Sulitnya melewati lubang jarum

/ DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Hari ini adalah hari di mana saya harus meninggalkan Darwin untuk terbang kembali ke Brisbane. Liburan sudah berakhir, dan esok hari saya harus kembali bekerja. Darwin adalah ibukota negara bagian Northern Territory (NT), yaitu provinsi paling utara Australia yang jaraknya sekitar 3000 km dari Brisbane, ibukota negara bagian Queensland.

Suatu hal yang menarik mengenai provinsi NT adalah jumlah penduduknya yang hanya sekitar 250 ribu sekalipun luas daerahnya adalah 1, 42 juta km persegi. Lebih menarik lagi, ada daerah tertentu yang tidak dihuni manusia, tetapi ditinggali oleh koloni unta liar sampai sebanyak 2 unta per km persegi. Sebagai binatang pemakan daun yang besar tubuhnya, unta liar sering membuat kerusakan yang signifikan atas berbagai tanaman di daerah itu. Karena itu, pemerintah setempat secara teratur berusaha mengurangi jumlah unta liar melalui program pemusnahan.

Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu kecil seperti itu.

Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.

Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Hal membagikan berkat Tuhan

 / DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Malam ini saya berjalan kaki keluar dari hotel saya di Darwin untuk makan malam. Di sepanjang jalan, saya melihat lampu-lampu yang dipasang di banyak pohon, yang membuat suasana terasa seperti suasana akhir tahun di kota besar. Padahal kota Darwin hanya bisa terbilang kota kecil saja dengan jumlah penduduk yang kurang dari 150 robu orang.

Suasana yang nampak meriah untuk para turis, tidak bisa menutupi ketimpangan sosial yang ada, karena terlihat banyak orang yang tergolong tuna wisma berkumpul di berbagai sudut jalan. Mereka adalah penduduk asli Australia. Masalah yang dihadapi mereka pada umunnya menyangkut terbelakangnya pendidikan, pekerjaan dan kesehatan. Hidup mereka penuh tantangan yang sulit untuk diatasi pemerintah.

Tantangan hidup memang seringkali berat bagi banyak orang. Semakin banyak penduduk dunia, semakin banyak juga orang yang dalam kesusahan. Walaupun ada kemajuan teknologi dan ekonomi di banyak negara, dalam kenyataannya banyak orang di negara manapun yang harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang dalam posisi sosial yang lemah.

Perbedaaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaan-Nya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena makanan sudah tentu tidak akan jatuh dari surga. Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapa pun, termasuk Tuhan. Benarkah begitu?

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin sudah dapat diartikan “sangat berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya yang hidup berkekurangan mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Dengan demikian kitalah yang harus belajar hari demi hari untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dengan apa yang kita terima.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, sering kali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup, hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus. Dengan adanya rasa cukup, kita baru bisa tergerak untuk menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan.

Hari ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, mereka bisa merasakan bahwa apa yang mereka terima sudah lebih dari cukup, dan karena itu mereka dengan senang hati membaginya dengan orang lain demi kemuliaan Tuhan.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Matius 5: 7

Manusia nembutuhkan terang dari Tuhan

 / DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.” Kejadian 1: 16

Kemarin siang, setelah terbang hampir empat jam dari Brisbane, saya mendarar di kota Darwin. Sorenya, saya sempat berjalan-jalan ke pantai Mindil. Kota Darwin tidaklah jauh dari Kota Kupang di Indonesia, sekitar satu jam penerbangan saja. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Indonesia yang berdomisili di sana.

Mindil adalah satu pantai yang sering di kunjungi turis di Darwin karena adanya pasar malam setiap hari Kamis dan Minggu. Di pasar malam itu ada banyak orang yang menjual makanan dari berbagai negara. Saya ke sana bukan saja untuk berkuliner, tetapi juga untuk menonton matahari terbenam, yang memang terkenal keindahannya. Maklum, seperti pantai Kuta, pantai Mindil menghadap ke barat, sehingga matahari bisa terlihat pelan-pelan tenggelam ke arah garis horizon.

