He who is silent on evil, has not been born again

He who is silent on evil, has not been born again

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Dalam beberapa tahun terakhir, para pendeta dan teolog telah memberikan banyak penekanan pada dua kategori utama kesalahan teologis yang dapat membuat orang Kristen bingung. Kategori-kategori ini, di mana banyak terjadi kesalahan teologis, adalah legalisme dan antinomianisme. Istilah-istilah ini tentu saja bukan suatu yang jarang ditemui. Para teolog sepanjang sejarah Protestantisme telah menggunakan kedua istilah ini ketika menangani kesalahan doktrinal dalam gereja. Karena itu, tepat bagi kita untuk memahami bahwa kedua kesalahan ini selalu menjadi ancaman bagi pelayanan Injil yang sejati.
Sangat penting bagi kita untuk menerima kenyataan ini saat kita berusaha melindungi hati dan pikiran kita sendiri dari apa yang terus-menerus berusaha merampok kemuliaan Allah dengan memutarbalikkan kasih karunia Allah kita di dalam Kristus. Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kaum Legalis (sadar atau tidak) hanya akan berusaha menentang antinomianisme dan kaum Antinomian (sadar atau tidak sadar) hanya akan berusaha menentang legalisme. Sebaliknya, orang percaya sejati akan selalu melihat kedua pandangan ini sebagai musuh besar Injil, dan akan, dengan tekad yang sungguh-sungguh, memakai Injil untuk melawan mereka. Jadi, bagaimana kita mendefinisikan kedua kesalahan ini? Bagaimana mereka muncul dalam kehidupan orang percaya? Dan bagaimana kita dengan kasih karunia Tuhan dapat “memperbaikinya dalam media kebenaran Ilahi yang tepat?”
Menurut definisi, legalisme adalah menambahkan sesuatu pada karya Kristus yang telah diselesaikan—dan percaya pada apa pun selain, atau sebagai tambahan, Kristus dan karya paripurna-Nya—untuk berdiri di hadapan Allah seperti seorang Farisi yang menyombongkan perbuatan baiknya. Antinomianisme adalah penyangkalan atau pengesampingan hukum Allah yang disengaja atau tidak disengaja dalam kehidupan orang percaya karena kepercayaan bahwa anugerah keselamatan memberi izin untuk hidup bebas dari hukum Tuhan. Legalisme meremehkan keberdosaan manusia dan kenyataan dari dosa yang tetap ada dalam kehidupan orang percaya. Antinomianisme mengecilkan kekejian dosa dan sifat merusak dosa dalam kehidupan orang percaya. Di permukaan, tampaknya kedua kecenderungan ini mempunyai kesalahan terbatas, yang pertama hanya pada bidang pembenaran apa yang tidak benar dan yang kedua hanya pada bidang pengudusan apa yang tidak kudus; namun demikian, penting bagi kita untuk mengingat bahwa kedua kesalahan tersebut pada akhirnya mempengaruhi cara hidup pengikut doktrinnya.
Ketika Tuhan kita Yesus berinteraksi dengan para Pengacara, Ahli Taurat dan Orang Farisi selama pelayanan-Nya di bumi, Dia mencatat bahwa mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk membenarkan diri mereka sendiri di hadapan manusia atas dasar apa yang mereka lakukan (Lukas 16:15). Mereka menginginkan pengakuan dan pujian dari manusia. Ketika Yesus memberikan kisah tentang orang Farisi dan pemungut cukai, Dia mencatat bahwa orang Farisi telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa kasih karunia Allah telah membuatnya lebih baik daripada yang lain dan oleh karena itu, dia diterima oleh Allah atas dasar apa yang dia lakukan dan tidak lakukan. Pemungut cukai, sebaliknya, menundukkan kepalanya, memukul dadanya dan berteriak dengan putus asa, “Kasihanilah aku orang berdosa.” Yesus menjelaskan bahwa pemungut cukai pulang dengan alasan yang dibenarkan daripada orang Farisi itu. Kisah ini membuktikan bahwa inti dari legalisme adalah kepercayaan diri untuk berdiri di hadapan Tuhan karena keyakinan akan kebenaran diri sendiri.
Namun, ada dimensi lain dari Legalisme. Legalisme sebenarnya ternyata merupakan bentuk Antinomianisme yang lebih buruk daripada Antinomianisme yang ingin dilawannya. Dalam Matius 15:3 dan 6, Tuhan kita pada dasarnya mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa dengan menambahkan perintah-perintah pada Hukum Allah mereka telah mengurangi Hukum Allah. Mereka mengesampingkan perintah-perintah Allah dalam upaya menegakkan peraturan mereka sendiri. Ini penting untuk kita pahami. Legalisme selalu berakhir dengan antinomianisme, dan antinomianisme selalu berakhir dengan legalisme. Ini bukan hanya terjadi dalam satu kelompok orang Kristen, tetapi juga bisa terlihat dalam karakter seseorang dalam hidupnya sehari-hari. Dua pandangan ini adalah dua sisi dari sebuan koin dan mencerminkan kehendak manusia yang salah. Kehendak untuk meninggikan diri sendiri.
Antinomianisme pada zaman Apostolik adalah kesalahan doktrinal yang muncul sebagai reaksi terhadap legalisme yang dilawan oleh Yesus dan para Rasul. Beberapa pendengar Yakobus menggunakan doktrin pembenaran oleh iman saja sebagai dalih untuk berpuas diri dengan kehidupan yang tidak saleh. Ada berbagai bentuk Antinomianisme yang perlu ditonjolkan. Ada antinomianisme doktrinal yang secara terang-terangan menolak penerapan hukum Allah kepada orang percaya dalam kehidupan Kristen. Sebaliknya, ada antinomianisme praktis yang memberikan pedoman secara basa-basi penerapan hukum moral dalam kehidupan orang beriman, tetapi mengabaikannya dalam praktik. Sementara kita harus berusaha sekuat tenaga dalam menangani masalah ini, kita harus dengan berani menyatakan bahwa antinomianisme dalam bentuk apapun adalah penyimpangan dari kasih karunia Allah yang mengajar kita untuk menyangkal adanya kefasikan dan nafsu duniawi dalam hidup kita, dan untuk hidup dengan tenang dalam kebenaran palsu atau dalam keyakinan bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan.
Seperti yang telah kita catat bahwa legalisme menjadi suatu bentuk antinomianisme, maka kita harus mengakui bahwa antinomianisme juga menjadi bentuk legalismenya sendiri. Ketika pria dan wanita mengesampingkan keabsahan hukum Allah atas nama “kasih karunia” mereka akhirnya menggantinya dengan beberapa aturan dan peraturan lainnya. Tidak mungkin bagi seseorang—dalam nama Kristus—untuk hidup sebagai seorang Antinomian yang konsisten. Dalam kenyataannya, orang Kristen yang tidak mau “diperbudak “hukum adalah mereka yang paling bersikeras (secara legalistik) bahwa Hukum Allah sama sekali tidak mengikat mereka yang ada di dalam Kristus. Ada sebuah ironi di sini yang seharusnya menunjukkan kepada kita betapa parahnya kesalahan itu.
Karena kedua kesalahan itu berasal dari motif daging yang sama, usaha untuk mengoreksi satu kesalahan dengan memakai yang lain akan selalu berakhir dengan kegagalan. Teolog Reformed Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa kita tidak dapat menyembuhkan kesalahan legalisme dengan memercikkan sedikit antinomianisme, dan kita tidak dapat menyembuhkan kesalahan antinomianisme dengan memercikkan sedikit legalisme—tidak peduli betapa mudahnya koreksi itu dalam bayangan kita. Dalam kenyataannya kita semua cenderung melakukan hal itu ketika kita melihat jejak pertama dari satu atau kesalahan lain dalam pengalaman Kristen kita.
Saat kita lebih mempertimbangkan berbagai aspek dari dua perusak Injil ini, kita mengamati bahwa ada berbagai cara di mana kedua kesalahan ini sering menyelinap tanpa disadari. Seringkali tidak terlihat dari dua kesalahan ini ketika mereka memanifestasikan dirinya dalam hidup kita. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin saja dalam keluarga Kristen ada seorang ayah yang legalistik, menuntut anak-anaknya untuk menghormati dia dengan cara-cara yang berlebihan dan mengharuskan mereka untuk selalu tunduk kepadanya. Begitu juga sang istri diharuskan untuk tunduk dalam arti selalu menuruti keputusan suami. Semua itu dilakukan seperti apa yang disebutkan dalam Alkitab tanpa adanya pengertian yang benar. Sudah tentu, dengan pelaksanaan hukum Tuhan secara keliru, mereka yang legalistik ini sebenarnya bertindak secara antinomian. Lebih menarik, mereka yang legalistik mungkin saja adalah anggota gereja yang menganut pandangan yang cenderung antinomian, dan begitu juga sebaliknya.
