Tuhan mengawasi jalan yang kita pilih

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Amsal 5: 21

Benarkah bahwa Tuhan tahu apa pun yang kita lakukan dan alami? Benarkah Ia mengawasi tindak tanduk setiap manusia? Kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan dan tidak tahu pasti apa yang dilakukan-Nya setiap saat. Walaupun demikian ayat di atas menunjukkan bahwa Ia tahu segala apa yang dilakukan setiap orang. Tuhan memang mahatahu (omniscience).

Tuhan memang harus mahatahu untuk bisa menjadi Tuhan yang mahakuasa. Tetapi bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang aneh, suatu paradox. Jika Tuhan mahatahu, mengapa Ia sering melakukan atau membiarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia? Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak melakukan apa yang perlu untuk mengatasi kejahatan atau keburukan yang jelas terlihat?

Mereka yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan tidak menyadari bahwa Ia mahatahu dan mahakuasa. Tuhan bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi pada saat yang dipilih-Nya. Ia tidak memakai cara berpikir manusia untuk bertindak, Ia tidak juga menentukan saat bertindak menurut perhitungan manusia, dan Ia tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk bertindak. Tuhan tidak pernah menguatirkan atau terkejut melihat apa yang terjadi karena manusia memilih jalan yang keliru. Sebagai Tuhan, Ia bisa membuat apa yang jahat untuk menjadi apa yang baik, yang sesuai dengan rencana-Nya.

Pada lain pihak, dari awalnya Tuhan memberikan kesempatan dan kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan dalam hidup ini (Kejadian 1: 28). Tetapi, apa pun yang kita lakukan, ke mana pun kita pergi, Ia tahu dan mengawasi. Walaupun demikian, pengawasan-Nya bukanlah berarti bahwa Ia menentukan segala langkah kita; tetapi Ia memberkati semuanya jika kita berjalan menurut kehendak-Nya. Dengan menuruti kehendak-Nya, kita boleh percaya bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan membuktikan bahwa Ia senantiasa menilik hidup kita dengan kasih-Nya.

Pagi ini, jika kita mengharapkan Tuhan untuk bertindak tetapi Tuhan terasa berdiam diri, apakah ada kekecewaan yang timbul? Apakah Ia mahakuasa? Sebaliknya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah Ia mahatahu? Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus bertindak dan mengambil langkah yang baik. Manusia harus berani untuk memikul tanggung jawab atas pilihannya. Dan bagi kita, Tuhan yang mengawasi semua langkah kita adalah Tuhan yang akan menolong kita pada waktunya.

“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Ulangan 28: 6

Hidup ini singkat, tetapi bisa terasa manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat di mana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, orang sering cenderung merasa bahwa hidup ini pahit. Semboyan di atas mengatakan bahwa adalah pilihan kita untuk mengisi hidup kita dengan pikiran dan harapan yang positif agar kita dapat merasakan manisnya hidup ini.

Pada pihak yang lain, hidup manusia menurut pemazmur, adalah singkat saja – seperti rumput atau bunga di padang:

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” Mazmur 103: 15 – 16

Dari umur 80 tahun yang mungkin bisa dicapai manusia, mungkin 20 tahun pertama dan 20 tahun terakhir adalah masa yang mungkin kurang produktif. Dengan demikian, paling banyak hanya separuh umur manusia yang biasanya bisa dipakai untuk berkarya. Kebanyakan orang menggunakan umur produktif itu untuk mencari nafkah dan membina karir dan rumah tangga, dan seusai masa bekerja, hidup yang tersisa mungkin bisa dipakai untuk membantu anak cucu sebelum usia tua. Itulah garis besar hidup manusia yang mirip dengan bunga di padang. Haruskah sedemkian? Adakah cara hidup lain yang lebih baik, yang tidak seperti bunga rumput di padang?

