Berpikir positif secara Kristen

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Hampir semua orang sekarang mengenal apa yang dinamakan “positive thinking” atau berpikir secara positif. Pada dasarnya, cara berpikir ini bukanlah barang baru. Sudah lama para ahli kejiwaan mengenal gejala dimana orang yang menanggapi hidup dari segi positifnya akan lebih bisa berhasil mencapai cita-citanya. Sebaliknya, pikiran negatif cenderung membuat orang merasa kuatir, lemah dan sulit untuk maju.

Berbagai motivator dan bahkan pendeta mengajarkan bahwa sekalipun hidup ini terasa berat, pikiran positif yang melihat segi baik dari segala kejadian bisa memberi semangat baru untuk mengatasi masalah kehidupan. Tetapi ada pertanyaan apakah positive thinking adalah sesuai dengan iman Kristen.

Positive thinking adalah apa yang juga diajarkan firman Tuhan. Tetapi, itu tidaklah sama dengan apa yang diajarkan oleh banyak motivator baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Mereka yang menggembar-gemborkan cara berpikir positif sebagai upaya untuk lebih giat berusaha dan tidak mudah putus asa, umumnya mengajarkan bahwa nasib manusia ada di tangan manusia sepenuhnya. Jelas itu tidak sesuai dengan iman Kristen yang mengajarkan bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Mereka yang mengajarkan cara berpikir positif tanpa menyebutkan peranan Tuhan adalah orang-orang yang agaknya berusaha mengangkat derajat manusia agar menjadi setara dengan Tuhan. Sudah tentu itu adalah usaha yang sia-sia. Manusia tidak dapat menghilangkan ketakutan, kekuatiran dan keraguan hanya dengan kekuatan sendiri. Orang tidak dapat memperoleh rasa damai dan rasa cukup hanya dengan berpikir secara positif.

Bagi umat Kristen, berpikir secara positif adalah percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan Ia mengasihi umatNya. Karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita tidak perlu kuatir tentang apapun juga. Sebaliknya, kita bisa menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan demikian, rasa damai dan sejahtera dari Tuhan yang luar biasa akan memelihara hati dan pikiran kita setiap hari. Cara berpikir positif yang sedemikian akan memungkinkan kita untuk memperoleh kekuatan untuk menghadapi segala tantangan dan masalah dalam hidup.

Hidup yang bergantung pada Tuhan

“Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Matius 10: 10

Berapa helai baju yang anda punya? Bagi kebanyakan orang, tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Mengapa? Setiap orang yang cukup mampu di zaman ini pada umumnya memiliki banyak baju, sehingga jumlah yang pasti tidak mudah ditentukan. Selain membeli baju baru untuk mengganti apa yang dipakai, sering orang membeli baju baru karena menyenanginya.

Jika alasan yang pertama berdasarkan kebutuhan, alasan yang kedua adalah demi kepuasan. Bagi kita yang hidup di dunia modern ini agaknya orang menganggap kedua alasan ini sebagai sesuatu yang wajar dalam batas tertentu. Keinginan untuk memiliki banyak baju, perhiasan, mobil atau rumah dianggap biasa. Hidup yang diinginkan orang adalah hidup yang bukan hanya cukup, tetapi berlebihan.

Pada zaman Yesus hidup di dunia, memiliki dua baju adalah sesuatu yang dipandang cukup. Satu baju bisa dipakai, dan kalau itu perlu dicuci, baju yang lain bisa menggantikannya. Walaupun begitu, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk pergi mengabarkan Injil tanpa membawa dua helai baju, kasut atau tongkat. Hidup secara sederhana, untuk tidak dikatakan menderita. Barangkali kita membayangkan betapa sulitnya untuk menjadi murid Yesus. Benarkah begitu?

Kita yang hidup di zaman modern sudah terbiasa dengan pandangan bahwa orang tidak seharusnya puas untuk mencapai tingkat sederhana saja. Banyak orang Kristen yang justru percaya bahwa pengikut Kristus yang baik tentu diberkatiNya sehingga berlebihan dalam segala sesuatu. Karena itu banyak orang Kristen yang justru bekerja untuk mengejar keberhasilan materi. Karena itu juga banyak orang Kristen yang lupa bahwa Tuhanlah sumber kehidupan kita. Hidup yang sedemikian justru bisa menjadi hidup yang benar-benar sulit untuk dijalani.

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki umatNya untuk memikirkan bagaimana bisa hidup berlebihan, tetapi bagaimana bisa merasa cukup dalam setiap keadaan. Hidup dengan memuliakan Tuhan sambil percaya bahwa Ia yang akan mencukupkan. Yesus menyuruh murid-muridNya bekerja untuk Dia sepenuhnya tanpa memikirkan kebutuhan atau keinginan mereka, tetapi yakin akan kemurahan Tuhan kepada mereka yang setia kepadaNya.

Memasuki tahun yang baru, kepada kita diberikan dua pilihan. Memikirkan kebutuhan kita setiap hari dan karena itu merasa menderita dan kurang puas akan pemeliharaan Tuhan, atau memikirkan bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan secara maksimal dalam hidup kita sambil percaya bahwa Ia selalu memelihara umatNya yang setia. Manakah yang kita pilih?

Jangan kuatir akan masa depan

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizinNya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendakiNya. Pengertian yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat.

Sekalipun secara literal bunyi ayat itu menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang disenangi Tuhan. Berbeda dengan kehidupan di taman Firdaus, dosa manusia menyebabkan berbagai kejahatan dan penyelewengan sering terjadi. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendakNya yang terjadi.

Bagaimana dengan kita sendiri jika kita melihat sesuatu terjadi di luar dugaan atau rencana kita? Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksiNya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan.

Baru saja memasuki tahun baru 2020, kita tentu mempunyai harapan bahwa tahun ini akan dapat dilalui dengan baik. Tetapi, dalam hati kita mungkin mengakui adanya kemungkinan bahwa hal-hal yang tidak kita harapkan bisa terjadi. Adanya kebakaran hutan di Australia atau banjir di Indonesia adalah contoh kejadian yang membuat banyak orang menjadi was-was. Adakah hal yang bisa kita lakukan seandainya hal yang serupa terjadi dalam hidup kita?

Ayat di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasiNya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umatNya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa. Biarlah kita memasuki tahun 2020 ini dengan keberanian dalam Tuhan!

Selamat tahun baru 2020

Para pembaca yang terhormat,

Segala puji syukur saya sampaikan kepada Yesus Kristus karena tahun 2019 dapat dilalui dengan selamat.

Selama 2019, jumlah pembaca renungan sudah mencapai lebih dari 79 ribu orang, dan renungan yang ada sudah dibaca lebih dari 118 ribu kali. Ini berarti peningkatan yang lebih dari 100%, jika dibandingkan dengan tahun 2018. Ini tentu dimungkinkan karena adanya bantuan yang dengan setia selalu diberikan oleh Ibu Padma selaku Editor.

Saya berdoa agar di tahun 2020, makin banyak orang yang membaca Renungan Kristen. Bantuan anda untuk menyebarkan renungan ini tentunya sangat saya hargai. Semoga nama Tuhan yang dipermuliakan melalui blog ini.

Salam hangat,

Andreas Nataatmadja

Apakah yang kau cari?

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3: 1 – 2

Beberapa hari sebelum tahun baru, seorang teman bertanya bagaimana kesan saya tentang tahun 2019 yang akan dilewati; apakah saya sudah merasa sukses? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab setidaknya karena tiga hal. Pertama, kesuksesan pada umumnya berlainan untuk semua orang. Sebuah kesuksesan bagi seseorang, mungkin bukan apa-apa bagi orang lain. Kedua, sekalipun untuk hal yang sama, ukuran kesuksesan adalah berbeda bagi tiap orang. Karena itu, ada orang yang kelihatannya sukses tetapi tetap tidak merasa bahagia. Ketiga, semua kesuksesan di dunia adalah tidak permanen. Apa yang ada sekarang, tidak akan terus ada untuk selamanya. Apa yang dipunyai bisa hilang, dan pemiliknya juga akan mengalami nasib yang serupa.

Apakah kesuksesan yang anda idamkan pada tahun yang baru ini? Kesuksesan yang benar seharusnya adalah sesuatu yang hebat dalam pandangan semua insan, sesuatu yang membawa kebahagiaan sejati dan sesuatu yang abadi. Kesuksesan jelas tidak mudah diperoleh dan bahkan tidak dapat diperoleh seseorang dengan cara apa pun. Jika seseorang merasa berbahagia karena memperoleh suatu “kesuksesan” tetapi tidak pasti akan apa yang terjadi di masa depan, itu bukanlah kesuksesan tapi kegagalan. Lebih dari itu, semua usaha untuk mencapainya adalah sia-sia.

Menurut Alkitab, semua orang bukanlah orang yang sukses. Sebaliknya manusia yang diciptakan Tuhan sudah gagal untuk taat kepada Sang Pencipta. Manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan hanya kematian yang menunggunya. Orang mungkin bisa mendapatkan seisi dunia, tetapi pada akhirnya ia akan binasa

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Beruntunglah orang yang sudah menerima keselamatan dari Yesus, yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosanya. Misi penyelamatan Yesus adalah kesuksesan Ilahi yang kekal, dan karena itu siapa pun yang mau bertobat dan percaya kepadaNya pasti menerima keselamatan. Tetapi, kesuksesan Yesus bukanlah sesuatu yang bisa dimengerti semua orang.

Bagi sebagian orang, kesuksesan Yesus adalah untuk hidup di masa depan: di surga, bukan di dunia. Untuk hidup di dunia, mereka tetap memakai ukuran kesuksesan manusia seperti harta, ketenaran, posisi dan pengaruh. Bahkan itu seringkali menjadi tema yang didengung-dengungkan sebagian pendeta dan aliran gereja.

Memasuki tahun 2020, firman Tuhan berkata bahwa jika kita sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, kesuksesan Yesus adalah kesuksesan kita. Seperti Yesus, ukuran kesuksesan kita bukanlah apa yang menyenangkan di mata manusia, tetapi apa yang berkenan kepada Allah. Kesuksesan Ilahi bukanlah apa yang bersifat jasmani, yang berbeda-beda dan yang tidak membawa kebahagiaan yang kekal. Karena itu, sebagai orang yang sudah ditebus, kita harus mencari perkara yang di atas, yang berkenan bagi Tuhan. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi, dan itu pasti akan membawa kebahagiaan yang penuh dan abadi.

Salam berkat penutup tahun

“TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Bilangan 6: 24 – 26

Satu hal yang sudah sering hilang dari liturgi kebaktian gereja ialah salam berkat atau doa penutup yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Benediction. Seringkali salam berkat ini disampaikan oleh pastor atau pendeta yang bertugas dengan mengangkat kedua tangannya dari atas mimbar di hadapan jemaat. Sesudah itu himne penutup atau doxology dinyanyikan jemaat sebelum mereka meninggalkan gereja. Bagi mereka yang menyenangi liturgi tradisional gereja, kombinasi benediction dan doxology ini memang terasa khidmat sekali.

Ayat di atas adalah apa yang sering dipakai sebagai benediction. Itu adalah pesan Allah kepada Musa untuk disampaikan kepada Harun dan anak-anaknya yang bertugas sebagai imam umat Israel. Sudah tentu, karena Allah sendiri yang memerintahkan hal itu, salam berkat itu bukan sekedar kata, tetapi merupakan janji kasih kepada umatNya. Selain ayat di atas, ada beberapa ayat Alkitab yang juga dipakai untuk salam berkat. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan firmanNya, kata-kata yang disampaikan bisa terasa menyegarkan dan untuk itu hanya ada satu jawaban: Amin.

Bagi kita yang melalui pengurbanan Kristus sudah dijadikan umat Tuhan, janji yang sama tentunya berlaku juga. Dalam memasuki tahun yang baru kita harus ingat bahwa Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia akan memberkati kita dan melindungi kita. Tuhan akan menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karuniaNya. Tuhan akan menghadapkan wajahNya kepada kita dan memberi kita damai sejahtera.

Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada tahun 2020. Hanya Tuhan yang tahu dan membuat segala sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi, jika kita percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih, kita bisa bersandar kepada Dia dan janjiNya. Marilah kita memasuki tahun yang baru ini dengan semangat dan pengharapan!

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” 2 Korintus 13: 14

Hidup kita, tanggung jawab kita

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Hari tahun baru sudah di ambang pintu, dan bagi banyak orang itu adalah kesempatan untuk berpesta-ria. Memang menyambut datangnya tanggal 1 Januari itu adalah tradisi hampir semua bangsa, tetapi tidak semua orang yang merayakannya memakai kesempatan itu untuk menganalisa hidupnya selama tahun yang silam.

Apa yang sudah aku capai dalam tahun 2019? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Adakah hal yang belum tercapai selama setahun ini? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya pada akhir tahun. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan tidak tercapai. Apalagi mereka yang sering mengalami badai kehidupan, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya berbagai hal di atas tidaklah penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, akhir tahun adalah kesempatan bagi setiap orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama setahun ini, sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah bertumbuh secara rohani sesuai dengan apa yang dikehendakiNya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firmanNya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Akhir tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk meneliti hidup kita, sampai dimana kita sudah berusaha untuk hidup dalam terang Kristus. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Jalan yang manakah yang sudah kita pilih? Jalan yang lebar yang membawa kematian iman atau jalan yang sempit yang menuju kepada kehidupan dalam Kristus? Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah!

Belas kasihan adalah lebih baik dari persembahan

“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9: 13

Beberapa hari lagi tahun 2020 akan datang. Bagi banyak orang, memasuki tahun baru berarti kesempatan untuk membuat rencana baru yang dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan yang sekarang. Sebagai manusia yang tidak sempurna, tetapi yang diberi Tuhan kemampuan untuk menilai keadaan, adalah wajar jika orang ingin untuk makin bisa memperbaiki apa yang ada, baik itu tentang diri sendiri atau pun keadaan di sekelilingnya.

Tidak semua orang ingin atau bisa untuk berubah dan mengubah. Seorang tokoh industrialis abad 19 yang bernama John H. Patterson pernah berkata: ““Only fools and dead men don’t change their minds. Fools won’t and dead men can’t” yang artinya “Hanya orang bodoh dan orang yang sudah mati yang tidak berubah pikiran. Orang bodoh tidak mau dan orang mati tidak bisa”. Dalam kenyataannya, dengan berlalunya tahun 2019 tentu ada orang yang tidak sadar akan kekurangan yang ada dan banyak juga yang tidak mau berbuat apa pun sekalipun tahu apa yang perlu diperbaiki di tahun 2020.

Orang Farisi adalah contoh orang yang bodoh dan keras kepala. Berkali-kali Yesus memperingatkan dan menegur mereka, tetapi mereka tetap tidak mau berubah dalam hidup kerohanian mereka, dan tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias. Pikiran mereka sudah menjadi bodoh dan hati mereka sudah menjadi keras, sehingga mereka justru berusaha mencari kesalahan Yesus dan murid-muridNya.

Pada waktu itu, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang yang dianggap sesat hidupnya, yang kemudian makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Matius 9: 10 – 12.

Yesus mengingatkan orang Farisi bahwa Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa, dengan demikian semua orang yang mau bertobat dari hidup lamanya dan yang menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Orang Farisi adalah orang yang mementingkan ritual dan hukum agama dan karena itu merasa yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang paling benar. Orang Farisi juga mempunyai aturan khusus untuk memberikan persembahan kepada Allah. Mereka yang merasa suci itu berpendapat bahwa orang lain bukanlah orang yang perlu dikasihi atau dikasihani. Bagi mereka orang lain adalah orang yang tidak sempurna, untuk tidak dikatakan kafir.

Yesus menegur orang Farisi karena mereka yang begitu mendalami hal keagamaan ternyata sangat lemah dalam pengertian tentang keadilan, belas kasihan, dan iman. Mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan, semua orang adalah sama-sama orang berdosa.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Karena itu, dalam ayat pembukaan di atas Ia menjelaskan bahwa yang dikehendakiNya ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Ia justru datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Dalam memasuki tahun 2020 ini, marilah kita memikirkan bagaimana kita bisa memperbaiki kehidupan rohani kita. Bukan dengan mempelajari hukum dan firman Tuhan saja, tetapi dengan melaksanakannya. Adalah lebih mudah bagi kita untuk menghafalkan ayat-ayat Alkitab daripada menjalankannya, tetapi itu bukan yang dikehendakiNya.

Hukum utama yang diajarkan Yesus adalah hukum kasih, dan dengan itu wajiblah kita belajar untuk lebih bisa mengerti keadaan, penderitaan, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Dengan demikian, kita akan bisa mempunyai rasa belas kasihan yang lebih besar kepada sesama manusia, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen. Ini tidak mudah, tetapi kita bisa memohon bimbingan Tuhan untuk mengubah cara hidup kita. Semoga dalam tahun 2020 kita akan lebih bisa untuk mengerti keadaan orang lain, menolong mereka yang menderita, dan membawa mereka ke jalan yang benar.

Orang Kristen dan rasa empati

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Perayaan hari Natal dan segala kemeriahannya mungkin sudah berakhir dan banyak orang yang sekarang mulai menantikan datangnya tahun baru dengan berbagai harapan. Tetapi, bagi sebagian penduduk Australia yang mengharapkan turunnya hujan mungkin harus tetap bersabar untuk waktu yang tidak dapat dipastikan. Jika ramalan cuaca tidak menunjukkan kemungkinan turunnya hujan, bahaya kebakaran hutan justru dapat dipastikan akan tetap ada.

Kebakaran hutan di akhir tahun 2019 memang luar biasa. Beberapa orang sudah tewas dan ratusan rumah habis terbakar, dan banyak orang yang mengalami kemalangan ini sekarang harus hidup dengan bantuan negara dan masyarakat. Kebanyakan reaksi orang terhadap mereka yang ditimpa bencana ini adalah perasaan simpati dan juga empati. Kedua kata ini bunyinya serupa tapi memiliki perbedaan arti. Simpati menggambarkan perasaan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati berarti dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihannya.

Walaupun kebanyakan orang mudah merasa simpati atas kesedihan orang lain, rasa empati mungkin lebih sukar dirasakan. Karena itu, dalam setiap malapetaka, selalu ada orang-orang yang membuat komen yang agaknya bisa terasa kejam atau kurang berperasaan. Ada orang yang berpendapat bahwa kemalangan seseorang adalah sehubungan dengan dosanya, atau sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Ada pula yang menertawakan orang lain karena anggapan bahwa kebodohan orang itu yang menjadi sebab malapetaka yang dialaminya. Tetapi bagaimana orang Kristen seharusnya bereaksi atas kemalangan orang lain?

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan ikut menangis dengan orang yang menangis. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Bagaimana kita bisa bersukacita dengan orang yang tidak kita sukai? Dan bagaimana pula untuk menangis dengan orang yang menderita karena kesalahannya sendiri? Alkitab jelas mengajarkan bahwa kita tidak boleh bersukacita ketika melihat orang yang tidak kita senangi mengalami kemalangan!

“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok” Amsal 24: 17

Hari ini, firman Tuhan mengajarkan kita untuk mempunyai hati bagi orang-orang yang ditimpa kemalangan dan bisa menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang mereka alami. Ini bukan hanya untuk saudara-saudara seiman, tetapi juga untuk orang-orang yang tidak kita sukai atau mereka yang membenci kita. Sebagai orang Kristen, jika kita tidak memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain, nama Tuhan akan dipermalukan. Tetapi, jika kita mempunyai kasih dan empati kepada sesama kita, nama Tuhanlah yang akan dimuliakan.

Yesus adalah hadiah Natal yang terbesar

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2: 11 – 12

Hari Natal sudah datang. Bagi banyak anak kecil di Australia, hari ini adalah hari yang dinanti-nantikan sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka yang sudah mengharapkan untuk mendapat hadiah Natal tertentu, mungkin bangun pagi-pagi sekali untuk membuka hadiah yang terletak di bawah pohon Natal. Anak-anak yang masih memercayai adanya Santa atau Sinterklas mungkin segera memeriksa isi kantung hadiah yang tergantung di depan pintu. Mereka akan bersukacita jika hadiah yang diharapkan benar-benar datang, dan kecewa jika apa yang mereka terima tidak sesuai dengan apa yang diimpikan.

Jika seorang anak mempunyai harapan untuk menerima hadiah Natal, bagaimana pula dengan mereka yang sudah dewasa? Mereka mungkin saja menerima hadiah dari orang tua, kerabat atau teman dekat, jika kebiasaan tukar menukar kado masih dipertahankan. Tetapi, berbeda dengan anak-anak, hadiah Natal orang dewasa seringkali bukan yang mereka harapkan atau butuhkan. Karena itu, sesudah hari Natal banyak hadiah yang tidak terpakai terpaksa diberikan kepada orang lain atau dibuang, termasuk hadiah yang berupa anjing atau kucing yang tidak diingini.

Natal bagi sebagian orang dewasa mungkin hanyalah hari yang datang dan pergi tanpa membawa kesan istimewa. Karena itu, mereka mungkin setuju bahwa hari Natal hanya bisa dinikmati oleh anak-anak. Hari Natal bagi mereka mungkin bukan sesuatu yang dinantikan karena mereka tidak mengharapkan hadiah dari orang lain. Jika pun mereka membutuhkan sesuatu, mereka toh bisa membelinya. Pada pihak yang lain, banyak orang dewasa yang masih mengharapkan sesuatu yang sangat dibutuhkan, tetapi itu tidak bisa dibeli atau didapat dari orang lain. Natal demi Natal datang dan pergi, tetapi apa yang mereka harapkan tidak pernah terjadi.

Hari Natal sebenarnya bukan hari biasa, karena itu adalah perwujudan janji Allah yang pernah dinyatakanNya segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Ribuan tahun berlalu dan banyak orang yang menantikan kedatangan Mesias merasa kecewa karena itu tidak terjadi dalam kurun hidup mereka. Tetapi kita beruntung karena Yesus sudah datang dua ribu tahun yang lalu. Janji Allah sudah digenapi dan hadiah Natal terbesar sudah dikaruniakanNya dalam bentuk seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan di Betlehem.

Bagaimana perasaan anda di hari Natal ini? Masih adakah sukacita di hati anda karena Allah sudah menepati janjiNya? Adakah rasa sukacita dalam hati anda karena kelahiran Yesus sudah membawa keselamatan kepada setiap orang percaya? Ataukah masih ada kerisauan dalam hati anda karena adanya sesuatu yang masih dinanti-nantikan? Semoga kita tetap dapat mempunyai rasa syukur atas hadiah Natal terbesar dalam hidup kita!