Mau berpikir positif ?

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Di zaman ini, banyak kita temui buku-buku, ceramah, dan bahkan khotbah tentang bagaimana mencapai keberhasilan dan kebahagiaan melalui cara berpikir positif (positive thinking). Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang tertarik untuk mengikuti tren psikologi ini, dan karena itu jugalah para motivator saat ini mengalami masa kejayaan. Manusia yang merasa terhilang, yang tidak dapat merasakan penguatan dari khotbah gereja, mungkin merasa lebih disegarkan dengan pesan-pesan positif dari para motivator. Oleh karena itu jugalah banyak pendeta yang berubah fungsi, menjadi motivator dari mimbar gereja.

Sebenarnya Alkitab mempunyai banyak ayat yang menekankan pentingnya untuk berpikir positif. Berpikir positif adalah cara berpikir yang diharapkan untuk menghasilkan “energi yang positif”, yaitu suatu energi yang akan menghasilkan pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap yang baik yang dapat membuat manusia menjadi bersemangat, melakukan hal-hal yang benar dan menjadi bahagia. Tetapi berbeda dengan ajaran para motivator tentang “percaya diri” untuk mencapai keberhasilan, firman Tuhan menyatakan pentingnya untuk bergantung kepada Tuhan, sumber kehidupan manusia.

Salah satu definisi berpikir positif adalah “tindakan meninjau proses berpikir untuk mengidentifikasi area-area yang perlu diperbaiki, dan kemudian menggunakan alat yang tepat untuk mengubah pemikiran tersebut dengan cara yang positif dan berorientasi pada tujuan.” Tentu saja, dalam hal ini berpikir positif adalah suatu tindakan dan sikap hidup yang baik. Walaupun demikian, seringkali orang yang menerapkan falsafah “berpikir positif” mempunyai keyakinan adanya semacam kekuatan ajaib di balik pemikiran ini: kekuatan manusia yang dulunya tidak disadari, sekarang bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai keberhasilan. Pemikiran semacam ini bertentangan dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa Ialah yang berkuasa untuk menentukan apa yang akan terjadi, sesuai dengan rencanaNya.

Dalam ajaran manusia, berpikir positif adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap individu, karena dengan sifat ini, banyak hasil baik yang akan diperoleh. Diajarkan pula bahwa dengan berpikir positif manusia tidak akan berhenti karena keterbatasan, namun pikiran positif justru akan membuat mereka mencari kekuatan mereka sendiri hari demi hari. Ajaran ini dengan demikian menekankan bahwa nasib (destiny) kita ada di tangan kita sepenuhnya. Hal ini bertolak belakang dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan dan kekuatan kita hanya bisa diperoleh melalui iman kepada Tuhan.

Pagi ini, sebagai umat Tuhan seharusnya kita sadar bahwa adalah penting bagi kita untuk mempunyai cara berpikir positif; yaitu menyadari apa yang dapat kita ubah dan apa yang tidak bisa diubah, dan mengerti beda diantara keduanya. Tuhan dan sifat ilahiNya adalah kekal selama-lamanya, firmanNya tidak pernah berubah. Ia adalah Tuhan yang maha kuasa, maha tahu, maha kasih, maha adil dan maha bijaksana. Dengan demikian, segala rencana Tuhan untuk seisi bumi akan terjadi. Karena itu, manusia hanya bisa berubah menjadi makin baik dan makin kuat melalui kedekatan kepada Sang Pencipta. Dengan selalu mencari kehendak Tuhan dalam hidup ini, pastilah kita akan menemukan hidup yang penuh sukacita.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 12

Menghadapi kekecewaan

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Hidup manusia ini sungguh menarik. Berbeda dengan hewan, manusia mempunyai ingatan dan daya pikir yang sangat kompleks. Dengan otaknya, manusia bisa mempunyai impian atau harapan untuk masa depan dan menyesuaikan hidup mereka untuk mencapai apa yang diharapkan. Sebaliknya, hewan mempunyai hidup yang hanya berdasarkan naluri dan karena itu bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan kemampuannya, manusia bisa mengembangkan rencana untuk hari depan, untuk mencapai yang lebih baik dari apa yang ada sekarang; dan dengan membuat berbagai rencana, manusia tentunya mengharapkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

