Tidurlah intan…

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. Mazmur 4: 8

Mungkin anda masih ingat akan lagu-lagu gubahan almarhum R. Soetedjo juga terkenal di Eropa terutama di Negara Belanda. Misalnya lagu  “Waarom huil je toch Nona Manis”. Semua lagu ciptaan Soetedjo memang nyaman didengar, tetapi yang paling sering saya dengar adalah lagu “Tidurlah Intan”  yang pernah dinyanyikan oleh Waljinah, Broery Marantika, Hetty Koes Endang dll.

Tidurlah Intan, tidurlah anakku manis

Hari sudah malam, pejamkanlah mata

Tidurlah Intan, tidurlah kekasih hati

Esok hari kita bermain kembali


Hal tidur adalah suatu yang penting bagi semua mahluk ciptaan Tuhan. Tidur adalah kesempatan untuk beristirahat, untuk memulihkan kesegaran tubuh manusia. Tuhanlah yang menciptakan sistem istirahat teratur, termasuk istirahat pada hari ketujuh. Kebutuhan tidur dan istirahat mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan Tuhan dan bukan pencipta alam.

Manusia memerlukan jumlah jam tidur yang cukup menurut umur mereka. Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia tidak dapat berfungsi dengan baik dan akan mudah jatuh sakit. Masalahnya, dalam hidup ini kita sering tidak atau kurang bisa tidur karena berbagai persoalan atau tugas. Kalaupun cukup jumlah jam tidur kita, kualitasnya mungkin kurang baik karena tidak bisa lelap. Masalah ini dihadapi banyak orang di dunia sehingga kasus adiksi obat tidur dan obat penenang bertambah parah.

Mengapa manusia sering tidak bisa tidur? Ada banyak sebabnya. Manusia sering kuatir akan apa yang belum terjadi. Manusia ingin mendapat kepastian tentang masa depan, tetapi merasa tidak bisa menentukannya. Manusia juga sering lemah dan mudah tergoda, tetapi dosa menyebabkan penyesalan atau keterikatan yang mengganggu tidurnya. Manusia juga sering kurang berdisiplin dalam hidup sehingga ritme hidup menjadi acak dan kesehatan mereka tidak terjaga. Manusia juga banyak yang mengalami penderitaan jasmani atau rohani, dan karena itu tidurpun menjadi bagian penderitaan dan kehampaan. Manusia kurang bisa berserah kepada Tuhan yang bisa memberi istirahat yang baik untuk tubuh dan jiwa kita.

Rasul Petrus pernah mengalami saat dimana ia dipenjara dan akan menghadapi pengadilan masa esok harinya. Dalam keadaan demikian, ia tetap dapat tidur nyenyak; sampai-sampai malaikat yang datang harus menepuk Petrus untuk membangunkannya:

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kisah Para Rasul 12: 6-7.

Bagaimana Petrus dapat tidur nyenyak dalam keadaan kritis seperti itu? Jelas bahwa ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan sepenuhnya.

Jika anda bangun pagi ini dan merasa masih mengantuk, mungkin tidur anda kurang cukup atau kurang lelap. Apapun sebabnya, anda mungkin akan merasa lebih sulit untuk bersyukur kepada Tuhan dan mendengarkan suaraNya. Tubuh yang lelah dan pikiran yang berat seolah membuat tembok pemisah antara kita dengan Tuhan kita. Jika kita tidak dapat memperbaiki gaya hidup kita, masalah kurang tidur ini akan pelan-pelan menghancurkan jasmani dan rohani kita. Karena itu marilah pada pagi ini kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Hanya Tuhan lah yang bisa memberi kita rasa tenang dan aman!

Usia tidak menjamin kematangan

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12

Masa muda biasanya adalah masa dimana seseorang masih banyak belajar. Dalam masa itu biasanya orang belum mempunyai pandangan hidup yang jelas, hidup serampangan, dan kurang bijaksana. Kebanyakan mereka berusaha menikmati hidup hari ini dan sebisa mungkin menghindari tanggung jawab atau kewajiban. Mereka juga yakin hidupnya masih panjang, dan karena itu agaknya tidak takut mati.

Orang tua sering mengelus dada jika mereka melihat anak muda yang hidupnya ugal-ugalan, apalagi di jaman kebebasan sekarang ini. Orang dewasa sering memandang rendah mereka yang masih terombang-ambing dalam menghadapi masa depannya itu. Perkataan mereka, tingkah laku, dan hidup mereka yang kurang mengenal arti kasih, pengorbanan, kesetiaan dan kesucian, sering menjadi bahan diskusi orang dewasa.

