Bila perasaan sudah tumpul

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.” Efesus 4: 19

Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah “orang yang tidak berperasaan”, yang artinya orang yang tidak lagi peka atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang sedemikian adalah orang yang “kebal”, yang tidak lagi dapat merasakan hal-hal yang kurang baik yang dilakukannya kepada orang lain. Sebagai contoh, baru-baru ini ada seorang Youtuber yang terkena sanksi pidana pelecehan elektronik. Orang itu, saking getolnya membuat video-video sensasionil untuk disiarkan melalui Youtube, sampai-sampai tidak sadar bahwa ia sudah melampaui batas hukum yang menyangkut perlindungan nama baik orang lain.

Anda mungkin berpikir bahwa orang-orang yang sedemikian tentunya bukan orang Kristen. Tetapi itu keliru. Malahan banyak orang Kristen yang merasa sudah menjadi orang yang diselamatkan, tidak lagi mau pusing untuk memikirkan tindak tanduknya. Mereka mungkin mengira bahwa karena sudah mengaku Kristen, Tuhan pasti sudah memilih mereka sebagaimana adanya, dan memberi pengampunan atas dosa apa pun yang diperbuat mereka. Perasaan mereka bisa menjadi tumpul, sampai-sampai mereka tidak sadar jika melanggar etika, melanggar hukum atau menyakiti hati orang lain.

Ada banyak faktor yang bisa membuat orang kehilangan perasaan. Biasanya, faktor-faktor seperti lingkungan, kebiasaan, budaya, pendidikan, hukum dan agama mempunyai andil dalam membentuk perasaan seseorang. Tetapi, pada akhirnya setiap orang tentunya bertanggung jawab atas kehidupannya. Adalah kenyataan bahwa karena banyaknya hal yang dianggap biasa atau normal, lambat laun membuat orang tidak peka dan kemudian kehilangan perasaan. Apalagi kalau hal-hal yang tidak baik itu justru menjadi sesuatu yang membuat mereka terkenal atau bisa memberi penghasilan besar. Dengan demikian, hal- hal yang bisa membuat orang lain mengerutkan dahi atau menghela nafas, untuk mereka adalah soal yang tidak lagi perlu dipikirkan.

Jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, ada banyak contoh di mana orang tidak lagi merasa canggung untuk berbuat dosa. Di dunia ini, mereka yang melakukan korupsi, perbuatan asusila, perampasan, pencurian, penipuan, pemfitnahan dan semacamnya sering muncul di koran, dan para pelakunya mungkin tidak lagi menakuti sanksi atau hukuman yang ada. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari, hubungan antar manusia juga berubah sehingga apa yang dulu tidak baik, sekarang dianggap sebagai bagian hak azasi, kebebasan atau budaya manusia modern.

Mereka yang membaca hal-hal ini di media, mungkin juga sudah tidak lagi heran dan karena itu kurang sensitif atas penyebab dan akibat perbuatan jahat semacam itu. Masyarakat dalam hal-hal tertentu justru menganggap apa yang dulunya jahat atau dosa sebagai sesuatu yang lumrah, dan malahan memusuhi orang yang berusaha mengingatkan bahwa firman dan hukum Tuhan tidaklah berubah di sepanjang zaman.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam satu segi kita mungkin sudah mengalami perubahan, yaitu dari tidak mengenal Yesus, kita sekarang sudah mengakui Dia sebagai Juruselamat kita. Walaupun demikian, mengakui dengan mulut saja belumlah berarti bahwa kita sudah menerima Dia dengan sepenuhnya. Jika kita tidak membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita, hidup kita tidaklah akan berubah menjadi semakin baik. Sebaliknya, jika Roh Kudus bekerja dengan sepenuhnya dalam hati kita, Ia akan membimbing kita hingga perasaan kita tidak akan menjadi tumpul.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4: 17

Tugas setiap umat Tuhan

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Sebagai seorang dosen saya sudah mengajar di Australia sejak lama. Selama itu, saya mempunyai banyak murid yang sekalipun mempunyai sifat yang berbeda-beda, tetap mempunyai rasa hormat kepada dosennya. Walaupun demikian, saya dapat merasakan adanya perubahan sikap murid terhadap dosen-dosen mereka sejak pemerintah pada tahun 1989 mengharuskan semua mahasiswa membayar sebagian biaya pendidikan universitas mereka. Jika dulu para murid mau memperhatikan pendapat dosen mereka, di zaman ini mereka justru sering menuntut dosen untuk mendengarkan suara mereka. Dengan keadaan ini, untuk bisa menjadi dosen yang baik, orang haruslah mau terus-menerus belajar cara untuk mengajar murid secara efektif.

Dalam kehidupan bergereja, suasana tentunya berbeda dengan universitas. Pada umumnya jemaat menghormati para pemimpin gereja, penatua dan pendeta. Walaupun demikian, dengan perubahan sosial, hukum, teknologi dan pendidikan, para pemimpin gereja sekarang sering juga harus menghadapi berbagai komentar, kritik dan bahkan tantangan yang berasal dari jemaat atau orang Kristen yang lain. Perdebatan dan pertengkaran sering terjadi di antara umat Kristen baik dalam soal organisasi maupun teologi, baik secara langsung atau melalui media.

