Tujuan hidup bukan kesuksesan atau kenyamanan

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Hidup bukanlah suatu kebetulan. Ada tujuan dan makna untuk setiap kehidupan. Orang Kristen percaya bahwa Tuhan menciptakan bumi dan segala sesuatu yang hidup di atasnya. Tuhan mengenal setiap orang secara individu, dari bayi yang baru lahir hingga nenek yang merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Tuhan menciptakan semua orang dan Dia mengasihi mereka. Dia sebenarnya menciptakan manusia untuk menyembah Dia dan menikmati hubungan yang baik dengan Dia selamanya. Tuhan ingin kita mengasihi Dia – dan mengasihi satu sama lain.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia ‘menurut gambar-Nya’. Itu bukan tentang keserupaan fisik – ini mengacu pada kualitas lain seperti memiliki hati nurani dan mengetahui perbedaan antara benar dan salah; memiliki kapasitas untuk mencintai; memiliki keinginan akan keadilan; dan memiliki kreativitas yang luar biasa. Kemampuan lain yang membedakan kita dari ciptaan alam semesta lainnya adalah bahwa kita mampu menjalin hubungan dengan Tuhan sendiri.

Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Tetapi karena dosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki apa yang baik.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Allahlah membuat kita bertobat dan memindahkan kita ke kedudukan sebagai seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskan kita dari perhambaan dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan kita mampu lagi untuk menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal pada diri kita, kita tidak selalu menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, tetapi sering juga menghendaki apa yang jahat. Itu berarti bahwa dalam hidup kita harus selalu berjuang untuk menjalani hidup baru dengan bimbingan Roh Kudus. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, tujuan hidup kita harus berubah dari apa yang kita punyai sebelum bertobat.

Apakah tujuan hidup atau purpose of life kita? Mungkin ada orang yang menjawab bahwa ia ingin menjadi orang yang sukses, orang yang pandai atau orang yang berguna untuk masyarakat dan negara. Semua ini adalah cita-cita. Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih luas dan menyeluruh jika dibandingkan dengan cita-cita dan karir. Tujuan hidup juga sering berbentuk abstrak dan tidak dapat dilihat atau diukur. Walaupun demikian, adanya tujuan hidup adalah penting untuk membuat orang kuat dalam menghadapi semua tantangan. Orang boleh mengejar cita-cita dan senang ketika itu tercapai, namun jika tujuan hidup tidak terwujud, semua yang dicapai mungkin tidak berarti. Sebaliknya, mereka yang tidak mencapai kedudukan tinggi atau mendapat kekayaan yang berlimpah bisa saja berbahagia jika tujuan hidupnya tercapai.

Dalam hidup ini memang kesibukan sehari-hari sering menyita waktu dan karena itu kita mungkin tidak sempat memikirkan apakah tujuan hidup kita sudah tercapai. Apakah kepuasan hidup sudah tercapai, sedang mendatangi ataukah belum terasa, mungkin tidak pernah dipikirkan dalam-dalam. Walaupun demikian, sering kali ketika orang mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup, secara tiba-tiba ia mungkin terbangun dan sadar bahwa hidup yang ada sampai saat ini adalah hampa. Jika pada saat-saat yang lalu ia tidak memikirkan apa arti hidupnya, dengan memeriksa realitas kehidupan kemudian timbul kesadaran bahwa apa yang dipunyainya bukanlah tujuan hidupnya.

Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?  Kita bisa memeriksa hidup kita sendiri. Reality check untuk apa yang sudah kita capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan dan memuliakan-Nya tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita bisa melakukannya untuk memuji-Nya.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Hendaklah kamu menjadi sempurna

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang penuh dosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Bagi umat Kristen, semua orang sudah berbuat dosa dan karena itu tidak ada yang sempurna. Dosa sering kita lakukan, setiap hari, setiap saat, sekalipun kita tidak menyadari atau mau mengingat hal itu. Hanya Tuhan yang sempurna, dan yang pernah turun ke dunia dalam bentuk Yesus, adalah manusia yang tidak berdosa. Jika ayat diatas menuliskan firman Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Allah Bapa, tentu saja ini bisa menimbulkan tanda tanya. Siapakah yang bisa menjadi manusia yang sempurna?

Sudah tentu ajakan Yesus untuk umatNya bukanlah ajakan agar kita berusaha untuk menjadi manusia yang suci. Kesempurnaan hanya terjadi jika Tuhan menyambut umatNya di surga. Selama di bumi, kita berusaha untuk menjadi umat Tuhan yang baik; dan pengampunan dosa ada melalui darah Kristus, tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sempurna. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yesus itu?

Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup dalam kasih sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakanNya? Mungkin mereka sudah puas dengan keyakinan bahwa keselamatan mereka tidak akan hilang sekalipun tetap melakukan berbagai kejahatan di hadapan Tuhan.

Yesus menegaskan bahwa kecuali kebenaran seseorang melebihi orang Farisi dan ahli Taurat, mereka tidak akan masuk kerajaan surga (Matius 5:20). Dia tidak meminta lebih banyak ketaatan pada hukum, tetapi untuk bentuk ketaatan yang lebih dalam yang berasal dari hati. Dia kemudian membahas beberapa contoh ketaatan dalam lima hal: pembunuhan, perzinahan dan perceraian, pengambilan sumpah, pembalasan, dan mengasihi musuh. Ayay 48 kemudian mengakhiri bagian dari Khotbah di Bukit ini dengan peringatan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna“. Ini mirip Imamat 19:2, yang menggunakan kata “kudus” dan bukan “sempurna”.

“Sempurna” adalah terjemahan dari kata teleios, yang muncul sembilan belas kali dalam Perjanjian Baru. Yesus memberi tahu penguasa muda yang kaya, “”Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat diatas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita.

Sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Pengakuan Westmister Bab 9 Poin 4 dan 5, tujuan Yesus untuk semua anak-Nya adalah kedewasaan penuh, yang akan menjadi kesempurnaan di surga. Dengan demikian, pengertian yang cocok untuk itu adalah, “Bertumbuh menuju kedewasaan penuh, sama seperti Bapa surgawimu sempurna.”

Bapa kita sempurna, dan anak-anaknya harus terlihat seperti dia. Ini berarti kita menetapkan ukuran penuh kedewasaan sebagai tujuan kita, dan akhir dari proses itu adalah kesempurnaan di surga. Tapi itu adalah sebuah proses, jadi kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, dimana titik lemah kita? Apakah itu kemarahan? Nafsu? Kecurangan? Kebencian? Marilah kita memeriksa hati kita dan meminta hikmat dan kekuatan dari Tuhan untuk mengejar ketaatan yang lebih dalam yang datang dari hati. Hanya dengan begitu tindakan kita akan benar-benar berubah, dan akan bergerak menuju kedewasaan dan akhirnya kesempurnaan.

