Jangan kecewa ya?

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11: 5

Baru saja di negara bagian Queensland, Australia, diadakan pemilihan umum untuk memilih para pemimpin daerah. Pemilihan umum di Australia seringkali sulit diterka hasilnya karena pendapat masyarakat bisa berubah dengan cepat pada saat-saat menjelang hari pemilu. Mereka yang kecewa dengan calon-calon atau partai tertentu seringkali berubah pikiran dan memilih calon alternatif, sekalipun mereka kurang mengenalnya. Karena itu hasil yang mengejutkan bisa dan sering terjadi.

Dalam kitab Matius 11 diatas dikatakan bahwa murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya apakah Yesus adalah Mesias yang sudah dinanti-nantikan. Mungkin mereka merasa tidak yakin bahwa Yesus yang sederhana itu adalah Juruselamat manusia. Mereka mungkin merasa kecewa bahwa Yesus tidaklah seperti yang dibayangkan. Mungkin juga mereka mulai memikirkan jalan alternatif lain untuk mencapai keselamatan.

Dalam kehidupan rohani, kita pun bisa dan mungkin pernah mengalami kekecewaan. Kekecewaan mungkin timbul karena adanya pemimpin-pemimpin gereja yang kurang baik kelakuan atau sifatnya, mungkin juga karena orang-orang yang mengaku beriman tetapi kacau hidupnya, atau karena melihat adanya alternatif yang lebih baik di luar lingkungan yang sekarang. Bahkan ada pula orang yang karena adanya berbagai masalah, merasa kecewa dengan Tuhan yang mereka kenal selama ini, sehingga mereka memutuskan untuk mencari alternatif, Tuhan yang lain.

Bagi orang Kristen, memang pengaruh iblis itu ada dimana-mana. Iblis dari awalnya sangat pandai berkampanye untuk bisa memenangkan “pemilihan umum” di dunia. Dengan berbagai cara yang halus maupun yang kasar, dari bujukan yang sederhana sampai ke teologi yang tangguh, iblis berusaha memenangkan pilihan hidup manusia.

Iblis juga pandai menggunakan berbagai “hadiah” untuk memikat calon pengikutnya, seperti kekayaan, kepandaian, dan kesuksesan. Lebih dari itu, iblis juga bisa membuat kekacauan dan penderitaan dalam hidup manusia seperti yang dialami oleh Ayub, dengan harapan agar manusia kecewa kepada Tuhan dan meninggalkan imannya.

Di zaman ini, pengaruh iblis yang paling besar terhadap hidup umat Kristen adalah dalam menciptakan suasana hidup yang membuat mereka lengah karena merasa Tuhan yang sudah memilih mereka dan karena itu mereka dapat hidup berleha-leha. Tuhan menjadi sebuah konsep abstrak yang indah yang tidak perlu dimengerti. Karena itu jugalah orang Kristen sering menerima konsep-konsep sosial, tradisi dan budaya serta alternatif lain yang lebih praktis sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa dalam hidup kita di dunia, kita selalu menghadapi pilihan antara iblis dan Tuhan. Antara janji-janji iblis dan janji-janji Tuhan, antara hidup “merdeka semau kita” atau “mati bersama Kristus”. Semoga kita tetap bisa bertahan dengan iman dalam Yesus, sehingga seperti Yesus sudah bangkit, kita pun akan bangkit dan hidup bersamaNya.

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24: 13

Antara iman dan perbuatan

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang di bahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekwensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.

Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai.

Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugasNya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepadaNya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolakNya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita. Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Pagi ini kita dingatkan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita kan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Yesus pembawa perpecahan

“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Lukas 12: 51

Penyanyi John Lennon yang dulunya adalah anggota band terkenal The Beatles pernah menyanyikan lagu Imagine yang menduduki peringkat nomer satu di banyak negara untuk waktu yang cukup lama. Sungguh menarik bahwa lagu tersebut sebenarnya merupakan kedambaan seseorang akan perdamaian di bumi. Dibayangkannya bumi akan terisi kedamaian jika tidak ada negara dan bahkan agama, karena adanya negara dan agama membuat orang membenci dan menentang orang lain.

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too

Imagine all the people living life in peace….

Nyanyian tersebut adalah khayalan semata, karena negara dan agama sudah ada dari dulu, dan merupakan bagian kehidupan manusia yang beraneka ragam asal dan budayanya. Walaupun demikian, banyak orang yang sampai saat ini pun tetap percaya bahwa agama adalah sebuah faktor yang membuat dunia ini seringkali tidak damai. Pendapat itu tidaklah salah. Memang seringkali pengikut agama apapun melakukan hal-hal tertentu yang menyebabkan pertikaian, kekejaman dan bahkan peperangan demi keyakinan pribadi mereka.

