Apakah permintaan terakhir anda?

“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Yohanes 17: 11

Pernahkah anda nonton film TV yang berjudul “I dream of Jeannie”? Film komedi keluarga yang sangat populer di tahun 70an itu menggambarkan kehidupan seorang pria yang berteman dengan jin perempuan yang namanya Jeannie. Seringkali sang pria diganggu oleh jin lucu itu, tetapi terkadang keinginan pria itu terjadi karena Jeannie yang tidurnya didalam sebuah kendi itu bisa bekerja seperti tukang sulap.

Cerita tentang Jeannie diatas mungkin diilhami cerita khayal klasik yang serupa dan lucu yaitu “Aladin dan lampu wasiat” yang muncul di layar putih dan juga dalam musical show. Cerita ini menggambarkan Aladin yang mempunyai jin yang bisa memenuhi 3 permintaan. Tentunya permintaan Aladin yang terakhir adalah permintaan yang terpenting, yang harus dipikirkannya masak-masak karena setelah itu Aladin tidak bisa meminta apa-apa lagi.

Sebagai orang Kristen, kita tentunya tidak menyatakan keinginan kita kepada jin atau setan apapun, melainkan kepada Allah Bapa dalam nama Yesus. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, tiap hari kita berdoa bukan untuk keselamatan kita, tetapi memohon berkatNya untuk hidup dan kebutuhan kita dan juga orang lain. Ada berbagai hal yang kita butuhkan dan kita harus bersyukur karena kita boleh tiap hari memohon apa saja yang baik, dan Tuhan akan memberikan apa yang terbaik yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada batasnya, kita boleh memohon apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tetapi, jika kita hanya boleh meminta satu hal saja, apa yang akan kita pinta dari Tuhan? Jika kita pada saat terakhir boleh mengajukan satu permintaan saja, apakah permintaan kita?

Dalam ayat Yohanes 17: 11 diatas, Tuhan Yesus meminta satu hal kepada Allah Bapa sebelum Ia menghembuskan nafas terakhir di kayu salib. The last wish, the last request. Hanya satu kesempatan, dan karena itu tentunya permintaan itu adalah untuk hal yang paling penting. Yesus sebenarnya dapat meminta agar pengikutNya memperoleh hidup aman, bahagia dan makmur, mungkin juga untuk kesehatan dan umur panjang untuk mereka yang hidupnya baik. Tetapi Yesus justru berdoa agar mereka tetap bersatu dalam iman kepada Bapa dan Anak, Tuhan kita. Doa permohonan terakhir yang menunjukkan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia menurut Yesus.

Pagi ini, marilah kita bayangkan sekiranya kita hanya mempunyai satu kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, apakah yang akan kita minta? Satu kesempatan, satu hal yang paling penting. Apakah kita akan berdoa untuk kekayaan, kesuksesan, kesehatan kita? Masihkah kita berdoa memohon keselamatan kita? Ataukah kita berdoa agar anak cucu kita berhasil karirnya dan hidup makmur? Ataukah kita berdoa agar kita diberikan iman yang teguh sampai akhir hayat? Mungkin juga memohon agar anak cucu kita semuanya menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka?

Doa kita mencerminkan prioritas hidup kita. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan, kesuksesan, kesehatan dan harta duniawi lainnya akan memusatkan hidup mereka pada hal- hal itu. Doa mereka akan berfokus pada hal-hal duniawi. Tetapi mereka yang yakin akan keselamatan mereka akan berdoa untuk keteguhan iman bagi mereka dan orang lain, agar semua orang yang percaya pada akhirnya bisa bersatu di surga. Mereka akan hidup benar dan bekerja melayani Tuhan dan menolong orang-orang di sekitarnya agar bisa mengenal Yesus. Mereka yang menyadari penderitaan Yesus di kayu salib akan mengerti bahwa penderitaan dan perjuangan mereka di dunia bukanlah bandingannya. Bahwa yang terpenting dalam hidup manusia adalah hidup kekal bersama Tuhan kita!

“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Lukas 13: 31

Mission Impossible?

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17: 45

Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di  lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar seperti raksasa, kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat.

Daud yang muda belia dan bertubuh kecil dari bani Israel pada saat itu mengunjungi medan perang. Ia mengajukan diri untuk menjadi lawan Goliat. Walaupun semua orang mencemoohkan dia, Daud akhirnya maju menghadapi Goliat dan berhasil membunuh pendekar Filistin itu dalam beberapa detik saja. Karena kematian Goliat, tentara Filistin menjadi hancur keberaniannya dan dikalahkan olen tentara Israel dengan mudah.

