Mengapa ada banyak penderitaan di dunia?

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” Kejadian 50: 20a

Dalam menghadapi penderitaan orang sering bertanya: Mengapa ini harus terjadi? Mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu belum tentu orang yang bukan Kristen, karena orang Kristen pun sering bergulat menghadapi gejolak hidupnya. Di antara beberapa jawaban, satu yang paling mudah dilontarkan, tetapi juga merupakan jawaban yang keliru adalah “karena semua itu sudah ditetapkan Tuhan”.

Bagi mereka yang percaya bahwa manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu harus meninggalkan taman Eden, pertanyaan ini mungkin tidak sukar untuk dijawab. Karena Adam dan Hawa sudah jatuh ke dalam dosa, mereka harus meninggalkan tempat yang serba indah dan nyaman dan kemudian mengalami hidup yang penuh derita dan susah-payah (Kejadian 3: 23 – 24). Kita sekarang hidup di dunia yang harus dihadapi dengan perjuangan, dan adanya kelaparan, penyakit, kematian dan malapetaka lainnya adalah suatu yang lumrah. Walaupun demikian, jawaban ini belumlah lengkap.

Menyimak apa yang tertulis dalam pengakuan Westminster, kita bisa membaca:

“Semua orang kudus yang disatukan dengan Yesus Kristus, Kepala mereka, oleh Roh-Nya dan oleh iman, bersekutu dengan Dia dalam karunia-karunia-Nya,dalam penderitaan-Nya, dalam kematian-Nya, dalam kebangkitan-Nya, dan dalam kemulian- Nya. Dan karena mereka disatukan yang seorang denganyang lain dalam kasih, maka karunia-karunia dan anugerah-anugerah mereka masing-masing menjadi milik bersama;lagi pula, mereka wajib menunaikan tugas-tugas, dalam lingkungan masyarakat dan pribadi, yang mendatangkan kebaikan bagi masing-masing, baik sejauh menyangkut manusia batin maupun sejauh menyangkut manusia lahir.” Pengakuan Iman Westminster Bab 26, Poin 1.

Dari pengakuan iman di atas, kita bisa melihat bahwa orang Kristen memang sudah sewajarnya kalau mengalami penderitaan yang tidak seharusnya terjadi padanya, karena itu adalah salah satu wujud persekutuan dengan Yesus Kristus. Adanya penderitaan bisa menguatkan iman mereka yang percaya bahwa Tuhan adalah memengang kontrol atas segala sesuatu, dan juga membuka kesempatan bagi umat Kristen untuk bisa menolong saudara-saudara seiman yang menderita, dan juga untuk bisa melaksanakan panggilan humanis dalam masyarakat.

Lalu apakah Tuhan yang membuat semua penderitaan manusia dan dosa? Dari pengakuan iman yang sama kita bisa membaca:

“Allah, dari kekal, telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi, melalui rencana kehendak-Nya sendiri yang berhikmat sempurna dan mahakudus, denganbebas dan tidak dapat diubah-ubah. Namun, dengan demikian Allah tidak menjadi Penyebab dosa, kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder tidak dihapuskan, malah diteguhkan.” Pengakuan Iman Westminster Bab 3, Poin1.

Dari sini kita bisa melihat bahwa bukan Tuhan yang membuat dosa, dan penderitaan akibat dosa adalah terjadi karena kehendak manusia yang tidak dipaksakan oleh-Nya. Apa yang dilakukan oleh orang dalam kebebasannya dan sebab-sebab lain dari apa yang terjadi dalam hidup manusia tidak dihapus oleh Tuhan, tetapi justru diizinkan untuk terjadi oleh Tuhan agar rencana-Nya terwujud. Tuhan tidak memaksa manusia untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan. Sebaliknya, dosa dan kejahatan adalah dalam kemampuan dasar manusia yang sudah jatuh. Bagaimana kita bisa menyelami semua ini?

Ayat di atas adalah ucapan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang menyatakan bahwa mereka ingin menjadi budak Yusuf setelah ayah mereka meninggal dunia. Mereka takut jangan-jangan Yusuf akan melampiaskan rasa dendamnya atas perlakuan mereka terhadap Yusuf sebelum dijual ke tanah Mesir. Tetapi Yusuf menjawab bahwa ia tidak mempunyai rasa dendam karena Tuhan sudah menggunakan apa yang jahat yang diperbuat saudara-saudaranya untuk mencapai rencana-Nya, yaitu untuk membuat mereka menjadi bangsa Israel.

Saudara-saudara Yusuf sudah melakukan dosa melalui kebebasan mereka, tetapi Tuhan bukanlah penyebabnya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi, tetapi bukanlah penyebab semua hal yang terjadi di dunia. Dalam hal ini, Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang memegang kontrol. Tuhan yang mengizinkan terjadinya apa yang buruk di dunia, bisa membuatnya menjadi apa yang baik sesuai dengan rancangan besar-Nya dan yang akan membawa kemuliaan bagi-Nya.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah jaminan untuk hidup nyaman dan untuk memperoleh kelimpahan dalam segala sesuatu. Karena itu, banyak orang yang mengajarkan bahwa iman adalah kunci segala kesuksesan baik di bidang jasmani atau pun rohani. Tetapi, thema Alkitab secara keseluruhan bukanlah kesuksesan atau berkat secara jasmani. Firman Tuhan selalu menekankan bahwa berkat yang berbentuk apa pun adalah datang dari Tuhan, tetapi berkat yang paling utama dan yang tidak bisa hilang adalah adanya keselamatan yang abadi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya melalui darah Yesus Kristus. Dengan demikian, jika kita mengalami masalah kehidupan, semangat kita tidak boleh hancur. Setiap orang di dunia ini bisa mengalami penderitaan jasmani, tetapi seperti Yusuf, mereka yang berada dalam Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk menghadapinya.

Semua hal di dunia terjadi agar rencana Tuhan tercapai. Tetapi, jika ada masalah yang sangat besar, setiap orang bisa merasa sedih atau terpukul. Selain itu, sering kali muncul pertanyaan apakah semua itu, satu per satu, adalah kehendak Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita tidak selalu bisa menjawabnya. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran Tuhan. Saudara-saudaraYusuf melakukan kekejian ketika menjualnya sebagai budak, tetapi Yusuf tahu bahwa apa yang terjadi bukanlah dari Tuhan. Yusuf tahu jika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, apapun yang dilakukan manusia pada akhirnya akan berakhir sesuai dengan rencana-Nya. Dalam ayat di atas, Yusuf baru tahu apa yang dikehendaki Tuhan ketika saudara-saudaranya datang menghadap dia. Yusuf karena itu yakin bahwa Tuhan tetap mengasihi bangsa Israel sekalipun mereka dalam penderitaan.

Apakah Tuhan itu benar-benar mahakasih? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman. Tetapi jika malapetaka terjadi dan banyak orang sudah menjadi korbannya, termasuk mereka yang beriman, pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Berbeda dengan Yusuf, banyak orang Kristen yang kemudian jatuh ke dalam fatalisme: jika apa yang buruk terjadi, itu adalah kehendak Tuhan dan manusia tidak bisa mengubahnya. Pandangan ini kelihatannya benar, karena siapakah yang dapat melawan kehendak Tuhan? Tetapi pandangan ini juga mudah ditolak, karena siapakah yang tahu dengan pasti apa kehendak Tuhan sebelum itu dinyatakan? Masa lalu sudah lewat, masa kini kita alami, tetapi siapa yang tahu akan masa depan? Siapakah yang tahu apa rencana Tuhan untuk anak-cucu kita? Ayat pembukaan kita menyimpulkan bahwa sekalipun ada hal-hal yang buruk, Tuhan bisa memakainya untuk maksud-Nya yang baik, yang mungkin belum kita ketahui saat ini. Kita yang beriman harus tetap bekerja dan berusaha sambil tetap yakin bahwa Tuhan yang tidak pernah berubah, adalah Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tidak mendatangkan bencana bagi umat-Nya.

Memang, selama kehendak Tuhan belum dinyatakan kepada kita, kita mungkin merasa gundah dalam mereka-reka apa yang akan dilakukan-Nya. Apakah Tuhan benar-benar mahakuasa? Di manakah Dia ketika kita mengalami malapetaka? Jeritan dan tangisan ini sering muncul di tengah penderitaan. Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih sudah pasti tetap memegang kemudi kehidupan manusia dan bahkan alam semesta. Tuhan tetap ada dan melihat semuanya terjadi. Tuhan tahu apa yang akan kita lakukan dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Tuhan yang selalu memegang kontrol kehidupan selalu dapat mewujudkan rencananya dalam keadaan apa pun. Dalam hal ini, bagi umat Kristen, adanya iman kepada Tuhan membuat mereka bisa hidup dalam kedamaian sebab Tuhanlah yang mengatur segalanya. Di sini juga, peranan doa adalah sangat penting; bukan untuk mengubah rencana Tuhan, tetapi agar apa yang kita perbuat bisa sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Apakah Tuhan menuntut tanggung jawab kita?