Mereka yang cenderung bersikap antinomian sebenarnya lebih mudah untuk diamati dalam kehidupan masyarakat modern. Kita bisa mengerti bagaimana kecenderungan sebagian orang Kristen yang tidak merasa canggung untuk untuk berbohong kecil, sekalipun ini bisa berkembang menjadi kebohongan dan penipuan dalam dunia bisnis. Selain itu, usaha mencari uang sebanyak-banyaknya sering berakibat kebalnya orang Kristen terhadap dosa ketamakan. Adanya peringatan tentang bahaya “tujuh dosa yang mematikan” selama hidup di dunia juga sering diabaikan dengan keyakinan bahwa tidak ada dosa yang bisa membinasakan orang Kristen sejati. Dengan kesombongan itu, mereka secara sadar atau tidak akan menganggap semua dosa itu adalah bagian dari ketidaksempurnaan yang seharusnya tetap ada dalam hidup orang Kristen sejati selama di dunia. Inilah yang kemudian diajarkan kepada orang lain sebagai sesuatu yang “normal” dan “legal”, yang harus diterima sebagai kebenaran.
Pagi ini, kita bisa melihat adanya dua kesalahan serius yang bisa terjadi dalam pandangan orang Kristen, yang tidak akan membawa kemuliaan kepada Tuhan. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus sadar bahwa apa pun yang kita lakukan haruslah untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk menyokong apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Pertentangan antara dua kutub yang ektrim ini tidak akan dapat diselesaikan jika orang Kristen tidak sadar bahwa adanya kedua pandangan ini justru sangat merugikan nama baik Tuhan dan gereja-Nya. Biarlah kita bisa meninjau cara hidup kita masing-masing agar kita tidak terjebak di antara dua keadaan yang kelihatannya sangat berbeda, tetapi dalam kenyataannya hanya berbeda sekulit bawang.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” Roma 3:23-26 TB

Topik ini telah menjadi perdebatan selama berabad-abad di Gereja. Tidak berlebihan jika kita menyatakan kalau perdebatan mengenai ini memang terkait inti dari Injil itu sendiri. Ketika kita membahas peran Tuhan dan peran manusia mengenai keselamatan, ada dua faham yang bertolak belakang, yaitu faham monergisme dan faham sinergisme. Monergisme, yang berasal kata Yunani yang berarti “bekerja sendirian/sepihak,” adalah pandangan yang menganggap hanya Allah sendiri yang berperan dalam keselamatan kita. Sinergisme, yang juga berasal dari kata Yunani, dan berarti “bekerja bersama-sama/kerjasama dua pihak,” adalah pandangan yang menganggap Allah bekerja bersama-sama dengan manusia terkait keselamatan.
Kedua istilah ini kemudian dikenal sebagai bagian dari Calvinisme (monergisme) dan Arminianisme (sinergisme). Dalam kenyataannya, orang bisa mempunyai berbagai pandangan yang berlainan di antara kedua kutub teologi ini sekalipun keduanya mengakui bahwa baik Tuhan maupun manusia harus melakukan sesuatu sebelum manusia dapat diselamatkan. Ada golongan Kristen yang seakan merendahkan perlunya tindakan manusia, dan ada pula yang seakan merendahkan pentingnya bimbingan Ilahi.
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tindakan Ilahi dan manusia sebagai hal yang penting dalam rencana keselamatan Allah. Ini tidak berarti bahwa manusia tidak perlu menjawab panggialn Ilahi karena Tuhan sudah menentukan siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka. Sebaliknya, ini bukan berarti rencana keselamatan Tuhan bergantung pada kehendak manusia. Pengakuan Westminster dalam hal ini membantu kita untuk bisa mengerti apa yang dikatakan Alkitab.
Apa peran manusia dalam rencana keselamatan?
1. Seseorang harus bertobat dan percaya untuk diselamatkan.
Tidak ada seorang pun yang pernah diampuni dan dijadikan anak Allah yang tidak mau berbalik dari dosa kepada Kristus. Tidak ada di mana pun di dalam Alkitab bahkan mengisyaratkan bahwa manusia dapat diselamatkan melalui karunia Tuhan tanpa pertobatan dan iman. Firman selalu menyatakan hal-hal ini penting sebelum seseorang dapat diselamatkan. Satu-satunya jawaban Alkitab untuk pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan untuk diselamatkan?” adalah “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan diselamatkan.”
2. Setiap orang yang bertobat dan percaya Injil akan diselamatkan.
Setiap jiwa, tanpa kecuali, yang menjawab perintah Injil untuk datang kepada Kristus akan diterima dan diampuni oleh Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Jika kita dapat benar-benar yakin akan isi Alkitab, kita dapat yakin bahwa Kristus tidak akan membatalkan janji-Nya untuk menerima “semua orang yang datang kepada-Nya”.
3. Pertobatan dan iman merupakan tindakan perseorangan yang bebas (yaitu secara sukarela, bukan dipaksa).
Manusia, dengan pikiran, hati, dan kemauannya sendiri harus meninggalkan dosa dan menerima Kristus. Berpaling dari dosa dan menjangkau dalam iman kepada Kristus adalah tindakan manusia, dan setiap orang yang menanggapi panggilan Injil melakukannya karena dia dengan jujur ingin melakukannya. Dia ingin diampuni dan dia hanya bisa diampuni dengan bertobat dan percaya. Tidak seorang pun, termasuk Tuhan, dapat mewakili kita untuk bertobat dari dosa untuk kita, kita harus melakukannya. Tidak seorang pun dapat mempercayai Kristus untuk “menggantikan kita”; sebaliknya, kita harus secara pribadi, sadar, dan rela mempercayai Dia untuk bisa diselamatkan.
Ketiga hal: pikiran, hati, dan kehendak manusia berdosa, yang harus menerima kebenaran Injil, tidak memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran tersebut atau bahkan berkeinginan atau berkehendak untuk memiliki kemampuan tersebut. Faktanya justru kebalikannya yang benar. Kebebasan manusia berdosa tidak hanya menyebabkan hilangnya keinginan untuk datang kepada Kristus, dan setiap bagian dari sifatnya secara aktif menentang Kristus dan kebenaran.
Menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukanlah “tanpa tindakan” yang pasif, melainkan pilihan yang disengaja. Itu adalah dengan sengaja memilih untuk berkata “tidak” kepada Kristus dan “ya” kepada diri sendiri dan dosa. Tidak ada seorang pun yang “netral” sehubungan dengan Tuhan dan otoritas-Nya. Ketidakpercayaan adalah tindakan pikiran, hati, dan kehendak yang disengaja seperti halnya iman. Inilah yang Yesus maksudkan dalam Yohanes 5:40 ketika Dia berkata, “Kamu tidak mau (sengaja membuat pilihan) datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.”
Apa peran Tuhan dalam rencana keselamatan?
1. Alkitab menyatakan bahwa manusia, karena sifatnya yang berdosa, sama sekali tidak dapat bertobat dan percaya dengan usaha sendiri.
Beberapa teks Akitab yang secara tegas menyatakan beberapa hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang yang terhilang:
Ada banyak ayat Alkitab yang menyebutkan ketidakbisaan manusia dalam usaha mencapai keselamatan, tetapi ketiga poin di atas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa seorang pendosa mutlak tidak dapat (perhatikan bahwa ini bukan hanya “tidak mau”) datang kepada Kristus sampai Allah terlebih dahulu melakukan “sesuatu” dalam sifat pendosa itu. Tindakan Allah harus terjadi sebelum manusia bisa bertindak. “Sesuatu” itu adalah apa yang Alkitab sebut regenerasi, atau kelahiran baru, dan itu adalah karya eksklusif Allah Roh Kudus (lahir baru di sini berbeda dengan pengertian Arminianisme). Manusia tidak memiliki bagian apa pun dalam regenerasi.
2. Kelahiran baru, atau regenerasi, adalah apa yang terjadi ketikaTuhan memberi kita kehidupan rohani yang memampukan kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan (bertobat dan percaya), tetapi yang sebelumnya tidak dapat kita lakukan karena belenggu dosa kita.
Ketika Alkitab berkata bahwa manusia mati dalam dosa, itu berarti pikiran, hati, dan kehendak manusia semuanya mati secara rohani dalam dosa. Ketika Alkitab berbicara tentang keberadaan kita dalam “perbudakan dosa”, itu berarti bahwa seluruh keberadaan kita, termasuk kehendak kita, berada di bawah perbudakan dan kuasa dosa. Kita memang membutuhkan Kristus untuk mati dan membayar hukuman dosa kita, tetapi kita juga sangat membutuhkan Roh Kudus untuk memberi kita sifat baru dalam kelahiran kembali. Anak Allah membebaskan kita secara sah dari hukuman dosa, tetapi hanya Roh Kudus yang dapat membebaskan kita dari kuasa dan kematian kebobrokan kita dalam dosa. Kita membutuhkan pengampunan untuk diselamatkan, dan Kristus memberikan pengampunan dan kebenaran yang lengkap bagi kita dalam kematian-Nya. Namun, kita juga membutuhkan kehidupan dan kemampuan rohani, dan Roh Kudus menyediakannya bagi kita dalam kelahiran kembali. Ini adalah karya pembaharuan Roh Kudus yang memampukan kita menerima karya penebusan Kristus dengan iman yang benar.
