Semoga kita makin takut akan Tuhan

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Bagi kebanyakan orang, tahun baru umumnya membawa harapan baru. Harapan untuk bisa melupakan kegagalan, masalah dan hal-hal yang kurang menyenangkan dari tahun yang lalu, dan untuk memperbaiki apa yang kurang baik agar bisa lebih baik pada tahun yang baru. Bagi umat Kristen, karena Tahun Baru hanya seminggu sesudah hari Natal, seyogyanya harapan Natal juga merupakan harapan Tahun Baru.

Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Imlek, memasuki tahun baru Masehi ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun buat mereka sebenarnya lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus berharap agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, kekuatiran akan apapun bisa dikalahkan melalui iman yang makin dikuatkan. Lebih dari itu, karena Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepadaNya, Ia akan menambahkan berkatNya dalam berbagai hal yang lain.

TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11

Memang, dalam Alkitab ada banyak contoh dimana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang Maha Kasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua dombaNya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas mengambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-dombaNya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau didepan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian sudah mengabaikan rasa takut kepada si Gembala. Orang-orang semacam itu mungkin yakin bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui kesuksesan, kekayaan, kemasyhuran dan sebagainya.

Pagi ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun yang akan datang ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa menumbuhkan rasa takut akan Tuhan kita yang maha kuasa, maha tahu, maha kasih dan maha bijaksana. Dengan itu tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita.

Semoga anda makin takut kepada Tuhan!

Tahun baru, rencana baru

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Menjelang tahun baru, persiapan untuk pesta tutup akhir tahun sudah dilakukan berbagai kota besar di Australia. Tiga kota terbesar, Sydney, Melbourne dan Brisbane, biasanya menampilkan pesta kembang api besar-besaran untuk menandai datangnya tahun baru. Tahun baru, walaupun hanya bagian perhitungan hari, dianggap sesuatu yang penting untuk dirayakan dan disambut dengan gembira.

Tahun yang lama akan berlalu dan tinggal menjadi kenangan, baik kenangan manis maupun kenangan pahit. Memang hidup manusia itu penuh dinamika, tetapi dalam memasuki tahun baru ini semua orang tentunya berharap agar mereka dapat memperoleh apa yang lebih baik dari tahun yang telah lewat. Satu dengan yang lain orang saling menyampaikan harapan baik untuk masa depan di tahun yang baru.

Tahun yang baru biasanya diisi dengan harapan, tetapi untuk itu orang biasanya perlu untuk membuat rencana untuk berbuat sesuatu dan melaksanakan tindakan yang dibutuhkan. Bagi semua orang, Kristen maupun bukan Kristen, apa saja yang penting untuk dilakukan pada tahun yang baru selalu harus dipikirkan baik-baik. Tetapi ayat diatas menunjukkan bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan apa yang terjadi. Jika demikian, mengapa pula kita harus memikirkan apa yang harus kita lakukan?

Alkitab dalam ayat-ayatnya sering membahas dua posisi manusia yang ekstrim. Pada satu posisi, manusia yang adalah mahluk yang dikaruniai kemampuan untuk mengatur hidup mereka sendiri. Tuhanlah yang menetapkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia akan membawa hasil sesuai dengan apa yang dikerjakan. Mereka yang berbuat baik ataupun buruk akan mendapat hasil yang setimpal. Pada posisi yang lain, manusia adalah mahluk yang harus tunduk kepada Tuhan, dan karena itu Tuhanlah yang sebenarnya ada di balik semua tindakan manusia. Manusia merencanakan, berbuat dan memperoleh hasil, baik ataupun tidak baik, seperti yang dihendaki Tuhan.

Kedua posisi ekstrim diatas sudah tentu bukanlah apa yang selalu terjadi, walaupun ada contoh-contoh dalam Alkitab tentang keduanya. Tetapi, apa yang disukai Tuhan sebenarnya adalah kemauan anak-anak Tuhan untuk mengambil inisiatif, membuat rencana-rencana serta menjalankannya sesuai dengan apa yang dikehendakiNya, yaitu untuk mengasihi dan memuliakan nama Tuhan serta mengasihi sesama manusia, setiap saat dan dalam keadaan apapun. Di luar kedua hukum kasih ini, apa yang kita perbuat atau tidak perbuat adalah dosa, dan kita sendirilah yang harus bertanggung jawab.

Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Bijaksana dan Maha Kasih sudah tentu adalah Tuhan yang berdaulat. Ia mempunyai rancangan untuk seisi bumi dan bahkan untuk sejagad raya, yang hanya diketahui diriNya sendiri. Semua rancanganNya akan terjadi, terlepas dari apa yang diperbuat manusia.

Manusia seringkali heran melihat apa yang terjadi dalam hidup mereka atau hidup orang lain. Seringkali hal yang buruk terjadi pada orang yang baik, dan hal yang baik terjadi pada mereka yang jahat. Manusia yang pada hakikatnya jahat tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan, tetapi mereka harus sadar bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang kejam dan semena-mena, tetapi adalah Tuhan yang pada hakikatnya adalah kasih.

Pagi ini, dalam menyambut tahun baru, marilah kita mau memikir-mikirkan jalan kehidupan kita agar kita bisa menjalaninya sesuai dengan hukum kasihNya, tetapi juga mau menerima kenyataan bahwa apapun yang akan terjadi Tuhanlah yang menentukan segalanya untuk kebaikan kita.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Amsal 16: 3

Berapa kali anda sudah merayakan Natal?

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Hari Natal sudah berlalu dan suasana kota kembali seperti biasa walaupun hiasan Natal masih tergantung, mungkin sampai datangnya tahun baru. Di Australia, tidak ada orang yang mengucapkan “selamat hati Natal” sesudah lewatnya hari itu. Berbeda dengan “selamat tahun baru”, yang diucapkan orang mungkin sampai dua minggu sesudah hari itu.

Bagi sebagian orang, hari Natal yang sudah lewat membawa kelegaan. Kesibukan dan hingar-bingar yang ada, sudah selesai. Bagi yang lain, Natal yang sudah lewat membawa sedikit rasa sedih karena kesyahduan Natal dan acara keluarga sudah lewat dan baru akan datang kembali setahun lagi. Hidup akan berjalan terus, tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berapa kali anda sudah pernah merayakan hari Natal? Adakah beda dalam perayaan-perayaan Natal yang pernah anda alami? Sebagian orang bisa mengingat beda perayaan Natal tahun ini jika dibandingkan dengan tahun kemarin, misalnya dengan adanya acara, tempat, suasana atau orang-orang yang berbeda. Tetapi mengenai diri sendiri, kebanyakan orang merasa bahwa tidak ada bedanya antara tahun ini dan tahun lalu, kecuali umur yang bertambah setahun.

Sekalipun tidak ada perbedaan yang mencolok antara Natal tahun ini dengan tahun sebelumnya, tentu ada beda perayaan Natal kali ini dengan perayaan sepuluh tahun yang lalu, jika kita bisa mengingatnya. Ataukah masih tidak bisa dibedakan? Bagaimana jika dibandingkan dengan dua puluh tahun yang lalu?

Ayat diatas menunjuk kepada perubahan yang seharusnya terjadi dalam kehidupan rohani umat Kristen dengan bertambahnya waktu. Natal seharusnya adalah waktu yang tepat untuk memikirkan adakah kemajuan rohani kita selama setahun yang telah lewat. Adakah kemajuan dalam iman dan pengabdian kita kepada Tuhan selama sepuluh tahun terakhir? Ataukah kita justru mengalami kemunduran?

Pagi ini kita semua diingatkan bahwa seberapa kali kita merayakan hari Natal, sebanyak itulah kita harus tumbuh dalam iman dan pengetahuan tentang Tuhan kita. Adalah menyedihkan jika mereka yang sudah lama mengenal nama Yesus, belum mau mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing mereka agar bisa mengenal Tuhan yang Maha Kasih dengan lebih dalam, dan untuk makin mengerti apa yang sudah difirmankanNya. Adalah ironi jika kita yang sudah lama nenjadi orang Kristen masih belum juga dapat menjadi contoh iman yang kuat dan hidup yang benar kepada sesama kita. Biarlah Natal yang kita rayakan bisa menjadi stimulus pertumbuhan rohani kita!

