Tidak mungkin untuk tetap netral

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Matius 12: 30

Kemarin malam saya mendapat kesempatan untuk menonton pertandingan ice hockey di Rogers Arena, Vancouver. Tim Predators dari Amerika berhadapan dengan tim Canucks dari Vancouver. Untuk pertama kalinya saya menonton ice hockey, karena di Australia olahraga ini tidak populer. Pertandingan cukup ramai dan menarik; tetapi karena kedua tim bukanlah tim saya, saya bisa bertepuk tangan untuk tim mana saja jika mereka berhasil memasukkan goal (atau kemasukan goal!). Itulah enaknya kalau kita bisa netral, menonton tanpa harus mendukung satu tim.

Dalam ayat di atas Yesus mengatakan bahwa hanya ada dua tim di dunia ini. Tim Yesus dan tim si Jahat. Tiap orang yang tidak mengikut tim Yesus adalah pengikut si Jahat, iblis. Manusia tidak dapat bersikap netral karena ia harus menjadi pendukung satu tim. Jika seseorang tidak mau mendukung Yesus untuk memasyhurkan namaNya dan melebarkan kerajaanNya, ia sebenarnya mengacaukan kegiatan Tuhan dan menjadi musuhNya.

Tidak semua orang sadar bahwa dalam hidup rohani mereka harus secara total mendukung satu tim saja. Satu diantara dua tim yang ada. Yesus datang untuk membawa kabar baik, kabar keselamatan untuk semua orang; dan mereka yang tidak mau mendukung tim Yesus dapat digolongkan sebagai anggota tim yang lain, yang ingin menyaingi Yesus dan mengacau rencanaNya.

Ditengah dunia dengan segala daya tariknya, banyak orang yang ingin hanya menjadi penonton saja, dan karena itu tidak mau terikat pada satu tim. Dengan kebebasan mereka, terkadang mereka mendukung tim Yesus, tetapi mereka juga sering mengagumi tim-tim lain. Apalagi tim Yesus seakan kurang menarik perhatian dan kurang giat untuk berusaha untuk menang. Sebaliknya, tim lain seringkali terlihat lebih giat bekerja untuk menang dan lebih menarik penampilannya; mereka sepertinya mempunyai dedikasi dan disiplin kerja yang lebih baik dari tim Yesus.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa tim Yesus adalah tim yang sudah menang, karena Yesus sudah mengalahkan maut dengan kebangkitanNya. Ia sudah menang dan karena itu semua pengikutNya tidak perlu bekerja dan berbuat sesuatu untuk memperoleh kemenangan. Semua pengikut tim Yesus sudah bisa berlari sambil mengucap syukur menuju ke podium dengan keyakinan bahwa mereka akan menerima mahkota kemenangan yang sudah tersedia. Masihkah kita ragu untuk menjadi anggota Tim Yesus sepenuhnya?

“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4: 8

Benarkah Yesus pilihan anda?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena hampir semua penduduknya tidak beragama Kristen.

Ada berbagai sebab mengapa suatu negara bisa menjadi negara yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan tertentu. Faktor politik, militer, sosial, ekonomi dan budaya seringkali menyebabkan penduduk setempat memilih ajaran agama tertentu, biasanya setelah selang waktu yang cukup lama. Dengan memilih agama tertentu, mereka memilih untuk menyembah atau berbakti kepada Tuhan, dewa, tokoh atau oknum tertentu dengan cara-cara tertentu.

Ketaatan kepada ajaran tertentu menyebabkan manusia berusaha mempertahankan eksistensi kepercayaan mereka karena yakin bahwa pilihan mereka adalah yang paling cocok, paling baik atau paling benar diantara yang baik dan benar. Karena itu, tidak hanya sering terjadi pergesekan antar agama, sekte atau aliran, tetapi ada orang-orang yang berpindah agama karena mereka berusaha memilih apa yang terbaik menurut pikiran mereka. Walaupun begitu, ada juga orang-orang yang percaya bahwa apapun yang dipilih manusia itu tidak jadi soal, karena semua orang bisa memilih menurut kebijakan dari Tuhan dan semua pilihan adalah baik adanya.

