Istri bahagia, hiduppun nyaman?

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” 1 Petrus 3: 7

Dalam hal menghormati kaum wanita, ayat diatas mengatakan bahwa pria dan wanita adalah sama-sama pewaris karunia kehidupan Allah, dan karena itu mereka harus mempunyai hubungan yang baik. Tetapi bagaimana mereka bisa membina hubungan itu?

Ada yang mengajarkan bahwa kunci hubungan suami dan istri adalah kemauan suami untuk bisa membahagiakan istri yang lebih lemah karena jika istri senang, hidup pun jadi nyaman. Happy wife, happy life.

Benarkah wanita itu kaum yang “lemah” yang perlu “dimanjakan”? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena memerlukan definisi kata “lemah” dan “dimanjakan”.

Di zaman sekarang, ayat diatas memang sering dirasakan agak ganjil baik oleh kaum wanita yang tidak mau dianggap lemah seperti Hawa yang tergoda bujukan ular, maupun oleh kaum pria yang merasa diharuskan mengalah kepada kaum wanita. Adalah kenyataan hidup di zaman ini bahwa wanita tidak selalu kalah dari pria atau lebih lemah. Malahan, kita sering melihat wanita sebagai “orang kuat”pemimpin negara, misalnya Margaret Thatcher, Megawati Soekarnoputri dan Angela Merkel.

Memang secara umum, terlihat bahwa dalam soal tenaga wanita tetap tidak sekuat pria, tetapi umur wanita secara umum lebih panjang dari umur pria! Wanita dan pria nampaknya punya keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Keduanya bisa saling melengkapi, seperti tujuan penciptaan pada mulanya yaitu untuk memuliakan Tuhan.

Dalam hal “memanjakan”, memang secara logis jika seorang suami bisa membahagiakan istrinya, sang istri mungkin akan lebih bisa mendukung sang suami dan ini bisa membawa keharmonisan dalam hidup rumah tangga. Tetapi, siapakah yang bisa menjamin adanya kebahagiaan pada diri orang lain?

Kebahagiaan tumbuh dalam hati seseorang, bukan dari luar. Sekalipun seseorang berusaha keras untuk membahagiakan orang lain, kebahagiaan dan kepuasan belum tentu terjadi. Malahan usaha manusia untuk membahagiakan orang lain itu sebenarnya keliru karena kebahagiaan sejati berasal dari hubungan yang baik antara manusia dan Tuhan.

Hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhan tidak dapat disaingi dengan hubungan baik antar manusia. Tetapi hubungan kasih antara suami dan istri, yang saling menghargai satu dengan yang lain, bisa memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan jika mereka sehati dan mengutamakan Tuhan. Dari situlah kebahagiaan keluarga akan terbentuk.

Kebal karena terbiasa

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Seingat saya, setiap kali saya sekeluarga mengunjungi Indonesia di akhir tahun, selalu ada banyak nyamuk yang beterbangan siang dan malam. Bagi saya, gigitan nyamuk itu tidak terlalu terasa. Tetapi, untuk anak-anak saya, gigitan satu nyamukpun bisa membuat kulit mereka gatal membengkak. Mungkin mereka kurang “kebal” karena tidak terbiasa.

Seperti gangguan nyamuk yang makin menjadi di akhir tahun, banyak orang yang berpendapat bahwa keadaan dunia ini semakin buruk saja. Berita perang, kerusuhan, terorisme, bencana alam, kecelakaan dan kejahatan tiap hari muncul di berbagai media. Belum lagi berita tentang perselingkuhan, korupsi dan kepincangan sosial lainnya. Tetapi, dengan itu kita juga melihat bahwa karena seringnya hal-hal itu muncul, orang menjadi kurang peka. Mereka yang menonton laporan di TV misalnya, hanya tertarik karena “faktor luar biasa”.

Yesus dalam Matius 24: 12 diatas berkata bahwa karena makin bertambahnya kejahatan, maka kasih manusia umumnya akan menjadi dingin. Manusia akan kebal terhadap kejahatan dan perbuatan amoral yang ada sehingga mereka tidak lagi mempunyai kasih yang murni (Agape) kepada orang di sekitarnya. Orang mungkin masih mempunyai perhatian kepada sesamanya, tetapi itu hanya upaya untuk meningkatkan kenyamanan hidup, keamanan diri sendiri atau kebanggaan pribadi. Selama gigitan nyamuk tak terasa, hidup berjalan seperti biasa!

