Hiduplah dalam terang

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” 1 Yohanes 1:6-7

Di zaman ini, orang mungkin sudah jarang memakai lampu tempel atau lampu petromaks. Dengan adanya tenaga listrik yang bisa disimpan dalam baterai atau disalurkan ke berbagai tempat, orang sekarang tentunya lebih sering memakai lampu listrik (baik jenis DC maupun AC). Bahkan dengan harga yang makin murah, lampu LED sekarang kelihatannya mulai mengganti bola lampu atau lampu neon. Lampu LED memang lebih terang, lebih awet, dan pemakaian listriknya sangat kecil jika dibandingkan lampu jenis lain. Hanya saja, saking terangnya lampu jenis baru ini, bagian rumah yang agak kotor yang dulunya kurang terlihat, sekarang kelihatan lebih mencolok. Terang menghilangkan kegelapan dan membuat apa yang kotor terlihat jelas.

Kitab 1 Yohanes 1 menyatakan fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Yohanes menegaskan bahwa dia secara pribadi telah melihat dan mendengar hal-hal yang Dia ajarkan. Kebenaran Tuhan disajikan sebagai “terang”, sedangkan ajaran palsu disajikan sebagai “kegelapan”. Mereka yang berpegang pada kebenaran diselamatkan dari kekotoran dosa melalui terang Kristus; tetapi, mereka yang mengaku tidak berdosa sama sekali adalah menipu diri sendiri karena hidup dalam kekotoran. Membaca tulisan ini, kita mungkin bertanya-tanya: apakah kita diselamatkan karena hidup baik kita?

Kitab 1 Yohanes 1:5–10 membuka topik utama surat Yohanes. Tuhan sepenuhnya adalah kebaikan dan kebenaran, dan mereka yang mengikuti Tuhan tidak bisa juga mengikuti kejahatan dan kepalsuan. Dalam ayat di atas, Yohanes menekankan kata “jika”, agar semua orang Kristen membandingkan diri masing-masing dengan kebenaran. Secara khusus, dalam ayat 10 menyebutkan adanya orang-orang yang mengaku sepenuhnya bebas dari dosa, atau tidak pernah berbuat dosa. Keyakinan seperti itu secara harfiah berlawanan dengan Injil. Tidak ada orang yang tidak berdosa selain Yesus Kristus.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 10.

Apa artinya 1 Yohanes 1: 6-7? Ayat 6 berbicara hal berjalan dalam kegelapan. Ayat 7 menawarkan kontrasnya, dan memanggil orang percaya untuk hidup menurut jalan Tuhan. Dalam hal ini, kita menemukan hubungan ayat-ayat ini dengan Injil Yohanes 1:8-9 tentang Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa “ia (Yohanes Pembaptis) bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”. Yesus dicatat sebagai “terang” dan “terang sejati”. Yohanes Pembaptis berbicara tentang Dia, dan ia memanggil orang-orang untuk bertobat sebagai persiapan kedatangan-Nya. Karena itu, sampai sekarang pun orang percaya dipanggil untuk berjalan menurut jalan Kristus dan bukan apa yang diajarkan oleh manusia.

Ayat 1 Yohanes 1:7 menyatakan apa yang terjadi ketika orang percaya benar-benar berjalan dalam terang Kristus: persekutuan orang percaya dan penyucian dari dosa. Pertama, orang percaya akan memiliki komunitas dan persahabatan satu sama lain. Dengan demikian, mereka akan dapat saling menguatkan dan saling menolong. Kedua, orang percaya akan mengalami pengampunan. Meskipun seseorang telah diampuni (selamanya) dari dosa ketika dia pertama kali percaya kepada Kristus, orang Kristen masih bisa melakukan dosa selama hidup di dunia dan membutuhkan pengampunan sebagai orang percaya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Orang Kristen bukanlah orang yang sudah sempurna, tetapi adalah orang yang disadarkan Roh Kudus akan dosanya. Mereka yang tidak sadar akan hidupnya yang porak poranda justru adalah orang yang tidak pernah atau tidak mau menerima bimbiongan Roh Kudus. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang membenci dosa sekecil apa pun. Jika manusia bisa membedakan apa yang disebut dosa besar dan apa yang disebut dosa kecil, bagi Tuhan semua dosa adalah kegagalan manusia untuk taat kepada kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Setiap hari, dapatkah Anda menyebutkan dosa apa yang membutuhkan pengampunan dari Tuhan? Ataukah Anda mengira semua itu adalah lumrah dan termasuk dosa-dosa kecil yang umum dan biasa? Kita mungkin harus sadar bahwa rasul Paulus mencatat adanya banyak kegagalan dalam hidupnya, terlepas dari keinginannya untuk hidup benar dan banyaknya pekerjaan mulia yang telah dia lakukan untuk Tuhan.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7:18

Implikasinya di sini jelas: kehadiran dosa dalam hidup orang Kristen yang sadar akan kelenahannya tidak berarti bahwa orang tersebut tersesat. Pengorbanan Kristus di kayu salib yang akan kita peringati sebentar lagi, sudah menghapus hukuman kekal dari semua dosa kita, di masa lalu, sekarang, dan di masa depan. Lebih penting lagi, mereka yang percaya kepada Kristus diampuni bahkan untuk dosa yang tidak mereka sadari. Bagaimana dengan dosa-dosa yang kita sadari? Kita harus mengakuinya, dan itu akan diampuni Tuhan – agar kita tidak melakukannya lagi. Jika kita bersikukuh untuk hidup dalam kegelapan setelah diampuni, itu berarti kita memakai kebebasan kita untuk tetap tinggal di jalan yang lebar yang akan membawa berbagai penderitaan (1 Timotius 6: 10). Itu bukanlah kehendak Tuhan atau rencana Tuhan untuk umat-Nya. Tetapi, jika kita mau dan bertekad untuk hidup dalam ketaatan, Tuhan akan melengkapi kekurangan kita dan memberikan kedamaian dalam hidup kita.

”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yohanes 8: 11

Apakah Tuhan pencipta dosa umat manusia?

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Ayat di atas adalah ayat yang terkenal dan sering dipakai untuk menjelaskan bahwa Tuhan yang menentukan perjalanan hidup manusia. Tetapi, ayat ini juga sering diperdebatkan umat Kristen karena pengertian yang berbeda mengenai sampai batas apa Tuhan menentukan apa yang terjadi dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang Kristen, Tuhan menentukan segala apa yang terjadi dalam hidup manusia, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Bagi kelompok lain, Tuhan menentukan poin-poin penting dalam rencana-Nya, tetapi di antara poin-poin itu manusia memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. Sekalipun ada perbedaan antara dua pandangan itu, satu yang pasti dan disetujui keduanya adalah bahwa apa yang direncanakan Tuhan pasti terjadi.

Satu hal yang menjadi keberatan atas pendapat yang pertama bagi orang yang kurang mengerti adalah adanya kemungkinan bahwa Tuhan adalah penyebab manusia jatuh dalam dosa, karena dengan kejatuhan manusia rencana-Nya untuk mengirim Anak-Nya sebagai Juruselamat akhirnya tercapai. Pada pihak yang lain, keberatan atas pendapat yang kedua adalah kemungkinan bahwa Tuhan tidak benar-benar berdaulat atas segala sesuatu, dan ini bisa menyebabkan bahwa ada tindakan manusia yang tidak dikontrol-Nya akhirnya bisa membatalkan rencana-Nya. Bukankah Tuhan yang berdaulat menentukan bukan hanya hasil akhir, tetapi juga jalan atau prosesnya?

Untuk dapat menyelami bagaimana kedaulatan Tuhan harus dimengerti oleh umat Kristen, baiklah kita mempelajari Pengakuan Iman Westminster yang merupakan sebuah pernyataan iman yang lahir pada abad ke-17. Pengakuan Iman Westminster menyatakan bahwa Alkitab merupakan otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen. Pengakuan Westminster bab 3 pasal1 menyatakan bahwa Tuhan sejak kekekalan, dengan keputusan yang paling bijaksana dan suci atas kehendak-Nya sendiri, dengan bebas dan tidak dapat diubah menetapkan apa pun yang terjadi.

