Otot kawat tulang besi

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Filipi 4: 13

“Otot kawat tulang besi” merupakan ungkapan yang berasal dari bahasa Jawa yang berbunyi “Otot kawat, balung wesi”. Ungkapan tersebut dalam kisah pewayangan mengingatkan kita pada sosok pria yang gagah perkasa, berkumis tebal, sakti mandraguna dan bisa terbang tanpa sayap. Itulah Gatotkaca putra Bima dari keluarga Pandawa dalam kisah Mahabarata.

Dalam Alkitab, orang yang dapat dikatakan mempunyai “otot dari kawat dan tulang dari besi” adalah Simson yang menjadi salah satu hakim umat Israel (Hakim-Hakim 14). Simson dapat mencabik seekor singa, menangkap tiga ratus anjing hutan dan  membunuh banyak orang, semuanya dengan tangannya. Tetapi Simson bukan benar-benar orang yang kuat dalam segala hal, karena ia mempunyai kelemahan terhadap rayuan wanita. Karena kelemahan itulah ia akhirnya mati bersama ribuan orang Filistin.

Sebagai manusia, kita mungkin membayangkan betapa enaknya jika kita bisa hidup sehat-kuat sampai hari tua. Berbagai hal yang bisa dilakukan manusia untuk memelihara kesehatannya seperti minum berbagai obat, vitamin, berolahraga, berdiet sehat dan sebagainya, yang di zaman ini menjadi pusat perhatian mereka yang mampu. Walaupun demikian, tidak ada seorangpun yang bisa dalam jasmaninya mencapai tingkatan “otot kawat tulang besi”. Seperti Simson, semua orang akhirnya akan mati dan lebih dari itu, tidak ada seorangpun yang tahu kapankah itu akan terjadi.

Sebagai karunia Tuhan dari mulanya, kekuatan jasmani memang penting untuk dapat menjalankan tugas manusia di dunia , dan lebih dibutuhkan lagi setelah kejatuhan mereka kedalam dosa – karena hanya dengan susah payah saja manusia bisa tetap berkembang biak dan hidup (Kejadian 3: 16-17). Walaupun demikian, kekuatan yang diutamakan Tuhan adalah kekuatan rohani melalui hubungan yang baik denganNya. Kekuatan rohani ini seharusnya tetap ada seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Namun, karena kejatuhan dalam dosa, manusia tidak akan memperoleh kekuatan rohani jika mereka tidak mau kembali membina hubungan yang baik dengan Sang Pencipta.

Seringkah anda mengalami rasa capai sesudah bekerja seharian? Seringkah anda merasa lelah dalam hidup yang penuh tantangan? Apakah anda merasa bahwa usia sudah mulai mempengaruhi kekuatan jasmani anda? Apakah anda merasa bahwa rasa hormat orang lain kepada anda sudah mulai berkurang karena usia anda? Ataukah anda mempunyai masalah dengan kesehatan anda? Mungkin semua pertanyaan itu pernah dipertanyakan oleh Simson, si “Otot Kawat Tulang Besi”. Seperti Simson, kita tidak dapat menghindari semua masalah itu karena kekuatan jasmani kita yang bersifat sementara.

Pagi ini kita harus sadar bahwa adalah kebohongan jika kita merasa bahwa hidup kita ada di tangan kita sendiri. Dalam hal jasmani, manusia manapun tidak dapat bergantung kepada tubuh, kepandaian, kekuatan dan harta mereka. Dalam soal rohani, manusia juga harus tetap bergantung kepada Tuhan yang membawa keselamatan melalui Yesus Kristus. Walaupun demikian, jika kita mempunyai kekuatan rohani dari Tuhan, kita boleh yakin bahwa kita akan mempunyai ketabahan seperti “otot kawat dan tulang besi” untuk bisa menghadapi semua tantangan hidup. Dalam kelemahan jasmani kita, kita boleh bermegah bahwa Yesus sudah memberikan kita kekuatan rohani yang abadi!

