Apa yang anda lakukan selama menanti?

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 4

Hari Sabtu Suci (juga disebut Sabtu Paskah, Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi (bahasa Latinnya adalah Sabbatum Sanctum yang berarti “Hari Sabat Suci”) berada di antara hari Jumat Agung dan hari Paskah. Hari Sabtu Suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah mati disalibkan pada hari Jumat Agung.

Berbeda dengan hari Jumat Agung dan Hari Paskah, hari Sabtu Suci tidak dirayakan di semua gereja. Khotbah tentang hari Sabtu Suci juga jarang ditemui. Karena itu, mungkin banyak orang Kristen menganggap bahwa hari ini adalah sekedar hari penantian Yesus untuk menuju ke hari Paskah. Benarkah begitu? Alkitab memang tidak begitu jelas menerangkan apa yang Yesus lakukan selama tiga hari di antara kematian dan kebangkitanNya. Namun ada bagian Alkitab yang menyebut bahwan Yesus pergi memberitakan kemenanganNya ke atas malaikat-malaikat yang telah jatuh dan roh orang-orang yang tidak percaya (1 Petrus 3: 19). Jadi, tidaklah benar jika Yesus dikatakan hanya menantikan kebangkitanNya dan tidak berbuat apa-apa selama berada di kubur.

Hidup ini memang sering dibayangkan seperti sebuah perjalanan menuju ke suatu tujuan. Tiap orang yang dilahirkan di dunia ini tentunya mempunyai, atau setidaknya pernah mempunyai tujuan hidup. Untuk mereka yang percaya bahwa hidup di dunia ini adalah satu-satunya kehidupan yang ada, perjalanan hidup itu mudah diterka. Ada yang dari kecil ingin untuk melanglang buana, ada juga yang ingin untuk menjadi orang ternama, dan banyak juga yang ingin untuk menjadi kaya raya. Perjalanan hidup yang mereka lakukan adalah usaha untuk mencapai tujuan hidup itu. Dan setelah itu tercapai, hidup hanyalah untuk melewati hari-hari tanpa tujuan berarti. Sebaliknya, mereka yang gagal untuk mencapai tujuan hidup mereka, rasa bosan, kecewa dan putus asa mudah datang karena penantian yang tidak kunjung berakhir.

Bagi umat Kristen, kebahagiaan duniawi bukanlah tujuan karena mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu hidup bersama Tuhan di surga. Pada hari Jumat Agung dua ribu tahun yang lalu, sebagai manusia Yesus menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia memang berakhir dengan kematian. Tetapi apa yang sudah dilakukanNya selama di dunia bukanlah sia-sia. Dalam perjalanan hidupnya menuju Golgota untuk menebus dosa manusia, Ia memakai hidupNya untuk menolong mereka yang menderita dan mengajarkan jalan kebenaran. Selama di kubur, Ia juga tetap bekerja sehingga semua yang telah diciptakan Tuhan mengakui kuasaNya. Dengan demikian, sesuai dengan ayat pembukaan di atas, kematian Yesus di kayu salib, penguburanNya dan kebangkitanNya pada hari yang ketiga adalah sebuah kesatuan yang menunjukkan kuasa dan kasih Tuhan.

Hari ini marilah kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah perjalanan yang harus kita alami dan bukanlah tujuan hidup. Seperti Yesus, kita harus memakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan, melayani sesama, serta memberitakan injil kebenaran sampai akhir hayat kita. Hidup kita harus juga berangsur-angsur berubah selama dalam perjalanan: mematikan hidup lama yang penuh dosa, untuk menjadi orang yang semakin dekat kepada Tuhan. Dan bila tiba saat kita untuk meninggalkan dunia ini, pada saat itulah kita mencapai tujuan perjalanan hidup kita!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Adakah rasa syukur kita?