Sebagai umat Kristen, kita percaya bahwa keragaman manusia adalah apa yang dikehendaki Tuhan seperti apa yang dilakukanNya ketika manusia berusaha untuk mendirikan menara Babel untuk mempersatukan manusia dan menyombongkan kesatuannya. Tuhan saat itu mencerai-beraikan manusia dengan membuat mereka berbicara dengan bahasa-bahasa yang berbeda (Kejadian 11: 6-8).

Dalam ayat pembukaan diatas, kita dapat membaca bahwa Yesus datang kedunia, bukan untuk membawa damai di atas bumi, tetapi pertentangan. Hal ini agaknya mengejutkan mereka yang mengira bahwa Yesus adalah Raja Damai yang mempersatukan manusia. Mereka tidak menyadari bahwa kedamaian yang dibawaNya adalah kedamaian Allah dan manusia.

Yesus adalah penebus dosa manusia, dan barang siapa yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup kekal (Yohanes 3: 16). Lebih dari itu, Yesus juga mengajarkan bahwa semua orang yang percaya kepadaNya harus bisa mengasihi Tuhan dan sesama manusia, termasuk mereka yang berbeda agama dan yang hidup dalam dosa. Pengajaran Yesus berbeda dengan pengajaran lain yang menekankan perbuatan baik manusia untuk bisa diselamatkan dan rasa cinta terbatas untuk mereka yang mempunyai kepercayaan yang sama saja.

Walaupun demikian, Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu jalan untuk mencapai keselamatan (Yohanes 14: 6). Manusia harus memilih antara Dia dan orang lain, antara ketaatan kepada Dia atau kepada dewa/orang/hal lain. Manusia tidak dapat menjadi pengikutNya dan juga mengagumi pemimpin lain. Karena itulah ada tembok pemisah antara pengikut Yesus dan orang lain.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak dapat menerima jalan keselamatan menurut orang lain dan hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sekalipun kita harus mengasihi semua orang, kita tidak dapat menerima pandangan hidup yang tidak dibenarkan oleh Yesus. Sekalipun makin banyak orang yang menyenangi hidup yang mentolerir pandangan apa saja, kita tidak dapat menerima hal-hal itu, apalagi ikut-ikutan melakukannya. Ini tidak mudah dan karena itu kita harus mohon kekuatan dariNya.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Kepada siapa kita beriman?

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” 2 Tim 1: 12

Sebuah kisah yang mungkin sering diceritakan adalah tentang seorang pemain akrobat yang menyeberangi jeram Niagara diatas sebuah kabel. Banyak penonton yang menyaksikan orang itu dengan perlahan-lahan meniti kabel baja yang terbentang diatas jeram itu merasa berdebar-debar karena jika ia jatuh, niscaya ia akan tewas.

Ketika pemain akrobat itu berhasil meniti kabel dan sampai ke seberang, semua penonton bersorak dan bertepuk tangan. Memang dia hebat, begitulah semua orang berpikir. Tetapi, ketika pemain akrobat itu bertanya apakah ada yang berani menyeberangi jeram itu bersama dia, tidak ada seorangpun yang berani atau mau. “Saya jamin akan menggendong anda dengan selamat ke seberang”, begitulah ia berusaha meyakinkan mereka. Tetapi, tidak ada seorangpun yang mempercayai pemain akrobat ini. Mereka tahu bahwa ia adalah pemain akrobat jempolan, tetapi pengetahuan itu tidak cukup untuk membuat mereka mempercayakan hidup mereka kepadanya.

Seperti mereka yang menonton pertunjukan akrobat spektakuler itulah manusia yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat kebesaran Tuhan dalam hidup ini. Lebih dari itu, di zaman modern ini manusia mempunyai kesempatan untuk mendengar kabar baik tentang Yesus yang turun ke dunia melalui berbagai media.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” Mazmur 19: 1

Manusia mungkin bisa melihat atau merasa bahwa ada kuasa besar yang mengatur seisi semesta alam. Manusia mungkin sudah mendengar nama Yesus Juruselamat.Tetapi, seperti para penonton pemain akrobat itu, manusia sering tidak mau mempercayakan hidup mereka kedalam tangan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita tahu bahwa Tuhan itu ada, pengetahuan itu tidak akan membawa keuntungan apapun untuk hidup kita jika kita tidak mempunyai iman kepadaNya. Kita harus menyadari bahwa jika kita sudah diperkenalkan kepada adanya Allah yang mengirimkan Anak tunggalNya untuk menebus dosa umat manusia, itu adalah sesuatu yang dimungkinkan oleh karunia Tuhan semata. Tetapi, Tuhan melalui Roh Kudus juga mau mengubah hidup kita agar kita mempunyai iman yang teguh kepadaNya.