Menjadi hamba Tuhan dan pimpinan gereja mungkin tidaklah semudah 50 tahun yang lalu. Tetapi pada zaman rasul-rasul keadaan gereja bukannya serba tenang dan tenteram. Justru pada saat itu gereja baru mulai tumbuh dan karena itu berbagai masalah internal dan eksternal sering menyebabkan ketegangan dan pertengkaran. Peraturan gerejani dan organisasi pada waktu itu masih sangat minim, dan masyarakat tentunya masih bergumul dalam hal etika dan hukum. Walaupun demikian, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan beberapa prinsip kehidupan dan kelakuan yang masih relevan hingga sekarang.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang.

Salah satu hal yang menimbulkan perdebatan adalah keyakinan yang diperoleh melalui pendalaman teologi. Teologi adalah ilmu yang mempelajari segi-segi ketuhanan, tetapi ini belum tentu bersangkutan dengan iman Kristen. Apa yang berguna untuk mendalami firman Tuhan dalam Alkitab adalah teologi Kristen. Ada banyak pandangan teologi Kristen yang menyebabkan timbulnya berbagai aliran gereja. Tidak mengherankan bahwa sering terjadi adanya perdebatan antar umat Tuhan yang berbeda teologi. Perbedaan ini bukan hanya terjadi antar aliran gereja, tetapi juga antar pengikut satu gereja, karena setiap orang yang belajar teologi agaknya mempunyai pengertian yang, sedikit atau banyak, berbeda dengan yang lain. Untunglah, teologi bukanlah apa yang menyelamatkan kita.

Bagaimana kita harus menghadapi mereka yang gemar mendebat firman Tuhan? Kita harus mampu mengajar dengan sabar dan dengan lemah lembut dan dapat menuntun orang yang belum percaya, sebab mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Kita harus memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran. Di lain pihak, jika kita menghadapi mereka yang sudah percaya, tetapi belum tumbuh dalam iman dan pengertian, biarlah kita menjadi guru yang baik yang bisa memberi contoh yang baik melalui cara hidup kita. Biarlah firman Tuhan hari ini memberi kita insentif untuk bisa menjadi terang dunia!

Dari hati turun ke mulut

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 18 – 19

Pemilihan umum di mana pun selalu disertai kampanye yang menyebabkan hangatnya dunia politik. Memang dalam saat kampanye, biasanya dua kubu politik saling menyerang dengan berbagai pernyataan yang seolah membagi negara menjadi dua. Berbagai pernyataan lisan maupun tertulis dikeluarkan untuk menyerang, mengolok, menghina dan merendahkan lawan politik. Walaupun demikian, sebenarnya hal olok-mengolok itu bukan saja terjadi di dunia politik, tetapi di berbagai kalangan masyarakat. Bahkan anggota dua gereja yang saling bertentangan aliran bisa saja terlibat dalam serang-menyerang dengan menggunakan kata-kata yang tidak sedap.

Dalam hidup sehari-hari pun, banyak orang Kristen yang terperangkap dalam kebiasaan memakai istilah-istilah tertentu untuk menjuluki mereka yang kurang disenangi. Sebutan kadrun, onta, anjing, cebong, kampret dan sebagainya sering kali dipakai untuk memanggil orang yang tidak disenangi atau orang yang dipandang lebih rendah derajatnya: orang-orang ditolak atau persona non grata. Mungkin mereka tidak ingat bahwa orang Yahudi pernah memanggil Yesus dengan berbagai nama dan sebutan yang tidak pantas. Kata-kata yang berasal dari hati itu akhirnya diwujudkan dengan penyaliban Yesus.

Jika kecerobohan dalam memilih kata-kata bisa melukai hati orang lain, ada orang-orang yang justru tidak peduli akan apa yang dikatakannya. Mereka memakai perkataan yang tidak sepatutnya, tetapi tidak terpengaruh atas apa yang diperbuatnya. Dalam bahasa Inggris, orang yang ceroboh dalam memakai kata-kata dan perbuatan, yang bisa membuat malu atau menyakiti orang lain, sering disebut sebagai meriam lepas ikatan atau loose cannon. Mengapa begitu? Pada abad 17-19, kapal perang yang terbuat dari kayu mempunyai meriam sundut sebagai senjata utamanya. Meriam ini dipasang di atas beberapa roda dan diikat dengan tali ke dinding kapal agar tidak terhentak ke belakang sewaktu dipakai untuk menembak kapal musuh. Menurut cerita, meriam yang lepas ikatannya dapat mencelakai pemakainya dan juga merusak kapal itu sendiri.