Dua hal yang menarik perhatian adalah, yang pertama, kemauan dan keberanian Daud yang untuk ukuran manusia tidaklah masuk diakal. Yang kedua adalah kemenangan Daud atas Goliat dan kemenangan tentara Israel atas tentara Filistin yang menurut akal sehat tidaklah mudah untuk bisa dimengerti. Mengapa hal yang diluar dugaan bisa terjadi untuk membawa kemenangan bagi bangsa Israel? Bukankah lebih mudah bagi Tuhan untuk membiarkan orang Israel mengalahkan orang Filistin melalui perang yang biasa, yang konvensional?

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah diatas:

  1. Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang Mahakuasa yang kepadaNya kita boleh serahkan segala masalah kita. Mission impossible Daud menjadi kemenangan bani Israel karena Tuhan sendirilah yang menghadapi Goliat dan orang Filistin. Demikian juga, Tuhanlah yang akan mengalahkan persoalan-persoalan kita jika kita mau bersandar kepada Dia.
  2. Tuhan mengundang setiap umatNya untuk menjadi seperti Daud yang mempunyai rasa hormat, ketaatan dan iman kepadaNya. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Ialah yang bisa melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat kita mengerti, untuk kebaikan kita di masa depan.
  3. Tuhan yang Mahabijaksana adalah Tuhan yang mempunyai rencana untuk hidup seluruh manusia dan bahkan alam semesta. Apa yang terjadi dalam hidup kita berjalan sesuai dengan kehendakNya dan terjadi pada waktu yang ditetapkanNya. Hidup kita akan jauh lebih ringan jika kita mau berserah kepadaNya.

Pagi ini, jika kita mempunyai masalah yang besar, kita harus bersedia menjadi seperti Daud ketika menghadapi Goliat. Tuhan yang sudah melindungi kita sampai saat ini, adalah Tuhan yang akan menyertai kita di masa mendatang!

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Eh aspal lagi!

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11: 14

Di zaman ini, melalui berbagai media kita bisa memperoleh berbagai berita aktuil. Berita yang dulunya harus bersumber dari radio, TV dan koran saja, sekarang bisa diperoleh dari mobile phone dan komputer. Memang sejak adanya internet, orang bisa mendapat berita dari mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Hal itu memang baik jika berita yang disampaikan adalah berita yang benar, yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, berita palsu atau fake news seringkali membawa kekacauan dan kekuatiran dalam hidup bermasyarakat. Celakanya, orang seringkali menyampaikan berita palsu sedemikian kepada orang lain sekedar untuk berbagi berita. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau berbagai hoax yang muncul dan beredar selama bertahun-tahun masih juga bisa memakan korban baru.

Sebenarnya fake news itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Berita palsu yang diciptakan iblis, membuat Adam dan Hawa terkecoh (Kejadian 3: 4-5). Karena itu, berita palsu yang muncul setiap hari di zaman ini dan yang berusaha mengacaukan masyarakat pada umumnya, dan umat Kristen pada khususnya, sudah dapat dipastikan akan mendapat dukungan iblis. Iblis adalah bapa segala dusta.

“…Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Jika sebuah berita palsu itu terkadang sulit dibedakan dari berita yang benar, dengan penyelidikan yang teliti biasanya orang bisa memutuskan benar tidaknya berita itu. Walaupun demikian, orang seringkali tidak mau menyempatkan diri untuk mempelajari benar tidaknya, tetapi langsung menyampaikan berita itu ke orang lain. Mungkin saja si pengirim menganggap bahwa jika pun berita itu palsu, ia bukanlah pembuatnya dan karena itu ia tidak bersalah. Benarkah?

Apa yang harus kita sadari ialah kekacauan di dunia dan diantara umat Tuhan adalah sesuatu yang dikehendaki iblis. Karena itu, jika kita melakukan hal-hal yang serupa dengan apa yang dilakukan iblis, kita sudah sependapat dengannya; kita seolah sudah menjadi “agen” iblis. Lebih parah dari itu, ada orang-orang yang mengaku Kristen tetapi dengan sengaja memutar balikkan fakta dengan menyebarkan berita palsu. Mungkin saja iblis sudah menyamar sebagai anak-anak Tuhan!

