Memikir boleh, tapi jangan khawatir

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Australia adalah benua yang sebagian besar terdiri dari padang gurun. Luas total daratan Australia 4 kali luas daratan Indonesia tapi pendudukknya hanya sepersepuluh penduduk Indonesia. Iklim gurun menyebabkan banyak daerah sering mengalami kekeringan karena hujan yang tidak kunjung datang. Walaupun demikian, daerah itu jugalah yang sering kebanjiran jika akhirnya hujan turun.

Para petani dan peternak sapi dan domba adalah orang-orang yang harus tabah. Dalam iklim yang tidak menentu mereka hanya bisa memikirkan apa yang bisa dilakukan saat ini dan berharap agar mereka lebih beruntung di masa mendatang, karena baik musim kering yang berkepanjangan atau curah hujan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kematian tanaman dan ternak. Mereka tahu bahwa kekhawatiran itu tidak ada gunanya dan karena itu tetap bekerja seperti biasa dalam keadaan apapun.

Hidup manusia mungkin bisa dibayangkan sebagai hidup para petani yang bergantung pada curah hujan. Adakalanya manusia dalam hidup ini menantikan datangnya pasangan hidup, pekerjaan dan berbagai kebutuhan yang lain. Seringkali penantian itu berlangsung lama sekali dan karena itu rasa khawatir pun mulai muncul. Akankah aku mendapatkannya?

Mereka yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan mungkin merasa lega. Rasa gembira muncul sesaat, namun apa yang diperoleh sering tidak seperti yang diharapkan. Rasa khawatir mula-mula muncul karena tidak adanya sesuatu, berubah menjadi rasa khawatir lain setelah datangnya sesuatu yang semula diharapkan. Hidup manusia dengan demikian tidak dapat mengalami kedamaian. Mengapa manusia selalu cenderung khawatir?

Kekhawatiran menunjuk kepada kelemahan manusia yang tidak berkuasa atas masa depannya. Seandainya manusia bisa mengatasi semua persoalan hidup, kekhawatiran tidak akan muncul. Dengan demikian, bagi orang beriman adanya kekhawatiran di dunia hanya membuktikan bahwa semua manusia bergantung kepada kemurahan Tuhan semata. Karena itu, untuk orang yang percaya kepada Tuhan, kekhawatiran sebenarnya tidak ada gunanya dan hanya memperlemah semangat hidup mereka.

Jika kekhawatiran itu harus dihindari, “kepikiran” itu lumrah. Kita sebagai manusia harus bisa memikirkan apa yang bisa terjadi dan mengambil tindakan dan keputusan. Sebagai manusia kita tahu bahwa tiap hari ada persoalan yang harus kita hadapi (Matius 6: 34). Hidup tanpa menyadari adanya berbagai kemungkinan, resiko dan bahaya adalah hidup dalam alam mimpi. Tetapi, sebagai anak-anak Tuhan kita bisa menyerahkan segala persoalan kita kepadaNya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hidup tak berkurangan memang enak

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 2-4

Di zaman ini semua orang ingin berusaha untuk hidup berkecukupan. Anak-anak mereka, dari kecil sudah diajarkan untuk mau giat belajar agar dapat memperoleh ijazah universitas supaya dapat memperoleh pekerejaan yang enak, yang menghasilkan banyak uang setelah lulus.

Memang hidup enak menurut ukuran umum adalah hidup yang santai tapi makmur. Kebahagiaan mungkin diartikan sebagai hidup tenang tanpa masalah. Pekerjaan yang berat adalah sesuatu yang sebaiknya dihindari, sekalipun menarik dan berguna untuk orang lain. Hidup yang enak adalah hidup dalam kemudahan.

Ayat diatas justru berkata sebaliknya. Menurut Alkitab, hidup orang percaya tetap dihadapkan kepada kemungkinan untuk jatuh ke dalam berbagai-bagai tantangan dan kesulitan. Tetapi, kita boleh berbahagia dalam menghadapinya sebab kita tahu, bahwa ujian iman seperti itu menghasilkan ketekunan yang membentuk kita sebagai orang yang sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Begitu mencolok beda ajaran ini dengan pandangan umum manusia!

Bagi umat Kristen, kebahagiaan adalah karunia Tuhan. Semua hal yang baik adalah datang dari Tuhan. Kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Sekalipun kesuksesan, kekayaan, keamanan dan kesehatan ada tersedia dalam hidup kita, kekosongan hati masih sering muncul. Malahan kita tahu bahwa banyak orang ternama yang mengakhiri hidup mereka secara tragis karena hidup yang berkekurangan dalam kemewahan. Hidup kosong yang tidak menyadari adanya Tuhan.

