“Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” 2 Korintus 8: 7

Kekayaan adalah sesuatu yang diidamkan banyak orang, baik tua maupun muda. Orang yang belum kaya berusaha untuk menjadi kaya, sedangkan mereka yang kaya ingin lebih kaya. Mereka yang belajar ingin bisa mendapat pekerjaan yang enak setelah lulus, mereka yang punya pekerjaan ingin mendapat gaji yang lebih besar, mereka yang memiliki bisnis ingin memperoleh profit yang lebih besar.
Walaupun demikian, kata “orang kaya” bisa mempunyai arti yang berlainan. Mungkin bisa diartikan sebagai orang yang sukses, makmur, berkelimpahan, dermawan, berprestasi, terkenal, dan berpengaruh. Tetapi bisa saja dipakai sebagai sindiran untuk orang yang sombong, tamak, egois, ataupun koruptor. Memang Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengaruniai umatNya dengan berbagai berkat, tetapi juga memperingatkan bahwa mereka yang hanya memikirkan kekayaan bisa jatuh kedalam berbagai dosa.
Jika kata “kaya” bisa mempunyai arti yang baik atau buruk, dalam ayat diatas kata ini dipakai untuk menyatakan apa yang baik. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa mereka “memiliki banyak” atau “unggul” dalam hal segala sesuatu, baik dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih mereka terhadap Paulus dan rasul-rasul lainnya. Paulus senang bahwa mereka sudah kaya dalam hal-hal itu, tetapi mendorong mereka untuk lebih bisa dan bahkan unggul dalam membagikan kasih mereka kepada banyak orang.
Jika kita pergi ke gereja pada hari Minggu, mungkin kita akan mendengar kotbah yang mengingatkan bahwa Tuhan yang Mahakasih adalah Tuhan yang memberikan berbagai berkat kepada umatNya. Berkat itu mungkin berupa kesuksesan hidup, kekayaan, kesehatan, kebahagiaan. Tuhan pasti memberikan apa yang baik, jika sesuai dengan kehendakNya.
Tuhan juga memberkati umatNya dengan iman, dalam kemampuan untuk menyampaikan FirmanNya, dalam kemampuan untuk memuji Dia melalui puji-pujian, dalam pengetahuan dan pengertian yang mendalam akan ajaran dan rencanaNya, dan dalam kesungguhan untuk aktif dalam kegiatan gerejani. Setiap orang mempunyai talenta yang berbeda tetapi setiap orang bisa menjadi kaya dalam melayani Tuhan dan sesama.
Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita sudah dikaruniai berbagai berkat dalam hidup kita. Kita tidak boleh mengartikan kekayaan sebagai sesuatu yang bersifat materi atau jasmani saja, sebab Tuhan memberikan berkat-berkat lain yang jauh lebih berharga. Karena itu, hendaklah kita memohon kekayaan yang lebih utama yaitu kemampuan untuk mengerti dan menjalani hidup kita sesuai dengan FirmanNya dan kesanggupan untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita dengan sepenuhnya.
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Siapakah yang tidak pernah merasa capai? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur beristirahat untuk menghilangkan rasa capai. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kecapaian orang tentunya berbeda-beda. Ada yang capai pikirannya, ada yang capai tubuhnya. Ada yang capai matanya, ada pula yang mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang capai jarinya.
Satu hal yang kurang disukai orang adalah membicarakan soal mati dan kematian. Padahal itu adalah bagian dari siklus kehidupan manusia, baik mereka yang masih muda maupun yang sudah berumur. Adalah kenyataan bahwa manusia tidak bisa menghindari kematian; semua manusia yang lahir, akhirnya mati. Sebagian orang bisa melihat saatnya mendatangi, tetapi ada juga yang mengalaminya secara tidak terduga.
Soal guyon atau bergurau adalah hal yang jarang dibahas dalam Alkitab dan juga jarang dibicarakan di gereja. Sungguh mengherankan bahwa walaupun bergurau adalah hal yang lumrah dalam hidup sehari-hari dan bahkan makin populer dengan adanya internet dan sosmed, masyarakat sering menerima dan membuat guyonan atau gurauan tanpa memikirkan makna, guna dan akibatnya. Karena itu, sering kita melihat bahwa sesuatu yang dianggap guyon, yang dianggap lucu atau “kocak”, akhirnya mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, yang mengocak atau mengacau pikiran dan hati orang. Di lain pihak ada hal-hal penting yang seharusnya mendapat tanggapan yang serius, kemudian diabaikan karena dianggap sebagai lelucon atau guyonan saja.
Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.
Salah satu hal yang didambakan manusia adalah kedamaian. Kita tahu bahwa bersama kesehatan dan kecukupan, semua orang sebenarnya mengerti bahwa hidup damai juga perlu untuk menunjang kebahagiaan. Sekalipun manusia hidup berkecukupan dan sehat tubuhnya, rasa damai itu belum tentu ada. Malahan rasa damai itu sepertinya sulit didefinisikan, karena tidak bisa dilihat atau dibuat.
Hal berbakti dan membalas budi kepada orang tua adalah sesuatu yang sangat signifikan dalam kebudayaan semua bangsa di dunia, terutama dalam masyarakat Asia. Dalam ajaran budaya Tiongkok misalnya, anak yang tidak berbakti kepada orang tua dianggap sebagai orang yang jahat dan membawa aib kepada seluruh keluarga.

