Kita harus menjadi orang kaya

“Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” 2 Korintus 8: 7

Kekayaan adalah sesuatu yang diidamkan banyak orang, baik tua maupun muda. Orang yang belum kaya berusaha untuk menjadi kaya, sedangkan mereka yang kaya ingin lebih kaya. Mereka yang belajar ingin bisa mendapat pekerjaan yang enak setelah lulus, mereka yang punya pekerjaan ingin mendapat gaji yang lebih besar, mereka yang memiliki bisnis ingin memperoleh profit yang lebih besar.

Walaupun demikian, kata “orang kaya” bisa mempunyai arti yang berlainan. Mungkin bisa diartikan sebagai orang yang sukses, makmur, berkelimpahan, dermawan, berprestasi, terkenal, dan berpengaruh. Tetapi bisa saja dipakai sebagai sindiran untuk orang yang sombong, tamak, egois, ataupun koruptor. Memang Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengaruniai umatNya dengan berbagai berkat, tetapi juga memperingatkan bahwa mereka yang hanya memikirkan kekayaan bisa jatuh kedalam berbagai dosa.

Jika kata “kaya” bisa mempunyai arti yang baik atau buruk, dalam ayat diatas kata ini dipakai untuk menyatakan apa yang baik. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa mereka “memiliki banyak” atau “unggul” dalam hal segala sesuatu, baik dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih mereka terhadap Paulus dan rasul-rasul lainnya. Paulus senang bahwa mereka sudah kaya dalam hal-hal itu, tetapi mendorong mereka untuk lebih bisa dan bahkan unggul dalam membagikan kasih mereka kepada banyak orang.

Jika kita pergi ke gereja pada hari Minggu, mungkin kita akan mendengar kotbah yang mengingatkan bahwa Tuhan yang Mahakasih adalah Tuhan yang memberikan berbagai berkat kepada umatNya. Berkat itu mungkin berupa kesuksesan hidup, kekayaan, kesehatan, kebahagiaan. Tuhan pasti memberikan apa yang baik, jika sesuai dengan kehendakNya.

Tuhan juga memberkati umatNya dengan iman, dalam kemampuan untuk menyampaikan FirmanNya, dalam kemampuan untuk memuji Dia melalui puji-pujian, dalam pengetahuan dan pengertian yang mendalam akan ajaran dan rencanaNya, dan dalam kesungguhan untuk aktif dalam kegiatan gerejani. Setiap orang mempunyai talenta yang berbeda tetapi setiap orang bisa menjadi kaya dalam melayani Tuhan dan sesama.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita sudah dikaruniai berbagai berkat dalam hidup kita. Kita tidak boleh mengartikan kekayaan sebagai sesuatu yang bersifat materi atau jasmani saja, sebab Tuhan memberikan berkat-berkat lain yang jauh lebih berharga. Karena itu, hendaklah kita memohon kekayaan yang lebih utama yaitu kemampuan untuk mengerti dan menjalani hidup kita sesuai dengan FirmanNya dan kesanggupan untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita dengan sepenuhnya.

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Kunci kesehatan

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 3: 1-2

Tidak dapat disangkal bahwa kesehatan adalah hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan manusia di zaman ini. Dengan majunya pendidikan dan ekonomi, manusia menyadari bahwa mereka dapat berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stress dan sebagainya. Berbagai brosur, buku, situs internet dan juga hoax bermunculan tiap hari, yang semuanya mengajarkan banyak trik untuk menjaga kesehatan, mengobati penyakit dan cara hidup sehat. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang juga mengajarkan hal kesehatan menurut Firman Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakanNya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan.

Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Di dunia yang fana ini berbagai penyakit ada, dan itu bersama faktor lingkungan akan bisa mempengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing, memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Apapun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa mempengaruhi kesehatan kita. Hidup sehat, diet, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya bisa meningkatkan kesehatan kita. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa diperhamba oleh semuanya. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu haripun.

Manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekedar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita.

Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupanNya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladanNya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firmanNya.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip kesehatan menurut Alkitab. Penulis Amsal mengajak kita untuk tidak melupakan ajaran Tuhan, dan mau memelihara perintahNya agar kita bisa memperoleh kesehatan jasmani dan rohani selama hidup di dunia.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 7-8

Aduh..capai!