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung kepada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus (Yohanes 2: 1 – 11). Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Jika kita ingin untuk hidup lebih panjang, seperti banyak orang di zaman ini berusaha dengan segala cara, itu pun tidak mengubah hidup kita untuk menjadi lebih manis. Ayat pembukaan di atas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk bisa menggunakan hidup mereka sebaik-baiknya. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menuruti perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini dan bisa membuahkan apa yang manis untuk orang lain.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Ikutilah bimbingan Tuhan

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Kemarin petang saya menonton TV hingga lepas tengah malam. Maklum karena malam tahun baru, saya ingin mengikuti acara menyambut tahun baru yang disiarkan langsung oleh ABC TV dari Sydney. Selain menonton beberapa band dan penyanyi terkenal sejak jam 9 petang, saya bermaksud untuk menonton pesta kembang api yang dikatakan termasuk salah satu yang paling hebat di dunia. Harapan saya tidak mengecewakan karena acara malam tahun baru itu benar-benar meriah,

Selamat Tahun Baru! Tahun yang lama sudah berlalu dan tinggal menjadi kenangan, baik kenangan manis maupun kenangan pahit. Memang hidup manusia itu penuh dinamika, tetapi dalam memasuki tahun baru ini semua orang tentunya berharap agar mereka dapat memperoleh apa yang lebih baik dari tahun yang telah lewat. Satu dengan yang lain orang saling menyampaikan harapan baik untuk masa depan di tahun yang baru sambil berharap agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu.

Tahun yang baru biasanya diisi dengan harapan, tetapi untuk itu orang biasanya perlu untuk membuat rencana untuk berbuat sesuatu dan melaksanakan tindakan yang dibutuhkan. Bagi semua orang, Kristen maupun bukan Kristen, apa saja yang penting untuk dilakukan pada tahun yang baru selalu harus dipikirkan baik-baik. Tetapi ayat di atas menunjukkan bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan apa yang terjadi. Jika demikian, mengapa pula kita harus memikirkan apa yang harus kita lakukan?

Alkitab dalam ayat-ayatnya sering membahas dua posisi manusia. Pada satu posisi, manusia yang adalah makhluk yang dikaruniai kemampuan untuk sepenuhnya bisa mengatur hidup mereka sendiri. Mereka yang berbuat baik ataupun buruk akan mendapat hasilnya. Pada posisi yang lain, manusia adalah makhluk yang harus tunduk kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang sepenuhnya memegang kontrol atas hidup manusia. Manusia merencanakan, berbuat dan memperoleh hasil, baik ataupun tidak baik, hanya jika diizinkan oleh Tuhan. Tanpa izin Tuhan, apa yang direncanakan manusia tidak akan terjadi. Dengan demikian, kita mau menerima kenyataan bahwa tanggung jawab manusia dan kedaulatan Tuhan adalah sebuah paradoks yang ditentukan Tuhan,

Apa pun yang dilakukan manusia, Tuhan bisa memakainya untuk menggenapi rancangan-Nya. Tetapi, apa yang disukai Tuhan sebenarnya adalah kemauan anak-anak Tuhan untuk mengambil inisiatif, membuat rencana-rencana serta menjalankannya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya, yaitu untuk mengasihi dan memuliakan nama Tuhan serta mengasihi sesama manusia, setiap saat dan dalam keadaan apa pun. Di luar kedua hukum kasih ini, apa yang kita perbuat atau tidak perbuat adalah dosa, dan kita sendirilah yang harus bertanggung jawab.

Tuhan yang Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijaksana dan Mahakasih sudah tentu adalah Tuhan yang berdaulat. Ia mempunyai rancangan untuk seisi bumi dan bahkan untuk sejagad raya, yang hanya diketahui diri-Nya sendiri. Semua rancanganNya akan terjadi, terlepas dari apa yang diperbuat manusia. Manusia sering heran melihat apa yang terjadi dalam hidup mereka atau hidup orang lain. Sering kali hal yang buruk terjadi pada orang yang baik, dan hal yang baik terjadi pada mereka yang jahat. Manusia yang pada hakikatnya jahat tidak dapat mengerti apa yang direncanakan Tuhan, tetapi mereka harus sadar bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang kejam dan semena-mena, tetapi adalah Tuhan yang pada hakikatnya adalah Tuhan yang mahakasih.