Paulus dalam ayat diatas menulis kepada Timotius yang masih muda agar jangan mengikuti stereotipe anak muda, melainkan hidup sebagai anak Tuhan sehingga orang lain tidak memandang rendah dirinya. Timotius malahan diharapkan menjadi contoh untuk orang lain, termasuk orang yang lebih dewasa!

Kebalikan dari masa muda, masa dewasa sering  ditandai dengan karir yang sudah mantap dan keberhasilan dalam hal mencukupi kebutuhan hidup. Malahan, dengan bertambahnya umur, kepercayaan diri sendiri makin bertambah besar dan kemampuan untuk menikmati hidup juga meningkat. Hidup pun seringkali bisa lebih meriah jika dibandingkan dengan hidup anak muda. Apalagi kesadaran bahwa hidup ini hanya sekali, membuat mereka yang berumur cenderung untuk bersuka-ria dan menikmati hidup selagi kesempatan masih ada. Karena itu kepekaan akan keadaan orang lain, yang  menderita dan belum mengenal Kristus, juga bisa memudar. Seringkali dengan kemampuan  yang ada, mereka melakukan hal-hal yang sama dan seringkali lebih “hebat” jika dibandingkan dengan apa yang sering dilakukan anak-anak muda di dunia nyata maupun maya.

Sebagai orang Kristen, adalah kenyataan bahwa semua orang dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan yang bijaksana, yang bisa memberi contoh yang baik untuk semua orang. Malahan, sebagai orang yang sudah cukup umur, orang diharapkan untuk lebih bisa menjadi teladan. Mereka juga diharapkan untuk lebih bisa mawas diri dan lebih peduli atas orang lain. 

Pagi ini kita diingatkan bahwa nasihat Paulus kepada Timotius berlaku untuk semua umur, yaitu agar kita bisa menjadi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan kita,  dalam tingkah laku kita, dalam kasih,  kesetiaan dan dalam kesucian kita. Mereka yang lebih tua juga harus lebih bisa menunjukkan apa arti hidup baru didalam Kristus. Jangan sampai mereka yang lebih dulu mengenal Tuhan menjadi mereka yang paling terbelakang dalam menjalankan perintahNya.

“Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” Amsal 16: 31

Apakah anda betul-betul pernah ke gereja?

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Hari Minggu. Hari libur dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja dan hari dimana kita mungkin bisa melihat acara kebaktian gereja di layar TV. Hari Minggu juga hari kedua dari liburan akhir pekan, walaupun hari itu adalah hari kerja pertama pada banyak negara islam. Hari Minggu adalah hari yang dianggap sebagai hari Sabat, hari untuk berhenti bekerja bagi banyak orang Kristen. Ke gereja? Untuk apa?


Banyak orang ke gereja dan banyak juga alasannya. Begitu pula banyak orang tidak ke gereja dengan berbagai sebab. Banyak juga orang yang ke gereja atau tidak ke gereja tanpa sebab yang pasti.

Gereja bisa berarti persekutuan orang percaya, gereja juga bisa berarti rumah Tuhan, tetapi gereja sering diartikan sebagai gedung pertemuan orang Kristen. Orang bisa ke gereja sebagai orang Kristen tetapi tidak semua orang yang ke gereja menjumpai Tuhan. Sebagian orang ke gereja menjumpai manusia dan menikmati persekutuan dengan sesama. Sepertinya lumrah dan tidak ada salahnya. Ke gereja, mengikuti kebaktian, bertemu teman, lalu pulang. Sebagian orang Kristen malah bisa merasa ke gereja dengan mengikuti acara gereja di TV – tidak perlu naik mobil dan repot mencari tempat parkir!

Bagi mereka yang mengerti, gereja adalah tubuh kita karena Roh Kudus tinggal dalam diri tiap orang percaya:

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan setiap hari, dan bukan pada hari Minggu saja. Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya berarti mengabaikan Tuhan dan menelantarkan gereja!

Gereja juga tempat yang kudus dan harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk meninggikan manusia. Bukan sebuah pertemuan organisasi untuk merencanakan suatu event atau merayakan kesuksesan organisasi atau perseorangan. Gereja bukanlah rumah sarang penyamun, bukan juga tempat bisnis!

“Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Markus 11: 17

Setiap orang percaya adalah gereja, dan pada hari Minggu mereka bersama-sama bersekutu untuk mendengarkan Firman, berdoa, saling menyapa dan menguatkan. Saling menasihati, agar mereka dapat hidup dengan baik sesuai dengan Firman. Untuk umat percaya, gereja adalah hidup dan hidup adalah gereja, dan karena itu tidak dapat digantikan dengan benda-benda mati seperti TV, internet dan radio.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai rumah Tuhan, kita harus bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan giat bersekutu dengan saudara seiman untuk memuliakan Tuhan kita. Jangan sampai kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, sekalipun dunia modern ini penuh dengan daya penariknya sendiri.  Jangan juga kita bersekutu dengan hati yang mati dan dingin, tetapi marilah kita saling mengasihi, menguatkan, mendoakan dan menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat!

 When the going gets tough…

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Pagi ini, segera setelah bangun tidur saya keluar dari kamar menuju ke balkoni belakang untuk melihat matahari terbit. Laut terlihat sangat tenang dan beberapa perahu terlihat berhenti disana, mungkin dengan penumpang yang masih tidur beristirahat. Suasana tenang dan barangkali mereka sedang bermimpi indah.

Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas mungkin juga berperahu sambil  menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Seperti semboyan “When the going gets tough, the tough gets going” (Jika keadaan makin buruk mereka yang kuat tetap bertahan), mereka awalnya tentu berusaha untuk mengatasi keadaan. Semboyan ini adalah semboyan lama dalam bahasa Inggris yang mungkin diperkenalkan oleh presiden Kennedy dari Amerika Serikat. Semboyan ini sering dipakai untuk memotivasi orang-orang yang mengalami persoalan/tantangan agar tetap bertahan. Tetapi sekalipun mereka yang kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga mereka harus membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita sambil berkata “When the going gets tough, the tough gets going”. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya “tough” atau “kuat” dalam gelombang hidup yang besar? Kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi.

Seperti murid-murid Yesus kita pernah merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita. When the going gets tough, the tough gets going…. Bukan aku, Tuhan!

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus.  Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar “tough”, yang benar-benar berkuasa, Tuhan Yesus.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa menjerit kepada Tuhan. Meminta tolong kepada Dia yang mahakuasa dan mahakasih. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Ingatkah anda bahwa ketika topan itu reda dan hidup kita menjadi teduh kembali,  Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Mau hidup berapa lama?

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90: 10

Baik tua maupun muda, dalam hidup di dunia ini, semua orang tentu pernah memikirkan beberapa hal ini:

  • Berapa lama aku mau hidup?
  • Berapa lama aku akan hidup?
  • Untuk apa aku hidup?
  • Apakah aku puas dengan hidupku?
  • Bagaimana akhir hidupku?
  • Apa yang terjadi seusai hidupku di dunia ini?

Bagi sebagian orang, sebagian pertanyaan ini mungkin sudah terjawab. Sebagian tetap merupakan tanda tanya, dan sebagian lain mungkin belum/tidak mau dipikirkan.

Membaca Mazmur diatas, agaknya mengherankan juga bahwa walaupun ada banyak perubahan cara hidup, kita yang hidup di jaman modern ini masih juga mempunyai umur maksimum sekitar 70-80 tahunan, walaupun ada juga yang bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun seperti yang ditulis dalam kitab Kejadian 6: 3:

Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”

Punya umur panjang memang adalah impian manusia. Menarik sekali bahwa menurut buku rekor dunia Guinness, manusia modern yang tertua di dunia adalah Jeanne Louise Calment yang umurnya 122 tahun dan 164 hari yang meninggal tanggal 4 Augustus 1997 di Arles, Prancis.

Di jaman ini, banyak manusia  yang berusaha untuk memperpanjang umurnya dengan berbagai cara. Dari olahraga, diet, obat/obatan, operasi medis dll. sampai yoga, semedhi dan ritual agama. Tetapi tidak ada seorangpun yang tahu kapan saat untuk pergi. Usaha memperpanjang umur sering juga berlanjut dengan pergulatan mencari arti hidup kalaupun diberi umur panjang.

