Apa yang bisa aku lakukan?

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Markus 5: 28

Apa yang bisa aku lakukan? Pertanyaan ini sering muncul pada seseorang yang dalam kesulitan yang besar. Dalam situasi yang sangat mendesak, in desperation, orang menjerit: what can I do?

Jika kita berada dalam keadaan yang sedemikian dan tidak ada siapapun yang bisa menolong kita, mungkin jeritan kita adalah sia-sia belaka. Sekalipun ada banyak orang disekitar kita, kita mungkin merasa bahwa semua persoalan yang ada hanya bisa kita hadapi seorang diri, dan karena itu kita mungkin tidak bisa mengharapkan jawaban orang lain atas seruan kita. Sebagai manusia biasa, layaklah kita merasa tak berdaya.

Dalam Markus 5: 25-28 diceritakan adanya seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sampai-sampai semua uangnya habis, tetapi itu sama sekali tidak ada hasilnya. Malahan, keadaannya makin memburuk. Apa lagi yang harus diperbuatnya? Rasa putus asa mulai mengisi hidupnya: uang habis, tidak ada jalan keluar, dan tidak ada harapan.

Kelihatannya perempuan itu berada dalam keadaan kritis, baik secara jasmani maupun rohani. Tetapi Tuhan itu maha kasih, Ia selalu bersedia menolong orang-orang yang dikasihiNya. Dalam keadaan yang berat, Tuhan memberikan satu berkat yang selalu ada didalam hati orang yang mengakui kuasaNya: Iman.

Perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, dan ia percaya bahwa sekalipun orang lain tidak bisa menolong, Yesus pasti bisa. Maka di tengah-tengah orang banyak yang tidak bisa menolongnya, ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Seketika itu juga ia disembuhkan. Sekalipun dunia tak bisa diharapkan, Tuhan tetap ada sebagai penolong orang yang percaya. Kisah nyata yang indah, tetapi mengapa Yesus mau menolong perempuan itu?

Sebagai manusia, Yesus pun mengalami pergumulan yang serupa. Dalam injil Lukas 22: 41-45, tertulis bahwa Yesus bergumul dalam doa di taman Getsemani menjelang penyalibanNya. Ia merasa takut dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Murid-murid yang dikasihiNya hanya bisa berduka dan tidur. Tetapi apa yang dilakukan Yesus membawa kekuatan yang baru. Ia berdoa:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 43

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Di dalam keadaan yang berat, Allah menyatakan kasihNya pada waktu yang tepat.

Pagi ini, jika kita merasa masygul karena berbagai persoalan, marilah kita yakin bahwa Yesus adalah Tuhan kita yang maha pengasih. Maha Pengasih adalah salah satu sifat hakiki Tuhan (1 Yohanes 4: 8). KasihNya sungguh besar kepada semua orang, terutama kepada mereka yang beriman kepadaNya. Lebih dari itu, sebagai manusia tidak berdosa yang sudah mengalami penderitaan di kayu salib, Ia sudah memberi teladan bahwa jika kita menyerahkan semua kesulitan kita kepada Tuhan, kita akan lebih dapat merasakan kasihNya dalam hidup kita.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3-5

Orang sehat tak perlu dokter

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Bagi banyak orang, masalah kesehatan adalah bahan pembicaraan yang sangat populer. Seringkali saya menerima kiriman nasihat dari teman-teman tentang khasiat jamu tertentu, cara menghindari penyakit, larangan kegiatan tertentu untuk mencegah sakit, dan nasihat sejenisnya. Sepintas lalu, nasihat semacam itu seakan punya maksud baik, yaitu untuk menolong orang lain. Tetapi, jika diselidiki dan dipikirkan masak-masak, kebanyakan nasihat semacam itu tidak berdasarkan fakta atau penyelidikan medis yang benar. Karena itu, ada kemungkinan orang yang sebenarnya perlu nasihat dokter bisa-bisa memilih tindakan yang keliru gara-gara berita yang tidak jelas asal-usulnya.