Pagi ini, dalam menyambut tahun baru, marilah kita mau memikir-mikirkan jalan kehidupan kita agar kita bisa menjalaninya sesuai dengan hukum kasih-Nya. Selain itu biarlah kita juga sadar bahwa Tuhanlah yang akan membimbing kita melewati gunung dan lembah dari tahun 2022 ini.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Amsal 16: 3

Sekalipun ada penderitaan, rencana Tuhan adalah baik untuk umat-Nya

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” Kejadian 50: 20a

Dalam menghadapi setiap kesusahan besar manusia sering mempunyai beberapa pertanyaan:

  1. Mengapa ini harus terjadi?
  2. Mengapa harus aku?
  3. Apakah ini kehendak Tuhan?
  4. Apakah Tuhan mahakuasa?
  5. Apakah Tuhan mahakasih?

Kelima pertanyaan itu adalah logis dan setiap manusia berhak mempertanyakannya. Mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu belum tentu orang yang bukan Kristen, karena orang Kristen pun sering bergulat menghadapi gejolak hidupnya.

Pada saat ini, setiap manusia tentu tahu bahwa bahaya pandemi COVID-19 belumlah hilang. Masih terbayang ketika kita memperoleh berita pertama tentang datangnya pandemi, tetapi pada saat itu tidak seorang pun yang bisa membayangkan bahwa dua tahun kemudian orang masih harus menghadapi masalah yang sama, yang bisa menghancurkan negara mana pun, baik dalam hal kesehatan umum, ekonomi maupun politik.

Apa yang akan terjadi dalam tahun 2022 tidaklah ada orang yang tahu, tetapi efek pandemi ini pasti akan tetap dapat dirasakan untuk waktu yang cukup lama. Karena itu, dalam suasana yang kurang baik ini, setiap orang tentunya mempunyai beberapa  (atau banyak) pertanyaan, seperti yang tertulis di atas. Bagaimana sebagai orang Kristen harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?

Mengapa kekacauan dan bencana ada di dunia? Bagi mereka yang percaya bahwa manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu harus meninggalkan taman Eden, pertanyaan ini mungkin tidak sukar untuk dijawab. Karena Adam dan Hawa sudah jatuh ke dalam dosa, mereka harus meninggalkan tempat yang serba indah dan nyaman dan kemudian mengalami hidup yang penuh derita dan susah-payah (Kejadian 3: 23 – 24). Kita sekarang hidup di dunia yang harus dihadapi dengan perjuangan, dan adanya kelaparan, penyakit, kematian dan malapetaka lainnya adalah suatu yang lumrah. Walaupun demikian, jawaban ini belumlah lengkap.

Ayat di atas adalah ucapan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang menyatakan bahwa mereka ingin menjadi budak Yusuf setelah ayah mereka meninggal dunia. Mereka takut jangan-jangan Yusuf akan melampiaskan rasa dendamnya atas perlakuan mereka terhadap Yusuf sebelum dijual ke tanah Mesir. Tetapi Yusuf menjawab bahwa ia tidak mempunyai rasa dendam karena Tuhan sudah menggunakan apa yang jahat yang diperbuat saudara-saudaranya untuk mencapai rencana-Nya, yaitu untuk membuat mereka menjadi bangsa Israel.

Saudara-saudara Yusuf melakukan apa yang tidak disenangi Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah penyebabnya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi, tetapi bukanlah penyebab semua hal yang terjadi di dunia. Dalam hal ini, Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang memegang kontrol. Tuhan yang mengizinkan terjadinya apa yang buruk di dunia, bisa membuatnya menjadi apa yang baik sesuai dengan rancangan besar-Nya.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah jaminan untuk hidup nyaman dan untuk memperoleh kelimpahan dalam segala sesuatu. Karena itu, banyak orang yang mengajarkan bahwa iman adalah kunci segala kesuksesan baik di bidang jasmani atau pun rohani. Tetapi, thema Alkitab secara keseluruhan bukanlah kesuksesan atau berkat secara jasmani. Firman Tuhan selalu menekankan bahwa berkat yang berbentuk apa pun adalah datang dari Tuhan, tetapi berkat yang paling utama dan yang tidak bisa hilang adalah adanya keselamatan yang abadi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya melalui darah Yesus Kristus. Dengan demikian, jika kita mengalami masalah kehidupan, kita tidak perlu merasa malu. Setiap orang di dunia ini bisa mengalami penderitaan jasmani, tetapi mereka yang berada dalam Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk menghadapinya.