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Bahagia karena setia

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15: 10-11

Betulkah hidup orang beriman itu selalu terisi kebahagiaan? Jika tidak, apa untungnya menjadi orang Kristen? Pertanyaan ini sering kita dengar ketika mereka yang bergumul dalam hidup, dihadapkan pada kesempatan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus.

Untuk menjawab pertanyaan itu barangkali kita harus mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini: Betulkah hidup orang yang sudah menikah itu selalu terisi kebahagiaan? Jika tidak, apa untungnya menikah?

Mereka yang akan menikah biasanya diminta untuk berjanji untuk saling setia dalam keadaan apapun. Janji ini tidak mudah diberikan tetapi jika pasangan itu saling mencintai, mereka akan berusaha melaksanakannya. Kaya atau miskin, sehat atau sakit, dalam semua keadaan mereka akan setia sampai mati. Karena itu, pernikahan yang langgeng harus mempunyai kebahagiaan yang tidak tergantung keadaan, yaitu adanya hubungan kasih antara suami dan istri.

Seperti hidup suami istri, di dunia ini hidup kita sebagai orang Kristen tidak selalu berisi hal-hal yang menyenangkan. Orang Kristen tidak mendapat perlakuan istimewa dari lingkungannya. Malahan, ada dikatakan bahwa pengikut Kristus akan menderita seperti Tuhan mereka di dunia ini karena ada banyak orang yang membenci mereka.

“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 10: 22

Karena itu, jika seseorang memutuskan untuk mengikut Kristus hanya untuk mendapat kebahagiaan duniawi, ia akan kecewa. Janji kesetiaan kita kepada Tuhan adalah untuk setia sampai akhir, tidak peduli apapun yang akan terjadi. Kita tahu bahwa Tuhan dengan setia bekerja dalam semua yang kita alami agar kita tetap merasakan kasihNya yang tidak berkesudahan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Pagi ini, kita harus sadar bahwa selama hidup di dunia, kita akan mengalami berbagai tantangan dan persoalan, baik secara jasmani maupun rohani. Baik dalam keluarga, gereja, pekerjaan ataupun masyarakat. Bahkan kita bisa mengalami persoalan dalam pikiran dan hati kita, yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Tetapi Tuhan yang tahu kelemahan kita tidak akan membiarkan kita bergumul seorang diri. Manusia tidak dapat memperoleh sukacita sejati dalam hidupnya karena usaha sendiri. Tetapi siapa yang taat kepadaNya akan dapat merasakan kasihNya setiap hari.

Merekmu apa sih?

“Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 10: 33

Di zaman ini segala produk yang mau sukses selalu disertai dengan usaha marketing yang gencar. Salah satu usaha memasarkan produk unggul adalah dengan menempelkan stiker, badge atau lencana merek barang tersebut secara permanen dan mencolok agar setiap orang bisa melihatnya. Bukan saja mobil, TV dan computer yang ditempeli logo pabrik pembuatnya, tetapi berbagai jenis pakaian pun dijual lengkap dengan merek yang tercetak dalam huruf besar di bagian depan atau belakang. Sesuatu yang ganjil dan agak memalukan pada zaman dulu, sekarang menjadi hal yang bisa dibanggakan pemakainya.

Adalah hal yang mengherankan bahwa orang Kristen di zaman ini justru bertindak sebaliknya. Kalau dulu orang tidak segan-segan memperkenalkan dirinya sebagai pengikut Kristus, di zaman ini orang tidak mau terlalu dikenal sebagai orang Kristen. Stiker mobil yang berbunyi “Saya cinta Yesus” mungkin sudah jarang ditemukan di Australia kecuali lencana God’s Squad di jaket pengendara sepeda motor anggota klub moge Kristen Australia. Orang Kristen sekarang kuatir menyinggung perasaan orang beragama lain. Kuatir dianggap aneh oleh orang lain. Kuatir dianggap tidak bisa hidup bertoleran dalam masyarakat yang plural. Kuatir dianggap ketinggalan jaman.