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.” Yakobus 1: 14-18

Anda tentu tahu kisah kejatuhan Adam dan Hawa di atas. Adam dan Hawa sudah diberitahu oleh Allah akan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dimakan. Jika kemudian si ular membujuk keduanya untuk melanggar larangan Tuhan, mungkin Anda berpendapat bahwa Tuhan agaknya terlalu kejam. Bukankah Tuhan tahu kbahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan mudah terbujuk? Mengapa Tuhan membuat pohon yang menyebabkan manusia tergoda dan kemudian jatuh dalam dosa? Apakah Tuhan sengaja mencobai Adam dan Hawa? Apakah Ia yang mahatahu sengaja membiarkan ular melakukan perbuatan kejinya agar manusia bisa dihukum-Nya?

Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 1 dan 2 bisa membantu kita untuk mengerti apa yang terjadi. Di situ dinyatakan bahwa Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak berdosa, Adam dan Hawa memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Akan tetapi, dalam hal itu mereka peka terhadap perubahan, sehingga dapat jatuh dan kehilangan kemampuan itu.

Dari apa yang ditulis raul Yakobus di atas, kita membaca bahwa Allah bukanlah pencipta dosa siapa pun. Jika ada manusia yang melakukan penganiayaan terhadap sesamanya, atau ketidakadilan dan dosa apa pun terhadap orang lain, Allah tidak bisa dituntut atas hal-hal itu. Dan dosa apa pun yang membuat manusia terprovokasi melalui pencobaan dan penderitaan yang mereka alami, Tuhan bukanlah penyebabnya.

Sekalipun pernah membaca tentang apa yang terjadi di taman Eden, ada orang Kristen yang merasa bahwa ketika mereka jatuh pada saat pencobaan, Tuhan membiarkan adanya tekanan besar pada mereka sehingga mereka memilih jalan yang buruk, dan membuat mereka melakukan kejahatan (fatalisme). Itu terjadi agar rencana Tuhan terjadi. Tetapi, ini tidak benar. Meskipun rencana Tuhan harus terjadi, dan karena itu mereka berusaha untuk menyalahkan Tuhan, kesalahan mereka harus sepenuhnya ditanggung oleh diri mereka sendiri. Manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, sekalipun ia menolak tanggung jawabnya, dan sekalipun ia tidak akan sanggup menerima hukumannya. Tuhan adalah mahasuci, dan Ia menuntut manusia ciptaan-Nya untuk tidak melalukan apa yang cemar.

Yakobus menulis: Janganlah ada orang berkata, ketika dia tergoda untuk mengambil jalan yang jahat, atau melakukan hal yang jahat, saya dicobai oleh Allah; karena Tuhan tidak dapat dicobai dengan kejahatan. Semua kejahatan moral disebabkan oleh suatu kekacauan pada orang yang bertanggung jawab atas kejahatan itu, karena keinginan mereka akan kemasyhuran, harta atau kekuasaan, atau kenyamanan (bandingkan dengan Tujuh Dosa Yang Membinasakan). Siapakah yang dapat mendakwa Tuhan yang mahasuci dengan adanya kekurangan manusia yang merupakan esensinya? Tidak ada hal yang dapat menggoda Dia untuk tidak menghormati atau menyangkal diri-Nya sendiri yang mahasuci, dan karena itu Dia harus menjatuhkan hukuman-Nya. Ia tidak dapat digoda oleh kejahatan manusia.

Dalam dispensasi pemeliharaan Allah tidak ada yang dapat disalahkan atas dosa siapa pun . Ia juga tidak mencobai siapa pun. Sebagaimana Allah sendiri tidak dapat dicobai oleh kejahatan, demikian pula Ia tidak dapat menjadi pencoba bagi orang lain. Dia tidak bisa menjadi promotor dari apa yang kotor sifatnya. Dalam hal ini, pikiran manusia sering ingin membebankan dosanya sendiri kepada Allah. Ada sesuatu yang turun-temurun dalam hal ini. Adam menyalahkan Tuhan, karena memberinya penggoda.

Di antara orang Kristen, ada yang percaya bahwa Tuhanlah yang memungkinkan kejatuhan mereka dalam dosa. Tetapi, jangan sampai kita berbicara demikian. Sangat buruk berbuat dosa; tetapi jauh lebih buruk, ketika kita telah melakukan kesalahan, untuk menyalahkan Tuhan, dan mengatakan bahwa itu adalah hak-Nya. Mereka yang menyalahkan dosa-dosa mereka di dunia, atau yang berpura-pura berada di bawah apa yang sudah ditetapkan Tuhan untuk berbuat dosa, secara tidak langsung menyatakan bahwa Tuhan yang salah, seolah-olah Dia adalah penyebab dosa. Penderitaan, seperti yang dikirim oleh Tuhan, dirancang untuk menarik manusia ke arah anugerah Tuhan, tetapi bukan untuk kerusakan kita.

Ayat 14 menyatakan kepada kita di mana letak penyebab sebenarnya dari kejahatan, dan di mana kesalahan harus ditimpakan. Setiap orang dicobai (dalam arti yang buruk) ketika ia diseret oleh nafsunya sendiri, dan dibujuk. Dalam tulisan Alkitab lain, iblis disebut si penggoda, dan hal-hal lain kadang-kadang bisa menggoda kita; tetapi baik iblis maupun orang atau benda lain mana pun tidak boleh dipersalahkan untuk memaafkan diri kita sendiri; karena sesungguhnya kejahatan dan pencobaan yang asli ada di dalam hati kita sendiri. Bahan yang mudah terbakar ada di dalam diri kita, meskipun nyala api dapat diledakkan oleh beberapa penyebab luar.

Bagaimana cara dosa bekerja dalam prosesnya? Pertama menarik, lalu membujuk. Karena kekudusan terdiri dari dua bagian—meninggalkan yang jahat dan berpegang teguh pada yang baik, maka kedua hal ini jika dibalik, adalah dua bagian dari dosa. Hati dibawa dari yang apa baik, dan terpikat untuk melekat pada yang jahat. Pertama-tama karena kecenderungan yang rusak, atau dengan bernafsu dan mengingini hal-hal yang sensual atau duniawi, terasing dari kehidupan Tuhan, dan kemudian secara bertahap terperangkap dalam jalan dosa. Dosa bukan terjadi karena sudah ditetapkan oleh Tuhan dalam hidup kita. Dosa terjadi karena kita tidak mau bertanggung jawab atas hidup yang diberikan Tuhan kepada kita.

Pagi ini, kita dapat mengamati kuasa dan kelicikan dosa. Ada banyak kekerasan yang dilakukan terhadap hati nurani dan pikiran manusia oleh kekuatan yang korup: dan ada banyak kelicikan dan tipu daya dan sanjungan dalam dosa untuk membawa kita pada maksudnya. Kekuatan dan kekuatan dosa tidak akan pernah menang, jika bukan karena kelicikan dan tipu muslihatnya. Orang berbuat dosa yang bisa membinasakan karena dibujuk dan disanjung untuk kehancuran mereka sendiri. Dan ini akan membenarkan Tuhan selamanya ketika Ia memberikan penghukuman kepada mereka, bahwa mereka menghancurkan diri mereka sendiri. Tuhan menuntut tanggung jawab setiap orang, Kristen dan Non-Kristen, atas cara hidup dan apa yang diperbuat mereka selama hidup di dunia. Tuhan tidak pernah berubah, dari awal sampai sekarang. Satu hal yang memberi harapan kepada umat manudia adalah janji Tuhan untuk mengampuni mereka yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Tulisan di atas menakai buku tafsiran Alkitab oleh Matthew Henry.

Apakah Anda seorang humanis?

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12:15

Ayat di atas bunyinya agak menggelitik. Apakah pesan Paulus ke jemaat di Roma itu realistis dan praktikal? Dapatkah manusia mengasihi sesamanya seperti ia mengasihi dirinya sendiri? Sekalipun hal mengasihi adalah salah satu perintah Tuhan Yesus yang utama kepada umat-Nya, sebagian orang Kristen percaya bahwa itu tidak mungkin. Malahan sebagian orang Kristen dengan sinis menganggap bahwa kebanyakan orang yang terlihat penuh kasih sebenarnya hanya “show-off” atau pamer saja, seperti apa yang diperlihatkan oleh orang Farisi. Pandangan semacam ini mungkin terjadi ketika mereka lupa bahwa adanya perintah Tuhan tentunya menunjukkan bahwa umat Kristen dapat, walaupun mungkin tidak sempurna, untuk melakukannya karena adanya Roh Kudus yang membimbingnya. Ini adalah dasar dari humanisme Kristen.