Memang mungkin kita tidak dengan sengaja menyebarkan berita palsu. Kita memang tidak selalu sadar bahwa melalui perbuatan kita, iblis bisa mendapat kesempatan untuk mengacaukan kehidupan manusia, terutama umat Tuhan. Dalam hal ini, iblis sering memanfaatkan kelemahan manusia yang seringkali memilih apa yang tidak baik dalam ketidaktahuannya.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita berpihak kepada Yesus, kita harus awas dan waspada untuk menghindari apa yang tidak baik. Kita harus mempunyai kebijaksanaan dan tanggung jawab untuk bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk, apa yang benar dari apa yang palsu. Biarlah Tuhan menolong kita dengan bimbingan Roh Kudus!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari Sabat, hari pemberian Tuhan

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Jika anda sempat berkunjung ke Singapura atau Hong Kong, anda akan melihat adanya hal yang mencolok mata setiap hari Minggu. Ribuan pembantu rumah tangga membanjiri taman-taman dan pusat perbelanjaan di kota dan berpiknik disana. Memang hari minggu adalah hari dimana mereka memperoleh kesempatan untuk berlibur setelah bekerja enam hari. Adalah keharusan untuk mereka yang mempunyai pembantu agar memperbolehkan pembantu mereka untuk keluar rumah pada hari Minggu untuk menikmati hari itu.

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa kita harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, manusia tidak akan dapat beristirahat pada hari Minggu. Dunia ini penuh dengan atraksi yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Setelah seminggu orang bekerja, malam Minggu di berbagai kota adalah kesempatan untuk berpesta pora dan bermalam panjang. Karena itu, bagi sebagian orang, hari Minggu adalah kesempatan untuk memperoleh ekstra tidur sesudah begadang. Begitu pula, sebagian manusia yang lain berpikir bahwa hari Minggu adalah hari yang bisa dipakai untuk tidak memikirkan apa-apa, selain rekreasi, makan dan tidur. Mereka tidak suka kalau satu hari yang tersisa dalam seminggu harus dipakai untuk memikirkan kebutuhan rohani.

Hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Tanpa itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik dalam jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Oh nostalgia….

Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput. Mazmur 102: 11

Kemarin malam saya sempat menonton konser musik yang penyanyinya sangat populer di tahun 70an. Ratusan orang memenuhi gedung konser di Toowoomba dan mereka semua terlihat gembira menikmati lagu-lagu yang sempat ngetop 45 tahun yang lalu. Sayapun merasa sepertinya jam sudah diputar balik sehingga apa yang terjadi di masa lalu seolah muncul kembali di alam pikiran saya. Nostalgia! Serasa hari kemarin saja, saya bisa membayangkan bagaimana lagu-lagu itu muncul baik di radio maupun TV; dan dengan itu pikiran pun melayang ke saat-saat indah di masa muda yang sudah lama lewat.

Memang masa muda seseorang biasanya adalah saat yang lebih terisi dengan kegiatan yang seirama dengan semangat untuk menikmati apa yang ada, dan kurang memikirkan tanggung jawab dan kewajiban yang lazimnya untuk orang dewasa. Untuk banyak anak muda, jelas bahwa waktu terasa berjalan dengan perlahan sebab masa muda berisi penantian akan kesempatan yang akan datang. Namun, sesudah menginjak usia dewasa, kenyataan hidup manusia mungkin sangat berlainan. Dengan bertambahnya umur manusia, waktu terasa berjalan cepat karena masalah dan tantangan hidup seringkali datang bertubi-tubi dan sulit diselesaikan, Dengan menanjaknya usia, kesehatan mungkin mulai menurun dan kesempatan yang diharapkan sejak lama mungkin sudah lenyap.

Penulis Mazmur dalam ayat diatas barangkali merasakan hal yang banyak dirasakan oleh orang yang sadar akan waktu yang berlalu dengan cepat. Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku menjadi layu seperti rumput, katanya. Matahari kehidupan sudah hampir terbenam, tetapi aku masih berdiri di tempat yang sama, dan hanya bisa menyesali mengapa waktu begitu cepat berlalu. Apa yang sudah aku peroleh sampai saat ini terasa sebagai suatu kehampaan, karena aku sadar bahwa aku tidak dapat mencapai apa yang aku idamkan!