Satu hal yang sering tidak kita sadari sebelum terjadinya masalah kehidupan ialah kenyataan bahwa manusia sebenarnya tidak memegang kemudi kapal kehidupan. Bagaimanapun manusia berusaha dan bekerja, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tetap bisa bermunculan pada setiap saat. Bagi mereka yang hidupnya kosong, datangnya kesulitan hidup akan dapat membawa kehancuran karena kepercayaan kepada diri sendiri akan tergoncang dan harapan masa depan menjadi suram. Pengertian tentang kebahagiaan yang mereka yakini sejak lama, sekarang menjadi tanda tanya besar.

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup kita akan berjalan tanpa kemudi jika kita tidak membiarkan Tuhan membimbing kita. Sebaliknya, menyerahkan hidup kita kepadaNya akan memberi keyakinan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang baik. Keyakinan inilah yang memberi kita ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup, yang pada akhirnya akan memberi kebahagiaan sejati dalam rasa kecukupan pada setiap saat!

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Mazmur 23: 1-2

Mengapa ini harus terjadi?

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” Filipi 4:7

Pernahkah anda mengalami hal yang buruk yang terjadi seolah tanpa sebab? Mendapat perlakuan yang tidak baik walau anda tidak bersalah? Kehilangan sesuatu sekalipun anda sudah berhati-hati? Menemui kegagalan walaupun sudah bekerja keras? Jatuh sakit sekalipun sudah menjaga kesehatan? Mengapa ada hal-hal jelek yang terjadi pada orang yang baik?

Alkitab banyak mengungkapkan penderitaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Baik Habel, Yakub, Abraham, Musa dan Ayub dari Perjanjian Lama, sampai kepada Petrus, Stefanus dan Paulus dari Perjanjian Baru, mereka semua pernah mengalaminya. Bahkan Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa, harus menderita begitu berat sampai disalibkan seperti seorang penjahat. Orang yang baik kelihatannya sering menghadapi kesulitan dan ketidakadilan dalam hidupnya.

Pertanyaan diatas tidak mudah dijawab dengan pikiran manusia. Lebih mudah menjawab pertanyaan mengapa hal-hal yang baik terjadi pada manusia yang jahat. Dalam hidup ini kita melihat begitu banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang tidak jujur, kejam, dan mementingkan dirinya sendiri, justru mendapat kesuksesan. Dalam kalangan gereja pun, orang yang kurang benar hidup rohani dan pandangan hidupnya justru bisa menarik banyak pengikut dan menjadi ternama. Orang yang tidak beriman memang kelihatannya bisa mencapai hasil yang baik melalui hidup bebasnya.

Untuk menjawab kedua pertanyaan diatas, pertama- tama kita harus menyadari bahwa dunia ini penuh dosa. Semua manusia sudah berdosa di hadapan Allah dan tidak ada seorangpun yang bisa mengaku sebagai orang yang benar.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Roma 3: 23

Justru karena semua manusia sudah berdosa, Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Mereka yang percaya kepada Yesus akan terbilang sebagai anak-anak Tuhan.

Dalam dunia ini, anak-anak Tuhan hidup bersama-sama dengan orang yang lain dan menerima segala berkat Tuhan. Sinar matahari, pekerjaan, kesehatan, kekayaan dan lain-lain ada tersedia bagi semua orang. Bersama itu, kegelapan malam, pengangguran, kelaparan, penyakit, peperangan dan kemiskinan bisa juga terjadi pada siapa pun.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Walaupun begitu, orang beriman akan mengerti bahwa apa yang terjadi di dunia atau dalam hidup seseorang bukanlah datang secara acak. Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, Dialah yang mengatur hidup setiap manusia sesuai dengan rencanaNya yang agung.

“..supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45: 6-7

Kalau memang segala sesuatu bisa terjadi dalam hidup semua orang, apakah gunanya kita menjadi anak-anak Tuhan? Adakah perbedaan antara “nasib” orang percaya dan “nasib” orang yang tidak percaya? Jawabnya: Ada!

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Pagi hari ini kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada maksudnya. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus yakin bahwa Tuhan mengasihi kita lebih dari yang lain. Karena itu, kita boleh yakin bahwa Tuhan menyertai kita dalam segala keadaan. Ialah yang bisa memberikan rasa damai dan kebahagiaan yang sejati dalam hidup kita!