Sebagai manusia kita adalah makhluk yang istimewa karena kita adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai tata bahasa dan tata suara untuk berkomunikasi. Banyak makhluk lain bisa berkomunikasi dengan sesamanya melalui suara, bau atau gerakan tubuh, tetapi tidak ada yang bisa menggunakan bahasa dan suara untuk menyampaikan pesan secara sistimatis. Dengan kelebihan manusia dalam hal berkomunikasi, manusia bisa menggunakan kata-kata secara tertulis atau lisan untuk menyatakan perasaannya, entah itu rasa senang ataupun rasa berang. Bahasa, selain dipakai untuk memuji, menghibur dan menyenangkan orang lain, juga bisa digunakan untuk memaki, menipu dan bahkan memfitnah orang lain. Jika lidah dikatakan seperti pedang (Amsal 12: 18), di zaman internet ini perkataan kita bisa membawa akibat yang jauh lebih besar melalui berbagai sosial media seperti Youtube, Twitter, Facebook dan Whatsapp. Apa yang dinyatakan atau diberitakan orang dalam sosial media bisa dengan mudah menghancurkan perasaan dan hidup orang lain.

Apa yang kurang disadari manusia adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang bisa mendengar apa saja yang kita ucapkan, baik secara lisan maupun tertulis. Ia tahu jika kita memakai lidah kita secara sembarangan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita. Sebagai orang Kristen, kita mungkin ingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa perkataan kita adalah pencerminan isi hati yang bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan yang mahasuci menjadi renggang.

Sayang sekali, di zaman ini kita justru sering melihat para pemimpin agama dan tokoh masyarakat yang seakan berlomba-lomba untuk menyatakan pendapatnya dengan tanpa berpikir dalam-dalam baik secara langsung maupun melalui berbagai media.. Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu bahwa perkataan yang keliru akan sukar untuk ditarik kembali, dan apa yang sudah dirusakkan oleh sebuah loose cannon adalah sukar untuk diperbaiki.

Firman Tuhan kali ini jelas mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen dalam hal ini adalah untuk mawas diri, dan selalu hidup dalam bimbingan Tuhan, sehingga hati kita diisi dengan apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Hari demi hari, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh dalam iman dan kasih melalui bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang ada dalam hati kita akan selalu terpancar dari mulut kita sebagai ucapan kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4: 6

Dari mana datangnya pencobaan?

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13

Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal. Peribahasa itu dimaksudkan untuk menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa yang terjadi dalam hidupnya.

Dikatakan bahwa manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran agama-agama di luar agama Kristen. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Betulkah?

Yakobus memulai surat ini dengan memerintahkan orang Kristen untuk melihat pencobaan (troubles, trials atau penderitaan) dalam hidup kita sebagai hal yang bermakna dan pada akhirnya bermanfaat. Perjuangan selama hidup kita di dunia adalah kesempatan untuk memercayai Tuhan di tingkat yang lebih dalam. Godaan yang melekat pada pencobaan adalah untuk kurang memercayai Tuhan. Kita mungkin memutuskan bahwa Dia tidak cukup kuat untuk menyertai kita, tidak setia untuk memenuhi kebutuhan kita, tidak berbelas kasih tentang rasa sakit dan duka hati kita. Apakah Tuhan itu baik? Apakah Dia mengasihi? Apakah Dia berkuasa?

Yakobus berbicara tentang bagaimana kita harus memilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan pada hari-hari terburuk kita. Jika kita memutuskan untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa Tuhan tidak setia, kita dapat menyatakan kemerdekaan kita dari-Nya dengan memilih untuk tidak taat. Jika kita memutuskan Dia dapat dipercaya, kita akan bergerak lebih dekat kepada-Nya mencari lebih banyak bantuan dan dukungan. Dalam keduanya, kitalah yang harus mengambil keputusan.

Di sini Yakobus menjelaskan bahwa menyalahkan Tuhan karena menyebabkan kita untuk menolak-Nya, dengan membiarkan pencobaan masuk ke dalam hidup kita, bukanlah tanggapan yang benar. Tuhan tidak pernah mengatur peristiwa kehidupan kita dengan maksud untuk memikat kita menjauh dari diri-Nya. Dia selalu mengajak kita untuk bergerak lebih dekat. Itulah dia. Jika Tuhan membiarkan adanya pencobaan, itu bukanlah untuk menjauhkan kita dari Tuhan, tetapi untuk mendekatkan kita kepada-Nya.

Orang Kristen tidak pernah dijamin kehidupan yang lebih mudah daripada orang yang tidak percaya. Justru sebaliknya: menjadi sahabat Allah berarti menjadi musuh dunia yang jatuh (Yohanes 16:1-4). Jadi, pencobaan akan datang (Yohanes 15:18-20). Pencobaan akan menguji iman kita. Tetapi godaan untuk tidak setia kepada Tuhan selama kesulitan bukanlah dari-Nya. Dia tidak bisa dicobai oleh kejahatan; Dia tidak mencobai orang dengan kejahatan. Jadi salahlah pendapat bahwa segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan.