Apa yang sudah kita alami pada saat yang silam memang mempengaruhi kehidupan kita sekarang. Pengalaman manis yang pernah kita alami di masa lalu mungkin bisa meyakinkan kita akan kasih Tuhan, tetapi mungkin juga bisa menyebabkan rasa kecewa atas apa yang sekarang ada. Sebaliknya, apa yang pahit di masa lalu dapat menimbulkan rasa getir yang terus muncul dalam hidup kita sekarang, tetapi bisa juga memberi kekuatan kepada kita melalui keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertai kita dalam semua keadaan. Nostalgia bisa menimbulkan perasaan yang berbeda-beda, tergantung pada sikap dan reaksi kita kepada apa yang telah terjadi.

Bagaimana reaksi pemazmur ketika ia merasa bahwa hidupnya sungguh berat dengan pengalaman-pengalaman pahit yang dialaminya sebelumnya? Bagaimana rasanya setelah ia sadar bahwa waktu sudah berlalu begitu cepat dan ia tidak lagi mempunyai semangat dan gairah untuk masa depan? Bagaimana pula jika kita menghadapi hal yang serupa dalam hidup kita, dan perasaan kita juga membisikkan bahwa kesempatan untuk mencapai sesuatu sudah lewat?

Pemazmur tidak mau berlama-lama tinggal dalam pikiran dan nostalgianya. Dalam ayat berikutnya ia berkata:

“Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun.” Mazmur 102: 12

Keyakinan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang Mahakuasa yang memelihara seluruh umatNya, membuat ia menghentikan nostalgianya. Berhenti memikirkan betapa malang hidupnya, berhenti merasa kuatir dan takut menghadapi hari depan. Bagaimana pula kita dengan nostalgia kehidupan dan tantangan hari depan kita? Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kedalam bimbingan tangan Tuhan yang bersemayam untuk selama-lamanya dan mengasihi kita dan keluarga kita? Biarlah Tuhan menguatkan kita sekalian.

Perlu check-up?

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Galatia 6: 4

Istilah “check-up” sekarang ini sudah dikenal mayarakat di Australia. Mereka yang sadar akan pentingnya kesehatan, pergi ke dokter secara berkala untuk pemeriksaan kesehatan. Mereka yang sehat dan umurnya dibawah 35 tahun biasanya check-up tiap 2-3 tahun. Mereka yang berumur 35-45 tahun dan sehat serta tidak punya resiko kesehatan, dianjurkan check-up dua tahun sekali. Untuk yang berumur diatas 45, pemeriksaan kesehatan sesuai dengan standar medis, harus dilakukan setidaknya setahun sekali. Walaupun check-up normal biasanya bebas biaya, masih banyak orang yang tidak mengacuhkan pentingnya pemeriksaan kesehatan ini. Mungkin karena merasa sehat atau sekedar malas, orang sering menunda-nunda. Karena itu seringkali orang dikejutkan oleh munculnya penyakit atau masalah kesehatan secara “tiba-tiba”.

Seperti manusia, mobil pun perlu perawatan berkala. Umumnya, setahun sekali check-up dilakukan di bingkil mobil, setidaknya untuk mengganti oli dan pemeriksaan rem dan ban sesuai dengan manual perawatan mobil yang ada. Berbeda dengan check-up kesehatan manusia, check-up mobil tidak gratis, dan karena itu banyak orang yang berusaha merawat sendiri mobil mereka, sebisanya, apalagi kalau mobil itu bukanlah baru. Padahal, semakin tua mobil itu, semakin banyak perawatan yang diperlukan. Akibatnya, seringkali mobil yang kurang terawat itu mengalami kerusakan di jalan. Kerusakan yang sebenarnya tidak terjadi secara “tiba-tiba”, tetapi secara berangsur-angsur dan bisa diduga.

Kalau badan manusia dan mobil memerlukan check-up secara teratur, kehidupan rohani kita pun memerlukan hal yang serupa. Ayat diatas menyatakan bahwa kita harus menguji, memeriksa hidup kita, agar kita dapat menyadari apakah hidup kita ini sudah dan masih berjalan sesuai dengan standar dan manual kesehatan rohani yaitu Firman Tuhan.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang yang mengaku Kristen, yang dilahirkan dalam keluarga Kristen, atau hidup dalam lingkungan Kristen, tetapi tidak menyadari perlunya pemeriksaan kehidupan mereka. Ada banyak orang Kristen yang rajin ke gereja dan membaca Alkitab, tetapi tidak mau atau mampu memakai Firman Tuhan untuk menguji kehidupannya. Seringkali apa yang dibaca lebih mudah dihubungkan dengan kehidupan orang lain dan keadaan dunia daripada diterapkan dalam kehidupan sendiri. Seringkali orang yang sudah lama mengenal Yesus merasa bahwa kehidupan mereka berjalan dengan baik, sampai saat terjadinya goncangan dan godaan iman yang datang secara “tiba-tiba”.