Di lain pihak, orang yang mengaku Kristen di zaman ini kebanyakan suka mengikuti hal-hal yang banyak bermunculan dalam masyarakat. Mereka tidak segan-segan menyatakan pendapat atau dukungannya kepada tokoh, pandangan, ajaran dan kegiatan tertentu, asalkan itu tidak bertentangan dengan hukum. Adanya prinsip hak azasi manusia memungkinkan orang Kristen untuk berorasi, berdemonstrasi atau menyatakan pendapatnya tentang apa saja tanpa kuatir menyinggung perasaan orang lain, asal tidak memasukkan unsur Yesus dan FirmanNya. Soal Yesus sering hanya bisa dibicarakan dalam lingkungan sendiri.

Amanat agung dari Yesus untuk mengabarkan Injil (Matius 28: 19) adalah untuk menyatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan hanya melalui Dia. Keselamatan manusia adalah produk anugrah Ilahi yang terbesar yang seharusnya mendapat perhatian utama seluruh umat manusia.

Umat Kristen seharusnya hanya memakai firman Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran Ilahi. Namun dalam kenyataannya, seringkali umat Kristen juga mengikuti dan mengagumi ajaran tokoh-tokoh agama lain dan juga orang-orang ternama di dunia. Orang percaya yang seharusnya memakai lencana “Milik Yesus” sekarang sering memakai lencana “Orang Kristen Modern”, atau “Orang Kristen toleran yang bisa menerima pendapat umum”.

Pagi ini, jika kita bisa membayangkan Yesus datang menemui kita, apakah Ia bisa mengenali kita sebagai pengikutnya yang memakai lencana “Milik Yesus” ? Ataukah Yesus akan menjumpai seorang manusia yang menyangkal bahwa Ialah satu-satunya jalan keselamatan, jalan kebenaran, dan Guru yang terbaik?

Antara kasih, simpati dan empati

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” 1 Korintus 13: 3

Masih ingat lagu anak-anak jaman dulu yang berjudul “Kasih Ibu”? Lagu sederhana ini gampang dinyanyikan dan singkat syairnya:

Kasih ibu, kepada beta; tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi; tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia.

Kasih memang kata yang indah dan sering disebutkan sebagai suatu jenis cinta yang murni, tanpa pamrih atau maksud yang kurang baik. Dalam Alkitab kita mengenalnya sebagai Agape.

Kalau dalam bahasa Inggris kata “love” bisa dipakai untuk cinta, kasih, sayang maupun rasa suka, menurut bahasa Yunani ada empat kata untuk kata “kasih/ cinta”. Agape adalah kasih yang tak bersyarat, eros adalah kasih yang menginginkan, philia adalah kasih antara sahabat/ saudara, dan storge adalah ungkapan kasih kodrati, seperti antara orang tua kepada anak (ungkapan yang keempat ini jarang digunakan dalam karya tulis kuno).

Dalam kepercayaan Kristen, kasih agape ini adalah yang terbesar dari segala apa yang baik.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13: 13

Kasih adalah satu hal yang paling sukar untuk diterapkan dalam hidup karena selain tanpa pamrih, itu harus berlaku pada setiap saat dan dalam setiap keadaan serta untuk setiap orang. Manusia pada dasarnya tidak bisa mempunyai kasih karena dosa dari awalnya mendorong manusia untuk mementingkan dirinya sendiri. Hanya mereka yang sudah mengenal Allah diberi kemampuan untuk mengasihi sesamanya.

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4: 8

Kasih adalah cinta yang tidak mengharapkan balasan, tetapi yang diberikan dengan pengharapan agar apa yang diberikan bisa membuahkan sesuatu yang baik. Terlalu sering orang memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa pamrih, tetapi juga tanpa tujuan yang jelas. Terlalu sering “perbuatan kasih” justru membawa hasil yang tidak baik bagi orang yang menerima. Dalam hal ini, terlalu sering orang yang memberi hanya bisa mengangkat bahu, seolah tugasnya hanyalah memberi.

