Jika kita membentur tembok

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Untuk mereka yang hobinya lari jarak jauh, istilah hitting the wall atau “membentur tembok” tidaklah asing. Istilah ini dipakai untuk mengungkapkan keadaan dimana seorang pelari mengalami kelelahan yang luar biasa – biasanya sekitar kilometer ke 30, sehingga ia merasa tidak dapat terus berlari. Rasanya seperti setengah mati, kejadian ini juga seperti mimpi buruk di tengah malam. Semua pelari sadar akan kemungkinan terjadinya hal ini, berharap untuk tidak terjadi. Mereka melakukan segala apa yang perlu untuk menghindarinya; tetapi kalau sudah terjadi, ini tidaklah bisa dihindari.

Paulus adalah seorang rasul yang suka menggambarkan bahwa hidup orang Kristen adalah seperti seorang atlit, petinju atau pelari yang berjuang untuk menang dalam pertandingan. Itu bukan karena ia adalah seorang olahragawan, tetapi ia sadar bahwa seorang olahragawan perlu mempunyai dedikasi tinggi dalam berlatih dan berlomba. Ia bisa melihat bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi hidupnya tidak seperti yang seharusnya karena kurangnya dedikasi dan iman.

Seperti seorang pelari yang harus menghadapi berbagai perlombaan, kita tahu bahwa sebagai manusia kita akan mengalami berbagai tantangan kehidupan. Jika seorang atlit harus hidup sehat, giat berlatih dan mempunyai keberanian untuk menghadapi semua pertandingan, orang Kristen harus hidup menurut perintah Tuhan, rajin mempelajari firmanNya dan berani menghadapi tantangan hidup.

Masalahnya adalah adanya satu saat dalam kehidupan kita dimana kita, sekalipun sudah berusaha untuk hidup dalam kebenaran, menghadapi persoalan hidup yang sangat besar, sehingga terasa kita seakan membentur sebuah tembok besar. Apa yang terjadi pada diri kita mungkin tidak bisa dirasakan orang lain karena itulah masalah kita pribadi. Seperti seorang pelari yang merasa akan membentur tembok, keputusan ada ditangan kita, apakah kita akan terus berlari sebisa mungkin, atau berhenti berlari dan meninggalkan perlombaan.

Bagi seorang pelari, perasaan lelah yang datang ketika membentur tembok akan bertambah besar ketika ia melihat bagaimana pelari-pelari lain mendahului, tidak ada seorangpun yang bisa menolong untuk mengatasi kelelahannya. Tetapi dalam hidup, kita yang mempunyai iman kepada Tuhan mengerti bahwa kita tidak akan tertinggal sendirian, karena Tuhan sebenarnya ikut berlari bersama kita sampai garis finish (Matius 28: 20).

Pagi ini biarlah kita menyadari bahwa hidup ini memang terkadang sangat berat, ketika tubuh dan jiwa kita menjerit seakan ingin menyerah. Begitu banyak hal-hal berat yang sudah terjadi selama tahun-tahun yang lalu dan untuk menghadapi tahun-tahun mendatang terasa hati kita menjadi semakin kecil. Pada saat yang demikian, seperti seorang atlit yang bertekad untuk mencapai garis finish, iman kita harus mengambil alih pikiran manusiawi kita. Hidup ini memang penuh tantangan, tetapi kekuatan dan keberanian kita akan datang dalam pengharapan kepada Tuhan yang akan memberi mahkota kehidupan di masa depan.

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Berpihak kepada siapa?

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Matius 12: 30

Di negara bagian Queensland dimana saya tinggal, Sabtu ini adalah hari pemilu. Pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat dalam parlemen Queensland. Pemilihan umum memang hal yang jamak di Australia, karena pemerintah negara bagian maupun federal bisa mengadakan pemilu kapan saja, selagi kesempatan untuk menang cukup besar. Tidak heran jika banyak orang yang bosan ikut pemilu. Tetapi, karena orang yang sengaja tidak ikut pemilu akan didenda, kebanyakan orang ikut pemilu baik secara langsung atau lewat pos.