3. Iman dan pertobatan terjadi setelah lahir baru. Anugerah Allah tidak hanya memberikan keselamatan, tetapi kuasa-Nya juga memberi kita kemampuan untuk menginginkan dan menerimanya.
Allah bekerja di dalam kita “baik kemauan maupun pekerjaan”. Pekerjaan-Nya di dalam kita untuk “menghendaki” adalah kelahiran baru, dan pekerjaan pembaharuan (kelahiran baru) ini sepenuhnya adalah pekerjaan Roh Kudus. Saat kita melupakan perbedaan antara “diselamatkan oleh iman” (tindakan manusia) dan “dilahirkan kembali oleh Roh Kudus” (tindakan Allah), kita sedang menuju ke arah kebingungan dan masalah.
Jika perlunya pekerjaan Roh Kudus untuk mengarahkan kemauan manusia diabaikan secara teologis, tidak lama kemudian hal itu bisa diabaikan dalam praktik hidup baru yang berpuat pada kemampuan jasmani manusia. Pada pihak yang lain, mereka yang mengabaikan peranan manusia dalam keselamatan dan hidup baru akan menghadapi kesulitan untuk melepaskan diri dari pengaruh fatalisme.
Sebagai penutup, Poin 4 dari pengakuan Westminster menyatakan bahwa ketika Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Bagaimana dengan hidup Anda saat ini?
Bahan dari “God’s Part and Man’s Part in Salvation” oleh John G. Reisinger (Monergism)
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Galatia 6: 7-8

Apakah manusia mempunyai kehendak bebas dalam hal keselamatan? Semua orang Kristen akan menjawab “ya”, kecuali mereka yang tergolong hyper-calvinist. Walaupun demikian, pengertian tentang kehendak bebas mungkin berbeda-beda jika kita membandingkan apa yang diyakini setiap orang. Satu hal yang pasti dengan kehendak bebas adalah kenyataan bahwa manusia hanya bebas memilih, tetapi apa yang terjadi haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang bisa memilih mengikut Yesus atau mengikut iblis, tetapi apa yang akhirnya terjadi haruslah seizin Tuhan.
Jika sebagian manusia memilih untuk mengikut Yesus setelah mendengarkan panggilan-Nya, itu hanya dimungkinkan karena kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Jika manusia memilih untuk ke neraka, itu adalah dalam kodratnya, ia mampu dari awalnya kerena adanya dosa.
Apakah ada orang yang memilih untuk pergi ke neraka? Tidak ada.Yang diinginkan orang berdosa bukanlah neraka, melainkan dosa yang nampaknya nikmat dan nyaman. Bahwa neraka adalah konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa yang membawa kebinasaan tidaklah membuat konsekuensi itu diinginkan. Itu bukan yang diinginkan orang – tentu saja bukan yang “paling mereka inginkan”. Menginginkan dosa tidak sama dengan menginginkan neraka seperti halnya menginginkan coklat tidak sama dengan menginginkan kegemukan. Atau menginginkan rokok tidak sama dengan menginginkan kanker.
Manusia yang tetap hidup dalam dosa yang diinginkannya akan ke neraka, dan adalah benar bahwa Tuhan yang mahaadil mengirim mereka ke neraka. Ini adalah alkitabiah. Tuhan yang mahasuci pasti mengirim orang yang menolak penebusan ke neraka. Dia memang menjatuhkan hukuman, dan Ia mengeksekusinya. Memang, lebih buruk dari itu. Tuhan tidak hanya mengirim, dia melempar. “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” (Wahyu 20:15).
Alasan Alkitab berbicara tentang orang yang dilempar ke neraka dan itu karena tidak ada orang yang mau pergi ke sana begitu mereka melihat apa itu sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang berdiri di tepi lautan api yang melompat masuk. Mereka tidak memilihnya, dan mereka tidak menginginkannya. Tetapi mereka telah memilih dosa. Dan semua dosa bisa membawa kebinasaan. Mereka menginginkan dosa secara bebas, tetapi tidak menginginkan hukuman itu. Ketika mereka sampai di tepi lautan api, mereka harus dilemparkan ke dalamnya oleh Tuhan.
Yohanes 3:18 menjelaskan dalam uraian yang paling sederhana tentang siapa yang akan pergi ke surga dan siapa yang akan pergi ke neraka: “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Jadi, mereka yang masuk neraka adalah mereka yang tidak percaya pada nama Yesus sehingga dengan bebas hidup dalam dosa. “Percaya” adalah melampaui pengenalan melalui pikiran dan keyakinan. Untuk percaya kepada Kristus untuk keselamatan membutuhkan perubahan dalam hal kesetiaan melalui pekerjaan Roh Kudus. Kita berhenti menyembah diri kita sendiri dan benda-benda duniawi, kita meninggalkan dosa kita, dan kita mulai menyembah Allah dengan hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita (Matius 22:36–37; Markus 12:30).
Tuhan menginginkan agar setiap orang menjalani kekekalan bersama-Nya (Matius 18:14; 2 Petrus 3:9), tetapi Dia membiarkan kita untuk mengambil keputusan untuk menerima atau menolak Dia (Yohanes 4:14). Siapa pun yang menginginkannya dapat pergi ke surga (Yohanes 1:12). Bagaimana manusia dapat menginginkan surga yang belum pernah dilihatnya? Yohanes 1:10–12 menunjukkan kepada kita masalah ini dan solusinya: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percayar dalam nama-Nya.”
Pagi ini, kita belajar dari firman Tuhan mengenai kehendak bebas yang dimungkinkan oleh pekerjaan Tuhan. Kita dapat memilih untuk percaya pada penebusanYesus untuk dosa kita, atau kita dapat memilih untuk membayar dosa kita sendiri – tetapi kita harus ingat bahwa pembayaran untuk dosa kita adalah kekekalan di neraka. Penulis Kristen terkenal C. S. Lewis mengatakannya seperti ini: “Pada akhirnya hanya ada dua jenis manusia: mereka yang berkata kepada Tuhan, ‘Kehendak-Mu jadilah,’ dan mereka yang kepadanya Tuhan berkata, ‘Kehendakmu jadilah.’” Selama masih Anda hidup di dunia, pilihan ada di tangan Anda.
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Roma 6: 1

“Iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi juga bahwa Ia jauh lebih baik daripada dosa.”
Penjelasan alkitabiah tentang kasih karunia Allah akan selalu membuat adanya orang yang mengatakan, “Jika apa yang Anda katakan itu benar, lalu mengapa saya tidak bisa hidup secara bebas dan berbuat dosa semau saya?”. Ini bukan lelucon, tetapi pikiran sedemkian sudah ada sejak zaman Paulus. Keberatan manusia terhadap Roma 6:1 adalah keberatan alami terhadap ajaran kasih karunia. Jika seseorang mengajar tentang kasih karunia Allah, bahwa kita diselamatkan melalui karunia semata-mata (by Grace only, Sola Gratia) dan setelah pelajaran itu selesai, tidak ada yang mengajukan keberatan yang diajukan untuk Roma 6:1, maka pengajaran itu belum sepenuhnya membahas kasih karunia Allah.
Roma 6:1 sebenarnya adalah ujian litmus untuk pengajaran siapa pun tentang kasih karunia. Pernah saya mendengar sebuah ungkapan “Kasih karunia Allah melampaui segala perbuatan manusia”. Ungkapan yang bagus, tetapi bisa ditafsirkan dalam berbagai cara. Walaaupun demikian, sehubungan dengan ayat di atas, ada dua arti yang bisa saya renungkan: (1) Kasih karunia Allah sanggup menhapus segala dosa manusia dan (2) Kasih Karunia Allah jauh lebih besar dari dosa yang dilakukan manusia. Kedua pengertian ini adalah benar. Walaupun demikian, keberatan yang selalu muncul jika saya menulis tentang kasih karunia seperti ini adalah: Tidakkah orang akan menyalahgunakan pengartian tentang kasih karunia seperti ini?