Jika tindakan jahat manusia mendapat tempat dalam rencana Tuhan, dan jika tindakan itu ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan, apakah manusia bertanggung jawab atasnya, dan bukankah Tuhan pencipta dosa? Dalam hal ini, Pengakuan Iman Westmister menjelaskan:

  1. Tuhan sebagai penyebab pertama akan adanya segala sesuatu, tetapi Ia bukanlah pencipta dosa,
  2. Tuhan tidak melakukan kekerasan untuk menghilangkan kehendak manusia,
  3. Tuhan tidak mengambil kebebasan atau perlunya manusia, melainkan menegakkannya.

Poin pertama menyatakan bahwa sekalipun Tuhan adalah penyebab pertama yang memungkinkan terjadinya semua hal dalam alam semesta, Tuhan bukanlah pencipta dosa. Tuhan selesai menciptakan bumi dan alam semesta dalam tujuh hari seperti yang ditulis dalam kitab Kejadian, tetapi tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang sangat jelek, yang dinamakan dosa. Segala yang diciptakan Tuhan adalah baik adanya.

Dosa bukanlah sesuatu yang diciptakan, melainkan suatu keadaan dimana manusia tidak dapat memenuhi standar kebenaran Allah. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, itu bukan Tuhan yang membuatnya. Dalam hali ini, poin kedua dari Pengakuan Westminster menyatakan bahwa Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya (agar Adam dan Hawa tidak memakan buah terlarang), tetapi Ia tidak menghilangkan kehendak Adam dan Hawa untuk melanggar fiman Allah. Dengan demikian, manusia bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya.

Orang yang bertanggung jawab atas tindakan jahatnya dibuat begitu jelas dari awal Alkitab sampai akhir sehingga sangat tidak berguna untuk mengutip teks untuk membuktikan adanya dosa individu. Tetapi sama jelasnya di dalam Alkitab bahwa Allah bukanlah pencipta dosa. Itu jelas dari natur dosa, sebagai pemberontakan terhadap hukum suci Allah. Itu juga diajarkan secara tegas dalam Alkitab.

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1:13–14

Adalah mudah bagi Allah untuk menghilangkan kemungkinan bagi manusia untuk berbuat dosa dari awalnya. Tetapi, point ke tiga dari Pengakuan Iman Westmister menjelaskan bahwa Allah tidak mengambil kebebasan manusia atau menhilangkan perlunya peranan manusia di antara ciptaan-Nya, melainkan menegakkannya. Tuhan sudah menciptakan seisi alam semesta dengan manusia menurut gambar-Nya, dan Tuhan tidak akan mengambil kebebasan yang sudah diberikan-Nya kepada manusia.

Sampai di sini, kita tahu bahwa Tuhan yang mempunyai rencana, telah menetapkan sebelumnya apa pun yang terjadi. Perbuatan berdosa dari manusia berdosa adalah hal-hal yang terjadi. Namun kita harus menolak jika Tuhan dianggap sebagai penulis dosa karena adanya kehendak manusia yang ditegakkan Tuhan, yang menempatkan tanggung jawab dosa pada manusia.

Bagaimana mungkin kita bisa mengerti hal ini? Apakah kita tidak melibatkan diri kita dalam kontradiksi besar tanpa harapan?Jawabannya ditemukan dalam fakta bahwa meskipun Tuhan menetapkan sebelumnya apa pun yang akan terjadi, Dia menyebabkan terjadinya hal-hal itu dengan cara yang sangat berbeda. Dia tidak menyebabkan terjadinya tindakan pribadi manusia dengan cara yang sama seperti cara Dia menciptakan benda, makhluk hidup dan peristiwa di dunia fisik. Tetapi di dalam Dia, dan hanya dengan seizin-Nya, segala hal bisa terjadi.

Itu benar bahkan untuk perbuatan baik manusia. Ketika Tuhan membuat manusia melakukan hal-hal tertentu dengan pengaruh Roh Kudus-Nya yang murah hati, Dia tidak memperlakukan mereka seperti tongkat atau batu, tetapi memperlakukan mereka seperti manusia. Dia tidak menyebabkan mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan mereka, tetapi Dia mengarahkan kehendak mereka, dan kebebasan mereka sebagai pribadi sepenuhnya dipertahankan ketika mereka melakukan tindakan tersebut. Tindakan yang dilakukan adalah tetap tindakan mereka, meskipun mereka dipimpin untuk melakukannya oleh Roh Allah.

Ketika Tuhan menyebabkan terjadinya tindakan jahat manusia, Dia melakukannya dengan cara yang berbeda. Dia tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; dia tidak mempengaruhi mereka untuk berbuat dosa. Tetapi Ia menyebabkan terjadinya perbuatan-perbuatan itu melalui pilihan-pilihan yang bebas dan bertanggung jawab dari manusia secara pribadi. Dia telah menciptakan makhluk-makhluk itu dengan karunia kebebasan memilih. Hal-hal yang mereka lakukan dalam menjalankan karunia itu adalah tindakan mereka. Mereka tidak akan mengejutkan Tuhan dengan perbuatan mereka karena perbuatan mereka adalah bagian dari rencana kekal-Nya; namun dalam melakukannya mereka, dan bukan Allah yang kudus, yang bertanggung jawab.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah sulit menyelaraskan kehendak bebas nanusia dengan kepastian tindakan mereka sebagai bagian dari tujuan kekal Tuhan? Ini sebenarnya bukan masalahnya. Masalah yang sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bagaimana Allah yang baik dan mahakuasa dapat membiarkan dosa memasuki dunia yang telah Ia ciptakan. Bagaimana mungkin Tuhan yang suci, jika Dia mahakuasa, mengizinkan keberadaan dosa? Apa yang harus kita lakukan untuk menjawab pertanyaan ini? Dalam keterbatasan kita, kita harus mengaku bahwa itu tidak dapat kita dipecahkan.

Apakah begitu mengecewakan bahwa ada beberapa hal yang tidak kita ketahui? Iman adalah percaya akan hal-hal yang tidak kita mengerti. Tuhan telah memberi tahu kita banyak hal. Dia telah memberi tahu kita banyak pengertian bahkan tentang dosa. Dia telah memberi tahu kita bagaimana dengan harga yang tak terhingga, dengan pemberian Putra-Nya, Dia telah menyediakan jalan keluar untuk lepas dari hukuman. Apakah mengecewakan bahwa Tuhan belum memberi tahu kita semua rahasia dalam kebesaran-Nya?

Bagaimana pun, kita hanyalah makhluk yang terbatas. Kita tidak perlu heran bahwa ada beberapa misteri yang telah disembunyikan Tuhan dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas dari mata kita. Apakah mengherankan bahwa Dia meminta agar kita puas untuk tidak mengetahuinya tetapi hanya mempercayai Dia yang mengetahui segalanya? Hari ini, sebagai manusia kita harus sadar bahwa Tuhan sudah menentukan tujuan kehidupan kita. Kita diberi-Nya kebebasan untuk menjalani hidup kita, tetapi dalam batasan yang telah ditentukan-Nya melalui firman-Nya. Adalah lebih penting bagi kita untuk menggunakan kebebasan yang sudah kita terima dari Tuhan untuk mempersembahkan hidup kita kepada Dia.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Apakah Anda penjaga umat-Nya?

“Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.” Yehezkiel 33:7

Penjaga yang disebut dalam ayat di atas adalah orang yang bertanggung jawab untuk melindungi kota dan instalasi militer dari serangan mendadak musuh dan potensi bahaya lainnya. Kota-kota Israel kuno sering menempatkan penjaga di tembok tinggi atau di menara pengawas. Tugas mereka adalah berjaga-jaga dan memperingatkan penduduk kota tentang ancaman yang akan datang.

Kata Ibrani tsa-phah yang diterjemahkan “penjaga” berarti “orang yang mengintai”, “orang yang memata-matai”, atau “orang yang mengawasi”. Penjaga adalah pengintai yang mencari adanya teman maupun musuh yang mendekat. Tetapi, penjaga juga diperlukan untuk nengawasi landang dan kebun anggur selama musim panen.