Berpikir tentang matahari yang datang di pagi hari dan kemudian terbenam di waktu senja, saya tak heran-herannya memikirkan kebesaran Tuhan yang menciptakan segalanya. Dalam kitab Kejadian, diungkapkan bagaimana bumi ini asalnya gelap sampai saat ketika Tuhan memisahkan gelap dan terang di hari pertama (Kejadian 1: 4). Ketika itu matahari kita belum ada dan itu berarti bahwa dalam jagad raya ini ada sumber cahaya yang lain selain matahari yang kita kenal. Matahari yang kita kenal baru diciptakan pada hari keempat (Kejadian 1: 16).

Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa diluar ruang pengaruh matahari yang kita kenal ada banyak matahari-matahari yang lain. Sampai saat ini astronomer-astronomer di berbagai negara telah menemukan lebih dari 500 sistem matahari/solar dan bahkan menemukan sistem solar yang baru setiap tahun. Saintis-saintis memperkirakan kemungkinan adanya 100 ribu juta (100 miliar) matahari di jagad raya ini. Tetapi hanya satu matahari yang berguna untuk hidup kita. Tanpa matahari dunia ini akan menjadi beku dan kita akan mati.

Manusia dengan kepandaiannya menanggapi kebesaran ciptaan Tuhan ini dengan berbagai sikap. Bagi yang percaya adanya Tuhan,  tidak lagi ada pertanyaan  apakah Tuhanlah yang menciptakan segalanya. Tetapi bagi yang menganggap dirinya “berpendidikan dan modern”, semua itu mungkin terjadi menurut hukum alam/fisika. Sedangkan untuk mereka beragama dan “toleran”, soal Tuhan manakah yang menciptakan matahari itu, tidaklah perlu dipersoalkan. Dan untuk mereka yang “mengikuti tren”, tuhan-tuhan yang baru masih terus bermunculan.

Bagi yang melihat matahari datang dan pergi setiap hari untuk semua orang, mungkin juga ada perasaan bahwa Tuhan itu tidak mencampuri hidup manusia. Karena itu “life goes on” dan segala sesuatu bisa diperbuat manusia dengan bebas. Tetapi untuk kita umat Kristen, Tuhan itu ada dan membimbing umat-Nya. Tiap kali kita diingatkan bahwa seperti adanya satu matahari yang menerangi bumi kita, hanya ada satu Tuhan yang bisa menerangi hidup kita. Tanpa matahari kita akan musnah dan tanpa Tuhan kitapun akan menemui kematian.

Tuhan menciptakan segala sesuatu secara sistematis dan harmonis. Kasih dan kebesaran Tuhan itu tidak ada bandingnya, dan tidak ada tuhan-tuhan, matahari-matahari lain – baik yang sudah ada sejak jaman dulu, maupun yang sudah atau akan muncul di jaman ini – yang bisa menerangi hidup manusia. Hanya Tuhan kitalah yang mempunyai rencana penyelamatan manusia dari awalnya dan menggenapi rencanya-Nya pada saat yang tepat dengan kelahiran Yesus di dunia. Hanya Tuhan kitalah yang mengerti bahwa seperti hidup jasmani kita membutuhkan sinar matahari, hidup rohani kita memerlukan sinar kasih penebusan Yesus!

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Jika kenal mengapa acuh tak acuh?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Apakah anda masih kenal dengan teman-teman SD anda? Bagi setiap orang, waktu sudah berjalan cepat dan karena itu mungkin tidak ada orang yang ingat siapa saja yang pernah dikenalnya di masa kecil. Lama tak jumpa membuat orang sulit mengingat nama mereka yang pernah sekelas atau yang pernah bermain bersama. Jika pun ada kesempatan bertemu lagi, terkadang rasa ragu mungkin membuat seseorang tidak acuh terhadap orang-orang yang mungkin pernah dikenalnya.

Jika lama tak jumpa membuat hubungan antar manusia menjadi renggang, lama tak berbakti kepada Tuhan membuat orang lupa untuk memuliakan Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Oleh sebab itu, pelan-pelan pikiran mereka tidak lagi diisi hal-hal yang sesuai dengan firman Tuhan. Hidup berjalan terus, dan secara lambat tetapi pasti, mereka tidak dapat merasakan perlunya untuk mengenal Tuhan. Tidak dapat ditolak bahwa kenyataan menunjukkan bahwa mereka sudah meninggalkan iman yang dulunya ada.

Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dialami dan dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma 2000 tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil untuk zaman sekarang. Betapa tidak? Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal  yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam beberapa negara kepercayaan kepada Tuhan itu digembar-gemborkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh rakyatnya mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik.

Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan.  Karena itu ada banyak orang yang merasa kenal akan Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan”  yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Tuhan yang tidak dikenal.

Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Sekalipun hidup mereka terlihat baik, pengenalan akanTuhan bukan dibuktikan dengan adanya kehidupan yang penuh kenyamanan yang bisa disombongkan.

Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama. Tuhan menghendaki hubungan rohani yang didasari rasa hormat dan syukur dari setiap umat-Nya pada setiap saat. Tuhan bukan hanya untuk dipuja melalui apa yang diakui mulut, tetapi cara hidup manusia hari lepas hari dan secara keseluruhan.

Hari ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan memberikan pengertian secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan dapat melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dengan pengampunan-Nya, kita harus mau  mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan.

Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik untuk sesama dan keinginan kita untuk berbakti kepada Tuhan adalah tanda bahwa hidup kita sudah diubah-Nya dan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Tuhankah yang membuat orang jatuh?

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Kain membunuh saudaranya

Ayat di atas sering dipakai oleh sebagian orang Kristen dalam pengajaran bahwa Tuhan menghendaki orang-orang tertentu untuk masuk ke surga dan orang lainnya untuk dibinasakan. Dalam istilah teologi, inilah yang disebut faham predestinasi ganda. Bagi golongan ini, kepercayaan ini sangat penting untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka adalah orang-orang terpilih dan Tuhan yang mahakuasa berhak untuk menolak orang-orang tertentu dari awalnya.

Ayat di atas dalam bahasa Ibraninya tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Bukan saja kata-kata Ibrani sering kali mempunyai beberapa arti, kitab Amsal sering menampilkan ayat-ayat yang mungkin tidak bisa diartikan secara literal. Dalam hal ini, pengertian yang lebih tepat dari ayat di atas agaknya sebagai berikut:

“TUHAN mengerjakan segala sesuatu agar menemui akhir yang semestinya, dan orang fasik pun akan menerima ganjaran yang setimpal.

Dengan demikian, ayat di atas bukanlah menyangkut penentuan Tuhan atas “nasib” manusia setelah meninggalkan dunia, tetapi hal tanggung jawab moral secara pribadi dari setiap orang kepada Tuhan selagi masih hidup dan sesudahnya. Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya dan tidak dapat mempersalahkan Tuhan atas kekeliruan yang diperbuatnya.

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Yakobus 1: 13-15

Alkitab mengajarkan kedaulatan ilahi berdampingan dengan kehendak bebas. Tuhan ingin setiap orang untuk diselamatkan (Yohanes 3: 16), tetapi tidak semua orang mau menerima uluran tangan Tuhan. Karena itu, pada akhirnya orang yang tetap hidup dalam kefasikan seharusnya tidak terkejut ketika Tuhan memberikan hukuman-Nya. Itu juga yang terjadi pada Kain yang marah kepada saudaranya, Habel.

Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kejadian 4: 6-7

Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku dan terlihat sebagai orang Kristen akan diselamatkan. Mereka yang menyangka bahwa mereka sudah dipilih Tuhan tetapi secara sengaja tetap menjalani hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan akan ditolak-Nya. Memang tidak ada orang yang tidak berdosa, yang tidak perlu mengambil keputusan untuk bertobat.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Hari ini, kita patut merenungkan bahwa Tuhan menghendaki setiap orang agar mau mendengar suara-Nya dan bertobat dari hidup lamanya sehingga darah Yesus bisa menebus segala dosanya. Tuhan yang mahakasih tidak menentukan dari awalnya agar sejumlah orang untuk ke neraka, tetapi Ia yang mahakasih akan bersukacita jika satu orang mau bertobat dan menjadi umat-Nya.

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” Lukas 15: 7

Menuntut atau mengharap?

