Mengapa hidup ini sering terasa hampa

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13: 11-12.

Pernahkan anda membandingkan usia rata-rata manusia di dunia menurut bangsa mereka? Saat ini, menurut data yang ada, orang Jepang, Swiss, Singapura, Australia dan Spanyol menduduki peringkat atas dengan usia diatas 82 tahun. Indonesia yang sudah mengalami kemajuan ekonomi yang pesat, saat ini ada di peringkat 120 dengan usia hampir 70 tahun.

Salah satu hal yang menyebabkan proses penuaan jasmani yang datang terlalu dini adalah hidup pasif. Mereka yang hidupnya terlalu “enak” cenderung untuk kurang mau untuk berkeringat: kurang mau berolahraga, malas berjalan kaki, segan berpikir dll., dan lebih senang untuk bersenang-senang dan makan enak. Mereka yang kurang mau mempertahankan kesegaran jasmani akan kehilangan kemampuan jasmani dengan cepat, terutama setelah berumur 40-50 tahun.

Kesadaran akan pentingnya untuk mempertahankan kesegaran jasmani sekarang mulai tumbuh di Indonesia dengan terlihatnya usaha untuk memilih jenis makanan sehat, kontrol kesehatan dan olahraga yang cukup. Mereka yang bisa dan mampu, berusaha mengonsumsi berbagai vitamin sekalipun tidak perlu, diet khusus dan mengikuti acara olahraga pagi hari.

Jika ada banyak manusia yang sadar bahwa mempertahankan kesehatan jasmani itu tidak mudah, seringkali orang Kristen yang tidak menyadari bahwa mempertahankan kesehatan rohani itu malahan lebih sulit lagi. Jika kita lengah, kita akan jatuh ke dalam berbagai sakit rohani. Berbagai masalah rohani seperti kesepian, kepahitan, kehampaan hidup, perasaan bersalah, kebingungan dll. bisa datang bertubi-tubi dalam hidup kita.

Jika untuk bisa mengetahui kesehatan jasmani kita bisa pergi ke dokter untuk check-up sebelum datangnya penyakit, kesehatan rohani bisa diketahui jika Roh Kudus membisikkan tentang adanya masalah rohani yang datang atau mendatangi. Sayang sekali, tidak semua orang Kristen mau mendengarkan suara Tuhan. Sebagian orang Kristen malahan sudah mendukakan Roh Kudus sehingga mereka tidak dapat lagi memperoleh bimbinganNya.

Memang tidak semua orang yang mengaku Kristen bisa mendengarkan suara Tuhan. Ada banyak orang Kristen yang lebih menyukai hal-hal duniawi, bagi mereka ke gereja sekali seminggu sudah cukup. Kepada mereka tidak diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, yaitu bagaimana kita bisa merasakan penyertaan Tuhan pada setiap waktu dan keadaan. Bagaimana bisa hidup berbahagia dalam kehadiran Allah Bapa, Putra dan Roh.

Pagi ini Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa mereka yang mempunyai karunia Tuhan karena mau membuka hidupnya untuk pekerjaaan Roh Kudus, akan diberi lebih banyak pengertian sehingga ia berkelimpahan; tetapi mereka yang tidak mau memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan, apapun juga yang ada akan diambil dari padanya!

Si Unyil suka usil!

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Namanya si Unyil orang usil…..dimana-mana kerjanya menggoda orang lain, atau mencari-cari kabar burung atau gossip untuk bisa dipakai sebagai bahan perbincangan di mall.

Memang orang kalau nganggur gampang jadi bosan; karena itu daripada bosan Unyil suka mengusili orang lain. Tambahan lagi, Unyil yang senang usil kalau melihat orang lain yang dipandang “aneh”, selalu dengan otomatis berhasrat untuk menggoda dan menggunjing.