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11: 27-28

Siapakah yang tidak pernah merasa capai? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur beristirahat untuk menghilangkan rasa capai. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kecapaian orang tentunya berbeda-beda. Ada yang capai pikirannya, ada yang capai tubuhnya. Ada yang capai matanya, ada pula yang mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang capai jarinya.

Penyebab rasa capai juga beraneka ragam. Di usia muda, mungkin rasa capai disebabkan karena terlalu sering begadang atau kelayapan. Sesudah berkeluarga mungkin rasa capai disebabkan oleh kesibukan rumah tangga. Mereka yang bekerja sering juga merasa capai karena tugas kewajiban, entah itu dalam berpikir, membuat sesuatu, atau menemui klien dan blusukan ke lapangan. Yang sudah mulai uzur pun sering capai karena faktor usia dan juga karena tetap adanya tugas kehidupan.

Rasul Paulus dalam ayat-ayat diatas menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia juga sering merasa capai, kurang tidur dan bahkan kelaparan dalam tugasnya memelihara semua jemaat-jemaat. Itulah kelelahan yang disebabkan oleh dedikasinya kepada pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Karena ia mengasihi jemaatnya, Paulus mau bekerja keras membanting tulang untuk menolong mereka yang dalam kesulitan.

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Berbeda dengan zaman Paulus, di zaman ini orang Kristen lebih individualis dan karena itu syudah lumrah kalau mereka lebih sering merasa capai karena “urusan dalam negeri”. Mungkin mereka yang di desa masih punya rasa dedikasi tinggi kepada gereja dan masyarakat, tetapi mereka yang di kota besar biasanya terlalu sibuk dengan kehidupannya sehingga jarang yang merasa terpanggil untuk bekerja di luar kesibukannya sendiri, Dengan demikian, mereka yang sibuk dan menyibukkan diri umumnya merasa capai hanya karena apa yang dikerjakan bertujuan untuk memuliakan diri sendiri, kepentingan pribadi, kenikmatan diri sendiri, pelarian dari kenyataan, pemuasan hawa nafsu, kecanduan, kesepian dan lain-lain.

Pagi ini, jika kita sering merasa capai dalam hidup kita, kita harus bisa melihat apa yang kita prioritaskan dalam hidup ini. Banyak orang yang tidak bisa tidur, merasa capai terus-terusan, sakit-sakitan, tertekan, bingung dan bahkan berubah pikiran karena kesibukan yang lebih dari seperlunya. Karena itu, sebagai orang Kristen, kita harus selalu memohon Roh Kudus untuk memberi kita kebijaksanaan agar bisa melihat apa yang perlu dan baik untuk dikerjakan dan membuang obsesi yang tidak berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Setiap manusia memang mempunyai batas kekuatan dan karena itu adalah normal jika kita merasa capai baik secara badani maupun rohani. Namun, seperti Rasul Paulus, kecapaian badani karena pekerjaan yang berguna untuk Tuhan dan sesama akan bisa cepat terobati, karena secara rohani kita akan memperoleh tambahan kekuatan. Biarlah kita bisa bertambah bijak hari demi hari sehingga kita bisa mempunyai hidup baik yang sehat dan seimbang serta bisa mengatur prioritas hidup kita!

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. 2 Korintus 11:30

Bersiaplah seperti Yesus

“Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.” Matius 27: 50

Satu hal yang kurang disukai orang adalah membicarakan soal mati dan kematian. Padahal itu adalah bagian dari siklus kehidupan manusia, baik mereka yang masih muda maupun yang sudah berumur. Adalah kenyataan bahwa manusia tidak bisa menghindari kematian; semua manusia yang lahir, akhirnya mati. Sebagian orang bisa melihat saatnya mendatangi, tetapi ada juga yang mengalaminya secara tidak terduga.

Pada akhirnya, semua orang sama posisinya, dari debu akan kembali menjadi debu. Walaupun demikian, mengapa orang begitu segan dan bahkan takut untuk memikirkan kematian? Mengapa orang lebih suka membicarakan hal-hal yang lain, sekalipun hal-hal yang tidak berguna atau bermakna, daripada soal kematian? Mengapa orang mau mempersiapkan diri untuk karir, bisnis, perjalanan, keluarga dan sebagainya, tetapi jarang mau memikirkan persiapan akhir hidup selagi masih bisa?