Dari ayat diatas, ternyata bahwa sebenarnya manusia tidak dapat memilih untuk mengikut Yesus. Yesuslah yang memilih siapa saja yang akan dijadikanNya sebagai orang beriman. Oleh sebab itu, kita yang sudah mengikut Yesus tidak boleh menyombongkan diri karena itu bukan hasil pemikiran atau perbuatan kita.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. “Efesus 2: 8-9

Kita tidak bisa menganggap pilihan Tuhan adalah setara dengan pilihan-pilihan manusia yang ada di dunia. Sudah tentu pilihan Tuhan adalah pilihan khusus yang benar dan menurut kehendakNya. Karena itu, kita juga tidak perlu heran jika ada orang yang tidak dapat percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, tetapi dengan mudah percaya kepada ajaran lain atau tidak menganut kepercayaan apapun. Sebaliknya, kita harus yakin bahwa siapapun yang dipilihNya akan mendapat kesempatan untuk menyambut panggilan Yesus.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Pagi ini, jika kita merasakan bahwa kita mengenal siapa Yesus itu dan mengakui Dia sebagai Juruselamat kita, kita harus yakin bahwa itu adalah satu hal yang tidak mungkin salah karena Ialah yang sudah memungkinkannya. Biarlah kita selalu bersyukur untuk itu dan juga mau mendoakan mereka yang sudah dipanggilNya agar mereka tidak lagi mencari-cari jalan keselamatan dengan usaha sendiri.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Apa arti Natal bagi kita?

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2: 11-12

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, hari-hari yang akan datang adalah saat penantian untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Umumnya orang merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember, walaupun hari itu hanya dipilih manusia untuk memperingati hari yang sebenarnya tidak diketahui kapan tepatnya.

Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena adanya faktor perbedaan agama.

Di negara dimana Natal adalah hari libur nasional, tidak semua yang merayakannya adalah orang Kristen. Di negara barat seperti Australia, Canada dan Amerika, banyak orang yang merayakan Natal karena sekedar tradisi, sebuah kesempatan untuk berlibur dan bersukaria seperti perayaan tahun baru. Walaupun begitu, hari Natal bisa menjadi hari yang penuh kesedihan bagi mereka yang menderita, mengalami sakit, kekurangan, kelaparan, kesepian dan kedinginan.

Bagi umat Kristen pun, perayaan Natal juga mempunyai arti yang berbeda-beda, sekalipun mungkin kurang disadari. Mungkin karena kebiasaan, banyak orang yang merasa dirinya Kristen memerlukan diri untuk ke gereja. Mereka yang biasanya jarang ke gereja, pergi menghadiri kebaktian Natal. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa merayakan hari Natal adalah hak mereka dan satu bagian dari identitas mereka.

Sekalipun banyak orang yang merayakan hari Natal, peristiwa kelahiran Yesus hanya mempunyai arti pada mereka yang sudah terpanggil menjadi anggota keluarga Allah. Hanya mereka yang sudah benar-benar menjawab panggilan Yesus Kristus untuk bertobat dan menempuh hidup baru akan menjadi anak-anak Allah seperti Yesus dan karena itu bisa mengerti arti kelahiran Yesus di dunia.