Bagi manusia, memberi kasih yang murni tanpa pamrih adalah mustahil karena dosa yang selalu mendorong manusia untuk menaruh kepentingannya diatas kepentingan orang lain. Dosa jugalah yang membuat orang bisa “berbuat baik” tanpa mempunyai kasih. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kitab 1 Korintus 13: 4-6 menjelaskan bahwa orang yang mempunyai kasih Agape dari Tuhan akan mempunyai sifat-sifat ini:

  • Sabar, murah hati, tidak cemburu.
  • Tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
  • Tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
  • Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
  • Tidak tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Pagi ini kita harus menanyai diri kita sendiri apakah kita sudah kebal karena terbiasa dengan hidup dalam lingkungan kita. Atau masih maukah kita untuk mempersilahkan Roh Kudus agar tetap bekerja dalam hidup kita sehingga kita bisa mempunyai kasih yang murni, kasih yang mau membimbing dan memperbaiki hidup masyarakat di sekitar kita?

Kebutaan yang perlu disembuhkan

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Tahukah anda bahwa dengan kemajuan bangsa Indonesia, masih ada orang yang buta aksara alias buta huruf? Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus melakukan upaya untuk mengurangi angka buta aksara di Indonesia tetapi saat ini masih ada sekitar 5 juta orang yang tidak dapat membaca.

Ada beberapa kendala dalam memberantas buta aksara, antara lain kemiskinan, tidak adanya sarana belajar, yang menyebabkan kurangnya motivasi. Kemiskinan dapat menghalangi seseorang untuk belajar membaca, karena sekalipun pendidikan sekolah dasar dibebaskan dari biaya, orang masih harus membayar biaya-biaya lain. Mereka yang tidak mempunyai sarana belajar seperti buku, sekolah, guru dan komputer, juga akan terhalang untuk belajar. Motivasi penting karena sekalipun uang dan sarana ada, orang bisa saja tidak berminat untuk belajar.

Jika data jumlah penduduk yang buta aksara selalu di monitor pemerintah, data jumlah orang Kristen yang buta Firman tidak mudah diperoleh. Di negara barat seperti Amerika, diperkirakan seperlima umat Kristen tidak pernah membaca Alkitab. Mereka yang buta Firman ini sebenarnya melek aksara.

Mengapa ada orang Kristen yang buta Firman? Jika kemiskinan merupakan salah satu penyebab utama buta aksara, kekayaan dan keinginan untuk menjadi kaya bisa menjadi penyebab buta Firman. Mereka yang sibuk mencari uang dan kenikmatan hidup seringkali tidak punya waktu untuk mempelajari Firman. Jika kekurangan sarana teknologi dan informasi menyebabkan orang menjadi buta aksara, berlebihnya sarana internet dan sosial media cenderung membuat orang terpikat kepada hal-hal yang spektakular tetapi tidak Alkitabiah.

Kebutaan akan Firman membuat orang bergantung pada orang lain untuk menuntun mereka. Kebutaan ini membuat umat Kristen mudah disesatkan orang lain dan berbagai pengajaran yang keliru. Lebih dari itu, jika kita hidup jauh dari Tuhan, sekalipun kita bisa membaca Firman, itu tidak mudah untuk dimengerti dan dilaksanakan.

Pagi hari ini jika kita sempat merenungkan hal ini, patutlah kita bersyukur karena kita masih dapat memakai waktu dan sarana yang kita punya untuk mempelajari Firman. Memang kita memerlukan Firman Tuhan dalam hidup ini agar kita dapat berjalan di jalan yang benar karena FirmanNya itu seperti pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Biarlah kita mau meminta agar Tuhan tetap membuka mata rohani kita selama kita hidup di dunia.

“Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” Mazmur 119: 18

Aduh, lagi-lagi korupsi!

“Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.” Ulangan 16: 19

Sejak dulu kala korupsi dengan segala bentuknya sudah ada. Yakub misalnya, menipu saudaranya, Esau, untuk memberikan hak anak sulungnya hanya untuk semangkuk sup kacang merah (Kejadian 25: 33-34). Mungkin untuk sebagian orang, kejadian ini bukanlah korupsi tetapi proses jual beli yang konyol. Walaupun demikian, apa yang dilakukan oleh Yakub adalah mirip dengan apa yang kita kenal dengan memberi sogok (bribe) untuk mendapat keuntungan pribadi yang tidak seharusnya. Memberi/meminta sesuatu kepada orang lain dengan maksud tidak jujur atau tidak etis untuk menguntungkan diri sendiri adalah korupsi.

Mengapa ada korupsi? Karena manusia ingin memperoleh keuntungan dengan cara yang gampang. Dengan memutarbalikkan keadilan, seseorang dapat memperoleh fasilitas atau dukungan dari orang lain, sekalipun itu sebenarnya bukan haknya. Dengan mengabaikan keadilan, orang melanggar hukum karena adanya imbalan dari orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

Masalah korupsi adalah masalah rumit yang terjadi di negara dan masyarakat manapun. Walaupun demikian, hal ini jarang dibahas di gereja, mungkin karena agak sensitif terutama dalam sangkut pautnya dengan kehidupan anggota gereja dan situasi hukum setempat. Banyak orang yang kurang senang jika hal ini dibahas secara mendetail di gereja.

Karena situasi hukum yang kurang baik, memang mungkin bagi seseorang untuk melakukan korupsi tanpa harus melanggar hukum setempat. Karena kebiasaan dan etika masyarakat, mungkin saja orang memakai cara-cara tertentu yang kurang benar untuk “melicinkan” jalan masuk ke sekolah, universitas dan pekerjaan. Dengan dalih pemerataan ekonomi dan menolong orang lain, sering juga orang menggunakan jalan belakang untuk memperoleh keuntungan dalam bisnis, agama dan politik. Karena apa yang dilakukan manusia selalu disesuaikan dengan sikon, Tuhan seolah mempunyai standar yang berbeda-beda untuk manusia.

Kebiasaan dengan korupsi juga bisa membawa pengertian yang keliru dalam hubungan dengan Tuhan. Banyak orang yang tidak mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan sebelum hasrat kebutuhannya terpenuhi. Sebaliknya, ada orang yang berpikir bahwa Tuhan akan menuruti kehendaknya setelah memberikan persembahan kepada Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang kita imani dan karena itu hukumNya adalah sama di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Sebagai orang beriman kita harus menjunjung keadilan untuk seluruh umat manusia, dan karena itu harus hidup dengan jujur satu dengan yang lain. Lebih dari itu, kita juga harus mempunyai iman yang benar dan jujur kepada Tuhan.

“Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.” Ayub 8: 5-6

Hal menikmati hidup

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya….”. Galatia 5:19-21

Jika diingat, saat-saat saya masih di universitas sungguh menyenangkan. Sebagai anak muda, saya mengendarai motor Honda 90 cc ke mana saja. Saat liburan dinikmati dengan bepergian ke luar kota, dan akhir tahun diakhiri dengan pesta dansa. Hidup sebagai anak muda memang enak, banyak yang bisa dinikmati, tanpa memikirkan tanggung jawab. Malahan, untuk sebagian teman-teman saya, kelihatannya hidup memang hanya untuk bersenang-senang saja. Itulah hedonisme.

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia (happy) dengan mencari kesenangan (pleasure) sebanyak mungkin, dan sedapat mungkin menghindari tanggung jawab dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hedonisme memang adalah ajaran bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup manusia. Manusia hanya hidup untuk pesta pora, hura-hura, dansa-dansi, makan-makan, mabuk-mabukan dan acara rame-rame lainnya.

Memang tidak ada salahnya jika manusia itu menikmati hidup dan sesekali berpesta untuk bergembira. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menjadi robot yang hanya bisa bekerja. Alam semesta dan segala isinya boleh dinikmati, dan hasil jerih payah boleh dirayakan asalkan ada batasnya. Hedonisme sebaliknya membuang batas-batas itu dan menganjurkan manusia untuk menikmati hidup sepenuh mungkin, kalau bisa tujuh hari seminggu, sepanjang tahun.

Sangat mudah manusia untuk jatuh kedalam hedonisme. Hedonisme bukan hanya untuk orang muda. Dengan usia tua, ada kemungkinan bahwa waktu dan uang yang ada membuat manusia lebih bersemangat untuk mencari kesenangan yang sebelumnya tidak tercapai.

