Hari kemarin sudah lenyap, hari esok belum datang

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Pernahkah anda mendengar ungkapan “Yesterday is gone and tomorrow may never come“? Ungkapan yang berarti “Hari kemarin telah lenyap, hari esok mungkin tidak pernah datang”. Ungkapan ini agaknya bernada negatif karena hari depan tidaklah bisa diketahui. Walaupun demikian, banyak orang yang menambahkan beberapa kata seperti “Nikmatilah hari ini karena hari kemarin telah lenyap dan hari esok mungkin tidak pernah datang” atau “Hari kemarin telah lenyap, hari esok mungkin tidak pernah datang, karena itu marilah kita bekerja hari ini”. Dengan penambahan kata-kata ini, ungkapan itu menjadi bernada positif. Memang apa yang kita bisa lihat sekarang adalah apa yang terjadi pada hari ini, mengapa harus memikirkan masa lalu dan masa depan?

Membayangkan masa lalu, sebagian orang mungkin merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Karena masa lalu yang pahit malah ada orang yang tidak yakin bahwa Tuhan itu ada. Hidup yang demikian seringkali sangat terasa berat dan menyebabkan timbulnya stres yang tinggi dan hilangnya rasa tenteram dan damai. Hari demi hari dilewati dengan rasa penyesalan akan masa lalu.

Bagaimana pula dengan masa depan? Banyak orang di saat ini kuatir tentang masa depan, Tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia itu sering diisi dengan berbagai tantangan. Kesulitan, kekurangan, penyakit dan berbagai macam penderitaan bisa kita alami selama hidup di dunia. Sekalipun kita hidup jujur, bekerja keras dan berusaha hidup sehat, selalu ada kemungkinan bahwa ada hal-hal jelek datang menimpa. Dengan demikian, memikirkan masa depan juga bisa menghilangkan rasa damai dan menimbulkan stres dalam hidup manusia.

Menurut ilmu psikologis, stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stres dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Manusia bisa hancur hidupnya dan bahkan jatuh sakit atau mati karena tidak adanya rasa damai, atau karena adanya stres yang besar.

Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari datangnya masalah. Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak perlu mengharapkan adanya kedamaian disekitar kita. Sebaliknya, kita harus bergantung kepada Roh Kudus yang ada didalam kita.

Roh Kudus diberikan Yesus sebagai penolong sehingga kita bisa terhibur dan dikuatkan dalam suasana yang menyesakkan. Jika kita memberikan kesempatan kepada Roh untuk menguasai hidup kita, segala masalah akan bisa kita hadapi dengan ketenangan dan keyakinan bahwa Tuhan beserta kita. Tuhan tidak pernah berubah dan Ia tetap beserta kita untuk selama-lamanya.

Memang tiap-tiap masalah yang kita alami pada mulanya akan mendatangkan stres. Tetapi kemudian kita akan memperoleh pengalaman berharga, yaitu pengalaman pribadi tentang kebesaran kuasa Tuhan dalam hidup kita. Inilah yang bisa memberikan rasa damai sejati kepada mereka yang dilatih oleh Tuhan!

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Berilah aku istirahat yang baik …

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Virus corona telah mendorong dunia ke perairan yang belum pernah dipetakan. Berbagai negara telah menetapkan lockdown yang menyebabkan ekonomi terhenti, dan banyak orang kuatir atas keselamatan diri sendiri dan orang yang mereka cintai. Dengan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan yang datang begitu cepat, dapat dimengerti bahwa banyak orang yang mengalami kesulitan untuk bisa tidur dengan baik. Tidur sangat penting untuk kesehatan fisik dan berpengaruh atas sistem kekebalan tubuh. Itu juga merupakan pendorong utama kesehatan emosi dan mental, membantu mengalahkan stres, depresi, dan kecemasan.

Mereka yang sering kurang tidur tentu lambat laun akan merasa lelah; walaupun demikian, mereka yang cukup tidurnya bisa juga mengalami kelelahan hidup karena adanya berbagai persoalan yang harus dihadapi. Malahan ada yang karena tekanan hidup, terus-terusan ingin tidur karena kelelahan jasmani dan rohani yang ada.

Jutaan orang sudah menderita insomnia sebelum adanya virus korona. Tetapi pandemi ini menciptakan sejumlah problem baru – bahkan bagi orang yang sebelumnya tidak memiliki masalah tidur. Memang rasa kuatir bisa menimbulkan rasa gelisah akan ketidakpastian yang dihadapi, yang menyebabkan masalah untuk bisa beristirahat dengan baik.

Sebenarnya bagi siapapun yang menghadapi kegelisahan hidup ada dua hal yang secara logis harus disadari. Yang pertama adalah ketidak mampuan manusia untuk menentukan masa depannya dan yang kedua, jika Tuhan itu ada, hanya Dialah yang tidak mempunyai persoalan. Jika kita bisa sepenuhnya menentukan masa depan kita tentu saja tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Semua manusia mempunyai keterbatasan, dan hanya Tuhan, yang mahakuasa dan mahatahu, yang tidak pernah gelisah, kuatir atau takut.

Bagi orang Kristen, pernyataan bahwa manusia tidak bisa menentukan masa depan kita ada tertulis dalam Alkitab. Mereka yang menolak kenyataan ini adalah orang-orang yang hidup dalam alam impian.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 14

Dalam hal ini, orang Kristen adalah orang yang beruntung. Kedatangan Yesus ke dunia, pengurbananNya di kayu salib dan kebangkitanNya menunjukkan adanya Tuhan yang mahakasih, yang peduli akan keadaan dan keterbatasan manusia. Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat bergantung pada diri sendiri untuk mendapat kedamaian di bumi dan di surga.

Hari ini kita diingatkan bahwa satu-satunya pengharapan kita dalam menghadapi masa depan adalah Tuhan kita yang mahakuasa. Yesus adalah Allah yang sudah pernah menjadi manusia dan mengalahkan maut setelah menebus dosa kita dengan darahNya. Ialah yang bisa memberikan kita ketenangan dalam keadaan apapun!

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Mazmur 42: 5

Sulitnya untuk merasa cukup

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Di saat pandemi ini, tantangan hidup menjadi sangat berat bagi banyak orang. Untuk negara mana pun, semakin banyak penduduknya yang terkena Covid-19, semakin banyak juga orang yang hidup dalam kesusahan. Banyak orang di negara manapun saat ini harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang kehilangan sumber penghasilan. Dengan demikian, banyaklah orang yang tidak dapat merasakan kecukupan.

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin terlihat “berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya, mereka yang tergolong lemah ekonominya mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Saat ini, perbedaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Mereka yang hidup di “gedongan” mungkin tidak terlalu kuatir untuk terjangkit virus corona. Mereka masih bisa menikmati hidup dengan berfoya-foya di balik tembok yang tebal dan menghilangkan kejemuan dengan menikmati apa saja yang bisa dibeli. Sebaliknya, mereka yang hidup di pelosok mungkin tidak mempunyai sarana yang melindungi mereka dari penularan ataupun sesuatu yang bisa dinikmati. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaanNya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena untuk sebagian orang makanan tidaklah mudah diperoleh? Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapapun juga, termasuk Tuhan.

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi berkat, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Kita juga belajar bersyukur atas apa yang sudah ada.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, seringkali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Sebaliknya, mereka yang hidup berkekurangan seringkali hidupnya bisa berbahagia karena ada rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang, karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus, sehingga kita mau menghitung apa yang sudah diberikan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, apa yang mereka terima tidaklah terhitung jumlahnya, dan karena itu mereka bisa bersyukur kepadaNya setiap hari.

Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.

Tuhan pembuat nasib malang

“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45: 6 – 7

Setujukah anda dengan pandangan bahwa Tuhan menciptakan nasib malang di antara umat manusia? Sekalipun ayat di atas menyatakan demikian, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Kata yang diterjemahkan sebagai “nasib malang” berasal dari kata Ibrani yang berarti “kesengsaraan, penderitaan, malapetaka, kesusahan, kesengsaraan”.

Jika kita bandingkan, banyak Alkitab berbahasa Inggris yang menerjemahkan kata itu sebagai: “bencana” (NIV, HCSB), “malapetaka” (NKJV, NAS, ESV), dan “celaka” (NRSV). Konteks dari Yesaya 45: 6 – 7 adalah Tuhan yang memberi berkat kepada Israel karena ketaatan, dan yang menghukum Israel karena ketidaktaatan. Tuhan mencurahkan berkat atas orang-orang yang Dia kasihi, tetapi menghakimi mereka yang terus memberontak melawan Dia: “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya” (Yesaya 45: 9). Dengan demikian, Yesaya 45: 6 – 7 menyajikan tema umum dari Kitab Suci – bahwa Tuhan mendatangkan hukuman bagi mereka yang terus memberontak dengan keras hati terhadapNya.

Walaupun demikian, jika bencana terjadi di dunia, banyak orangKristen yang juga terkena dampaknya. Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Mengapa ia membiarkan mereka yang taat menderita bersama -sama dengan mereka yang murtad? Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan, adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang sumber semua malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan seluruh umat manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa lebih terasa dan membuat orang mau menyerah atau berserah kepadaNya.

Hari ini, jika kita melihat adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, mahaadil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa keputusanNya akan terjadi dan segala kehendakNya akan terlaksana. Apapun yang terjadi adalah dengan sepengetahuanNya. Sebagai Pencipta, Tuhan berhak untuk melakukan apa saja yang dikehendakiNya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang bisa kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Kita adalah orang-orang yang mujur karena Tuhan kita bukanlah Oknum Ilahi yang kejam, tetapi Ia adalah Tuhan yang mahaadil dan mahakasih!

Jika kita hanya bisa berdoa

“Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.” 1 Timotius 5: 6

Hari ini media Australia memberitakan sebuah kabar buruk. Setelah hampir 10 bulan bebas Covid-19, negara bagian Australia Barat hari ini menemukan satu penduduk lokal yang positf. Lebih gawat lagi, orang ini ternyata sudah mengunjungi berbagai tempat sebelum terdiagnosa.

Setelah mendengar kabar bahwa ibukota Perth akan lockdown lagi selama seminggu, orang langsung menjadi panik dan pergi ke supermarket untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Mereka yang berhasil memperoleh bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya tentunya bisa menghela nafas lega. Tetapi mereka yang menjumpai rak-rak kosong tentunya mungkin hanya bisa mengelus dada dan berdoa. Berdoa kepada siapa dan untuk apa?

Bagi umat Kristen, berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan yang mahakuasa; karena itu berdoa adalah salah satu berkat khusus yang diberikan hanya kepada orang-orang tertentu. Memang siapa saja bisa mengucapkan doa apa saja, tetapi tidak semua doa didengar Tuhan. Hanya doa orang yang hidup dalam Kristus akan didengar Tuhan.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Sebagai anak-anak Tuhan, kita boleh menyampaikan permohonan, yang jika sesuai dengan kehendak Tuhan, akan terjadi sesuai dengan janji Kristus.

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 14

Jika demikian, mengapa masih ada keraguan akan pentingnya doa? Dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menyebutkan kebiasaan yang baik untuk berdoa: pada pagi hari sebelum kita bekerja, dan pada malam hari sebelum kita tidur. Tetapi karena berdoa adalah sesuatu yang sangat penting, kita boleh berdoa kapan saja, dimana saja kita berada. Malahan, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa seorang janda yang ditinggalkan seorang diri, akan menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. Kita yang tidak berdaya menghadapi gelombang pandemi di saat ini seharusnya melakukan hal yang serupa.

Masalahnya adalah tidak semua orang yakin bahwa mereka mempunyai Tuhan yang mahakasih, yang selalu mau menolong anak-anakNya. Juga tidak semua orang menyadari bahwa dalam kesendirian mereka, mereka seharusnya menaruh harapannya kepada Tuhan dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.

Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Pada saat dimana kita tidak dapat menemukan seseorang untuk mendengarkan curahan hati kita, Yesus menunggu kita untuk berdoa kepadaNya. Yesus adalah sobat kita yang setia. Dalam menghadapi berbagai masalah, kita akan mendapat penghiburan dan pertolongan jika kita mau berdoa sambil bersyukur atas kasihNya sampai saat ini.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hidup baru di dunia

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” 2 Petrus 1: 3

Jika kita percaya bahwa mereka yang sudah menerima hidup baru dan bertobat dalam Kristus akan mempunyai hidup yang lain dari hidup orang kebanyakan, dalam kenyataannya ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi Kristen, tetapi hidupnya tidak jauh berbeda dengan orang yang belum Kristen. Mengapa bisa begitu? Banyak yang berpendapat bahwa orang yang sedemikian adalah orang yang belum betul-betul bertobat. Tetapi, walaupun itu mungkin ada benarnya, ada banyak orang Kristen yang ingin berubah cara hidupnya, tetapi selalu menemui kesulitan.

Bagi orang Kristen yang sadar bahwa hidup mereka masih jauh dari apa yang seharusnya, kekecewaan dan rasa sedih bisa muncul karena bukannya apa yang baik yang mereka lakukan, tetapi justru apa yang jahat.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Roma 7: 22 – 24

Memang kesedihan karena merasa bahwa kita sudah mengecewakan Tuhan itu bisa muncul, terutama jika ada pikiran bahwa kita adalah orang-orang yang gagal, yang sudah mengecewakan orang-orang yang mencintai kita, seperti orang tua, suami, istri, anak atau saudara kita. Selain itu, kita mungkin juga merasa gagal dalam membina hubungan baik dengan teman dan sejawat. Ah, aku manusia celaka!

Dalam keadaan pandemi sekarang ini, banyak orang yang merasa lemah jasmani dan rohaninya, dan tidak mempunyai semangat untuk menghadapi hari depan. Hari demi hari lewat dan kesedihan mungkin muncul karena tidak adanya perubahan hidup. Dari dulu sampai sekarang, Tuhan sering terasa jauh. Rasa kuatir juga bisa timbul karena Tuhan seolah berdiam diri dan tidak mau menolong. Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Apakah Tuhan peduli akan hidup anak-anakNya? Tentu! Ayat pembukaan diatas berkata bahwa karena kuasa Tuhan kita telah mendapat segala sesuatu yang bisa kita pakai untuk hidup yang saleh karena kita mengenal Dia, Tuhan, yang telah memanggil kita. Hidup yang saleh disini adalah gambaran hidup suci di surga yang dimungkinkan oleh Tuhan, sekalipun kita masih berada di dunia.

Kepastian bahwa hidup kita menuju ke surga tidaklah berarti bahwa hidup kita di dunia menjadi mudah dijalani. Sebaliknya, semakin kita ingin untuk menempuh hidup yang sesuai dengan firmanNya, semakin besar juga tantangan yang kita hadapi. Tetapi, Tuhan yang memberi kita hidup baru adalah Tuhan yang membimbing agar kita bisa mempunyai hidup yang baik selama di dunia. Dengan demikian, hidup yang sekarang ini harus tetap diisi dengan sukacita dan semangat untuk bisa tetap mau bertumbuh dalam segala apa yang baik.

Bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh optimisme? Bukankah keadaan saat ini terasa sangat suram? Sampai kapankah kita bisa bertahan? Memang tidak mudah untuk menawab pertanyaan-pertanyaan ini. Walaupun demikian, kita harus bisa menyadari dan menggunakan apa yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak dapat hidup dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Segala berkat dan kasih penyertaan Tuhan setiap hari dan lebih-lebih lagi Roh Kudus, sudah diberikan kepada kita agar hidup kita makin lama makin terpusat kepada hidup yang akan datang di surga, dan bukan kepada hidup yang ada sekarang ini.

Hari ini jika kita merasa lemah dan kecewa atas hidup kita atau atas keadaan di sekeliling kita, marilah kita mengingat bahwa apa yang baik dari Tuhan sudah diberikan kepada kita untuk bisa menghadapi perjuangan hidup di dunia ini karena kemenangan kita di surga sudah terjamin melalui darah Yesus di kayu salib. Dunia ini bukan surga dan karena itu kekacauan dan penderitaan adalah lumrah. Tetapi, karena kita mengenal Juruselamat kita, pengetahuan kita akan kasih dan kemurahan Tuhan adalah lengkap, dan dengan itu kita boleh yakin bahwa hari lepas hari Ia membimbing kita dalam menghadapi berbagai kesulitan untuk menjalani hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Tuhan jugalah yang membimbing hidup kita melalui segala kesulitan sehingga kita bisa makin dewasa dalam iman sampai saatnya kita berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Tidur tak nyenyak, makan tak enak

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Di saat pandemi ini, umumnya orang merasa was-was dan karena itu lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Mereka yang sadar akan bahaya virus corona tentunya akan menjaga jarak, memakai masker jika perlu, dan rajin mencuci tangan. Sudah tentu semua itu menambah rasa tidak nyaman yang ada saat ini. Bukankah banyak orang terpapar Covid-19 sekalipun sudah berhati-hati? Hidup manusia menjadi tertekan dan rasa damai tenteram mungkin tidak ada lagi walaupun waktu banyak dihabiskan di dalam rumah sendiri. Rasa damai telah hilang – tidur tak nyenyak, makan pun tak enak.

Salah satu hal yang didambakan manusia adalah kedamaian. Kita tahu bahwa bersama kesehatan dan kecukupan, semua orang sebenarnya mengerti bahwa hidup damai juga perlu untuk menunjang kebahagiaan. Tetapi, sekalipun seseorang pada saat ini hidup berkecukupan dan sehat tubuhnya, rasa damai itu belum tentu ada. Malahan rasa damai itu sepertinya sulit didefinisikan, karena tidak bisa dilihat atau dibuat.

Berbagai usaha sering dilakukan manusia untuk mendapatkan rasa damai, misalnya dengan banyak berdoa, menyepi, berpuasa atau bersemedi. Tetapi seringkali rasa damai tentram itu tidak kunjung datang. Apalagi jika keuangan atau kesehatan mulai menurun di saat pandemi ini, rasa gundah dan kuatir mulai muncul.

Mereka yang beruang dan sehat, juga belum tentu bisa mendapatkan rasa damai dalam hidupnya. Biasanya dalam kebosanan hidup mereka mencari kebahagiaan dengan materi dan kegiatan fisik. Mungkin melalui makanan, pakaian, barang mewah, olahraga, pesta pora dan petualangan. Tetapi di saat pandemi ini, kedamaian yang ingin diperoleh manusia adalah sesuatu yang semakin elusif, sulit ditemukan.

Ayat diatas meyatakan bahwa damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang dapat memelihara hati dan pikiran kita, adalah pemberian Allah melalui Kristus Yesus. Jelas bahwa kedamaian yang benar-benar bisa efektif dalam hidup kita bukanlah dari usaha kita sendiri. Manusia sering berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan apa yang bisa memberi ketenangan hidup dalam keadaan apapun.

Apa yang ditentukan Allah dari awalnya untuk membawa kebahagiaan bagi manusia adalah hubungan yang baik antara manusia ciptaanNya dengan Sang Pencipta yang Mahakuasa dan Mahakasih. Karena hubungan ini menjadi rusak sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia kehilangan pegangan hidup dalam perjuangan di dunia. Karena itulah Allah mengirimkan anakNya yang tunggal Yesus Kristus ke dunia.

Yesus Kristus tidak hanya menebus dosa manusia, tetapi Ia memungkinkan manusia yang percaya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Bapa di surga. Dalam suasana yang kurang nyaman saat ini, kesempatan masih ada bagi semua orang yang percaya untuk mengutarakan segala persoalan dan kebutuhan mereka kepada Tuhan secara langsung pada setiap saat, dan dimana pun kita berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Berhati-hatilah dalam menegur orang lain

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Ayat diatas adalah salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, baik di kalangan orang Kristen maupun orang bukan Kristen. Ayat ini kelihatannya mudah dimengerti dan sangat praktis penggunaannya dalam hidup sehari-hari. Sayang sekali, ayat ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekedar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru.

Seringkali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai banyak orang untuk membungkamkan orang Kristen yang menolak perkawinan antar manusia sejenis, kebebasan seksual dan aborsi.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen seringkali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Malahan, ada orang-orang Kristen yang hidupnya tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tuhan Yesus tidak mengajarkan murid-muridNya untuk membiarkan orang lain berbuat semaunya dan tidak juga melarang mereka untuk menegur orang yang keliru dalam hidupnya. Tetapi apa yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah hal menghakimi orang lain dengan cara yang salah. Seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-hakim, menegakkan hukum Tuhan di dunia dengan cara yang benar sebenarnya adalah tugas semua orang Kristen.

Bagaimana kita bisa menjadi “hakim” yang benar di dunia ini? Bagaimana seharusnya kita ikut menegakkan etika dan hukum Kristen dalam hidup sehari-hari? Ada beberapa syaratnya:

  • Kita harus memegang kuat Firman Tuhan. Apa yang baik dan buruk menurut Firman harus dinyatakan kepada semua orang dengan tegas tetapi dengan kasih. Apa yang dibenci Tuhan adalah perbuatan dosa kita dan bukan kita sendiri. Kita juga harus ingat bahwa orang yang sangat buruk hidupnya seperti Paulus, bisa dijadikan seorang Rasul.
  • Kita tidak boleh membeda-bedakan penerapan hukum Tuhan dalam masyarakat dan gereja. Siapapun yang tersesat harus diperingatkan, tidak tergantung pada siapa orangnya. Kita juga harus menegur berdasarkan fakta dan bukan berita. “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Yohanes 7: 24
  • Menegakkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar “omong kosong” saja tetapi dengan tindakan yang berdasarkan Firman. “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain.” Kolose 3: 16
  • Dalam usaha menegakkan kebenaran, kita harus menyadari bahwa semua orang cenderung untuk berbuat dosa. Karena itu, semua orang Kristen terutama mereka yang mempunyai kesempatan dan fungsi sebagai pemimpin dan guru harus mau dan bisa mengintrospeksi diri sendiri, agar bisa memberi contoh dan teladan untuk hidup baik.
  • Kerendahan hati adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan ini harus lebih dinyatakan dalam usaha menegakkan kebenaran Tuhan. Dalam kita menegur orang lain, kita harus sadar bahwa kita pun orang berdosa, tetapi hanya karena kasih Kristus kita sudah diselamatkan.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, dan dengan itu kebenaran Tuhan harus ditegakkan. Walaupun demikian, semua itu harus dilakukan dengan kasih supaya nama Tuhan dipermuliakan.

Pakailah mata rohani, bukan mata jasmani

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Hari ini saya pergi ke sebuah kennel yang sering saya pakai untuk menitipkan anjing saya jika saya bepergian jauh. Kali ini ada kabar buruk yang disampaikan pemilik kennel itu, yaitu bulan depan kennel itu akan ditutup karena sering merugi sejak adanya pandemi. Orang jarang melakukan perjalanan jauh, dan karena itu jaranglah anjing yang dititipkan. Memang kasihan sekali orang-orang yang mempunyai usaha atau menawarkan jasa yang kurang dipandang penting dalam keadaan krisis sekarang ini. Karena itu, orang bisa melihat banyaknya perusahaan kecil yang bangkrut atau yang terpaksa ditutup sebelum bangkrut. Dengan mata, kita bisa melihat banyaknya orang yang tidak mempunyai pekerjaan, yang menantikan bantuan pemerintah.

Jika dengan mata kita bisa melihat bahwa kehidupan manusia di saat ini menjadi porak poranda, hati kita tentunya akan merasa makin sedih karena adanya kemungkinan bahwa keadaan ini belum bisa membaik dalam tahun ini. Apa yang kita lihat dengan mata bisa menghilangkan semangat kita untuk tetap berjuang. Dalam mengalami keadaan yang serupa, Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia tidak memperhatikan apa yang sekarang kelihatan, melainkan apa yang tak kelihatan, karena apa yang kelihatan saat ini adalah sementara, sedangkan apa yang tak kelihatan adalah kekal. Apa yang kita lihat sekarang, bukanlah apa yang akan kita dapat di masa depan. Apa maksudnya?

Paulus berusaha menjelaskan bahwa apapun yang kita lihat selama kita hidup, baik itu penderitaan ataupun kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang abadi. Selama hidup di dunia, orang Kristen harus menjalankan tugas kewajiban mereka, tetapi apapun yang mereka rasakan atau lihat tidak perlu membuat hidup mereka terpengaruh. Hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Tuhan yang tidak kelihatan dan untuk itu mereka cukup bermodalkan iman yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan iman mereka bisa berharap akan masa depan dan yakin akan keselamatan yang sudah diberikan sekalipun mereka masih belum berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Memang manusia cenderung berpikir bahwa apa yang mereka alami atau rasakan adalah faktor yang menentukan kehidupan mereka di dunia. Karena itu mereka merasa bangga dan puas jika mereka berhasil memperoleh kesuksesan, atau merasa tertekan jika mereka mengalami apa yang tidak diharapkan. Bahkan banyak orang Kristen yang percaya bahwa hidup di dunia sebagai orang diberkati Tuhan seharusnya ditandai dengan kemakmuran. Banyak orang mungkin lupa bahwa jika mereka meninggalkan dunia ini, semua harta miliknya tidak akan berguna lagi. Begitu juga, dalam penderitaan orang mungkin lupa bahwa itu adalah sementara. Karena itu kita seharusnya memusatkan pikiran kepada apa yang abadi, yaitu hidup sesudah hidup di dunia. Kebahagiaan di surga adalah hal yang harus kita perhatikan agar selama kita hidup di dunia kita tidak terpikat oleh apa yang bisa dilihat mata saja dan apa yang ditawarkan oleh dunia.

Hari ini, apakah yang anda lihat dengan mata anda? Apakah yang terjadi dalam hidup anda? Apakah yang dialami oleh keluarga anda? Adakah orang-orang yang anda kasihi yang saat ini mengalami sakit atau kesusahan? Adakah rasa tertekan dan rasa sedih dalam diri anda karena adanya hal-hal yang tidak anda harapkan? Firman Tuhan berkata melalui Paulus bahwa kita tidak perlu tawar hati sekalipun apa yang kita lihat dengan mata jasmani kita menunjukkan adanya hal yang tidak baik. Sebagai orang beriman, kita bisa memakai mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertai kita hingga kita bertemu dengan Dia dalam kebahagiaan yang kekal.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami” 2 Korintus 4: 16 – 17

Bukan Allah yang membuat manusia menderita

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13-14

Selang setahun sejak munculnya virus corona, orang di negara mana pun masih hidup dalam berbagai penderitaan. Tidak hanya kasus positif yang makin meningkat, korban yang tewas juga bertambah banyak. Dalam keadaan yang makin parah, beberapa negara mulai menjalankan lockdown lagi. Tetapi, rakyat yang sudah merasa sangat jemu terkurung di rumah, sekarang mulai memperlihatkan rasa tidak senang dan bahkan rasa marah kepada pemerintah. Apalagi, dalam situasi saat ini banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Karena itu di beberapa negara ada demo-demo yang menuntut penghapusan pembatasan sosial dan juga orang-orang yang sengaja mengabaikan aturan pemerintah setempat. Apakah Allah yang membuat manusia menderita? Apakah salah manusia sehingga pandemi ini terjadi?

Kitab Kejadian 3 menceritakan bagaimana Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa melalui tipu muslihat iblis. Iblis dengan kecerdikannya berhasil membuat Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada Adam yang bersama-sama dengan dia (Kejadian 3: 6).

Adam dan Hawa jatuh kedalam pencobaan, tetapi siapakah yang sebenarnya bersalah? Allah yang menciptakan pohon itu, iblis yang menjerumuskan manusia, atau manusia yang jatuh kedalam perangkap iblis? Ada orang yang berpendapat bahwa Allahlah yang paling bersalah karena Ia yang menciptakan pohon itu dan Ia seharusnya bisa mencegah iblis dari menipu manusia atau mencegah manusia dari melanggar perintahNya.

Jika pada akhirnya Allah menjatuhkan hukumanNya kepada Adam, Hawa, dan juga iblis, menunjukkan bahwa mereka semuanya sudah bersalah di hadapan Allah. Sebagai keturunan Adam dan Hawa kita terkena getahnya dan harus mengalami berbagai penderitaan selama hidup di dunia. Jika Allah memang mahaadil, hukuman itu adalah sudah sewajarnya, tetapi ada juga orang yang berpendapat bahwa manusia sudah jatuh kedalam pencobaan dari Allah.

Mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan tentang apa yang baik dan yang jahat? Apakah Ia ingin mencobai manusia, ingin menjebak mereka? Alkitab dalam ayat diatas mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dari mulanya Allah menetapkan hukum dan perintahNya agar manusia taat kepadaNya, tetapi bukan untuk menjebak mereka kedalam dosa. Dosa adalah keadaan dimana manusia gagal untuk menaati hukum dan perintah Tuhan.

Allah tidak pernah mencobai kita walaupun Ia mungkin menguji kita. Pencobaan dari iblis berbeda dengan ujian dari Allah. Mengapa Yesus mengajar kita untuk memohon agar Allah tidak membawa kita kedalam pencobaan?

“…dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 13

Doa diatas sebenarnya dimaksudkan agar Allah sudi membimbing dan menguatkan kita agar kita tidak terseret kedalam pencobaan. Bisa terhindar dari godaan iblis sehingga tidak sampai dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan kita sendiri.

Yesus sebagai manusia yang lelah tubuhnya setelah berpuasa 40 hari di padang gurun, juga mengalami pencobaan (Matius 4: 1-11). Ia menghadapi pencobaan yang datang bukan dari Allah Bapa, tetapi dari iblis. Yesus sebagai manusia yang tidak berdosa, tidak dapat dicobai. Ia menghadapi tiga macam bujukan iblis, dan Ia menangkis semua itu dengan cara yang tepat. Pada akhirnya, kemenangan Yesus membawa kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, sekalipun pencobaan bukan dari Tuhan, adanya pencobaan membawa kemuliaan kepada Tuhan ketika umatNya bisa menghadapinya dan tidak jatuh kedalam dosa.

Hari ini kita harus sadar bahwa seperti apa yang ditawarkan kepada Yesus, iblis sering menggoda manusia dengan tiga hal yaitu kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan. Dalam hal ini, keinginan manusia untuk bebas dari perintah dan hukum Allah, membuat manusia mudah terperosok ke dalam tipuan iblis. Selanjutnya, keinginan manusia untuk bebas dari hukum dan aturan pemerintah, membuat manusia melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain.

Hidup di dunia ini tidak mudah karena adanya berbagai pencobaan dan tantangan. Mungkin kita merasa lelah dan takut menghadapi keadaan hidup yang tidak menentu saat ini. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa semua pencobaan itu sebenarnya tidak melebihi kekuatan kita. Biarlah kita selalu berdoa agar kita bisa menghindari pencobaan; tetapi jika kita harus menghadapinya, biarlah kekuatan dari Tuhan memberi kita kemenangan. Karena apakah suatu keadaan yang sulit akhirnya menjadi godaan yang menghancurkan kita atau ujian yang menguatkan kita, itu sering bergantung pada reaksi kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1Korintus 10: 13