Jika ada masalah yang sangat besar, setiap orang bisa merasa sedih atau terpukul. Selain itu, sering kali muncul pertanyaan apakah semua itu adalah kehendak Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita tidak selalu bisa menjawabnya. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran Tuhan. Walaupun demikian, jika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, itu selalu berakhir dengan kebaikan. Adakalanya Tuhan membiarkan malapetaka terjadi pada suatu bangsa untuk memberi peringatan agar mereka mau mengakui kuasa-Nya.

Tuhan bisa juga membiarkan kita mengalami kesusahan agar kita mau lebih bergantung kepada-Nya. Pengalaman pahit bisa juga membuat masyarakat untuk lebih berhati-hati di masa depan. Dengan demikian, sekalipun Tuhan tidak mendatangkan bencana untuk umat-Nya, Ia yang memegang kontrol atas segala sesuatu terkadang memungkinkan hal yang nampaknya buruk untuk terjadi.

Apakah Tuhan mahakuasa? Di manakah Dia ketika kita mengalami malapetaka? Jeritan dan tangisan ini sering muncul di tengah penderitaan. Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu sudah pasti tetap memegang kemudi kehidupan manusia dan bahkan alam semesta. Tuhan tetap ada dan melihat semuanya terjadi. Tuhan tahu apa yang akan kita lakukan dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Tuhan yang selalu memegang kontrol kehidupan selalu dapat mewujudkan rencananya dalam keadaan apa pun. Dalam hal ini, bagi umat Kristen, adanya iman kepada Tuhan membuat mereka bisa hidup dalam kedamaian bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya.

Apakah Tuhan itu mahakasih? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman. Tetapi jika malapetaka terjadi dan banyak orang sudah menjadi korbannya, termasuk mereka yang beriman, pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Banyak orang Kristen yang kemudian bersandar pada fatalsisme: jika semua itu terjadi, itu adalah kehendak Tuhan dan manusia tidak bisa mengubahnya. Pandangan ini kelihatannya benar, karena siapakah yang dapat melawan kehendak Tuhan? Tetapi pandangan ini juga mudah ditolak, karena siapakah yang tahu dengan pasti apa kehendak Tuhan?

Ayat pembukaan kita menyimpulkan bahwa sekalipun ada hal-hal yang buruk, Tuhan bisa memakainya untuk maksud-Nya yang baik. Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tidak mendatangkan bencana bagi umat-Nya.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Berbeda tapi sama

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Pada saat virus Covid-19 ditemukan di Wuhan dan kemudian menyebar ke banyak negara lain, rasa sentimen yang kurang baik muncul terhadap orang Asia, terutama orang dari China. Media melaporkan adanya orang Asia yang mengalami perundungan atau di bully. Bukan saja mereka dituduh membawa virus ke negara lain, mereka juga diejek dalam hal makanan dan kebiasaan hidup yang dianggap kurang beradab. Bahkan, ada siaran TV dan berbagai media yang menyiarkan komentar pemimpin negara tertentu yang bernada rasis.

Sebelum ada Covid-19, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari sebenarnya sudah sering ada opini yang menyudutkan golongan-golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?

Hal membeda-bedakan manusia tidak dapat dipisahkan dari kenyataan tentang adanya manusia yang berbeda penampilan, kebudayaan, bahasa dan cara hidupnya. Dari manakah asal umat manusia itu dan bagaimana pula mereka bisa menyebar dan menjadi manusia yang kelihatan berbeda adalah hal-hal yang sering dipertanyakan orang sejak dulu.

Bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, ayat di atas tentunya memberi keyakinan bahwa semua umat manusia di dunia ini adalah sebuah ciptaan Tuhan. Dengan berlalunya waktu, perubahan perlahan-lahan terjadi, tetapi semua manusia pada hakikatnya adalah sejenis.