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53: 7

Ayat diatas menggambarkan bagaimana seekor domba mengalami penderitaan di tangan manusia. Domba itu dianiaya, tetapi dia tidak membuka mulutnya. Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang tidak dapat bersuara di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia hanya berdiam diri. Apa yang mengherankan ialah domba yang tidak berdaya itu sebenarnya adalah Oknum yang mahakuasa.

Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Anak Allah yang berwujud manusia. Sebagai manusia ia adalah sepenuhnya seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Anak Allah, Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi ia tidak menggunakan kemahakuasaanNya sebagai sesuatu yang menguntungkan diriNya sendiri, tetapi Ia justru merendahkan diri sehingga dapat merasakan segala penderitaan kita. Sebagai Tuhan, Ia sudah membuat berbagai macam mujizat yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa.

Adalah satu hal yang paling menakjubkan yang dapat kita lihat dari Anak Domba Allah ini. Pada hari menjelang penyalibanNya, kita mengenang betapa hebatNya pergumulan Yesus di taman Getsemani. Sang Domba yang tidak bersalah akan menghadapi kematian yang mengerikan, yang seharusnya dialami oleh seluruh umat manusia. KeringatNya mengucur deras seperti darah, dan hatiNya hancur karena Ia menyadari bahwa sebentar lagi murka Allah kepada umat manusia harus ditanggungNya di kayu salib. Pada waktu Yudas datang menjumpai Yesus dan memberi ciuman yang merupakan isyarat agar Yesus ditangkap, tentu Dia merasa sedih bahwa Yudas mengkhianatiNya.

Mengapa Yesus mau berkurban untuk umat manusia? Mengapa Ia yang mahakuasa tidak membuka mulutNya atau melawan mereka yang ingin menyalibkanNya? Mengapa Ia menghadapi kematian di kayu salib dengan kerelaan dan bahkan menyerahkan diriNya sepenuhnya kepada mereka yang ingin membunuhNya?

Sebagai manusia kita tidak dapat membayangkan bahwa semua ini terjadi karena kasih Tuhan yang sangat besar kepada seluruh umat manusia. Tuhan melihat kejatuhan manusia kedalam dosa dan tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk menghindarkan manusia dari hukuman yang sepadan dengan dosanya. Pemberontakan kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci harus diberi hukuman yang setimpal: kematian dalam bentuk yang paling mengerikan.

Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa tahan menghadapi hukuman Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa terlepas dari hukuman kecuali ada orang yang tidak berdosa, yang menggantikan seluruh umat manusia. Tebusan yang sangat besar karena seluruh umat manusia tersangkut didalam dosa kepada Tuhan yang mahasuci hanya bisa dibayar dengan harga tertinggi: Anak TunggalNya.

Hari ini, jika kita merenungkan penderitaan yang sudah dialami Yesus, kita mungkin takjub akan besarnya kasih Tuhan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan dengan kasihNya ingin menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi kita sadar bahwa dengan keadilanNya Ia harus menghukum mereka yang tetap tidak percaya kepada AnakNya. Biarlah kita boleh hidup dalam rasa syukur atas besarnya kemurahan Tuhan kepada kita dan mau membagikan kabar baik ini agar makin banyak orang yang diselamatkan!

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apakah anda seperti Petrus?

Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!” Lukas 22: 57

Beberapa hari lagi, kita akan memperingati hari kematian Yesus, dan tentunya banyak orang Kristen yang membayangkan bagaimana suasana di Yerusalaem pada saat itu. Setelah Yesus ditangkap, Ia dibawa orang ke rumah imam besar. Yesus mungkin masih merasa lelah setelah bergumul dalam doa di taman Getsemani. Jelas penderitaan Yesus saat itu bukan hanya penderitaan jasmani. Yesus tahu bahwa penderitaan yang besar akan dialamiNya. Ia sebagai Anak Allah, juga merasa sedih karena orang-orang yang berseru “Hosana” sewaktu Ia memasuki Yerusalem di atas seekor keledai, sekarang tidak ada yang membelaNya. Yesus juga menderita secara rohani karena pengkhianatan Yudas yang dengan sebuah ciuman, menyerahkan diriNya kepada para orang-orang yang ingin mengadiliNya. Iebih dari itu, Yesus yang seharusnya diadili oleh yang berwenang, ternyata harus menghadapi orang-orang yang penuh rasa benci.

