Apakah anda fanatik?

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Hari Minggu, hari dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja. Tetapi tidak semua orang yang mengaku Kristen suka ke gereja. Di Australia, hanya 15% penduduk yang ke gereja sedikitnya sekali sebulan, padahal 60% penduduknya mengaku beragama Kristen. Memang mungkin orang yang benar-benar Kristen agaknya jarang…apalagi yang fanatik.

Orang yang benar-benar menyukai suatu jenis olahraga bisa dikatakan fanatik. Mereka sangat antusias tentang hal apapun yang menyangkut olahraganya. Begitu pula orang bisa menjadi penggemar kelas berat dari jenis film, makanan dan hal-hal lain. Mereka juga bisa disebut kaum fanatik. Kata fanatik sebetulnya bisa punya arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”.

Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepakbola di Indonesia, seringkali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Walaupun demikian kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorangpun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik yang sedemikian tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan diatas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang fanatik, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik.

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbananNya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3:  16 diatas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firmanNya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut fanatik Yesus Kristus!

Antara pilihan dan tanggung jawab

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam minggu ini? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari-hari mendatang selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain. Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada ditangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan.


Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Dalam hal ini kita sering tidak bisa menduga apa hasilnya. “Life is like a box of chocolates”, begitu kata Forest Gump dalam filmnya. Hidup adalah seperti sekotak coklat, itulah bunyi ungkapan itu. Kita tidak tahu coklat rasa apa yang akan kita dapat. Tetapi coklat apapun yang kita peroleh, kita sendiri yang telah memilihnya dan terserah kepada kita untuk merasakannya. Hidup manusia adalah penuh dengan pilihan dan tanggung jawab. Ini adalah masalah yang sering diperdebatkan manusia, termasuk umat Kristen.

Ada orang-orang yang mungkin berpendapat bahwa didalam  kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi rasanya sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun kita harus memilih satu coklat, sebenarnya coklat yang kita pilih tidak berbeda dengan coklat yang lain. Walaupun manusia bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Sebaliknya ada yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih.

Memang hidup ini punya berbagai variasi, berbagai segi, bermacam peristiwa. Apa yang akan kita lakukan hari ini mungkin saja hanya hal yang kecil, yang rutin, yang mungkin tidak mempunyai konsekuensi besar. Tetapi mungkin juga kita dihadapkan dengan berbagai tugas berat yang mengharuskan kita untuk mengambil pilihan. Mungkin kita sudah bisa dan siap berdoa: “Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi”. Tetapi keputusan tetap ada di tangan kita untuk mengambil tindakan. Kita jugalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.

Pagi ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses dimana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Seringkali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Adalah keputusan kita sendiri untuk memilih jalan itu sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan, ataukah memilih jalan yang lain yang nampaknya lebih berat tetapi yang tidak melanggar perintahNya.

Hidup iman kita mungkin juga sudah mencapai saat dimana kita merasakan bahwa tidak ada yang perlu kita pikirkan lagi karena kita mungkin sudah merasa bahwa Tuhan sudah memutuskan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Sikap yang semacam itu memang seolah membuat hidup kita nampaknya lebih enteng, karena kita memilih apa yang lebih mudah dilewati: jalan yang lebar, yang bisa dilewati tanpa memerlukan pergumulan terus-terusan. Jalan yang sempit, yang menuntut perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan yang penuh kepada Tuhan yang mahakuasa, yang benar-benar penuh dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan dalam setiap saat dan keadaan, tidaklah mudah dijalani. Tetapi itulah yang jalan yang benar yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya.