Bagi mereka yang mendalami ilmu genetika, manusia dengan segala bentuk badan, rupa dan warna kulit mereka, tidaklah menyatakan bahwa mereka adalah makhluk yang berlainan. Sebaliknya, manusia berdasarkan genetika adalah makhluk yang homogen dan hampir tidak berbeda. Kebanyakan bukti genetika dan arkeologi menunjuk pada satu tempat di sebelah timur Afrika, dari mana manusia kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Jika satu kelompok manusia merasa lebih baik dari kelompok yang lain, biasanya itu disebabkan oleh ketidaksadaran atau ignorance bahwa semua manusia pada dasarnya berasal dari satu tempat, dan dengan demikian adalah sebangsa. Dengan kehendak Tuhan, manusia kemudian nenyebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, bagi umat Kristen semua manusia dan di mana pun mereka berada adalah ciptaan Tuhan yang sederajat. Lebih dari itu, Tuhan mengasihi setiap orang dan mengurbankan Anak-Nya untuk menebus siapa saja yang percaya tanpa memandang asal usulnya (Yohanes 3: 16), sehingga pada saatnya semua umat-Nya akan dipersatukan di surga.

Adalah suatu hal yang menyedihkan bahwa ada orang-orang yang senang membesar-besarkan perbedaan dan asal usul umat manusia. Bagi umat Kristen, hal yang sedemikian seolah berarti bahwa Tuhan pada awalnya menciptakan manusia yang berbeda jenis dan kelas di berbagai tempat di dunia. Pandangan sedemikian juga membuat seolah Tuhan lebih mengasihi orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu karena mereka lebih baik dari bangsa yang lain. Apalagi, mereka yang merasa bahwa Tuhan sudah memilih mereka sebagai bangsa yang mengenal kebenaran.

Mereka yang merasa bahwa Tuhan sudah menetapkan sebagian umat manusia untuk ke surga, dan sisanya untuk ke neraka, sebenarnya mempunyai keyakinan yang mirip rasisme. Sekalipun mereka yang merasa terpilih mungkin sadar bahwa Tuhan memilih mereka bukan karena lebih baik dari orang lain, mereka hanya mengangkat bahu melihat banyak orang yang nampaknya tidak terpilih untuk diselamatkan. Tuhan sebenarnya menghendaki kita mengasihi seluruh umat manusia dan melakukan hal yang baik sehingga siapa saja yang melihat kebaikan kita kemudian mau memuliakan Tuhan.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan seluruh umat manusia, dan terutama umat Kristen bahwa setiap insan adalah ciptaan Tuhan yang harus menerima perlakuan dan penghargaan yang sama di mana pun mereka berada. Lebih dari itu, sebagai umat Kristen kita terpanggil untuk menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia yang tanpa perkecualian sudah jatuh ke dalam dosa.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Segala sesuatu terjadi dengan seizin Tuhan, tapi belum tentu kehendak-Nya

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50: 20

Ayat di atas adalah ucapan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang menyatakan bahwa mereka ingin menjadi budak Yusuf setelah ayah mereka meninggal dunia. Mereka takut jangan-jangan Yusuf akan melampiaskan rasa dendamnya atas perlakuan mereka terhadap Yusuf sebelum dijual ke tanah Mesir. Tetapi Yusuf menjawab bahwa ia tidak mempunyai rasa dendam karena Tuhan sudah menggunakan apa yang jahat yang diperbuat saudara-saudaranya untuk mencapai rencana-Nya, yaitu untuk membuat mereka menjadi bangsa Israel.

Saudara-saudara Yusuf melakukan apa yang tidak disenangi Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah penyebabnya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi, tetapi bukanlah penyebab semua hal yang terjadi di dunia. Dalam hal ini, Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang memegang kontrol. Tuhan yang mengizinkan terjadinya apa yang buruk di dunia, bisa membuatnya menjadi apa yang baik sesuai dengan rancangan besar-Nya.

Saat ini, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun adalah sesuatu yang sangat jahat. Apa penyebabnya dan siapa yang bertanggung jawab atas munculnya virus corona, belumlah diketahui. Bagaimana cara mengatasi pandemi ini juga belum ditemukan. Hal ini membuat semua orang di dunia ikut prihatin. Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul jika ada hal-hal semacam ini adalah mengapa itu harus terjadi jika Tuhan itu ada. Apakah Tuhan yang membuat malapetaka ini, atau apakah semua itu adalah kehendak-Nya?