Dalam hidupNya, Yesus sejak mulanya sudah menyadari bahwa Ia akan mengalami kematian di kayu salib. Bahkan dari kitab Taurat yang dibacaNya, Ia mengerti tentang apa yang sudah direncanakan Allah Bapa, dan tentang kabar baik yang sudah disampaikan Allah kepada manusia. Karena itu, Ia mempersiapkan dan menjalani hidupNya untuk menggenapi keputusan Allah agar bisa menyelamatkan manusia. Pada akhir hidupNya, Yesus menyerahkan nyawaNya dengan jeritan “Sudahlah genap”. TugasNya sudah direncanakan dan diselesaikan dengan baik. Tetelestai, lunas, harga tebusan sudah dibayar penuh.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19: 30

Jika Yesus bisa menghadapi perjuangan hidupNya dan bahkan kematian dengan kemantapan dan keberanian, itu bukanlah sekedar “sandiwara” Tuhan. Adalah keliru kalau kita membayangkan bahwa hidup dan kematianNya mudah dijalani karena Yesus itu Anak Allah. Yesus hidup, bekerja, berjuang dan mati sebagai manusia seperti kita juga. Jika demikian, mengapa Yesus begitu tegar kendati menghadapi penderitaan dan kematian? Dapatkah kita meniru Yesus untuk mempersiapkan diri kita guna menghadapi hal yang serupa?

  1. Yesus tahu bahwa Ia hidup di dunia dengan tujuan tertentu. Ia mengerti bahwa hidup di dunia adalah singkat tetapi harus dijalani dengan baik sampai selesai. Yesus mengajarkan bahwa hidup manusia adalah untuk kemuliaan Allah Bapa dan kebaikan umat manusia.
  2. Yesus mengerti bahwa Allah Bapa berkuasa atas segala sesuatu. Ialah yang mempunyai rencana agung untuk seluruh umat manusia dan berkuasa atas seisi alam semesta. Yesus menyerahkan seluruh hidupNya kepada kehendak Allah Bapa.
  3. Yesus sadar bahwa umur manusia ditentukan Tuhan. Yesus sendiri dalam hidupNya pasti pernah menyaksikan bagaimana orang-orang disekitarnya mengalami sakit dan kematian. Ia bahkan menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Yesus membuktikan bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas hidup dan mati manusia.
  4. Yesus tahu bahwa Ia akan menderita sebelum mati disalibkan. Tetapi Ia tahu bahwa kematianNya adalah untuk memenuhi rencana Allah Bapa dan Allah Bapa selalu ada bersamaNya. Ia mengajarkan bahwa apapun yang terjadi, Allah Bapa tetap menyertai kita.
  5. Yesus tahu bahwa kematian bukan berarti kekalahan, tetapi justru membawa kemenangan. Mati bukan akhir tetapi permulaan hidup dengan kemuliaan. Yesus sudah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Yesus mengatakan bahwa pada saatnya, kita akan bersama Dia di rumah Bapa.

Pagi ini kita diingatkan bahwa seperti Yesus, kita harus bisa sepenuhnya mempersiapkan diri untuk masa depan. Kita harus bisa menggunakan hidup kita sekarang ini untuk hal-hal yang berguna untuk Tuhan dan manusia. Kita harus mempercayakan hidup kita kepada rencana Tuhan yang berkuasa atas segalanya. Apapun yang terjadi di masa lalu, sekarang, atau di masa depan, seharusnya kita serahkan kepadaNya. Kita bisa melakukan hal-hal ini dengan keyakinan bahwa masa depan kita sudah terjamin karena pengurbanan Kristus di kayu salib.

Ojo guyon ah!

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18: 21

Soal guyon atau bergurau adalah hal yang jarang dibahas dalam Alkitab dan juga jarang dibicarakan di gereja. Sungguh mengherankan bahwa walaupun bergurau adalah hal yang lumrah dalam hidup sehari-hari dan bahkan makin populer dengan adanya internet dan sosmed, masyarakat sering menerima dan membuat guyonan atau gurauan tanpa memikirkan makna, guna dan akibatnya. Karena itu, sering kita melihat bahwa sesuatu yang dianggap guyon, yang dianggap lucu atau “kocak”, akhirnya mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, yang mengocak atau mengacau pikiran dan hati orang. Di lain pihak ada hal-hal penting yang seharusnya mendapat tanggapan yang serius, kemudian diabaikan karena dianggap sebagai lelucon atau guyonan saja.