Memang untuk bisa menguji dan memeriksa kesehatan jasmani atau pun rohani, kita memerlukan kesadaran diri sendiri bahwa sebagai manusia kita adalah lemah. Seperti penyakit jasmani yang bisa muncul karena berbagai sebab internal maupun eksternal, masalah rohani juga bisa muncul dari dalam dan dari luar. Dengan bertambahnya umur, masalah-masalah ini bukannya bertambah kecil, tetapi seringkali justru bertambah besar sekalipun kita kurang menyadarinya. Sering, karena terbuai dengan keadaan kita yang sekarang, kita lupa untuk tetap berjaga-jaga untuk menghadapi masa depan.

Pagi ini marilah kita berdoa kepada Tuhan agar membiarkan Roh Kudus untuk membimbing kita, agar kita bisa menyadari pentingnya “check-up” kehidupan iman kita – bukan setahun sekali – tetapi setiap hari. Hari demi hari kita harus bisa melihat, menguji dan menganalisa kehidupan kita sediri, tanpa membandingkannya dengan kehidupan orang lain, apakah kita tetap berjalan didalam terangNya.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Efesus 5: 8-10

Kapan kita ketemu lagi?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Perjumpaan dengan seorang teman yang sudah lama tidak pernah berjumpa adalah perjumpaan yang seringkali sangat menyenangkan. Betapa tidak? Masa lalu yang dilewati bersama, entah itu di kampung halaman, sekolah, kantor, atau di mana saja, seolah kembali muncul di pikiran mereka yang kemudian bertemu lagi. Sekalipun usia sudah meningkat dan wajah serta bentuk tubuh berubah, adalah masa lalu yang membuat satu dengan yang lain merasakan adanya ikatan persahabatan. Apalagi jika selama tahun-tahun yang silam mereka tetap membina persahabatan itu lewat surat, email, sms dan sebagainya, hubungan persahabatan itu bisa tetap terpelihara dengan kuat karena mereka tetap saling mengenal pribadi masing-masing sekalipun mereka terpisah oleh jarak ribuan kilometer.

Kerinduan orang untuk menjumpai teman lama dan kegembiraan yang kita alami ketika melihat teman yang lama tidak kita jumpai terkadang bisa menimbulkan hal yang agak memalukan, mengecewakan atau kurang menyenangkan. Ada kalanya seorang mengira bahwa orang yang dijumpainya di mall adalah teman sekolah di masa muda, hanya untuk kemudian dikecewakan karena setelah sejenak bertukar informasi, ternyata orang itu bukan temannya. Rupanya mirip betul, tapi orangnya lain! Sebaliknya pernah juga terjadi bahwa seseorang bertemu dengan orang yang mengaku bahwa ia adalah teman sewaktu kecil, tetapi setelah omong-omong terbukti bahwa orang itu hanya berpura-pura dan punya maksud yang jelek. Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa perjumpaan dengan teman lama menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan karena kedua pihak sudah berubah menjadi pribadi-pribadi yang sangat berbeda setelah selang waktu yang panjang.

Memang kita tahu bahwa seseorang adalah teman lama kita karena kita kenal orangnya dan karena adanya pengalaman hidup bersama sebelumnya. Sekalipun tahun-tahun sudah berlalu dan keadaan sudah berubah, hubungan masa lalu membuka kesempatan untuk pertemuan antar teman lama. Tetapi hubungan yang ada selama kita berpisah adalah kunci kelanggengan hubungan kita di masa depan. Tanpa hubungan yang terus berlangsung, kita mungkin ingat namanya dan tahu siapa dia, tetapi belum tentu kita tahu apakah kita tetap sehati sepikiran seperti dulu. Teman baik waktu kecil belum tentu bisa menjadi teman, apalagi teman yang cocok, di masa mendatang.

Ayat di atas menggambarkan kisah persahabatan kita dengan Tuhan. Sebagai orang Kristen kita mungkin ingat saat kita mulai berkenalan dengan Yesus, dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita. Mungkin itu sepuluh, dua puluh atau bahkan lima puluh tahun yang silam. Barangkali kita masih ingat janji kita kepadaNya: We are friends forever! Kita adalah teman sejati selamanya! Waktu itu seolah kita bisa melihat Dia muka dengan muka, kita merasakan kehadiranNya. Tahun demi tahun berlalu, kita menjalani hidup kita di dunia dan jarak yang begitu jauh memisahkan kita dari Yesus yang di surga. Apakah kita tetap berteman baik dengan Dia?