Bertahanlah sampai akhir

Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga? Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku? Ayub 6: 11-13

Meninggalnya pendeta, pengkhotbah dan dosen teologi Dr. Timothy Keller pada usia 72 tahun seminggu yang lalu mengingatkan banyak orang pada kata-kata terakhirnya: “Tidak ada kerugian bagi saya untuk pergi, tidak sedikit pun.” Saat meninggal beliau didampimgi oleh Kathy, istri beliau selama 48 tahun. Putra mereka, Michael, mengabarkan bahwa Tim mencium dahi Kathy dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.

Ketika Dr. Keller mengumumkan diagnosis kanker pankreasnya pada tahun 2021, beliau berkata, “Sungguh melegakan memiliki Tuhan yang jauh lebih bijaksana dan lebih pengasih daripada saya. Dia memiliki banyak alasan yang baik untuk semua yang Dia lakukan dan izinkan, yang walaupun tidak dapat saya ketahui, memberi harapan dan kekuatan kepada saya.”

Bagi saya, Tim adalah seorang pengajar teologi praktis yang dengan lemah lembut bisa meyakinkan pendengarnya tentang berbagai topik-topik kekristenan. Yang paling berkesan bagi saya ialah pernyataannya bahwa Tuhan berdaulat 100 persen, tetapi manusia beranggung jawab 100 persen atas hidupnya. Tuhan bisa menyembuhkan sakit beliau jika itu sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi beliau yakin untuk tetap berobat dan berdoa untuk mendapat kesembuhan.

Saya tahu banyak ada orang Kristen yang mengaku Tuhan berdaulat 100 persen atas hidupnya, dan pergi ke dokter dan minum obat jika sakit, tetapi menyanggah kenyataan bahwa merekalah yang harus memutuskan untuk berobat dan mau tetap berdoa untuk kesembuhan. Tim Keller tidak berpendirian sedemikian, beliau bukan seorang Kristen fatalis yang sangat meninggikan kedaulatan Tuhan di atas kasih-Nya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang mematikan kehendak dan tanggung jawab manusia. Tuhan kita tidak membuat kita menyerah kepada “nasib”, tetapi justru memberi kita kekuatan dan kebijaksanaan untuk bertindak, serta ketabahan dalam menghadapi masalah kehidupan.

Memang jika ada yang lebih bisa membuat orang gelisah, itu adalah masa depan yang suram dan kematian. Masa depan yang suram membuat setiap orang menjadi masygul karena merasa bahwa tidak ada yang bisa diperbuatnya. Jika seluruh negara dan bahkan seluruh dunia mengalami pandemi dan resesi, itu terasa sebagai suatu hal yang terlalu besar untuk ditolak atau diperangi seorang manusia. Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Begitulah seruan Ayub yang menghadapi bencana hidupnya, dan mungkin juga seruan kita saat ini. Ini sulit dijawab karena kita yang tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tentunya tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana kita akan meninggalkan dunia ini. Semua itu belum dinyatakan Tuhan kepada kita, tetapi kita tetap harus mau untuk mengambil keputusan, bekerja, berusaha, sambil berdoa.

Kebimbangan akan masa depan juga terjadi karena kesadaran atas keterbatasan kita. Membayangkan perjuangan berat selama adanya pandemi bisa membuat kita kuatir untuk kemungkinan terjadinya hal serupa di masa mendatang. Selain itu, kita dapat melihat bahwa dunia belum juga kembali kepada keadaan sebelum pandemi. Ekonomi masih tersendat-sendat dan biaya hidup makin meningkat.Dalam keadaan seperti ini kita mungkin menjerit seperti Ayub: “Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga? Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku?”

Jika orang yang tidak mengenal adanya Tuhan menjadi masygul karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan juga karena tidak tahu apakah ia akan sanggup untuk mengatasi tantangan hidupnya, orang yang percaya adanya Tuhan tentunya bisa mempunyai reaksi yang lain. Mereka yang percaya bahwa Tuhan memberikan upah-Nya untuk mereka yang memiliki hidup suci dan rajin beramal ibadah, selalu berharap bahwa Tuhan akan memberikan apa yang baik di masa depan. Tetapi, orang yang sedemikian tidak akan bisa sepenuhnya yakin apakah mereka akan dapat menjalani hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan dan beramal ibadah. Mereka hanya bisa berdoa agar amal ibadahnya diterima oleh Tuhan. Ini pun adalah fataliisme.

Dibandingkan dengan orang yang beragama lain, orang Kristen mempunyai pandangan yang berbeda. Mereka percaya bahwa penderitaan apa pun tidak dapat memisahkan mereka dari kasih Kristus. Kristus sudah menebus mereka di kayu salib, karena itu mereka sudah menerima anugerah keselamatan sekarang juga. Mereka tidak perlu membeli keselamatan melalui kurban dan amal ibadah. Mereka tidak bisa membeli kasih Tuhan dengan berbuat baik. Masa depan sesudah menyelesaikan hidup di dunia tidak perlu dipikirkan sekalipun keadaan di dunia ini menjadi sangat berat, itu karena keselamatan jiwa mereka sudah terjamin.

Lalu bagaimana dengan masa depan di dunia, selagi kita masih hidup? Ini bukanlah hal yang sulit dipecahkan. Tuhan yang sanggup memberi anugerah yang terbesar, yaitu anugerah keselamatan, adalah Tuhan yang mahakuasa yang pasti sanggup mengatasi segala sesuatu yang terjadi di dunia dan memberikan apa yang baik yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sekalipun kita lemah secara jasmani, Tuhanlah yang mahakasih sanggup menguatkan kita dan menolong kita. Tetaplah bertahan dan bersabar untuk pertolongan-Nya!

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8:35

Bagaimana kita bisa bermegah

“Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23 – 24

Jika kita membaca Alkitab Perjanjian Lama, tentu kita menyadari bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah yang kenudian justru melakukan kejahatan yang keji, yaitu penyaliban Anak Allah, Yesus Kristus. Mengapa Allah harus memilih satu bangsa dan bahkan menjanjikan seorang Juruselamat yang dilahirkan di Betlehem? Di dalam janji untuk menjadikan Abraham bangsa yang besar itu ada janji untuk memberkati bangsa-bangsa yang memberkati orang-orang keturunan Abraham. Namun, Tuhan melampaui itu, menjanjikan bahwa semua bangsa akan diberkati melalui bangsa ini. Allah memilih untuk menjangkau seluruh dunia dengan memilih Israel untuk mewakili Dia, dimulai dengan Abraham.

Pemilihan atas Israel bukanlah tentang Tuhan yang lebih menyukai satu bangsa daripada yang lain. Itu adalah rencana untuk mewujudkan kasih-Nya ke seluruh dunia—dan Dia memilih Abraham sebagai duta pertama-Nya untuk melaksanakan rencana-Nya. Sayang sekali, bangsa yang dipilih Allah ini justru kemudian mengingkari kasih dan perlindungan Tuhan, tidak hanya sekali, tetapi berulang kali, sampai pada akhirnya mereka menjadi umat yang terbelakang dalam mengenali kebenaran dalam Kristus. Jika mereka sampai sekarang masih ingat akan Allah yang mengeluarkan mereka dari kungkungan Firaun di tanah Mesir, mereka menjadi bangsa yang bermegah dalam keyakinan bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah dan menolak Yesus yang datang untuk membebaskan mereka dari kungkungan dosa.