Adalah lumrah bahwa manusia Kristen seperti manusia lainnya, juga senang bergurau baik secara lisan maupun melalui media sosial. Alkitab tidak melarang manusia bergurau, asal saja guyonan itu pada tempatnya, dan tidak mengandung hal-hal yang menyakiti, menipu, memperbodoh atau merendahkan orang lain. Dalam kita bergurau, kita juga harus berhati-hati untuk tidak menyebabkan orang lain mempunyai pandangan negatif tentang diri kita atau menjadikan kita sebagai batu sontohan untuk orang lain. Sering, karena salah pilih “lelucon” kita harus menerima akibatnya. Memang ayat diatas berkata bahwa hidup dan mati kita dikuasai lidah – kita yang suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Walaupun ada kesan bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang murung, Tuhan dalam Alkitab tidak pernah bergurau atau memberikan Firman yang berupa lelucon. Sebagai Tuhan, Ia meminta manusia ciptaanNya untuk menghormati Dia dan menghampiri Dia dengan rasa khusyuk.  FirmanNya adalah benar dan akurat, yang berisi hal-hal yang penting untuk manusia, bukan lelucon atau kabar angin. Sebaliknya, guyonan manusia biasanya berisi sesuatu yang tidak benar-benar terjadi, tidak akurat dan biasanya tidak ada gunanya selain bisa membuat orang tertawa geli. Ini adalah kontras antara pendekatan Tuhan dan pendekatan manusia duniawi. Kontras antara Sang Pencipta dan yang diciptakan.

Karena makin gemarnya manusia akan acara guyonan dan komedi, seringkali manusia menanggapi apa yang difirmankan Tuhan dengan kurang serius dan bahkan ada yang menganggap bahwa apa yang difirmankan Tuhan itu lelucon yang tidak lucu atau basi. Selain itu, ada juga orang yang sering memakai nama Tuhan dan firmanNya sebagai bahan lelucon dan dengan itu merendahkan namaNya. Mereka mungkin menganggap Tuhan sudah tua dan kurang bisa mengikuti perkembangan zaman. Terhadap manusia yang sedemikian Tuhan justru mentertawakan kebodohan mereka. Bagi Tuhan, manusia yang sedemikian adalah pelawak-pelawak konyol yang sia-sia perbuatannya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, menertawakan mereka, Engkau mengolok-olok segala bangsa.” Mazmur 59: 8

Pagi ini marilah kita mengintrospeksi hidup kita, melihat apakah kita benar-benar memancarkan kebahagiaan dalam Tuhan didalam kita bergaul dan bergurau di tengah masyarakat. Kita harus sadar bahwa sebagai orang Kristen kita adalah wakil-wakil Tuhan di dunia. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita adalah orang yang berbahagia; yang bisa membagikan kebahagiaan kita untuk orang di sekitar kita. Tetapi, dalam kita bergaul dan bergurau, biarlah dunia bisa melihat bahwa hidup dalam Tuhan bukanlah sekedar lelucon saja!

Jadilah burung rajawali

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yohanes 5: 39-40

Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.

Lain burung, lain manusia. Pernahkah anda memikirkan bagaimana seorang anak bisa menjadi orang dewasa yang sopan dan jujur, sedangkan anak yang lain menjadi orang dewasa yang kejam dan tidak jujur? Akibat pendidikan orang tua? Akibat lingkungan hidup? Akibat teman pergaulan? Ataukah karena nasib? Mungkinkah karena sudah dikehendaki Tuhan? Mungkinkah karena manusia hidup bagai burung dalam sangkar?

Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan sebagai burung atau hewan yang lain. Manusia diciptakan Tuhan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu, berbeda dengan mahluk yang lain, ia bisa dan harus mengambil keputusan dalam hidup. Perintah Allah kepada manusia untuk menguasai bumi dan isinya (Kejadian 1: 28-29), menunjuk kepada keharusan bagi manusia untuk mengatur hidupnya. Tiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dalam keadaan apapun, apa yang terjadi dalam hidup manusia biasanya bergantung kepada reaksinya terhadap keadaan di sekelilingnya. Manusia menjadi oknum yang baik atau buruk biasanya karena pilihannya sendiri. Manusia seharusnya hidup bagai burung rajawali yang bebas, bukan bagai burung kutilang dalam sangkar.