Ada banyak orang yang percaya Yesus adalah seorang tokoh yang penting, orang yang baik hati dan guru yang pengajarannya sangat berguna. Tetapi orang semacam itu seringkali juga percaya bahwa ada orang-orang lain yang juga baik pengajarannya dan besar amalnya. Bagi mereka, kenyataan bahwa Allah telah menurunkan AnakNya yang tunggal sebagai manusia biasa, dan bahkan lahir sebagai bayi di palungan, tidaklah bisa dimengerti walau bagaimanapun indah kisahnya. Untuk mereka, Yesus, Anak Allah yang Mahasuci itu agaknya sebanding dengan tokoh-tokoh agama lainnya. Karena itu, kepercayaan kepada Yesus mungkin tidak ada bedanya dengan kepercayaan kepada pemimpin agama yang lain, walaupun mereka memilih untuk merayakan hari Natal daripada merayakan hari besar agama lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang turun ke dunia sebagai manusia hanya mempunyai arti sepenuhnya bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Tidak ada nama lain di bumi yang bisa dibandingkan dengan nama Yesus, Anak Allah, dan karena itu kita harus beriman hanya kepada Yesus.

Mengapa peduli?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Masa remaja adalah masa yang membawa kenangan bagi setiap orang. Kenangan yang manis ataupun yang pahit dari masa itu biasanya tidak mudah terlupakan sekalipun kita sudah berusia lanjut. Apalagi pengalaman yang lucu atau konyol, selalu membuat kita tersenyum atau meringis setiap kali itu muncul dalam pikiran kita.

Mungkin juga kita teringat bahwa masa remaja adalah masa dimana kita biasanya cenderung sensitif atas apa yang dikatakan orang lain mengenai tubuh, pakaian, makanan dan apa saja yang kita lakukan. Kalau ada sedikit komentar orang lain tentang hal-hal itu, kita mungkin kepikiran, tersinggung, marah atau tidak bisa tidur.

Sesudah menjadi dewasa, orang lebih bisa mengatasi rasa sensitif atas pendapat orang lain. Mungkin kita bisa berkata “emangnya gue peduli”, jika ada hal- hal yang kurang cocok untuk telinga kita. Malahan, bagi sebagian orang Kristen soal menebalkan kulit muka adalah bagian dari kehidupan dan pekerjaan mereka. Untuk bisa bertahan dan sukses dalam hidup orang harus tahan bantingan, begitulah nasihat yang sering diajarkan. Sekalipun masyarakat melihat kita berbuat hal-hal yang kurang baik, kita dianjurkan untuk tidak terlalu memikirkannya. Cuek saja!

Ayat diatas menegaskan bahwa masyarakat melihat apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Terutama jika mereka tahu bahwa kita adalah orang yang mengaku Kristen, mereka mungkin membayangkan bahwa kita tentunya tidak sama dengan orang lain yang bukan Kristen. Dalam kenyataannya, banyak orang yang mungkin tidak tahu adanya orang-orang Kristen disekitar mereka karena tingkah laku, etika dan cara hidup orang-orang Kristen itu tidak berbeda, dan malahan lebih buruk, dari orang lain yang bukan Kristen.

Pagi ini ayat diatas mengingatkan kita bahwa kita harus peduli akan apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang tingkah laku, etika dan cara hidup kita. Kita harus merasa sensitif dan bukannya tidak peduli atas pandangan masyarakat, karena mereka dapat melihat apakah kita benar-benar menaati Tuhan dan mengasihi sesama kita. Biarlah masyarakat bisa melihat kepedulian kita dan menjadi pengikut Kristus seperti kita!

Adakah damai dalam hidup kita?

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tidak terasa bulan Desember sudah datang dan dengan itu di banyak negara suasana Natal sudah dapat dirasakan. Semua orang, Kristen dan bukan Kristen, dapat menikmati suasana itu karena semua hotel, pertokoan dan tempat wisata sudah dihias dengan pohon, hiasan dan lampu Natal.

Teringat saya akan masa kecil saya di Indonesia, mendengarkan lagu-lagu natal di radio; seolah hari Natal di luar negeri itu penuh kedamaian, apalagi dengan taburan salju di pohon-pohon dan diatas atap rumah-rumah.