Kemampuan manusia  untuk memikirkan masa depan agaknya adalah sesuatu yang baik, tetapi juga bisa membawa kekecewaan jika apa yang diharapkan tidak terjadi. Pada waktu Yunus tahu bahwa Tuhan bermaksud untuk menghukum penduduk kota Niniwe, ia keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya, menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu (Yunus 4: 5). Yunus mempunyai rencana untuk melihat bagaimana murka Tuhan akan turun, seperti orang yang menonton bioskop layar lebar di zaman ini.

Untuk menambah kenyamanan Yunus dalam penantiannya, Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak yang bisa menaungi Yunus agar ia terlindungi dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena adanya pemberian pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas kehendak Tuhan datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu (Yunus 4: 6-7).

Yunus tentunya menjadi kecewa karena keteduhan dibawah pohon jarak yang dinikmatinya tidaklah berumur panjang. Ketika angin panas dan sinar matahari mengenai kepala Yunus, hilanglah seleranya untuk menonton turunnya murka Tuhan atas penduduk kota Niniwe. Kekecewaan yang besar bagi Yunus sangatlah menghancurkan hatinya, karena ia merasa bahwa Tuhan tidaklah berlaku adil atas dirinya. Bagaikan seorang anak manja yang tidak mendapat kembang gula yang diinginkannya, Yunus menjatuhkan dirinya ke tanah dan berseru kepada Tuhan bahwa ia ingin mati saja.

Memang hidup kita pun terkadang seperti apa yang dialami Yunus, ketika apa yang kita rencanakan atau harapkan tidak terjadi seperti yang kita ingini. Apa yang terjadi dalam hidup kita atau hidup orang lain yang kita cintai mungkin justru mengecewakan dan membuat kita meragukan keadilan dan kebijaksanaan Tuhan. Sering juga kita kecewa ketika Tuhan seolah tidak mengasihi umatNya dan malahan membiarkan orang lain berbuat semaunya. Mengapa Tuhan seringkali tidak berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan umatNya?

Seperti Yunus, kita harus belajar untuk menghormati Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha adil. Ia adalah Tuhan yang berdaulat, yang bisa melakukan apa saja yang sesuai dengan kehendakNya. Ialah yang menerbitkan matahari di pagi hari dan meletakkan bulan dan bintang di langit di malam hari. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu dan maha bijaksana, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya yang agung. Ketaatan dan rasa tunduk kepada Tuhan memang lebih mudah untuk kita jalani sewaktu kita berada dalam keadaan enak, tetapi ujian akan datang jika kita mengalami sesuatu yang diluar dugaan atau harapan kita.

Pagi ini biarlah kita bisa menyadari bahwa apapun yang terjadi di sekitar kita, dan bagaimanapun besarnya kekecewaan kita, kita harus bisa menerima bahwa segala sesuatu ada maksudnya dan kehendak Tuhan haruslah terjadi di muka bumi ini. Walaupun demikian, kita boleh yakin bahwa Yesus Kristus adalah gembala kita yang baik. Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Kelengahan bisa membawa masalah

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih tinggal di Brisbane, Australia, rumah saya terletak pada suatu daerah pinggir kota dimana ada banyak pohon dan semak. Memang daerah itu enak udaranya dan pemandangannya serasa asri. Tetapi untuk tinggal di daerah seperti itu, saya harus berhati-hati karena adanya binatang yang biasanya tidak sering dijumpai di kota yaitu ular. Australia adalah benua yang dihuni oleh ular-ular yang termasuk paling berbisa di seluruh dunia. Beberapa kali saya menjumpai ular python dan ular pohon disekitar rumah, dan itu cukup membuat saya kaget karena mereka sering muncul di tempat dan saat yang tidak terduga. Seekor ular python malahan pernah menelan hidup-hidup burung merpati saya dengan cara memaksakan dirinya melewati celah-celah sangkar burung yang terbuat dari kawat besi.

Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis,  yang dengan kelicikannya  sudah membuat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umatNya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktek toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini. Diantara berbagai ajaran diluar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran sehat manusia.

Di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa hidup bahagia dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, yang  membuat orang memperoleh kepercayaan diri untuk bergantung kepada kekuatan dan jalan pikirannya sendiri dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan dimana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasihNya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat dimana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh kedalam dosa dan menolak Tuhan.

Pagi ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apapun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firmanNya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Realitas maya

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1: 22

Pernahkah anda mendengar istilah Realitas Maya? Mungkin mereka yang merasa “gaptek” agak ragu menjawab pertanyaan ini. Tetapi barangkali mereka sudah pernah melihat orang lain memakai teknologi ini, seperti bermain tenis didepan layar TV atau game- game lain yang disajikan oleh Nintendo. Realitas Maya atau Virtual reality (VR) adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer, suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone.

Sekarang ini teknologi VR  sudah begitu maju dan banyak orang yang bisa mendapat berbagai pengalaman visual melalui layar komputer atau bioskop. Dengan teknologi ini kita mungkin bisa melihat dan merasakan suasana bagaimana Yesus disambut para pengikutNya di Yerusalem. Bahkan gereja pun ada yang ditampilkan secara maya dimana kita bisa berimaginasi untuk memasuki gedung gereja dan menghadiri kebaktian disana, bahkan berinteraksi dengan pengunjung gereja yang ada, hanya di layar komputer. Bagi sebagian orang pengalaman ini sungguh menarik dan juga praktis, karena kita bisa menghadiri kebaktian tanpa harus meninggalkan rumah kita, tetapi bagi orang yang lain pengalaman ini hanya bersifat semu yang tidak ada gunanya. Tuhan bukanlah sesuatu yang maya, tetapi nyata; demikian pula gerejaNya seharusnya adalah nyata, bukan semu saja.

Sebenarnya realitas maya itu sudah ada di gereja Tuhan sejak jaman dulu. Ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita memakai teknik realitas maya dalam kehidupan kekristenan kita, kita akan merasa seolah-olah sudah menjadi orang Kristen yang benar walaupun sebenarnya kita belum menjalankan hidup Kristen. Kita mungkin ke gereja setiap minggu dan bahkan berdoa setiap hari, tetapi tidak menjalankan perintah Tuhan dalam hidup kita. Kita menjadi pendengar dan penonton saja dan bukan pelaku Firman, tetapi merasa seolah-olah kita sudah memenuhi “syarat” untuk menjadi pengikut Yesus. Dalam bayangan kita mungkin kita sudah meninggalkan hidup lama kita dan menjadi pengikut Yesus, tetapi sebenarnya kita hanya “duduk di kursi empuk” menonton apa yang ada dalam bayangan atau imaginasi kita. Jika memang demikian, kita menipu diri kita sendiri.

Memang apa yang disampaikankepada jemaat di gereja bisa menjadi suatu presentasiyang menarik. Entah itu kesaksian, puji-pujian, pengalaman pribadi, penglihatan, atau dongeng yang mengawali sebuah khotbah, semua itu bisa dipakai untuk membentuk suasana yang mengawali firman Tuhan. Tetapi, hal-hal itu adalah serupa benda maya untuk hidup kita jika itu hanya membawa pesona dan kenikmatan dan bukannya membuat perubahan dalam hidup kita. Apa yang bisa membuat perubahan dalam hidup kita adalah Firman yang benar, karena Roh Kuduslah yang akan bekerja membimbing kita untuk bisa mengerti arti Firman itu dan agar bisa melaksanakanNya.

Adalah kecenderungan manusia untuk menerima apa yang nikmat tapi melupakan apa yang berat. Apa yang didengar dan dilihat mungkin terasa indah, tetapi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan firman Tuhan yang benar tidaklah mudah.