Ayat di atas memperingatkan manusia agar janganlah ada orang yang bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah ada orang kuat bermegah karena kekuatannya, dan janganlah ada orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena ia memahami dan mengenal Allah yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi. Dan kita harus menyadari bahwa karena Bapa dan Putra adalah satu, kita juga harus bermegah dalam Yesus yang sudah mati untuk menebus kita.

“Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Roma 5: 11

Kata “bermegah” muncul dalam Alkitab lebih dari 50 kali. Apa arti kata bermegah? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata megah mempunyai beberapa arti: (1) tampak mengagumkan (karena besarnya, indahnya, dan sebagainya; gagah kuat; mulia, masyhur; (2) bangga. Dengan demikian, kata bermegah dapat diartikan sebagai (1) mempunyai sifat megah; (2) membanggakan (membesarkan, menyombongkan) diri; berlaku ingin lebih megah daripada yang lain.

Sebenarnya, rasa bangga yang sepantasnya mungkin tidaklah salah. Rasa bangga belum tentu sama dengan rasa sombong, walaupun dalam bahasa Inggris kata adjektif proud dipakai untuk keduanya. Rasa bangga atas apa yang baik dan yang diutarakan dengan maksud yang baik tentunya bukanlah tindakan yang keliru. Masalahnya orang sering tidak tahu apa yang baik untuk dibanggakan dan bagaimana mengutarakan rasa bangga kita dengan cara yang baik. Apa yang kita lihat sebagai hal/barang yang baik seringkali adalah barang yang hanya terlihat baik untuk sementara waktu. Apa yang baik untuk seseorang belum tentu baik untuk orang lain atau Tuhan.  Selain itu, kebanggaan yang sering kita lihat seringkali justru membawa masalah bagi pemiliknya.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Kata bermegah dalam alkitab berbahasa Inggris diterjemahkan sebagi kata kerja “to boast” yang berarti “menyombongkan”. Dalam sejarah perang di dunia, banyak negara dan pemimpin negara bermegah atas keberhasilannya dalam menghancurkan posisi lawan mereka. Tetapi, tindakan bermegah juga dipakai untuk menggertak lawan dengan menyatakan kemampuan dan tekad untuk menang. Selain itu, kata bermegah juga dipakai untuk menggalang tekad dan keberanian tentara sebuah negara dalam menghadapi tentara musuh. Misalnya, Goliat dalam 1 Samuel 17: 4-9 menampilkan dirinya sebagai “jagoan” dari Filistin yang membuat takut tentara Israel.

Untuk kita orang Kristen, adakah yang bisa kita banggakan? Dalam hal apa kita harus bermegah? Dan untuk apa kita bermegah? Tuhan berkata bahwa umat-Nya lebih baik bermegah karena mereka memahami dan mengenal Dia sebagai Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil. Bermegah dalam Tuhan adalah hidup menurut firman-Nya dan untuk kemuliaan-Nya, sehingga makin banyak orang yang mengenal Dia dan mau meninggalkan hidup lama mereka. Bermengah dalam Kristus, sebagai jeritan perang rohani kita, untuk mengusir iblis yang berusaha menyerang kita, karena itu menyatakan keyakinan kita atas kuasa dan penyertaan Tuhan.

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Pagi ini, hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hati kita. Hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang sebenarnya kita banggakan dalam hidup ini. Mungkin kita merasa tidak ada yang bisa kita banggakan. Jika demikian, barangkali kita belum menyadari pentingnya untuk bermegah dalam Tuhan. Kita tidak bermegah sebagai orang terpilih, tetapi sebagai orang yang mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang baik dan yang patut kita puji? Bukankah kita dengan sepatutnya harus mengasihi Dia yang sudah lebih dulu mengasihi kita? Bukankah kita tidak perlu takut atau kuatir dalam menghadapi masa depan dan tantangan kehidupan? Bukankah iblis tidak bisa menjamah umat Tuhan yang sejati? Biarlah kita bisa bermegah di dalam Dia!

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6: 14

Dalam kelemahan, Tuhan bisa memberi kekuatan

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Aku lemah, tetapi Tuhanku kuat

Walaupun seseorang bisa kuat secara fisik, sering kali kekuatan ini berkurang atau bahkan lenyap ketika ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi keadaan mental orang itu. Kemarin malam, seorang penyiar TV di Australia mengundurkan diri karena adanya banyak perundungan yang ditujukan kepada dia dan keluarganya. Tekanan batin yang dialaminya sedemikian besar sehingga ia merasa harus beristirahat dari kegiatannya di dunia media untuk sementara waktu.

Soal merasa lelah dan lemah, kalau tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jika kelelahan itu disebakan oleh faktor jasmani, tentunya kita bisa mengharapkan pengobatan dokter. Tetapi, jika masalahnya juga menyangkut soal pikiran dan hati, itu tidaklah mudah diatasi. Dalam hal ini kita bisa belajar dari apa yang dialami oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Baca 2 Korintus 11 & 12.

Paulus sebagai manusia juga mengalami penderitaan dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27).

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasih-Nya kepada Paulus sudah cukup.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Itu kalau kita bisa dan mau berkomunikasi, berdoa kepada Dia secara teratur.

Ada banyak penyebab mengapa orang Kristen tidak berdoa secara teratur. Sebab yang pertama ialah soal prioritas. Seorang tidak berdoa karena ia mementingkan hal lain daripada berdoa. Selain itu, ada orang yang beranggapan bahwa berdoa adalah memohon sesuatu kepada Tuhan. Karena itu, selama hidupnya lancar, doa tidak dirasakan perlu.

Selain dari sebab di atas, ada pula orang yang berpendapat bahwa karena Tuhan sudah mempunyai rencana tertentu yang tidak bisa diubah, doa kita adalah hal yang sia-sia. Selanjutnya, ada pula orang-orang yang karena pernah merasa dikecewakan sekarang menjadi segan untuk berdoa. Juga, ada orang yang enggan berdoa karena hidupnya yang kacau membuat ia ragu untuk mendekati Tuhan yang mahasuci. Tentu saja ada sebab-sebab lain yang membuat orang Kristen malas berdoa, apalagi berdoa secara teratur bukanlah suatu ritual yang diharuskan seperti dalam agama lain.

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, sesuatu yang diajarkan Tuhan untuk kebaikan manusia sendiri. Kebiasaan berdoa secara teratur bisa membuat umat Kristen yakin bahwa Tuhan itu dekat dan pengasih. Melalui komunikasi dengan Tuhan, kita bisa makin mengenal-Nya.

Jika ada oknum yang tidak menyenangi kita berdoa, itu adalah iblis. Ia dengan segala tipu muslihatnya, berusaha membuat manusia untuk segan dan malas untuk berdoa. Iblis tidak hanya berusaha menghentikan usaha kita untuk mendisplinkan diri untuk berdoa secara teratur, ia juga membuat hidup kita terasa sibuk sehingga kita lupa atau tidak merasakan perlunya untuk melibatkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Pada pihak yang lain, iblis jugalah yang menyebabkan kita merasa malu atau segan untuk mendekati Tuhan yang mahakudus dengan berbagai tuduhannya yang keji.