Kasih yang benar adalah bermula dari rasa simpati kepada orang-orang di sekitar kita yang mendorong kita untuk bisa melihat dengan mata jasmani dan rohani kita apa yang menjadi penderitaan mereka. Rasa simpati saja tidak akan membuat kita untuk melakukan suatu tindakan. Karena itu kita perlu juga untuk mempunyai rasa empati, yaitu ikut merasakan apa yang mereka rasakan, dengan menempatkan diri kita sebagai orang yang kita jumpai. Rasa empati memungkinkan kita untuk melihat bukan saja akibat tetapi juga sebab penderitaan mereka, agar kita bisa melakukan tindakan kasih yang tepat. Tindakan ini bisa, tetapi tidak harus berupa pemberian materi. Nasihat, doa, pengajaran, dukungan, pujian dan lain-lain bisa juga kita berikan sebagai tanda kasih kita.

Pagi hari ini marilah kita mengingat bahwa kasih Tuhan sudah dicurahkan kepada kita setiap hari dalam berbagai hal, tetapi Tuhan tahu bahwa apa yang paling kita butuhkan bukanlah hanya harta duniawi untuk menolong orang lain, tetapi kasihNya yang membawa kedamaian dan keselamatan untuk semua orang yang percaya. Itulah yang harus menjadi dasar rasa simpati dan empati, perbuatan kasih kita kepada orang lain.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 19

Mengapa ingin tetap muda?

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3: 18

Tadi malam saya menonton sebuah film khayal yang ditayangkan oleh cable TV yang mengisahkan seorang wanita yang mengalami suatu kejadian aneh pada masa mudanya, yang menyebabkan ia tidak dapat menjadi tua. Mungkin anda berpikir betapa enaknya kalau itu bisa benar-benar terjadi. Tidak bisa menua, awet muda terus. Dalam film itu dikisahkan bahwa justru karena wanita itu tidak bisa menua seperti orang lain, ia tidak dapat mempunyai hubungan yang langgeng dengan orang-orang lain.

Soal menua adalah berlaku untuk semua orang. Berbeda dengan apa yang dikisahkan dalam film di atas, semua manusia di dunia mengalami proses penuaan. Dengan bertambahnya umur, manusia diharapkan untuk bertambah dalam kedewasaan dan kebijaksanaan dengan bertambahnya pengalaman. Tetapi tidak semua orang akan mengalami proses pendewasaan yang seirama dengan bertambahnya umur. Ada banyak orang Kristen yang menjadi tua tetapi tidak bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.

Proses pendewasaan iman seharusnya terjadi pada setiap orang yang sudah benar-benar menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka karena Roh Kudus akan tinggal dalam hati mereka. Tetapi untuk memberi kesempatan kepada Roh agar bisa bekerja sepenuhnya, kita tidak boleh mendukakan Roh melalui hidup yang mengabaikan perintah Tuhan.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30-31

Mengapa banyak orang Kristen yang hidupnya tidak pernah menjadi dewasa? Mengapa banyak orang Kristen yang tidak bisa digolongkan sebagai penatua yang bijaksana? Mengapa banyak yang ke gereja setiap hari Minggu tetapi hidupnya tidak ada bedanya dengan orang lain di luar gedung gereja? Mereka semuanya memilih untuk hidup menurut kemauan mereka sendiri dan bergaya hidup seperti anak-anak remaja, tidak mau membiarkan Roh Kudus memimpin mereka.

Manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah, dan dengan itu diberi kemerdekaan untuk memilih apa yang baik dan belajar dari pengalaman hidup mereka. Tetapi jika kita tidak sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada Kristus dan membiarkan Roh Kudus bekerja, kita tidak dapat bertumbuh dalam pengenalan akan kebenaran dan kasih.