Apa yang dibayangkan dan diharapkan manusia dengan datangnya hari Natal seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya. Setelah dewasa saya menjadi sadar bahwa adanya Natal belum tentu membawa kedamaian. Di berbagai tempat, perayaan Natal terjadi di tengah peperangan, kemiskinan dan kekacauan. Bahkan, sekalipun banyak yang merayakan Natal di keluarga, di gereja atau negara, kedamaian itu seringkali sukar dirasakan.

Apa guna merayakan Natal jika kedamaian itu tidak ada? Dapatkah kita membayangkan Yesus yang lahir sebagai bayi kecil lemah lembut di palungan?

Yesus sebenarnya datang ke dunia bukan dengan maksud untuk mendamaikan manusia dengan manusia. Ia tidak datang untuk memberi ketenteraman, kepuasan dalam kehidupan duniawi. Ia datang ke dunia untuk memisahkan mereka yang mau didamaikan dengan Allah Bapa, dari mereka yang ingin mendekati Allah dengan cara mereka sendiri.

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Matius 10: 34-36

Yesus adalah Raja Damai karena Ialah yang membawa damai antara Allah dan umat manusia. Murka Allah terhadap manusia yang tidak mau bertobat dari dosa mereka, terhadap mereka yang merasa dapat membeli karcis ke surga, atau yang merasa hidup mereka sudah cukup baik, tidaklah dapat dipadamkan kecuali melalui penebusan Yesus Kristus.

Pagi ini biarlah kita sadar bahwa walaupun di dunia ini sering kita menjumpai berbagai hal yang tidak membawa kedamaian di antara umat manusia; dalam keluarga, pekerjaan, negara dan bahkan gereja, kita boleh yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah Yang Mahasuci. Dan karena kita sudah mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi, kita juga seharusnya dapat membagikan kabar baik itu kepada sesama kita supaya mereka melalui hidup kita, juga dapat memperoleh dan merasakan kedamaian dengan Allah Tuhan kita.

“Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Roma 10: 15b

Apa pun yang terjadi, jangan ikut menjadi dingin

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12

Saat ini adalah musim dingin di Australia. Hampir 40 tahun yang lalu, pada akhir bulan Juni tahun 1983 saya mendarat di kota Melbourne sekitar jam 10 pagi ketika suhu 6 derajat Celcius. Bagi saya yang terbiasa dengan suhu di atas 30 derajat di Surabaya, dinginnya udara di saat itu terasa menusuk tulang. Lebih-lebih lagi, karena saya tidak punya kerabat di sana, saya harus antri taksi untuk menuju tempat penginapan yang jaraknya lebih dari 40 km dari lapangan udara.

Dinginnya udara di musim dingin mungkin seperti dinginnya hati manusia dalam ayat di atas. Dengan udara yang dingin, mereka yang yang berada dalam keadaan yang kurang baik akan merasakan beratnya hidup tanpa adanya kehangatan rumah dan makanan. Dengan dinginnya hati manusia, mereka yang mengalami penderitaan tidak dapat mengharapkan adanya perhatian dan pertolongan dari sesama. Bahkan dengan dinginnya hati mereka yang mengaku Kristen, apa yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari bukannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya, tapi untuk memuliakan diri sendiri dan untuk memperoleh kepentingan pribadi.

Ayat diatas menunjukkan bahwa banyak orang yang dulunya mempunyai kasih, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai kasih. Mereka yang dulunya pernah mendengar panggilan Tuhan dan mengerti perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama manusia, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak lagi taat kepada Tuhan. Mereka lebih taat kepada keinginan dan kebahagiaan duniawi yang berupa kemasyhuran, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan dan semacamnya.