Kata perempuan itu: ”Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: ”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Matius 15: 27-28

Manusia itu aneh. Jika ada hal yang buruk terjadi, ia akan mengeluh mengapa hal itu  terjadi padanya. Tetapi, jika ada hal yang baik yang terjadi pada dirinya, ia akan merasa bahwa hal itu adalah sudah sewajarnya. Memang dari dulu manusia cenderung lebih mudah merasa bahwa apa yang baik adalah haknya, dan apa yang buruk tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Lebih-lebih lagi, di zaman modern ini manusia lebih mengenal apa yang seharusnya menjadi haknya dan karena itu sering mengajukan berbagai tuntutan agar orang lain, masyarakat dan negara mengakui haknya.

Ketika itu, Yesus berada di daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: ”Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya meminta Yesus untuk mengusir perempuan asing itu karena ia agaknya menuntut Yesus agar menolong dia. Maka Yesus menjawab bahwa Ia tidak datang untuk orang Kanaan. Bukannya jera karena jawaban Yesus yang tegas itu, perempuan itu justru mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ”Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: ”Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu menjawab bahwa ia sebagai anjing akan memakan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya. Perempuan itu merendahkan dirinya dan memohon belas kasihan Yesus. Karena itu anaknya disembuhkan.

Apa yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas menolak pandangan bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan berhak untuk menuntut Tuhan agar memberikan apa yang diingini mereka. Memang dalam kehidupan masyarakat Kristen ada pandangan bahwa sebagai orang percaya, mereka adalah anak-anak Tuhan. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang mengira bahwa mereka mempunyai hak untuk meminta bagian kita yang sudah dijanjikan Allah, karena mereka adalah ahli-ahli waris Allah. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang menjadi kecewa atau marah jika Tuhan tidak memberikan apa yang diminta mereka.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. Galatia 4: 6-7

Ayat ini sering dijadikan dasar untuk mengajarkan bahwa sebagai anak Tuhan kita berhak untuk meminta Tuhan untuk hidup di dunia tanpa mengalami kekurangan atau penderitaan. Tetapi jika kita teliti, ayat di atas bukanlah menunjuk pada hak kita sebagai anakTuhan, tetapi pada kenyataan bahwa mereka yang percaya sudah menerima anugerah keselamatan dan dengan itu boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Dengan itu, kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan firman-Nya. Kita adalah orang-orang berdosa yang meninggalkan kebenaran, tetapi yang kemudian diterima oleh Bapa kita untuk kembali ke jalan yang benar.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh menuntut Tuhan untuk melakukan apa yang kita ingini atau untuk memberikan apa yang kita kehendaki. Sebaliknya, kita harus dengan rendah hati mau menyadari bahwa kita adalah orag-orang berdosa yang tidak patut menganggap bahwa kita adalah orang-orang yang patut dikasihi-Nya. Adalah keliru jika kita menganggap bahwa kita cukup baik menjadi orang pilihan-Nya. Tetapi kita harus pervaya bahwa hanya karena belas kasihan-Nya kita diselamatkan. Kita boleh mengharap, tetapi tidak layak menuntut akan berkat dan penyertaan-Nya.

Dalam kelemahan ada keuntungan

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Seminggu ini saya harus bekerja lebih berat dari biasanya. Itu karena adanya mata pelajaran baru yang harus saya sajikan kepada mahasiswa saya. Mencari bahan diskusi dan membuat material untuk menguji mereka sangat memakan waktu dan energi. Bukan saja punggung terasa capai karena kebanyakan duduk, mata saya juga terasa berat karena menghadapi layar monitor berjam-jam dalam sehari.

Dalam kehidupan sehari-hari sering manusia merasa lelah. Kesibukan di kantor, sekolah maupun rumah tangga seringkali membuat kita jenuh. Mereka yang bekerja di ladang Tuhan juga kerap kali merasa penat baik secara jasmani maupun rohani. Rasa lelah terasa lebih parah jika kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin tetapi tidak mendapat hasil yang kita harapkan.