Pagi ini kita diingatkan bahwa proses pendewasaan iman bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen. Itu juga tidak terjadi kalau kita ke gereja setiap minggu. Tetapi itu akan kita alami jika kita memilih untuk hidup dalam Tuhan setiap saat.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Penampilan yang disukai Tuhan

“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3: 3-4

Dalam bahasa Inggris ada dua pepatah yang sangat terkenal mengenai penampilan atau kecantikan seseorang. Beauty is in the eye of the beholder artinya kecantikan tergantung pada orang yang melihat, dan beauty is skin deep yang artinya kecantikan hanya terlihat dari luarnya.

Memang soal kecantikan atau ketampanan itu tiap orang mempunyai selera atau pandangan sendiri-sendiri. Ada yang senang berpakaian atau berhias secara sederhana, tetapi ada juga yang menyenangi sesuatu yang mencolok mata.

Di zaman ini, kita bisa memperoleh apapun yang bisa dipakai agar kita bisa dikagumi oleh orang (tertentu) di sekeliling kita. Toko perhiasan dan pakaian ada dimana-mana selalu sibuk melayani para pelanggan. Tambahan lagi, banyaknya salon kecantikan dan kesehatan di kota besar mempermudah orang untuk berhias dan memperbaiki penampilan, baik secara sementara atau permanen. Selain itu berbagai gym dan toko makanan penyehat pun bermunculan, semuanya menawarkan kemungkinan awet muda dan penampilan prima selama mungkin.

Walau bagaimana pun manusia berusaha untuk mempertahankan penampilan mereka, mereka seharusnya tahu bahwa usia dan keadaan tubuh akhirnya dapat menunjukkan siapa sebenarnya mereka itu. Manusia adalah mahluk fana yang diciptakan dari debu dan akhirnya akan kembali menjadi debu (Pengkhotbah 3: 20). Apa yang dulunya terlihat indah dan kuat akan berubah menjadi tua dan ringkih dengan bertambahnya usia. Kalau begitu, perlukah kita mempedulikan penampilan tubuh kita?

Sekalipun apa yang ada di dunia dan penampilan manusia adalah tidak kekal, semua orang beriman wajib untuk memeliharanya. Itu karena kita adalah mahluk yang diciptakan Tuhan menurut peta dan teladanNya. Kita harus menghargai tubuh kita yang adalah rumah Allah. Kita harus memelihara kesucian dan kesehatan tubuh kita karena itu adalah milik Tuhan. Penampilan kita harus bisa membuat nama Tuhan dipermuliakan, dan bukan untuk kebanggaan diri sendiri.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembah-kan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Bagaimana kita harus memelihara tubuh kita dan menjaga penampilan kita? Sampai dimana kita harus berusaha? Ayat diatas mulanya ditujukan kepada kaum wanita, tetapi mempunyai pesan yang sama kepada semua orang. Pagi ini kita disadarkan bahwa sebagai anak Tuhan, penampilan jasmani adalah tidak berarti jika dibandingkan dengan penampilan batiniah yang kekal yaitu roh yang lemah lembut dan tenteram, roh yang takut akan Tuhan, yang sangat berharga di mata Allah.

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” Amsal 31: 30

Mengapa harus tetap berdoa?

“Tetaplah berdoa” 1 Tesalonika 5: 17

Pesan Paulus mengenai doa cukup singkat: kita harus tetap berdoa. Dalam bahasa Inggrisnya “continually” atau “unceasingly” yang artinya terus-terusan atau tidak berhenti. Apa maksud Paulus dalam menyuruh jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus menerus? Bukankah kita tidak boleh mengulang-ulang doa karena Tuhan sudah tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita memintanya?

Masalah berdoa kepada Tuhan yang Mahakuasa dan Mahabijaksana itu memang cukup rumit. Dia tahu apa yang kita butuhkan, memutuskan apa yang akan terjadi dan manusia tidak dapat melawan kehendakNya. Lalu apa gunanya berdoa? Dan apa guna berlama-lama berdoa?

