Dibenarkan karena iman

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Agama adalah salah satu status yang penting di Indonesia, seperti juga status pekerjaan dan perkawinan. Mungkin saja sebagian besar penduduk Indonesia berpendapat bahwa mereka yang hidupnya berhasil adalah orang yang beragama, yang mempunyai pekerjaan tetap, dan yang rumah tangganya berjalan baik. Walaupun demikian, tentunya orang setuju bahwa tidak semua orang yang beragama itu adalah orang-orang yang saleh, atau mereka yang mempunyai pekerjaan itu pasti mendapat penghasilan yang cukup, atau mereka yang berstatus kawin itu pasti mempunyai rumah tangga yang bahagia. Dengan demikian, status yang bisa dilihat atau dibaca orang, belum tentu bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Bagaimana dengan status beragama Kristen? Apakah ada artinya? Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, kata “agama” muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tetapi, dalam terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, kata “religion” hanya muncul kurang dari 10 kali. Memang dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya (Yahudi dan Yunani) beberapa kata yang sebenarnya berbeda artinya dengan arti kata “agama” yang sekarang, diterjemahkan sebagai “agama”. Kata yang dipilih penerjemah itu memang bisa menyebabkan perbedaan dalam pengertian. Oleh karena itu, dalam mempelajari firman Tuhan kita harus memakai beberapa terjemahan Alkitab dan menggunakan buku bimbingan Alkitab yang baik, yang bisa mengartikan setiap ayat dalam konteks yang benar.

Hal terjemahan Alkitab memang bisa membuat sebagian orang untuk mengabaikan bagian-bagian tertentu dari Alkitab. Lebih dari itu, ada beberapa golongan yang memakai “Alkitab” yang berbeda dengan apa yang kita pakai. Sebagian dari mereka mengajarkan bahwa Perjanjian Baru hanya dapat dimengerti melalui sudut pandang Ibrani, dan ajaran Rasul Paulus tidak dipahami secara jelas oleh para pendeta Kristen di zaman ini. Tidak sedikit dari mereka yang mengakui adanya Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani dan, dalam banyak kasus, merendahkan akurasi naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Ini secara halus menyerang integritas naskah Alkitab yang sekarang kita pakai. Jika naskah Yunani tidak dapat diandalkan dan telah dikorupsi, seperti tuduhan mereka, Gereja tidak dapat mempunyai tolok ukur kebenaran.

Di antara golongan-golongan ini ada banyak yang memercayai bahwa kematian Kristus di atas salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa, melainkan memperbaruinya, menambah pesan dasarnya, dan menulisnya di atas hati para pengikut Kristus yang sejati. Mereka menuduh bahwa Gereja telah beralih dari akar Yahudinya dan tidak sadar bahwa Yesus dan para rasulNya merupakan orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat. Karena itu, pada umumnya mereka mendorong supaya setiap orang percaya menjalani hidup yang taat kepada ajaran Taurat. Ini berarti bahwa peraturan dalam Perjanjian Musa harus menjadi fokus utama dari hidup orang percaya pada zaman ini, sama seperti umat Yahudi di zaman Perjanjian Lama di Israel.

Mereka mengajar bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkok ke dalam Israel, dan oleh karena itu setiap orang yang lahir baru dalam Yesus Sang Mesias harus turut berpartisipasi dalam pemeliharaan cara hidup dan budaya orang Yahudi. Mereka mengajar bahwa pemeliharaan ini tidak dilakukan secara terpaksa, melainkan atas dasar kasih dan ketaatan. Pada pihak yang lain, mereka juga mengajar bahwa hidup yang berkenan pada Allah adalah hidup yang menaati hukum Taurat. Manusia tidak dapat diselamatkan tanpa menaati hukum Taurat.

Apa yang tertulis dalam Alkitab mengenai keselamatan kita? Ayat diatas menulis bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Berdasarkan ayat ini, dan untuk zaman ini, kita bisa menafsirkan bahwa orang Kristen dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus, dan bukan karena ia melakukan kewajiban-kewajiban agama. Mereka yang rajin melakukan kewajiban agama saja adalah seperti mereka yang digolongkan sebagai orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang merasa sudah diselamatkan karena kesalehannya adalah orang yang beragama, tetapi belum tentu beriman kepada Tuhan Yesus.