Pagi ini, mungkin ada diantara kita yang masih mengalami pergulatan dalam hidup, dalam berusaha melaksanakan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari. Karena itu, biarlah kita lebih memusatkan diri kepada hal menjalankan firman Tuhan dan bukannya hanya mendengar atau membaca renungan atau pesan-pesan gerejani. Tuhan mau agar kita mau menerima bimbingan Roh Kudus dalam hidup kita karena dengan kemampuan kita sendiri kita tidak mungkin bisa melewati jalan yang benar. Kita harus rajin berdoa untuk meminta agar Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, supaya kita benar-benar bisa menjadi pelaku firman dan tidak hidup dalam kepalsuan.

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Galatia 5: 25

Miskin adalah syarat masuk surga

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Orang kaya sulit masuk surga. Begitulah apa yang tertulis dalam Matius 19: 24. Memang orang yang hanya dan selalu memikirkan soal harta, kesuksesan, ketenaran dan semacamnya akan mengalami kesulitan untuk memikirkan soal surga dan keselamatan jiwa. Dalam pengertian filsafat dan beberapa agama lain, kemiskinan dan penderitaan malahan diajarkan untuk dijalani, setidaknya secara simbolik atau sementara, untuk mencapai kesempurnaan hubungan dengan dewa atau tuhan mereka.

Pagi ini ayat dalam Matius 5: 3 diatas seolah menunjang sentimen bahwa kelihatannya orang yang miskin saja yang bisa ke surga. Benarkah? Kalau memang benar begitu, orang yang hidup di negara terbelakang pasti lebih banyak yang bisa ke surga karena tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dari negara lain. Mungkinkah mereka yang sukses dan kaya tidak bisa ke surga, karena mereka tidak disukai Tuhan? Benarkah pendapat bahwa biar miskin tapi ke surga, buat apa kaya tapi ke neraka?

Dalam ayat diatas “orang yang miskin di hadapan Allah” berarti orang yang terlihat miskin di mata Allah. Tuhan bisa melihat hidup kita dan isi hati kita, dan karena itu bisa melihat apa yang sebenarnya ada dalam hidup dan hati kita. Apa yang nampak dari luar adalah apa yang bisa dilihat manusia, tetapi apa yang didalam hati manusia hanya Tuhan yang tahu.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang tidak mempunyai apapun yang bisa dimegahkan di depan Tuhan. Orang yang rendah hati, tidak menyombongkan hidupnya. Orang yang sedemikian, selalu merasa bahwa hidupnya selalu bergantung kepada Tuhan, apa yang dipunyainya tidak berharga dalam ukuran kemuliaan Tuhan. Karena ia tidak sombong dalam hal apapun, ia hanya berharap kepada kemurahan Tuhan dari hari ke hari. Ia tahu bahwa sebagai manusia yang berdosa, hanya darah Kristus yang bisa menyelamatkannya. Ia sadar bahwa kebahagiaan hanya datang melalui hubungan harmonis dengan Tuhan.

Setiap orang, baik yang kaya, sukses, sehat dan ternama, atau pun yang miskin, gagal, sakit dan terkucil, diberi kesempatan untuk mengenal Tuhan dan Kristus Juru Selamat manusia. Tetapi tidak semua orang mau mendengar panggilan Tuhan dan datang dengan rendah hati mengakui dosa mereka. Mereka yang mengaku sebagai orang percaya, belum tentu memiliki hidup yang sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Banyak orang yang merasa mengenal Tuhan tetapi tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Tuhan. Tetapi, jika keadaan yang kurang baik datang, banyak orang yang menyesali Tuhan.

Orang yang miskin dihadapan Tuhan adalah orang yang miskin dan bahkan bangkrut dalam hal rohani, tetapi karena kemurahan Tuhan mereka sudah menerima uluran tangan keselamatan dari Tuhan. Karena itu mereka akan senantiasa bersyukur kepada Tuhan dalam keadaan apapun dan taat kepadaNya.