Kelelahan juga bisa terjadi karena keadaan yang membuat orang bosan atau tertekan. Adanya pandemi saat ini sudah membuat sebagian orang masih segan untuk bepergian, apalagi jika perjalanannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena manusia adalah makhluk sosial, isolasi dari orang lain tidak hanya bisa membuat pikiran mereka menjadi jenuh, tetapi juga bisa mendatangkan kelelahan jasmani sekalipun tidak ada pekerjaan berat yang dilakukan.

Paulus dalam ayat diatas mengungkapkan penderitaannya dalam hidup sebagai rasul Tuhan. Paulus menulis bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan kerap kali ia tidak tidur; ia sering lapar dan haus; kerap kali dia harus berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian (2 Korintus 11: 27). Sudah sewajarnya ia merasa kuatir dengan adanya jemaat Korintus, yang sudah lama dibimbingnya, disesatkan oleh rasul-rasul palsu yang mungkin dianggap hebat dengan segala yang dibanggakan mereka.

Jika Paulus adalah orang yang tidak kuat imannya, ia mungkin akan mengalami kekecewaan yang besar karena adanya orang-orang yang tidak menghargai segala pengurbanannya untuk jemaat di Korintus. Apalagi ia mempunyai masalah kesehatan kronis yang tidak kunjung sembuh sekalipun ia sudah memohon kesembuhan tiga kali. Bukannya menyembuhkan Paulus, Tuhan justru berkata bahwa kasih-Nya kepada Paulus sudah cukup. Dengan jawaban Tuhan itu, Paulus bisa makin merasakan bahwa hidupnya tergantung kepada Tuhan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Hari ini jika kita merasa masih sangat lelah baik dalam hal lahir maupun batin, itu mungkin disebabkan oleh hal-hal dan suasana yang kita hadapi saat ini. Apalagi jika penghargaan, simpati dan empati orang lain tidak pernah kita terima. Keadaan yang demikian memang bisa membuat kita merasa sangat lemah dalam menghadapi hidup ini.

Tetapi, jika kita mengingat Paulus dengan kelelahan serta penderitaannya, dan juga dengan adanya jemaat di Korintus yang tidak menghargai segala pengurbanannya, biarlah kita juga bisa bersikap seperti dia, yang merasa bahwa kesulitan hidup justru membuat dia makin dekat kepada Kristus yang memberinya kesabaran, dan kekuatan. Adanya kelelahan bisa membawa berkat karena dapat membuka kesempatan bagi kita untuk membina hubungan yang lebih baik dengan Kristus.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. 2 Korintus 12: 9b

Tuhan menyertai orang yang setia

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Jika anda rajin mengikuti berita dunia, anda tentu tahu bahwa saat ini di Amerika sedang ada penyelidikan besar-besaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sana sejak akhir tahun 2020. Panel Kongres yang menyelidiki kerusuhan di gedung Capitol pada 6 Januari 2021, mendengar kesaksian bahwa mantan presiden Donald Trump mendorong pejabat-pejabat Departemen Kehakiman Amerika Serikat untuk menyelidiki tuduhan penipuan pemilihan umum, meskipun ia telah berulangkali diyakinkan bahwa tidak ada penyimpangan yang dapat mengubah kekalahannya.

Tanggal 6 Januari 2021 tidak bisa dilupakan karena adanya kelompok ekstrim kanan pendukung Trump yang menyerbu gedung Capitol, tempat para wakil rakyat Amerka bekerja. Jutaan orang di dunia memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tetapi, apa yang disaksikan membuat banyak orang menghela nafas. Suasana pandemi dan politik di Amerika saat itu memang cukup membuat prihatin banyak orang. Penyerbuan massa dan usaha pembunuhan beberapa politikus pada “hari tergelap dalam sejarah Amerika” ini hampir saja menimbulkan perang saudara.