Firman Tuhan diatas mengatakan bahwa Ia sudah menyatakan diriNya melalui Alkitab, dan hukumNya juga bisa dibaca dan dipelajari. Walaupun demikian, tidak semua orang mau menerima kabar baik tentang keselamatan dan menjalankan perintah Tuhan dalam hidupnya. Setiap orang mempunyai kesempatan dan bisa mengambil keputusan, tetapi tidak semua orang mau menggunakan kesempatan untuk datang kepada Tuhan dan menjadi manusia baru didalam Yesus.

Jelas bahwa sekalipun Tuhan selalu mengambil inisiatif, hidup kita masih juga bergantung kepada keputusan yang kita ambil. Mungkin kita selama ini belum mau mengambil keputusan sendiri untuk menjadi manusia baru dalam Tuhan.

Mungkin selama ini kita mengikuti keputusan atau pendapat orang di sekitar kita. Mungkin kita masih mempertanyakan apakah eksistensi kita memang sudah final dan tidak bisa diubah. Pagi ini kita harus sadar bahwa kita bertanggung jawab atas reaksi dan keputusan kita dalam hidup ini.

Dalam hidup kita dihadapkan kepada berbagai pilihan. Life is a series of choices. Maukah kita hidup merdeka seperti burung rajawali yang bisa terbang tinggi?

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Mencari kedamaian hidup

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Salah satu hal yang didambakan manusia adalah kedamaian. Kita tahu bahwa bersama kesehatan dan kecukupan, semua orang sebenarnya mengerti bahwa hidup damai juga perlu untuk menunjang kebahagiaan. Sekalipun manusia hidup berkecukupan dan sehat tubuhnya, rasa damai itu belum tentu ada. Malahan rasa damai itu sepertinya sulit didefinisikan, karena tidak bisa dilihat atau dibuat.

Berbagai usaha sering dilakukan manusia untuk mendapatkan rasa damai, misalnya dengan banyak berdoa, menyepi, berpuasa atau bersemedi. Tetapi seringkali rasa damai tentram itu tidak kunjung datang. Apalagi jika keuangan atau kesehatan mulai menurun, rasa gundah dan kuatir mulai muncul.

Mereka yang beruang dan sehat, juga belum tentu bisa mendapatkan rasa damai dalam hidupnya. Seringkali, dalam kebingungan hidup mereka mencari kebahagiaan dengan materi dan kegiatan fisik. Mungkin melalui makanan, pakaian, barang mewah, olahraga, pesta pora dan petualangan. Tetapi kedamaian adalah sesuatu yang elusif, sulit ditemukan. Kedamaian yang dimengerti manusia seringkali palsu dan tidak langgeng.

Ayat diatas meyatakan bahwa damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang dapat memelihara hati dan pikiran kita, adalah pemberian Allah melalui Kristus Yesus. Jelas bahwa kedamaian yang benar-benar bisa efektif dalam hidup kita bukanlah dari usaha kita sendiri. Manusia sering berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan apa yang bisa memberi ketenangan hidup dalam keadaan apapun.

Apa yang ditentukan Allah dari awalnya untuk membawa kebahagiaan bagi manusia adalah hubungan yang baik antara manusia ciptaanNya dengan Sang Pencipta yang Mahakuasa dan Mahakasih. Karena hubungan ini menjadi rusak sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia kehilangan pegangan hidup dalam perjuangan di dunia. Karena itulah Allah mengirimkan anakNya yang tunggal Yesus Kristus ke dunia.

Yesus Kristus tidak hanya menebus dosa manusia, tetapi Ia memungkinkan manusia yang percaya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Bapa di surga. Kesempatan sekarang terbuka, bahwa semua orang yang percaya dapat mengutarakan segala persoalan dan kebutuhan mereka kepada Tuhan secara langsung. Setiap saat, dimana pun kita berada. Yang kita perlukan hanyalah kemauan untuk menerima kedamaian dari Yesus pagi ini:

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Berbakti kepada orang tua

“Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 1 Timotius 5: 3-4

Hal berbakti dan membalas budi kepada orang tua adalah sesuatu yang sangat signifikan dalam kebudayaan semua bangsa di dunia, terutama dalam masyarakat Asia. Dalam ajaran budaya Tiongkok misalnya, anak yang tidak berbakti kepada orang tua dianggap sebagai orang yang jahat dan membawa aib kepada seluruh keluarga.