Di Indonesia, mereka yang tidak ikut pemilu atau tidak memilih siapapun dalam suatu pemilu dinamakan “golput”. Golput (golongan putih) adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap praktik politik dari orang-orang yang kecewa terhadap penyelenggaraan negara dengan cara tidak memilih partai atau legislator (dalam pemilu legislatif) atau Presiden (dalam pemilu Presiden).

Golput sebenarnya bukan hanya ada di Indonesia. Di luar negeri, mereka yang bertekad untuk abstain dalam proses pemilihan bisa saja mengembalikan formulir pemilu tanpa memilih satu calonpun. Mereka yang tidak menyenangi partai-partai atau calon-calon yang sudah berpengalaman, mungkin saja secara ngawur memilih partai “kremi” atau calon yang kurang dikenal sebagai tanda protes.

Dalam kehidupan rohani, golongan putih juga ada. Mereka yang karena tidak mau ikut-ikutan atau tidak bisa mengambil keputusan, memilih untuk tidak aktif dalam kehidupan beragama. Ada pula yang tidak bisa memilih apa yang mereka imani, karena mereka tidak percaya bahwa hanya ada satu pemenang dalam sebuah pemilu. Ada juga yang karena pernah dikecewakan oleh beberapa orang, memilih untuk tidak pilih-pilih karena tidak ada yang bisa dipilih. Ada pula yang tidak mau memilih karena percaya bahwa semua aliran kepercayaan hanya ciptaan manusia.

Dalam agama Kristen pun ada pengikut-pengikut golput. Mereka yang memakai kaos oblong berlambang salib, tetapi hanya duduk diam di pinggir jalan ditengah-tengah kesibukan umat Kristen yang lain. Mereka yang hanya berdiam diri tatkala orang lain berseru “dalam nama Yesus!” atau “hanya melalui Kristus!”. Mereka yang berpikir bahwa hidup adalah terlalu singkat untuk memikirkan doa, kebenaran firman Tuhan dan melaksanakan perintah Yesus, Pemimpin yang benar. Mereka yang merasa hidup sudah aman dan nyaman tanpa menuruti perintah Tuhan.

Pagi ini kita mendengar apa yang diucapkan Pemimpin kita, Tuhan Yesus Kristus, bahwa siapa yang tidak benar-benar menjadi prajuritNya adalah musuh-musuhNya. Tidak ada perkataan yang lebih keras dari itu: mereka yang golput, yang cuma ikut-ikutan, yang tidak mau ikut berperang melawan kuasa dan pengaruh iblis, bukanlah pengikutNya.

Dalam peperangan apapun dan dimanapun, seorang prajurit harus berpihak. Seorang prajurit harus memakai semua senjata yang ada. Seorang prajurit tidak bisa hanya menonton dari jauh ketika yang lain maju bertempur. Seorang prajurit tidak boleh menjadi seperti anggota golput yang tidak dapat atau mau mengambil keputusan. Seperti itu jugalah, iman Kristen kita tidak bisa hanya iman yang kosong yang tidak disertai hidup yang diisi dengan perbuatan-perbuatan yang nyata untuk mendukung perintah Tuhan kita. Yesus tidak dapat menerima orang-orang yang sedemikian.

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Pertanyaan ini mungkin sering kita dengar sehubungan dengan banyaknya promosi makanan di berbagai media. Memang di seluruh dunia makanan khas lokal dipopulerkan untuk menarik pembeli, baik penduduk setempat ataupun turis. Tur kuliner yang sering diadakan dan istilah gastronomi yang menjadi populer menunjukkan bahwa di zaman ini makan bukan sekedar makan, dan makanan bukan sekedar makanan.

Ada banyak orang yang karena faktor ekonomi atau kesehatan, tidak bisa lagi makan semaunya. Untuk mereka, makan mungkin hanya sekedar untuk survive, untuk bisa hidup. Sebaliknya, bagi mereka yang berada dalam keadaan yang memungkinkan, makan bagi mereka bukan hanya untuk hidup, tetapi adanya hidup bisa juga dipakai untuk menikmati makanan. Mereka harus bersyukur karena mereka masih punya kesempatan untuk merasakan berkat Tuhan.