Untuk sebagian umat Kristen, keyakinan akan keselamatan itu datang melalui tradisi, kebiasaan dan pengalaman mereka. Jalan yang lebar dan mudah dilalui, tetapi seringkali hanya ilusi. Untuk yang lain, iman datang dari Tuhan melewati pergumulan hidup, pilihan pribadi, pelajaran hidup, kesadaran akan ketergantungan dan pertobatan dalam Yesus Kristus. Ini jalan yang sempit dan sulit dilalui. Tanpa keberanian untuk memilih dan kemauan untuk bertanggung jawab, manusia tidak akan bisa berkata:

Tuhan, aku sudah mengambil berbagai keputusan di masa lalu,

Aku sadar bahwa aku sering melakukan hal yang bodoh.

Pagi ini aku mengaku bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku.

Aku sekarang mau memilih jalan yang sempit untuk mengenal Engkau.

Bimbinglah aku agar sampai ke tempat tujuan.

Hallo Tuhan….

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Tahukah anda bahwa ponsel alias HP baru muncul di dunia sekitar tahun 70an? Ketika itu Motorola menciptakan telepon genggam yang ukurannya sebesar batu bata (23 x 13 x 5 cm) dan beratnya 1.1 kg. Ponsel itu cuma bisa dipakai selama 30 menit tapi perlu 10 jam untuk menyetrum.  Barangkali karena beratnya, untuk memegang ponsel sebesar itu selama setengah jam saja sudah terasa terlalu lama! Walaupun demikian, penemuan ini sangat bersejarah karena dengan kemajuan teknologi, orang bisa ber halo-halo dimana saja, kapan saja dan kemana saja. Kecuali ke surga…. 

Manusia, dengan kemajuan teknologi, sepertinya tidak mendapat kemudahan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Malahan, manusia jaman sekarang makin sulit untuk mendengar suara Tuhan dan berbicara denganNya. Padahal Tuhan selalu siap untuk berkomunikasi dengan umatNya.

Bagaimana Tuhan dapat berkomunikasi dengan kita? Ada beberapa saluran yang bisa dipakai Tuhan. Saluran utama adalah firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Ada yang bilang buku Alkitab itu seperti ponsel model kuno, beratnya ada yang 1 kg, dan malah ada yang beratnya 500 kg. Alkitab model baru memang ada, firman Tuhan dalam bentuk eletronik yang bisa dibaca atau didengar dan bisa kita simpan dalam ponsel kita. Tetapi Alkitab berbentuk apapun itu tetap sama isinya; itulah yang harus kita pegang sebagai jalur komunikasi nomer satu yang dipakai Tuhan. Manusia harus membaca firman Tuhan dan mempelajarinya untuk bisa mengerti maksud dan perintah Tuhan.

Selain melalui Alkitab, Tuhan bisa berfirman melalui beberapa hal yang lain, seperti mimpi, pengelihatan, pendengaran; suara hati, dll. Tetapi ini sudah jarang karena kita sudah mempunyai Alkitab. Apa yang kita terima diluar Alkitab harus dibandingkan dengan apa yang ada didalam Alkitab supaya kita tidak terjebak dalam menerima “kabar burung” dan “hoax” dari si iblis.

Lalu bagaimana pula dengan kita yang ingin mengontak Tuhan? Jalan utama untuk mengucapkan “hallo” kepada Tuhan adalah melalui doa. Ini yang paling efektip karena mulut dan hati kita berbicara langsung dengan Tuhan. Sewaktu Yesus belum disalibkan, umat Israel harus memakai perantaraan imam-imam untuk menemui Tuhan. Tetapi sekarang kita bisa langsung berjumpa dengan Tuhan dalam doa tanpa harus diwakili pendeta atau pastor. Sayang sekali, jalur komunikasi yang bebas pulsa ini sekarang seringkali diabaikan umat Kristen. Mungkin karena gratis, manusia cenderung untuk meremehkannya.

Berapa kali kita dalam sehari harus mengontak Tuhan? Karena Tuhan adalah sumber kehidupan manusia, kita seharusnya menelepon Dia sesering mungkin, seperti juga membaca firmanNya. Komunikasi adalah dua arah, jika Tuhan berfirman kepada kita dan membimbing kita setiap saat, pikiran dan hati serta mulut kita juga harus bisa berhubungan denganNya setiap waktu agar kita tidak tersesat. Tuhan tidak pernah tidur, karena itu kita tidak boleh ragu untuk menelepon Dia disetiap waktu, dari mana saja, kapan saja, melalui doa dalam bimbingan Roh Kudus.