Di hari Minggu ini, banyak orang Kristen yang ke gereja dengan kerinduan untuk mendapatkan kehangatan kasih dalam persekutuan dengan saudara seiman dan mendengar kasih penghiburan Tuhan. Tetapi di banyak negara, gereja sudah berubah menjadi seperti tempat pertunjukkan yang dipenuhi ribuan orang yang kemudian pulang ke rumah masing-masing tanpa dapat merasakan adanya kasih dan perhatian dari orang lain. Yang lebih aneh lagi adalah adanya orang-orang yang hanya karena ke gereja, percaya bahwa mereka sudah memenuhi perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Tuhan melalui rasul Paulus mengingatkan bahwa di zaman ini ada berbagai tanda hilangnya kasih dan bertambahnya hal-hal yang jahat di antara umat Kristen (2 Timotius 3: 1-9). Karena itu, hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hanya ke gereja sebagai kebiasaan atau keharusan. Ia ingin kita datang kepadaNya dengan kehangatan kasih, dan bukannya kepalsuan.

Tuhan tidak mengharapkan uang persembahan manusia tetapi Ia menghargai hati umat-Nya yang dipenuhi kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan kepada umat-Nya, dan karena itu Ia membenci orang-orang yang seakan berbakti kepada-Nya, tetapi hanya mengharapkan Tuhan memberikan apa yang diinginkan mereka.

Tuhan menyenangi umat-Nya yang mengabarkan kabar baik tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan, dan bukannya kisah-kisah duniawi. Tuhan menghendaki umat-Nya untuk benar-benar bisa taat kepada-Nya, dan bukannya hanya hidup dalam kepalsuan.

Memang dengan banyaknya orang Kristen yang mundur dari iman, kita mudah terpengaruh. Tetapi pagi ini kita dingatkan bahwa apapun keadaan yang ada di sekeliling kita, biarlah hati kita tidak ikut menjadi dingin.

Satu Firman, banyak pengertian

“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 14-15

Pernahkah anda mempertanyakan mengapa untuk Alkitab yang sama ada begitu banyak buku tafsiran yang berbeda? Itulah karena manusia adalah mahluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah mahluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari mahluk-mahluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari mahluk yang lain. Jika mahluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang disekitarnya. Tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat menyamai Sang Pencipta. Bagaimana pun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin kita mengenalnya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diriNya dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Untunglah setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat belajar mengerti apa yang dikehendaki Tuhan.

Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuniNya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Memang tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anakNya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Tetapi perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan sering terjadi dan bisa menimbulkan pertikaian.

Pagi ini kita diingatkan oleh Tuhan bahwa dalam menyatakan keyakinan iman kita, kita harus tegas dan memegang kebenaran Firman tetapi bisa menghindari perdebatan yang tidak membangun, karena selain tidak berguna, hal sedemikian malah bisa menimbulkan kebingungan dan kekacauan diantara mereka yang ingin mengenal Yesus Tuhan kita. Biarlah kita makin hari makin sempurna didalam anugerah Tuhan!

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Ada kemungkinan bahwa kita belum yakin

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Pagi ini ketika pesawat Air Canada yang saya tumpangi dari Brisbane mendarat di airport Vancouver, Canada, cuaca mendung dan suhu sekitar 3 derajat Celcius. Namun, lapangan terbang internasional yang cukup besar itu terlihat sibuk, penuh dengan para pelancong yang hilir mudik menuju ke tempat tujuan masing-masing. Memang kota Vancouver adalah kota kosmopolitan yang diminati pelancong mancanegara. Kota terbesar nomer tiga di Canada dengan penduduk sekitar 2 juta ini sebanding dengan kota Brisbane yang juga di peringkat tiga Australia.

Melihat begitu banyak pelancong yang berada di satu tempat untuk sesaat, tetapi kemudian berpisah untuk pergi ke tempat-tempat yang berlainan, muncullah beberapa pertanyaan dalam pikiran saya: dari mana mereka datang, kemanakah mereka pergi dan mungkinkah mereka bertemu lagi di masa mendatang? Untuk sesaat ada rasa sedih yang muncul dalam hati saya …manusia yang jumlahnya begitu banyak hanyalah seperti awan berlalu saja…

Teringat saya bahwa Tuhan menciptakan berbagai bangsa dengan berbagai adat dan bahasa, tetapi menempatkan mereka semuanya dalam satu dunia. Tetapi tiap orang mempunyai tujuan dan cara hidup yang berbeda di dunia ini, dan karena itu tidak semua orang mau memikirkan kemana mereka akan pergi setelah menyelesaikan hidup mereka di dunia.