Memang peringatan dan nasihat kesehatan yang benar itu perlu. Banyak orang yang sakit tetapi lebih suka minum “obat” pilihan sendiri. Ada juga yang sakit serius, tidak tahu kalau sakit dan tidak pernah ke dokter karena hidupnya sibuk . Selain itu ada juga orang sakit yang tidak mau mengaku sakit karena takut sakit. Ada pula yang merasa sehat karena melihat banyak orang lain yang jauh lebih tidak sehat jika dibandingkan dengan dirinya. Hal sakit itu bukan saja mengenai jasmani tetapi juga bisa mengenai rohani. Banyak orang yang menderita depresi dan gangguan kejiwaan lainnya, tetapi tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui. Karena itu, sering terjadi bahwa orang-orang yang sedemikian pada akhirnya mengambil tindakan yang menyedihkan karena tidak ada orang yang bisa menolong mereka.

Pada waktu Yesus menjumpai para pemungut cukai dan orang-orang yang dimusuhi masyarakat, Ia memutuskan untuk makan bersama orang-orang itu (Markus 2: 14-16). Ketika para ahli Taurat dan kaum Farisi melihat hal itu, mereka menjadi tidak senang hati karena bagi mereka, orang pemungut cukai dan orang berdosa adalah seperti orang yang mempunyai penyakit menular yang harus dihindari. Tetapi Yesus dengan tepat menjawab bahwa seperti seorang tabib yang datang untuk orang yang sakit, Ia datang bukan untuk orang yang benar, tetapi untuk orang berdosa (Markus 2: 17).

Jika kita meneliti jawaban Yesus itu, mungkin kita bertanya-tanya apakah ada orang yang benar di dunia ini, Mungkinkah Yesus sebenarnya bermaksud untuk menjelaskan bahwa Ia datang untuk semua umat manusia? Benar! Memang semua manusia adalah orang berdosa, yang seperti orang sakit, semuanya memerlukan pertolongan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Walaupun demikian, tidak semua orang merasa bahwa mereka adalah orang berdosa. Seperti orang sakit, banyak orang yang tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui bahwa mereka adalah orang yang membutuhkan seorang Juruselamat. Seperti masalah kesehatan, seringkali, orang merasa bahwa hidup mereka masih lebih baik daripada orang lain dan karena itu tidak ada yang perlu dikuatirkan. Tambahan pula, seringkali orang lebih senang mengikuti ajaran dunia daripada menaati firman Tuhan.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa hidup dengan mengabaikan kenyataan adalah hidup dalam impian. Setiap orang adalah orang yang berdosa dan lemah, dan karena itu membutuhkan pertolongan. Biarpun hidup kita serasa nyaman dengan segala kekayaan, ketenaran, kedudukan dan kekuasaan dan bahkan dengan kesehatan tubuh yang prima saat ini, tidak ada seorangpun yang bisa menolong kita dalam hal hidup suci yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Semua orang tidak dapat memenuhi syarat kesucian dan hidup baik menurut standar Allah, dan karena itu semua orang pada akhirnya akan menemui hukuman Tuhan, yaitu kematian abadi. Tetapi barangsiapa benar-benar percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya dan menyadari segala kelemahan dan dosanya akan memperoleh hidup kekal melalui pertobatan dari hidup lamanya. Lebih dari itu, jika kita benar-benar mau menyerahkan hidup kita kepada Yesus, kita akan menerima bimbingan Roh Kudus sehingga  makin lama hidup kita akan makin dipenuhi kasih Kristus.

Sudahkah anda membuka pintu hati anda?

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Dari sekitar 2,2 miliar orang Kristen di seluruh dunia saat ini, sebagian pergi ke gereja pada hari Minggu. Untuk yang lain, hari Sabtu merupakan hari Sabat mereka. Untuk apa mereka ke gereja? Apa yang mereka cari di gereja?

Sebagian besar mungkin merasa bahwa ke gereja adalah suatu keharusan, mengikuti perintah Tuhan. Bagi yang lain, mendengarkan khotbah dan menyanyikan lagu pujian sudah menjadi kebiasaan dari kecil. Ada juga yang ke gereja untuk menjalankan tugas gereja dan mereka memang senang untuk berorganisasi. Sebagian yang lain mungkin menikmati kebersamaan dengan sanak dan teman.