Seperti suara dari ponsel, kadangkala suara Tuhan tidak terdengar dengan jelas karena adanya suara-suara lain disekitar kita. Untuk bisa mendengar suaraNya, kita harus mau meluangkan diri untuk mencari saat dan tempat yang baik. Hidup yang terlalu sibuk dengan segala hiruk-pikuknya akan membuat manusia sulit untuk mendengar suara Tuhan. Apalagi hidup yang diisi dengan hal-hal yang salah. Hubungan yang kurang baik dengan Tuhan juga bisa mengakibatkan kita untuk menerima pesan-pesan yang keliru yang bukannya dari Tuhan.

Pada pihak yang lain, Tuhan selalu menantikan sapaan anak-anakNya. Tuhan mengasihi mereka yang mau berkomunikasi, dan intim denganNya. Dalam hal ini, setiap manusia diberi kemampuan dan kebebasan untuk memilih apa yang baik dan berguna dalam hidup mereka. Mereka yang hanya senang berkomunikasi dengan hal-hal dan orang-orang yang kurang baik akan kacau hidupnya, sedangkan mereka yang senang berkomunikasi dengan Tuhan akan diperbaharui hidupnya dan dikuatkan setiap hari.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20

 

Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku?

Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”  1 Samuel 1: 20

“Tuhan belum menjawab doaku” adalah keluhan umum manusia. Setelah lama menunggu, rasa berharap mungkin diganti rasa kecewa karena seolah Tuhan mengabaikan doa kita. Mungkinkah Ia tidur, terlalu sibuk atau sekedar mengabaikan aku? Apakah Ia marah kepadaku? Apakah Ia sudah menentukan apa yang terjadi dalam hidupku? Apakah doaku sia-sia?

Dalam kitab 1 Samuel 1, ada seorang wanita yang bernama Hana yang mengalami hal yang serupa. Bertahun-tahun ia menantikan datangnya seorang anak, tetapi apa yang diharapkan tidak kunjung datang. Tetapi ia tetap saja berdoa untuk pertolongan Tuhan sekalipun kelihatannya sudah tidak ada kemungkinan dan orang disekelilingnya tidak mendukung doanya. Untuk apa ia berdoa kalau segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan? Hana percaya bahwa Tuhan mempunyai maksud lain.

Hal berdoa adalah satu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh semua umat beragama sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan yang mereka kenal sebagai tuhan. Dengan ritual dan cara mereka masing-masing mereka berdoa, dan dengan keterbatasan pengertian, mereka mencoba mengerti siapa tuhan itu dan berharap doa mereka didengar tuhan mereka.

Jika kita memperhatikan doa manusia manapun dan dimanapun, kebanyakan itu merupakan permohonan. Bukan pujian atau percakapan. Kalaupun ada pujian, itu sekedar pembuka kata saja. Tidaklah mengherankan bahwa sekalipun doa adalah bentuk komunikasi dengan sang pencipta, seringkali doa adalah “shopping list” atau daftar belanja manusia. Karena itu seringkali dalam doa kita salah alamat karena apa yang kita temui mungkin bukan Tuhan. Tuhan yang mahasuci hanya bisa didekati dengan iman dan cara yang benar. 

Tuhan mengasihi kita dan ingin supaya manusia sadar akan ketergantungannya. Doa yang benar adalah penyerahan total kepada Tuhan. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Kita harus bisa  memohon agar Tuhan memberi apa yang terbaik untuk kita. Apa yang kita benar-benar butuhkan. Masalahnya, kita sering tidak dapat membedakan apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita inginkan seringkali hanya untuk kepentingan kita, tetapi apa yang kita butuhkan adalah sesuatu yang bisa memuliakan Tuhan dan mempererat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kalau kita lihat dalam kisah perjuangan iman Hana, itu jugalah yang dinantikan Tuhan untuk muncul dalam doa Hana.