Memang kebanyakan manusia setidaknya bisa merasakan tentang suatu kuasa yang dibalik alam semesta, dan tentang adanya kemungkinan kehidupan yang lain sesudah berakhirnya hidup mereka di dunia. Karena itu, umat manusia dari zaman dulu selalu berusaha mencari tuhannya dengan berbagai cara. Sekalipun mereka tidak pasti akan masa depan mereka, mereka berharap akan adanya kemungkinan untuk mendapat kekekalan hidup, kemungkinan untuk menuju ke tempat yang sama, dan kemungkinan untuk bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah dijumpai sebelumnya. Karena itu, sampai sekarang banyak aliran agama dan filsafat yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa dicapai, dan dosa bisa ditebus, dengan hidup baik dan menuruti perintah Tuhan.

Berbeda dengan pikiran manusiawi tentang adanya kemungkinan bahwa kita bisa dibenarkan karena perbuatan baik dan ketaatan kita kepada hukum Tuhan, Alkitab menulis bahwa ada kepastian bahwa kita akan dibenarkan karena darah Yesus yang sudah dikucurkan sebagai tebusan dosa kita. Tidak ada perbuatan manusia yang bisa memenuhi syarat kebenaran dan kesucian Tuhan. Hanya dalam darah Yesus ada kepastian bahwa manusia yang berdosa bisa dibenarkan oleh Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Pagi ini, jika kita melihat begitu banyak manusia yang pergi ke tujuan yang berbeda-beda, biarlah kita sadar bahwa memang ada banyak orang yang sudah mengikuti jalan yang keliru untuk memperoleh keselamatan yang kekal. Mungkin juga kita sendiri yang masih berpikir bahwa pengurbanan Yesus masih belum cukup, dan karena itu kita masih ingin membebani hidup kita dengan melakukan segala ritual agama. Tetapi ayat diatas jelas menunjukkan bahwa jika kita masih merasa bahwa perbuatan baik manusia adalah perlu untuk memungkinkan mereka ke surga, ada kemungkinan bahwa kita belum benar-benar yakin akan karunia Allah yang sudah menyelamatkan.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Hak dan kewajiban warga negara

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” Filipi 3: 20

Mengenai hal kewarganegaraan saya teringat akan mata pelajaran “Civic” di SMA yang termasuk salah satu mata pelajaran yang saya sukai. Kewarganegaraan dalam Bahasa Latin disebut “Civis”, yang kemudian dalam bahasa Inggris disebut “Civic”, artinya mengenai warganegara atau kewarganegaraan. Dalam mata pelajaran itu, yang paling menarik adalah soal hak dan kewajiban warga negara.

Pengertian hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan sesuatu, dimana orang lain tidak boleh merampasnya entah secara paksa atau tidak.Dalam hal kewarganegaraan, hak ini berarti warga negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak, jaminan keamanan, perlindungan hukum dan lain sebagainya.

Pengertian kewajiban adalah suatu hal yang wajib kita lakukan demi mendapatkan hak atau wewenang kita. Bisa juga kewajiban merupakan hal yang harus kita lakukan karena sudah mendapatkan hak. Sebagai warga negara kita wajib melaksanakan peran sebagai warga negara sesuai kemampuan masing-masing supaya mendapatkan hak kita sebagai warga negara yang baik.

Ayat Filipi 3: 20 diatas menunjuk pada kenyataan bahwa sebagai orang Kristen kita semua terbilang sebagai warga negara surgawi dan Tuhan adalah pemimpin negara. Sebagai warga negara kita menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban. Karena pengurbanan Yesus di kayu salib, setiap orang yang percaya sudah mendapat hak untuk menerima kemuliaan di surga bersama dengan Yesus.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Selain itu, sebagai anak-anak Allah kita juga berhak memanggil Dia sebagai Bapa (Galatia 4: 6) dan menyampaikan permohonan kita untuk apa yang kita butuhkan dalam hidup di dunia, apabila itu sesuai dengan kehendakNya.