Memang banyak orang Kristen yang kuat dan ulet dalam berdoa. Sebagian malah percaya bahwa makin kuat dan lama doanya, makin besar kemungkinan Tuhan akan mengabulkan doa mereka. Malahan ada yang percaya bahwa ritual-ritual dan doa-doa tertentu mempunyai khasiat besar pada kemungkinan terkabulnya doa.

Ada juga mereka yang berdoa terus- terusan karena mereka percaya bahwa itulah yang dikendaki Tuhan dan karena itu harus dilaksanakan sekalipun mereka tidak mengerti apa maksud dan tujuannya. Mereka paling tidak mendapat kelegaan dan ketenangan karena sudah menjalankan perintah Tuhan. Dalam hal ini doa mungkin hanya merupakan keharusan dan kebiasaan saja.

Doa sebenarnya adalah sebuah percakapan antara seorang anak Allah dengan sang Bapa. Memang itu menunjukkan adanya hubungan antara kedua pihak. Hubungan yang baik membawa banyak percakapan, dan banyaknya percakapan seharusnya menunjukkan hubungan yang sehat. Walaupun demikian hubungan dalam hal ini adalah berbeda dengan hubungan antar manusia. Doa adalah komunikasi antara manusia dan sang Pencipta.

Doa yang baik adalah doa yang disertai dengan rasa hormat, syukur, jujur, rendah hati dan berserah kepada Tuhan. Doa bukanlah sekedar “omong-omong”, “omong kosong” atau “nodong” seperti yang sering kita lakukan kepada teman dekat kita. Doa adalah sebuah kesempatan untuk manusia agar bisa mengutarakan isi hatinya dan mendengarkan pendapat Allah tentang hal itu. Doa adalah sebuah komunikasi dua arah yang perlu dilakukan setiap saat dan sesering mungkin.

Setiap kali kita berdoa, kesulitan kita adalah dalam hal mendengar suara Tuhan. Kita bisa dan cenderung mendengar suara kita sendiri dan suara-suara lain yang mempengaruhi hati dan pikiran kita sehingga sukar untuk bisa mendengar suaraNya. Tetapi dalam setiap doa kita sebenarnya Tuhan selalu mendengar dan menjawab apa yang kita sampaikan karena Ia adalah Bapa yang baik. Ia senang jika kita mau menghampiri tahtaNya.

Melalui doa jugalah kita menyampaikan segala permohonan kita. Bukan untuk yang kita ingini, tetapi untuk apa yang kita butuhkan. Tetapi mungkin kita lebih sering berdoa untuk apa yang kita ingini; itu adalah lumrah. Karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita sering sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Hanya Tuhan yang selalu tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dan menjawab permohonan kita karena Dialah yang Mahatahu. Karena itu, semakin sering kita berdoa, semakin bisa kita mengetahui apa yang kita butuhkan karena melalui doa, Tuhan bisa menunjukkan apa yang dikehendakiNya. Melalui doa yang tetap kita lakukan, kita belajar menyesuaikan keinginan dan hidup kita dengan kehendakNya.

Pagi ini kita marilah kita mengambil keputusan untuk tetap berdoa, bukan dengan doa yang selalu mengutarakan keinginan kita, tetapi doa yang menunjukkan bahwa kita mau belajar mendengar apa yang dikatakan Tuhan sebelumnya. Doa yang mencerminkan ketundukan kita atas kehendakNya dan kemauan kita untuk menerima apa yang akan Dia berikan, karena Dialah yang tahu apa yang kita butuhkan.

“…., karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8b

Cara menghakimi yang benar

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Ayat diatas adalah salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, baik di kalangan orang Kristen maupun orang bukan Kristen. Ayat ini kelihatannya mudah dimengerti dan sangat praktis penggunaannya dalam hidup sehari-hari. Sayang sekali, ayat ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekedar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru.