Saat ini, jika kita melihat bahwa tantangan hidup kita adalah sesuatu yang tidak dapat kita hadapi seorang diri, biarlah kita ingat bahwa kita sudah menyaksikan bahwa Yesus sudah datang ke dunia dan mengalahkan maut. Itu adalah kenyataan yang bisa kita percayai. Walaupun demikian, pertanyaannya apakah kita mau beriman kepadaNya. Beriman berarti bukan saja tahu kepada siapa kita percaya, tetapi yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita sampai akhir hidup kita.

Apa rancangan Tuhan untuk hidupku?

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Di zaman ini hampir setiap orang yang mampu membeli handphone cerdas akan memiliki berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain-lain. Dengan aplikasi itu mereka akan dapat berkomunikasi dengan teman-teman dan bahkan dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Bukannya hanya untuk saling menyapa, mereka bahkan bisa memperoleh kabar berita, baik yang asli maupun yang palsu. Mereka yang awas akan bisa membedakan berita mana yang benar dari apa yang tidak benar, tetapi mereka yang kurang awas atau kurang peduli akan menerima semua berita sebagai berita aktuil.

Suatu hal yang bisa membuat diri kita prihatin adalah kenyataan bahwa sebagian besar berita yang kita terima dari aplikasi handphone adalah berita kosong tak berarti, lelucon yang membuat orang geli atau berita besar yang mengerikan. Yang terakhir ini biasanya datang sebagai “copas” dari teman yang sumber aslinya sudah tidak dapat dipastikan. Berita buruk yang muncul mungkin dimaksudkan agar kita berhati-hati, tetapi sering juga membuat kita kuatir atau takut.

Manusia memang sering kuatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka yang tidak mengenal Tuhan, mungkin menggunakan segala kesempatan yang ada untuk menikmati hidup selagi masih bisa. Tetapi ada juga yang selalu hidup dalam kekuatiran karena keadaan dunia yang nampaknya semakin buruk. Bagi kita yang mengenal Yesus, mungkin kita ingat bahwa kekuatiran itu tidak berguna.

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Walaupun demikian, mungkin sering juga kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan orang-orang beriman lainnya di masa mendatang, jika keadaan dunia semakin buruk. Ayat dari kitab Yeremia diatas adalah ayat terkenal, yang aslinya untuk umat Israel yang dalam pengasingan, tetapi ayat yang juga sering dipakai untuk menguatkan mereka yang menderita di zaman ini, karena seperti bani Israel, kita pun orang pilihan Tuhan. Bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera untuk umatNya dan bukannya rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.

Tuhan tidak berniat memberi umatNya kecelakaan. Tuhan yang sudah merencanakan penyelamatan manusia sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak mungkin mempunyai rencana buruk untuk mencelakakan mereka. Inilah yang harus kita pegang sebagai iman, bahwa dalam keadaan apapun kasih Tuhan tidak berubah. KasihNya sama, dari dulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Tuhan tidak akan membiarkan kita hancur, karena rencanaNya dari awal adalah membawa setiap umatNya mencapai hidup kekal bersamaNya.

Memang benar bahwa apa yang terjadi di dunia tidak selalu membuat kita merasa dikuatkan. Sebaliknya, banyak hal yang bisa membuat kita takut atau kuatir. Dosa adalah faktor perusak kehidupan nanusia. Tetapi, sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa itu pun ada dalam kuasa Tuhan. God is always in control.

Satu hal yang harus kita mengerti ialah bahwa Tuhan menghendaki umatNya untuk bisa kuat, yakin dan bahkan berbahagia dalam keadaan apapun (Matius 5: 3 – 12). Tetapi iblislah yang ingin membuat kita menderita dan takut sekalipun tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Karena itu, tidaklah mengherankan jika ada banyak berita di media, dan bahkan di gereja, yang bisa menyesatkan dan melemahkan iman kita. Setiap kabar yang membuat kita meragukan rancangan damai sejahtera Tuhan harus mengingatkan kita akan usaha iblis untuk mencerai-beraikan umat Tuhan.

