“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4
Sudah lama saya sering mengalami rasa masygul setelah membaca berita di media. Adanya orang-orang yang melakukan kejahatan kepada sesama manusia di berbagai tempat membuat saya bertanya-tanya apakah masih ada tempat yang aman di dunia ini. Selandia Baru, misalnya, pernah dianggap sebagai salah satu negara yang paling aman di dunia. Tapi itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang sejak dua puluh tahun terakhir ini keadaan dunia berubah luar biasa dengan adanya kekejaman dan kekacauan di berbagai tempat. Mereka yang merasa berada di tempat terlindung justru bisa mengalami kejadian yang mengerikan. Apa yang diharapkan untuk bisa melindungi, ternyata tidak bisa memberi bantuan.
Dengan keadaan dunia yang serba kacau ini, tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang merasa bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika Tuhan memang ada mana mungkin dunia ini menjadi sangat kacau? Jika Tuhan itu mahakuasa, mengapa Ia tidak menjaga ketertiban dan keamanan dunia? Jika Ia mahakasih mengapa Ia membiarkan umatNya menderita? Jika Tuhan masih ada, Ia pastilah oknum yang tidak peduli atau tidak berdaya!
Dalam kenyataan hidup, mereka yang ingin hidup damai justru seringkali mengalami bencana yang disebabkan oleh orang yang jahat. Mereka yang ingin hidup tertib, seringkali harus menerima kenyataan bahwa ada banyak orang yang justru ingin membuat kekacauan dan kebingungan. Ini bukan saja terjadi dalam negara dan masyarakat, tetapi juga ada dalam lingkungan yang lebih kecil seperti kantor, sekolah, gereja dan juga rumah-tangga. Mereka yang mau mendapatkan apa yang diingininya tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan, ancaman dan paksaan. Memang banyak orang yang percaya bahwa siapa yang kuat, akan menang: the survival of the fittest.
Sebenarnya sejak dari kejatuhan manusia, paham bahwa untuk bisa menang manusia harus kuat itu sudah ada. Karena itu dari awalnya manusia yang lebih kuat secara jasmani selalu berusaha mendikte mereka yang lemah. Karena itu jugalah, setiap orang ingin untuk berada di posisi atas agar bisa selalu menang. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang merasa lemah, akan mengalami hidup yang tidak bisa tenang karena dibayangi berbagai ketakutan. Bukan hanya takut untuk dicederai atau disakiti secara fisik, tetapi juga takut untuk mengalami intimidasi dan penghinaan oleh mereka yang lebih kuat. Jika badan bisa dimatikan oleh mereka yang kuat dan jahat, hati bisa dihancurkan oleh mereka yang kejam.
Mereka yang bisa menghancurkan hidup kita tidaklah harus orang yang tidak kita kenal. Ketakutan tidak selalu terjadi karena membayangkan adanya orang-orang yang muncul di tengah kegelapan malam. Tetapi, ketakutan bisa dan sering terjadi karena adanya orang-orang yang kita kenal, yang ada di sekitar kita, dan yang bisa melakukannya di setiap saat. Untuk melawan mereka yang menakutkan mungkin kita tidak sanggup, tetapi hidup dalam ketakutan bisa membuat kita hilang harapan. Hidup dalam ketakutan lambat laun akan menghancurkan kita. Keyakinan bahwa Tuhan masih ada mungkin pelan-pelan menghilang. Kepahitan demi kepahitan datang, dan itu bisa membuat hidup kita sengsara atau lumpuh. Adakah jalan untuk mengatasi rasa takut kita?
Ayat di atas menyatakan bahwa ketakutan kepada sesama manusia haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Sebagai orang percaya kita bukannya akan menang dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dari kelemahan kita yang membuat kita bergantung kepada Tuhan. Memang ada orang-orang yang bisa mencelakai kita, membunuh tubuh kita atau melukai hati kita. Tetapi, semua itu tidak akan dapat menghancurkan iman kita kepada Tuhan yang mahakuasa, yang bisa melihat apapun yang terjadi dalam hidup kita. Hanya kepada Tuhan saja kita harus mempunyai rasa takut karena Dialah yang berkuasa untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya. Hanya kepada Dia, kita harus menaruh kepercayaan kita. Hanya karena Dia, kita bisa menghilangkan rasa takut kita dalam mengarungi hidup di dunia.
“Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” Lukas 12: 5

Dua hari terakhir ini di beberapa tempat di Australia terjadi kebakaran hutan yang menghanguskan banyak rumah penduduk. Memang udara yang panas dan daun-daunan yang kering membuat kebakaran mudah terjadi. Terkadang kebakaran besar seperti ini terjadi karena kilat yang menyambar rumput kering, tetapi sekarang ini lebih sering terjadi karena tangan-tangan usil anak remaja yang membakar rumput sekedar untuk mendapat sensasi yang menggetarkan hati. Mereka yang melakukan itu seolah merasa puas jika kebakaran yang terjadi bisa membuat bingung banyak orang termasuk aparat kepolisian. Mereka mungkin merasa puas jika polisi tidak dapat menemukan siapa yang bersalah.
Banyak orang yang mengira bahwa menjadi orang Kristen adalah hal yang tidak terlalu sulit. Bukan hanya orang yang beragama lain, sebagian orang Kristen pun mengira bahwa agama lain mempunyai persyaratan yang lebih berat. Mereka menyangka bahwa untuk menjadi Kristen orang tidak diharuskan untuk berbuat baik, karena keselamatan datang secara cuma-cuma dari Tuhan yang mahakasih. Pandangan ini sudah tentu adalah keliru. Perbuatan baik justru adalah sesuatu yang semestinya dilakukan oleh seluruh umat Kristen, sekalipun bukan untuk memperoleh keselamatan.
Akhir pekan ini saya mengunjungi Uluru yang dulu dikenal dengan nama Ayers Rock, yaitu bukit batu karang sandstone yang utuh (monolith), yang terletak di tengah benua Australia. Uluru dianggap tanah keramat oleh penduduk asli Australia dan diperkirakan mulai terbentuk sekitar 550 juta tahun yang lalu.

Nasi sudah menjadi bubur. Begitulah ungkapan yang kita kenal sejak SD, yang menyatakan penyesalan akan sesuatu yang sudah terjadi dan yang sudah terlambat untuk bisa diperbaiki. Dalam bahasa Inggris, ungkapan yang serupa adalah “it’s no use crying over spilt milk” yang artinya tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah. Buku kamus yang memuat ungkapan ini untuk pertama kalinya adalah Oxford English Dictionary yang bersumber dari apa yang ditulis oleh James Howell pada tahun 1659. Sungguh menarik bahwa kedua ungkapan yang serupa artinya, mengutarakan rasa menyesal atas hilangnya apa yang lazim dimakan di negara itu sebagai cara untuk mengungkapkan rasa penyesalan yang sia-sia. Nasi yang sudah menjadi bubur dan susu yang sudah tumpah tidaklah dapat dikembalikan kepada keadaan yang semula.
Bersediakah anda untuk berbohong? Pertanyaan ini lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan “Apakah anda pernah berbohong”. Setiap orang tentunya pernah berbohong, baik itu bohong kecil ataupun bohong besar, dan setiap orang bisa mengakuinya. Memang manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun demikian, pertanyaan apakah kita mau berbohong tidaklah mudah dijawab. Dengan sejujurnya kita pernah berbohong di masa lalu karena suatu sebab; dan jika ada sebab yang kuat di masa depan, mungkin saja kita tidak ragu-ragu untuk berbohong lagi.