Ayat dari Yakobus 1: 13 di atas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan jahat orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu. Jadi dari mana datangnya godaan? Ayat 14 akan menjelaskan dari mana sebenarnya godaan untuk menolak Tuhan itu berasal. Dari manusia sendiri.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencana-Nya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang mahatahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang mahakuasa dapat mencapai tujuan-Nya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.

Setiap manusia bebas untuk melakukan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Malahan dalam kebebasannya, setiap manusia cenderung berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita seharusnya sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Roh Kudus ada dalam diri kita dan kita tidak boleh mendukakan-Nya. Dengan bimbingan Roh Kudus kita bisa hidup menurut firman-Nya dan boleh yakin bahwa Tuhan yang mahakasih akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik, sekalipun kita mengalami hal-hal yang menekan hidup kita pada saat ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Jangan hidup seenaknya jika tidak ingin kecewa

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 27

Rachmat Kartolo adalah seorang penyanyi pop kondang di era 60an. Pada era selanjutnya Rachmat lebih dikenal sebagai bintang film dan sutradara sehingga namanya mulai surut sebagai penyanyi. Namanya kembali melejit sebagai penyanyi setelah kembali ke dapur rekaman pada tahun 1984 lewat album “Patah Hati”. Lagu ini menggambarkan rasa patah hati dan kecewa ketika seorang pemuda ditinggal kekasihnya.

patah hatiku jadinya
merana berputus asa
merindukan dikau yang tiada
terbayang setiap masa

oh begini akhirnya
kasih memutus cinta
apakah aku berdosa aduh
derita menanggung rindu

Memang kekecewaan ada berbagai ragam, tetapi kekecewaan yang paling berat mungkin jika kita ditolak oleh orang yang kita cintai. Patah hati? Bertepuk sebelah tangan? Apa pun istilahnya, jelas bahwa penolakan itu akan membuat kita sedih dan kecewa.

Ayat di atas seolah menggambarkan hal yang serupa. Orang Kristen yang sibuk mengabarkan injil kepada orang lain, tetapi kemudian harus kecewa karena ia pada akhirnya ditolak Tuhan sedangkan orang lain diterima-Nya. Ditolak? Tidak dapat masuk ke surga? Jika memang demikian tentunya sangat menyedihkan! Mereka yang kita injili memperoleh keselamatan dan masuk ke surga, sedangkan kita yang lebih dulu mengenal Kristus ternyata ditolak-Nya dan masuk ke neraka.

Memang banyak orang Kristen yang memakai ayat ini untuk meyakinkan mereka yang hidup kekristenannya mulai kendor. Dengan maksud yang baik, mereka memperingatkan bahwa jika orang Kristen tidak berhati-hati, Tuhan akan mencabut hak mereka untuk masuk ke surga. Tuhan akan menolak mereka karena mereka mundur dari hidup Kristen yang berdisiplin. Benarkah begitu?

Kata “ditolak” dalam alkitab berbahasa Inggris mungkin bisa diterjemahkan sebagai “disqualified” atau “disqualified for prize” yang berarti “didiskualifikasi” atau “tidak diberi hadiah”. Dengan demikian, “ditolak” dalam hal ini bukan seperti orang yang diusir atau ditelantarkan. Bukan seperti orang yang bertepuk sebelah tangan.

Jika seseorang bertobat dan mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya, ia akan memperoleh keselamatan dari Tuhan. Itu sebenarnya karena belas kasihan Tuhan semata dan bukannya karena perbuatan baik orang itu. Di hadapan Tuhan semua orang adalah orang yang berdosa dan sudah kehilangan kemuliaan. Dalam pandangan Tuhan tidak ada perbuatan baik manusia yang dapat dihargai dengan keselamatan. Dengan demikian, Tuhanlah yang sudah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika kita masih berdosa. Tuhan sudah menerima kita sebagai anak-anak-Nya atas kehendak-Nya sendiri.

Mereka yang bertepuk sebelah tangan adalah orang yang sudah menyatakan cintanya kepada orang lain, tetapi cinta itu kemudian ditolak. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, bukanlah kita yang menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Kitalah yang sudah menerima pernyataan cinta dari Tuhan. Dengan demikian tidak mungkin bagi kita untuk bertepuk sebelah tangan karena Tuhan tidak akan mengubah keputusan-Nya. jika Ia sudah memutuskan untuk menyelamatkan kita karena iman kita, kasih dan kesetiaan-Nya tetap untuk selama-lamanya.

Apa yang bisa terjadi pada hidup orang Kristen setelah menerima uluran tangan kasih Tuhan adalah hidup yang secara potensial akan dipenuhi oleh kebahagiaan dalam Dia. Berkat Tuhan dalam segala bentuk akan dicurahkan kepada mereka yang setia dalam hidup yang mengikuti firman-Nya. Kepada mereka yang menggunakan hidup mereka sesuai dengan perintah Kristus, Tuhan menjanjikan kekuatan, penghiburan, kedamaian dan kecukupan. Mereka yang hidup dalam Tuhan juga akan mendapat kesempatan untuk melayani Tuhan karena Tuhan mau memakai mereka yang setia. Kabar baik inilah yang kita sampaikan kepada orang-orang yang kita injili.