Walau kita tahu bahwa orang macam si Unyil ada dimana-mana dan gampang ditemukan di dunia maya, Alkitab ternyata tidak pernah menyebutkan kata usil. Walaupun demikian ada ayat yang menyebut soal janda-janda muda yang senang beromong kosong (meleter) dan mencampuri urusan orang lain:

“Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.” 1 Timotius 5: 13

Memang rasul Paulus yang menulis kitab Timotius ini bisa-bisa juga dianggap usil dan anti wanita karena ia seolah-olah melecehkan orang-orang tertentu. Tetapi itulah kenyataannya pada waktu itu, dimana ada janda-janda muda yang karena tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti dan kegiatan hidup yang sehat, telah menjadi orang yang mengisi hidupnya dengan mengusili orang lain.

Tidak dapat diragukan bahwa di zaman modern ini lelaki dan perempuan dapat menduduki status yang sama dalam masyarakat. Golongan janda-janda muda yang suka meleter itu mungkin sudah membaur dengan masyarakat umum. Sekarang ini kita justru bisa melihat bahwa banyak orang, laki dan perempuan, muda dan tua, punya kecenderungan untuk usil baik dalam kehidupan nyata maupun maya.

Seandainya rasul Paulus masih hidup hari ini, pastilah banyak di antara kita yang ditegurnya karena bukan hanya karena suka membuang waktu saja, tetapi juga karena suka meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. Memang, mungkin apa yang kita lakukan tidak dimaksudkan untuk menyakiti hati orang lain. Barangkali maksud kita hanya untuk bergurau. Tetapi sebagai orang Kristen kita harus bijaksana dan berhati-hati dalam semua tindakan dan kelakuan kita.

Pagi ini kita seharusnya bisa mengintrospeksi hidup kita sehari-hari. Berapa jam yang kita pakai secara produktif untuk menghasilkan apa yang baik, dan berapa jam yang terbuang untuk memenuhi “hasrat keusilan” kita. Paulus mengingatkan kita bahwa sekalipun keusilan kita tidak mengganggu orang lain, itu mungkin adalah perbuatan sia-sia yang tidak berguna karena tidak membangun apa yang baik.

“Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” 1 Korintus 14: 20

Antara alergi, iritasi, iri hati dan benci

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” Galatia 5: 25-26

Di zaman ini orang kelihatannya lebih suka “pamer”. Memamerkan makanan, pakaian, aktivitas, keluarga, dll. dianggap lumrah di sosial media. Memang, kalau hanya untuk sekedar untuk mengirim berita, hal itu tidak menjadi soal. Tetapi, sering juga kita melihat bahwa budaya pamer ini dilanjutkan dalam hidup sehari-hari dengan “show” pakaian, mobil, rumah, dan bahkan pasangan kepada orang lain. Inilah yang terkadang membuat iritasi pada orang lain, yang sebagian mungkin punya “alergi”, dan kemudian rasa iri hati, yang berlanjut dengan timbulnya kebencian.

Kisah Kain dan Habel dalam kitab Kejadian 4: 3-5 memberi contoh bahwa manusia bisa iri dalam soal apapun, termasuk dalam soal rohani:

“Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.”

Memang kisah Kain dan Habel ini sering dibahas dalam konteks dosa iri hati yang bisa berlanjut dengan dosa-dosa lain yang lebih mengerikan. Iri hati atau rasa cemburu tidak seharusnya ada pada orang yang mempunyai kasih.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” 1 Korintus 13: 4

Tetapi kasih juga tidak memperbolehkan kita untuk memegahkan diri dan sombong, sebab segala apa yang baik adalah berkat Tuhan.

Mungkin kita tidak bermaksud memegahkan diri atau menyombongkan berkat Tuhan dalam hidup kita. Tetapi ada kalanya orang di sekitar kita mempunyai kepekaan atas apa yang kita lakukan. Mereka yang melihat apa yang kita pamerkan dalam bentuk kejasmanian ataupun kerohanian bisa merasa teriritasi. Salah mereka sendiri, begitu mungkin pikiran kita. Betulkah begitu?

Pagi ini ayat pembukaan kita mengatakan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita bertanggung jawab atas perbuatan kita, dan juga bertanggung jawab untuk menghindari munculnya iri hati dan kebencian sebagai reaksi atas perbuatan kita. Jika kita tahu bahwa setiap manusia mempunyai kelemahan, tidaklah baik untuk kita saling menantang karena itu hanya menyebabkan timbulnya kedengkian.