Setiap hari, hanya kita yang bisa menjawab pertanyaan mengapa berdoa di saat ini masih sering terasa sebagai beban dan kewajiban, dan bukannya sebagai kenikmatan dan berkat.

Karena Tuhan tahu bahwa kita membutuhkan-Nya, Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kita berkomunikasi dengan Tuhan kita yang maha pengasih.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Masih ingatkah Anda akan lagu “Lebih dekat pada-Mu”?

Ku lemah Yesus kuasa
Hindarkan dari dosa
Dan ku berbahagia
Serta girang t’rus selamanya

Lebih dekat padaMu
Itu permohonanaku
Tiap hari sertaMu
Oh Tuhan tolong padaku

Dalam dunia penuh susah
Hidupku jadi payah
Tapi Yesus ku cinta
Tolongku dari bahaya

Semoga kita mau lebih dekat kepada Tuhan dalam hidup ini.

Jalan keselamatan kita

“Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Yohanes 6:40 adalah salah satu bagian terpenting dalam Perjanjian Baru. Ayat ini telah terbukti menjadi pesan penginjilan penting yang dikhotbahkan ke seluruh dunia. Itu adalah pernyataan sederhana tentang kehendak Bapa, keselamatan kita, dan tujuan kekal kita di dalam Kristus. Ayat ini sejalan dengan Yohanes 3: 16 yang menyatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Dalam kedua ayar dari kitab Yohanes itu ada kata yang mencolok mata, yaitu kata “setiap orang”. Siapakah yang dimaksudkan dengan “setiap orang”? Apakah itu semua orang beragama yang terlihat saleh? Apakah itu siapa saja yang mengaku Kristen? Ataukah mereka yang rajin ke gereja? Ataulah siapa saja yang sudah mengaku percaya kepada Yesus? Mungkinkah itu hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai hidup baik dan taat kepada firman-Nya? Ataukah itu adalah orang yang dipilih Allah secara acak menurut kedaulatan-Nya? Untuk mengetahui jawabnya kita perlu melihat ayat-ayat sebelumnya:

  • (35) Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
  • (36) Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.
  • (37) Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
  • (38) Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
  • (39) Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.

Kita selalu dapat menggambarkan apa yang terjadi di dunia dari dua sisi — dari sisi manusia dan tanggung jawabnya untuk menerima apa yang Tuhan tawarkan — dan dari sisi Tuhan dan kedaulatannya untuk mencapai tujuan penyelamatan-Nya. Di ayat 35-336, kita melihat hal-hal dari sisi tanggung jawab manusia. Dalam ayat 37–40 kita melihat sesuatu dari sisi kedaulatan Allah. Jadi poin utama dari kedua bagian ini, jika digabungkan, adalah tujuan Allah untuk memberikan hidup kekal melalui Yesus yang tidak akan gagal.

Mengenai tanggung jawab, bangsa Israel telah gagal untuk memilih apa yang benar. Meskipun mereka telah melihat Yesus memberi makan lima ribu orang, itu tidak terjadi setiap hari, dan perut mereka tidak kenyang lagi. Mereka ingat bahwa di padang gurun Musa memberikan manna Allah setiap hari. Mereka tidak hanya memiliki roti ajaib satu hari, tetapi setiap hari, selama empat puluh tahun. Jadi, mereka berharap agar Yesus untuk terus melakukan keajaiban supaya mereka bisa percaya.

Jadi, bagian pertama dari teks diakhiri dengan karunia Allah yang ditolak. Tuhan menawarkan roti-Nya – Yesus – kepada umat-Nya sendiri, dan umat-Nya sendiri tidak menerimanya. Beginilah tujuan penyelamatan Tuhan dilihat dari sisi manusia dan tanggung jawabnya. Allah mengirim Anak-Nya, dan manusia bertanggung jawab untuk melihat dan percaya. Tapi bangsa Israel menolak-Nya. Sampai sekarang, masih banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mau bertanggung jawab untuk mengakui Yesus dalam seluruh segi kehidupan mereka.

Apakah tujuan penyelamatan Allah kemudian gagal? Tidak, karena Dia membuat tindakan-tindakan berdasarkan kasih-Nya. Dan ayat 37–40 menjelaskan alasannya. Tuhan berdaulat atas pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan membiarkan tujuan akhir-Nya bagi siapa pun gagal. Ada lima penegasan yang kuat tentang karya kedaulatan Allah dalam ayat 37-40. Sangat penting bagi kita untuk memahaminya:

  1. Tuhan memberikan orang-orang pilihannya kepada Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku”. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang”. Allah tidak menunggu orang-orang pilihan-Nya datang kepada Yesus. Mereka sendiri tidak akan mampu. Dia memberikannya kepada Yesus. Dia memilih mereka untuk diri-Nya sendiri, karena Dia memberikannya kepada Putra-Nya.
  2. Karena Tuhan memberikan mereka kepada Yesus, mereka datang kepada Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku.” Atau, seperti yang telah kita lihat di ayat 35, mereka percaya kepada Yesus. Yesus tidak mengatakan bahwa karena orang datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus, maka Allah memberikan mereka kepada Anak. Tidak. Mereka yang Bapa berikan kepada Putra, datang kepada Putra. Allah mengamankan kedatangan mereka. Dia bekerja mendatangkan mereka. Dia menjamin kedatangan mereka. Ketika Anda datang kepada Kristus, Tuhan membawa Anda. Ketika Yesus dapat dimengerti oleh Anda, itu bukan karena Yesus terlihat memuaskan bagi Anda. Tetapi, itu adalah Tuhan yang membuka mata Anda. sehingga Anda percaya. Dan ketika Dia melakukannya, Anda datang dengan bebas, dengan semua perlawanan Anda teratasi.
  3. Mereka yang diberikan kepada Yesus disimpan oleh Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Memberi dan mendatangkan adalah karya kedaulatan Bapa, dan pemeliharaan adalah karya kedaulatan Putra. Anda akan disimpan. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.” Yesus tidak akan kehilangan siapa pun yang datang kepadanya. Jika Bapa memberikan kita kepada Putra, kita datang kepada Dia. Yesus tidak akan pernah kehilangan kita, atau menolak kita. Kehidupan yang kita miliki di dalam Putra, seperti yang dikatakan ayat 40, adalah “hidup yang kekal.” Bukan hidup sementara. Itu tidak bisa hilang.
  4. Yesus akan membangkitkan kita dari kematian pada hari terakhir.
    Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yesus tahu bahwa kematian bagi semua orang terlihat seperti kekalahan, kehilangan. Apalagi bagi mereka yang belum percaya. Setidaknya tubuh kita hilang. Dan untuk menolak kekuatiran manusia, Yesus berkata dua kali, untuk memperjelasnya, “supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu kuatir, bahkan tubuh kita tidak akan hilang.
  5. Landasan yang tak tergoyahkan dari keselamatan kita adalah kehendak Tuhan.
    Tidak ada yang lebih pasti di dunia ini daripada kehendak Allah yang berdaulat. Ayat 38 memberikan dasar mengapa Yesus tidak akan mengusir siapa pun yang diberikan Bapa kepadanya: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Adalah kehendak Allah yang berdaulat bahwa tidak ada milik-Nya yang hilang.