Sebenarnya kebiasaan ke gereja dengan teratur setiap minggu itu bisa dilihat dari segi kerinduan orang percaya untuk menjumpai Tuhan. Tradisi dari zaman bani Israel menunjuk pada kebiasaan untuk berbakti di bait Allah dimana kehadiran Allah dirasakan. Yesus bersama orang tuaNya pun pergi ke bait Allah di Yerusalem tiap hari Paskah sejak kecil, dimana Ia juga senang mempelajari firman Allah.

Merasakan adanya kehadiran Tuhan di gereja memang suatu pengalaman yang indah yang bisa dirasakan setiap orang Kristen. Apalagi jika suasana mendukung, barangkali dengan nyanyian, doa dan khotbah yang ada. Dalam suasana yang demikian kita mungkin merasa bahwa Tuhan itu dekat dan kita mengenali Dia. Walaupun demikian, pertanyaan untuk kita adalah apakah kita benar-benar kenal dengan Tuhan.

Ada banyak orang yang mengenal Tuhan dari firmanNya. Tetapi pengenalan itu hanya dari akal budi saja. Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita dan dengan segenap kekuatan kita (Markus 12: 30). Dengan demikian, bukan saja kita harus mengenal Dia, tetapi kita harus membiarkan Tuhan untuk masuk kedalam hidup kita sehari-hari. Kita harus membiarkan Roh Kudus tinggal di hati kita untuk bekerja disana.

Pagi ini, jika kita merasa terpanggil untuk pergi ke gereja, kita diingatkan bahwa Tuhan mengharapkan perjumpaan dari hati ke hati, dan bukan hanya sekedar pertemuan selama satu atau dua jam saja. Seringkali kita merasa bahwa kita kenal Tuhan, tetapi sebenarnya kita hanya tahu bahwa Dia ada. Hati kita mungkin masih tertutup untuk Dia, dan kita mungkin saja masih berusaha menyembunyikan hidup kita dari pandangan mataNya. Mungkin pengalaman pahit di masa lalu, keraguan akan kasihNya, atau ketakutan kita akan kesucianNya, membuat kita menutup pintu hati kita. Kita mungkin merasa lebih tenteram jika Tuhan tidak mencampuri hidup kita.

Saat ini, Tuhan menunggu kita untuk membuka pintu hati kita agar Ia bisa masuk ke dalam hidup kita. Ia yang maha kasih bermaksud untuk menguatkan menghibur, membimbing dan menolong kita dan bukannya membuat hidup kita lebih berat. Maukah kita membiarkan Dia masuk?

“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” Mazmur 26: 2-3

Seberapa jauh aku harus berlari?

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Salah satu keharusan untuk seorang pelari adalah berlatih setiap hari. Untuk itu, ia harus menyesuaikan skedul latihannya dengan jenis pertandingan yang akan diikutinya. Seorang pelari marathon misalnya, harus berlatih lari jarak jauh setiap hari karena pada waktu pertandingan ia harus menempuh jarak 42 km itu dalam waktu kurang dari 2,5 jam.

Sebagai orang Kristen, kita semua digambarkan oleh rasul Paulus sebagai seorang pelari jarak jauh yang harus berlari terus sepanjang hidupnya untuk bisa menyelesaikan pertandingannya dengan baik, untuk bisa memenuhi panggilan Tuhan, sehingga kita bisa menerima kemuliaan dari Tuhan yang sudah memilih kita sebagai pelari-pelariNya.

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8: 30

Memang untuk terus berlatih setiap hari, seorang pelari mempunyai disiplin. Ada hari-hari dimana perasaan malas atau bosan datang. Ada juga saat dimana tubuh dan pikiran merasa lelah, dan dalam pikiran mulai timbul pertanyaan apa arti semua perjuangan ini. Apakah hadiah yang akan aku terima cukup memadai jika dibandingkan dengan pengorbananku?

Seperti seorang pelari Tuhan, kita pun bisa menjadi masygul dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Hidup sebagai manusia saja sudah berat, belum lagi hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Pertanyaan sering muncul, berapa lama kita harus berlari dalam hidup ini, dan berapa lama kita harus berlari menuruti firman Tuhan setiap hari.

Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama kita hidup di dunia ini. Sebagai pelari Tuhan kita harus tetap bertahan dalam menjalankan perintahNya untuk berlari sampai garis finish. Seumur hidup. Sebagai pelari Tuhan kita harus berlari, hidup dalam kebenaranNya, 24 jam sehari. Ini adalah keharusan yang tidak dapat kita lakukan dengan tenaga sendiri.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita sebagai pelari-pelari Tuhan. Apakah kita tetap mempunyai semangat untuk terus berlari hingga akhir hayat kita? Apakah tekanan hidup kita sangat berat sehingga berat bagi kita untuk tetap berlari dalam iman? Apakah kejemuan hidup sudah sedemikian besar sehingga kita hanya hidup menurut firmanNya untuk beberapa jam saja dalam sehari?

Tuhan yang sudah memilih kita sebagai umatNya dan akan memberikan kita hadiah surgawi, adalah Tuhan yang maha kasih dan maha bijaksana. Ia tahu kapan kita merasa lelah, jemu atau sakit. Apa yang kita perlukan hanyalah kesadaran bahwa Ia menyertai kita sepanjang kita berlari dalam hidup ini. Ia menunggu kita untuk datang kepadaNya guna memperoleh kesegaran dan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan hidup kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Punya rencana untuk masa depan?

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Memang hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi sekalipun mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui mereka yang mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14

Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan!

Apa yang anda minta?

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Mazmur 27: 4

Suatu kenangan yang manis yang masih saya ingat mengenai masa kecil saya adalah saat dimana hari ulang tahun saya mendatangi. Keluarga saya pada tahun 60an, seperti banyak keluarga yang lain di Indonesia, hidup dalam kesederhanaan. Memang keadaan negara Indonesia pada saat itu cukup prihatin. Walaupun demikian, orang tua saya yang tidak tergolong mampu, selalu merayakan hari ulang tahun anak-anaknya setidaknya dengan makanan “istimewa”. Untuk itu, ibu saya biasanya bertanya makanan apa yang saya maui.

Tahun demi tahun berlalu, dan saya pun bertambah dewasa untuk tidak dikatakan bertambah tua. Sungguh menarik bahwa dengan bertambahnya umur, daftar yang saya maui dalam hidup kelihatannya masih banyak juga. Seperti orang lain, sebenarnya ada banyak hal yang kita inginkan dalam hidup ini, walaupun dengan bertambahnya umur kita mungkin harus menerima kenyataan bahwa sebagian dari apa yang kita ingini, mungkin tinggal sebagai impian saja.

Adalah kenyataan bahwa hidup manusia ada di tangan Tuhan yang maha kuasa. Apapun yang kita ingini hanya terjadi jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Seringkali, apa yang tidak kita ingini malahan terjadi dalam hidup kita. Itupun harus kita terima dengan iman bahwa segala sesuatu yang terjadi bagi orang percaya akan membawa kebaikan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apakah sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh meminta apa yang kita inginkan? Sudah tentu boleh! Yesus malahan pernah berkata bahwa apapun yang kita minta dalam namaNya akan dikabulkan.

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 14

Walaupun demikian, untuk bisa meminta dalam nama Yesus, kita harus bisa mengerti apakah Yesus sendiri akan dengan senang hati melakukannya diluar permintaan kita. Kita hanya dapat melakukan sesuatu atas nama orang lain jika kita yakin bahwa orang itu akan setuju dengan apa yang kita lakukan. Karena itulah, doa orang percaya selalu dilandasi pengertian bahwa segala sesuatu pada akhirnya, harus diserahkan kepada kehendak Tuhan.

Apa yang kita inginkan dalam hidup ini akan terjadi kalau Tuhan menghendaki. Apa yang dikehendaki Tuhan dari awalnya adalah hubungan yang erat dengan umatNya. Karena Tuhan adalah maha kasih, Ia ingin kita untuk mengasihi Dia. Karena itu apa yang kita minta seharusnya untuk membina hubungan kita dengan Tuhan, sebab Tuhan tidak suka jika kita menginginkan sesuatu yang justru akan merusak hubungan itu.

Pagi ini, baik untuk yang masih tergolong muda ataupun yang sudah berusia, untuk anda pertanyaan Tuhan tetap ada. Apakah yang anda minta dalam hidup anda? Adakah sesuatu yang sangat diinginkan? Sebutkan satu persatu, dan bandingkan semuanya dengan permintaan pemazmur diatas. Satu hal telah diminta pemazmur adalah untuk diam di rumah Tuhan seumur hidup, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya. Dalam kata lain, pemazmur ingin memuliakan Tuhan sambil bersyukur dan membina hubungan yang intim dengan Tuhan seumur hidupnya. Jika ini adalah motif keinginan kita, percayalah bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan mengabulkan permintaan kita!