Sebagai orang yang dipimpin oleh Roh, kita harus punya rasa mawas diri, bisa menguasai diri. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga mau menolong orang lain untuk bisa merasakan kasih Kristus dalam hidup mereka. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan karena itu janganlah kita ingin selalu dikagumi, dan janganlah kita saling pamer seperti pengikut Kristus di Galatia, untuk menghindari munculnya hal-hal yang tidak baik.

Menghadapi kenyataan hidup

 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7


Jika kita sempat menonton TV atau mendengarkan berita radio/internet, selalu ada kejadian-kejadian yang menyedihkan dan menakutkan, yang membawa kekuatiran. Lebih dari itu, dalam hidup kita sendiripun kekuatiran itu selalu ada, seperti takut sakit, takut gemuk, takut kurus, takut kesepian, takut ketinggalan jaman, takut diganggu orang lain, takut menua, takut mati dll. Karena itu, banyak orang melarikan diri kedalam dunia obat: obat bius, obat terlarang, obat kuat, obat anti sakit, obat awet muda dll. Bahkan penyalahgunaan obat-obat penghilang rasa sakit seperti Panadol dan Nurofen juga meningkat karena orang ingin bebas dari rasa sakit tubuh dan stress.

Mengapa manusia selalu menghadapi masalah dalam hidup ini? Ada berbagai sebab spesifik, namun pada umumnya hal-hal itu dapat digolongkan dalam 5 golongan.

Kejatuhan dalam dosa: Memang itulah dunia, sejak kejatuhan dalam dosa manusia harus menghadapi hidup yang berat yang terisi penderitaan dan kesepian (Kejadian 3: 17-19). Karena kejatuhan Adam dan Hawa, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak hidup di taman Firdaus lagi.

Kesalahan kita sendiri: Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita kurang berhati-hati melangkah dalam hidup ini. Mungkin sebagai orang Kristen kita sering mendengar bahwa hidup sebagai orang beriman pasti membawa ketenangan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang mengharapkan solusi instan akan kecewa. Ketenangan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan hidup berdisplin dekat dengan Tuhan. Jika tidak berhati-hati kita akan tetap bisa jatuh kedalam pencobaan terutama jika kita lebih mementingkan kehidupan yang berpusat kepada hal-hal duniawi (Markus 14: 38).

Perbuatan orang lain: Karena semua orang sudah jatuh kedalam dosa (Roma 3:23), tidaklah mengherankan jika ada saja masalah yang terjadi karena ulah orang lain, termasuk orang-orang terdekat dan bahkan saudara-saudara seiman. Kesadaran bahwa tiap orang membutuhkan penyelamatan dari Yesus Kristus seharusnya mengingat kan kita agar tidak kecewa atau putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang disebabkan orang lain.

Usaha iblis untuk menghancurkan umat Tuhan:  Seringkali kita bayangkan iblis muncul dalam bentuk yang mengerikan dan menakutkan seperti seekor singa (1 Petrus 5: 8). Tetapi iblis juga pandai menyamar (2 Korintus 11: 14); ia bisa menyamar sebagai hal-hal atau orang-orang yang nampaknya baik dan berguna dalam hidup ini. Karena itu ada saja orang beriman yang jatuh kedalam berbagai masalah ketika sibuk dengan aktivitas gereja dan sosial yang nampaknya baik.

Pekerjaan Tuhan: Tuhan mempunyai rencana agung untuk seisi dunia dan Ia tetap bekerja dalam semua keadaan dunia. Dalam keadaan dunia yang kacau-balau saat ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan hanya membiarkan semuanya terjadi. Tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar rencanaNya (Yesaya 14:24); semua hal yang baik dan buruk terjadi dengan seijin Tuhan. Karena Tuhan kita Mahakuasa dan Mahakasih, kita yakin bahwa Tuhan tetap bisa dan mau menyertai kita dalam keadaan apapun.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Tuhan selalu mau memberikan kekuatan agar kita bisa bertahan dalam hidup ini. Tetapi untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah lemah dan mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaNya.

