibur karena mereka yang percaya kepada-Nya pasti masuk ke surga.

Yang benar-benar membawa kesedihan adalah jika ada kerabat atau teman yang meninggal, yang dulunya terlihat baik dan mengaku “simpatisan Kristen”, tetapi belum mau atau sempat beribadah di gereja selama hidup mereka. Mungkin juga ada rasa sesal di hati kita karena kita tidak berhasil mengajak mereka untuk bergabung menjadi umat Kristen. Lebih dari itu, kita mungkin merasa bingung karena adanya orang yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap orang dan kehendak-Nya pasti terjadi. Kehendak yang bagaimana?

Ayat di atas sering dipakai oleh sebagian orang Kristen dalam pengajaran bahwa Tuhan menghendaki orang-orang tertentu untuk masuk ke surga dan orang lainnya untuk dibinasakan. Dalam istilah teologi, inilah yang disebut faham predestinasi ganda (double predestination). Bagi golongan yang bisa dikatakan ekstrim ini, kepercayaan ini sangat penting untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka adalah orang-orang terpilih dan Tuhan yang mahakuasa berhak untuk menolak orang-orang tertentu dari awalnya. Jika ada orang yang kemudian menganggap bahwa Tuhan adalah kejam, golongan ini menjawab bahwa Tuhan adalah kasih karena mereka sendiri yang seharusnya binasa, sudah dipilih untuk diselamatkan.

Terlepas dari populernya teologi predestinasi ganda di kalangan tertentu, semua orang Kristen di dunia memang seharusnya percaya bahwa Tuhan sudah memilih mereka. Tanpa bimbingan Tuhan tidak mungkin manusia bisa mengenal Dia. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang saat ini belum mau menjadi orang Kristen agaknya sudah dipilih Tuhan untuk ke neraka. Tidaklah mengherankan bahwa ayat di atas sudah menjadi bahan perdebatan di antara orang Kristen selama berabad-abad. Banyak orang Kristen yang menyatakan bahwa penekanan segi mahakuasa dari Tuhan oleh kelompok tertentu sudah mengesampingkan segi Tuhan lain yang sangat penting untuk keselamatan umat manusia yaitu mahakasih.

Ayat di atas dalam bahasa Ibraninya tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Bukan saja kata-kata Ibrani sering kali mempunyai beberapa arti, kitab Amsal sering menampilkan ayat-ayat yang mungkin tidak bisa diartikan secara literal. Dalam hal ini, pengertian yang lebih tepat dari ayat di atas agaknya sebagai berikut:

“TUHAN mengerjakan segala sesuatu agar menemui akhir yang semestinya, dan orang fasik pun akan menerima ganjaran yang setimpal.

Ini sejalan dengan apa yang tertulis di beberapa terjemahan Alkitab, seperti yang ada di New International Version (NIV).

The Lord works out everything to its proper end — even the wicked for a day of disaster.

Dengan demikian, ayat di atas bukanlah menyangkut penentuan Tuhan atas “nasib” manusia setelah meninggalkan dunia, tetapi hal tanggung jawab moral secara pribadi dari setiap orang kepada Tuhan selagi masih hidup dan sesudahnya.

Alkitab mengajarkan kedaulatan ilahi berdampingan dengan kehendak bebas. Tuhan ingin setiap orang untuk diselamatkan (Yohanes 3: 16), tetapi tidak semua orang mau menerima uluran tangan Tuhan. Karena itu, pada akhirnya orang yang tetap hidup dalam kefasikan seharusnya tidak terkejut ketika Tuhan memberikan hukuman-Nya. Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku dan terlihat sebagai orang Kristen akan diselamatkan. Mereka yang menyangka bahwa mereka sudah dipilih Tuhan tetapi secara sengaja tetap menjalani hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan akan ditolak-Nya. Memang tidak ada orang yang tidak berdosa, yang tidak perlu mengambil keputusan untuk bertobat.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Hari ini, kita patut merenungkan bahwa Tuhan menghendaki setiap orang agar mau mendengar suara-Nya dan bertobat dari hidup lamanya sehingga darah Yesus bisa menebus segala dosanya. Tuhan yang mahakasih tidak menentukan dari awalnya agar sejumlah orang untuk ke neraka, tetapi Ia yang mahakasih akan bersukacita jika satu orang mau bertobat dan menjadi umat-Nya.

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” Lukas 15: 7

Apakah kita mengasihi saudara seiman saja?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Matius 5: 45 – 46

Yesus adalah Juruselamat dunia

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Ini adalah satu pertanyaan yang sering dikemukakan banyak orang, baik orang Kristen maupun bukan. Sebagian orang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang beriman, sebagian lagi yakin bahwa Tuhan membenci mereka yang “kafir”. Selain itu, ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang banyak berbuat amal dan berkurban untuk sesamanya. Sudah tentu, ada juga orang yang meragukan kasih Tuhan kepadanya, karena merasa bahwa hidupnya jauh dari apa yang dikendaki Tuhan.