Dalam kenyataannya tidak semua orang Kristen mau menggunakan hidupnya sejalan dengan firman Tuhan setiap hari. Hidup yang sedemikian mungkin terasa kurang bebas, dan karena itu banyak orang Kristen yang menjadi orang yang tidak mau berlatih dalam kedisiplinan firman Tuhan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita yang sudah diselamatkan bahwa hidup yang sesuai dengan firman Tuhan akan membawa banyak berkat yang dapat kita rasakan. Karena itu, jika kita tidak mau kehilangan kesempatan untuk menerima berkat Tuhan dan untuk melayani Dia, baiklah kita tetap bertekun dalam hidup dalam terang Kristus. Sesudah menerima jaminan keselamatan kita tidak boleh hidup seenaknya!

Berhati-hatilah supaya jangan jatuh!

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” 1 Korintus 10: 12

Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus merupakan salah satu dari ketiga surat (1 & 2 Korintus serta Roma) yang menempati posisi sentral dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab. Surat Korintus yang pertama ditulis setelah Paulus menerima kabar buruk dari orang-orang Kloe. Berita buruk tersebut adalah timbulnya persoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upacara keagamaan kafir, penghakiman di depan orang-orang kafir, dan pelacuran. Selain masalah-masalah etis dan moral, surat ini juga merupakan surat penggembalaan untuk menegur jemaat di Korintus yang memiliki berbagai macam karunia, sehingga menjadikan jemaat satu dengan yang lainnya saling menyombongkan diri.

Gereja di Korintus didirikan pada perjalanan penginjilan Paulus yang kedua, sekitar musim gugur tahun 52 Masehi, seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 18:1-18. Di Korintus, Paulus tinggal selama 18 bulan, mengasuh gereja yang baru ini, sambil sehari-hari bekerja sebagai tukang membuat tenda. Paulus menyebut orang Korintus ‘tidak kekurangan dalam suatu karunia pun’. Atas keadaan inilah, hidup jemaat di Korintus menjadi sangat nyaman, namun sikap ini juga yang membuat jemaat di Korintus menjadi congkak, puas diri, sehingga keadaan jemaat menjadi kacau. Gereja Korintus yang sudah bersekutu dengan iblis menjadi porak poranda (1 Korintus 10: 20).

Bagaimana orang Kristen bisa dikacaukan oleh iblis? Ini yang sering kurang disadari orang Kristen sampai zaman ini. Keadaan kita di zaman ini tidak lebih baik dari keadaan Korintus di zaman rasul Paulus. Sampai sekarang, iblis yang digambarkan sebagai singa yang mengaum-ngaum, mencari orang-orang yang dapat ditelannya. Iblis bukanlah singa dan tidak dapat menelan manusia, tetapi iblis adalah roh yang berusaha menjauhkan manusia dari bimbingan Tuhan melalui Roh Kudus. Dengan segala triknya, iblis mengancam umat Kristen dengan apa yang terlihat menakutkan, memikat ataupun hal-hal lain yang bisa membuat mereka lengah.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Sebelum jatuh, iblis adalah salah satu malaikat Tuhan yang paling rupawan, yang kemudian kita kenal sebagai Lucifer walaupun nama itu tidak ada dalam naskah Alkitab. Satu hal yang kita harus sadari adalah bahwa iblis adalah roh dan karena itu kita sebenarnya tidak dapat melihatnya dengan mata kita selama kita hidup di dunia.

Berbagai gambaran tentang iblis dan berbagai setan pengikutnya biasanya berupa sesuatu yang terlihat menakutkan atau mengerikan. Karena mereka adalah roh, mungkin gambaran-gambaran itu berkaitan dengan imajinasi manusia, yang berbeda-beda menurut pengaruh mistis setempat. Tapi memang iblis dapat menampilkan diri dengan berbagai manifestasi.

Jika iblis ingin membuat manusia menjadi pengikutnya, ia sering menampilkan diri dalam bentuk yang bisa diterima manusia, sehingga manusia tidak berusaha menghindarinya. Bentuk yang jahat dan mengerikan mungkin hanya bisa menundukkan atau menarik orang-orang tertentu, tetapi apa yang terlihat manis dan indah memikat, apa yang terlihat berguna, atau apa tidak terlihat, akan lebih mudah diterima kebanyakan orang.

Hari demi hari manusia menemui iblis dan roh-roh jahat dalam berbagai bentuk yang tidak membuat mereka takut. Malahan, iblis bisa bekerja dibalik kemajuan-kemajuan dibidang teknologi, ilmu pengetahuan, kedokteran, kemasyarakatan, ekonomi, politik, filsafat dan kebudayaan, sehingga manusia terbuai dan melakukan dosa-dosa yang menjauhkan mereka dari jalan keselamatan.