Mengatasi kekecewaan

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Siapa yang tidak pernah kecewa? Dari kecil, manusia selalu menjumpai kekecewaan. Entah itu gara-gara janji teman yang tidak terpenuhi atau acara piknik yang terpaksa dibatalkan karena cuaca buruk, semua orang pernah mengalaminya. Pada umumnya, kekecewaan kecil tidaklah sulit untuk diatasi karena itu gampang dilupakan. Mungkin juga masih ada hal-hal lain yang bisa dipakai untuk mengobati luka di hati. Namun luka hati yang kecil bisa juga menumpuk jika tidak dihilangkan atau diobati. Begitu banyak orang yang mengalami kekecewaan karena hal-hal yang nampaknya sepele, tetapi karena sering mendatangi lama-lama kekecewaan menumpuk seperti bukit.

Sering juga dalam rumah tangga ada ketidak sepahaman atau pertikaian dengan anak, istri, suami, dan orang tua yang membuat seseorang merasa kecewa. Kekecewaan atas diri sendiri ataupun atas diri orang lain sering terjadi sedemikian rupa sehingga orang mempunyai luka hati yang dalam. Sekalipun kejadian yang mengecewakan sudah berlalu lama, kita mungkin masih mengingatnya, seolah itu terjadi hari kemarin. Bahkan kekecewaan yang besar bisa berlanjut dengan kekecewaan kepada Tuhan, yang diharapkan untuk menolong tapi tidak kunjung muncul atau tidak pernah terasa kasihNya. Banyak orang Kristen yang mundur dalam imannya atau meninggalkan Tuhannya karena kekecewaan hidup.

Tidak bolehkah kita kecewa dalam menghadapi suatu keadaan yang kurang baik? Tidak bolehkan kita kecewa kepada Tuhan karena kita tidak mengerti apa yang dilakukanNya dalam hidup kita? 

Yesus di taman Getsemane bergumul dalam penderitaan ketika menyadari bahwa waktunya sudah dekat untuk disalibkan. Ia menyuruh murid-muridNya untuk berdoa, tetapi Ia justru menjumpai mereka semuanya tidur karena kesusahan dan mungkin juga kekecewaan yang mereka alami. Yesus bukanlah Raja seperti yang mereka harapkan dan bayangkan.

“Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.” Lukas 22: 45

Mungkinkah Yesus kecewa melihat murid-muridNya tertidur pulas?  Yesus tahu muridnya lemah. Kalaupun Ia kecewa, Ia tidak menunjukkannya. Sebaliknya, apa yang keluar dari mulutNya adalah nasihat yang cocok untuk orang yang lelah, berduka dan kecewa dalam hidup mereka.

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Memang, siapapun yang jauh dari Tuhan akan mudah jatuh dalam hal-hal yang jelek.  Apalagi kekecewaan biasanya menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama. Seperti Yunus yang kecewa karena hal-hal yang berada di luar kuasanya.

“Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Seperti murid-murid Yesus dan Yunus, mungkin kita merasa kecewa dan lelah sehingga hidup kita terasa hambar saat ini. Apa yang bisa kita perbuat dalam hal ini?

Kekecewaan dan kesedihan adalah lumrah untuk manusia. Tetapi jika kita yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi dalam hidup kita dan Dia adalah Tuhan yang Mahakasih, beban kita akan bisa menjadi jauh lebih ringan.  Apa yang diucapkan dalam doa Yesus di taman Getsemane bisa menjadi sumber kesabaran dan kekuatan kita dalam menghadapi segala persoalan hidup. Doa ini jugalah yang bisa menghilangkan kekecewaan kita.

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah tantangan kehidupan ini dari padaku tetapi bukanlah kehendakku,  melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. 