Apa yang membawa kepada keselamatan adalah iman kepada Yesus, yaitu Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Jika manusia ingin berbuat baik untuk bisa masuk ke surga melalui agama, itu adalah usaha yang sia-sia karena sebagai manusia kita tidak dapat memenuhi syarat kesucian Allah. Agama penuh dengan peraturan yang dibuat manusia, tetapi iman datang dari Allah. Lebih dari itu, jika ketaatan pada hukum Taurat merupakan bagian syarat keselamatan, itu berarti bahwa pengurbanan Kristus di kayu salib adalah kurang sempurna.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pagi ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Kristus. Apakah kita sudah memercayakan masa depan kita, baik di bumi maupun di surga, kepadaNya. Ataukah kita masih berusaha berbuat berbagai kebaikan untuk memastikan keselamatan kita? Jika kita memang beriman, kita tidak perlu menguatirkan masa depan kita. Sebaliknya, dengan rasa syukur kita bisa hidup dalam kedamaian, dan dengan itu kita mau memuliakan Tuhan yang mahakasih dengan membaktikan kasih kita kepadaNya dan sesama kita setiap hari.

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Roma 10: 4

Janji Kristus sebelum naik ke surga

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Di tengah suasana pandemi ini, warga Australia mengalami krisis perumahan. Banyak warga Australia yang saat ini tidak memiliki rumah dan tidak juga mampu menyewa tempat tinggal. Salah satunya adalah Majik, yang berusia 52 tahun. Biasanya, Majik selalu menyelinap ke sebuah taman kota sebelum taman tersebut dikunci pada malam hari, sehingga dia bisa tidur dengan aman. Namun, menjelang datangnya musim dingin, tidaklah mudah bagi dia untuk mencari tempat yang aman dan yang tidak terlalu dingin. Hidup bagi para tuna wisma di Australia sama saja dengan mereka yang hidup di negara lain sekalipun di Australia ada banyak badan sosial.

Jika untuk memiliki rumah di dunia sudah begitu sulit, bagaimana pula untuk memiliki tempat tinggal di surga? Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan surga, hal sedemikian tentunya tidak perlu dipikirkan. Untuk apa memikirkan apa yang belum tentu ada, begitu banyak orang berpikir. Hidup di dunia hanya sekali saja, dan mereka tentunya ingin agar apa yang bisa dinikmati sekarang ini, bisa dicapai secepatnya.  Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang bekerja keras untuk mengumpulkan harta, guna menjamin kenyamanan hidup di dunia.

Bagi mereka yang mengenal Kristus, hidup yang ada sesudah hidup di dunia tentunya terkadang muncul dalam pikiran. Bagaimana rasanya hidup di surga? Benarkah bahwa segala sesuatu sangat indah dan nyaman ketika kita berada di surga? Memang, karena tekanan hidup yang besar di dunia ini, sebagian orang Kristen merasa gelisah karena apa yang diharapkan ada di surga tentunya belum bisa dilihat mata pada saat ini. Selain itu, dengan adanya pergumulan manusia selama di dunia melawan segala godaan, mungkin ada keraguan apakah Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja untuk bisa memasuki tempat kediaman di surga. Mungkinkah Tuhan membatasi jumlah orang yang akan ke surga seperti yang diajarkan oleh beberapa sekte Kristen? Mungkinkah surga hanya untuk mereka yang sering beramal seperti yang diajarkan agama lain?

Pada hari ini kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam ayat di atas, Yesus menyatakan perlunya Ia untuk kembali ke surga. Ia mengatakan bahwa ada banyak tempat di surga, dan Ia pergi untuk mempersiapkan tempat kediaman bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Siapapun yang percaya kepada Yesus adalah percaya kepada Allah yang mengutus Yesus dan yang memiliki surga. Tidak perlu diragukan bahwa karena Yesus mengatakan bahwa ada banyak tempat kediaman di surga, surga tidak akan menjadi penuh jika semua orang menjadi pengikut Kristus. Karena itu jugalah Kristus memerintahkan semua muridNya untuk mengabarkan injil ke seluruh penjuru dunia, supaya siapapun yang percaya kepadanya akan bisa bersama Dia di surga.