Petrus waktu itu melihat apa yang terjadi dengan rasa kuatir. Ia berusaha membela Yesus dengan memakai sebuah pedang, tetapi Yesus menegurnya. Petrus kemudian menyelundup ke rumah imam besar, tempat berkumpul orang-orang yang menangkap Yesus. Memang, diantara murid-murid Yesus Petrus terlihat sebagai murid yang paling setia. Petruslah yang secara tegas pernah mengakui Yesus sebagai Mesias dari Allah (Matius 16: 16). Tetapi pada malam itu, Petruslah yang menyangkal Yesus tiga kali.

Yesus jelas menyayangi Petrus sebagaimana adanya. Yesus tahu kelemahan Petrus, tetapi Ia dari awalnya meminta Petrus untuk menggembalakan pengikutNya. Yesus pasti tahu bagaimana kualitas iman Petrus yang sekalipun sering terombang ambing, selalu diiringi dengan keinginan untuk menjadi lebih baik.

Pada malam itu, Petrus teringat bahwa Yesus sudah pernah berkata sebelumnya bahwa ia akan menyangkali Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Itu membuatnya sangat menyesal atas apa yang sudah diperbuatnya. Ia menangis dan menyesali perbuatannya. Mungkinkah peristiwa itulah yang membuat Petrus menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir hidupnya?

Berbeda dengan Yudas, penyesalan Petrus bukan atas kesalahannya terhadap orang yang baik hati yang bernama Yesus. Yudas menyesali pengkhianatannya, tetapi tidak sadar bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakasih. Petrus menyesali pengkhianatannya karena Ia sadar bahwa ia menyangkali Yesus, yaitu Mesias yang mengasihinya sejak awal sekalipun ia penuh cacat cela. Yesus yang menantikan setiap orang untuk bertobat dan mengikut Dia.

Seperti Petrus kita juga mempunyai berbagai kelemahan. Kita pun sering kali mengingkari Yesus untuk mengikuti jalan duniawi. Mungkin kita terkadang menyesali perbuatan-perbuatan kita, tetapi jika itu tidak disertai dengan kesadaran bahwa Yesus itu Tuhan yang mahakasih, penyesalan itu tidak bisa membuat kita kembali ke jalan yang benar. Seperti Petrus, kita bisa menjadi orang beriman yang yakin bahwa Yesus adalah Tuhan, dan Mesias yang sudah menebus dosa kita. Seperti apa yang terjadi pada Petrus, Yesus juga bertanya kepada kita apakah kita mengasihi Dia lebih dari siapa pun (Yohanes 21: 15). Dengan demikian, kita sendirilah yang bisa menjawab apakah kita bisa menjadi seperti Petrus yang akhirnya bisa kembali hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16: 18

Mengabdi kepada satu Tuhan

Ada berapakah Tuhan anda? Kebanyakan orang Kristen mengaku hanya mempunyai satu Tuhan. Tetapi. banyak juga orang Kristen yang tidak bisa menjelaskan hubungan antara Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Dalam hal ini, Injil Yohanes 1: 1-14 memberikan sebuah penjelasan.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Ayat di atas sangat menarik karena menyebut tentang:

  • Firman yang ada sejak semula dan bersama-sama dengan Allah.
  • Firman yang adalah Allah yang menciptakan alam semesta.
  • Firman itu sudah datang ke dunia sebagai Terang.
  • Dunia menolak Terang itu, tetapi orang yang menerimaNya dijadikanNya anak-anak Allah.
  • Firman itu adalah Anak Tunggal Bapa yang sudah menjadi manusia.

Dengan demikian, bagi kebanyakan orang yang mengaku Kristen, Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan yang turun ke dunia. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi oknum ilahi yang diutus Tuhan untuk menebus dosa manusia. Bagi mereka, Yesus tidaklah sama dengan Allah, sekalipun Yohanes menulis bahwa Yesus dan Allah adalah satu.

“Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 10: 30

Alkitab menyatakan bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin diselamatkan jika Tuhan sendiri tidak menebus mereka dengan kurban yang sempurna. Tetapi, tidak ada manusia atau oknum ilahi yang sempurna, kecuali Tuhan sendiri. Dengan demikian, Yesus adalah satu-satunya oknum dan Tuhan yang memenuhi syarat kesucian Tuhan dan yang bisa menyuci bersih dosa manusia.

Orang-orang yang menolak kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus sudah ada sejak lama. Memang konsep Allah Tritunggal itu tidak mudah dimengerti dan sering menjadi bahan cemooh kelompok-kelompok tertentu. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui adanya Allah yang satu, yang mempunyai tiga “pribadi”.

Ada juga orang-orang yang percaya bahwa Yesus adalah orang yang baik, dan bahkan seorang nabi, tetapi Yesus bukanlah Tuhan. Ini tidaklah jauh berbeda dengan orang Farisi pada zaman Yesus yang tidak menerima pernyataan Yesus bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Mereka ingin membunuh Yesus karena mereka menganggap Yesus sudah menghujat Allah.

Yesus bukan hanya mengklaim bahwa Ia dan Allah adalah satu. Ia juga berkata bahwa mereka yang melihat Dia, sudahlah melihat Allah. Dengan kata lain, mereka yang percaya kepadaNya adalah percaya kepada Allah sendiri.

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14: 9

Oleh sebab itu, tidaklah mungkin jika kita bisa percaya bahwa Tuhan adalah Allah Bapa, tetapi tidak mengakui bahwa Yesus juga Tuhan. Yesus dan Allah Bapa tidaklah dapat dipisahkan.

Sebagai orang Kristen sudah seharusnya kita juga yakin dan percaya bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Pada waktu Yesus dibaptis, ketiga “pribadi ilahi” ini muncul secara bersamaan.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Kesatuan antara ketiganya juga ditekankan Yesus pada waktu Ia memerintahkan murid-muridNya untuk mengabarkan injil.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Hari ini, keraguan bahwa Yesus adalah Tuhan haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Kesangsian akan satunya Bapa, Anak dan Roh juga harus dihapus dari iman kita. Itu tidak mudah jika kita hanya bergantung pada kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri. Biarlah kita mau berdoa kepada Tuhan Yesus untuk memohon pengertian yang benar sambil percaya bahwa Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan agar nama Tuhan dipermuliakan.

“….dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 13 – 14

Rayakanlah Paskah setiap hari

“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Roma 6: 11

Sebentar lagi, umat Kristen di seluruh dunia merayakan kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus. Meskipun ini adalah hari suci yang kita rayakan sekali setiap tahun, kebangkitan adalah sesuatu yang harus diingat dan dirayakan setiap hari.

Sejujurnya, saya sering mengalami kesulitan pada hari-hari khusus seperti Natal, Jumat Agung, dan Paskah. Saya melihat adanya peningkatan dan promosi pemasaran dari pendeta dan gereja yang difokuskan untuk menarik orang banyak ke layanan mereka. Alasan saya mengapa mengkhawatirkan hal ini adalah karena saya tidak melihat kegembiraan dan upaya yang seimbang untuk merawat dan memuridkan orang setiap hari.

Sering kali tampaknya ini semua tentang meningkatkan keramaian gereja pada beberapa hari khusus daripada memperlengkapi orang percaya untuk menjadi pekerja Yesus setiap hari. Memang, hari-hari bersejarah itu penting. Kita melihat di seluruh Alkitab bahwa Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk merayakan festival dan mengatur peringatan sehingga mereka tidak akan melupakan apa yang telah Dia lakukan. Tetapi perintah Tuhan tidak terbatas pada hari-hari seperti itu. Dia adalah “Tuhan sehari-hari” yang telah memberi kita “misi sehari-hari” untuk mengabarkan injil dan melayani sesama.