Keberatan saya mungkin cukup beralasan, karena itulah juga yang membuat Paulus menulis peringatannya kepada jemaat di Roma. Namun, jika kasih karunian Tuhan diberitakan dengan pembatasan untuk menghindari penyalahgunaan manusia, itu bukan lagi kasih karunia Tuhan yang mahakuasa. Tak pelak lagi, setiap kali saya berbicara atau menulis tentang kasih karunia yang tidak terbatas, ada orang yang berkeberatan atas Paulus yang mengatakan dalam Roma 6:1 bahwa kita tidak boleh terus berbuat dosa dengan maksud agar kasih karunia Tuhan makin berlimpah. Jika Tuhan mahabesar, tentu kasih karunia-Nya mampu menghapus dosa yang bertumbuh sebesar apa pun. Orang pilihan tentu mendapat pengampunan sekalipun dosanya merah seperti kirmizi (Yesaya 1:18). Begitu alasan mereka.
Dalam Roma 4–5, Paulus telah menulis tentang kasih karunia Tuhan yang luar biasa besarnya. Mengapa Roma 6:1 berlainan dengan ajaran Paulus sebelumnya tentang kasih karunia? Jika apa yang telah ditulis Paulus itu benar, mengapa orang Kristen sejati tidak dapat hidup tanpa memikirkan dosa? Dan apa perlunya kita berusaha untuk hidup baik jika kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik kita? Jika Anda sedang mengajar atau menulis tentang kasih karunia dan Anda mendapatkan pertanyaan ini, bersukacitalah, karena Anda telah menolong seseorang melihat sifat kasih karunia Allah yang luar biasa, dan sekarang mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan implikasinya.
Dari pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4, kita tahu bahwa jikaAllah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang teal beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.
Paulus mengajak kita untuk memikirkan cara hidup kita sekalipun kita yakin sudah menerima keselamatan. Kita harus sadar bahwa perjuangan kita adalah melawan kuasa-kuasa kegelapan yang ingin menjatuhkan kita ke dalam dosa dan membuat hidup kita di dunia sengsara. Jika sesudah menerima Roh Kudus Anda jatuh kedalam dosa, itu adalah karena pilihan Anda,
Anda mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula: kesombongan, iri hati, kemarahan, ketamakan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan. Dosa-dosa semacam itu tidak terjadi secara “normal” dalam hidup orang percaya, yang sudah menerima Roh Kudus. Itu terjadi karena mereka tidak mau secara aktif melawan dosa. Mereka yang tidak sadar akan hal ini, lambat laun akan terjebak dalam antinominanisme. Antinomianisme berarti anti terhadap hukum. Ajaran ini mengajarkan bahwa orang-orang Kristen telah dibebaskan dari hukum Tuhan dan tidak perlu melakukan hukum Tuhan lagi karena orang-orang Kristen telah mendapat kasih karunia Allah.
Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar. Di Alkitab ada disebutkan berbagai macam dosa, dan jumlahnya jauh lebih besar dari tujuh. Ini benar. Namun, dalam tradisi Kristen yang panjang ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia melahirkan banyak dosa-dosa lainnya selama manusia hidup di dunia. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala), dosa yang merendahkan kasih karunia Tuhan yang sudah mengampuni mereka. Dosa yang bisa membawa kehancuran hidup orang Kristen di dunia dan merugikan masyarakat di sekitarnya. Selain itu, dosa-dosa orang Kristen bisa disebutkan sebagai perbuatan anti penginjilan.
Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Orang pilihan selalu menerima karunia pengampunan Tuhan. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa adalah orang yang sudah diselamatkan.
Jika setiap orang yang benar-benar bertobat akan diampuni Tuhan, mengapa kita harus kuatir akan kemungkinan jatuh dalam dosa? Bukankan dosa orang pilihan tidak akan membawa kebinasaan? Memang, jika kita benar-benar percaya kepada Allah dan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita, sehingga kita tidak tetap hidup dalam dosa.
“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11
Paulus selanjutnya menjelaskan mengapa orang tidak boleh berbuat dosa lagi, tetapi dia tidak pernah mengatakan mereka tidak bisa berbuat dosa. Dalam ayat di atas Paulus tidak mengatakan bahwa jika orang terus hidup dalam dosa, mereka akan mengakhiri kasih karunia Allah, atau akan membuktikan bahwa mereka tidak pernah benar-benar dibenarkan sejak awal. Tidak, Paulus berpendapat bahwa jika seseorang benar-benar memahami kasih dan anugerah Allah, dan apa yang telah Allah lakukan bagi mereka di dalam Yesus Kristus, pengetahuan ini akan menuntun mereka untuk hidup bebas dari dosa, bahkan tidak lagi hidup dalam dosa.
Malam ini, masih adakah pemikiran anda akan bahaya dosa dalam hidup Anda? Apakah dosa sudah membuat hidup Anda tenang, nyaman, dan bahagia? Apakah Anda masih peduli tentang dosa apa yang dilakukan hari ini sebelum Anda berdoa? Ataukah keyakinan bahwa keselamatan sudah ditangan Anda membuat Anda hidup dalam kebebasan dari bimbingan Roh Kudus? Percayakah Anda bahwa iman yang benar bukan hanya percaya bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi juga bahwa Ia jauh lebih baik daripada dosa? Hanya Anda yang bisa menjawab, dan jawaban dan cara hidup Anda yang sudah diselamatkan akan mempengaruhi cara hidup orang-orang di sekitar Anda yang juga merupakan milik Tuhan yang harus kita kasihi.
(Sumber Wikipedia)
Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. Galatia 5: 14-15

Dalam teologi Kristen, sinergisme adalah kepercayaan bahwa keselamatan melibatkan suatu bentuk kerja sama antara rahmat ilahi dan kebebasan manusia. Sinergisme dijunjung tinggi oleh Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks, Gereja Anabaptis, dan Gereja Metodis. Ini adalah bagian integral dari teologi Arminian yang umum dalam tradisi Baptis Umum dan Metodis.
Sinergisme menentang monergisme (yang menolak gagasan bahwa manusia bekerja sama dengan kasih karunia Allah), sebuah doktrin yang paling sering dikaitkan dengan tradisi Protestan Reformasi serta Lutheran, yang soteriologinya sangat dipengaruhi oleh uskup Afrika Utara dan Bapa Gereja Latin, Agustinus dari Hippo (354–430). Lutheranisme, bagaimanapun, mengakui keselamatan monergis tetapi menolak gagasan bahwa siapa pun ditakdirkan masuk neraka (lihat pandangan Lutheran dan Calvinis).
Sinergisme dan semipelagianisme masing-masing mengajarkan beberapa kerjasama dalam keselamatan antara Tuhan dan manusia, tetapi pemikiran semipelagian mengajarkan bahwa separuh awal dari iman adalah tindakan kehendak manusia. Dewan Orange (529), Lutheran Formula of Concord (1577), dan dewan lokal lainnya masing-masing mengutuk semipelagianisme sebagai ajaran sesat.[9]
Teologi Katolik
Sinergisme, ajaran bahwa ada “semacam interaksi antara kebebasan manusia dan rahmat ilahi”, merupakan bagian penting dari teologi keselamatan Gereja Katolik.
Gereja Katolik menolak gagasan tentang kebobrokan total: mereka berpendapat bahwa, bahkan setelah Kejatuhan, sifat manusia, meskipun terluka dalam kekuatan alaminya, belum sepenuhnya rusak. Selain itu, mereka menolak predestinasi ganda, gagasan yang akan “membuat segala sesuatu menjadi karya anugerah ilahi yang mahakuasa yang secara sewenang-wenang memilih sebagian untuk diselamatkan dan sebagian untuk dikutuk, sehingga kita umat manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih tentang nasib kekekalan kita”.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa kemampuan kehendak manusia untuk menanggapi rahmat ilahi itu sendiri dianugerahkan oleh rahmat. “Dengan karya rahmat Roh Kudus mendidik kita dalam kebebasan spiritual untuk menjadikan kita kolaborator bebas dalam karya-Nya di Gereja dan di dunia”. “Persiapan manusia untuk menerima rahmat sudah merupakan karya rahmat.” Ketika umat Katolik mengatakan bahwa orang ‘bekerja sama’ dalam mempersiapkan dan menerima pembenaran dengan menyetujui tindakan pembenaran Allah, mereka melihat persetujuan pribadi seperti itu sendiri efek anugerah, bukan sebagai tindakan yang timbul dari kemampuan bawaan manusia.”
Teologi Ortodoks Timur
Pandangan Sinergisme Ortodoks Timur berpendapat bahwa “manusia selalu memiliki kebebasan untuk memilih, dalam kehendak pribadi (gnomik) mereka, apakah akan berjalan dengan Tuhan atau berpaling dari-Nya”, tetapi “apa yang Tuhan lakukan jauh lebih penting daripada apa yang kita manusia lakukan”.