Mungkin, seperti Hana kita sudah menangis cukup lama. Sudah merasa tertekan dan menderita sejak lama. Kita membutuhkan jawaban Tuhan sekarang juga. Tetapi, berbeda dengan manusia, Tuhan tidak terikat waktu dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. RencanaNya adalah sempurna karena Ia tidak dibatasi oleh kelemahan yang dipunyai manusia. Oleh sebab itu, tantangan untuk kita adalah agar kita bisa bersabar dan merasa cukup dalam setiap keadaan, sambil menyerahkan masa depan kita kepadaNya.

Tuhan ingin kita untuk tidak berhenti berdoa untuk bisa mengerti kehendakNya, yang sering tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Untuk dapat menerima apa yang akan diberikanNya, kita tetap harus berkomunikasi denganNya. Hana tidak putus-putusnya berdoa dan ketika Tuhan menjawab doa Hana, itu bukan karena Tuhan menyerah kepada doa permohonan yang bertubi-tubi dari Hana. Tetapi jawaban Tuhan datang pada saat Tuhan melihat bahwa Hana mengerti akan maksud Tuhan.

Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Apa yang kita minta harus bisa memuliakan Tuhan. Jika apa yang kita dapat akhirnya tidak memuliakanNya, berarti bukan Tuhan yang memberi. Jika kita berdoa meminta apa yang kita ingini, dan bukannya memohon agar kehendakNya yang terjadi, doa kita hanya merupakan tuntutan dan bukannya penyerahan. 

Hana pada saat yang tepat melahirkan seorang bayi yang dinamakan Samuel karena Tuhan telah menjawab doanya. Dan kita tahu bahwa Samuel menjadi nabi Israel yang paling terkenal pada jamannya. Samuel dikenal oleh umat agama Yahudi, Kristen dan Islam. Samuel adalah nabi yang mentahbiskan raja Saul dan Daud. Hana diberi berkat yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang dimintanya. Biarlah Tuhan dipermuliakan dalam doa-doa kita!

Pilih jadi macan atau gajah?

“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 22: 6

Satu hal yang sangat sukar dipelajari adalah bagaimana menjadi orang tua yang baik. Memang ada banyak buku dan teori yang bisa dibaca, tapi untuk mempraktikkan dengan benar dan mencapai hasil yang baik adalah sulit. Banyak orang tua yang merasa sudah banyak berkorban waktu, biaya dan perasaan, tetapi anak-anaknya tetap saja tidak dapat menjadi seperti yang diharapkan.

Amy Chua adalah seorang profesor Amerika yang mengajarkan untuk mendidik anak dengan disiplin tinggi. Anak yang tidak mau belajar misalnya, akan dihukum dengan mengurangi jatah mainan atau hiburan. Banyak orang barat yang tidak setuju cara mendidik yang sedemikian. Tetapi sebaliknya banyak orang Asia yang setuju. Ibu yang “galak” terhadap anaknya diberi julukan “tiger mum” atau “ibu macan”, dan cara mendidik yang sedemikian disebut “tiger parenting” atau “mengasuh anak gaya macan”. Anak-anak yang dididik sedemikian, sering mencapai hasil yang tinggi dalam pendidikan.

Kebalikan dari “ibu macan”, ada orang-orang yang menganjurkan untuk memakai prinsip “ibu gajah” yang menganjurkan orang tua untuk lebih membesarkan hati, membimbing, dan menuntun anak-anak mereka. Seperti seekor gajah yang melindungi anaknya, dengan selalu berjalan bersama anaknya kemana saja. Anak-anak yang dididik dengan cara ini diharapkan bisa mempunyai rasa bahagia yang lebih besar dalam hidup walau tidak mencapai prestasi tinggi.