“Ya TUHAN, Engkau mengenal aku, Engkau melihat aku, dan Engkau menguji bagaimana hatiku terhadap Engkau.” Yeremia 12: 3a

Mungkinkah kita gagal?

“Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Mazmur 73: 26

Tahun baru. Banyak harapan dan impian, begitu juga rencana dan perhitungan, agar segala sesuatu bisa berhasil dicapai di bulan-bulan mendatang. Di gereja pun, banyak khotbah-khotbah yang menekankan penyertaan Tuhan akan umatNya, yang diharapkan untuk membawa keberhasilan. Memang agaknya di awal tahun, biasanya orang ingin bersikap optimis karena tahun yang diawali dengan pengharapan positip adalah baik untuk perjuangan yang akan dihadapi. Barangkali tidak ada seorangpun yang mau bersikap pesimis dan memikirkan adanya kemungkinan untuk gagal di masa depan.

Bagi banyak orang, dan termasuk sebagian orang Kristen, membicarakan kemungkinan kegagalan adalah soal tabu, apalagi di awal tahun. Apalagi jika mereka memikirkan betapa besar kasih Tuhan yang sudah datang ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Tuhan yang maha kasih dan maha kuasa sudah tentu tidak membiarkan umatNya mengalami kegagalan, begitu mungkin pikiran mereka. Tetapi jika masalah hidup benar-benar muncul di masa mendatang, mereka mungkin akan bingung mencari sebabnya. Mengapa itu harus terjadi? Adakah sesuatu yang tidak benar yang terjadi?

Apakah orang yang hidup menurut Firman adalah orang yang selalu dikasihi Tuhan? Apakah orang yang beriman adalah anak-anak Tuhan? Pertanyaan semacam ini tidak perlu diragukan akan dijawab “ya” oleh semua orang percaya. Karena itu jugalah, sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mengasihi orang yang hidupnya benar, akan memberi mereka kesuksesan dalam tahun yang baru ini. Jika ada hal yang kurang baik dalam hidup mereka, itu pasti disebabkan oleh adanya dosa dan kurangnya iman. Suatu pandangan yang keliru!

Hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan untuk seluruh umat manusia. Karena kejatuhan manusia kedalam dosa, hanya dengan bersusah payah manusia akan mencari rezeki dan dengan berpeluh mereka akan mencari makanan sampai mereka kembali lagi menjadi tanah (Kejadian 3: 17-19). Dengan itu, setiap manusia, baik yang tidak beriman maupun yang beriman, bisa menemui persoalan hidup dan kegagalan. Sebagai manusia mereka tidak mendapat perkecualian dari hukum negara, hukum alam, fisika, hukum kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Memang kesalahan yang dibuat manusia bisa menimbulkan masalah, tetapi masalah bisa timbul sekalipun tidak diundang. Jika demikian, apakah keuntungan kita untuk menjadi orang percaya?

Ayat diatas menunjukkan apa keuntungan kita sebagai orang beriman jika kita menghadapi kegagalan atau masalah hidup. Pemazmur menulis bahwa sekalipun daging dan hati kita habis lenyap, Tuhan tetap menjadi sumber kekuatan kita untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa Tuhan menyayangi kita, memberi kita kebijaksanaan, bimbingan, kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi masalah hidup kita. Segala sesuatu terjadi dengan seijin Tuhan untuk menyempurnakan iman kita dan Tuhan yang maha kasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah yang memberikan rasa optimisme yang benar bagi kita untuk menjalani tahun baru ini!

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bersyukurlah karena bisa bersyukur

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Selama hampir dua puluh tahun saya menjadi dosen pada empat universitas di Australia, saya menjumpai berbagai murid dengan karakter yang berbeda-beda. Ada murid yang pandai, alim dan rajin, sebaliknya ada yang kurang pandai, nakal dan malas. Selain itu ada murid yang sopan dan menghargai dosen dan teman, tetapi ada juga yang kurang ajar dan tidak tahu berterima kasih.