Kebanyakan disaster yang terjadi di dunia ini bisa dicari sebabnya. Ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju sehingga kita bisa mengerti mengapa bencana alam, kecelakaan dan berbagai malapetaka bisa terjadi. Kita juga tahu bahwa tidak semua bencana bisa dihindari. Tidak ada bencana yang terjadi tanpa sebab; tetapi, masalahnya adalah mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi. Tuhan yang mahakuasa seharusnya bisa mencegah hal itu. Dengan demikian, ada orang yang beranggapan bahwa terjadinya bencana atau malapetaka membuktikan tidak adanya Tuhan.

Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup yang berat  bisa menimbulkan berbagai keraguan:

  1. Apakah Tuhan itu mahakasih tetapi tidak mahakuasa?
  2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak mahakasih?
  3. Apakah Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih tetapi tidak mahaadil?
  4. Apakah Tuhan sekarang ini sudah mengabaikan ciptaan-Nya?

Karena adanya dosa, dunia yang diciptakan Tuhan sudah menjadi dunia yang harus kita diami dengan menghadapi berbagai masalah. Bencana dan masalah besar sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta dan mungkin juga kesalahan manusia. Tetapi, bagi Tuhan yang mahakasih, penderitaan manusia belum tentu merupakan sesuatu yang dibuat oleh-Nya atau apa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya, jika hidup di dunia masih dapat tetap berjalan dan tidak hancur berantakan, pastilah itu karena adanya pemeliharaan dan kasih Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang selalu menjagai seluruh ciptaan-Nya adalah Tuhan yang hidup, yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kesalahan manusia yang kurang bisa mengantisipasi kemungkinan datangnya hal-hal itu. Dalam dunia manusia bisa memilih prioritas hidup, tetapi mereka yang hidup sesuai dengan kehendak-Nya, akan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi tantangan hidup, baik yang ada sekarang, maupun yang bisa terjadi di masa depan.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai anak-anak-Nya dan tidak mengizinkan malapetaka datang tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Adanya bencana justru seharusnya membuat manusia makin sadar bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana Tuhan sekalipun bencana itu bukan apa yang dikehendaki-Nya.

Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak pernah berubah sifat-Nya. Namun kadangkala Ia mengizinkan kita mendapat pelajaran dari pengalaman kita, barangkali agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinan-Nya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anak-Nya untuk lebih bijaksana dalam hal menggunakan berkat-berkat-Nya yang sudah ada, dan lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Pagi ini, kita tahu mengapa ada bencana di bumi, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang buruk terjadi pada hidup anak-anak-Nya. Jalan pikiran-Nya tidak terjangkau manusia dan rencana-Nya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya, dan maksud Tuhan adalah selalu baik untuk umat-Nya. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Tuhan memberi kekuatan kepada mereka yang berharap

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” Lukas 2: 10

Natal adalah saat di mana orang Kristen memperingati kelahiran Yesus di dunia. Pada umumnya, perayaan Natal dirayakan dalam suasana gembira, dan karena itu banyak orang yang merayakannya sekalipun mereka tidak mengerti makna Natal. Walaupun hari Natal adalah hari raya umum yang paling meriah di negara barat, hari itu bukanlah hari yang paling signifikan untuk orang Kristen. Sebaliknya, hari Paskah, hari kebangkitan Yesus, adalah hari yang paling penting karena tanpa kebangkitan-Nya iman kita akan menjadi sia-sia.

Hari Natal, hari yang kita rayakan dengan sukacita, sebenarnya hari yang berat bagi Maria dan Yusuf. Mereka telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan tidak dapat menemukan tempat penginapan yang layak untuk melahirkan bayi Yesus. Dalam keadaan sedemikian, kita bisa membayangkan bahwa Maria dan Yusuf tentunya merasa sangat lelah. Mereka terpaksa bermalam di sebuah kandang hewan, dan Maria kemudian melahirkan bayi Yesus di sebuah palungan. Semua itu tidak menunjukkan kemewahan yang biasanya kita lihat pada saat kelahiran seorang anak raja.

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Lukas 2: 6 – 7

Seperti Maria dan Yusuf, dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga sering kali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan. Hari demi hari dilewatkan dengan tugas rutin tanpa ada harapan untuk mendapatkan perubahan.