Iblis bisa juga memakai kedok cinta kasih untuk memikat semua orang yang mendambakan kedamaian hidup di dunia. Dengan demikian, ada filsafat yang mengajarkan bahwa perdamaian di bumi adalah apa yang harus dituju manusia dengan segala cara. Selain itu, ada juga filsafat yang mengajarkan bahwa semua orang pada hakikatnya baik dan tidak memerlukan penebusan dosa. Banyak yang mengajarkan bahwa manusia dapat diselamatkan melalui perbuatan amalnya. Belum lagi ajaran “zaman baru” atau New Age, yang sering mengajarkan bahwa manusia bisa menemukan Tuhan dalam dirinya. Semua itu menunjukkan bahwa iblis bisa bekerja secara tidak terlihat, melalui akal budi manusia sehingga manusia berbuat dosa.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus sadar bahwa iblis dan roh-roh jahat ada di mana-mana, bukan hanya di tempat yang angker dan gelap, tetapi juga di tempat yang terang dan dianggap suci. Walaupun kelihatannya baik, apa yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan dan kasih Kristus mungkin adalah penampilan iblis. Tetapi, jika kita selalu hidup dalam iman, mendekatkan diri pada Roh Kudus dan berpegang kepada firman Tuhan, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari Tuhan.

Hidup kita tidak lebih baik dari hidup orang Korintus

Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. 1 Korintus 5: 8

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus sering kali terombang-ambing d iantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Berkat korespondensi rasul Paulus yang ekstensif dengan jemaat Korintus, kita mendapat informasi yang lebih baik tentang gereja di Korintus daripada gereja abad pertama mana pun. Dalam 1 Korintus khususnya, rasul membahas berbagai masalah yang memengaruhi komunitas orang percaya, termasuk perpecahan, litigasi, makanan yang dipersembahkan kepada berhala, hal-hal asusila, dan perpecahan kelas pada jamuan makan bersama. Dengan melakukan itu, dia memberi kita gambaran yang jelas tentang kehidupan gereja mula-mula. Tetapi kita tidak boleh terkejut jika Paulus masih hidup ia akan mengirim surat serupa kepada gereja di zaman ini.

Jemaat di Korintus mencakup beberapa orang Yahudi, tetapi sebagian besar terdiri dari orang-orang non-Yahudi yang bertobat. Pernyataan Paulus dalam 1 Korintus 1:26 memperjelas bahwa mayoritas anggota gereja adalah golongan bawah, sekalipun ada yang berpendidikan tinggi, berkuasa, dan bahkan memiliki keturunan bangsawan. Istilah-istilah yang ia gunakan memiliki jangkauan sosial ekonomi yang cukup luas dan dengan demikian tidak selalu menunjuk pada golongan elit di dalam gereja, tetapi mereka ini, sekalipun jumlahnya kecil, memang agak lebih istimewa daripada yang lain.

Perpecahan sosial yang ditunjukkan dalam 1 Korintus 1:26 mungkin telah menjadi sumber gesekan di dalam gereja. Pembagian dalam perjamuan bersama, yang digambarkan Paulus dalam 1Korintus 11:17-34, mungkin adalah pembagian sosial ekonomi, dengan anggota gereja yang lebih miskin menerima sedikit makanan, sedangkan yang lebih kaya kenyang (lihat 1 Korintus 11:21, di mana “ yang satu lapar dan yang lain mabuk”).

Jemaat di Korintus jelas mengalami ketegangan internal. 1Korintus 1-4 mencerminkan masalah faksionalisme, di mana Paulus mengidentifikasi pihak-pihak terpisah yang mengklaim kesetiaan alternatif kepadanya, Apolos (seorang pengkhotbah Kristen Yahudi), Petrus (salah satu murid Yesus), atau Kristus (menurut pemahaman mereka sendiri, bukan pemahaman Paulus). Masalah yang sangat memecah belah adalah makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Beberapa percaya bahwa mereka memiliki “kebebasan” untuk makan apa pun dan di mana pun mereka inginkan, sementara yang lain menganggap makan makanan yang dikorbankan untuk berhala adalah dosa dan berbahaya.

Meskipun ada konflik di dalam kelompok, orang-orang Kristen di Korintus menikmati hubungan persahabatan dengan orang luar. Memang, gereja di Korintus terlalu nyaman dengan kemerdekaan yang disukai Paulus. Tetapi, dengan terlibat dalam litigasi, hal-hal asusila, dan berpartisipasi dalam makanan pemujaan berhala, orang-orang Korintus menyesuaikan diri dengan pola perilaku masyarakat yang lebih besar. Dalam surat pertama ini, Paulus mendesak mereka untuk memisahkan diri dengan kebebasan dunia yang mendatangkan kekacauan. Paulus mengajak mereka untuk beralih dari gaya kehidupan lama yang berisi keburukan dan kejahatan, menuju gaya kehidupan baru yang berisi kemurnian dan kebenaran

