Dalam kesesakan, kasih Tuhan tetap ada

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” Mazmur 25: 10

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Mazmur ini adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu, mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Mengapa ini harus terjadi pada diriku? Itulah pertanyaan yang sering muncul. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa, bahkan ia sudah merebut Batsyeba dan menyebabkan kematian suaminya, Uria. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan dan hidup aman-tenteram itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan. Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12).

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15, kakinya sudah terperosok dalam jaring) tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada di sekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Saat ini, ada banyak orang yang menderita karena dampak pandemi. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan sanak saudara, suami atau istri, atau pun orangtua. Kapan pandemi ini berakhir belumlah dapat dipastikan, sekalipun dapat diperkirakan bukan di tahun 2021. Sebagai manusia, kita merasa sedih dan kuatir. Seperti Daud,  kaki kita terasa seperti sudah terperosok dalam jaring. Mengapa semua ini harus terjadi dalam hidup kita?

Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Mengapa ada kabar palsu?

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11: 14

Di saat semua negara berlomba untuk mengadakan vaksinasi bagi rakyatnya, mereka yang anti vaksin juga bertambah giat menyuarakan pendapat mereka. Seiring dengan itu, di berbagai media muncul berita-berita miring yang menyebutkan bahwa vaksin tertentu bisa menyebabkan kemandulan, vaksin yang lain adalah pemasangan chip untuk memonitor kehidupan orang, atau vaksin tertentu akan mengubah genetik pemakainya dan berita-berita lainnya. Semua itu menambah kebingungan rakyat jelata yang sebenarnya hanya ingin agar pandemi ini segera berakhir.

Sejak adanya internet, orang bisa mendapat berita dari mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Hal itu memang baik jika berita yang disampaikan adalah berita yang benar, yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, berita palsu atau fake news seringkali membawa kekacauan dan kekuatiran dalam hidup bermasyarakat. Celakanya, orang seringkali menyampaikan berita palsu sedemikian kepada orang lain sekedar untuk berbagi berita. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau berbagai hoax yang muncul dan beredar selama bertahun-tahun masih juga bisa memakan korban baru.

Sebenarnya fake news itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Berita palsu yang diciptakan iblis, membuat Adam dan Hawa terkecoh (Kejadian 3: 4-5). Karena itu, berita palsu yang muncul setiap hari di zaman ini dan yang berusaha mengacaukan masyarakat pada umumnya, dan umat Kristen pada khususnya, sudah dapat dipastikan akan mendapat dukungan iblis. Iblis adalah bapa segala dusta.

“…Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Jika sebuah berita palsu itu terkadang sulit dibedakan dari berita yang benar, dengan penyelidikan yang teliti biasanya orang bisa memutuskan benar tidaknya berita itu. Walaupun demikian, orang seringkali tidak mau menyempatkan diri untuk mempelajari benar tidaknya, tetapi langsung menyampaikan berita itu ke orang lain. Mungkin saja si pengirim menganggap bahwa jika pun berita itu palsu, ia bukanlah pembuatnya dan karena itu ia tidak bersalah. Benarkah?

Apa yang harus kita sadari ialah kekacauan di dunia dan diantara umat Tuhan adalah sesuatu yang dikehendaki iblis. Karena itu, jika kita melakukan hal-hal yang serupa dengan apa yang dilakukan iblis, kita sudah sependapat dengannya; kita seolah sudah menjadi “agen” iblis. Lebih parah dari itu, ada orang-orang yang mengaku Kristen tetapi dengan sengaja memutarbalikkan fakta dengan menyebarkan berita palsu. Mungkin saja iblis sudah menyamar sebagai anak-anak Tuhan!

