Siapa idola anda?

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Ibrani 13: 7

Sekarang ini, orang di seluruh dunia suka menonton acara TV seri “Idol” yang merupakan seri perlombaan menyanyi. Begitu juga di Indonesia, “Indonesian Idol” sudah ada sejak tahun 2004. Sesuai dengan judulnya, penyanyi yang memenangkan perlombaan ini seringkali menjadi penyanyi tenar idola publik, sekalipun dulunya tidak dikenal.

Judul acara yang memakai kata “idol” atau “idola” memang menarik. Apa artinya menurut kamus?

ido·la n, orang, gambar, patung, dsb yg menjadi pujaan: ia senang sekali krn penyanyi — nya tampil dl pertunjukan itu;

Idol atau idola adalah orang yang menjadi pujaan orang lain.

Dalam kenyataannya, banyak orang yang menjadi idola orang lain. Biasanya, seorang idola adalah orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam bidang tertentu, sehingga ada orang lain yang ingin seperti dia, atau setidaknya mengagumi kesuksesannya.

Idola tidak hanya untuk pribadi-pribadi saja, masyarakat pun sering mempunyai idola, dan ini biasanya tokoh-tokoh negara. Ditengah mereka yang merindukan adanya seseorang yang bisa dikagumi, adanya seseorang yang terlihat tegas, cerdas dan jujur bisa membuat banyak orang yang mengidolakannya.

Alkitab secara jelas menolak konsep idol atau idola karena dalam sepuluh hukum Tuhan ada tertulis bahwa Allah melarang adanya ilah-ilah lain (Keluaran 20: 3). Idola-idola manusia modern memang bisa menjadi seperti ilah-ilah zaman dulu. Tetapi, seperti ilah-ilah zaman dulu yang datang dan pergi, idola-idola kita bisa muncul tiba-tiba dan menghilang dalam kabut kesuraman. Dengan lewatnya waktu, orang yang kita idolakan seringkali tidaklah sebaik yang kita harapkan.

Walaupun demikian, sebagai orang Kristen kita boleh dan seharusnya mengingat dan menghormati para pemimpin kita. Ayat Ibrani 13:7 diatas menyuruh kita untuk mengingat orang yang baik, yaitu mereka yang sudah memimpin kita dalam berjalan dalam kebenaran menurut firman Tuhan, dan karena itu kita harus memperhatikan akhir hidup mereka dan mencontoh iman mereka.

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita saat ini. Adakah idol atau idola dalam hidup kita yang mengisi hidup kita lebih dari Tuhan? Mungkinkah itu pekerjaan, keluarga, harta dan penampilan kita? Ataukah itu orang lain atau benda-benda yang kita hormati dan cintai lebih dari Yesus? Mungkinkah ada orang yang kita kagumi karena kepandaian, kesuksesan dan penampilannya? Ataukah ada yang sudah sering dikecewakan oleh idola-idola mereka sehingga sekarang tidak mau mengikuti bimbingan siapapun? Marilah kita kembali mengenal Pemimpin kita , Yesus Kristus, yang selalu hidup dalam kebenaran!

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Apa yang bisa kita sombongkan?

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Rendah hati adalah salah satu sifat yang diminta Tuhan dari setiap orang Kristen, tetapi adalah satu hal yang tidak terlalu sering dibahas di gereja. Sikap rendah hati ataupun sebaliknya, umumnya adalah sesuatu yang bisa dilihat oleh orang lain tetapi agak sensitif untuk dibicarakan karena adanya orang-orang yang bisa tersinggung. Sebenarnya memang sejak Adam dan Hawa manusia cenderung sombong. Semua orang selalu mempunyai kesombongan dalam hal tertentu; dan diantara hamba-hamba Tuhan pun ada yang terlihat sombong dalam berkhotbah dan gaya hidup mereka.

Untuk menghindari kesombongan, umat Kristen selalu diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik, yang mereka punyai, datang dari Tuhan. Selain itu, setiap orang harus mengerti bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta dan manusia diciptakanNya dari debu. Manusia adalah mahluk yang kecil dan tidak berarti jika dibandingkan Tuhan.

Kita mungkin berdalih bahwa karena kita bukan robot Tuhan, kita tentu saja bisa berbuat baik, menciptakan sesuatu yang berguna, mencapai prestasi tinggi dan sebagainya. Tidak bolehkah kita merasa bangga atas prestasi dan hasil jerih payah kita? Salahkah jika kita membanggakan apa yang kita punyai, termasuk keluarga yang kita bina dan anak-anak yang kita besarkan?

Sebagai orang Kristen kita menyadari bahwa kita harus melakukan segala sesuatu yang baik. Melayani sesama, aktif di gereja, memelihara keluarga dan anak, dan menolong orang lain adalah sebagian tugas kita. Walaupun demikian, perbuatan baik sebenarnya bukanlah sesuatu yang bisa kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18-19

Jika manusia pada dasarnya tidak mampu berbuat baik, bagaimana pula Tuhan menyuruh umatNya untuk selalu berbuat baik? Bukankah ini aneh? Bagaimana kita bisa melaksanakan perintahNya?

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Ibrani 10: 24

Jelas bahwa untuk bisa berbuat baik dan menghasilkan apa yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan, kita membutuhkan karunia Tuhan. Tuhanlah yang memberikan kebijaksanaan, kemampuan, kekuatan dan kesabaran untuk bisa melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa apapun yang baik yang sudah kita lakukan adalah suatu tugas yang harus kita lakukan sebagai umat Kristen. Sebagai orang percaya, kita harus mau mengakui bahwa kita adalah hamba-hamba Tuhan yang harus memberikan segala rasa syukur dan hormat kepada Dia yang memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk berbuat baik. Soli Deo Gloria, segala puji hanya untuk Tuhan!

Hidup sesuai dengan panggilan

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Efesus 4: 1

Hari ini saya sempat mengunjungi Port Arthur, yaitu sebuah desa kecil berpenduduk sekitar 250 orang yang terkenal karena adanya penjara dari tahun 1830 yang pernah dipakai untuk menyekap orang-orang yang sudah diberi hukuman penjara di Inggris. Karena mereka tidak bisa ditempatkan di penjara yang ada di Inggris, para narapidana itu di “ekspor” ke benua Australia dan ditempatkan di Port Arthur. Sekarang penjara ini tinggal reruntuhan saja dan menjadi obyek turisme terkenal di Tasmania.

Menyusuri jalan setapak di Port Arthur dan melihat bekas ruang penjara yang ada, mau tidak mau saya merasa ngeri membayangkan bagaimana narapidana diperlakukan didalam penjara pada saat itu.

Jika narapidana Port Arthur adalah penjahat yang terjerat hukum, Paulus pernah dipenjara karena ia terjerat kasih Kristus. Ia diperlakukan seperti seorang penjahat walaupun ia tidak melakukan kejahatan. Tetapi apa yang dialaminya diterimanya dengan kerelaan sebab Yesus sudah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari itu karena dosa manusia. Paulus sadar bahwa Yesus, Anak Allah, sudah mati untuk ganti dosa yang diperbuatnya.

Pengalaman Paulus yang secara pribadi menemui Yesus dalam perjalanan ke Damaskus tentu tidak bisa dilupakannya (Kisah Para Rasul 9: 1-20). Pada waktu itu Yesus mengingatkan Paulus bahwa ia sudah menganiaya Yesus melalui kejahatan yang diperbuatnya kepada pengikut Yesus. Paulus menjadi buta selama tiga hari, dan hanya menjadi celik ketika Ananias mendapat perintah Tuhan untuk menumpangkan tangan atas Paulus.

Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Kisah Para Rasul 9: 15-16

Seperti Paulus, setiap orang percaya dulunya adalah orang yang sudah sesat dan selalu membuat Yesus sedih karena kehidupan dalam dosa. Sebelum kita berjumpa dengan Yesus dan bertobat, kita tidak mengenalNya dan hanya hidup menurut apa yang kita sukai saja. Tetapi, seperti Paulus, kita dipanggil untuk meninggalkan hidup lama kita dan ikut memberitakan kabar keselamatan. Bahkan, setiap orang percaya harus siap dan mau berkurban dan menderita untuk Yesus. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, karena selain harus berjalan dalam terang, kita juga harus menjadi terang dunia.