Mangan ora mangan asal kumpul

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46-47

Untuk mereka yang mengerti bahasa Jawa “mangan ora mangan asal kumpul” yang arti literalnya “makan atau tidak makan asalkan hidup bersama” adalah ungkapan yang sering didengar. Banyak orang mengartikan ungkapan ini sebagai anjuran agar suami istri hidup bersama secara harmonis dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun. Tidaklah menjadi persoalan jika uang pas-pasan, asal saja keduanya saling mencintai.

Ada pula orang yang mengartikan ungkapan ini sebagai anjuran untuk bersatu dan bekerja sama, sekalipun tidak ada upah atau hadiah yang tersedia. Biarpun tidak ada penghargaan yang memadai, orang dianjurkan untuk bekerja sama tanpa pamrih untuk kebaikan bersama.

Membayangkan keadaan gereja pada awalnya seperti yang tertulis dalam ayat diatas, kita mungkin bisa melihat bahwa umat Kristen pada waktu itu hidup sangat sederhana, tetapi bersatu dalam kasih Yesus. Mereka bertekun dan berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah dan makan roti di rumah masing-masing secara bergilir dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Betul-betul mereka menerapkan prinsip “mangan ora mangan asal kumpul”, dan karena itu Tuhan memberkati dan menumbuhkan jumlah mereka.

Adakah gereja dan umat Kristen di zaman ini yang mau berkumpul berbakti sekalipun dalam keadaan yang kurang memuaskan dan kurang nyaman? Ada! Masih banyak gereja yang tumbuh pesat sekalipun mereka tidak mempunyai gedung yang mewah atau dana untuk memiliki sound system dan pemusik yang tangguh. Mereka bisa hidup dalam kesederhanaan karena mau mementingkan persekutuan, kumpul-kumpul dengan Tuhan dan sesama orang seiman.

Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen dan gereja yang hanya mau berkumpul dalam keadaan yang mewah berlebihan. Mereka berlomba mengumpulkan dana untuk membuat gedung gereja yang super besar dengan peralatan canggih untuk kenyamanan dan kebanggaan bersama. Bagi mereka istilah “ora mangan” tidak lagi dikenal karena sudah diganti dengan keinginan untuk berkumpul dalam kemewahan dan kesuksesan. Sayang sekali bahwa dalam suasana sedemikian, pandangan hidup anggota gereja pun berubah. Menjadi orang Kristen yang kekurangan agaknya sesuatu yang memalukan. Anak Tuhan harus selalu bisa makan dan hidup berkelimpahan!

Pagi ini kita harus insaf bahwa gereja yang mula-mula dan gereja yang benar adalah perhimpunan orang yang sehati dan saling mengasihi dalam keadaan apapun. Mangan ora mangan asal kumpul. Gereja yang dipenuhi oleh orang-orang yang rendah hati, tulus dan mau bekerja sama dan saling tolong menolong untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukan gereja yang berisi orang-orang yang sombong dan tidak mau ikut campur dalam pelayanan dan hanya ingin suasana syahdu dan nyaman. Bukan juga perkumpulan orang yang ingin mencari sanjungan dan nama besar. Apalagi bukan tempat memperoleh penghasilan dan dana. Gereja adalah tempat berkumpulnya orang yang sehati didalam keadaan apapun.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Doa yang seharusnya

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Matius 6: 7

Masih ingatkah kita akan doa yang kita ucapkan untuk pertama kalinya? Mungkin kita tidak ingat karena itu terjadi pada waktu dulu sekali, semasa kanak-kanak. Tetapi kita bisa bayangkan bahwa dalam doa kita mungkin hanya berisi permintaan kita kepada Tuhan, persis seperti apa yang biasanya dikatakan seorang anak kecil kepada orang tuanya.

Seorang bayi misalnya, hanya bisa menangis karena haus, lapar atau sakit. Tetapi, sejak bisa berbicara seorang anak mulai belajar merengek dan bahkan menuntut untuk diberi sesuatu yang dingini. Umumnya, dengan bertambahnya usia, seorang anak lebih bisa berkomunikasi dengan orang tuanya sehingga apa yang keluar dari mulutnya bukanlah hanya tuntutan dan permintaan saja. Walaupun demikian, ada banyak kasus menyedihkan dimana anak-anak yang sudah dewasa masih sering memaksa orang tua mereka untuk menuruti kehendak mereka.