Mungkin saya agak sinis, tetapi saya merasa sedih melihat keadaan gereja zaman sekarang, terutama di dunia Barat. Sementara saudara dan saudari kita di banyak negara mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk datang ke pertemuan ibadah, orang percaya di dunia Barat meremehkan kebebasan dan keamanan mereka. Kita sering hidup dengan iman yang lesu sementara orang lain mempertaruhkan nyawa mereka untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan untuk kita lakukan setiap hari. Kita mungkin kurang mau untuk hidup bagi Allah dalam Yesus Kristus di setiap saat.

Bukan maksud saya untuk mempermalukan siapa pun, tetapi untuk menantang semua orang percaya agar memegang iman mereka erat-erat. Memang merayakan hari-hari bersejarah seperti Jumat Agung, Paskah, dan Natal, adalah penting, tetapi jangan sampai mengabaikan tugas setiap hari yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk urusan pembangunan KerajaanNya. Apalagi, beberapa golongan mengajarkan bahwa hari-hari bersejarah itu hanya boleh diperingati pada hari tertentu saja, sesuai dengan kebiasaan dan pengertian mereka.

Hari ini, firman Tuhan mengajak kita untuk mengingat dan merayakan kebangkitan Yesus setiap hari dengan menjalani kehidupan yang dipimpin oleh Roh. Jangan hanya datang ke acara keagamaan sekali setahun pada tanggal yang ditentukan oleh pimpinan gereja. Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa ke mana pun kita pergi setiap hari, fokus dan niat kita adalah untuk membagikan pengharapan yang kita miliki karena Yesus benar-benar bangkit kembali pada hari ketiga setelah membayar harga dosa dunia di kayu salib. Itu adalah iman yang sejati.

Jika kita kenal, kita akan mengasihiNya

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Hari ini hari Minggu, hari yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk beristirahat dan untuk memuji Dia. Jika pada hari ini kita bisa ke gereja bersama keluarga dan menikmati kebersamaan dalam Tuhan, menjelang malam kita mungkin mulai memikirkan tugas-tugas yang harus kita lakukan esok hari. Memang, jika dibayangkan, betapa enaknya jika kita tidak perlu menghadapi tantangan kehidupan. Setiap hari berjalan seperti weekend, dimana kita bisa menikmati hari libur yang santai. Tetapi, apa boleh buat, setiap manusia harus bekerja; jika tidak untuk mencari sesuap nasi, pastilah itu untuk memenuhi kewajiban lainnya.

Jika dipikirkan dalam-dalam, hal yang paling berat dalam hidup ini sebenarnya bukan soal berjuang atau bekerja, tetapi soal apakah kita akan memperoleh apa yang kita upayakan. Banyak keraguan akan masa depan atau kekuatiran atas apa yang akan terjadi timbul karena tidak ada orang yang bisa menjamin bahwa kita akan berhasil dalam mencapai tujuan kita.

Memang jika kita percaya bahwa Tuhan itu adalah oknum yang mahakasih, seharusnya dari apa yang terjadi dalam hidup kita, kita bisa mengenali kasihNya. Dalam kenyataannya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita adalah kurang menyenangkan, rasanya sulit untuk kita bisa mengerti bahwa apa yang terjadi adalah dengan seizin Tuhan yang mahakasih. Kalau begitu, benarkah kita mengenal Dia?

Ada orang Kristen yang percaya bahwa jika Tuhan itu mahakasih, tentunya hidup umatnya akan penuh dengan hal-hal yang menyenangkan. Tuhan yang mahakuasa dan mahakaya tentu akan memberikan apa yang terbaik. Tetapi, pikiran yang sedemikian adalah membuat Tuhan setara dengan kita, sehingga apa yang kita senangi dan kehendaki, adalah selalu sama dengan apa yang Tuhan senangi dan kehendaki. Pendapat sedemikian juga mengklaim bahwa kita mengenal Tuhan dengan sepenuhnya, dan bahwa kehendak kita selalu sesuai dengan kehendakNya.