Seringkali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai untuk membungkamkan orang Kristen yang anti perkawinan antar manusia sejenis.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen seringkali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tuhan Yesus tidak mengajarkan murid-muridNya untuk membiarkan orang lain berbuat semaunya dan tidak juga melarang mereka untuk menegur orang yang keliru dalam hidupnya. Tetapi apa yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah hal menghakimi orang lain dengan cara yang salah. Seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-hakim, menegakkan hukum Tuhan di dunia dengan cara yang benar sebenarnya adalah tugas semua orang Kristen.

Bagaimana kita bisa menjadi “hakim” yang benar di dunia ini? Bagaimana seharusnya kita ikut menegakkan etika dan hukum Kristen dalam hidup sehari-hari? Ada beberapa syaratnya:

  1. Kita harus memegang kuat Firman Tuhan. Apa yang baik dan buruk menurut Firman harus dinyatakan kepada semua orang dengan tegas tetapi dengan kasih. Apa yang dibenci Tuhan adalah perbuatan dosa kita dan bukan kita sendiri.
  2. Kita tidak boleh membeda-bedakan penerapan hukum Tuhan dalam masyarakat dan gereja. Siapapun yang tersesat harus diperingatkan, tidak tergantung pada siapa orangnya. Kita juga harus menegur berdasarkan fakta dan bukan berita. “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Yohanes 7: 2
  3. Menegakkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar “omong kosong” saja tetapi dengan tindakan yang berdasarkan Firman. “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain.” Kolose 3: 16
  4. Dalam usaha menegakkan kebenaran, kita harus menyadari bahwa semua orang cenderung untuk berbuat dosa. Karena itu, semua orang Kristen terutama mereka yang mempunyai kesempatan dan fungsi sebagai pemimpin dan guru harus mau dan bisa mengintrospeksi diri sendiri, agar bisa memberi contoh dan teladan untuk hidup baik.
  5. Kerendahan hati adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan ini harus lebih dinyatakan dalam usaha menegakkan kebenaran Tuhan. Dalam kita menegur orang lain, kita harus sadar bahwa kita pun orang berdosa, tetapi hanya karena kasih Kristus kita sudah diselamatkan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, dan dengan itu kebenaran Tuhan harus ditegakkan!

Suam-suam kuku?

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!” Wahyu 3: 15

Tiap tahun di Australia, ratusan orang terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru) gara-gara infeksi bakteri legionella yang sering ditemukan berkembang biak dalam air stagnan yang suam-suam kuku. Mereka yang fisiknya lemah bisa tewas karena penyakit ini. Karena itu, pemerintah menganjurkan agar air panas dari keran mempunyai temperatur setidaknya 60 derajat Celcius untuk mematikan bakteria yang mungkin berkembang biak disitu. Air keran yang suam-suam kuku sebaiknya tidak diminum tetapi air yang dingin boleh diminum langsung dari keran.

Ayat Alkitab yang menyebutkan soal air dingin, air panas dan air suam-suam kuku hanyalah ada dalam kitab Wahyu. Sungguh mengherankan bahwa pada saat kitab itu ditulis, Tuhan memperingatkan jemaat Kristen di Laodikia tentang kemiripan hidup mereka dengan air yang suam-suam kuku, yang tidak enak untuk diminum. Air yang tidak bisa menyegarkan atau menghangatkan tubuh, dan hanya bisa membawa rasa mual kepada orang yang meminumnya. Air serupa pada zaman ini diketahui sebagai air yang mungkin mengandung bakteria yang bisa mengganggu kesehatan dan bahkan menyebabkan kematian.

Mengapa Tuhan menegur jemaat di Laodikia secara tajam seperti itu? Apakah kekurangan mereka? Jemaat di Laodikia sebenarnya jemaat yang tidak berkekurangan dari segi materi. Mereka adalah orang-orang yang sukses (Wahyu 3: 17). Tetapi, dalam kekayaan dan kesuksesan mereka, jemaat ini belum berhasil untuk hidup benar. Hidup iman mereka mengalami stagnasi. Bagai sebuah barang, mereka hanya tampak indah dari bungkusnya, tetapi busuk isinya!