Banyak orang Kristen berpendapat bahwa perjumpaan kita dengan Yesus di masa lalu dan janji kita dulu untuk bersahabat denganNya sampai mati, adalah cukup untuk menjamin bahwa Ia akan mengenali kita dan menerima kita di surga sebagai teman lamaNya. Percaya saja sudah cukup, kata orang. Tetapi ini tidak benar, karena iblis pun percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Yakobus 2: 19). Kenal akan namaNya, tahu tentang Dia, dan tidak memusuhiNya bukan berarti bersahabat dengan Dia. Bukan berarti percaya kepadaNya. Persahabatan yang benar dengan Tuhan adalah dengan terus berkomunikasi denganNya, menjalankan perintahNya, hidup baik sesuai dengan kehendakNya dan beriman teguh sampai kita bertemu lagi dengan Dia di surga.

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita. Masih adakah kerinduan kita untuk bertemu dengan Yesus, Sahabat kita yang setia? Apakah kita benar-benar tetap kenal, beriman kepadaNya? Apakah kita yakin bahwa Yesus akan mengenali kita sebagai sahabatNya ketika kita ketemu lagi muka dengan muka? Ataukah hidup kita sudah berubah sedemikian rupa sehingga kita hanya bisa mengaku sebagai sahabatNya sekalipun kita tidak lagi mengenal Dia? Marilah kita tetap mau mempertahankan dan memperkuat persahabatan kita dengan Yesus selama kita hidup di dunia!

Kapan diam, kapan pula bicara?

“Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Kisah 4: 20

Dalam hidup ini kita selalu mengalami berbagai peristiwa yang mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Dalam hal ini, biasanya pilihan kita hanya dua: berbuat sesuatu (do something) atau tidak berbuat apa-apa (do nothing). Namun ada orang yang berpendapat bahwa sekalipun kita tidak berbuat apa-apa, itupun adalah tindakan yang sudah kita pilih dan perbuat. Memang, berdiam diri, tidak berbuat atau berkata apa-apa, bisa merupakan tindakan yang tepat dalam hal-hal tertentu, sebelum menemukan jalan yang lebih baik.

Silence is golden, begitulah peribahasa mengatakan bahwa berdiam diri adalah sebuah tindakan yang bijaksana, daripada salah omong. Peribahasa ini dipakai untuk membenarkan seseorang dalam tidak mengambil tindakan atau menyuarakan pendapatnya. Sayang sekali banyak orang yang menggunakan prinsip ini dengan tujuan yang salah, yaitu untuk melindungi dirinya sendiri dari konsekuensi yang mungkin ada jika ia menyuarakan pendapatnya. Prinsip ini sering dipakai oleh orang yang tidak bisa atau tidak mau mengambil tindakan. Prinsip ini jugalah yang sering menyebabkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan dalam rumah tangga dimana pelecehan anggota keluarga terjadi secara tersembunyi karena tidak ada orang yang berani bersuara.

Sejarah memang membuktikan bahwa ada banyak orang yang dipermalukan, mengalami kecaman, penistaan, hukuman, penderitaan, dan bahkan penyiksaan karena mereka “salah omong”. Sejarah gereja pun penuh dengan kejadian-kejadian tragis yang disebabkan karena adanya orang-orang yang melakukan tindakan atau menyuarakan pendapat yang dianggap keliru oleh orang lain. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan Yesus pun mati di kayu salib karena Ia mengaku bahwa diriNya adalah Anak Allah.

Sesudah Yesus naik ke surga, murid-muridNya memenuhi amanah agung (Matius 28:18-20) untuk mengabarkan Injil kepada semua bangsa. Dengan penyertaan Roh Kudus mereka menjadi berani dan mempunyai semangat yang berapi-api, menghadapi masyarakat dan pemerintah di mana pun guna memberitakan kebenaran Kristus. Karena itu kita sekarang dapat melihat begitu banyak orang dan pemerintah yang mengenal prinsip-prinsip keKristenan baik dalam hukum maupun etika sehari-hari.