Bagi kita yang percaya kepada Tuhan, sebenarnya makanan itu tidak hanya berbentuk makanan jasmani saja. Karena tubuh yang terdiri dari jasmani dan rohani, kita juga harus mencukupi kebutuhan tubuh dengan makanan jasmani dan rohani. Makan untuk hidup, tetapi sayang ada banyak orang yang sakit atau mati rohaninya karena kurang makan atau tidak mengonsumsi makanan rohani yang baik.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa firmanNya adalah perlu agar kita bisa hidup di dunia ini. Tetapi, kita harus awas akan adanya banyak orang Kristen yang hidup untuk menikmati makanan rohani yang lagi populer, spektakuler dan enak didengar, tetapi mengandung sesuatu yang dapat merusak iman mereka. Makanan rohani yang tidak sehat biasanya membuat kita menjauhi Tuhan, tetapi makin terikat pada lingkungan atau orang tertentu.

Pagi ini kita belajar bahwa kita makan untuk hidup dan juga hidup untuk makan. Kita makan untuk hidup, tetapi bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa hidup kita juga untuk makan, dalam arti menggunakan hidup kita untuk mendengar dan melaksanakan Firman dengan benar serta memuliakan namaNya.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Aku ingin sukses juga

“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Yakobus 4: 10

Di dunia saat ini, manusia berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan. Keberhasilan manusia umumnya diukur dengan kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan hal-hal serupa. Dari kecil kebanyakan orang tua mengajarkan bahwa hal-hal diatas bisa dicapai anak-anak mereka jika mereka rajin belajar dan mau bekerja keras. Berbagai contoh dan teori ada dalam berbagai media, dan bahkan dikhotbahkan di gereja, tentang bagaimana kita dapat mencapai kesuksesan dalam hidup kita melalui keberanian dan keuletan kita,

Sukses menurut ukuran dunia adalah hal-hal yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepada diri kita. Sukses jugalah yang seolah menentukan harga diri kita di hadapan masyarakat. Sukses mungkin juga membuat kita yang Kristen merasa beruntung bahwa Tuhan lebih mengasihi kita daripada orang lain, seperti Tuhan mengasihi Abraham, Daud dan Salomo, atau orang-orang Kristen ternama dari zaman modern.

Adalah kenyataan hidup bahwa kita lebih banyak mendengar tentang cara bagaimana kita bisa mencapai kesuksesan dan kebahagiaan menurut ukuran manusia, daripada mempelajari apa kata Alkitab tentang hal itu. Alkitab dalam berbagai ayat, selalu menekankan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan akan kita capai melalui kehidupan dalam iman kepada Tuhan.

“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju. 1 Raja-Raja 2: 3

Apabila kita mengikuti berbagai ceramah umum tentang cara mencapai kesuksesan, selalu yang kita dengar adalah soal percaya diri dan kerja keras untuk mencapai cita-cita kita. Di gereja pun didengungkan nasihat bahwa kita harus mempunyai percaya diri untuk mendekati Tuhan dan berdoa dengan giat agar Tuhan memberkati kita dengan kesuksesan. Kesuksesan itu sendiri jarang dijelaskan apa artinya, padahal kesuksesan di mata Tuhan sangat berbeda dengan apa yang bisa dilihat manusia. Kesuksesan menurut Tuhan adalah kehidupan dalam iman kepadaNya, dan bukan harta duniawi seperti uang, kepandaian dan kemasyhuran, yang justru bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6: 21

Memang dalam hidup di dunia, setiap manusia membutuhkan uang dan kepandaian. Mereka yang bekerja keras akan mendapat hasil yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, jika dunia mengajarkan bahwa keserakahan itu bagus, greed is good, Tuhan menghendaki kita mempunyai rasa cukup dalam hidup kita; sebab dengan rasa cukup kita akan bisa merasakan kesuksesan kita dalam hidup ini. Sebaliknya, mereka yang berhasil menurut ukuran dunia seringkali merasa gagal karena tidak adanya rasa cukup.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Pada saat Yesus akan disalibkan, ia memasuki kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Ia yang Anak Allah, merendahkan diriNya sebagai manusia biasa, rakyat jelata. Jika kita berada bersama orang-orang yang mengelu-elukanNya, mungkin kita bisa merasakan perbedaan antara Yesus dan tokoh-tokoh yang ada. Yesus datang dengan kerendahan hati dan bukan kesombongan. Ia datang ke dunia dan bahkan disalibkan untuk menggenapi kehendak Allah Bapa.