Ada SIM belum tentu bisa nyetir

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6


Di Australia, hal mengemudikan mobil buat sebagian orang adalah soal kecil. Sesudah belajar mengemudi beberapa kali, kemampuan untuk menguasai mobil sudah bisa dicapai dengan baik. Tetapi, sebagian besar harus belajar mengemudi cukup lama sebelum bisa ujian SIM (driver’s licence). Selain itu, walau kebanyakan orang mendapat SIM dengan ujian sekali saja, ada orang yang harus ujian SIM lebih dari 5 kali sebelum lulus, dan bahkan ada yang harus pindah dari ujian SIM bebas ke SIM mobil automatic.

Ujian SIM memang perlu. Paling tidak, adanya SIM menunjukkan bahwa pemiliknya sudah bisa mengontrol mobilnya dalam keadaan normal. Tetapi, punya SIM tidak berarti bahwa pengemudinya bisa ikut rally mobil atau balapan mobil. Malahan, ke luar kota atau ke pegunungan saja belum tentu bisa atau berani. Untuk bisa menjadi pengemudi yang berpengalaman  orang mungkin membutuhkan pengalaman 2-3 tahun sesudah lulus ujian SIM. Bagi yang sudah berpengalaman, masih ada kursus-kursus tambahan untuk menambah kemampuan, seperti kursus “defensive driving” yaitu kursus mengemudi secara defensif, karena di jalan raya sebenarnya ada banyak bahaya yang selalu mengancam.

Dalam Galatia 5: 22-23 ada tertulis 9 buah Roh yang sudah dibahas sebelumnya, kecuali yang terakhir, yaitu penguasaan diri. Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? Seandainya tubuh dan hidup kita di dunia ini adalah sebuah mobil dan kita adalah pengemudinya, kita harus dapat menguasai mobil kita agar tidak mengalami musibah, agar tidak mencelakakan diri kita sendiri atau orang lain. Sesudah kita mendapatkan sebuah SIM yaitu menerima anugrah keselamatan dari Yesus, hidup di dunia tidaklah berubah menjadi hidup yang bebas dari bahaya. Menjadi umat Tuhan juga tidak berarti kita bisa mengarungi hidup yang penuh bahaya dan tantangan ini dengan mudah. Kita membutuhkan kemampuan untuk menguasai diri, untuk defensive driving, untuk hidup dengan bertahan atas segala ancaman dari dalam dan luar.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Roma 7: 22-23

Memang sewaktu kita menjawab panggilan keselamatan Kristus, kita merasakan kebahagiaan yang tersendiri. Karena kalau tidak karena kasih Allah, kita tidak mungkin bisa mendapat kesempatan untuk diselamatkan dan masuk ke surga. Seperti  baru mendapat SIM, hati kita menjadi besar dan dengan itu kita mungkin mudah merasa yakin bahwa kita akan dapat menghadapi hidup ini dengan tenang, tanpa kuatir dalam menghadapi segala persoalan. Tetapi, dalam ketenangan hidup yang sedemikian, orang Kristen sering lupa bahwa iblis akan berusaha mencari kesempatan untuk menyerang kita sewaktu kita lengah.

Penguasaan diri adalah salah satu hal yang sering dilupakan oleh orang Kristen dalam menghadapi segala godaan kecil maupun besar dalam hidup ini. Seringkali godaan-godaan ini justru timbul ditempat dimana kita merasa aman: di kantor, dalam keluarga, dan juga di gereja dan  diantara teman-teman baik kita. Godaan-godaan ini belum tentu muncul sebagai kejahatan yang jelas terlihat, tetapi muncul sebagai perbuatan, perkataan, sikap, tingkah-laku dan keputusan yang melanggar perintah-perintah Kristus dan etika kekristenan. Godaan-godaan itu mungkin muncul sebagai hal yang baru dalam hidup kita, tetapi seringkali adalah sisa peninggalan hidup lama kita yang belum bisa dihilangkan. Hal-hal yang sedemikian bisa menghancurkan hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

Pagi ini kita belajar bahwa seperti mengemudikan mobil, kita perlu mengembangkan kemampuan kita untuk menguasai diri dalam perjalanan hidup ini. Kita harus mau belajar tiap hari untuk makin bisa membiarkan Roh Kudus untuk menguasai hidup kita. Hidup ini bisa menjadi suatu tantangan yang tidak bisa teratasi jika kita berusaha mengendalikannya dengan usaha sendiri. Tetapi dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menguasai diri kita dan tetap kuat dalam menghadapi segala tantangan hari demi hari.