Pada saat menjelang hari Paskah ini, tentunya kita ingat bahwa Tuhan Yesus pernah meminta agar tiga orang muridnya untuk berjaga-jaga dengan Dia karena Ia merasa sedih ketika sadar bahwa saatnya segera tiba bahwa Ia akan diadili dan kemudian dihukum mati (Matius 26: 38). Yesus mengajak murid-muridnya untuk bersama-sama menhadapi saat yang genting itu dan mendapatkan kekuatan rohani dalam kebersamaan. Tetapi ketiga murid itu jatuh tertidur dan tidak sanggup membuka mata mereka.

Dalam ayat di atas Alkitab menyebut penjaga dalam arti rohani. Tuhan menunjuk para nabi sebagai penjaga spiritual atas jiwa umat-Nya. Tugas para nabi sebagai penjaga adalah mendorong umat Allah untuk hidup dengan setia dan memperingatkan mereka tentang bahaya murtad dari Tuhan dan godaan untuk melakukan kejahatan. Sebagai penjaga, para nabi juga dipanggil untuk memperingatkan orang-orang jahat tentang penghakiman dan kehancuran yang akan menimpa mereka kecuali mereka berbalik dari jalan-jalan jahat mereka. Memang setiap manusia, Kristen maupun bukan, sampai sekarang harus mempertanggungjawabkan apa yang dipilih dan dilakukannya.

Penjaga rohani Israel memikul tanggung jawab yang berat di hadapan Tuhan. Jika seorang nabi seperti Yehezkiel gagal untuk memperingatkan orang lain atas apa yang Allah telah tetapkan untuk dia lakukan, nyawanya sendiri berada dalam bahaya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa orang itu (Yehezkiel 33:2–6). Seorang penjaga yang buta atau tidak taat kepada Firman Tuhan membuat orang-orang yang seharusnya dilindunginya menjadi terbuka atas bahaya dan penderitaan (Yesaya 56:10).

Ketaatan adalah satu-satunya tindakan bagi seorang penjaga yang benar: “Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.” (Yehezkiel 33:9).

Peran penjaga rohani berlanjut dalam Perjanjian Baru dalam bentuk pemimpin gereja. Umat Tuhan diperintahkan untuk menaati pemimpin gereja: “ Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu (Ibrani 13:17).

Sebenarnya, Tuhan memanggil bukan hanya pemimpin, tetapi semua orang Kristen untuk menjadi penjaga saudara-saudara seiman. Yesus memberi tahu para murid-Nya untuk “berjaga dan berdoa agar kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Markus 14:38). Dengan demikian, kita harus mau saling mengingatkan agar hidup kita tetap dijalani sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Adalah suatu kebodohan jika kita percaya bahwa segala seuatu sudah ditentukan oleh Tuhan sehingga kita tidak perlu berjaga-jaga. Adalah suatu kesombongan jika kita percaya bahwa sebagai umat-Nya kita tidak dapat jatuh dalam dosa yang mematikan kerohanian kita. Adalah suatu keteledoran jika kita membiarkan atau meyebabkan saudara kita jatuh dalam pencobaaan atau cara hidup yang sesat. Memang Tuhan mahakuasa, tapi itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu menjadi penjaga-penjaga saudara kita. Akankah kita akan menghindari tanggung jawab kita?

Firman TUHAN kepada Kain: ”Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: ”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Kejadian 4:9

Hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ”Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ”Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. 1 Korintus 11:23-29

Seminggu lagi kita akan merayakan hari Jumat Agung, hari kematian Yesus di kayu salib. Biasanya, kebaktian ibadah Jumat Agung selalu disertai dengan Perjamuan Kudus (kecuali pada saat COVID-19 masih gawat). Memang perjamuan kudus yang pertama diadakan Yesus bersama kedua belas muridnya sebelum Ia disalibkan, dan ini diperintahkan-Nya agar dijalankan oleh setiap umat Kristen guna memperingati pengurbanan-Nya. Perjamuan Kudus kemudian menjadi salah satu dari dua sakramen gereja Kristen (yang lain adalah baptisan).

Saya ingat bahwa menjelang acara Perjamuan Kudus, majelis gereja di Indonesia mengingatkan agar semua jemaat mempersiapkan diri dengan baik. Apa maksudnya? Ayat di atas mengingatkan bahwa setiap kali kita makan roti dan minum anggur perjamuan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi jika kita dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, kita berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Dengan demikian, setiap umat Kristen yang ingin ikut perjamuan diminta agar meneliti cara hidupnya selama ini, meminta ampun akan dosa-dosanya, serta bertekad untuk memperbaiki hidupnya.

Saya tidak pasti berapa persen orang Kristen yang bersungguh-sungguh dalam meneliti apa yang sudah dilakukan mereka pada saat sebelum perjamuan kudus. Tetapi saya sering melihat orang yang seharusnya ikut perjamuan kudus, ternyata tidak mengambil roti dan anggur yang disediakan. Mungkin mereka merasa tidak layak untuk berpartisipasi dalam acara itu. Pada pihak yang lain, sebagian orang Kristen di zaman ini mungkin tidak lagi memandang acara ini sebagai sakramen, ritual suci yang diperintahkan Tuhan. Mungkin mereka memandangnya sebagai bagian ibadah rutin.

Jika kita membaca ayat di atas dan mempercayainya sebagai perintah Yesus yang masih relevan untuk zaman sekarang, sebenarnya mau tidak mau kita memandangnya sebagai ritual gereja yang sangat serius. Ritual yang perlu dipahami artinya, dilaksanakan dengan khidmat dan diikuti persyaratannya. Masalahnya, banyak orang Kristen yang tidak mengerti bahwa syarat ikut perjamuan kudus bukanlah mudah dipenuhi. Perjamuan kudus tidak bisa dirayakan seperti kita merayakan hari Natal.

Perjamuan kudus hanya bisa diikuti oleh orang yang mengakui bahwa tubuh Tuhan sudah dikurbankan untuk keselamatan manusia. Mereka yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan bukan hanya Juruselamat tidaklah patut untuk ikut ritual ini. Jika mereka memaksakan diri untuk ikut, mereka akan menambahi dosa mereka. Bagaimana orang Kristen bisa mengakui Yesus sebagai Juruselamat tetapi tidak sebagai Tuhan? Ini pertanyaan yang jarang didiskusikan umat Kristen.

Jika Yesus hanya serorang Juruselamat, kita harus bersyukur kepada Dia yang mau berkurban untuk kita. Mungkin juga, jika Ia sekadar kurban yang disediakan Allah Bapa, kita tidak perlu bersyukur kepada Dia tetapi kepada Bapa. Tetapi, jika kita perrcaya bahwa roti dan anggur dalam perjamuan kudus adalah melambangkan tubuh Tuhan, kita mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa, seperti Sang Bapa. Dan karena itu kita harus mempunyai rasa takut dan tunduk kepada firman-Nya. Dengan demikian, adalah seharusnya jika kita hidup layak sebagai orang yang sudah diselamatkan-Nya.

Orang Kristen yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan tentu boleh dan bahkan seharusnya ikut perjamuan kudus. Setiap kita mengikuti perjamuan kudus, kita diingatkan akan pengurbanan Yesus bagi kita. Kepada dunia kita menyatakan bahwa Tuhan sudah mati untuk menebus manusia dari hukuman dosa. Tetapi, ini bukan berarti bahwa kita boleh tetap hidup dalam dosa. Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Barangsiapa yang ikut perjamuan kudus, tetapi tidak mau menaati firman Tuhan dalam hidupnya, akan menodai imannya. Siapa yang tidak menaati firman Tuhan adalah orang yang tidak takut akan Tuhan, atau orang yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Sebagian orang Kristen memandang perjamuan kudus adalah sesuatu yang baik untuk mengingatkan mereka atas dosa-dosa dan cara hidup yang kurang baik selama ini. Tetapi, bagi mereka peringatan ini terlalu sering datang dan membuat mereka terbiasa. Sebelum mengikuti perjamuan kudus, mereka memikirkan cara hidup mereka, dan mungkin mengakui dosa-dosa mereka, Mereka memohon ampun, lalu ikut makan roti dan anggur. Kenudian hidup berjalan seperti biasa, sampai saatnya datang untuk perjamuan kudus lagi. Life goes on. Tidak ada yang berubah. Everything stays the same.