“Untuk menggambarkan hubungan antara anugerah Allah dan kebebasan manusia, Ortodoksi menggunakan istilah kerja sama atau sinergi (synergeia); dalam kata-kata Paulus, ‘Kami adalah rekan sekerja (synergoi) dengan Allah’ (1 Korintus iii, 9). Jika kita harus mencapai persekutuan penuh dengan Tuhan, kita tidak dapat melakukannya tanpa bantuan Tuhan, namun kita juga harus memainkan peran kita sendiri: kita manusia dan Tuhan harus memberikan kontribusi kita untuk pekerjaan bersama, meskipun apa yang Tuhan lakukan jauh lebih penting daripada apa yang kami lakukan.” Agar orang yang dilahirkan kembali untuk melakukan kebaikan rohani — karena pekerjaan orang percaya yang berkontribusi pada keselamatan dan dikerjakan oleh rahmat supranatural secara tepat disebut spiritual — ia perlu dibimbing dan didahului oleh kasih karunia.”[18]
Umat Protestan Arminian berbagi pemahaman sinergisme ini, yaitu, kelahiran kembali sebagai buah dari kerja sama kehendak bebas dengan anugerah.
Teologi Anabaptis
Kaum Anabaptis berpegang pada sinergisme, mengajarkan bahwa “baik Tuhan maupun manusia memainkan peran yang nyata dan perlu dalam hubungan rekonsiliasi yang mengikat mereka.” Kaum Anabaptis memiliki pandangan yang tinggi tentang kapasitas moral manusia ketika “dihidupkan oleh tindakan aktif Roh Kudus.”
Teologi Arminian Klasik dan Wesleyan Arminian
Sinergis membandingkan peran Tuhan dalam keselamatan dengan Kristus “berdiri di depan pintu”. Umat Kristiani yang menganut teologi Arminian, seperti Metodis, percaya bahwa keselamatan bersifat sinergis, dicapai melalui “kerja sama ilahi/manusia”, masing-masing menyumbangkan bagiannya untuk mencapai regenerasi (kelahiran baru) dalam suatu individu, serta pengudusan orang percaya. Namun, meskipun individu berperan dalam keselamatan, seseorang tidak dapat berbalik kepada Tuhan atau percaya sendiri karena Tuhan pertama-tama menarik semua orang dan menanamkan keinginan di hati mereka untuk mengenalnya (bdk. 1 Timotius 2:3-4).
Setelah Kelahiran Baru, “Umat Kristiani harus melakukan baik karya kesalehan maupun karya belas kasihan untuk bergerak menuju kesempurnaan Kristiani” bekerja sama dengan kasih karunia Allah. Singkatnya, teologi Methodis (Wesleyan-Arminian) mengajarkan bahwa “Umat Kristiani harus bertumbuh dalam kasih karunia Allah, yang pertama-tama mempersiapkan kita untuk percaya, kemudian menerima kita ketika kita menanggapi Allah dalam iman, dan menopang kita ketika kita melakukan perbuatan baik dan berpartisipasi dalam karya misi Allah.”
Arminian percaya bahwa semua manusia benar-benar dirusak oleh dosa tetapi Tuhan menganugerahkan kepada semua orang berdosa anugerah pendahuluan (prevenient artinya “datang sebelum”). Dengan rahmat yang mendahului ini (atau dengan pengaruhnya pada manusia yang jatuh), seseorang dapat dengan bebas memilih untuk beriman kepada Kristus atau menolak keselamatannya. Jika orang tersebut menerimanya, maka Tuhan membenarkan mereka dan terus memberikan rahmat lebih lanjut untuk menyembuhkan dan menguduskan mereka secara spiritual.
Pandangan ini berbeda dengan semipelagianisme, yang berpendapat bahwa manusia dapat mulai beriman tanpa membutuhkan rahmat. John Wesley menjelaskan konsepsi Arminian tentang kehendak bebas, mengatakan, “Kehendak manusia pada dasarnya bebas hanya untuk kejahatan. Namun, setiap orang memiliki ukuran kehendak bebas yang dikembalikan kepadanya oleh kasih karunia.” Dia melanjutkan, “Kehendak bebas alami dalam keadaan umat manusia saat ini, saya tidak mengerti: Saya hanya menegaskan, bahwa ada ukuran kehendak bebas yang dipulihkan secara supernatural kepada setiap orang, bersama dengan cahaya supernatural yang ‘menerangi setiap orang yang datang ke dunia.”
Arminian berpendapat bahwa keputusan individu bukanlah penyebab keselamatan atau kehilangan mereka, melainkan tanggapan bebas terhadap anugerah yang mendahului membentuk dasar bagi keputusan bebas Allah; keputusan orang tersebut tidak membatasi Tuhan, tetapi Tuhan mempertimbangkannya ketika dia memutuskan apakah akan menyelesaikan keselamatan orang tersebut atau tidak.
Jacobus Arminius jarang memberikan dukungan alkitabiah untuk sinergisme, tetapi dalam Perdebatan XI “Tentang Kehendak Bebas Manusia dan Kekuatannya” dia memberikan dukungan tekstual untuk rahmat yang mendahului, mengutip Phil. 1:6, 1 Petrus 1:5, dan Yakobus 1:17.
Suatu analogi yang terkadang dikutip didasarkan pada Wahyu 3, di mana Kristus menyatakan bahwa Ia berdiri di depan pintu dan mengetuk, dan jika ada yang membuka ia akan masuk. Arminian menegaskan bahwa Kristus datang kepada setiap orang dengan rahmat yang mendahului, dan jika mereka menginginkan dia untuk masuk, dia memasuki mereka. Oleh karena itu, tidak seorang pun melakukan pekerjaan menyelamatkan diri mereka sendiri, karena Kristus melakukan pekerjaan datang kepada mereka di tempat pertama, dan jika mereka bersedia untuk mengikutinya, Dia melakukan pekerjaan penyelamatan, tetapi apakah Dia akan melakukannya? Ini tergantung pada keinginan orang tersebut (namun, tidak seorang pun dapat menginginkan Kristus untuk masuk jika Dia tidak terlebih dahulu mengetuk).
Pandangan Lutheran dan Calvinis
Teologi Lutheran membedakan antara keselamatan monergistik dan kutukan sinergis. Dengan keselamatan monergistik, Lutheran mengartikan bahwa iman yang menyelamatkan adalah karya Roh Kudus saja, sementara manusia masih merupakan musuh Allah yang tidak mau bekerja sama (Roma 5:8,10). Untuk mendukung pemahaman mereka tentang kutukan sinergis, mereka berpendapat bahwa Kitab Suci menyatakan berulang kali bahwa manusia berpartisipasi dan memikul tanggung jawab untuk menolak anugerah Allah berupa anugerah cuma-cuma – bukan anugerah yang dipaksakan – keselamatan (mis: Mat. 23:37, Heb. 12: 25, Kis 7:51, Yoh 16:9, Ibr 12:15, dll.).
Kaum Lutheran memahami pandangan mereka sebagai kontras dengan kutukan monergistik Calvin dan keselamatan sinergis Arminius. Namun, Calvinis akan mempermasalahkan pandangan mereka yang menyebut “kutukan monergistik,” karena mereka mengklaim setuju dengan Lutheran dan Arminian bahwa hanya umat manusia yang memikul tanggung jawab atas dosa mereka dan atas penolakan mereka terhadap panggilan Allah di seluruh dunia untuk bertobat dan diselamatkan.
Perbedaan yang dimiliki Lutheranisme dengan Calvinisme dan Arminianisme, kemudian, terletak pada bagaimana mereka menggambarkan cara kerja kehendak Allah, pentahbisan sebelumnya, dan pemeliharaan yang murah hati. Lutheranisme mengajarkan bahwa Allah menakdirkan sebagian orang untuk keselamatan tetapi tidak menakdirkan yang lain untuk penghukuman – itu seperti yang Allah kehendaki agar semuanya diselamatkan (1 Tim 2:3-6, Rm. 11:32, dll.).
Pandangan Lutheran berbeda dengan pandangan Calvinis bahwa Allah sejak kekekalan secara aktif mendekritkan sebagian untuk keselamatan dan sebagian untuk kutukan. Dalam determinisme teologis ini, predestinasi Allah secara logis mendahului pengetahuan-Nya sebelumnya. Pandangan Lutheran juga berbeda dengan pandangan Arminian bahwa predestinasi Allah didasarkan pada prapengetahuan ilahi atas penerimaan atau penolakan sinergis manusia atas keselamatan.
Bagi kaum Lutheran, orang bebas menolak panggilan Tuhan untuk keselamatan karena mereka menolak kasih karunia-Nya karena Tuhan tidak menakdirkan mereka untuk keselamatan. Bagi kaum Arminian, Tuhan hanya mengetahui sebelumnya bahwa mereka akan dengan bebas menolak kasih karunia-Nya. Bagi Calvinis, orang dengan bebas menolak panggilan Tuhan untuk keselamatan karena Tuhan secara kekal memilih untuk tidak menempatkan anugrah-Nya kepada mereka. Tuhan tidak mau memperbesar nilai anugrah-Nya yang tidak layak bagi mereka yang tidak akan diselamatkan.