Nrimo ing pandum

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Efesus 4: 2

Anda ingin merasa berbahagia dalam hidup? Agaknya ada beberapa resepnya. Diantaranya: 

  • Kebahagiaan timbul dari kesuksesan melalui perjuangan. 
  • Kebahagiaan  bisa timbul dari rasa puas dan cukup. 
  • Rasa bahagia bisa dirasakan karena keadaan keluarga yang baik.
  • Kebahagiaan  muncul jika kita merasa bisa menolong orang lain, dll.

Sekalipun kita pada suatu saat bisa memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal di atas, adalah kenyataan bahwa kebahagiaan sedemikian seringkali tidak langgeng.

Dalam hal ini, sungguh menarik bahwa dalam budaya Jawa, ada resep untuk hidup bahagia yang dikenal dengan istilah  “Nrimo ing Pandum” memiliki arti “menerima dengan pemberian” yang dalam kajian yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku dalam hidup. Pengaplikasian “nrimo ing pandum” dalam kehidupan sosial bisa berarti bermurah hati dengan sesama.

Memang setiap orang memang dalam hidup ini sering mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan, perlakuan orang lain yang kurang baik atau rasa kurang puas dengan apa yang dialami dalam hidup. Rasa pahit yang timbul karena hal-hal ini seringkali meracuni rasa kebahagiaan dalam hidup seseorang dan juga bisa membuat orang itu kurang bisa memahami penderitaan orang lain. Karena itu, orang yang demikian seringkali kurang bisa untuk mengasihi dan membantu orang lain.

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kelemahlembutan disini adalah seperti “nrimo ing pandum” diatas.  Dalam menerima keputusan Tuhan atas hidup kita, kita menghadapinya dengan sabar sekalipun itu merupakan hal yang sulit diterima. Ini lebih mudah dikatakan daripada dijalankan karena untuk menerima keputusan Tuhan, kita harus mengenal Tuhan dan sifatNya, agar kita bisa percaya akan maksud baikNya. 

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri yang membuka hati dan pikiran mereka. Karena itu, untuk bisa menerima keputusan Tuhan dalam hidup ini, kita memerlukan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang bisa memberi kelemahlembutan, yang kita perlukan untuk bisa mendengarkan suara Tuhan tentang apa arti hidup ini, mengapa sesuatu harus terjadi, dan apa yang masih dan harus bisa dilakukan untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita adalah Mahakasih. Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya. Sebagai orang beriman, sikap rendah hati dan lemah lembut akan menguatkan iman kita kepada Tuhan kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Dengan kerendahhatian, kita siap menerima bimbingan Tuhan untuk melangkah ke masa depan. Dengan keyakinan akan kasihNya kita akan dapat merasakan kebahagiaan karena kita akan dapat membawa apa yang baik kepada orang lain di sekeliling kita. 

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Matius 5: 5

Setia sehidup semati

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Barangkali ada di antara kita yang tahu kisah cinta Tiongkok kuno yang berjudul Sam Pek Eng Tay, yang ada miripnya dengan kisah Romeo dan Juliet. Kisah cinta  ini adalah tentang gadis Eng Tay dengan perjaka Sam Pek. Sayang hubungan ini tidak disetujui oleh ayah Eng Tay yang kejam.  Cerita ini berakhir dengan tewasnya Eng Tay, menyusul kematian Sam Pek yang disebabkan oleh ayah Eng Tay. Cerita ini sangat terkenal karena, sekalipun tidak perlu ditiru, seolah melambangkan cinta sejati sehidup semati antara sejoli. Memang, jika dibandingkan dengan kisah cinta dan kesetiaan orang di jaman ini yang seringkali didasarkan pertimbangan untung-rugi, kisah ini sangat berkesan.