Pagi ini kita telah melihat kedua bagian dari teks ini. Ayat 35–36, dari sisi manusia dan tanggung jawabnya, menggambarkan tawaran Allah kepada dunia, dan bagaimana roti dari surga ditolak. Ayat 37–40, dari pihak Allah dan kedaulatan-Nya, menggambarkan bagaimana Allah bertindak dengan memberikan orang-orang pilihan-Nya kepada Yesus agar mereka datang, dan bagaimana Yesus menjaga mereka, dan membangkitkan mereka dari kematian sesuai dengan kehendak Allah yang berdaulat. Bagian pertama menggambarkan kegagalan manusia yang terlihat, tetapi bagian kedua menjelaskan tujuan penyelamatan Allah yang tak terkalahkan. Manusia tidak dapat mengenal Allah dan diselamatkan jika Dia sendiri tidak bertindak.

Sekarang, jika Anda bertanya: Bagaimana saya bisa tahu jika saya termasuk yang terpilih? Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya telah diberikan Bapa kepada Yesus, dan bahwa Dia akan memelihara dan membesarkan saya? Jawabannya sangat sederhana: “Yesus berkata kepada mereka, ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”(Yohanes 6:35). Jika Anda datang kepada Yesus seperti ini, Anda telah diberikan oleh Bapa kepada Putra. Hidup Anda akan mengalami perubahan karena Anda merasa bahwa Allah sudah mengangkat Anda menjadi anak-Nya. Anda akan merasa bahwa hidup Anda adalah berharga di hadapan Bapa, dan Anda merasa sangat bersyukur untuk itu sekalipun ada banyak penderitaan dan masalah yang harus Anda hadapi. Tidak ada orang yang bisa datang kepada Yesus tanpa melalui Bapa. Tidak ada orang yang bisa bersyukur atas pengurbanan Yesus dan berubah dari hidup lamanya jika tidak dipilih oleh Bapa. Karena itu, jika Anda telah diberikan oleh Bapa kepada Yesus, Anda akan disimpan oleh Yesus dan akan dibangkitkan-Nya pada hari terakhir.

(Bahan dari “Behold, Believe, Be Raised” by John Piper)

Bagaimana menjadi orang Kristen bermoral tanpa menjadi seorang moralis

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. 2 Petrus 1:5-7

Kata moral, bermoral dan moralis sering muncul di berbagai media, tetapi mungkin kita kurang memperhatikan artinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata-kata tersebut dapat diartikan sebagai berikut:

moral/mo·ral/ n 1 (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila: — mereka sudah bejat, mereka hanya minum-minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan; 2 kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan: tentara kita memiliki — dan daya tempur yang tinggi; 3 ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita;

bermoral/ber·mo·ral/ v 1 mempunyai pertimbangan baik buruk; berakhlak baik: mana ada penjahat yang -; 2 sesuai dengan moral (adat sopan santun dan sebagainya): ia melakukan perbuatan yang tidak –

moralis/mo·ra·lis/ n 1 orang yang terlalu mementingkan moral; 2 orang yang mengajarkan atau mempelajari moral sebagai cabang filsafat; 3 orang yang menaruh perhatian terhadap pengaturan moral orang lain

Moralitas adalah panduan umum tentang kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukan apakah pandangan manusia dalam hidup itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya suatu perbuatan tertentu (etika). Dalam teologi Kristen klasik, semua manusia secara inheren dipandang berdosa karena tindakan Adam dan Hawa (sebuah gagasan yang dikenal sebagai “dosa asal”). Sebaliknya, pemikiran Yahudi, sementara mengakui dorongan manusia menuju kejahatan, juga menegaskan dorongan menuju kebaikan. Baik dalam ajaran Kristen maupun Yahudi, setiap manusia harus bertanggung jawab atas karakter moralnya.

Sebagai konsekuensi dari perilaku Adam dan Hawa di taman Eden, yaitu memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia berubah dari ketidaksadaran menuju ke arah pengetahuan tentang pentingnya moralitas. Mereka menyadari adanya perbedaan antara apa yang “baik” dan yang “buruk” setelah mengalami pengalaman pahit dan mendapat hukuman Allah. Dalam menjalankan kebebasan memilih, Adam dan Hawa melakukan pelanggaran berat. Mereka sudah mengabaikan prinsip moralitas Tuhan: bahwa mereka harus taat kepada perintah Allah. Masalahnya, manusia sesudah jatuh ke dalam dosa, tidak mampu untuk mencapai apa yang benar-benat baik, yang seturut kehendak Tuhan, sekalipun ia mungkin sadar akan apa yang diperbuatnya dan juga akibatnya. Mengapa demikian?

Sebagian orang Kristen menganggap bahwa sesudah kejatuhan, manusia adalah rusak total (totally depraved), tetapi ini bukan berarti bahwa manusia tidak lagi mengerti arti moralitas. Kain, misalnya, tahu bahwa membunuh Habil adalah suatu hal yang jahat. Tetapi, melalui pilihannya ia justru melakukannya, dan ia kemudian berusaha untuk menghindari pertanggungjawabannya kepada Allah. Manusia setelah kejatuhan bukan rusak sebobrok-bobroknya, terapi rusak dari dalam budinya (radical depravity). Dengan demikian, tanpa bimbingan dan karunia Tuhan manusia akan hidup dalam dosa dan secara umum mengabaikan prinsip moralitas yang diberikan Tuhan.

Mengomentari ayat di atas, Calvin dalam buku bimbingan Alkitabnya menulis: Karena merupakan pekerjaan yang berat dan kerja keras, untuk menanggalkan kerusakan yang ada pada kita, Petrus meminta kita untuk berjuang dan melakukan segala upaya untuk tujuan ini. Dia mengisyaratkan bahwa dalam hal ini tidak boleh ada tempat yang diberikan kepada kemalasan, dan bahwa kita harus menaati Allah yang memanggil kita, tidak dengan lambat atau sembarangan, tetapi dibutuhkan kesigapan; seolah-olah dia telah berkata, “Kerahkan segala upaya, dan wujudkan upayamu kepada semua orang.”

Perlu dicatat, sekalipun moralitas adalah perlu selama manusia hidup di dunia, rasul Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa mereka harus mengindari pandangan moralitas dunia. Mereka harus berubah dari dalam sehingga dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Jelas Paulus mengemukakan tiga hal yang penting: bertindak, berubah dan belajar (act, change, and learn). Orang Kristen harus bertindak untuk menghindari pengaruh dunia, berubah secara rohani, dan belajar untuk mencari kehendak Allah. Ini berarti bahwa manusia harus mau dengan sigap melaksanakan prinsip moralitas yang benar, yakni moralitas Kristen.