Kata “berbakti” dalam Alkitab terjemahan Indonesia sebenarnya berbeda dengan kata-kata yang dipakai dalam terjemahan bahasa Inggris. Berbakti menurut kamus bahasa Indonesia dapat diartikan “tunduk dengan hormat” dan dipakai umumnya dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Sebuah kata yang besar yang mempunyai arti yang dalam dan serius.

Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, kata yang artinya sama tidak dijumpai. Sebaliknya, kata “berbuat baik” umumnya dipakai dalam berbagai versi Alkitab. Memang kelihatannya, kata “berbakti” memang dipilih penerjemah Alkitab di Indonesia untuk menyesuaikan dengan kebudayaan Timur dan mungkin juga dengan adanya penggunaan kata yang sama dalam agama-agama lain.

Hal pentingnya seorang anak untuk berbakti kepada orang tua dipertunjukkan di sebuah musium di Bendigo, Australia. Kota Bendigo adalah sebuah kota yang dihuni oleh banyak pendatang dari Tiongkok yang bekerja di tambang emas pada pertengahan abad ke 19. Dalam diorama diatas, seorang wanita menyusui ibu mertuanya yang ompong walaupun bayinya sendiri lagi menangis kelaparan. Itulah konsep berbakti kepada orang tua yang sering pada zaman dulu dituntut dari anak-anak.

Pada zaman ini, hal berbakti dan soal membalas budi kepada orang tua agaknya sudah berubah. Seorang anak yang sudah berkeluarga cenderung untuk lebih mementingkan anggota keluarganya sendiri. Memang, menurut Alkitab, mereka yang menikah akan meninggalkan orang tua mereka (Kejadian 2: 24). Itulah yang terjadi di bumi ini, bahwa semua mahluk akan memelihara anaknya untuk kelangsungan generasi mendatang.

Orang tua yang bijaksana sudah tentu mengharapkan anak-anaknya untuk bisa memelihara keluarga mereka sendiri. Sebagai orang tua, mereka sendiri juga mengurbankan banyak hal untuk kebaikan anak-anaknya pada masa lalu. Memang ada sebagian orang tua yang mempunyai pandangan yang keliru, bahwa anak-anak mereka adalah jaminan masa tua mereka; tetapi anak-anak kita sebenarnya adalah pemberian Tuhan yang harus dicintai dan bukannya diperalat (Mazmur 127: 3).

Walaupun sebagai orang tua kita sendiri harus memelihara anak-anak kita, kita tidaklah sama dengan mahluk-mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Manusia diciptakan Tuhan sebagai peta dan teladanNya dan orang tua kita adalah wakil Tuhan di dunia ini. Karena itu kita harus selalu mau menghormati orang tua kita:

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Keluaran 20: 12

Ayat dalam 1 Timotius 5: 3-4 diatas secara spesifik mengajarkan kita untuk menghormati orang tua kita yang berada dalam kekurangan. Mereka yang tidak mempunyai penghasilan, dalam kesepian dan penderitaan. Sebagai anak yang baik kita seharusnya tetap berusaha meringankan beban mereka di hari tua, karena merekalah yang sudah memelihara dan membesarkan kita. Ini bukan berarti kita harus menelantarkan anak kita sendiri, tetapi sebagai anak kita harus bisa meyakinkan orang tua kita bahwa kita tetap mengasihi dan mau menolong mereka dalam setiap keadaan karena Tuhan sudah mengasihi kita. Semoga Tuhan tetap memimpin kita dalam mempraktikkan prinsip hubungan yang baik antara orang tua dan anak dalam hidup kita.

Bertumbuh atau mati

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3: 18

Suatu prinsip bisnis yang sering digembar-gemborkan adalah “grow or die”, yang artinya bertumbuh atau mati. Siapa yang punya bisnis harus berusaha memajukan usahanya dengan cara apapun, karena jika usaha itu tidak bertumbuh, cepat atau lambat usaha mereka akan mundur dan akhirnya gulung tikar. Semboyan ini ada benarnya untuk jenis-jenis bisnis tertentu, terutama yang berkaitan dengan teknologi.

Seperti yang terjadi dalam dunia bisnis, hal yang serupa bisa terjadi dalam hidup orang Kristen dalam soal mengelola kehidupan rohani mereka. Seringkali, ketika manusia menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka, semangat mereka sangat tinggi dan menggebu-gebu. Mungkin, karena mereka adalah OKB (Orang Kristen Baru), mereka masih belum menyadari bahwa tantangan hidup orang percaya adalah sangat berat. Tetapi, jika tahun demi tahun lewat dan mereka tidak bisa menjadi dewasa dalam iman, kerohanian mereka pasti akan mundur. Iman mereka yang tidak bertumbuh, pelan-pelan menjadi mati.