Seringkali juga kita temui di zaman ini, orang-orang yang berdoa dengan keinginan yang secara menggebu-gebu, mengulang-ulang permohonan mereka dan bahkan memakai ayat-ayat Alkitab untuk mengingatkan Tuhan akan janjiNya. Doa yang semacam itu seringkali merupakan komunikasi satu arah yang hanya dimaksudkan untuk mencari berkat dari Tuhan dan bukannya untuk mengakui kebesaran Tuhan dan memuliakan namaNya.

Yesus dalam ayat diatas serasa mengatakan bahwa apa yang dilakukan banyak orang Kristen dalam doa-doa mereka seringkali mirip dengan apa yang dilakukan oleh anak kecil kepada orang tuanya. Isi doa dan cara berdoa mereka tidak banyak berubah dari doa orang yang belum beriman, yang berisi permohonan dan tuntutan saja. Yesus setelah itu mengajarkan cara berdoa yang baik, yaitu seperti yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami (Matius 6: 9-13).

Ada beberapa hal yang istimewa mengenai Doa Bapa Kami ini:

  1. Doa ini dibuka dengan pujian syukur kepada Tuhan dan pengakuan iman bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Jika pikiran kita tidak diisi dengan keyakinan akan kasih dan kuasa Bapa kita dan rasa syukur sewaktu mulai berdoa, doa kita bisa melenceng kearah yang salah. Mengucap syukur dalam segala hal adalah yang dikehendaki Allah (1 Tesalonika 5:18).
  2. Doa ini singkat dan tidak mengulang-ulang kata-kata atau permintaan. Doa ini adalah sebagai contoh doa yang mengandung prinsip-prinsip utama. Doa kita tentu saja bisa lebih panjang, sesuai dengan keadaan. Doa Bapa Kami bukannya doa singkat padat untuk menggantikan doa-doa pribadi kita. Bagi kita, kesempatan untuk menjumpai Tuhan dalam doa adalah sebuah kehormatan yang harus sering kita pakai (1 Tesalonika 5:17).
  3. Doa ini mengakui bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi, bukan kehendak manusia. Ini berarti kita harus selalu mau mencari kehendakNya dan menyesuaikan permohonan kita dengan apa yang Tuhan kehendaki.
  4. Permohonan dalam doa ini adalah untuk kecukupan, bukan untuk kekayaan atau kesuksesan. Jika kita selalu berpikir bahwa Tuhan adalah sumber kekayaan dan kesuksesan dan bukannya sumber keselamatan dan kebahagiaan, itu menandakan bahwa hidup kita sudah dikuasai oleh keinginan duniawi kita.
  5. Doa ini berisi pengakuan bahwa sebagai manusia yang lemah dan berdosa kita berjuang melawan dosa, tetapi menemui kegagalan setiap hari. Karena itu kita harus mau meminta ampun kepada Tuhan dan mengampuni orang lain pada setiap saat.
  6. Dalam doa ini kita sadar bahwa hidup orang Kristen di dunia tidak luput dari berbagai penderitaan. Tetapi kita memohon agar apapun yang terjadi dalam hidup kita jangan sampai hal-hal itu membuat kita jatuh dalam dosa dan kehancuran.

Marilah kita dalam hidup ini selalu menyadari bahwa berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, Allah, dan Bapa kita yang Maha Kuasa, Maha Suci dan Maha Pengasih. Karena itulah biarlah kita bertekun dalam doa dan dengan hormat senantiasa mengucap syukur atas segala karuniaNya.

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Pernahkah anda menodong Tuhan?

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15: 7

Jika seseorang bertanya apakah kita pernah menodong Tuhan, kita mungkin jadi tersinggung atau marah, atau setidaknya heran. Pertanyaan macam apa pula itu? Mana mungkin manusia melakukan tindak kekerasan dan kurangajar kepada Tuhan yang Maha Kuasa? Tetapi, sebelum kita bereaksi, marilah kita melihat arti kata “todong” dalam kamus besar bahasa Indonesia.

to·dongv,me·no·dong v1 mengarahkan senjata (pistol dan sebagainya) sebagai ancaman untuk merampok, merampas, dan sebagainya: dua orang bersenjata masuk, lalu ~ tuan rumah; 2ki menyuruh dengan serta-merta (tanpa persetujuan sebelumnya): masyarakat desa itu ~ gubernur DKI untuk ikut berjoget di panggung

Mengenai arti kata yang pertama, sudah barang tentu kita tidak pernah mengarahkan senjata sebagai alat untuk merampok Tuhan. Tetapi, arti kata yang kedua adalah “menyuruh tanpa persetujuan sebelumnya”. Pernahkah anda meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu tanpa lebih dulu mendapat persetujuanNya? Itulah menodong!