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apa pun terjadi sampai saat ini bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang sering kali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan memengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele: karena banyaknya orang yang ingin untuk melakukan hal yang terasa nyaman atau menguntungkan, kekacauan kemudian timbul.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang dengan kebijaksanaan harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan dan menguntungkan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Hari ini, jika kita membaca koran atau media apa pun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi di mana-mana. Itu juga terjadi di kalangan umat Kristen dan kehidupan gerejani. Hidup kita tidak lebih baik dari hidup orang-orang Korintus pada zamannya. Melakukan hal-hal yang tidak adil, tidak etis, tidak pantas, dan melawan hukum adalah bagian kehidupan orang modern, termasuk orang Kristen yang ingin hidup nyaman dan sukses.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang bijak, sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Antara fanatisme dan ekstrimisme

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3: 16

Orang yang benar-benar menyukai suatu jenis olahraga bisa dikatakan fanatik. Mereka sangat antusias tentang hal apa pun yang menyangkut olahraganya. Begitu pula orang bisa menjadi penggemar kelas berat dari jenis film, makanan dan hal-hal lain. Mereka juga bisa disebut kaum fanatik. Kata fanatik sebetulnya bisa mempunyai arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”.

Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepak bola di Indonesia, sering kali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Dengan demikian, jika kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya, kata ekstrimis merujuk kepada orang sudah melampaui batas-batas kewajaran, etika, dan hukum dalam usaha untuk mendukung apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorang pun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik adalah orang yang tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar. Ini tidak benar. Ini sebenarnya bukan fanatisme tetapi ekstrimisme. Jika fanatisme adalah baik, ekstrimisme cenderung menyebabkan pertikaian dan kekacauan.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan di atas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang ekstrim, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang ekstrim seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik. Mereka sebenarnya kaum ekstrimis.

Jika dalam fanatisme ada kasih, tetapi dalam ekstrimisme hanya ada kebencian. Pada waktu Yudas datang menjumpai Yesus bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata, Petrus yang fanatik berubah memjadi Petrus yang ekstrimis. Petrus yang membawa pedang, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Tetapi, Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18: 3-11).

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbanan-Nya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3:  16 di atas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firman-Nya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman dalam kasih, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut Yesus Kristus yang fanatik yang tetap mempunyai kasih kepada sesama kita.

Kebenaran Alkitab hanya bisa diterima dengan iman

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pepatah lama menyatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Memang, semakin tua manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan.

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, dan apa yang sudah menjadi tradisi, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dengan demikian, pengalaman yang kita peroleh sekarang juga bisa berguna untuk masa depan. Dengan pengalaman dan kebiasaan yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami dan lazim dilakukan akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan.

Karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman dan kebiasaan seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Bagaimana kita bisa percaya akan hal ini?

Pertama, dengan iman kita percaya bahwa Allah adalah benar (Roma 3:4).

Kedua, karena kita percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang benar, maka firman-Nya adalah kebenaran (Yohanes 17:17). Tidak mungkin Allah yang benar memberikan firman yang tidak benar. Oleh karena itu dengan pengertian akan hal ini kita akan menolak setiap pandangan bahwa firman Allah bisa salah dan atau mengandung kesalahan.

Ketiga, kita percaya bahwa firman Allah dituliskan oleh para penulis Alkitab yang diilhamkan oleh Allah sendiri (2 Timotius 3:16). Alkitab dihembuskan/dinafaskan oleh Allah. Roh Kudus memimpin dan memampukan para penulis Alkitab untuk mencatat wahyu khusus Allah dengan suatu cara yang dapat dipercaya secara mutlak. Karena Alkitab itu dihembuskan/dinafaskan oleh Allah sendiri dan dituliskan oleh para penulis mula-mula yang dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita percaya bahwa naskah-naskah asli dari Alkitab tidak mungkin salah.

Keempat, kita percaya bahwa Allah menjamin bahwa tidak ada bagian dari firman-Nya yang akan berubah dan tidak ada penghilangan atau penambahan bahkan sekecil apa pun. Kita percaya bahwa firman Allah tidak mungkin berubah dan Allah sendiri yang akan memelihara firman-Nya (Matius 5:18, Yohanes 10:35). Tuhan Allah yang telah mewahyukan firman-Nya, yang telah mengilhamkan para penulis Alkitab mula-mula, adalah Allah yang sudah memelihara firman-Nya sehingga kita tetap dapat membaca firman-Nya yang benar dengan bimbingan Roh Kudus, sekalipun perbedaan antar terjemahan Alkitab bisa terjadi dan salah cetak juga bisa ditemui.

Hari ini kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi atau pendapat manusia, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan kemuliaan bagi manusia dan bukannya Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Hal karunia lidah

“Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” 1 Korintus 14: 13-15

Hari Minggu yang baru lalu adalah hari Pentakosta, hari di mana Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus, lima puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Hari Pentakosta adalah hari penting dalam sejarah gereja, bahkan dianggap oleh sebagian denominasi sebagai hari berdirinya gereja, yaitu persekutuan orang percaya.