Dalam hidup, terutama untuk kita yang sudah dewasa, memang sering kita mencari arti hidup itu. Terutama bagi kita yang merasa bahwa hidup yang ada belumlah membawa apa yang kita harapkan, kekosongan hati menimbulkan pertanyaan apa lagi yang dapat dilakukan dalam sisa hidup ini. Walaupun demikian, mereka yang kelihatannya sukses dalam hidupnya seringkali juga masih mempertanyakan kalau-kalau makna hidup ini seharusnya lebih dari apa yang ada. Karena itu, kurun waktu 80 tahun atau 120 tahun itu bisa terasa sangat panjang.  Banyak orang yang tidak mau hidup selama itu, bahkan berusaha memperpendek umurnya, karena kehampaan,  kesukaran dan penderitaan yang ada. 

Dengan bertambahnya umur, manusia umumnya akan menyadari bahwa hidup ini ternyata tidak sepanjang yang diharapkan pada awalnya. Apalagi, jika ada teman atau sanak yang diluar dugaan mendahului kita.  Bayangan tentang hidup di hari tua mungkin mulai terasa, mungkin sejak melihat orang tua kita yang mulai menua atau mungkin juga setelah kita sendiri merasa bahwa kita tidak muda lagi. Hidup di dunia ini memang bisa terasa pendek bila kita sadar bahwa itu dapat berakhir dengan buru-buru, tiba-tiba, diluar kontrol manusia.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa hidup kita bukannya milik kita lagi.  Kita yang hidup saat ini, dengan iman juga kita meyakini bahwa hidup kita tidak akan berakhir dengan apa yang kita capai di dunia ini. Hidup kita memang pendek di dunia ini, tetapi kekekalan dan kebahagiaan surgawi sudah dapat kita mulai rasakan dan yakini sejak sekarang juga. Mau hidup berapa lama bukanlah pertanyaan untuk orang percaya karena mereka sudah hidup dengan Tuhan sekarang dan selama-lamanya!

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Jangan takut, tapi berhati-hatilah!

 “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.” 2 Yohanes 1:7 

Sebagai umat Kristen kita mungkin sering mempunyai rasa was-was jika kita mendengar tentang atau melihat keadaan dimana pengikut Kristus mengalami persekusi, penistaan dan kekacauan. Kuatir kalau hal-hal itu disebabkan oleh usaha Antikristus untuk menghancurkan umatNya. Menurut pandangan Kristen, Antikristus adalah kekuatan jahat yang dinubuatkan Alkitab yang akan menjadi musuh Kristus, yang akan menyesatkan banyak orang. Dalam pengajaran Islam, Antikristus adalah Dajjal, yang diramalkan akan bertarung dengan Isa (Yesus Kristus).

Sudah merupakan naluri manusia bahwa di jaman apapun, manusia selalu ingin tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu dari jaman ke jaman, berbagai ramalan telah dibuat oleh  mereka yang mempunyai obsesi tentang siapa Antikristus itu. Selain itu ada orang-orang yang berusaha mengail ikan di air keruh dengan membuat cerita-cerita khayal demi sensasi dan kepuasan pribadi. Orang yang membaca cerita-cerita semacam itu akhirnya bisa hidup dalam ketakutan atau kekecewaaan; keduanya tidak membantu pertumbuhan iman.

Surat 2 Tesalonika 2:3-4 memberi sedikit gambaran tentang Antikristus:

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.”

Jelas bahwa Antikristus itu adalah manusia yang sangat berpengaruh dan mau menyaingi Allah. Walaupun demikian, Alkitab tidak pernah menyatakan sesuatu yang spesifik mengenai dari mana si Antikristus akan muncul. Tidak juga menyatakan bahwa Antikristus itu harus berupa satu orang dari negara tertentu. Tidak juga secara khusus menerangkan bahwa benda-benda seperti credit card dan microchip adalah alat-alat Antikristus. Semua ramalan-ramalan tentang itu secara umum hanyalah spekulasi yang serupa dengan ramalan tukang nujum pinggir jalan.

Selama ini, ketidaktahuan manusia tentang siapa Antikristus itu seharusnya sudah bisa menyadarkan mereka yang takut dan kuatir. Martin Luther yakin bahwa Paus pada zamannya adalah Antikristus. Selama masa tahun 1940-an, banyak orang yang meyakini kalau Adolph Hitler adalah si Antikristus. Nama lain dalam beberapa  tahun terakhir ini juga seringkali dikait-kaitkan dengan Antikristus: Vladimir Putin, Paus Fransiskus I,  mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Barack Obama dan Donald Trump. Jelas daftar ini akan bertambah panjang di masa depan.

Sejauh ini, semua spekulasi-spekulasi ini terbukti salah dan apa yang dikuatirkan umat kristen belum terjadi. Karena itu kita seharusnya berhenti berspekulasi, menghilangkan ketakutan dan kekuatiran, tetapi mau berwaspada agar kita tetap bisa beribadah secara benar dengan iman yang teguh.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah. Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.” 1 Yohanes 4:1-4

Pagi ini marilah kita berdoa agar kita tetap kuat dan bersatu bersama dengan saudara-saudara seiman, saling mengasihi satu dengan yang lain, dan berusaha untuk saling menguatkan dan saling belajar dari yang lain; agar kita bisa makin kuat, bersatu dan bijaksana untuk menghadapi kekuatan-kekuatan jahat yang berusaha menghancurkan iman kita. Terpujilah Tuhan semesta alam yang mengasihi umatNya!

Aduh mak, kepala sakit!

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6: 25

Siapakah yang tidak pernah stress dalam hidup di dunia? Semua orang pasti pernah mengalaminya. Adalah kenyataan bahwa manusia jaman sekarang, terutama di dunia Barat, mengalami stress adalah hal yang sangat umum sehingga konsumsi obat penenang, pain killer dan minuman keras makin meningkat. Keadaan bertambah parah dengan data-data yang menunjukkan bahwa anak mudapun sekarang mengalami stress yang luar biasa dalam hidup mereka.

Pada tahun 60an,  murid SD umumnya hanya mementingkan soal belajar menulis, membaca dan berhitung. Hidup sebagai murid SD saat itu cukup nyaman. Saat itu, murid SD hanya belajar bahasa Indonesia dan tidak perlu belajar bahasa Inggris atau bahasa lain. Saya waktu itu hanya punya buku teks bahasa Indonesia karangan Purwadarminta. Buku “Bahasaku” berisi pelajaran bahasa yang pada umumnya berisi teks dan pertanyaan, dan juga mempunyai latihan-latihan yang sekarang mungkin lebih dikenal dengan sebutan pelajaran tata bahasa.

Di jaman ini, sekolah bisa menjadi tempat yang menakutkan. Sekolah tidak hanya tempat belajar, tapi juga tempat untuk memamerkan pakaian, tas, mobile phone dan bahkan mobil orang tua. Seusai sekolah, kehangatan rumah yang dirindukan mungkin diganti dengan kecerewetan orang tua yang mengingatkan anak untuk mengikuti les tambahan ini atau kursus itu. Belum lagi tumpukan pekerjaan rumah, latihan untuk mengulang pelajaran di sekolah dsb. Tidaklah mengherankan, bila banyak anak-anak mengalami stress luar biasa di sekolah. Alasan sakit kepala, sakit perut dan mules pada jam berangkat ke sekolah sering terjadi karena stress.

Kita yang sudah berumurpun tetap sering mengalami stress. Melihat keadaan di sekitar kita, membayangkan apa yang mungkin terjadi pada kita, anak-cucu dan masyarakat kita di masa depan, bisa membuat sakit kepala dan depresi. Apalagi, dengan meningkatnya umur, kemampuan fisik, mental dan materiil mungkin sudah mulai terasa berkurang. Akibatnya rasa kuatir, takut dan sedih mungkin meningkat dan menjadi stress.

Sebagai manusia, merasa kuatir, takut dan sedih adalah normal. Stress adalah reaksi manusia terhadap berbagai “stressor”, hal-hal yang menantang kita. Mengabaikan adanya masalah, resiko dan bahaya adalah kebodohan dan kesembronoan. Yesuspun mengalami stress ketika Ia berdoa di taman Getsemane, sampai-sampai keringatnya bercucuran seperti darah (Lukas 22: 44). Yesus karena itu dapat memahami bagaimana manusia dalam kelemahannya sering mengalami stress.

Pagi hari ini kita diingatkan bahwa ada banyak hal yang bisa membuat kepala kita sakit. Tetapi, seperti Yesus yang telah menang, kitapun bisa menang kalau kita menyadari apa yang terjadi dalam hidup kita dan tahu bagaimana cara menghindari atau mengatasinya:

  1. Dosa dan kesalahan masa lalu: sering membuat manusia tidak bahagia hidupnya. Stress bisa diakibatkan oleh kenangan masa lalu yang belum terhapus sampai sekarang. Mungkin stress adalah peringatan Tuhan agar kita mau meminta ampun akan hal-hal itu. Tetapi jika kita sudah meminta ampun dan mengubah hidup kita, mintalah pertolongan Tuhan untuk penguatan dan perlindungan dari tuduhan-tuduhan iblis.
  2. Kekuatiran akan sesuatu yang belum (tentu) terjadi: seringkali menguji iman kita. Stress dalam hal ini bisa mengingatkan kita agar kita diam dan mengakui bahwa Allah kita adalah Allah yang berkuasa.  Kita harus menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaNya sebab Ia yang memelihara kita.
  3. Kebutuhan akan sesuatu: sering membuat kita mempertanyakan apakah yang akan Tuhan lakukan di masa depan. Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir akan apa yang hendak kita makan atau minum, atau apa yang hendak kita pakai.
  4. Keinginan untuk menonjolkan keberhasilan: kecenderungan untuk “show” bisa membuat manusia menjadi sombong dan rakus. Tuntutan untuk mendapat pujian dari orang disekeliling kita lambat laun akan mejadi obsesi. Kekuatiran kalau popularitas jadi menurun bisa membuat manusia jadi stress.
  5. Hidup yang kurang berdisplin: bisa membuat tubuh kita lemah. Ada banyak orang kristen yang ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati tapi terjerumus dalam kesibukan-kesibukan yang diluar kemampuan. Akibatnya keluarga berantakan, hubungan orang tua dan anak menjadi dingin dan tubuh kitapun jadi lelah karena kurang tidur atau isirahat.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  1 Petrus 5: 7

Dari mata turun ke hati

Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Lukas 11: 34

Ingatkah anda akan syair lagu ini?

Dari manakah datang datangnya lintah, darilah sawah turun turun ke kali

Darimanakah datang datangnya cinta, dari mata ke hati

Syair ini cukup dikenal dan mungkin sering mucul dalam lagu-lagu Melayu tempo dulu. Memang sepertinya semua orang mengalami bahwa jika kita pernah jatuh cinta kepada seseorang, awalnya dimulai dari mata yang melihat adanya daya tarik dalam diri orang itu. Dari apa yang dilihat mata, cepat atau lambat berubah menjadi rasa suka di hati. Begitu pula jika kita pergi shopping, sebelum kita rela mengeluarkan uang dari dompet kita, mata kita harus tertarik dan pikiran kita mengiyakan atas pilihan kita.

Mata adalah salah satu panca indera manusia yang penting karena melalui mata kita menerima input dari dunia luar. Tetapi mata bukan harus berupa sepasang lensa yang bisa membedakan terang dan gelap, obyek yang berhenti atau bergerak, dan warna-warni bunga disekitar kita; mata juga bisa melihat dan membedakan apa yang sedap dipandang dan apa yang menyebalkan. Mata juga bisa berupa mata rohani yang bisa melihat apa yang adil dan apa yang tidak adil, apa yang tulus dan apa yang culas, dan bisa membedakan hal-hal yang baik dari hal-hal yang jahat. Dalam Kejadian 3: 5, Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lalu ia memakannya dan juga membaginya dengan Adam. Hawa juga membuat kekeliruan dengan mata rohaninya yang membuat ia berpikir bahwa buah itu akan membuatnya menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.

Baik mata jasmani dan mata rohani keduanya memang diperlukan manusia, sebab apa yang dilihat mata jasmani belum tentu bisa dilihat oleh mata rohani dan sebaliknya apa yang dilihat mata rohani belum tentu tampak didepan mata jasmani. Kita tahu bahwa setelah Yesus naik ke surga, Ia menampakkan diri kepada umatnya yang bisa melihat Yesus dengan mata rohani mereka. Memang Yesus jauh di mata, tetapi Ia tetap dekat di hati murid-muridNya. Kitapun sebagai orang yang beriman bisa melihat Yesus, tetapi mereka yang tidak percaya dibutakan mata rohaninya (2 Korintus 4: 4).

Informasi apapun yang masuk sebagai input melalui mata jasmani dan mata rohani kita sudah sewajarnya diteruskan ke tempat lain untuk di proses. Pikiran dan hati kita memproses apa yang kita lihat dalam hidup kita – dari mata turun ke hati. Dalam hidup di dunia ini, sayang bahwa kita tidak selalu mendapatkan informasi yang baik; ada kalanya informasi itu hanya hal yang kosong tidak berarti, tetapi mungkin juga hal yang buruk atau sesuatu yang baik. Mata menerima informasi itu ke pikiran dan hati kita dan disanalah apa yang kita terima berubah menjadi sesuatu yang baik atau buruk untuk hidup kita. Jika apa yang kita lihat selalu hal-hal yang buruk, jika apa yang kita terima adalah selalu hal yang salah dan bertentangan dengan Firman, cepat atau lambat hati dan pikiran kita akan diracuninya dan kita akan berbuat sesuatu yang tidak benar.