Di zaman modern ini orang Kristen yang pasif, stagnan dan suam-suam kuku mungkin jauh lebih banyak persentasenya jika dibandingkan dengan zaman dulu. Apalagi, dengan kemajuan ekonomi sebuah bangsa atau kemakmuran manusia, kenyamanan materi mungkin lebih disukai daripada pertumbuhan rohani. Banyak orang Kristen yang lebih tertarik pada soal memperoleh berkat Tuhan daripada berusaha hidup menurut perintahNya. Mereka itu tidak menyadari bahwa orang yang benar-benar beriman tidak hanya sekedar ikut-ikutan tetapi harus giat memuliakan nama Tuhan.

Bagi mereka, pergi ke gereja setiap minggu sudah dirasa sebagai tugas yang sudah dilaksanakan dengan baik. Diluar gereja, hidup mereka tidak ada bedanya dengan orang lain: hidup untuk kenikmatan duniawi, tidak peduli akan orang lain dan sibuk menambah harta. Mereka yang hanya mengenal Tuhan dari cerita orang lain, tetapi tidak punya pengalaman pribadi dengan Tuhan. Celakanya, mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan mereka adalah orang-orang yang melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang. Mereka mungkin belum benar-benar bertobat!

Pagi ini kita harus meneliti hidup kita. Apakah kita orang yang mengaku Kristen hanya karena pergi ke gereja atau pernah mendengar kisah tentang Yesus? Ataukah kita adalah orang yang benar-benar mau mempelajari firmanNya, menjalankan perintahNya, dan mengenal Kristus secara pribadi? Hanya kita yang bisa menjawabnya jika kita mendengar suara ketukanTuhan dalam hati kita.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Bagaimana hal yang buruk bisa membawa kebaikan?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Memang kebanyakan orang beriman tahu bahwa kekhawatiran dan kesedihan yang berlarut-larut adalah tidak berguna karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dalam Alkitab ada tertulis ayat-ayatnya dan para pendeta pun sering mengajarkannya. Tetapi, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Lebih mudah untuk mereka yang mengamati, daripada orang yang menjalani tantangan hidup.

Seringkali orang yang mengalami musibah diberi nasihat penghiburan yang berdasarkan pada ayat diatas. Tuhan bisa memakai pengalamanmu untuk membuat hal-hal yang baik di masa depan, mungkin begitu nasihat yang sering kita terima. Bagi orang yang mengalami masalah, nasihat sedemikian biasanya kurang bisa dimengerti; apakah Tuhan memakai hal-hal buruk yang terjadi saat ini untuk mencapai hasil yang baik?

Apa yang terjadi dalam hidup ini sering tidak kita mengerti arti dan gunanya. Apa yang kita pandang baik belum tentu membawa kebaikan. Apalagi apa yang buruk, kita tidak bisa membayangkan gunanya. Itu semua karena apa yang kita mengerti adalah terbatas jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan dan karena itu sering tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.

Apa yang dimaksudkan ayat diatas sebenarnya adalah Tuhan memakai segala sesuatu yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita, baik itu suka atau duka untuk kebaikan kita. Ini berarti, pada saat kita mengalami kesulitan atau duka, janganlah kita hanya memusatkan pikiran kita pada hal-hal itu saja karena bukan hanya itu yang dipakai Tuhan menurut rencanaNya untuk membawa kebaikan bagi hidup kita. Tuhan memakai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya untuk membawa mereka makin dekat kepadaNya.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Dibalik semua peristiwa, Tuhan bekerja untuk rencana agungNya. Memang duka adalah duka dan adalah wajar jika bisa merasakannya sebagai suatu penderitaan. Tetapi, baik suka maupun duka, semua yang terjadi dalam hidup kita dan bahkan dalam dunia akan membawa orang yang beriman untuk makin dekat dan serupa dengan Yesus yang pernah mengalami segalanya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39