Memang mungkin kita tidak dengan sengaja menyebarkan berita palsu. Kita memang tidak selalu sadar bahwa melalui perbuatan kita, iblis bisa mendapat kesempatan untuk mengacaukan kehidupan manusia, terutama umat Tuhan. Dalam hal ini, iblis sering memanfaatkan kelemahan manusia yang seringkali memilih apa yang tidak baik dalam ketidaktahuannya.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita berpihak kepada Yesus, kita harus awas dan waspada untuk menghindari apa yang tidak baik. Kita harus mempunyai kebijaksanaan dan tanggung jawab untuk bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk, apa yang benar dari apa yang palsu. Biarlah Tuhan menolong kita dengan bimbingan Roh Kudus!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Ingin jadi nomer satu?

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 26 – 28

Sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris berbunyi: “The first to apologise is the bravest. The first to forgive is the strongest. The first to forget is the happiest” yang berarti “Orang pertama yang bisa minta maaf adalah yang paling berani. Orang pertama yang bisa mengampuni adalah yang paling kuat. Orang yang pertama bisa melupakan apa yang jelek adalah yang paling berbahagia”. Pengarang ungkapan ini tidaklah diketahui, walaupun ini sangat sering disebut orang karena maknanya yang dalam.

Memang kebanyakan orang ingin untuk mempunyai keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan, terutama dalam suasana pandemi saat ini. Orang ingin dipandang sebagai orang yang kuat dan teguh dalam menghadapi bahaya dan ancaman. Orang juga ingin untuk menjadi orang yang berbahagia dan tetap bisa merasa tenteram sekalipun keadaan di sekelilingnya kacau balau.

Dalam kenyataannya, tidaklah ada orang bisa sepenuhnya mempunyai keberanian, kekuatan dan kebahagiaan selama hidup di dunia. Hidup manusia sejak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa memang penuh semak duri, bahaya, perjuangan dan air mata. Mungkin manusia mencoba untuk menjadi pemimpin yang dikagumi atau ditaati karena keberaniannya, dan dengan itu selalu meyakinkan diri sendiri bahwa ia adalah orang yang selalu benar, dan tidak perlu meminta maaf. Pada pihak yang lain, ada orang yang merasa bahwa dirinya paling kuat dan berkuasa, dan karena itu tidak mau memaafkan orang lain. Selain itu, ada orang yang tidak bisa melupakan pengalaman pahit yang telah terjadi pada dirinya karena merasa bahwa ia tidak sepantasnya untuk mengalami hal itu.

Ketiga reaksi manusia: yang tidak mau meminta maaf, yang tidak mudah memaafkan, dan yang tidak mudah melupakan perbuatan orang lain mungkin sering dipandang manusia sebagai karakter orang yang mempunyai harga diri. Bukankah orang yang tidak demikian justru sering menjadi bulan-bulanan orang lain? Bukankah mereka yang lemah lembut dan murah hati justru sering diperlakukan dengan semena-mena dan dibully orang lain? Dalam hal ini dunia mengajarkan bahwa jika kita tidak menempatkan diri kita setinggi mungkin, orang lain akan menginjak-injak kita.

Harga diri, sakit hati dan pengalaman buruk adalah tiga hal yang menyebabkan manusia hidup dalam api kemarahan. Ini tidak saja bisa terjadi di tempat kerja dan di sekolah, tetapi juga di gereja dan bahkan di rumah tangga. Begitu mudah orang bertengkar karena adanya perbedaan pendapat yang kemudian menimbulkan rasa benci dan saling tuding. Keadaan bisa makin memburuk jika tidak ada pihak yang mau meminta maaf, mau memaafkan dan mau melupakan apa yang sudah terjadi. Dengan demikian banyak hubungan yang retak antara suami dan istri, antar teman, antara orangtua dan anak, dan bahkan sampai pada hubungan antara para pemimpin perusahaan, gereja dan negara.

Setiap orang ingin dihargai, dan sering merasa dirinya adalah yang paling benar. Selain itu, jika ia membuat kesalahan, ia selalu mengharapkan orang lain untuk melupakannya. Sebaliknya, orang tidak mudah mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Mereka yang merasa besar atau ingin dipandang sebagai pemimpin tidak mau menunjukkan kelemahannya karena kuatir kalau-kalau derajatnya menurun dalam pandangan orang lain. Dengan demikian, hidup orang semacam itu biasanya penuh kekuatiran, kemarahan dan jauh dari kedamaian.

Ayat di atas diucapkan oleh Yesus sebagai pedoman hidup mereka yang ingin bebas dari kekuatiran, kemarahan dan ingin bahagia hidupnya di tengah masyarakat, gereja dan keluarga. Mereka yang ingin menjadi besar dan dihormati haruslah siap untuk melayani dan berkurban untuk orang lain, seperti Yesus yang sudah disalibkan untuk ganti kita. Dengan demikian hidup orang yang benar bukanlah berpusat pada “aku” dan “ego”, tetapi pada bagaimana ia bisa menolong dan membimbing orang lain. Seorang murid Tuhan tidak segan untuk meminta maaf, memaafkan dan melupakan perbuatan orang lain yang kurang baik, karena ia sudah lebih dulu diampuni oleh Tuhan. Orang Krisen yang sedemikian adalah orang yang pemberani, yang kuat dan yang berbahagia dan mau berkurban untuk orang lain.

“Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18: 2-4

Manusia berusaha, Tuhan memutuskan

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Secara umum, perubahan iklim (climate change) adalah fenomena pemanasan global (global warming), dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca (green house gasses) pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil.

Ada banyak dampak perubahan iklim itu, antara lain:

  • Curah hujan tinggi
  • Musim kemarau yang berkepanjangan
  • Peningkatan volume air laut akibat mencairnya es di kutub
  • Terjadinya bencana alam angin puting beliung
  • Berkurangnya sumber air

Diantara mereka yang sering terkena dampak langsung perubahan iklim adalah kaum petani yang bergantung pada adanya persediaan air yang cukup. Musim kemarau yang berkepanjangan dan curah hujan yang terlalu tinggi bisa memorakporandakan usaha mereka.

Hidup manusia mungkin bisa dibayangkan sebagai hidup para petani yang bergantung pada adanya air dalam jumlah yang dibutuhkan. Adakalanya manusia dalam hidup ini menantikan datangnya pasangan hidup, pekerjaan, vaksin dan berbagai kebutuhan yang lain. Seringkali penantian itu berlangsung lama sekali dan karena itu rasa kuatir pun mulai muncul. Akankah aku mendapatkannya?

Mereka yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan mungkin merasa lega. Rasa gembira muncul sesaat, namun apa yang diperoleh sering tidak seperti yang diharapkan. Rasa khawatir mula-mula muncul karena tidak adanya sesuatu, berubah menjadi rasa kuatir lain setelah datangnya sesuatu yang semula diharapkan. Hidup manusia dengan demikian tidak dapat mengalami kedamaian. Kurang bisa menjadi kuatir, tetapi terlalu banyak juga bisa menimbulkan rasa kuatir. Mengapa manusia selalu cenderung kuatir?

Kekuatiran menunjuk kepada kelemahan manusia yang tidak berkuasa atas masa depannya. Seandainya manusia bisa mengatasi semua persoalan hidup, kekuatiran tidak akan muncul. Dengan demikian, bagi orang beriman adanya kekuatiran di dunia hanya membuktikan bahwa semua manusia bergantung kepada kemurahan Tuhan semata. Karena itu, untuk orang yang percaya kepada Tuhan, kekuatiran sebenarnya tidak ada gunanya dan hanya memperlemah semangat hidup mereka.

Jika kekuatiran itu harus dihindari, “kepikiran” itu lumrah. Kita sebagai manusia harus bisa memikirkan apa yang bisa terjadi dan mengambil tindakan dan keputusan. Sebagai manusia kita tahu bahwa tiap hari ada persoalan yang harus kita hadapi (Matius 6: 34). Hidup tanpa menyadari adanya berbagai kemungkinan, risiko dan bahaya adalah hidup dalam alam mimpi. Tetapi, sebagai anak-anak Tuhan kita bisa menyerahkan segala persoalan kita kepadaNya. Tuhanlah yang mengambil keputusan apakah usaha kita adalah sesuai dengan rencanaNya dan Dia bisa membuat segala sesuatu yang tidak dikehendakiNya untuk menjadi apa yang baik sesuai dengan kasih dan kebijaksanaanNya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hanya Tuhan yang tidak pernah lelah

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40: 28-29

Rasa lelah. Semua orang tahu bagaimana rasanya. Hari ini saya berkebun selama 6 jam, dan sekarang kaki serta punggung saya terasa kurang nyaman. Begitulah hidup di negeri orang, semua harus dikerjakan sendiri.

Sejak kecil kita tentu pernah merasa lelah; lebih sering sewaktu kanak-kanak, agak berkurang setelah dewasa, tetapi kembali menjadi sering ketika mulai tua. Istirahat yang cukup biasanya bisa memulihkan kesegaran. Namun, berapapun umur kita, kadang-kadang kita bangun dari tidur yang cukup lama, tetapi masih tetap merasa lelah.

Apa penyebab rasa lelah? Dari segi medis, kelelahan bisa terjadi secara fisik maupun psikologis. Seorang yang sudah bekerja berat atau berolahraga intensif akan mengalami kelelahan. Begitu juga orang yang mengalami beban mental yang berat, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan psikis. Karena fisik dan psikis saling memengaruhi, adanya kelelahan fisik bisa memengaruhi keadaan psikis atau mental seseorang, dan begitu juga kelelahan psikis atau mental bisa membuat orang mudah lelah secara fisik. Kedua kelelahan ini biasanya bisa diatasi dengan mengistirahatkan tubuh dan pikiran.

Bagaimana pula dengan kelelahan spiritual? Kelelahan spiritual terjadi jika seseorang merasa Tuhan itu tidak ada atau jauh darinya. Keadaan ini sering membuat manusia mengalami kelelahan yang luar biasa dan bahkan kehancuran karena manusia kehilangan arti hidupnya.

Manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah selalu merasakan adanya sesuatu yang mahabesar, yang tidak dapat dilihatnya: Tuhan. Selama beribu-ribu tahun, dalam sejarah tercatat bahwa manusia melalui berbagai agama dan kepercayaan, berusaha menemukan tuhan-tuhan yang hanya bisa mereka bayangkan. Tetapi, jika manusia bisa menemukan Tuhan yang mahabesar, pastilah itu bukanlah Tuhan. Jika manusia yang terbatas bisa mengenal Oknum yang mahabesar, itu berarti ia adalah mahabijaksana; atau sebaliknya, ia tidak mengerti bahwa Tuhan yang benar adalah Oknum yang tidak bisa dimengertinya,

Bagi kita umat Kristen, Tuhan yang satu-satunya hanya dapat dikenali dengan sempurna melalui Yesus Kristus, karena Ia yang telah menyatakan diriNya sebagai manusia. Allah membuat diriNya dikenal oleh manusia karena dengan usaha sendiri mustahillah manusia bisa menentukan mana Tuhan yang benar. Mereka yang mencoba mengenali Allah tanpa menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka akan menemui jalan buntu.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Hari ini, jika kita mengalami kelelahan fisik dan psikis yang berat dan melihat bahwa tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menolong kita, ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Ia mahabijaksana dan mau memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Apa yang harus kita lakukan dalam beratnya kehidupan di saat ini hanyalah berdoa dengan iman kepada Allah kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Tidak semua makanan itu berguna

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Bagi sebagian orang, hari ini adalah hari yang istimewa: hari Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh adalah perayaan bulan purnama pertama di awal tahun. Jika Imlek 2572 atau Imlek 2021 jatuh pada 12 Februari 2021, maka Cap Go Meh 2021 jatuh pada 15 hari setelah Imlek.

Menurut tradisi kuno di Indonesia, hari Cap Go Meh adalah hari yang dirayakan dengan makan lontong Cap Go Meh. Tapi, karena Indonesia masih dalam suasana pandemi, perayaan Cap Go Meh tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena tidak bisa makan-makan di restoran, banyak orang yang merayakannya bersama keluarga di rumah saja.

Makanan itu sesuatu yang sangat penting di dunia. Bagi banyak orang kesempatan untuk bisa makan besar dirasakan sebagai suatu keharusan. Anda setuju? Tentunya semua orang tahu bahwa tanpa makan, orang tidak dapat hidup. Bukan saja manusia, tetapi semua makhluk di dunia ini perlu makan. Walaupun demikian, manusia sebagai makhluk yang berbudi-daya, tidaklah puas dengan makanan yang ‘biasa-biasa’ saja. Karena itu kebutuhan untuk makan enak, makan besar dan makan-makan adalah lumrah.

Sesekali makan besar tidak ada salahnya. Walaupun demilkian, Paulus dalam ayat di atas menulis bahwa sekalipun segala sesuatu diperbolehkan, bukan segala sesuatu berguna. Karena itu, bukan segala sesuatu adalah baik untuk dilakukan. Lalu, apakah yang “baik”, yang berguna dan membangun, yang boleh dan patut dilakukan?

Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan apa saja, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10: 31). Dengan demikian, apa yang berguna adalah segala sesuatu yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan membangun kerajaanNya di dunia. Umat Kristen seharusnya hidup dan memakai hidup mereka untuk menerangi dunia agar makin banyak orang yang bertobat dari hidup lamanya dan kemudian menjadi umatNya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Makanan adalah berkat karunia Tuhan, tetapi jika disalahgunakan bisa membawa masalah. Kebanyakan makan sudah jelas tidak baik, apalagi kerakusan mungkin bisa dipandang sebagai salah satu dosa utama oleh sebagian orang. Salah makan, bukan saja bisa membuat perut kita sakit, tetapi juga dapat menimbulkan hal-hal yang lebih serius di masa mendatang.

Jika salah makan yang dialami seseorang bisa membawa akibat langsung pada keadaan jasmaninya, adakah makanan yang bisa mempengaruhi keadaan rohaninya? Tentu! Bagi orang Kristen, apa yang jauh lebih penting untuk masa depan kita adalah makanan yang murni dan suci, yaitu Firman Tuhan. Dengan firman Tuhan, kita akan bisa menjalani hidup ini dalam ketabahan dan kebenaran sampai saat kita bertemu dengan Juruselamat kita di surga. Mereka yang melihat kesehatan rohani kita tentunya akan tertarik untuk meniru kita dan menjadi orang percaya!

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Bertahan dalam penderitaan

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Dengan adanya pandemi, banyaklah orang yang mengalami musibah. Entah itu karena kehilangan pekerjaan, kehilangan sanak, atau terjangkit virus corona. Apa yang dialami oleh sebagian orang, mungkin mirip dengan apa yang dialami Ayub yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan. Dalam keadaan yang sudah terasa berat saat ini, masih ada saja orang yang menemui masalah-masalah lain yang disebabkan ulah orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih, tetapi tidak perlu terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri, yang bisa membuat orang sekuat bagaimana pun menjadi lumpuh.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Saat ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Jangan tergoda atau menggoda

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6

Hari-hari ini, ketika saya membaca media, selalu ada saja berita tentang adanya orang yang berselingkuh atau melakukan perbuatan asusila lainnya. Dalam hati saya heran bagaimana berita semacam itu justru bisa membuat orang yang bersangkutan menjadi populer . Mereka yang melakukan perbuatan yang tidak pantas itu bahkan seolah-olah bangga dengan apa yang dilakukan, sehingga mereka merasa perlu menyebar-luaskan apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Banyak diantara orang-orang itu yang mengaku bahwa mereka sudah tergoda untuk melakukan sesuatu yang terlihat nikmat. Selain itu ada juga kisah tentang orang-orang yang suka menggoda orang lain agar mau berbuat hal-hal yang tidak baik. Hal tergoda dan menggoda memang bisa menjadi berita yang membuat kecanduan banyak pembaca. Dalam hal ini sudah jelas bahwa manusia pada hakikatnya sulit untuk menguasai diri.

Dalam Galatia 5: 22-23 ada tertulis 9 buah Roh yang sudah sering dibahas, kecuali yang terakhir, yaitu penguasaan diri. Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? Seandainya tubuh dan hidup kita di dunia ini adalah sebuah mobil dan kita adalah pengemudinya, kita harus dapat menguasai mobil kita agar tidak mengalami musibah, agar tidak mencelakakan diri kita sendiri atau orang lain. Sesudah kita mendapatkan sebuah SIM yaitu menerima anugerah keselamatan dari Yesus, hidup di dunia tidaklah berubah menjadi hidup yang bebas dari bahaya. Menjadi umat Tuhan juga tidak berarti kita bisa mengarungi hidup yang penuh bahaya dan tantangan ini dengan mudah. Kita membutuhkan kemampuan untuk menguasai diri, untuk hidup dengan bertahan atas segala ancaman dari dalam dan luar.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Roma 7: 22-23

OMemang sewaktu kita menjawab panggilan keselamatan Kristus, kita merasakan kebahagiaan yang tersendiri. Karena kalau tidak karena kasih Allah, kita tidak mungkin bisa mendapat kesempatan untuk diselamatkan dan masuk ke surga. Seperti orang yang baru mendapat SIM, hati kita menjadi besar dan dengan itu kita mungkin mudah merasa yakin bahwa kita akan dapat menghadapi hidup ini dengan tenang, tanpa kuatir dalam menghadapi segala persoalan. Tetapi, dalam ketenangan hidup yang sedemikian, orang Kristen sering lupa bahwa iblis akan berusaha mencari kesempatan untuk menyerang kita sewaktu kita lengah.

Penguasaan diri adalah salah satu hal yang sering dilupakan oleh orang Kristen dalam menghadapi segala godaan kecil maupun besar dalam hidup ini. Seringkali godaan-godaan ini justru timbul ditempat dimana kita merasa aman: di kantor, dalam keluarga, dan juga di gereja dan di antara teman-teman baik kita. Tidak jarang bahwa orang yang sudah terbiasa dengan hidup menantang bahaya, justru merasa makin tertarik untuk melakukan hal yang terlarang jika risikonya makin besar. Tidaklah mengherankan bahwa adanya pandemi saat ini justru membuat orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang tercela.

Godaan-godaan ini belum tentu muncul sebagai kejahatan yang jelas terlihat, tetapi muncul sebagai perbuatan, perkataan, sikap, tingkah-laku dan keputusan yang melanggar perintah-perintah Kristus dan etika kekristenan. Seringkali hal-hal semacam itu juga melanggar hukum dan peraturan negara. Godaan-godaan itu mungkin muncul sebagai hal yang baru dalam hidup kita, tetapi seringkali adalah sisa peninggalan hidup lama kita yang belum bisa dihilangkan. Seperti apa yang dialami Adam dan Hawa, hal-hal yang sedemikian bisa menghancurkan hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

Hari ini kita belajar bahwa seperti mengemudikan mobil, kita perlu mengembangkan kemampuan kita untuk menguasai diri dalam perjalanan hidup ini. Kita harus mau belajar tiap hari untuk makin bisa membiarkan Roh Kudus untuk menguasai hidup kita. Hidup ini bisa menjadi suatu tantangan yang tidak bisa teratasi jika kita berusaha mengendalikannya dengan usaha sendiri. Tetapi dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menguasai diri kita dan tetap kuat dalam menghadapi segala tantangan hari demi hari.

Belajar bersabar dalam menghadapi masalah

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Dalam suasana pandemi ini, banyaklah orang yang berusaha untuk tidak tertular virus corona. Bagi mereka yang sudah terlanjur terkena virus ini, usaha untuk cepat sembuh seringkali membuat mereka mengambil jalan di luar apa yang ditentukan dokter. Oleh sebab itu, berbagai obat timur atau barat sekarang ini banyak ditawarkan di media bagi mereka yang sudah tidak yakin akan apa yang dilakukan oleh dokter atau rumah sakit mereka.

Mengapa orang senang memakai obat-obat “gelap” semacam ini? Ada berbagai alasan yang mungkin mereka berikan. Obat-obat tertentu mungkin dianggap lebih manjur sekalipun belum ada bukti ilmiahnya. Pemakainya mungkin percaya bahwa obat-obat itu lebih manjur dari obat dokter karena sudah banyak orang yang memakainya.

Didalam hidup kekristenan, kita sekarang juga sering mendengar dan menyaksikan adanya “penjual obat manjur” di gereja. Mereka yang menjanjikan penyelesaian instan masalah-masalah kita; masalah keuangan, hal kesuksesan, masalah kesehatan, soal hubungan kemanusiaan dll. Semuanya seolah bisa diselesaikan hanya melalui iman dan doa kita kepada Tuhan.

Seperti obat-obat yang dijual bebas dan menjanjikan kesembuhan instan, berbagai cara dan jalan diajarkan pembicara-pembicara di gereja untuk dapat memperoleh berkat Tuhan. Bahkan, mereka seolah mengajarkan cara untuk membuat Tuhan mendengarkan dan menuruti permohonan kita. Tokoh-tokoh gereja bermunculan dan menjadi tenar karena mereka membuat jemaatnya terpukau akan kata-kata mereka. Kesaksian demi kesaksian diperagakan oleh mereka sebagai bukti bahwa jika kita memakai cara tertentu, Tuhan akan menjawab permintaan kita secara instan.

Sungguh disayangkan bahwa begitu banyak orang Kristen yang tekecoh oleh berbagai ajaran yang keliru itu. Mereka tidak sadar bahwa jalan pikiranTuhan bukan jalan pikiran manusia. Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat atau termudah, tetapi adalah jalan yang terbaik buat umatNya. Sebaliknya, ada tokoh-tokoh gereja yang merasa bisa melakukan berbagai hal-hal ajaib dan meramalkan masa depan manusia. Mereka memuliakan dirinya sendiri dan dipermuliakan jemaatnya. Mereka menjadi guru-guru yang sukses seperti apa yang tertulis dalam Alkitab:

“Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.”  2 Petrus 2: 3

Untuk mereka yang dekat dengan Tuhan, kebijaksanaan rohani sudah dikaruiniakan Tuhan untuk bisa membedakan apa yang benar dari apa yang keliru. Mereka akan mengerti bahwa Tuhan mendengar permohonan anak-anakNya tetapi tidak dapat diperintah oleh siapapun. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal Tuhan tidak akan dapat mengerti bahwa segala sesuatu bergantung pada kebijaksanaanNya.

Memang manusia cenderung berbuat kekeliruan yaitu mudah tertarik atas solusi  yang instan. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus: untuk memperoleh status yang sama dengan Allah mereka memilih cara yang keliru. Kesalahan fatal! Seperti itulah banyak orang Kristen yang tergoda untuk memperoleh hasil yang hebat dan besar dalam waktu yang singkat, dan mereka jatuh kedalam perangkap dosa. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah pekerjaan iblis.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”  2 Tesalonika 2: 9

Perjuangan hidup ini tidak mudah, apa yang kita minta belum tentu terjadi menurut apa yang dihatapkan. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan apa yang terbaik, yaitu kasihNya, yang tidak dapat lenyap dalam hati kita. Mereka yang tidak mengerti akan hal ini tidak akan juga dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Lain dulu lain sekarang?

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Dalam kitab Kejadian 2 disebutkan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.

Keadaan dunia sejak kejatuhan dalam dosa sudah berubah sedemikian rupa sehingga manusia tidak lagi jernih pikirannya dan menjadi kacau hidupnya. Itu adalah konsekuensi dosa yang sudah dilakukan manusia, yang sudah merusak hubungan manusia dengan Penciptanya. Apa yang seharusnya tidak membawa rasa malu, sekarang bisa membebani pikiran manusia. Sebaliknya, apa yang seharusnya membuat rasa malu, orang melakukannya tanpa rasa segan. Mata dan pikiran yang seharusnya tidak menyebabkan manusia berbuat dosa, sekarang menjadi penyebab utama untuk jatuh dalam dosa.

Di zaman modern ini orang beriman memang menghadapi berbagai tantangan dan perjuangan. Banyak orang yang menggunakan mata dan pikiran mereka untuk mendapatkan kenikmatan. Dalam hubungan antar manusia, orang makin bebas untuk berbuat apapun karena itu dipandang sebagai hak azasi dan kebebasan pribadi. Tidak mengherankan bahwa standar moral orang zaman sekarang ini seringkali tidak sesuai dengan pandangan Kristen.

Banyak orang yang menuduh orang Kristen sebagai orang yang kolot, fanatik atau tidak realistis. Iman Kristen yang mengharuskan pengikutnya untuk menghindari kelakuan dan perbuatan tertentu bisa saja dianggap sebagai ketinggalan zaman. Jika menonton show bersama teman-teman misalnya, mau tidak mau orang Kristen ikut melihat dan mendengar apa yang tidak senonoh. Mereka yang berusaha hidup suci justru sering dipermalukan oleh orang-orang di sekitarnya dan dianggap sebagai orang yang bodoh. Oleh karena itu, banyak orang Kristen yang terpaksa “berpura-pura” dan menyembunyikan kekristenannya dalam hidup bermasyarakat.

Sebagian orang Kristen segan menunjukkan kekristenannya mungkin juga karena dorongan untuk “hidup damai” dengan golongan lain. Apalagi, jika ada sanak keluarga yang belum mengenal Kristus, hal-hal yang berbau rohani kemudian terpaksa disembunyikan agar tidak menyinggung perasaan mereka. Pada pihak yang lain, mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan bisa mengemukakan semua itu tanpa rasa malu, sekalipun telinga orang Kristen menjadi merah karena rasa malu.

Banyak gereja di zaman ini juga seakan-akan malu untuk terlalu sering membahas firman Tuhan dengan mendalam. Gereja-gereja populer malah lebih sering menyajikan apa yang dianggap dapat membuat jemaat merasa puas dan yakin akan kemampuan diri sendiri. Rasa malu akan apa yang salah sudah dianggap sepele karena adanya pengampunan dari Tuhan. Lebih dari itu, sebagai manusia yang mengaku Kristen mereka tidak malu untuk memohon berkat apa saja dari Tuhan.

Paulus dalam ayat di atas menjelaskan bahwa ia ingin dalam segala hal untuk tidak akan beroleh malu karena ia tidak memancarkan sinar kekristenannya. Ia tidak ingin mendapat malu kalau hidupnya tidak secara jelas menunjukkan bahwa ia adalah pengikut Kristus. Sebaliknya, ia ingin untuk menyatakan imannya kepada semua orang dan memuliakan Kristus dalam tubuhnya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Paulus tidak ragu untuk mengakui dosa dan kelemahannya. Pada pihak yang lain, Paulus tahu bahwa jika ia malu untuk mengakui dan menyatakan kebenaran Tuhan dalam hidupnya, Tuhan akan menolak dia sebagai umatNya.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 15