Memang di dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah oknum yang menuntut manusia untuk menyembah Dia dalam ketakutan dan dengan demikian manusia harus banyak berbuat baik di dunia, agar bisa menerima belas kasihan-Nya. Tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seperti ini sering kali bukannya membuat manusia menjadi benar-benar baik, tetapi membuat mereka merasa sudah baik. Memang, jika kasih Tuhan dianggap bisa dibeli, orang tidak perlu merasa takut untuk berbuat dosa karena amal-ibadah bisa menebus dosanya. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik sering masih merasa tertekan karena adanya perasaan bahwa Tuhan belum menunjukkan kasih-Nya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahasuci menuntut umat-Nya untuk hidup baik sesuai dengan firman-Nya. Tuhan membenci dosa dan tidak dapat dipermainkan oleh manusia dengan segala pikiran dan perbuatan mereka. Walaupun demikian, tidak ada apa pun yang bisa diperbuat manusia untuk mencuci dosanya, untuk memenuhi syarat kesucian Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Umat manusia tidak akan mempunyai harapan masa depan jika Tuhan tidak mengasihi mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Apakah Tuhan mengasihi semua umat manusia? Jika benar, mengapa ada orang yang kelihatan jaya dan berbahagia, sedangkan orang lain harus menderita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Jika semua manusia sudah sepantasnya binasa karena dosa-dosa mereka, Tuhan tetap memelihara mereka untuk bisa hidup dan lebih dari itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal kuasa dan kasih-Nya.

Tuhan bukan saja memberi karunia dan berkat kepada seisi dunia, Ia juga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Yesus datang ke dunia, supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya bisa menerima hidup yang kekal di surga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Tuhan sungguh besar dan tidak pandang bulu. Jika demikian, mengapa kita kurang atau tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu? Mungkinkah karena orang-orang itu terlihat berbeda cara hidupnya jika dibandingkan dengan cara hidup kita? Mungkinkah orang-orang itu hidup bergelimang dalam dosa? Ataukah karena mereka membenci dan sering menyakiti kita? Mungkinkah mereka sudah ditentukan Tuhan untuk menjadi oramg-orang durhaka yang tidak perlu dikasihani?

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan sudah dari awalnya menetapkan orang yang harus ke neraka. Karena itu, mereka percaya bahwa Tuhan tidak mengasihi semua orang, tetapi hanya mengasihi orang-orang yang sudah dipilih untuk menjadi umat-Nya. Ayat di atas menunjukkan jika kita hanya mengasihi orang-orang tertentu saja, itu berarti kita belum sadar bahwa karena kasih-Nya, kita yang tidak layak sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus.

Hari ini, marilah kita yakin bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan itu termasuk diri kita sendiri. Kita yang percaya bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi umat-Nya, haruslah sadar bahwa Ia juga masih menantikan mereka yang masih tergolong anak yang hilang untuk bertobat dan kembali kepada-Nya agar mereka dapat memperoleh keselamatan seperti kita.

Pengalaman belum tentu bermanfaat

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Tidak terasa, sekarang sudah bulan September. Waktu berjalan cepat, sekalipun dengan adanya pandemi hampir semua kegiatan manusia tidak dapat dijalankan dengan lancar. Dengan adanya berbagai pembatasan kegiatan masyarakat, orang tidak bebas untuk pergi ke tempat yang biasanya dituju setiap hari, entah itu sekolah, kantor, toko dan sebagainya. Hari demi hari dilalui, tetapi bagi kebanyakan orang hidup ini terasa membosankan karena tidak ada yang berbeda. Tidak ada pengalaman yang menarik yang bisa diperbincangkan dengan keluarga, dan mungkin tidak ada pengalaman yang bisa dipakai sebagai pelajaran hidup.

Pada umumnya semakin tua umur manusia, semakin banyak pengalamannya. Biasanya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman pribadi yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan. Bagaimana dengan pengalaman selama hidup dalam suasana pandemi ini? Sebagian orang bisa merasa bahwa Tuhan itu sungguh mahakasih, tetapi bagi orang lain Tuhan itu kejam.

Sebenarnya, selama manusia hidup selalu ada saja yang bisa diambil makna dan gunanya. Bagi banyak orang, adanya pandemi bisa membuat mereka merenungkan apa arti hidup ini dan memikirkan apa yang seharusnya mendapat prioritas utama. Pengalaman memang bisa membuat manusia lebih kuat dan bijak, tetapi juga dapat membawa kehancuran.

Secara umum, karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di saat ini, belum tentu benar di masa depan. Karena itu, pengalaman seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik untuk kita.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan dalam hidup ini mungkin bersumber pada pengalaman pribadi seseorang, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan ketenaran untuk manusia dan bukannya memuliakan Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman pribadi, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan kebenaran yang ada dalam Alkitab.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105