Hari ini firman Tuhan diatas berkata bahwa kita tidak dapat menyelami dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Jika kita mengakui Dia sebagai Tuhan yang mahabesar, kita tidak perlu gundah jika kita tidak mengerti keputusan-keputusanNya dan tidak dapat menyelami jalan-jalanNya. Apa yang kita tahu ialah bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih sudah mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Karena itu, sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, kita tetap bisa bersyukur kepadaNya dan tetap mau mencari kehendakNya setiap hari. Semoga saja pengenalan kita akan Tuhan membuat kita percaya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tetap mengasihi kita. Dengan demikian, kita akan bisa mengasihi Dia dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita (Matius 22: 37).

Yesus pun pernah menderita seperti kita

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” Yesaya 53: 4

Siapakah Yesus itu? Pertanyaan yang serupa pernah diajukan Yesus kepada murid-muridNya. Jika orang lain ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, ada pula mereka yang menjawab Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tetapi Simon Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16: 14 – 16). Petrus bukan saja mengakui dengan mulutnya, tetapi Alkitab dan sejarah menyebutkan bahwa ia setia kepada Yesus sampai akhir hayatnya.

Siapakah Yesus itu bagi anda? Apakah jawaban anda seperti jawaban Petrus? Sebagai orang percaya dan dengan memakai Alkitab sebagai panduan, mungkin tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengakui dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Tetapi, yang sangat sulit adalah untuk mempercayakan hidup kita dengan sepenuhnya kepada Yesus seperti Petrus. Sulit juga bagi kita untuk mengerti bahwa selama Ia di dunia, Yesus adalah 100 persen manusia dan juga 100 persen Tuhan.

Banyak orang yang tidak mau percaya kepada Yesus karena mereka tidak dapat mengerti bagaimana Anak Allah mau turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Mereka mungkin bisa menerima bahwa Yesus adalah orang yang baik dan bahkan pantas untuk menjadi rasul, tetapi tidak bisa mengerti bagaimana Allah bisa dilahirkan sebagai manusia yang lemah, dan yang kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib di sebelah dua penjahat. Pikiran mereka tidak bisa menjangkau bagaimana selama hidup di dunia Yesus adalah Tuhan yang berupa manusia tetapi tidak berdosa.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Menjadi seperti manusia adalah suatu aspek yang sangat penting dalam misi Yesus, karena dengan itu, Ia bukannya tidak bisa merasakan segala penderitaan kita. Ia pernah dicobai, dihina, diludahi, dipukuli serta merasa lapar dan haus seperti kita, dan karena itu kita tidak perlu menyangsikan kasih dan kepedulianNya atas penderitaan kita. Berbeda dengan pengertian orang lain mengenai Tuhan yang “nun jauh disana”, Yesus adalah Tuhan yang pernah hidup seperti manusia dan karena itu seharusnya bisa terasa dekat di hati kita.

Hari ini, mungkin ada kemasygulan dalam hidup kita karena adanya berbagai hal yang terasa berat. Pandemi sudah berlangsung lebih dari satu tahun, tetapi keadaan belum juga memungkinkan hidup yang normal. Hari demi hari kita mungkin mengalami pergumulan, kesulitan, penderitaan, kekurangan atau rasa kuatir. Karena itu, jika sekarang ada pertanyaan siapakah Yesus itu bagi kita, mungkin kita sulit untuk menjawabnya dengan keyakinan seperti Petrus.

