“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Yohanes 17: 11

Pernahkah anda nonton film TV yang berjudul “I dream of Jeannie”? Film komedi keluarga yang sangat populer di tahun 70an itu menggambarkan kehidupan seorang pria yang berteman dengan jin perempuan yang namanya Jeannie. Seringkali sang pria diganggu oleh jin lucu itu, tetapi terkadang keinginan pria itu terjadi karena Jeannie yang tidurnya didalam sebuah kendi itu bisa bekerja seperti tukang sulap.
Cerita tentang Jeannie diatas mungkin diilhami cerita khayal klasik yang serupa dan lucu yaitu “Aladin dan lampu wasiat” yang muncul di layar putih dan juga dalam musical show. Cerita ini menggambarkan Aladin yang mempunyai jin yang bisa memenuhi 3 permintaan. Tentunya permintaan Aladin yang terakhir adalah permintaan yang terpenting, yang harus dipikirkannya masak-masak karena setelah itu Aladin tidak bisa meminta apa-apa lagi.
Sebagai orang Kristen, kita tentunya tidak menyatakan keinginan kita kepada jin atau setan apapun, melainkan kepada Allah Bapa dalam nama Yesus. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, tiap hari kita berdoa bukan untuk keselamatan kita, tetapi memohon berkatNya untuk hidup dan kebutuhan kita dan juga orang lain. Ada berbagai hal yang kita butuhkan dan kita harus bersyukur karena kita boleh tiap hari memohon apa saja yang baik, dan Tuhan akan memberikan apa yang terbaik yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada batasnya, kita boleh memohon apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tetapi, jika kita hanya boleh meminta satu hal saja, apa yang akan kita pinta dari Tuhan? Jika kita pada saat terakhir boleh mengajukan satu permintaan saja, apakah permintaan kita?
Dalam ayat Yohanes 17: 11 diatas, Tuhan Yesus meminta satu hal kepada Allah Bapa sebelum Ia menghembuskan nafas terakhir di kayu salib. The last wish, the last request. Hanya satu kesempatan, dan karena itu tentunya permintaan itu adalah untuk hal yang paling penting. Yesus sebenarnya dapat meminta agar pengikutNya memperoleh hidup aman, bahagia dan makmur, mungkin juga untuk kesehatan dan umur panjang untuk mereka yang hidupnya baik. Tetapi Yesus justru berdoa agar mereka tetap bersatu dalam iman kepada Bapa dan Anak, Tuhan kita. Doa permohonan terakhir yang menunjukkan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia menurut Yesus.
Pagi ini, marilah kita bayangkan sekiranya kita hanya mempunyai satu kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, apakah yang akan kita minta? Satu kesempatan, satu hal yang paling penting. Apakah kita akan berdoa untuk kekayaan, kesuksesan, kesehatan kita? Masihkah kita berdoa memohon keselamatan kita? Ataukah kita berdoa agar anak cucu kita berhasil karirnya dan hidup makmur? Ataukah kita berdoa agar kita diberikan iman yang teguh sampai akhir hayat? Mungkin juga memohon agar anak cucu kita semuanya menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka?
Doa kita mencerminkan prioritas hidup kita. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan, kesuksesan, kesehatan dan harta duniawi lainnya akan memusatkan hidup mereka pada hal- hal itu. Doa mereka akan berfokus pada hal-hal duniawi. Tetapi mereka yang yakin akan keselamatan mereka akan berdoa untuk keteguhan iman bagi mereka dan orang lain, agar semua orang yang percaya pada akhirnya bisa bersatu di surga. Mereka akan hidup benar dan bekerja melayani Tuhan dan menolong orang-orang di sekitarnya agar bisa mengenal Yesus. Mereka yang menyadari penderitaan Yesus di kayu salib akan mengerti bahwa penderitaan dan perjuangan mereka di dunia bukanlah bandingannya. Bahwa yang terpenting dalam hidup manusia adalah hidup kekal bersama Tuhan kita!
“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Lukas 13: 31
Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar seperti raksasa, kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat.