Menodong bisa dilakukan secara halus, sopan, atau secara kasar, tidak sopan. Kebanyakan orang Kristen menodong Tuhan dengan cara halus seperti berdoa dengan tidak ada hentinya, berdoa dengan berulang kali, berpuasa, berjanji untuk melakukan sesuatu jika dituruti, memberi kolekte lebih besar dari biasanya, pantang makan sesuatu dll. Semua itu mungkin tidak ada salahnya jika apa yang didoakan sudah sesuai dengan persetujuan Tuhan. Jika tidak, tindakan itu adalah sama dengan menodong Tuhan. Mengapa manusia berani menodong Tuhannya? Pasti ada alasannya!

Ayat dalam Yohanes 15 diatas memang sering dipakai sebagian orang Kristen untuk saling menguatkan dalam menghadapi kebutuhan atau masalah besar. Karena kita adalah anak-anak Tuhan, pastilah Tuhan menuruti permintaan apa saja yang kita sampaikan kepadaNya. Dengan kata lain, kita seakan boleh meminta apa saja yang kita mau, tanpa persetujuanNya. Sebagai anak kita agaknya berhak menodong Bapa di surga dengan cara halus untuk memperoleh apa yang baik menurut ukuran dan pendapat kita.

Kita tahu bahwa ada orang-orang yang pandai menodong orang lain. Dengan kata-kata manis, rengekan, bujuk-rayu, mungkin agak sulit bagi kita untuk menolak permintaan si penodong. Apalagi jika si penodong memakai kata-kata yang memuji kita, rasanya sungkan untuk menolak permintaannya. Setelah diminta berulang kali, mungkin kita menyerah atas permintaan mereka, daripada harus mendengar kata-kata yang sama terus menerus. Itulah juga yang mungkin ada dalam pikiran umat Kristen yang menodong Tuhan dengan doa dan pujian mereka. Selain itu, memang di zaman ini ada banyak pendeta yang sering mengajarkan teknik menodong Tuhan.

Apa reaksi Tuhan atas todongan umatnya seringkali bukanlah kata-kata kemarahan tetapi keheningan dalam kesedihan atas kebodohan mereka:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Apa yang terjadi setelah kita menodong Tuhan bisa dibayangkan: kehampaan. Manusia yang sudah memohon dengan sungguh-sunguh, tidak mendapat jawaban apapun dari Tuhan.

Pagi ini biarlah kita diingatkan bahwa satu hal yang sangat penting dalam mengajukan permohonan kita kepada Tuhan ialah mencari kehendakNya, mendapatkan persetujuanNya. Doa yang hanya menyampaikan keinginan kita adalah usaha penodongan yang tidak akan membawa hasil yang baik dalam hidup kita.

Hak atau anugerah?

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Manusia itu aneh. Jika ada hal yang buruk terjadi, ia akan mengeluh mengapa hal itu  terjadi padanya. Tetapi, jika ada hal yang baik yang terjadi pada dirinya, ia akan merasa bahwa hal itu adalah sudah sewajarnya. Memang dari dulu manusia cenderung lebih mudah merasa bahwa apa yang baik adalah haknya, dan apa yang buruk tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Lebih-lebih lagi, di zaman modern ini manusia lebih mengenal apa yang seharusnya menjadi haknya dan karena itu sering mengajukan berbagai tuntutan agar orang lain, masyarakat dan negara mengakui haknya.

Memang manusia sampai-sampai bersedia untuk berdebat, bermusuhan, dan bahkan berperang untuk memperoleh dan mempertahankan apa yang dianggap haknya. Anak-anak merasa mempunyai hak tertentu dan menuntut orang tua dan keluarga untuk menghargai dan memberikannya. Sebaliknya orang tua pun merasa  mempunyai hak-hak tertentu yang mengharuskan anak-anaknya untuk memenuhi kemauan dan kebutuhan mereka di masa depan. Demikian pula, percekcokan antara suami dan istri sering diakibatkan  karena mereka saling merasa punya hak-hak tertentu. Semua orang punya hak dan kewajiban, begitulah ajaran hidup bermasyarakat yang sering kita dengar.