Hedonisme tidak juga terjadi dikalangan orang yang mampu saja, sebab inti hedonisme adalah usaha mementingkan diri sendiri dan mencari kenyamanan hidup. Hedonisme bagi sebagian orang bisa berarti kecanduan, kemalasan, perasaan apatis, kesibukan hobby, dan ketidakpedulian atas orang lain dan keadaan disekeliling. Ironisnya, mereka yang bersifat hedonistik cenderung untuk makin lama makin parah karena kebahagiaan yang dicari tidak dapat memberi kepuasan.

Pagi ini ayat di atas memperingatkan kita bahwa dalam mencari kenikmatan hidup kita harus berhati-hati agar kita terhindar dari cara-cara dan acara-acara yang hanya memuliakan diri kita dan memuaskan keinginan daging dan nafsu kita sendiri. Mencari kesenangan hidup seperti itu tidak berbeda dengan percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, dan lain-lain. Hal-hal semacam itu dibenci oleh Tuhan dan menjauhkan kita dari jalan kebenaran.

“Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Galatia 5: 21

Semua dari Tuhan

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Dengan majunya komunikasi elektronik di zaman ini, banyak bermunculan berbagai nasihat untuk memperbesar “percaya diri” alias PD. Tidak hanya pembicara profesional atau motivator top yang giat mengadakan seminar, tetapi juga banyak slogan dan nasihat yang muncul di internet dan TV tentang bagaimana manusia dapat mencapai apa saja yang dicita-citakan mereka. Seolah hidup mereka bergantung pada mereka sendiri.

Di dunia ini, manusia memang diciptakan sebagai “raja”. Dalam kitab Kejadian 1: 28 dikatakan bahwa Allah memberi manusia kuasa atas mahluk-mahluk yang lain. Tetapi akibat dosa, manusia seringkali lupa bahwa Tuhanlah yang memungkinkan hal itu.

Karena dosa manusia juga sering lupa bahwa Tuhanlah yang benar-benar berkuasa atas seisi dunia, bahkan seluruh jagad raya. Manusia mudah merasa bahwa ia sendiri yang menentukan hidupnya dan apa yang diperolehnya adalah semata-mata jerih payahnya.

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa apapun yang baik adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Hal ini lebih mudah dikatakan, tetapi sukar dijalankan. Bagaimana cara praktis untuk menerapkan keyakinan ini dalam hidup kita?

  1. Jangan sombong kalau sudah ada: Karena segala sesuatu dari Dia, keberhasilan kita seharusnya untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk kebanggaan diri sendiri.
  2. Mohon pada Dia, kalau belum ada: Karena Dialah yang memungkinkan segala kejadian, jangan mengandalkan pada kekuatan kita sendiri untuk mencari apa yang kita butuhkan.
  3. Tetap percaya, sekalipun tidak ada: Karena Dialah yang berkuasa untuk mengambil keputusan, jangan sampai kita lemah iman sekalipun apa yang kita harapkan tidak kunjung tiba.
  4. Syukur tiap saat, ada maupun tak ada: Ada ataupun tidak, hal-hal duniawi tidak boleh menentukan kebahagiaan kita. Hidup yang penuh rasa syukur adalah kunci kebahagiaan.
  5. Kerja giat, supaya yang ada tetap ada: Tuhan memberikan berkat dan talenta secara individual kepada setiap orang. Tugas manusia adalah untuk memakai dan melipat-gandakan berkatNya untuk Tuhan dan sesama.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” Jakobus 1: 17a

Adakah yang peduli?

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Salah satu lagu spiritual jazz yang saya senangi adalah lagu “Nobody knows the trouble I’ve seen” yang dinyanyikan oleh Louis Armstrong. Lagu tradisional ini, yang syairnya pertama kali dicatat pada tahun 1867, sudah dinyanyikan oleh banyak biduan. Syairnya sangat sederhana:

Nobody knows the trouble I’ve seen

Nobody knows my sorrow

Nobody knows the trouble I’ve seen

Glory, Hallelujah

Lagu ini sangat terkenal dan disukai banyak orang karena syairnya yang sering “klop” dengan hidup manusia. Manusia yang sering merasa bahwa tidak ada seorangpun yang tahu apa yang dideritanya. Dalam hidup rumah tangga, suami, istri, anak, saudara pernah mengalami saat-saat dimana mereka merasa bahwa tidak seorangpun peduli akan masalah yang ada.

