Apa yang kita prioritaskan?

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat

Jika ada orang yang berharap bahwa pandemi COVID-19 ini akan segera berakhir, itu tentunya menunjukkan bahwa pandangan orang tersebut tidak realistis. Tetapi, memang ada orang yang merasa bahwa pandemi ini terlalu dibesar-besarkan. Malahan, ada orang yang yakin bahwa pandemi ini hanyalah sekedar tipu daya sekelompok orang yang berusaha mengambil keuntungan. Karena itu, banyak orang yang tidak mau menerapkan pedoman untuk menjaga jarak dan untuk menghindari penularan. Sebagai akibatnya, banyak negara saat ini mengalami pandemi babak kedua.

Mengapa hidup di zaman modern ini masih juga terasa sulit dan makin berat? Kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lain, tidak dapat menutupi kemunduran sifat manusia. Justru dengan kemajuan teknologi, makin banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Mereka hanya hidup untuk mencapai kemegahan dan kenyamanan diri sendiri. Alkitab memang menulis bahwa hari-hari ini memang adalah masa yang sukar.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” 2 Timotius 3: 2-4

Hidup manusia terasa makin berat karena semakin banyak orang yang tidak mau lagi tunduk kepada Tuhan, sehingga mereka tidak lagi memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Selain itu, ada banyak orang yang tidak lagi mau tunduk kepada pemerintah dan para pemimpin mereka. Mereka merasa bahwa hidup ada ditangan mereka sendiri dan harus bisa dinikmati tanpa memikirkan orang lain. Dengan demikian, banyak orang yang tidak hanya harus menderita karena dunia yang semakin padat, tetapi juga karena adanya orang-orang yang hidup semaunya sendiri.

Beban hidup setiap manusia sudah berat, apalagi jika mereka harus menanggung hasil perbuatan orang lain. Karena itu, mereka yang ingin hidup tenteram tidak akan mudah untuk mencapai tujuan hidupnya. Di tengah hingar-bingar dalam masyarakat, orang mudah kehilangan tujuan hidup yang baik dan terperosok kedalam kebingungan dan keputusasaan. Pada pihak yang lain, ada juga orang-orang yang lelah hidupnya karena selalu ingin menikmati apa yang ada seakan tidak ada hari esok.

Hari ini, jika kita merasa lelah dan berbeban berat, marilah kita meneliti hidup kita dalam semua seginya. Apa yang menjadi prioritas hidup kita seharusnya bisa membuat kita makin dekat kepada Tuhan. Jika hati dan pikiran kita selalu terikat kepada hal-hal duniawi, maka perlahan-lahan iman kita akan tergerus arus dosa sehingga tidak akan terasa lagi bahwa kita sudah menjauhi Tuhan sumber kekuatan kita. Dan oleh sebab itu, kita akan sering merasa lelah dan berbeban berat karena kita tidak mendapatkan kelegaan dari Tuhan. Marilah kita memasuki hari depan dengan prioritas hidup yang benar yaitu dengan selalu berjalan bersama Tuhan. Dengan itu, ketenangan hidup pasti akan datang.

Yang paling penting adalah pemeliharaan Tuhan

“Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.” 1 Samuel 23: 14

Daud melarikan diri

Ketika itu Daud dalam pelarian. Raja Saul terus mengejar Daud dan bermaksud membunuhnya. Sekalipun Daud adalah seorang pemberani yang sudah berkali-kali mengalahkan orang Filistin, ia merasa kecil di hadapan Saul. Saul adalah raja Israel dan Daud tunduk kepadanya. Saul mempunyai tentara yang jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan pengikut Daud. Karena itu Daud seringkali ketakutan, sekalipun ia tahu Tuhan ada.

Daud seharusnya sadar bahwa ia dapat mengalahkan orang Filistin berkali-kali karena Tuhan menyertainya. Tetapi, dalam hal menghadapi Saul, ia kelihatannya kehilangan percaya diri. Bukannya berusaha melawan Saul, Daud memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi di padang gurun. Agaknya ia percaya bahwa dalam menghadapi musuh yang jauh lebih kuat, melarikan diri adalah cara yang terbaik. Ini adalah taktik militer yang sering dihindari karena kebanyakan pimpinan perang percaya bahwa “pertahanan yang terbaik adalah menyerang”.

Seperti Daud, kita pun sering merasa takut dalam menghadapi berbagai ancaman atau tantangan. Kebanyakan orang memberi nasihat agar kita berani mengambil keputusan dan melakukan tindakan tegas. Mungkin tidak ada orang yang menasihati kita untuk melarikan diri dari kesulitan hidup kita itu. Biasanya nasihat yang kita terima adalah untuk tetap berani menghadapi dan bahkan menghantam dan mengalahkan “musuh-musuh” kita. Ketakutan mungkin dianggap sebagai hal yang patut dicela. Tetapi, ketakutan adalah hal yang justru bisa dan biasa muncul dalam diri setiap orang.

Jika orang mulai takut atau kuatir, biasanya ketakutan atau kekuatiran itu tidak tetap dalam bentuk dan besarnya. Sebaliknya, hal-hal itu biasanya berubah menjadi besar dan makin menakutkan setiap hari. Apalagi jika masalah atau bahaya itu belum pernah teratasi sebelumnya, orang mudah untuk merasa tidak berdaya. Daud pun merasa tidak berdaya dalam menghadapi Saul yang berkali-kali ingin mencelakai dan membunuh dia. Karena itu, dalam ayat di atas Daud memilih untuk tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan di pegunungan, di padang gurun Zif.

Dalam keadaan yang menekan, Daud mungkin merasa bahwa ia harus berusaha untuk dapat menyembunyikan dirinya sebaik mungkin. Jika tidak, ia tentu akan tertangkap oleh Saul. Apalagi, Saul mempunyai banyak prajurit dan mata-mata. Tetap, dalam ayat di atas Daud tidak tertangkap oleh Saul bukan karena ia pandai untuk menyembunyikan diri. Daud tidak tertangkap oleh Saul karena Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangan Saul.

Seperti Daud, kita sering merasa bahwa dalam menghadapi bahaya kita harus bertindak. Kita mungkin berpikir bahwa masa depan kita ada di tangan kita sendiri. Ini menyebabkan kita sering takut dan kuatir kalau-kalau usaha dan tindakan kita tidak cukup untuk bisa membawa masa depan yang baik bagi kita dan keluarga kita. Kita pergi ke tempat dimana kita bisa merasa aman dan mendapat perlindungan. Kita melakukan hal-hal yang dipandang perlu untuk menyelamatkan kita dari bahaya. Tetapi kita lupa bahwa apa pun yang kita lakukan, hanyalah Tuhan yang bisa menghindarkan kita dari kehancuran.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Dan bagi umat Tuhan, apa pun yang kita lakukan tidaklah akan membawa kebaikan jika kita tidak mempercayakan diri kepada Tuhan, yang berkuasa atas hidup kita dan hidup seluruh umat manusia dan alam semesta. Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan memegang kontrol atas segala sesuatu. Percayalah bahwa apa yang paling penting dalam hidup kita adalah pemeliharan Tuhan!

Kekuatan kita dari Tuhan

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4: 7

Di zaman modern ini kebanyakan orang di negara barat menyimpan uangnya di bank. Karena itu, jarang sekali ada orang yang pergi berbelanja dengan membawa uang atau cash. Dengan adanya akun bank yang bisa diakses melalui internet, orang tidak perlu membawa uang kertas kemana-mana. Selain mudah hilang atau rusak, orang sekarang juga kuatir kalau-kalau uang yang sering berpindah tangan itu membawa kuman penyakit. Karena itu, kebanyakan orang membayar belanjanya secara elektronik dengan menggunakan kartu kredit atau kartu debit.

Kebanyakan orang sekarang menyimpan uang tabungannya di bank. Di rumah, biasanya hanya sejumlah kecil uang yang disimpan untuk keperluan sehari-hari. Berbeda dengan jaman sekarang, sesudah perang dunia kedua masih banyak orang yang menyimpan uang dan hartanya dalam lemari besi. Lemari besi ini diharapkan untuk bisa menyelamatkan harta pemiliknya dari pencurian atau kebakaran. Tetapi, pada zaman rasul-rasul lemari besi belum ada, dan pada zaman itu orang justru menyimpan barang-barang berharga miliknya dalam bejana yang dibuat dari tanah liat. Aneh bukan? Barang berharga disimpan dalam bejana yang lemah, yang mudah pecah.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa orang Kristen mempunyai barang berharga yang disimpan dalam bejana tanah liat. Ada dua hal yang menarik dalam pernyataan itu. Yang pertama, orang Kristen seperti kita ini seharusnya tahu bahwa kita mempunyai barang berharga yaitu pengetahuan akan kebesaran Allah: Allah yang mahabesar sudah mengirimkan AnakNya Yesus Kristus sebagai penebus kita. Pengetahuan ini adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak dipunyai oleh orang yang belum diselamatkan. Sekalipun orang dunia pernah mendengar akan keselamatan yang dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya, tidak setiap orang bisa atau mau untuk menerima apa yang sangat berharga ini.

Yang kedua, setiap orang percaya yang mempunyai harta berharga ini menyimpannya dalam sebuah bejana yang mudah pecah dan karena itu tidak bisa melindunginya. Bejana yaitu hidup jasmani kita adalah sebuah benda yang ringkih dan tidak akan bertahan lama. Berbagai penderitaan hidup yang ada didunia ini selalu mengancam keutuhan bejana itu. Hidup kita yang diisi dengan anugerah Tuhan yang sangat berharga itu mudah hancur karena adanya berbagai tekanan hidup.

Ayat di atas menyatakan bahwa kasih Allah yang mahabesar tidak hanya terbatas pada anugerah keselamatan yang akan rasakan di surga. Kasih Allah ternyata juga dinyatakan dalam kekuatanNya yang sudah diberikan kepada setiap umatNya. Sekalipun umatNya masih hidup sebagai manusia yang lemah secara badani di dunia ini, Tuhan melindungi dan menguatkan mereka sehingga bejana tanah liat itu tidak hancur sekalipun keadaan disekitarnya selalu mengancam.

Hari ini, mungkin anda merasakan bahwa hidup anda terasa berat. Berbagai masalah dan tantangan seolah-olah bisa menghancurkan hidup anda. Banyaknya persoalan hidup kelihatannya siap untuk membuat bejana tanah liat itu hancur berantakan. Tetapi untunglah bahwa setiap umat Tuhan sudah dapat menerima anugerah kekuatan yang besar dari Tuhan yang memberikannya dengan berlimpah-limpah. Hanya dengan kekuatan itu hidup kita bisa menjadi tempat penyimpanan anugerah keselamatan yang sudah kita terima selagi kita masih hidup di dunia. Dengan anugerah kekuatan yang berlimpah itu kita akan bisa menjalani hidup kita hari lepas hari dengan ketabahan dan keberanian sampai kita menjumpai Sang Pencipta di surga.

Tuhan tidak akan melupakan umatNya

Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mataMu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepadaMu minta tolong. Mazmur 31: 22

Menghadapi badai kehidupan

Bagaimana tanggapan anda atas keadaan dunia pada saat ini? Banyak orang yang berpandangan bahwa dunia saat ini sedang mengalami keadaan gawat yang menyangkut mati hidup banyak orang. Bukan hanya masalah pandemi saja yang membawa bencana di banyak negara, tetapi juga masalah kehancuran ekonomi yang terjadi karena pandemi sudah membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian mereka. Dalam keadaan sedemikian, mereka yang tidak mempunyai uang simpanan tentu saja tidak akan bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain atau negara.

Bagi mereka yang baru saja menamatkan studinya dan membayangkan betapa senangnya memperoleh pekerjaan yang diingininya, keadaan sekarang ini membuat impian mereka menjadi kandas. Jangankan mempekerjakan tenaga baru, banyak perusahaan harus memberhentikan pegawai mereka yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan setia. Tidaklah mengherankan bahwa para dokter saat ini melaporkan banyaknya pasien yang mengalami gangguan kejiwaan yang berat.

Bagi banyak orang, tidak ada tekanan batin yang lebih berat daripada perasaan bahwa hidup ini sudah tidak ada artinya. Hidup yang ada terasa sia-sia karena apa yang kita miliki selama ini: kesehatan, pendidikan, penampilan, keuangan dan kemampuan sudah menjadi barang tidak dapat diandalkan. Dengan demikian, banyak orang yang merasa terbuang dari hadapan orang lain dan bahkan dari hadapan Tuhan. Kita merasa sebagai orang yang terlupakan dan Tuhan seakan sudah melupakan umatNya.

Kebingungan saat ini terjadi dalam masyarakat tentang bagaimana mereka harus mengadapi hari depan jika keadaan sekarang ini menjadi berlarut-larut. Siapakah yang bisa mengharapkan sesuatu yang baik akan terjadi bulan depan atau tahun depan, jika esok hari saja sulit diduga? Jika rakyat merasa bingung, para pemimpin pun tidak dapat memberi keyakinan bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan menjadi baik. Memang tidak terbayangkan tahun yang lalu bahwa keadaan yang sekarang ini bisa datang secara tiba-tiba sehingga tidak ada seorang pun yang sempat bersiap-siap.

Adakah yang baik yang bisa kita harapkan di masa mendatang? Jika kita menantikan sesuatu yang baik dari manusia, tidak akan ada orang yang bisa memberi jaminan. Manusia dalam keadaan ini terlihat jelas kelemahannya: manusia tidak dapat menentukan apa yang akan terjadi. Pikiran sedemikian mungkin tidak pernah muncul dalam benak kita selama laut tenang, tetapi dengan adanya ombak yang mengombang-ambingkan perahu kehidupan kita, kita mungkin bisa diingatkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum yang tidak tergoncangkan dalam keadaan apa pun. Malahan, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan seizinNya.

Pemazmur yang pada mulanya bingung dalam ayat di atas kemudian ingat bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan pandangan mataNya dari umatNya. Lebih dari itu, bumi dan alam-semesta pun selalu berada dalam penguasaanNya. Karena itu, pemazmur kemudian berteriak minta tolong kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan permohonannya. Bagaimana pula dengan kita yang saat ini juga mengalami rasa bingung? Yakinkah kita bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan sanggup menolong setiap umatNya yang berada dalam keadaan bahaya?

Bila kesedihan datang

“Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-Raja 19: 4

Di sepanjang sejarah, kita bisa membaca kisah orang-orang yang mengalami goncangan hidup. Bahkan di zaman modern ini, kita bisa membaca bahwa ada banyak orang yang merasa gagal, sekalipun mereka adalah orang-orang yang berhasil dalam dunia musik, film, olahraga atau pun bisnis. Kita juga tahu bahwa mereka yang sangat tertekan dengan perasaan gagal itu, cepat atau lambat akan kehilangan pikiran sehatnya, dan mungkin saja melakukan hal-hal yang menyedihkan.

Alkisah pada saat itu seorang nabi Tuhan yang bernama Elia yang mengajak nabi-nabi dewa Baal untuk bertanding dalam hal kurban bakaran. Elia menantang mereka untuk memanggil Baal guna mendatangkan api keatas kurban mereka, supaya orang bisa melihat apakah dewa Baal memang ada. Mereka gagal total. Baal tidak menjawab! Sebaliknya, ketika Elia mempersembahkan kurban bakarannya, api dari Tuhan datang menyambar dan membakar kurban itu. Elia menang telak.

Kemenangan biasanya terasa manis. Dan mungkin Elia juga merasakannya saat itu. Tetapi kegembiraan yang ada berubah menjadi kekecewaan. Bani Israel tidak bertobat sekalipun Baal sudah terbukti dewa palsu. Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel, tetap berjaya. Elia mungkin merasakan kekosongan dalam kemenangannya. Ia mulai meragukan apakah semua usahanya ada gunanya. Ia merasa bahwa semua jerih-payahnya untuk membuat bani Israel bertobat adalah sia-sia.

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” 1 Raja-Raja 19: 10

Ketika Izebel mengancam untuk menghabisi nyawa Elia sebagai pembalasan, Elia yang berada dalam keadaan lemah rohaninya, merasa sangat takut. Ia melarikan diri. Elia yang sebelumnya berani bertanding melawan nabi-nabi dewa Baal karena yakin akan penyertaan Tuhan, sekarang menjadi Elia yang merasa lemah dalam kesendiriannya. Elia mungkin saja mengalami depresi berat. Elia menjadi orang yang kehilangan akal, mungkin seperti banyak orang ketika merasa gagal dalam hidup mereka. Ia ingin mati karena ia merasa bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang memegang kendali kehidupannya.

Ketika Tuhan menjumpai Elia ditempat persembunyiannya, Tuhan mengerti mengapa Elia lari dari kenyataan. Apa yang Elia butuhkan adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap mengasihinya dalam setiap keadaan. Tuhan tahu bahwa Elia tidak akan sanggup menghadapi tantangan kehidupan seorang diri. Tuhan kemudian memberikan Elia penghiburan dan kekuatan dengan mengirim malaikatNya (1 Raja-Raja 19: 5 – 8).

Hari ini, jika kita merasa sedih, tertekan, atau juga depresi, mungkin kita merasa bahwa hidup kita tidak berguna lagi. Dengan adanya berbagai masalah yang ada di dunia saat ini, mungkin kita merasa semua usaha kita sia-sia. Tidak ada orang yang bisa membantu kita. Tetapi, seperti Elia, kita mungkin lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita pada saat yang lalu, adalah Tuhan yang sekarang ada beserta kita. Tuhan jugalah yang bisa dan mau memakai sisa hidup kita untuk kemuliaanNya di masa depan. Tetaplah percaya!

Apa perlunya kesetiaan dalam berdoa?

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Doa adalah komunikasi

Dalam hidup ini, orangtua yang baik adalah orangtua yang tahu kebutuhan anak-anaknya dan bijaksana dalam memberikan kasih sayang kepada mereka. Sebaliknya, anak yang bijaksana adalah seorang anak yang mau mengutarakan kebutuhan mereka kepada orangtua dan bersabar serta percaya atas kebijaksanaan orangtua.

Seperti hubungan seorang anak dengan orangtuanya, seperti itu jugalah hubungan umat percaya dengan Tuhan mereka. Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang mahakuasa dan menyembahNya agar hidup mereka diberkati. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka boleh berdoa seberapa banyak dalam sehari untuk berkomunikasi dengan Tuhan di surga. Tetapi, mereka percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dan apa yang mereka butuhkan. Tuhan yang mahakasih hanya akan mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendakNya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, dimana saja, yang berseru kepadaNya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa. Tuhan senang jika makhluk ciptaanNya dekat padaNya dan Ia mengasihi setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. Doa mereka hanya disampaikan jika mereka membutuhkan sesuatu. Itupun sering dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Kesetiaan kepada Tuhan tidak terlihat dalam hidup kerohanian mereka.

Sebenarnya, untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan tidaklah terlalu sulit. Kita tidak lagi memerlukan ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk memohon pertolonganNya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Tetapi, tentu saja umat Tuhan harus mengerti perlunya berdoa, yaitu untuk dekat dengan Sang Pencipta. Dengan demikian, dalam keadaan apa pun mereka akan merasakan adanya penyertaan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai kita sekalipun kita hidup hanya untuk diri sendiri dan jarang berdoa kepadaNya. Tuhan dekat pada mereka yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berdoa kepadaNya dengan setia.

Yesus tahu keadaan kita

“Maka kataNya kepada perempuan itu: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Markus 5: 34

Percayalah kepada kuasa dan kasih Tuhan

Apa yang akan kita lakukan jika kita mengalami keadaan darurat? Tentu jawabnya tergantung pada keadaan darurat yang bagaimana. Jika itu menyangkut keamanan pribadi, mungkin kita akan menelpon polisi. Tetapi, kalau itu mengenai kesehatan, tentunya kita bisa menelpon ambulans. Di Australia, nomer “triple zero” atau “000” adalah nomer yang bisa dikontak untuk memanggil polisi, ambulans atau pemadam kebakaran. Selain itu ada beberapa nomer khusus yang bisa dipakai untuk konsultasi, jika seseorang merasakan tekanan hidup besar yang bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak dingini.

Walaupun kita tahu adanya orang-orang tertentu yang bisa menolong kita dalam keadaan darurat di atas, ada kalanya kita merasa tidak yakin apakah ada orang yang bisa atau mau menolong kita jika ada kesulitan besar lain yang kita alami. Misalnya hal kehilangan pekerjaan, kekurangan dana dan gagalnya usaha adalah keadaan darurat yang bisa dialami semua orang, terutama pada saat pandemi yang kini terjadi di semua negara di dunia. Mereka yang mengalami kesulitan besar seperti ini seringkali harus berusaha untuk mencari penyelesaian sendiri.

Alkitab menceritakan bahwa pada waktu itu ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit perdarahan. Ia telah berulang-ulang berobat kepada berbagai tabib, sehingga telah habis uangnya, namun keadaannya justru semakin memburuk. Perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, orang luar biasa yang sudah menyembuhkan banyak orang sakit. Ia pada saat itu melihat Yesus ada di tengah-tengah orang banyak. Dalam keadaannya, perempuan itu hanya bisa mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya. Ia berpikir: “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” Ajaib, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa sudah sembuh dari penyakitnya.

Seketika itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diriNya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubahKu?” Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, kemudian tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepadaNya. Perempuan itu sadar bahwa Yesus pastilah bukan manusia biasa. Tetapi apa yang lebih menakjubkan adalah apa yang dikatakan Yesus setelah itu: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Hanya Tuhan yang bisa berkata bahwa ia sudah diselamatkan dan disembuhkan.

Pada saat ini, apakah anda merasakan adanya keadaan darurat dalam hidup anda? Apakah anda merasakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menolong dan menghibur anda? Mungkinkah anda merasa gundah dalam menghadapi hari depan? Yesus yang sudah menyembuhkan dan membawa keselamatan bagi perempuan itu adalah Yesus yang sama bagi setiap umatNya. Perempuan itu dengan imannya berani menjamah Yesus, memohon pertolongan dariNya. Dan karena imannya, ia menjadi manusia yang baru, yang merdeka dari penderitaan yang dialaminya.

Yesus yang sama menunggu kita untuk berpegang kepada iman kita dan mau menjerit kepadaNya. Yesus yang sudah mati untuk kita dan membawa keselamatan kepada kita yang dulunya orang berdosa, adalah Yesus yang sekarang hidup di surga sebagai Anak Allah yang berkuasa atas hidup kita. Dengan demikian, jika anda percaya bahwa oleh bilur-bilurnya kita telah diselamatkan, biarlah kita yakin bahwa oleh kuasa dan kasihNya kita akan dapat menghadapi hari depan dengan ketabahan dan keberanian!

Apakah anda mengenal Allah?

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3: 18 -19

Kasih Allah kepada manusia

Sebuah pertanyaan yang sering disampaikan kepada mereka yang sudah lama menikah adalah mengenai hal mengenal pasangan mereka. Apakah mereka yang sudah hidup bersama puluhan tahun sudah saling mengenal kebiasaan dan sifat pasangannya sehingga mereka bisa saling menerka segala apa yang akan diperbuat pasangannya? Pada umumnya jawaban pertanyaan ini adalah antara “ya” dan “tidak”. Hidup bersama orang lain dalam suatu pernikahan dalam waktu yang lama tidaklah membuat seseorang bisa mengerti semua apa yang dipikirkan pasangannya. Walaupun demikian, biasanya orang bisa mengerti bahwa pasangannya adalah orang yang seringkali berbeda dalam kebiasaan dan cara berpikir, sehingga ia tidak lagi terkejut atau heran jika pasangannya melakukan sesuatu hal baru. Mereka yang sudah hidup bersama cukup lama tentunya saling mengasihi dan saling memercayai.

Dalam Roma 11: 33 Paulus menulis kepada jemaat di Roma ketika ia berada di Korintus sekitar tahun 50 Masehi: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” Ayat ini sering dipakai dalam khotbah untuk menggarisbawahi kebesaran Tuhan yang tidak dapat diselami manusia. Manusia sebagai ciptaan tidak dapat menyelami jalan pikiran Sang Pencipta. Ini adalah hal yang diajarkan dalam banyak agama. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika manusia sering bertanya-tanya mengapa suatu hal harus terjadi dalam hidupnya, terutama jika hal itu adalah sesuatu yang tidak diinginkannya.

Apa yang terjadi di dunia saat ini adalah sesuatu yang membuat banyak orang menderita, dan dengan itu banyak orang yang mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi. Malahan, ada orang yang bertanya apakah Tuhan itu memang ada jika manusia harus mengalami berbagai malapetaka. Adalah menyedihkan bahwa di dalam kesusahan, manusia tidak dapat mengenali Tuhan yang mahakuasa. Terlebih menyedihkan jika ada orang yang sudah lama merasa kenal dengan Tuhannya, tetapi tidak dapat mengerti bagaimana sifat Tuhan.

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menulis sesuatu yang agaknya berbeda dengan apa yang ditulisnya dalam Roma 11: 33. Dalam ayat Efesus 3: 18-19 ini ia justru berdoa agar jemaat Efesus bersama dengan segala orang percaya dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Apakah ini bukannya doa yang sia-sia jika Tuhan adalah Allah yang tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan tak terselami jalan-jalanNya?

Paulus berdoa agar mereka dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Ini menunjukkan bahwa kepenuhan Allah adalah penting untuk bisa memahami sifat dan tindakan Tuhan. Memang setiap orang percaya mengerti bahwa Allah sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk menebus manusia yang seharusnya binasa. Dalam Kristus, kasih dan kebijaksanaan Allah sudah dinyatakan sepenuhnya. Dalam Kristus kita bisa melihat Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata. Allah adalah mahakuasa, mahatahu, mahabijaksana dan Ia juga mahakasih.

Pagi ini, jika anda merasakan jauhnya Tuhan dan betapa hidup ini terasa berat saat ini, firmanNya berkata bahwa Tuhan dapat kita lihat sepenuhnya dalam diri Kristus yang sudah membawa kita kepada keselamatan. Jika kita mengerti bahwa tidak ada hal lain yang lebih berharga dari karunia kasih Allah dalam diri Kristus, itu berarti bahwa kita sudah mengenal KasihNya yang melampaui segala pengetahuan. Jika demikian, adakah hal yang masih membuat kita ragu akan Dia yang memegang kendali hidup kita dan segala sesuatu yang ada dalam alam semesta?

Tetaplah teguh dalam pekerjaan Tuhan

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15: 58

Saat ini keadaan yang suram di dunia mempengaruhi segala aktivitas manusia. Dengan tidak adanya kepastian kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir, keadaan ekonomi dan sosial hampir semua bangsa di dunia sudah dapat dipastikan mengalami kemunduran. Lebih dari itu, ada kemungkinan bahwa keadaan dunia setelah pandemi ini akan menjadi lebih kacau karena semua negara akan berusaha keras untuk secepatnya bangkit kembali, dan dengan demikian persaingan dan pertentangan antar negara akan makin terlihat.

Dalam keadaan yang kacau saat ini, tidak dapat diragukan bahwa banyak gereja juga mengalami goncangan. Karena kegiatan gereja sudah terhenti cukup lama, saat ini kas keuangan banyak gereja sudah menjadi kosong. Tidak itu saja, banyak jemaat yang sudah lama tidak dapat berbakti bersama-sama di gereja sekarang ini mulai berkurang dalam semangat untuk melayani sesama. Sayang bahwa dalam suasana yang suram saat ini gereja justru tidak dapat memelihara jemaatnya dengan optimal. Kemunduran lebih lanjut yang akan terjadi pada umat Kristen dan misi gereja di masa mendatang sudah tentu sulit untuk dihindari.

Keadaan dunia dan negara memang bisa membuat orang yang pemberani dan bersemangat tinggi menjadi orang yang seringkali kuatir dan tidak yakin dalam menghadapi masa depan. Keadaan yang serupa mungkin dihadapi oleh orang-orang Kristen yang pertama. Tetapi, kita tahu bahwa pada saat itu umat Kristen justru kuat bertahan dalam iman sekalipun harus menghadapi penganiayaan dan berbagai penderitaan. Itu dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam kitab Korintus.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Apa yang bisa kita kerjakan dalam masa yang sulit saat ini untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baik, yang berguna untuk Tuhan dan sesama? Paulus dalam ayat pembukaan di atas menulis kepada jemaat di Korintus agar mereka tetap berdiri teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Mengapa demikian? Itu karena kita tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia. Tuhan selalu menyertai dan memberkati umatNya yang mau memakai hidup mereka untuk kemuliaanNya.

Penderitaan di saat ini membawa harapan untuk masa depan

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Roma 8: 22

Kapankah pandemi COVID-19 ini akan berakhir? Tentunya tidak ada orang yang tahu. Di Australia, dua minggu yang lalu keadaan yang sangat membaik memberi harapan bahwa PSBB di seluruh negara bisa di tinggalkan. Tetapi, setelah itu banyak kasus positif yang ditemukan di kota Melbourne. Akibatnya, sekarang sepuluh kecamatan di Melbourne dinyatakan tertutup. Kelihatannya, keadaan seperti ini juga terjadi di negara lain. Memang dengan kemajuan teknologi, ternyata manusia masih tidak mampu untuk menghindari penderitaan.

Dalam keadaan sekarang ini, umat percaya sangat berharap agar Tuhan menyatakan kuasaNya. Mereka membayangkan bagaimana indahnya keadaan di masa depan ketika mereka menerima kemuliaan surgawi dan dibebaskan dari penderitaan manusiawi dan kerusakan dunia. Dengan kata lain, semua akan diperbaiki. Manusia akan dikembalikan ke keadaan yang didudukinya ketika ia pertama kali diciptakan, sebelum dosa masuk ke dunia (1 Yohanes 3: 2). Tetapi, saat yang berbahagia itu masih terasa jauh. Saat ini, Tuhan seakan membiarkan seluruh makhluk menderita.

Dalam ayat di atas, Paulus menjelaskan bahwa kita belum sampai di surga. Di saat sekarang ini, semua ciptaan Tuhan terus mengerang karena penderitaan yang dialami dalam kerusakan semesta yang telah terjadi sejak dosa masuk ke dunia. Paul juga menggambarkan penderitaan makhluk yang merintih ini seperti merasakan sakit di saat melahirkan. Dengan kata lain, rasa sakit itu nyata, jelas, dan intens, tetapi itu mengarah ke momen “kelahiran” yaitu pada saat semua akan dikoreksi dan rasa sakit akan dilupakan.

Ini mirip dengan analogi yang digunakan oleh Yesus, dalam Yohanes 16: 21-22:

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

Dari ayat di atas, kita melihat bahwa Tuhan tidak mengabaikan penderitaan manusia. Rasa sakit itu nyata, dan manusia mengalami penderitaan dalam kehidupan ini. Intinya di sini bukan bahwa rasa sakit itu menyenangkan — sebaliknya, itu adalah hal yang menyedihkan. Apa yang bisa membuat kita melewati rasa sakit adalah mengetahui apa yang ada pada sisi yang lain. Ini seperti seorang wanita dalam persalinan untuk melahirkan bayi. Tidak ada wanita yang menginginkan rasa sakit itu sendiri, tetapi dia rela menanggungnya karena hasil sesudahnya yang menggembirakan.

Hari ini mungkin anda merasakan betapa besar penderitaan yang di alami seisi dunia. Penderitaan ini bisa menjadi hal yang sia-sia, jika tidak ada yang bisa diharapkan di masa depan. Tetapi bagi umat Tuhan, penderitaan di dunia ini justru memberi kita kerinduan dan pengharapan akan apa yang akan datang.

“…..tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 21