Ayat di atas menyatakan bahwa setiap orang Kristen sudah diberi kemampuan dan bahkan diperintahkan untuk menguji dirinya sendiri. Itu adalah tanggung jawab mereka. Mereka bisa memikirkan apakah hidup mereka sudah berubah, makin lama makin menyerupai Yesus. Ini bukan berarti bahwa mereka akan bisa menjadi sempurna. Tetapi mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dalam hidup mereka. Tuhan yang membenci dosa dan kejahatan, dan yang sudah menyatakan kehendak-Nya melalui Alkitab. Lebih dari itu, Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada semua umat Tuhan. Kita tidak bisa berkali-kali mendukakan Roh Kudus dan selalu mengikuti perjamuan kudus tanpa mengalami perubahan cara hidup. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya dalam hidup. Kasih Yesus menyertai orang-orang yang mau berubah dari hidup lama mereka.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: ”Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yohanes 5:14

Apakah yang dinamakan orang Kristen duniawi itu?

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi.” 1 Korintus 3: 1-3

Saat ini saya ingin terus melanjutkan diskusi tentang topik yang berkaitan dengan hidup baik, dan sekarang kita sampai pada diskusi tentang orang Kristen “duniawi”. Dalam bahasa Inggrisnya disebut “Carnal Christian“, dan orang sering menerjemahkannya sebagai “orang Kristen kedagingan”.

Para pengikut kekristenan duniawi menegaskan bahwa adalah mungkin untuk percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat tanpa harus mengakui Kristus sebagai Tuhan. Mengapa begitu? Menurut pendukung posisi ini, seseorang diselamatkan jika mereka mengakui Kristus, bahkan jika mereka tidak pernah hidup baik.

Posisi ini menandai suatu perubahan yang signifikan dalam sejarah teologi Kristen terutama dalam dua abad terakhir, dan sudah membuat kekacauan dalam berbagai gereja. Bagaimana itu bisa terjadi? Para pendukung Kekristenan duniawi menuduh bahwa jika kita masih menegaskan bahwa perbuatan baik diperlukan dalam kehidupan orang percaya, kita sebenarnya menyangkal bahwa pembenaran Tuhan hanya melalui iman. Ini sudah tentu merupakan kekeliruan.

Jika kita tidak pernah melihat perbuatan baik dalam diri orang lain, kita harus meragukan apakah mereka benar-benar seorang Kristen, sebab mengasihi Kristus berarti kita menaati-Nya (Yohanes 14:15). Ketaatan kita memang tidak akan sempurna dalam kehidupan ini karena adanya dosa pada setiap orang. Meskipun demikian, karena adanya Roh Kudus iman yang sejati akan menghasilkan ketaatan, betapapun tidak sempurnanya itu. Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak memiliki iman yang benar (Matius 7:21). Para pendukung kekristenan duniawi memberikan jaminan keselamatan palsu ketika mereka mengklaim bahwa adalah mungkin untuk dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan tanpa harus berubah hidupnya. Mereka agaknya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat tetapi bukan sebagai Tuhan karena tidak adanya keharusan untuk taat kepada perintah-Nya.

Klaim ini hanya mengungkapkan bahwa para pendukung kekristenan duniawi sudah keliru dalam memahami posisi alkitabiah tentang keselamatan yang datang dari iman saja (sola fide). Alkitab sangat jelas bahwa kita dibenarkan bukan karena perbuatan, tetapi hanya karena iman (Galatia 2:16). Tetapi Alkitab sama jelasnya dalam mengemukakan bahwa iman yang membenarkan kita tidak pernah bekerja sendirian. Iman yang sejati harus ditunjukkan melalui adanya perbuatan baik dan ketaatan kepada Kristus dalam kehidupan orang percaya (Yakobus 2:17-18).

Orang Kristen sejati menjalani kehidupan yang selalu ditandai dengan peperangan antara Roh Kudus dan daging yang merupakan natur dosa lama kita (Roma 7:13–20; Galatia 5:16–24). Orang Kristen yang tidak merasakan adanya peperangan ini adalah orang yang terlena, atau orang yang belum pernah menerima Roh Kudus. Orang Kristen duniawi belum tentu selalu mengejar kekayaan dan ketenaran, atau selalu hidup dalam kebebasan seks, narkoba, dan pesta pora. Tetapi, mereka adalah orang Kristen yang tidak mempunyai minat atau semangat untuk berubah menjadi dewasa dalam iman. Paulus dalam ayat 1 Korintus 2: 13-14 berusaha untuk menjelaskan pentingnya hidup dalam kerohanian yang baik, dan ia berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepadanya oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Sayang, orang Kristen duniawi tidak dapat menerima nasihat Paulus.

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 13-14

Apakah ada orang Kristen duniawi yang tidak diselamatkan? Hanya Tuhan yang tahu. Pada pihak lain, adanya keinginan untuk taat dan beberapa perbuatan baik akan membuktikan bahwa orang Kristen bertumbuh dalam imannya. Itu berarti bahwa ketika kita tumbuh menjadi dewasa, kemenangan atas dosa yang telah dimenangkan Kristus bagi kita akan semakin nyata dalam hidup kita melalui semakin banyak kemenangan Roh atas kedagingan kita dalam hidup sehari-hari.

Hari ini, biarlah kita sadar bahwa pertumbuhan kedewasaan iman harus dinyatakan dalam hidup dalam ketaatan yang main lama makin besar kepada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Itulah tanda orang Kristen sejati!

Keyakinan kita bisa keliru

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Orang Kristen mungkin tidak setuju tentang apa yang merupakan perikop paling menakutkan dalam Alkitab. Tetapi sebagian besar akan setuju bahwa kata-kata penutup Yesus dalam Khotbah di Bukit yang tertera di atas termasuk peringkat tinggi dalam urutan ayat Alkitab yang paling menakutkan. Mengapa begitu?

Sangat menakutkan untuk berpikir tentang neraka. Tentu lebih menakutkan untuk mengetahui bahwa kita akan masuk ke neraka ketika kita mengira akan pergi ke surga. Dan lebih menakutkan lagi untuk berpikir bahwa tidak hanya sedikit, tetapi “banyak” orang yang akan mengalami hal ini. Bagaimana dengan suami atau istri kita? Bagaimana pula dengan anak cucu kita? Jika kita tidak bisa menyelamatkan diri kita, adakah yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka?

Beberapa orang mengira mereka orang Kristen karena mereka menyebut Yesus “Tuhan, Tuhan” mereka bahkan melakukan perbuatan-perbuatan besar atas nama-Nya – namun mereka tidak benar-benar diselamatkan dan tidak pernah diselamatkan. Perbuatan besar ini bukan saja bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mujizat seperti yang sering dilakukan oleh murid-murid Yesus pada saat itu, tetapi juga mencakup aktivitas-aktivitas kerohanian lainnya seperti penginjilan, pengajaran dan pelayanan dalam gereja di zaman ini.

Saat membaca perikop ini, kita mungkin tergoda untuk angkat tangan. Lalu siapa yang tahu apakah ia akan diselamatkan? Ini pasti tampak seperti pertaruhan besar. Atau sebuah nasib yang tidak dapat ditolak. Anda melakukan yang terbaik untuk mengikuti Yesus, tetapi siapa yang tahu apakah Anda akan ditolak Tuhan pada akhirnya? Bukankah Tuhan bisa bertidak semau-Nya dengan kedaulatan-Nya? Tapi itu bukan tujuan Yesus di sini. Dia tidak mencoba membingungkan kita atau menarik jaminan keselamatan kita. Benar, Ia tidak ingin kita tertipu oleh keyakinan kita, tetapi Ia juga tidak ingin kita hidup dalam ketakutan atau ketidakpastian tentang keadaan akhir kita.