Memang mata jasmani dan rohani terbukti bisa menaklukkan banyak anak Tuhan. Mereka yang kuat seperti Simson bisa jatuh setelah melihat perempuan Filistin dan Daudpun jatuh dalam dosa setelah melihat Batsyeba. Tetapi mata kita  tidak hanya bisa tergoda oleh penampilan fisik. Kesuksesan, kekayaan, makanan, kepandaian, ketenaran orang lain yang kita lihat, juga bisa menjatuhkan kita. Lebih dari itu, jika mata kita terbiasa dengan melihat ketidak-adilan dan ketidak-jujuran, hati kitapun menjadi terbiasa dan kebal atas hal-hal itu. Apabila mata kita tertarik dan terbiasa akan kegelapan, kejahatan dan kekotoran dunia, maka hal-hal itu akan mengisi hati dan merusak hidup kita.

Dari mata turun ke hati, tetapi sering terjadi tanpa kita sadari. Benarkah?  Tidak seharusnya! Yesus berkata bahwa mata adalah sesuatu yang ada dalam kontrol kita:

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” Matius 18: 9

Hari ini kita diingatkan bahwa apa yang kita biasa lihat dalam kehidupan kita akan mempengaruhi pandangan hidup kita. Jika kita gemar melihat dan menikmati hal-hal yang kurang baik, hati kita pun menjadi kotor. Jika mata kita tidak peka akan apa yang baik dan jahat, hati kitapun berubah menjadi kacau. Jika mata kita tertarik akan hal-hal yang tidak berguna, hati kita jadi kosong. Karena itu kita harus selalu memohon agar Roh Kudus bisa mencelikkan mata kita untuk dapat memilih apa yang baik dan berguna serta menghindari atau membuang apa yang buruk. Kita harus sadar bahwa jauh di mata, jauh di hati; jika kita bisa menghindari hal-hal yang salah, hati kita akan tetap bersih!

Maaf, tidak sedia gado-gado!

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” Roma 16: 17

Kita semua tentu tahu apa gado-gado itu. Makanan yang sangat populer di Indonesia dan juga diluar negeri, terutama di Belanda. Salad campur yang berbumbu kacang itu juga termasuk favorit saya, walaupun saya kurang suka ketimun dan kubisnya. Karena itu saya biasanya pesan gado-gado tanpa sayur-sayur itu. Memang itulah enaknya, gado-gado bisa disesuaikan dengan selera pembeli.

Kalau gado-gado dibuat dari berbagai jenis makanan yang setelah dicampur mempunyai rasa “sreg”, istilah “gado-gado” biasanya dipakai untuk menunjuk pada suatu campuran berbagai hal yang kurang cocok. Penampilan “gado-gado” misalnya, adalah penampilan campur aduk yang tidak memberi kesan bersatu dan harmonis.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengingatkan agar jemaat berhati-hati akan mereka yang  mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan pengajaran yang telah mereka terima sebelumnya, yang menimbulkan perpecahan dan godaan. Pengajaran “gado-gado” yang kacau dan menyesatkan, yang membuat jemaat menjadi bingung.

Paulus lebih lanjut menjelaskan (Roma 16: 18) bahwa pemimpin-pemimpin umat yang demikian tidak melayani Kristus, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis bagaikan gado-gado, mereka menipu jemaat yang tidak sadar akan hal itu. Mereka dengan semangat berkobar-kobar menarik perhatian jemaat yang hanya menginginkan sesuatu yang sedap untuk didengar telinga mereka.

Memang manusia dari awalnya selalu tertarik akan hal-hal yang “enak” dan “hebat” daripada hal-hal yang benar. Mereka di jaman ini lebih senang mendengar “kabar baik” yang memberikan kesan bahwa orang percaya pasti hidup dalam keberhasilan karena Tuhan maha kasih. Mereka juga ada yang yakin bahwa Tuhan mengasihi semua manusia termasuk mereka yang memilih untuk tetap hidup dalam dosa. Ada juga yang imannya bergantung pada keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam gereja. 