Kembali ke ayat pembukaan, kita melihat bahwa rasul Petrus menasihati umat Kristen agar mereka menambahkan kepada iman mereka kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara seiman, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Semua orang percaya mempunyai iman yang menyelamatkan, tetapi harus menyatakan iman mereka selama hidup dengan moralitas yang baik.

Petrus dalam ayat di atas menyatakan bahwa adalah seharusnya jika orang yang beriman memperbaiki moralitas yang ada dalam hidupnya. Karena melalui cara hidup kita, orang bisa melihat apakah kita benar-benar tunduk kepada prinsip moralitas yang ada dalam firman Tuhan, yaitu kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Moralitas yang dilaksanakan melalui bimbingan Roh Kudus untuk kemuliaan Tuhan. Moralitas yang bukan dilaksanakan untuk kepuasan diri sendiri. Orang yang bermoral dalam Roh bukanlah orang yang berusaha untuk mendapatkan keselamatan di surga, tetapi adalah orang yang mengalami perubahan dari dalam setelah mendapatkan anugerah keselamatan.

Moralitas hidup yang benar akan ada jika orang Kristen mendengarkan suara Roh Kudus dalam hidupnya, bukan suara orang lain, bukan apa yang serupa dengan apa yang dianggap baik di dunia ini. Moralitas dari Tuhan selalu menuntut hati orang Kristen untuk berbuat baik, memikirkan yang baik dan mempelajari yang baik, agar hidup kita terus menerus mengalami pembaharuan untuk kemuliaan Tuhan. Iman tanpa moralitas adalah tidak mungkin. Mereka yang mengaku beriman tetapi mengabaikan prinsip moralitas dan etika kristiani, bukanlah orang Kristen sejati.

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Yakobus 2: 18

Sebagian orang Kristen percaya bahwa mereka sudah mempunyai iman karena adanya perbuatan baik, karena moralitas yang mereka miliki. Tetapi ini belum tentu benar karena adanya moralitas yang dipandang baik bukan berarti bahwa mereka mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan mengenal apa yang benar menurut Dia. Perbuatan baik saja (menurut mata manusia) bukan bukti bahwa mereka percaya kepada Tuhan yang berkuasa atas hidup mereka.

Moralitas tanpa iman adalah mungkin, tetapi sia-sia. Mereka yang menjadi moralis (orang yang menyatakan perlunya moral lebih daripada iman) adalah seperti orang Farisi yang menyombongkan kesalehannya. Mereka adalah orang-orang yang gemar mengadili orang lain berdasarkan hukum Taurat, tetapi mereka sendiri tidak mampu melaksanakannya dengan benar. Lebih dari itu, mereka membenci Yesus yang sudah mengajarkan bagaimana manusia harus hidup dalam kebenaran dan kesucian.

Bagaimana menjadi orang Kristen bermoral tanpa menjadi seorang moralis? Ini tidak mudah karena setiap orang cenderung merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kalaupun ia sadar akan cacatnya, ia cenderung memandang orang lain lebih besar cacatnya. Orang Kristen yang merasa bahwa pengertian teologinya adalah yang paling benar, pada akhirnya akan menjadi moralis yang berusaha mengubah orang lain untuk mengikuti faham dan pengertian yang dimilikinya. Alkitab menyatakan bahwa semua orang sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Setiap umat Kristen mempunyai tanggung jawab tersendiri dalam hidup, dan itu hanya dapat dilakukan dengan bimbingan Roh Kudus yang bekerja dalam hatinya. Karena itu, kita harus mau mendengarkan suara Roh Kudus dan melaksanakan firman Tuhan yang sudah disampaikan kepada kita, dan bukannya selalu sibuk menekankan dan memaksakan kepada orang lain apa yang kita anggap benar.

Pagi ini, kita melihat bahwa ayat di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak berhenti berusaha untuk menerapkan kebajikan dalam hidup beriman, tetapi lebih dari itu menambahkan kepada kebajikan pengetahuan tentang firman Tuhan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Semua itu akan membuat setiap orang Kristen menjadi orang yang bermoral tapi bukan seorang moralis yang tidak mempunyai pengetahuan yang benar dan kasih kepada sesamanya.

Bagaiman kita bisa menjadi hamba yang baik

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Matius 25: 29-30

Sebagai umat Kristen, kita tentunya pernah membaca perumpamaan tentang talenta. Penerapan perumpamaan ini harus dipahami dalam konteks pesan Matius 24-25. Ini adalah pertama-tama pesan kepada umat Israel yang akan hidup di hari-hari terakhir sebelum Tuhan datang kembali. Pernyataan, dalam Matius 24:13, “Tetapi siapa yang bertahan sampai akhir, orang itu akan diselamatkan,” adalah pernyataan kunci. Matius, dalam pasal 24-25, mencatat hati Tuhan yang penuh kasih bercampur dengan kekudusan yang tak tergoyahkan. Bagian Kitab Suci ini, termasuk perumpamaan tentang talenta, merupakan peringatan terakhir dan dorongan kepada umat-Nya Israel sebelum kepergian-Nya. Dia, yang adalah Tuhan mereka, pergi untuk jangka waktu yang dirahasiakan. Dia mendelegasikan kepada mereka tanggung jawab, sebagai penatalayan, untuk memelihara kerajaan-Nya. Perumpamaan tentang talenta, Matius 25:14-30, menekankan kepada mereka akan beratnya tanggung jawab itu dan konsekuensi serius yang bisa timbul dari kelalaian dalam memahami dan menerapkan petunjuk-petunjuk-Nya. Selain itu, ada juga pesan untuk seluruh umat manusia.

Apa maksud Matius 25:29-30? Yesus telah menggambarkannya sebelumnya dalam kitab Matius ketika para murid bertanya kepada Yesus mengapa Dia mengajar orang banyak dalam perumpamaan daripada menjelaskan kebenaran secara rinci, seperti yang Dia lakukan dengan mereka. Itu ditemukan dalam Matius 13:11–12, yang bunyinya sangat mirip dengan ayat di atas:

“Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi , sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

Jika talenta adalah talenta emas, nilai dari apa yang dipercayakan si tuan kepada para hambanya tentunya sangat tinggi, dalam jutaan dolar. Karena Tuhan hanya menggunakan istilah “talenta”, kita harus membuat beberapa asumsi, tetapi tampaknya masuk akal untuk menganggap bahwa pemilik talenta, orang yang bepergian ke negeri yang jauh, adalah orang kaya. Dia mempercayakan kekayaannya kepada tiga orang hamba yang menjadi pengurus uangnya. Seseorang hamba menerima lima talenta. Yang lain menerima dua talenta. Hamba ketiga menerima satu talenta. Ketiga orang ini adalah para penatalayan yang dipercayakan untuk mengurus uang.