Pagi ini kita diingatkan Tuhan melalui pengalaman Paulus bahwa hidup kita setelah menerima Yesus tidak mungkin untuk tidak berubah, karena tiap orang secara pribadi sudah dipanggil Tuhan untuk hidup guna kemuliaan namaNya. Kita tidak bisa hanya hidup untuk diri kita sendiri. Marilah kita mau belajar dari contoh perjuangan Paulus untuk mau bekerja dan membaktikan diri untuk Tuhan!

Hal mendua hati dalam hidup

“….sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.“ Yakobus 1: 6b

Hari ini, dalam perjalanan ke Port Arthur, Tasmania, angin tidak bertiup terlalu keras dan gelombang laut pun kelihatannya tidak besar. Kapal Explorer berkapasitas 3000 orang yang saya tumpangi melaju tanpa mengalami goncangan yang berarti. Walaupun laut Tasman kali ini terlihat tenang, keadaan itu tidaklah selalu demikian.

Sikap kita dalam menghadapi tantangan kehidupan bisa dibayangkan seperti gelombang laut yang mudah dipengaruhi angin. Jika hidup kita berada dalam keadaan normal, segala sesuatu berjalan seperti biasa dan tidak ada yang kita kuatirkan. Tetapi, jika kesulitan hidup datang dan usaha kita untuk mengatasinya tidak berhasil, pikiran kita mulai kacau dan kebingungan akan mengisi hidup kita. Kebimbangan akan penyertaan Tuhan mungkin muncul dan iman kita bisa goncang seperti gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

Dalam kesulitan besar, pertanyaan yang biasanya muncul adalah mengapa hal ini harus terjadi pada diri kita. Yakobus menjelaskan dalam Alkitab bahwa keadaan yang sulit justru bisa menghasilkan ketekunan (Yakobus 1: 2), tetapi hal ini tidak mudah kita mengerti. Memang untuk bisa mengerti arti kesulitan yang kita hadapi tidaklah mudah tanpa hikmat dari Tuhan. Tanpa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidupnya, manusia mudah terpengaruh oleh pandangan-pandangan duniawi dan bahkan bujukan iblis yang menjauhkan mereka dari Tuhan yang maha kuasa, maha bijaksana dan maha kasih.

Jika otak manusia tidak dapat mengerti mengapa kesulitan hidup harus terjadi pada anak-anak Tuhan, hikmat pengertian akan diberikan Tuhan kepada mereka yang mempunyai iman dan mau memintanya dengan keyakinan yang teguh. Dalam hal ini patut disayangkan bahwa ada orang-orang Kristen yang sebenarnya ingin mengerti akan makna hidup dan tantangan kehidupan, tetapi tidak dengan setia memohon agar Tuhan memberi hikmat tentang hal itu (Yakobus 1: 5). Akibatnya, mereka tidak mempunyai hidup yang tenang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa selama ini kita mungkin lebih sering berdoa memohon agar Tuhan menolong kita, membebaskan kita dari kesulitan, tetapi tidak meminta pengertian akan apa yang terjadi dalam hidup kita. Kita sering bimbang berada diantara posisi ingin bebas dari kesulitan dan ingin berserah kepada Tuhan. Karena itu hidup kita seringkali terombang-ambing seperti gelombang laut.

“Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” Yakobus 1: 7-8

Menjala manusia adalah tugas mulia

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Matius 4: 19-20

Pagi ini saya tiba di kota kecil Eden, yang berada kira-kira 500 km di selatan Sydney. Kota ini terkenal sebagai salah satu tempat mencari ikan yang top di Australia. Turis, baik lokal maupun internasional, banyak yang datang ke kota berpenduduk sekitar 3000 orang ini hanya untuk memancing ikan di laut. Buat saya yang gemar memancing, hal itu tidak mengherankan; tetapi untuk orang lain, Eden mungkin lebih menarik karena pemandangannya. Apa yang menarik orang untuk menangkap ikan? Itu sepertinya hal yang membosankan!

Pada waktu Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon Petrus dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau sebab mereka penjala ikan. Pekerjaan yang membosankan, karena mereka harus berjam-jam bekerja tetapi belum tentu mendapatkan hasil yang memadai. Yesus mengajak keduanya untuk mengikut Dia, untuk menjadi penjala manusia. Mungkinkah ini lebih menarik dari menjala ikan? Ataukah ini juga membosankan dan sama beratnya dengan menjala ikan?