Manusia sejak dulu memang berusaha memperjuangkan hak-hak manusia karena keyakinan bahwa pada hakekatnya semua manusia itu sama derajatnya. Tercatat dalam sejarah bahwa  tokoh-tokoh agama Kristen pada abad 17 dan 18 giat memperjuangkan masalah hak asasi. Hak Asasi Manusia(HAM) adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional. Mereka umumnya dipahami sebagai hal yang mutlak sebagai hak-hak dasar “yang seseorang secara inheren berhak karena dia adalah manusia”, dan yang “melekat pada semua manusia” terlepas dari bangsa, lokasi, bahasa, agama, asal-usul etnis atau status lainnya.

Walaupun dalam kehidupan masa kini soal mengatur  hak dan kewajiban manusia adalah penting demi keamanan dan kelancaran hidup bermasyarakat, dalam konteks iman Kristen selalu ada pertanyaan apakah benar bahwa setiap manusia dilahirkan dengan hak-hak tertentu. Benarkah bahwa setiap orang di dunia pada hakekatnya mempunya hak yang sama untuk hidup nyaman dan aman? Benarkah manusia Kristen mempunyai hak-hak istimewa yang tidak dipunyai orang lain?

Apa yang tertulis dalam Galatia 4: 6-7 seolah mengiyakan pandangan bahwa manusia percaya mempunyai hak khusus terutama dalam hal meminta berkat dari Tuhan.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Tetapi jika kita teliti, ayat diatas bukanlah menunjuk pada hak kita sebagai orang yang sudah diselamatkan, tetapi pada kenyataan bahwa mereka yang percaya sudah menerima anugerah keselamatan dan dengan itu boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Dalam Alkitab disebutkan bahwa manusia sebagai ciptaan Allah memang mempunyai hak kolektif untuk mengatur dunia serta untuk berkembang biak (Kejadian 1: 28-29), tetapi Alkitab hampir tidak pernah menyebutkan soal hak pribadi.

Dalam Alkitab jelas tertulis bahwa manusia itu diciptakan  sebagai peta dan teladan Allah untuk memuliakan Sang Pencipta. Dengan demikian, apa yang dikenal sebagai “hak ”  oleh manusia sebenarnya adalah anugerah Tuhan semata,  sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.

Manusia diciptakan dengan kesadaran akan baik dan buruk; tetapi karena dosa, kesadaran ini sering menjadi pudar. Karena itu, dalam hidup bermasyarakat manusia membutuhkan pengertian akan adanya “hak” dan kewajiban. Tetapi, sekalipun mungkin kita kurang menyenanginya, adalah fakta bahwa apa yang sering disebutkan dalam Alkitab adalah kewajiban dan bukan hak. Hukum Kasih mengatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, dan pada kedua hukum ini bergantung semua hukum-hukum yang lain (Matius 22: 37-40). Tuhan tahu jika kita melaksanakan kedua kewajiban ini, soal “hak” tidak lagi akan menjadi persoalan dalam hidup manusia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh selalu menekankan pentingnya “hak” kita dalam hidup beragama, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara, tetapi lebih mementingkan apa yang bisa dan harus kita perbuat untuk Tuhan dan orang lain. Dengan demikian hidup kita akan bisa terisi dengan kebahagiaan dan kepuasan bahwa kita sudah menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan memuliakan namaNya.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7: 12

Ngapain ke gereja?

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Gereja di banyak negara barat sekarang ini seringkali hanya dihadiri orang tua saja. Banyak gedung gereja di Australia yang dijual karena pengunjungnya sudah terlalu sedikit dan dijadikan tempat ibadah agama lain atau tempat makan. Salah satu gedung gereja Australia di Melbourne masih beruntung karena bisa dikelola jemaat Indonesia sehingga tidak perlu ditutup atau dijual, tapi kejadian ini jarang ditemui. Mengapa hal ke gereja sekarang sudah tidak relevan bagi generasi muda di banyak negara maju? Apakah itu bisa terjadi di Indonesia?

Satu faktor yang penting dalam kehidupan orang Kristen adalah keluarga. Pendidikan keKristenan dalam keluarga adalah dasar pembentuk norma dan etika Kristen anak-anak. Jika keluarga dan orang tua sudah tidak bisa berfungsi sebagai gereja (persekutuan orang percaya) dan pimpinan gereja, anak-anakpun akan jatuh dalam kebimbangan seperti layang-layang putus.