Sebagai orang Kristen, kita semua juga memperoleh panggilan yang sama untuk menjadi garam dan terang dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 13-14

Karena itu kita harus bisa menunjukkan sifat, sikap dan perbuatan keKristenan kita agar orang lain bisa melihatnya dan mengenal Allah kita. Dengan demikian, “do nothing” adalah sesuatu yang seharusnya dihindari oleh orang Kristen. Kita justru harus mempunyai “passion”, semangat, dan “compassion”, rasa sehati, dalam menghadapi kejanggalan, kemiringan, kesenjangan, dan ketidakadilan apapun dalam hidup bermasyarakat dan bernegara; dan dalam mencari penyelesaiannya. Ini bukan saja dalam soal hukum dan ekonomi, tetapi juga dalam hal budaya dan hidup sehari-hari, baik kecil maupun besar.

Pagi ini kita belajar untuk mengerti akan tanggung jawab kita selaku pengikut Yesus. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kesempatan yang sama. Umat Kristen adalah individu-individu yang berbeda yang mempunyai karunia-karunia yang berlainan sekalipun Roh Kudus yang sama ada dan bekerja dalam hidup setiap orang percaya. Setiap orang mempunyai talenta yang berbeda dan karena itu ada yang terpanggil untuk berbicara atau bertindak dalam lingkungan dan situasi tertentu, tetapi ada juga yang terpanggil untuk berdiam diri, mendukung dan mendoakan yang lain. Biarlah Roh sendiri yang membimbing kita dalam mengambil tindakan dalam hidup kita!

“Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Roma 12: 8

Kehabisan bensin?

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya”. Yesaya 40: 29

Satu pemandangan yang menarik di Indonesia adalah adanya kios-kios bensin eceran pinggir jalan yang masih sering dijumpai, terutama di jalan-jalan pedesaan. Karena jarangnya pompa bensin resmi di daerah itu, penjual bensin liar pun bermunculan. Mereka yang menjual bensin sedemikian sebenarnya melawan hukum karena tidak memenuhi persyaratan keamanan penyimpanan dan kemurnian produk. Walaupun demikian, masyarakat dan petugas hukum tidak melarang mereka berjualan bensin.

Mengapa orang mau membeli bensin di kios liar sekalipun tahu bahwa kualitasnya meragukan? Mengapa orang mau membeli bensin di tempat yang mengabaikan resiko kebakaran? Jawabnya mungkin ada dua: terpaksa atau mau gampangnya. Memang bagi pengendara motor yang kehabisan bensin, adanya kios liar itu sangat bermanfaat. Jika tidak ada, mereka mungkin harus berjalan jauh sambil menuntun motornya untuk mencari bensin. Juga, penduduk desa yang hanya mengendarai motor di sekitar desa mereka, agaknya segan untuk pergi jauh sekedar untuk membeli bensin dari penjual resmi.

Cara hidup kita mungkin juga mirip seperti pengendara motor itu. Seringkali kita dalam menghadapi perjuangan hidup merasa bahwa kita “kehabisan bensin”. Dengan kesulitan yang ada, serasa tubuh dan pikiran kita menjadi lelah dan kurang mampu untuk bekerja. Sumber tenaga jasmani dan rohani agaknya sudah hilang, dan mesin kehidupan kita menjadi tersendat- sendat jalannya.

Seperti pengendara motor itu, sebenarnya kita tidak perlu kehabisan bensin jika kita tahu berapa banyak bensin yang masih ada dan dimana kita bisa menemukan penjual bensin resmi. Jika dalam perjalanan hidup kita mawas diri dan mempersiapkan diri kita dengan baik, kemungkinan untuk kehabisan semangat di tengah jalan akan bisa diperkecil. Tahu akan batas kemampuan kita dan tahu dari mana kita dapat memperoleh pertolongan adalah sangat penting dalam hidup ini.

Kemalasan dan ketidak-acuhan adalah faktor lain yang membuat kita untuk mengambil cara yang termudah guna mendapatkan tenaga tambahan untuk menghadapi tantangan hidup. Seperti mereka yang tidak mempedulikan kualitas bensin yang mereka beli, banyak orang yang sekedar memilih jalan pintas untuk membeli tambahan gairah hidup baik berupa makanan, pakaian, uang, obat-obatan, kenikmatan, olahraga, kesibukan keluarga dan bahkan kegiatan gereja sebagai sumber semangat alternatif. Mereka tidak sadar bahwa apa yang tidak murni, yang oplosan, justru dapat menghancurkan mesin kehidupan mereka.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhanlah yang bisa memberi kekuatan kepada mereka yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dalam hidup kita. Hanya Dia yang bisa memberi apa yang benar-benar berguna untuk menguatkan jasmani dan rohani kita. Dialah yang sanggup memberi kebijaksanaan agar kita bisa mengatur hidup kita dengan baik dan menjalaninya dengan ketabahan dan rasa cukup dalam setiap keadaan. Biarlah kita mau menjumpai Dia setiap saat untuk memperoleh kekuatan dan penghiburan yang murni!