Apa yang ditulis dalam kitab Yesaya diatas, jauh sebelum Yesus dilahirkan di dunia, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Yesus adalah Tuhan yang datang ke dunia untuk membawa kedamaian dalam hidup kita. Selama hidup di dunia, Ia peduli atas segala penderitaan dan kesengsaraan orang-orang disekitarnya, baik itu secara lahir maupun batin. Dengan demikian, Yesus sekarang ini bukan saja peduli akan keselamatan kita, tetapi Ia juga mau menolong kita selama kita masih hidup di dunia agar kita tetap bertahan dalam iman kita. Apa yang harus kita lakukan adalah bertekun dalam doa permohonan, dengan mengingat bahwa anugerah yang terbesar, yaitu keselamatan, sudah diberikanNya kepada kita. Semoga Ia menumbuhkan dan menguatkan iman kita!

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Bukan roh ketakutan

“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pernahkah anda mengalami rasa takut yang besar sehingga tidak ingin pergi kemana-mana? Saya pernah. Banyak orang yang mengalami hal yang serupa pada pertengahan tahun yang lalu ketika puncak pandemi Covid-19 terjadi di Australia. Mungkin saja rasa takut pada saat itu lebih dipengaruhi oleh kekuatiran tertular virus corona daripada kemungkinan tertular. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, tinggal di rumah terus mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan ketakutan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih takut ketika mengikuti berita media!

Rasa takut tertular penyakit tidaklah sama dengan rasa takut rohani yang sering dialami orang Kristen. Sebagai orang percaya, ketakutan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.

Dalam kenyataannya, ada banyak orang yang mengalami krisis spiritual di saat ini karena perasaan tidak berdaya. Sekalipun vaksin sudah ada, tetap saja ketakutan dan kekuatiran tidak mudah dihilangkan. Bagaimana tidak? Beberapa negara yang sudah berhasil membagikan vaksin kepada rakyatnya secara besar-besaran, justru pada saat ini mengalami peningkatan penderita Covid-19 dan harus menjalankan lockdown lagi pada saat mendekati hari Paskah.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan dan ketakutan secara rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita akan perlahan-lahan diracuni oleh ketakutan dan kelelahan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Menyalurkan kemarahan kita secara benar

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Ayat ini adalah salah satu ayat yang cukup sering dikhotbahkan. Secara umum, apa yang ditulis rasul Paulus ini adalah nasihat yang baik kepada setiap orang Kristen. Dalam hidup sehari-hari, kita dinasihati bahwa apa yang buruk, seperti kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah, sumpah-serapah dan lain-lainnya seharusnya dihilangkan dari kamus perbendaharaan kata kita.

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan sebelum menjadi kegeraman. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan seringkali membuat orang murka dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen pada hakikatnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada individu atau golongan tertentu, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan atau menguntungkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran bagi masyarakat, terutama bagi saudara-saudara seiman.

Kemarahan kita sebaiknya ditujukan kepada apa yang menyebabkan hal itu terjadi, seperti masalah hukum, pendidikan, hak asasi dan keadilan sosial yang merupakan tanggung jawab yang berwenang. Dengan demikian, jika kita tinggal berdiam diri dan tidak mau menyuarakan apa yang baik menurut Alkitab kepada yang berwenang, kita membiarkan segala faktor yang jelek untuk mempengaruhi banyak orang di masa mendatang.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika sekelompok manusia atau bangsa secara sengaja tidak mau menghormatiNya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau mengabaikan firman Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah terus membenci semua orang yang jahat. Kepada orang yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan juga tersedia untuknya. Sebab itu, adalah kurang tepat jika kita menumpahkan amarah dan kebencian kita kepada individu tertentu, sedangkan penyebabnya tidak kita perhatikan. Kita juga harus ingat bahwa dibalik apa yang jahat, sering kali iblislah yang menjadi biangnya.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari.

Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat. Sungguh berguna nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi agar mereka memusatkan hidup mereka pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, dan semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4: 8). Ini adalah tantangan bagi semua orang Kristen.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Hanya Tuhan yang berhak mengutuki

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12: 19

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana suatu negara atau organisasi menyampaikan “press release” atau “pernyataan resmi” yang berupa protes atas tindakan negara lain atau atas apa yang dilakukan seseorang? Dalam bahasa Inggris, biasanya istilah yang dipakai adalah “to condemn“, yang diartikan sebagai “menyatakan bahwa tindakan itu adalah jahat” atau “mengecam keras”. Untuk maksud yang sama, dalam bahasa Indonesia kata “mengutuk” sering dipakai, walaupun terjemahan bahasa Inggrisnya adalah “to curse“, yaitu mengirim kuasa ilahi untuk menjatuhkan hukuman.