Memang sulit bagi manusia jika tantangan hidup ini harus dihadapi seorang diri. Sejak dari awalnya Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri (Kejadian 2: 18). Tetapi, dalam kenyataan hidup ini masih banyak orang yang harus berjuang seorang diri baik di keluarga, sekolah, kantor dan bahkan di lingkungan gereja. Manusia agaknya sukar untuk mengerti perasaan orang lain. Manusia juga sulit diharapkan untuk mau atau dapat menolong sesamanya.

Kesepian manusia sering meningkat dengan melanjutnya usia. Ketika anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan orang tua, ketika tubuh mulai sakit-sakitan atau cepat lelah, orang tua merasa sepi. Kesepian juga timbul dalam diri seseorang yang harus meninggalkan orang tua atau keluarga untuk mencari nafkah atau menuntut ilmu.

Baik masalah keuangan, kegagalan, komunikasi ataupun yang lain, perasaan merana bukan saja membuat seseorang sedih tetapi juga mudah sakit dan mudah jatuh dalam dosa. Kemurungan, kemarahan dan pelarian dari kenyataan hidup sering terjadi, dan dengan keadaan itu Tuhan serasa tak ada.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus, Imam Besar yang kita kenal adalah imam besar yang dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebagai anak Allah yang sudah turun ke dunia, Ia sama dengan kita, Ia telah merasakan penderitaan dan kesepian seperti kita, tetapi sudah menang atas segala godaan iblis dalam hidupNya. Jika kita merasa lelah dalam hidup ini, Ialah satu-satunya harapan kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Nobody knows the trouble I’ve seen

Nobody knows but Jesus

Nobody knows the trouble I’ve seen

Glory, Hallelujah

Mengapa harus takut kepada Tuhan?

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Ibrani 12: 28-29

Di beberapa negara, kepercayaan pada okultisme sangatlah menonjol. Negara-negara di Amerika Latin, Afrika dan Asia yang dulunya berlatar belakang animisme, mempunyai budaya menyembah arwah, memakai setan untuk maksud tertentu dan lain-lain. Di negara-negara itu agaknya orang lebih takut atau segan kepada setan daripada Tuhan. Menarik sekali bahwa dalam hidup bermasyarakat, pelanggaran hukum Tuhan juga sangat umum di tempat-tempat itu. Mengapa begitu?

Banyak orang yang ngeri dan takut jika membayangkan setan. Dalam bayangan mereka, setan rupanya mengerikan, setan itu jahat, dan ia bergentayangan dimana-mana. Walaupun demikian, agaknya orang tahu bahwa setan tidak berkeberatan jika manusia melakukan hal-hal yang salah. Dengan cara khusus, setan justru bisa dipakai sebagai “partner in crime”, yaitu partner untuk melakukan kejahatan. Setan yang mengerikan bisa dibuat menjadi oknum jin yang bisa dipakai untuk mencari kesuksesan.

Mereka yang cenderung mengabaikan Tuhan mungkin secara sadar maupun tidak, merasa bahwa Tuhan itu tidak terlihat, Dia ada jauh di sana dan tidak mengganggu manusia. Tuhan bukan sesuatu yang mengerikan. Dia tidak seperti setan yang sering menakut-nakuti manusia. Tetapi, ada juga orang-orang yang memperlakukan Tuhan seperti mereka yang berteman dengan setan, dengan kepercayaan bahwa Dia adalah oknum yang baik hati, yang bisa mendatangkan kesuksesan.

Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut, sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan. Disini kita jelas dapat melihat bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahakasih dan sekaligus Mahasuci dan Mahakuasa. Karena itu kita harus menghormati dan takut kepadaNya, lebih dari apapun.