Setelah membaca uraian di atas, pandangan manakah yang benar menurut pendapat Anda? Ketahuilah bahwa setiap golongan merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Sejarah membuktikan bahwa sesama orang Kristen bisa saling menghancurkan, dan itu terjadi sampai sekarang. Media sosial seperti Youtube penuh dengan rekaman khotbah yang saling menjelekkan. Sebagian penerbit rekaman itu memang kelihatannya mencari nafkah dengan cara menampilkan video-video yang bernada kebencian. Paulus memberi peringatan pedas kepada jemaat di Galatia agar mereka berhenti saling menggigit dan saling menelan. Dan pesan itu juga cocok untuk kita di zaman sekarang. Mengapa? Supaya kita jangan saling membinasakan. Hanya iblis yang senang jika anak-anak Tuhan saling membenci dan saling menyerang.
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Secara bahasa kata ‘etika’ lahir dari bahasa Yunani ethos yang artinya tampak dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini yang menjadi perspektif objeknya adalah perbuatan, sikap, atau tindakan manusia. Pengertian etika secara khusus adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan suatu individu dalam lingkungan pergaulannya yang kental akan aturan dan prinsip terkait tingkah laku yang dianggap benar. Pengertian etika secara umum adalah aturan, norma, kaidah, ataupun tata cara yang biasa digunakan sebagai pedoman atau asas suatu individu dalam melakukan perbuatan dan tingkah laku. Penerapan norma ini sangat erat kaitannya dengan sifat baik dan buruknya individu di dalam bermasyarakat. Dengan begitu, etika adalah ilmu yang mempelajari baik dan buruknya serta kewajiban, hak, dan tanggung jawab, baik itu secara sosial maupun moral, pada setiap individu di dalam kehidupan bermasyarakat. Atau bisa dikatakan juga bahwa etika mencakup nilai yang berhubungan dengan akhlak individu yang berkaitan dengan benar dan salahnya.
Adapun banyak jenis etika yang dapat kita jumpai di lingkungan sekitar, misalnya, etika berteman, etika profesi atau kerja, etika dalam rumah tangga, etika dalam melakukan bisnis, dan semacamnya. Etika tentunya harus dimiliki oleh setiap individu dan sangat dibutuhkan dalam bersosialisasi yang mana hal itu menjadi jembatan agar terciptanya suatu kondisi yang baik di dalam kehidupan bermasyarakat. Bagaimana dengan etika untuk orang Kristen? Apakah orang Kristen memiliki etika yang sama dengan etika masyarakat umum?
Tugas etis tertinggi seseorang adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatannya. Tugas etis tertinggi kedua mereka adalah mencintai sesama seperti diri mereka sendiri. Bagi seorang Kristen, memenuhi kewajiban moral ini terjadi dalam ketaatan pada hukum Kristus dan tunduk pada ajaran firman Tuhan. Tujuan utamanya adalah untuk memuliakan Tuhan dalam segala hal yang dikatakan, dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan. Tujuan etis luas lainnya termasuk menjadi berkat bagi orang lain dan tumbuh sebagai orang yang berbudi luhur. Perlu diingat bahwa hidup baik yang sesuai dengan etika Kristen bukanlah jalan keselamatan, atau akan membuat orang Kristen menjadi sempurna. Adanya etika Kristen bukannya menggantikan hukum Torat yang dijadikan ukuran kebenaran pada zaman Perjanjian Lama.
Mengingat visi positif ini, cukup menyedihkan bahwa banyak orang—baik Kristen maupun non-Kristen—cenderung memandang orang percaya sebagai legalistik dan suka mengutuk. Di dunia yang memberontak melawan Allah, mereka yang menjunjung tinggi standar moral Allah harus menyinari kegelapan dan harus menentang praktek-praktek dosa yang mungkin diterima secara luas dalam masyarakat. Tetapi Alkitab tidak hanya menyajikan kode etik yang terdiri dari larangan dan “jangan”. Memang ada hal-hal yang harus dihindari, tetapi ada juga banyak kewajiban moral positif yang dituntut oleh Kitab Suci. Jika kita dengan benar membentuk pandangan etis kita dari Alkitab, kita akan menemukan bahwa kita harus menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Ada perbedaan kategoris antara yang baik dan yang jahat, dan yang benar dan yang salah, dan karena itu kehidupan Kristiani dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dalam melakukan kebaikan. Pelaksanaan etika Kristen seharusnya menyenangkan karena itu memberi kesempatan bagi kita untuk bersyukur kepada Allah yang sudah menyelamatkan kita.
Pada pihak yang lain, ada golongan Kristen tertentu yang cenderung menentang perlunya pelaksanaan etika dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dikatakan sebagai orang yang mengikut faham antinomianishe. Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apa pun. Antinomianisme memang mengambil ajaran dari alkitab, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah.
Umat Kristen mudah jatuh dalam faham antinomianisme karena doktrin keselamatan melalui “anugerah semata-mata”. Orang bisa saja berpikir, “Jika saya diselamatkan oleh anugerah dan semua dosa saya telah diampuni, mengapa saya harus berusaha hidup menurut etika yang baik?” Pemikiran ini bukanlah hasil dari pertobatan sejati. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan hasrat yang lebih besar untuk menjadi taat kepada firman Tuhan, bukan sebaliknya. Kehendak Allah – dan kehendak kita saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus – adalah bahwa kita akan berusaha keras untuk tidak berbuat dosa. Sebaliknya, kita akan berusaha untuk berbuat baik karena sudah dimampukan oleh Roh Kudus.
Pada saat ini banyak gereja yang dirongrong oleh pengajaran antinomianisme, yang tidak menekankan pentingnya perubahan hidup orang Kristen setelah menerima hidup baru. Tahun demi tahun dilewati, tetapi mereka tetap hidup bergelimang dalam dosa lama. Itu karena adanya pendeta-pendeta yang terlalu menekankan doktrin predestinasi ganda, yaitu bahwa Allah sudah memilih orang Kristen untuk diselamatkan, dan keselamatan itu tidak bisa hilang selama orang hidup di dunia. Allah juga sudah menetapkan sebagian orang untuk hidup dalam dosa, dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Antinomianisme adalah seperti penyakit kanker yang menggerogoti gereja.
Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup orang percaya, sehingga mereka mengerti dan taat kepada firman-Nya. Jika etika umum bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya setempat, etika dalam sebuah masyarakat tertentu mungkin tidak dikenal dalam masyarakat lain. Sebaliknya, karena etika Kristen bertalian dengan firman Tuhan, seharusnya semua orang Kristen tahu apa yang baik dan buruk dalam hidup sehari-hari menurut ukuran firman Tuhan.
Etika Kristen adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya setempat) terhadap kehendak Allah.
Etika dimaksudkan agar manusia tidak menjadi manusia “kurang ajar” yang hidup “ugal-ugalan”. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman itu belum tentu dibahas dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau bisa berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika yang menguntungkan mereka saja. Ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang Farisi di zaman Yesus.
Pelaksanaan etika Kristen bukan hanya dalam perbuatan, tetapi juga dalam pikiran, dan terutama dalam hati. Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan. Sebagai orang Kristen mungkin kita mudah berkata bahwa kita mengerti akan hal-hal di atas. Tetapi bagaimana pula dengan praktik tingkah laku dan pikiran kita yang sehari-hari tentang hal-hal itu? Apakah kita marah melihat adanya ketidakadilan di sekitar kita? Ataukah kita ikut melakukan hal-hal tercela di rumah, kantor, sekolah, gereja dan di masyarakat? Adakah etika kita? Bagaimana dengan hati kita, apakah hati kita merasa sedih jika kita gagal melaksanakan firman-Nya?
Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar. Sebagai contoh, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23
Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan sebaik mungkin etika hidup Kristen yang berdasarkan hukum kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan rajin, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang menjadi majikan kita. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati pemerintah dan hukum yang berlaku. Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani dan karena itu tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, dengan etika Kristen kita bisa menghindari perbuatan, pemikiran dan perkataan yang merugikan orang lain dan juga diri sendiri.
“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17
“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” 1 Korintus 13: 9-11

Anda orang Kristen? Saya percaya bahwa jika Anda membaca tulisan ini sampai akhir, Anda tentunya sudah menjadi orang Kristen dan itu mungkin sudah cukup lama. Orang yang baru menjadi Kristen karena panggilan Tuhan, dapat dipastikan akan mengakui bahwa pengetahuannya tentang hal kerohanian masih harus diperbanyak. Setiap orang yang baru diselamatkan tentu merasa bahwa apa yang tidak diketahui adalah jauh lebih banyak dari yang sudah dimengerti. Memang pelajaran yang diterima sewaktu katekisasi hanyalah tetang dasar-dasar kekristenan. Setiap orang Kristen kemudian akan memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman selama hidupnya, dan dengan karunia Tuhan serta pertolongan Roh Kudus ia akan makin bertambah dewasa secara iman dan pengertahuan tentang Allah.