Pada waktu wisuda, mereka yang merasa berterima kasih atas bimbingan saya, sering meminta saya untuk berfoto bersama. Selain itu ada juga bekas murid yang mengucapkan terima kasih, lama sesudah lulus, atas ilmu pengetahuan yang sudah saya ajarkan. Bagi seorang pendidik, tidak ada yang lebih dapat memberi sukacita daripada ucapan terima kasih dari murid-muridnya.

Jika apa yang diberikan seorang pendidik kepada murid-muridnya hanyalah sebagian kecil dari apa yang dialami mereka, Tuhan sudah memberikan begitu banyak berkat kepada manusia karena segala sesuatu datang dari Tuhan (Roma 11: 36). Karena itu, sudah sepantasnya jika Tuhan yang sudah memelihara manusia dan alam semesta itu senang jika manusia mempunyai rasa syukur dan mau berbakti kepadaNya.

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Wahyu 4: 11

Bersyukur kepada Tuhan untuk banyak orang Kristen tidaklah semudah yang dibayangkan. Mereka harus bisa bersyukur dalam segala hal, untuk segala yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka juga harus senantiasa bersyukur, mengucapkan terima kasih di segala waktu. Mereka harus bisa bersyukur dengan rasa cukup dan bukannya tidak puas akan hidupnya. Jika demikian, siapakah yang dapat bersyukur kepada Tuhan?

Bersyukur kepada Tuhan dengan cara yang benar tidak mungkin dilakukan manusia jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam hidupnya. Mereka yang tidak menyadari betapa besar pengurbanan Yesus untuk menebus dosa manusia dan mereka yang tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Roh Kudus tidak akan mengerti bagaimana seharusnya rasa syukur itu dipersembahkan kepada Tuhan.

Memang rasa syukur kita bisa dinyatakan dalam pemberian kita yang berupa uang, tenaga, talenta, kebaikan untuk sesama dan sebagainya. Tetapi semua kenampuan itu sebenarnya datang dari Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang kaya dalam segala yang baik. Kalau demikian, adakah yang benar-benar bisa menyenangkan Tuhan? Ada!

Manusia pada mulanya diciptakan Tuhan untuk bisa mempunyai hubungan yang baik denganNya dan bisa memuliakan Dia. Itulah juga yang bisa kita lakukan sekarang untuk menunjukkan rasa syukur kita. Yesus sudah memberi hidupNya untuk keselamatan kita, karena itu kita harus bersyukur dengan menjalani hidup kita sesuai dengan perintahNya dan memakai apa yang kita punyai dan apa yang kita lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan!

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Apakah Yesus membawa damai?

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Matius 10: 34

Di zaman modern ini kita bisa melihat begitu banyaknya kemudahan dan kenyamanan yang bisa digunakan manusia. Sejak adanya personal komputer, telepon genggam dan internet, manusia bisa memakai teknologi yang ada untuk berbagai tujuan seperti riset, bisnis, pendidikan, pengamatan, kesehatan, keamanan, pengendalian alat dan sebagainya. Satu hal yang lain yang semestinya bisa dicapai dengan adanya kemajuan teknologi itu adalah terciptanya perdamaian di bumi karena komunikasi antar bangsa dan manusia sekarang bisa dilakukan dengan mudah. Tetapi, dalam kenyataannya teknologi yang ada sering menyebabkan pertikaian, kekacauan, kebingungan dan bahkan mengurangi kedamaian di bumi.

Yesus, Anak Allah yang sudah lahir di dunia ini, juga diharapkan untuk membawa damai diantara umat manusia.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tetapi dalam sejarah kita melihat bahwa banyak pertikaian dan peperangan yang terjadi baik antar agama maupun diantara umat Kristen, dari dulu sampai sekarang. Mungkinkah Yesus bukanlah Raja Damai seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya? Mungkinkah Yesus sebenarnya datang untuk membawa pedang seperti dalam Matius 10: 34?