Hal tidak bertumbuh bukan hanya terjadi pada orang Kristen baru saja, karena mereka yang sudah lama mengenal Kristus pun sering mengalami hambatan pertumbuhan iman. Dunia di sekeliling kita adalah dunia yang penuh godaan, kejahatan, tipu muslihat dan rayuan. Dunia ini juga mengajarkan bahwa hidup ini harus bisa dinikmati selagi masih bisa. Seperti yang terjadi pada orang-orang di zaman Lot, banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hanya sibuk dengan acara makan dan minum, membeli dan menjual, menanam dan membangun (Lukas 17: 28) dan tidak menyadari bahwa kesabaran Tuhan ada batasnya.

Dengan keadaan dunia yang makin mementingkan materi, manusia merasa bebas mengingini dan melakukan apa saja. Mereka yang menginginkan hidup enak, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Mereka yang menginginkan kebahagiaan, tidak bisa mengerti penderitaan orang lain. Mereka yang sukses, hidup dalam kebanggaan dan pesta pora setiap hari. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang padam api kasihnya dan dingin hatinya tetapi tidak menyadari keadaannya.

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Pagi hari ini panggilan Tuhan kepada kita adalah untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Grow or die. Bertumbuh dalam iman atau mati. Sadarkah kita bahwa tidak cukup bagi kita untuk mengaku percaya dengan mulut kita tetapi tidak menjalankan perintahNya? Bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati?

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” Yakobus 2: 19-20

Siapakah Dia?

Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Matius 8: 27

Siang kemarin Badan Meteorologi mengirim berita lewat berbagai media bahwa topan akan mendatangi beberapa kota di negara bagian Queensland. Diramalkan topan berbentuk angin kencang, hujan deras dan hujan es akan datang sekitar pukul 4.30 sore. Seperti yang diramalkan, topan datang tepat pada waktu yang sudah diramalkan. Dimulai dengan angin kencang dan hujan air, hujan es datang menghantam mobil-mobil yang diparkir di halaman universitas tempat saya bekerja. Kerusakan yang disebabkan oleh hujan es sebesar bola pingpong itu cukup berat. Untunglah tidak ada orang yang cedera. Sungguh kekuatan manusia adalah kecil jika dibandingkan dengan alam semesta!

Topan serupa pernah dialami beberapa murid-murid Yesus yang sedang berperahu di laut Galilea dengan Guru mereka. Waktu itu Yesus merasa sangat lelah dan tidur lelap di buritan perahu. Murid-murid Yesus jelas dapat melihat bahwa guru mereka tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Karena pekerjaan yang berat, Ia menjadi lelah dan harus beristirahat. Saat itu mereka mungkin lupa bahwa Yesus yang mereka lihat bukanlah orang biasa. Yesus yang sudah melakukan berbagai mujizat.

Sewaktu angin topan hampir menenggelamkan perahu mereka, dalam ketakutan murid-murid Yesus membangunkan sang guru. Entah apa yang dipikirkan mereka, tetapi jelas mereka ingin agar Yesus ikut memikirkan masalah yang mereka hadapi. Tidak terpikir bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu yang istimewa, karena yang mereka tahu bahwa manusia tidak dapat menandingi kuasa alam semesta. Mereka tidak sadar bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Ia adalah pemilik segala sesuatu.

Ketika topan kehidupan yang besar datang atas diri kita, seringkali kita juga seperti murid-murid Yesus. Kita mungkin sudah pernah melihat kuasa Yesus dalam berbagai segi kehidupan kita atau dalam hidup orang lain, tetapi kita belum pernah mengalami masalah sebesar ini! Dapatkah Yesus menolong aku dalam kesulitan ini? Siapakah Dia sehingga aku boleh yakin bahwa segala sesuatu ada dalam kuasaNya?

Pagi ini marilah kita meneliti iman kita dan menanyakan siapakah Yesus bagi kita. Seperti murid-muridNya, mungkin kita belum benar-benar sadar bahwa Ia yang Anak Allah, yang berkuasa atas segala sesuatu.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4: 40