Di ayat 21, Yesus menggambarkan orang yang akan memasuki kerajaan sebagai “orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku.” Tapi apa sebenarnya artinya itu? Dilihat dari konteksnya, itu harus berarti lebih dari sekadar mengatakan “Tuhan, Tuhan” dan melakukan pekerjaan besar dalam nama Yesus. Jadi bagaimana kita bisa tahu jika kita sedang melakukan kehendak Bapa? Apa kehendak Bapa yang bisa kita ketahui? Sekalipun kita tahu bahwa kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan ada dalam Alkitab, apakah kita harus melakukannya dengan sempurna?

Untuk melihat jawabannya, kita harus memperhatikan bahwa ini baru kedua kalinya dalam Khotbah di Bukit Yesus berbicara tentang “memasuki kerajaan surga.” Yang lainnya adalah ayat tema Khotbah, Matius 5:20: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Membandingkan kedua perikop ini, kita dapat mengatakan bahwa “melakukan kehendak Bapa” sejajar dengan memiliki kebenaran yang lebih besar. Apa artinya?

Ketika Yesus berkata bahwa kebenaran kita harus melebihi kebenaran orang Farisi, Dia tidak mengatakan “Lakukan apa yang mereka lakukan, hanya lebih baik.” Bukan karena orang Farisi tidak berusaha cukup keras – mereka berusaha sangat keras, tetapi untuk hal-hal yang salah. Mereka kehilangan intinya sama sekali, memusatkan perhatian pada perilaku lahiriah untuk mendapatkan pujian orang sementara lalai untuk melakukan keadilan, mencintai kebaikan, dan berjalan dengan rendah hati di hadapan Allah (Matius 23:23).

Para ahli Taurat dan orang Farisi tidak melakukan kehendak Bapa. Titik. Jika Anda ingin melihat bagaimana mereka memperlakukan perintah Allah, bacalah Matius 5:21-48. Jika Anda ingin melihat bagaimana mereka berpuasa dan berdoa serta memberi sedekah, bacalah Matius 6:1-18. “Kebenaran” mereka bukanlah upaya tulus untuk menyenangkan Tuhan. Itu kemudian dilihat oleh Yesus yang berkata, “Cukup baik, tetapi tidak cukup baik untuk masuk kerajaan.” Itu adalah tumpukan kain kotor yang membanggakan diri (Yesaya 64:6).

Melakukan kehendak Bapa bukan hanya hal lahiriah. Orang-orang Farisi tampak bersih di luar, tetapi mereka kotor dan melanggar hukum di dalam (Matius 23:25-26). Yang Yesus gambarkan di sini adalah kebenaran yang mengalir dari hati yang murni dan iman yang tulus (Matius 5:8; 1 Timotius 1:5). Itu adalah buah-buah yang baik karena tumbuh di pohon yang baik (Matius 7:17). Ini adalah jenis kebenaran yang hanya dapat Anda lakukan ketika Anda telah dilahirkan kembali melalui Roh Allah dan dengan demikian (di satu sisi) sudah memasuki kerajaan (Matius 5:3; Yohanes 3:3, 5).

Yesus tidak menyuruh kita untuk mengungguli orang Farisi, juga tidak mengatakan kita harus melaksanakan Khotbah di Bukit dengan sempurna untuk memastikan kita adalah orang Kristen sejati. Sebaliknya, menurut Khotbah di Bukit, seorang Kristiani sejati adalah seseorang yang terus berdoa, “Bapa, ampunilah kesalahanku” (Matius 6:9–13) . Jika orang Farisi berterima kasih kepada Tuhan karena dia lebih baik dari yang lain, orang Kristen sejati akan berdoa, “Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa ini” (Lukas 18:9–14).

Yesus tidak menyuruh kita untuk mengungguli orang Farisi, juga tidak mengatakan kita harus menjaga Khotbah di Bukit dengan sempurna untuk memastikan kita adalah orang Kristen sejati. Jalan yang sempit adalah untuk orang-orang yang miskin dalam roh, yang meratapi dosa mereka, dan yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:3–6; 7:13–14). Orang-orang itu akan dipuaskan, baik sekarang maupun nanti ketika Yesus menyelesaikan kerajaan-Nya.

Perlu dicatat bahwa berdasarkan ayat di atas, melakukan kehendak Bapa, jika ada kemauan, bukanlah standar yang mustahil. Itu bisa menggambarkan keadaan kita, dan Anda tahu itu bisa menggambarkan Anda. Dan jika Anda seorang Kristen sejati, itu akan menggambarkan Anda yang tidak sempurna, tetapi yang semakin lama akan semakin meningkat. Bagi orang Kristen sejati, pertanyaannya bukanlah “Apakah saya sempurna?” (sebab pengakuan kebenaran Kristus telah memenuhi kebutuhan itu), tetapi “Apakah saya mengenal Yesus?” Atau lebih baik lagi, “Apakah Yesus mengenal saya sebagai hamba-Nya?”

Banyak orang Kristen yang membaca ayat 23menafsirkan seolah-olah Yesus berkata, “Pergilah dari-Ku, karena kamu tidak pernah mengenal Aku” (yaitu, kamu tidak pernah benar-benar diselamatkan). Itu ada benarnya, tetapi sebenarnya bukan itu yang dikatakan ayat itu. Sebaliknya Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenalmu.” Ini sebenarnya bukan pertanyaan apakah kita mengenalnya, tetapi apakah Dia mengenal kita.

Apakah Dia mengenal Anda? Apakah Anda tipe orang Kristen yang akan ditemui Yesus sebagai hamba-Nya yang luar biasa di hari terakhir? Saya bertanya, tetapi sebenarnya akan ada orang yang sempurna seperti itu. Tetapi, kita tidak harus hidup dalam teror menjelang hari terakhir. Sebaliknya, kita bisa mempersiapkannya. Karena bagi mereka yang dikenal Yesus, hari terakhir tidak akan menjadi masalah. Itu hanya akan menjadi kelanjutan yang lebih tinggi dari hubungan yang sudah kita nikmati dengan-Nya sekarang, dengan iman. Pada hari itu, kita akan menerima kebahagiaan yang lebih besar di surga seiring dengan kesetiaan kita kepada-Nya.

Hari ini, marilah kita periksa diri kita dengan menanyai diri kita sendiri tidak hanya dengan pertanyaan “Apakah saya mengenal Yesus?” tetapi lebih penting lagi dengan pertanyaan “Apakah Yesus mengenal saya?” Marilah hidup sedemikian rupa sehingga Dia memanggil kita hamba-Nya yang baik setia pada hari itu.

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Matius 25:23

Untuk mana, kita akan menjawab:

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

(Disadur secara bebas dari tulisan di website Reformed “How to Survive the Scariest Passage in the Bible”, Jutin Dillehay, The Gospel Coalition)

Dari tidak layak menjadi layak

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Lukas 15: 21-22

Jika Anda adalah orang Kristen, apakah anda yakin bahwa Anda sudah diselamatkan oleh darah Yesus? Jika ya, dapatkah Anda menunjukkan buktinya?

Banyak orang Kristen yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan ini, sekalipun mereka sudah lama rajin ke gereja. Sebagian di antara mereka merasa bahwa keselamatan pasti terjamin karena mereka sudah mengikuti sakaramen gereja: baptisan dan perjamuan kudus. Sebagian lagi merasa hidup mereka sudah diubah Yesus, dari yang kacau berantakan, menjadi hidup yang tenang dan penuh sukacita. Tetapi, jika mereka diminta untuk menunjukkan bukti nyata, hampir semua tidak akan bisa memperlihatkannya. Memang keselamatan adalah sesuatu yang harus diimani, dan iman adalah percaya akan hal-hal yang tidak/belum kelihatan. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa keselamatan adalah bukan usaha manusia, tetapi adalah semata-mata karunia Tuhan.

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Roma 3: 23-24

Walaupun demikian, sebagian orang Kristen yang beriman tetap saja merasakan keraguan apakah mereka benar-benar sudah dipilih Tuhan untuk menerima keselamatan. Itu mungkin karena mereka sangat menekankan kedaulatan Tuhan. Mereka percaya Tuhan memilih manusia untuk diselamatkan tanpa memakai kriteria apa-apa. Tuhan memilih manusia sesuai dengan kehendak-Nya yang tidak dipengaruhi oleh cara hidup seseorang atau keadaan dunia. Ini tentunya kurang benar karena Tuhan adalah Oknum yang mahatahu dan mahabijaksana dan bukan Tuhan yang bekerja secara sembarangan.