Adalah kecenderungan semua orang untuk menuntut hak mereka, lebih dari kemauan untuk menjalankan kewajiban yang ada. Itulah hakikat manusia duniawi yang lebih mementingkan kepentingan sendiri. Tetapi, bagi siapa yang sudah menerima hidup baru, sifat yang samasekali berbeda dengan sifat Yesus ini bisa berubah dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi sifat yang baik, yang mau menyadari dan melaksanakan kewajiban sebagai warga negara surgawi; itu terjadi karena Yesus sudah lebih dulu mengasihi kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kewajiban utama kita sebagai anak-anak Tuhan adalah untuk mengasihi Tuhan, Allah kita dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kta. Lebih dari itu kita juga harus bisa mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22: 37-40). Sebagai warga negara surgawi yang baik, kita juga harus bisa membawa kabar baik untuk mereka yang masih mempunyai kewarganegaraan yang lain, supaya mereka memilih jalan yang benar untuk bisa mendapat hak surgawi yang sama seperti kita.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Hidup tidak berarti gampang

“Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” Ibrani 12: 8

Life is not meant to be easy. Hidup tidak dimaksudkan untuk gampang. Begitulah bunyinya sebuah peribahasa Inggris yang sering didengar. Terutama dipakai jika ada keluhan mengapa ada saja kesulitan yang muncul, peribahasa ini bermaksud memberi nasihat bahwa kita tidak perlu merasa susah atau tertekan kalau kita menemui halangan, karena tiap orang memiliki masalah tersendiri,

Ayat diatas agaknya mempunyai makna yang sama, tetapi mungkin jarang kita dengar dalam khotbah. Memang di zaman ini orang lebih senang mendengarkan firman yang berisi kabar gembira, yang bernada positif dan yang selalu membahas kemurahan Tuhan.

Ayat diatas tidak ditujukan kepada semua orang, tetapi hanya untuk mereka yang beriman, orang-orang Kristen. Untuk orang yang sudah menjadi anak-anak Tuhan, bukan mereka yang belum mengikut Yesus. Jika mereka yang tidak percaya kepada Kristus seolah mempunyai “kebebasan” untuk melakukan apa yang mereka maui, dan dengan itu mereka menjadi sesat karena kemauan sendiri; orang Kristen seringkali harus mengalami halangan dan kesulitan hidup, terutama karena mereka harus hidup sesuai dengan perintah Tuhan di surga.

Sebagai anak Tuhan kita mungkin berharap agar hidup kita jadi enak, makmur dan tanpa penderitaan. Tetapi kepada semua umatNya, Tuhan justru memberikan berbagai tantangan hidup yang menumbuhkan kesabaran dan kekuatan iman. Memang Tuhan bermaksud mendidik orang yang dikasihi-Nya, dan Ia selalu mendisiplin orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sebagai orang Kristen kita malahan harus heran jika iman kita tidak pernah atau jarang diuji dalam hidup ini.

Tuhan berfirman bahwa jika kita ingin agar kita dibebaskan dari kesulitan hidup, kita mengharapkan perlakuan istimewa dari Tuhan; dan itu tidak mungkin. Karena itu, sebagai anak Tuhan kita tidak seharusnya meminta agar kita bebas dari kesulitan dan penderitaan hidup, tetapi memohon agar Ia memberikan kita kekuatan untuk menghadapi hal-hal itu. Pagi ini kita diingatkan jika kita berdoa, janganlah untuk Tuhan memberikan tantangan hidup yang sesuai dengan iman kita, tetapi untuk iman yang sebesar tantangan hidup kita!

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3-4