Siapa gerangan dia?

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan si Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Jusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh pengelihatan atau pengilhaman tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zamanNya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, jalan keselamatan satu-satunya. Bahkan sebagian umat Kristen juga meragukan kalau Yesus memang bermaksud mengklaim bahwa Ia adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang maha kuasa.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Pagi ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia, bukanlah manusia biasa. Bukti-bukti tertulis menyebutkan dengan jelas bahwa Ia adalah Tuhan. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita saat ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasihNya pasti mengulurkan tanganNya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Natal adalah bukti penyertaan Tuhan

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1: 23

Untuk mereka yang hidup di negara dimana hari Natal dirayakan, acara-acara dan hiasan-hiasan Natal yang sudah bermunculan sejak awal bulan Desember adalah sesuatu yang berkesan indah. Walaupun demikian, adanya perayaan Natal untuk sebagian orang adalah sesuatu yang kurang dapat dinikmati, dan malahan bisa menimbulkan rasa susah dan masygul.

Hari Natal umumnya dirayakan bersama teman, sanak atau keluarga. Tetapi mereka yang tidak mempunyai siapapun dalam hidup mereka, mungkin merasakan betapa sepinya Natal ini. Mereka yang sedang sakit, mereka yang dalam kekurangan, penderitaan maupun kesusahan, mungkin juga harus melewati Natal dalam kesunyian. Adalah kenyataan bahwa Natal bagi sebagian orang malahan bisa membawa depresi.

Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain dan adanya orang lain disekitarnya. Dari awalnya Tuhan Sang Pencipta tahu kebutuhan ciptaanNya; Ia tidak menghendaki manusia merasa sorangan wae, sendirian dan kesepian. Begitulah dalam hidup di dunia ini, setiap manusia seharusnya nemberi dukungan dan penyertaan orang-orang yang mereka cintai. Namun dukungan manusia adalah terbatas; dan kalaupun ada, belum tentu bisa cukup atau langgeng.

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal adalah seorang pendamping manusia yang lebih dari siapapun yang ada disekitar kita. Ia adalah Tuhan dan karena itu tidak mungkin kalau kemampuanNya ada batasnya. Yesus sudah membuktikan kesetiaanNya sampai mati di kayu salib untuk ganti dosa kita, karena itu tidak mungkin kalau kasihNya kurang dari itu. Yesus juga Tuhan yang lahir dalam bentuk manusia biasa, karena itu tidak mungkin kalau Ia tidak tahu dan tidak bisa merasakan penderitaan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal adalah Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Kasih, Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Karena itulah Ia dinamakan Imanuel sebab Ialah Tuhan yang benar-benar bisa mendampingi, menyertai kita dalam setiap keadaan kita. Ia menyertai kita bukan hanya kadang-kadang, dan bukan saja pada saat-saat tertentu, tetapi setiap saat dan untuk selama-lamanya. Jika kita saat ini merasa sendirian dalam hidup dan perjuangan kita, biarlah dengan iman kita percaya bahwa Yesus, Imanuel, tidak pernah meninggalkan kita. Apa yang harus kita lakukan hanyalah menerima Dia sebagai sobat kita yang setia dalam hidup kita!

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Jangan abaikan cinta Tuhan

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 10

Sebentar lagi hari Natal akan datang dan hampir semua kota di dunia sudah memakai lampu-lampu dan berbagai hiasan khas Natal lainnya. Memang hari Natal adalah hari besar terbesar kedua sedunia, sesudah Tahun Baru. Lebih sebulan lamanya, mereka yang merayakan Natal menantikan datangnya hari yang dipilih manusia untuk menandai hari kelahiran Yesus di Betlehem.

Mereka yang merayakan hari Natal mempunyai berbagai alasan mengapa hari itu adalah hari yang berkesan. Kebanyakan orang mungkin membayangkan indahnya lagu-lagu dan hiasan Natal, kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga, atau acara-acara Natal yang membawa pesan damai di gereja.

Di Australia, berbeda dengan Indonesia, Natal tidak dirayakan seperti Tahun Baru. Kebaktian tengah malam umumnya tidak ada, dan orang mulai saling mengucapkan “Merry Christmas” seminggu sebelum hari Natal dan berhenti menyebutkan ucapan ini sesudah hari Natal. Biasanya kebaktian Natal dilangsungkan petang hari pada tanggal 24 dan pagi hari tanggal 25 Desember. Karena hari Natal jatuh pada saat libur besar musim panas, pengunjung beberapa gereja mungkin juga agak berkurang sebab banyak anggotanya yang berlibur ke luar kota. Sebaliknya, banyak juga gereja yang dipenuhi oleh tamu pengunjung yang datang dari kota lain.

Hari Natal yang ditentukan manusia untuk merayakan hari kelahiran Yesus sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dirayakan pada satu hari saja. Kedatangan Kristus ke dunia dalam rangka penyelamatan umat manusia sudah terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu, tetapi sekali pun seseorang sudah lama menjadi anggota gereja, makna Natal yang benar bisa saja belum terasa dalam hidupnya. Karena itu, kelahiran Yesus dalam hati manusia di dunia bisa terjadi di setiap saat atau setiap hari.

Natal sebenarnya adalah kisah cinta. Tuhan yang Maha Suci menyatakan cintaNya kepada manusia yang berdosa. Ia mengirimkan AnakNya ke dunia sebagai usaha satu-satunya untuk menyelamatkan manusia dari kematian yang kekal.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Cinta Tuhan kepada manusia bisa saja menjadi cinta yang “bertepuk sebelah tangan” jika manusia tidak menanggapi uluran tanganNya.

Adalah menyedihkan bagi Tuhan jika manusia yang merayakan hari Natal, tidak dapat merasakan kasihNya atau menyadari betapa besar pengorbananNya. Tak bisa dibayangkan jika Tuhan melihat betapa bersemangatnya manusia merayakan hari kelahiranNya, tetapi kerinduan cinta sejati mereka sebenarnya tidak ada. Sesudah hari Natal semua kenangan indah hilang musnah tak berbekas dan manusia kembali hidup seperti biasa, tanpa ikatan kepada Tuhan yang mencintai mereka.

Pagi ini biarlah kita diingatkan bahwa apa yang lebih penting dari kemeriahan dan kemegahan acara Natal kita adalah kenyataan apakah kita benar-benar mengasihi Dia yang sudah lahir di dunia untuk menebus dosa kita. Rasa cinta kita harus diwujudkan dalam kerinduan kita akan Tuhan dan suaraNya dalam kita menjalani hidup kita setiap hari.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Doa itu dari hati ke hati

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6: 6

Buat orang Kristen, hal berdoa adalah sesuatu yang biasa. Tiap minggu jika mereka ke gereja, mereka berdoa. Kata penutup “Amin” juga bukan sesuatu yang asing untuk pendengaran mereka. Walaupun demikian, menurut survey di berbagai negara, tidak semua orang yang mengaku Kristen bisa atau mau secara pribadi berdoa secara teratur. Banyak orang Kristen yang merasa tidak bisa berdoa, tidak perlu berdoa, atau tidak punya waktu untuk berdoa, sampai saat dimana mereka merasa perlu untuk meminta sesuatu dari Tuhan.

Banyak orang Kristen yang merasa Tuhan mendengarkan doa bersama dengan orang-orang seiman di gereja. Apalagi jika pembawa doa bisa memakai suasana yang ada dan kemampuan menyusun kata-kata untuk membawa seluruh jemaat kedalam suasana yang khidmat, syahdu atau pun yang penuh semangat.

Barangkali ada orang-orang Kristen yang percaya bahwa doa yang dilakukan banyak orang secara bersama-sama akan lebih “manjur”, lebih didengar Tuhan. Memang, dalam Matius 18: 20 dikatakan bahwa Tuhan senang jika ada “dua atau tiga orang berkumpul” (seperti sebuah gereja) untuk berdoa bersama, untuk berkomunikasi denganNya, tetapi ini tidak berarti bahwa jawaban Tuhan diambil dengan perhitungan suara seperti dalam pemilihan umum. Tuhan mengambil keputusan menjawab doa kita menurut kebijaksanaanNya sendiri.

Doa pribadi juga seringkali dikaitkan dengan permohonan kepada Tuhan agar keinginan seseorang dapat terkabul. Banyak orang Kristen yang percaya bahwa asal mereka rajin berdoa, keinginan apapun yang mereka ingini akan dikabulkan Tuhan karena Ia adalah Tuhan yang Mahakasih. Ada pula yang percaya bahwa kesungguhan doalah yang paling penting dalam usaha untuk mempengaruhi keputusan Tuhan; mereka yang menafsirkan bahwa karena Hana berdoa dengan menangis, Tuhan mengabulkan doanya untuk memperoleh seorang anak (1 Samuel 1: 10). Tuhan sudah tentu mendengarkan permintaan anak-anakNya, tetapi Ia yang tahu keadaan kita, akan memberikan apa yang terbaik pada waktunya.

Selain itu, ada orang yang dalam berdoa pribadi bisa mengarang doanya dengan kata-kata yang indah dan menyusunnya seperti puisi, mungkin untuk lebih bisa menggugah hati Tuhan. Jika bagi kita tidaklah mudah menyusun kata-kata, mungkin kita kemudian merasa canggung atau ragu untuk berdoa pribadi. Tetapi kita harus yakin Tuhan akan mendengarkan doa yang sederhana, bahkan yang tidak bisa kita ucapkan, karena Roh Kudus akan menolong kita menyampaikan doa kita kepada Tuhan (Roma 8: 26).

Ayat diatas menunjukkan bahwa doa pribadi adalah sebuah komunikasi dari hati ke hati antara seseorang dengan Tuhan, yang tidak perlu dipertunjukkan didepan publik. Doa yang mungkin sederhana bisa menjadi media komunikasi yang effektif antara manusia yang lemah dengan Tuhan yang maha kuasa. Doa tidak selalu harus berisi permohonan, karena doa yang hanya berisi permintaan adalah doa yang dangkal dan mementingkan diri sendiri. Tetapi doa selalu harus selalu mengandung pujian dan rasa syukur kita akan kasihNya. Menjelang Natal ini, marilah kita menyadari pentingnya membina hubungan pribadi kita dengan Tuhan melalui doa dari hati ke hati!

Tuhan itu adil

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24

Hari ini adalah hari terakhir saya di Vancouver dan malam ini saya akan terbang kembali ke Australia. Selama dua minggu di benua Amerika, saya sudah menikmati suasana Natal yang ada, yang umumnya lebih meriah dan lebih megah dari apa yang ada di Australia. Memang tradisi perayaan Natal di musim dingin, seperti yang diungkapkan dalam berbagai lagu dan film, hanya terlihat di belahan utara bumi karena dibelahan selatan musim panas sedang berlangsung.

Musim dingin memang bisa membuat suasana Natal menjadi lebih indah, tetapi itu hanya bisa dirasakan mereka yang punya tempat tinggal yang baik, dengan perapian atau penghangat ruangan. Bagi mereka yang tidak mempunyai keluarga dan hidup di jalanan, musim dingin terasa kejam.

Kepincangan sosial memang ada di negara mana pun, tetapi bisa menimbulkan pertanyaan: Apakah Tuhan itu adil? Bagaimana mungkin orang yang jahat atau curang bisa hidup enak, sedangkan orang yang baik dan jujur sering hidupnya sengsara? Mengapa diantara orang-orang yang kita kenal dari kecil ada yang hidupnya enak dan ada pula yang sakit-sakitan dan bahkan mati muda?