Adalah menyedihkan jika orang Kristen tidak yakin akan keselamatannya karena merasa bahwa Tuhan yang berdaulatlah yang menentukan nasib mereka sebelum dunia dijadikan. Nasib yang tidak bisa diubah. Jika mereka ingin diselamatkan tetapi Tuhan sudah menetapkan mereka untuk ke neraka, apa yang dapat mereka lakukan? Mereka hanya tanah yang bergantung pada nasib yang ditentukan si penjunan. Karena itu, banyak orang Kristen yang sedemikian menjadi kurang bersemangat untuk berubah dalam cara hidup mereka. Apa pun kebaikan yang mereka perbuat, tidaklah akan diperhitungkan Tuhan dalam mengambil keputusan. Lalu buat apa mereka harus berusaha untuk hidup baik, untuk menjadi orang yang layak di hadapan Tuhan?

Ayat di atas adalah bagian dari perumpamaan tentang anak yang hilang. Kisah yang sangat terkenal yang menggambarkan pemberontakan manusia dan kasih Allah. Anak yang hilang melambangkan manusia berdosa yang ingin hidup dengan menggunakan kebebasannya. Sebagian orang Kristen menolak adanya kemampuan memilih karena percaya bahwa semua sudah ditetapkan Tuhan dari awalnya. Ini tidak benar. Manusia dari awalnya sudah diberi kemampuan untuk memilih. Tetapi kebebasan manusia tanpa bimbingan Tuhan tidak akan membawa manusia ke jalan yang baik. Manusia tidak dapat memilih untuk hidup baik, hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, tanpa adanya kasih, bimbingan,dan pernyataan Tuhan.

Anak yang hilang adalah manusia yang mengabaikan kasih, bimbingan dan pernyataan bapanya. Ia menggunakan kebebasannya dan merasakan akibatnya. Ia kemudian menyesal dan ingin kembali ke rumah bapanya. Mengapa demikian? Karena ia sadar bahwa kenyataan hidup di rumah bapanya menunjukkan adanya sukacita dan kasih yang berasal dari bapanya. Sekalipun ia sekarang merasa tidak layak untuk disebut anak bapanya, ia mengaku dosanya dan bertobat memohon belas kasihan bapanya. Sang bapa yang melihat hal itu, kemudian mengampuni anaknya dan mengembalikan statusnya. Sang anak yang tidak layak menjadi anak bapanya, kemudian dilayakkan bukan karena perbuatan baik anaknya tetapi karena adanya hati yang hancur dan pertobatan anaknya.

Seperti perumpamaan di atas, Tuhan dengan kasih-Nya akan menyambut mereka yang sudah hilang dan tersesat. Ia tahu bahwa mereka yang mau disadarkan bahwa Tuhan adalah Allah yang mahakasih, akan mau datang kepada-Nya untuk mengaku dosanya dan bertobat. Ini adalah syarat keselamatan yang datang dari Tuhan yang tidak dapat diganti dengan usaha manusia. Inilah kriteria Tuhan dalam memberikan keselamatan kepada manusia. Tuhan tidak akan memberikan keselamatan kepada mereka yang tidak mau menyadari kemahasucian Tuhan dan tidak mau bertobat dari dosanya.

“Oleh karena itu sadarlah, dan bertobatlah, supaya dosa-dosamu dihapuskan.” Kisah Para Rasul 3:19

Mereka yang sudah diterima Tuhan sebagai anak-Nya, adalah manusia yang sudah dilayakkan. Apapun dan bagaimana pun dosanya, itu akan dihapuskan oleh Tuhan:

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1:18

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu meragukan kasih Tuhan yang menyelamatkan. Tuhan tidak menyelamatkan manusia secara acak, rencan keselamatan-Nya adalah rencana yang sistimatik dan sempurna. Tuhan sudah memberikan bimbingan Roh Kudus-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Dengan demikian, mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak dapat menyadari kasih-Nya yang sangat besar, yang menantikan anak yang hilang seperi kita, untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka yang mau bertobat akan menerima pengampunan dosa dan dilayakkan menjadi anak-anak-Nya. Itu berarti jika kita yakin sudah diselanatkan, kita pasti akan mau menempuh hidup baru yang berpadan dengan panggilan Tuhan.

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Efesus 4: 1

Jika Tuhan bekerja dalam hidup kita, kita akan mengerti kehendak-Nya dan menjawab “ya”

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Sahut Filipus: ”Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: ”Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Kisah Para Rasul 8: 36-38

Alkisah ada seorang penatua gereja yang bernama Filipus (bukan Filipus yang murid Yesus). Ketika ia sedang tidur, seorang malaikat Tuhan membangunkannya dan menyuruhnya untuk pergi ke jalan yang sunyi dari Yerusalem ke Gaza. Pada saat itu seorang sida-sida Etiopia sedang bepergian ke Yerusalem untuk beribadah, dan ia duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

Roh Tuhan kemudian menyuruh Filipus untuk mendekati kereta itu dan menyapa sida-sida itu. Setelah Filipus menjelaskan arti pengurbanan Kristus yang disebutkan dalam kitab Yesaya, sida-sida itu kemudian minta agar ia dibaptis. Sebuah akhir cerita yang indah. Happy ending. Sida-sida itu memperoleh keselamatan karena inisiatif Tuhan yang menyuruh Filipus untuk memberi bimbingan dan karena Filipus menaati perintah Tuhan.

Kisah nyata sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 8: 26 – 40 itu mungkin sudah pernah kita baca berulang kali. Namun mungkin kita kurang memperhatikan bahwa ini adalah salah satu contoh bagaimana jika Tuhan bekerja dalam hidup kita, kita akan mengerti kehendak-Nya dan tunduk kepada atas perintah-Nya. Ini juga contoh bagaimana Tuhan secara sistimatis bekerja membawa umat manusia kepada keselamatan melalui cara yang dipilih-Nya sehingga mereka percaya.

Seperti sida-sida itu, ada banyak orang yang berusaha sendiri untuk mengenal Tuhan. Memang Tuhan dari awalnya menciptakan segala sesuatu di bumi yang membuat setiap orang mau tidak mau mengakui adanya “sesuatu” dibalik semuanya. Tuhan juga membuat manusia mempunyai kerinduan untuk mencari tahu siapakah Tuhan itu. Tetapi tanpa bimbingan dari Tuhan sendiri, pengenalan yang penuh tidak terjadi. Tanpa penyerahan kepada kedaulatan Tuhan, secara alami manusia akan menngunakan kebebasannya untuk melakukan apa yang jahat. Karena itu, ada banyak “orang baik” yang kemudian menjadi “orang jahat” karena mereka tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Tetapi, sebenarnya semua orang yang belum mengenal Kristus adalah orang yang jahat bagi Tuhan.

Bagaimana Tuhan bisa membuat manusia bisa mengenal Tuhan jika manusia tidak mampu untuk menyelami kebesaran-Nya? Bagaimana Tuhan bisa menundukkan orang yang jahat, yang tidak mau mengenal Dia? Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih bisa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya agar orang itu dapat dibimbing dan disadarkan dan kemudian menerima Dia pada saat yang tepat. Tuhan memiliki banyak cara untuk bisa menarik orang kepada-Nya, untuk menyadari dosanya dan kemudian bertobat. Itu terjadi melalui kesadaran manusia dalam bimbingan Roh Kudus, dan bukan karena paksaan Tuhan.