Takut akan Tuhan adalah kesadaran akan perbedaan yang ada antara Tuhan dan manusia. Tuhan adalah pencipta segalanya, termasuk iblis yang dulunya adalah salah satu malaikatNya. Tuhan yang dengan kemahakuasaan dan kesucianNya membuat takut dan gentar iblis (Yakobus 2: 19), tidak dapat dibandingkan dengan penguasa apapun. Takut akan Tuhan juga berarti bahwa kita sadar bahwa hanya dengan kasihNya kita dapat hidup bebas dari gangguan iblis, seperti Ayub yang tidak dapat disentuh iblis.

“Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” Ayub 1: 10

Pagi ini kita mendapat kesempatan untuk menyadari bahwa Tuhan perlu kita hormati dan takuti karena Ialah sumber kekuatan kita. Dialah satu-satunya yang dapat kita percayai dalam suka dan duka. KasihNya sudah terbukti dalam pengorbanan Yesus di kayu salib. Mengabaikan Tuhan dalam hidup kita adalah suatu kebodohan yang terjadi karena kita kurang atau tidak mempunyai rasa hormat dan takut kepadaNya.

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1: 7

Maaf, saya tidak sengaja….

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Sydney, pusat pertokoan selalu penuh dengan pengunjung. Adakalanya karena berjubelnya manusia, kaki kita terinjak orang lain. Mungkin kita mengaduh dan mengomel, tapi selama perbuatan orang itu tidak disengaja dan ia sudah meminta maaf, kitapun bisa menerima. Kesalahan yang tidak disengaja, tidak perlu dihitung sebagai kesalahan.

Jika kesalahan yang tidak disengaja bisa dimengerti dan dimaafkan, mungkin kita juga berpikir bahwa Tuhanpun akan mengampuni dosa yang tidak kita sengaja. Tuhan yang Mahakasih tentunya lebih bisa melupakan dosa-dosa yang kecil yang terjadi tanpa direncanakan, begitu mungkin pikiran kita. Pemikiran sedemikian memang kelihatannya logis, tetapi bukanlah benar.

Tuhan yang Mahakasih adalah Tuhan yang Mahasuci dan Mahatahu. Tuhan tahu bahwa apakah yang tidak kita sengaja benar-benar terjadi sebagai “kecelakaan yang tidak bisa diperhitungkan” atau sebagai “kemungkinan yang terjadi karena adanya pilihan”. Jarang sekali ada dosa yang munculnya tidak bisa diduga.

Orang yang pergi ke tempat keramaian pasti sadar bahwa ada kemungkinan bahwa ia akan menginjak atau diinjak kaki orang lain. Mereka yang senang mengirim atau melihat gambar-gambar yang kurang baik dan membaca hoax, tidak dapat membuat alasan “tidak sengaja” ketika ada pikiran-pikiran yang kurang sehat dan keliru yang kemudian muncul. Dosa yang tidak disengaja dengan demikian tidaklah berbeda dengan dosa yang lain.

Baik dosa yang “tidak disengaja” maupun yang disengaja, keduanya adalah dosa-dosa yang dapat mematikan iman kita. Selain itu, adanya kesengajaan untuk berbuat dosa bisa menunjukkan bahwa manusia belum menerima keselamatan dari Kristus.

Dosa dalam pengertian yang literal adalah “tidak mengenai sasaran”, yang berarti segala sesuatu yang tidak memenuhi tujuan penciptaan, yaitu memuliakan Tuhan. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, semua manusia sudah berdosa dan tidak dapat lagi memenuhi harapan Allah Sang Pencipta. Hanya melalui pengorbanan Kristus, kita memperoleh kesempatan untuk bertobat guna menerima anugerah keselamatan. Siapa yang sudah menerima Kristus harus meninggalkan hidup lamanya, bertobat dari dosa-dosa lamanya. Ini tidak berarti bahwa perubahan hidup mereka akan terjadi secara instan, tetapi secara terus-menerus karena Roh Kudus yang bekerja.

Kunci untuk pertumbuhan iman adalah Roh Kudus yang  membimbing kita untuk mau dan bisa mempelajari Firman Tuhan. Mereka yang mengaku Kristen tetapi tidak mempunyai gairah untuk mendalami Firman akan mudah jatuh dalam prinsip “ketidak-sengajaan”. Berbuat dosa, tetapi tidak menyadari apa yang salah. Berbuat dosa karena banyak orang Kristen yang berbuat hal yang serupa. Berbuat dosa karena pengertian tentang Firman bukanlah pengertian yang benar. Berbuat dosa karena tidak mengerti akan hukum Tuhan dan etika Kristen. Jelas bahwa pertumbuhan iman orang Kristen yang sedemikian akan sangat lambat dan jika tidak diperbaiki akan membawa kepada kematian iman.