Keluarga Kristen di zaman ini, seperti keluarga lainnya, menghadapi berbagai tantangan hidup yang berbeda dengan zaman sebelumnya. Tidak hanya tekanan hidup yang terjadi karena soal pekerjaan orang tua, pengaruh tekanan juga timbul dari masyarakat sekitar keluarga dan bahkan keadaan dunia yang bisa dipantau melalui media. Anak-anak zaman ini belajar lebih banyak dari lingkungannya daripada orang tua mereka. Apalagi, jika anak-anak sudah bisa pergi kemana saja tanpa disertai orang tua, mereka akan merasa bebas untuk melakukan apa saja.

Unit terkecil gereja adalah keluarga. Jika keluarga sudah tidak dapat berfungsi sebagai persekutuan orang percaya dengan orang tua yang berperan sebagai gembala sidang, anak-anak secara otomatis akan mengabaikan pentingnya persekutuan dengan orang seiman. Jika keluarga sudah tidak bisa memberikan kesempatan untuk bertemu dan berdoa, tempat ibadah untuk saling menasihati, dan memuji Tuhan, kemungkinan untuk anak-anak menjalani hidup Kristen makinlah tipis. Apalagi di zaman ini peran ayah dan ibu cenderung semakin kabur saja.

Pagi hari Minggu ini kita diingatkan bahwa perjuangan hidup umat Kristen di masa depan akan semakin berat. Tidak hanya di negara barat, tetapi juga di negara-negara lain. Tidak hanya di sekolah, kantor, pemerintah dan masyarakat kita melihat unsur-unsur jahat yang berusaha menghancurkan iman Kristen, tetapi keluargapun akan terpecah belah karena adanya pandangan-pandangan manusiawi yang nampaknya masuk akal, tetapi bertentangan dengan Firman. Marilah kita memperkuat ibadah kita, terutama ibadah dalam keluarga supaya makin banyak orang yang mengerti pentingnya gereja yaitu persekutuan orang percaya!

Tua tua kelapa

“Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya.” Ayub 12: 12

Ada pepatah Indonesia yang berbunyi “tua tua keladi” yang berarti makin tua makin menjadi (sifat buruknya), tetapi pepatah “tua tua kelapa” adalah kebalikannya, karena berarti makin tua makin banyak santannya (sifat baiknya). Kedua pepatah ini sering dipakai untuk mengungkapkan sifat manusia dengan bertambahnya umur, tetapi pepatah yang pertama mungkin lebih sering kita dengar.

Ayat diatas menyatakan bahwa dengan bertambahnya umur, hikmat dan pengertian ikut bertumbuh. Orang yang lanjut umurnya punya lebih banyak kebijaksanaan dan pengertian, mungkin karena banyaknya pengalaman.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah bunyi pepatah lain yang mengungkapkan pentingnya untuk belajar dari apa yang kita alami. Memang seringkali manusia mengalami pengalaman pahit yang memungkinkan mereka untuk bisa belajar untuk tidak melakukan hal yang sama di masa depan. Sebuah pepatah internasional yang sangat terkenal mengatakan bahwa seekor keledai tidak pernah jatuh ke dalam lubang dua kali, karena keledaipun belajar dari pengalaman!

Pengalaman memang bisa menjadi pelajaran yang berharga tetapi tidak semua orang bisa menghargai pengalamannya dan menjadi makin baik dalam sifat dan hidupnya. Banyak orang yang justru berubah menjadi makin jahat dan makin jauh dari Tuhan karena pengalaman yang membuat mereka merasa Tuhan itu tidak ada. Mengapa begitu? Ayat dibawah ini menjelaskan bahwa hikmat dan pengetahuan yang benar hanya datang dari Roh Kudus.

“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” 1 Korintus 12: 8

Belajar dari pengalaman tanpa dibimbing Roh Kudus hanya menghasilkan kebijaksanaan menurut ukuran manusia. Jika manusia tidak sadar bahwa Tuhan berkuasa atas apa yang terjadi dalam hidup mereka, apa yang mereka peroleh dari pengalaman hanyalah menghasilkan kesombongan dan kenekadan, atau kekuatiran dan kekecewaan. Tanpa bimbingan Roh Kudus, manusia mungkin serupa keladi, makin tua makin menjadi dalam kebodohannya.

“Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah.” 1 Korintus 3: 19

Pagi ini marilah kita menyadari bahwa dalam hidup kita harus tetap dekat kepada Tuhan dan bahkan makin lama makin dekat kepadaNya dengan bertambahnya umur kita. Biarlah hidup kita seperti kelapa yang semakin tua semakin banyak santannya!

Siapa sih yang senang sakit?

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1: 2

Akhir-akhir ini saya sering mendengar berita yang kurang enak tentang si A yang jatuh sakit, si B yang masuk rumah sakit, si C  yang dalam keadaan kritis, dan sebagainya. Semua berita itu membuat saya sedih. Mengapa manusia harusmengalami hal itu? Setelah berpikir-pikir, saya menarik kesimpulan bahwa mengenai soal jatuh sakit, kenyataan hidup manusia antara lain adalah sebagai berikut:

  • Ada berbagai macam penyakit.
  • Tidak semua penyakit bisa dihindari.
  • Semua orang pernah sakit.
  • Tidak ada orang yang mau sakit.
  • Tidak semua orang mau menghindari penyakit.

Alkitab menunjukkan bahwa memang ada berbagai macam penyakit yang diderita manusia setelah jatuh dalam dosa. Tuhan Yesus sewaktu di dunia menyembuhkan banyak orang dari penyakit mereka, dan itu membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah. Penyakit yang disembuhkannya tidak hanya penyakit jasmani tetapi juga penyakit rohani (Lukas 8: 26-39). Sampai sekarangpun, Tuhan tetap mau menyembuhkan orang sakit jika sesuai dengan kehendakNya.

Dengan kemajuan pengobatan, banyak penyakit yang dulu tidak dapat disembuhkan sekarang bisa dihindari atau disembuhkan. Tetapi selalu ada saja penyakit yang tidak dapat dihindari karena tidak adanya atau belum adanya obat yang mampu membawa kesembuhan. Selain itu, penyakit bisa datang melalui faktor genetika yang membuat orang mempunyai kelemahan tertentu sejak lahir. Sekalipun ada usaha manusia untuk mengubah faktor genetika ini, tiap manusia mungkin saja jatuh sakit karena berbagai hal, termasuk jatuh sakit karena Tuhan memberi ujian bagi anak-anakNya (Ayub 2: 6-7).

Semua orang pernah jatuh sakit sekalipun mereka biasanya sehat. Sebagian besar orang sakit yang kita jumpai mungkin mengalami sakit jasmani, tetapi banyak juga orang yang sakit rohani. Mereka yang sakit rohaninya mungkin mendapat serangan atau godaan iblis, tetapi mungkin juga karena tekanan hidup yang membuat mereka jauh dari Tuhan. Istri Ayub misalnya, tidak mengalami sakit jasmani tetapi karena melihat penderitaan Ayub, ia menjadi sakit rohaninya dan menganjurkan agar Ayub untuk mengutuki Tuhan (Ayub 2: 10).

Karena sakit adalah hal yang tidak enak dan membawa penderitaan, tidak ada orang yang berpikiran sehat yang mau sakit. Sedapat mungkin orang akan berusaha untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, cukup beristirahat dan lain-lain. Demikian pula orang yang sadar akan berusaha memelihara rohaninya dengan hidup dekat dengan Tuhan dan menghindari hal-hal yang menggoda. Semua itu harus dilakukan karena tubuh kita secara keseluruhan adalah rumah Tuhan (1 Korintus 6: 19-20).

Rasul Yohanes dalam ayat diatas (3 Yohanes 1: 2) mengharapkan agar umat Kristen sehat dalam jasmani maupun rohani. Masalahnya adalah walaupun orang umumnya tidak mau sakit, ada orang-orang yang tidak berhati-hati dalam mempertahankan kondisi jasmani dan terutama rohaninya. Banyak pula yang tidak sadar bahwa kesehatan jasmani dan kesehatan rohani harus dipelihara secara khusus karena keduanya tidak selalu bertautan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kesehatan itu perlu dijaga. Kesehatan jasmani itu penting, tetapi terlebih penting lagi adalah kesehatan rohani. Berita buruk tentang teman-teman kita yang sakit memang membuat kita sedih, tetapi kita harus bersyukur kalau mereka sehat rohaninya. Begitu pula kita sendiri haruslah bisa memelihara kesehatan rohani kita agar kita tetap bisa terhitung sebagai anak-anak Tuhan.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Matius 10: 28