Hari Minggu ini jika kita ke gereja, kita tentunya bermaksud untuk berbakti kepada Tuhan dan mendengarkan FirmanNya. Tetapi sadarkah kita bahwa ada kemungkinan bahwa kita akan menjumpai “gado-gado” dalam menu gereja?

Gado-gado bisa kita jumpai di gereja antara lain ketika kita melihat adanya hal-hal ini:

  1. Firman Tuhan disampaikan dengan campuran pendapat/pengalaman pribadi yang muluk-muluk dan tidak alkitabiah.
  2. Puji-pujian dinyanyikan untuk membangkitkan gairah jemaat dan kebaktian menjadi  “show besar” guna memenuhi keinginan manusia saja.
  3. Kebaktian sepertinya untuk memuliakan Tuhan tetapi sebenarnya untuk mencapai maksud-maksud eksklusip golongan/orang tertentu.
  4. Firman Tuhan disampaikan dengan bumbu pemanis dan bahan penyedap supaya bisa menyenangkan dan memuaskan keinginan jemaat.
  5. Firman Tuhan dicampur dengan pesan-pesan lain untuk memotivasi jemaat. Firman Tuhan  berubah menjadi pesan pemikiran positip saja.

Sebagai umat kristen kita harus senantiasa berwaspada jika kita menjumpai lingkungan yang tidak membawa kita kepada Firman, yang tidak berlandaskan Alkitab dan yang tidak memberitakan Firman. Kita harus tahu mana/siapa yang menghidangkan “gado-gado” dan mana yang tidak. Bersyukurlah jika anda bisa melihat tanda “Maaf, tidak sedia gado-gado!” di gereja anda pada hari Minggu ini!

Mens sana in corpore sano?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Mens sana in corpore sano adalah suatu semboyan bahasa Latin yang bisa diartikan “jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat”. Semboyan ini biasanya dipakai untuk menekankan pentingnya olahraga dan kesehatan tubuh untuk menjaga kesehatan kejiwaan. Presiden pertama RI, Bung Karno, mempopulerkan semboyan ini karena tekadnya untuk menjadikan Indonesia salah satu dari 10 besar dunia di bidang olahraga.

Kita sekarang menyadari bahwa hubungan antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani tidaklah semudah yang diutarakan semboyan itu. Tubuh tidak lebih penting dari jiwa dan tidak menjamin sehatnya jiwa. Dalam tubuh yang sehat mungkin saja ada jiwa yang sakit, dan sebaliknya dalam tubuh yang sakit mungkin saja ada jiwa yang sehat. Kita mungkin sering menjumpai olahragawan dan olahragawati yang prestasinya hebat tapi kesehatan jiwanya perlu dipertanyakan karena cara hidupnya yang berantakan. Sebaliknya, ada banyak orang yang sakit atau tidak sempurna fisiknya tetapi mampu mencapai prestasi kehidupan yang hebat, dengan menggunakan pikiran dan hati mereka secara bijaksana.

Rasul Paulus sendiri ternyata adalah orang yang kurang sehat jasmaninya. Ia menulis dalam 2 Korintus 12: 7 bahwa ia diberi suatu duri dalam tubuhnya, mungkin suatu penyakit kronis dan menyusahkan dia, yang hanya bisa kita duga tetapi tidak bisa kita pastikan jenisnya. Walaupun demikian, dalam penderitaannya Paulus bisa menulis banyak pengajaran dan nasihat kepada banyak umat kristen di berbagai tempat. Tuhan memberi Paulus jiwa yang sehat walaupun tubuhnya merasakan penderitaan sampai akhir hayat.

Sebagai orang kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat diatas mengajarkan bahwa kita harus memakai tubuh kita sebagai persembahan yang kudus untuk Allah, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaanNya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau bekerja untuk Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik, akan diambil Tuhan. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa lama-lama canggung untuk berdoa, dan orang yang tidak pernah menguji imannya lama kelamaan menjadi orang yang tidak percaya. Hukum alam? Bukan! Itu adalah hukum Tuhan!

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Bahwa kemampuan tubuh dan jiwa kita akan berkurang dengan bertambahnya umur, itu bisa dimengerti. Itu ditentukan sejak jaman Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa.  Mereka yang tidak mau menggunakan kesempatan yang masih ada, akan cepat kehilangan semuanya.  Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, apa yang masih bisa digunakan untuk memuliakan Tuhan, baik tubuh maupun jiwa,  harus digunakan; hingga tiba saatnya kita menghadap Sang Pencipta!