Tidak semua orang benar-benar mengenal Tuhan, dan bahkan sebagian orang Kristen hanya mengaku adanya Tuhan karena tradisi dan kebiasaan. Ada banyak orang Kristen yang tidak mengerti pentingnya penebusan darah Kristus. Dan masih banyak orang Kristen yang percaya bahwa bisa memperoleh keselamatan dengan berbuat baik. Selain itu, ada orang yang berusaha mengenal Tuhan dengan rajin mempelajari teologi yang dianggap sebagai cara pengenalan yang benar akan Tuhan. Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa tanpa pertobatan, pengampunan tidak akan diberikan Tuhan:

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9 TB

Pagi ini kita membaca bahwa sida-sida Etiopia itu saat itu sedang bepergian ke Yerusalem untuk beribadah, dan ia duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. Sida-sida itu mirip seperti orang yang pernah pergi ke gereja dan sesekali membaca Alkitab. Tetapi karena pengertian yang benar belum ada, sida-sida itu belum mengenal Yesus sebagai Juruselamat-Nya. Sida-sida itu bukanlah orang bodoh, tetapi orang sepandai apa pun tidak akan celik mata rohaninya tanpa pertolongan Tuhan.

Akankah Tuhan berdiam diri melihat manusia yang ingin mengenal-Nya? Tentu tidak!Tuhan mau dan mampu membuka jalan. Bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya, Tuhan akan memberi penyataan-Nya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Bagaimana cara Tuhan menyatakan diri-Nya? Ia dapat melakukannya dengan berbagai cara. Terkadang Tuhan menyatakan diri-Nya melalui bisikan Roh, atau juga dengan memberi manusia pengalaman tertentu, dan juga melalui firman-Nya. Tetapi, Ia juga bisa menggunakan orang lain untuk memberi bimbingan dan nasihat yang memberi pencerahan tentang firman-Nya sehingga mereka mau mengikut Dia.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan mampu membuat kita benar-benar menjadi umat-Nya. Mungkin kita sudah lama mengenal nama Yesus, dan mungkin kita sudah banyak belajar tentang doktrin Kristen, tetapi itu bukan berarti bahwa kita mengerti siapa Dia, orang yang mengenal Dia adalah orang yang sudah menerima Roh Kudus, mengerti akan firman-Nya dan mau melakukannya. Seperti sida-sida itu, biarlah kita mau membuka diri kita agar Roh Kudus terus membimbing kita kearah hidup yang benar dalam Kristus. Dan bagi kita yang sudah benar-benar mengenal Kristus, panggilan Tuhan untuk membimbing orang lain ke arah iman yang benar haruslah kita jawab dengan “ya”, dengan keyakinan bahwa itu adalah bagian dari rencana agung-Nya.

The relationship between personal sin and corporate sin


“Since we have many witnesses, like a cloud that surrounds us, let us put off all the burdens and sins that so hinder us, and run with diligence the race that is laid down for us. Let us do this with our eyes fixed on Jesus, who leads us in faith, and brings our faith to perfection, who, ignoring humiliation, endures the cross for the joy that is reserved for Him, who is now seated at the right hand of the throne of God.” Hebrews 12:1-2

The writer of Hebrews in the verse above exhorts us to put aside every burden, and sin that so hinders us, so that we can run with perseverance the race that is required for us. A biblical understanding of the doctrine of sin is important for believers who want a growing and vibrant life in Christ. The gravity and severity of sin’s consequences are not overlooked in Scripture and therefore should not be glossed over in theological terms.

Sin in general can be divided into two types. Personal or individual sin, and corporate sin. According to the dictionary, the word corporate is defined as “having or relating to a corporation or legal entity”. Thus, this term can be used for official organizations based on law, such as church and state. These two sins are different in terms of responsibility but influence each other. Our understanding of corporate sin, then, must merge with an awareness of our own sin to have a complete doctrine of sin. The Christian doctrine of sin should help us understand the nature of social or societal existence.

Before addressing the topic of personal sin and corporate sin, we must first identify what sin is. Renowned theologian Cornelius Plantinga defined sin as “any act — any thought, desire, emotion, word, or deed — or lack thereof, that displeases God and is blameworthy. Sin is a personal insult and guilt against a personal God.” To clarify this point, Plantinga goes on to explain that all sins are wrong in the eyes of the most holy God. However, what the government considers wrong is not necessarily a sin in God’s eyes. Certain forms of civil disobedience, for example, may violate government laws, not necessarily God’s laws.

Specifically, the Bible refers to sin in many ways including the following: murder, adultery, idolatry, greed, fornication, slander, envy, fornication, anger, deceit, debauchery, envy, quarrelling, uncleanness, lust, pride, drunkenness, and evil desires. All this is easy to understand. However, the idea of sin as a spiritual force, an inherent condition, a controlling power, is for the most part not easy for humans to understand.

“But what comes out of the mouth comes from the heart and that is what defiles a person. For out of the heart come all evil thoughts, murder, adultery, fornication, theft, perjury and slander.” Matthew 15:18-19

Corporate sin is defined as sin committed on a larger scale than community or societal sin. These corporate sins are characteristic sins of a group and are committed as a whole and common and even legitimate. In general, we do not know to what extent corporate criminals are the root cause of their crimes and to what extent they have fallen into the traps set by others. Only God knows the human heart. Only God knows how much corporate crime is passed on to us as personal sins.

The Old Testament clearly states that individuals are guilty of their own sins. Deuteronomy 24:16 states that “Fathers shall not be put to death because of their children, nor should children be put to death because of their fathers; everyone must be put to death for his own sins.” However, the consequences of one’s personal sins can be detrimental to children and future generations.

“You shall not worship or serve him, for I, the LORD your God, am a jealous God, who repays the iniquity of fathers to their children to the third and fourth generations of those who hate me” Exodus 20: 5

This can be seen in the life of King David where his sin with Bathsheba was felt in the lives of his children. The results and consequences of one’s sin have deep repercussions on one’s family, which is often the focus of modern counselling. But awareness of these consequences does not necessarily make someone feel guilty.

Leaders of groups, cities, nations, and churches are often seen as representatives of the whole. Leviticus 4:15 instructs elders to represent corporate bodies in offerings for group sins. For a leader to act in such a way, he must realize that the cumulative and corporate sins of the city will be dealt with corporately by the wrath of God. We can read about God’s wrath against a people or a city because of their communal sins in the Bible, like what He did to cities like Sodom and Gomorrah (Genesis 19).

The corporate sins of the Israelites are quite numerous in the Old Testament. An example of such corporate sin can be seen in Israel’s blatant sin of idolatry in Exodus 32-33 which was a violation of the second commandment given shortly before in Exodus 20:14. Israel was also rebuked (and exiled) for their disobedience to the command in Leviticus 25:2-8 to rest on the Sabbath. Israel and the surrounding nations often chose certain idols through corporate means. Israel was often warned and rebuked for choosing to serve the gods of the Canaanites.

Because corporate sin exists and is prevalent in structures ranging from church to state, questions arise about the causes of and responsibility for this corporate sin. We have seen from Scripture that corporate sins are separable and distinct from individual sins (Leviticus 4:13). The implication of this is that if a nation, city, or church sins as a whole, they need to confess their sin and repent as a whole. However, when a sin is seen only in a corporate sense (because many other people do), we ignore our individuality and tarnish our responsible relationship with God and fellow human beings.

How is the relationship between individual sin and group sin? Throughout the New Testament, our salvation is explicitly stated in individual terms. Our decision to accept Christ is an individual decision and not based on the individual decisions of those around us. However, it is important to realize that our personal sins and mistakes can affect those around us. The New Testament acknowledges this just as much as the Old Testament and shows the relationship between the church and its leaders. James 3:1 stated that those in the church who teach the congregation must be aware that their actions and the exposure of the Scriptures will result in harsher punishments for them. Paul echoes this thought and writes,

“Watch over yourselves and watch over your teachings. Persevere in all this, for by doing so you will save yourself and all who hear you.” 1 Timothy 4:16

Today, we must recognize that corporate sin is just as serious as personal sin. What is legally permitted in the country and what is preached or taught in our churches does not mean that we automatically believe and do it without studying what God really wants in the Bible. Our disregard for our responsibility in terms of being affected by corporate sin, and in terms of influencing corporate sin is sin. Therefore, we need to confess our sins and repent from them, while realizing that if we engage in corporate sin, it will affect our personal relationship with God and will also affect other people’s relationships with God.