Mereka yang dengan sengaja berbuat dosa yang sama secara terus menerus perlu menimbang apakah mereka adalah orang yang sudah menerima keselamatan. Apa sebabnya? Mereka yang sudah diselamatkan adalah ciptaan baru dan yang lama seharusnya sudah lenyap. Karena itu, barang siapa yang masih tetap hidup dalam dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, pengorbanan Kristus tidaklah berlaku atas mereka. Walaupun demikian, jalan keselamatan masih terbuka jika mereka mau bertobat.

Pagi ini, jika  kita merasa bahwa kita sudah meninggalkan kebiasaan melakukan dosa yang “tidak sengaja” maupun sengaja, tantangan kita adalah untuk melakukan apa yang baik, sebab kita juga berbuat dosa jika  kita tahu apa yang baik tetapi tidak melakukannya. Kita tidak bisa mengaku sebagai orang percaya jika kita tidak mau berbuat baik!

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Ikan banyak, tapi mengapa sulit ditangkap?

“Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Markus 1: 17

Akhir pekan ini cuaca cukup panas dan cerah di Australia. Jika cuaca lagi enak, di beberapa tempat sepanjang pesisir pantai biasanya terlihat banyak orang yang memancing. Banyak di antara mereka mungkin sekedar mengisi waktu senggang, tetapi banyak juga yang serius, berusaha mendapat ikan dengan sabar selama berjam-jam.

Apabila menangkap ikan itu cukup sulit, “menangkap” manusia untuk mengajak mereka menjadi pengikut Kristus itu jauh lebih sulit. Mengapa? Paling tidak ada 3 hal utama yang bisa disebutkan.

Pertama, mereka yang bisa ditangkap itu harus sudah digerakkan oleh Roh Kudus. Tanpa petunjuk Tuhan, sia-sialah usaha manusia untuk mengenal Tuhan. Roh Kuduslah yang membimbing kearah pengertian bahwa mereka memerlukan seorang Juru Selamat. Bagaimana seseorang kemudian mengikut Yesus dan bukannya mengikut dewa-dewa, kitab suci dan kepercayaan yang lain adalah sesuatu yang ajaib karena kita tahu bahwa iblis selalu berusaha menggagalkan rencana Tuhan.

Kedua, banyak orang yang berubah pikiran dari keinginan mengikut Yesus karena kecewa atas tingkah laku orang Kristen. Ini membuat mereka menolak panggilan Roh untuk bertobat dan mengikut Yesus. Memang tidak ada tuduhan yang lebih provokatif dari pada tuduhan bahwa gereja adalah suatu kelompok orang munafik karena adanya orang-orang yang mengaku Kristen tetapi tidak menunjukkan sikap hidup dan sifat yang baik. Tetapi memang kenyataan bahwa Yesus sering menegur mereka yang munafik sewaktu Ia masih di dunia.

Yang ketiga, orang Kristen di zaman ini sering dipandang sebagai orang yang terlalu bebas. Mungkin juga sebagai orang yang kebarat-baratan, yang memandang budaya barat lebih baik dari budaya lain. Bahkan, Yesus sendiri sering digambarkan sebagai orang barat. Karena itu, untuk mereka yang mempunyai kebiasaan dan kebudayaan lain, mengikut Yesus mungkin terasa seperti menganut budaya barat. Padahal, inti iman Kristen adalah kasih kepada Tuhan dan sesama, yang tidak dibatasi oleh bangsa, suku dan budaya.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa Tuhanlah yang membawa manusia ke arah keselamatan. Mereka yang mendengar panggilanNya dan menjawab “ya” akan diselamatkan. Tuhan sudah memerintahkan seluruh umatNya untuk menyampaikan kabar baik ini, agar banyak orang yang bisa mendengar panggilanNya. Yesus datang bukan untuk bangsa atau kelompok orang-orang tertentu. Kabar keselamatan bisa disampaikan dengan lebih baik melalui sikap hidup, sifat dan tingkah laku kita. Karena itu kita mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dalam usaha menjala orang.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16