“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Untuk mereka yang hobinya lari jarak jauh, istilah hitting the wall atau “membentur tembok” tidaklah asing. Istilah ini dipakai untuk mengungkapkan keadaan dimana seorang pelari mengalami kelelahan yang luar biasa – biasanya sekitar kilometer ke 30, sehingga ia merasa tidak dapat terus berlari. Rasanya seperti setengah mati, kejadian ini juga seperti mimpi buruk di tengah malam. Semua pelari sadar akan kemungkinan terjadinya hal ini, berharap untuk tidak terjadi. Mereka melakukan segala apa yang perlu untuk menghindarinya; tetapi kalau sudah terjadi, ini tidaklah bisa dihindari.
Paulus adalah seorang rasul yang suka menggambarkan bahwa hidup orang Kristen adalah seperti seorang atlit, petinju atau pelari yang berjuang untuk menang dalam pertandingan. Itu bukan karena ia adalah seorang olahragawan, tetapi ia sadar bahwa seorang olahragawan perlu mempunyai dedikasi tinggi dalam berlatih dan berlomba. Ia bisa melihat bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi hidupnya tidak seperti yang seharusnya karena kurangnya dedikasi dan iman.
Seperti seorang pelari yang harus menghadapi berbagai perlombaan, kita tahu bahwa sebagai manusia kita akan mengalami berbagai tantangan kehidupan. Jika seorang atlit harus hidup sehat, giat berlatih dan mempunyai keberanian untuk menghadapi semua pertandingan, orang Kristen harus hidup menurut perintah Tuhan, rajin mempelajari firmanNya dan berani menghadapi tantangan hidup.
Masalahnya adalah adanya satu saat dalam kehidupan kita dimana kita, sekalipun sudah berusaha untuk hidup dalam kebenaran, menghadapi persoalan hidup yang sangat besar, sehingga terasa kita seakan membentur sebuah tembok besar. Apa yang terjadi pada diri kita mungkin tidak bisa dirasakan orang lain karena itulah masalah kita pribadi. Seperti seorang pelari yang merasa akan membentur tembok, keputusan ada ditangan kita, apakah kita akan terus berlari sebisa mungkin, atau berhenti berlari dan meninggalkan perlombaan.
Bagi seorang pelari, perasaan lelah yang datang ketika membentur tembok akan bertambah besar ketika ia melihat bagaimana pelari-pelari lain mendahului, tidak ada seorangpun yang bisa menolong untuk mengatasi kelelahannya. Tetapi dalam hidup, kita yang mempunyai iman kepada Tuhan mengerti bahwa kita tidak akan tertinggal sendirian, karena Tuhan sebenarnya ikut berlari bersama kita sampai garis finish (Matius 28: 20).
Pagi ini biarlah kita menyadari bahwa hidup ini memang terkadang sangat berat, ketika tubuh dan jiwa kita menjerit seakan ingin menyerah. Begitu banyak hal-hal berat yang sudah terjadi selama tahun-tahun yang lalu dan untuk menghadapi tahun-tahun mendatang terasa hati kita menjadi semakin kecil. Pada saat yang demikian, seperti seorang atlit yang bertekad untuk mencapai garis finish, iman kita harus mengambil alih pikiran manusiawi kita. Hidup ini memang penuh tantangan, tetapi kekuatan dan keberanian kita akan datang dalam pengharapan kepada Tuhan yang akan memberi mahkota kehidupan di masa depan.
“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14
Di negara bagian Queensland dimana saya tinggal, Sabtu ini adalah hari pemilu. Pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat dalam parlemen Queensland. Pemilihan umum memang hal yang jamak di Australia, karena pemerintah negara bagian maupun federal bisa mengadakan pemilu kapan saja, selagi kesempatan untuk menang cukup besar. Tidak heran jika banyak orang yang bosan ikut pemilu. Tetapi, karena orang yang sengaja tidak ikut pemilu akan didenda, kebanyakan orang ikut pemilu baik secara langsung atau lewat pos.
Di dunia saat ini, manusia berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan. Keberhasilan manusia umumnya diukur dengan kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan hal-hal serupa. Dari kecil kebanyakan orang tua mengajarkan bahwa hal-hal diatas bisa dicapai anak-anak mereka jika mereka rajin belajar dan mau bekerja keras. Berbagai contoh dan teori ada dalam berbagai media, dan bahkan dikhotbahkan di gereja, tentang bagaimana kita dapat mencapai kesuksesan dalam hidup kita melalui keberanian dan keuletan kita,