Lain kisah cinta khayalan, lain pula kenyataan hidup. Tuhan mengasihi umatnya bagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya (Efesus 5: 25). Tetapi banyak orang Kristen yang kurang sadar bahwa hubungan kita dengan Yesus adalah “sehidup semati”, yang disini bisa diartikan selama hidup dan sesudah mati. Selama kita hidup di dunia,  kita hidup bersama RohNya; dan sesudah kita mati, kita ke surga untuk menjumpai Dia. Untuk itu kita membutuhkan kemampuan untuk bisa setia (faithful) kepada Tuhan sampai akhir.

Kesetiaan (faithfulness) yang merupakan buah Roh Kudus (Galatia 5: 22-23) pada satu pihak adalah kepercayaan (faith) bahwa Yesus setia kepada janjiNya untuk menyertai kita selama-lamanya.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b.

Ayat ini menunjuk kepada kesetiaan Yesus kepada umatNya, yang dengan senang hati kita terima. Bagaimana tidak? Ini adalah keuntungan dan tidak ada ruginya. Yesus menjanjikan kasihNya tanpa batas waktu dan dalam keadaan apapun. Tidak terlalu sukar bagi seseorang untuk menerima sebuah pemberian berharga ini dengan rasa senang.

Pada pihak yang lain, kesetiaan juga berarti bahwa kita harus mengasihi Yesus dan melaksanakan perintahNya. Kita harus memberikan tanda kasih kita kepada Yesus yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Inilah yang berat bagi banyak orang untuk melakukannya, termasuk orang Kristen. Memang, bagi manusia, menerima adalah lebih mudah daripada memberi.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Pagi ini kita diingatkan bahwa untuk terhitung sebagai anggota keluarga Allah, kita harus mempunyai kesetiaan kepada Yesus. Tidak hanya percaya kepada janjiNya, tetapi juga hidup seperti yang dikehendakiNya. Kesetiaan dalam imsn yang tulus tidak mungkin timbul dari hati manusia karena dosa yang selalu mendorong manusia untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tetapi, Roh Kudus sudah diberikan kepada setiap orang percaya supaya setiap orang bisa tumbuh kuat dalam kesetiaan kepada Kristus.

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Markus 3: 33

Apakah aku orang baik-baik?

 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 19

Sewaktu saya masih kecil, seringkali saya mendengar bahwa harapan orang tua untuk anak-anaknya adalah agar mereka menjadi “orang baik-baik”. Dalam soal mencari menantupun mereka ingin mendapat orang baik-baik, biarpun tidak kaya atau pandai. 

Di jaman sekarang, jarang saya temui orang tua yang membanggakan anak menantunya karena mereka adalah orang baik-baik. Biasanya mereka senang menceritakan keberhasilan anak menantu dalam karir dan keuangan. Malahan di beberapa gerejapun, hal kesuksesan lebih didengung-dengungkan daripada hal menjadi orang baik.

Kalau benar bahwa hal  menjadi orang baik-baik itu sudah dianggap kuno, mungkin ada beberapa alasan manusia sebagai penyebabnya:

  1. Semua orang pada waktunya akan menjadi orang baik.
  2. Baik atau buruk kita tidak bisa memilih.
  3. Orang yang terlalu baik biasanya tidak sukses.
  4. Orang yang benar-benar baik itu tidak ada.
  5. Kebaikan itu tidak bisa dibanggakan.
  6. Baik atau buruk itu berubah menurut keadaan jaman.
  7. Baik atau buruk itu adalah soal pribadi.
  8. Semua orang juga berbuat yang sama.
  9. Kita masih lebih baik dari orang lain.
  10. Hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kebaikan (bahasa Yunani agathosune) disini berarti watak atau sifat moral yang baik, yang berusaha tanpa pamrih untuk membuang apa yang jelek dan menggantinya dengan apa yang baik, baik dalam diri sendiri, orang lain dan juga dalam masyarakat, negara atau dunia.

Biarpun kesadaran moral itu penting, manusia di jaman ini bisa bersembunyi dibalik penampilan keren atau rohani untuk menipu pandangan orang di sekitarnya. Mereka yang punya sarana dan kemampuan, cenderung memakainya untuk mengejar kesuksesan dan kepuasan untuk diri sendiri dan anak-cucunya tanpa memikirkan hukum Tuhan atau kepentingan orang lain. 

Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa hal menjadi orang yang mempunyai kebaikan sebagai buah Roh Kudus adalah sangat penting, karena tanpa kebaikan kita belum benar-benar mengenal Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.” 3 Yohanes 1: 11

 

Mereka yang dengan sengaja memilih jalan yang curang, melanggar hukum, mengabaikan etika, menelantarkan kesehatan, menyalahgunakan kedudukan, mengumbar hawa nafsu, menyebarkan kebencian, menipu orang lain, menelantarkan lingkungan dsb. adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang yang mengaku percaya, hidup kita seharusnya memancarkan kebaikan yang berasal dari Tuhan. Kebaikan sebagai salah satu Buah Roh. Memang itu bukan soal mudah karena manusia hakikatnya lemah.  

Bukan apa yang kita kehendaki, yaitu yang baik, yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang sering kita perbuat. Itu juga yang kita lihat dalam masyarakat, bahwa semua orang sudah mengabaikan pentingnya prinsip-prinsip kebaikan. Tetapi kita tidak boleh putus asa dalam mendekatkan diri kita kepada Tuhan, agar api Roh Kudus makin membesar dalam hidup kita.

I am weak, but Thou art strong;

Jesus, keep me from all wrong;

I’ll be satisfied as long

As I walk, let me walk close to Thee.

Kau perkasa, ‘ku lemah,

jauhkan ‘ku dari cela.

Hatiku amat tent’ram

asal aku dekat padaMu.

Kemurahan itu tidak murah

“Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Roma 2: 4

Salah satu buah Roh, hasil pekerjaan Roh Kudus, adalah kemurahan. Alkitab dalam bahasa Inggris memakai istilah “kindness” yang artinya kemurahan hati. Karena itu, kemurahan sering ditafsirkan sebagai kemauan untuk mau menolong, mau memberi perhatian, mau menghargai dsb. 

Di dunia yang serba materialistik dan semu ini, kita mungkin senang jika ada teman yang suka menraktir, memberi hadiah dan pujian. Kelihatannya, tidaklah sukar untuk bermurah hati. Asal ada uang dan kemauan, kemurahan itu mudah dilakukan. Kemurahan itu murah. Betulkah?

Kemurahan yang murni, jika diharapkan dari hati manusia, sebenarnya tidak mudah terjadi. Hati manusia yang belum benar-benar mengenal Allah akan sulit untuk mempunyai kemurahan yang benar. 

Pada hakikatnya, kemurahan manusia sering terbatas. Siapakah yang mau dan bisa menunjukkan kemurahan untuk orang yang tidak dikenal atau orang yang tidak disenangi? Kita mungkin juga segan bermurah hati jika kita tidak mendapat penghargaan atau dilihat orang lain. Kemurahan orang Kristen sering berdasarkan pamrih, seperti kemurahan orang yang belum percaya.

“Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” Matius 4: 47

Jika manusia sulit untuk dapat bermurah hati dengan sepenuhnya, kemurahan hati Allah yang tidak memandang bulu justru sudah terbukti. Allah yang mahakasih sudah bermurah hati kepada semua orang dengan memanggil dan menuntun mereka kepada pertobatan. Yesus bahkan sudah turun ke dunia dan berulang kali menunjukkan  kemurahanNya, antara lain dengan membasuh kaki murid-muridNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa jika Roh Kudus bekerja dengan giat dalam hidup kita, kita akan selalu sadar bahwa karena kemurahan Allah sajalah kita telah mengalami pertobatan dan menerima keselamatan. Karena itu, kemurahan kita kepada orang lain, baik kecil maupun besar, bukanlah untuk kenyamanan hidup dan perasaan kita sendiri. Bukan juga untuk mencari popularitas atau sekedar tradisi. Karena kita sudah mendapat kemurahan Allah, kita harus bisa menunjukkan kemurahan kita sebagai buah Roh sehingga orang lain tidak dapat menganggap sepi Allah kita yang Maha Pemurah. Kemurahan ternyata bukan barang murahan!