Soal merumpi

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.” 2 Timotius 2: 16

Saat ini baik di Indonesia maupun di luar negeri, mall di pusat pertokoan selalu penuh dikunjungi orang, terutama jika udara luar sedang panas. Dinginnya AC di shopping centre dan nikmatnya duduk-duduk di cafe atau restoran selalu mendorong orang untuk jalan-jalan, kumpul-kumpul dan “ngrumpi”.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, merumpi adalah acara mengobrol sambil bergunjing dengan teman sebaya atau sekelompok, biasanya dalam kelompok kecil. Untuk mengadakan acara merumpi tidaklah sulit. Apalagi dengan populernya aplikasi telepon gengam, undangan atau ajakan untuk merumpi bisa disebarkan dengan cepat dan acara kumpul-kumpul bisa diadakan di setiap tempat dan saat.

Sebenarnya acara kumpul-kumpul itu tidak ada salahnya karena jemaat Kristen yang mula-mula juga senang melakukan hal itu dan karena itu jugalah gereja bertumbuh makin lama makin besar. Tetapi, dalam acara kumpul-kumpul murid Yesus, tujuan mereka adalah saling menguatkan, saling mendoakan dan hidup dalam takut akan Tuhan; karena itu jumlah mereka bertambah banyak oleh pertolongan dan pengiburan Roh Kudus (Kisah 9: 31).

Perlu diingat bahwa keadaan pada waktu itu tidaklah aman untuk pengikut Kristus untuk bertemu dan berbakti bersama-sama. Tetapi justru dalam keadaan yang demikian,  pertemuan mereka membawa berkat Tuhan karena tujuan pertemuan itu adalah untuk memuliakan Tuhan dan untuk saling menguatkan. Kejadian yang serupa juga terjadi di zaman ini – di negara-negara dimana agama Kristen dimusuhi oleh masyarakat dan pemerintah setempat;  pertemuan umat Kristen tetap berlangsung dibawah tanah, walaupun dalam suasana yang kurang aman atau nyaman.

Apa yang agaknya menyedihkan di masa sekarang adalah justru dalam keadaan yang relatif aman dan nyaman di banyak negara, orang Kristen malah kurang tertarik untuk berkumpul dalam kelompok kecil guna mempelajari firmanNya. Kalaupun ada, acara kumpul-kumpul, itu mungkin saja didasari keinginan-keinginan lain seperti makan-makan, kumpul-kumpul, nostalgia atau merumpi. Ini terjadi di negara-negara yang relatif aman bagi orang Kristen untuk berkumpul dan beribadah. Acara pertemuan seperti itu bukan hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui berbagai aplikasi telepon genggam atau komputer. Pertemuan serupa diantara umat Kristen untuk membahas firman Tuhan jauh lebih tidak populer jika dibandingkan dengan pertemuan sosial, chatting, yang pada umumnya disambut dengan rasa antusias setiap hari.

Sebagai orang Kristen mungkin kita sadar bahwa pada waktunya kita akan bersama-sama dengan mereka yang seiman berkumpul di surga. Apa yang akan kita kerjakan di surga? Wahyu 7: 9-10 mengatakan:

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Inilah kenyataannya, bahwa jika kita memilih untuk mengikut Yesus, pada saatnya kita akan berdiri bersama-sama dengan saudara seiman di hadapanNya dan mempersembahkan puji-pujian kita kepadaNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, hidup kita di dunia ini bukanlah tujuan akhir kita. Karena itu, segala usaha dan persiapan kita haruslah dilakukan sedemikian rupa sebagai persiapan untuk menemui Tuhan kita yang maha suci di surga. Hidup kita di dunia oleh sebab itu haruslah diisi dengan hal-hal yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan bukannya dengan hal-hal duniawi yang membuat kita makin jauh dari Tuhan!

Hidup itu tidak mudah

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Sejak dulu manusia berusaha mencari tuhannya dengan berbagai cara, tetapi segala usahanya sia-sia karena Tuhan yang maha suci tidaklah terjangkau oleh pikiran dan usaha manusia. Hanya karena Yesus sudah turun ke dunia dan mati ganti dosa, manusia bisa menyadari adanya Tuhan yang maha kasih yang bisa didekati oleh setiap orang percaya.