Seperti kesuksesan Yesus berasal dari ketaatanNya kepada Allah Bapa, kesuksesan hidup kita akan terasa dalam ketaatan kita kepada firmanNya dan dalam kerendahan hati kita kepada Tuhan.

Benar-benar yakin?

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 5: 1

Apa yang sering dipikirkan manusia biasanya adalah hal-hal yang penting dalam hidup mereka. Tetapi, adalah kenyataan bahwa hal yang terpenting dalam hidup sebenarnya belum tentu dipikirkan manusia. Hal itu adalah hal hidup sesudah kehidupan di dunia. The life hereafter.

Sebagian orang berpikir bahwa hidup di dunia adalah sesuatu yang nyata dan karena itu mereka hanya memikirkan apa yang muncul dalam hidup sehari-hari. Mungkin mereka mulai memikirkan soal surga ketika mereka jatuh sakit atau lanjut usia. Tetapi banyak pula yang berpikir bahwa hidup di dunia adalah satu-satunya hidup yang ada. Ada pula mereka yang berpendapat bahwa soal surga adalah hak Tuhan. Karena itu, walaupun mereka tidak mengabaikan soal kerohanian sepenuhnya, mereka juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Pasrah saja, begitulah pikiran mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga orang yang kelihatannya sering memikirkan surga dalam hidupnya, seolah perbuatan mereka di dunia ini adalah kunci ke surga. Mereka ini sepertinya hidup untuk masa depan di surga, tetapi sebenarnya kesibukan mereka adalah kesibukan duniawi. Mereka sibuk berusaha untuk memenuhi “persyaratan” untuk bisa masuk ke surga, seperti yang ditentukan oleh guru-guru agama mereka. Mereka memakai hidup mereka sedemikian rupa untuk membeli karcis ke surga. Mereka berbuat sesuatu agar bisa merasa bahwa mereka sudah diselamatkan.

Bagi umat Kristen, keselamatan hanya merupakan karunia Tuhan dan karena itu tidak ada apapun yang bisa kita perbuat untuk mendapatkannya. Hanya melalui darah Yesus, kita bisa diselamatkan. Hal ini yang sering menimbulkan keraguan apakah kita benar-benar akan ke surga setelah hidup kita di dunia berakhir. Masalahnya, sebagai manusia kita selalu berbuat dosa setiap hari dan karena itu mungkin kita bertanya-tanya, apakah yang membuat kita merasa berbeda dari orang yang lain, yang kelihatannya mempunyai hidup yang lebih “suci” jika dibandingkan dengan hidup kita. Bagaimana kita bisa diselamatkan sedangkan orang lain tidak? Bagaimana kita bisa percaya bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang tertentu sedangkan kita bebas dari hukuman?

Karena keraguan bahwa Tuhan memilih orang-orang yang akan diselamatkanNya dan memberi kemungkinan untuk orang-orang itu untuk memperoleh keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus, banyak orang menjadi kurang yakin akan keselamatannya sendiri. Mereka tidak yakin bahwa dalam keadaan apapun mereka adalah orang pilihan, dan karena itu hidup mereka tidak berisi damai sejahtera. Kalau Tuhan itu baik, tentulah Ia akan menyelamatkan semua orang karena semua orang berdosa. Kalau Tuhan itu adil tentulah orang yang hidupnya lebih baik akan menerima keselamatan sekalipun mereka tidak mengenal Yesus. Apa yang membuat aku bangga bahwa aku mengenal Tuhan satu-satunya yang membawa keselamatan? Aku tidak juga bisa merasakan bahwa aku sudah diselamatkan!

Pagi ini kita belajar dari Roma 5:1 bahwa kita dibenarkan dengan iman kepada Yesus Kristus. Tidak ada perbuatan atau segi kehidupan kita yang bisa menolong kita untuk diselamatkan. Hanya karena pengurbanan Kristus kita mempunyai kesempatan untuk memasuki hidup baru didalam Dia. Hidup baru yang membawa kepada hidup yang kekal. Hidup kitta saat ini mungkin penuh dengan duri dan hari demi hari kita mungkin merasa bahwa kita adalah orang yang gagal.  Perasaan yang ada dalam hati kita mungkin hanya rasa sesal dan gundah, dan bukannya damai sejahtera seperti yang dijanjikan Tuhan kepada orang yang dipilihNya. Tetapi kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berjanji bahwa kita akan merasa diselamatkan, tetapi Ia berjanji bahwa kita akan diselamatkan jika kita mempunyai iman. Itulah yang seharusnya memberi kita keyakinan bahwa bagaimanapun keadaan kita saat ini, Tuhan senantiasa menyertai kita sampai akhir. Itulah juga yang seharusnya membawa rasa damai sejahtera dalam hidup kita!