Pagi ini, marilah kita berdoa untuk menyerahkan segala kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Dialah yang mempunyai rancangan yang terbaik untuk setiap orang yang percaya!

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah!, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 1 Petrus 5: 7-9

Alon-alon gak bakal kelakon

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 15-17

Ungkapan “alon-alon asal kelakon” mempunyai arti filosofi yang mendalam di Jawa. Bagi orang Jawa, ungkapan itu sebenarnya bukan berarti “pelan-pelan asal terlaksana”, tetapi maksudnya adalah dalam mengerjakan sesuatu kita tidak perlu gegabah, tetapi penuh dengan kehati-hatian dan pertimbangan guna mencapai tujuan. Masalahnya disini adalah adanya orang-orang yang menggunakan ungkapan ini sebagai alasan untuk bekerja enak-enakan tanpa memikirkan waktu. Karena gaya hidup yang sedemikian, banyak tugas yang tidak dapat dirampungkan pada waktunya. Alon-alon gak bakal kelakon.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang Kristen yang juga menganut paham alon-alon asal kelakon dalam pengertian yang keliru. Bagi mereka, menjadi pengikut Yesus adalah saat dimana mereka dibaptiskan atau mengaku percaya. Setelah itu mereka tidak mempunyai kemauan untuk bertumbuh dalam pengenalan dan pengertian akan kehendak Allah dalam hidup mereka. Orang-orang semacam ini mungkin merasa bahwa asal mengaku percaya kepada Yesus cukuplah, perubahan hidup bisa dipikirkan belakangan, jika ada waktu.

Memang hambatan perkembangan rohani umat Kristen yang sering ditemui adalah soal waktu. Karena kesibukan sehari-hari, orang “tidak sempat” untuk berdoa, membaca Firman, atau mencari kehendak Tuhan dalam apa yang dikerjakan mereka. Akibatnya, tahun demi tahun berlalu, tetapi hidup mereka tidak pernah berubah dari hidup yang lama. Sekali pun setiap manusia dikaruniai waktu yang sama yaitu 24 jam sehari, alasan mereka seringkali “tidak ada waktu”; yang bisa diartikan “tidak ada prioritas”.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk hidup sebagai orang yang bijaksana, yang bisa menggunakan waktu yang ada dengan baik, agar kita bisa mengerti kehendak Tuhan. Bukan menggunakan falsafah “alon-alon asal kelakon” untuk membenarkan rasa acuh tak acuh kita akan firmanNya. Dunia dengan segala daya penariknya saat ini mungkin sudah menghabiskan waktu kita, sehingga hanya sedikit waktu tersisa, itu pun kalau ada, yang bisa dipakai guna lebih mengenali Yesus Juruselamat kita, dan untuk bertumbuh dalam hal-hal yang baik.

Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama ia akan mempunyai kesempatan untuk berubah dari hidup lama dan kebiasaan lamanya. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika kita berlambat-lambat, kita akan kehilangan kesempatan yang terbaik untuk mengenal Tuhan dengan benar. Alon-alon gak bakal kelakon!

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3: 18

Apakah Tuhan itu pilih kasih?

“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” 1 Tesalonika 4: 1

Adanya orang tua yang pilih kasih, yang mempunyai anak favorit, adalah hal yang sering membuat ketegangan dalam keluarga. Kebanyakan orang tua menolak tuduhan bahwa mereka berat sebelah, lebih menyayangi seorang anak daripada yang lain. Tetapi dalam kenyataannya memang ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang bapa atau ibu untuk lebih menyayangi salah satu anaknya. Sebagai contoh dalam Alkitab adalah Yakub dan Esau. Yakub disayangi ibunya, dan Esau lebih disenangi oleh bapanya (Kejadian 25: 28).

Soal favoritisme orang tua itu agaknya bisa dimengerti karena setiap orang tua mempunyai kelemahan. Mungkin sebagai orang tua seharusnya berlaku adil kepada semua anak-anaknya dan tidak pilih kasih. Tetapi setiap orang tua juga mempunyai sifat yang mungkin lebih kompatibel dengan anak tertentu, dan dengan demikian, secara emosi, lebih mudah menyayanginya.