Mana yang benar? Mendidik anak seperti macan atau gajah? Sangat lucu bahwa dalam diskusi “jurus macan” vs. “jurus gajah”, orang sepertinya mau belajar cara mendidik hewan dan bukannya manusia. Bagaimana cara mendidik manusia dengan benar, mungkin tidak lagi menarik perhatian. 

Alkitab dalam kitab Amsal memberi banyak pedoman untuk mengajarkan bagaimana seorang anak bisa belajar untuk menjadi orang yang berhasil dalam hidup mereka. Amsal juga jelas menunjukkan bahwa kunci pendidikan adalah bukan didasarkan pada prinsip macan atau gajah, tetapi pada iman:

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Amsal 1: 7

Bagi kita yang masih mempunyai kesempatan untuk mendidik anak cucu kita, kita harus kembali kepada prinsip-prinsip Alkitabiah. Dengan prinsip yang benar, kita juga akan dapat mengarahkan kaum muda sehingga mereka mengerti bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dengan banyaknya gelar, harta atau kemasyhuran; tetapi dengan eratnya hubungan kita dengan Tuhan. Bahwa sumber kebahagiaan adalah iman. 

Bagi kita yang sudah mengalami pendidikan jaman dulu, gaya hidup kita mungkin sudah terpengaruh oleh apa yang kita anggap benar pada waktu itu. Barangkali kita sendiri sudah menjadi seperti macan atau gajah yang hidup di hutan rimba. Mungkin kita sudah puas dengan apa yang kita capai:  kebahagiaan semu. Tapi mungkin juga kita masih mencari apa arti keberhasilan atau kebahagiaan itu. Pagi ini kita diingatkan bahwa bagi kita masih ada kesempatan untuk belajar lagi melalui firman Tuhan tentang apa yang benar-benar baik dalam hidup ini: bahwa hidup menurut perintahNya akan memberi rasa sejahtera dalam hidup kita.

Amin?

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  Filipi 4: 6


Amin!

Kata “amin” mungkin sering kita dengar atau ucapkan, pada akhir sebuah doa atau jika kita ingin mengiyakan ucapan teman. “Amin” adalah sebuah kata yang benar-benar serius artinya, tetapi banyak orang mengucapkannya seolah dengan santai dan bahkan untuk sekedar humor. Kata ini muncul dalam Alkitab, baik PL maupun PB, berulang kali. Tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam hal-hal ritual yang lain. 

Kata “amin” juga diucapkan untuk mengakhiri doa Bapa kami (Matius 6: 9-13). Seirama dengan isi doa itu, kata itu bisa diartikan “biarlah itu terjadi seperti yang dikendaki Tuhan”. Kata yang sama dengan arti yang serupa muncul dalam bahasa Ibrani, Arab dan Aramaik dan karena itu dipakai dalam agama Judaisme, Kristen dan Islam.

Walaupun kata “amin” nampaknya mengandung arti yang baik, banyak orang Kristen yang kurang memahami arti dan konsekuensinya, terutama dalam sebuah doa permohonan. Seringkali orang mengucapkan kata ini sebagai mantra dengan maksud “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.  Agaknya, doa yang demikian adalah daftar keinginan kolektif yang kita setujui bersama agar dilakukan Tuhan.

Doa adalah sebuah komunikasi langsung antara umat percaya dengan Tuhannya. Dalam ayat diatas, kita dianjurkan untuk berdoa dan memohon pertolongan Tuhan dengan bersyukur dan bukannya hidup dalam kekuatiran. Tetapi, bukankah Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan dan bahkan tahu apa yang akan kita doakan? Untuk apa berdoa dan untuk apa mengamininya?

Doa yang berakhir dengan kata “amin” sebenarnya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika doa kita berakhir dengan kata “amin”, itu seharusnya berarti “jadilah seperti kehendakMu” dan bukannya “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.

“Amin” juga dapat diartikan sebagai “dengan sesungguhnya”. Dalam doa kita dengan sejujurnya benar-benar mengakui Tuhan dengan segala atributNya. Dengan sesungguhnya kita juga mengakui kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Doa dengan kata amin seharusnya juga merupakan penyerahan seluruh hidup kita kepada pimpinanNya.

Pagi ini jika kita berdoa dan mengakhiri doa kita dengan kata “amin”, hendaknya kita sadar bahwa kata ini bukanlah dimaksudkan untuk berbunyi “kabulkanlah doaku”; tetapi sebaliknya berarti “aku menyerahkan hidupku”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita!

Tidurlah intan…

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. Mazmur 4: 8

Mungkin anda masih ingat akan lagu-lagu gubahan almarhum R. Soetedjo juga terkenal di Eropa terutama di Negara Belanda. Misalnya lagu  “Waarom huil je toch Nona Manis”. Semua lagu ciptaan Soetedjo memang nyaman didengar, tetapi yang paling sering saya dengar adalah lagu “Tidurlah Intan”  yang pernah dinyanyikan oleh Waljinah, Broery Marantika, Hetty Koes Endang dll.

Tidurlah Intan, tidurlah anakku manis

Hari sudah malam, pejamkanlah mata

Tidurlah Intan, tidurlah kekasih hati

Esok hari kita bermain kembali


Hal tidur adalah suatu yang penting bagi semua mahluk ciptaan Tuhan. Tidur adalah kesempatan untuk beristirahat, untuk memulihkan kesegaran tubuh manusia. Tuhanlah yang menciptakan sistem istirahat teratur, termasuk istirahat pada hari ketujuh. Kebutuhan tidur dan istirahat mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan Tuhan dan bukan pencipta alam.

Manusia memerlukan jumlah jam tidur yang cukup menurut umur mereka. Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia tidak dapat berfungsi dengan baik dan akan mudah jatuh sakit. Masalahnya, dalam hidup ini kita sering tidak atau kurang bisa tidur karena berbagai persoalan atau tugas. Kalaupun cukup jumlah jam tidur kita, kualitasnya mungkin kurang baik karena tidak bisa lelap. Masalah ini dihadapi banyak orang di dunia sehingga kasus adiksi obat tidur dan obat penenang bertambah parah.

Mengapa manusia sering tidak bisa tidur? Ada banyak sebabnya. Manusia sering kuatir akan apa yang belum terjadi. Manusia ingin mendapat kepastian tentang masa depan, tetapi merasa tidak bisa menentukannya. Manusia juga sering lemah dan mudah tergoda, tetapi dosa menyebabkan penyesalan atau keterikatan yang mengganggu tidurnya. Manusia juga sering kurang berdisiplin dalam hidup sehingga ritme hidup menjadi acak dan kesehatan mereka tidak terjaga. Manusia juga banyak yang mengalami penderitaan jasmani atau rohani, dan karena itu tidurpun menjadi bagian penderitaan dan kehampaan. Manusia kurang bisa berserah kepada Tuhan yang bisa memberi istirahat yang baik untuk tubuh dan jiwa kita.

Rasul Petrus pernah mengalami saat dimana ia dipenjara dan akan menghadapi pengadilan masa esok harinya. Dalam keadaan demikian, ia tetap dapat tidur nyenyak; sampai-sampai malaikat yang datang harus menepuk Petrus untuk membangunkannya:

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kisah Para Rasul 12: 6-7.

Bagaimana Petrus dapat tidur nyenyak dalam keadaan kritis seperti itu? Jelas bahwa ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan sepenuhnya.

Jika anda bangun pagi ini dan merasa masih mengantuk, mungkin tidur anda kurang cukup atau kurang lelap. Apapun sebabnya, anda mungkin akan merasa lebih sulit untuk bersyukur kepada Tuhan dan mendengarkan suaraNya. Tubuh yang lelah dan pikiran yang berat seolah membuat tembok pemisah antara kita dengan Tuhan kita. Jika kita tidak dapat memperbaiki gaya hidup kita, masalah kurang tidur ini akan pelan-pelan menghancurkan jasmani dan rohani kita. Karena itu marilah pada pagi ini kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Hanya Tuhan lah yang bisa memberi kita rasa tenang dan aman!

Usia tidak menjamin kematangan

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12

Masa muda biasanya adalah masa dimana seseorang masih banyak belajar. Dalam masa itu biasanya orang belum mempunyai pandangan hidup yang jelas, hidup serampangan, dan kurang bijaksana. Kebanyakan mereka berusaha menikmati hidup hari ini dan sebisa mungkin menghindari tanggung jawab atau kewajiban. Mereka juga yakin hidupnya masih panjang, dan karena itu agaknya tidak takut mati.

Orang tua sering mengelus dada jika mereka melihat anak muda yang hidupnya ugal-ugalan, apalagi di jaman kebebasan sekarang ini. Orang dewasa sering memandang rendah mereka yang masih terombang-ambing dalam menghadapi masa depannya itu. Perkataan mereka, tingkah laku, dan hidup mereka yang kurang mengenal arti kasih, pengorbanan, kesetiaan dan kesucian, sering menjadi bahan diskusi orang dewasa.

Paulus dalam ayat diatas menulis kepada Timotius yang masih muda agar jangan mengikuti stereotipe anak muda, melainkan hidup sebagai anak Tuhan sehingga orang lain tidak memandang rendah dirinya. Timotius malahan diharapkan menjadi contoh untuk orang lain, termasuk orang yang lebih dewasa!

Kebalikan dari masa muda, masa dewasa sering  ditandai dengan karir yang sudah mantap dan keberhasilan dalam hal mencukupi kebutuhan hidup. Malahan, dengan bertambahnya umur, kepercayaan diri sendiri makin bertambah besar dan kemampuan untuk menikmati hidup juga meningkat. Hidup pun seringkali bisa lebih meriah jika dibandingkan dengan hidup anak muda. Apalagi kesadaran bahwa hidup ini hanya sekali, membuat mereka yang berumur cenderung untuk bersuka-ria dan menikmati hidup selagi kesempatan masih ada. Karena itu kepekaan akan keadaan orang lain, yang  menderita dan belum mengenal Kristus, juga bisa memudar. Seringkali dengan kemampuan  yang ada, mereka melakukan hal-hal yang sama dan seringkali lebih “hebat” jika dibandingkan dengan apa yang sering dilakukan anak-anak muda di dunia nyata maupun maya.

Sebagai orang Kristen, adalah kenyataan bahwa semua orang dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan yang bijaksana, yang bisa memberi contoh yang baik untuk semua orang. Malahan, sebagai orang yang sudah cukup umur, orang diharapkan untuk lebih bisa menjadi teladan. Mereka juga diharapkan untuk lebih bisa mawas diri dan lebih peduli atas orang lain. 

Pagi ini kita diingatkan bahwa nasihat Paulus kepada Timotius berlaku untuk semua umur, yaitu agar kita bisa menjadi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan kita,  dalam tingkah laku kita, dalam kasih,  kesetiaan dan dalam kesucian kita. Mereka yang lebih tua juga harus lebih bisa menunjukkan apa arti hidup baru didalam Kristus. Jangan sampai mereka yang lebih dulu mengenal Tuhan menjadi mereka yang paling terbelakang dalam menjalankan perintahNya.

“Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” Amsal 16: 31

Apakah anda betul-betul pernah ke gereja?

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Hari Minggu. Hari libur dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja dan hari dimana kita mungkin bisa melihat acara kebaktian gereja di layar TV. Hari Minggu juga hari kedua dari liburan akhir pekan, walaupun hari itu adalah hari kerja pertama pada banyak negara islam. Hari Minggu adalah hari yang dianggap sebagai hari Sabat, hari untuk berhenti bekerja bagi banyak orang Kristen. Ke gereja? Untuk apa?


Banyak orang ke gereja dan banyak juga alasannya. Begitu pula banyak orang tidak ke gereja dengan berbagai sebab. Banyak juga orang yang ke gereja atau tidak ke gereja tanpa sebab yang pasti.

Gereja bisa berarti persekutuan orang percaya, gereja juga bisa berarti rumah Tuhan, tetapi gereja sering diartikan sebagai gedung pertemuan orang Kristen. Orang bisa ke gereja sebagai orang Kristen tetapi tidak semua orang yang ke gereja menjumpai Tuhan. Sebagian orang ke gereja menjumpai manusia dan menikmati persekutuan dengan sesama. Sepertinya lumrah dan tidak ada salahnya. Ke gereja, mengikuti kebaktian, bertemu teman, lalu pulang. Sebagian orang Kristen malah bisa merasa ke gereja dengan mengikuti acara gereja di TV – tidak perlu naik mobil dan repot mencari tempat parkir!

Bagi mereka yang mengerti, gereja adalah tubuh kita karena Roh Kudus tinggal dalam diri tiap orang percaya:

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan setiap hari, dan bukan pada hari Minggu saja. Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya berarti mengabaikan Tuhan dan menelantarkan gereja!

Gereja juga tempat yang kudus dan harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk meninggikan manusia. Bukan sebuah pertemuan organisasi untuk merencanakan suatu event atau merayakan kesuksesan organisasi atau perseorangan. Gereja bukanlah rumah sarang penyamun, bukan juga tempat bisnis!

“Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Markus 11: 17

Setiap orang percaya adalah gereja, dan pada hari Minggu mereka bersama-sama bersekutu untuk mendengarkan Firman, berdoa, saling menyapa dan menguatkan. Saling menasihati, agar mereka dapat hidup dengan baik sesuai dengan Firman. Untuk umat percaya, gereja adalah hidup dan hidup adalah gereja, dan karena itu tidak dapat digantikan dengan benda-benda mati seperti TV, internet dan radio.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai rumah Tuhan, kita harus bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan giat bersekutu dengan saudara seiman untuk memuliakan Tuhan kita. Jangan sampai kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, sekalipun dunia modern ini penuh dengan daya penariknya sendiri.  Jangan juga kita bersekutu dengan hati yang mati dan dingin, tetapi marilah kita saling mengasihi, menguatkan, mendoakan dan menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat!

 When the going gets tough…

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Pagi ini, segera setelah bangun tidur saya keluar dari kamar menuju ke balkoni belakang untuk melihat matahari terbit. Laut terlihat sangat tenang dan beberapa perahu terlihat berhenti disana, mungkin dengan penumpang yang masih tidur beristirahat. Suasana tenang dan barangkali mereka sedang bermimpi indah.

Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas mungkin juga berperahu sambil  menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Seperti semboyan “When the going gets tough, the tough gets going” (Jika keadaan makin buruk mereka yang kuat tetap bertahan), mereka awalnya tentu berusaha untuk mengatasi keadaan. Semboyan ini adalah semboyan lama dalam bahasa Inggris yang mungkin diperkenalkan oleh presiden Kennedy dari Amerika Serikat. Semboyan ini sering dipakai untuk memotivasi orang-orang yang mengalami persoalan/tantangan agar tetap bertahan. Tetapi sekalipun mereka yang kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga mereka harus membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita sambil berkata “When the going gets tough, the tough gets going”. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya “tough” atau “kuat” dalam gelombang hidup yang besar? Kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi.

Seperti murid-murid Yesus kita pernah merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita. When the going gets tough, the tough gets going…. Bukan aku, Tuhan!

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus.  Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar “tough”, yang benar-benar berkuasa, Tuhan Yesus.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa menjerit kepada Tuhan. Meminta tolong kepada Dia yang mahakuasa dan mahakasih. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Ingatkah anda bahwa ketika topan itu reda dan hidup kita menjadi teduh kembali,  Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”