Hubungan dosa pribadi dan dosa korporat

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:1-2

Penulis Ibrani dalam ayat di atas menasihati kita untuk mengesampingkan setiap beban, dan dosa yang begitu merintangi kita, agar kita dapat berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Pemahaman alkitabiah tentang doktrin dosa penting bagi orang percaya yang menginginkan kehidupan yang bertumbuh dan bersemangat di dalam Kristus. Berat dan parahnya akibat dosa tidak diabaikan dalam Alkitab dan karena itu tidak boleh ditutup-tutupi dengan istilah teologis.

Dosa secara umum dapat dibagi dalam dua jenis. Dosa pribadi atau perorangan, dan dosa korporat. Menurut kamus, kata korporat diartikan sebagai “bersifat atau berkaitan dengan korporasi atau badan hukum”. Dengan demikian, istilah ini bisa dipakai untuk organisasi resmi yang berlandaskan hukum, seperti gereja dan negara. Kedua dosa ini adalah berbeda dalam hal tanggung jawab, tetapi saling mempengaruhi. Pemahaman kita tentang dosa korporat, dengan demikian, harus menyatu dengan kesadaran akan dosa kita sendiri agar memiliki doktrin dosa yang lengkap. Doktrin Kristen tentang dosa harus membantu kita memahami sifat keberadaan sosial atau masyarakat.

Sebelum membahas topik dosa pribadi dan dosa korporat, pertama-tama kita harus mengidentifikasi apa itu dosa. Teolog terkenal Cornelius Plantinga mendefinisikan dosa sebagai “tindakan apa pun — pikiran, keinginan, emosi, perkataan, atau perbuatan apa pun – atau ketiadaannya, yang tidak menyenangkan Allah dan patut disalahkan. Dosa adalah penghinaan pribadi dan bersalah terhadap Allah pribadi.” Untuk mengklarifikasi hal ini, Plantinga selanjutnya menjelaskan bahwa semua dosa adalah salah di mata Tuhan yang mahasuci. Walaupun demikian, apa yang dianggap salah oleh pemerintah belum tentu adalah dosa di mata Tuhan, Bentuk-bentuk pembangkangan sipil tertentu misalnya mungkin melanggar hukum pemerintah, belum tentu melanggar hukum Tuhan.

Secara khusus, Alkitab mengacu pada dosa dalam banyak cara termasuk yang berikut: pembunuhan, perzinahan, penyembahan berhala, keserakahan, percabulan, fitnah, iri hati, percabulan, kemarahan, penipuan, pesta pora, kedengkian, pertengkaran, kenajisan, nafsu, kesombongan, kemabukan, dan keinginan jahat. Semua ini mudah dimengerti. Tetapi, gagasan tentang dosa sebagai kekuatan rohani, kondisi yang melekat, kekuatan yang mengendalikan, sebagian besar tidak gampang dipahami manusia.

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15:18-19

Dosa korporat didefinisikan sebagai dosa yang dilakukan dalam skala yang lebih besar jika dibandingkan dengan dosa komunitas atau dosa masyarakat. Dosa-dosa korporat ini adalah dosa-dosa karakteristik suatu kelompok, dan dilakukan secara keseluruhan dan umum dan bahkan legit. Secara umum, kita tidak tahu sejauh mana pelaku kejahatan korporat menjadi penyebab utama kejahatan mereka dan sejauh mana mereka telah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh orang lain. Hanya Tuhan yang tahu isi hati manusia. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak kejahatan korporat yang dibebankan kepada kita sebagai dosa pribadi.

Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan bahwa individu bersalah atas dosa mereka sendiri. Ulangan 24:16 menyatakan bahwa “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.” Namun, konsekuensi dari dosa-dosa pribadi seseorang dapat merusak anak-anak dan generasi selanjutnya.

“Janganlah kamu menyembah atau beribadah kepadanya sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan ayah kepada anak-anaknya sampai keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” Keluaran 20: 5

Hal ini terlihat dalam kehidupan raja Daud dimana dosanya dengan Batsyeba dirasakan dalam kehidupan anak-anaknya. Hasil dan konsekuensi dari dosa seseorang berdampak jauh ke dalam keluarga seseorang, yang seringkali menjadi fokus konseling modern. Namun kesadaran tentang konsekuensi ini belum tentu membuat seseorang merasa bersalah.

Pemimpin kelompok, kota, bangsa dan gereja sering dipandang sebagai wakil dari keseluruhan. Imamat 4:15 menginstruksikan para penatua untuk mewakili badan hukum dalam persembahan untuk dosa-dosa kelompok. Bagi seorang pemimpin untuk bertindak sedemikian rupa, iaa harus menyadari bahwa dosa-dosa kumulatif dan korporat kota itu akan ditangani secara korporat oleh murka Allah. Murka Allah atas suatu kaum atau suatu kota karena dosa-dosa komunal mereka bisa kita baca dalam Alkitab, seperti apa yang telah dilakukan-Nya atas kota-kota seperti Sodom dan Gomora (Kejadian 19).

Dosa korporat bangsa Israel memang cukup banyak di Perjanjian Lama. Contoh dosa korporat seperti itu dapat dilihat dalam dosa penyembahan berhala Israel yang terang-terangan dalam Keluaran 32-33 yang merupakan pelanggaran terhadap hukum kedua yang diberikan tidak lama sebelumnya dalam Keluaran 20:14. Israel juga ditegur (dan diasingkan) karena ketidaktaatan mereka terhadap perintah dalam Imamat 25:2-8 untuk beristirahat pada hari Sabat. Israel dan bangsa-bangsa sekitarnya sering memilih berhala tertentu melalui cara korporat. Israel sering diperingatkan dan ditegur karena memilih untuk melayani dewa-dewa orang Kanaan.

Karena dosa korporat memang ada dan lazim dalam struktur mulai dari gereja hingga negara, muncul pertanyaan tentang penyebab dan tanggung jawab atas dosa korporat ini. Kita telah melihat dari Alkitab bahwa dosa bersama dapat dipisahkan dan berbeda dari dosa individu (Imamat 4:13). Implikasi dari hal ini adalah bahwa jika suatu bangsa, kota atau gereja melakukan dosa secara keseluruhan, mereka perlu mengakui dosa mereka dan bertobat secara keseluruhan. Namun, jika suatu dosa hanya dilihat dalam pengertian korporat (karena banyak orang lain yang melakukannya), kita mengabaikan individualitas kita dan menodai hubungan tanggung jawab kita dengan Allah dan sesama manusia.

Bagaimana hubungan dosa individu dengan dosa kelompok? Di sepanjang Perjanjian Baru, keselamatan kita secara eksplisit dinyatakan dalam istilah-istilah individual. Keputusan kita untuk menerima Kristus adalah keputusan individu dan bukan berdasarkan keputusan individu orang-orang di sekitar kita. Namun, adalah penting untuk disadari bahwa dosa dan kekeliruan pribadi kita bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Perjanjian Baru mengakui hal ini sama seperti Perjanjian Lama dan menunjukkan hubungan antara gereja dan para pemimpinnya. Yakobus 3:1 menyatakan bahwa orang-orang di dalam gereja yang mengajar jemaat harus sadar bahwa tindakan mereka dan pemaparan Kitab Suci akan menimbulkan hukuman yang lebih keras atas mereka. Paulus menggemakan pemikiran ini ddan menulis,

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” . 1 Timotius 4:16

Hari ini, kita harus mengakui bahwa dosa korporat sama seriusnya dengan dosa pribadi. Apa yang diizinkan secara legit di negara dan apa yang dikhotbahkan atau diajarkan di gereja kita bukan berarti bahwa kita secara otomatis mempercayai dan melaksanakannya tanpa mempelajari apa sebenarnya dikehendaki Tuhan dalam Alkitab. Ketidakpedulian kita akan tanggung jawab kita dalam hal dipengaruhi oleh dosa korporat, dan dalam hal mempengaruhi dosa korporat adalah dosa. Karena itu, kita perlu mengakui dosa kita dan bertobat darinya, sambil menyadari bahwa jika kita terlibat dalam dosa bersama, itu akan mempengaruhi hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan juga akan mempengaruhi hubungan orang lain dengan Tuhan.