Pada waktu Yesus menjelaskan bahwa Ia datang untuk membawa pedang, Ia tentu saja hanya memakai kata-kata ini sebagai kiasan saja. Ayat-ayat selanjutnya dalam kitab Matius 10 (ayat 35-42) menunjukkan bahwa karena kedatanganNya, garis pemisah, antara mereka yang mengikut Dia dan mereka yang tidak percaya, sekarang jelas terlihat.

Memang sebagai orang Kristen kita sudah bertekad untuk meninggalkan hidup lama yang terisi oleh berbagai dosa. Dosa yang mungkin sering muncul dalam bentuk perbuatan, pikiran atau perkataan. Tetapi dalam kenyataannya, tidaklah mudah untuk memisahkan diri kita dari hal-hal itu. Dengan memakai kata “membawa pedang” Yesus bermaksud mengatakan bahwa jika kita ingin mengikut Dia, kita harus meninggalkan apa saja yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkanNya.

Dalam memasuki tahun yang baru ini kita seharusnya meneliti hidup kita. Jika kita benar-benar mendambakan adanya rasa damai dalam hidup kita, pertama-tama haruslah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Yesus sudah menebus dosa kita dengan darahNya; apa yang kita perlu lakukan hanyalah menerima uluran tangan Tuhan untuk bersama-sama dengan Dia memasuki tahun ini. Kita harus mempunyai tekad untuk meninggalkan apa yang kurang berkenan kepadaNya. Segala rasa ragu, takut dan kekuatiran dan juga iri hati, kebencian dan kepahitan harus dihilangkan dari pikiran kita. Lebih dari itu, apa yang kita perbuat atau katakan haruslah menunjukkan bahwa kita berpihak kepada Yesus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Hidup harmonis dengan Tuhan

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Salah satu ajaran filsafat hidup yang sering kita dengar adalah tentang berbuat baik kepada siapapun, apapun dan dimanapun. Orang harus berbuat baik kepada orang lain agar mendapat balasan yaitu diperlakukan secara baik oleh orang lain. Orang juga harus hidup harmonis dengan alam semesta (nature) agar segala kebutuhannya tercukupi. Hidup bahagia dapat dicapai dengan keharmonisan dengan seisi bumi. Alam semesta adalah sesuatu yang harus dihormati karena hidup kita bergantung kepadanya.

Pandangan diatas sudah ada sejak jaman dulu dan sekarang mulai populer lagi dalam berbagai bentuknya, terutama diantara generasi muda yang kurang menyukai konsep Tuhan yang abstrak dan segala hukum-hukumNya. Berbeda dengan pandangan itu, bagi orang Kristen pusat perhatian dan penyembahan mereka adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan yang sudah turun ke dunia (God-centered atau Jesus-centered). Orang Kristen harus bisa hidup harmonis dengan Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus dengan menaati perintahNya.

Banyak orang Kristen yang percaya kepada Tuhan, tetapi kurang berhasrat untuk mempelajari bagaimana menerapkan iman mereka dalam hidup sehari-hari. Sebagian mengabaikan perintah Tuhan karena merasa bahwa Tuhan yang maha kasih tentu tahu bahwa hal itu sulit dilakukan dan tidak mengharapkan manusia untuk bisa sepenuhnya menaati perintahNya. Sebagian juga berpikir bahwa sebagai orang yang sudah ditebus oleh darah Kristus, mereka merdeka untuk memilih cara hidup yang mereka maui. Tetapi semua pengertian diatas adalah keliru karena sebagai anak–anak Tuhan kita justru harus taat kepadaNya.

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalah-gunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Mengapa kita yang lemah ini harus menaati firman Tuhan dan membina hubungan yang baik dengan Tuhan? Barangkali kita bisa belajar dari Abraham. Abraham, bapa orang Israel, adalah contoh bagaimana seorang yang mempunyai banyak kekurangan bisa mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Abraham jelas diberkati Tuhan karena ia mau mendengarkan firman Tuhan dan menjalankan perintahNya.

“Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” Kejadian 26: 4-5

Pagi ini jika kita ingat bahwa ada begitu banyak hal dan masalah yang harus kita hadapi di hari-hari mendatang, mungkin kita merasa kuatir bagaimana kita bisa sanggup menghadapi semua itu. Tetapi, jika kita percaya bahwaTuhan mengasihi mereka yang memegang dan melakukan perintahNya, kita boleh yakin bahwa Dia akan menyatakan diriNya dalam perjuangan kita. Marilah kita tetap mau membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dengan menjalankan perintahNya!

Kuat walaupun lemah

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12: 10

Memasuki tahun yang baru ini banyak ucapan selamat tahun baru yang disertai doa “semoga sehat selalu”.  Kelihatannya soal kesehatan adalah penting, terutama bagi mereka yang memasuki usia senja. Siapakah yang tidak mau hidup sehat? Semua orang ingin mempunyai kesehatan yang baik agar terhindar dari sakit penyakit. Walaupun demikian, tidak seorangpun yang bisa bebas dari sakit sekalipun bagaimanapun baiknya cara hidup dan lingkungannya.

Memang jika kita tahu bahwa tubuh kita tidak sesehat yang kita harapkan, rasa kecewa atau sedih mungkin timbul. Tetapi tentunya kita harus bersyukur bahwa dengan ditemukannya masalah yang ada dalam tubuh kita, kita bisa memakai obat yang sesuai, sehingga kita bisa memperoleh kekuatan dan kesehatan kita kembali. Ada pengharapan dan kekuatan baru didalam kelemahan yang ada.

Seperti itulah hidup manusia pada umumnya, setiap orang mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan di muka bumi ini. Itu lumrah karena semua manusia sudah jatuh kedalam dosa dan harus hidup di dunia yang tidak sempurna. Tetapi jika umat Kristen mengalami penderitaan karena hal-hal yang nampaknya “tidak adil”, pertanyaan mungkin timbul di hati kita, mengapa hal-hal yang sedemikian terjadi pada anak-anak Tuhan. Bukan hanya kelemahan tubuh, penyakit, dan kesukaran hidup, tetapi juga bahaya dan penganiayaan dialami oleh banyak orang Kristen di dunia. Menjadi Kristen memang dalam kenyataannya tidak akan menghilangkan persoalan hidup, tetapi persoalan hidup malah justru sering muncul karena adanya iman kepada Tuhan, karena kita harus menuruti perintah Tuhan.

Orang yang tidak mau untuk dibimbing Tuhan lebih suka untuk mengabaikan adanya persoalan dalam hidup mereka. Mungkin juga mata rohani mereka tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat adanya masalah, jika mereka tidak menuruti perintah Tuhan. Untuk mereka, kehidupan adalah baik jika mereka bisa berbuat apa yang mereka maui. Mereka dapat hidup dalam kebebasan yang semu sampai tiba saatnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena mereka tidak mempunyai Tuhan, bagi mereka tidak ada harapan dan penghiburan dalam kesulitan.

Pagi ini, Rasul Paulus sebagai rasul yang mungkin bisa dikatakan paling bijaksana menceritakan bahwa dalam hidupnya ada sesuatu masalah kesehatan yang membuat ia sangat menderita. Ia sudah memohon tiga kali kepada Tuhan untuk mendapat kelepasan, tetapi jawaban Tuhan bukanlah seperti yang diharapkannya.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Sebab itu, bukannya menyesali keadaannya, Paulus malahan bersyukur dalam kelemahannya, supaya ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Seperti Paulus, kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu dibimbingnya untuk menjadi makin dewasa dan makin kuat dalam iman. Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kelemahan dan berbagai persoalan; tetapi bagi kita yang mau dibimbing Tuhan, kesadaran bahwa hidup kita adalah bergantung kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih adalah bagaikan obat yang memberi harapan dan kekuatan didalam kesulitan. Biarlah kita bisa makin berserah kepada Tuhan dalam tahun yang baru ini!