Keadilan Tuhan memang sulit dimengerti manusia. Apalagi untuk mereka yang merasa sudah berusaha untuk hidup baik dan banyak menolong sesama manusia tetapi ternyata kemudian mengalami musibah. Memang kalau dilanjutkan, ada juga yang bertanya mengapa mereka yang hidupnya baik dan banyak menolong sesama manusia tidak akan memperoleh keselamatan tanpa melalui Yesus. Berarti Tuhan itu tidak adil, itu kata mereka.

Ayat diatas menyatakan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan; mereka semuanya patut menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Sejak manusia jatuh kedalam dosa, mereka sudah dihukum dengan hidup berat dan kematian (Kejadian 3: 17-19). Kemarahan Tuhan yang Maha Suci tidak dapat dipadamkan oleh manusia dengan perbuatan baik apapun.

Kedatangan Yesus ke dunia pada hari Natal adalah sesuatu yang sungguh menakjubkan, jika manusia mempunyai pikiran yang sehat. Mengapa Tuhan yang dikatakan Maha Adil itu perlu untuk menyusahkan diri, datang ke dunia dan menderita untuk menyelamatkan manusia yang seharusnya mati? Memang jika kita dengan sejujurnya mengharapkan keadilan Tuhan, kita tidak bisa mendapat kemungkinan untuk tetap hidup dalam kemurahanNya.

Kenyataan bahwa Tuhan itu sangat mengasihi manusia dan juga maha adil ditunjukkan dengan kedatangan Kristus ke dunia yang dengan kematianNya sudah memenuhi tuntutan keadilan Ilahi. Mereka yang merasa Tuhan itu tidak adil seharusnya tidak mempunyai harapan masa depan, karena jika Tuhan hanya Maha Adil dan tidak Maha Kasih, Ia tidak perlu memberi kesempatan bagi mereka yang percaya untuk dibenarkan dalam Yesus Kristus.

Satu hal yang perlu kita sadari adalah Tuhan yang Maha Adil dan Maha Kasih adalah juga Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Ia dengan kuasa dan kebijaksanaanNya tetap berhak untuk menentukan siapa saja yang mendapat panggilan keselamatan. Ia juga yang menentukan apa yang boleh terjadi dalam hidup manusia, termasuk anak-anakNya.

Memang jalan pikiran Tuhan itu tidak dapat kita mengerti sepenuhnya selama kita masih hidup di dunia ini, tetapi hidup kita akan lebih terasa ringan jika kita percaya bahwa keadilanNya dan kasihNya tidak dibatasi oleh keadaan kita pada saat ini. Ia yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana pastilah bisa dan mau terus membimbing dan menguatkan kita hingga tiba saatnya kita berjumpa dengan Nya muka dengan muka.

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Merasa kuat karena lemah

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 40

Tahukah anda jumlah manusia super yang pernah muncul di layar putih, video game atau buku komik? Mungkin anda tahu Superman dan Batman, tetapi di Amerika ada banyak tokoh khayalan lain, seperti Spider-Man, Thor, Hal Jordan, Wonder Woman dan Captain America; jumlah seluruhnya mungkin lebih dari seratus.

Mengapa orang senang menonton atau membaca cerita khayal semacam itu? Mungkin karena orang senang membayangkan adanya superhero yang mempunyai kemampuan luar biasa, yang bisa menegakkan keadilan dan menolong yang lemah. Barangkali juga orang bisa melamun betapa enaknya jika superhero itu bisa menolong mereka yang sedang menghadapi bahaya atau masalah. Mungkin juga karena orang ikut membayangkan betapa hebatnya kalau mereka bisa mempunyai kemampuan yang serupa dalam hidup mereka.

Hidup ini memang tidak mudah dan terkadang penuh tantangan, masalah atau bahaya. Banyak orang yang dalam keadaan semacam itu akan berusaha untuk bertahan dan berjuang seorang diri, karena mereka berharap untuk bisa kuat dan menang seperti superhero. Itu jugalah yang diajarkan para motivator terkenal di berbagai seminar.