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Mencari kebahagiaan sejati

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Kebahagiaan. Sukacita. Sesuatu yang dicari semua orang, tetapi yang sangat sulit ditemukan. Sekalipun seseorang mempunyai harta dan kekuasaan yang besar, belum tentu ia berbahagia. Kebahagiaan dicari banyak orang dan dengan demikian, banyak guru, orang pandai dan motivator mengajarkan bagaimana cara memperolehnya. Kebanyakan orang berpendapat bahwa kebahagiaan adalah di tangan kita. Kitalah yang bertanggung jawab untuk bisa membuat diri kita sendiri berbahagia. Kebahagiaan bergantung pada kemauan kita sendiri dan reaksi kita terhadap orang-orang dan suasana di sekitar kita. Itulah pendapat umum.

Banyak orang Kristen yang berdoa untuk kesuksesan dan kemakmuran, tetapi mungkin jarang yang berdoa untuk meminta sukacita. Herannya, mereka sering mengucapkan “semoga anda berbahagia” kepada orang lain. Mungkin ada keseganan dan rasa malu jika orang berdoa untuk kebahagiaan karena seyogyanya semua orang Kristen berbahagia. Kenyataannya adalah bahwa semua orang pernah mengalami saat-saat dimana kelihatannya hanya kesusahan yang ada. Benarkah bahwa kita sendiri yang bisa menentukan apakah kita bisa berbahagia? Bahwa kebahagiaan timbul dari diri kita sendiri?

Satu hal yang sangat penting yang mungkin tidak dikenal oleh orang yang belum beriman adalah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari kita sendiri. Berlawanan dengan ajaran agama lain dan teori manusia, kebahagiaan sejati sebenarnya berasal dari Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata kebahagiaan atau sukacita diterjemahkan sebagai “chara” yang berhubungan dengan kata “charis” yang berarti karunia. Kita tidak dapat merasakan sukacita dengan usaha sendiri, tetapi jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, mata rohani kita bisa terbuka untuk melihat betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Kebahagiaan atau sukacita adalah karunia Tuhan.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Kemampuan untuk melihat hidup dari perspektif yang benar tidaklah dimiliki semua orang. Orang yang bisa benar-benar merasa bersyukur atas hidup mereka tidaklah besar jumlahnya. Kebanyakan orang lebih mudah berfokus kepada apa yang mereka harapkan atau ingini, daripada bersyukur atas apa yang ada. Untuk orang Kristen, kebahagiaan akan datang ketika kita menyadari betapa besar karunia Tuhan dalam hidup kita sekalipun kita sekarang berada dalam kesulitan. Kebahagiaan akan muncul kalau kita bisa merasa cukup dan tidak menguatirkan hal-hal yang di luar kemampuan kita.

Pagi ini, surat Paulus yang ditulisnya dari penjara berbunyi:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberikan karunia sukacita kepada kita yang percaya, agar kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, dan juga bisa memancarkan sukacita ini kepada orang yang di sekitar kita.

Siapa anda?

“Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Matius 25: 12

Dalam perumpamaan “Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh” yang bisa dibaca dalam Matius 25: 1-13, Yesus mengisahkan soal kerajaan surga yang seperti sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai pria. Lima gadis yang bijaksana mempunyai pelita dan minyaknya, sedang lima gadis yang bodoh hanya mempunyai pelita tanpa minyak. Ketika mempelai pria datang, lima gadis yang bodoh datang terlambat karena harus membeli minyak; akibatnya mereka ditolak untuk masuk ke ruang pesta karena pintu sudah tertutup dan mereka tidak dikenali oleh mempelai pria.