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Mengapa tanya mengapa?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9

Seingat saya, sewaktu anak-anak saya masih di sekolah dasar, pertanyaan mereka yang paling sulit dijawab adalah “mengapa”. Setiap kali pertanyaan mereka dijawab, pertanyaan “mengapa” yang baru akan muncul, sehingga saya harus terus mencari jawabannya. Pada akhirnya, mereka akan diam setelah saya menjawabnya dengan kata “sebab” tanpa menerangkan sebabnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan “why?” biasanya berakhir dengan satu jawaban saja: “because”. Titik. Mereka berhenti bertanya karena mereka tahu bahwa saya tidak bersedia menjawabnya atau jawabannya terlalu sulit untuk mereka mengerti.

Seperti itulah juga, dalam hidup ini orang sering bertanya kepada Tuhan, mengapa suatu hal terjadi. Biasanya, orang bertanya sedemikian jika ada hal yang kurang baik yang terjadi dalam hidup mereka atau orang-orang terdekat. Mungkin jarang orang yang mempertanyakan mengapa sesuatu yang baik bisa terjadi atas diri mereka.

Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia mempertanyakan mengapa sesuatu terjadi diluar dugaan mereka. Antara lain,

  1. Manusia merasa bahwa semua hal harus bisa dijelaskan dengan akal budi.
  2. Orang sering merasa bahwa apa yang terjadi tidak sesuai dengan hukum keadilan.
  3. Manusia sering bertanya mengapa hal yang jelek terjadi dalam hidup orang yang baik.
  4. Orang sering kuatir apa yang akan terjadi di masa depan dengan munculnya suatu hal yang kurang baik.
  5. Orang merasa tidak berdaya karena hal-hal buruk yang datang silih berganti.
  6. Manusia sering merasa terpukul karena seolah tidak ada yang bisa menolong mereka.
  7. Banyak yang merasa bahwa persoalan yang mereka hadapi adalah sangat berat, lebih dari sepantasnya.

Pada akhirnya, pertanyaan semacam diatas akan membawa manusia dalam kegundahan dan kepahitan, karena mereka akan merasakan bahwa mereka adalah mahluk yang kecil, yang tidak berdaya.

Sebagian yang percaya kepada suatu kuasa ilahi yang mengatur alam semesta, bisa jatuh dalam pandangan fatalisme, bahwa manusia adalah semata-mata bulan-bulanan Tuhan yang otoriter, yang tidak bisa dibantah. Keputusan Tuhan tidak bisa dipertanyakan dan Ia berbuat sesuatu hanya untuk kenikmatanNya sendiri.

Bagi mereka yang tidak percaya akan adanya kuasa Ilahi, hidup manusia adalah seperti bagian ilmu statistik dengan percobaan acaknya. Seperti apa yang terjadi jika sebuah dadu dilemparkan keatas sebuah meja, nasib baik atau buruk akan terjadi secara random. Lebih dari itu, statistik juga mengajarkan bahwa apa saja yang sudah lama berada dalam keadaan baik, lebih cenderung untuk berubah menjadi buruk. A twist of fate, perubahan nasib bisa terjadi seperti naik turunnya sebuah kurva.

Apa yang ditulis dalam ayat di atas memang menunjukkan bahwa Tuhanlah yang memiliki semua rencana dan rancangan untuk manusia dan alam semesta. Jelas bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita yang hanya karena faktor kebetulan atau acak. Lebih dari itu, dengan kepandaian kita, kita tetap tidak dapat mengerti atau meramalkan apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Jika demikian, bolehkan kita bertanya mengapa sesuatu harus terjadi dalam hidup kita? Tentu saja boleh! Hanya saja, kita harus bisa menerima dengan hati yang lapang bahwa Tuhan akan selalu menjawab kita dengan jawaban yang sama: Sebab semua hal, baik dan buruk, akan menjadi kebaikan untuk semua umat Tuhan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28