Pada saat Yesus dilahirkan di Betlehem, ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Mereka yang hidup sederhana dan harus bekerja keras untuk menjaga domba-domba mereka agaknya tidak mempunyai masa depan yang cerah. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Kabar gembira ini membuat para gembala menjadi orang pertama yang melihat Yesus sang Penebus yang membebaskan manusia dari kematian.

Kabar baik yang disampaikan malaikat kepada para gembala, membuktikan kasih Tuhan bagi mereka yang sederhana hidupnya, bahkan mereka yang hidup dalam penderitaan dan kekurangan. Yesus datang untuk menyelamatkan mereka yang kekurangan dan tersingkir, untuk orang yang sakit dan merana. Mereka yang hidup menderita justru lebih dapat merasakan besarnya kasih dan kemurahan Tuhan.

Rasul Paulus pernah juga mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasihNya kepada Paulus sudah cukup. Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Pagi ini jika kita bangun dari tidur dan merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi. Apalagi jika penghargaan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini. Tetapi, jika kita mengingat kabar baik yang disampaikan kepada para gembala, dan juga jawaban Tuhan atas permohonan rasul Paulus, biarlah kita juga bisa bersikap seperti mereka yang mengharapkan pertolongan Tuhan, yang percaya bahwa dalam kesulitan, kelelahan dan penderitaan, Tuhan akan menampakkan kuasa-Nya.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Natal bukan saat untuk terlena

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25: 13

Besok pagi adalah hari Natal dan karena itu tidaklah banyak orang yang masih bekerja . Orang mungkin bisa melihat toko-toko dan rumah dihiasi dengan dekorasi Natal, dan mendengar lagu-lagu Natal di radio dan TV. Sejak minggu lalu orang mengucapkan pesan-pesan Natal kepada rekan-rekan yang akan memulai liburan mereka.

Ucapan selamat hari Natal sebelum tibanya hari itu, agaknya janggal di Indonesia. Biasanya, mereka yang hidup di Indonesia mengucapkannya setelah memasuki hari bertanggal 25 Desember. Seperti Tahun Baru. Malahan, sebelum adanya pandemi, beberapa gereja menganjurkan untuk tidak merayakan Natal sebelum tanggal itu.

Hari Natal dipastikan sebagai tanggal 25 Desember, sekalipun Alkitab tidak pernah menyebutkan adanya orang yang merayakan hari yang dianggap hari ulang tahun kelahiran Yesus. Memang tanggal itu hanyalah berdasarkan perkiraan atau rekaan manusia saja.

Hari kelahiran Yesus memang tidak sepenting kelahiran-Nya. Kelahiran Anak Allah adalah lebih penting dari saat dan tempat di mana Ia lahir, karena kelahiran-Nya sebagai manusialah yang memungkinkan Yesus untuk menebus dosa manusia. Manusia tidak dapat mencapai surga, hanya Allah yang bisa mencapai manusia. Dengan demikian, kedatangan Yesus itu sebenarnya harus dirasakan oleh setiap umat Kristen sebagai karunia yang terbesar dalam hidup mereka. Suatu hal yang harus selalu diingat setiap hari.

Apa yang akan terjadi sesudah kelahiran Kristus di Betlehem adalah kedatangan-Nya yang kedua kalinya dengan segala kemegahan-Nya. Kapankah itu akan terjadi? Tidak ada seorang pun yang tahu! Karena itu, kita tidak perlu mereka-reka. Memang banyak orang Kristen yang berusaha untuk menafsirkan apa saja yang terjadi di dunia, guna menebak kapan Yesus datang lagi. Tetapi semua itu adalah sia-sia.

Matius 5: 1 – 12 menggambarkan adanya sepuluh gadis yang menantikan kedatangan pengantin pria. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Hanya mereka yang bijaksana, yang menantikan pengantin pria dengan persiapan yang baik, akhirnya bisa masuk ke ruang pesta kawin. Seperti itulah kita harus selalu berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu akan hari maupun akan saatnya Yesus akan datang lagi.