Menjala manusia, mengajak orang untuk menjadi pengikut Kristus adalah pekerjaan yang berat. Tetapi, bagi setiap pengikut Kristus, menjala manusia adalah tugas mulia yang harus dilakukan, karena itu adalah sesuatu yang bukan dianjurkan saja. Mengabarkan injil keselamatan adalah perintah Tuhan, mandat agung, untuk kita.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Mungkin di antara kita ada yang mengira bahwa menjala manusia adalah tugas pendeta, penginjil dan orang-orang tertentu saja. Mereka tidak peduli akan panggilan Kristus untuk menjadikan semua bangsa muridNya. Dengan ketidakpedulian mereka, seringkali cara hidup mereka justru bisa menghalangi usaha-usaha untuk menangkap orang-orang yang ada disekitar mereka.

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, marilah kita sadar bahwa dunia ini melihat kita dan tingkah laku kita sehari-hari. Orang lain bisa melihat kita pergi ke gereja, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang bisa membuat mereka untuk mengikut Yesus. Tetapi, jika kita hidup menurut firmanNya dan menghasilkan hal-hal yang baik dalam hidup kita, orang akan bisa tertarik untuk mengikut Yesus dan memuliakan Bapa di surga.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Gunung Batu yang kekal

“Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.” Yesaya. 26: 4

Pagi ini, ketika saya bangun tidur, terlihat sebuah bangunan gudang yang menjorok ke laut dari jendela kamar hotel saya di Sydney. Pier One pertama kali dibangun oleh tentara Inggris pada abad ke 18 sewaktu Australia baru diduduki Inggris. Kompleks bangunan ini mulanya sangat berguna untuk keperluan militer, tetapi kehilangan fungsinya sekitar tahun 1900. Entah mengapa ketika saya melihat bangunan tua yang tidak lagi digunakan itu, terasa bahwa manusia dan apa yang diciptakannya tidaklah abadi. Walaupun demikian, adalah mengherankan bahwa manusia seringkali merasa bahwa ia dapat bergantung pada apa yang bisa diperolehnya.

Pada waktu pemazmur menulis ayat diatas, mungkin ia berpikir tentang sesuatu yang ada di dunia yang jauh lebih kuat dari apa yang bisa ditemuinya, yang bisa dipakainya untuk menggambarkan Tuhan yang maha besar dan maha kuasa, yang senantiasa mampu melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya apapun. Maka pikirannya kemudian melayang kepada Allah, gunung batu yang kekal, Rock of Ages. Gunung batu yang bisa melindunginya dari badai kehidupan.

Memang hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Seringkali, ditengah perjalanan hidup, badai bisa muncul dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan. Adalah hal yang menakutkan jika kita tidak mempunyai tempat berlindung atau tidak tahu kemana kita harus pergi untuk berlindung. Begitu banyak orang yang dalam menghadapi masalah besar kemudian jatuh kedalam perasaan putus asa. Juga, karena mereka kurang mengenal Allah yang sudah mengirim Yesus ke dunia, sangat mudah bagi mereka untuk jatuh kedalam pengaruh kepercayaan lain.

Kesalahan manusia seringkali disebabkan oleh tidak adanya persiapan untuk menghadapi badai yang suatu saat akan datang. Banyak orang yang pada saat ini hidup dalam suasana nyaman, tidak pernah memikirkan kepada siapa ia harus meminta tolong atau dimana ia harus bersembunyi. Itu adalah suatu kenaifan yang memang dikehendaki iblis.

Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka. Amsal 22: 3

Pagi ini, kita diingatkan bahwa untuk semua orang, segala sesuatu ada masanya. Ada masanya untuk tertawa dan ada masanya untuk menangis (Pengkhotbah 3: 4). Tetapi untuk orang yang percaya, kasih Tuhan tidak berubah, dulu, sekarang dan selama-lamanya. Bagi mereka Tuhan adalah seperti gunung batu, pelindung yang kekal, yang tidak pernah berubah dalam hidup mereka.