Namun, sejarah juga membuktikan bahwa sekalipun bangsa pilihan Tuhan, Israel, juga berkali-kali memberontak dan mencoba untuk mencari tuhan yang lain. Mereka yang mendambakan tuhan yang bisa dilihat dan diraba, mencoba untuk menciptakan berbagai berhala, ilah-ilah, guna disembah. Mereka yang bosan mendengar tuntutan Tuhan mencoba untuk berganti arah, mencari ilah yang lebih bisa memberi kebebasan hidup.

Di zaman ini, mereka yang menginginkan hidup sukses, kekayaan, kedamaian dan kenyamanan hidup yang lain, berusaha mencari jalan pintas melalui cara hidup dan pengabdian kepada ilah-ilah yang kelihatannya lebih baik dan sabar. Ilah yang tidak pernah mendidik, mengatur, memperingatkan dan menghukum manusia yang salah jalan. Ilah yang sedemikian hanyalah ada dalam pikiran manusia, yang ingin bebas dari batas-batas yang ditentukan oleh Tuhan yang maha kuasa dan maha suci. Ilah yang sedemikian haruslah diciptakan manusia sendiri.

Ada banyak orang yang percaya adanya sesuatu yang berkuasa tetapi tidak mau mengikut agama apapun. Ada banyak orang yang memilih agama yang tidak menekankan adanya neraka dan pentingnya hidup yang benar. Juga banyak orang yang mengikut ajaran bahwa iman yang benar selalu akan membawa kemakmuran dan kekayaan. Malahan ada yang mengajarkan bahwa manusia dan Tuhan adalah satu dan mempunyai kuasa ajaib di alam semesta.

Di kalangan umat Kristen pun, mereka yang bosan mendengar didikan dan peringatan Tuhan banyak yang berusaha untuk menyesuaikan firman Tuhan dengan gaya hidup manusia. Bukannya menjalani hidup menurut firman Tuhan, mereka justru membengkokkan atau mengartikan firman Tuhan untuk disesuaikan dengan hidup mereka. Akibatnya ada banyak gereja yang sudah berubah menjadi perkumpulan sosial saja, dan banyak orang Kristen yang hanya sekedar mengikuti tradisi.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa menjadi orang Kristen bukanlah hanya untuk menerima berkat Tuhan. Menjadi umat Tuhan berarti hidup menurut firman Tuhan dan selalu mau mendengar dan menaati didikan dan peringatan Tuhan agar kita berjalan di jalan yang benar. Memang hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah; karena itu hidup yang mudah bukanlah hidup Kristen!

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Sudahkan Yesus hidup dalamku?

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Galatia 2: 20

Barangkali anda pernah bertanya apa yang terjadi sesudah seseorang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya. Adakah sesuatu yang berubah dalam hidup seseorang yang sudah menyerahkan hidupnya kepada Yesus? Mungkin syair lagu dibawah ini bisa memberi gambaran tentang apa yang terjadi dalam hidup baru seseorang yang sudah dilahirkan kembali.

Hidupku bukannya aku lagi,

tapi Yesus dalamku

Yesus hidup

Yesus hidup dalamku

Hidupku bukannya aku lagi,

tapi Yesus dalamku

Lagu yang liriknya sederhana ini adalah berdasarkan ayat Galatia 2: 20. Lagu ini adalah salah satu lagu terkenal yang mungkin sekarang jarang dinyanyikan di gereja karena adanya lagu-lagu baru yang lebih menarik syair dan nadanya. Padahal, apa yang ada dalam lagu ini adalah suatu yang sangat penting, yang menandai hidup baru seseorang yang sudah ditebus Kristus.

Orang yang sudah lahir baru adalah sebuah ciptaan yang baru dalam Kristus.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Sebagai ciptaan baru, orang itu telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal jalan keselamatan dan sudah menerima Yesus sebagai Tuhannya. Orang yang demikian tidak hanya mengaku dengan mulut dan pikirannya bahwa Yesus itu Tuhan, tetapi juga mempersilahkan Yesus untuk masuk kedalam hati dan menguasai hidupnya.