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Yohanes  14: 3

Hari ini, sebagai pengikut Kristus kita mendapat tantangan untuk bisa mempercayakan hidup kita, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepadaNya. Jika hidup kita saat ini terasa berat, Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga adalah Tuhan yang membimbing kita untuk bisa dengan iman, kuat menghadapi segala tantangan kehidupan sampai Tuhan menjemput kita dan membawa kita ke tempat di mana Ia sekarang berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Kita tidak perlu menjadi orang Yahudi

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Roma 2: 29

Sewaktu masih kecil, saya sering berpikir bagaimana bangsa Israel bisa menjadi umat pilihanNya. Tuhan memilih bangsa Israel dari mana Yesus Kristus akan dilahirkan sebagai Juruselamat umat manusia (Yohanes 3:16). Betapa beruntungnya bangsa Israel, bangsa pilihan Allah itu, begitu pikir saya. Tuhan pertama kali menjanjikan kedatangan Mesias selepas Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Tuhan kemudian meneguhkan bahwa Mesias akan datang melalui garis keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub (Kejadian 12:1-3).

Yesus Kristus adalah alasan utama mengapa Tuhan memilih Israel untuk menjadi umat pilihan-Nya. Tuhan tidak perlu mempunyai umat pilihan, namun Dia memutuskan untuk melakukannya dengan cara itu. Pada pihak yang lain, alasan Tuhan memilih bangsa Israel bukan semata-mata untuk membawa Mesias. Tuhan juga bermaksud supaya mereka menjadi orang yang membimbing orang lain kepada Tuhan. Tetapi, bangsa Israel telah gagal dalam melaksanakan sebagian besar tugas ini. Malahan, sebagian bangsa Israel tidak akan memeroleh keselamatan karena mereka tidak memercayai Yesus sebagai Mesias (Matius 21: 43). Karena itu, saya sekarang tidak lagi menganggap bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang beruntung.

Sejak kebangkitan Yesus, jumlah umat Kristen bertumbuh cepat di banyak negara. Tidak mengherankan bahwa ada orang-orang yang bukan Yahudi yang merasa bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, mereka harus hidup seperti orang Yahudi. Pada saat itu Paulus melihat bahwa orang Kristen di Roma mulai menonjolkan hal-hal yang berbau Yahudi, seperti hal mengikuti hukum Taurat dan kebiasaan Yahudi. Ia menegur jemaat Roma dengan menjelaskan bahwa semua yang nampak dari luar itu tidaklah penting. Apa yang penting adalah yang ada dalam hidup mereka sehari-hari.

Hukum Taurat yang berat itu, memang dalam pelaksanaannya sering membuat orang mencari jalan untuk bisa melanggarnya secara “halus”, yaitu melalui apa yang diperbolehkan menurut pikiran dan keputusan para pemimpin agama. Mereka terpaksa untuk memakai siasat “pilih-pilih” atau “pick and choose” untuk mencari cara gampangnya. Itulah sebabnya mengapa Paulus, yang sebenarnya adalah orang Farisi yang mengenal seluk-beluk hukum Taurat dan kebiasaan orang Yahudi, mengatakan bahwa mereka yang bersikeras untuk menerapkan hukum Taurat tetapi melanggarnya adalah lebih buruk dari mereka yang hidup dalam kebenaran walaupun tidak mengenal hukum Taurat.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” Roma 2: 14

Bagaimana orang percaya bisa berjalan dalam kebenaran tanpa memiliki hukum Taurat? Bagaimana mereka bisa menjadi orang Kristen sejati tanpa melalui hukum Taurat dan adat istiadat orang Yahudi? Yesus pernah berkata bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Ia menjelaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dapat diringkas menjadi hukum kasih (Matius 22: 37 – 40).

Pagi ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita pikir dan lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbananNya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru di dalam Dia.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28:

Perhatian kita harus sepenuhnya kepada Kristus

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam bepergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana di sekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan ke mana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Belum lagi kalau ada hal-hal yang mengalihkan perhatian kita dari arah yang benar. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Dalam perjalanan hidup, banyaklah hal-hal yang bisa mengalihkan kita dari arah yang benar. Banyak orang Kristen yang sepertinya mempelajari firman Tuhan, tetapi sebenarnya lebih memusatkan perhatian pada sejarah, humanisme, kebudayaan dan bahasa yang dipakai umat Tuhan yang ditampilkan dalam Alkitab. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju ke arah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 di atas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai perhatian yang dipusatkan kepada Kristus dan firmanNya saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Umat Kristen yang merasa percaya kepada Yesus, bisa saja tersesat jika pusat perhatian mereka berubah menjadi perhatian pada ajaran manusia yang selalu berubah-ubah di sepanjang masa.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai Alkitab dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju ke arah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra di luar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayai kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata, kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah; dalam perjalanan hidup kita harus selalu memusatkan perhatian kepada Yesus dan anugerah keselamatanNya sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Menyimak indahnya kepalsuan

“Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” Kisah Para Rasul 20: 30

Usaha membuat sesuatu lebih baik dari aslinya bukan saja dalam hal jual-beli barang, tetapi juga dalam hal keagamaan. Sejarah membuktikan adanya banyak orang yang jatuh ke dalam jebakan pemimpin-pemimpin agama atau sekte, yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar, yang dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat indah dan berguna. Orang yang terbujuk sering kali terjerumus sangat dalam dan sulit untuk disadarkan.

Sebenarnya sejak Yesus meninggalkan dunia ini sudah ada pemimpin-pemimpin kerohanian yang berusaha menarik orang-orang dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan pengikut Kristus bahwa orang-orang semacam itu harus diwaspadai karena mereka bukannya muncul sebagai orang yang tidak mengenal Kristus, tetapi justru terlihat sebagai pengikut Kristus.

Pada zaman sekarang, penyesat-penyesat seperti itu sangat sering muncul dalam kalangan Kristen, dan bahkan dalam gereja-gereja besar. Mereka yang mengajarkan hal-hal yang tidak berdasarkan Alkitab, yang menekankan pengertian mereka sendiri, yang menonjolkan pengalaman pribadi, semuanya untuk menarik umat supaya mengikut mereka, dan bukannya untuk mengikut Kristus. Mereka sering kali terlihat penuh dengan kebijaksanaan yang seolah datang dari Tuhan, tetapi semua itu adalah kepalsuan.

Mengenai Alkitab, beberapa golongan yang mengaku Kristen ternyata tidak mengakuinya sebagai satu-satunya firman Tuhan. Ada yang mempersoalkan penggunaan kata-kata tertentu dalam Alkitab, dan ada juga yang menambahkan ayat-ayat dari kitab-kitab kuno lain untuk “melengkapi” Alkitab. Salah satu kitab yang pernah dianggap sebagai bagian dari Alkitab adalah kitab Yasar yang berarti “kitab orang jujur”.

Ada sebuah buku yang disebut “The Book of Jasher” hari ini, meskipun itu bukan buku yang sama seperti yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Ini adalah pemalsuan abad kedelapan belas yang dituduh sebagai terjemahan dari Buku Jasher yang “hilang” oleh Alcuin, seorang sarjana Inggris abad kedelapan. Ada juga buku yang lebih baru berjudul “The Book of Jashar” oleh penulis fiksi ilmiah dan fantasi Benjamin Rosenbaum. Buku ini adalah karya fiksi yang lengkap.

Kitab Orang Jujur ( “Kitab al Mustakim”; “Buku Yasar”; bahasa Inggris: Book of Jasher atau Book of Jashar); juga dinamakan Book of the Upright (“Kitab Orang yang Benar”) atau Book of the Just Man adalah sebuah kitab non-kanonik yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama di Alkitab Kristen). Terjemahan “Kitab Orang Jujur” merupakan terjemahan tradisional bahasa Yunani dan Latin, sedangkan bentuk transliterasi “Jasher” ditemukan dalam Alkitab King James version tahun 1611.

Buku lain dengan nama yang sama, disebut oleh banyak orang “Pseudo-Jasher,” sementara ditulis dalam bahasa Ibrani, juga bukan “Book of Jasher” yang disebutkan dalam Alkitab. Ini adalah buku legenda Yahudi dari penciptaan hingga penaklukan Kanaan di bawah Yosua, tetapi para ahli berpendapat bahwa itu tidak ada sebelum 1625 M. Selain itu, ada beberapa karya teologis lain oleh para rabi dan sarjana Yahudi yang disebut “Sefer ha Yashar, ”Tetapi tidak satupun dari ini yang mengklaim sebagai Kitab Jasher yang asli.

Pada akhirnya, kita harus menyimpulkan bahwa sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati untuk tidak terperosok ke dalam apa yang kurang benar. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengagumi seorang yang nampak hebat dalam mengajarkan firman Tuhan, tetapi sering membicarakan apa yang baik dan buruk menurut pengertian dan pengalaman mereka sendiri, kita harus mau menguji apa yang disampaikan mereka bersama dengan saudara-saudara seiman yang lain. Kita harus sadar bahwa dengan kekuatan sendiri tidaklah mudah bagi kita untuk membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar. Karena itu kita harus mau untuk saling mendoakan, menguatkan dan mengingatkan agar kita bisa menjauhi guru-guru palsu yang ada di sekitar kita.

“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11: 13

Hambar menjadi manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 8 – 9

Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat di mana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, banyak orang yang merasa bahwa hidup ini berat.

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung pada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Orang Kristen seharusnya bisa merasa damai dan tenteram dalam setiap keadaan. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus. Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Yesus tidak hanya membuat keajaiban selama Ia hidup di dunia. Ia yang sekarang di surga, tetap bisa menolong kita seperti Ia sudah menolong tuan rumah perjamuan kawin di Kana dengan mengubah air menjadi anggur. Dengan Roh Kudus yang telah dikaruniakanNya, banyak orang Kristen yang dianiaya tetap bisa bertahan dalam hidup mereka dengan keteguhan iman. Dengan bimbingan Roh juga, kita yang mengalami kepahitan hidup dapat melihat kepada kasih kemurahan Tuhan yang sudah memberikan keselamatan kekal kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menurut perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini. Kekusutan pikiran tentu membuat orang murung, dan orang yang membiarkan hidup mereka untuk diisi kemurungan memang sulit untuk dapat merasakan kasih Tuhan.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk menguatkan hidup mereka. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini bukan cara berpikir positif, positive thinking, tetapi adalah cara hidup positif, positive action, yang bisa membawa damai sejahtera. Sebagai orang Kristen kita tidak berlarut-larut tinggal dalam pikiran yang tidak baik, tetapi selalu memusatkan pikiran dan harapan kita kepada Tuhan. Maukah anda hidup sesuai dengan firman Tuhan?

Tuhan menjadi manusia, mata hati kita melihat, dan kita bertindak

“Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Markus 6: 51 – 52

Banyak orang yang percaya bahwa apa pun yang kita lakukan, itu bukan 100 persen barang baru. Mereka percaya bahwa setiap tindakan manusia bukanlah berasal dari kehendak sendiri, karena setiap keputusan pasti dipengaruhi oleh apa yang sudah ada dalam pikiran mereka atau apa yang sudah mereka alami. Psikologis juga mengutarakan hal yang sama, bahwa tindakan manusia sering kali tidak logis karena pikiran mereka sudah dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dialami atau pengalaman sebelumnya. Pertanyaan untuk kita: Apakah ada orang yang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan apa yang pernah dialaminya?

Mungkin anda menjawab: Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik? Banyak orang yang berkata begitu. Tetapi, jika pengalaman adalah sesuatu yang berguna, dalam kenyataannya tidak semua orang mau atau bisa belajar darinya. Mereka yang keras kepala misalnya, tidak mau gampang-gampang menyerah dengan adanya hasil yang kurang baik dari usahanya, dan karena itu ingin terus mencoba usaha yang sama dengan harapan bahwa lain kali hasilnya akan lebih baik. Selain itu, ada orang yang tidak bisa mengerti bahwa apa yang sudah pernah dilakukannya dan gagal adalah sesuatu yang kurang baik, dan karena itu ia tetap ingin melakukannya.

Memang pengalaman yang dialami seseorang belum tentu bisa dipakai sebagai pedoman untuk masa depan. Pengalaman seseorang yang bersangkutan dengan hubungannya dengan orang lain atau situasi tertentu memang bisa memberi pelajaran berharga, tetapi belum tentu bisa dipakai untuk mengatasi persoalan yang serupa di masa depan. Itu karena keadaan bisa berubah: orang dan situasi yang dihadapi di masa depan mungkin saja berbeda dan itu memerlukan pendekatan yang berbeda. Pengalaman memang memberi pengetahuan empiris, tetapi itu belum tentu bisa dipakai untuk masa depan karena apa yang terjadi di dunia selalu berubah-ubah. Manusia bisa melihat dengan mata, dan dengan otaknya harus memutuskan apa yang akan dilakukannya.

Pada waktu itu, murid-murid Yesus baru saja menyaksikan suatu mukjizat dimana Yesus memberi makan lima ribu orang dengan modal lima roti dan dua ikan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia di dunia, tetapi Yesus sudah memungkinkannya. Apa yang dipikirkan murid-murid Yesus ketika itu? Tentunya mereka heran dan takjub melihat bagaimana Guru mereka bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa terjadi dalam alam mimpi. Pengalaman yang luar biasa itu tentunya membekas dalam pikiran dan hati mereka. Jika mereka mau dan bisa belajar dari pengalaman mereka, tentu mereka akan berubah menjadi orang yang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Yesus.

Tidak setiap orang mau dan bisa belajar dari pengalaman. Murid-murid Yesus ternyata tergolong kedalam jenis orang yang sedemikian. Mereka adalah orang yang tidak bijaksana. Karena itu, ketika mereka kemudian berperahu dan ditimpa angin badai, mereka menjadi takut. Mereka sudah lupa bahwa Yesus yang baru saja memberi makan lima ribu orang itu tentunya bukan manusia biasa. Pengalaman luar biasa yang dialami mereka sebelumnya ternyata tidak ada gunanya. Dengan kehendak mereka sendiri mereka menolak apa yang sudah dialami sebelumnya.

Kita yang percaya bahwa pengalaman belum tentu merupakan guru yang terbaik karena semua itu bersifat empiris dan hanya berlaku untuk keadaan waktu itu, mungkin ingin membela murid-murid Yesus. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa Yesus bisa berjalan di atas air dan menenangkan angin badai? Memang benar Yesus sudah membuat mukjizat dengan lima roti dan dua ikan, tetapi apakah Yesus bisa membuat keajaiban yang menundukkan hukum alam? Yesus sebagai manusia, tidak akan bisa berjalan di atas air dan menghentikan topan! Begitu pikir mereka.

Dalam kehidupan kita di tengah pandemi saat ini, mungkin kita tahu batas-batas di mana pengalaman kita yang lalu bisa berguna untuk menghadapi hari depan. Kita mungkin bisa mengekstrapolasi apa yang kita alami pada masa yang lalu untuk bisa diterapkan di masa depan. Tetapi, kita mungkin sadar bahwa situasi yang ada sekarang ini membuat kita tidak bisa memegang pengalaman kita sebagai guru yang terbaik. Keterbatasan manusia dan perbedaan situasi sering kali membuat kita meragukan manfaat pengalaman kita. Itu bisa dimengerti, kecuali untuk satu pengalaman.

Pengalaman yang kita alami dalam hidup karena campur tangan Tuhan tidak boleh diabaikan karena Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang tidak bisa dikalahkan oleh situasi dunia dan keterbatasan manusia. Jika Tuhan yang membimbing kita pada waktu yang silam, Ia juga dapat melakukannya di masa depan jika Ia menghendakinya.

Mungkin mata kita melihat apa yang ada di sekeliling kita, dan semua itu membuat kita gundah. Di manakah Tuhan saat ini? Tuhan memang tidak terlihat dengan mata kita, tetapi Tuhan seharusnya dapat dilihat oleh mata hati kita.

Hari ini, adakah kemasygulan di hati kita karena adanya banyak masalah di sekeliling kita? Adakah kekuatiran dan ketakutan karena bahaya yang muncul di mana-mana? Pengalaman hidup kita mungkin mencoba meyakinkan kita untuk tidak kuatir, tetapi pikiran kita tidak dapat meyakini bahwa Tuhan akan dapat menolong kita. Seperti murid-murid Yesus yang sudah melihat satu mukjizat besar tetapi tetap tidak sadar siapakah Yesus itu, kita mungkin tidak mengerti bahwa manusia dan situasi dunia yang berubah-ubah tidak dapat mengurangi kasih dan kuasa Tuhan.

Keputusan ada di tangan kita, apakah kita bertindak menurut apa yang kita lihat, atau menurut apa yang ada dalam hati kita. Biarlah pengalaman kita yang lalu di mana Yesus dengan kasihNya menebus kita dan membawa kita ke jalan keselamatan, bisa meyakinkan kita untuk mengambil keputusan untuk tetap beriman kepadaNya!

Tetap teguh dalam kasihNya

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Pernahkah anda mengalami pengalaman yang menakutkan? Jika pertanyaan ini diajukan 2 tahun yang lalu, mungkin ada orang yang menjawab “tidak”. Tetapi, setelah datangnya pandemi dan orang bisa melihat bagaimana wabah ini sudah menyebabkan penderitaan dan bahkan kematian di seluruh dunia, mungkin banyak orang akan menjawabnya dengan “ya”.

Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal yang terjadi, yang tidak dapat dikontrol. Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang akan dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak mudah dimengerti.

Sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa, dunia menjadi satu tempat yang penuh dengan semak duri (Kejadian 3: 17 – 19). Walaupun demikian, manusia eksis selama berabad-abad dan hidup sampai sekarang sekalipun banyak makhluk lain yang musnah. Jelas bahwa setiap manusia memang diberi kemampuan untuk bertahan dalam hidup oleh Tuhan yang mahakasih. Lebih dari itu, Tuhan memberi berbagai berkat khusus kepada mereka yang mengasihiNya.

Walaupun demikian, jika kita hidup menurut perintahNya, itu bukan berarti bahwa hidup kita akan selalu tenang. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita. Kunci keberanian orang Kristen adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan apapun.

Para murid Yesus pun mengalami berbagai penderitaan. Di antara apa yang tercatat dalam sejarah gereja, Matius dibunuh dengan pedang setelah disiksa terlebih dahulu. Yakobus anak Zebedeus, meninggal karena dipenggal di Jerusalem. Bagaimana dengan Petrus? Ia meninggal dengan cara disalibkan terbalik dengan kepala menghadap ke bawah. Andreas juga meninggal dengan cara disalib seperti Petrus di Yunani. Thomas meninggal karena dihujani tombak, dan sebelumnya dia sempat dilempar kedalam perapian, tetapi tidak meninggal. Matias, yang merupakan Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal karena dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Apa yang membuat orang Kristen bisa bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan bahaya dan lebih tabah dari orang lain? Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma menyebutkan kunci kekuatan umat Kristen yaitu kasih Allah. Bahwa tidak ada kuasa atau keadaan yang akan dapat memisahkan umat Kristen dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus sendiri disiksa dengan kejam dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero pada abad pertama. Ia adalah rasul yang paling lama mengalami penyiksaan di penjara dan karena itu kebanyakan suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.

Bagi umat Kristen yang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, kasihNya yang mereka rasakan hari demi hari dalam hidup mereka, membuat mereka selalu tabah dan tidak takut menghadapi goncangan dalam hidup. Sekalipun keadaan di dunia saat ini makin mencekam, mereka sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebagian kecil dari hidup keseluruhan. Bagi mereka, hidup yang ada sesudah hidup di dunia adalah yang paling penting.

Hari ini, suasana disekitar kita mungkin terasa suram dan kekuatiran mulai muncul dalam pikiran kita. Apa yang akan terjadi pada diri kita, dan apa pula yang akan muncul di hari-hari mendatang? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan Tuhan tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas akan masa depan kita. Tetapi, apa yang pasti adalah kasih dan kuasaNya. Tuhan yang mahakasih selalu memberi kita kekuatan dan Ia yang mahakuasa pasti memberi apa yang terbaik untuk kita. Dengan itu kita boleh yakin bahwa pada akhirnya rencana agung Tuhan akan terjadi dan itu adalah baik untuk kita!

Hidup di tengah pandemi

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya kesehatan tubuh untuk bisa menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh makan apa saja yang terasa enak, menghirup asap rokok sendiri atau asap rokok orang lain, atau membuang sampah secara sembarangan sudah berlalu, dan orang bisa ditegur jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang tidak peduli; bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Jika ada orang-orang yang melakukan hal-hal di atas tanpa merasa bersalah, mungkin kita berpikir bahwa mereka mungkin kurang sadar akan dampaknya. Barangkali kita berpikir bahwa tiap orang boleh memilih apa yang sesuai dengan kehendak mereka. Mungkin juga ada orang yang berpikir bahwa orang-orang semacam itu sudah ditakdirkan untuk hidup seperti itu. Hidup dalam realitas sehari-hari. Karena banyaknya orang yang menderita penyakit, mungkin orang merasa biasa, dan bahkan kebal, dalam melihat apa yang seharusnya terasa menyedihkan, yang terjadi dalam masyarakat. Begitu juga orang Kristen, banyak diantara mereka yang kurang sadar akan peran mereka dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Beberapa hari yang telah lalu kita melihat di media adanya puluhan ribu orang yang menyerbu sebuah pasar di Jakarta untuk membeli barang-barang yang murah. Mereka tidak peduli bahwa pada saat pandemi ini, orang harus berwaspada akan kemungkinan tertular atau menulari orang lain. Di negara barat, kejadian yang serupa juga ada walaupun untuk maksud yang lain, seperti menghadiri acara-acara atau melakukan aktivitas yang mengundang ribuan orang. Asal diri sendiri puas, peduli amat dengan orang lain!

Masalah kesehatan umum adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum dan medis, bukan agama. Walaupun begitu, ayat di atas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal kesehatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri. Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil risiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan risiko bagi orang lain, terutama risiko bagi mereka yang kurang dalam hal kepandaian dan kemampuan.

Hari ini, dalam mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa mencelakakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita sudah mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Kita adalah pekerja Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Hari ini adalah hari libur untuk ganti hari buruh di negara bagian Queensland karena hari buruh 1 Mei 2021 kebetulan jatuh pada hari Sabtu yang sudah merupakan hari libur umum. Dengan demikian, hari Senin ini adalah pengganti hari Sabtu yang lalu. Secara tradisi, pada hari buruh banyak anggota serikat buruh yang berbaris ke kota untuk menyuarakan berbagai tuntutan kepada negara agar memperbaiki nasib kaum buruh.

Manusia memang diciptakan Tuhan untuk bekerja. Pada mulanya, pekerjaan bukanlah sesuatu yang berat ataupun hal kurang bisa dinikmati. Manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak pekerjaan atau orang lain, sebaliknya untuk menjadi penguasa bumi, sebagai wakil Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Walaupun manusia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan penciptaNya, dalam batas-batas tertentu manusia bisa membuat atau menciptakan sesuatu yang baik atau indah bagi sesamanya. Itu memang tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak mulanya, untuk mengatur isi bumi ini sebagai utusanNya. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, memang diberiNya kemampuan untuk melakukan apa yang perlu untuk jalannya kehidupan di bumi.

Sebagai manusia yang bisa berkarya, salah satu kewajiban manusia dalam membuat sesuatu hasil, baik itu kecil ataupun besar, adalah untuk merampungkan tugasnya dengan baik sehingga mereka yang memakai atau menggunakannya akan mendapat manfaat dan bukannya masalah.

Apapun peranan kita dalam hidup sehari-hari, kita harus bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Ini, jika dilihat dari sudut pandangan kekristenan, adalah sesuatu yang seharusnya karena Tuhan yang menciptakan manusia juga mempunyai prinsip yang sama: jika Ia bekerja, Ia bekerja sampai tuntas. Jika Ia mencipta, Ia menciptakan segala sesuatu sampai selesai dan berfungsi dengan baik.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1: 31

Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Sang Pencipta tentu mengerti bahwa apapun yang mereka kerjakan, haruslah membawa kebaikan – seperti Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu sehingga terlihat sangat baik dan berfungsi dengan sempurna. Dalam hal ini, pria maupun wanita yang mengurus rumah tangga sudah tentu adalah contoh pekerja yang baik, yang membawa kebahagiaan bagi pasangan dan anak-anak mereka.

Dalam kenyataannya, banyak manusia yang bekerja hanya untuk uang, sebagai keharusan, atau demi keuntungan dan kemasyhuran diri sendiri. Mereka sering kali bekerja secara asal-asalan dan tanpa memikirkan resiko untuk dirinya dan orang yang disekitarnya; dan karena itu bisa mendatangkan kekacauan dan penderitaan bagi orang lain. Manusia juga sering merasa malang karena harus bekerja keras untuk “mencari sesuap nasi”.

Hari ini marilah kita memikirkan apa yang perlu kita persiapkan dan lakukan di hari-hari mendatang. Firman Tuhan berkata bahwa Ia sudah menciptakan apa yang baik untuk kita, dan karena itu kita harus bisa memakai dan mengelolanya dengan baik. Biarlah kita mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sekadar memenuhi kewajiban kita!