Hidup adalah sebuah pilihan

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Buat semua orang yang mengaku Kristen, keselamatan adalah semata-mata anugerah Tuhan. Tidak ada yang bisa membawa keselamatan selain darah Kristus. Ini berbeda dengan kepercayaan lain yang mengajarkan bahwa manusia bisa dan harus berbuat sesuatu untuk memperoleh karcis ke surga. Walaupun demikian, pada umumnya kepercayaan apapun mengajarkan agar semua pengikutnya untuk berbuat baik.

Jika perbuatan baik untuk orang Kristen tidak dibutuhkan untuk keselamatan, orang sering bertanya-tanya apakah ada insentif bagi orang Kristen untuk berbuat baik? Apakah Tuhan tetap mengharapkan orang berbuat baik? Dalam kenyataannya kita bisa menemui banyak orang Kristen yang hidupnya tidak sedap dipandang mata. Apa yang sedap di mata pun bisa diragukan, apakah itu bukannya untuk kemuliaan pribadi saja.

Alkitab mengatakan bahwa dari apa yang kita lihat dalam hidup seseorang, kita bisa mengetahui apakah ia benar-benar pengikut Kristus.

“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Matius 7: 20

Memang kepada setiap orang yang sudah diselamatkan, Tuhan memberikan Roh Kudus sehingga mereka seharusnya dapat membedakan apa yang baik dan buruk. Karena itu, mereka yang benar-benar mengikut Kristus cepat atau lambat seharusnya akan mengalami perubahan dalam hidupnya kearah yang lebih baik. Namun untuk sebagian orang, perubahan yang dinantikan agaknya tidak kunjung datang.

Apakah manusia mempunyai peranan dalam perubahan hidup yang diharapkan? Banyak orang yang mengharapkan bahwa perubahan hidupnya datang dari pekerjaan Roh Kudus semata. Mereka mungkin merasakan adanya hal-hal yang kurang baik dalam hidupnya, tetapi tidak mempunyai inisiatif untuk berubah, sekalipun Roh Kudus sudah sering membisikkan berbagai nasihat dan peringatan. Dalam keadaan demikian, Roh Kudus telah didukakan oleh cara hidup mereka (Efesus 4: 30)

Pagi ini surat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia menantang kita yang mengaku sebagai hamba Kristus. Dalam hidup sehari-hari, adakah kita mencari kesukaan duniawi atau kesukaan surgawi? Apakah kita selalu berusaha untuk memenuhi norma kehidupan manusia saja dan bukannya firman Tuhan? Sekiranya kita masih mau mencoba memenuhi standar kebaikan manusia, maka kita bukanlah hamba Kristus. Mereka dengan sengaja menolak bisikan dan bimbingan Roh adalah musuh Kristus (Lukas 12: 8-10). Sekalipun Tuhan sudah memanggil kita, untuk memperoleh keselamatan secara cuma-cuma (Roma 3: 23-24), bagaimana kita hidup adalah pilihan kita dan mengikut Yesus adalah keputusan kita sendiri.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Berapa kali sehari kita harus berdoa?

“Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.” 1 Timotius 5: 6

Berdoa. Hal yang penting dalam hidup. Ada yang bilang cukup dua kali sehari, tapi ada juga yang mengharuskan lima kali sehari. Ada yang berdoa sewaktu-waktu, ada juga yang berdoa hanya pada waktu tertentu. Bagaimana seharusnya untuk orang Kristen?

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan yang maha kuasa; karena itu berdoa adalah salah satu berkat khusus yang diberikan hanya kepada orang-orang tertentu. Memang siapa saja bisa mengucapkan doa apa saja, tetapi tidak semua doa didengar Tuhan. Hanya doa orang yang hidup dalam Kristus akan didengar Tuhan.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Sebagai anak-anak Tuhan, kita boleh menyampaikan permohonan, yang jika sesuai dengan kehendak Tuhan, akan terjadi sesuai dengan janji Kristus.

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 14

Jika demikian, mengapa masih ada pertanyaan berapa kali kita harus berdoa dalam sehari? Memang dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menyebutkan kebiasaan yang baik untuk berdoa: pada pagi hari sebelum kita bekerja, dan pada malam hari sebelum kita tidur. Tetapi karena berdoa adalah sesuatu yang sangat penting, kita boleh berdoa kapan saja, dimana saja kita berada. Malahan, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa seorang janda yang ditinggalkan seorang diri, akan menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. Bukan hanya dua kali atau lima kali sehari.