Jika hal pilih kasih diantara manusia adalah hal yang sering kita temui dan bisa dimengerti, pertanyaan apakah Tuhan juga pilih kasih terhadap manusia ciptaanNya seringkali menjadi soal sensitif dan tidak mudah dijawab. Tuhan tentunya mengasihi seluruh manusia di dunia sehingga Ia berusaha untuk menyelamatkan mereka dari hukuman dosa (Yohanes 3: 16). Secara umum, Tuhan yang Mahaadil dan Mahakasih juga memberikan berkat yang sama kepada seisi dunia. Matahari bersinar untuk semua orang, baik bagi mereka yang baik maupun yang jahat (Matius 5: 45).

Tetapi kita harus memisahkan kasih Tuhan kepada orang yang tidak percaya dari kasih Tuhan kepada anak-anakNya karena karunia keselamatan hanya diberikan kepada mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat. Ini adalah suatu hal yang bisa diterima oleh semua orang percaya, karena mereka mendapat perlakuan khusus dari Tuhan. Memang untuk manusia, seringkali hal yang enak bisa dengan mudah diterima sebagai hal yang adil.

Walaupun demikian, jika kita berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan anak Tuhan yang lain, pertanyaan akan muncul apakah Tuhan benar-benar adil. Kita tentu percaya bahwa kita semua diselamatkan karena karunia kasih Tuhan yang sama besarnya karena kita semua adalah manusia yang sama-sama berdosa. Tetapi, apakah Tuhan mempunyai perasaan yang berbeda-beda kepada setiap umatNya?

Tuhan memang melihat hidup tiap umatNya secara individual. Ia bereaksi atas kehidupan dan ketaatan setiap orang. Sejarah manusia dalam Alkitab menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang dipilihNya karena ketaatan mereka. Mereka yang karena setia dan kuat dalam iman, mendapat “perhatian khusus” dari Tuhan. Abraham, Daud, Petrus, Paulus adalah sebagian kecil dari umatNya yang membuat Tuhan senang, bukan karena kemampuan, tetapi karena kesetiaan mereka dan kemauan untuk memakai apa yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk kemuliaanNya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan mengasihi semua umatNya, tetapi Ia juga menghargai bagaimana kita hidup. Untuk mereka yang dengan setia mengikut Dia, Tuhan akan memberi mereka karunia -karunia yang memungkinkan mereka untuk bisa kuat dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tuhan tidak menjanjikan hidup mulus tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk menghadapi masalah. Lebih dari itu Tuhan seringkali memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka yang mau memakai karunia yang ada untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Kita tahu bagaimana kita harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu mungkin telah kita jalani, tetapi baiklah kita melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi agar Tuhan makin memberkati hidup kita.

Mana yang lebih enak: sukses atau puas?

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 12: 30

Sewaktu saya masih kecil, sekitar umur 8 tahun, ibu saya menanyakan apa cita-cita saya untuk masa depan. Saya dengan yakin dan bangga berkata bahwa saya akan menjadi seorang tentara dan menikah dengan seorang aktris. Pada waktu itu ibu saya dengan setengah bergurau berkata bahwa kalau itu terjadi, hal itu akan membuatnya menangis setiap hari. Dengan bertambahnya umur saya, cita-cita itu terlupakan dan cita-cita lain pun muncul. Tetapi, kalau teringat akan percakapan saat itu saya sekarang masih bisa merasa geli. Memang cita-cita seorang anak dan juga orang dewasa dibentuk melalui konsep pemikiran manusia yang dipengaruhi keadaan sekitarnya. Konsep tentang kesuksesan dan kebahagiaan manusia umumnya berubah dengan umur kita.

Rasul Paulus adalah seorang Yahudi dari kalangan atas. Pada mulanya ia adalah seorang Farisi yang pandai dan bersemangat berapi-api untuk menghancurkan pengikut Kristus. Ia mempunyai banyak teman dan hidup dalam kejayaan manusiawi. Ia adalah manusia yang sukses menurut ukuran setempat pada waktu itu. Tetapi, pertemuan yang ajaib dengan Yesus di perjalanan menuju Damaskus membuat Paulus bertobat dan menyadari bahwa hidup dan kesuksesannya selama itu adalah sia-sia belaka.

Kehidupan Paulus sebagai pengikut Kristus berubah 180 derajat dari kehidupan lamanya. Tidak lagi bisa menikmati kejayaannya, ia malahan menjadi orang buronan yang seringkali harus menderita dan kelaparan (2 Korintus 11: 26-28). Apakah Paulus pernah bercita-cita untuk menjadi orang yang seperti itu? Sudah tentu tidak demikian. Tetapi, kejadian-kejadian yang dialaminya adalah bagian hidupnya sebagai pengikut Yesus.