Orang yang sudah benar-benar menerima Kristus pasti akan berubah hidupnya. Bukannya hidup orang itu berubah seperti Kristus hidup dalamnya, tetapi hidup orang itu menjadi hidup Kristus karena Ia sendiri melalui Roh Kudus memang hidup didalamnya. Dengan membiarkan Kristus tinggal didalam hidup kita dan memegang kendali hidup kita, tidak dapat kita hindari bahwa makin lama apa yang kita lakukan adalah apa yang akan Yesus lakukan dalam keadaan yang sama. Segala yang kita perbuat, pikir atau katakan menjadi selaras dengan kehendak Tuhan.

Pada hari Minggu ini kita mendapat kesempatan untuk memikirkan berapa lama kita mengenal Yesus. Sejak kapan kita mengaku bahwa Yesus itu Tuhan dan apakah hidup kita sudah selaras dengan hidup Kristus. Baik dalam kegembiraan, kesedihan, kemarahan, ketegangan dan ketakutan, kita harus bisa melihat apakah reaksi kita sudah sesuai dengan Yesus yang pernah menjadi manusia seperti kita. Dengan itu, kita juga bisa menganalisa hidup kita sampai sekarang, untuk menyadari apakah Yesus benar-benar sudah hidup didalam kita.

Rambu-rambu kehidupan

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Beberapa bulan yang lalu, sewaktu saya mengendarai mobil melewati sebuah motorway antara Brisbane dan Gold Coast, saya melihat sejumlah rambu orang-orangan yang berwarna kuning berderetan di pinggir jalan. Walaupun tidak mengerti apa arti rambu itu, otomatis kaki saya menginjak rem untuk mengurangi kecepatan mobil. Memang reaksi otomatis saya ketika rambu sedemikian muncul dipinggir jalan ialah “hati-hati, ada orang lewat”. Belakangan, saya membaca bahwa memang rambu-rambu baru itu, 20 jumlahnya dan 180 cm tingginya, sengaja dibuat sebagai peringatan untuk membuat pengendara mobil lebih berhati-hati karena adanya proyek pelebaran jalan.

Dalam kehidupan manusia memang ada berbagai rambu-rambu yang dimaksudkan untuk membimbing mereka agar menjalani hidup dengan baik. Rambu-rambu sosial, budaya, agama, hukum dan sebagainya memberikan pedoman dan peringatan yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat. Walaupun orang mengerti tujuan pemakaian rambu-rambu itu, tidak semua orang mengacuhkannya. Mengapa? Mungkin banyak orang yang berpikir:

  • Itu untuk orang lain
  • Saya tahu apa yang lebih baik
  • Itu sudah tidak berlaku lagi
  • Terlalu sulit dilakukan
  • Tidak ada gunanya
  • Tidak ada waktu

Untuk orang Kristen, firman Tuhan adalah seperti rambu-rambu yang membimbing perjalanan dan lampu yang menerangi jalan hidup mereka. Tanpa itu hidup manusia akan melenceng dari jalan yang benar dan kejatuhan kedalam dosa tidaklah dapat dihindari.

Walaupun orang Kristen tahu akan akibat dosa adalah kematian, mereka juga percaya bahwa karena kasih Allah, Yesus sudah mati ganti dosa. Karena itu, sebagian orang Kristen mungkin merasa tidak perlu lagi untuk terlalu memperhatikan apa yang diperintahkan Tuhan. Malahan, mereka yang ingin hidup sesuai dengan firman Tuhan sering dianggap orang Farisi. Padahal, Yesus pernah berkata:

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20

Hidup untuk sebagian orang Kristen mungkin ingin dirasakan sebagai kebebasan dari kekuatiran karena Tuhan yang maha kasih tentunya akan mengampuni mereka. Dengan demikian mereka menjadi acuh tak acuh, blasé, terhadap peringatan-peringatan Tuhan. Dalam hal ini, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa sikap hidup sedemikian adalah keliru.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6: 1

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan adalah seharusnya kita lebih berhati-hati dengan hidup kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus dan tidak mengabaikan firman Tuhan sebagai rambu-rambu dan lampu kehidupan yang tidak pernah berubah, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar dan hidup dalam kasih pemeliharaanNya.

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” Yesaya 40: 8