Adalah baik jika pada hari Natal kita mengingat kasih Allah yang mau mengutus Putra-Nya untuk datang sebagai bayi yang manis di palungan. Tetapi, kita harus ingat bahwa Yesus tidaklah tetap berbentuk bayi yang mungil selama hidup-Nya. Ia tumbuh menjadi Orang yang dikasihi Allah dan kemudian mati untuk ganti kita. Dan karena itu Allah Bapa sangat mengasihi-Nya dan memuliakan Dia. Oleh sebab itu, kita tidak boleh terlena dengan kelahiran Yesus. Yesus yang sekarang adalah Raja kita, akan datang kembali sebagai Hakim dan Pembela kita.

Hari ini kita diingatkan bahwa Natal seharusnya diperingati oleh orang Kristen setiap hari, karena kita harus sadar bahwa Ia yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Ia jugalah yang akan datang lagi sebagai Raja di atas segala raja. Siapkah anda untuk menjumpai Dia?

Pentingnya mengaku dosa

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Apakah semua orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus itu Tuhan akan diselamatkan? Mungkin banyak orang yang mengaku Kristen akan mengiyakan. Tetapi, sebagian orang mungkin merasa ragu-ragu. Bukankah Yesus pernah berkata bahwa tidak semua orang percaya akan keilahian Yesus benar-benar umat-Nya.? Adalah kenyataan bahwa iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19).

Untuk menjadi umat-Nya memang orang tidak cukup untuk percaya, tetapi harus mau hidup dalam terang-Nya karena mereka yang tetap hidup dalam kegelapan dosa bukanlah pengikut-Nya yang sejati. Seorang yang sudah menerima hidup baru adalah ciptaan yang baru, dan dengan bimbingan Roh Kudus akan berubah hidupnya, makin lama makin menyerupai Yesus.

Pengampunan dosa dan hidup baru bukanlah berarti bahwa orang itu akan menjadi orang yang selamanya tidak bisa berbuat dosa. Manusia dalam kodratnya tetap adalah manusia yang selalu cenderung jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan menjadi lebih serius jika orang itu tidak berusaha untuk mawas diri akan apa yang dilakukannya. Karena itu, ada orang Kristen yang tidak menyadari atau tidak peduli akan dosa yang diperbuatnya dalam hidup sehari-hari, dan karena itu tidak tahu pentingnya memohon ampun kepada Tuhan. Sebagian di antara mereka malahan lupa bahwa Tuhan memang mengampuni dosa mereka ketika mereka menyatakan iman pada saat pertobatan, tetapi itu bukan berarti mereka menjadi orang yang tidak bisa berbuat dosa.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum (judisial) menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka dapat melupakan dosa-dosa yang bisa mereka lakukan setelah itu. Ananias dan Safira adalah salah satu contoh di mana umat Tuhan menerima hukuman atas dosa kebohongan yang diperbuat secara sengaja.

Jika mereka yang mengingat-ingat dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan penebusan darah Kristus, mereka yang menganggap bahwa menjadi Kristen adalah kebebasan untuk tetap berbuat dosa adalah orang-orang yang tidak erat hubungannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, mereka yang tetap hidup dalam dosa dan tidak merasakan hal itu, mungkin saja adalah orang-orang yang belum benar-benar menjadi pengikut Kristus.

Ayat di atas menyatakan bahwa mereka yang benar-benar mengikut Kristus sadar bahwa mereka diselamatkan bukan karena usaha sendiri, tetapi semua itu adalah karunia Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil karena Ia menjalankan kasih dan hukum-Nya. Karena itu, mereka selalu berusaha berjalan menurut firman-Nya. Ini tidak mudah karena mereka membutuhkan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk mempunyai hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan.

Ayat di atas bertalian dengan cara bagaimana kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika kita sadar akan dosa kita, kita harus meminta ampun kepada-Nya. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mereka yang tidak sadar akan dosa-dosa yang mereka perbuat akan sulit untuk memohon ampun dengan tulus hati, dan jika mereka melakukannya itu hanyalah omong-kosong saja.

Mungkinkah orang yang benar-benar Kristen untuk tidak menyadari pentingnya membina relasi dengan Tuhan yang mahasuci? Mungkinkah bagi mereka untuk tidak mengerti apa yang Tuhan sukai dan apa yang Ia benci? Mungkinkah orang Kristen untuk tidak menerapkan etika Kristen? Tentunya tidak mungkin, kecuali jika mereka adalah orang belum dilahirkan kembali dan belum menerima pengampunan judisial dari Tuhan.