Alkitab memang penuh dengan ayat-ayat yang menyangkut humanisme, tetapi sebagian orang Kristen menolak mentah-mentah prinsip-prinsip humanisme. Mengapa begitu? Mungkin karena mereka tidak menyadari adanya perbedaan antara humanisme sekuler dan humanisme Kristen. Sampai sekarang istilah humanisme Kristen telah digunakan untuk merujuk pada berbagai pandangan, beberapa di antaranya lebih alkitabiah daripada yang lain. Secara umum, humanisme adalah sistem pemikiran yang berpusat pada nilai, potensi, dan nilai kemanusiaan; humanisme berkaitan dengan kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia, menekankan nilai intrinsik individu, dan melihat manusia sebagai agen yang bisa mengambil keputusan secara rasional dan moral mengenai apa yang ada dalam alam semesta (bukan saja mannusia, tetapi juga flora dan fauna). Sejauh mana sudut pandang yang luas ini diintegrasikan dengan kepercayaan Kristen menentukan dengan tepat seberapa alkitabiah humanisme Kristen itu.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” Kejadian 1:28

Ada berbagai jenis humanisme, dan ada baiknya mengetahui perbedaan di antara mereka. Humanisme klasik, yang dikaitkan dengan Renaisans, menekankan estetika, kebebasan, dan studi tentang “humaniora” (sastra, seni, filsafat, dan bahasa klasik Yunani dan Latin). Humanisme sekuler menekankan potensi manusia dan pemenuhan diri sampai mengesampingkan semua kebutuhan akan Tuhan; itu adalah filosofi naturalistik yang didasarkan pada akal, sains, dan pemikiran tentang tujuan dan cara. Pada pihak yang lain, humanisme Kristen mengajarkan bahwa kebebasan, keadilan sosial, hati nurani individu, dan kebebasan intelektual sesuai dengan prinsip-prinsip Kristen, dan bahwa Alkitab sendiri menekankan pengudusan manusia—berdasarkan keselamatan Allah di dalam Kristus dan tunduk pada kendali kedaulatan Allah atas alam semesta (lihat pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4).

Sementara motivasi utama dalam kekristenan adalah untuk menyenangkan Tuhan, tidak semua orang Kristen modern melihatnya seperti itu. Saat ini semakin banyak yang setuju dengan kaum humanis bahwa melayani umat manusia harus menjadi faktor pendorong utama. Di dunia, kita melihat adanya gereja-gereja tertentu yang sangat aktif dalam bidang sosial seperti: panti asuhan, sekolah dan universitas, pendidikan dan penampilan musik klasik, pelayanan kesehatan masyarakat dan rumah sakit dan sebagainya. Tidak dapat dihindari, banyak orang Kristen yang kemudian terlalu menekankan nilai intrinsik individu, dan melihat manusia sebagai agen otonom, rasional, dan moral yang tidak perlu bergantung pada kuasa dan anugerah Tuhan. Adanya humanisme dengan demikian juga bisa mengaburkan adanya perbedaan antara umat Kristen dan mereka yang tidak mengenal Tuhan.

Humanisme Kristen mewakili penyatuan filosofis Kekristenan dan prinsip-prinsip humanis klasik. Humanisme Kristen, seperti humanisme klasik, mengejar nalar, penyelidikan bebas, pemisahan gereja dan negara, dan cita-cita kebebasan. Humanis Kristen berkomitmen pada penyelidikan dan pengembangan serta penggunaan sains dan teknologi. Humanisme Kristen mengatakan bahwa semua kemajuan dalam pengetahuan, sains, dan kebebasan individu adalah dari Tuhan, dan harus digunakan untuk melayani umat manusia demi kemuliaan Tuhan. Tidak seperti rekan sekuler mereka, humanis Kristen menekankan perlunya menerapkan prinsip-prinsip Kristen dalam setiap bidang kehidupan, publik dan pribadi.

Humanisme Kristen berpendapat bahwa manusia memiliki martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia adalah agen yang otonom, rasional, dan bermoral itu sendiri merupakan pencerminan dari keberadaan mereka yang diciptakan sebagai Imago Dei (gambar Allah). Nilai manusia diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasihan-Nya kepada orang-orang (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan Perumpamaannya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37). Yesus adalah seorang humanis sejati selama hidup-Nya di dunia, yang membedakan tugas-Nya untuk menyelamatkan mereka yang percaya dari belas kasihan-Nya kepada mereka yang berdosa.

Kaum humanis Kristen memahami bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh menjadi pengetahuan penuh tentang segala hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; bandingkan Kolose 1 :9). Tidak seperti humanis sekuler yang menolak gagasan tentang kebenaran yang diwahyukan, humanis Kristen berpegang pada Firman Tuhan sebagai standar untuk menguji kualitas segala sesuatu.

Humanis Kristen menghargai setiap manusia tetapi juga mengakui efek kejatuhan manusia (1 Korintus 1:18-25) dan adanya sifat berdosa di setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Humanisme Kristiani mengatakan bahwa manusia bisa mengembangkan potensinya hanya ketika dia masuk ke dalam hubungan yang baru dengan Kristus. Saat diselamatkan, ia menjadi ciptaan baru, manusia surgawi, dan dapat mengalami pertumbuhan di setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:17). Tanpa kelahiran baru, mustahil seseorang bisa benar-benar mengasihi sesamanya dan juga mengasihi Tuhan. Perbuatan baik apa pun yang dilakukan manusia duniawi tidak akan membawa kemuliaan Tuhan; padahal manusia diciptakan untuk memuliakan Sang Pencipta.

Humanisme Kristen mengatakan bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kesombongan atau promosi diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan rohani dalam segala hal yang Tuhan inginkan. Humanis Kristen percaya ini termasuk kehidupan intelektual, kehidupan artistik, kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi, politik, hubungan ras, hak asasi, masalah lingkungan dan lain-lain.

Humanisme Kristen percaya bahwa tidak hanya gereja yang harus secara aktif terlibat dalam kehidupan sosial dan budaya, tetapi juga percaya bahwa setiap orang Kristen harus menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat kemanusiaan sambil bertahan untuk melawan semua pengaruh yang tidak manusiawi di dunia. Ini adalah bagian dari mandat budaya yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya. Tokoh-tokoh Kristen seperti Agustinus, Anselmus, Aquinas, dan Calvin adalah penyokong humanisme Kristen, meskipun mereka tidak memakai istilah demikian pada saat itu. Saat ini, istilah humanisme Kristen digunakan untuk menggambarkan berbagai sudut pandang dari banyak penulis Kristen seperti Fyodor Dostoevsky, G. K. Chesterton, C. S. Lewis, J. R. R. Tolkien, dan Alexander Solzhenitsyn.

Humanisme Kristen adalah alkitabiah sejauh ia berpegang pada pandangan alkitabiah tentang manusia—agen moral yang bertanggung jawab untuk memelihara apa yang ada di dunia, yang sudah diciptakan menurut gambar Allah tetapi jatuh ke dalam dosa. Humanisme Kristen menjadi semakin kurang Kristen jika semakin berkompromi dengan humanisme sekuler, yang mempromosikan kemanusiaan dengan usaha sendiri. Ini adalah kenyataan, tetapi tidak seharusnya membuat kita anti humanisme Kristen atau mengabaikan adanya humanisme yang berlandaskan Alkitab, yang menyadari ketergantungan manusia kepada Tuhan.

Pagi ini kita belajar bahwa humanisme sekuler adalah bagaikan upaya untuk mengatasi kutukan Babel yang membagi umat manusia menjadi massa suku-suku yang bertikai yang tertutup rapat satu sama lain karena saling tidak dapat memahami. Jika ini hanya berarti bahwa humanisme berusaha untuk membangun kembali menara Babel – sebuah kota manusia yang didirikan di atas kesombongan dan keinginan diri sendiri dalam ketidaktahuan dan dosa yang merupakan penghinaan terhadap Tuhan – maka tidak diragukan lagi bahwa humanisme sedemikian adalah anti-Kristen. Tapi ini bukan satu-satunya jenis humanisme.

Humanisme Kristen yang benar tidak berarti mengabaikan firman Tuhan demi kebutuhan sesama manusia yang berbeda latar belakang dan cara hidupnya. Humanisme Kristen tidak akan melupakan bahwa setiap orang adalah berdosa, dan masing–masing harus bertanggung jawab secara pribadi. Walaupun demikian, humanisme Kristen memandang bahwa kebutuhan hidup setiap manusia di dunia pada hakikatnya adalah sama dan Tuhan adalah sumber kehidupan manusia.

Karena orang Kristen membutuhkan rahmat Tuhan untuk penyempurnaannya sendiri, maka humanisme Kristen adalah sarana dan persiapan bagi orang percaya untuk menuju kearah kesempurnaan rohani di surga (baca Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 5). Jadi humanisme Kristen sangat diperlukan dalam hidup orang Kristen seperti halnya etika Kristen dan sosiologi Kristen. Humanisme dan Ketuhanan saling melengkapi satu sama lain dalam tatanan budaya, sebagaimana alam semesta dan pemeliharaan Tuhan dalam tatanan keberadaan. Humanisme Kristen juga menyokong pelaksanaan Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28:19-20).

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa kekristenan tidak terikat dengan ras atau budaya tertentu, dan karena itu itu humanisme Kristen tidak seharusnya membedakan pelayanan kita kepada orang Kristen maupun non-Kristen, atau memisahkan “orang pilihan” dari “bukan pilihan”, karena Tuhan mengasihi setiap orang. Orang hunanis belum tentu Kristen, tapi orang Kristen seharusnya humanis. Semoga Anda mau ikut aktif dalam melaksanakan prinsip-prinsip keadilan sosial dan humanisme berdasarkan Alkitab untuk memuliakan nama Tuhan di dunia.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:45

Tubuh kita adalah Bait Allah

“Tidak tahukah kamu , bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” 1 Korintus 3: 16-17

Mungkin Anda pernah mendengar khotbah dan membaca tulisan tentang perlunya merawat tubuh kita dan menahan diri dari hal-halyang merusak kesehatan. Orang sering menggunakan 1 Korintus 3:16-17 untuk membenarkan pandangan mereka. Apakah ini penggunaan yang benar dari peringatan Paulus?

Perikop ini memang mengatakan bahwa kita adalah “bait Allah,” dan inilah yang dikatakan oleh pernyataan Paulus lainnya. Misalnya, dalam Efesus 2:21-22, Paulus mengatakan bahwa seluruh “bangunan Allah” (umat Allah) bertumbuh menjadi “bait suci di dalam Tuhan” dan bahwa jemaat Efesus adalah “tempat kediaman Allah dalam Roh. ” Selanjutnya, Paulus berkata, “Kita adalah bait Allah yang hidup,” dan bahwa Allah akan “diam” di dalam orang-orang percaya yang membentuk bait itu (2 Korintus 6:16). Petrus juga berkata bahwa kita “dibangun sebagai rumah rohani bagi imamat kudus, untuk mempersembahkan kurban rohani yang berkenan kepada Allah melalui Yesus Kristus” (1 Petrus 2:5). Kita dapat melihat bahwa gambaran “bait” atau “rumah” ini ditemukan di tempat lain dalam Kitab Suci dan ini membantu kita untuk memahami perikop Paulus dalam 2 Korintus 3.

Paulus mengatakan bahwa “kamu” adalah bait Allah, tempat di mana Allah tinggal. Istilah “bait suci” (Yunani, naos) berarti “bangunan, rumah (tempat kudus, maha kudus)”. Paulus melanjutkan, “Roh Allah diam di dalam kamu.” “Kamu,” di sini adalah dalam bentuk jamak, artinya seluruh tubuh Kristus di Korintus, dan bukan orang Kristen secara individu. Benar bahwa Roh Kudus berdiam di dalam setiap orang percaya (Kis 2:38; Roma 8:9-10), tetapi di sini rasul Paulus menyatakan tubuh dalam arti persekutuan orang percaya, bukan secara perseorangan.

Di ayat-ayat sebelumnya, Paulus telah memperingatkan jemaat Korintus untuk menangani tubuh Kristus secara bertanggung jawab. Dia berkata, “Kami adalah rekan sekerja Tuhan; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1 Korintus 3:9). Paulus dan rekan sekerjanya adalah “rekan sekerja Tuhan”, dan jemaat Korintus adalah “ladang Tuhan” dan juga “bangunan Tuhan”. Kemudian, di ayat 16, Paulus memperluas perumpamaan ini untuk mengacu pada bait-Nya.

Konteks yang lebih luas menunjukkan bahwa Paulus berurusan dengan perpecahan gereja di Korintus. Dia berusaha untuk memperbaiki ini dengan memerintahkan para majelis yang bandel ini, “Sekarang saya menasihati Anda, dengan nama Tuhan kita Yesus Kristus, agar Anda semua setuju dan tidak ada perpecahan di antara Anda, tetapi agar Anda disempurnakan dalam satu kesatuan. pikiran dan pertimbangan yang sama” (1 Korintus 1:10; lihat juga ayat 10-13; 3:1-9). Paulus prihatin bahwa jemaat sedang ditarik-tarik ke beberapa “kubu” . Bagian surat itu menunjukkan bahwa banyak kekeliruan doktrin dan dosa yang melanda komunitas Korintus ini. Jika tidak diperbaiki, ini akan “menghancurkan” persatuan.

Sekarang, dalam 1 Korintus 3:16-17, Paulus mengeluarkan peringatan serius kepada siapa pun yang akan berperan dalam perusakan “bait” Allah ini. Dia berkata, “Jika ada orang yang menghancurkan bait Allah, Allah akan membinasakan dia, karena bait Allah itu kudus, dan itulah kamu” (ayat 17). Menghancurkan persekutuan orang-orang kudus setempat adalah masalah serius. Sangat serius sehingga Tuhan akan “menghancurkan” orang seperti itu jika dia terus melakukan pekerjaannya yang merusak. Bait Allah (jemaat orang-orang kudus setempat) adalah “suci” dan harus dijaga kekudusannya dengan menghilangkan perpecahan, amoralitas, ajaran sesat, dan semua ajaran yang bersifat kompromi. “Hal ini memberikan tanggung jawab besar kepada orang Kristen untuk tetap kudus dalam pelayanan Tuhan. . . . Oleh karena itu, peringatan keras diberikan. Siapa pun yang akan menghancurkan (melalui proses yang merusak) gereja Tuhan dan misinya—melalui ajaran palsu, ajaran yang memecah belah, ajaran meremehkan dosa dll.—akan menerima pembalasan yang adil dari Allah sendiri.

Bisakah 1 Korintus 3:16-17 digunakan untuk memperingatkan orang-orang tentang aktivitas mereka yang berdosa sehubungan dengan tubuh fisik pribadi mereka? Tulisan Paulus tampaknya melarang kita menggunakan ayat-ayat tersebut dengan cara ini. Dia tidak berurusan dengan tubuh fisik individu orang Kristen tetapi dengan tubuh rohani orang percaya di Korintus—atau di tempat lain mana pun di bumi. Namun, Paulus membahas tubuh orang Kristen tiga pasal kemudian: “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang ada di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milikmu sendiri? Karena kamu telah dibeli dengan harga tertentu: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1 Korintus 6:19-20). Dalam konteks ini, Paulus memperingatkan orang-orang percaya di Korintus untuk tidak menggunakan tubuh mereka untuk tujuan asusila, seperti percabulan (ayat 13-18). Mereka tidak boleh menggunakan tubuh fisik mereka untuk berbuat dosa sekalipun yakin bahwa mereka sudah diselamatkan. Mereka tidak boleh memakai hidup mereka untuk menodai nama Tuhan.

Sama seperti seseorang tidak boleh merusak tubuh fisiknya melalui dosa (amoralitas) dan tidak boleh menggunakan tubuh fisiknya untuk berbuat dosa, demikian juga dengan prinsip ini, kita dapat mengatakan bahwa menggunakan tubuh kita dengan cara lain yang salah juga berdosa. dan berbahaya. Tentunya kita tidak boleh mengisap rokok yang telah terbukti menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Kita tidak boleh menggunakan minuman keras untuk mabuk-mabukan karena ini juga merugikan tubuh fisik. Selanjutnya, kita tidak boleh merusak tubuh fisik melalui “junk food” yakni makanan yang tidak bergizi, melalui kemalasan, melalui obat-obatan terlarang, dan melalui aktivitas tidak sehat lainnya.

Kita perlu menyadari bahwa tubuh kita adalah milik Tuhan dan didiami oleh Roh Allah. Kita harus memuliakan Tuhan melalui tubuh kita dalam setiap apa yang kita perbuat (Matius 5: 16). Tujuan tubuh gereja dan tubuh pribadi adalah untuk memuliakan Tuhan. Apa pun yang tidak membawa kemuliaan Tuhan harus dihentikan. Ini bukan saja perbuatan tetapi juga ajaran yang menjauhkan umat Kristen dari kesadaran bahwa mereka tetap harus bertanggung jawab atas cara hidup mereka sekalipun sudah pernah bertobat dan menerima pengampunan atas dosa mereka. Segala sesuatu mungkin diperbolehkan, tetapi bukan semuanya berguna untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini kita harus sadar bahwa umat Tuhan adalah manusia yang sudah diselamatkan. Kita tentunya sudah bertobat atas dosa-dosa kita pada waktu kelahiran baru. Walaupun demikian, kita tetap bisa jatuh ke dalam dosa. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkannya ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikannya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal padanya, orang itu tidak dapat menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat. Bagaimana kita bisa dikuatkan dalam melawan godaan untuk berbuat dosa? Firman Tuhan menyatakan bahwa seperti Paulus, kita harus selalu ingat dan mau saling mengingatkan bahwa tubuh kita adalah bait Allah, rumah Roh Kudus, yang harus dipelihara dan digunakan untuk kemuliaan Allah. Ini adalah pesan penting dari Paulus bukan saja untuk jemaat Korintus waktu itu, tetapi juga untuk jemaat masa kini yang sudah banyak terpengaruh oleh kebudayaan modern dan segala dampaknya, dan jemaat masa depan di mana tantangan untuk umat Kristen akan menjadi makin besar.

Amanat kecil yang sering terlupakan

“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10: 5-8

Kita sering mengingat “Amanat Agung” di mana Yesus memberi tahu para rasul-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15). Namun, sebelum ini, Yesus memberikan para rasul-Nya apa yang kita sebut “Amanat Terbatas. Berbeda dengan Amanat Agung yang harus kita jalankan ke seisi dunia, Amanat Kecil ini dperintahkan Yesus kepada ke dua belas murid-Nya untuk “pergi kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:6).

Yesus pada saat itu menyatakan bahwa orang yang bukan Yahudi tidak boleh mendengar Injil, sampai orang Yahudi menolaknya. Pengekangan terhadap para rasul ini hanya dalam misi pertama mereka. Ke mana pun mereka pergi, mereka harus mewartakan kepada orang Yahudi bahwa kerajaan surga sudah dekat. Mereka berkhotbah untuk menghidupkan harapan dan iman, menolak hal-hal duniawi; untuk menginspirasi akan hal-hal surgawi dan kerajaan surga,yang sudah dekat, agar manusia dapat mempersiapkannya tanpa penundaan.

Kristus memberi kuasa untuk melakukan mukjizat untuk meneguhkan penginjilan yang dilakukan mereka. Itu menunjukkan bahwa maksud dari Injil yang mereka khotbahkan adalah untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang sakit, dan untuk membangkitkan mereka yang telah mati dalam dosa. Dalam mewartakan injil tentang anugerah cuma-cuma untuk penyembuhan dan penyelamatan jiwa manusia, mereka harus menghindari “penampakan sebagai orang upahan” tetapi menunjukkan bahwa mereka adalah “duta-duta besar surgawi” yang diutus oleh Tuhan. Mereka diarahkan Yesus untuk apa yang harus dilakukan di kota-kota asing.

Hamba Kristus adalah duta perdamaian ke mana pun dia dikirim. Pesan Injil adalah untuk semua orang bahkan untuk orang-orang yang “paling jahat”, namun dia harus juga menemukan orang-orang “terbaik” di setiap tempat. Itu karena semua orang tidak layak di hadapan Tuhan. Mereka harus bisa berdoa dengan sungguh-sungguh untuk semua, dan berperilaku sopan kepada semua. Mereka juga diarahkan bagaimana harus bertindak terhadap orang yang menolak mereka. Seluruh rencana Allah harus dinyatakan, dan mereka yang tidak mau memperhatikan panggilan Injil yang penuh kasih, harus diingatkan bahwa keadaan mereka berbahaya. Hal ini harus diperhatikan dengan serius oleh semua orang yang mendengar Injil, jangan sampai hak istimewa sebagai orang Israel hanya menambah penghukuman mereka.

Meskipun kita hidup di masa sesudah diberikannya Amanat Terbatas, masih ada pelajaran penting yang dapat kita pelajari dari Amanat Terbatas yang masih berlaku hingga hari ini. Pesan spesifik yang harus dikhotbahkan para rasul adalah ini: “Kerajaan surga sudah dekat” (Matius 10:7). Meskipun kita tidak tahu kapan itu akan sepenuhnya terjadi, kita tetap harus memberitakan akan datangnya kerajaan itu. Penekanan pada hal ini penting karena memberitakan kerajaan Tuhan berarti mengajar orang lain tentang pemerintahan Kristus (Yohanes 18:36-37; Efesus 1:22-23), otoritas Kristus (Matius 28:18; Kolose 3:17), hukum Kristus (Yesaya 2:3; Matius 28:19-20), dan gereja Kristus (Matius 16:18-19) di dunia dan di surga. Pemberitaan Injil bukanlah usaha meyakinkan mereka akan kebenaran doktrin kita, karena manusia diselamatkan bulan oleh doktrin.

Ketika Yesus mengutus rasul-rasul-Nya untuk berkhotbah, mereka tidak hanya memberitakan Injil dan mengharapkan orang-orang untuk mempercayai kata-kata mereka begitu saja. Mereka harus membuktikan klaim mereka tentang kerajaan. Yesus memberi tahu mereka bagaimana hal ini akan dilakukan: “Sembuhkan yang sakit, bangkitkan yang mati, tahirkan orang kusta, usir setan” (Matius 10:8). Melalui mujizat-mujizat ini, Allah “bersaksi bersama mereka” bahwa apa yang mereka ajarkan adalah kebenaran (Ibrani 2:4). Kita tidak memiliki keajaiban dalam bentuk dan skala yang sama hari ini, namun kita masih berusaha agar orang mempercayai kata-kata kita. Sama seperti Paulus “…semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias” (Kisah 9:22), kita harus menyampaikan bukti-bukti keajaiban pekerjaan Tuhan dalam hidup kita dan orang percaya lainnya. Apa pun yang kita perbuat, adalah untuk kemuliaan Tuhan (1 Korintus 10: 31).

Tuhan tetap mengasihi manusia di zaman ini, baik yang menderita secara jasmani, atau yang mengalami kehancuran jiwa. Tuhan tetap mengerjakan berbagai keajaiban dalam hidup manusia, terutama dalam bentuk rohani. Yesus memberi tahu para rasul-Nya: “ Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Matius 10:8-10). Meskipun baik bagi mereka yang mengabdikan hidup mereka pada pemberitaan Injil untuk “mendapatkan nafkah dari Injil” (1 Korintus 9:14), motivasi utama dari setiap guru kebenaran haruslah mengajarkan kebenaran dan menolong mereka yang hancur hatinya.

Kita bisa melihat keadaan zaman sekarang, di mana banyak orang Kristen yang nampaknya lebih tertarik untuk mencari uang dan popularitas pribadi dalam mengabarkan Injil, baik secara langsung maupun melalui berbagai media. Apa yang kita butuhkan adalah orang Kristen yang menyadari adanya penderitaan manusia baik dalam hal jasmani maupun rohani, yang bertentangan dengan kasih Tuhan kepada seluruh umat manusia. Karena itulah kita harus menyadari bahwa Tuhan juga bekerja untuk menyelamatkan mereka yang percaya, melalui pelayanan kita di bidang jasmani maupun rohani.

Mendukung mereka yang memberitakan Injil adalah sama dengan persekutuan antara mereka yang memberi dan menerima dukungan (3 Yohanes 8). Ketika para rasul melakukan perjalanan dari kota ke kota, persekutuan yang mereka miliki (tinggal di rumah seseorang) harus didasarkan pada “siapa yang layak” (Matius 10:11) – bukan siapa yang dapat memberikan dukungan paling banyak, siapa yang dapat memberikan uang paling banyak dan tempat tinggal yang nyaman, atau siapa yang paling ramah dan lebih menarik. Standar persatuan kita adalah firman Tuhan (Yohanes 17:20-21). Kita tidak boleh bersekutu dengan mereka yang tidak layak (Efesus 5:11; 2 Yohanes 9-11). Ini berarti bahwa pada zaman ini, kita harus berhati-hati dalam hidup kita, untuk tidak hidup seperti orang-orang duniawi dan bersekutu dengan mereka yang terang-terangan hidup dalam dosa. Tidak hanya pergaulan yang kurang baik bisa mempengaruhi cara hidup kita, itu juga merugikan penginjilan.

Dalam upaya untuk mengajarkan Injil kepada orang lain, mungkin ada saat-saat di mana kita harus “mengibaskan debu dari kaki kita” dan melanjutkan perjalanan, seperti yang Yesus katakan kepada para rasul-Nya agar mereka lakukan (Matius 10:14). Injil adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan” (Roma 1:16). Jika seseorang tidak mau mendengarkan atau sengaja menolak untuk menerima pesan Injil, kita tidak dapat membantunya. Ketika seseorang menunjukkan bahwa dia tidak mau menerima Injil, kita perlu melanjutkan tugas kita (setidaknya untuk sementara waktu, sampai dia berubah pikiran). Ini tidak selalu mudah dilakukan, terutama ketika kita mencoba untuk mengajar keluarga dan teman. Namun itu harus dilakukan agar kita dapat mengarahkan upaya kita kepada orang lain yang mungkin lebih siap untuk menerima kebenaran.

Mereka yang menolak pesan Injil akan dihukum. Yesus melangkah lebih jauh dengan mengatakan, “Tanah Sodom dan Gomora akan lebih dapat ditoleransi pada hari penghakiman” daripada mereka yang menolak rasul-rasul-Nya (Matius 10:15). Demikian pula, mereka yang “tidak menaati Injil… akan menerima hukuman kebinasaan kekal, menjauh dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kuasa-Nya” (2 Tesalonika 1:8-9). Ini seharusnya memotivasi kita untuk mengajar orang lain, seperti yang dikatakan Paulus, “Dengan mengenal takut akan Tuhan, kami meyakinkan orang” (2 Korintus 5:11). Karena kita mengetahui nasib mereka yang tidak menaati Injil, marilah kita kerjakan dengan giat apa yang dapat kita lakukan untuk meyakinkan mereka agar percaya dan menaati kebenaran.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa kita tidak boleh melupakan intisari Amanat Terbatas yang diajarkan kepada murid-murid Yesus. Perintah Yesus itu juga bisa kita pakai sebagai pedoman hidup kita dalam mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Ada banyak hal yang baik yang kita bisa pegang sebagai bimbingan dalam kita melaksanakan Amanat Agung. Memang Amanat Terbatas ini sering dilupakan, tetapi kita sebenarnya bisa mendapatkan banyak pelajaran darinya.

Pengudusan orang Kristen: berjuang atau berserah?

https://youtube.com/watch?v=09LVu2JyXCo&feature=share

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5-7

Jika kita benar-benar orang percaya, maka kita menyadari bahwa kedudukan kita di dalam Kristus dengan sendirinya memisahkan kita dari dunia (1 Petrus 2:9-12). Bagaimanapun, kita memiliki hubungan dengan Tuhan yang hidup! Kemudian, tentunya kita setiap hari harus menjalani kehidupan baik, tidak mencoba untuk “berbaur” dengan dunia, melainkan hidup sesuai dengan Firman Tuhan saat kita mempelajari Alkitab dan bertumbuh di dalamnya. Ini membutuhkan usaha kita, tidak otomatis. Anda kurang yakin?

Mengomentari ayat di atas Calvin berkata: Karena merupakan pekerjaan yang berat dan kerja keras untuk menanggalkan kerusakan yang ada pada kita, Petrus meminta kita untuk berjuang dan melakukan segala upaya untuk tujuan ini. Dia mengisyaratkan bahwa dalam hal ini tidak boleh ada tempat yang diberikan kepada kemalasan, dan bahwa kita harus menaati Allah yang memanggil kita, tidak dengan lambat atau sembarangan, tetapi dibutuhkan kesigapan; seolah-olah dia telah berkata, “Kerahkan segala upaya, dan wujudkan upayamu kepada semua orang.”

Bagi Calvin, bertumbuh dalam kesalehan (pengudusan) adalah kerja keras. Tidak ada tempat untuk kemalasan. Kita harus mengerahkan diri untuk ketaatan dengan kecepatan dan ketekunan. Orang percaya sama sekali tidak boleh pasif dalam penyucian. Namun kemudian, saat mengomentari ayat yang sama, Calvin juga memperingatkan terhadap gagasan bahwa kitalah yang menjadikan gerakan Tuhan dalam diri kita efektif, seolah-olah pekerjaan Tuhan tidak dapat dilakukan kecuali kita mengizinkannya melakukannya. Sebaliknya, “perasaan yang benar dibentuk dalam diri kita oleh Allah, dan diwujudkan oleh Dia secara efektif.” Itu karena semua yang baik berasal dari Tuhan.

Kebijaksanaan, kesabaran, kasih — ini semua adalah karunia Allah dan Roh. Jadi ketika Petrus memberi tahu kita untuk melakukan segala upaya, dia sama sekali tidak menegaskan bahwa ini [kebajikan] adalah dari kekuatan kita, tetapi hanya menunjukkan apa yang seharusnya kita miliki, dan apa yang harus dilakukan. Sekalipun ini jelas, dalam pelaksanaannya kita bisa mengalami banyak masalah yang dimunculkan oleh dua ajaran. Apa itu?

Dua ajaran sesat yang melanda gereja tentang masalah pengudusan selama berabad-abad adalah ajaran sesat Aktivisme (Activism) dan Ketenangan (Quietism). Distorsi kembar ini bersalah karena menghilangkan salah satu kutub paradoks mengenai kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Dalam aktivisme, karya Tuhan ditelan oleh pembenaran diri manusia. Dalam ajaran ketenangan, perjuangan manusia diserahkan sepenuhnya kepada proses ilahi yang dianggap otomatis berjalan setelah anugerah keselamatan yang mutlak dari Tuhan.

Ajaran Aktivisme (bukan ajaran untuk aktif dalam hidup baik) adalah keyakinan orang yang merasa benar sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan ilahi untuk mencapai kesempurnaan. Karunia Tuhan diabaikan, dan mereka dapat mengangkat dirinya sendiri. Keyakinannya ada pada dirinya sendiri dan kemampuan moralnya. Mungkin pernyataan paling arogan yang dapat dibuat seseorang adalah ini: “Saya tidak lagi membutuhkan Kristus” atau “Ini tugas manusia semata-mata”. Atau mungkin saja sesuatu yang nampaknya baik: “Saya sudah dikaruniai kemampuan mandiri dari Tuhan”.

Ajaran Quietisme berakar pada gerakan Katolik Roma abad ke-17. Ini paling terkait dengan seorang pendeta Spanyol bernama Miguel de Molinos, seorang mistikus Prancis bernama Madame Guyon, dan seorang Uskup Agung dan penulis Prancis bernama Francois Fenelon. Mereka dikaitkan dengan gagasan bahwa pengudusan orang Kristen secara eksklusif adalah pekerjaan Roh Kudus. Dengan kata lain, sejauh menyangkut kesalehan pribadi Anda, tidak ada yang dapat Anda lakukan kecuali menyingkir, dan membiarkan Tuhan melakukan semua pekerjaan. Ini tentu ada hubungannya dengan faham Determinisme dan Fatalisme, yang meyakini bahwa segala sesuatu, baik atau buruk, sudah ditetapkan Tuhan dari mulanya.

Ajaran Ketenangan menghina Roh Kudus dengan bersikeras bahwa Tuhan sepenuhnya bertanggung jawab atas kemajuan atau kurangnya kekudusan umat Kristen. Jika si pengikut ajaran masih terus hidup dalam dosa, anggapan yang tak terucapkan adalah bahwa Tuhan kurang giat dalam pekerjaan-Nya atau Dia tidak berkeberatan atas dosanya. Kredo orang Kristen semacam ini adalah, “Lepaskan dan biarkan Tuhan” (Let go, let God). Tidak diperlukan perjuangan; tidak diperlukan perlawanan terhadap godaan. Pengudusan adalah pekerjaan Tuhan, dari awal sampai akhir. Bukankah Dia berdaulat sepenuhnya? Bukankah Tuhan memilih aku sebagaimana adanya?

Ajaran Ketenangan yang pasif dan tidak memuaskan ini adalah lebih populer dari ajaran Aktivisme di saat ini, lebih dari apa yang Anda duga. Ini disebabkan karena munculnya gereja-gereja yang memakai doktrin Reformed tinggi (Hyper-Calvinisme). Mereka mengatakan tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk memajukan pengudusan Anda. Tuhan melakukan pekerjaan di dalam diri Anda, jadi Anda harus menunggu dengan tenang dan bersikap pasif dalam prosesnya. Itu karena Anda tidak mampu untuk melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan.

Kelihatannya, ajaran Ketenangan tumbuh sebagai reaksi terhadap ajaran Aktivisme. Itu masuk diakal karena apa yang ekstrim akan menimbulkan reaksi yang ekstrim. Menanggapi apa yang mereka lihat sebagai legalisme atau moralisme – seruan untuk “melakukan lebih banyak, berusaha lebih keras” dalam kehidupan Kristen – beberapa pendeta dan pengajar telah berganti arah (pindah gereja atau berganti doktrin) sehingga mereka secara efektif mengajar jemaatnya bahwa tidak perlu bagi seorang Kristen untuk melakukan apa pun sama sekali. Itu karena segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan dan manusia tidak mampu memilih apa yang baik. Singkatnya, pesan mereka adalah: “berhentilah berpikir tentang apa yang harus Anda lakukan, dan renungkan hanya pada apa yang telah Yesus lakukan untuk Anda”. Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa orang-orang sedemikian berubah menjadi antinomian (bertendensi mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup baik) karena mereka merasa tidak perlu dan tidak bisa memilih apa yang baik.

Saat ini, Allah memanggil kita untuk mengejar kekudusan di tengah dunia yang kacau balau. Pengejaran harus dilakukan dengan kekuatan dan tekad. Kita harus melawan sampai titik darah penghabisan, bergulat dengan kekuatan, memukul tubuh kita, sambil bersukacita karena adanya kepastian bahwa Roh Kudus ada di dalam diri kita membantu, mengatur, meyakinkan, dan mendorong. Walaupun demikian, sebagian besar dari kita cenderung jatuh ke satu ajaran atau yang lain. Apakah Anda lebih cenderung menjadi pengikut ajaran Ketenangan atau Aktivisme? Kitab Suci mengesampingkan keduanya. Keduanya salah dan sesat.

Untuk mengambil satu ayat yang bisa menguatkan kita, renungkanlah apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam Filipi2: 12.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Begitulah, kita harus mengerjakan keselamatan (maju dalam kekudusan) kita sendiri. Lalu, bukankah ini berarti aktivisme? Jangan terlalu cepat, kata Paulus selanjutnya: “…karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13).

Pagi ini, Alkitab memberi kita pandangan yang lebih luas tentang bagaimana kita harus memahami kehidupan Kristen. Kita harus bekerja, dan bekerja keras, untuk kekudusan; tetapi saat kita melakukannya, kita melakukannya dengan pengetahuan bahwa Tuhanlah yang bekerja di dalam kita untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Dan sebenarnya, menurut Paulus, alasan kita tetap berjuang untuk kekudusan justru karena kita tahu bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam kita ketika kita melakukannya. Jika Anda tahu bahwa Tuhan akan bekerja di dalam Anda ketika Anda sedang bekerja, bukankah itu akan memotivasi Anda untuk bekerja lebih keras lagi?

Sanctification: to struggle or to surrender?

“For this very reason, make every effort to add to your faith goodness; and to goodness, knowledge; and to knowledge, self-control; and to self-control, perseverance; and to perseverance, godliness; and to godliness, mutual affection; and to mutual affection, love.” 2 Peter 1: 5-7

If we are truly believers, then we realize that our position in Christ automatically separates us from the world (1 Peter 2:9-12). After all, we have a relationship with the living God! Then, of course, we must live a good life every day, not trying to “mingle in” with the world, but living according to God’s Word when we study the Bible and grow in it. This sanctification process requires our efforts, as it does not happen automatically. Aren’t you sure about this?

Commenting on the above verse Calvin once said: Since it is hard work and hard work to remove the corruption that is upon us, Peter asks us to strive and make every effort for this purpose. He intimated that in this matter no place was to be given to laziness, and that we were to obey God who called us, not slowly or carelessly, but alertness required; as if he had said, “Make all efforts, and manifest your efforts upon all people.”

For Calvin, growing in godliness (sanctification) is hard work. There is no place for laziness. We must exert ourselves for obedience with speed and perseverance. Believers are absolutely not to be passive in sanctification. But later, while commenting on the same verse, Calvin also warns against the idea that it is we who make the moves of God within us effective, as if God’s work cannot be done unless we allow it to do so. On the other hand, “right feelings are formed in us by God, and are embodied by Him in an effective way.” That’s because all that is good comes from God.

Wisdom, patience, love — these are all gifts of God and the Spirit. So when Peter tells us to make every effort, he is by no means affirming that this [virtue] is within our strength, but only pointing out what we should have, and what to do. While this is obvious, in practice we can run into many of the problems raised by the two teachings. What are they?

Two heresies that have plagued the church on the subject of sanctification for centuries are the heresies of Activism and Quietism . These twin distortions are guilty of removing one of the poles of the paradox regarding God’s sovereignty and human responsibility. In Activism, God’s work is swallowed up by human self-righteousness. In the teachings of Quietism, human struggle is completely surrendered to a divine process which is considered to automatically run after God’s absolute gift of salvation.

The teachings of Activism (different from striving for good works) are the beliefs of self-righteous people. He does not need divine assistance to achieve perfection. God’s grace is neglected, and the activist can self-proclaim. His faith is in himself and his moral abilities. Perhaps the most arrogant statement a person can make is this: “I no longer need Christ” or “This is purely human work”. Or maybe something that sounds good: “I have been gifted with self-survival abilities from God.”

The teachings of Quietism have their roots in the 17th century Roman Catholic movement. It is most associated with a Spanish priest named Miguel de Molinos, a French mystic named Madame Guyon, and a French Archbishop and writer named Francois Fenelon. They are associated with the idea that the sanctification of Christians is exclusively the work of the Holy Spirit. In other words, as far as your personal godliness is concerned, there is nothing you can do except step aside, and let God do all the work. This of course has something to do with the ideas of determinism and fatalism, which believe that everything, good or bad, has been ordained by God from the beginning.

The Quietism Teachings insult the Holy Spirit by insisting that God is solely responsible for the progress or lack of holiness of Christians. If the follower of the teachings still continues to live in sin, the unspoken assumption is that God is not very active in His work or He does not mind his sin. The Christian credo of this kind is, “Let go, let God” . No struggle required; no resistance to temptation is required. Sanctification is God’s work, from beginning to end. Is He not fully sovereign? Didn’t God choose me as I am?

This passive and unsatisfying Quietism teaching is more popular than Activism teaching today, more so than you might think. This is due to the emergence of churches that use high Reformed doctrines (Hyper-Calvinism). They say there is nothing you can do to further your sanctification. God is doing the work within you, so you must wait quietly and be passive in the process. It is because you are unable to do what is good before God.

Apparently, the teachings of Quietism grew up as a reaction against the teachings of Activism. It made sense because what was extreme would elicit an extreme reaction. In response to what they see as legalism or moralism – the call to “do more, try harder” in Christian living – some pastors and teachers have changed direction (changed churches or changed doctrine) so that they are effectively teaching their congregations that there is no need for one Christian to do anything at all. That is because everything has been ordained by God and man is unable to choose what is good. In short, their message is: “stop thinking about what you should do, and meditate only on what Jesus has done for you”. Therefore, they tend to be antinomian (a tendency to ignore God’s commands to live well), because they feel it is unnecessary and impossible to choose what is good.

Today, God is calling us to pursue holiness in a world of turmoil. The pursuit must be carried out with strength and determination. We must fight to the last drop of blood, struggle with strength, beat our bodies, while rejoicing because there is certainty that the Holy Spirit is within us to help, organize, convince, and encourage. Nevertheless, most of us tend to fall for one teaching or another. Are you more likely to be aligned with Quietism or Activism? The Scriptures condemn both. Both are wrong and perverted.

To pick up a verse that can strengthen us, meditate on what the Apostle Paul said in Philippians 2: 12.

“Therefore, my dear friends, as you have always obeyed—not only in my presence, but now much more in my absence—continue to work out your salvation with fear and trembling” Philippians 2:12

Thus, we must work out our own salvation (advance in holiness). Then, doesn’t this mean Activism? Don’t be too hasty, Paul continues: “ …for it is God who works in you to will and to act in order to fulfill his good purpose. ” (Philippians 2:13).

This morning, the Bible gives us a broader view of how we should understand the Christian life. We must work, and toil, for holiness; but when we do, we do it with the knowledge that it is God working in us to make us more and more like Christ. And actually, according to Paul, the reason we keep striving for holiness is precisely because we know that God is working in us when we do. If you know that God will work in you when you are working, won’t that motivate you to work even harder?

Apakah Anda orang Farisi yang benar?

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:20

Anda mungkin pernah mendengar seseorang berkata kepada Anda, “Jangan menjadi seperti orang Farisi.” Biasanya kata-kata ini diucapkan ketika seseorang terlalu berhati-hati dalam “menjaga aturan” dan berusaha keras untuk “hidup baik” dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang Kristen. Tetapi ucapan ini bisa membuat Anda tersinggung karena jika ada satu tipe orang dalam Perjanjian Baru yang dengannya Anda tidak ingin dibandingkan, tentunya itu adalah orang Farisi. Meskipun kita dapat mempelajari kehiduipan orang Farisi dari berbagai sudut pandang, mari kita lihat bagaimana tanggapan Yesus terhadap orang Farisi dalam Injil Matius.

Orang-orang Farisi memang sering menentang Yesus dalam kitab Injil. Yesus sering dikritik oleh orang Farisi, dan Dia pada gilirannya mencela mereka karena cara mereka yang salah. Yesus bahkan menyebut orang Farisi sebagai “keturunan ular beludak”. Dia secara tegas memperingatkan murid-muridnya untuk tidak mengikuti ajaran mereka. Tapi apa sebenarnya masalah orang Farisi? Apakah karena mereka terlalu peduli untuk mengikuti hukum Allah? Atau apakah itu sesuatu yang lain?

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ”Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Matius 3:7

Berlawanan dengan apa yang mungkin pernah Anda dengar, Yesus tidak menegur orang Farisi karena terlalu memperhatikan hukum Allah. Yesus tidak pernah merendahkan atau meremehkan hukum Allah. Di mana kelihatannya Dia meremehkannya (kontroversi mengenai hari Sabat, misalnya), Yesus malah mengkritik kesalahpahaman dan penyelewengan hukum Allah. Orang-orang Farisi mengira mereka berada di jalur yang benar, tetapi Yesus menunjukkan sebaliknya. Yesus adalah kebenaran yang tidak dapat dipungkiri.

Bukannya mengkritik orang Farisi karena terlalu berfokus pada hukum Allah, Yesus mengkritik mereka karena tidak cukup peduli dengan hukum Allah yang tertulis. Mereka tidak terlalu memperhatikannya; mereka memberikannya terlalu sedikit perhatian. Ketertarikan Yesus untuk memperhatikan hukum dengan saksama terbukti dalam Khotbah di Bukit (Matius 5). Meskipun khotnah itu mungkin yang paling terkenal dari semua ajaran Yesus, itu juga mengandung beberapa pesan yang paling sulit untuk dipahami. Apakah Yesus mengajarkan bahwa hukum Allah tidak mungkin atau tidak perlu dipatuhi? Apakah dia mengajarkan perfeksionisme Kristen? Jawabannya tidak keduanya. Yesus tidak mengajarkan antinomianisme maupun legalisme (kedua “isme” ini sudah pernah dibahas sebelumnya).

Dalam Khotbah di Bukit Yesus menunjukkan relevansi hukum Allah yang sedang berlangsung, dan peran-Nya sendiri dalam memenuhi hukum Allah. Dia menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus menaati hukum Allah, dan Dia menunjukkan kepada kita bagaimana standar-Nya lebih besar dari yang kita bayangkan. Bagian yang penting adalah Matius 5:17–20. Dalam Matius 5:17 Yesus menyangkal bahwa Ia datang untuk meniadakan hukum. Mengantisipasi kesalahpahaman di kemudian hari tentang hukum dalam kehidupan Kristen, Yesus menyangkal bahwa hukum itu ditiadakan. Sebaliknya, Yesus menyatakan bahwa Dia datang untuk menggenapi hukum!

Kata “menggenapi” adalah kata kunci dalam Matius yang menyoroti Kristus dan tugas unik-Nya dalam mencapai keselamatan. Yesus mengatakan, dengan kata lain, bahwa Dia adalah penggenapan yang tepat dari hukum. Matius 5:18 (“Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”) menegaskan bahwa Yesus tidak mengurangi hukum, tetapi berbicara tentang keabadian hukum dan pemenuhannya. Bahwa Yesus tidak datang untuk meniadakan hukum terbukti dalam Matius 5:21–48. Ayat-ayat ini sering disebut “antitesis” karena Yesus bertentangan dengan apa yang dipikirkan banyak orang tentang hukum Allah. Mengapa begitu?

Ketika Yesus berkata dalam Matius 5: “Kamu telah mendengar firman, tetapi Aku berkata kepadamu,” Dia tidak bertentangan dengan hukum Allah itu sendiri. Sebaliknya, Dia mengoreksi kesalahpahaman tentang hukum Allah di mana nilai spiritual dari hukum itu diencerkan menjadi ketaatan eksternal saja. Yesus memanggil kita kembali ke hukum Allah dan menunjukkan betapa ketaatan sejati lebih dalam dari yang kita bayangkan. Dalam hal ini adalah pelajaran bahwa empat yang pertama dari enam “antitesis” tampaknya mengacu pada Sepuluh Perintah. Yesus menunjukkan kepada kita apa yang diminta oleh Sepuluh Perintah.

Dalam Khotbah di Bukit kita melihat bahwa hukum Allah menuntut kita lebih dari sekadar ketaatan lahiriah, dan kita tidak dapat benar-benar memahami hukum Allah terlepas dari Orang yang memenuhi hukum itu. Khotbah di Bukit, dengan kata lain, adalah tentang hukum Allah yang dilaksanakan (apa yang Yesus lakukan), dan hukum Allah diterapkan (relevansinya dengan kehidupan kita). Ini membawa kita ke salah satu perikop yang selalu membingungkan dalam Khotbah di Bukit. Matius 5:20: “Sebab Aku berkata kepadamu bahwa kecuali kesalehanmu melampaui orang Farisi dan ahli Taurat, kamu pasti tidak akan masuk kerajaan surga.”

Banyak interpretasi dari bagian ini tampaknya memutarbalikkannya. Sering dipikirkan: Keadilbenaran orang Farisi menunjuk pada pemeliharaan aturan mereka yang sangat ketat. Jika satu-satunya cara kita dapat memasuki kerajaan surga adalah menjadi pemelihara aturan yang lebih baik daripada orang Farisi, maka kita semua tidak memiliki harapan. Yesus pasti memaksudkan sesuatu yang lain, begitu mungkin pikiran kita. Dia tidak mendorong pemeliharaan aturan yang paling benar, tetapi menunjukkan kepada kita seberapa jauh kita gagal. Begitulah banyak orang yang menafsirkan ayat itu. Namun, pendekatan ini justru salah arah.

Panggilan untuk kebenaran yang lebih besar dalam Matius 5:20 adalah panggilan nyata untuk kebenaran hidup. Ini tidak datang dengan menghindari hukum Allah, tetapi dengan menunjukkan komitmen yang lebih dalam pada kebenaran daripada orang Farisi—terlepas dari jenis aturan tertentu yang mereka patuhi. Orang-orang Farisi mengira mereka berada di jalur yang benar, tetapi Yesus menunjukkan sebaliknya.

Kebenaran orang Farisi tidak cukup setidaknya dalam dua hal. Pertama, mereka tidak memberikan perhatian yang cukup pada kedalaman hukum Tuhan. Mereka memandang kesalehan—setidaknya dalam praktik—sebagai sesuatu yang lahiriah, yang bisa dipamerkan. Inilah mengapa Yesus mengkritik mereka karena melewatkan bagian terpenting dari hukum (Matius 23:23). Mereka adalah kuburan bercat putih. Mereka terlihat bagus di luar, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang belulang orang mati (Matius 23:27). Aturan orang Farisi adalah kosong. Mereka tidak memberikan perhatian yang cukup pada bagian terpenting dari hukum Allah. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk mengangkat tradisi manusia ke posisi status seperti hukum, melanggar hukum Allah dalam prosesnya (Matius 15:5-9).

Kedua, mereka tidak hanya kehilangan karakter sejati dari kebenaran yang dituntut dalam hukum Allah, mereka juga tidak mengerti peran Yesus dalam hubungannya dengan hukum. Dalam terang inilah Matius 5:19 bisa kita mengerti: “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

Pagi ini, pertanyaan bagi Anda adalah:” Apakah Anda orang Farisi yang benar? Saya harap Anda menjawab dengan “ya”. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa, dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Dengan demikian kita akan mau melakukan dan mengajarkan perintah-perintah Tuhan dalam Alkitab dengan kesungguhan hati, tanpa merasa takut akan adanya kemungkinan munculnya kritik dari orang lain. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita bukanlah orang yang sudah sempurna, tetapi adalah orang yang selalu berusaha dengan sepenuh hati, jiwa dan akal budi untuk melaksanakan hukum kasih dengan sepenuhnya.

Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40

Tanggung jawab manusia

Hyper-Calvinisme menyimpulkan bahwa, karena manusia tersesat dalam dosa dan tidak mampu dari diri mereka sendiri untuk bertobat dan percaya, adalah suatu kesalahan untuk memerintahkan mereka memikul tanggung jawabnya. Perintah seperti itu akan menyiratkan bahwa mereka dapat bertobat dan percaya. Karena itu mereka hanya bisa bergantung pada keyakinan bahwa mereka adalah orang yang sudah dipilih sekalipun tidak mempunyai hidup yang bertanggung jawab kepada Tuhan.