Bagi kita yang beriman, superhero kita sudah tentu adalah Yesus Kristus. Bukannya khayalan, Yesus Anak Allah itu benar-benar datang dari surga ke dunia, mati menebus dosa manusia, tapi bangkit lagi pada hari yang ketiga. Adalah kenyataan bahwa Yesus telah mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan membangkitkan orang mati. Dan Ia jugalah yang memberitakan kabar baik, kabar keselamatan, kepada orang yang menderita (Matius 11: 5).

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah Superhero yang sebenarnya. Yesus adalah Tuhan, Tuhan yang juga sudah menciptakan segala sesuatu, yang memelihara segala sesuatu dan yang dari mulanya mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ialah kebanggaan kita yang sesungguhnya, karena Ia bisa dan mau menolong mereka yang meyadari kelemahan mereka.

Dalam keangkuhan dan kebodohan kita tidak menyadari kuasa dan kasih Tuhan, tetapi dalam kelemahan kita bisa merasakan kuasaNya seperti apa yang dialami Rasul Paulus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Bermegah dalam Kristus

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6: 14

Kemegahan adalah salah satu yang dicari manusia. Memang setiap orang dari lahir sudah mempunyai naluri untuk mencapai kesuksesan dalam apa yang dilakukannya, supaya ia memperoleh kesempatan untuk merasa bangga akan apa yang sudah dicapainya.

Menurut rumus dunia, setiap orang bisa dan harus berusaha untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan yang dialami tanpa mengucurkan keringat umumnya dimengerti sebagai sesuatu yang tidak perlu dibanggakan. Tetapi dalam kenyataannya orang juga membanggakan hal-hal yang sudah ada sejak dari awalnya, seperti warna kulit, bentuk tubuh, jenis ras, kebangsaan dan sebagainya. Kebanggaan malahan bisa berkembang menjadi kesombongan dan perasaan bahwa apa yang dimiliki orang lain tidaklah sebaik apa yang mereka punyai.

Kebanggaan tidak hanya dalam hal jasmani, tetapi juga dalam hal rohani. Keyakinan bahwa orang Kristen adalah manusia yang terpilih, seringkali membuat mereka merasa bahwa orang lain adalah orang yang dibenci Tuhan, terutama jika orang itu masih hidup bergelimang dalam dosa (Lukas 19: 2-7). Mungkin juga, ada perasaan yang muncul bahwa karena hidup kita nampak lebih saleh daripada hidup orang lain, pastilah Tuhan lebih mencintai diri kita (Lukas 18: 10-14). Bahkan, murid-murid Yesus pun bisa terperosok dalam soal siapa yang terbaik (Lukas 22: 24).

Semua kebanggaan pada umumnya membuat manusia merasa “super” dan lebih baik dari orang lain. Bermegah atas keadaan diri sendiri tidak lain adalah membuat diri kita seperti ilah di hadapan Tuhan. Jika begitu, tidak adakah yang bisa kita banggakan dalam hidup kita sebagai umat Kristen? Tidak adakah sesuatu yang megah dalam hidup kita yang bisa kita sampaikan kepada seisi dunia? Sudah tentu ada! Jika tidak ada yang sesuatu yang hebat dalam hidup kita, bagaimana kita bisa membuat dunia bisa melihat kebesaran Tuhan?

Kita boleh bermegah bahwa karena Yesus yang sudah datang ke dunia pada hari Natal adalah Anak Allah yang sudah sudi datang untuk menebus dosa manusia. Karena Yesus, hidup kita tidak lagi dikuasai oleh dosa; dan karena dosa kita sudah ditebus oleh darah Kristus, kita mau mempersembahkan hidup kita untuk Yesus. Inilah suatu kemegahan yang harus bisa kita sampaikan kepada semua orang agar mereka mau menerima anugerah keselamatan yang sudah dimungkinkan oleh darah Yesus di kayu salib.