Jika anda sempat berkunjung ke Singapura atau Hong Kong, anda akan melihat adanya hal yang mencolok mata setiap hari Minggu. Ribuan pembantu rumah tangga membanjiri taman-taman dan pusat perbelanjaan di kota dan berpiknik disana. Memang hari minggu adalah hari dimana mereka memperoleh kesempatan untuk berlibur setelah bekerja enam hari. Adalah keharusan untuk mereka yang mempunyai pembantu agar memperbolehkan pembantu mereka untuk keluar rumah pada hari Minggu untuk menikmati hari itu.
Kemarin malam saya sempat menonton konser musik yang penyanyinya sangat populer di tahun 70an. Ratusan orang memenuhi gedung konser di Toowoomba dan mereka semua terlihat gembira menikmati lagu-lagu yang sempat ngetop 45 tahun yang lalu. Sayapun merasa sepertinya jam sudah diputar balik sehingga apa yang terjadi di masa lalu seolah muncul kembali di alam pikiran saya. Nostalgia! Serasa hari kemarin saja, saya bisa membayangkan bagaimana lagu-lagu itu muncul baik di radio maupun TV; dan dengan itu pikiran pun melayang ke saat-saat indah di masa muda yang sudah lama lewat.
Istilah “check-up” sekarang ini sudah dikenal mayarakat di Australia. Mereka yang sadar akan pentingnya kesehatan, pergi ke dokter secara berkala untuk pemeriksaan kesehatan. Mereka yang sehat dan umurnya dibawah 35 tahun biasanya check-up tiap 2-3 tahun. Mereka yang berumur 35-45 tahun dan sehat serta tidak punya resiko kesehatan, dianjurkan check-up dua tahun sekali. Untuk yang berumur diatas 45, pemeriksaan kesehatan sesuai dengan standar medis, harus dilakukan setidaknya setahun sekali. Walaupun check-up normal biasanya bebas biaya, masih banyak orang yang tidak mengacuhkan pentingnya pemeriksaan kesehatan ini. Mungkin karena merasa sehat atau sekedar malas, orang sering menunda-nunda. Karena itu seringkali orang dikejutkan oleh munculnya penyakit atau masalah kesehatan secara “tiba-tiba”.
Dalam hidup ini kita selalu mengalami berbagai peristiwa yang mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Dalam hal ini, biasanya pilihan kita hanya dua: berbuat sesuatu (do something) atau tidak berbuat apa-apa (do nothing). Namun ada orang yang berpendapat bahwa sekalipun kita tidak berbuat apa-apa, itupun adalah tindakan yang sudah kita pilih dan perbuat. Memang, berdiam diri, tidak berbuat atau berkata apa-apa, bisa merupakan tindakan yang tepat dalam hal-hal tertentu, sebelum menemukan jalan yang lebih baik.
Satu pemandangan yang menarik di Indonesia adalah adanya kios-kios bensin eceran pinggir jalan yang masih sering dijumpai, terutama di jalan-jalan pedesaan. Karena jarangnya pompa bensin resmi di daerah itu, penjual bensin liar pun bermunculan. Mereka yang menjual bensin sedemikian sebenarnya melawan hukum karena tidak memenuhi persyaratan keamanan penyimpanan dan kemurnian produk. Walaupun demikian, masyarakat dan petugas hukum tidak melarang mereka berjualan bensin.
Seingat saya, sewaktu anak-anak saya masih di sekolah dasar, pertanyaan mereka yang paling sulit dijawab adalah “mengapa”. Setiap kali pertanyaan mereka dijawab, pertanyaan “mengapa” yang baru akan muncul, sehingga saya harus terus mencari jawabannya. Pada akhirnya, mereka akan diam setelah saya menjawabnya dengan kata “sebab” tanpa menerangkan sebabnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan “why?” biasanya berakhir dengan satu jawaban saja: “because”. Titik. Mereka berhenti bertanya karena mereka tahu bahwa saya tidak bersedia menjawabnya atau jawabannya terlalu sulit untuk mereka mengerti.