Masalahnya adalah tidak semua orang menyadari bahwa mereka mempunyai Tuhan yang maha kasih, yang selalu mau menolong anak-anakNya. Juga tidak semua orang menyadari bahwa dalam kesendirian mereka, mereka seharusnya menaruh harapannya kepada Tuhan dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.

Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Pada saat dimana kita tidak dapat menemukan seseorang untuk mendengarkan curahan hati kita, Yesus menunggu kita untuk berdoa kepadaNya. Yesus adalah sobat kita yang setia. Dalam duka dan kesukaran, kita akan mendapat penghiburan dan pertolongan. Dalam suka, Yesus memberi kita keyakinan yang lebih besar akan kasihNya yang tidak berkesudahan.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Tidak ada waktu?

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41-42

Apakah dengan kemajuan teknologi manusia bisa mengurangi kesibukannya? Logisnya memang begitu, karena banyak kemudahan dan kenyamanan yang diperoleh melalui kemajuan elektronik, komputer dan internet, dan juga karena kemajuan teknik lainnya. Kalau dulu mengirim kabar harus melalui surat yang perlu beberapa hari untuk mencapai tujuannya, sekarang dengan email dan SMS seseorang bisa mengirimkan kabar dalam beberapa detik saja. Dengan adanya mobil orang tidak perlu berkuda berhari-hari untuk pergi ketempat yang jauh; dan bahkan dengan pesawat jet, orang bisa menempuh jarak 1000 km dalam waktu sejam saja.

Sungguh aneh bahwa ditengah kemajuan yang ada, ternyata manusia tidak juga berkurang kesibukannya. Dengan adanya internet, orang justru bisa kewalahan untuk membaca dan membalas email, SMS, dan WA. Memang dengan berbagai penemuan yang baru, orang seakan berlomba untuk membeli dan memakainya, sehingga mereka seringkali kehabisan waktu karena terlalu banyak mengerjakan hal- hal yang kurang perlu, dan juga menguatirkan dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, persis seperti Marta.

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan, dan mampir di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Kalau saudara Marta, Maria, memilih untuk duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan Yesus, Marta sibuk melayani. Marta menjadi marah karena Maria tidak mau membantunya. Marta mungkin merasa bahwa ia mengerjakan sesuatu yang sangat penting yaitu menjamu Yesus dan mengira bahwa Maria tidak peduli akan hal itu.

Banyak renungan yang membahas soal Marta dan Maria sebagai dua jenis orang Kristen. Yang satu adalah seperti Maria yang mementingkan Firman, dan yang lain seperti Marta, mementingkan kesibukan duniawi. Tetapi mungkin juga dapat dibayangkan bahwa dalam hidup kita, karakter Marta dan Maria itu sering kita rasakan silih berganti. Ada kalanya kita ingin menjadi Maria, duduk berdiam dekat kaki Yesus, tetapi sering juga tugas, tekanan kehidupan dan godaan dunia membuat kita bertingkah-laku seperti Marta.

Sebagai Maria mungkin kita merasa bahwa mendengarkan suara Tuhan itu lebih penting dan percaya bahwa masih ada waktu untuk mengerjakan hal-hal lain sesudahnya. Sebagai Marta kita mungkin merasa bahwa ada terlalu banyak hal yang harus dikerjakan saat ini, dan karena itu mendengarkan suara Tuhan bisa dilakukan belakangan, kalau masih ada waktu.

Berapakah waktu yang sebenarnya kita punyai? Semua orang hanya mempunyai 24 jam sehari, dan 8 jam setidaknya dipakai untuk beristirahat. Tidak banyak. Jika kita tidak bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan, waktu yang ada akan hilang dengan cepat. Umur manusia juga tidak panjang; jika kita menunda-nunda untuk hidup untuk Kristus, kesempatan kita juga akan hilang.

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90: 10

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah apakah kita selalu punya waktu untuk Tuhan. Hari ini dan dalam hidup kita. Tuhan sudah memberi waktu dan kesempatan kepada kita. Sebagai umatNya, kita harus bijaksana dalam memakai waktu yang masih ada.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” Mazmur 90: 12