Soal pesta pernikahan, tentu ada perbedaan kebiasaan antara jaman dahulu dan sekarang, tetapi jelas bahwa hanya para undangan yang bisa masuk. Juga ada beda besar antara Indonesia dan di Australia. Di Indonesia, pesta pernikahan biasanya megah, dengan jumlah undangan yang besar. Di Australia, dengan jumlah tamu 100 saja, sebuah pesta pernikahan sudah termasuk besar. Seringkali, karena besarnya pesta pernikahan di Indonesia, surat undangan harus dibawa seperti layaknya sebuah karcis bioskop. Hal itu untuk mencegah datangnya tamu yang tidak diundang. Mereka yang tidak dikenal, tidak bisa masuk ke ruang pesta.

Kebaktian gereja di Indonesia juga besar ukurannya jika dibandingkan dengan kebaktian di Australia. Memang hanya satu-dua gereja saja di Australia yang bisa menampung setidaknya 2000 jemaat. Tetapi, baik di Indonesia maupun Australia, orang tidak perlu memakai karcis untuk menghadiri kebaktian hari Minggu. Tua- muda, besar-kecil, semua orang boleh ke gereja sekalipun bukan orang Kristen. Tambahan lagi, untuk menghadiri kebaktian sudah tentu tidak dipungut biaya, dan karena itu soal ke gereja hanya berdasarkan kemauan saja.

Masalahnya, kalau hari Minggu ini kita mau pergi ke gereja, itu untuk apa? Apa sebabnya? Dalam ayat diatas, ada lima gadis yang menunggu datangnya pengantin ingin menghadiri pesta pernikahan tetapi tidak mempunyai kemauan untuk mengisi pelitanya dengan minyak dan tidak pula punya persediaan minyak. Mereka ingin menghadiri pesta pernikahan, tetapi tidak mau membuat persiapan.

Seperti itu juga, ada banyak orang yang ke gereja, tetapi tidak semuanya mau mengisi hidup mereka dengan hal-hal yang baik. Mereka ingin dan bahkan merasa sudah diselamatkan, tetapi tidak mau atau belum bertobat dari hidup lamanya. Iman mereka hanya seperti sebuah fatamorgana. Mereka mungkin percaya bahwa pengurbanan Kristus adalah karunia cuma-cuma yang tinggal mereka iyakan. Tetapi mereka tidak sadar bahwa bukan hal ke gereja, mengikuti misa, atau sudah dibaptis yang menandakan bahwa mereka sudah menerima anugrah keselamatan dan Roh Kudus. Pertobatan dan iman yang benar tidak mereka punyai, seperti minyak yang absen dari pelita gadis-gadis yang bodoh. Karena kebodohan mereka, gadis-gadis itu tidak bisa memasuki ruang pesta. Karena kebodohan yang serupa, sebagian orang akan ditolak untuk masuk ke surga. Bagaimana pula dengan kita?

“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Kisah Para Rasul 2: 38

Mengapa aku ada?

“…semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Pernahkah anda memikirkan mengapa anda ada di dunia ini? Mengapa anda dilahirkan pada saat tertentu dan dalam lingkungan keluarga tertentu? Dan mengapa pula anda harus mengalami kejadian-kejadian tertentu dalam hidup ini? Bagaimana pula dengan mereka yang dilahirkan dalam keadaan yang kurang menyenangkan dan harus hidup dan bahkan mati dalam penderitaan?

Bagi mereka yang selalu berada dalam keadaan nyaman adalah mudah untuk berkata bahwa Tuhan yang Mahakasih tidak berubah dari dulu, sekarang dan selamanya. Tetapi bagi mereka yang mengalami banyak masalah dan penderitaan, sering ada pertanyaan apa maksud Tuhan dengan membiarkan semuanya.

Adalah mudah bagi mereka yang hidup dalam kelimpahan dan kesuksesan untuk berkata bahwa Tuhan memberkati hidup mereka. Juga mungkin mudah bagi mereka yang hidup dalam kesulitan untuk berkata bahwa segalanya sudah ditentukan Tuhan. Tetapi bagi mereka yang masih mau bergulat dalam perjuangan, pertanyaan “mengapa ini harus dihadapi” tetaplah terngiang-ngiang.