Banyak orang yang sekarang percaya bahwa jika pada akhirnya tidak ada satu pun politikus Amerika yang tewas dalam kerusuhan itu adalah suatu keajaiban. Jumlah rakyat dan petugas hukum yang tewas atau cedera dalam kerusuhan itu boleh dikatakan minimal. Tentunya mereka yang berdoa pada hari itu untuk keselamatan demokrasi dan hukum di Amerika merasa bersyukur bahwa Tuhan ternyata ada dan masih mengasihi umat manusia. Saya yakin bahwa mereka yang berdoa kepada Tuhan pada waktu itu belum tentu tergolong dalam kelompok orang Kristen. Tuhan masih mengasihani Amerika.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:45

Bagi kita umat Kristen di mana saja, Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, di mana saja, yang berseru kepada-Nya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, dalam keadaan baik banyak orang Kristen maupun bukan Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin tidak yakin adanya Tuhan, dan mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. Kalau mereka sempat untuk berbakti kepada Tuhan, itu pun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati.

Alkitab menyatakan bahwa kita tidak perlu memakai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpai-Nya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci akan mendengarkan permohonan setiap orang. Ayat di atas menegaskan bahwa Ia dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Jika kita membutuhkan Tuhan, itu tidak hanya pada saat kita mengalami masalah besar, tetapi pada setiap saat kita harus bergantung kepada-Nya.

Hari ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita sudah terbiasa untuk hidup bagi diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!

Apa arti sebuah bencana?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Michelle Brady ingat betapa putrinya, Addie, sangat mencintai kehidupan. Addie Brady didiagnosis menderita kanker pada usia 9 dan usia 14 tahun. Addie menderita kanker tulang yang langka. Tulang tibianya harus diganti dengan tulang prostetik di kakinya, dan dia menghabiskan waktu berbulan-bulan di rumah sakit untuk menjalani kemoterapi yang keras. Tapi itu bukan sikat terakhirnya dengan kanker. Kanker akhirnya pindah ke tulang belakang Addie dan Michelle ingat betapa sulitnya beberapa bulan terakhir kehidupan Addie.

“Ketika dia berusia 14 tahun, dia bangun di suatu pagi dan tiba-tiba – tidak ada tanda-tanda semua ini, ini adalah lima tahun sejak kanker pertamanya – dia sudah tidak dapat berbicara dan mengalami kejang,” Michelle mengatakan. “Dan dia dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans. Beberapa hari setelah itu, kami diberitahu bahwa dia menderita tumor otak yang tidak bisa dioperasi.” Michelle tahu sesuatu yang lebih sedang terjadi. Tidak masuk akal bahwa putrinya yang masih kecil dapat menderita dua jenis kanker yang berbeda dalam waktu yang begitu singkat.

Pengujian genetik mengungkapkan Addie menderita sindrom Li Fraumeni – atau LFS. Ini adalah mutasi bawaan pada gen TP53, yang dikenal sebagai “penjaga genom” karena menghentikan pembentukan kanker. Tetapi bagi orang-orang dengan LFS, proses ini berjalan secara salah dan justru membuat kanker ganas datang. Ini jelas suatu bencana bagi mereka yang ditinggalkan Addie.

Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Mengapa Tuhan membiarkan Addie menderita dan akhirnya meninggal pada usia muda. Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang tertimpa bencana. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab jika bencana terjadi. Bencana memang mempunyai arti, tetapi apa yang terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

  • Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaan-Nya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaan-Nya sendiri. Tuhan justru ingin agar umat-Nya hidup bahagia.
  • Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia itu bukan Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
  • Tuhan maha kuasa dan maha suci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilih-Nya untuk hidup sesuai dengan perintah-Nya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
  • Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini adalah karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat.
  • Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.

Hari ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita pada akhirnya.

Apakah aku masih bisa memilih?

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” 2 Korintus 6:14

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Jika Tuhan tidak memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memilih, bagaimana pula dengan hidup pernikahan kita? Ada yang bilang bahwa pernikahan adalah seperti lotere; jika kita mujur, kita akan mendapatkan seorang pasangan yang baik. Tetapi ada pula orang yang menyalahkan Tuhan jika ia mendapatkan jodoh yang dianggap kurang tepat. Selain itu ada orang yang menyesali hidup pernikahannya karena ia merasa salah pilih. Inilah masalah yang pelik, yang tidak mudah dijawab. Pada persoalan ini bergantung satu pertanyaan: apakah aku masih bisa memilih?

Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

Pernikahan dengan demikian adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Memilih jodoh atau pasangan hidup dengan demikian bukanlah hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak sungguh-sungguh saling mencintai? Ataukah Tuhan jugalah yang menentukan mereka bercerai? Pernikahan dengan demikian bisa dianggap sebagai patokan apakah manusia masih mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang perlu dilakukan dalam hidupnya.

Berbicara tentang hal memilih apa saja, secara umum ada dua pandangan yang berbeda, yaitu pandangan bahwa apa yang terjadi dalam hidup manusia adalah takdir dan pandangan bahwa apa yang terjadi adalah karena pilihan manusia. Pandangan takdir atau disebut juga determinisme, mengakui bahwa apa yang sudah dipilih seseorang itu telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga ia tidak perlu berusaha atau melakukan upaya apapun untuk mendapatkannya. Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring seseorang pada determinisme fatalistik yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa.

Menurut pandangan ini, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya, disebut fatalistik. Dalam teologi Kristen, kaum Calvinis ekstrim yang dikenal sebagai golongan Hiper-Calvinis berpegang pada pandangan semacam ini sekalipun mereka segan untuk mengakuinya. Ini karena golongan ini tertalu meninggikan kedaulatan Tuhan dan terlalu merendahkan ciptaan Tuhan, yaitu manusia.

Sebenarnya dalam Alkitab ada banyak contoh yang menyatakan bahwa kehendak Allah yang berdaulat tidaklah menghancurkan kebebasan (freedom) ataupun kehendak bebas (freewill) manusia. Manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Mengapa? Kerena, manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Dengan kata lain, manusia memiliki “citra” Allah. Walaupun demikian, sebagai mahluk ciptaan manusia bergantung pada Tuhan, Sang pencipta-Nya, bagi kelangsungan hidupnya;. Manusia tidak bisa berdiri sendiri; hidupnya bergantung sepenuhnya pada Allah sang pencipta. Di dalam Allah manusia bisa hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28).

Sebagai mahluk berpribadi, manusia memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan membuat pilihan-pilihannya sendiri. Tetapi, akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa tersebut “citra” Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Secara rohani manusia telah rusak total dan tidak dapat mengambil keputusan tanpa terjebak dalam dosa. Apa pun yang dilakukan manusia akan dinodai dosa, jika tidak mau dibimbing Tuhan.

Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi nyata pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Akibat dosa itu, manusia di luar Kristus terus menggunakan kehendak bebas itu sedemikian rupa sehingga membuat apa yang jahat menjadi nyata (Markus 7:20-23). Walaupun demikian, Allah tetap menghargai “kehendak bebas” yang diberikan-Nya kepada semua manusia termasuk dalam hal memilih dan menentukan apa yang dibutuhkan mereka.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat manusia bisa melakukan apa yang jahat dan salah. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya hal yang jahat? Jika Ia mengijznkan (permissive will) perceraian misalnya, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Paulus kepada jemaat di Korintus. Jemaat di Korintus adalah jemaat yang mengalami berbagai persoalan terutama dalam hal kesusilaan dalam hidup pernikahan. Dalam pesannya, Paulus menasihati mereka agar tidak memilih pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Mereka diingatkan bahwa antara kebenaran dan kedurhakaan ada perbedaan besar, dan apa yang terang tidak dapat bersatu dengan apa yang gelap. Jelas bahwa Paulus menyuruh karena mereka memang bisa memilih apa yang baik. Jika semua itu sudah ditentukan Tuhan, tentunya mereka hanya bisa berserah dan Paulus tidak perlu meminta agar mereka berhati-hati dalam memilih jodoh.

Sebagian manusia akan tetap berusaha mempersalahkan Tuhan jika mereka memperoleh apa yang tidak nyaman. Mengapa Tuhan memberi kita kemampuan untuk memilih tetapi membiarkan kita melakukan kesalahan? Kita tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Hari ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup dan dalam memilih tindakan apa yang harus kita lakukan, biarlah kita tetap berkomunikasi dengan Tuhan,dengan keyakinan bahwa Ia tetap menyertai kita sebagaiTuhan yang mahakuasa dan mahakasih.