Apa yang dianggap Paulus sebagai kesuksesan sebelum menerima Kristus ternyata tidak memberinya kebahagiaan dan kepuasan. Sebaliknya, penderitaan yang dialaminya sesudah mengikut Kristus justru membuatnya bahagia dan bangga. Itu karena hidup lamanya yang sudah disalibkan bersama Kristus sehingga ia menerima hidup baru dalam iman (Galatia 2: 19-20).

Pagi ini, mungkin kita masih memikirkan makna hidup kita sampai saat ini. Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu, apa yang terjadi mungkin belum membawa kepuasan hati kita. Kesuksesan yang kita kejar, mungkin belum dapat memberi rasa damai dalam kehidupan kita. Rasa kecewa mungkin muncul karena tidak adanya rasa bahagia dalam hidup kita.

Kita harus sadar bahwa kesuksesan dan kenyamanan duniawi bukanlah tujuan hidup orang percaya. Tujuan hidup kita seharusnya untuk memuliakan Tuhan. Ibadah yang disertai rasa cukup akan memberi keuntungan besar (1 Timotius 6: 6), sebab hal itu akan makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Adalah kenyataan bahwa lebih sulit untuk mencapai kepuasan dalam hidup, daripada memperoleh kesuksesan. Tetapi kita bisa memohon agar Tuhan memberi kita iman yang teguh untuk bisa belajar merasa cukup dan puas dalam keadaan apapun.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4: 11

Mengapa hatiku sedih?

Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus. Yohanes 11: 33-35

Mengapa manusia bisa merasa sedih? Mengapa ada kesedihan? Semua orang tidak mengharapkannya, tetapi kesedihan sering muncul tanpa diundang, pada saat yang tidak terduga. Tuhankah pencipta kesedihan? Apakah Ia yang membuat kita mengalami kesedihan?

Tuhan jelas bisa merasa sedih, dan seperti manusia yang diciptakanNya, Ia merasa sedih jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi diantara umatNya. Yesus pun merasa sedih ketika Ia melihat bagaimana Maria, saudara Lazarus, menangisi kematian Lazarus. Tuhan merasa sedih ketika orang-orang yang dikasihiNya mengalami kesedihan dalam hidup mereka.

Jika Tuhan bisa bersedih, apakah Ia yang menciptakan kesedihan di antara umatNya? Sudah tentu tidak, karena jika benar begitu, Ia tidak perlu merasa sedih karena Ia sendiri yang bermaksud untuk membuatnya. Kesedihan, peristiwa yang menyedihkan, dalam hidup umat Tuhan bukanlah ciptaan Tuhan. Kesedihan terjadi karena hilangnya kegembiraan dan kebahagiaan, seperti yang terjadi ketika Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa dan diusir dari taman Firdaus.

Memang hidup manusia di dunia ini selalu mempunyai segi-segi yang menyedihkan. Sekali pun seseorang mencapai apa yang diingininya, baik itu kekayaan, kepandaian, kemasyhuran, kesehatan dan lain-lain, hal-hal yang menyedihkan selalu ada dan akan ada. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah, seringkali tidak dapat mencegah hal-hal yang menyedihkan untuk terjadi dalam hidup mereka. Tetapi, umat Tuhan diberikan kemampuan untuk mencegah lenyapnya kebahagiaan dari hidup mereka, melalui rasa syukur dalam keadaan apapun.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Pagi ini, jika ada rasa sedih dalam hati kita karena adanya hal- hal tertentu, percayalah bahwa Tuhan kita bisa ikut merasakan kesedihan kita. Tuhan kita menghendaki semua umatNya untuk hidup berbahagia dalam hidup mereka. Memang matahari tidak selalu bersinar dalam hidup kita, tetapi matahari bukanlah sumber kebahagiaan kita. Kebahagiaan kita terletak pada Tuhan yang menerbitkan matahari pada waktunya. Kesetiaan dan kasihNya tidak pernah berakhir, dari dulu sampai selama-lamanya. Sekalipun kita tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa itu harus terjadi, kita tetap boleh yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang terbaik untuk seluruh umatNya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 8-9

Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik?

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Semakin tua, manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman pribadi yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering abaikan,

Namun, karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, metode empiris mempunyai kelemahan bahwa apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Dalam kehidupan iman, kita dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran.

Pagi ini, jika kita berbakti kepada Tuhan di gereja, kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi seseorang, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan ketenaran untuk manusia dan bukannya memuliakan Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman pribadi, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman Firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkanNya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105