Mengapa Tuhan menciptakan kita dalam keadaan kita? Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, nama Tuhan harus kita junjung tinggi. Dialah Sang Pencipta, Dialah yang Mahakuasa.

Mungkin pikiran kita bertanya, mengapa Tuhan harus kita permuliakan kalau hidup kita selalu penuh dengan tantangan. Apalagi, karena dunia yang penuh dosa hidup seringkali menjadi sangat berat. Mengapa Sang Pencipta tidak menciptakan hidup yang penuh kemudahan bagi anak-anakNya?

Tuhan menciptakan manusia dalam satu hari tetapi bukannya memberkati mereka untuk hidup pada hari itu saja. Tuhan menciptakan manusia untuk hari-hari yang akan datang. Hari-hari yang diisi dengan doa, kerja, iman dan pengharapan. Walaupun begitu, jika hidup hari ini tidak seperti yang kita harapkan, kita harus sadar bahwa itu adalah sebagian kecil dari rencana Tuhan untuk kita dan orang di sekitar kita.

Adalah keliru jika kita hanya memusatkan pikiran kita pada apa yang terjadi dan apa yang kita butuhkan hari ini saja. Kita tidak hidup untuk hari ini saja. Manusia diciptakan Tuhan untuk bisa memuliakanNya dalam setiap keadaan, sekarang dan selamanya. Karena itulah pada hari ini kita harus bisa merasa cukup dalam setiap keadaan dan tetap berdoa, bekerja, berharap dan beriman untuk masa depan. Tuhan yang menghendaki kita hidup untuk memuliakanNya adalah Tuhan yang memungkinkan semua yang kita alami untuk kebaikan kita dan orang lain, agar namaNya dapat dipermuliakan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kefanaan adalah keberuntungan

“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” Mazmur 39: 4

Bagi banyak orang, kenyataan bahwa pada suatu saat mereka harus meninggalkan dunia ini adalah suatu hal yang menakutkan, yang tidak perlu dipikirkan. Walaupun demikian, kesadaran bahwa hal itu bisa terjadi lebih awal dari apa yang mereka harapkan membuat sebagian orang sibuk dengan diet, olahraga, vitamin, dan lain-lain. Perbuatan yang sia-sia menurut iman Kristen, karena seorang pun tidak dapat memperpanjang hidupnya dengan sehasta saja (Matius 6: 27). Walaupun demikian, adalah kewajiban untuk setiap orang Kristen untuk memelihara tubuhnya selama masih hidup karena tubuh adalah milik Allah (1 Korintus 6: 19).

Pemazmur diatas seolah memohon Allah untuk membuka rahasia umurnya, agar ia tahu kapan ia akan mati. Kalau permohonan itu memang demikian, itu adalah perbuatan yang sia-sia karena tak ada seorang pun yang tahu waktunya (Pengkhotbah 9: 12). Karena itu, ayat diatas sebenarnya adalah pengakuan akan ketidaktahuan manusia akan masa depannya dan kesadaran akan kefanaannya; bahwa manusia akan mati pada saat yang tidak diketahuinya. Sungguh menyedihkan kedengarannya.

Memang kefanaan manusia adalah akibat dosa. Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, kutuk Allah tidak bakal ada. Manusia akan hidup bahagia bersama Sang Pencipta selamanya. Walaupun demikian, karena Allah itu Mahakasih, mereka yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal setelah hidup di dunia ini berakhir. Kefanaan membuka pintu menuju kekekalan.

Kefanaan memberi kesadaran bahwa manusia tidak hidup untuk selamanya di dunia ini, tetapi apa yang kekal akan datang sesudahnya. Mereka yang sadar bahwa hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan apa yang akan datang, seharusnya memikirkan apa yang terbaik untuk jangka panjang. Walaupun begitu, banyak orang yang justru berusaha untuk menikmati hidup yang fana ini saja, dan tidak mau memikirkan apa yang datang.

Kefanaan manusia bisa membawa manusia kepada hidup yang benar, yaitu hidup yang berfokus pada kekekalan hidup masa depan. Tetapi kefanaan bagi sebagian orang membuat mereka lupa bahwa jika mereka hanya hidup untuk masa kini, mereka akan hidup terpisah dari Tuhan untuk selamanya di masa depan. Kefanaan memang bisa berakhir dengan kebahagiaan yang kekal atau penderitaan yang kekal. Itu adalah pilihan pribadi tiap orang, tetapi bagi mereka yang hidup dalam Kristus kefanaan jelas adalah keuntungan!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Benarkah kau cinta aku?