Para penatalayan (artinya semua umat Kristen) harus mengetahui kepribadian dan karakter Tuhan mereka. Tuhan mengharapkan mereka mengenal-Nya dengan cukup baik melalui suara Roh Kudus serta petunjuk-petunjuk-Nya. Mereka yang menjalankan perintah-Nya akan dihargai, tetapi yang tidak mau menjalankan perintah-Nya akan menerima hukuman yang berat. Kanunia yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Dua hamba yang pertama memahami kemauan dan karakter Tuhan dari pesan-pesan-Nya. Dapat dipastikan mereka adalah hamba-hamba yang mengenal Tuhan karena mereka hidup dekat dengan Dia dan selalu melayani-Nya. Mereka berdua menggunakan karunia yang mereka terima dan berusaha melipatgandakannya. Masing-masing menghasilkan keuntungan 100 persen. Hamba yang ketiga, kelihatannya tidak mengenal Tuhannya. Alhasil, hamba yang menguntungkan dipuji, diberi tanggung jawab yang lebih besar dan diundang untuk masuk ke dalam sukacita Tuhan mereka. Hamba yang tidak mau berusaha dimarahi, ditolak, dan dihukum.

Ketakutan dan ketidakpercayaan pada Tuhannya memotivasi hamba ketiga. Dia mengubur uang itu dalam tanah dan mengembalikan jumlah aslinya. Tindakan ini menunjukkan bahwa hamba ini menuduh Tuhan sebagai penyebab kegagalannya. Ini bisa terjadi dalam hidup kita, jika kita merasa bahwa Tuhan yang berdaulat sudah menetapkan nasib kita, dan kita merasa bahwa tidak ada apa pun yang bisa atau harus kita lakukan. Kita mungkin menuduh orang yang berusaha menaati perintah Tuhan sebagai orang yang sombong, yang terlalu yakin akan kemampuan mereka. Padahal Tuhan sudah memberikan karunia dan tugas kepada setiap orang menurut kebijaksanaan-Nya.

Dalam konteks perumpamaan talenta ini, prinsipnya mudah dimengerti karena dalam bisnis, seorang pengusaha berusaha mencari hasil yang banyak. Hamba yang diberi sepuluh talenta adalah yang paling produktif dengan modal yang diberikan oleh tuannya (Matius 25:16). Hamba dengan satu talenta sama sekali tidak mau melakukan apa pun dengan modalnya. Jika si tuan menginginkan keuntungan terbesar dari investasinya, ia tentunya harus mengambil satu talenta itu dan memberikannya kepada orang yang memiliki lebih banyak supaya hasilnya bisa lebih banyak. Orang dengan satu talenta adalah hamba yang tidak berguna.

Prinsip tersebut mengilustrasikan sebuah kebenaran penting bagi para pengikut Yesus: Adalah penting bahwa kita memanfaatkan apa yang Dia karuniakan kepada kita untuk kemuliaan-Nya. Itu penting bagi kita dan bagi Dia. Mereka yang percaya kepada Yesus, bekerja untuk Yesus (Yohanes 14:15). Mereka yang bekerja untuk Yesus dihargai dengan diberi lebih banyak kesempatan untuk melayani Dia, dan kesempatan untuk memanfaatkan dengan baik apa yang telah diberikan kepada mereka. Mereka yang sudah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba Allah, akan memperoleh buah yang membawa kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya adalah hidup yang kekal. Sebaliknya, mereka yang menolak bekerja untuk Dia, yang tidak mengalami pengudusan, hanyalah berpura-pura menjadi hamba-Nya (Matius 25:30).

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 22

Selain aplikasi khusus untuk umat Kristen, perumpamaan tentang talenta juga memiliki aplikasi umum untuk semua umat manusia. Sejak penciptaan umat manusia, setiap individu telah dipercayakan dengan sumber daya waktu dan kekayaan materi. Semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan milik-Nya. Kita bertanggung jawab untuk menggunakan sumber daya dengan cara yang baik dan tujuan yang benar agar nilainya meningkat. Sebagai orang Kristen, kita juga memiliki sumber daya yang paling berharga – Firman Tuhan. Jika kita percaya dan memahami Dia, dan menerapkan Firman-Nya sebagai penatalayan yang baik, kita menjadi berkat bagi orang lain dan nilai dari apa yang kita lakukan berlipat ganda. Kita bertanggung jawab kepada Tuhan atas penggunaan semua karunia-Nya.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” Filipi 2: 12-16

Mendukakan Roh Kudus berarti menolak pertolongan Allah

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam Efesus 4:30 ketika dia memperingatkan kita untuk tidak “mendukakan Roh Kudus Allah.” Apa artinya? Ketika kita berdosa, Roh Kudus mengalami kesedihan dengan cara yang sesuai dengan keilahian-Nya. Dia tidak tahan dengan kehadiran dosa dan membencinya ketika kita, tempat kediaman-Nya, melakukan pelanggaran (Habakuk 1:13). Namun, meskipun kenyataan dukacita-Nya membuktikan kepribadian Roh, dukacita-Nya tidak persis sama dengan dukacita kita. Roh tidak dapat dilumpuhkan oleh dukacita, dan dukacita-Nya selalu kudus, tak ternodai oleh dosa, kecemburuan yang tidak saleh, dan segala kekurangan lain yang sering menyertai dukacita manusia. Kesedihannya, pada akhirnya, adalah sebuah misteri. John Calvin dalam buku bimbiangan Alkitabnya berkomentar, “Tidak ada bahasa yang dapat secara memadai mengungkapkan kebenaran yang khidmat ini, bahwa Roh Kudus bersukacita dan bergembira karena kita, ketika kita taat kepada-Nya dalam segala hal, dan tidak berpikir atau berbicara apa pun, kecuali apa yang murni dan kudus; dan, di sisi lain, sedih ketika kita mengakui sesuatu yang tidak layak untuk panggilan kita ke dalam pikiran kita.”

Roh Allah sangat peka terhadap dosa karena kedekatan hubungan-Nya dengan kita, mereka yang telah diselamatkan dan ditetapkan sebagai umat Tuhan yang kudus (1 Petrus 1:13-16). Roh memeteraikan kita “untuk hari penyelamatan” (Efesus 4:30; lihat juga 1:13–14) . Dia berdiam di dalam kita ketika kita percaya kepada Kristus Yesus, menandai kita sebagai umat Allah yang akan terhindar dari murka ilahi pada hari penghakiman. Melalui karya pengudusan Roh Kudus, kita semakin diserupakan dengan gambar Juruselamat kita. Untuk kembali ke pola hidup lama yang sepenuhnya didominasi oleh dosa tidak mungkin bagi semua orang yang telah dimeteraikan oleh Roh (Roma 8:29-30). Namun, selama di dunia orang Kristen pun dapat jatuh ke dalam dosa yang disengaja, yang mendukakan Roh, dan yang menimbulkan jarak antara Dia dan kita.