Soal iman dan pengetahuan dalam kekristenan adalah hal yang sering didiskusikan orang percaya. Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat bahwa iman dan pengetahuan adalah dua hal yang bertentangan. Iman adalah percaya akan apa yang tidak terlihat, sedangkan pengetahuan adalah percaya akan hal yang terlihat/terasa. Tetapi, bukan maksud saya membandingkan iman Kristen dan sains. Saya ingin membahas kaitan iman Kristen dengan pengetahuan tentang kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada manusia, yaitu firman Tuhan dalam Alkitab. Apakah iman berumbuh dengan pengetahuan, atau iman tidak ada hubungannya dengan pengetahuan?
Alkitab menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kebijaksanaan. Manusia yang takut akan Tuhan, akan mau bertobat dan mengikut Yesus. Keselamatan hanya melalui iman, karena tidak banyak orang yang pernah menjumpai Tuhan untuk bisa mempunyai rasa takut kepada-Nya. Tuhanlah yang menggerakkan hati manusia sehingga ada rasa takut itu, dan menimbulkan kesadaran bahwa Tuhan yang mahasuci tidak dapat mengampuni dosanya, kecuali jika orang itu mau dibasuh oleh darah Kristus.
Dari rasa takut akan Tuhan, manusia kemudian menyadari bahwa kasih Tuhan kepadanya sungguh besar karena ia telah menerima keselamatan secara cum-cuma. Dari situlah timbul keinginan yang lebih besar untuk lebih tahu, lebih kenal akan Tuhan dan kehendak-Nya agar ia dapat hidup untuk memuliakan-Nya. Jadi, setiap orang Kristen yang sejati pasti rindu untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak tentang kemahakuasaan, kemahasucian, kemahatahuan dan kemahakasihan Tuhan. Ia akan berusaha untuk rajin membaca Alkitab, mendengarkan renungan, pergi ke gereja dan sebagainya. Lebih dari itu, setiap saat dalam hidupnya, ia akan ingat bahwa Tuhan mengajar dan membimbingnya melalui apa yang terjadi dalam hidupnya. Melalui apa yang manis maupun apa yang pahit.
Dari pengakuan Westminster (Bab 9, poin 4), kita tahu bahwa bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat. Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa, dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal padanya, manusia tidak menghendaki apa yang baik secara sempurna, dan bukan hanya itu saja, ia juga masih sering menghendaki apa yang jahat. Tidaklah mengherankan bahwa iman yang mulanya cukup besar pada waktu sesorang baru bertobat, belum tentu bisa bertumbuh, jika kurang ada kesadaran atau pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk selama ia hidup di dunia. Roh Kudus yang memampukan orang Kristen untuk hidup baik, belum tentu didengar suaranya di tengah hiruk-pikuk kesibukan manusia sehari-hari.
Dalam hidupnya di dunia, orang Kristen harus mengerti bahwa iblis selalu berusaha menyerang dia dari sudut kelemahannya. Jika ia tidak menyadari apa yang menjadi kelemahannya, sudah tentu iblis akan mudah mengalahkan kemauan orang itu untuk hidup menurut firman Tuhan. Kelemahan itu belum tentu perasaan tidak mampu untuk mengenal Tuhan dengan baik, tetapi justru sering terjadi karena orang merasa puas bahwa ia sudah mempunyai pengetahuan yang banyak tentang Tuhan. Mungkin pengetahuan itu diperoleh melalui pendidikan atau pengalaman pribadinya, dan itu membuat ia merasa bahwa iman dan pengetahuannya sudah sempurna. Ia mungkin lupa bahwa dengan makin banyaknya pengetahuan kita tentang kebesaran Tuhan, makin tahulah ia akan kekurangannya. Oleh karena itu, ia akan makin bersemangat untuk lebih banyak belajar dan mengajar orang lain untuk bisa hidup lebih dekat dengan Tuhan.
Manusia yang sudah lahir baru adalah orang yang sudah diselamatkan. Orang yang sedemikian tentunya merasa ingin untuk hidup baru, menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Rasa syukur yang luar biasa hanya bisa menambah kemauan untuk memuliakan Tuhan setiap saat. Tetapi, keadaan manusia dan dunia selama ia masih hidup di dunia sering kali membuat dia kecewa, sebab sekalipun ia ingin untuk hidup baik, ia tetap sering berbuat apa yang tidak baik. Oleh karena itu, setiap orang Kristen harus sadar bahwa jika ia jatuh, ia tidak akan tinggal jatuh. Ia akan berusaha untuk bangun lagi, dan dengan penyertaan Roh Kudus ia akan bisa bangun lagi dan berjalan memikul salibnya.
Orang Kristen sejati tidak akan memikul salib untuk membawa kemuliaan pada dirinya sendiri. Tugas dan kewajibannya dijalankan karena sebagai “hamba yang tidak berguna ia ahanya melakukan apa yang diperintahkan tuannya” (Lukas 17:10). Pada pihak yang lain, seorang hamba yang setia akan tetap melakukan tugasnya sekalipun orang lain menganggap dia melakukan tugasnya untuk menuntut upahnya. Setiap orang Kristen sudah dikaruniai anugerah yang terbesar yaitu keselamatan dalam darah Kristus; dan karena itu, jika kita sekarang berbuat kebaikan, itu hanyalah untuk kemuliaan Kristus.
“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10
Pagi ini kita harus ingat bahwa tidak ada alasan bagi setiap orang Kristen untuk tidak mau belajar tentang apa yang perlu untuk hidup di dunia sebagai umat Tuhan. Kita tidak memerlukan pengetahuan teologi yang muluk-muluk, tapi perlu mempelajari apa kehendak Tuhan yang sidah dinyatakan dalam Alkitab. Kita harus tahu apa tugas seorang hamba Kristus. Setiap orang Kristen akan berjuang sekeras tenaga untuk menjalani hidup sebagai hamba Tuhan yang setia, sekalipun ia mungkin tidak diberi banyak talenta. Ia harus menghindari berbagai godaan untuk mengabaikan apa yang sudah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Ia harus sadar bahwa Tuhan tidak mengharapkan umat-Nya untuk bisa sempurna selama hidup di dunia. Baru dalam keadaan yang dicapainya setelah dimuliakan di surga, umat Kristen dikaruniai kebebasan yang sempurna dan tidak peka terhadap perubahan dan tantangan, sehinnga bisa menghendaki apa yang baik semata-mata (pengakuan Westminster, Bab 9, poin 5). Selama hidup di dunia, tetaplah berjuang, tumbuhlah dalam pengetahuan dan iman!
“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18
Bab IX. Kehendak bebas
1. Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat.[a]
a. Mat 17:12; Yak 1:14; Ula 30:19.
2. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak bersalah, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. [a] Akan tetapi, dalam hal itu ia peka terhadap perubahan, sehingga ia dapat saja jatuh dan kehilangan kemampuan itu.[b]
a. Pengk 7:29; Kej 1:26. b. Kej 2:16-17; 3:6.
3. Karena jatuh ke dalam keadaan berdosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan.[a] Maka itu, manusia kodrati sama sekali menolak harta itu[b] dan mati dalam dosa,[c] sehingga ia tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri bertobat atau mempersiapkan diri untuk bertobat.[d]
a. Rom 5:6; 8:7; Yoh 15:5. b. Rom 3:10,12. c. Efe 2:1,5; Kol 2:13. d. Yoh 6:44,65; Efe 2:2-5; 1Ko 2:14; Tit 3:3-5.
4. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa[a] dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani.[b] Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.[c]
a. Kol 1:13; Yoh 8:34,36. b. Fil 2:13; Rom 6:18,22. c. Gal 5:17; Rom 7:15,18,19,21,23.
5. Baru dalam keadaan yang dicapainya setelah dimuliakan, kehendak manusia dikaruniai kebebasan yang sempurna dan tidak peka terhadap perubahan untuk menghendaki apa yang baik semata-mata.[a]
a. Efe 4:13; Ibr 12:23; 1Yo 3:2; Yud 1:24.
“Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa , tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 8-11

Roma 8 dimulai dengan pernyataan yang luar biasa tentang kasih karunia Allah: Tidak ada penghukuman bagi mereka yang di dalam Kristus Yesus. Setelah menjelaskan bagaimana ini dimungkinkan oleh kehidupan dan kematian Yesus, Paulus membandingkan dua jenis kehidupan. Yang satu adalah hidup di dalam Roh Kudus bagi mereka yang ada di dalam Kristus, yang lainnya adalah hidup yang dijalani menurut daging. Orang Kristen memiliki Roh; dan mereka berbeda dari orang yang tidak mengenal Allah. Karena Roh ada di dalam kita, kita akan dibangkitkan dari kematian seperti Yesus, sedangkan mereka yang hidup dalam daging, artinya non-Kristen, mengabaikan dan dengan demikian, memusuhi Tuhan.