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yohanes 21: 15

“I love you” biasanya diucapkan orang kepada orang yang dicintainya. Aku cinta padamu, begitulah ucapan bibir yang seharusnya merupakan ungkapan isi hati orang yang mengucapkannya. Di dunia barat ucapan ini sudah kurang berarti lagi karena banyak penyanyi atau tokoh masyarakat yang gampang-gampangan mengucapkannya didepan publik sekedar untuk membuat kesan baik saja. Enak di telinga, ringan di mulut, kosong di hati.

Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus apakah Petrus mencintaiNya, mengasihiNya, sampai tiga kali. Tiga kali Petrus menjawab dengan jawaban instan otomatis: “I love you”. Petrus menjawab dengan pikirannya dan bukan dengan hatinya. Pikirannya mendorong dia untuk menjawab demikian karena Yesus adalah guru yang sudah dikenalnya sejak lama. Orang baik yang dikaguminya.

Memang soal mencintai seseorang itu tidak mudah. Cinta yang murni, kasih, adalah cinta yang kekal dan tidak tergantung suasana, cinta tanpa pamrih yang mau berkorban. Cinta yang bukan berdasarkan mata dan pikiran, tetapi berdasarkan hati. Cinta yang tidak akan dimiliki manusia jika tidak ada contoh yang diberikan Tuhan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Sebagai orang Kristen kita tahu dan sering membaca betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Dengan pikiran, kita mungkin bisa menerima hal itu, karena iblis pun tahu bahwa Tuhan mengasihi dan melindungi umatnya (Ayub 2: 4-6). Tetapi mungkin kita belum bisa merasakan makna dan konsekuensinya dalam hidup kita.

Cinta dan kasih mudah didefinisikan, tetapi apa yang ada dalam pikiran belum tentu ada dalam hati manusia. Seringkali manusia mencintai orang lain karena “naluri” seperti cinta orang tua kepada anak, “keharusan” seperti dalam hubungan kekeluargaan, “kebiasaan” seperti dalam hubungan antara atasan dan bawahan, dan “kepantasan” seperti ajaran etika dan budaya. Yesus tahu bahwa Petrus masih belum sepenuhnya menggunakan hatinya dalam menjawab pertanyaanNya pada saat itu. Memang Petrus sering hanya memakai pikirannya sendiri selama mengikut Yesus.

Pagi ini, pertanyaan Yesus kepada kita adalah pertanyaan yang dulu ditujukan kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”. Ia bertanya apakah kita mengasihi Dia lebih dari pada siapapun dan apapun, di sepanjang waktu, baik dalam keadaan senang maupun duka.

Tidaklah mudah bagi kita untuk menjawab pertanyaan ini dengan hati kita. Mungkin, seperti Petrus kita bisa menjawab “ya” dengan mulut atau pikiran kita. Tetapi untuk menjawab dengan benar kita harus mempunyai iman dan pengharapan kepadaNya, bahwa Dialah yang lebih dulu mengasihi kita dan menebus dosa kita. Dialah yang menjadi harapan kita di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Untuk bisa menjawab dengan “ya”, seorang juga harus mempunyai hidup baru dan meninggalkan hidup lamanya. Meninggalkan hal-hal yang dulunya menjadi “kekasih” kita, entah itu diri kita sendiri, orang lain, harta kita, pikiran kita ataupun apa saja yang menghalangi kita untuk menjawab dengan hati kita. Hidup baru juga berarti mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Petrus pada akhirnya menyadari bahwa untuk menjawab “ya” tidaklah semudah yang dibayangkannya. Ia sendiri melihat kegagalannya dalam membuktikan janjinya – dengan tiga kali menyangkali Yesus. Tetapi Petrus menjadi manusia baru sepenuhnya setelah melihat penderitaan-penderitaan Yesus untuk menebus dosa manusia. Dengan penguatan Roh Kudus, Petrus bahkan menjadi seorang martir yang memegang janji kasihnya sampai akhir hayat. Bagaimana pula dengan kita?

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”. 1 Yohanes 4: 19