Dalam Alkitab berbahasa Inggris, kata condemn memang bisa dipakai seperti kata curse untuk menyatakan hukuman Tuhan kepada ciptaanNya yang tidak menghasilkan apa yang diharapkanNya. Jika Tuhan kita bisa mengutuki ular, bumi dan manusia (Kejadian 3: 14-19), sebagai orang Kristen bolehkah kita mengutuki orang lain?

Suatu ketika, ketika sebuah desa di Samaria menolak kedatangan Yesus dan murid-muridNya, Yakobus dan Yohanes langsung ingin membalas dendam. “Tuhan,” mereka bertanya, “Apakah Engkau mau, supaya kami menurunkan api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Lukas 9:54). Yesus tidak menginginkan itu, dan Dia “berpaling dan menegur mereka” (ayat 55). Yakobus dan Yohanes pada saat itu tidak sadar bahwa “Allah tidak mengutus AnakNya ke dunia untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkan umat manusia oleh (melalui) Dia” (Yohanes 3:17).

Memang dalam hidup ini banyak orang yang agaknya masih menganut paham “mata ganti mata”. Dengan demikian, mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pembalasan (revenge, avenge, vengeance). Alkitab memang mempunyai banyak ayat yang berhubungan dengan soal membalas dendam. Tetapi, seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan diatas, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pembalasan dendam selalu dihubungkan dengan hak Tuhan.

Mengapa Tuhan menyatakan bahwa Ialah yang berhak membalas dendam? Itu karena Tuhanlah yang memiliki seluruh jagad raya, termasuk semua makhluk hidup dan manusia. Manusia secara pribadi bukanlah pemilik apapun di dunia, dan seperti Yesus, bukanlah wakil Tuhan yang ditugaskan untuk menjadi hakim dunia; karena itu ia tidak berhak menuntut balas. Umat Kristen adalah wakil Tuhan untuk membawa kabar baik yang bisa membawa orang yang sejahat apa pun untuk menerima keselamatan melalui Yesus. Selain itu, setiap orang dalam keterbatasannya tidak tahu sepenuhnya akan apa yang benar dan apa yang salah. Karena itu, hanya Tuhan yang pada hakikatnya berhak menjadi hakim yang menjatuhkan hukuman kepada mereka yang melawan Dia.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Tuhan Yesus bukan saja melarang pengikutNya membalas dendam, Ia malahan menyuruh mereka untuk melawan kejahatan dengan kesabaran.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 38 – 39

Jika membalas dendam adalah dosa yang melanggar perintah Tuhan, mereka yang mudah naik darah biasanya mudah terpancing untuk melampiaskan kemarahannya dengan melakukan kekerasan. Memang kemarahan yang tidak segera dihentikan, lambat laun akan berlanjut dengan kebencian dan pertengkaran (Amsal 10: 12). Karena itu Yesus memberikan perintah agar murid-muridnya tidak membiarkan kemarahan yang ada untuk berlanjut-lanjut, apalagi dengan munculnya kata-kata kutukan, karena iblis menantikan kesempatan untuk menghancurkan hidup mereka yang dikuasai amarah, seperti apa yang terjadi pada Kain yang membunuh Habel saudaranya.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Pagi ini, jika kita bangun dan melihat matahari terbit, kita harus sadar bahwa satu hari sudah lewat dan hari yang baru sudah datang. Kesempatan untuk kita bisa menghilangkan rasa marah dan dendam sudah diberikan, dan apa yang selanjutnya terjadi dalam hidup kita akan menunjukkan apakah kita benar-benar sudah menjadi pengikut Yesus.

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15