Pengakuan Westminster Bab 10 menyatakan bahwa Allah berkenan memanggil semua orang yang telah dipilih-Nya untuk beroleh hidup yang kekal, pada waktu yang telah ditentukan dan disetujui-Nya. Dia dengan ampuh, melalui Firman dan Roh- Nya, mengalihkan umat-Nya dari dalam keadaan yang ditandai dosa dan maut menurut kodratnya, menuju ke rahmat dan keselamatan oleh Yesus Kristus. Dia menerangi akal budi mereka dengan cara rohani dan yang menyelamatkan, agar memahami hal-hal yang rohani. Dia membaharui kehendak mereka dan dengan kekuatan-Nya yang mahakuasa mengarahkan mereka pada apa yang baik. Dia menarik mereka dengan ampuh kepada Yesus Kristus. Namun, hal itu dilakukan-Nya sedemikian rupa, hingga mereka datang dengan sukarela, karena mereka dibuat rela oleh anugerah-Nya.

Roh Kudus adalah oknum Ilahi yang membimbing kita dalam kehidupan sehari-hari dengan kelembutan-Nya. Ia tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu, tapi memberi kesadaran akan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan apa yang yang merupakan dosa. Tanpa Roh Kudus kita tidak mungkin bisa:

  • Lahir baru
  • Mengakui bahwa Yesus itu Tuhan
  • Menang atas dosa
  • Maju dalam hidup Kristen
  • Memperoleh kebijaksanaan yang benar
  • Mempunyai karunia Roh
  • Menghasilkan buah-buah Roh
  • Bangkit dari kematian

Begitu banyak apa yang bisa dilakukan oleh Roh Kudus, tetapi kita mungkin sering kurang mau untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus dalam hidup kita. Mungkin kita cenderung memberi perhatian jika Roh Kudus memberikan sesuatu yang kita harapkan atau sukai saja. Kita sering ingin membatasi cara kerja Roh Kudus, seakan Roh Kudus bukanlah Tuhan.

Apakah Roh Kuudus adalah Tuhan? Bagi kita yang biasa ke gereja di Indonesia, ayat di bawah ini mungkin tidaklah asing untuk kita. Setiap akhir kebaktian, pendeta yang bertugas akan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan salam berkat yang juga diucapkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” 2 Korintus 13: 14

Mengingat doktrin alkitabiah tentang Tritunggal, kita tahu bahwa setiap pribadi dari Ketuhanan Tritunggal menyukai apa yang dilakukan oleh yang lain. Apa yang diucapkan Paulus dalam ayat ini menyatakan adanya kesatuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus; satu Tuhan yang kita kenal sebagai Allah Tritunggal. Jika kita mengenal Allah Bapa yang menciptakan seisi bumi dan alam semesta, dan mengingat pengurbanan AnakNya di kayu salib ganti dosa kita, Roh Kudus sering kali dirasakan sebagai bagian Allah yang kurang bisa dimengerti sepenuhnya. Roh Kudus ada beserta kita, tetapi agaknya kita kurang menyadari bahwa hidup rohani kita bergantung kepada-Nya.

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Dalam kehidupan yang serba sibuk ini, sebagian umat Kristen juga mengalami berbagai persoalan yang membuat mereka hidup dan bertingkah laku seperti orang yang belum percaya. Ada yang mungkin terjebak dalam kebingungan dan keputusasaan. Sebaliknya, ada pula yang tenggelam dalam kesukaan dan kebebasan duniawi. Bahkan, ada orang Kristen yang percaya bahwa cara hidupnya yang amburadul adalah sesuai dengan penetapan Tuhan. Dengan demikian, mereka lupa bahwa orang-orang yang sudah dibimbing Roh Kudus kearah keselamatan, sebenarnya adalah tempat kediaman Roh Kudus, yang bisa didukakan oleh perbuatan mereka.

Sebagian kecil orang Kristen yang sangat ekstrem dalam meninggikan kedaulatan Tuhan mungkin tidak yakin bahwa kita bisa mendukakan Roh Kudus, karena sebagai oknum Tuhan yang menetapkan segalanya, tentunya Tuhan tidak bisa terkejut atau sedih karena apa yang sudah diketahui-Nya dan direncanakan-Nya sebelum bumi diciptakan. Tuhan yang menetapkan tidak mungkin menyesali tindakan-Nya, begitu alasan mereka. Orang-orang ini juga percaya bahwa proses kedewasaan Kristen dilakukan oleh Roh Kudus secara sepihak (monergistic) sehingga kita tidak perlu berusaha keras untuk melakukan apa yang baik, yang mrenyenangkan Dia, karena Dialah yang menetapkan segalanya. Selain itu, mereka mungkin masih tidak percaya bahwa setelah lahir baru manusia bisa melakukan apa yang benar-benar baik. Dengan demikian, mereka berpikir bahwa keadaan yang tidak baik dalam hidup mereka sudah tentu sepadan dengan anugerah-Nya. Pandangan fatalis ini sudah tentu bukanlah apa yang diajarkan Alkitab.

Mereka yang mengatakan pengudusan bersifat monergistik ingin melindungi karakter pengudusan yang anggun dan supranatural. Sebaliknya, mereka yang mengatakan pengudusan itu sinergis ingin menekankan bahwa kita harus bekerja sama secara aktif dengan kasih karunia dalam pengudusan. Penekanan ini keduanya benar. Namun, kita lebih baik mempertahankan kedua poin ini dengan penjelasan yang hati-hati daripada dengan istilah yang biasanya digunakan dalam kontroversi teologis yang berbeda. Pengudusan adalah karunia Allah yang murah hati dan membutuhkan kerja sama aktif kita.

Pengakuan Westminster Bab 8 menjelaskan bahwa dalam diri mereka yang dipanggil dengan ampuh dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, dan mereka dikuduskan lebih jauh, sungguh- sungguh dan secara perseorangan, oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus, melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Kuasa seluruh tubuh dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah yang menyelamatkan, menuju ke praktik kekudusan yang sejati dari mereka yang mau menaati firman Tuhan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

Lebih lanjut, pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan. Dari situlah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging. Dalam peperangan rohani ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka umat Kristen bisa mengalami kemenangan dalam berbagai segi hidupnya.

Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia bukanlah kuasa Tuhan, tetapi Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataan-Nya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepada-Nya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat jika kita perlahan-lahan menjauhkan diri dari Tuhan dan menuruti keinginan daging kita.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, sebagai orang Kristen, kita masih mungkin jatuh ke dalam dosa yang signifikan, yang kita sengaja, yang mendukakan Roh, yang membuat jarak antara Dia dan kita. Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahan-Nya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit (Yesaya 63:10). Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolongan-Nya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah. Tanpa bimbingan Roh, hidup orang Kristen adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita hendaklah membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. “Hendaklah” adalah suatu perintah Tuhan yang harus dilakukan untuk kebaikan kita sendiri. Hal-hal yang sedemikian membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firman-Nya. Dengan hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan. Biarlah kita sadar bahwa Allah sudah memberikan Roh Kudus kepada kita melalui pengurbanan Yesus. Roh Penolong sekarang tinggal didalam diri tiap-tiap orang percaya. Karena itu kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk hidup sesuai dengan apa yang dibisikkan-Nya kepada kita, agar Ia mau bekerja makin hebat dalam mengubah hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupai Kristus.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10