Paulus telah menjelaskan perbedaan antara mereka yang hidup dengan “daging”, yaitu mereka yang mementingkan diri sendiri dan hidup dalam dosa, dengan mereka yang hidup oleh Roh Allah. Uraian Paulus tidak memberi kemungkinan bagi siapa pun untuk hidup oleh daging dan juga hidup oleh Roh. Orang Kristen sejati tetap hidup oleh Roh, bahkan jika mereka terkadang masih terganggu oleh dosa. Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus dapat berbuat dosa (1 Yohanes 1:9-10), tetapi dosa bukanlah pola perilaku yang normal bagi seseorang yang ada di dalam Kristus (1 Yohanes 3:4-6).
Pada pihak lain, orang non-Kristen mempunyai hidup yang bersifat karnal atau kedangingan, yaitu hidup yang secara normal untuk melayani keinginan dan nafsu diri mereka sendiri. Karnal adalah hasrat tubuh pada sesuatu yang sifatnya material, seperti lawan jenis, harta benda atau makanan dan segala hal material lainnya. Pembentukan sifat karnal ini bergantung pada obyek karnal itu sendiri (yaitu obyek-obyek jasmani) yang bisa dirasakannya. Misalnya, apabila seseorang terbiasa dengan makanan yang sangat sederhana, maka sifat karnalnya terhadap makanan tidak mudah tumbuh menjadi besar. Namun, jika kemudian dia mencicipi makanan yang jauh lebih mewah dan enak daripada yang biasa ia makan, maka sifat karnalnya pun mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi dan akan tumbuh untuk menciptakan rasa tidak cukup, dan dengan demikian muncul rasa tidak puas atas yang ada, dan adiksi pada apa yang lebih nikmat tetapi yang kurang sehat. Seperti itu juga, dosa dalam hidup kedagingan bisa menimbulkan berbagai masalah (ingat 7 dosa yang membinasakan).
Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan kedamaian mutlak orang Kristen di hadapan Allah. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam bimbingan Roh Allah. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan sebagai Abba, yaitu Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama dengan semua ciptaan sementara kita menunggu Allah menyambut kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan pertolongan Roh, kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita dan bahwa Dia selalu mengasihi kita di dalam Kristus.
Kita harus bersyukur bahwa Allah sudah mengirinkan Putra-Nya untuk menebus manusia yang berdosa. Setiap orang yang bertobat dari dosanya dan percaya kepada Yesus Kristus akan lahir baru sebagai umat Tuhan dan diberi karunia Roh Kudus.
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Kisah 2:38
Paulus menjelaskan kepada para pembacanya, orang-orang Kristen yang tinggal di Roma, bahwa dia mengerti bahwa mereka berada di dalam Roh dan bukan di dalam daging. Paulus mengidentifikasi mereka sebagai orang Kristen yang sudah lahir baru, dengan ketentuan bahwa ini benar “jika” Roh Allah diam di dalam kamu. Dalam bahasa kita, kita cenderung berasumsi bahwa kata “jika” menyiratkan keraguan; tetapi, dalam hal ini kata itu hanya menghubungkan dua gagasan. Ungkapan ini mungkin lebih baik dibaca sebagai kondisi yang dianggap benar. Dengan kata lain, “Kamu ada di dalam Roh karena Roh Allah diam di dalam kamu”. Kebalikannya juga benar: Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, dia bukan milik Kristus. Paulus dalam kitab Roma 8 tidak membahas hal orang non-Kristen yang tidak memiliki Roh Allah. Itu karena Allah memberikan Roh Kudus-Nya kepada setiap orang Kristen. Tanpa Roh, kita bukanlah orang Kristen (1 Korintus 3:16; 2 Timotius 1:14).
Kita harus menyadari bahwa Allahlah yang mendorong orang berdosa hingga bertobat, dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat. Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata, dan menjadikan orang itu mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Ini adalah tanda orang Kristen: ia bisa menggunakan kehendak bebasnya dengan bimbingan Roh Kudus untuk memilih apa yang baik di mata Tuhan (sesuai dengan Pengakuan Westminster Bab 9, poin 4). Akan tetapi, Roh Kudus bekerja begitu rupa sehingga manusia tidak dipaksa untuk memilih apa yang baik. Jika orang Kristen terus berbuat dosa, ia mendukakan Roh Kudus yang kemudian menjadi diam. Orang Kristen kemudian bisa jatuh kembali ke sifat kedagingannya. Ini disebabkan oleh kerusakan yang masih tinggal pada orang itu, sehingga ia tidak bisa menghendaki apa yang baik itu secara sempurna; dan bukan hanya itu saja, tetapi ia juga masih bisa menghendaki apa yang jahat selama ia masih hidup di dunia.
Dalam ayat 10 dan 11, Paulus mengontraskan kuasa kebangkitan hidup yang dibawa oleh Roh Kudus, dengan daging yang fana, yang membawa maut. Ini terhubung kembali ke Roma 7:24, di mana Paulus bertanya, “Aku, manusia celaka ! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Dia menyatakan bahwa dia masih hidup dalam tubuh daging, yang membawanya mengalami kematian dengan menuntunnya untuk menuruti hukum dosa. Paulus menjawab pertanyaannya sendiri dengan menyatakan bahwa Yesuslah yang membebaskan kita dari tubuh maut.
Salah satu keselamatan, atau kelepasan, yang harus kita nantikan adalah saat kita diselamatkan dari keharusan berjalan dengan sifat dosa kita. Tubuh baru kita tidak akan memiliki natur dosa (baca pengakuan Westminster Bab 9 Poin 5). Itulah pengharapan kita akan kemuliaan dalam banyak hal. Tapi itu adalah sesuatu yang ada di masa depan. Dalam ayat 11 Paulus menulis bahwa Tuhan menciptakan kita untuk tujuan final ini, dan bahwa Roh Kudus adalah janji untuk kemuliaan dan pembebasan dari tubuh kita yang berdosa ini.
Bagi orang percaya, hidup baru diberikan melalui Roh Kudus (ayat 11). Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati sekarang berdiam di dalam kita. Pada akhirnya, pemberian hidup ini akan menjadi sempurna sepenuhnya; sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari kematian, kita juga dapat menantikan kebangkitan penuh ketika kita meninggalkan bumi ini (1 Korintus 15:51-53). Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari kematian juga akan memberikan hidup kepada tubuh fana kita, melalui Roh-Nya yang diam di dalam kita. Tetapi, pada saat ini, kita masih memiliki tubuh fana ini dengan manusia lama ini, sifat dosa lama ini di dalamnya (Roma 6:6) dan juga dengan Roh Kristus tinggal di dalamnya.
Pergumulan antara daging dan roh terbukti di seluruh kitab Roma, dan Paulus ingin memperjelas bahwa kematian Kristus cukup untuk membawa kebenaran kepada kita di hadirat Allah, bahwa Kasih Karunia telah melimpah lebih dari yang dapat dilakukan oleh dosa. Tetapi untuk kita mengalaminya dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menghadapi dua realitas yang bersamaan yaitu memiliki tubuh yang mati dari dosa yang ingin menguasai kita, sementara juga memiliki roh Kristus yang hidup tinggal di dalam kita karena iman kita kepada-Nya.
Jika Kristus ada di dalam kita, meskipun tubuh akan mati karena dosa, roh kita hidup karena kebenaran. Ini bukan alasan untuk tidak berusaha untuk menaati perintah Tuhan untuk hidup dalam terang, karena kehidupan kita di dunia seharusnya membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kehidupan orang Kristen yang tidak beres bisa menjadi batu sontohan dan menghalangi orang lain untuk percaya kepada Kristus. Kehidupan orang Kristen yang tidak sesuai dengan firman Tuhan juga akan membawa masalah bagi orang itu dan keluarganya.
Hari ini, sebagai umat-Nya, kita dapat hidup bukan sebagai budak dosa dan kematian, tetapi sebagai orang yang telah dibangkitkan. Untuk itu kita harus dekat dengan Tuhan dan mau mendengarkan suara Roh Kudus dalam hidup kita. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diselamatkan, dengan hidup dalam Roh, agar nama Tuhan dipermuliakan. Hidup kita harus bisa dibedakan dari hidup mereka yang hidup secara karnal, yang tidak memiliki Roh Kristus, yang bukan milik Kristus. Pada saat ini, kita harus bersyukur kalau Tuhan memberikan kehidupan kepada tubuh yang fana meskipun kita masih memiliki kelemahan terhadap dosa di dalam diri kita. Semua itu adalah kesempatan bagi kita untuk menyatakan kebesaran Tuhan di dunia sambil bersyukur atas kasih-Nya. Maukah Anda mengguakan kesempatan yang masih ada?