Sesungguhnya hari turunnya Roh Kudus adalah hari yang penting untuk diperingati, bukan hanya untuk mengenang bagaimana Roh Kudus turun secara luar biasa, dan bersama itu banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi lebih dari itu hari Pentakosta seharusnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan kepada kita dan setiap orang percaya.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1: 8

Pada waktu Yesus menjanjikan datangnya Roh Kudus, apa yang dinyatakan-Nya ialah bahwa para pengikut-Nya akan menerima kuasa dan mereka akan menjadi saksi-Nya di mana saja. Mereka menjadi saksi Yesus melalui perubahan hidup mereka yang menunjukkan sesuatu sudah terjadi. Hidup lama yang berpusat pada diri sendiri sudah berubah menjadi hidup yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Hidup yang dulu sering diisi kekuatiran dan kesedihan, sekarang diisi kebahagiaan dalam Tuhan. Mereka yang dulunya ragu-ragu dalam mengabarkan injil, sekarang menjadi bersemangat dan mati-matian mau bekerja keras di ladang Tuhan. Itu semua menunjukkan bekerjanya Roh Kudus: ada kuasa baru dalam hidup mereka yang percaya.

Banyak orang Kristen yang belum atau tidak merasakan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka. Tidak adanya hal yang istimewa atau spektakuler yang pernah terjadi dalam hidup mereka seolah membuat suatu tanda tanya: apakah mereka benar-benar sudah menjadi pengikut Kristus? Terkadang, mungkin ada juga rasa sedih mengapa jika Tuhan sudah menerima mereka, tidak ada yang terlihat luar biasa dalam hidup mereka?

Bagi sebagian orang Kristen, keinginan untuk mendapatkan tanda bahwa Tuhan benar-benar sudah menyelamatkan mereka dan menyertai mereka adalah begitu besar, sehingga mereka menanti-nantikan datangnya karunia ajaib yang sudah pernah diberikan kepada jemaat Kristen yang mula-mula. Salah satu yang dianggap penting adalah karunia lidah, karena dulu mereka yang mendapatkannya bisa berbicara dalam bahasa-bahasa asing yang sebenarnya bukan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, banyak orang yang berusaha sekuat tenaga, dengan ketekunan berdoa atau dengan cara-cara lain untuk mendapatkannya.

Karunia lidah yang berupa kemampuan berbahasa asing sekarang sudah sangat jarang dijumpai, tetapi karunia berbahasa roh adalah suatu karunia yang sering kita jumpai. Karunia berbahasa roh ada gunanya, walaupun tidak sama dengan kemampuan berbahasa asing. Dalam ayat-ayat di atas, Paulus telah menunjukkan kepada orang-orang Kristen di Korintus mengapa penerapan karunia rohani berbahasa roh selama kebaktian gereja tidaklah mudah. Singkatnya, tidak ada gunanya ketika tidak ada orang yang mengerti kata-kata yang diucapkan. Dia menambahkan dalam ayat-ayat berikutnya bahwa pengecualian untuk aturan ini adalah jika pembicara atau orang lain dapat menafsirkan apa yang dikatakan.

Untuk alasan itu, Paulus memberitahu mereka yang memiliki karunia berbahasa roh untuk berdoa memohon karunia tambahan untuk menafsirkan bahasa roh (1 Korintus 12:10). Karunia ini akan memungkinkan orang percaya untuk secara supernatural memahami apa yang dikatakan dalam bahasa yang tidak dikenal itu dan menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka yang hadir sehingga mereka juga dapat mengerti.

Apa yang dinamakan karunia adalah suatu pemberian yang datang dari Tuhan atas kehendak-Nya semata-mata. Paulus menjelaskan bahwa karunia rohani tidak dapat diperoleh melalui kerja keras atau pelatihan atau dengan melakukan perbuatan baik. Karunia rohani harus diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus. Orang Kristen tidak mampu untuk mendapatkannya dengan usaha sendiri. Itulah mengapa Paulus memberitahu orang-orang yang berbicara dalam bahasa roh untuk berdoa untuk memohon karunia penafsiran.

Tidak dapat disangkal, bahwa mereka yang rajin berdoa sering kali kehilangan kata-kata untuk menyatakan perasaan mereka. Apa yang keluar dari mulut mereka mungkin saja berupa suara yang merupakan bahasa roh yang tidak dapat dimengerti orang lain. Dengan bahasa roh yang seperti itu, mereka lebih dapat merasakan kehadiran Tuhan. Dalam hal ini, Paulus juga menulis bahwa jika orang berdoa dengan bahasa roh, maka rohnyalah yang berdoa, tetapi akal budinya tidak turut berdoa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa kita boleh berdoa dengan berbahasa roh, tetapi kita harus berdoa juga dengan akal budi dan bahasa kita. Kita boleh menyanyi dan memuji dengan bahasa roh, tetapi juga akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budi dan bahasa sehari-hari kita agar orang lain bisa ikut memuji Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian.